Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Paradoks Film Horor 402 dari Indonesia dan The Shrine dari Korea Selatan

Rumah sakit Won yang angker luar binasa (TMDB).

Minggu ini terdapat dua film berbeda negara, yang terasa paradoksnya. Judulnya adalah 402 Rumah Sakit Angker Korea, yaitu film berteknik Found Footage yang berasal dari sineas perfilman Indonesia, namun berlatar di Korea Selatan. Satu lagi adalah The Shrine, yaitu kisah perdukunan tradisional, tapi berlatar di Jepang.

Kedua film memang menyajikan animo yang terbalik. Film horornya perdukunan, lebih terasa di Nusantara dengan segala pengaruh mistisnya. Sementara di Korea Selatan lebih mengacu pada film horor yang fantastis, ala banyak film zombie yang telah diproduksi.

Film The Shrine berating umur R13 alias remaja. Sementara film 402 Rumah Sakit Angker Korea berating umur tinggi, yaitu D17 alias 17 tahun keatas. Keduanya rilis akhir minggu ini di sinema Indonesia.

Animo yang Terbalik

402 menjadi film berteknik found footage yang jarang sekali diproduksi oleh sineas lokal. Contoh terakhirnya adalah Taneuh Kalaknat dari Februari 2026 lalu, dengan latar para YouTuber jurig yang mencari konten horor. 

Hanya sedikit found footage (yang penulis ingat) sempat diproduksi oleh sineas Indonesia. Satu judulnya adalah Safe Haven dalam film V/H/S/2 dari tahun 2013 (bersama almarhum Eppy Kusnandar). Berikutnya adapula The Subject dalam V/H/S/94 (2021), disutradarai sineas terkenal Timo Tjahjanto.

Film berlatar perdukunan pun cukup jarang diproduksi oleh sineas Korea Selatan. Contoh terbaiknya adalah serial The Cursed dari tahun 2020 lalu, dari penulis horor terkenal bernama Yeon Sang-ho. Beberapa film sekuelnya, khususnya The Cursed: Insatiable Desires sempat dibahas pula dalam blog ini.

Satu film dukun horor Korea Selatan terbaik (menurut penulis) yang belum banyak dibahas adalah The Wailing dari tahun 2016 lalu. Di tahun 2024 terdapat pula satu film dukun yang kentara animo mistisnya, berjudul Exhuma.

Kisah mistis Korsel yang berlatar Jepang (TMDB).

The Shrine

Mirip dengan kisah Exhuma, The Shrine menggabungkan animo perdukunan Korea Selatan, yang berhubungan mistis dengan Jepang. Latar kisahnya pun cukup tepat, yaitu berawal di sebuah Gerbang Torii yang keramat. 

Sempat dibahas dalam blog ini, bahwa gerbang Torii berarti gapura menuju kuil Shinto di Jepang. Namun jika gapuranya sudah rusak alias tidak terurus, maka kuil sudah lama ditinggalkan dan lahannya menjadi angker. Jadi para warga tidak boleh memasukinya karena berbahaya.

Kisahnya diawali gadis muda bernama Yu-mi (Kong Seong-ha), yang berkunjung ke kuil terbengkalai di desa terpencil Jepang. Yu-mi dan beberapa temannya merasa diganggu saat berada di kuil, dan berlanjut hingga dirinya kembali ke rumah.

Pastur Han-Ju (Ko Hoon-jeong) dari desa setempat perlu berjibaku gangguan mistis yang tiba-tiba datang. Dengan teror mistis tanpa henti dan ilmu spiritualnya, Han-ju perlu menguak misteri dibalik kuil yang sudah terbengkalai tersebut.

Dalam cuplikannya pun terdapat istilah wajar dari Jepang sana, yaitu Kamikakushi. Istilah ini menggambarkan, bahwa seseorang dapat hilang akibat disembunyikan oleh arwah atau dewa setempat.

Saatnya jurit malam sambil merekam di Korea Selatan (TMDB).

402 Rumah Sakit Angker Korea

Untuk film 402, lebih unik lagi dengan membeli lisensi Gonjiam: Haunted Asylum (2018). Dengan berangkat ke Korea Selatan, sineas Indonesia mencoba teknik film found footage yang jarak diproduksi oleh perfilman Nusantara. Sutradaranya pun terkenal, yaitu Anggy Umbara dengan segala aura horornya.

Perlu diingat, bahwa film Gonjiam adalah satu dari sedikit found footage terkenal dari Korea Selatan. Dirilisnya Gonjiam dari sutradara Jung Bum-shik, membuka jalan bagi sineas dari Korsel untuk mengacu mistis dan budaya tradisionalnya sendiri. Setelah The Wailing tentunya, film horor Korea Selatan yang bombastis akhirnya (sedikit) berubah atmosfer menjadi mistis ala Asia.

Teknik found footage pun menjadi satu teknik kamera yang mulai sering diproduksi Korea Selatan, contohnya adalah Salmoki: Whispering Water dari bulan April 2026 lalu. Sementara untuk Indonesia, tampaknya 402 akan membuka jalan agar teknik found footage dapat diproduksi lebih banyak dari film horor Nusantara.

Kisahnya berkutat enam pemuda-pemudi, yaitu Juna (Arbani Yasiz), Bara (Elang El Gibran), Adit (Saputra Kori), Arum (Diandra Agatha), Tyas (Aylena Fusil), dan Yuri (Lea Ciarachel) yang tergabung dalam kanal YouTube Para Pencari Hantu. 

Bersama pemandu dari Korea Selatan bernama Daejo (Janh Han-sol), mereka berangkat dari Indonesia untuk siaran langsung di rumah sakit angker bernama Rumah Sakit Won.

Namun, segalanya berubah saat mereka tiba di ruangan bernomor 402. Selain satu kawan yang kesurupan, banyak kejadian aneh yang mengganggu ekspedisi. Aura rumah sakit semakin mistis, akibat banyaknya gangguan supernatural. Tentu mirip dengan sebelumnya,  yang menjebak tanpa akhir ala film Gonjiam.

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece