Tampilkan postingan dengan label Rating SU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rating SU. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2026

Epiknya Efek GG Ala Indonesia saat Libur Lebaran dalam Film Pelangi di Mars

 

Pelangi yang menemukan makanan kaleng (TMDB).

Tibalah film Epik nan GG dengan efek spesialnya, berjudul Pelangi di Mars, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang di sinema Indonesia. Sesuai judulnya, Pelangi di Mars adalah hasil karya sineas perfilman Indonesia, yaitu Mahakarya. Film ini berating Semua Umur (SU), sehingga cocok sebagai lahan untuk berlibur bersama anak.

Produksi Film Pelangi di Mars

Mahakarya berwacana pada tahun 2020 lalu, untuk mengembalikan imajinasi anak Indonesia. Mereka berpendapat, anak seharusnya bercita-cita yang tinggi, yaitu ilmuwan atau astronot. Mereka sebagai sineas perfilman, mendukungnya dengan memberi imajinasi. Teknologi yang diterapkan untuk memproduksi film ini pun hibrida, yaitu antara motion capture dengan virtual production, alias Extended Reality (XR).

Mahakarya memulai langkah pertamanya di tahun 2021 lalu, dengan membangun infrastruktur produksi filmnya. Maksudnya, Mahakarya akan menjadi pionir di Indonesia dalam menyiapkan teknologi perfilman ala XR. Dengan begitu, produksi film sejenis ini dari Indonesia, dapat dipermudah oleh mereka, baik itu dari Mahakarya atau studio lainnya. 

Mahakarya tidak membatasi kerjasamanya dengan pihak luar pula. Tokoh utama film Pelangi di Mars memang berasal dari Indonesia, namun digadang untuk memimpin para robotnya, yang berasal dari India, hingga Korea Selatan.

Di tahun 2021, Mahakarya mulai menulis naskah filmnya, bersama Penelitian dan Pengembangan (LitBang) yang dibutuhkan. Tahun berikutnya (2022), Mahakarya berhasil membuat portofolio untuk film Pelangi di Mars, yang berdurasi pendek. Sekaligus di tahun ini, didirikan pula studio DossGuavaXR Studios, yang memulai pengembangan aset 3D untuk film Pelangi di Mars. Sementara di tahun 2023, banyak anggota tim direkrut untuk bertanggung jawab selama produksi.

Di tahun 2024, produksi film akhirnya bisa dimulai dengan selesainya naskah. Seluruh tim telah lengkap, lalu memulai syuting dengan teknologi Motion Capture dan XR. Uniknya di tahun ini, Mahakarya sempat merilis gim simulasi Pelangi di Mars dalam portal Roblox, yang bisa dimainkan langsung. Bahkan, teknologi hibrida ini berhasil menyisipkan foto yang berasal dari Mars Orbiter Camera (MOC), ke dalam adegan film. Foto yang dimaksud, adalah hasil potret kamera satelit di Mars, yang berhasil terkirimkan ke bumi.

Tahun 2025 adalah saat Mahakarya memulai hype-nya, dengan merilis banyak karakter Pelangi di Mars dalam sistusnya, serta cuplikan yang masih berupa teaser, lengkap dengan posternya. Tahun ini adalah momen produksi final bagi Pelangi di Mars, dengan memasukkan dan membersihkan audio, serta memperbaiki dan memperbarui setiap adegan film. 

'Untuk menemukan warna di tempat yang paling sulit menemukannya, yaitu Pelangi di Mars' - Slogan dari Upie Guava, sutradara Pelangi di Mars.

Polusi Air di Planet Bumi

Plot utama dalam film Pelangi di Mars, adalah tokoh utama bernama Pelangi (Messi Gusti), yang harus menemukan Zeolit Omega, demi membersihkan polutan air di Planet Bumi. Mengacu pada wacana ini, tampaknya perlu ditelaah dari segi sainsnya. 

Seperti dilansir dari Mertani, perubahan iklim mengakibatkan polusi air, dengan banyak perubahan di dalam ekosistemnya. Pertama, adalah naiknya suhu air yang berdampak pada organisme air. Ikan, ganggang, dan plankton butuh suhu air yang tepat, baik itu di sungai, danau, dan laut. Selain itu, meningkatnya suhu dapat mengurangi ketersediaan air tanah yang digunakan oleh manusia, hewan, dan tanaman di sekitarnya.

Kedua adalah tingkat oksidasi polutan dalam air, yang semakin meninggi pada logam berat dan bahan kimia berbahaya. Kualitas air yang buruk, berdampak pada tercemarnya air minum serta rantai makanannya, yang berbahaya bagi manusia serta organisme lainnya, serta merusak lingkungan alam di sekitarnya.

Ketiga adalah kualitas air laut yang memburuk, dengan tingginya asam laut. Asam laut tercipta akibat banyaknya zat karbon dari atmosfer, yang terserap ke dalam lautan. Asam laut dapat merusak terumbu karang, yang penting bagi ekosistem laut, lalu seluruh organisme akan terganggu pula keragaman hayatinya.

Seluruh dampak tersebut berarti menyebabkan langkanya air bersih, sehingga berpengaruh pada pasokan air untuk keperluan manusia, pertanian, dan industri. Masalah ini berujung keamanan air, yang dapat membentuk konflik akibat wacana berkelanjutan lingkungan hidup di masing-masing daerah.

Nah, dengan penjelasan seperti itu, bagaimana cara film Pelangi di Mars dalam menggambarkannya?

Sinopsis Film Pelangi di Mars

Pelangi (Messi Gusti) adalah anak berkebangsaan Indonesia, yang lahir dan tumbuh untuk pertama kalinya dalam sejarah, di planet Mars. Pelangi tinggal di Mars demi melanjutkan misi bersama ibunya, Pratiwi (Lutesha). Keduanya berencana untuk menemukan mineral langka bernama Zeolit Omega, yang dapat membantu manusia di Bumi dalam membersihkan zat polutan dalam air.

Namun dalam perjalanannya, selama ini Pelangi hanya dibantu oleh banyak robot kenalannya. Kelima teman robotnya yang setia, adalah Petya (Gilang Dirga), Yoman (Kristo Imanuel), Batik (Bimo Kusumo), Kimchi (Canya Cinta Rivani), dan Sulil (Dimitri Arditya Hardjana).

Tidak ada sosok sang ayah, Banyu (Rio Dewanto) dan ibunya Pratiwi untuk melindunginya. Tidak hanya lokasi planet Mars yang memang berbahaya, namun tibanya perusahaan Nerotek semakin mempersulit misinya. Nerotek adalah perusahaan monopoli dagang air di Bumi, yang tidak ingin mineral ini ditemukan dan berhasil menyelamatkan bumi.

Sanggupkah Pelangi menemukan Zeolit Omega? Kemanakah gerangan ayah dan ibunya selama ini? Apakah mineral langka di Mars ini memang seampuh itu dalam membantu membersihkan zat polutan dalam air di planet Bumi?

Jawabannya, tentu ada di petualangan epik anak Indonesia ala sinema.

Sulitnya Menjaga Bisnis Keluarga Ala Film Senin Harga Naik

 

Toko Roti Mercusuar yang masih buka (TMDB).

Naaah, film terakhir mengenai slice of life ini, berjudul Senin Harga Naik, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Seperti diutarakan sebelumnya, film ini kelanjutan yang multiversal, alias berbeda film tetapi saling mengisi satu sama lainnya. 

Ya, film ini berkisah perlunya melanjutkan karir atau berhenti di bisnis keluarga. Animo yang mirip dengan tokoh film sebelumnya, yang memilih menjadi Kang Mie Ayam daripada menjadi pegawai kantoran. Sebelumnya pun, diawali dengan film yang rewel anaknya saat akan masuk sekolah. Kali ini, mengenai bisnis toko roti milik ibunya, yang berhasil menyekolahkan ketiga anaknya, dan kini diurus dengan bantuan si bungsu.

Animo Bisnis Keluarga Indonesia

Animo seperti ini memang banyak dialami oleh pemuda-pemudi Indonesia, yang harus memilih antara melanjutkan pendidikannya menuju jenjang karir, atau mulai memangku bisnis keluarga. Bahkan banyak sekali konten viral, yang menguak masalah tersebut.

Tentunya perlu diingat pula saat pertengahan 2010an lalu, saat internet dan medsos memudahkan urusan ramai nan viral. Saat tersebut tidak banyak orang yang ingin viral dan 'di-push' kontennya, sehingga memicu banyak warta serta media untuk meliput keanehan warga. 

Contoh awalnya, adalah  gadis cantik yang menjaga warung makan di Jawa Barat. Sasa Darfika adalah seorang lulusan mahasiswi kebidanan, yang membantu bisnis warung makan keluarganya di Majalengka, pada tahun 2015 lalu. Saking cantiknya, Sasa di-viralkan sebagai penjaga warung yang cantik. Kini, Sasa muncul sebagai selebgram dengan dukungan viralnya, di Instagram.

Contoh berikutnya tiba dari tahun 2020 lalu, saat sosok gadis cantik bernama Intan R Sintia Rose mulai viral saat menjaga warung kopinya di Cianjur. Mahasiswi di satu kampus Cianjur ini, awalnya hanya iseng ngonten di TikTok. Hingga akhirnya viral sendiri atau bantu di-viralkan, sosok Intan terkenal sebagai gadis sederhana yang cantik nan jelita. Sering muncul sebagai selebgram di Instagram, Intan masih ingin bekerja sebagai guru.

Ya, walau terdengar seperti lucu-lucuan viral ala media sosial dan warta, tetapi wacana ini dilanjutkan dengan agenda tersendiri dari media massa. Banyak kajian dari jurnalistik, yang mengemukakan sulitnya mencari pekerjaan bagi generasi milenial hingga gen-z dari kelas menengah. Sehingga, mereka perlu melanjutkan bisnis orangtuanya, atau bahkan memulai wirausaha sendiri.

Nah, animo inilah yang menjadi drama khusus di film Senin Harga Naik. Tokoh utamanya pun yang bernama Mutia (Nadya Arina), adalah seorang gadis cantik yang sukses berkarir, namun masih galau mengenai keadaan bisnis keluarganya, yang kini masih dilangsungkan oleh ibunya. Apalagi, Mutia berlatar pekerjaan di bisnis dan pemasaran, yang cocok dalam melanjutkan toko roti milik keluarganya.

Mungkin perlu diutarakan dari pendapat tersendiri, bahwa pilihan ini cukup sulit. Penulis yang mengenal bisnis keluarga hanyalah grosir, berpikir bahwa urusan ini memang cukup banyak pertimbangan. Lokasi gudang yang dimiliki oleh keluarga besar, sementara pekerjaan yang menguras tenaga, kondisi kesehatan yang makin sulit, serta minat dan kemampuan pribadi yang kurang cocok, adalah berbagai pertimbangan pribadi dalam melanjutkan usaha keluarga ini.

Jadi, hidup adalah pilihan, sementara meninggal adalah mutlak, dan yang mengatur takdir hanyalah Tuhan semata. 

Sinopsis Film Senin Harga Naik

Mutia Soejono (Nadya Arina) telah tiga tahun meninggalkan rumahnya. Selama ini dia berkarir di perusahaan properti bernama Buana Group, dengan slogannya 'Senin Harga Naik.' Buana Group sedang memulai proyek pembebasan lahan, yang diberikan kepada Mutia. Namun, lahan yang akan dibebaskan adalah lokasi dimana keluarganya tinggal, dan memiliki usaha bernama Toko Roti Mercusuar. 

Mutia pun teringat, bahwa dirinya tidak pulang ke rumah selama tiga tahun, akibat bertengkar dengan ibunya, Retno (Meriam Bellina). Keduanya berseteru, akibat Mutia yang tidak ingin melanjutkan usaha keluarga. Selama ini, usaha bernama Toko Roti Mercusuar tersebut, dikerjakan oleh Retno, adik bungsunya bernama Tasya (Nayla D. Purnama), dan Rani (Aci Resti).

Mutia perlu kembali pulang, demi mengabarkan perihal sedih ini dan membantu ibunya untuk segera pindah. Karena komunikasi yang sulit, maka Mutia meminta bantuan kakaknya, Amal (Andri Mashadi), yang telah menikah dengan Taris (Givina Lukita), dan memiliki anak bernama Alviero (Adam Xavier). Lalu keduanya membujuk ibunya, untuk segera menjual tanahnya serta pindah ke rumah Amal.

Retno yang masih bersikeras untuk melanjutkan usahanya, tetap menolak wacana tersebut. Kerasnya Retno, menyebabkan kakak-beradik ini semakin risau, karena wacana pembebasan lahan tentunya akan terus dilaksanakan. Apalagi tekanan dari lingkungan sekitar, yang tentu masih mempertimbangkan wacana tersebut.

Apakah Retno akan luluh dan menjual tanahnya? Atau malah Mutia yang berhenti melanjutkan proyek dan memilih bisnis keluarga? Bahkan lingkungan sekitar ikut setuju bersama untuk menolak pembebasan lahan?

Jawabannya, tentu ada di potensi viral bisnis keluarga ala sinema Indonesia.

Pentingnya Tumbuh Kembang bagi Anak Ala Film Na Willa

 

Farida, Willa, Dul, dan Bud yang suka es krim (TMDB).

Ada tiga kombinasi film Indonesia yang tayang menjelang libur Lebaran. Karena temanya sangat mirip, dan jika dihubungkan ala 'timeline', maka terlihat seperti jalinan takdir multiversal (hah?). Cukup menarik, karena setiap judulnya memberi kisah sehari-hari (slice of life) yang sangat mengena, dan bahkan cukup dikenal setiap kalangan masyarakat Indonesia.

Sebenarnya terdapat pula judul keempat, namun karena bertema sains-fiksi dengan hebohnya efek spesial, maka tidak cocok sebagai kombo tiga film drama keseharian ini. 

Pertama adalah film yang cukup kentara permasalahannya di dunia nyata, berjudul Na Willa yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Lucunya film ini, adalah mengisahkan tentang hebohnya anak, saat pertama kali mengikuti jenjang pendidikan sekolah. 

Bagi yang mengingatnya, pertama kali masuk sekolah pasti terasa aneh. Dari pengalaman penulis, masih ingat saat pertama kali masuk TK atau Sekolah Dasar kelas satu. Banyak anak menangis, sementara orangtuanya sedang menunggu di luar kelas dengan cemas. Suatu pemandangan mencengangkan, karena baru kali itu penulis melihat banyak anak kecil menangis bersama.

Oh ya, dalam cuplikannya banyak adegan yang menggambarkan tentang cara bermain anak, mulai dari bermain kelereng, layang-layangan, ayunan, hingga membaca buku. Penulis pun perlu berkomentar mengenai hal ini. Yaitu saat banyak konten dan game ponsel yang sangat menarik, namun di lingkungan RT sendiri, justru sedang 'hype' dengan balapan manuk (burung). 

Ya, sejenis japati (merpati) yang diterbangkan sepasang, lalu dibalapkan hingga satu keliling lapangan, adalah animo yang sedang ramai di sekitar rumah penulis. Pemainnya memang beberapa anak SD, yang tampaknya tidak begitu tertarik dengan maenan ponsel jaman sekarang. 

Yang menontonnya pun bukan hanya mereka, yaitu banyak pemuda-pemudi (tua) yang penasaran dengan aktifitas di sore hari ini. Sebelumnya, anak-anak tersebut lebih heboh dengan adu layangannya. Tampaknya, sudah bertahun-tahun mereka melaksanakan maenan 'offline' tersebut.

Psikologi Anak Tidak Mau Sekolah

Sebelum membahas kisah di film Na Willa ini, coba dicek dari psikologi anak. Seperti sudah diutarakan sebelumnya, penulis sempat heran dengan keadaan TK atau SD terdahulu, dimana banyak anak menangis bersama saat pertama kali masuk sekolah. Tentu bukan hal sepele, karena dapat menganggu suasana hati anak, serta tumbuh kembangnya.

Ya, film ini menggambarkan Willa (Luisa Adreena) sebagai tokoh utamanya, yang merasa kaget saat baru mau masuk sekolah. Lebih tepatnya lagi, saat banyak temannya yang tidak bisa bermain, akibat baru masuk sekolah.

Perasaan seperti ini, sempat dijabarkan dalam banyak kajian. Karenanya, dapat berakibat mogoknya anak untuk masuk sekolah. Walau terlihat rewel saja dan perlu dimarahi, para ahli yakin bahwa fase ini perlu ditanggulangi dengan baik.

Seperti dilansir dari Educenter, masalah anak tidak mau sekolah adalah akibat rasa takut dan gelisah, lalu kegiatan sekolah yang membosankan, serta terpisah dengan zona nyaman, alias jauh dari rumah, orangtua dan saudara dekat.

Cara terbaik untuk menanggulanginya menurut Fakultasi Psikologi dari UMK, adalah melatih anak secara bertahap. Yaitu tidak memarahi anak langsung, lalu dukung mentalnya dengan memberi semangat. Bangun rasa percaya diri anak dengan memuji saat berani bersekolah, dan menyelesaikan PR-nya. 

Karena itu, minat dan rasa nyaman anak dapat berkembang. Kemandirian bisa dilatih, karena anak adalah pribadi yang merasa dan berpikir, sehingga orangtua harus berkomunikasi dengan saling memahami.

Nah, bagaimana dengan kisah Na Willa ini? Coba dicek saja sinopsisnya, yang ternyata diproduksi oleh sineas perfilman terkenal.

Sinopsis Film Na Willa

Film Na Willa ini diproduksi oleh Visinema, yaitu Studio yang merilis Jumbo, Keluarga Cemara, dan Nussa. Tentu yang pernah menontonnya, tahu sehebat apa studio ini dalam membawakan cerita sehari-hari, yang menjadi kenangan indah dan heboh ala sinema. Bahkan terdapat banyak adegan, dengan efek spesial 3D yang ciamik, layaknya film animasi Jumbo di tahun kemarin.

Film ini diadaptasi dari buku novel berjudul sama, hasil karya Reda Gaudiamo yang dirilis dengan tiga judul, yaitu Na Willa: Serial Catatan Kemarin (2012), Na Willa dan Rumah dalam Gang (2018), serta Na Willa dan Hari-hari Ramai (2022).

Willa (Luisa Adreena) adalah seorang anak kecil yang belum masuk sekolah. Kesehariannya diisi dengan bermain bersama tiga temannya, yaitu Farida (Freya Mikhalya), Bud (Ibrahim Arsenio) dan Dul (Azami Syauqi). Mulai dari bermain kelereng, layangan, ayunan, hingga banyak mainan anak, selalu mengisi keseharian empat sekawan ini.

Hingga akhirnya Dul perlu masuk sekolah SD, yang diisi dengan banyak dasar Calistung dan PR-nya. Dul pun jarang ikut bermain, sehingga membuat Willa heran. Farida yang akan sekolah pun, sempat ditanya oleh Willa untuk masuk sekolah atau tidak. Menyusul Dul yang nantinya akan masuk sekolah juga.

Willa yang merasa kesepian, mulai gelisah. Bahkan sulit menerima keseharian dirinya yang kini kosong tanpa teman. Willa jadi rewel dan sering menangis, dan bahkan memicu kemarahan ibunya, Mak (Irma Novita Rihi). Mbok (Mbok Tun) memberi nasihat, bahwa Willa hanya merasa kesepian saja.

Nah, bagaimana dengan keseharian Willa yang semakin sepi saja? Sanggupkah Willa menerima kenyataan bahwa sekolah adalah tujuan berikutnya? Apakah perlu terus berdamai dengan perubahan yang tiba?

Jawabannya, tentu ada di sinema anak Indonesia.

09 Maret 2026

Animasi Binatang Buas nan Lucu di Film Hoppers

 

Mabel yang merasa berang (IMDB).

Berikutnya adalah kombinasi tiga film untuk anak dan remaja dari luar negeri sana, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang. Judul pertama adalah Hoppers, yaitu animasi untuk anak-anak karena memiliki rating Semua Umur (SU). 

Hoppers yang diproduksi oleh Disney dan Pixar ini tampaknya aman untuk ditonton dan dikonsumsi, tanpa ada istilah aneh ala Jomok dan Boti, yang kini sedang ramai sebagai meme di Inet.

Penelitian Hewan Antromorfik

Daripada membahas yang tidak-tidak, maka cek bagaimana film ini menyajikan satu topik penting dalam masalah lingkungan alam. Tentu, anak hingga dewasa perlu mengerti tentang pentingnya alam liar, serta siklus ekosistemnya. Seperti disajikan dalam artikel sebelumnya di SpongeBob, anak bisa dikenalkan dan diberi imajinasi berlebih, tanpa perlu menggurui. Media film seperti ini cocok agar anak lebih mudah terpapar wacana melindungi alam.

Film ini (tampaknya) mengacu pada penelitian yang dilaksanakan oleh banyak ilmuwan saat ini. Terlihat di cuplikannya, seorang remaja berhasil memasukkkan isi kesadarannya, pada seekor robot berang-berang. Sebenarnya penelitian seperti ini sudah sering dilaksanakan, tentunya tanpa metode fantastis semacam ini.

Banyak ilmuwan saat ini menggunakan robot atau boneka, yang disimpan di sekitar sarang hewan liar. Contoh paling kentaranya adalah robot primata (gorila dan simpanse) atau monyet, yang didekatkan dengan bayi atau anak hewan targetnya. Dalam boneka tersembunyi pula kamera perekam, yang terhubung jarak jauh dengan peneliti. Tujuannya adalah mengecek interaksi sosial antara kawanan hewan, dengan benda yang memiliki bentuk dan bergerak mirip mereka.

Kawanan hewan cukup tertarik, dan berinteraksi dengan boneka tersebut. Apalagi dari sudut pandang anak-anak, maka hewan mengganggap boneka sebagai bagian dari kawanan. Boneka memang hanya sedikit bergerak, tanpa banyak memberi respon kepada kawanan hewan. Namun, para hewan masih santai dalam menanggapinya.

Sesuai dengan tujuan penelitian, boneka hewan antromorfik ini memang didesain untuk memicu emosi hewan yang ditargetnya. Karena itu, penerimaan hewan pada boneka, bisa dianggap sebagai pemicu emosional. Hewan akan penasaran, menerima, dan berlaku baik pada anggota yang belum mereka kenal, asal masih berusia anak-anak.

Bahkan pada akhir penelitian, saat boneka telah kehabisan baterai dan berhenti bergerak, muncul sisi emosional lain dari para hewan. Banyak hewan anak-anak hingga dewasa, mengerumuni boneka tersebut. Mereka menganggap boneka telah meninggal, dan ikut berkabung. Walau mereka masih heran siapa boneka tersebut, namun sisi emosional terlihat kentara dalam rekaman penelitian. 

Hewan dengan tingkat sosial yang kompleks, memiliki sisi emosional yang tinggi pula. Penelitian dianggap berhasil, dengan mengacu pada sisi hewaniah, yang ternyata sangat mendalam dari segi kekerabatan dan emosi kawanannya.

Bagi yang perlu referensi semacam ini, dapat ditonton di berbagai kanal YouTube mengenai kisah hewan dan robotnya. Konten yang pernah penulis tonton di berbagai kanal sains, diantaranya adalah gorilla, simpanse, dan monyet.

Nah, bagaimana film Hoppers ini menggambarkan penelitian tersebut? Tentu lebih fantastis dengan gambar animasi yang lebih ciamik, ala karya Disney dan Pixar.

Sinopsis Film Hoppers

Mabel (Piper Curda) adalah seorang remaja yang sangat menyukai hewan. Saking menyukainya, dia selalu membawa boneka robot berang-berang miliknya, dimana pun berada. 

Suatu hari, profesor Dr. Sam (Kathy Najimi) sebagai dosennya, meminta Mabel untuk mengikuti sebuah eksperimen. Dr. Sam mencoba memasukkan kesadaran manusia ke dalam robot. Tujuannya adalah meneliti langsung kawanan hewan di alam liar, tanpa perlu bersusah payah menyelinap dan memakai kostum binatang.

Penelitian pun berhasil, sehingga Mabel bisa pergi ke alam liar, dan langsung diterima sebagai bagian dari mereka. Tidak hanya berbentuk berang-berang, Mabel ternyata sanggup memahami bahasa para binatang.

Hingga suatu masalah terjadi, akibat pengembangan lahan di sekitar lingkungan alamnya. Mabel dan banyak kawanan binatang, tidak rela rumah mereka tergusur oleh manusia. Mabel berinisiatif untuk melawan balik, yang diterima tidak baik oleh para sesepuh binatang. Mereka akan membasmi para manusia, dengan berbagai cara. Mabel pun panik, dan mencari jalur damai bagi kedua pihak.

Sanggupkah Mabel menyelamatkan manusia dan binatang sekaligus? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.

05 Maret 2026

Anehnya Imajinasi Ala SpongeBob SquarePants

 

Imajinasi ala SpongeBob (Reddit).

Monsterisasi kali ini, lebih mengacu pada blog ini, yaitu rasanya berimajinasi ala SpongeBob SquarePants. Bagi penggemarnya, perlu mengingat episode 'Idiot Box' alias 'Kotak Idiot.' Walau begitu, terdapat pula satu episode lain yang akan dibahas, yaitu berjudul 'Band Geeks' alias 'Band Kutu Buku.' 

Nantinya dibahas bahwa keduanya cukup nyambung, ala konsep Blog dan sedikit penggambaran dunia konten saat ini. Oh ya, artikel ini memang ditulis karena sempat dijanjikan saat merekomendasi film SpongeBob terbaru, Januari lalu. Yah, daripada acak dan mengacu ke sains, lebih baik dari segi yang mudah dikenal oleh penonton saja.

Imajinasi Liar Ala SpongeBob

Bagi yang perlu mengingatnya, akan diutarakan sedikit cerita dalam episode 'Kotak Idiot' ini. Squidward Tentacles (Roger Bumpass) sedang kesal akibat SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) dan Patrick Star (Bill Fagerbakke) tengah ramai bermain di sekitar rumahnya. Namun, yang terdengar cukup aneh, bahkan epik, sesuai dengan apa yang sedang dimainkan keduanya didalam sebuah kotak kardus biasa.

Saking herannya, Squidward beberapa kali menciduk apa yang dimainkan oleh kedua tetangganya itu, namun hasilnya nihil. Lalu, SpongeBob menjelaskan bagaimana cara kerjanya. Yaitu sederhana saja, yaitu dengan 'imajinasi' saja. 

Seperti biasa dalam episode SpongeBob SquarePants, akhir cerita selalu bodor, apalagi jika terdapat karakter Squidward didalamnya. Namun, bukan kekonyolan itu yang dimaksud penulis. 

Sementara Squidward yang berhasil masuk kedalam kotak, lalu mulai ikut bermain imajinasi, gagal saat ikut memainkannya. Namun Squidward tetap heran, karena kisah 'bajak laut' didalam kotak, malah semakin terdengar epik, hingga malam hari.

Maksudnya adalah penjelasan proses imajinasi diutarakan oleh para pemain dan yang menontonnya. Layaknya permainan anak, yaitu kucing-kucingan, anak bisa berimajinasi ala kucing saling mengejar, atau anjing vs kucing, atau dinosaurus vs para penyintas. Walau mekanik permainannya tetap sama, tetapi imajinasi dapat menambah hebohnya mainan tersebut.

Perlu diingat pula, bagaimana proses imajinasi bisa dilaksanakan sebagai bahan pembelajaran. Penulis yang memang berlatar linguistik dan sastra, sempat belajar mengenai proses imajinasi menggunakan format Essay. 

Guru menulis kalimat awal di papan tulis saat di kelas, lalu meminta siswa untuk melanjutkan kalimatnya sendiri. Lalu siswa berikutnya, akan menulis kelanjutan cerita, sesuai dengan minat mereka. Hingga akhirnya terbentuk sebuah paragraf, maka proses imajinasi setiap siswa dapat menambah keanehan, kehebohan, atau perbedaan sudut pandang setiap siswa. Layaknya, permainan seperti ini dalam proses pembelajaran, adalah proses untuk menumbuhkan imajinasi para siswa, daripada hanya berkutat pada EYD dan Tata Bahasa.

Justru disitulah anehnya episode ini. Squidward adalah seorang musisi yang cukup dikenal. Walau sering disepelekan akibat permainan klarinetnya yang sumbang, namun tetap dikenal sebagai seniman serba bisa. Nah, bagaimana jika Squidward mulai menggunakan instrumen yang sesuai dengan keahliannya?

Kemenangan yang Indah ala Squidward

Dalam sub-artikel ini, akan mengacu pada episode lainnya berjudul 'Band Geeks.' Justru dalam episode kali ini, Squidward memang pantas menang. Berbeda dengan banyak kesialan ala dirinya, Squidward memang perlu menang dalam episode ini.

Bagi yang agak lupa, tentu perlu mengingat episode saat Squidward ditantang oleh Squilliam Fancyson (Dee Bradley Baker), untuk mengisi band saat Super Bowl berlangsung di permukaan (alias darat). Squidward yang emosional, tentu langsung menyetujui tantangan tersebut.

Squidward lalu melatih banyak warga Bikini Bottom, agar segera siap dalam konser tersebut. Namun seperti biasa, malah kekacauan yang terjadi. Squidward pun menyerah, dan membiarkan mukanya semakin malu saja. SpongeBob akhirnya berinisiatif, agar menyatukan seluruh anggota band, dan membantu Squidward hingga berhasil.

Nah, contohnya memang agak berbeda. Layaknya permainan essay sebelumnya, perbedaan imajinasi dan kemampuan para siswa, tentu akan merubah arah cerita essay tersebut. Layaknya permainan imajinasi, tetap menyatu sama lainnya, alias menjadi karakter tersendiri. Apalagi dibawakan ringan, dengan maksud belajar sesuatu dibaliknya. Yaitu, kerjasama dan ekspresi pribadi, melalui media imajinasi dan format essay di papan tulis.

Mirip dengan keadaan Squidward dan warga Bikini Bottom, satu grup ini perlu saling memahami, untuk mencapai tujuan konser. Setiap anggota memainkan instrumen berbeda, sementara Squidward berperan sebagai pelatih serta dirijen di depannya. Satu kesatuan dengan perbedaan inilah, yang berhasil menciptakan satu alunan lagu, yang tentu enak didengar atau aneh sekaligus.

Di akhir episode memang terdengar alunan lagu 'Sweet Victory' hasil karya David Gen Eisley dan Bob Kulick. Terdengar indah, yaitu sebuah momen Squidward yang bisa sumringah, dan menang besar. Ya, Squidward adalah seniman berbakat dalam segi instrumen musik, yang dibantu oleh warga Bikini Bottom.

Squidward yang sumringah (Reddit).

Sedikit Kisah Bonus dari Sandy Squirrel

Ada sedikit referensi menarik di akhir artikel ini, yaitu mengenai Sandy Squirrel. Karena penulis agak iseng, dan kurang bisa diangkat dalam satu artikel, maka dijabarkan disini saja.

Sandy Squirrel (Carolyn Lawrence) adalah seorang tupai dari darat sana, yang entah kenapa tinggal dibawah laut. Sandy berteman dekat dengan SpongeBob dan Patrick, walau keduanya kurang dapat menanggapinya. Sandy memang bekerja sebagai seorang ilmuwan, yang tentu aneh di Bikini Bottom.

Sandy yang tidak memiliki insang layaknya ikan, sehingga perlu mengenakan baju selam untuk bernapas dalam air. Tidak hanya itu, Sandy tinggal dalam kubah berisi udara, lengkap dengan oksigen sesuai kebutuhannya.

Nah, Sandy memang cukup isekai, namun ternyata penggambarannya cukup sesuai. Bagi yang belum tahu, NASA sebagai organisasi antariksa dunia, sering melaksanakan eksperimen dibawah laut. Eksperimen ini dilaksanakan sebagai simulasi antariksa. Baju selam Sandy pun terlihat seperti seorang kosmonot (atau astronot), daripada standar saat ini. Pekerjaan dirinya sebagai ilmuwan, semakin menguatkan penggambaran dirinya sebagai simbol dari NASA.

Sandy seperti ini, tentu sesuai dengan cara mendiang Stephen Hillenburg, seorang ahli biologi lautan, yang menggambarkan setiap karakter di Bikini Bottom, dengan referensi sainsnya. Ya, seorang ilmuwan dengan banyak bakat ilmunya, dapat menciptakan banyak cerita humor nan bodor, walau tetap mendidik tanpa perlu langsung menggurui.

Okeh, Ciao.

Sandy Squirrel yang berbeda (Reddit).

24 Februari 2026

Anak yang Setia dengan Ayah Tunarungu di Film Mumu

Xiao Ma dan Mumu yang sedang santai (TMDB).

Di awal bulan Ramadhan untuk warga muslim Indonesia, tampaknya cocok dimulai dengan satu film yang membuka hati para penontonnya. Judulnya adalah Mumu, yang tayang di sinema Indonesia, dengan rating Semua Umur (SU).

Tetapi, tiga film lainnya dalam minggu ini kurang cocok untuk tema Ramadhan. Ketiga film tersebut mengangkat kisah hidup yang brutal, waralaba film psikopat lama yang dilanjutkan seri ketujuhnya, dan film Indonesia yang juga berisi psikopat. Jadi bagi yang sedang melaksanakan shaum, lebih baik dihindari saja.

Film Mengenai Warga Disabilitas

Ya, film Mumu atau Voiceless Love ini adalah hasil dari sineas perfilman China, yang mengadaptasi kisah seorang tunarungu. Mumu sebenarnya dirilis pada tahun 2025 lalu, dan ditayangkan ulang pada bulan Februari 2026 ini. Mumu adalah adaptasi ulang dari film pendek yang dirilis pada tahun 2021 lalu. Untuk mengadaptasi film Mumu ke layar lebar, Sutradara Mo Sha mewawancarai banyak komunitas di seluruh China, selama tiga tahun lamanya.

Kisah mengenai warga disabilitas, khususnya tunarungu, memang cukup jarang diadaptasi pada sebuah film. Para warga tunarungu memang sering disalah-artikan oleh warga biasa, karena perbedaan mereka. Tidak sedikit dari kisah mereka yang dikucilkan, atau tidak dapat diterima karena sulit berkomunikasi dengan mereka. 

Namun, perbedaan tersebut yang menginspirasi banyak sineas perfilman untuk mengadaptasinya. Salah satu yang penulis suka dan rekomendasi, adalah film Bird Box dari tahun 2018 lalu. Film yang diperankan oleh aktris ternama pemenang Oscar Sandra Bullock, sebenarnya berlandaskan horor,  namun cukup menyanyat hati dengan mengadaptasi kisah para tunanetra, sekaligus masalah kesehatan mental. 

Khusus dari Sandra Bullock, dirinya sempat memerankan film drama tahun 2009 lalu, yang membuat dirinya memenangkan Oscar. Judulnya adalah Blindside, dan penulis cukup percaya untuk merekomendasikannya.

Kembali ke film mengenai warga disabilitas, penulis perlu merekomendasikan pula sebuah film anime berjudul Koe No Katachi (A Silent Voice), dari tahun 2016 lalu. Kisahnya sesuai pula dengan Mumu, yaitu mengenai warga tunarungu. Bahkan, filmnya cukup dalam lagi, karena mengadaptasi pula kisah perundungan anak remaja, serta banyak konsekuensinya.

Okeh, saatnya kembali ke sinopsis film Mumu.

Shouya yang baru sadar ini kisah milik siapa (TMDB).

Sinopsis Film Mumu

Xiao Ma (Zhang Yixing) adalah seorang ayah yang disabilitas, dengan mengidap tunarungu sejak lahir. Namun semangatnya tidak kendor untuk terus mengasuh anak semata wayangnya bernama Mumu (Li Luo'an), walau telah sejak lama cerai dengan istrinya. Bersama komunitas tunarungu, Xiao Ma berhasil mengasuh Mumu. Bahkan, Mumu kini telah pintar untuk berbicara bahasa isyarat.

Namun, saat Xiao Ma tengah mengantarkan mobil sebagai bagian dari pekerjaan kurirnya, dirinya malah celaka dan menabrak. Xiao Ma dengan untung bisa selamat dari kecelakaan. Rusaknya mobil membuat dirinya dituduh lalai dalam bekerja, dan dituntut secara hukum.

Kisruh dirinya yang disidangkan, menarik perhatian komunitas tunarungu. Mereka dengan setia mendukung Xiao Ma saar setiap sesi persidangannya. Namun, ramainya ruang sidang menarik pula bagi media untuk diangkat menjadi berita viral. Saking viralnya, mantan istri Xiao Ma yang bernama Xiao Jing (Huang Yao), perlu kembali mengasuh Mumu. Xiao Jing yang sudah lama tidak bertemu Mumu, bahkan mencoba merebut kembali hak asuhnya.

Sanggupkah Xiao Ma dan Mumu melewati semua cobaan ini? Agar kembali bersatu dan kembali bahagia? Atau ada bantuan dari khalayak ramai untuk mendamaikan semuanya?

Jawabannya, tentu ada drama keluarga disabilitas ala sinema Indonesia.

17 Februari 2026

Animasi Hewan yang Berkompetisi Olahraga dalam Film Goat

 

Will sebagai kambing yang beda sendiri (IMDB).

Mungkin memang saatnya bernostalgia dengan film sejenis ini, yaitu animasi Hollywood bertema olahraga, berjudul Goat. Tentu tayang di banyak sinema Indonesia dengan rating SU alias Semua Umur, animasi ciamik khas AS sana memang memiliki kesan berbeda. 

Apalagi bagi yang paham istilah GOAT, yang seringpula dijadikan meme oleh warganet. Padahal, GOAT adalah kependekan dari Greatest Of All Time, yang berarti Terbaik Sepanjang Masa. Istilah ini sering disematkan pada seorang atlet atau sejenis produk, yang sangat baik pada masanya, hingga layak dikenang sebagai yang terbaik sepanjang masa.

Studio dan artis yang memproduksinya pun sangat ternama, yaitu Sony yang sempat bekerja dengan para artis di film SpiderMan: Across The SpiderVerse.

Kartun Legendaris Space Jam

Tetapi sebelum membahas film Goat, yang harfiah disini adalah seekor kambing, tampaknya perlu mengecek terlebih dahulu animo-nya. Ya, animo olahraga untuk film animasi anak, ternyata cukup jarang diadaptasi oleh sineas perfilman, dari negara manapun. 

Bagi yang masih mengingatnya, tentu terkenang dengan film animasi Space Jam. Ya, film animasi tahun 1996 lalu ini, adalah film yang mengombinasikan olahraga basket, dengan animasi ciamik ala Looney Tunes. Tidak hanya kombinasi tema, terdapat pula kombinasi karakter Michael Jordan (yang memainkan dirinya sendiri), sekaligus lucunya para karakter kartun dari Looney Tunes. Teknik kombinasi antara adegan langsung antara Jordan dengan kartun, memang suatu animo yang heboh di perfilman Hollywood, saat masa tersebut.

Apalagi di jaman tersebut, Michael Jordan memang mengalami tingkatan tertinggi karirnya. Tidak hanya kesuksesan bersama tim Chicago Bulls, merk sepatu Air Jordan, serta Slam-Dunk-nya yang fenomenal, maka Michael Jordan adalah figur publik dan idola terbesar saat jaman 90an lalu. Karena itu, munculnya Jordan sebagai tokoh utama di film Space Jam, semakin meninggikan namanya di AS sana, sekaligus seluruh dunia. GOAT adalah sebutan yang tepat bagi Michael Jordan, khususnya di dunia olahraga Basket dunia.

Animo ini sempat dilanjutkan pada tahun 2021 lalu, dengan judul Space Jam: A New Legacy. Ya, tentu dengan merekrut pula seorang atlet basket terbaik sedunia masa kini, bernama LeBron James. Atlet dengan banyak kiprah serta kesuksesan karir basketnya, menjadikan LeBron James sebagai salah satu GOAT sedunia.

Sinopsis Film Goat

Will Harris (Caleb McLaughlin) adalah seekor kambing yang badannya berukuran kecil. Berbeda dengan spesies hewan lainnya, Will adalah spesies kambing yang lebih mirip rusa daripada jenis hewan herbivora lainnya. Namun Will memiliki impian besar, yaitu menjadi seorang atlet profesional Roarball. Louise Harris (Jennifer Hudson), sangat mendukung cita-cita anaknya tersebut.

Walau tubuhnya tidak berukuran besar, namun Will cukup cekatan dan lincah dalam menghadapi kerasnya Roarball. Olahraga ini memang bukan Basket biasa, melainkan Full-Body-Contact ala Rugy dan American Football. Sehingga, banyak spesies hewan berukuran kecil yang tidak sanggup menguasainya.

Namun dengan kemampuan Will yang berbeda, seluruh jalur kompetisi Roarball sempat dia menangi, mulai dari basket jalanan, hingga kompetisi kecil di sekitar rumahnya. Will lalu direkrut oleh tim yang digemarinya sejak dulu. Walau sempat terasa ketegangan dibalik GOR basket, namun Will berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu. 

Sanggupkah Will meraih mimpinya dalam merubah jalur pertandingan Roarball? Atau malah terjebak drama berjumpalitan bersama anggota timnya sendiri?

Jawabannya tentu ada di keberagaman hayati dan olahraga ala sinema Indonesia.

03 Februari 2026

Berkelana ke Pulau Papua di Film Teman Tegar Maira

 

Maria, Tegar, dan kawan yang heran dengan apa gerangan di Papua (TMDB).

Saatnya kembali lagi ke pulau besar Papua di penghujung Indonesia, dalam film Teman Tegar Maria, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Nah, seperti film Tegar sebelumnya di tahun 2022 lalu, kali ini tokoh utamanya tetaplah Tegar, yaitu seorang aktor disabilitas, yang berjibaku dengan semangat hidupnya.

Tegar yang tidak memiliki dua tangan dan satu kaki, memang memiliki banyak tantangan hidup. Seperti dicontohkan dalam filmnya di tahun 2022 lalu yang diproduksi bersama Deddy Mizwar, Tegar masih mencoba untuk bersekolah dan memiliki banyak teman.

Nah di tahun 2026 ini, Tegar justru melanglangbuana hingga Pulau Papua sana. Di sana, Tegar tinggal dan belajar dari suku pribumi Papua, demi memahami kearifan lokal setempat. Dalam film keduanya ini, studio Aksa Bumi Langit merekam lokasi syuting dengan keindahan alam Papua, yang sangat terlihat memukau dalam cuplikannya. 

Film ini adalah kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir, yang mengangkat kisah dari pulau paling ujung Nusantara ini. Sebelumnya pada bulan Desember lalu, film berjudul Timur sempat mengadaptasi kekisruhan di Pulau Papua, namun dengan bumbu aksi ala aktor Iko Uwais dan studio miliknya.

Tentu sama dengan kisah kekayaan alam dan ekspansi kelapa Sawitnya, kisah di film Teman Tegar Maria ini berlatar belakang pula kisruhnya alam Indonesia.

Lowongan Pekerjaan dan Pengalihan Fungsi Lahan

Sayang seribu sayang memang, kisah membuka lowongan pekerjaan di Indonesia, malah menjadi wacana untuk mengalih-gunakan alam menjadi lahan perkebunan. Layaknya banyak meme yang dilancarkan oleh warganet, Wapres kita saat kini sering dianggap kurang paham dengan janjinya sendiri. 

Contohnya di Jawa Barat saja, beberapa lokasi akan dialih-gunakan sebagai Perkebunan Kelapa Sawit. Penanaman ini akhirnya diprotes warga sekitar lahan, dan dilarang oleh Gubernar Jabar saat ini.

Dari segitu, daripada bikin meme lucu-lucuan atau sekedar protes, penulis memiliki pendapat sendiri. Jaman wacana lowongan pekerjaan serta banyak industri yang mendukungnya, sebenarnya sudah lewat. Wacana seperti itu sudah ada sejak dua presiden pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno dan Jenderal Soeharto. Namun, keduanya memang menjabat saat awal Indonesia baru merdeka, yang perlu diawasi serta dibantu secara langsung oleh pemerintahnya.

Namun selepas jaman reformasi dengan segala wacana barunya, seharusnya dialihkan kepada pengusaha, industri, serta warganya sendiri. Karena Indonesia sudah cukup maju, jadinya Pemerintah tinggal mengawasi, membuat regulasi, mengatur penerapannya, dan mengaudit kinerjanya. Itulah fungsi utama sebuah pemerintahan, yang sesuai dengan konsep dasarnya, yaitu mengurus negara dan segala urusan administrasinya. 

Lalu, mengapa wacana lowongan pekerjaan malah berubah menjadi pengalihan lahan? Justru disitulah batas kuasa pemerintah dalam fungsi administrasinya. Memang, pengalihan fungsi lahan (awalnya) hanya bisa disetujui dan diterapkan oleh pemerintah, sementara sisanya dilaksanakan oleh Pengusaha beserta Perusahaan miliknya (semacam proyek). Warga yang berada di sekitar lahan, serta pegawai yang bekerja di dalamnya, harus diberi perlindungan oleh pemerintah, karena tujuan utama bisnis tetaplah mengejar untung.

Justru, saat ini pemerintah Indonesia berlaku layaknya broker usaha, dengan segala jenis komoditasnya. Sikap seperti ini layaknya pengusaha yang mencari untung, daripada mengatur infrastruktur serta regulasinya. Hasilnya? Pemerintah yang masih kurang becus dalam dasar fungsi administrasinya, apalagi berjibaku pada banyak proyek, yang hanya menguntungkan perusahaan saja. 

Apalagi dengan kekisruhan tahun 2025 kemarin, yang berfokus pada anggota DPR pusat sana. Dari situ saja terlihat, bahwa dengan besarnya gaji, anggota DPR sebenarnya lebih mementingkan urusan Partai dan Komunitasnya. Karena mereka berlaku layaknya Marketing Communication Perusahaan bernama Partai, dan bukannya sebagai perwakilan rakyat. Tidak heran banyak urusan rakyat (yang bahkan mencapai tingkatan konspiratif), tidak diselesaikan sama sekali. 

Mungkin anggota DPR menganggap ada broker lain yang hanya meramaikan media massa saja. Tetapi, anggota DPR bisa pula berperan sebagai broker yang melaksanakan tingkatan konspiratif tersebut. Karena memang berhubungan langsung dengan pekerjaan sehari-hari mereka, lalu dengan gaji besar yang nganggur, serta bisnis dan investasi yang aman di relasi partainya.

Ya, kalau ada yang bertanya mengapa Indonesia tidak maju juga, tetapi makin kacau di pemberitaannya, dapat disederhanakan saja penyebabnya. Karena pemerintah yang berlaku sebagai broker usaha, daripada mengurusi dengan rapih, benar, dan jujur dalam fungsi utamanya, yaitu (sekali lagi) sebagai badan administratif.

Kekisruhan administratif ini pun ditampilkan pula secara gamblang dalam film Teman Tegar Maira. Ya, terdapat satu adegan dalam cuplikannya mengenai alih fungsi lahan di pedalaman Papua. Sementara Tegar dan kawan-kawannya yang paham dari segi administrasi, ingin membereskan masalah tersebut dengan mengurusi lembar kertas kuasanya saja.

Sinopsis Film Teman Tegar Maria

Tegar (Muhammad Aldifi Tegar Rajasa) kali ini berada jauh dari rumahnya, yaitu di Pulau Papua. Disana, Tegar tinggal untuk belajar mengenai kearifan lokal suku Pribumi Papua, serta kekayaan alamnya sekaligus. Tegar pun langsung kagum, dengan indahnya alam disekitar desa tempatnya tinggal.

Namun baru berapa lama tinggal, terjadi masalah pembabatan hutan demi pengalihan fungsi lahan di sekitar lokasi desanya. Apalagi, masalah ini bukanlah penebangan liar, melainkan resmi dengan kuasa dari pemerintah setempat. Tegar yang cukup paham akan masalah administrasi, berinisiatif untuk merusak lembaran dokumen izin penebangan tersebut. Namun temannya tetap melarang, karena lembaran semacam itu pasti ada salinannya.

Mulailah petualangan Tegar, Maria, dan kedua kawannya, dalam menemukan kembali surat wasiat mengenai desa tempat tinggalnya. Jika ditemukan, surat tersebut akan menjadi bukti, bahwa lokasi desa adalah tanah adat milik warisan budaya leluhur beserta warganya. 

Sanggupkah Tegar sekawan menyelamatkan asrinya alam di Papua?

Jawabannya, tentu ada di keberagaman alam ala sinema Indonesia.

Repotnya Terjangkit Diabetes di Korea Selatan Ala Film Sugar

 

Dong-myeong yang terjangkit penyakit berat (TMDB).

Berikutnya adalah film drama mengenai kesehatan yang cukup jarang namun fatal terjadi, yaitu berjudul Sugar dari Korea Selatan, yang berkisah terjangkitnya penyakit Diabetes Tipe 1. Film berating Semua Umur ini memang ditujukan bagi seluruh anggota keluarga, untuk ditonton bersama di sinema Indonesia.

Diabetes Tipe 1

Seperti dilansir dari Healthline, Diabetes Tipe 1 adalah sejenis penyakit auto-imun, yaitu saat sistem kekebalan menyerang tubuhnya sendiri. Diabetes ini memang berasal dari tubuh penderitanya tanpa ada penyebab dari luar, atau akibat pola makan dan gaya hidup yang kurang sehat. Kadang terdapat pula faktor keturunan, sehingga perlu dicek riwayat kesehatan dari orangtua atau kakek-neneknya. Karena itu, Diabetes Tipe 1 seringkali menjangkit pada anak kecil, atau remaja.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Diabetes disebabkan oleh tubuh yang tidak menghasilkan insulin, atau kurang memprosesnya. Sehingga darah akan terus menyimpan gula, yang seharusnya diproses dan masuk ke dalam tubuh sebagai nutrisi. Akibatnya, kadar gula darah naik tinggi, sementara tubuh penderitanya kurang menerima nutrisi, lalu berakibat menurunnya berat badan, serta banyak gejala malnutrisi lainnya.

Khusus untuk Diabetes Tipe 1 yang terjadi akibat tubuhnya sendiri, maka tidak ada obatnya sama sekali. Karena Diabetes Tipe 2 terjadi akibat pola makan dan gaya hidup kurang sehat, maka kesehatan tubuh dapat disembuhkan dengan merubah kedua faktor tersebut. Menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat, adalah cara utama untuk mencegah terjangkitnya Diabetes, sekaligus pula obatnya. Namun saat pasien masih terjangkit, maka suntikan insulin diperlukan secara berkala oleh pasien, bagi kedua tipe diabetes tersebut.

Jadi, tidak ada satu obat khusus untuk Diabetes tipe manapun, selain asupan insulin yang dibutuhkan oleh tubuh, sebagai penanggulangannya. Biasanya, pasien Diabetes diminta mengenakan sejenis detektor, untuk mengecek kadar gula. Saat kadar gula darah tinggi, di saat itulah pasien membutuhkan suntikan insulin. Tergantung tingkat gejalanya, insulin harus diberikan setiap hari, atau beberapa kali setiap harinya.

Nah karena itu, film Sugar ini mengisahkan tentang sejenis Diabetes Tipe 1 yang tidak ada obatnya. Walau jarang penderitanya, namun ternyata cukup merepotkan banyak praktisi kesehatan, apalagi bagi pasien dan anggota keluarganya. 

Saatnya untuk mengecek sinopsis film Sugar ini.

Sinopsis Film Sugar

Mi-ra (Choi Ji-woo) adalah seorang ibu tunggal yang sangat bangga dengan anaknya, Dong-myeong (Ko Dong-ha). Dirinya selalu menjaga anaknya yang kuat dan aktif berolahraga, sehingga tidak akan menyerah begitu saja.

Namun, suatu hari Dong-myeong tiba-tiba jatuh sakit saat sedang bermain bola kasti, yang menyebabkan Mi-ra harus membawanya ke dokter. Setelah dicek di rumah sakit, ternyata Dong-myeong mengidap penyakit Diabetes Tipe 1, yang sama sekali tidak ada obatnya. Mi-ra yang kaget, tetap berusaha untuk membantu anaknya dalam menanggulangi penyakit berat ini. Mi-ra perlu memotivasi Dong-myeong, bahwa mengidap penyakit bukanlah suatu hal yang memalukan.

Salah satu cara mengecek gejala Diabetes, adalah dengan suntikan kecil setiap beberapa jam sekali, untuk mengecek kadar gula dalam darah pasien. Namun, Dong-myeong masih takut dengan jarum suntik, apalagi jika perlu menahan perih serta meneteskan darah. Karena itu, Mi-ra lalu mengecek alat detektor kadar gula darah, yang lebih mudah digunakan untuk anak. Dirinya pun berhasil meraih info, tentang alat bernama Dexcom, walau perlu diimpor dari luar negeri. 

Alat Dexcom yang berhasil dimodifikasi kembali oleh Mi-ra, ternyata cukup efektif dalam membantu anaknya, tanpa adanya rasa sakit berlebih. Mi-ra pun mulai berinisiatif, untuk membagikan alat modifikasi Dexcom kepada pasien Diabetes lainnya. Mi-ra lalu menjadi cukup terkenal di kalangan pasien Diabetes.

Namun, modifikasi serta penyebaran alat Dexcom tersebut, ternyata menyalahi aturan dagang dan produk di Korea Selatan. Pihak Bea Cukai pun menyita seluruh impor Dexcom, yang dipesan oleh Mi-ra. Penyitaan dan penahanan Mi-ra atas kasus ini, justru mengobarkan semangat bagi penderita Diabetes, dengan turun ke jalan dan berunjuk rasa demi mendukung Mi-ra beserta produknya.

Sanggupkah Mi-ra berhasil keluar dari tuduhan impor dan modifikasi ilegal ini? Hingga bahkan meraih paten atas modifikasi produk detektornya? Bagaimana pula dengan kesehatan Dong-myeong setelah lama terjangkit Diabetes?

Jawabannya, tentu ada di drama keluarga ala sinema Indonesia.

20 Januari 2026

Stop Motion Ala Coraline Ikut di Remastered Pula

 

Lubang menuju dunia lain (TMDB).

Film Stop-Motion layaknya 'bapak' di dunia perfilman, dengan teknisnya yang memotret satu frame saja, lalu disambungkan dengan frame berikutnya, sehingga terlihat bergerak alias animasi.

Nah, sejak minggu ini di sinema Indonesia, dirilis ulang film Stop-Motion terkemuka berjudul Coraline. Film yang aslinya dirilis tahun 2009 ini, di-remaster pula, dan bahkan dirilis dalam format tayangan 3D. Walau rating umur film ini adalah Semua Umur (SU), namun perlu dipandu oleh orangtua atau orang terdekat, karena banyak menyajikan adegan horor.

Sebelumnya di tahun 2024, versi remastered ini dirilis seluruh dunia, demi menyambut Hari Jadi 15 Tahun sejak awal perilisannya, terkecuali Indonesia. Karenanya, studio LAIKA sebagai rumah produksinya, bekerja sama dengan Universal Pictures sebagai distributornya, baru merilis Coraline pada awal 2026 ini di sinema nasional.

Film Coraline termasuk terkemuka di jamannya, yang sedang dibanjiri kembali oleh film Stop-Motion, sejak awal 90an lalu. Coraline menjadi satu yang terbaik, karena sempat meraih nominasi Oscar Academy Awards. Banyak penghargaan dari kritikus film pun, diraih oleh film ini.

Sutradara yang memimpin produksi film ini memang telah berkecimpung lama sebagai ahli Stop-Motion, bernama Henry Selick. Sebelumnya di tahun 1993, sempat memproduksi film Nightmare Before Christmas, yang sempat meraih pula nominasi film Oscar Academy Awards.

Coraline pun meraih box office tinggi di pasar sinema, walau dengan biaya 60 Juta Dolar AS saja. Perilisan awalnya di tahun 2009 mencapai pendapatan hingga 126 Juta Dolar AS. Hingga kini dengan beberapa kali perilisan ulang, pendapatannya telah mencapai 188 Juta Dolar AS.

Untuk perilisan ulangnya yang telah di-remaster, sangat terlihat mencolok dengan gradasi warna yang lebih tajam, serta resolusi lebih tinggi. Dengan frame yang lebih banyak, bahkan terlihat lebih mulus, layaknya film animasi 3D kekinian. Coba dibandingkan saja, antara cuplikan film Coraline di tahun 2009, dengan cuplikannya tahun 2024 dari LAIKA Studios. 

Versi remastered ini ditambahkan pula teknik tayangan 3D, yang ditayangkan di beberapa sinema berfitur ini.

Sinopsis Film Coraline

Coraline (Dakota Fanning) adalah seorang anak berumur 11 tahun yang bosan dengan keadaan rumahnya. Ayahnya yang bekerja di rumah, lalu ibunya yang bekerja di luar, serta keadaan perkakas dan peralatan rumahnya yang sering rusak, menyebabkan Coraline tidak betah di rumah.

Hingga suatu hari, Coraline menemukan sebuah lubang besar dibalik kabinet kecil kamarnya. Dari lubang tersebut, Coraline sampai di rumahnya sendiri, namun dengan keadaan yang berbeda. Rumahnya terlihat lebih rapih dan hidup, dengan orangtuanya yang tidak membosankan, tidak seperti biasanya.

Namun, orangtua 'dari dunia lainnya' meminta agar Coraline tinggal permanen di rumah tersebut, dengan memasang sepasang kancing di kedua matanya. Coraline yang ragu, tidak langsung memasangnya, namun tetap sering kembali untuk berkunjung.

Banyak mahluk lain yang tidak memakai kancing, contohnya kucing (Keith David) dan jurig (Aankha Neal), terus memperingatkan Coraline, mengenai bahayanya tinggal di 'dunia lain.' Mereka menyarankan, agar tidak pernah kembali lagi, dan menutup lubang portal dimensi di rumahnya.

Sanggupkah Coraline menahan diri untuk mencoba kancing? Atau malah terus keranjingan di dunia lainnya? Lebih parah lagi, yaitu terjebak tanpa sempat kembali?

Jawabannya, tentu ada di lokasi pelarian dari rumah ala sinema Indonesia.

Sejarah Film Stop-Motion

Film dengan menerapkan teknik Stop-Motion adalah teknik awal perfilman saat kamera perekam belum ditemukan. Tepatnya tahun 1850an, sebelum kamera video ditemukan, namun kamera potret telah lumrah di jaman tersebut. Menggunakan rangkaian film yang dimainkan satu persatu dengan kecepatan tinggi, suatu gerak animasi pun dapat ditampilkan.

Satu contoh terkenalnya adalah film Hotel Electrique pada tahun 1908. Film ini menampilkan aktris Julienne Matthieu, dengan adegan seorang wanita yang rambutnya disisir dan dirapihkan otomatis oleh mahluk tak kasat mata. Adegan ini bisa ditampilkan dengan baik, karena teknik Stop-Motion yang cekatan.

Film lainnya berjudul La Maison Ensorecelee pada tahun 1906, mengombinasikan efek spesial dengan film berisi aktor dan aktrisnya. Di film ini, beberapa aktor-aktris yang masuk ke rumah angker, diganggu semacam kekuatan mistis supernatural. Seluruh efek spesial, yaitu saat banyak benda digerakkan oleh mahluk tak kasat mata, diterapkan dengan teknik Stop-Motion. 

Perkembangan lensa kamera serta mekaniknya, dilanjutkan hingga kamera video ditemukan pada tahun 1920an. Namun teknik Stop-Motion masih diterapkan pada berbagai film oleh banyak sineas perfilman, bahkan hingga era modern saat ini.

BoBoiBoy Kembali dalam Film Papa Zola The Movie

 

Zola yang kembali sakti (TMDB).

Okeh, saatnya Malaysia dan Indonesia kembali bersatu, dalam satu film animasi yang menyatukan keduanya, yaitu berjudul Papa Zola The Movie. Tentu yang mengenal karakter ini, paham akan kiprahnya di serial animasi kartun BoBoiBoy.

Ya, karakter Papa Zola adalah satu pahlawan super dalam serial BoBoiBoy, yang telah meramaikan animo kartun Indonesia sejak tahun 2012 lalu. Tentu, ratingnya adalah Semua Umur yang dapat ditonton mayoritas khalayak.

Masih tayang hingga kini dengan sempat berpindah kanal televisi, kartun ini turut melanjutkan kisah kartun Malaysia yang sederhana dan cocok, ala Upin Ipin sebelumnya. Memang, keduanya lebih menceritakan keseharian banyak karakter, yang ditambah bumbu aksi ala pahlawan super di BoBoiBoy.

Kiprah Monsta Studios dari Malaysia

Tidak hanya di televisi nasional, BoBoiBoy telah melanglang buana di siaran internet Netflix, dengan sub-judul Galaxy (2016). Bahkan, bagi yang masih penasaran dengan seluruh musim penayangan BoBoiBoy, dapat menyaksikannya di kanal resmi milik Monsta Studios (Monsta dan Monsta Keren), selaku tim produksinya dari Malaysia.

Berbagai karya yang terkait dengan waralaba BoBoiBoy pun telah ditelurkan oleh Monsta. Diantaranya adalah dua film BoBoiBoy (2016, 2019), satu seri dan film Mechamoto (2021, 2022), dan seri khusus Papa Pipi (2019, 2025). Selain itu, lima film pendek BoBoiBoy pun digelontorkan oleh Monsta Studios, yang diantaranya dirilis tahun 2019, 2020, 2021, 2022, 2023 dan 2024. 

Ranah komik pun dijabani pula oleh Monsta, yaitu serial komik BoBoiBoy Galaxy musim kedua (2020), dan Detektif Yaya (2016). Seluruh karya tersebut, adalah bagian dari Jagat Power Sphera, alias dunia khas berisi BoBoiBoy dan banyak karakter lainnya.

Sedikit Info Karakter Papa Zola

Kembali ke film ini, Papa Zola adalah satu karakter yang seringkali membantu BoBoiBoy, dalam membasmi berbagai serangan alien. Adu Du dan Tengkotak, adalah sejenis mahluk luar angkasa jahat, yang sering mengganggu di Pulau Rintis, lokasi tempat tinggal mereka. Dengan bantuan teman-temannya dan Papa Zola, BoBoiBoy sanggup menggagalkan usaha jahat dari alien.

Uniknya, Papa Zola sebenarnya adalah seorang karakter fiksi dalam dunia BoBoiBoy. Karakter Papa Zola berhasil keluar dari video gim miliknya sendiri, dan sempat linglung akibat berasa isekai. Terpaksa tinggal di Pulau Rintis, dirinya lalu bekerja sebagai guru, sambil menyembunyikan identitas pahlawan supernya.

Nah, kali ini justru dimulai kembali petualangan yang berbeda dari Papa Zola, yang tayang di banyak sinema Indonesia. Bagi yang kangen dengan kerennya BoBoiBoy, berbagai aksi mantap ala animasi 3D terlihat dalam cuplikannya. Beberapa drama pun menyajikan latar belakang Zola, yang masih berjuang keras demi hidup damai sejahtera di Pulau Rintis, bersama keluarganya.

Sinopsis Film Papa Zola The Movie

Papa Zola (Nizam Razak) masih berjuang keras demi menghidupi keluarganya, dengan melaksanakan tiga pekerjaan sekaligus. Zola masih berniat untuk berlibur layak bagi anaknya, Pipi Zola (Ieesya Isandra). Istrinya, Mami Zila (Noor Ezdiani Ahmad Fauwzi) justru memberi saran, bahwa Zola tidak perlu bekerja sekeras itu, dan liburan saja jika memang mampu.

Saat mereka tengah berkemah di tengah hutan, Zola bertemu seorang agen dari PAPA (Protect and Prevent Agency), yaitu organisasi yang berfungsi menghalau serangan alien. Zola diingatkan, bahwa dirinya sempat menjadi anggota dari PAPA, sekaligus mitra lamanya. Karena sudah tidak ingat, Zola malah menyarankan untuk menghubungi BoBoiBoy (Nur Fathiah Diaz) saja, yaitu seorang anak super dengan kemampuan elemen dan bertopi oranye.

Namun, keesokan harinya Pipi diculik oleh sekawanan alien. Kelompok alien baru tersebut, memang tengah mencari anak, yang bisa diculik demi eksperimen. Sementara, kapal utama menyerang ibukota Kuala Lumpur, demi merubah dunia menjadi simulasi jajahan mereka.

Zola yang masih memiliki kemampuan super, perlu mengumpulkan kembali seluruh kekuatannya yang telah lama tidak dipakai. Terlebih lagi, BoBoiBoy dan Gopal (Dzubir Mohamed Zakaria) yang sudah lama berjibaku, malah hilang setelah ditelan oleh portal menuju dunia simulasi lainnya. 

Sanggupkah Zola menyelamatkan Pipi dan seluruh dunianya? Tentu dapat disaksikan di sinema kombo Indonesia dan Malaysia.

12 Januari 2026

Idola Sekolah di Film Anime Love Live! Nijigasaki High School Idol Club The Movie

 

Ayumu Uehara yang heran ada disini (TMDB).

Sekarang, saatnya beralih ke anime yang sudah cukup mumpuni vibe-nya, tetapi kurang dimengerti oleh penulis, berjudul Love Live! Nijigasaki High School Idol Club The Movie, yang akan tayang khusus di satu rangkaian sinema Indonesia. Memang, penulis kurang mengerti kisah idola Jepang nan Wibu ini, tetapi cukup mengenal animonya. Ditambah lagi, rating anime ini ternyata Semua Umur (SU).

Jika dicek sejarahnya, maka harus kembali ke awal tahun 2000an lalu, saat akademi idola Jepang ramai dengan grup bernama AKB48. Jumlahnya memang banyak, yang mencapai 48 personil dan berisi banyak idola cewek, yang berbakat dalam menyanyi dan berdansa. 

Khusus untuk grup AKB ini sendiri, melanglangbuana grup lainnya hingga hampir seluruh Jepang. Contohnya, adalah SKE48 (Nagoya), HKT48 (Fukuoka), dan NGT48 (Niigata). Bahkan, grup ini merambah hingga Indonesia, bernama JKT48. Di negara lainnya, terdapat pula TPE48 dari Taiwan, SNH48 dari China, MNL48 dari Pinay, dan BNK48 dari Thailand. 

Namun, animo seperti ini memunculkan istilah baru bagi dunia hiburan Jepang, yaitu idola cewek yang berbakat di dunia hiburan. Saking besar animonya, tercipta banyak manga atau anime, berkisah mengenai drama sepintas kehidupan, namun dengan karakter berlatar belakang sebagai idola. 

Tentu, perlu diingat pula mengenai Vocaloid yang beravatar anime, dengan Hatsune Miku yang Go International. Penerusnya kini, penyanyi ber-avatar anime yang selalu tampil langsung dibalik siluet hitam, bernama Ado, sedang ramai diobrolkan oleh banyak penggemar, khususnya dari luar Jepang.

Yang paling nyeleneh, tentu Uma Musume, yang menggabungkan cewek idola Jepang, dengan balapan kuda dalam gim-nya. Anime nya pun merambah, yang hingga saat ini telah mencapai tiga musim, dengan satu film dan dua spin-off-nya. Animo idola di Jepang, layaknya sebuah stadion sepakbola, yang setiap lokasinya diramaikan dengan kompetisi tertentu. 

Satu judul yang paling meramaikan animo ini di Jepangnya sendiri, adalah Love Live!, yang mulai rilis sejak 2010 lalu. Waralaba Love Live hingga kini telah merilis enam serial (2014, 2017, 2022, 2023, 2024), dengan variasi jumlah musim setiap serialnya. Tiga Film pun ditelurkan oleh waralaba ini, yang mengacu pada setiap serial yang berbeda.

Yang paling konsisten dalam merilis produknya, adalah sejenis video gim. Sejak tahun 2013 lalu, setiap tahunnya dirilis gim Love Live, dengan berbagai kombinasi format, genre, dan konsolnya. Waralaba Love Live! memang sukses besar, dengan pendapatan sejak tahun tahun 2014 hingga 2020, mencapai 166 Milyar Yen Jepang, atau 1,5 Milyar Dolar AS.

Okeh, segitu saja dulu. Untuk sinopsisnya di film Love Live! ini, tentu mengambil latar di Nijigasaki, yaitu sekolah yang dirilis tahun 2017 lalu. Selalu mirip dengan animo Love Live!, kisahnya tentu mengenai kompetisi idola Jepang, berlatar sekolah di sana.

Lucu-lucuan Penguin Korea Ala Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

 

Pororo dan banyak kawannya (TMDB).

Daaaan, masih ada satu lagi film bagi anak (alias ratingnya Semua Umur) di minggu ketiga bulan Januari 2026 ini, berjudul Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure, yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Kali ini, Pororo adalah sejenis karakter animasi dari Korea Selatan sana, yang berbentuk Penguin, lengkap dengan topi pilot dan kacamatanya. Inovasi karakter Pororo cukup mendunia, yang merupakan awal kebangkitan budaya seni populer dari Korea Selatan, hingga sanggup menyaingi Hello Kitty dari Jepang, Mickey Mouse dari AS, dan Smurfs dari Eropa.

Bagi para penggemar film, tentu dapat mengingat bangkitnya Korea Selatan dengan pop-dansanya yang sempat merajai awal tahun 2010an lalu. Filmnya pun sangat berkelas ala film produksi Hollywood, walau cukup jarang mengemukakan khas budayanya sendiri.

Pororo adalah pionir dari kebangkitan tersebut. Bahkan hingga sekarang, sebanyak delapan musim kartun animasi telah ditelurkan, dari tahun 2003, 2005, 2009, 2012, 2014, 2016, 2020, dan 2023. Filmnya bahkan mencapai 12 banyaknya, yaitu pas tahun 2004, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2017, 2019, 2022, 2022, 2023, dan 2025. Tentunya, film berjudul Sweet Castle Adventure ini, adalah film ke 13-nya.

Masih banyak karya lainnya yang mengikutsertakan Pororo dan kawan-kawannya, namun ikoniknya penguin berwarna biru ini tidak hanya dari segi kelucuannya saja. Pororo diproduksi dengan menghilangkan bias budaya dan referensi sejarah, sehingga cukup familiar di seluruh belahan dunia. 

Selain itu, sejak awal, Pororo didesain untuk anak berumur 4 hingga 7 tahun, yang mengenalkan berbagai sikap, norma, moral, banyak nilai edukasi (alias life skill). Pada saat awal penayangannya di Korea Selatan, banyak anak di Korea Selatan mengikuti gaya Pororo saat mengangkat tangan untuk menyeberang jalan, makan dengan dikunyah 30 kali, mencuci tangan, dan berbagai 'nilai keseharian' lainnya.

Orangtua dari Korea Selatan yang menyukai karakter Pororo, saat itu menyarankan Iconix Entertainment sebagai studio produksi, dalam memasukkan adegan tersebut pada setiap episodenya. Iconix pun setuju, sehingga timbal-balik antara hiburan dan edukasi, khususnya pada anak Korea Selatan, semakin terjalin dengan baik.

Sinopsis Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

Kali ini, dunia Pororo sedang dalam musim dingin dan menjelang perayaan Natal. Di Kerajaan Dessert, sedang diadakan kompetisi memasak kue. Pemenangnya, akan mendapatkan lapisan topping dari Sinterklas.

Pororo dan kawan-kawannya yang kebetulan bertemu Sinterklas di jalan, akhirnya diminta untuk mengirimkan piala topping tersebut kepada Ratu di Kerajaan Dessert. Petualangan baru mereka pun dimulai, sambil menikmati momen di musim dingin. 

Namun, saat akan menyerahkan piala tersebut di Kerajaan Dessert, seorang tokoh produsen cokelat bernama Leo No. 5 menghalau mereka. Leo tidak rela, kompetisi dilaksanakan tanpa kehadiran cokelat buatannya. Pororo pun perlu mengamankan piala tersebut, sambil menghindari kejaran Leo.

Amankah kompetisi ini dengan perayaan musim dinginnya di Kerajaan Dessert? Jawabannya, tentu dapat disaksikan di keberagaman kue ala sinema Indonesia.

07 Januari 2026

Berteman dengan Panda Imut dalam Film Moon The Panda

 

Tian dan Panda (TMDB).

Selamat datang kembali di tahun berikutnya, yaitu tahun 2026 yang meninggalkan 2025 dengan segala kegalauannya. Ya, cukup galau karena memang harus masuk sekolah dan kerja lagi setelah liburan. Lupakan semua resolusi tahun 2025 lalu, dan mulailah melangkah lagi di tahun 2026 ini.

Dan, tentunya masih ada waktu bersama keluarga atau teman terdekat untuk menikmati hiburan bersama. Apalagi, semenjak minggu kemarin dirilis beberapa film yang seluruhnya bertema tentang keluarga. Ya, memang bertema keluarga, tetapi dengan kombinasi banyak genre berbeda. Diantaranya, di ranah cerita anak, isu bencana sosial, horor, hingga komedi budaya. 

Okeh, sudah saatnya membahas film pertamanya saja ya, yang berjudul Moon The Panda, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia. Film ini bisa ditonton oleh Semua Umur, alias cocok untuk mengajak anak yang ingin menonton kelucuan Panda.

Panda yang Isekai

Oh ya, karena seperti biasanya, cuplikan film Moon The Panda sama sekali tidak mengisahkan plot utama filmnya. Maka, di sub-artikel ini ditulis saja keunikan dari binatangnya sendiri, yaitu sejenis beruang herbivora bernama Panda.

Hewan berwarna hitam-putih ini sejenis beruang, yang biasanya omnivora, alias pemakan segala. Namun, entah apa yang terjadi jutaan tahun lalu, sehingga Panda beradaptasi dengan hanya melahap tanaman bambu saja. 

Seperti dilansir dari NatGeo Indonesia, pada sebuah fosil dari tujuh tahun lalu, terdapat jejak transisi Panda dari omnivora menjadi herbivora. Padahal hingga kini, dalam perut Panda masih memiliki banyak bakteri pemroses protein.

Bahkan, menurut Taman Safari Indonesia, Panda mampu melahap hingga 12 kilogram bambu setiap harinya. Jumlah tersebut pun cukup kurang, karena Panda bisa berbobot 160 kilogram, dan membutuhkan kalori yang lebih banyak untuk bergerak. Sementara itu, bambu hanya menghasilkan sedikit kalori.

Uniknya, karena siklus hidupnya yang agak 'malas,' sehingga Panda hanya menghabiskan 38 persen kalori setiap harinya. Mungkin itulah, mengapa Panda malah terlihat ceroboh, malas, konyol, dan lucu sekaligus. 

Hewan ini memang secara adaptasi biologis, sudah dianggap anomali. Sehingga, uniknya Panda-lah yang membuat Pemerintah China mendukung sepenuhnya konservasi hewan terancam punah ini. Bahkan, di seluruh dunia terdapat usaha konservasi khusus, yang dianggap cukup berbiaya tinggi, akibat sulitnya mengembangbiakkan Panda.

Sutradara Gilles de Maistres dari Perancis

Bagi yang penasaran dengan sutradaranya, yaitu seorang sineas dari Perancis bernama Gilles de Maistres. Sutradara ini sudah berkecimpung lama dengan khas film anak, yang memadukan hewan liar didalamnya.

Contohnya adalah film tahun 2018 berjudul Mia and The White Lion, yang cukup sukses di pasar maupun kritikus. Dua film berikutnya yang tetap berisi karakter binatang, The Wolf and The Lion (2021) dan Autumn and The Black Jaguar (2024), sempat diproduksi oleh sutradara Gilles. 

Tampaknya, Giles de Maistres memiliki wacana untuk mengisi kekosongan film anak, yang berisi peran karakter binatang asli, sebagai bagian dari plot utamanya.

Sinopsis Film Moon The Panda

Tian Zhao (Liu Nouyi) adalah anak yang masih cukup bandel. Suatu hari saat tengah merayakan hari ulang tahunnya ke 12, Tian dikritisi oleh ayahnya, Fu Zhao (Liu Ye) bahwa nilai di sekolahnya buruk, dan bahkan peringkat terakhir di kelas. Tidak menerima begitu saja, Tian lalu ngambek dan pergi dari acara ulang tahunnya sendiri.

Ibunya, Emma Zhao (Alexandra Lamy), lalu berinisiatif untuk mengajak berlibur kedua anaknya, Tian dan Liya (Liu Nina), menuju lokasi hunian neneknya, Nai Nai Zhao (Sylvia Chang). Ketiganya lalu berangkat menuju pedesaan China, tempat hunian Nai Nai yang dekat sekali hutan belantara. Fu Zhao sebenarnya masih heran, mengapa berlibur ke rumah ibunya dapat membereskan masalah nilai Tian.

Tian, yang terlalu sumringah saat menjelajah ke hutan, akhirnya bertemu dengan seekor panda kecil, bersama ibunya. Keduanya pun menjalin persahabatan di tengah hutan, karena panda yang diberi nama Moon ini, sangatlah jinak untuk menemani kesehariannya.

Dapatkan keduanya menjalin persahabatan antar spesies untuk waktu yang lama? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.