Tampilkan postingan dengan label Aksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksi. Tampilkan semua postingan

26 Desember 2025

Kocaknya Dikejar Hutang Ala Komedian di Film Modual Nekad

 

Film yang emang modualnya nekad (Instagram).

Menjelang akhir tahun 2025 ini, alias minggu kelima Desember saat perpindahan tahun menuju tahun 2026, tampaknya memang perlu diisi dengan film komedi nan kocak. Ya, kali ini judulnya adalah Modual Nekad, yaitu sekuel dari film pertamanya yang mirip judulnya, Modal Nekad

Film Modual Nekad tentu akan tayang di sinema-sinema Indonesia mulai akhir minggu kelima sekaligus batas ujung tahun, alias tanggal 31 Desember mendatang. Bagi yang perlu menonton film pertamanya dari tahun 2024 (dan masih di bulan Desember lalu), masih bisa disaksikan di layanan siaran Netflix. Kedua film pun memiliki rating sama, yaitu R13+.

Oh ya, bagi yang merasa kenal dengan Imam Darto, ya kali ini Modual Nekad menjadi film kedua yang menjadi arahannya, sekaligus penulis naskahnya. Lulusan dari radio ini memang telah berkecimpung lama sebagai penulis naskah film, yaitu sejak film Vote for Love, tahun 2008 lalu. Walau begitu, film hasil naskah miliknya lebih konsisten dimulai sejak tahun 2019 lalu, dengan judul Pretty Boys.

Animo filmnya yang kocak ala komedi Indonesia pun sebenarnya berujung ironis, karena kedua film mengisahkan tentang sulitnya membayar hutang, yang berakibat dari biaya rumah sakit. Saking ekstremnya, seluruh karakter utama di kedua film malah mengambil jalur yang lebih ekstrem lagi, yaitu mencoba mencuri dari sebuah rumah orang kaya.

Okeh, segitu saja dulu plot utamanya. Sudah saatnya membahas sinopsis film pertamanya, ya wak?

Sinopsis Film Modal Nekad

Saipul (Gading Marten), Jamal (Tarra Budiman), dan Marwan (Fatih Unru), baru saja kehilangan sosok ayah mereka. Baru saja ketiganya menguburkan jenazah ayahnya, dengan kata-kata ceramah mengingatkan tentang hutang almarhum, administrasi rumah sakit yang ikut menumpang ambulans, langsung tanpa ragu menggelontorkan sepucuk surat tagihan biaya perawatan.

Ketiganya pun mengadakan rapat, untuk menghitung bagaimana caranya membayar hutang tersebut. Akhirnya, karena ketiga bersaudara ini mentok, maka memilih jalur yang kurang baik, yaitu mencuri dari sebuah rumah milik orang kaya, bernama Teddy Salsa (Bucek Depp), yang (katanya) jarang pulang ke rumah.

Namun, saat ketiganya berhasil memasuki area dalam rumah tersebut, ternyata sang pemilik rumah kembali pulang. Tidak sendiri, melainkan bersama seluruh ajudannya, yang bernama Petrus (Mike Lucock), Eka (Prisia Nasution), Bakti (Sadana Agung), dan Agus (Coki Anwar). Trio bersaudara ini pun kalang kabut untuk mencari tempat persembunyian.

Lebih parah lagi, ternyata kepulangan pemilik rumah, bareng pula dengan tibanya anggota kepolisian, yang dikepalai oleh Bripka Bowo (Tanta Ginting) dan Briptu Ardi (Reza Hilman). Mereka melaksanakan Buser (Buru Sergap) sekaligus Sidak (Inspeksi Mendadak), karena tahu bahwa pemilik rumah yang terkenal kriminil, sedang berada di rumah. 

Lebih kacau lagi, ternyata Teddy Salsa tidak mau mengalah begitu saja. Ajudannya malah melawan balik, dan berakhir dengan menyandera seluruh anggota regu kepolisian.

Trio bersaudara ini akhirnya mendapatkan bantuan khusus, yaitu dari pembantu dan penjaga rumah tersebut yang bernama Rosma (Sahila Hisyam) dan Salim (Fajar Nugra). Kedua pembantu yang biasa mengurus rumah saat ditinggalkan pemiliknya, ternyata tahu kegilaan yang sering dilaksanakan bos-nya. 

Bahkan, setelah berhasil keluar rumah, ketiganya justru membantu lagi para penjaga rumah, agar dapat menguak kejahatan di rumah tersebut, sekaligus mendapatkan cuan untuk hutang mereka.

Okeh, plotnya terdengar epik dan cukup menarik. Sekali lagi, yang penasaran bisa mengeceknya di siaran Netflix. Oh ya, film ini sekaligus menjadi debut aktris cilik bernama Gempita Nora Marten, anak dari Gading Marten, yang memerankan karakter Aisyah.

Dan lanjut, ke sinopsis film keduanya, ya...

Sinopsis Film Modual Nekad

Kali ini di film keduanya, trio bersaudara Saipul, Jamal, dan Marwan malah terjerat di situasi yang lebih parah lagi. Yaitu, resiko rumah warisan peninggalan bapaknya, Bapak Husein (Budi Ros), yang akan disita oleh bank. 

Penyitaan sejenis ini, kadang terjadi di dunia nyata, akibat sang pewaris malah menitipkan sertifikat rumah bukannya pada anggota keluarga atau ahli hukum, dan bahkan bank yang memang dapat menyita, melainkan pihak ketiga yang dianggap memiliki kedekatan batin. Namun, pihak ketiga (yang dalam film ini bernama Pak Haji dan diperankan oleh Andre Taulany) malah menyalahgunakan sertifikat tersebut demi kepentingan pribadi, contohnya adalah sebagai jaminan untuk  meminjam sejumlah dana dari bank.

Jadi, ketiga karakter utama di film Modual Nekad, justru tidak berandil sama sekali, yang berakibat penyitaan rumah milik mereka. Namun, ketiganya yang sudah berpengalaman untuk menjebol rumah orang kaya, memanfaatkan situasi lain yang sama berbahayanya. 

Di sekitar area rumahnya, terdapat seorang rumah pejabat korup yang baru saja ditangkap kepolisian. Dari situ, Marwan memanfaatkan situasi Buser dan Sidak di lokasi rumah tersangka, dengan berpura-pura sebagai anggota pers. Padahal, tujuannya adalah memantau isi keadaan rumah, agar dapat dibobol saat operasi berlangsung malam harinya.

Trio penjahat pecicilan itupun sukses besar, dengan berhasil merebut sekitar 400 juta rupiah! Namun, kesuksesan tersebut ternyata menguak fakta lain, yang dapat membongkar kejahatan besar di rumah tersebut. Sebuah flashdisk berisi rekaman CCTV, ternyata menguak kejahatan lain yang dilaksanakan oleh pemilih rumah, bersama seorang pengusaha, bernama Omar (Surya Saputra).

Sayang seribu sayang, ajudan terdahulu yang memang ikut naik level setelah film pertamanya, yaitu Bakti, berhasil melacak lokasi duo Saipul dan Jamal. Mereka lalu disandera bersama seluruh anggota keluarganya, untuk diberikan kepada Omar.

Marwan yang tidak berhasil disekap, ternyata ikut naik level pula, yang berhasil menyergap dan menyandera para ajudan tersebut. Tanpa berpikir panjang, Marwan akhirnya mencoba menyelamatkan seluruh keluarganya.

Masih epik saja film keduanya ini. Maka, bagi yang cukup mengerti bagaimana epiknya kisah warga biasa lalu naik level menjadi penjahat pecicilan, dapat menyaksikannya langsung di ranah kriminalitas ala sinema Indonesia.

18 Desember 2025

Terbang ke Wilayah Terujung Nusantara di Film Timur

Iko Uwais yang mencoba menyelamatkan saudaranya (TMDB).

Okeh, sudah saatnya di penghujung minggu ketiga bulan Desember ini, para penggemar film Nusantara berjibaku dengan film aksi nan serius berikutnya, berjudul Timur. Film aksi mengenai kisah di penghujung timur negara tercinta ini, tentunya tayang di sinema-sinema Indonesia.

Dari judulnya, sudah menyiratkan bahwa film ini berlatar lokasi di sekitar Papua, dengan keenam provinsinya. Bagi yang sudah mengecek cuplikannya, tentu tahu bahwa Iko Uwais berperan sebagai tokoh utama, dan bahkan sebagai sutradara. 

Ya, film Timur ini adalah debut pertama Iko Uwais sebagai pengarah film. Tidak hanya itu, ternyata film ini diproduksi oleh Uwais Pictures, sebagai studio miliknya sendiri, yang resmi meramaikan ranah perfilman Indonesia sejak didirikan pada bulan Januari 2025.

Tentu, Iko Uwais yang telah melanglangbuana sebagai aktor aksi yang khas dengan gaya silatnya, menjadi animo khusus bagi penggemar film aksi. Bagi penggemar yang suka kuda-kuda silat tradisional khas Nusantara, maka aksi Iko Uwais sebagai pencetus kembali viralnya aksi silat di Indonesia sejak film The Raid (2011;2014) lalu, sangatlah ditunggu. 

Tentu karena adegan aksi yang sadis seperti banyak film silat lainnya, film ini diberi rating umur D17+ (alias umur dewasa).

Film Timur dan Kisah Papua

Kembali ke beberapa adegan cuplikannya, tentu mengenal isu apa yang diadaptasi di film Timur ini. Cukup miris, karena film ini mengisahkan tentang operasi militer dalam menghalau KKB dan KST bernama OPM. Padahal, masalah ini masih terjadi di Papua sana, dan bahkan masih panas-panasnya.

Bagi para troll, justru film ini bisa dianggap sebagai bagian propaganda dari sineas perfilman, dan pemerintah Indonesia itu sendiri. 

Bahkan jika dipanaskan lebih dalam lagi, film Timur justru berlatar operasi nyata di Mapenduma pada tahun 1996 lalu. Di tahun tersebut, OPM berhasil menyandera 26 anggota misi penelitian dari World Wildlife Fund. Terlebih lagi, saat itu Presiden kita saat ini, yaitu Prabowo Subianto, memimpin operasi Kopassus tersebut, saat dirinya masih menjabat sebagai Brigadir Jenderal TNI.

Padahal, kinerja TNI dan pemerintah dalam meluruskan masalah ini, sudah cukup dikenal. Cukup diingat, kisah di Timor Leste, lalu merambah ke Provinsi Aceh dengan GAM-nya, dan kini masih panas pula di Papua. Politik saja? belum tentu. Karena, usaha mempertahankan Nusantara yang lengkap, memang sudah menjadi acuan sejak berdirinya negara ini.

Bahkan jika diteliti dari sejarahnya, maka Indonesia yang baru saja merdeka tahun 1945 lalu, sempat mengalami pergolakan di banyak daerah. Padahal dari segi administrasi, Indonesia telah diakui sebagai anggota PBB sejak tahun 1950 lalu. 

Jadi, dengan banyak penolakan dari daerahnya sendiri, Presiden Pertama RI Soekarno sempat berpidato, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Padahal tidak hanya berkecimpung di dalam negeri, TNI cukup sering berkontribusi sebagai pasukan perdamaian dunia, hingga sekarang. Jadi, kiprah TNI sebenarnya dapat diandalkan di seluruh dunia.

Kembali dari segi administratif, Indonesia saat baru berdiri, tentu memiliki banyak tantangan di daerah maupun pusat. Beberapa agresi dari pihak luar mencemarkan integritas nasional, walau berhasil dihalau. 

Maka, terbentuknya Indonesia saat itu adalah bentuk perkembangan Nusantara, yang menyatukan status administrasi serta mengembangkan peradaban nasional menuju arah modern. Presiden setelah Soekarno, yaitu Soeharto yang banyak mengalami kontroversi, justru diberi gelar sebagai Bapak Pembangunan Indonesia.

Nah, karena lebih mengacu ke administrasi, maka coba dicek saja perkembangan yang lebih mudah dicerna oleh kita sebagai warga Indonesia.

Pemekaran Wilayah Administrasi Indonesia

Nah, daripada mengingat konflik militer yang semakin membuat resah, dan lebih baik dinikmati dari segi ranah film saja, maka coba kita telaah dari segi yang lebih damai, yaitu mengenai pemekaran wilayah di Indonesia.

Sejak awal jaman Reformasi terdahulu, hingga tercipta desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, dan kini berlanjut dengan banyaknya pemekaran wilayah administrasi di Indonesia, tampaknya menjadi acuan khusus bagi warga.

Contohnya Papua yang dulunya bernama Irian Jaya, sejak tahun 2003 dan 2004 lalu terbagi dua menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Namun, saat tahun 2022 lalu, Provinsi ini kembali terbagi menjadi tambahan Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya. 

Tampaknya pemerintah Indonesia memang sedang giat untuk melaksanakan kelanjutan desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, yang diterapkan dengan pemekaran wilayah administrasi. Menurut kabar yang ada, tujuannya adalah mendekatkan diri dari layanan pemerintah dengan warganya, alias agar birokrasi tidak terlalu mengacu ke pusat, dan setiap administrasi dapat mengurus wilayahnya sendiri.

Jika dilihat dari Pulau Jawa itu sendiri, khususnya di Jawa Barat, banyak sekali terjadi pemekaran tersebut dengan detil wilayah sekecil-kecilnya. Contohnya adalah saat Pangandaran terpisah dari Ciamis, dan menjadi Kabupaten, sejak tahun 2012 lalu. 

Di Kota Bandung, wilayahnya terpisah dengan Kota Cimahi pada tahun 2001, lalu terpisah pula antar Kabupaten Bandung, dengan Kabupaten Bandung Barat sejak tahun 2007 lalu.

Jadi, saat banyak warga dan warganet protes bahwa birokrasi Indonesia berbelit-belit, serta perkembangan daerah yang tidak merata, terdapat usaha khusus dari pemerintah, selaku pemegang kuasa administrasinya. Apalagi, jumlah pegawai negeri sipil beserta keahlian dan kedekatan batinnya, dapat lebih terikat dengan daerahnya sendiri.

Nah, sudah saatnya kembali ke film Timur, yang tampaknya mengisahkan bahwa kedekatan batin beberapa karakter, dengan warga pribumi di Pulau Papua. Jadi ya, daripada mengurus jiwa nasionalisme kita yang kadang terbengkalai, maka coba dicek saja kedekatan kita dengan wilayah hunian sendiri, ya...

Sinopsis Film Timur

Timur (Iko Uwais), Apollo (Aufa Assegaf), dan Sila (Jimmy Kobogau) adalah ketiga saudara sepersusuan ibu, yang sangat dekat saat masih kecil. Ketiganya sering bermain tembak-tembakan dengan senapan kayu, demi mengisi kesehariannya. Saking dekatnya, Isman (Andri Mashadi) memberi wasiat pada mereka, bahwa ketiganya adalah keluarga, yang harus saling jaga satu sama lainnya.

Namun, Seiring waktu, Timur, Sila, dan Apollo yang tumbuh dewasa, berpisah untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Timur dan Sila memilih bergabung dengan TNI demi mengabdi kepada Republik Indonesia. Namun, Apollo malah terjebak di lingkaran grup separatis. Hingga suatu hari, terjadi masalah besar dengan para anggota separatis tersebut. OPM menyandera anggota WWF, yang sebenarnya bermasalah dengan pemerintah Indonesia. 

Sayangnya, Timur dan Sila yang sempat mengenal medan lokasi penyanderaan, yaitu di Mapenduma, dikirimkan oleh Kopassus Angkatan Darat dalam operasi penyelamatan ini. Ketiganya pun berjibaku, untuk dapat menyelesaikan misi mereka, dengan tujuan yang saling berlawanan arah, akibat deskripsi tanah air yang sangat berbeda diantaranya.

Bagaimana akhirnya? Coba dicek saja melalui adegan nasionalisme yang kini sering berjibaku di sinema Indonesia, ya?

Mengakhiri Perang di Pandora dalam Film Avatar: Fire and Ash

 

Generasi berikutnya ras Na'vi di bulan Pandora (IMDB).

Daaan, dengan berakhirnya tahun 2025 ini, kembali pula akhir dari film paling epik sedunia, berjudul Avatar: Fire and Ash, yang tayang mulai minggu ini di sinema-sinema Indonesia, untuk penonton berumur 13 tahun ke atas (R13+).

Tentu bagi yang sudah menonton film Avatar: Way of Water di tahun 2022 lalu, bakal geregetan untuk menyusul sekuelnya di bulan Desember ini. Ya, film Avatar: Fire and Ash adalah akhir dari trilogi film ini. 

Oh ya, bagi yang ingin menikmati film Fire and Ash dengan lebih ciamik, tentu dapat memesan tiket yang memberi fasilitas 3D dan IMAX. Tentu, dengan harga tiket yang lebih mahal dan kursi yang lebih terbatas.

Arahan James Cameron selaku pendiri Lightstorm Entertainment, sanggup merekayasa adegan mocap dengan hasil animasi 3D yang ciamik. Lightstorm memang telah berkecimpung bersama Cameron sejak dirilisnya film Terminator 2: Judgment Day (1991). Sejak itu hingga kini, Lightstorm selalu mencengangkan dunia perfilman dengan efek spesialnya yang terbilang inovatif.

Trilogi Avatar dari James Cameron

Walau dimulai pada tahun 2009 lalu oleh sutradara James Cameron, dan membutuhkan jangka waktu 13 tahun untuk film keduanya, film ketiga ini hanya berjarak tiga tahun saja sejak film keduanya. Sebagai akhir dari trilogi, belum ada kabar pasti mengenai film keempat atau kelanjutannya. Namun, dari rumor yang beredar, jika film keempat Avatar diproduksi, maka karakternya akan berbeda dengan trilogi awal.

Trilogi Avatar memang berfokus kepada Jake (Sam Worthington) dan istrinya, Neytiri (Zoe Saldana). Bagi penggemarnya, pasti tahu bahwa sepasang ras Na'vi dari bulan Pandora ini memang fokus utama, yang berjibaku antara kehadiran manusia (RDA), suku pribumi (Na'vi), dan bulan Pandora dengan kehadiran dewa Eywa.

Nah, bagi yang cukup mengingat latar kisah Avatar, Eywa adalah penggambaran harfiah mengenai ekosistem ala bulan Pandora. Eywa adalah nama Dewa tersebut, yang memiliki koneksi langsung dengan seluruh mahluk di Pandora. 

Setiap mahluk, bahkan hingga tanaman, memiliki sulur sebagai anggota tubuhnya. Sulur tersebut bisa dihubungkan dengan pohon bernama sama, lalu membantu menyembuhkan atau bahkan berbagi kesadaran dengannya. Bahkan, sulur dapat saling terhubung dengan mahluk lain, agar mereka dapat bekerja sama secara langsung dan telepati dalam berbagai aktifitas sehari-hari.

Nah, itulah yang menjadi khas dari setiap film Avatar, bahwa bulan Pandora yang sangat eksotis, digambarkan dengan indah ala teknologi CGI dan animasi yang memukau. Tidak heran, film pertamanya menjadi film sinema terlaris sepanjang masa. Box Office-nya mencapai 2,9 Milyar Dolar AS sejak tahun 2009 lalu! Bahkan, Way of Water mencapai 2,3 Milyar Dolar AS, padahal baru tiga tahun sejak dirilis tahun 2022 lalu!

Lokasi syutingnya pun cukup mengesankan, yaitu berada di Selandia Baru, sebuah negara kepulauan kecil di tenggara Australia. Rasanya bernostalgia, semenjak Selandia Baru digunakan sebagai lokasi syuting trilogi The Lord of the Rings (2001;2002;2003). 

Karenanya, banyak sineas perfilman internasional terus melaksanakan syuting di Selandia Baru. Luas, karakter, serta pemandangan Selandia Baru cocok diterapkan sebagai latar sebuah film Epik. Bahkan, Peter Jackson sebagai sutradara trilogi The Lord of the Rings, menyatakan bahwa Selandia Baru bukanlah sebuah negara kecil, melainkan desa yang luas membahana.

Mengingat Plot Film Avatar: Way of Water

Sebelumnya di film Way of Water, Jake mencoba tinggal dan bekerja sama dengan suku Na'vi dari pesisir pantai. Menurut kabar, suku Na'vi pesisir pantai bernama Metkayina, mengambil referensi dari Suku Bajo (Bajau). Suku adat pribumi ini berasal dari Malaysia (Sabah), Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara, alias dari negara Nusantara Tercinta, Indonesia.

Dari situ, kembalilah manusia RDA (Resource Development Administration) dengan kapal laut dan kemampuan mecha amfibi, yang sanggup merambah ranah lautan di Pandora. Sementara dari pihak suku Na'vi, bantuan dari mahluk lautan sejenis paus (Tulkun) dapat menghalau mereka.

Sinopsis Film Avatar: Fire and Ash

Nah, kembali ke Fire and Ash, ketidakhadiran langsung Eywa pula yang menjadi kekhawatiran di film ketiganya ini. Salah satu suku yang tinggal dekat dengan gunung volkano, bernama Mangkwan, malah bergabung dengan RDA. 

Suku Mangkwan dipimpin oleh Varang (Oona Chaplin), yang berselirih khusus mengapa sukunya membelot. Posisi desa huniannya dahulu sempat terkena bencana hebat, yaitu letusan gunung volkano. 

Walau seluruh anggota suku sudah berdoa kepada Eywa, namun bencana sama sekali tidak dapat dihalau. Seluruh anggota suku Mangkwan pun tidak percaya kepada Eywa lagi, dan bahkan menyembah api sebagai simbol dewa, lalu mulai membelot serta berambisi menguasai seluruh Pandora bersama RDA.

Tentu bagi yang sudah menonton film pertama dan keduanya, tahun bahwa RDA hanya menginginkan satu hal saja di bulan Pandora. Satu bijih mineral bertama Unobtainum, adalah target utama RDA. Sementara suku pribumi Na'vi melawan balik, menghalau, mencoba untuk mengusir, serta menghentikan ambisi RDA di bulan kediamannya.

Nah, kali ini ada beberapa kehadiran lain, yang mampu membantu Jake untuk melawan gempuran tersebut. Ya, naga berspesies Ikran kembali bersama banyak kawanannya untuk menghalau gempuran RDA.

Generasi Berikut dan Alamnya

Dan, tidak hanya kehadiran mahluk eksotis dan alamnya saja yang sanggup membantu kampanye ini. Ada satu senjata terkuat, yang tidak berdasarkan kemampuan militer, namun paling signifikan dalam sejarah peperangan militer, di dunia manapun.

Ya, nama senjata tersebut adalah generasi berikutnya. Walau tidak diterapkan harfiah dalam peperangan, namun layaknya Rite of Passage (Ritual Peralihan Lintas Generasi). Anak yang paham mengenai kekisruhan di generasi sebelumnya, dapat melanjutkan usaha tersebut kedepannya, dengan kemampuan dan caranya masing-masing.

Tidak perlu disebutkan siapa saja anggota keluarga dari Jake dan Neytiri, namun seluruh generasi berikutnya, berperan penting bagi kelangsungan hidup di bulan Pandora yang masih penuh konflik.

Oh ya, satu lagi referensi menarik dari trilogi Avatar ini, yang mengemukakan lokasi eksotis nan indah dengan kegalauan para mahluk di dalamnya. Jika disejajarkan, maka lokasi eksotis nan indah ala kepulauan Nusantara, hingga Madagaskar di Afrika, kepulauan Hawaii di Pasifik, serta Lautan Karibia, yang cocok sebagai acuan ngerinya kekuatan alam, namun sebanding dengan keindahannya.

Walau begitu, banyak bencana alam akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim, yang masih sesuai dengan siklusnya, mulai merambah dan semakin berubah, di banyak lokasi planet Bumi, baru-baru ini.

Okeh, selamat menikmati film Avatar: Fire and Ash di ranah keberagaman hayati ala sinema Indonesia.

3 Desember 2025

Aksi di Perbatasan Soviet ala Sekuel Film Sisu: Road to Revenge

 

Aatomi Korpi yang heran mengapa truk tidak sekuat dirinya (IMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah film aksi tanpa berpikir panjang dan membabi-buta, ala film berjudul Sisu: Road to Revenge, yang tentu sedang tayang di sinema terkayang Indonesia ini. 

Film ini adalah sekuel dari film sebelumnya berjudul Sisu di tahun 2023 lalu, yang dibuat oleh studio ternama, Stage 6 Film, dan didistribusikan oleh Lionsgate dari Hollywood. Karena itu, film pertamanya mendapatkan sanjungan sebagai aksi fantastis ala aksi brutal yang tanpa henti dan selalu high fever, layaknya ngimpi.

Namun, berbeda di sekuelnya kali ini, justru bekerja sama dengan Sony Pictures Entertainment sebagai distributornya, namun tetap mengisahkan karakter yang serupa tapi dari studio yang sama dan memang memiliki hak ciptanya.

Dalam film pertamanya, terlihat pada cuplikannya, tokoh utamanya bernama Aatomi Korpi (Jormi Tommila), yang baru saja menemukan sebuah setumpuk emas di lokasi berburu tambangnya. 

Namun, saat mengadakan perjalanan pulang, Aatomi malah dicegat oleh satu skuad pasukan Nazi, yang tengah membawa banyak tawanan perang. Tidak rela akan dieksekusi begitu saja, Aatomi melawan dan berhasil membasmi seluruh skuad, dan menyelamatkan tawanan yang ada. 

Aatomi Korpi sebenarnya bukan seorang warga biasa, namun mantan komandan dan veteran perang saat Perang Dunia 2 terdahulu. Setelah pensiun, dirinya menemukan bahwa kota kediaman serta seluruh keluarganya telah habis dibasmi akibat Nazi dan kegilaan perang disekitarnya. 

Aatomi yang ingin hidup menyendiri dan damai pun terpaksa beraksi kembali, akibat gangguan pasukan Nazi yang masih merajarela di sekitar kediamannya di Finlandia. 

Bahkan, Aatomi mempersenjatai seluruh tawanan Nazi (yang kebetulan sekawanan harem wanita) dengan senapan serbu otomatis, demi melindungi mereka sendiri. Satu wanita bahkan berkelakar, bahwa masa ini 'bukanlah siapa yang terkuat, tetapi tentang siapa yang tidak mengalah begitu saja,' alias SISU dari bahasa Finlandia.

Daaan, begitulah sinopsis film Sisu pertama, yang tentu masih bisa dicek di berbagai layanan siaran internet. Bagaimana dengan film keduanya yang membawa distributor berbeda? 

Nah, kalau di film keduanya ini, masih bersama anjing kesayangannya berwarna putih (yang sehat wal'afiat sejak film pertama), Aatomi tengah mengadakan jalan-jalan daratan (roadtrip) mengendarai truk barunya (yang entah dirampas darimana dan siapa) di perbatasan Uni Soviet.

Kali ini, targetnya adalah seorang petinggi KGB dari Uni Soviet, bernama Yeagor Dragunov (Stephen Lang). Setelah kekisruhan di film pertama, Aatomi tampaknya berhasil melacak operasi militer mana yang membasmi seluruh keluarga dan kediamannya. Dan, Yeagor Dragunov adalah seorang komandan yang sempat memimpinnya. Dan kali ini lagi, tujuannya bukan 'membersihkan sisa perang dan Nazi,' tetapi membalas dendam sepenuh amarah hati milik semuanya. 

Yeagor Dragunov tentu bukanlah orang biasa di KGB, dan tidak rela begitu saja ingin mengalah dari seorang pensiunan penuh murka dari Finlandia ini. Dengan peringatan dan bantuan dari sekawanannya di KGB, Yeagor menyiapkan banyak operasi serta perangkap untuk dapat 'menanggulangi' dendam kesumat masa lalu milik Aatomi. 

Sayangnya, kali ini seluruh perspektif (alias sudut pandang) film diarahkan melalui posisi karakter Yeagor Dragunov. Seluruh aksi tembak menembak, bantai membantai, dan buyar meledak kini terlihat dari pandangan mata sang Yeagor. Kemunculan Aatomi Korpi pun layaknya seorang monster buas beringas, yang muncul tanpa peringatan dengan berbagai keahlian liarnya di jalanan perang.

Padahal, Yeagor Dragunov adalah seorang yang diminta KGB untuk membasmi seluruh kegilaan Aatomi Korpi. Namun, dirinya yang sudah jelas lebih banyak durasi adegannya, harus berjibaku dengan posisi karakternya yang jelas-jelas sudah lumrah dianggap antagonis.

Okeh, silahkan nikmati saja hingar-bingar ala aksi dari Eropa sana yang belum move-on dari Perang Dunia terdahulu di film Sisu: Road to Revenge. 

19 November 2025

Beraksi ala Pengacara Indonesia di Film Keadilan

 

Raka yang sudah siap habis demi keadilan (TMDB).

Okeh, saatnya film Indonesia yang mengadaptasi sebuah kisah berat nan sulit, yaitu tentang hukum di negara tercinta, dengan film berjudul Keadilan, yang sedang tayang di banyak sinema.

Mungkin penulis kurang ngeuh (ngerti) tentang urusan hukum, tetapi jelas memang, tetap memantau masalah berita sekarang, yang 'mengedepankan' korupsi, salah tangkap, kriminalitas tingkat tinggi, sensasi politikus, tanpa penyitaan aset, denda yang rendah, hingga dakwaan yang dibuat-buat di segi ranah hukum Indonesia.

Setiap kali membaca berita kontroversial Indonesia, seakan menguji 'nyali' dan nalar warga sekalian. Bagi warga biasa yang kurang mengerti urusan hukum, nalar seakan ditantang ala melawan 'jurig.' Hasilnya? Malah semakin kurang ngeuh dengan keadaan hukum di Indonesia.

Nah, kembali ke film Keadilan yang diperankan oleh dua aktor ternama, yaitu Rio Dewanto dan Reza Rahardian, hukum diadaptasi dengan lebih brutal lagi. 

Dari cuplikannya saja terlihat, seorang tersangka yang menyiksa ibu hamil, namun tetap dibebaskan. Bahkan saking marahnya, Raka (Rio Dewanto) yang bekerja sebagai petugas keamanan di pengadilan, perlu 'turun dan menyandera' proses pengadilan tersebut (!)

Jadi teringat se-ekstrem apa situasi tersebut, layaknya demonstrasi besar pada bulan September kemarin. Demi berunjuk rasa kepada instansi DPR-DPRD-DPD, banyak pemuda (yang banyak diantaranya masih SMA), bahkan bertindak hingga membakar gedung perwakilan rakyat di banyak daerah.

Bukan tindakan terpuji memang, dan salah arahan kebebasan berpendapat, karena jelas berakhir rusuh dan anarkis (!) Namun, tindakan seperti itu, jika dilaksanakan tanpa momen unjuk rasa, maka pelakunya akan berakhir dibui (!) 

Dengan dakwaan kerusuhan hingga merusak fasilitas publik (!) Bahkan, bisa berujung dakwaan terorisme (!) Karena tetap diluar batas aturan kebebasan berpendapat dan unjuk rasa (!)

Nah, kembali ke film Keadilan, dalam cuplikannya terlihat, bahwa anggota Detasemen Khusus (Densus) Kepolisian Indonesia telah bersiap, untuk buru sergap Raka. Namun, karena resiko banyak sandera dalam gedung pengadilan, maka ditunda demi alasan keamanan korban.

Bahkan dalam film ini pun, terlihat bahwa aparat masih memantau dengan seksama, tanpa tergesa-gesa, karena masih berurusan dengan warga biasa (sebelum didakwa dan divonis).

Jadi teringat, dengan kisah kejadian hari Minggu kemarin (dari segi pengalaman penulis sendiri). Beberapa minggu lalu di Bandung, terdapat kejadian naas di Jembatan Layang Pasupati. Kejadiannya cukup miris, dan berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.

Namun, beberapa minggu kemudian, tepat pada hari Minggu saat berolahraga di Car Free Day (CFD) Dago, justru terbalik dengan momen sebelumnya. Ratusan warga dari sekitar Bandung berkumpul, untuk jalan-jalan, joging, senam, lalu sarapan, dan bahkan mendengarkan lagu di sekitar CFD.

Bukan menyepelekan, namun maksud dari momen ramai tersebut, seakan 'menimpa' kejadian naas sebelumnya. Daripada harus terus protes dengan arahan tidak jelas, maka lebih baik diisi dengan kegiatan positif bersama orang terdekat. Bahkan salah satu lokasi pengamen di bawah Pasupati, dengan lantang (dan beberapa kali) menyanyikan lagu 'Arti Kehidupan' dari sang legenda, Doel Sumbang.

Jadi, kembali ke film Keadilan yang tokoh utamanya bertindak dramatis, bahkan sampai anarkis dan teroris, maka sebagai warga biasa harus berkaca saja. Apakah perlu bertindak sejauh itu? Atau 'melawan' dengan cara positif, yaitu berolahrasa, berolahraga, sambil menahan mirisnya kehidupan?

Sinopsis Film Keadilan

Raka (Rio Dewanto) adalah seorang petugas keamanan pengadilan Indonesia. Bersama istrinya yang tengah hamil, Nina (Niken Anjani), mereka baru saja merayakan kelulusan Nina sebagai pengacara muda.

Namun naas, Nina yang sudah hamil tua, malah dibunuh dengan sadis oleh seorang pemuda psikopat, bernama Dika Akbar (Elang El Gibran). Walau sudah jelas bersalah, Dika masih dibela habis-habisan oleh pengacaranya yang terkenal korup, Timo (Reza Rahardian). 

Bahkan, dakwaan berbalik langsung kepada Raka, saat seorang saksi menyatakan bahwa senjata bukti pembunuhan, dipegang oleh Raka yang baru tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Saking marah dan 'nothing to lose,' Raka pun bertindak anarkis, bahkan teroris, untuk membalas dendam. Saat pengadilan berjalan, Raka masuk ruangan sambil menembakkan pistol, lalu menyandera seisi gedung. Raka bahkan mengancam, bahwa banyak bom telah ditanam di seluruh lokasi gedung.

Raka meminta kepada Hakim dan Jaksa, untuk mengulangi seluruh proses pengadilan. Walau bertindak ekstrem, Raka masih memberi kesempatan pada proses hukum, untuk menentukan siapa yang sebenarnya layak divonis bersalah.

Cukup ngeri film ini, jadi yang cukup penasaran dan heran dengan kejadian semacam ini, bisa bersaksi mata langsung di sinema-sinema Indonesia.

Dan Ingat! Stay Positive!

12 November 2025

Berbagai Ilusi Pengalihan Ala Pesulap di Film Now You See Me 3

 

Rasanya terjebak di dunia trik sulap perfilman (IMDB).

Okeh, kali ini film berbeda dari ranah Hollywood sana, berjudul Now You See Me: Now You Don't, yang tentunya sedang tayang di sinema Indonesia. Berbeda, karena isinya sejenis perampokan bank (heist), namun para karakternya bukanlah pencuri atau perampok biasa, melainkan pesulap yang memang lihai membobol sistem keamanan. 

Filmnya di tahun 2025 ini memang seri ketiga, dimana pada tahun 2016, dirilis berjudul film Now You See Me 2, dan sebelumnya di tahun 2013, berjudul sama tanpa nomor 2.

Dari film pertamanya, Now You See Me memang berkutat pada keempat pesulap yang lihai dalam mengelabui sistem keamanan, yaitu J Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco), dan Henley Reeves (Isla Fisher).

Bagi yang sering menonton film Hollywood, maka pasti tahu berbagai aktor yang terkenal dan memerankan waralaba sulap ini. Kadang, aktor terkenal lainnya seperti Morgan Freeman dan Mark Rufallo ikut berperan dalam waralaba ini, walau tidak sebagai tokoh utama.

Kembali ke tokoh utamanya, keempat karakter tersebut dipanggil dengan nama kelompok Four Horsemen, yang khusus menargetkan lokasi 'pencucian uang' para kriminal, seperti kasino, gedung opera, dan banyak lainnya. 

Four Horsemen melaksanakan pembobolan dengan banyak trik sulapnya, sebagai pengalihan dari sistem keamanan gedung serta para personilnya (dan bahkan penontonnya).

Visual dan trik sulapnya pun menarik, karena sangat heboh dan hampir tidak mungkin, mirip dengan banyak trik sulap aneh di panggung lainnya. Bahkan bisa dibilang, terlalu fantastis dan tidak mungkin dilakukan, walau banyak trik sulap 'asli' sangatlah tidak masuk diakal.

Jadi, waralaba film Now You See Me cukup unik, dibanding film perampokan atau pembobolan keamanan lain. Film lain biasanya menyajikan alat atau sistem keamanan yang canggih, dengan metode pembobolan yang lebih canggih pula. Namun, di waralaba ini justru ditambah dengan bumbu trik sulap.

Okeh, saatnya kembali ke sinopsis film penuh aktor mahal ini.

Sinopsis Now You See Me: Now You Don't

J Daniel Atlas (Jesse Eisenberg) harus kembali membobol sebuah sistem keamanan, walau tim Four Horsemen telah tercerai berai. Seperti biasa, Atlas terpaksa mematuhi permintaan dari Thaddeus Bradley (Morgan Freeman), yang 'terkenal' suka memaksa para anggota Four Horsemen.

Di tengah kegamangan timnya, Atlas lalu mencoba merekrut anggota tim pesulap baru, Charlie (Justice Smith), Bosco (Dominic Sessa) dan June (Ariana Greenblatt). Mereka adalah pesulap muda, yang cukup mengerti dunia lain dibalik 'sulap.'

Kali ini, targetnya adalah sebuah berlian berbentuk hati nan berukuran besar, yang dianggap sebagai bahan pencucian uang bagi komplotan kriminal Vanderberg. Saking nekatnya, mereka berempat harus merebut berlian tersebut tepat saat dipamerkan, dari pemiliknya yang bernama Veronika Vanderberg (Rosamund Pike).

Saat tengah melarikan diri, kebetulan mereka bertemu dengan anggota Four Horsemen yang asli, yaitu Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco), dan Henley Reeves (Isla Fisher).

Karena terpaksa membuka operasi mereka, keempat anggota Four Horsemen pun mengisyaratkan, bahwa seluruh tim harus bertemu kembali Bradley. Walau berbahaya, lebih berbahaya lagi jika berlian tidak langsung diserahkan, sekaligus merencanakan pelarian mereka berikutnya.

Oh ya, jika dibandingkan dengan film Now You See Me lainnya, cuplikan film seri ketiga ini justru lebih banyak terisi adegan aksi dan gelut yang fantastis. 

Tentu, aksi tersebut dapat ditonton di sinema-sinema Indonesia.

Berlari Sebrutal Mungkin Dalam Kompetisi Film The Running Man

 

Ben Richards yang sumringah (mungkin) cuan (IMDB).

Mungkin daripada berjalan saja demi protes, sudah saatnya kita berlari saja untuk mencari uang alias duit. Cerita seperti ini diangkat oleh film The Running Man, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia.

Tentu, sebelum membahas filmnya, ternyata film ini adalah hasil adaptasi novel sang novelis terkenal (khususnya horor atau kengerian lainnya), yaitu Stephen King, dengan judul yang sama dan dirilis tahun 1982 lalu.

Bulan September lalu, karya Stephen King yang berjudul The Long Walk diadaptasi ke layar lebar (dan mungkin memicu ramainya unjuk rasa selama September kemarin). Kali ini di The Running Man, justru mengisahkan tentang tokoh utamanya yang harus berlari terus dalam suatu kompetisi.

Tokoh utama dalam novel The Running Man memang seorang yang depresi karena berbagai hal, namun masih semangat untuk mencari jalan keluar, khususnya untuk mengejar cuan. Dunia dalam novel inipun sudah mencapai tahap dystopia, yaitu kacaunya dunia canggih serba brutal tanpa aturan norma.

Novel ini pun sebenarnya sempat diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1987 lalu, dengan judul yang sama, namun tokoh utamanya diperankan oleh Arnold Schwarzenegger. 

Berbeda dengan film reka ulangnya di tahun 2025 ini, dalam film 1987, tokoh utamanya justru berlatar seorang narapidana dan mantan polisi, yang dapat bebas dari hukuman dengan mengikuti sebuah kompetisi brutal, bernama The Running Man.

Ya, di dunia novel ini, banyak narapidana dapat mengikuti kompetisi The Running Man, yang ditayangkan di televisi secara nasional, agar dapat terbebas dari hukumannya. 

Namun, resikonya adalah mati, karena setelah kompetisi dimulai, sekelompok pemburu akan mengejar dan menangkap kontestan, dengan cara apapun juga, bahkan saat masih hidup atau telah mati. Memang penggambaran yang cocok di dunia dystopia.

Naaah, di film 2025 ini, latar tokoh utama dan dunianya pun berbeda, namun dicek saja di sinopsisnya saja ya...

Sinopsis The Running Man

Ben Richards (Glen Powell) adalah seorang pengangguran yang keras kepala, walau telah didaftar hitamkan (blacklist) oleh banyak perusahaan. Perangainya yang meledak-ledak dan keras, membuat dirinya sulit mencari pekerjaan. Padahal, umurnya masih cukup muda, yaitu 35 tahun. Sayangnya, dia adalah seorang ayah tanpa istri (alias pisah ranjang), dan memiliki anak yang sakit-sakitan.

Ben yang sudah mentok membantu anaknya, akhirnya terpaksa memanggil seorang konsulat dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), bernama Sheila (Jayme Lawson). Ben akhirnya menitipkan anaknya pada Sheila, lalu mengikuti sebuah acara brutal berjudul The Running Man.

Saat baru mendaftar, sang produser acara Dan Killian (Josh Brolin), langsung kagum dengan latar dan karakter yang dimiliki oleh Ben. Keduanya bahkan taruhan, bahwa siapa yang menang, dapat mengacak-acak acara The Running Man.

Hanya berbekal pengetahuan wilayah dan nekat, Ben lalu melarikan diri dengan banyak kontestan lainnya selama 30 hari kedepan. Berbagai aksi dia jalani, bahkan sampai menantang para pemburunya, yang terlihat kesulitan mengejar Ben, padahal sudah setengah mati menjalani hidup.

Sanggupkah Ben selamat dalam acara ini demi mengejar cuan yang sudah menjadi haknya? Atau malah bergabung dengan tim pemberontak yang tiba-tiba membantu Ben?

Jawabannya, tentu ada di sinema Indonesia saat ini.

5 November 2025

Pemburu yang Terpaksa Diburu Balik Mangsanya di Predator: Badlands

 

Thia dan Dek yang saling menjaga bagian belakang (IMDB).

Setelah ramainya film alien Predator tanpa judul Predator di film Prey (2022) lalu, akhirnya di November 2025 ini, dirilis Predator: Badlands di sinema-sinema Indonesia.

Memang, film Prey lalu mengisahkan cerita berbeda dari waralaba Predator, yaitu berlatar jaman kolonialisme Eropa di Amerika sana. Tokoh utamanya pun berasal dari suku Indian, yang telah terlatih sebagai seorang pemburu.

Kini, mungkin melanjutkan animo film sebelumnya, Predator: Badlands mengisahkan seorang Yautja (nama spesies klan predator) muda, yang perlu membuktikan keahlian dirinya dalam berburu.

Tentu dengan masih bumbu predator, kali ini melanjutkan arena pemburuan di ekosistem yang sulit. Premise ini memang sudah dimulai sejak film pertamanya, yaitu Predator (1987) yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger. 

Kisah perburuan ini terus dilanjutkan hingga banyak film setelahnya, yaitu di film Predator 2 (1990), Predators (2010), The Predator (2018), hingga Prey (2022) yang tadi disebutkan.

Predator pun sempat dibuat karya film cross-over-nya, yaitu kombinasi dengan waralaba film Alien, di film Alien vs. Predator (2004), dan Aliens vs. Predator: Requiem (2007). 

Nah, kali ini berbeda dengan seluruh film predator sebelumnya, Predator: Badlands justru tidak mengisahkan yautja yang meneror manusia atau mahluk lainnya. Justru, yautja disini mirip dengan film Alien vs. Predator, dimana perlu bekerja sama dengan mahluk lain, demi menangkap buruannya.

Bahkan, tokoh utamanya adalah seorang yautja muda yang terusir dari klannya, yaitu status terrendah dari spesiesnya yang senang berburu berbagai mahluk mengerikan seantero galaksi.

Sinopsis Film Predator: Badlands

Dek (Dimitrius Schuster-Koloamatangi) adalah seorang yautja muda yang diusir dari klannya. Namun, Dek masih merasa sanggup mengembalikan kehormatannya sebagai seorang predator. Dengan bekal dan peralatan seadanya, dirinya lalu berangkat ke sebuah planet berbahaya, demi memburu satu spesies yang sulit dikalahkan oleh para predator.

Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Thia (Elle Fanning), yaitu seorang robot synth yang pesawatnya jatuh di planet tersebut. Thia tidak memiliki bagian tubuh bawahnya, akibat rusak parah setelah kecelakaan.

Keduanya pun lalu setuju, bahwa kemampuan navigasi Thia sanggup membantu misi solo karir Dek. Thia pun selalu mencemooh Dek, yang menyatakan bahwa planet ini justru sangat berbahaya, dan Dek adalah mangsa sesungguhnya.

Sayang seribu sayang, ternyata tidak hanya mereka dan mahluk buas lainnya yang berada di planet tersebut. Sekelompok manusia yang melacak lokasi jatuhnya pesawat, mencoba membuat pangkalan militer di sekitarnya.

Dek dan Thia pun perlu berjuang lebih sulit lagi, karena selain melarikan diri dari mahluk buas, kejaran manusia yang jumlahnya lebih banyak dengan teknologi lebih lengkap pun menyulitkan misi keduanya.

Sanggupkah Dek mengembalikan kembali kehormatannya? Dan sebenarnya Thia memiliki maksud apa dibalik bantuannya? Atau malah tetap manusia yang mengambil untung dari seluruh 'drama'? Dan bahkan seluruh mahluk buas jengah dan membasmi seluruh pihak penyusup di planet tersebut?

Jawabannya, dapat disaksikan di sinema Indonesia.

Koki Korea Selatan yang Terpaksa Beraksi Gelut di Film Boss

 

Pan-ho, Soon-tae, dan Kang-pyo saat masih damai (TMDB).

Akhirnya Korea Selatan menelurkan puuula film aksinya di November ini, dengan judul Boss. Kali ini, filmnya pun berisi drama komedi aksi ala gangster dunia Korea Selatan sana, yang memang suka merarela sejak film Old Boy (2003) lalu.

Film Boss memang mengombinasikan tiga genre berbeda, karena terlihat dari cuplikannya, yaitu berbagai gelut aksi jarak pendek, dengan bumbu drama tujuan para karakternya, namun masih memiliki pembawaan komedi yang kasar.

Trio kombo tersebut pun dapat terlihat dari ketiga tokoh utamanya, yaitu Soon-tae (Joo Wo-jin), Kang-pyo (Jung Kyung-ho), dan Pan-ho (Park Ji-wan). Ketiganya tengah bersaing sebagai kandidat gelar bos di gangster wilayahnya, namun dengan tujuan yang sangat berbeda.

Soon-tae sebenarnya tidak menyukai dunia gangster, namun lebih menyukai dunia masak memasak. Kesehariannya sebagai koki di restoran kecil miliknya, terbawa pula ke dunia gangster. Soon-tae bahkan terpaksa mengikuti gelut gangster, sambil dirinya mengirimkan pesanan pelanggan.

Kang-pyo justru seorang kandidat paling kuat, karena dirinya adalah cucu dari bos sebelumnya. Namun, sosoknya yang paling muda, wajahnya yang tampan, serta gaya gelutnya yang lentur, justru menyebabkan Kang-pyo ingin berkarir sebagai penari dansa tango. 

Terakhir adalah yang paling niat dan brutal, yaitu Pan-ho. Dirinya bahkan menegaskan, bahwa seluruh gangster di dunia hanya bertujuan satu, yaitu mencapai level Boss dan memimpin seluruh gangster di areanya. Padahal, seluruh 'konsultan tua' gangster menolaknya, karena pembawaannya yang jelek.

Ketiganya pun tetap perlu bersaing, karena seluruh gangster di areanya, menunggu terpilihnya bos baru mereka. Entah siapa yang terpilih, yang pasti dalam waktu satu bulan, salah satunya harus menduduki singgasana bos gangster.

Padahal, ketiganya sempat bekerja sama dengan baik saat masih muda. Saking lihainya, bos sebelumnya memang tidak dapat memilih, dan merekomendasikan ketiganya dalam kompetisi selama satu bulan penuh. 

31 Oktober 2025

Romansanya jadi Seniman Terlalu Niat di Film Komedi Si Paling Aktor

 

Rachel dan Tegas yang heran kenapa Gilang ternyata OP (TMDB).

DAAAAAN, akhirnya bulan Oktober ini mencapai kisah film yang Full Circle alias Lengkap, dengan film komedi berjudul Si Paling Aktor yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Nah, di film Si Paling Aktor ini, mengisahkan suatu tantangan dari pendatang baru, yang mencoba segalanya demi berkiprah di dunia industri kreatif, khususnya perfilman.

Rasanya di dunia internet jaman sekarang ini, dengan berbagai jenis streamer, vtuber, dan kreator konten, layaknya film ini bisa menjadi pelajaran tersendiri. Kadang membuat konten terlalu niat, hingga akhirnya kelepasan juga. Padahal berniat ngetren, malah bikin ngiler bablas ala se-Indonesia.

Mungkin, perlu diingat sekalian, jaman band indie Bandung, dan berbagai kota serta banyak wilayah lainnya, saat awal 2005-an hingga awal 2010an. 

Jaman tersebut, band seperti Alone at Last, Boys Are Toys, Buckskin Bugle, Closehead, Efek Rumah Kaca, Inspirational Joni, Koil, Kuburan, Kungpow Chicken, Maliq D'Essentials, Netral, Panas Dalam, Rocket Rockers, Rosemary, The Changcuters, dan The Sigit, masih meramaikan ranah musik no-label Indonesia.

Bahkan saking mendunianya, setiap minggu dibuka panggung yang diramaikan oleh berbagai band indie, khususnya di seluruh sudut kota Bandung.

Walau kini tidak seramai sekarang di dunia fisik, tapi berbagai kanal YouTube, bahkan yang resmi, masih meramaikan ranah indie Indonesia dengan berbagai gimmick barunya. Banyak pula musisi lain yang merambah YouTube dengan pembawaan no-labelnya.

Yah, daripada bawa-bawa bendera fiktif, lalu bikin rusuh di jalan sambil bakar-bakar gedung DPR. Mending, berolahrasa dan berolahraga sambil moshing di tengah konser.

Okeh, kembali ke film Si Paling Aktor, yang mengisahkan seorang aktor yang terlalu niat mendalami perannya, padahal hanya berperan figuran. Walau disajikan dengan kisah komedi, mungkin perlu ditelaah, sebenarnya seorang kreator harus bertindak atau bersikap seperti apa, tentu dengan tidak mengesampingkan seluruh karyanya.

Nah tapi... memang setiap seniman yang berkontribusi dalam sebuah karya, membutuhkan gimmick-nya sendiri. Selain agar tetap eksis, tentu dengan dukungan komunitasnya, akan dinilai mampu, dan bahkan sanggup menyelesaikan tantangan di industri kreatif.

Oh, ya Romansa juga artinya petualangan loh... bukan berarti langsung mengacu pada sesuatu yang romantis.

Sinopsis Film Si Paling Aktor

Gilang Garnida (Jourdy Pranata) adalah seorang aktor yang telah berkarir lama, yaitu selama 10 tahun lamanya dikutuk menjadi aktor pecicilan, alias figuran. Gilang sulit mendapatkan peran utama maupun stabil, akibat terlalu sering berimprovisasi, hingga di-blacklist oleh banyak sutradara.

Bahkan, sang Mad Dog Yayan Ruhian sempat terpukul olehnya, karena Gilang belajar bela diri selama tiga bulan, hanya untuk beradu gelut dengan sang raja silat perfilman Indonesia ini.

Di film yang lain, Gilang bahkan belajar menembakkan senapan api, karena dirinya memerankan seorang tukang bubur teroris, yang karakternya langsung mati meledak di awal film.

Kenalan produsernya, Ramli (Indra Birowo) bahkan menyebut Gilang sebagai sok tahu, yang tidak mau menuruti arahan sutradara film.

Suatu saat, lawan mainnya yang bernama Kevin Sumitro (Kenny Austin) diculik oleh Koh Chen (Verdi Solaiman), padahal niatnya ingin menculik Gilang. Saking sayangnya, jika Kevin berhasil ditemukan, akan ada imbalan Satu Milyar!

Bersama sang cemceman hati yang sebenarnya lebih menyukai Kevin, Rachel Hesington (Beby Tsabina) dan sutradara Tegas Julius (Kevin Julio), yang cukup linglung karena aktornya hilang, mereka bertiga lalu mencoba mencari Kevin.

Tentu berniat mendapatkan imbalan Satu Milyar, menyelamatkan karir Gilang, mendapatkan hati Rachel, serta melanjutkan kembali produksi filmnya Tegas, Gilang yang telah sakti mandraguna akibat improvisasi yang terlalu mengena, mencoba membuktikan seluruh kemampuannya yang ada.

Silat Tradisional Bugis ala Pendekar Makassar di Film Badik

 

Mike Lucock dan Donny Alamsyah yang tengah berduel (YouTube).

Akhirnya, kisah gelut silat tradisional pun difilmkan di tahun 2025 ini, dengan judul Badik, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia bulan Oktober ini.

Sebelumnya, film Indonesia mengenai kisah gelut silat didaptasi di Panji Tengkorak, sejak Agustus lalu. Walau menggunakan media animasi dua dimensi, namun tetap berlatar silat Indonesia bersama kelihaian para pendekarnya. Di bulan Mei lalu, film berjudul Pengepungan di Bukit Duri pun dirilis sebagai aksi gelut, yang berkutat pada atmosfer tawuran ala Indonesia. 

Nah, kalau dari segi gelut silat Indonesia, tentu masih teringat mengenai film Raid (2011, 2014), yang membuka jalan agar film aksi gelut silat Indonesia kembali mendunia. Saking mendunianya, Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhiyan meramaikanya sebagai lawan John Wick alias Keanu Reeves, di film John Wick 4, tahun 2023 lalu. 

Sekilas mengenai silat Indonesia, memang memiliki kekhasan tersendiri. Yaitu banyak gerakan silat yang fatal, dan khusus tidak hanya untuk mengenai serangan, menangkis balik, dan mengunci sendi tubuh lawan saja, namun langsung mematikan. Karena itu, banyak gerakan silat dilarang di MMA UFC.

Satu kekhasan lainnya, adalah digunakannya berbagai senjata tajam pendek khas Indonesia, seperti keris, golok, kujang, atau sejenis belati lainnya, agar setiap gelut diakhiri cepat (!)

Sama seperti kisah para pendekar yang tidak jelas arah tujuannya, contohnya para Ronin dari Jepang atau Wuxia dari China. Mereka mengelana untuk mendalami ilmu gelut, atau sekedar berduel dengan lawan yang disukainya. Animo kisah silat tersebut mungkin masih belum dijabarkan di dunia fiksi saat ini, namun suatu saat mungkin kembali lagi.

Nah, bagaimana dengan film Badik yang mengisahkan silat ala suku Bugis dari Sulawesi Selatan ini? Nama khas daerahnya adalah Mencak Sangge, yang masih beraliran silat, yaitu dengan gerakan ampuh nan mematikan. 

Khasnya dari film ini adalah Badik, yaitu belati dari suku Bugis. Badik memiliki lengkungan ala senjata Khukri dari Nepal, namun berukuran lebih kecil, lebih lurus, dan lebih mirip golok mini dengan ukuran mata pisaunya lebih lebar.

Oh ya, terlihat pada cuplikannya pula, satu gerakan yang dibolehkan oleh silat adalah serangan telapak tangan menuju leher, agar lawan langsung sulit bernapas.

Donny Alamsyah, Mike Lucock, Prisia Nasution pun berperan dalam film ini dengan mendukung tokoh utamanya, yaitu Badik yang diperankan oleh Wahyudi Beksi.

Kisahnya pun mengangkat masalah sosial yang kadang terjadi di Indonesia, adalah kisah rundungan yang terjadi saat orientasi mahasiswa baru (ospek), yang berujung kematian korban.

Sinopsis Film Badik

Badik (Wahyudi Beksi) kaget akan kabar kematian adiknya, Unru (Fandy AA). Padahal, Unru baru saja berhasil masuk kuliah, dan sedang mengikuti Masa Orientasi Mahasiswa Baru di kampusnya.

Badik pun mendengar kabar, bahwa adiknya dirundung di kampus tersebut. Berita tersebut sempat viral, dengan mahasiswa yang berprotes mengenai 'Bullywood,' yang istilahnya diramaikan oleh Nur (Prisia Nasution) sebagai anggota pers mahasiswa.

Badik lalu mencoba mencari lebih banyak mengenai kabar kematian adiknya, dengan menyamar sebagai petugas kebersihan di lokasi kampus. Dengan belati Badik wasiat miliknya, dia bergerilya dan mencari para 'tersangka' rundungan.

Ternyata, kisah rundungan di kampus tidak hanya terjadi pada Unru, namun terkait dengan beberapa kematian mahasiswa lainnya, yang semakin mengacu pada target Badik.

Badik yang merasa bahwa ini bukan kasus biasa, lalu mencoba menantang pada perundung, yang berakhir gelut parah. Walau tidak berhenti disitu saja, ternyata memang para perundung adalah ahli silat, yang cukup cekatan dan sanggup melawan Badik. Para perundung pun semakin panik, karena aksi mereka selama ini bisa dilaporkan pada polisi.

Sanggupkah Badik melawan mereka semua dan mengungkap bukti perundungan Unru? Atau malah berujung petaka bagi semuanya?

Jawabannya bisa dicek saja di sinema Indonesia.

29 Oktober 2025

Aksi Mantan Atlet Baseball Sebagai Kriminal di Film Caught Stealing

 

Hank yang bingung ada apa dengan kucingnya (IMDB).

Berbagai film aksi Hollywood saat ini justru mengisahkan latar sosialnya sendiri, seperti di film Caught Stealing yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia. Mungkin, Hollywood agak kangen dengan kisah aksi yang tidak begitu mendunia, namun mengingatkan bahwa negaranya sendiri sedang kacau.

Nah, khusus untuk Caught Stealing, justru memberi 'vibe' yang beda, yaitu berlatar tahun 90an. Memang, jaman tersebut adalah akhir dari abad 20, yang memungkinkan berbagai potensi dunia modern, walau belum begitu canggih dari segi kesehariannya.

Dari cuplikannya, terlihat bagaimana kesan 90an dijaga ketat dalam film ini. Dengan latar New York yang khas, serta berbagai gang kriminal yang berada di dalamnya.

Film ini mengisahkan tentang beberapa kelompok kriminal, yang khas berasal dari beberapa kalangan tertentu. Memang, sejak awal Amerika berdiri, para koloni berasal dari banyak negara berbeda dan membentuk komunitasnya sendiri.

Nah, justru dari cuplikannya saja, sudah dapat ditelaah berbagai sudut pandang banyak karakter berbeda. Tampaknya film ini memang mengambil referensi dari drama kriminal film 90an lalu, contohnya adalah Snatch (2000) dan Lock Stock and Smoking Barrels (1998).

Bahkan, terlihat sedikit bumbu dari sutradara khas drama kriminal dari AS, yaitu Quentin Tarantino. Sinematografi dari Tarantino biasanya memunculkan banyak karakter dengan sudut pandang berbeda, aksi yang tidak begitu epik, namun cukup brutal dari segi visualnya.

Bahkan saking beraninya, film Caught Stealing ini memasukkan subgenre Dark Comedy, sebagai label dalam film ini. Bahkan, bagi yang tahu sutradaranya adalah Darren Aronofsky, adalah sineas aneh yang sempat memproduksi film Black Swan (2010) dan The Wrestler (2008).

Oh ya, mungkin sudah saatnya mengecek cuplikannya saja.

Sinopsis Film Caught Stealing

Hank Thompson (Austin Buttler) adalah seorang mantan atlit Baseball, yang karirnya kandas dan kini bekerja sebagai barista di sebuah bar lokal. Suatu malam, Russ (Matt Smith) yang harus pulang 'kampung' menitipkan kucingnya pada Hank dan pacarnya, Yvonne (Zoe Kravitz).

Namun selang beberapa lama, Hank yang baru pulang kerja dicegat oleh dua orang preman, tepat di depan pintu apartemennya. Mereka bertanya, apakah Russ ada dirumah atau tidak. Hank yang jujur menyatakan bahwa Russ belum pulang, malah dipukuli oleh keduanya.

Hank lalu entah kenapa harus berurusan dengan banyak liarnya para kriminal, yaitu dari sindikat geng Rusia, geng Puerto Rico, dan geng Yahudi, yang mengejarnya tanpa henti.

Namun, detektif Roman (Regina King) yang sempat berkonsultasi dengan Hank, malah kesulitan membantunya. Karena, mereka bukan geng sembarangan, yang hanya mengejar orang tanpa alasan, dan pasti menargetkan suatu yang besar.

Russ yang baru pulang pun sempat celaka, karena terpukul oleh tongkat kasti milik Hank, yang masih panik atas banyaknya kejadian naas sebelumnya. Russ pun terpaksa merekrut Hank, karena memiliki sejumlah uang curian di gudang miliknya. Keduanya sempat bertengkar, namun tetap saja tidak menyelesaikan masalah uang curian tersebut.

Sanggupkah Hank selamat dari kejaran berbagai sindikat kriminal tersebut? Atau malah tergiur dengan sejumlah uang curian yang ada?

Jawabannya tentu ada di sinema Indonesia.

Scott Eastwood Berperan di Film Stolen Girl dan Tin Soldier

 

Amina yang depresi setelah kehilangan anaknya (IMDB).

Film Hollywood akhirnya kembali diramaikan dengan beberapa film aksinya. Akhir Oktober ini, dua film aksi Hollywood dirilis di sinema Indonesia berjudul Stolen Girl dan Tin Soldier.

Cukup unik dari segi perilisannya, karena kedua film diperankan oleh seorang aktor yang semakin naik daun, yaitu Scott Eastwood. Bagi yang pernah mendengar namanya, tentu ngeuh dengan nama Eastwood. 

Dan memang, Scott adalah anak dari aktor legendaris Clint Eastwood. Clint adalah aktor kawakan yang membuka jalan bagi Hollywood, dengan berbagai film aksinya di tahun 60an hingga 70an lalu. Clint masih sering berperan di banyak film aksi Hollywood, walau sudah terlihat sepuh.

Nah, kembali ke Scott Eastwood, karir aktingnya di Hollywood dimulai sejak tahun 2006 lalu, dengan film perang epik berjudul Flags of Our Fathers.

Bagi penggemar film pahlawan super, Scott sempat memerankan Lieutenant GQ Edwards di film Suicide Squad (2016), yang kebetulan karakternya bertahan hingga melawan 'bos' di akhir film. Dari ranah film pahlawan super lainnnya, Scott sempat berperan pula di film Pacific Rim: Uprising (2018).

Nah, bagi yang suka film aksi balapan, Little Nobody diperankan oleh Scott di dua seri Fast, yaitu Fate of the Furious (2017) dan Fast X (2023).

Film Stolen Girl

Kembali ke film Stolen Girl, Scott berperan sebagai Chris Grant, yaitu karakter yang berjibaku sebagai anggota agensi swasta penyelidik penculikan anak.

Kisahnya dimulai saat Amina (Alejandra Howard) yang anaknya bernama Maureen (Kate Beckinsale), diculik oleh mantan suaminya sendiri, yaitu Karim (Arvin Kananian). 

Dari cuplikannya, ditunjukkan referensi dunia nyata mengenai masalah sosial di AS sana. Yaitu ribuan anak diculik oleh orangtuanya sendiri, setiap tahunnya. Padahal, pengadilan telah memutuskan siapa yang menjadi wali anak setelah kedua orangtua bercerai.

Nah, setelah bertahun-tahun lamanya gagal menemukan kembali sang anak, Amina dihubungi oleh Robeson (Scott Eastwood), yang dapat membantu dirinya menemukan Maureen.

Sayangnya, agensi tersebut tidak langsung meminta imbalan atas jasanya. Amina diminta bergabung sebagai agen penyelidik penculikan anak, sambil mencari kabar Maureen.

Amina pun dilatih habis-habisan oleh Robeson, mulai dari beladiri, persenjataan, hingga kemampuan mengintai. Bahkan, saking termotivasinya, Amina semakin cekatan dan brutal setiap kali menyelesaikan misinya.

Kelanjutan ceritanya tentu dapat disaksikan di sinema Indonesia.

Bokushi yang ceramah mengenai negara idealnya (IMDB).

Film Tin Soldier

Kali ini, kisahnya lebih ke cerita paramiliter, yang tampaknya sedang ramai dibahas di Amerika sana, akibat kekisruhan politik nasionalnya.

Namun, filmnya sendiri berisi banyak aktor terkenal, tentu dengan Scott Eastwood sebagai tokoh utamanya, ditambah aktor ternama Jamie Foxx dan John Leguizamo, serta aktor veteran Robert De Niro.

Okeh, kembali ke sinopsisnya. Nash Cavanaugh (Scott Eastwood) adalah seorang mantan agen operasi khusus AS, yang telah lama pensiun dari pekerjaannya. Sejak kehilangan istrinya, Evoli (Nora Arnezeder) dalam sebuah pelarian, dirinya pun tidak semangat hidup dan mengembara layaknya gelandangan.

Namun, ternyata militer AS masih membutuhkan dirinya. Emmanuel Ashborn (Rober De Niro) meminta dirinya kembali bertugas, karena seorang komandan paramiliter Bokushi (Jamie Foxx), mulai berulah dan merasa perlu berontak.

Nash pun teringat momen saat kehilangan istrinya, yang memang terjadi saat keduanya melarikan diri dari Bokushi. Nash dan Evoli sempat hidup bersama dibawah naungan Bokushi, yang menjanjikan hidup sejahtera nan makmur bagi para veteran perang dan eks-militer.

Bahkan, terdapat kabar bahwa Evoli yang seharusnya tenggelam saat mobil keduanya jatuh ke dalam sungai, masih hidup dan kini disekap oleh Bokushi. Bersama Luke (John Leguizamo) dan seluruh timnya, Nash harus membasmi Bokushi, agar organisasi paramiliternya tercerai berai.

Sanggupkah Nash menyelesaikan misinya dan menemukan kembali istrinya? Tentu ditonton saja di berbagai sinema Indonesia.

16 Oktober 2025

Beradu Keahlian Kungfu ala Novelis China di A Writer's Oddisey 2

 

Terasa Isekai di dunia novel (TMDB).

Film dari negara China pun kembali dengan aksi kungfu fantastisnya di film A Writer's Oddisey 2, saat pertengahan bulan Oktober ini di sinema Indonesia. Kali ini, mirip dengan karya ala Korea dan Jepang, A Writer/s Oddisey pun diadaptasi dari novel laris berjudul sama. 

Agak berbeda dengan film fantasi epik ala China, justru di film ini mengambil kisah isekai ala anime dari Jepang dan Korea (lagi). Tokoh utamanya sendiri adalah seorang novelis, yang terjebak di narasi karyanya sendiri.

Dalam film pertamanya, kisahnya lebih supernatural, dengan beberapa visual latar dari dunia nyata. Guan Ning (Lei Jiayin) adalah seorang pembunuh bayaran, yang disewa oleh seorang saudagar kaya untuk membasmi seorang penulis. Menurut sang klien, novel berjudul Membunuh Dewa tersebut merusak kesehatannya.

Padahal, novel itu sendiri memiliki kemampuan sakti yang aneh. Guan Ning sempat melihat banyak keanehan saat mengejar sang novelis Kongwen (Dong Zijian). Bahkan, Guan Ning terjebak pula di dunia novel tersebut bersama penulisnya.

Guan Ning yang sebenarnya ingin mempercepat misinya selesai pun terpaksa membantu Kongwen dalam menamatkan misi di dunia novel. Padahal, saat itu anaknya, Xiao Ju Zi (Wang Shengdi) yang masih kecil, hilang entah kemana dan Guan Ning perlu mencarinya.

Sayangnya, Guan Ning dan Kongwen harus menamatkan misi untuk membasmi pemimpin jahat bernama Raja Surai Merah, yang berkuasa di dunia novel dengan zalim dan totaliter.

Nah, mengacu ke film keduanya, cerita dari film pertamanya memang belum selesai. Kali ini, mereka bertempur langsung melawan Raja Surai Merah, dengan bantuan Xiao Ju Zi yang ternyata berada di dunia fantasi yang sama dan telah sakti mandraguna pula.

Jika misi mereka gagal, maka batas dimensi antara dunia nyata dan dunia fantasi novel akan terbuka lebar.  Terbukanya batas dunia fantasi dan nyata akan menyebabkan tercampur-aduknya kedua dimensi, sehingga kerusakan masif pun dipastikan terjadi.

Misi ketiga tokoh utama pun beralih, yang asalnya adalah menyelamatkan diri dari dunia fantasi nan brutal, menjadi mengamankan dunia nyata yang dapat terinvasi oleh pasukan monster Raja Surai Merah dari dunia novel.

9 Oktober 2025

Melarikan Diri ala Tawanan Perang dari China di Film Dongji Rescue

Warga desa di China yang kaget baru sekali lihat pasukan Jepang (TMDB).

Film dari China tampaknya semakin ajib saja, yang kini mulai merambah kisah dari latar sejarah atau modern. Sebelumnya, film berjudul Operation Hadal dirilis bulan lalu di Indonesia, yang mengisahkan pertempuran pasukan modern China di lautan, mirip dengan film Dongji Rescue di bulan Oktober ini.

Film Dongji Rescue yang tengah tayang di sinema Indonesia, tampaknya mengingatkan bahwa China sebenarnya memiliki andil saat Perang Dunia 2 dahulu, daripada kelebihan pasukan modern China seperti di film Operation Hadal.

Memang kedua film tersebut cukup berbeda dengan banyak film ciamiknya, yang biasanya berlatar mitologi China dengan aksi gelut ala fantasi melawan monster raksasa pemakan manusia.

Kembali ke film dari China ini, tentu karena wilayahnya yang tepat bersebelahan dengan Jepang sebagai agresor di PD 2, China bersama Korea sempat mengalami banyak konflik di bagian utara Asia Timur tersebut.

Bahkan unit 731, yaitu fasilitas penelitian senjata biologis dan kimiawi milik Jepang, ditempatkan di wilayah timur laut China. Fasilitas ini melaksanakan berbagai eksperimen ke banyak desa di sekitarnya, sehingga berujung meninggalnya ratusan ribu warga China.

China sebenarnya jaman tersebut mengalami kedekatan dengan Inggris Raya dalam menghalau pergerakan Jepang. Sayang, kolaborasi keduanya kurang sanggup melawan pasukan Jepang yang sedang beringas.

Nah, kisah kerjasama Inggris Raya dan China saat PD 2 diangkat dalam film Dongji Rescue ini. Tokoh utamanya bukanlah seorang tentara, namun warga desa biasa, yang terpaksa melawan balik Jepang, akibat desanya terancam.

Kisah nyata yang diangkat oleh film Dongji Rescue berasal dari dokumentasi sejarah Tenggelamnya Kapal Laut Lisbon Maru, yang menyebabkan 800 pasukan Inggris Raya tenggelam dan meninggal.

Sinopsis Film Dongji Rescue 

A Bi (Zhu Yilong) dan A Dang (Leo Wu) panik saat mendengar desanya akan diserang pasukan Jepang. Desa mereka memang berada di pesisir pantai, yang sempat melihat kapal Jepang berada di lepas pantai namun tidak berlabuh.

Setelah sekian lama, ternyata kapal Jepang tidak berlabuh juga, tetapi malah mengirimkan pasukannya ke pesisir pantai. Warga desa pun diancam, namun tidak diserang, melainkan dipekerjakan sebagai budak perang bagi pasukan Jepang.

Ternyata, pasukan Jepang sebenarnya berniat menghabisi desa tersebut, tetapi setelah 1800 pasukan Inggris tawanannya dibasmi terlebih dahulu. Desa tersebut harus dihabisi, karena membasmi tawanan adalah sebuah tindakan kejahatan perang, dan pasukan Jepang tidak ingin ada saksi atas kejahatannya.

A Bi dan A Dang sempat bertengkar karena panik, walau akhirnya dilerai oleh A Hua (Ni Ni). Mereka akhirnya berinisiatif untuk melaksanakan operasi penyelamatan pasukan tawanan Inggris Raya.

Banyak warga desa setuju, dan daripada melarikan diri, mereka bersiap untuk menyelamatkan seluruh pasukan Inggris Raya di Kapal Lisbon Maru tersebut. Warga desa berharap, jika operasi penyelamatan ini berhasil, maka wilayah desa mereka tidak akan menjadi target pasukan Jepang.