Tampilkan postingan dengan label Aksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksi. Tampilkan semua postingan

22 April 2026

Aksi Gelut Live Action Ala Jepang di Film Wind Breaker

 

Haruka yang suka gelut (TMDB).

Okeh, saatnya menyambut film Live Action yang berbeda dari Jepang sana, berjudul Wind Breaker, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia dengan rating D17. Film ini agak unik, jika dibandingkan dengan banyak film Live Action Jepang. Yaitu khas gelut anak SMA berandalan, yang tentu tidak seaneh animo anime lain.

Manga Wind Breaker dan Crows

Nah, sebelum membahas cerita filmnya, justru perlu dibahas animo gelut anak SMA dari Jepang sana. Wind Breaker memang diadaptasi dari manga dan anime yang berjudul sama, hasil karya Satoru Nii. Dan Ya, animo ini sempat ramai sejak film Crows Zero, yang rilis tahun 2007 lalu. Crows Zero sempat menjadi bahan rekomendasi legendaris di Indonesia, khususnya dari kalangan teman terdahulu. Apalagi, film ini khas dengan sinematografi ala Jepang.

Sayangnya, penulis belum menonton sama sekali film Crows Zero, yang rilis manganya pada tahun 1994 dari Hiroshi Takahashi. Mengapa? Karena penulis sempat menamatkan manga Crows, yang baru rilis di Indonesia pada awal 2000an. Ditambah lagi, jaman tersebut adaptasi Live Action dari manga atau anime sering mengecewakan, walau tentunya ada pengecualian khusus untuk Crows yang berlatar gelut SMA.

Nah jadi, mengapa penulis tidak mengikuti hype film Crows Zero? Jaman tersebut, memang animo-nya berubah, khususnya dari penulis sendiri. Pas sedang ramai rekomendasi Crows Zero, penulis telah lulus SMA, dan sedang fokus untuk kuliah. Ditambah lagi, teman yang dulu sering merekomendasikan manga, khususnya Crows, bahkan tidak ikut merekomendasikan filmnya.

Tidak hanya faktor luar, tetapi penulis memiliki animo berbeda untuk waralaba Crows, manga dan filmnya sekaligus. Kesinambungan yang agak berbeda, yaitu saat penulis memahami Arc terakhir manga Crows. Jadi, terasa lebih intrinsik, daripada pengaruh luar.

Entah kenapa, sepertiga manga yang tersisa hingga serialnya tamat, Crows justru berubah menjadi cerita yang antiklimaks. Banyak isi cerita, lebih mengisahkan slice of life, yang berfokus pada kegalauan anak SMA menjelang lulus. Ada yang berinisiatif langsung gabung Yakuza, ada yang fokus kerja ala Rindaman, atau bahkan lucu-lucuan bersama cewek pujaan. 

Bahkan ritual sang tokoh utama Harumichi Boya, lebih aneh lagi di akhir manga Crows. Harumichi yang biasanya telat untuk mengikuti gelut (di Arc sebelumnya), tambah telat lagi di akhir serial manganya. Karena lebih sering curhat bersama temannya yang sedang dekat sama cewek SMA, jadinya Harumichi ikut mengejar romansa masa SMA. Lucunya lagi, semua Build-Up cerita di akhir serial, ternyata diakhiri dengan sedikit duel saja, dan tidak seheboh awal manga.

Nah ternyata, manga Crows terisi banyak kegalauan anak SMA, yang fokus pada cara komunikasi ala laki remaja. Karena itu, karena terasa cukup nyambung, dan penulis sangat pesimis dengan filmnya, akhirnya tidak berinisiatif untuk menonton film Crows Zero.

Sedikit Sinopsis Wind Breaker

Lalu, apa hubungannya dengan Wind Breaker? Nah justru disinilah asyiknya kesinambungan tersebut. Dari sedikit sinopsis plot Wind Breaker di Inet, ternyata animo akhir Suzuran mirip dengan kisah Wind Breaker. Tokoh utama Haruka Sakura, ternyata baru masuk SMA dengan gang-nya yang fokus menjaga wilayah. 

Animo seperti ini, mirip dengan akhir kisah Crows, dimana para bujangan gelut ini bergabung dalam satu aliansi, untuk melindungi Suzuran dari serangan luar. Ya, berbeda dengan kisah di seluruh awal manga Crows, yang berfokus pada gelut antar karakternya.

Ya, segitu saja setelah panjang lebar. Pokoknya sinopsis lebih singkat lagi, karena cuplikan filmnya memang berisi gelut semua. Haruka Sakura (Koshi Mizukami) ternyata heran, saat dirinya gelut tepat satu hari sebelum hari pertama sekolah. Haruka dibantu oleh geng dari sekolah barunya, yang menjadi pertama kalinya. 

Haruka pun langsung dianggap teman, dan layak untuk bergabung dengan geng bernama Bofurin ini. Haruka yang selama ini gelut demi Flexing dan mengejar Rank pun, tertegun dengan niat geng Bofurin untuk menjaga wilayahnya. Bahkan Haruka akhirnya terenyuh, bahwa masa SMA ini, akhirnya dia punya teman juga.

Jadi, silahkan saksikan saja bagaimana film gelut SMA ala Jepang ini, yang kadang lebih nyambung alias relate dengan khas komunikasi bujang baragajul, di sinema Indonesia.

15 April 2026

Menikmati Kursi Penonton di Film The Cabin in the Woods

 

Kelima stereotype yang linglung (TMDB).

Sekarang saatnya menelaah film yang sebenarnya termasuk parodi, alias ironi dari genre-nya sendiri, berjudul The Cabin in the Woods. Film yang rilis tahun 2012 ini, berkisah sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak di sebuah kabin tua, di tengah hutan (sesuai judulnya). Ya, memang dari judul dan plot utamanya saja, sudah menyatakan ironi atas plot dan karakter dari genre horor ala film Hollywood.

Siapakah gerangan trio berkerah putih ini? (TMDB).

Sedikit Latar Kru Film The Cabin in the Woods

Bagi yang sudah menonton atau mengecek trailernya, tentu tahu beberapa aktor yang mengisinya. Chris Hemsworth sang Thor dari Marvel, tentu menjadi salfok yang khusus. Terdapat pula Franz Kranz, yang sebelumnya terkenal di film 300 (2006). Duo nama aktor yang terkenal, tapi mau juga berperan di genre yang memang pecicilan ini. 

Oh ya, ada satu nama aktris yang menjadi cameo pula di akhir film, tetapi tidak akan dibahas karena membuka isi ceritanya.

Bagi yang tahu Drew Goddard, tentu sempat mengenal film berjudul Cloverfield (2008) yang cukup fantastis. Berikut pula dengan sutradara Joss Whedon, yang dikenal sejak film Alien Resurrection (1997), lalu berlanjut di dunia Marvel dengan The Avengers (2012), Avengers: Age of Ultron (2015), dan sempat di DC dengan Justice League (2017).

Bahkan studionya pun memiliki nama tersendiri, yaitu dari Lionsgate Movies. Studio yang satu ini memang sering menyajikan film unik, padahal sudah cukup lama berkecimpung di dunia perfilman Hollywood (sejak 1997 lalu). Contoh terakhirnya, adalah film Turbulence yang dibahas tepat minggu ini dalam blog Sedia Saja.

Referensi Film dalam The Cabin in the Woods

Justru artikel ini tidak hanya merekomendasikan film The Cabin in the Woods, yang memang sangat berbeda dan memuaskan. Artikel ini akan menelaah tentang ironi dibalik produksi film horor. 

Sebenarnya banyak referensi horor yang dimasukkan ke dalam film ini, dari banyak waralaba lain. Seakan, film ini memang dibuat untuk homage saja terhadap banyak film lain dengan genre horor. 

Referensi tersebut akan dibahas sedikit, dan lebih baik dicek saat menontonnya saja. Bagi penggemar horor, tentu paham referensi dalam film The Cabin in the Woods. Contoh paling wajar adalah berbagai jenis monster dan situasi, dimana sering diadaptasi pada naskah film horor.

Contoh lebih spesifik akan membuat tercengang penonton, yaitu banyaknya mahluk bergentayangan dalam film ini. Bisa dicek satu-satu ya, dan yang sudah atau belum menonton, akan heran mengapa studio bisa mengisi film ini dengan banyak sekali karakter tersebut.

Terdapat referensi dari Friday 13th, Hellraiser, Werewolf, Sejenis Jurig, The Cube, Dreamcatcher, Eight Legged Freaks, Anaconda, Pennywise IT, The Shining, Leatherface, Zombie Pecicilan, KKK, SCP, Bats, Evil Dead, Gremlin, Alien, Psikopat Bertopeng Sok Brutal, Wrong Turn, Merman, Unicorn? dan bahkan Lovecraft! 

Masih banyak referensi film lainnya, yang penulis kurang pahami karena tidak selengkap itu menonton film horor. Ya, memang mengherankan bagaimana film berdurasi hanya 90 menit ini, berhasil memasukkan banyak dan variasi referensi film horor. Mungkin sang penulis naskah bernama Goddard ini, terlalu banyak melinting rokok saat menulisnya.

Atau mungkin, film horor sejenis ini menjadi latihan khusus bagi para penonton, penggemar, atau penulis yang berminat, dalam mengecek dan mengombinasikan referensi yang ada. Ranah sejenis ini memang bisa melatih kemampuan analisis, dalam melacak variasi dan sekaligus berkreasi.

Tidak se-ironis ini, kali ya...? (TMDB).

Ironi Film The Cabin in the Woods

Nah, apakah memang film ini hanya berisi referensi dari film lain saja? Tentu tidak. Terdapat satu hasil (observasi) orisinal dalam film ini, yang berisi ritual ala persembahan. Yaitu, dengan menumbalkan beberapa jenis karakter (ala film), dalam satu sesi pengorbanan tertentu.

Horor versi Amerika memang sering berisi stereotype karakter tertentu, yang dalam film ini berlandaskan The Athlete, The Whore, The Scholar, The Fool, dan The Virgin. Kelima karakter biasanya mengisi film horor pemuda-pemudi dan lainnya, dan terus diulang-ulang di banyak film, hingga seterusnya.

Ironi seperti ini menjadi khas utama di film The Cabin in the Woods. Seakan, seluruh naskah film yang dibuat oleh studio, telah di-setting sebegitu mungkin, agar sesuai dengan kemampuan yang pas bagi sutradara, aktor-aktris, kru, tim efek spesial, dan editornya. 

Bahkan, film ini menggambarkan secara harfiah, bagaimana ritual produksi film, bisa menjadi esensi yang mematikan dibalik layar. Tidak akan dibahas lebih lanjut mengenai tim produksi dibalik film ini, karena akan membuka (banyak) kisahnya. 

Perbedaan utama di genre film horor sejak The Cabin in the Woods dirilis, adalah berkembangnya horor Hollywood hingga sekarang. Banyak variasi horor yang semakin kreatif, dengan hanya menghindari stereotype diatas saja. Bahkan banyak filmnya yang mengambil referensi dari budaya yang cocok, tanpa perlu (ikut) menyalahgunakan referensi aslinya.

Karena itu, penulis juga heran sendiri, mengapa film horor menjadi minat terbaru. Sebelumnya, penulis lebih suka menonton film aksi, pahlawan super, atau bahkan kisah petualangan. Sementara pada jaman tersebut, film horor adalah pilihan yang aman, karena ceritanya dan adegannya suka sama dan begitu saja. 

Bahkan, Plot Twist yang berubah di film horor jaman sekarang, menjadi pilihan cerita yang kurang tertebak. Terlebih lagi, film horor sekarang seringkali bebas dalam menentukan akhirnya, yang bisa berarti Good atau Bad Ending. Kadang akhir film dikombinasikan pula, sehingga berakhir Miris-Manis alias Bittersweet Ending (ala film drama yang antiklimaks).

Ya, film The Cabin in the Woods memang mengacu pada ironi referensi film saat awal 2010an lalu, dan banyak waralaba sebelumnya. Sementara di tahun 2020an ini, film horor telah berkembang jauh, yang terkombinasi genre lainnya.

Oh ya, kisah di Cabin in the Woods ada yang berbeda pula, yaitu para karakter (utamanya) yang mau dan sanggup melawan balik agresornya. Tokohnya tidak terjebak dalam stereotype film horor, yang langsung lemah dan menyerah begitu saja (alias panik berdiam diri).

Wah2, ini film masih sejenis cermin satu arahkah? (TMDB).

Duduk Manis ala Penonton Film

Nah, singkat saja sebagai penonton, penggemar, dan pemerhati film horor (atau media secara luas), yaitu dengan duduk manis, menikmati, lalu menelaah saja tayangan yang ada. Apalagi setelah mengacu pada film The Conspiracy, yang dibahas di artikel sebelumnya.

Jadi, layaknya karakter Dana Polk sang The Virgin dari satu adegan di film The Cabin in the Woods, yang berselirih pedih "Let's Get This Party Started," sambil menekan tombol merah untuk membuka banyak hal yang berbahaya.

WAAAAARGHHHHH!!!

13 April 2026

Crayon Shin-Chan yang Berkelana Menuju India

 

Iseikainya Shin-Chan di India (TMDB).

Saatnya menonton kembali film anime nyeleneh nan kocak dari Jepang sana, berjudul Crayon Shin-Chan The Movie: Super Hot! The Spicy Kasukabe Dancers, yang dirilis di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Film Shin-Chan ke-33 ini sebenarnya telah dirilis bulan Agustus tahun 2025 lalu, dan baru menyusul rilis di Indonesia tahun ini saat bulan April.

Bagi yang penasaran dengan sejarah anime dan manga Crayon Shin-Chan di Indonesia, dapat membaca artikel di blog ini pada bulan Juli tahun lalu. Seperti banyak anime selingan hidup lainnya, apalagi dengan target penonton anak-anak dan keluarga, Crayon Shin-Chan menjadi animo yang tiada habisnya. 

Film yang urutan ke-33 ini berkisahkan petualangan Shin-Chan di India sana, dengan segala kekhasannya. Ya, setelah film sebelumnya yang berkisahkan dinosaurus demi bersaing dengan Jurassic Park: Rebirth, kini Shin-Chan mencoba bersaing dengan joget flashmob layaknya India. Bahkan dari cuplikannya, para karakter India yang mengisi film ini akan bertambah kuat, jiga joget terlebih dahulu sebelum mulai gelut.

Kali ini filmnya memang berlatar di India, dengan fokus pada karakter Bo (Chie Sato), yang tiba-tiba ingin membersihkan ingusnya. Padahal selama 34 tahun dan 1200 episode terakhir, ingus Bo telah menjadi khas karakter anggota Kasukabe ini. Bo telah terasuki suatu arwah jahat, yang berasa dirinya adalah Tuan Muda dari India, sehingga ingin mencoba menguasai dunia.

Anggota Kasukabe yang berisi Shin-Chan (Yumiko Kobayashi), Nene (Tamao Hayashi), Masao (Teiyu Ichiryusai), dan Toru (Mari Mashiba) perlu  menarik ingus sakral milik Bo, agar arwah tersebut bisa keluar dan Bo pun terselamatkan. 

Tentu dengan bantuan dari keluarga Shin-Chan, yaitu ayahnya Hiroshi Nohara (Toshiyuki Morikawa), ibunya Misae Nohara (Miki Narahashi), adiknya yang kecil Himawari (Satomi Korogi), dan anjingnya Shiro (yang diisi suaranya masih oleh Mari Mashiba).  

Bersama ahli dansa India lainnya, Dill (Show Hayami) dan Kabir (Koichi Yamadera), semuanya perlu berdansa bersama demi menyelamatkan Bo. Ya, hanya dengan dansa flashmob ala India yang berkolaborasi dengan Kasukabe, Bo dapat terselamatkan.

Entah bagaimana Bo dapat terselamatkan, dan ada apa dibalik latar cerita sang jurig jana ini, yang tampaknya hanya bisa diungkap di banyak sinema Indonesia saja.

06 April 2026

Duo Aksi Kesurupan Jurig di Film Aku Harus Mati dan Hantu Dalam Sel

 

Suasana Lapas yang kedatangan arwah pendatang baru (TMDB).

Kalau di artikel yang satu ini, membahas duo film dari Indonesia yang memiliki cerita hampir mirip, yaitu rasanya kesurupan jurig, lalu membasmi seluruh orang di sekitarnya. 

Pertama adalah film Aku Harus Mati yang rilis minggu awal April, dan Hantu Dalam Sel di minggu ketiga April. Keduanya (masih pula) memiliki rating D17, karena isinya cukup brutal, namun memiliki genre yang berbeda. Film Aku Harus Mati lebih membawakan suasana horor, sementara Hantu Dalam Sel lebih mirip film di artikel sebelumnya, yaitu aksi campy yang kocak nan brutal tidak berwibawa.

Seringai saat kajajaden (TMDB).

Film Aku Harus Mati

Selayaknya film horor Indonesia, film Aku Harus Mati memang membawakan atmosfer, suasana, latar, serta adegan yang mengerikan ala jurig. Tokoh utamanya yang bernama Mala (Hana Saraswati) adalah seorang gadis biasa, yang baru saja kembali dari Jakarta ke rumah panti asuhannya terdahulu di Jawa. Namun, setelah lama tidak bersua, ternyata keadaan wilayahnya sudah berubah.

Mala mendapati rumah panti asuhannya terdahulu sudah cukup angker, dengan banyak kejadian aneh yang menimpanya. Salah seorang kuncen daerah, bahkan memberi saran agar Mala membuka mata batinnya, agar dapat mendeteksi aksi supernatural di sekitar areanya. Tentu, ditujukan agar Mala dapat mawas diri dan bertahan dari gangguan supernatural tersebut. 

Tidak lama berselang, beberapa temannya tiba-tiba mulai kerasukan. Tidak hanya bertingkah aneh, mereka membawa senjata dan membasmi banyak warga di sekitar rumahnya. Hantu yang merasuki, mungkin ada hubungannya dengan kejadian naas saat seorang ibu membasmi anaknya sendiri.

Sanggupkah Mala naik level dan menjadi pembasmi jurig lainnya? Atau malah ikut memanfaatkan keadaan agar bisa kembali hidup hedon dan foya-foya di Jakarta sang kota Metropolitan sana?

Nah, dari sinopsis segitu saja, sudah jelas bagaimana film ini mengacu pada ranah horor. Uniknya di bulan April ini, adalah kehadiran film Hantu Dalam Sel, yang ternyata latar ceritanya mirip. Kesurupan dan mulai membasmi banyak warga di sekitarnya? Ya, memang berasal dari ranah film sejenis horor. 

Namun berbeda dengan film ini, justru film Hantu Dalam Sel kentara dengan aksi campy dan kesan komedi kasarnya. Seakan, menyajikan bahwa latar horor bisa saja diadaptasi pada genre lain, yaitu dengan sedikit bumbu bodor yang brutal. 

Film Hantu Dalam Sel

Justru di Film Hantu Dalam Sel, adalah aksi campy yang berbeda, selayaknya artikel They Will Kill You dan Ready or Not. Bodornya, film ini ternyata disutradarai oleh sineas terkenal Joko Anwar, dan sempat disukai kritikus film saat dimainkan di beberapa festival film Internasional. Di minggu ketiga bulan April ini, akhirnya versi penonton dapat dirilis di sinema Indonesia. 

Tidak hanya disutradarai oleh Joko Anwar, ternyata banyak pemerannya adalah para bintang Indonesia. Diantaranya adalah Abimana Aryastya, Bront Palarae, Dimas Danang, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming Sugandhi, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Kiki Narendra, Haydar Salishz, Ical Tanjung dan masih banyak lagi. Latarnya yang berada di sebuah lokasi Lapas beserta banyak napinya, memang membutuhkan banyak aktor berwajah sangar.

Nah yang lucu, salah satu napinya berlatar seorang wartawan. Pemangku media yang (ikut) mengaku kesurupan ini, dituduh dengan dakwaan mengerikan. Yaitu, membasmi dan memutilasi tubuh bosnya sendiri. 

Mungkin ini adalah sejenis maksud dari Joko Anwar sebagai penulis naskahnya, yang menunjukkan bahwa media berita saat ini sudah terlalu dalam menjabarkan beritanya. Bukannya bersikap, bertindak, dan menulis kritis, malah mengacu pada sensasionalisme di ranah yang serius. Tentunya, berbeda ala ranah film yang bersifat fiktif dan hiburan, sehingga ujungnya dapat diterima dengan ringan.

Oh ya, yang lucu lainnya adalah judulnya sendiri, yaitu Ghost In The Cell dalam bahasa Inggrisnya. Mungkin judul dalam bahasa inggris ini, adalah semacam anekdot dari film anime terkenal, yaitu Ghost In The Shell. Film anime ini memang satu dari banyak anime, yang berlatar Cyberpunk dengan dunia kacau balaunya, dan (katanya) tetap mempertanyakan ranah jiwa manusia.

Bagaimana dengan sinopsisnya? Nah justru cukup singkat, padat, jelas, dan tidak membuka spoiler sama sekali (alias dari cuplikan saja). Filmnya memang berkutat di sebuah Lapas, yang penuh dengan penjahat kelas kakap. Para kriminal ini memiliki hobi tersendiri, yaitu saling adu gelut tangan kosong, demi meramaikan asa aing maung dan kajajaden ala mahluk pecicilan.

Hingga suatu saat yang hina, Lapas tiba-tiba mulai dihantui oleh sejenis mahluk supernatural dari dunia lain-lain. Para kriminal sangar ini sempat menyaksikan, bahwa seorang napi yang kesurupan, tiba-tiba lebih buas dari biasanya. Saking brutalnya, napi yang kajajaden sanggup membuyarkan tubuh korbannya, hanya dengan tangan kosong saja.

Setelah mereka meneliti, membandingkan fakta dan data, serta mulai memahami Lapas dengan kedatangan arwah lainnya, mereka pun mulai masuk dalam bab kesimpulan. Maksud yang disetujui oleh khalayak ramai Lapas, adalah napi yang kesurupan akibat tingkah dan aura yang terlalu negatif, dari dalam dirinya. Jadi demi menyelesaikan analisis mereka di Lapas, mereka harus mulai tobat, dan berhenti melaksanakan hal yang negatif (sekalian dapat remisi pula). 

Namun, setelah dilaksanakan selama beberapa lama, ternyata gangguan dari mahluk sangar nan bengis ini tidak berhenti pula. Satu per satu napi di Lapas tetap kerasukan dan langsung AING MAUNG! Sudah banyak dan terlalu, korban berjatuhan layaknya sebenih darah di akhir hayat yang hina. 

Para anggota Lapas pun mulai pasrah walau tetap berbenah, bahwa mereka harus tetap hidup selama menjalani masa hukuman mereka. Demi, mencapai kehidupan baik nan layak di khalayak ramai luar Lapas bersama masyarakat luas yang tetap saja mainstream (alias non-rebel).

Apakah mereka sanggup menghindari arwah penasaran nan random dan acak ini? Atau malah ikut terjebak dunia lain yang sebenarnya adalah atmosfer setiap Lapas? Dan bahkan memanfaatkan situasi kacau-balau ini demi kabur dan bebas dari dalam Lapas menuju dunia luar yang (terlihat) damai?

Jawabannya, tentu ada dalam dunia horor-sangar-brutal-bodor ala sineas perfilman Indonesia.

Duo Kompetisi Battle Royale di Film They Will Kill You dan Ready Or Not 2


Grace dan Faith yang baru saja kawin lari (TMDB).

Berikutnya adalah duo kombo film dengan rilis yang terpaut satu minggu saja, tetapi bertema sama dengan kekhasannya. Yaitu, sejenis film aksi campy yang kacau-balau cerita dan adegannya, tetapi menyajikan hiburan tersendiri yang sangat kasar dan penuh kekerasan, dan sangat sarkatis ala komedi gelap (dark humour).

Film pertama berjudul They Will Kill You di minggu pertama April, dan satu lagi adalah Ready Or Not seri kedua di minggu ketiga April. Tidak hanya aksi campy, kedua film yang berating D17 ini memiliki tema yang mirip, alias Battle Royale dimana para kontestannya berburu satu sama lainnya, dengan fokus target pada tokoh utamanya.

Animo Film Aksi Campy

Nah sebelum membahas kedua film kacau tersebut, perlu ditelaah dari segi animo ini. Film Campy memiliki cerita dan adegan layaknya film B-Rate, namun tetap menyajikan hiburan tersendiri. Jadi daripada memahami segi cerita dengan latar drama para karakternya, film sejenis ini penuh dengan Guilty Pleasure-nya, layaknya seorang pemain gim dan karakter utamanya. Apalagi jika digabungkan dengan genre aksi dan komedi, sekaligus berbiaya produksi mahal. 

Bahkan ada seorang ahli film yang layaknya Master B-Rate Movies, yang terkenal dari Hollywood sana bernama Quentin Tarantino. Walau sudah beberapa kali dibahas di blog ini, tetapi kekhasan Tarantino tidak berakhir disitu saja. Tarantino biasanya membuat film drama kejahatan dengan khas karakter, akting, adegan, serta latar yang minimalis. Namun karena diisi para bintang yang kuat latar dramanya, serta cerita yang cukup sulit ditebak, menjadi kekhasan sendiri layaknya menonton teater di seni panggung langsung.

Namun Quentin Tarantino memiliki prestasi tersendiri yang unik nan eksotik. Saat dirinya meraih proyek film berbiaya tinggi, justru Tarantino malah produksi film Kill Bill: Volume 1 (2003) dan Kill Bill: Volume 2 (2004). Walau tidak bisa disebut komedi, namun banyak adegan over-the-top (berlebihan) dan aksi dibuat-buat, menjadikan film ini layaknya B-Rate yang sangat menghibur. Saking berbeda dengan film sejenis lainnya, kedua film Kill Bill sempat meraih nominasi dan memenangkan Oscar di AS sana.

Animo campy tersebut terus dilanjutkan di Hollywood sana, dengan beberapa sineas film aksi mulai menirunya. Contoh paling campy-nya, adalah waralaba Crank (2006) dan Crank: High Voltage (2009), yang diperankan langsung oleh Jason Statham. Dibalik cerita ini, karakter utamanya harus memicu adrenalin atau tersengat listrik, agar tidak mati begitu saja akibat bom atau alat yang dipasang dalam tubuhnya. Aksi yang 'maksa' pun menjadi khas film ini. 

Contoh berikutnya adalah film Free Fire (2016) yang diperankan pula oleh seorang aktris pemenang Oscar, yaitu Brie Larson. Mirip dengan animo film campy yang terlihat minimalis namun heboh, seluruh adegan cerita Free Fire hanya terjadi dalam satu gudang saja. Namun karena adegan, serta akting para karakternya yang kurang serius, alias sedikit komedi, menjadikan film ini cukup menghibur.

Contoh terdekat adalah The Fall Guy (2024), yang berisi aktor terkenal lainnya, yaitu Ryan Gosling. Seperti pernah dijelaskan sebelumnya, Gosling memang khas dengan karakter unik di setiap filmnya, jadi mudah dikenang. Nah sama seperti animo film campy lainnya, Gosling yang berperan sebagai karakter stuntman ini, perlu mencari dan menyelamatkan aktor film aslinya. Dengan pembawaan yang ringan dan adegan yang kasar, tentu berisi banyak adegan aksi yang ramai nan brutal, namun tetap santai dan bahkan bodor untuk ditonton.

Oh ya, perlu tahu juga mengapa artikel ini diberi judul Battle Royale. Mengacu pada film tahun 2000 lalu dengan judul yang sama dari sineas perfilman Jepang, film sejenis ini memang berisi banyak karakter yang saling membasmi satu sama lainnya. Quentin Tarantino pun sempat menjabarkan dalam wawancara, bahwa Battle Royale adalah satu dari banyak favorit filmnya. Bahkan istilah ini sempat diadaptasi menjadi satu genre gim video khusus, yang dimainkan oleh 100 pemain dan berakhir satu pemenang 'chicken dinner.'

Reeves yang dihirup wajahnya oleh penganut sesat (TMDB).

Film They Will Kill You

Untuk film dengan tokoh utama Asia Reeves yang diperankan oleh Zazie Beets ini, tentu cukup dikenal wajahnya. Beets memang sempat naik pamornya saat memerankan karakter Domino di film aksi kasar Marvel, berjudul Deadpool 2 di tahun 2018 lalu. 

Nah di film ini, Reeves adalah seorang pencari kerja yang akan mengisi posisi pembantu di sebuah gedung besar ala New York. Namun tidak disangka, dirinya malah terjebak kejaran para sekte sesat, yang ternyata cukup kekal abadi sehingga bisa sembrono saat menjalankan aksinya.

Reeves pun ternyata memiliki latar lainnya, yaitu bukan seorang gadis biasa, melainkan seorang tokoh aksi terkenal dengan segala keberuntungannya (layaknya Domino). Awalnya hanya pura-pura polos saja, namun ketika mulai diburu, Reeves ternyata sanggup membasmi satu persatu anggota sekte tersebut. Namun akibat para pemburunya yang sangat kuat, brutal, dan kekal abadi, menyebabkan Reeves terpaksa mencari jalan keluar dari gedung tersebut.

Siapa gerangan sebenarnya Reeves ini? Dan apa maksud dari sekte sesat nan abadi ini? Yah tinggal tonton saja lah...

Film Ready Or Not Seri Satu dan Dua

Kalau di film yang sudah sukses dan mencapai seri keduanya di tahun 2026 ini, cukup dicek saja sejak film pertamanya. Di film pertamanya yang rilis tahun 2019 lalu, tokoh utama Grace (Samara Weaving) sedang mengalami euforia nan berbahagia. Dirinya baru saja menikah dengan Alex Le Domas (Mark O'Brien), dan mulai tinggal di kediaman keluarganya yang seperti istana. 

Namun tidak lama saat seluruh keluarga mertuanya sedang mengadakan ritual petak umpet bersama anggota keluarga baru, Grace ternyata menguak sesuatu yang sangat berbahaya. Dirinya ternyata menjadi bahan korban dan buruan sekaligus, demi ritual sesat keluarga Le Domas. 

Walau Grace sebenarnya tidak begitu ahli dalam berperan aksi, namun keluarga Le Domas ternyata tidak begitu lihai pula. Saking nyentriknya, mereka bahkan meremehkan kematian anggota keluarga sendiri akibat kecelakaan, dan dengan sembrono terus memburu Grace yang kelimpungan.

Grace yang seadanya saja selamat dari fllm pertamanya, terpaksa melanjutkan kisah gila-gilaan ala keluarga elit dunia di film keduanya, tepatnya bulan April tahun 2026 ini. Bersama saudarinya bernama Faith (Kathryn Newton) yang sama-sama bernama belakang McCaulley, keduanya harus melarikan diri dari kejaran para anggota keluarga lain Le Domas. Bahkan taruhannya semakin ditinggikan, yaitu memiliki seluruh kekayaan Le Domas. 

Berarti yang selamat di akhir perburuan elit ini, dapat berubah tambah psikopat dan mulai menguasai dunia (layaknya dalam dokumen Epstein). Entah ini sinema atau memang niat para elit dunia, untuk kita semua, kan ya?

Oh ya, di film keduanya ini terdapat duo aktor-aktris kenamaan lama. Bagi yang ingat seri televisi Buffy The Vampire Slayer, Sarah Michelle Gellar sebagai akris utamanya berperan di seri kedua Ready Or Not. Elijah Wood yang terkenal sejak membintangi trilogi film The Lord of The Rings pun, ikut pula berperan. Keduanya pada tahun 90an dan awal 2000an, berperan dalam film besar di umur yang cukup muda. Kini, malah mengisi film mengenai kacaunya para elit dunia, hehe...

01 April 2026

Menjaga Selat Malaka dari Serangan Bajak Laut Ala Film Hostage's Hero

KRI Karel Satsuitubun yang dipimpin oleh Letkol Taufiq (TMDB).

Okeh, sekarang saatnya membahas film aksi dari Indonesia, berjudul Hostage's Hero, yang tayang di sinema dengan rating umur R13 (alias remaja keatas). 

Setelah banyak film aksi di tahun 2025 kemarin, film bersama Donny Alamsyah ini akhirnya menyusul juga, dengan perbedaan dari segi aksinya. Sebelumnya di bulan Oktober tahun lalu, Donny Alamsyah mengisi film Badik yang kentara adegan aksi ala beladiri silat Nusantara. 

Namun di film Hostage's Hero ini, justru tidak banyak melampirkan adegan gelut beladiri tangan kosong. Terlihat pada cuplikannya, adegan yang disajikan berlatar operasi militer dari penjaga perbatasan lautan Indonesia, daripada langsung gelut saja. Tampaknya film Indonesia mulai mengarah ke animo semacam ini, apalagi dengan presiden saat ini yang berlatar Militer ala Prabowo.

Film (latar moderan) semacam ini memang sudah dimulai tahun kemarin, sejak dirilisnya film Believe: Ultimate Battle pada bulan Juli. Sementara aktor lainnya yang sudah memiliki studio sendiri, Iko Uwais meramaikan animo ini dengan filmnya berjudul Timur pada bulan Desembter tahun lalu. Kedua film masih menyertakan adegan gelut beladiri ala silat dan militer Nusantara. Tetap berbeda dengan keduanya, film Hostage's Hero ini lebih mengedepankan operasi marinir yang lengkap dengan senapannya. 

Lokasinya pun cukup berbeda, yaitu di Selat Malaka sebagai perbatasan Indonesia dan Malaysia. Walau begitu, justru perlu diingat bahwa kisah konflik di lautan Indonesia cukup jarang terjadi. 

Lebih sering mendengar kabar (dari berita), bahwa masalah perbatasan adalah nelayan nakal dari negeri seberang, yang mencari ikan terlalu jauh hingga melewati perbatasan negara. Mereka pun tidak diberi hukuman berlebih. Nelayan yang notabene adalah warga biasa, hanya ditawan lalu dikembalikan ke negaranya. Kadang, kapal nelayan disita hingga dihancurkan, sebagai bentuk hukuman bagi yang melanggar perbatasan negara.

Film Hostage's Hero ini lebih realistis dari segi penggambaran operasi marinirnya. Memang, berfokus pada hebohnya bajak laut (fiktif) saat menyergap dan menyandera kapal dagang dan tanker di perbatasan. 

Sementara anggota operasi marinirnya, perlu bernegosiasi atau buru sergap, sesuai dengan aturan zona laut internasional. Mungkin efek spesialnya belum sekelas film luar negeri, namun patut dicoba juga, karena Indonesia bukan hanya beladiri silat saja.

Sinopsis Film Hostage's Hero

Letkol Taufiq (Donny Alamsyah) adalah seorang petugas Angkatan Laut (AL) yang baru pindah tugas. Kini Letkol Taufiq perlu bertugas di markas militer perbatasan Sumatera dan Malaysia, dengan memimpin kapal laut KRI Karel Satsuitubun. Zona laut di Selat Malaka ini sedang panas dengan pembajakan laut kapal tanker, oleh pihak kriminal yang ternyata cukup lihai.

Hingga suatu hari, para bajak laut akhirnya menyergap dan membajak kapal MT Pematang Tanker. Seluruh awak kapal berhasil disandera, sementara proses negosiasi dari pihak Indonesia masih gagal. Letkol Taufiq bersama petugas Karel Satsuitubun, perlu masuk dan memburu-sergap seluruh anggota kriminal.

Ternyata para kriminal ini cukup beringas dalam melawan balik. Tidak hanya brutal saat melawan anggota AL Indonesia, namun cukup tega untuk membasmi sanderanya satu-persatu, demi mengamankan posisi dan potensi cuan mereka.

Sanggupkah Letkol Taufiq menyelamatkan sandera bersama kapal tanker Pematang? Jawabannya tentu dapat diramaikan ala aksi militer sinema Indonesia.

10 Maret 2026

Epiknya Efek GG Ala Indonesia saat Libur Lebaran dalam Film Pelangi di Mars

 

Pelangi yang menemukan makanan kaleng (TMDB).

Tibalah film Epik nan GG dengan efek spesialnya, berjudul Pelangi di Mars, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang di sinema Indonesia. Sesuai judulnya, Pelangi di Mars adalah hasil karya sineas perfilman Indonesia, yaitu Mahakarya. Film ini berating Semua Umur (SU), sehingga cocok sebagai lahan untuk berlibur bersama anak.

Produksi Film Pelangi di Mars

Mahakarya berwacana pada tahun 2020 lalu, untuk mengembalikan imajinasi anak Indonesia. Mereka berpendapat, anak seharusnya bercita-cita yang tinggi, yaitu ilmuwan atau astronot. Mereka sebagai sineas perfilman, mendukungnya dengan memberi imajinasi. Teknologi yang diterapkan untuk memproduksi film ini pun hibrida, yaitu antara motion capture dengan virtual production, alias Extended Reality (XR).

Mahakarya memulai langkah pertamanya di tahun 2021 lalu, dengan membangun infrastruktur produksi filmnya. Maksudnya, Mahakarya akan menjadi pionir di Indonesia dalam menyiapkan teknologi perfilman ala XR. Dengan begitu, produksi film sejenis ini dari Indonesia, dapat dipermudah oleh mereka, baik itu dari Mahakarya atau studio lainnya. 

Mahakarya tidak membatasi kerjasamanya dengan pihak luar pula. Tokoh utama film Pelangi di Mars memang berasal dari Indonesia, namun digadang untuk memimpin para robotnya, yang berasal dari India, hingga Korea Selatan.

Di tahun 2021, Mahakarya mulai menulis naskah filmnya, bersama Penelitian dan Pengembangan (LitBang) yang dibutuhkan. Tahun berikutnya (2022), Mahakarya berhasil membuat portofolio untuk film Pelangi di Mars, yang berdurasi pendek. Sekaligus di tahun ini, didirikan pula studio DossGuavaXR Studios, yang memulai pengembangan aset 3D untuk film Pelangi di Mars. Sementara di tahun 2023, banyak anggota tim direkrut untuk bertanggung jawab selama produksi.

Di tahun 2024, produksi film akhirnya bisa dimulai dengan selesainya naskah. Seluruh tim telah lengkap, lalu memulai syuting dengan teknologi Motion Capture dan XR. Uniknya di tahun ini, Mahakarya sempat merilis gim simulasi Pelangi di Mars dalam portal Roblox, yang bisa dimainkan langsung. Bahkan, teknologi hibrida ini berhasil menyisipkan foto yang berasal dari Mars Orbiter Camera (MOC), ke dalam adegan film. Foto yang dimaksud, adalah hasil potret kamera satelit di Mars, yang berhasil terkirimkan ke bumi.

Tahun 2025 adalah saat Mahakarya memulai hype-nya, dengan merilis banyak karakter Pelangi di Mars dalam sistusnya, serta cuplikan yang masih berupa teaser, lengkap dengan posternya. Tahun ini adalah momen produksi final bagi Pelangi di Mars, dengan memasukkan dan membersihkan audio, serta memperbaiki dan memperbarui setiap adegan film. 

'Untuk menemukan warna di tempat yang paling sulit menemukannya, yaitu Pelangi di Mars' - Slogan dari Upie Guava, sutradara Pelangi di Mars.

Polusi Air di Planet Bumi

Plot utama dalam film Pelangi di Mars, adalah tokoh utama bernama Pelangi (Messi Gusti), yang harus menemukan Zeolit Omega, demi membersihkan polutan air di Planet Bumi. Mengacu pada wacana ini, tampaknya perlu ditelaah dari segi sainsnya. 

Seperti dilansir dari Mertani, perubahan iklim mengakibatkan polusi air, dengan banyak perubahan di dalam ekosistemnya. Pertama, adalah naiknya suhu air yang berdampak pada organisme air. Ikan, ganggang, dan plankton butuh suhu air yang tepat, baik itu di sungai, danau, dan laut. Selain itu, meningkatnya suhu dapat mengurangi ketersediaan air tanah yang digunakan oleh manusia, hewan, dan tanaman di sekitarnya.

Kedua adalah tingkat oksidasi polutan dalam air, yang semakin meninggi pada logam berat dan bahan kimia berbahaya. Kualitas air yang buruk, berdampak pada tercemarnya air minum serta rantai makanannya, yang berbahaya bagi manusia serta organisme lainnya, serta merusak lingkungan alam di sekitarnya.

Ketiga adalah kualitas air laut yang memburuk, dengan tingginya asam laut. Asam laut tercipta akibat banyaknya zat karbon dari atmosfer, yang terserap ke dalam lautan. Asam laut dapat merusak terumbu karang, yang penting bagi ekosistem laut, lalu seluruh organisme akan terganggu pula keragaman hayatinya.

Seluruh dampak tersebut berarti menyebabkan langkanya air bersih, sehingga berpengaruh pada pasokan air untuk keperluan manusia, pertanian, dan industri. Masalah ini berujung keamanan air, yang dapat membentuk konflik akibat wacana berkelanjutan lingkungan hidup di masing-masing daerah.

Nah, dengan penjelasan seperti itu, bagaimana cara film Pelangi di Mars dalam menggambarkannya?

Sinopsis Film Pelangi di Mars

Pelangi (Messi Gusti) adalah anak berkebangsaan Indonesia, yang lahir dan tumbuh untuk pertama kalinya dalam sejarah, di planet Mars. Pelangi tinggal di Mars demi melanjutkan misi bersama ibunya, Pratiwi (Lutesha). Keduanya berencana untuk menemukan mineral langka bernama Zeolit Omega, yang dapat membantu manusia di Bumi dalam membersihkan zat polutan dalam air.

Namun dalam perjalanannya, selama ini Pelangi hanya dibantu oleh banyak robot kenalannya. Kelima teman robotnya yang setia, adalah Petya (Gilang Dirga), Yoman (Kristo Imanuel), Batik (Bimo Kusumo), Kimchi (Canya Cinta Rivani), dan Sulil (Dimitri Arditya Hardjana).

Tidak ada sosok sang ayah, Banyu (Rio Dewanto) dan ibunya Pratiwi untuk melindunginya. Tidak hanya lokasi planet Mars yang memang berbahaya, namun tibanya perusahaan Nerotek semakin mempersulit misinya. Nerotek adalah perusahaan monopoli dagang air di Bumi, yang tidak ingin mineral ini ditemukan dan berhasil menyelamatkan bumi.

Sanggupkah Pelangi menemukan Zeolit Omega? Kemanakah gerangan ayah dan ibunya selama ini? Apakah mineral langka di Mars ini memang seampuh itu dalam membantu membersihkan zat polutan dalam air di planet Bumi?

Jawabannya, tentu ada di petualangan epik anak Indonesia ala sinema.

09 Maret 2026

Beruang Eksotis Ala Jackie Chan di Film Panda Plan: The Magical Tribe

 

Jackie dan Huhu yang senang lompat (TMDB).

Daaan, berikutnya adalah film remaja yang mengembalikan kemampuan aksi ala sepuh Jackie Chan, dalam film Panda Plan: Magical Tribe. Film yang akan tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran ini, memang memiliki rating R13.

Jackie Chan yang Akrobatik

Jika membahas film anak dan panda, tentu harus mengacu pada sang beruang anomali ini. Namun film Panda Plan lebih menggambarkan keahlian asli sang sepuh Jackie Chan, dengan gaya akrobatiknya. Jika ingin lebih menelaah tentang beruang hitam putih ini serta segala keanehannya, dapat dicek di artikel ini saja.

Cuplikan film pertamanya dari tahun 2024 saja, sudah cukup menarik. Jackie Chan disini berperan sebagai dirinya sendiri, alias aktor beladiri terkenal yang sudah sepuh. Bahkan, aksi gelut biasanya tidak keluar sama sekali, dan mengandalkan akrobatik situasional yang berujung komedi. 

Ya, film ini memang mengisi aksinya dengan gaya komedi yang khas sepuh beladiri dari China ini. Perlu diingat pula, bahwa Jackie Chan memang berlatar seorang pemain Opera Tradisional China, dan tidak memiliki latar beladiri. Sehingga cocok dengan aksi-komedi ini.

Di film Panda Plan pertama, Jackie sudah menjadi figur terkenal di China, dan tengah mengikuti sebuah acara pameran konservasi. Jackie pun digadang untuk mengadopsi seekor anak panda, yang akan dijaganya seumur hidup. Namun entah kenapa, terjadi serangan dari sekelompok kriminal, yang ingin menculik panda tersebut. Jackie dengan aksi khasnya, perlu melawan balik dengan kocak.

Nah di film keduanya bersub-judul Magical Tribe, diramaikan dengan bertualang di alam liar. Selain menyelamatkan Huhu sang panda kecil nan jinak, Jackie perlu melawan balik para suku pribumi di pedalaman. Gaya khas komedi-aksinya kembali, ala filmnya terdahulu. 

Tampaknya film Panda Plan ini mengacu pada satu film aksi Jackie Chan saat masih muda. Ya, judulnya adalah Who Am I? dari tahun 1998 lalu, saat Jackie memerankan tokoh yang hilang ingatannya, lalu tersesat di alam rimba Afrika, dan sempat diselamatkan oleh suku pribumi. 

Aksi gelutnya yang unik, ternyata cukup membuka lebar mata dunia. Banyak sineas perfilman hingga Hollywood, menghargai aksi ala Jackie Chan di film ini. Film Who Am I? memang dirilis bertepatan dengan Rush Hour di tahun yang sama, sehingga menambah pamor Jackie Chan di seantero dunia.

Okeh, bagaimana dengan kisah Huhu dan Jackie di film Panda Plan kedua ini?

Sinopsis Film Panda Plan: Magical Tribe

Jackie Chan kini tinggal bersama Huhu di dekat belantara hutan rimba. Namun, Huhu yang nakal malah melarikan diri menembus hutan. Hingga akhirnya kedua sahabat beda spesies ini tiba gerbang ajaib nan magis, tepat berada di pusat sebuah pohon tinggi.

Keduanya tiba di ranah rimba lain, yang dihuni banyak suku pribumi lokal. Akibat salah paham, Jackie dan Huhu harus berjibaku dengan suku pribumi, untuk menyelamatkan diri. 

Sebenarnya suku pribumi tidak bermaksud jahat sama sekali kepada Jackie dan Huhu. Mereka mengagungkan panda sebagai titisan dewa. Layaknya binatang yang dipuja, Huhu diterima sebagai mahluk yang sakti nan eksotis. Jackie pun bingung, karena harus bergelut dengan kerasnya kepala para warga pribumi, sekaligus mencari cara untuk keluar dari hutan rimba.

Bagaimana aksi berikutnya bagi Jackie yang sudah sepuh dan berumur 71 tahun ini? Tentu jawabannya ada di konservasi sinema ala Indonesia.

05 Maret 2026

Memahami Tony Stark Saat Melawan Ultron dalam Film Avengers: Age of Ultron

 

Ultron yang aselinya GG (Wiki).

Okeh, menyambut banyak topik berita selama beberapa minggu terakhir, yang tidak jelas membawa ke arah mana dunia ini, maka coba kita cek secara simbolis saja. Penulis tidak akan eksplisit dalam menjabarkan berita yang mana, namun simbolis dengan mengangkat film lama yang cocok, berjudul Avengers: Age of Ultron (2015). 

Jujur saja, Age of Ultron bukan satu favorit penulis, apalagi jika dibandingkan seri Avengers, atau standar film Marvel lain. Namun, demi minat dan kepentingan artikel Monsterisasi, maka penulis mencoba untuk mengangkat film ini sebagai simbol dari suatu bentuk kekisruhan dunia.

Tony Stark dan J.A.R.V.I.S. di Marvel Cinematic Universe

Tentu para penggemar komik Marvel telah paham, bahwa rata-rata karakter di MCU telah di-nerf alias dilemahkan daripada versi komiknya. Melemahnya karakter sesuai dengan perkembangan awal karakter, sekaligus kebutuhan cerita dan plot filmnya.

Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang memulai ini semua dalam film Iron Man (2008), justru memiliki andil tersendiri. Tidak hanya memulai kisah MCU, namun menjadi asal-muasal banyak kisruhnya dunia. Sebelum membahas bagaimana Tony menciptakan Ultron, maka perlu dibahas saat Stark masih berkecimpung bersama J.A.R.V.I.S. Bahkan sebelumnya, saat Stark masih bermasalah sebagai broker persenjataan dunia.

Bagi yang ingat, tentu paham se-cunihin apa Stark ini. Dengan statusnya sebagai biolioner, Stark terkenal di dunia Marvel sebagai teknokrat dan penyuplai senjata kepada AS. Hingga suatu momen bersejarah merubah pandangan dirinya, saat Stark tersandera akibat serangan bom di Timur Tengah sana. Disana, dia berhasil membuat baju zirah Iron Man, hanya dengan sisa teknologi saja.

Di banyak film berikutnya, yaitu film Iron Man 2 (2010) dan Iron Man 3 (2013), lalu Avengers (2012) dan Age of Ultron (2015), Stark selalu bertingkah ala pria yang ingin tobat, walau masih perlente. Dengan berhasil menciptakan reaktor energi tanpa batas bernama Arc, Stark mengalihkan fungsi perusahaannya menjadi konversi energi bagi dunia. Suplai persenjataan pun dihentikan, sekaligus dengan terbuka mencanangkan diri sebagai Iron Man.

Di banyak latar cerita pula, akhirnya terbuka se-jenius dan se-paranoid apa sebenarnya Stark. Banyak konten hingga meme di Inet, yang menjabarkan bahwa Stark selalu merubah kesalahan dia di film sebelumnya, lalu memperbaruinya di film terbaru. 

Nah, selama Stark mengoprek seluruh keahliannya, dia dibantu oleh sejenis asisten AI bernama J.A.R.V.I.S. atau sebut saja sebagai Jarvis (Paul Bettany). AI ini memiliki nada suara yang lembut, alias soft-spoken. Suaranya yang netral, cocok sebagai mitra keseharian yang damai, daripada Pepper Potts (Gwyneth Paltrow). 

Jarvis inilah yang menjadi asal muasal Ultron, yang akan dibahas menyeluruh dalam artikel ini. Sekaligus, terciptanya Vision sebagai avatar yang lebih cocok dari Jarvis.

Vision dan Ultron

Ultron (James Spader) adalah sejenis AI yang diciptakan oleh Stark, namun hanya menerima banyak masalah saja. Ultron diciptakan sebagai kebalikan dari Jarvis, yang lebih mengacu ke persenjataan. Namun seperti kebanyakan film AI yang terlalu adaptif, Ultron pun belajar bahwa manusia-lah yang perlu dibasmi (?). 

Masalah pun semakin berkembang saat Ultron berhasil merebut Mind Stone, yaitu bagian dari Infinity Stones yang tidak terelakkan kemampuannya. Untungnya lagi, tubuh robot dan Mind Stone berhasil direbut kembali oleh Avengers, sehingga Jarvis sebagai AI yang lebih stabil, dapat terunggah. Terciptalah Vision (Paul Bettany) berbahan Vibranium, yang sangat kuat dan mampu menanggulangi apapun juga (selain Thanos). 

Nah, bagaimana dengan maksud artikel ini yang kentara penggambaran antara Stark dan Ultron? Justru disitulah letak uniknya. Penulis perlu mengacu sekuat apa sebenarnya Ultron, apalagi jika dibandingkan versi komiknya.

Di komiknya, Ultron bukan hanya ancaman tingkat Avengers, melainkan tingkatan galaksi. Ultron dalam komik sebenarnya diciptakan oleh Henry 'Hank' Pym (Michael Douglas), yang dikenal dalam MCU sebagai pencipta Ant Man dan portal Quantum Realm. Namun di komik, Pym dikenal sebagai 'wild card' alias 'semi-villain' alias kacau balau. Walau sempat bergabung dengan Avengers, Pym memiliki sejarah kekerasan yang parah, serta ciptaannya sering mengancam bumi.

Ultron dalam komik, seharusnya hanya dapat ditanggulangi oleh Vision, Captain Marvel (Brie Larson), dan Guardian of Galaxy sekaligus. Kemampuan Ultron untuk menyusup ke dalam teknologi apapun, dapat mengancam bumi dan bahkan luar angkasa. Ultron yang diciptakan pada tahun 1968 lalu di komik, bisa jadi referensi awal Skynet di seri Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019).

Namun, mengapa tokoh antagonis sekuat Ultron hanya menciptakan arena duel saja di negara fiktif Sokovia, ala MCU?

Tony Stark sebagai Ultron

Penulis tidak ingin menggambarkan Age of Ultron sebagai film yang mengangkat plot dan mengenalkan karakter baru saja. Memang, terdapat karakter seperti Vision, Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) yang baru dikenalkan. 

Namun, penulis menelaahnya dari segi psikologis penciptanya sendiri, yaitu Stark. Seorang mekanik eksentrik ini memang memiliki sisi paranoid, yang membuatnya terus menciptakan kreasi baru. Khususnya, Stark seringkali membuat baju zirah Iron Man terbaru, demi menambah kemampuan apapun. Bahkan di Avengers: Infinity War (2018), Stark berhasil memakai Iron Man dengan teknologi Nano.

Sayangnya, sisi mental Stark memang belum pernah sembuh sama sekali, sejak dulu. Diawali dengan piatu, saat dirinya kehilangan ibu, lalu ayahnya sendiri hingga yatim piatu. Stark adalah seorang penyendiri sejati. Lebih parah lagi, selama berkarir di Stark Industries, dengan bangganya Stark menyuplai inovasi senjata bagi AS, melalui Jenderal Ross (William Hurt, Harrison Ford). Alias, Make America Great Again.

Sisi gelap selama banyak dekade, telah merusak mental Stark sebagai seorang pria. Sisi perlente, sok narsis dan percaya diri berlebihan Stark adalah kedok saja, karena selama ini kurang percaya dengan dirinya sendiri, apalagi dunia di sekitarnya. Bisa disebut, selain Captain America (Chris Evans), hanya Stark-lah yang secara terbuka mengenai identitas pahlawan supernya. Itupun semacam persona baru, yang telah lama bersalah dengan banyak operasi oleh AS. 

Nah, apa hubungannya dengan Ultron? Disitulah letak berbahayanya. Ultron adalah penjelmaan sisi kelam dan negatif dari Stark. Karena berfungsi sebagai robot AI persenjataan, Ultron sebenarnya dapat dikendalikan dengan lebih tepat. Namun, sisi gelap Stark tercampur dalam fungsi Ultron, dan menyebabkannya kurang terkontrol.

Lalu, bagaimana dengan Sokovia? Disitu pula letak kelemahan lain dari Stark. Ultron masih memiliki sisi Narsistik ala Stark, yang menyebabkan dia membuat arena khusus di Sokovia. Setelah gagal menciptakan tubuh baru dengan Mind Stone, sisi tidak mau kalah meruak muncul. Ultron hanya menciptakan banyak robot baru (yang tidak setara dirinya), lalu mengirimkan ke Sokovia sebagai pusat penelitian Hydra, lalu menantang bertarung dengan Avengers.

Ultron memang diciptakan demi menanggulangi tingkat ancaman Avengers, namun sisi tidak mau kalah Stark, berarti disalah-artikan sebagai kompetisi saja. Kisah seperti ini, mirip dengan sisi lain Batman dari DC Comics. Batman memiliki sejenis fail-safe, demi menghalau seluruh anggota Justice League yang memberontak. Dengan mengalahkan Avengers, maka Bumi dapat diamankan oleh dirinya saja. 

Jika Ultron berhasil mendapatkan Mind Stone, maka dirinya mungkin menerima semacam 'wangsit' lainnya. Contohnya adalah kedatangan Thanos, Galactus, dan banyak mahluk antar-dimensi yang mengancam bumi. 

Layaknya Ultron adalah penggambaran lain, dari sisi Dr. Doom di Fantastic Four. Walau berperan sebagai antagonis utama, namun Dr. Doom sangat ingin melindungi Bumi. Memang terlalu totalitarian, namun Dr. Doom di komik sampai berhasil membangun sebuah negara, yang khusus ditujukan demi menghalau ancaman bagi Bumi dari pihak luar angkasa.

Nah, karena itulah sebelum Doomsday akhirnya tiba, dan Robert Downey Jr. yang membuka wajahnya saat Comic-Con 2024 lalu sebagai Dr. Doom, hype dari film Doomsday semakin menggila. Apalagi, dari penggemar MCU yang sudah sangat paham mengenai sisi karakter ini. 

Ya, Ultron memang seharusnya menjadi seorang antagonis yang pintar, dan bukannya bertindak pecicilan ala Stark.

Okeh, tampaknya perlu diakhiri dengan meme terkenal saja dari YouTube. 

Doomsday is Coming.

Doomsday is Coming (Reddit).

04 Maret 2026

Bahayanya Pria Tanpa Beban Ala Film Dead Man's Wire

 

Kiritsis yang nothing to lose (IMDB).

Daaan, terakhir adalah film berbahaya lainnya dari Hollywood sana, berjudul Dead Man's Wire yang tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran. Bagi yang suka drama kejahatan, tentu terkagum saat menonton cuplikannya yang berating umur D17. 

Apalagi, film ini mengadaptasi kisah nyata dari tahun 1977 lalu di AS. Ya, nama karakter yang diadaptasi adalah Tony Kiritsis, yang sempat melaksanakan aksi penyanderaan, namun malah dianggap sebagai seorang warga tertindas oleh khalayak media AS sana. 

Bagi penulis, kisah film ini mirip dengan istilah Nothing to Lose, alias Tanpa Beban. Saking terancamnya, suatu karakter sering disematkan dengan istilah ini. Karakter tersebut memiliki wacana dan rencana tertentu untuk beroperasi habis-habisan, dalam menyelamatkan dirinya dari situasi genting.

Kisah Tony Kiritsis

Kisah Tony Kiritsis adalah sesuatu yang campur aduk, antara stresnya seorang warga dan masalah pemberontakan kepada sistem. Masalahnya memang berakar pada sistem kapitalis ala AS sana. 

Tony Kiritsis adalah seorang warga biasa, yang terjebak hutang akibat hipotek miliknya. Saking terancamnya (menurut Kiritsis), dirinya digadang akan bangkrut parah, akibat perusahaan hipotek yang sengaja memainkan dokumen properti miliknya. Kiritsis curiga, bahwa lokasi properti miliknya telah ditarget oleh broker kurang bertanggung jawab, untuk direbut sebagai properti milik perusahaan.

Karena merasa tidak ada jalan lain (selain hukum tentunya), Kiritsis memilih jalur kekerasan. Dengan menyandera broker perusahaan hipotek, dirinya menelpon kepolisian setempat. Tebusan yang dimintanya cukup banyak, yaitu keamanan propertinya, imbalan lima Juta Dolar AS, dan bebas tanpa tuntutan hukum. 

Kepolisian yang seharusnya terbiasa menanggapi ancaman semacam ini, malah kelimpungan saat menanggapi. Sebenarnya Kiritsis adalah seorang warga yang baik, sementara media mulai membela Kritis dan latar belakang masalahnya.

Bagi yang ingin tahu kelanjutan kisahnya, bisa dicek di banyak artikel dan konten mengenai kisah nyata penyanderaan oleh Tony Kiritsis. Namun para penggemar film drama kejahatan ala Hollywood semacam ini, tentu lebih mengenal isi adegan dan akting para aktor-aktrisnya.

Bill Skarsgard yang Sudah Naik Daun

Bagi yang belum cukup paham, maka perlu dikenalkan kembali dengan nama Bill Skarsgard. Aktor kelahiran Swedia ini, sempat naik daun dengan perannya sebagai badut horor di duo film adaptasi novel Stephen King, berjudul It (2017) dan It: Chapter Two (2019). Wajahnya yang terkenal seram, memang menjadi khas akting serba bisa ala Skarsgard. 

Tidak hanya sebagai badut berwacana horor ala Hollywood, banyak karakter unik yang diperankan oleh Skarsgard. Contohnya adalah film seorang musisi rocker yang kekal abadi dalam film reka ulang, The Crow (2024). Penulis agak heran juga, karena biasanya film reka ulang, apalagi se-legendaris The Crow, kurang disukai oleh banyak penggemarnya. Namun di film tahun 2024 ini, justru banyak yang suka, karena keahlian akting milik Skarsgard.

Berikutnya ada film Nosferatu (2024), dimana Skarsgard berhasil menciptakan sosok dan suara vampir terkenal ini dengan ciamik. Sangat tidak terlihat sosok aseli Skarsgard dibalik karakter horor ini. Saking disukai para kritikus film, Nosferatu ini diberi nilai cukup besar dari mereka semua.

Satu film lainnya adalah John Wick 4 (2023), yang membuktikan kemampuan akting Skarsgard dalam film drama aksi kejahatan. Tentu dengan kehadiran dirinya dalam waralaba film bersama Keanu Reeves ini, telah membuktikan kelebihan Skarsgard dalam memerankan film yang keluar dari pamor awalnya.

Sinopsis Film Dead Man's Wire

Okeh sedikit saja kisah sinopsisnya, karena memang mirip dengan kisah Kiritsis, yang sudah dibahas sebelumnya.

Tony Kiritsis (Bill Skarsgard) adalah pria paruh baya yang sedang mengalami krisis. Dirinya terancam bangkrut dan diusir dari propertinya sendiri, akibat hutang piutang dan masalah dengan bankir hipotek. 

Kiritsis akhirnya mengambil jalur lain, yang lebih mengacu pada kejahatan. Kiritsis lalu berinisatif untuk menyandera mitra bankirnya, memakai senapan berburu miliknya. Dengan jujur, Kiritsis meminta tebusan kepada kepolisian setempat, wacana membebaskan dirinya dari tuntutan hukum, serta permintaan maaf langsung dari perusahaan hipotek.

Kepolisian setempat dan perusahaan hipotek tentu tidak mengalah begitu saja, dan terus bernegosiasi dengan Kiritsis. Namun, kisah ini akhirnya ramai diberitakan oleh media setempat. Setelah berbagai investigasi mengenai latar belakang masalah Kiritsis, media malah membela sosoknya, dan memberi tekanan berlebih kepada aparat hukum setempat.

Bagaimanakah kisah Tony Kiritsis hingga akhir hayat? Jawabannya, tentu dapat disaksikan langsung dengan berbagai tuntutan hukum ala sinema Indonesia.

Frankenstein Mendapat Istri Ala Film The Bride

Wanita yang terpaksa hidup lagi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film yang bermasalah kombinasinya dari Hollywood sana, dan mulai tayang menjelang libur Lebaran di sinema Indonesia. Judulnya adalah The Bride, film sejenis horor-drama-aksi, yang memiliki rating umur D17, alias cukup dewasa. Bagi yang paham cuplikannya, tentu tahu bahwa film ini mengambil referensi novel horor lama terkenal, yaitu Frankenstein.

Karakter Frankenstein 

Frankenstein adalah novel Inggris lama, bersub-judul The Modern Prometheus yang rilis tahun 1818 lalu dari novelis bernama Marry Shelley. Kisahnya cukup horor, walau mengemukakan drama penciptaan kreasi kehidupan. Secara harfiah melalui teknik (fiktif) Alkimia, Dr. Victor Frankenstein berhasil menghidupkan seorang mayat, yang diberi nama sebagai 'Mahluk' saja. 

Cerita novel ini sudah sering diadaptasi, dengan langsung memberi nama 'Mahluk' tersebut sebagai Frankenstein. Kadang kisahnya diisi horor yang lebih membuka kengerian sains dan adegan daging-mendagingnya. Ceritanya kadang berisi romansa antara Frankenstein dan karakter wanitanya, ala dongeng lama Beauty and the Beast.

Berbagai jenis adaptasi Frankenstein sering diproduksi oleh sineas perfilman, selama puluhan tahun lamanya. Contohnya adalah serial Frankenstein (2025) dari Netflix, yang diperankan oleh Oscar Isaac (Moon Knight) dan ditulis naskahnya oleh sineas horor handal, Guillermo del Toro. Lalu, ada Victor Frankenstein (2015), yang diperankan oleh Daniel Radcliffe (Harry Potter). 

Untuk rekomendasi khusus dari penulis, yaitu film berjudul Van Helsing, dari tahun 2004 lalu. Film ini diperankan oleh Hugh Jackman, yang dirilis tepat saat dirinya masih aktif berperan sebagai Wolverine dalam trilogi awal X-Men. Genre film ini adalah petualangan-aksi-horor, karena berlatar seorang pemburu monster.

Bonnie dan Clyde

Uniknya film The Bride adalah latar filmnya yang berada di Chicago, AS, tahun 1930an lalu dan bukannya di Eropa sana, khususnya Jenewa, Swiss. tersirat dalam cuplikan, bahwa Frankenstein telah hidup lebih dari seratus tahun, dan menjelajah ke seluruh dunia. Tidak hanya bertahan hidup, Frankenstein sebagai seorang monster telah mengenal ilmuwan Alkimia lainnya, yang dapat membantu saat tubuhnya perlu 'diservis.'

Nah, lalu apa hubungannya dengan Bonnie dan Clyde? Cuplikannya justru terlihat cocok. Ya, banyak adegan menampilkan kisah Frankenstein dan istri barunya, yang mengadakan perjalanan panjang di Midwest AS. Keduanya dengan sumringah melaksanakan perampokan di banyak kota, layaknya tokoh asli bernama Bonnie dan Clyde di tahun 1930an. Sepasang suami-istri ini memang dikenal sangat lihai dan cekatan, dalam menghindari polisi selama modus operandinya.

Sementara Frankenstein dan istrinya, karena memiliki tubuh yang tidak bisa mati dan lebih kuat dari manusia biasa, sangatlah menikmati kehidupan barunya ini. Keduanya memang sudah tidak memiliki tujuan hidup, dan baru kali ini bisa mulai bertingkah sebebas mungkin.

Sinopsis Film The Bride

Oh ya, bagi yang tahu Christian Bale, tentu ingin menonton aktor serba bisa ini di layar lebar. Sejak dikenal dalam film American Psycho (2000), Bale dianggap sanggup dalam memerankan karakter dengan akting yang berat. Contoh paling standarnya, adalah trilogi film Batman (2005, 2008, 2012). Trilogi ini mengisahkan hebatnya Bale sebagai seorang aktor aksi dan pahlawan super sekaligus.

Okeh, saatnya membahas sinopsis film The Bride.

Frankenstein (Christian Bale) adalah seorang mayat hidup, yang telah hidup selama lebih dari seratus tahun. Semenjak dihidupkan kembali tahun 1818 lalu di Jenewa, Swiss, Frankenstein melanglangbuana demi menemukan jalan hidupnya. Hingga akhirnya dia tiba di AS, dan memilih tinggal di Chicago demi berkenalan dengan ilmuwan Alkimia lainnya, bernama Euphronious (Annette Bening). 

Kesempatan pun tiba saat seorang wanita muda meninggal dunia. Dengan semangat, Frankenstein dan Euphronious menggali kubur wanita tersebut, demi menghidupkannya kembali. Selain itu, keduanya penasaran untuk memberi sejenis kekasih bagi Frankenstein, yang selama ini hidup sendiri. The Bride (Jessie Buckley) pun terlahir, dan langsung merasa dekat dengan Frankenstein.

Karena keduanya cukup aneh nan psikopat, maka tidak hanya berbulan madu sambil kasmaran, namun memiliki agenda lainnya. Keduanya mulai bertualang di sekitar AS, sambil merampok banyak kota. Saking euforia dalam menikmati hidup dengan tubuh barunya, keduanya memang sengaja dan menggila.

Bagaimanakah akhir cerita dari kedua mahluk yang sudah tak merasa eksis di dunia ini? Jawabannya tentu ada di sinema monster ala Indonesia.

Nyelenehnya Pria dari Masa Depan Ala Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

 

Sam Rockwell yang semakin kocak (IMDB).

Okeh, saatnya menyambut tiga film bermasalah dari Hollywood sana, yang berlatar aneh bin ajaib, dan tayang menjelang libur Lebaran. Pertama adalah film berjudul panjang nan kurang jelas, yaitu Good Luck, Have Fun, Don't Die yang berating umur D17. Memang, film ini cuman bisa ditelaah dengan satu kombinasi istilah, yaitu nyinyir, ironis, parodi ala jaman viral kesetanan.

Pemuda dari Masa Depan dan Kecerdasan Buatan

Memang film ini cukup nyeleneh untuk dianalisa langsung. Tetapi, penulis dapat mengacu pada satu ramai sosial di pertengahan tahun 2010an lalu, saat Media Sosial tengah viral dengan berbagai keunikannya. Memang dalam cuplikannya, film ini menggambarkan seorang pemuda (tua) yang datang dari masa depan demi mencegah masalah akibat kecerdasan buatan (AI).

Ya, pertengahan tahun 2010an lalu memang sempat viral mengenai istilah pemuda atau pemudi dari masa depan. Mereka mengaku sebagai time-traveller, alias satu penjelajah waktu yang datang dari masa depan. Memang beberapa kali, tebakan mereka mengenai suatu kejadian tertentu  di masa mendatang, berhasil terbukti. 

Ternyata banyak diantara mereka yang memang valid, alias memiliki kemampuan meramal. Hingga akhirnya ada studi melalui konten khusus, yang membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah anak indigo, yang kreatif dalam menjabarkan visinya, lalu terkadang benar dan tepat. 

Di saat itu pula, istilah indigo mulai ramai kembali, seperti jaman 90an hingga awal 2000an. Indigo memang suatu ketertarikan tertentu di ranah sosial, karena banyak anak kecil hingga remaja, memiliki tingkat kejeniusannya sendiri yang unik. 

Sementara dari segi kecerdasan buatan, sudah menjadi bahan topik di banyak film Hollywood. Contohnya adalah sejak waralaba film Terminator diproduksi (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Terminator berfokus pada pencegahan akhir dunia akibat AI bernama Skynet, yang memberontak dan menciptakan dunia yang hangus. Berbagai film terkenal tentang AI pun sering diadaptasi oleh Hollywood, sehingga menjadi satu bahan adaptasi tertentu.

Nah, mengacu pada tahun 2020an sekarang, Asisten AI sedang ramai dibahas. Berbagai perusahaan teknokrat terkenal, seperti Apple, Google, Meta, Microsoft dan banyak perusahaan AI, mulai menelurkan hasil karya Asisten AI-nya. 

Banyak program tersebut telah bermasalah sejak perilisannya, sehingga menjadi kontroversi di banyak negara. Banyak yang menganggap (walau menggunakan meme), bahwa AI adalah akhir dari interaksi alami di dunia digital, serta bentuk kemunduran kognitif bagi manusia.

Bagaimana dengan kisah film ini yang mencoba nyinyir bagi kedua topik tersebut? Bisa dicek melalui sinopsisnya, yang berisi aktor terkenal Sam Rockwell. Aktor ini memang sering berperan di banyak film produksi mahal Hollywood, namun lebih mengemukakan karakter perlente, namun tetap kocak.

Sinopsis Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

Sam Rockwell adalah pemuda tua dari masa depan, yang berhasil menggunakan mesin waktu untuk dapat kembali ke masa sekarang. Tepat setelah tiba, dirinya langsung ceramah dan membuang banyak ponsel di lokasi restoran, demi agenda merekrut banyak pengikut anti kecerdasan buatan. 

Walau banyak yang heran, ternyata kecurigaan Rockwell terbukti langsung, dengan tibanya tim Buru Sergap dari kepolisian setempat. Walau banyak sandera didalam restoran, tetapi tim Kepolisian dengan brutal dan membabi-buta langsung memburu Rockwell. Tanpa mengindahkan keamanan sandera, Rockwell dan penyintas yang percaya, akhirnya sanggup menghalau kejaran polisi.

Namun, banyak kejadian berbahaya terus mengejar mereka, akibat kecerdasan buatan yang ternyata berupa monster aseli. Hingga akhirnya, Rockwell dan banyak sekali pengikutnya, harus bertahan hidup demi menghalau setiap tantangan menggila ini.

Sanggupkah Rockwell dan banyak warga percaya untuk menghindari akhir dunia akibat AI? Atau malah hanya sekedar prank semata dari Rockwell yang jelas sudah terlihat agak gila?

Jawabannya, tentu ada di kisah PanSos ala sinema Indonesia.