Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2026

Pentingnya Tumbuh Kembang bagi Anak Ala Film Na Willa

 

Farida, Willa, Dul, dan Bud yang suka es krim (TMDB).

Ada tiga kombinasi film Indonesia yang tayang menjelang libur Lebaran. Karena temanya sangat mirip, dan jika dihubungkan ala 'timeline', maka terlihat seperti jalinan takdir multiversal (hah?). Cukup menarik, karena setiap judulnya memberi kisah sehari-hari (slice of life) yang sangat mengena, dan bahkan cukup dikenal setiap kalangan masyarakat Indonesia.

Sebenarnya terdapat pula judul keempat, namun karena bertema sains-fiksi dengan hebohnya efek spesial, maka tidak cocok sebagai kombo tiga film drama keseharian ini. 

Pertama adalah film yang cukup kentara permasalahannya di dunia nyata, berjudul Na Willa yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Lucunya film ini, adalah mengisahkan tentang hebohnya anak, saat pertama kali mengikuti jenjang pendidikan sekolah. 

Bagi yang mengingatnya, pertama kali masuk sekolah pasti terasa aneh. Dari pengalaman penulis, masih ingat saat pertama kali masuk TK atau Sekolah Dasar kelas satu. Banyak anak menangis, sementara orangtuanya sedang menunggu di luar kelas dengan cemas. Suatu pemandangan mencengangkan, karena baru kali itu penulis melihat banyak anak kecil menangis bersama.

Oh ya, dalam cuplikannya banyak adegan yang menggambarkan tentang cara bermain anak, mulai dari bermain kelereng, layang-layangan, ayunan, hingga membaca buku. Penulis pun perlu berkomentar mengenai hal ini. Yaitu saat banyak konten dan game ponsel yang sangat menarik, namun di lingkungan RT sendiri, justru sedang 'hype' dengan balapan manuk (burung). 

Ya, sejenis japati (merpati) yang diterbangkan sepasang, lalu dibalapkan hingga satu keliling lapangan, adalah animo yang sedang ramai di sekitar rumah penulis. Pemainnya memang beberapa anak SD, yang tampaknya tidak begitu tertarik dengan maenan ponsel jaman sekarang. 

Yang menontonnya pun bukan hanya mereka, yaitu banyak pemuda-pemudi (tua) yang penasaran dengan aktifitas di sore hari ini. Sebelumnya, anak-anak tersebut lebih heboh dengan adu layangannya. Tampaknya, sudah bertahun-tahun mereka melaksanakan maenan 'offline' tersebut.

Psikologi Anak Tidak Mau Sekolah

Sebelum membahas kisah di film Na Willa ini, coba dicek dari psikologi anak. Seperti sudah diutarakan sebelumnya, penulis sempat heran dengan keadaan TK atau SD terdahulu, dimana banyak anak menangis bersama saat pertama kali masuk sekolah. Tentu bukan hal sepele, karena dapat menganggu suasana hati anak, serta tumbuh kembangnya.

Ya, film ini menggambarkan Willa (Luisa Adreena) sebagai tokoh utamanya, yang merasa kaget saat baru mau masuk sekolah. Lebih tepatnya lagi, saat banyak temannya yang tidak bisa bermain, akibat baru masuk sekolah.

Perasaan seperti ini, sempat dijabarkan dalam banyak kajian. Karenanya, dapat berakibat mogoknya anak untuk masuk sekolah. Walau terlihat rewel saja dan perlu dimarahi, para ahli yakin bahwa fase ini perlu ditanggulangi dengan baik.

Seperti dilansir dari Educenter, masalah anak tidak mau sekolah adalah akibat rasa takut dan gelisah, lalu kegiatan sekolah yang membosankan, serta terpisah dengan zona nyaman, alias jauh dari rumah, orangtua dan saudara dekat.

Cara terbaik untuk menanggulanginya menurut Fakultasi Psikologi dari UMK, adalah melatih anak secara bertahap. Yaitu tidak memarahi anak langsung, lalu dukung mentalnya dengan memberi semangat. Bangun rasa percaya diri anak dengan memuji saat berani bersekolah, dan menyelesaikan PR-nya. 

Karena itu, minat dan rasa nyaman anak dapat berkembang. Kemandirian bisa dilatih, karena anak adalah pribadi yang merasa dan berpikir, sehingga orangtua harus berkomunikasi dengan saling memahami.

Nah, bagaimana dengan kisah Na Willa ini? Coba dicek saja sinopsisnya, yang ternyata diproduksi oleh sineas perfilman terkenal.

Sinopsis Film Na Willa

Film Na Willa ini diproduksi oleh Visinema, yaitu Studio yang merilis Jumbo, Keluarga Cemara, dan Nussa. Tentu yang pernah menontonnya, tahu sehebat apa studio ini dalam membawakan cerita sehari-hari, yang menjadi kenangan indah dan heboh ala sinema. Bahkan terdapat banyak adegan, dengan efek spesial 3D yang ciamik, layaknya film animasi Jumbo di tahun kemarin.

Film ini diadaptasi dari buku novel berjudul sama, hasil karya Reda Gaudiamo yang dirilis dengan tiga judul, yaitu Na Willa: Serial Catatan Kemarin (2012), Na Willa dan Rumah dalam Gang (2018), serta Na Willa dan Hari-hari Ramai (2022).

Willa (Luisa Adreena) adalah seorang anak kecil yang belum masuk sekolah. Kesehariannya diisi dengan bermain bersama tiga temannya, yaitu Farida (Freya Mikhalya), Bud (Ibrahim Arsenio) dan Dul (Azami Syauqi). Mulai dari bermain kelereng, layangan, ayunan, hingga banyak mainan anak, selalu mengisi keseharian empat sekawan ini.

Hingga akhirnya Dul perlu masuk sekolah SD, yang diisi dengan banyak dasar Calistung dan PR-nya. Dul pun jarang ikut bermain, sehingga membuat Willa heran. Farida yang akan sekolah pun, sempat ditanya oleh Willa untuk masuk sekolah atau tidak. Menyusul Dul yang nantinya akan masuk sekolah juga.

Willa yang merasa kesepian, mulai gelisah. Bahkan sulit menerima keseharian dirinya yang kini kosong tanpa teman. Willa jadi rewel dan sering menangis, dan bahkan memicu kemarahan ibunya, Mak (Irma Novita Rihi). Mbok (Mbok Tun) memberi nasihat, bahwa Willa hanya merasa kesepian saja.

Nah, bagaimana dengan keseharian Willa yang semakin sepi saja? Sanggupkah Willa menerima kenyataan bahwa sekolah adalah tujuan berikutnya? Apakah perlu terus berdamai dengan perubahan yang tiba?

Jawabannya, tentu ada di sinema anak Indonesia.

09 Maret 2026

Mengenang Masakan Rumah Ala Ibu di Film Number One

 

Sosok anak dan ibu yang memasak bersama di dapur (TMDB).

Dan terakhir untuk film luar negeri menjelang Lebaran, adalah film yang sangat cocok untuk mengisi sisa Ramadhan ini. Judulnya adalah Number One, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating umur R13.

Sesuai judul artikel, film ini berkisah rasanya menyicipi masakan rumah, yang dibuat oleh ibu sendiri. Dari segi ini, apalagi di bulan Ramadhan yang diisi dengan sahur dan berbuka, tentu sering mengonsumsi banyaknya masakan ibu di rumah.

Empat Sehat Lima Sempurna

Karena mengacu pada masakan rumah, dan penulis tidak akan membahas tentang resep sahur dan berbuka puasa, maka ditelaah melalui konsep pola makan saja.

Menurut penelitian yang dilansir dari Antara, masakan rumah memiliki index gizi lebih tinggi. Secara konvensional, semakin makmur hidup seseorang, maka semakin sehat pula dirinya. Namun menurut penelitian di AS sana yang dijabarkan oleh Arpita Tiwari, justru hasilnya berbeda dengan konsep tersebut.

Penelitian mengikutsertakan 400 warga Seattle dalam pola makan harian, lalu mengeceknya melalui Indeks Makan Sehat (IMS), dan hasilnya ternyata cukup mencengangkan. Nominal IMS yang mencapai angka 80, adalah tingkatan gizi baik. Sementara IMS yang berada dibawah 50, berarti gizinya buruk.

Mengacu pada ibu hingga nenek yang memasak tiga kali seminggu di rumah, justru menunjukkan indeks kesehatan rata-rata 67. Sementara yang memasak enam kali seminggu, mencapai index kesehatan 74. Itu berarti, semakin sering memasak dan melahap makanan di rumah, dapat mencapai pola makan dan gizi yang lebih sehat.

Indeks kesehatan biasanya berkaitan dengan penghasilan, pendidikan, dan status sosial. Namun ketiga faktor tersebut tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan sederhana, yaitu memperbaiki pola makan sehat dengan secara rutin memasak di rumah.

Kembali ke Indonesia, dan seperti menurut Kementerian Kesehatan, konsep empat sehat lima sempurna diterapkan untuk menjaga pola makan bergizi dan sehat. Makanan pokok sebagai sumber karbohidrat, lauk-pauk sebagai sumber protein, buah dan sayur sebagai sumber vitamin dan mineral, serta meminum air putih yang cukup, adalah faktor empat sehat lima sempurna. 

Konsep ini ditambah pula dengan beraktifitas fisik minimal 30 menit sehari, dan mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir.

Nah, bagaimana dengan film Number One yang mengisahkan masakan ibu di rumah? Justru disitulah letak uniknya. Penulis sendiri tidak bisa menggambarkan banyak, karena genre selingan kehidupan (slice of life) memiliki khas drama tersendiri, yang hanya bisa diresapi saat langsung menontonnya. 

Sinopsis Film Number One

Film ini sebenarnya kerjasama antara Jepang dan Korea Selatan. Film diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, sementara naskahnya diadaptasi dari novel karya novelis Jepang bernama Sora Uwano, dengan judul The Number of Times You Can Eat Your Mother's Cooking is 328.

Ha-min (Choi Woo-shik) adalah seorang siswa berumur 18 tahun, yang tiba-tiba melihat angka imajiner lewat pandangannya. Setiap kali dia memakan masakan ibunya yang bernama Eun-sil (Jang Hye-jin), jumlah angka itu terus menurun. Hingga akhirnya angka tersebut mencapai nol, saat ibunya meninggal dunia.

Bertahun-tahun kemudian, belum ada yang tahu momen Ha-min saat melihat angka tersebut. Namun pacarnya yang bernama Ryeo-eun (Gong Seung-yeon), sempat bertanya apa yang membuatnya irit saat mengonsumsi makanan, bahkan saat keadaan pesta sekalipun. Ha-min terpaksa mulai berkisah, tentang kenangan lama sebelum ibunya meninggal.

Apakah Ha-min berhasil menguak apa dibalik maksud angka imajiner tersebut? Jawabannya tentu ada di pola makanan sehat ala sinema Indonesia.

04 Maret 2026

Frankenstein Mendapat Istri Ala Film The Bride

Wanita yang terpaksa hidup lagi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film yang bermasalah kombinasinya dari Hollywood sana, dan mulai tayang menjelang libur Lebaran di sinema Indonesia. Judulnya adalah The Bride, film sejenis horor-drama-aksi, yang memiliki rating umur D17, alias cukup dewasa. Bagi yang paham cuplikannya, tentu tahu bahwa film ini mengambil referensi novel horor lama terkenal, yaitu Frankenstein.

Karakter Frankenstein 

Frankenstein adalah novel Inggris lama, bersub-judul The Modern Prometheus yang rilis tahun 1818 lalu dari novelis bernama Marry Shelley. Kisahnya cukup horor, walau mengemukakan drama penciptaan kreasi kehidupan. Secara harfiah melalui teknik (fiktif) Alkimia, Dr. Victor Frankenstein berhasil menghidupkan seorang mayat, yang diberi nama sebagai 'Mahluk' saja. 

Cerita novel ini sudah sering diadaptasi, dengan langsung memberi nama 'Mahluk' tersebut sebagai Frankenstein. Kadang kisahnya diisi horor yang lebih membuka kengerian sains dan adegan daging-mendagingnya. Ceritanya kadang berisi romansa antara Frankenstein dan karakter wanitanya, ala dongeng lama Beauty and the Beast.

Berbagai jenis adaptasi Frankenstein sering diproduksi oleh sineas perfilman, selama puluhan tahun lamanya. Contohnya adalah serial Frankenstein (2025) dari Netflix, yang diperankan oleh Oscar Isaac (Moon Knight) dan ditulis naskahnya oleh sineas horor handal, Guillermo del Toro. Lalu, ada Victor Frankenstein (2015), yang diperankan oleh Daniel Radcliffe (Harry Potter). 

Untuk rekomendasi khusus dari penulis, yaitu film berjudul Van Helsing, dari tahun 2004 lalu. Film ini diperankan oleh Hugh Jackman, yang dirilis tepat saat dirinya masih aktif berperan sebagai Wolverine dalam trilogi awal X-Men. Genre film ini adalah petualangan-aksi-horor, karena berlatar seorang pemburu monster.

Bonnie dan Clyde

Uniknya film The Bride adalah latar filmnya yang berada di Chicago, AS, tahun 1930an lalu dan bukannya di Eropa sana, khususnya Jenewa, Swiss. tersirat dalam cuplikan, bahwa Frankenstein telah hidup lebih dari seratus tahun, dan menjelajah ke seluruh dunia. Tidak hanya bertahan hidup, Frankenstein sebagai seorang monster telah mengenal ilmuwan Alkimia lainnya, yang dapat membantu saat tubuhnya perlu 'diservis.'

Nah, lalu apa hubungannya dengan Bonnie dan Clyde? Cuplikannya justru terlihat cocok. Ya, banyak adegan menampilkan kisah Frankenstein dan istri barunya, yang mengadakan perjalanan panjang di Midwest AS. Keduanya dengan sumringah melaksanakan perampokan di banyak kota, layaknya tokoh asli bernama Bonnie dan Clyde di tahun 1930an. Sepasang suami-istri ini memang dikenal sangat lihai dan cekatan, dalam menghindari polisi selama modus operandinya.

Sementara Frankenstein dan istrinya, karena memiliki tubuh yang tidak bisa mati dan lebih kuat dari manusia biasa, sangatlah menikmati kehidupan barunya ini. Keduanya memang sudah tidak memiliki tujuan hidup, dan baru kali ini bisa mulai bertingkah sebebas mungkin.

Sinopsis Film The Bride

Oh ya, bagi yang tahu Christian Bale, tentu ingin menonton aktor serba bisa ini di layar lebar. Sejak dikenal dalam film American Psycho (2000), Bale dianggap sanggup dalam memerankan karakter dengan akting yang berat. Contoh paling standarnya, adalah trilogi film Batman (2005, 2008, 2012). Trilogi ini mengisahkan hebatnya Bale sebagai seorang aktor aksi dan pahlawan super sekaligus.

Okeh, saatnya membahas sinopsis film The Bride.

Frankenstein (Christian Bale) adalah seorang mayat hidup, yang telah hidup selama lebih dari seratus tahun. Semenjak dihidupkan kembali tahun 1818 lalu di Jenewa, Swiss, Frankenstein melanglangbuana demi menemukan jalan hidupnya. Hingga akhirnya dia tiba di AS, dan memilih tinggal di Chicago demi berkenalan dengan ilmuwan Alkimia lainnya, bernama Euphronious (Annette Bening). 

Kesempatan pun tiba saat seorang wanita muda meninggal dunia. Dengan semangat, Frankenstein dan Euphronious menggali kubur wanita tersebut, demi menghidupkannya kembali. Selain itu, keduanya penasaran untuk memberi sejenis kekasih bagi Frankenstein, yang selama ini hidup sendiri. The Bride (Jessie Buckley) pun terlahir, dan langsung merasa dekat dengan Frankenstein.

Karena keduanya cukup aneh nan psikopat, maka tidak hanya berbulan madu sambil kasmaran, namun memiliki agenda lainnya. Keduanya mulai bertualang di sekitar AS, sambil merampok banyak kota. Saking euforia dalam menikmati hidup dengan tubuh barunya, keduanya memang sengaja dan menggila.

Bagaimanakah akhir cerita dari kedua mahluk yang sudah tak merasa eksis di dunia ini? Jawabannya tentu ada di sinema monster ala Indonesia.

03 Maret 2026

Sekuel Terakhir dalam Horornya Film Danur: The Last Chapter

 

Riri yang sudah gemulai saat menari (TMDB).

Berikutnya adalah film horor yang meramaikan kembali bagusnya sineas perfilman Indonesia di akhir tahun 2010an, berjudul Danur: The Last Chapter. Film ini memiliki rating umur R13, dan tayang di sinema Indonesia saat menjelang libur Lebaran mendatang. 

Adaptasi Novel Karya Risa Saraswati dan Indigo

Film ini adalah hasil adaptasi dari novel karya seorang artis terkenal, bernama Risa Saraswati. Selama ini, Risa berkecimpung sebagai penulis novel dan kreator konten, yang khas dengan kemampuan paranormal dan supernaturalnya.

Walau tentu ditulis dengan imajinasi tambahan, namun Risa menyebutkan bahwa dirinya adalah anak indigo saat masa kecilnya, sehingga menambah bumbu anehnya horor sejenis ini. Judul novelnya adalah Gerbang Dialog Danur, Maddah, dan Sunyaruri. Ketiga novel mengisahkan imajinasi Risa saat masih kecil sebagai anak indigo, yang berplot utama persahabatan bersama teman imajiner.

Bagi yang belum tahu, anak indigo selalu dideskripsikan dengan karakter yang memiliki kemampuan khusus atau berbeda dengan lainnya. Tidak bisa langsung disebut jenius, namun anak indigo memiliki khasnya masing-masing. Jika ditelaah, maka kemampuan anak indigo paling kentara adalah intuisi tajam, kecerdasan cukup tinggi, kreatifitas melebihi lainnya, serta berwatak empati dan independen. 

Namun menurut dunia kedokteran, anak indigo sebenarnya tidak masuk diagnosa manapun, dan hanya sejenis istilah saja. Tetap saja, perbedaan tersebut dapat menyebabkan anak indigo sering dianggap aneh oleh lingkungannya.

Trilogi Film Danur

Trilogi pertama film Danur, diantaranya adalah Danur (2017) yang diadaptasi langsung dari novel Dialog Danur, lalu Danur 2: Maddah (2018) yang diadaptasi dari novel Maddah, dan terakhir adalah Danur 3: Sunyaruri (2019) yang diadaptasi dari novel Sunyaruri. Bagi yang belum sempat menonton filmnya, bisa dicek melalui layanan siaran Netflix.

Film pertama Danur, mengisahkan Risa Saraswati (Asha Kenyari Bermudez, Prilly Latuconsina) yang telah dewasa, dan tengah menjaga sepupunya yang masih kecil, bernama Riri (Sandrinna Michelle). Khasnya film ini, adalah kehadiran sosok imajiner lain bernama Asih (Shareefa Danish), yang cukup mengerikan. 

Oh ya, dalam cuplikannya terdengar lantunan lagu Kakawihan Sunda, berjudul Boneka Abdi, yang diadaptasi dari lagu rakyat Jerman berjudul 'Hanschen Klein.' Ketiga film Danur memang sangat khas dengan referensi Buhun dari suku Sunda.

Di film keduanya, justru berfokus pada nama Danurnya itu sendiri, walau bersub- judul Maddah. Risa kini lebih sering menemani Riri, dengan tinggal bersama tantenya Tina (Sophia Latjuba), dan pamannya Ahmad (Bucek Depp). Risa harus tinggal bersama di rumah Riri, karena ayah dan ibunya yang sedang dinas ke Malaysia demi kepentingan bisnis. 

Wangi bunga Danur yang khas dari berbagai wilayah Jawa, adalah suatu jenis perantara 'jurig.' Sering terjadi kisah supernatural, yang berisi wewangian bunga. Terciumnya wangi ini tanpa adanya bunga aseli di sekitarnya, berarti tersirat kedatangan supernatural. Istilah Pamali dari khas Sunda pun sempat disebutkan dalam cuplikannya, yang berarti tidak boleh Sompral, alias sembarangan dalam membahas hal mistis.

Di film ketiganya yang bersub-judul Sunyaruri, justru berfokus pada perpisahan antara Risa dan teman imajiner masa kecilnya. Apalagi saat ini Risa telah menikah dengan Dimas Tri Adityo (Rizky Nazar), dan tinggal bersama. Namun, kekisruhan mistis mulai muncul di kediaman mereka, dengan banyak kejadian aneh yang mencelakai Dimas. Risa bahkan mencari paranormal, demi menutup kemampuan supernaturalnya dan mengamankan masa pernikahannya.

Sinopsis Film Danur: The Last Chapter

Nah, untuk film keempat Danur, justru tidak berlandaskan novel manapun. Namun tetap melanjutkan akhir cerita dari film sebelumnya. Risa yang telah lama tidak sanggup melihat teman imajiner-nya, kini dihantui rasa bersalah. Rasanya, kawan supernatural Risa sedang memberitahu sesuatu, yang dapat berujung bahaya bagi semuanya.

Sementara itu, Riri kini telah dewasa dan bekerja sebagai seorang penari balet. Walau memiliki potensi besar, namun kini Riri sedang galau, akibat segera menikah dengan Dimas Raditya Soesatyo (Dito Darmawan). Riri harus memilih, untuk langsung menikah atau melanjutkan karirnya. Namun, justru masalah itulah yang mengundang petaka lain. Kehadiran sosok mahluk dari dunia lain, mulai merusak hubungan antara Riri dan Dimas. 

Risa yang sudah merasakannya pun, semakin sering bermimpi buruk. Bahkan sempat terdengar sebuah pesan dari suara kawan imajiner lamanya. Yaitu, agar Risa segera kembali kepada mereka, dan Riri bisa terselamatkan.

Bagaimana akhir kisah Risa, Riri, dan kawan imajinernya di seri terakhir Danur ini? Jawabannya tentu ada di ranah dunia anak indigo ala sinema Indonesia.

17 Februari 2026

Duo Film Aksi Kejahatan yang Berbeda Asalnya: Jangan Seperti Bapak, Crime 101

 

Angel yang heran bapaknya kenapa (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film aksi yang rilis dua minggu ini, berjudul Jangan Seperti Bapak dari sineas perfilman Indonesia, dengan film Hollywood yag banyak bintangnya, Crime 101. Keduanya tayang di sinema Indonesia, dengan rating cukup dewasa, alias D17+. Sesuai judul artikel, memang kedua film berkutat pada edannya dunia kejahatan, dengan balutan drama dan misteri dibaliknya.

Film Jangan Seperti Bapak

Film yang judulnya agak aneh untuk film aksi, memang hasil karya Indonesia. Tema yang dibuat pun, berasal dari kisah para geng yang cukup perlente alias tingkat dewa. Ya, tidak seperti geng pecicilan alias preman jalanan. 

Bahkan dalam cuplikannya, sangat terlihat ketegangan drama antar tokohnya. Penulis cukup heran, karena untuk film yang berlandaskan aksi gelut, tetapi tidak menyisipkan banyak adegannya. Justru lebih banyak dialog serta arah kamera yang menunjukkan, hingar-bingarnya kota Metropolitan seperti Jakarta.

Sedikit kilas balik dan kangennya penggemar film Indonesia, memang banyak yang menginginkan bahwa sineas perfilman lebih memfokuskan pada kisah aksi gelut, daripada cerita horor. Walau cerita horor sekarang sudah mumpuni dari segi cerita, Indonesia masih memiliki banyak referensi silat dari berbagai daerah, dengan variasi jurus dan kuda-kudanya yang berbeda. Khusus ranah aksi silat, penulis justru kangen dengan karya aksi silat jaman pendekar terdahulu, layaknya film Panji Tengkorak di tahun 2025 kemarin.

Untuk sinopsisnya bisa sedikit dibahas, karena kesinambungan ceritanya tidak begitu terkuak dalam cuplikannya. Angel (Zee Asadel) adalah seorang gadis muda biasa, yang tidak begitu mengenal gelap-gemerlap hidup ala bapaknya, Pablo (Verdi Solaiman). Naas, Pablo meninggal saat Angel masih muda, tepat saat dirinya baru berumur 20 tahun.

Keluarga Angel ternyata sangat terhubung dunia gangster, dengan kombinasi banyak pemimpin Red Dragon, adalah kenalannya sendiri. Vincent (Zack Lee), Sisca (Aulia Sarah), Chandra (Irwan Chandra), dan Hans (Hendric Shinigami), adalah teman keluarga yang sudah dekat batinnya, seakan kerabat sendiri. 

Angel yang masih penuh amarah dendam, mencoba menghubungi mereka. Walau berbeda cara antara satu sama lainnya, namun Angel tetap bersikukuh untuk menguak misteri dibalik kematian ayahnya.

Chris Hemsworth yang kembali beraksi (IMDB).

Film Crime 101

Nah, kalau film yang satu ini sangat menggiurkan dari segi kombinasi aktor-aktris yang mengisinya. Apalagi jika membahas adaptasi naskahnya, yang berasal dari novel terkenal karya Don Winslow, dengan judul yang sama. 

Dari cuplikannya atau poster filmnya saja, sudah terlihat sederet bintang besar di perfilman Hollywood. Diantaranya adalah Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Halle Berry, dan Barry Keoghan. 

Chris Hemsworth tentu menjadi 'wajah' yang tepat sebagai aktor utama di film ini, karena cocok sebagai pemain film aksi. Sementara Mark Rufallo, Barry Keoghan, dan Halle Berry adalah aktor-aktris yang lebih dikenal dengan bakat aktingnya, dan sering dinominasikan oleh Oscar atau penghargaan sinema lainnya. 

Khusus Halle Berry yang sempat memenangkan Oscar, justru saat ini jarang muncul ke permukaan. Padahal, sederet film terkenal banyak dibintangi olehnya, contohnya sebagai gadis Bond di film Die Another Day (2002), dan film horor-psikologi yang aneh, berjudul Gothika (2003). Bahkan film sains-fiktif terakhirnya berjudul Moonfall (2022), dinilai hanya mengandalkan efek spesial saja, tanpa akting atau kisah yang masuk dinalar.

Okeh, saatnya sedikit membahas kisah Crime 101, dan pastinya bagi penggemar Grand Theft Auto atau kisah kejahatan lainnya, akan sangat menyukainya. 

Berbeda dengan kisah aksi Hollywood lainnya, Crime 101 berkutat pada karakter Davis (Chris Hemsworth) yang perlente. Davis bekerja sebagai broker kejahatan, yang mendatangi klien untuk 'menghilangkan' aset perusahaan. Ya, kejahatan yang dilaksanakan Davis, bukanlah pencurian atau perampokan semata, tetapi bernada gratifikasi, dengan mengandalkan 'asuransi' dibaliknya (Insurance Fraud).

Sementara Detektif Lou (Mark Rufallo) dari kepolisian setempat, berhasil untuk menemukan satu rangkaian tepat dibalik modus operandi Davis. Walau belum mengenal siapa tersangkanya, namun Lou telah menyimpulkan pola tertentu, yaitu seluruh aksi kejahatan terjadi di sekitar Jalan Tol 101. 

Sementara klien Davis yang bernama Sharon (Halle Berry),  memiliki kedekatan khusus dengan dirinya. Namun, kedekatan itu bukan masalah bagi Davis, yang berencana untuk melarikan diri dari wilayah modus operandinya. Fixer-nya dari pihak Davi sendiri, justru mengerahkan Ormon (Barry Keoghan) untuk mendekati dirinya, agar segala tindak-tanduknya dapat terlacak dan diungkap.

Sekilas Info Drama Kejahatan

Drama kejahatan seperti dua film ini memang berbeda, yang tidak ramai aksi di setiap adegannya. Namun kesinambungan cerita, drama para karakternya, serta misteri di baliknya, menjadi animo tersendiri. Bagi yang suka menonton drama kejahatan, pasti cukup ngeuh dengan atmosfer kedua film. Apalagi, menterengnya latar para karakter, serta adegan aksi yang bisa dibilang lebih efektif daripada film gelut lainnya, menjadi khas tersendiri dalam sub-genre ini.

14 Januari 2026

Rasanya OP Ala Karakter Kirito di Anime Sword Art Online

 

Yujio di Project Alicization (SAO-Wiki).

Okeh, rasanya cukup aneh mulai nulis artikel Monsterisasi lagi, tetapi memang cocok di awal tahun 2026 ini. Apalagi setelah penjelasan di laman Monsterisasi mengenai Tanjiro dan kawan-kawan, serta artikel pertamanya mengenai film dari Makoto Shinkai, jadi ya tinggal dilanjutkan saja.

Terlebih lagi, istilah Monsterisasi-nya sendiri cukup aneh, jika dibandingkan dengan apa yang dibahas. Jadi, di artikel ini, penulis akan membahas satu karakter OP, yang memulai animo anime isekai di Jepang sana, bernama Kirito Kazugaya.

Ya, karakter utama dari serial novel dan anime Sword Art Online (SAO) ini, justru paling cocok dibahas di artikel ini, Monsterisasi. Kenapa? Karena seperti dibahas sebelumnya mengenai perubahan 'makna' seorang karakter dan dikejar masa lalu, maka Kirito adalah satu 'Monster' terbesar dari sudut pandang tersebut.

Memang Monter terbesarkah? Tentu Saja! Karena Kirito punya Buanyak HAREM sedunia, bahkan mengalahkan seluruh anime lain! Hehe, becanda... 

Trope Kirito yang punya banyak harem, sebenarnya digambarkan di anime saja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kirito sebenarnya adalah pemain MMO solo karir, yang seringkali membantu player (cewe) lain pas namatin quest.

Trope Kirito sebagai karakter OP yang punya banyak harem pun, membuat anime SAO tidak disukai oleh banyak wibu dan otaku. Padahal, menurut novel aselinya, Kirito memang tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun (selain Asuna).

Okeh, itu pengenalan saja mengenai urusan kelamin Kirito. Tetapi bagaimana dengan jiwanya sebagai seorang Monster? Nah, dari segi Action RPG atau MMO sekalian, Kirito memang termasuk OP, layaknya karakter Endgame - Post Game Grind di banyak RPG.

Walau karakter Kirito di novel dan animenya cukup berbeda, tetapi plot utama serta jalan ceritanya tetap mirip. Yaitu, saat Kirito harus meng-carry seluruh tim, hingga seluruh server, untuk selamat walafiat di dunia MMO. Trope cerita Kirito terus berlanjut dari server Aincrad, bahkan hingga seri anime terakhir, yang berjudul Alicization: War of Underworld.

Nah, daripada membahas bagaimana kisah Kirito meng-carry semuanya (padahal mah pake cheat juga anjir), lebih baik dicek saja pas Kirito cocok sebagai MC kita selama ini. Tepatnya, saat masih berada di dunia Project Alicization. Itupun, tidak hanya berfokus pada Kirito, tetapi teman virtualnya sendiri, yaitu Eugeo (Yujio).

Kirito dan Asuna yang sudah resmi berumur dewasa (Mipon).

Project Alicization bersama Alice, Yujio dan Kirito

Perlu diingat, bahwa Kirito di Project Alicization sudah berumur 20 tahun, alias baru lulus SMA dan memulai kuliah. Penggemarnya pasti tahu, bahwa Kirito dan banyak penyintas Aincrad lain, ke-skip sekolahnya selama dua tahun lebih. 

Jadi, Kirito di serial anime ini memang sudah dewasa, dan bekerja (magang) sebagai beta tester (lagi) di Project Alicization. Sayangnya (seperti biasanya), proyek yang sudah diamankan ini, harus dioperasikan sebagai penelitian bagi pasien yang mengalami koma.

Ya, Kirito yang diserang oleh racun syaraf saat berduaan dengan Asuna di dunia nyata, akhirnya koma dan perlu dirawat di dunia Project Alicization. Kirito yang sebenarnya berumur lima tahun di dunia ini, perlu mengulang kembali sepuluh tahun hidupnya, akibat perbedaan waktu dengan dunia nyata.

Namun, dari segi ini bisa dianalisa, bahwa Kirito bersama karakter AI bernama Yujio dan Alice, sebenarnya mengulang kembali masa kecil yang hilang. Di dunia nyata, Kirito adalah seorang yatim-piatu, yang tinggal bersama sepupunya yaitu Suguha, dan kakeknya saja. Momen masa kecil bersama Alice dan Yujio, seakan proses untuk menyembuhkan kembali rasa terpendam Kirito.

Tidak hanya itu, saat berumur 15 tahun alias SMP, Kirito pun terjebak di Sword Art Online dan dunia Aincrad-nya. Disitu, Kirito selalu merasa bersalah, karena tidak sanggup membantu banyak pemain SAO.

Dan latar Kirito tersebut sangat nyambung dengan karakter baru di Alicization, yaitu temannya sendiri bernama Yujio. Karakter berambut pirang dan tinggi sama dengan Kirito ini, memiliki keperibadian baik, halus, penurut, dan setia. 

Namun sedikit spoiler, Yujio akhirnya meninggal dalam seri ini. Kisah Yujio yang meninggal, mengingatkan pula perubahan terbesar dalam diri Kirito. Yaitu, untuk terus berinisiatif gelut, dengan berbagai tingkat edgy-nya. Yujio pun meninggal akibat misi keduanya.

Padahal, sebelum terjebak di dunia Aincrad, Kirito adalah anak SMP biasa yang cukup halus pembawaannya. Kematian Yujio seakan mengingatkan, bahwa Kirito yang selama ini terlalu Power-Creep, adalah perubahan besar akibat Aincrad. Padahal di episode awal SAO saja, Kirito pura-pura edgy, untuk menghindari kejaran dari pemain lain.

Visual karakter Yujio pun cukup terbalik dengan Kirito, khususnya sebagai avatar. Kirito bermata dan berambut hitam, dengan pakaian serba hitam pula. Sementara Yujio bermata biru dan berambut pirang, dengan pakaian berwarna biru cerah. Padahal, desain baju keduanya masih cukup mirip.

Nah, kembali ke momen Yujio meninggal, bencana lain menimpa pula Kirito yang kalah bertarung. Dirinya terjebak dalam dirinya sendiri, mirip dengan koma di dunia nyata. Alias, Kirito memang koma dua dunia sekaligus. 

Saat masih koma, dengan serial Alicization yang dilanjutkan di War of Underworld, Kirito memang tidak muncul sama sekali. Jika adegan Kirito muncul, berarti saat dirinya terjebak dalam kenangannya sendiri, mulai jaman SMP hingga Aincrad, lalu banyak momen menyedihkan lainnya. 

Momen ini, layaknya men-defrag Operational System dalam Personal Computer dengan begitu banyak data yang memenuhi memori Hard Disk Drive atau Solid State Drive. Dengan begitu, PC akan bekerja lebih cepat dan kinerja lebih baik lagi. 

Bahkan di akhir momen tersebut, Yujio, Asuna, Shino, dan Suguha muncul, untuk membangunkan kembali Kirito dari dalam kenangannya. Momennya cukup dalam, karena Kirito harus menerima dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan, yang sempat menyelamatkan (nyawa) keempat temannya tersebut. Walau Yujio telah meninggal, dirinya adalah sosok jiwa Kirito yang Aseli.

Daaan, begitulah alasannya mengapa Kirito (alias Yujio) adalah seorang karakter Monster, yang selalu diminta untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia MMO, hingga berujung celaka di dunia nyata.

Avatar-nya saja di dunia Project Alicization, masih berupa Kirito umur 15 tahunan. Seakan, mengingatkan kembali awal edgy-nya karakter Kirito yang OP ini.

Akhir dari Alicization, yang entah kapan dilanjutkan serial anime-nya, menjadi sekedar closure alias penutup, bagi kisah Kirito yang sudah terlalu OP, hingga berujung status sebagai Monster!

Oh ya, daripada galau menanggapi Kirito, mending dengarkan saja lagu pembuka anime Alicization kedua, dari penyanyi ReoNa berjudul Anima. Bagi yang mengecek judul serta liriknya, pasti paham seluruh maksud artikel ini.

Okeh, Ciao!

10 Desember 2025

Berkelana ke Barat Ala Siluman Dari China Di Film Nobody

 

Keempat siluman yang cukup berdedikasi (TMDB).

Akhirnya setelah sekian banyak film mengenalkan kembali Berkelana Ke Barat, di Desember tahun 2025 ini muncul kembali dengan gaya yang sesuai, yaitu cerita kocak para siluman (harfiah) berjudul Nobody, yang kini tentu tayang di sinema-sinema Indonesia.

Mungkin perlu diingat, adaptasi novel abad 16 (tepatnya tahun 1592) karya novelis Wu Cheng'en ini sering diproduksi oleh sineas perfilman dari China. Serial televisi Indonesia pada tahun 90an hingga awal 2000an lalu, tentu menjadi awal terkenalnya kisah Berkelana Ke Barat di Indonesia. 

Satu contoh yang kembali meramaikan cerita ini, adalah Journey to the West: Conquering the Demons (2013), yang diproduksi dan disutradarai langsung oleh Stephen Chow. Kisahnya pun cukup rapih dengan adegan dan petunjuk cerita yang saling mengikat satu sama lainnya. Ketika menontonnya, penulis tidak menyangka bahwa kisah ini akan berakhir sebagai prekuel Berkelana Ke Barat. 

Bagi yang ingin mengecek film lainnya, tentu perlu menonton trilogi Monkey King (2014; 2016; 2018). Kisah di trilogi ini sesuai dengan judulnya, yaitu prekuel Berkelana Ke Barat, dengan fokus pada Sun Wukong saja. Yang pernah menontonnya, tentu tahu bahwa Sun Wukong sering membuat kacau Khayangan dan beradu gelut dengan siapa saja, sebelum bertemu dengan biksu Tang.

Nah, berbeda dengan kedua film sebelumnya, yang berlatar film aksi epik langsung dengan aktor nyata, film Nobody di tahun 2025 ini justru berformat animasi. Tidak hanya itu, ternyata ceritanya cukup berbeda, yaitu para karakter utama bukanlah anggota asli, yang terdiri dari Biksu Tang Sanzang, Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Sha Wujing. Melainkan, karakter utama di film Nobody adalah siluman yang Pura-Pura ke Barat, demi mengembalikan status Kekal miliknya.

Okeh, saatnya mengecek kisah film Nobody yang pembawaannya lebih ke kartun komedi, layaknya serial televisi Berkelana ke Barat tahun 90an lalu.

Sinopsis Film Nobody

Yao Babi (Chen Ziping) adalah seorang siluman babi yang galau, karena tidak pernah berhasil melalui ujian Gua Raja. Yao Babi tidak ingin hidupnya sebagai siluman, berakhir begitu saja.

Hingga suatu hari, akibat kesalahan saat bekerja, Babi Yao dan Kodok Yao (Lu Yang) terpaksa diusir dari Gunung Langlang. Yao Kodok pun marah, karena jika keluar dari Gunung, maka status kekalnya sebagai siluman akan punah.

Namun, masalah kritis tersebut menyebabkan Yao Babi malah semakin kritis, dengan berinisiatif berpura-pura sebagai Kelompok Biksu Tang yang sedang Berkelana ke Barat demi Kitab Suci. Dengan begitu, keduanya dapat meraih kembali hidup kekal nan abadi.

Keduanya pun merekrut Yao Musang (Dong Wenliang) dan Yao Kera (Liu Cong), yang jelas-jelas salah spesies, karena Sun Wukong adalah seorang siluman monyet. Karena keduanya memang siluman pecicilan alias nganggur tanpa arahan jelas, mereka pun setuju saja sambil asyik.

Tentu dengan wajah mereka yang masih berbentuk siluman, banyak warga desa dan bahkan siluman lain yang tidak percaya. Mereka diusir, bahkan dikejar layaknya monster atau rampok, yang dianggap mengganggu desa mereka.

Namun, seorang biksu tua yang baik hati memilih percaya pada mereka, dan membantu dengan menyiapkan makanan dan ruang istirahat bagi keempatnya. 

Saking mendalami peran, keempatnya bahkan siap membantu warga desa yang meminta bantuannya. Walau kuadro ini bukanlah siluman sakti, tetapi mereka tidak rela warga yang ikhlas membantu, tidak terbalaskan kebaikannya.

Apakah mereka sanggup untuk menyelesaikan perjalanan Epik ini? Atau malah identitas terbongkar karena kurang meyakinkan? Dan malah kalah bertarung dan berakhir seketika karena memang kurang mampu?

Jawabannya, tentu ada di ranah mitos sinema-sinema Indonesia.

16 September 2025

Teman Conan yang Sama Barbarnya di Film Red Sonja

 

Sonja yang semakin memerah saat menembak panah (IMDB).

Akhirnya, tiba juga kisah epik fantasi dari ranah dunia sana, berjudul Red Sonja, di bulan September ini. Red Sonja adalah karakter dari Conan the Barbarian, yang berlatar di benua fantasi Hyborian dengan aturan main Sword and Sorcery.

Robert E. Howard adalah penulis orisinal kisah Jaman Hyborian ini, pada tahun 1932 lalu. Kisah Conan bahkan bareng dengan epiknya Lord of The Rings, yang lebih mengisahkan perang mitologi di dunia fantasi.

Namun, tidak seperti banyak karakter utama politikus yang culas, licik, jago bersilat lidah, psikopat, dan vampir kesiangan dari Game of Thrones, Conan justru seorang pendekar yang khas dengan pedang besarnya. 

Sebelumnya, kisah Conan sempat diadaptasi Hollywood pada tahun 1982 lalu, berjudul Conan the Barbarian yang diperankan oleh aktor kawakan Arnold Schwarzenegger. Filmnya pun sempat direka ulang pada tahun 2011 lalu, yang diperankan oleh Jason Momoa.

Nah, sebenarnya film Red Sonja tahun 2025 ini adalah bagian dari film Conan The Barbarian tahun 2011 lalu, namun karena kurang laku di sinema, sehingga produksi Red Sonja pun ditunda hingga sekarang. Belum ada kabar bahwa Jason Momoa akan muncul sebagai cameo di film ini, karena berasal dari studio yang sama.

Red Sonja sendiri aslinya karakter hasil ciptaan penulis Robert E. Howard pada tahun 1934 lalu, yang akhirnya populer sebagai satu dari beberapa karakter utama di seri Conan the Barbarian miliknya.

Walau kisah Conan the Barbarian akhirnya diadaptasi oleh komik Marvel yang semakin isekai saja, kisah film Conan tahun 2011 dan Red Sonja tahun 2025 ini mengacu pada karya orisinal Robert E. Howard.

Studionya pun berbeda, yaitu Millenium Media yang dipremierkan oleh Samuel Goldwyn Films. Bahkan, walau aslinya karakter ini adalah hasil karya Amerika, filmnya dirilis pertama kali di Rusia terlebih dahulu (!)

Sinopsis Film Red Sonja

Sonja (Matilda Lutz) adalah seorang pendekar desa Hyrkania yang tak kenal takut. Saat desanya diserang suku barbarian, Sonja melawan balik dengan hebat, walau akhirnya terpaksa melarikan diri ke hutan dan hidup sebagai pemburu, sambil menyembah dewi hutan Ashera.

Bertahun-tahun berlalu, Sonja terpancing emosinya saat pasukan bayaran dari Dragan menginvasi hutannya, dan memburu liar binatang eksotis sebagai persembahan raja. 

Sonja yang akhirnya kalah dalam satu pertarungan, diculik ke ibukota kerajaan Dragan dan dipersembahkan sebagai petarung arena gladiator. Raja Dragan (Robert Sheehan) berhasil mengecek latar belakang Sonja, sebagai bagian dari suku Hyrkania terdahulu. 

Raja Dragan percaya, bahwa Sonja memiliki setengah bagian peta yang dibutuhkannya. Hanya dengan setengah manuskrip sekaligus peta miliknya, Dragan berhasil melindungi kerajaan dengan energi magisnya. 

Kisah Sonja yang awalnya bertahan hidup sebagai pejuang saja, berakhir perang besar yang dapat merubah nasib satu kerajaan.

10 September 2025

Kisah Hasil Karya Stephen King di Film The Long Walk

Berjalan marathon demi cuan atau mati (IMDB).

Bagi penggemar film horor, tentu mengenal nama Stephen King, seorang novelis serba bisa dari AS. Saking terkenalnya, novel atau cerita pendek hasil karyanya sering diadaptasi ke layar lebar. 

Tidak hanya terkenal, seluruh studio bahkan perlu menyematkan nama Stephen King dalam filmnya, karena setiap ceritanya sangat unik dan menggugah selera penikmat horor.

Nah, September 2025 ini, dirilis film The Long Walk di banyak sinema Indonesia, yang berbeda dengan karya horor Stephen King. Film ini lebih ngeri karena mengacu pada unjuk rasa tahun 70an. Jaman tersebut, kisah anak muda AS yang turun ke jalan untuk unjuk rasa, dengan berjalan kaki jauh, memang sedang ramai.

Tetapi, sebelum membahas film The Long Walk, coba dicek terlebih dahulu banyak film adaptasi Stephen King. 

Beberapa film yang perlu dicek dari tahun 80an diantaranya adalah The Shining (1980), Children of The Corn (1984;2009;2020), dan Firestarter (1984;2022).

Di tahun 90an, ada film Misery (1990), IT (1990;2017), Shawshank Redemption (1994), dan Green Mile (1999), yang beberapa kali meraih penghargaan Oscar.

Jaman tahun 2000an, ada film Carrie (2002;2013), Dreamcatcher (2007), The Mist (2007), dan 1408 (2007), yang seluruhnya mengadaptasi kisah horor unik nan absurd dan abstrak ala Stephen King. 

Saat tahun 2010an, banyak film reka ulang, yang sempat ditulis diatas. Namun, ada satu kisah baru adaptasi Stephen King yang cukup unik, yaitu In The Tall Grass (2019), yang mengisahkan sekeluarga terjebak di area ladang jagung terbengkalai.

Satu lagi ada Pet Sematary (2019), yaitu reka ulang tahun versi tahun 1989, yang dioprek hingga lebih mengerikan dari versi pertamanya. Bahkan, film ini memiliki plot twist khusus, yang sayangnya tidak dilanjutkan di film keduanya.

Tahun 2020an, film Stephen King kembali dengan gaya absurd horor, di film Salem's Lot (2024), yang lebih mengisahkan film vampir di sebuah desa kecil. 

Nah, kembali ke film The Long Walk, kisahnya mirip dengan Misery atau The Shining, dimana menceritakan kisah horor unik yang lebih mengacu ke komentar sosial.

Di film Misery, tokoh utamanya adalah seorang penulis terkenal yang diculik oleh penggemarnya, setelah kecelakaan mobil di musim dingin. Selama beberapa bulan lamanya, sang penulis diancam untuk menamatkan naskahnya, sebelum bisa 'bebas' dari rumah tersebut.

Di film The Shining, adalah kisah penulis lainnya, yang berubah menjadi psikopat, karena terganggu oleh mentalnya sendiri di sebuah hotel antik terpencil. Padahal, dia sedang berlibur bersama keluarganya di hotel tersebut.

Khusus The Long Walk, justru menyimbolkan kisah jalan panjang pemuda tahun 70an di AS. Memang, film ini menyimbolkan kekisruhan demonstrasi jalanan AS jaman tersebut, yang kadang berujung konflik, dan semakin meramaikan budaya Hippie di AS.

Berbeda dengan sikap perlawanan pemuda dan pemudi jaman tersebut, anak muda di film The Long Walk justru harus berjalan jauh, demi memenangkan hadiah. Namun, kontestan yang tidak dapat berjalan, atau mengundurkan diri, akan ditembak mati oleh pasukan yang menjaga jalan marathon tersebut. 

Selalu berbeda memang pandangan dan gambaran kisah ala Stephen King. Bagi yang penasaran dengan kisah aneh dari penulis horor legendaris AS, bisa dicek filmnya yang mulai tayang di sinema Indonesia.