Tampilkan postingan dengan label Rating D21. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rating D21. Tampilkan semua postingan

24 Februari 2026

Kembalinya Ghostface dan Sidney di Film Scream 7

Ghostface yang kembali penasaran (IMDB).

Berikutnya adalah film yang betulan jangan ditonton saat shaum, yaitu berjudul Scream 7, yang tayang di banyak kombinasi sinema Indonesia. Bagi penggemar film horor, tentu tahu bahwa waralaba yang dimulai sejak tahun 90an ini, memiliki rating umur tinggi, alias D21.

Waralaba Scream

Bagi penggemar film horor dari tahun 90an, pasti mengenal karakter Ghostface, dan Sidney Prescott sebagai tokoh utama film Scream. Trilogi awal yang dirilis pada tahun 1997, 1998, dan 2000, memang menyajikan kisah psikopat yang sangat pecicilan. 

Saking aneh sang Ghostface alias psikopat ini, karakter dibaliknya selalu saja berbeda di setiap film. Karena itu, trilogi awal ini terkenal dengan misteri dibalik topeng Ghostface, yang telah menjadi khas di setiap serinya. Misteri ini selalu diulang pada setiap perilisannya, namun merubah kesan Scream menjadi horor yang ikonik pada masanya.

Satu lagi khas bagi psikopat berwajah arwah penasaran ini. Jurig bertopeng putih ini selalu menelepon dulu 'mangsanya,' lalu tiba-tiba muncul di sekitar area rumah korban. Sayangnya, si Ghostface ini selalu 'maksa,' akibat obsesif dengan modus operandinya. Karena bukan seorang 'penjahat profesional,' maka Ghostface selalu berlari ala orang kelimpungan, hanya untuk mengejar korbannya yang lari panik. Bisa dibilang, kelebihan Ghostface hanyalah kemampuannya untuk menyelinap dan menyergap korban, di saat yang tepat.

Bahkan menurut penulis, terdapat ironi tersendiri atas cara mengejar Ghostface. Layaknya kartun Looney Tunes yang terkenal di tahun 90an, tingkah Ghostface ini mirip dengan Wile E. Coyoto, yang selalu sial dan jatuh bangun saat memangsa korbannya, yaitu Roadrunner. Jika film ini bukan bergenre horor, maka perlu ditambahkan label genre komedi juga (haha). Lebih konyol lagi, khas Ghostface ini pernah dimasukkan dalam waralaba film parodi, berjudul Scary Movie (2001).

Karakter Sidney Prescott

Satu lagi khas waralaba film Scream ini, yaitu karakter Sidney Prescott yang diperankan oleh Neve Campbell. Selama trilogi awal, hingga seri keempatnya di tahun 2011 lalu, Sidney Prescott selalu menjadi fokus utama film Scream. Hal itu akibat dirinya selalu menjadi penyintas di setiap film Scream, sejak latar filmnya di kota Woodsboro. Walau sering berpindah kota demi keselamatan dirinya, Sidney selalu mengundang sejenis psikopat lainnya, yang sama-sama terobsesi dengan kegilaan ini. 

Khas Ghostface dengan topengnya, serta film 'Stab' yang menjadi inspirasinya, dan kehadiran Sidney di lokasi baru, akhirnya mengundang sejenis Copycat Killer ini. Bagi yang belum tahu, Copycat Killer adalah sebutan dari para psikolog kriminal AS sana, untuk memberi karakter bagi para penjahat yang meniru modus operandi kriminal lainnya. Biasanya, penjahat yang ditiru sudah melegenda kisah kejahatan dan aksinya.

Untuk trilogi terbarunya, Sidney memang kembali ke Woodsboro, untuk membantu kota ini akibat kehadiran sosok Ghostface terbaru. Di film Scream kelima dan keenam yang dirilis tahun 2022 dan 2023 lalu, justru Sidney Prescott tidak menjadi fokus seperti biasanya. Cerita beralih ke duo saudari bernama Tara dan Sam Carpenter, yang diperankan oleh duo aktris muda dan baru naik daun, yaitu Jenna Ortega dan Melissa Barrera.

Nah, untuk seri ketujuh sebagai akhir dari trilogi kedua Scream, karakter Sidney Prescott kembali untuk mengakhiri semuanya. Namun, latar Sidney yang telah tua dengan status seorang ibu, menambah perbedaan kentara bagi karakter yang melegenda di seri ini. Tidak begitu banyak hubungan cerita dengan kedua film sebelumnya. Bagi yang kangen penyintas lainnya bernama Gale Weathers, dapat melihat pula dengan aktrisnya, Courteney Cox di seri ketujuh ini.

Oh ya dalam cuplikannya, terdapat perbedaan paling kentara dalam film Scream 7. Perkembangan jaman internet dan keamanan digital, ikut tersisipkan dalam satu adegannya. Sidney perlu menelpon anaknya melalui ponsel, yang terhubung dengan kamera siaran langsung di CCTV kediaman rumahnya. Cukup berbeda, karena sistem keamanan sejenis ini memang baru dikenalkan tahun 2020an lalu, dan baru mulai dipasang oleh banyak warga. Tentu menjadi tantangan khusus bagi sang pecicilan Ghostface, yang sudah dikenal selalu sembrono saat beraksi.

Sinopsis Film Scream 7

Sidney Prescott (Neve Campbell) kini telah hidup damai bersama suaminya, Mark Evans (Joel McHale). Nama belakangnya pun telah berubah menjadi Evans, sesuai dengan nama keluarga yang diturunkan kepada anaknya, bernama Tatum (Isabel May). 

Namun, kisahnya yang telah melegenda masih menarik perhatian banyak sosiopat. Seringkali, Sidney ditelpon langsung (tanpa aplikasi) dengan orang yang mengaku sebagai Ghostface, lengkap dengan pengubah suaranya. Suara yang dirubah serta melalui jalur telepon pulsa berbayar, menyebabkan para 'impostor' ini merasa aman untuk meneror Sidney dan keluarganya.

Sayangnya, kehadiran Ghostface bukanlah masa lalu, melainkan tiba sendirinya. Tidak hanya fokus kepada Sidney, Mark dan Tatum pun ikut terancam oleh aksi Ghostface terbaru ini. Panic Room yang sudah disiapkan oleh Sydney pun, tidak sanggup mengelabui aksi Ghostface ini. Untungnya, Gale Weathers (Courteney Cox) sebagai kawan lama dan penyintas sejak awal, ikut turun membantu saat tahu Ghostface telah kembali mengejar Sidney.

Sanggupkah Sidney, Mark, Tatum, dan Gale selamat atas Ghostface yang sudah memperbarui modus operandinya? Atau sebenarnya malah Gale yang cemburu atas legenda dan kedamaian hidup Sidney? Atau malah berakhir begitu saja di seri ketujuh film Scream ini?

Jawabannya, tentu ada di modus operandi ala sinema Indonesia.

18 Februari 2026

Rasanya Romansa Bersama Jurig Thailand Ala Film A Useful Ghost

 

March yang heran ama jurig yang satu ini (TMDB).

Okeh, saatnya film kurang-kurangi dari ranah Thailand sana, yang khas dengan genre horornya, berjudul A Useful Ghost. Film yang tayang di banyak sinema Indonesia ini, ternyata memiliki rating tinggi, alias 21 tahun keatas (D21). Mungkin karena film ini mengambil jalur nyeleneh drama-komedi-horor, seakan mengkritisi industri perfilmannya sendiri, yang mayoritas terkenal akibat horor saja di Thailand.

Namun, justru animo komedi-horor memang dapat menjadi alternatif tersendiri. Bosannya penggemar dengan adegan seram saja, dapat disegarkan dengan kombo sub-genre lain, contohnya dengan genre drama atau komedi. 

Horor dan Sub-Genre Alternatif

Sebelum membahas cuplikan film A Useful Ghost yang cukup menarik, aneh, bodor dan ternyata cukup brutal, maka saatnya membahas pula alternatif dari genre horor, yang ternyata cukup ciamik jika dikombinasikan.

Mari mengenang dahulu dengan film berjudul The Sixth Sense, dari tahun 1999 lalu yang dibintangi oleh aktor kawakan, Bruce Willis. Aktor yang sebenarnya terbiasa berperan di film aksi, ternyata cukup mumpuni saat memainkan film drama. Karya hasil M Night Shyamalan yang terkenal dengan horor uniknya, cukup membawa film ini ke ranah berbeda. Plot Twist yang disajikan di akhir cerita pun, ternyata cukup membuat heran penonton.

Animo semacam ini lalu dilanjutkan pada film The Others (2001), yang dibintangi oleh aktris terkenal Nicole Kidman. Sama seperti The Sixth Sense, kisah horor ternyata dapat ditutup dengan Plot Twist yang berbeda. Penonton pasti kaget dengan akhir ceritanya. Padahal selama dinginnya lokasi adegan selama durasi film berlangsung, mencerminkan bahwa film ini adalah sejenis horor biasa.

Nah, meloncat ke ranah film dari Asia, khususnya Korea Selatan, terdapat dua film dengan pembawaan drama yang cukup mumpuni. Film pertama adalah A Werewolf Boy (2012), yang sesuai judulnya, mengisahkan tentang seorang anak yang dapat berubah menjadi manusia serigala, alias kajajaden. Namun, karena pembawaan film yang berisi drama kehidupan sehari-hari (slice of life), dan akhir yang miris-manis, ternyata cukup memukau bagi penggemar drama.

Satu film lagi dari Korea Selatan, adalah My Daughter is a Zombie, dari tahun 2025 kemarin. Ya, terdengar sadis dengan istilah zombie, tetapi justru disitulah uniknya. Filmnya ternyata mengisahkan drama perjuangan ayah dan putrinya yang terinfeksi virus zombie. Bahkan, film ini diakhiri dengan plot twist yang begitu wholesome alias berfaedah, walau cukup sedih saat klimaksnya. Penulis berpendapat, bahwa film ini adalah yang terbaik dari segi ranah sub-genre Zombie.

Nah bagaimana dengan film dari Nusantara? Justru terdapat animo yang mirip dari film komedi sejenis A Useful Ghost. Ya, judulnya saja sudah kacau, bahkan mengacu ke Thailand, yaitu From Kang Mak X Nenek Gayung, dari tahun 2025 lalu. Film ini diisi banyak bintang komedi terkenal Indonesia. Bagi penulis yang berlatar Sunda, film ini seakan mengingatkan, khas bodor dan budaya yang melekat di Priangan. Walau pembawaannya komedi bodor, tetapi tersirat sebuah pesan khusus budaya, yang hanya dapat dimengerti oleh warga Sunda.

Okeh, karena cocok dengan pembawaan film A Useful Ghost, yang terlihat nyinyir pada demografinya sendiri, maka dicek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film A Useful Ghost

March (Witsarut Himmarat) adalah seorang duda yang baru kehilangan istrinya, bernama Nat (Davika Hoorne), akibat sakit. Tidak ingin terus termenung dengan kesedihannya, March mulai bekerja membabi-buta di pabrik milik keluarganya. Namun suatu hari, sebuah mesin penyedot debu yang cantik mandraguna, menghampiri dirinya dengan otomatis. Heran namun cukup berminat, March lalu bercengkerama dengan mesin tersebut layaknya istri sendiri. 

Keanehan romansa March bersama mesinnya, menyebabkan seluruh keluarganya terpana hingga menggila. Walau mesin tersebut memiliki banyak ingatan dan berbicara lugas layaknya Nat, namun keluarga masih menganggap aneh dan tidak suka romansa cinta edan antar keduanya. Mereka langsung memanggil banyak ahli paranormal ahli banyak dunia kajajaden, demi menyembuhkan March dari romansa kesetanan miliknya.

Hingga akhirnya March terjebak dalam suatu lingkaran bencana oportunistik. March ternyata mengidap penyakit yang sama dengan Nat, yaitu infeksi pernapasan akibat debu. Hingga ditutupnya pabrik akibat gagal memenuhi standar kesehatan dari pemerintah negara Siam ini. Keluarganya pun semakin curiga dengan kedekatan cinta nyelenehnya antar suami-istri beda dunia ini. 

Tidak hanya masalah duniawi, ternyata March dan Nat mendalami atmosfer berbeda, yang lebih supernatural, jika dibandingkan dengan masalah keluarganya yang jelas mengejar duniawi semata. March dan Nat ternyata memiliki rencana berbahaya karena sakti mandraguna, dan hanya Nat-lah dengan jurus sedot debunya, yang mampu mengenal tujuan akhir dari aksi jurig laknat tersebut. 

Plot Twist sebesar apakah yang terkuat di akhir film?

Jawabannya tentu ada di sinema jurig pecicilan ala sinema Indonesia.

10 Februari 2026

Kompilasi Film Horor yang Semua Tokoh Utamanya adalah Wanita: The Strangers: Chapter 3, Whistle, Panor 2, Waru

Maya yang harus ikut-ikutan (IMDB).

Untuk menyambung dengan hangat, hari kasih sayang di tanggal 14 Februari mendatang, sebaiknya kita rayakan dengan empat film horor saja (haha). Sayang seribu sayang memang, tapi mau gimana lagi. Bukannya penulis mau berbagi minat pecicilan, tetapi jadwal rilis keempat filmnya adalah minggu ini, di banyak sinema Indonesia. Apalagi seluruh tokoh utamanya, ternyata semuanya wanita.

Untuk menyambut perilisan film seperti ini, nanti dirilis tiga artikel Monsterisasi, yang semua tokoh utamanya wanita, dan diantaranya bergenre horor atau drama sehari-hari. Ya, tidak akan membahas romansa di minggu ini, namun kita cek saja dari genre lainnya.

Oh ya, ternyata rata-rata film horor ini memiliki rating berat pula, tiga diantaranya berating D17. Satu lainnya berating D21, karena memiliki banyak adegan daging-mendaging dengan latar tokoh utama seorang psikopat yang kesurupan.

The Strangers: Chapter 3

Okeh, ternyata film yang baru dirilis seri keduanya bulan Oktober tahun lalu, diakhiri dengan kisah romansa antara tokoh antagonis dan pemeran utamanya. Karakter Maya (Medelaine Petcsh) di The Strangers: Chapter 3, ternyata harus bergabung dengan grup psikopat, yang sebelumnya terus mengejar dirinya. 

Terlihat sekilas dalam cuplikannya, Maya dipasangkan topeng oleh tokoh psikopat bertopeng lainnya. Bahkan, keduanya hingga curhat di satu adegan, dengan berbincang kisah kematian seorang anggota keluarga atau temannya.

Entah maksud dari dialog tersebut, atau memang ritual khas psikopat bertopeng tersebut. Jadi, jumlah anggota grup psikopat akan terus bertambah atau terisi kembali, dengan menculik salah seorang penyintas sebelumnya. Mungkin sejenis Pansos, kali ya?

Atau, memang sejenis Stockholm Syndrome, yang perlu dibahas di artikel ini. Ya, bagi yang tahu arti dari gangguan mental sejenis ini, pasti langsung ngeuh melihat cuplikan filmnya. Karena antara penculik dan korban, malah saling berbagi empati satu sama lainnya. Bahkan, Maya terlihat dalam satu aksi, dimana dia harus ikut menyiksa korban lainnya, alias ikut 'inisiasi' grup psikopat ini.

Entah bagaimana kelanjutan film ini, apakah Maya perlu bertahan hidup saja, atau ikut berperan sebagai psikopat. Uniknya film horor saat ini, adalah banyak akhir cerita yang tidak terduga. Bukan hanya plot twist, tetapi beberapa kemungkinan (selalu) dapat terjadi setiap akhir film horor, bahkan hingga akhir terburuk.

Chrys dengan peluit Aztec keramatnya (IMDB).

Whistle

Berikutnya adalah film ala standar horor remaja, dengan tokoh utama yang cukup familiar, bernama aktris Dafne Keen sebagai Chrys Willet. Aktris berdarah Spanyol dan Inggris ini awalnya naik daun, semenjak memerankan Laura alias X23 di film Wolverine paling sedih, berjudul Logan dari tahun 2017 lalu. Keen sempat kembali dalam film Deadpool & Wolverine pada tahun 2024 lalu, dengan memerankan kembali X23 yang telah dewasa.

Kembali ke film Whistle, justru memiliki sineas perfilman yang berlatar mumpuni. Dalam cuplikannya tersemat dengan kentara dan bangga, nama sutradara Corin Hardy. Produksi film The Nun (2018) yang dipimpin oleh Hardy, adalah sejenis film sampingan (spin-off) dari waralaba The Conjuring. Studio produksi film Whistle pun cukup unik, yaitu No Trace Camping, yang sempat memproduksi film unik, berjudul Late Night with The Devil (2023).

Cukup mengherankan juga, karena awal cuplikan diisi dengan nama Independent Film Company (IFC), yang tetap setia merilis film bersama Shudder sebagai layanan siarannya. Keduanya memang terkenal dalam merilis banyak film horor unik dengan bujet terbatas. Contoh terakhirnya adalah film Good Boy, yang dirilis bulan Oktober tahun 2025 lalu. Mungkin karena sineasnya memiliki latar berbeda, sehingga film ini cukup banyak diisi para bintang.

Nah di film Whistle ini, Chrys Willet memiliki sebuah peluit keramat dari jaman suku Aztec terdahulu. Ketika ditiup oleh seseorang, maka sejenis jurig akan mengejar semua orang yang mendengar siulannya, dan membasmi mereka semua. Jurig yang muncul pun cukup kontras, karena berupa dan berwujud korbannya di masa depan, namun lebih sangar.

Panor yang kembali menjelma dalam dirinya (TMDB).
Panor 2

Nah, untuk film yang satu-satunya berating D21, Panor 2 cocok bagi para penikmat film sadis, dengan adegan intimidasi, darah-mendarah, daging-mendaging, alias body-horror-nya. Cukup terlihat sadis dari cuplikannya, yang memang berasal dari negara terhoror Asia Tenggara, bernama Thailand.

Film Panor sebenarnya bagian dari dunia Art of the Devil (Long Khong), yang dirilis pertama kalinya sejak tahun 2004. Waralaba film Art of the Devil dilanjutkan hingga menjadi trilogi, dengan perilisan sekuelnya di tahun 2005 dan 2008. Baru di bulan April tahun 2025 lalu, dirilis film Panor pertama dengan animo yang sama.

Berbeda lajur waktu dengan trilogi pertamanya, film Panor adalah prekuel dari Art of the Devil, berfokus latar karakter utamanya yang bernama sama. Panor (Cherprang Areekul) adalah nama seorang gadis terkutuk, yang masih bersekolah dan memiliki aura berbeda. Namun di film tahun 2026 ini, Panor telah lulus sekolah dan sedang mendalami ilmu sebagai pendidikan guru.

Fokus Panor sebagai karakter utamanya, ternyata kontroversial. Karena Panor dalam kesehariannya, adalah gadis biasa yang sedang tumbuh dewasa. Namun akibat memiliki kutukan warisan orangtuanya, maka saat ditindas, karakter kedua Panor akan muncul. Layaknya kepribadian ganda dan kesurupan alias kerasukan sekaligus ala Pamacan, Panor berubah sifat, sikap, dan aksi. Panor melawan balik dengan jahat, sehingga sangat kontras perbedaannya.

Melanjutkan film pertamanya, Panor tengah ditarget oleh keluarga dari korban sebelumnya. Tokoh 'antagonis' tersebut, ternyata tahu semacam ilmu hitam, demi melawan Panor yang lebih sakti mandraguna dari dirinya.

Berbeda dengan film Art of the Devil, justru film Panor lebih kentara dengan adegan sadisnya. Karena itu, ratingnya pun naik dari D17, menjadi D21. Bagi yang tidak suka kengerian sejenis ini, maka disarankan untuk menghindarinya saja.

Pohon Waru yang berwujud lebih ngeri (TMDB).

Waru

Dan kurang lengkap rasanya, jika membahas film horor tanpa mengikut-sertakan film dalam negeri. Kali ini tokoh utamanya masih wanita, yang berjudul film Waru. Masih mirip dengan animo horor lokal yang kental dengan budaya Jawa-nya, serta berbeda dengan mayoritas film luar negeri, Waru menceritakan kisah tumbal di lokasi yang menyeramkan.

Padahal Waru adalah sejenis nama tanaman, yang dikenal sebagai tanaman kapas pesisir pantai, khususnya di Jawa. Nama Waru itu sendiri kental sebagai sebutan di berbagai lokasi Jawa, yaitu di daerah Sunda, Jawa, dan Bali.

Namun di film ini, pohon Waru justru dihuni oleh sejenis jurig jahat, yang memiliki ritual khusus bagi pengikutnya. Dalam cuplikannya sendiri, terdapat satu referensi khusus dengan aksara Jawa, yang selalu kental dengan horornya. Jadi, semakin jelas referensi darimana film ini, beserta ritual pesugihannya. Ya, film ini berkisah tentang ritual pesugihan tumbal, seperti dilansir dari percakapan karakternya.

Surat dengan aksara Jawa yang ditampilkan, mengacu pada Lidya (Dewi Amanda) yang sering kesurupan hingga harus dipasung. Setelah diselidiki oleh anaknya yang bernama Nadine (Bella Graceva), ternyata gangguan mental ibunya adalah akibat perjanjian mistis terdahulu. Demi kesuksesan keluarga, pesugihan meminta tumbal satu kepala setiap tahunnya, namun tidak pernah dilaksanakan.

Karena itu, satu cara untuk membatalkan perjanjian ini, yaitu dengan membakar pohon Waru di sekitar rumah neneknya, yang bernama Waru (Yati Surachman) pula. Entah apa akhir ceritanya, kemungkinan yang terjadi adalah Nadine dan beberapa kawannya, tidak akan selamat dan malah memenuhi janji tumbal.

20 Agustus 2025

Horornya Berbagi dan Berhubungan Badan di Film Together

 

Tim dan Millie yang menemukan gua besar di sekitar rumahnya (IMDB).

Mungkin saatnya para aktor dan aktris Hollywood berperan romantis bersama pasangan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Alison Brie dan Dave Franco, yang keduanya memerankan sepasang suami istri di film Together, dan kini sudah tayang di romansa ala sinema Indonesia.

Tampaknya film ini menyusul sama seperti film sebelumnya yang lebih nyeleneh, yaitu waralaba Quiet Place. Di film Quiet Place, Emily Blunt dan John Krasinki memang menikah di dunia nyata, dan memerankan sepasang suami istri pula di filmnya. Yaaaaang entah kenapa, berinisiatif memiliki anak bayi kembali, padahal seluruh dunia sedang terinvasi oleh alien pendeteksi suara.

Nah, di film Together ini, tampaknya lebih menyerempet pada kisah sepasang muda-mudi yang mengalami masalah 'baru pindah'. Mungkin, memang seharusnya masalah itu terjadi diantaranya keduanya. Film sebagai komentar sosial bukanlah hal baru, walau tentu lebih aneh lagi jika diangkat dalam film horor. Karena, kengerian itu bisa berarti harfiah, atau bahkan simbolis, tanpa adanya unsur 'dramatis' sama sekali.

Pasangan yang baru menikah, lalu pindah, akhirnya memulai hidup baru tentu mengalami banyak tantangan. Tantangan tersebut bukan masalah komunikasi, karena keduanya sedang 'hangat-hangatnya'. Namun, masalah 'logistik' justru yang menimpa banyak pasangan 'baru menikah'.

Nah lagi, bagaimana jika masalah yang muncul berasal dari masalah lain, yaitu mistis. Tidak hanya menganggu kesadaran batin dan ragawi, namun dapat merusak pula mental dan fisik dengan langsung, secara harfiah dan mengerikan. 

Mungkin sutradara film Together ini, Michael Shanks, ingin mengangkat isu sosial, yang digabungkan dengan body horor (horor ragawi). Premisenya adalah tema 'daging-mendaging' yang 'berjumpalitan' untuk mengisi 'satu sama lainnya'.

Sinopsis Film Together

Tim (Dave Franco) dan Millie (Alison Brie) adalah sepasang kekasih yang baru saja pindah ke rumah baru. Mereka pindah dari lokasi lain, menuju lokasi yang jauh dari keramaian dan kurang familiar.

Millie sempat merasa jengah, sehingga perlu berkonsultasi dengan konsultan perkawinan. Millie merasa bukan masalah hubungan mereka, namun lebih kepada rasa takut akan 'berpuas diri' terlalu cepat.

Walau begitu, mereka telah bersama selama beberapa tahun terakhir. Rasa jengah Millie hanya sementara, karena gelora asmara keduanya justru tengah tinggi, seakan hidup hanya berdua.

Namun, lokasi rumah mereka yang agak terpencil, memunculkan banyak masalah baru. Di sekitar rumah mereka, terdapat gua yang cukup besar untuk dijelajahi. Bahkan, ada kemunculan sekte aneh yang melaksanakan ritual di gua tersebut.

Kisah mereka pun semakin aneh, dengan seringnya kejadian daging mereka yang 'menempel' satu sama lainnya, seakan terserap satu sama lain, saat kulit mereka saling bersentuhan. 

Keduanya pun harus mencari petunjuk, apakah wilayah dan rumah misterius yang baru mereka tempati benar-benar aman.

06 Agustus 2025

Film dari Negara Ter-Horror Thailand, Tomb Watcher

 

Entah peti mayat sejenis apa ini (IMDB).

Thailand masih akan meneruskan ritual film horornya, dengan merilis film Tomb Watcher di sinema-sinema Indonesia, bulan Agustus ini. Dengan atmosfir latar yang meyakinkan ngerinya, dan ritual aneh yang biasa didengar dari banyak negara Asia, khususnya kita di Tenggara, menjadikan film horor Thailand cocok dengan primbon ala kita.

Beberapa film horor legendaris dari Thailand sempat mengisi ngerinya hidup di Asia Tenggara. Contohnya adalah Laddaland (2011), yang mengisahkan sebuah kompleks perumahan, yang ternyata adalah gerbang menuju alam lain.

Film lainnya adalah 4bia (2008), yang menggunakan format antologi empat film horor, dari beberapa sutradara dan penulis naskah berbeda. Walau kisahnya berbeda, seluruh film berproduksi tinggi, dan cukup membuat ngeri dari setiap latar ceritanya.

Terakhir yang perlu diingat adalah Shutter (2004), yang dari sinematografinya, terinspirasi oleh horor Jepang jaman itu. Shutter mengisahkan seorang fotografer, yang heran bahwa hasil potret kameranya semakin lama semakin kabur. Ternyata, kehadiran sosok lain menginginkan 'perhatian khusus.'

Begitu banyak film horor legendaris dari Thailand, semakin mengukuhkan bahwa horor dari Thailand sangatlah mengerikan. Banyak penggemar film dari seluruh dunia, menganggap bahwa Thailand adalah jurignya film horor Asia.

Nah, kembali ke film Tomb Watcher, bagi yang sudah melihat cuplikannya, mungkin akan teringat akan ritual 'khas' ini. Biasanya, ritual 'menjaga mayat' di Indonesia, diartikan untuk mencegah datangnya para penganut 'ilmu hitam', yang ingin melatih kemampuannya.

Tentu beberapa ritual supernatural lain dari primbon milik kita, sebuah kisah mistis 'pohon keramat' yang memiliki 'pantangan' tertentu, harus ditaati bagi yang masih mempercayainya. 

Perkembangan jaman dan semakin religiusnya warga, tentu mengesampingkan banyak kisah primbon tersebut. Tetapi, banyak 'teknik pertahanannya' yang tidak mengacu pada primbon tertentu, tetap dilaksanakan, demi menghalau anehnya tindakan para 'penganut setan.'

Sinopsis Tomb Watcher

Kisah Tomb Watcher berawal dari sepasang suami-istri yang ingin keluar dari hiruk-pikuknya kota yang ramai. Mereka berdua memilih tinggal di sudut desa terpencil, yang jauh dari keramaian manapun. 

Sang suami ternyata telah menikah untuk kedua kalinya, dan kembali ke rumah tersebut untuk kedua kalinya pula. Istri pertama bernama Lunthom (Woranuch Bhirom Bhakdi) yang telah meninggal, sangat menyukai pohon Lunthom yang berada di depan rumahnya, dan menganggapnya sebagai lambang cinta mereka.

Istri kedua bernama Rossukhon (Arachaporn Pokinpakorn) tidak menyukai pohon tersebut, dan ingin menebangnya. Sang suami, Cheev (Thanavate Siriwattanagul), melarangnya, karena pohon tersebut adalah peninggalan istri pertamanya.

Kisah pun semakin mengerikan, karena Lunthom memberi wasiat bagi Cheev, untuk menyimpan jenazahnya selama seratus hari di rumah tersebut. Rossukhon yang belum tahu, sering didatangi oleh kemunculan arwah Lunthom.

Karena sudah tidak kuat diganggu, dan ingin menghilangkan kesan Lunthom dari diri Cheev, Rossukhon pun melaksanakan ritual untuk membakar pohon Lunthom tersebut. Ternyata, ritual tersebut bukannya mendamaikan mendiang Lunthom, tetapi malah membuatnya semakin marah. 

Lunthom pun semakin sering mengejar Rossukhon, yang didiamkan oleh suaminya. Cheev yang masih galau dua dunia dan dua istri, memilih untuk membiarkan arwah Lunthom mengejar Rossukhon.

Dapatkah Rossukhon selamat dari kejaran arwah istri pertama suaminya? Jawabannya tentu berasal dari ritual romansa supernatural ala sinema Indonesia.