Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Kocaknya Kota Edo Ala Anime Gintama: Yoshiwara in Flames

Gintoki yang masih menunggu sendiri (TMDB).

Sekali lagi, momen untuk membahas anehnya anime Jepang, lewat satu judul yang sudah mendunia dengan gila, yaitu Gintama. Khusus di tahun 2026 ini, dirilis film berjudul Gintama: Yoshiwara in Flames di sinema Indonesia. Rating umur yang mencapai D17 pun, mencerminkan gaya sarkastik, komedi gelap, dan anti 4th Wall-nya Gintoki.

Absurd-nya Anime Gintama

Ya, Gintoki dan kawan-kawan adalah karakter yang kocak dalam anime Gintama, dengan tayang sejak tahun 2005 lalu. Hampir setiap tahunnya, Gintama dirilis hingga tahun 2012. Musim ke tujuh ditayangkan pada tahun 2015, dan berlanjut pada dua musim terakhir di tahun 2017 dan 2018. Jumlah episodenya pun meriah, yaitu mencapai 367 episode. 

Manga-nya sendiri berjudul sama, yang digambar oleh mangaka Hideaki Sorachi sejak tahun 2003 lalu. Hingga tamat pada tahun 2019, manga ini terus diadaptasi menjadi anime. Terdapat tiga film animasi (2010, 2013, 2021), dua live action (2017 dan 2018), dan satu serial live action (2018) pula dari anime sepanjang gila ini. 

Anime Gintama layaknya menonton Deadpool dari Marvel, tentu kocaknya ala anime Jepang. Humor slapstick yang kasar, lalu dengan tema komedi yang gelap, serta reaksi sarkastik dari para karakternya adalah khas anime ini. Seringpula Gintoki atau karaker lainnya, membahas apa yang sedang ramai di dunia nyata, layaknya Deadpool dengan istilah membongkar 4th-wall-nya.

Padahal, karakter utama Gintoki (Tomokazu Sugita) adalah pekerja freelance dalam serial Gintama. Bersama asistennnya, yaitu Kagura (Rie Kugimiya) dan Shinpachi (Daisuke Sakaguchi), dan anjing raksasa bernama Sagaharu, keempat sekawan ini berjibaku menyelesaikan banyak pekerjaan aneh di Edo. Karena sering berurusan dengan kriminal, Gintoki pun menjadi target incaran kepolisian. Seakan, Gintoki adalah magnet untuk segala urusan aneh di kota Edo. 

Contoh paling kacau, adalah saat Gintoki perlu melawan tiga Oni raksasa, yang menghalau jalannya di dunia lain. Gintoki lalu meminta mereka untuk menghubungi manajernya, demi memberi tahu urusannya. Tetapi karena teleponnya lama, Oni di seberang telepon malah berantem dan berujung KDRT. Semua pun bingung, dan tidak lanjut gelut, karena pihak yang berkepentingan malah hilang ditelan alam lain.

Latar Kota Edo dalam Gintama

Latar Kota Edo dalam Gintama pun cukup nyeleneh, yaitu kota yang mencampur-aduk jaman samurai dengan gaya modern jaman sekarang. Arsitektur dan pakaian khas tradisional Jepang, tercampur sinkron dengan teknologi otomotif, televisi, dan ponsel yang kentara digunakan para karakternya. 

Arsitektur semacam ini, mengingatkan ironi tersendiri bagi penulis. Sempat punya pendapat dan membaca konten di YouTube, bahwa arsitektur modern sangatlah membosankan dan tidak memiliki estetika. Bahkan, bisa disebut kehilangan sisi identitas budaya (dari setiap latar negaranya).

Memang di jaman sekarang, pakaian, gedung, serta adat tradisional cukup jarang digunakan setiap harinya. Seakan kehidupan berbudaya yang menjadi latar setiap negara, digerus demi perkembangan modern yang penuh teknologi saja. 

Ironi yang berlebihan dari serial anime sarkastik ini, tetapi (mungkin) akan dibahas di artikel Monsterisasi mendatang. Kenapa? Karena serial ini ada gambaran alien (monster dari antariksa), yang mengalahkan Shogun dan para Samurai-nya, lalu memberi inovasi teknologi. Hasilnya? Kota Edo pun gagal berubah nama jadi Tokyo (hehe), namun masih memiliki estetika tradisional Jepang.

Selain estetika tradisional, serial Gintama sebenarnya berlatar fantasi pula. Entah berapa banyak jenis monster di serial ini, mulai dari Oni, Tengu, Yokai, hingga banyak jenis siluman lainnya. Semuanya merupakan kisah kacau-balau ala dunia Gintama, yang mengingatkan bahwa tradisi lama adalah ironi yang kuat menuju jaman modern sekarang.

Sinopsis Film Gintama: Yoshiwara in Flames

Dan seperti biasa setelah banyak yapping, Gintama: Yoshiwara in Flames pun selalu diawali dengan plot yang terdengar epik. Para penggemar Gintama, tentu sudah tahu bahwa kisah ini adalah arc terakhir yang epik dari anime Gintama di tahun 2019 lalu.

Biasanya sih, Gintama selalu berakhir kocak tiada habisnya. Jadi, ditonton saja lah, bagi yang kangen kocaknya anime edan ini. Entah kalau jadi serius, karena film ini menjadi penyegar kangen sejak rilis terakhir anime-nya di tahun 2021 lalu.

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Logo Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Rekomendasi

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece