![]() |
| Saatnya DKI merambah kembali horor (TMDB). |
Saatnya kiprah komedi horor berlanjut, dengan rilisnya film grup legendaris Warkop DKI, yang tayang di sinema Nusantara dengan rating umur remaja (R13). Layaknya kisah pemerintah Indonesia yang FOMO, alias pengen viral terus tanpa alasan yang jelas, sub-judulnya kali ini adalah Viralin Doooong..!!
Warkop DKI yang Legendaris
Sebelum membahas FOMO-nya pemerintah Indonesia, tentunya perlu dibahas mengenai kiprah film Warkop DKI orisinal, yang menjuarai sinema Indonesia saat awal tahun 1980an lalu.
Sebelumnya pada bulan yang sama, yaitu Juni di tahun 2025 kemarin, Warkop DKI menelurkan film antologi animasi. Walau pengisi suaranya beda dengan filmnya, tetapi layak ditonton sebagai hiburan yang nostal-gila.
Membahas nostal-gila, penulis perlu menjabarkan beberapa film awal dari Dono, Kasino, dan Indro yang lucu, ironis dan tidak terlalu mesum. Bahkan, kisahnya berkutat pada komentar keadaan sosial, yang berpengaruh pada keadaan jaman 80an. Empat film yang dibahas, adalah favorit pribadi dari penulis.
Dilansir dari blog DewaTiket, pertama ada film Gengsi Dong (1981) mengenai mahasiswa gengsian, yang bersekolah di kampus ternama Jakarta. Disini, Dono, Kasino, dan Indro memang belum mengenal satu sama lainnya. Lucunya, demi menggaet seorang gadis muda, ketiganya lalu flexing kekayaan mereka.
Indro yang berperawakan tinggi dan atletis, tentunya mengendarai mobil Jeep, yang jaman tersebut sudah mulai ramai. Berikutnya Kasino yang lebih elegan, memilih mobil sedan yang mewah.
Sementara Dono yang berasal dari desa, malah membawa mobil klasik dengan tampilan bumper seperti barongsai. Sempat diketawakan oleh kedua temannya, Dono malah beralasan bahwa mobil seperti ini yang laku di desanya.
Berikutnya adalah film Setan Kredit (1981), yang mengacu pada keadaan warga banyak meminjam barang secara kredit, demi gengsi semata. Walau kisahnya lebih berlatar horor, alias sesuai animo film Indonesia jaman tersebut, tetapi membawakan atmosfer yang cocok. Ngerinya suasana kuburan yang ditampilkan, justru malah cocok dengan khas komedi dari trio DKI.
Ketiga ada Manusia 6.000.000 Dolar (1981), yang mengacu pada serial televisi terkenal pada tahun 80an. Kisahnya sangat fantastis, yaitu saat Dono yang kecelakaan dan perlu dioperasi, hingga menjadi robot berbiaya enam juta dolar.
Uniknya film ini, justru menjadikan Dono sebagai karakter yang keren, daripada bahan ejekan seperti di film lain. Aksi silat yang menjadi animo perfilman pada awal 80an pun, cocok dikombinasikan dengan film DKI.
Nah, untuk film terakhir adalah Chips (1982), yang mengisahkan DKI menjadi anggota kepolisian swasta. Lucunya di jaman tersebut, Chips adalah organisasi swasta berfungsi polisi. Walau akhirnya dilarang oleh pemerintah, dan dialihkan menjadi Organisasi Masyarakat, jika fungsinya memang keamanan.
Dalam film ini, berbagai kekisruhan jalanan yang biasa terjadi di Nusantara, perlu ditanggulangi oleh DKI sebagai aparat keamanan swasta. Walau jatuh bangun hingga tercebur, ketiganya tetap menghibur dengan khas komedi kasar dan ala slapstick dan komedi situasi saat jaman tersebut.
Okeh, sebelum membahas sinopsisnya dalam film 2026 ini, tentu perlu membahas perubahan aktornya pula. Film Warkop DKI Reborn dari tahun 2016 (Part I), dan Part II (2017) berisi aktor ganteng bernama Abimana Aryasatya. Namun di film Viralin Doooong..!! yang memerankan Dono adalah Desta Mahendra.
Menurut penulis, daripada Abimana memang lebih cocok Desta, yang telah lama berkolaborasi dengan kawan band-nya sendiri, Vincent. Keduanya adalah sosok yang mengisi televisi hingga konten YouTube, dengan komedi khasnya. Selain kocak, Desta jika dilihat sekilas dan ditambah make-up, memang lebih mirip Dono.
Pemerintah RI yang FOMO
Daaan sekali lagi sebelum sinopsisnya, maka perlu ditelaah dari segi FOMO-nya pemerintah Indonesia. Menurut penulis, pemerintah kini sedang FOMO akut, yang ingin terus viral, layaknya sub-judul Viralin Doooong..!! dari Warkop DKI.
Berbeda dengan pekerja digital dan internet, dimana viral dan anti-viral-nya bisa disetel (promo), pemerintah Indonesia malah otomatis membuat kontroversi dengan mudahnya. Layaknya film Setan Kredit dari Warkop DKI, tampaknya pemerintah sedang FOMO, agar dapat menunjukkan kiprahnya, walau sangat kontradiktif.
Layaknya paradoks mental penghutang (luar negeri) seluruh dana anggaran, harus ditunjukkan tanpa berpikir panjang pendeknya, dan hanya menunjukkan hasil saja. Itupun hasilnya bisa disebut gengsi, rugi, atau untung sekalian.
Ya, seperti terjebak Setan Kredit, ala Warkop dari tahun 1981 lalu. Generasi Emas pun, berubah jadi Generasi Cemas (kata warganet), ala hilangnya anak dalam film Setan Kredit dari DKI (hehe).
Sinopsis Film Warkop DKI: Viralin Doooong..!!
DAAAAAN, untuk urusan Setan Kredit, film Warkop DKI: Viralin Doooong..!! ini pun ikutan brain-rot (ala komedi gelap). Film ini dibuka dengan ketiga trio, yaitu Indro (yang tetap Tora Sudiro), Kasino (yang tetap Vino G. Bastian), dan Dono (yang kini Desta Mahendra), saat sedang kesulitan keuangan akibat dipecat.
Entah inspirasi darimana, mereka mulai membeli kamera dan alat syuting lainnya, demi menjadi kreator konten. Ya, DKI pun ikutan FOMO, dan tidak hanya menjadi kreator, tetapi mengikuti tren konten horor pula.
Tidak disangka, DKI ternyata punya wacana yang jauh, yaitu berangkat menuju Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Lengkap dengan ritual Ma'nene, yaitu memumikan mayat leluhur di daerah keramat ini.
Tidak disangka pula, padahal sudah biasa terjadi (apalagi di film), bahwa DKI malah memancing banyak petuah dari leluhur sana. Ketiganya diteror mistis setempat, akibat terlalu sering mengganggu tanah keramat.
Ketiganya pun perlu beradu pantun, dengan raja pantun itu sendiri, yaitu sang Andre Taulany, yang kini bahkan sudah lupa apa perannya di sinema Indonesia.
Okeh, Wassalam (Punten Suhu...).





