
Angklung di Saung Mang Udjo (Wikimedia).
Angklung berasal dari bahasa sunda yang berarti angkleung-angkleungan. Maksudnya adalah gerakan para pemainnya, yang menghasilkan bunyi 'klung,' untuk memainkan instrumen musik Angklung.
Dilansir dari Angklung Center, kata Angklung berarti mengacu pada nada yang dipecah. Jadi, satu Angklung hanya memiliki satu pecahan nada, dan perlu dimainkan lebih dari satu Angklung.
Bentuk Angklung
Bentuk Angklung sendiri adalah dua atau lebih batang bambu, yang disesuaikan dengan tinggi dan rendahnya nada. Setiap nada adalah hasil dari getaran bilah bambu didalam setiap ruasnya, dari yang berukuran kecil untuk nada tinggi, hingga berukuran besar untuk nada rendah.
Desainnya dimiripkan dengan alat musik calung (yang sama berasal dari tatar Sunda). Bahan dasar Angklung adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu ater (awi temen), yang dikeringkan akan berwarna kuning keputihan.
Sejarah Angklung
Belum ada sejarah pasti kapan Angklung mulai digunakan, namun diperkirakan sudah ada sejak jaman Neolitikum, yang berkembang hingga awal penanggalan modern. Jadi, Angklung adalah bagian dari budaya Nusantara sebelum zaman Hindu (menurut Dr. Groneman).
Catatan sejarah paling kentara adalah masa kerajaan Sunda pada abad 12 hingga 16 lalu. Selama perkembangannya, Angklung menyebar ke seluruh Jawa, Kalimantan, dan bahkan hingga Thailand (menurut Jaap Kunst dalam buku Music in Java).
Bahkan, terdapat satu catatan misi kebudayaan dari Indonesia menuju Thailand pada tahun 1908 lalu. Misi tersebut ditandai dengan seremonial penyerahan Angklung, yang sempat menyebar sebagai seni budaya di Thailand.
Angklung dimainkan pula sebagai penyemangat saat pertempuran kerajaan. Bahkan, gema Angklung merambah hingga jaman penjajahan Belanda, yang dilarang dimainkan secara umum. Justru, larangan tersebut menyebabkan Angklung semakin populer, walau hanya dimainkan oleh anak-anak.
Angklung di Thailand
Menurut Kementerian Sekreatriat Negara Republik Indonesia, Angklung sempat menjadi alat seni untuk diplomasi dengan negara Thailand. Raja Rama V dari Thailand, sempat tertarik pada Angklung saat berkunjung ke Indonesia, lalu membawanya sebagai oleh-oleh dan ditempatkan di Istana Bangkok. Raja Rama V cukup dekat hubungannya dengan Nusantara saat itu, sehingga berkunjung tiga kali, yaitu pada tahun 1870, 1896, dan 1910.
Tidak hanya Raja, pada tahun 1908 Pangeran Thailand Bhanu-Rangsri-Sawangwong yang merupakan adik Raja Rama V, datang ke Nusantara bersama musisi bernama Jawang Sorn Silapa-Bunleng. Keduanya datang untuk belajar Angklung, yang akhirnya membawa sepuluh buah Angklung untuk dimainkan di Istana Burapa, Bangkok.
Saking terkenal dan menyebarnya, Angklung telah menjadi bahan ajar sekolah di Thailand, melalui para guru musiknya. Phol Kit-Khan adalah satu tokoh terkenal dalam mengajarkan Angklung di Thailand. Saking termotivasi, kebun durian miliknya diganti dengan kebun bambu (sebagai bahan produksi Angklung). Hingga akhirnya dikenal pula sebagai Angkalung, yaitu sejenis Angklung khas dari Thailand.
![]() |
| Foto arak-arakan Angklung (UNESCO). |
Tradisi Angklung
Budaya tradisional Sunda pun mengacu pada prinsip pembuatan Angklung. Karena mayoritas warga di tatar Sunda adalah petani dengan komoditas utama padi (pare). Mitos pun muncul dengan nama Nyai Sri Pohaci, sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (Hirup-Hurip).
Masyarakat tradisional Badui yang dianggap sebagai keturunan asli Sunda, masih mempraktikan Angklung sebagai bagian dari ritual menabur padi.
Angklung Gubrag di Jasinga Bogor bahkan telah berumur lebih dari 400 tahun, yang sama dimainkan saat ritual menabur padi. Angklung disinyalir untuk dapat memikat Dewi Sri Pohaci turun ke bumi, dan memberkati suburnya tanaman padi.
Permainan Angklung lalu dikenalkan saat Pesta Panen atau Seren Taun di tatar Sunda. Angklung dimainkan saat upacara padi, bersama banyak jenis kesenian lainnya dalam satu arak-arakan di alam.
Berbagai alat yang dibawa saat arak-arakan adalah kesenian Rengkong (Angklung yang dipikul), Dongdang (alat pikul padi), Jampana (wadah makanan), dan banyak lainnya.
![]() |
| Foto Daeng Soetigna yang mengenalkan diatonik pada Angklung (Angklung Centre). |
Inovasi Modern Angklung
Pada tahun 1938, Daeng Soetigna mengembangkan Angklung Diatonis dari sebelumnya Pentatonis, yang mengubah bentuk dan nada Angklung, sehingga dapat memainkan banyak variasi jenis musik, bahkan hingga lagu dari Barat.
Daeng Soetigna sangat berjasa dalam mengembangkan Angklung di Indonesia saat jaman modern, sehingga karyanya dikenal sebagai warisan budaya alat musik di dunia Internasional.
![]() |
| Foto Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung (Angklung Centre). |
Lalu pada tahun 1966 lalu, Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung, mengembangkan teknik bermain dengan dasar Pelag (sistem urutan nada tiga surupan), Salendro (sistem urutan lima nada), dan Madenda (Laras dengan pemecahan laras Salendro). Udjo Ngalagena lalu mengajarkan banyak komunitas, dengan berbagai bentuk, cara, dan tradisi memainkan Angklung.
Hingga kini, salah satu komunitas yang aktif dalam memainkan Angklung adalah Sanggar Keluarga Besar Bumi Siliwangi (Kabumi) dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat.
Angklung dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Dilansir dari UNESCO, Angklung diakui sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2010 lalu. Angklung adalah instrumen musik yang terdiri dari empat hingga dua tabung bambu, yang terpasang pada rangka bambu, dan diikat dengan rotan.
Tabung dipahat dan dipotong dengan hati-hati oleh perajin ahlinya, agar dapat membunyikan nada saat rangka bambu digoyang atau ditepuk. Setiap Angklung hanya membunyikan satu nada atau senar, jadi banyak pemain harus berkolaborasi untuk dapat membunyikan melodi.
Angklung tradisional menggunakan skala Pentatonik, namun pada tahun 1938, musisi Daeng Soetigna mengenalkan Angklung dengan skala Diatonik, yang disebut sebagai Angklung Padaeng.
Angklung sangat erat kaitannya dengan budaya tradisional, seni, dan identitas budaya Indonesia, yang dimainkan saat perayaan menabur dan memanen padi, atau sunat.
Bambu hitam khusus untuk Angklung dipanen saat dua minggu dalam satu tahunnya, saat jangkrik tengah ramai, dengan dipotong setidaknya tiga segmen diatas tanah, agar akarnya tetap tersebar.
Edukasi Angklung disebarkan dengan mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan semakin semarak saat diselenggarakan di institusi pendidikan.
Karena berdasarkan budaya kolaboratif pada musik Angklung, memainkanya mendukung kerjasama dan saling hormat antar pemainnya, dengan disipilin, tanggung jawab, konsentrasi, pengembangan imajinasi dan ingatan, serta rasa artistik dan musik.
Kiprah Angklung Tahun 2025
Menyambut Hari Angklung Tradisional Internasional ke 15, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KABUMI UPI mengadakan acara bermain Angklung dengan 4750 peserta.
Dilansir dari Berita UPI, para pemain Angklung hadir dari banyak lokasi kota Bandung, mulai dari anak sekolah, anak berkebutuhan khusus, atau lansia, yang tiba di Stadion Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Acara ini dilaksanakan tepat satu bulan lalu, yaitu pada tanggal 23 November 2025. Acara dilaksanakan demi persatuan lintas generasi, demi melestarikan Angklung sebagai warisan dan identitas budaya Indonesia, khususnya di daerah Sunda.
Beberapa kenalan dari penulis, diantaranya sepupu yang masih berumur sekolah, mengikuti acara ini. Walau masih berumur sekolah dasar atau sekolah menengah pertama, tetapi mereka cukup semangat untuk melanjutkan kiprah semangat bersama memainkan warisan budaya Sunda ini.
Semoga, kedepannya Angklung masih menjadi seni warisan budaya yang terus terkemuka di tatar Sunda.










0 comments:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.