![]() |
| Amak dan Alif yang terpisah oleh cahaya di area kelam (TMDB). |
Dan akhirnya, kembali ke kegalauan ala Indonesia banget, dengan dirilisnya film berjudul mirip dengan cerita dongeng Nusantara, berjudul Legenda Kelam Malin Kundang.
Film yang sedang tayang di sinema-sinema ini memang mengadaptasi dari sebuah dongeng rakyat terkenal di Indonesia, yang mengisahkan sebuah cerita 'anak durhaka.' Namun, jika ditelaah dari segi adaptasinya berlatar jaman modern, dengan pembawaan dunia yang telah berbeda, tentu perlu diperkenalkan kembali.
Cerita rakyat ini aslinya berasal dari ranah Minang, alias Sumatera Barat sana, mengisahkan tentang seorang anak durhaka, bernama Malin Kundang. Sang anak terpaksa merantau, namun justru setelah sukses, melupakan ibunya sendiri, dan tidak pernah pulang mudik untuk silaturahmi.
Ada satu kekhasan dari Minang itu sendiri, dimana saudaranya memang harus diingatkan, agar ingat kepada keluarga di rumah. Entah apa bahasa Minang-nya, tapi yang pasti, jika ada keluarga yang tengah merantau, akan dipantau langsung oleh keluarga lain yang telah merantau sebelumnya.
Namun yang memantau telah hidup jemawa dan menetap permanen di wilayah barunya. Mungkin, memang mengingatkan cerita rakyat ini, atau sudah bawaan dari budaya Minang-nya itu sendiri. Alias, istilah kekeluargaan Indonesia, 'jangan bagai kacang lupa akan kulitnya.'
Bahkan, budaya Jawa yang suka merantau saja tidak sespesifik itu. Biasanya, warga Jawa jika merantau memang memilih untuk menetap permanen. Alias 'dimana bumi dipijak, disana langit diunjung.'
Naaaaah, tetapi bagaimana dengan pembawaan jaman modern sekarang? Itulah yang menjadi 'heran tersendiri' dengan film Malin Kundang ini (P)
Mengingat bahwa banyak situs lowongan kerja, lokasi kantor, serta personalianya, yang justru 'mengedepankan' rantau mania (!) Entah skema dari mana, tetapi mungkin mengacu pada pemerataan Sumber Daya Manusia yang menyeluruh di Nusantara.
Padahal dari segi bahasa, budaya, koneksi kerja, spesifikasi pekerjaan, lokasi sekolah dan kampus, lokasi tempat tinggal, SDM Lokal, dan bahkan keuangan (!) sama sekali tidak masuk dinalar (!)
Penulis malah teringat, jaman lowongan pekerjaan saat ini, layaknya kembali ke jaman eksplorasi Eropa, alias berujung kolonialisme beberapa abad yang lalu (!) Mungkin, itulah maksud bahwa Indonesia masih dalam istilah 'Mental Terjajah.'
Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke film Malin Kundang saja ya, yang memang terpaksa merantau akibat perlu mencari uang. Walau ya, berbeda sih di film ini, Malin (?) justru harus merantau akibat keadaan di rumah yang sulit, dari segi keharmonisan dan keuangan pula (!)
Sinopsis Film Legenda Kelam Malin Kundang
Alif (Rio Dewanto) adalah seorang anak remaja, yang terpaksa melarikan jauh dari rumahnya di tanah Minang. Ayah dan Ibunya sering cekcok, bahkan berakhir KDRT, yang menyebabkan tangan ibunya berdarah akibat sabetan pisau.
Alif yang sudah tidak tahan, akhirnya melarikan sendiri ke kota besar alias Jakarta. Tidak berapa lama, Alif yang hidup bagaikan Anjal (anak jalanan) pun mendapatkan belas kasihan dari Nadine (Faradina Mufti) dan ayahnya.
Selain diberi makan, Alif diminta untuk membantu ayah Nadine di galerinya. Alif yang ternyata berbakat, akhirnya berhasil diajari oleh ayah Nadine. Alif pun sukses sebagai pelukis mikro terkenal di Jakarta.
Alif masih terpukau dengan kebaikan mereka, lalu membina hubungan spesial dengan Nadine saat beranjak dewasa, yang berujung keduanya menikah dan memiliki anak.
Tiba-tiba, ibunya Alif yang sudah tidak lama bertemu, Amak (Vonny Aggraini) memutuskan datang berkunjung. Dengan cepat setelah tiba, ibunya pun berkelakar, bahwa dirinya takut Alif terkena kutukan Malin Kundang, sang anak durhaka dari cerita rakyat Minang.
Namun, secepat itu pula Amak segera meninggalkan rumah kediaman Alif dan keluarganya. Alif panik, dan merasa jengah dengan keadaan rumah yang tiba-tiba horor. Bahkan, Alif perlu kembali ke rumah lamanya, demi menemukan arti dan maksud dari semua ini.
Apakah memang keadaan aneh itu ada di dalam diri Alif dan keluarganya? Atau hanya halusinasi semata akibat terkejut dengan rasa dikejar masa lalu?
Jawabannya tentu bisa diresapi di Paririmbon ala sinema Indonesia.








0 comments:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.