30 Maret 2026

Memahami Teater sebagai Ekspresi Sosial Hingga Kajian Perfilman

 

Ilustrasi seni panggung Teater dan Film (Freepik).

Mengacu pada Hari Teater Boneka (21 Maret), lalu Hari Teater Sedunia (27 Maret), hingga hari Film Nasional di tanggal 30 Maret, maka artikel ini akan membahas setiap tanggal pentingnya. Artikel dilansir dari Britannica sebagai sumber utama ensiklopedia, dengan sedikit tambahan dari penulis.

Khusus untuk Hari Teater Boneka, penulis perlu mengacu pada artikel Wayang dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Karena perkembangan Wayang sebagai teater boneka sejak abad 15 lalu, setelah sebelumnya diadaptasi dengan cerita dari India, maka perkembangannya tentu akan berbeda dengan referensi internasional.

Sementara untuk teater, penulis tidak menulis mengenai versi tradisional dari Nusantara. Tentu, karena penulis mengarahkan artikel menuju konsep blog yang lebih sesuai, yaitu perkembangannya menuju ke arah perfilman. 

Film memang menjadi bahasan utama dalam blog ini, dan sama seperti konsep dasar teater, menyajikan karakter dengan berbagai akting ala aktor-aktrisnya, yang sesuai dengan penggambaran cerita apapun, khususnya keadaan sosial saat ini (selain fantasi). Maka, banyak teater atau film diartikan dengan istilah 'produk dari masanya,' alias langsung mengacu ke jaman dirilisnya karya seni tersebut.

Teater sebagai Ekspresi Sosial

Di banyak konteks, variasi aspek kemanusiaan dianggap penting dan difokuskan sebagai representasi teater di negara Barat. Banyak drama jaman Renaisans, fokus pada khas tiap karakternya. Sementara di abad 17, masih terbatas filosofi dan latarnya, yang karakternya yang tidak disajikan ala mahluk dengan status unik. Melainkan, seseorang yang beradaptasi dan bermotivasi pada lingkungan masyarakatnya. Di akhir abad 17, seni teater memfokuskan pada tema yang mengerucut, dan sesuai dengan target masyarakatnya.

Pada awal abad 19, teater Eropa telah menjadi bagian dari hiburan warga kelas menengah, sama seperti tujuan sebelumnya pada kelas aristokrat. Walau begitu, seorang aktor tidak hanya berbekat, namun dapat berbicara baik dan berpakaian bagus. Banyak seni panggung yang sukses di Eropa, berisi karakter yang berposisi sosial baik, dengan mengacu pada kode sikap.

Namun pada pertengahan abad yang sama, drama literasi oleh Henrik Ibsen muncul untuk menantang kode normatif tersebut. Setelah Revolusi Rusia pada tahun 1917 lalu, teater di Soviet telah keluar dari jalur normatifnya. Sementara di Eropa, kode bersikap masih dilanjutkan hingga tahun 1930an, dengan target teater bergengsi. Namun di Kota New York, AS, masa Depresi Besar pada tahun 1930an menyebabkan perubahan besar pada kode normatifnya. 

Di Eropa setelah Perang Dunia II, teater mulai beralih dengan merefleksikan minat yang lebih luas di masyarakat. Namun di masa tersebut, banyak warga kehilangan minat mengunjungi teater, dan memilih untuk menonton film di sinema atau melalui televisi, sebagai sumber utama hiburannya. Teater lalu mulai diarahkan tidak hanya pada satu golongan masyarakat saja, tetapi kepada siapa pun yang cukup berminat pada sikap seni dan kreatif.

Pada akhir abad 20 dengan banyaknya inovasi teknologi digital, diantaranya adalah pengunaan video rekaman berkualitas tinggi dan suara di teater, telah membuka debat mengenai kehidupan teater itu sendiri. Atau, bagaimana dasar teater telah berubah secara fundamental akibat implementasi teknologi tersebut.

Kajian Studi Perfilman

Selama dua dekade perfilman, banyak diskusi dalam media yang dikembangkan, pada berbagai tingkatan apresiasi dan analisis. Diantaranya, adalah kajian koran, analisis profesional, buku teknik produksi, majalaj fans, dan kolom gosip.

Pada jaman Perang Dunia I, terdapat monograf keilmuan dengan mata kuliah perfilman di universitas. Pada tahun 1930an, arsip diciptakan dengan model yang terhubung di museum seni, demi mengoleksi film dan berbagai teknik produksi sebagai bagian dari apresiasi publik. 

Kajian film di universitas dan kampus semakin meluas pada awal tahun 1970an, yang dianggap sebagai bagian dari kesuksesan artistik. Film akhirnya layak untuk dikaji sebagai pengaruh budaya, politik, dan sikap sosial. Kajian ini ditujukan kepada publik yang membutuhkan kritik serta analisis khusus perfilman.

Pengajaran dan keilmuan yang dibantu dengan banyaknya arsip perfilman lama, televisi, media DVD, serta video, seluruhnya menjelajahi masalah isu sosial, mulai dari ras, kelas sosial, dan gender (SARA) yang direpresentasikan melalui film. 

Genre film, sutradara, aktor-aktris, praktek industri, serta sinema nasional telah menjadi subyek kajian mata kuliah dan penelitian. Universitas merilis puluhan buku setiap tahunnya, yang berisi sejarah, teori, dan estetika film. Kegiatan ini sekaligus mendukung dan mendistribusikan jurnal akademik perfilman.

Dengan banyaknya jenis media baru, yang kadang menyaingi perfilman itu sendiri dari segi kepopulerannya, justru menambah berbagai komentar (dan kritik) pada banyak aspek dari film tersebut.

Media dan Internet sebagai Bagian dari Apresiasi Film

Sejak awal abad 21, internet telah menyediakan ribuan situs untuk informasi dan pendapat mengenai film, aktor-aktris, sutradara, dan sejarah. Media penyiaran secara regular mengabarkan berita mengenai aktor dan produksi film terbaru. Beberapa majalah fokus untuk membahas media hiburan, yang diantaranya berisi publik figur perfilman, film terbaru, dan perkembangan industrinya.

Minat untuk perfilman besar seperti Hollywood telah memicu reportase mengenai film yang akan dirilis setiap minggunya, dimana filmnya dibandingkan langsung layaknya sebuah kompetisi olahraga. Beberapa bahasan ini bahkan bisa disebut sebagai usaha promosi dari media itu sendiri, yang bekerja bersama studio film dengan koran, stasiun televisi, dan situs internet.

Bagi penulis sendiri, yang banyak mengambil referensi serta informasi dari internet, selain observasi sendiri, wacana ini tentunya cocok. Blog Sedia Saja bisa diartikan sebagai promosi film, namun dengan latar penulis sebagai pengkaji cerita, tentu diisi pula pendapat yang langsung mengacu pada isu sosialnya di masyarakat.

Jadi dari artikel ini sudah jelas, bagaimana perkembangan teater dan isu sosial sejak abad 17 lalu, lalu dilanjutkan dengan perkembangan film di awal abad 20 serta apresiasi medianya, menjadi konsep khusus yang mendasar bagi Blog Sedia Saja sebagai situs internet saat abad 21 ini.

Mengajari Anak Mengenai Kearifan Budaya Lokal Melalui Dongeng Nusantara

 

Ilustrasi buku folklor (Freepik).

Menyambut Hari Dongeng Sedunia (20 Maret), lalu dilanjutkan dengan Hari Puisi Sedunia (21 Maret), yang diakhiri dengan Hari Buku Anak Sedunia pada tanggal 4 April mendatang, tampaknya cocok untuk membahas mengenai Buku Dongeng, khususnya sebagai bagian dari tumbuh kembang anak di Nusantara.

Dalam artikel ini, penulis mengkaji studi dari banyak ahli pendidikan nasional, mengenai hubungan antara dongeng dengan tumbuh kembang anak. Dongeng Nusantara memang menjadi satu bahan ajar bagi anak PAUD, TK, hingga Sekolah Dasar. Tentu tujuannya untuk mengajarkan budaya lokal Indonesia, dengan segala kearifan lokalnya.

Untuk referensi mengenai fungsi dongeng di abad 20 hingga 21 sekarang, dapat dicek saja melalui terjemahan dan referensi ensiklopedianya, dalam artikel berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Artikel ini ditulis saat bulan November tahun lalu, demi menyambut hari Dongeng Nusantara pada tanggal 28 November setiap tahunnya.

Karena itu, dalam artikel menyambut Hari Dongeng Sedunia, dikombinasikan dengan dua tanggal penting lainnya. Bagaimana pun juga, korelasi serta kolaborasi studi adalah kombinasi yang menciptakan perkembangan budaya, teknologi, dan peradaban manusia hingga kini.

Khusus untuk blog ini, justru penulis dapat menjabarkan pula, bahwa setiap film dan cerita pada umumnya, memiliki nilai moralnya tersendiri. Walau blog ini lebih mengacu pada simbol dan referensi pada setiap artikelnya, namun tentu berlatar pada nilai dan moral yang dipercaya oleh jutaan warga di Nusantara.

Hari Dongeng Sedunia

Hari Dongeng dirayakan di seluruh dunia sejak tahun 1997 lalu, saat ditetapkan oleh banyak negara, contohnya adalah AS dan Australia. Sebelumnya, 20 Maret ditetapkan sebagai hari Mendongeng Nasional di Swedia, sejak tahun 1991. 

Dilansir dari Universitas Muhammadiyah Malang, Hari Dongeng Sedunia dirayakan sebagai wahana imajinasi anak. Pendongeng menutur cerita dengan gestur tubuh, sehingga anak dapat berimajinasi dalam alur cerita dongeng. Dengan berimajinasi bebas, maka kreatifitas anak akan bertambah. Tidak hanya imajinasi, namun rasa empati dan simpati akan muncul dalam diri mereka. Karena, dongeng Nusantara mengandung banyak nilai moral dan pendidikan.

Guru bahkan perlu diberi pendidikan khusus dalam mendongeng. Dengan semacam softskill ala mendongeng, guru akan lebih mudah dalam menanamkan nilai moral serta menumbuhkan sisi kreatifitas bagi anak.

Hari Puisi Sedunia

Menurut Perpustakaan Universitas  Brawijaya, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan pentingnya Puisi saat Konferensi Umum ke-30, pada tahun 1999 lalu. Konferensi yang dilaksanakan di Paris, Perancis ini mencanangkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Puisi Sedunia, yang mendukung keragaman bahasa melalui ekspresi puitis, dan kesempatan untuk mengajarkan bahasa yang terancam punah.

Menurut UNESCO, puisi bermemiliki peran strategis dalam seni dan budaya, dan termasuk diantaranya adalah sejarah. Puisi adalah katalis kuat untuk berdialog dan menjaga perdamaian. Kolaborasi puisi dengan karya seni seperti musik, tari, drama, atau lukisan tidak hanya dapat terus dinikmati dan tidak hilang oleh waktu, namun sebagai bagian dari upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dari segi ini, penulis berpendapat bahwa bentuk ekspresif puitis telah terkombinasi dengan menyeluruh pada banyak media, khususnya pada lagu (musik) dan film yang tersaji saat ini. Penulis sendiri sering memasukkan banyak istilah frasa, dalam banyak kajian film di artikel blog ini. Istilah frasa tersebut kadang memiliki rima ala puisi, dengan maksud tidak langsung dan suatu pedoman norma tertentu.

Hari Buku Anak Sedunia

Menurut Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara, perayaan Hari Buku Anak Sedunia setiap tanggal 2 April mengacu pada hari lahir penulis dongeng bernama Hans Christian Andersen. Perayaan ini untuk menumbuhkan budaya membaca, meningkatkan kesadaran literasi, serta menghomati karya sastra yang berkontribusi besar dalam dunia pendidikan, khususnya pada anak.

Wacana ini sesuai dengan manfaat dongeng untuk anak, yang dilansir dari Generasi Maju. Keterampilan kognitif anak dalam memproses ingatan, bahasa, pemikiran, dan penalaran dapat terlatih dengan cara mendengarkan dan memahami dongeng.

Aspek perkembangan yang didukung oleh pembacaan dongeng diantaranya adalah merangsang kecerdasan anak dengan aktivasi otak yang berkelanjutan, dan mendukung perkembangan psikologi dengan mempengaruhi perasaan mendalam anak saat menghadapi situasi problematis.

Membaca dongeng dapat dilaksanakan sebagai media belajar bahasa dengan banyak kosakata,  padanan kalimat, serta konteksnya. Selain itu, dongeng dapat membangun minat literasi sejak dini, yang menjadi satu kunci pembelajaran di masa depan.

Membaca dongeng dapat mengasah keterampilan berpikir anak, agar mereka berpikir kritis sejak dini. Mendengarkan dongeng dapat mendorong anak dalam memecahkan masalah, memahami keberagaman serta kerja sama. Anak dapat merespon dengan menunjukkan tanggapannya sendiri atas cerita dongeng yang orangtua sampaikan.

Karena membaca dongeng dilaksanakan dua arah, maka aktifitas komunikasi ini dapat mempererat hubungan orangtua dan anak, yang membangun ikatan kuat antar keduanya. Dengan interaksi positif, maka anak akan merasa aman, dicintai, diperhatikan, dan disayangi. Aktifitas ini membantu anak berkembang secara sosial maupun emosional dalam memahami dunia.

Keunikan Mengenal Dunia Melalui Dongeng

Terdapat pula keunikan lain melalui pembacaan dongeng antara anak dan orangtua, yaitu mengenalkan berbagai jenis suara dan bentuk ilustrasi di sekitar lingkungannya, seperti dilansir dari Kemendikdasmen

Suara ketukan pintu, degup jantung, dan bel sepeda disajikan secara imajinatif, untuk mengasah indra dan rasa ingin tahu anak. Setiap suara memiliki simbol dan tanda sebagai alat komunikasi dengan orang lain atau mahluk hidup di sekitar lingkungannya. Terlebih lagi, anak usia dini membutuhkan pengenalan suara melalui dongeng.

Menunjukkan ilustrasi yang sesuai dengan benda, alam, atau manusia yang diceritakan, dapat mengisi pola imajinasi anak. Isi cerita beserta ilustrasinya yang sederhana, singkat, dan jelas informasinya dalam dongeng, dapat lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Tentunya, nilai moral yang berisi kejujuran, doa, dan kemandirian sangat diperlukan oleh anak. Khususnya, cerita yang berasal dari buku, cerita pengalaman, kisah nabi, dan cerita rakyat yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan tumbuh kembang anak usia dini.

Gim Pertama Milyaran Umat Manusia dalam Film The Super Mario Galaxy Movie

 

Saatnya berlayar ke dunia lain (TMDB).

Setelah berlibur Lebaran selama beberapa minggu (atau hari) lamanya, saatnya kembali menonton sinema bersama keluarga. Kali ini, film yang dirilis awal April adalah gim yang legendaris, yaitu Mario Bros. Setelah film pertamanya dirilis pada tahun 2023 lalu, kini menyusul sekuelnya berjudul The Super Mario Galaxy Movie, yang tayang dengan rating Semua Umur (SU).

Gim klasik Super Mario Bros.

Gim Pertama Milyaran Umat Manusia

Bagi para penggemar gim lawas, atau sempat memiliki konsol dan PC lama, tentu mengenal gim bernama Super Mario Bros. Gim yang memiliki grafik sederhana ini, memang menjadi pengenal banyak anak dengan dunia gim, khususnya dari konsol. Pengembang sekaligus manufaktur gim konsol bernama Nintendo mengenalkan karakter Mario Bros di tahun 1985 lalu, yang hingga kini menjadi khas dari konsol Jepang ini.

Nintendo sebenarnya mengenalkan Mario Bros di konsol arkade pada tahun 1983, atau sempat dikenal sebagai Ding-dong di Indonesia. Konsol adalah sejenis mesin gim raksasa, yang hanya bisa dimainkan di pusat permainan saat jaman tersebut. Konsol permainan menggunakan koin ini, memang cukup murah untuk dinikmati oleh anak hingga remaja, sehingga banyak lokasi permainan menjadi sangat ramai.

Kembali ke Super Mario Bros, yang dikenalkan sebagai gim lucu dan santai di konsol Nintendo, memang menarik banyak perhatian. Walau grafik dan mainnya terlihat santai, namun sama seperti gim jaman tersebut, tetap perlu memahami kontrolnya yang agak sulit. Latar karakter Mario sebagai tukang ledeng pun menyajikan kisah yang lebih santai, daripada karakter gim di jaman yang sama.

Berbeda dengan gim arkade terdahulu yang karakter serta dunianya terlihat sangar, bersenjata cukup brutal, dan tombol yang banyak, justru gim Mario Bros jauh lebih sederhana. Yang dibutuhkan hanyalah presisi saat berjalan kanan-kiri (ala side-scroller), loncat, dan menimpuk monster satu persatu. Cukup terlihat sederhana, selayaknya tiap area di gim Mario Bros adalah sebuah puzzle saja.

Perkembangan dunia gim pun semakin menggila di tahun 90an, dimana karakter Mario Bros adalah khas dan ikonik dari Nintendo. Banyak jenis permainan lain dimana Mario ikutserta sebagai karakternya. Diantaranya adalah gim balapan Mario Kart, gelut ala Super Smash Bros, hingga dansa di Dance Dance Revolution. Mario memang menjadi karakter flagship bagi Nintendo, yang setia untuk mengisi gimnya dengan kehadiran karakter ini.

Film The Super Mario Bros. Movie (TMDB).

Film The Super Mario Bros. Movie

Sebenarnya film di tahun 2023 lalu, bukanlah kali pertama saat karakter Mario diadaptasi pada sebuah film. Tahun 1986 lalu, Super Mario Bros.: The Great Mission to Rescue Princess Peach dirilis, dengan format kartun 2D. Karena cerita serta gambar karakternya tidak berbeda jauh, film ini cukup dikenal walau hanya dirilis terbatas.

Lalu ada film Mario Bros yang sangat nyeleneh dan kontroversial, yaitu pada tahun 1993. Film ini berformat live-action, alias diperankan oleh aktor-aktris nyata. Namun karena jalan ceritanya yang sama sekali tidak nyambung dengan gim-nya, maka tidak sukses di pasaran sinema, dan bahkan dibenci para penggemarnya.

Nah, justru di tahun 2023 lalu, The Super Mario Bros. Movie dirilis dengan banyak bintang Hollywood yang mengisinya. Chris Pratt, Anya Taylor-Joy, Charlie Day, Jack Black, Michael-Key, dan Seth Rogen adalah sederet pengisi suara terkenal di film ini. Banyak kritikus film yang menyukainya, dengan nominasi penghargaan selama tahun 2024 lalu. 

Jumlah pemasukannya pun cukup fantastis, yaitu mencapai 1,3 Milyar Dolar AS sejak tahun 2023 lalu. Selain animasi yang ciamik dari Illumination Entertainment dan Nintendo, film ini memang didistribusikan ke seluruh dunia oleh Universal Pictures. 

Ceritanya memang berkutat dengan dunia Super Mario Bros. yang telah dibangun selama ini, yaitu berfokus pada karakter Mario, Luigi, Putri Peach, Bowser, dan dunia Kerajaan Jamurnya. Beberapa karakter Nintendo lain, contohnya adalah Donkey Kong, sempat meramaikan film ini pula. 

Untuk plot utamanya, adalah saat Bowser (Jack Black) yang memiliki rencana jahat terbaru. Yaitu, dengan menculik Luigi (Charlie Day) untuk memancing Mario (Chris Pratt) dan Putri Peach (Anya Taylor-Joy) keluar dari kerajaan dan mengejarnya langsung.

Bagi yang masih penasaran karena belum menonton film pertamanya, dan sebelum sekuelnya tiba di bulan April mendatang, dapat mengecek berbagai layanan siaran internet.

Sinopsis Film The Super Mario Galaxy Movie

Di film keduanya ini, tiba pula satu aktris terkenal lain yang mengisinya, yaitu Brie Larson yang mengisi suara karakter Putri Rosalina.

Mario dan Luigi kini telah santai di Kerajaan Jamur, setelah sempat mengalahkan dan menghalau seluruh rencana jahat Bowser. Kini, kura-kura raksasa yang jahat ini dipenjara di sebuah kastil kecil, dengan ukuran tubuhnya yang diciutkan sebesar kepalan tangan saja. Penjara ini memang didesain khusus bagi Bowser, yang sangat berbahaya jika ukurannya besar.

Namun, adapula kehadiran sosok jahat lain yang mengancam Kerajaan Jamur beserta Putri Peach. Sosok tersebut bernama Bowser Jr. (Benny Safdie), yang merupakan anak dari Bowser. Dirinya yang berasal dari galaksi lain, ingin membebaskan ayahnya dari kekangan Kerajaan Jamur.

Tidak hanya kehadiran Bowser Jr., muncul pula sesosok putri lainnya bernama Rosalina (Brie Larson). Dengan tongkat magis saktinya, tampaknya Rosalina akan menjadi bagian dari plot utama dalam membebaskan ancaman di Kerajaan Jamur.

Bagi yang penasaran dengan akhir kisah Kerajaan Jamur bersama para Tukang Ledengnya, dapat menontonnya di banyak adaptasi gim ala sinema Indonesia.

10 Maret 2026

Epiknya Efek GG Ala Indonesia saat Libur Lebaran dalam Film Pelangi di Mars

 

Pelangi yang menemukan makanan kaleng (TMDB).

Tibalah film Epik nan GG dengan efek spesialnya, berjudul Pelangi di Mars, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang di sinema Indonesia. Sesuai judulnya, Pelangi di Mars adalah hasil karya sineas perfilman Indonesia, yaitu Mahakarya. Film ini berating Semua Umur (SU), sehingga cocok sebagai lahan untuk berlibur bersama anak.

Produksi Film Pelangi di Mars

Mahakarya berwacana pada tahun 2020 lalu, untuk mengembalikan imajinasi anak Indonesia. Mereka berpendapat, anak seharusnya bercita-cita yang tinggi, yaitu ilmuwan atau astronot. Mereka sebagai sineas perfilman, mendukungnya dengan memberi imajinasi. Teknologi yang diterapkan untuk memproduksi film ini pun hibrida, yaitu antara motion capture dengan virtual production, alias Extended Reality (XR).

Mahakarya memulai langkah pertamanya di tahun 2021 lalu, dengan membangun infrastruktur produksi filmnya. Maksudnya, Mahakarya akan menjadi pionir di Indonesia dalam menyiapkan teknologi perfilman ala XR. Dengan begitu, produksi film sejenis ini dari Indonesia, dapat dipermudah oleh mereka, baik itu dari Mahakarya atau studio lainnya. 

Mahakarya tidak membatasi kerjasamanya dengan pihak luar pula. Tokoh utama film Pelangi di Mars memang berasal dari Indonesia, namun digadang untuk memimpin para robotnya, yang berasal dari India, hingga Korea Selatan.

Di tahun 2021, Mahakarya mulai menulis naskah filmnya, bersama Penelitian dan Pengembangan (LitBang) yang dibutuhkan. Tahun berikutnya (2022), Mahakarya berhasil membuat portofolio untuk film Pelangi di Mars, yang berdurasi pendek. Sekaligus di tahun ini, didirikan pula studio DossGuavaXR Studios, yang memulai pengembangan aset 3D untuk film Pelangi di Mars. Sementara di tahun 2023, banyak anggota tim direkrut untuk bertanggung jawab selama produksi.

Di tahun 2024, produksi film akhirnya bisa dimulai dengan selesainya naskah. Seluruh tim telah lengkap, lalu memulai syuting dengan teknologi Motion Capture dan XR. Uniknya di tahun ini, Mahakarya sempat merilis gim simulasi Pelangi di Mars dalam portal Roblox, yang bisa dimainkan langsung. Bahkan, teknologi hibrida ini berhasil menyisipkan foto yang berasal dari Mars Orbiter Camera (MOC), ke dalam adegan film. Foto yang dimaksud, adalah hasil potret kamera satelit di Mars, yang berhasil terkirimkan ke bumi.

Tahun 2025 adalah saat Mahakarya memulai hype-nya, dengan merilis banyak karakter Pelangi di Mars dalam sistusnya, serta cuplikan yang masih berupa teaser, lengkap dengan posternya. Tahun ini adalah momen produksi final bagi Pelangi di Mars, dengan memasukkan dan membersihkan audio, serta memperbaiki dan memperbarui setiap adegan film. 

'Untuk menemukan warna di tempat yang paling sulit menemukannya, yaitu Pelangi di Mars' - Slogan dari Upie Guava, sutradara Pelangi di Mars.

Polusi Air di Planet Bumi

Plot utama dalam film Pelangi di Mars, adalah tokoh utama bernama Pelangi (Messi Gusti), yang harus menemukan Zeolit Omega, demi membersihkan polutan air di Planet Bumi. Mengacu pada wacana ini, tampaknya perlu ditelaah dari segi sainsnya. 

Seperti dilansir dari Mertani, perubahan iklim mengakibatkan polusi air, dengan banyak perubahan di dalam ekosistemnya. Pertama, adalah naiknya suhu air yang berdampak pada organisme air. Ikan, ganggang, dan plankton butuh suhu air yang tepat, baik itu di sungai, danau, dan laut. Selain itu, meningkatnya suhu dapat mengurangi ketersediaan air tanah yang digunakan oleh manusia, hewan, dan tanaman di sekitarnya.

Kedua adalah tingkat oksidasi polutan dalam air, yang semakin meninggi pada logam berat dan bahan kimia berbahaya. Kualitas air yang buruk, berdampak pada tercemarnya air minum serta rantai makanannya, yang berbahaya bagi manusia serta organisme lainnya, serta merusak lingkungan alam di sekitarnya.

Ketiga adalah kualitas air laut yang memburuk, dengan tingginya asam laut. Asam laut tercipta akibat banyaknya zat karbon dari atmosfer, yang terserap ke dalam lautan. Asam laut dapat merusak terumbu karang, yang penting bagi ekosistem laut, lalu seluruh organisme akan terganggu pula keragaman hayatinya.

Seluruh dampak tersebut berarti menyebabkan langkanya air bersih, sehingga berpengaruh pada pasokan air untuk keperluan manusia, pertanian, dan industri. Masalah ini berujung keamanan air, yang dapat membentuk konflik akibat wacana berkelanjutan lingkungan hidup di masing-masing daerah.

Nah, dengan penjelasan seperti itu, bagaimana cara film Pelangi di Mars dalam menggambarkannya?

Sinopsis Film Pelangi di Mars

Pelangi (Messi Gusti) adalah anak berkebangsaan Indonesia, yang lahir dan tumbuh untuk pertama kalinya dalam sejarah, di planet Mars. Pelangi tinggal di Mars demi melanjutkan misi bersama ibunya, Pratiwi (Lutesha). Keduanya berencana untuk menemukan mineral langka bernama Zeolit Omega, yang dapat membantu manusia di Bumi dalam membersihkan zat polutan dalam air.

Namun dalam perjalanannya, selama ini Pelangi hanya dibantu oleh banyak robot kenalannya. Kelima teman robotnya yang setia, adalah Petya (Gilang Dirga), Yoman (Kristo Imanuel), Batik (Bimo Kusumo), Kimchi (Canya Cinta Rivani), dan Sulil (Dimitri Arditya Hardjana).

Tidak ada sosok sang ayah, Banyu (Rio Dewanto) dan ibunya Pratiwi untuk melindunginya. Tidak hanya lokasi planet Mars yang memang berbahaya, namun tibanya perusahaan Nerotek semakin mempersulit misinya. Nerotek adalah perusahaan monopoli dagang air di Bumi, yang tidak ingin mineral ini ditemukan dan berhasil menyelamatkan bumi.

Sanggupkah Pelangi menemukan Zeolit Omega? Kemanakah gerangan ayah dan ibunya selama ini? Apakah mineral langka di Mars ini memang seampuh itu dalam membantu membersihkan zat polutan dalam air di planet Bumi?

Jawabannya, tentu ada di petualangan epik anak Indonesia ala sinema.

Sulitnya Menjaga Bisnis Keluarga Ala Film Senin Harga Naik

 

Toko Roti Mercusuar yang masih buka (TMDB).

Naaah, film terakhir mengenai slice of life ini, berjudul Senin Harga Naik, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Seperti diutarakan sebelumnya, film ini kelanjutan yang multiversal, alias berbeda film tetapi saling mengisi satu sama lainnya. 

Ya, film ini berkisah perlunya melanjutkan karir atau berhenti di bisnis keluarga. Animo yang mirip dengan tokoh film sebelumnya, yang memilih menjadi Kang Mie Ayam daripada menjadi pegawai kantoran. Sebelumnya pun, diawali dengan film yang rewel anaknya saat akan masuk sekolah. Kali ini, mengenai bisnis toko roti milik ibunya, yang berhasil menyekolahkan ketiga anaknya, dan kini diurus dengan bantuan si bungsu.

Animo Bisnis Keluarga Indonesia

Animo seperti ini memang banyak dialami oleh pemuda-pemudi Indonesia, yang harus memilih antara melanjutkan pendidikannya menuju jenjang karir, atau mulai memangku bisnis keluarga. Bahkan banyak sekali konten viral, yang menguak masalah tersebut.

Tentunya perlu diingat pula saat pertengahan 2010an lalu, saat internet dan medsos memudahkan urusan ramai nan viral. Saat tersebut tidak banyak orang yang ingin viral dan 'di-push' kontennya, sehingga memicu banyak warta serta media untuk meliput keanehan warga. 

Contoh awalnya, adalah  gadis cantik yang menjaga warung makan di Jawa Barat. Sasa Darfika adalah seorang lulusan mahasiswi kebidanan, yang membantu bisnis warung makan keluarganya di Majalengka, pada tahun 2015 lalu. Saking cantiknya, Sasa di-viralkan sebagai penjaga warung yang cantik. Kini, Sasa muncul sebagai selebgram dengan dukungan viralnya, di Instagram.

Contoh berikutnya tiba dari tahun 2020 lalu, saat sosok gadis cantik bernama Intan R Sintia Rose mulai viral saat menjaga warung kopinya di Cianjur. Mahasiswi di satu kampus Cianjur ini, awalnya hanya iseng ngonten di TikTok. Hingga akhirnya viral sendiri atau bantu di-viralkan, sosok Intan terkenal sebagai gadis sederhana yang cantik nan jelita. Sering muncul sebagai selebgram di Instagram, Intan masih ingin bekerja sebagai guru.

Ya, walau terdengar seperti lucu-lucuan viral ala media sosial dan warta, tetapi wacana ini dilanjutkan dengan agenda tersendiri dari media massa. Banyak kajian dari jurnalistik, yang mengemukakan sulitnya mencari pekerjaan bagi generasi milenial hingga gen-z dari kelas menengah. Sehingga, mereka perlu melanjutkan bisnis orangtuanya, atau bahkan memulai wirausaha sendiri.

Nah, animo inilah yang menjadi drama khusus di film Senin Harga Naik. Tokoh utamanya pun yang bernama Mutia (Nadya Arina), adalah seorang gadis cantik yang sukses berkarir, namun masih galau mengenai keadaan bisnis keluarganya, yang kini masih dilangsungkan oleh ibunya. Apalagi, Mutia berlatar pekerjaan di bisnis dan pemasaran, yang cocok dalam melanjutkan toko roti milik keluarganya.

Mungkin perlu diutarakan dari pendapat tersendiri, bahwa pilihan ini cukup sulit. Penulis yang mengenal bisnis keluarga hanyalah grosir, berpikir bahwa urusan ini memang cukup banyak pertimbangan. Lokasi gudang yang dimiliki oleh keluarga besar, sementara pekerjaan yang menguras tenaga, kondisi kesehatan yang makin sulit, serta minat dan kemampuan pribadi yang kurang cocok, adalah berbagai pertimbangan pribadi dalam melanjutkan usaha keluarga ini.

Jadi, hidup adalah pilihan, sementara meninggal adalah mutlak, dan yang mengatur takdir hanyalah Tuhan semata. 

Sinopsis Film Senin Harga Naik

Mutia Soejono (Nadya Arina) telah tiga tahun meninggalkan rumahnya. Selama ini dia berkarir di perusahaan properti bernama Buana Group, dengan slogannya 'Senin Harga Naik.' Buana Group sedang memulai proyek pembebasan lahan, yang diberikan kepada Mutia. Namun, lahan yang akan dibebaskan adalah lokasi dimana keluarganya tinggal, dan memiliki usaha bernama Toko Roti Mercusuar. 

Mutia pun teringat, bahwa dirinya tidak pulang ke rumah selama tiga tahun, akibat bertengkar dengan ibunya, Retno (Meriam Bellina). Keduanya berseteru, akibat Mutia yang tidak ingin melanjutkan usaha keluarga. Selama ini, usaha bernama Toko Roti Mercusuar tersebut, dikerjakan oleh Retno, adik bungsunya bernama Tasya (Nayla D. Purnama), dan Rani (Aci Resti).

Mutia perlu kembali pulang, demi mengabarkan perihal sedih ini dan membantu ibunya untuk segera pindah. Karena komunikasi yang sulit, maka Mutia meminta bantuan kakaknya, Amal (Andri Mashadi), yang telah menikah dengan Taris (Givina Lukita), dan memiliki anak bernama Alviero (Adam Xavier). Lalu keduanya membujuk ibunya, untuk segera menjual tanahnya serta pindah ke rumah Amal.

Retno yang masih bersikeras untuk melanjutkan usahanya, tetap menolak wacana tersebut. Kerasnya Retno, menyebabkan kakak-beradik ini semakin risau, karena wacana pembebasan lahan tentunya akan terus dilaksanakan. Apalagi tekanan dari lingkungan sekitar, yang tentu masih mempertimbangkan wacana tersebut.

Apakah Retno akan luluh dan menjual tanahnya? Atau malah Mutia yang berhenti melanjutkan proyek dan memilih bisnis keluarga? Bahkan lingkungan sekitar ikut setuju bersama untuk menolak pembebasan lahan?

Jawabannya, tentu ada di potensi viral bisnis keluarga ala sinema Indonesia.

Menjaga Potensi Keluarga Ala Film Tunggu Aku Sukses Nanti

 

Arga dan keluarganya yang sangat menempel erat (TMDB).

Berikutnya adalah film remaja berjudul Tunggu Aku Sukses Nanti, yang tayang menjelang Lebaran di sinema Indonesia. Ya, film ini memang memiliki rating R13, dan cocok bagi yang galau pas Lebaran nanti. 

Cocok dengan tema film sebelumnya, film ini mengisahkan tentang apa yang terjadi setelah lulus sekolah nanti. Ya, tokoh utama dalam film ini sempat menganggur (kerja resmi) dalam waktu lama, dan memilih berwirausaha sebagai Kang Mie Ayam selama tiga tahun lamanya. Memang bukan keseharian biasa, karena momennya tepat saat kumpul keluarga besar yang penuhrasa cemas.

Arga dan Mie Ayam

Membahas Arga (Ardit Erwandha) yang sering menjadi cibiran keluarga, akibat nilainya yang jelek saat kecil, hingga perlu menganggur setelah lulus kuliah, mungkin menjadi perihal masalah bagi banyak pemuda-pemudi saat ini. 

Apalagi, banyak mahasiswa dan mahasiswi saat ini, yang perlu langsung mengikuti jenjang pendidikan S2, demi lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Ssetelahnya, mereka malah membangun sejenis startup atau UKM, setelah banyak berkenalan dengan teman se-profesi di kuliah magister ini. 

Kembali ke soal pengalaman dan biaya, para pemuda-pemudi ini perlu dukungan tambahan untuk mengikuti jenjang S2, hingga memulai usahanya. Maka, latar keluarga adalah solusinya.

Nah, itulah yang terjadi pada Arga dalam film ini. Dirinya yang sulit mendapatkan pekerjaan, memilih untuk berjualan Mie Ayam. Bahkan terdapat satu adegan lucu pada cuplikannya, saat Arga ditanya oleh personalia mengenai pengalamannya selain masak mie ayam. Arga akhirnya menjawab, bahwa pengalamannya lainnya adalah masak pangsit (kering atau basah) yang tidak ada hubungannya. 

Penulis pun merasa heran, karena Mie Ayam adalah salah satu favorit pribadi. Entah kenapa, pangsit (basah atau kering) sering tidak dimasukkan ke dalam menu mie ayam. Padahal, enak banget loh...

Ada satu adegan pecicilan lain yang menarik dari cuplikannya. Yaitu saat Arga bercerita tentang sulitnya mencari kerja kepada temannya yang sudah diterima kerja, Mereka langsung berpendapat bahwa karakter Arga harus sedikit dirubah. Ya, sering banget penulis mendengar komentar seperti ini saat menjelang kelulusan terdahulu, yang entah apa maksudnya karena gak jelas sama sekali (?).

Oh ya, ada satu adegan yang perlu ditelaah, yaitu kehadiran cameo Afghansyah Reza dalam film ini sebagai karakter Dwiki. Bagi yang mengenalnya (apalagi ibu-ibu), tentu tahu se-ganteng dan se-keren apa aktor dan penyanyi yang satu ini, yang sempat naik pamornya saat awal 2010an lalu. 

Oh ya (lagi), karakter Dwiki telah bekerja di SCBD, alias Jalan Sudirman di Jakarta yang terkenal dengan pusatnya di Bundaran HI. Lokasi perkantoran yang sangat bergengsi, yang entah kenapa Arga perlu mengejar karirnya sejauh dan setinggi itu (?).

Walau begitu, Tante Yuli (Sarah Sechan) yang sering mencibir Arga dalam momen kapan pun juga, ternyata memberi nasihat yang baik. Yaitu Arga seharusnya berprinsip untuk membantu, dan bukannya menjadi pembantu. Ya, nasihat yang cukup mendalam, apalagi di jaman pencari kerja saat ini.

Yah, ada sih satu lagi, yaitu istilah 'kapan kawin' saat kumpul keluarga sedang dilaksanakan. Tetapi, animo yang satu ini perlu dijelaskan dalam sinopsisnya saja ya... (serius, film ini Indonesia banget)

Sinopsis Film Tunggu Aku Sukses Nanti

Arga (Ardit Erwandha) sudah tiga tahun menganggur lamanya. Selama ini, dia bekerja sebagai Kang Mie Ayam Bu Rita, yang kurang porsi pangsitnya. Sudah terbiasa sejak kecil, Arga memang menjadi cibiran keluarga besar saat kumpul. Apalagi, saat ini keluarga utamanya memang masih menumpang di rumah nenek, tidak seperti paman dan bibinya yang telah tinggal terpisah.

Keadaan rumahnya pun semakin memburuk, dengan adiknya yang bernama Alma (Adzana Shaliha), berpotensi terpaksa berhenti kuliah akibat biaya. Ayahnya (Ariyo Wahab) bahkan perlu menjual motor, demi menambah biaya kuliah Alma. Bahkan saking butuh biaya, keluarga dan keluarga besar berencana untuk menjual rumah kediamannya, demi mengisi kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, Arga pun masih berencana untuk mengawini pacarnya, karena sudah lama saling mengikat hubungan.

Sanggupkah Arga melewati seluruh masalah tersebut? Akankah Arga diterima kerja dan membantu keluarganya? Atau malah beralih memfokuskan bisnis Mie Ayam-nya hingga sukses dan makmur?

Jawabannya, tentu ada di drama keluarga nan kocak dan terenyuh ala sinema Indonesia.

Pentingnya Tumbuh Kembang bagi Anak Ala Film Na Willa

 

Farida, Willa, Dul, dan Bud yang suka es krim (TMDB).

Ada tiga kombinasi film Indonesia yang tayang menjelang libur Lebaran. Karena temanya sangat mirip, dan jika dihubungkan ala 'timeline', maka terlihat seperti jalinan takdir multiversal (hah?). Cukup menarik, karena setiap judulnya memberi kisah sehari-hari (slice of life) yang sangat mengena, dan bahkan cukup dikenal setiap kalangan masyarakat Indonesia.

Sebenarnya terdapat pula judul keempat, namun karena bertema sains-fiksi dengan hebohnya efek spesial, maka tidak cocok sebagai kombo tiga film drama keseharian ini. 

Pertama adalah film yang cukup kentara permasalahannya di dunia nyata, berjudul Na Willa yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Lucunya film ini, adalah mengisahkan tentang hebohnya anak, saat pertama kali mengikuti jenjang pendidikan sekolah. 

Bagi yang mengingatnya, pertama kali masuk sekolah pasti terasa aneh. Dari pengalaman penulis, masih ingat saat pertama kali masuk TK atau Sekolah Dasar kelas satu. Banyak anak menangis, sementara orangtuanya sedang menunggu di luar kelas dengan cemas. Suatu pemandangan mencengangkan, karena baru kali itu penulis melihat banyak anak kecil menangis bersama.

Oh ya, dalam cuplikannya banyak adegan yang menggambarkan tentang cara bermain anak, mulai dari bermain kelereng, layang-layangan, ayunan, hingga membaca buku. Penulis pun perlu berkomentar mengenai hal ini. Yaitu saat banyak konten dan game ponsel yang sangat menarik, namun di lingkungan RT sendiri, justru sedang 'hype' dengan balapan manuk (burung). 

Ya, sejenis japati (merpati) yang diterbangkan sepasang, lalu dibalapkan hingga satu keliling lapangan, adalah animo yang sedang ramai di sekitar rumah penulis. Pemainnya memang beberapa anak SD, yang tampaknya tidak begitu tertarik dengan maenan ponsel jaman sekarang. 

Yang menontonnya pun bukan hanya mereka, yaitu banyak pemuda-pemudi (tua) yang penasaran dengan aktifitas di sore hari ini. Sebelumnya, anak-anak tersebut lebih heboh dengan adu layangannya. Tampaknya, sudah bertahun-tahun mereka melaksanakan maenan 'offline' tersebut.

Psikologi Anak Tidak Mau Sekolah

Sebelum membahas kisah di film Na Willa ini, coba dicek dari psikologi anak. Seperti sudah diutarakan sebelumnya, penulis sempat heran dengan keadaan TK atau SD terdahulu, dimana banyak anak menangis bersama saat pertama kali masuk sekolah. Tentu bukan hal sepele, karena dapat menganggu suasana hati anak, serta tumbuh kembangnya.

Ya, film ini menggambarkan Willa (Luisa Adreena) sebagai tokoh utamanya, yang merasa kaget saat baru mau masuk sekolah. Lebih tepatnya lagi, saat banyak temannya yang tidak bisa bermain, akibat baru masuk sekolah.

Perasaan seperti ini, sempat dijabarkan dalam banyak kajian. Karenanya, dapat berakibat mogoknya anak untuk masuk sekolah. Walau terlihat rewel saja dan perlu dimarahi, para ahli yakin bahwa fase ini perlu ditanggulangi dengan baik.

Seperti dilansir dari Educenter, masalah anak tidak mau sekolah adalah akibat rasa takut dan gelisah, lalu kegiatan sekolah yang membosankan, serta terpisah dengan zona nyaman, alias jauh dari rumah, orangtua dan saudara dekat.

Cara terbaik untuk menanggulanginya menurut Fakultasi Psikologi dari UMK, adalah melatih anak secara bertahap. Yaitu tidak memarahi anak langsung, lalu dukung mentalnya dengan memberi semangat. Bangun rasa percaya diri anak dengan memuji saat berani bersekolah, dan menyelesaikan PR-nya. 

Karena itu, minat dan rasa nyaman anak dapat berkembang. Kemandirian bisa dilatih, karena anak adalah pribadi yang merasa dan berpikir, sehingga orangtua harus berkomunikasi dengan saling memahami.

Nah, bagaimana dengan kisah Na Willa ini? Coba dicek saja sinopsisnya, yang ternyata diproduksi oleh sineas perfilman terkenal.

Sinopsis Film Na Willa

Film Na Willa ini diproduksi oleh Visinema, yaitu Studio yang merilis Jumbo, Keluarga Cemara, dan Nussa. Tentu yang pernah menontonnya, tahu sehebat apa studio ini dalam membawakan cerita sehari-hari, yang menjadi kenangan indah dan heboh ala sinema. Bahkan terdapat banyak adegan, dengan efek spesial 3D yang ciamik, layaknya film animasi Jumbo di tahun kemarin.

Film ini diadaptasi dari buku novel berjudul sama, hasil karya Reda Gaudiamo yang dirilis dengan tiga judul, yaitu Na Willa: Serial Catatan Kemarin (2012), Na Willa dan Rumah dalam Gang (2018), serta Na Willa dan Hari-hari Ramai (2022).

Willa (Luisa Adreena) adalah seorang anak kecil yang belum masuk sekolah. Kesehariannya diisi dengan bermain bersama tiga temannya, yaitu Farida (Freya Mikhalya), Bud (Ibrahim Arsenio) dan Dul (Azami Syauqi). Mulai dari bermain kelereng, layangan, ayunan, hingga banyak mainan anak, selalu mengisi keseharian empat sekawan ini.

Hingga akhirnya Dul perlu masuk sekolah SD, yang diisi dengan banyak dasar Calistung dan PR-nya. Dul pun jarang ikut bermain, sehingga membuat Willa heran. Farida yang akan sekolah pun, sempat ditanya oleh Willa untuk masuk sekolah atau tidak. Menyusul Dul yang nantinya akan masuk sekolah juga.

Willa yang merasa kesepian, mulai gelisah. Bahkan sulit menerima keseharian dirinya yang kini kosong tanpa teman. Willa jadi rewel dan sering menangis, dan bahkan memicu kemarahan ibunya, Mak (Irma Novita Rihi). Mbok (Mbok Tun) memberi nasihat, bahwa Willa hanya merasa kesepian saja.

Nah, bagaimana dengan keseharian Willa yang semakin sepi saja? Sanggupkah Willa menerima kenyataan bahwa sekolah adalah tujuan berikutnya? Apakah perlu terus berdamai dengan perubahan yang tiba?

Jawabannya, tentu ada di sinema anak Indonesia.

09 Maret 2026

Mengenang Masakan Rumah Ala Ibu di Film Number One

 

Sosok anak dan ibu yang memasak bersama di dapur (TMDB).

Dan terakhir untuk film luar negeri menjelang Lebaran, adalah film yang sangat cocok untuk mengisi sisa Ramadhan ini. Judulnya adalah Number One, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating umur R13.

Sesuai judul artikel, film ini berkisah rasanya menyicipi masakan rumah, yang dibuat oleh ibu sendiri. Dari segi ini, apalagi di bulan Ramadhan yang diisi dengan sahur dan berbuka, tentu sering mengonsumsi banyaknya masakan ibu di rumah.

Empat Sehat Lima Sempurna

Karena mengacu pada masakan rumah, dan penulis tidak akan membahas tentang resep sahur dan berbuka puasa, maka ditelaah melalui konsep pola makan saja.

Menurut penelitian yang dilansir dari Antara, masakan rumah memiliki index gizi lebih tinggi. Secara konvensional, semakin makmur hidup seseorang, maka semakin sehat pula dirinya. Namun menurut penelitian di AS sana yang dijabarkan oleh Arpita Tiwari, justru hasilnya berbeda dengan konsep tersebut.

Penelitian mengikutsertakan 400 warga Seattle dalam pola makan harian, lalu mengeceknya melalui Indeks Makan Sehat (IMS), dan hasilnya ternyata cukup mencengangkan. Nominal IMS yang mencapai angka 80, adalah tingkatan gizi baik. Sementara IMS yang berada dibawah 50, berarti gizinya buruk.

Mengacu pada ibu hingga nenek yang memasak tiga kali seminggu di rumah, justru menunjukkan indeks kesehatan rata-rata 67. Sementara yang memasak enam kali seminggu, mencapai index kesehatan 74. Itu berarti, semakin sering memasak dan melahap makanan di rumah, dapat mencapai pola makan dan gizi yang lebih sehat.

Indeks kesehatan biasanya berkaitan dengan penghasilan, pendidikan, dan status sosial. Namun ketiga faktor tersebut tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan sederhana, yaitu memperbaiki pola makan sehat dengan secara rutin memasak di rumah.

Kembali ke Indonesia, dan seperti menurut Kementerian Kesehatan, konsep empat sehat lima sempurna diterapkan untuk menjaga pola makan bergizi dan sehat. Makanan pokok sebagai sumber karbohidrat, lauk-pauk sebagai sumber protein, buah dan sayur sebagai sumber vitamin dan mineral, serta meminum air putih yang cukup, adalah faktor empat sehat lima sempurna. 

Konsep ini ditambah pula dengan beraktifitas fisik minimal 30 menit sehari, dan mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir.

Nah, bagaimana dengan film Number One yang mengisahkan masakan ibu di rumah? Justru disitulah letak uniknya. Penulis sendiri tidak bisa menggambarkan banyak, karena genre selingan kehidupan (slice of life) memiliki khas drama tersendiri, yang hanya bisa diresapi saat langsung menontonnya. 

Sinopsis Film Number One

Film ini sebenarnya kerjasama antara Jepang dan Korea Selatan. Film diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, sementara naskahnya diadaptasi dari novel karya novelis Jepang bernama Sora Uwano, dengan judul The Number of Times You Can Eat Your Mother's Cooking is 328.

Ha-min (Choi Woo-shik) adalah seorang siswa berumur 18 tahun, yang tiba-tiba melihat angka imajiner lewat pandangannya. Setiap kali dia memakan masakan ibunya yang bernama Eun-sil (Jang Hye-jin), jumlah angka itu terus menurun. Hingga akhirnya angka tersebut mencapai nol, saat ibunya meninggal dunia.

Bertahun-tahun kemudian, belum ada yang tahu momen Ha-min saat melihat angka tersebut. Namun pacarnya yang bernama Ryeo-eun (Gong Seung-yeon), sempat bertanya apa yang membuatnya irit saat mengonsumsi makanan, bahkan saat keadaan pesta sekalipun. Ha-min terpaksa mulai berkisah, tentang kenangan lama sebelum ibunya meninggal.

Apakah Ha-min berhasil menguak apa dibalik maksud angka imajiner tersebut? Jawabannya tentu ada di pola makanan sehat ala sinema Indonesia.

Beruang Eksotis Ala Jackie Chan di Film Panda Plan: The Magical Tribe

 

Jackie dan Huhu yang senang lompat (TMDB).

Daaan, berikutnya adalah film remaja yang mengembalikan kemampuan aksi ala sepuh Jackie Chan, dalam film Panda Plan: Magical Tribe. Film yang akan tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran ini, memang memiliki rating R13.

Jackie Chan yang Akrobatik

Jika membahas film anak dan panda, tentu harus mengacu pada sang beruang anomali ini. Namun film Panda Plan lebih menggambarkan keahlian asli sang sepuh Jackie Chan, dengan gaya akrobatiknya. Jika ingin lebih menelaah tentang beruang hitam putih ini serta segala keanehannya, dapat dicek di artikel ini saja.

Cuplikan film pertamanya dari tahun 2024 saja, sudah cukup menarik. Jackie Chan disini berperan sebagai dirinya sendiri, alias aktor beladiri terkenal yang sudah sepuh. Bahkan, aksi gelut biasanya tidak keluar sama sekali, dan mengandalkan akrobatik situasional yang berujung komedi. 

Ya, film ini memang mengisi aksinya dengan gaya komedi yang khas sepuh beladiri dari China ini. Perlu diingat pula, bahwa Jackie Chan memang berlatar seorang pemain Opera Tradisional China, dan tidak memiliki latar beladiri. Sehingga cocok dengan aksi-komedi ini.

Di film Panda Plan pertama, Jackie sudah menjadi figur terkenal di China, dan tengah mengikuti sebuah acara pameran konservasi. Jackie pun digadang untuk mengadopsi seekor anak panda, yang akan dijaganya seumur hidup. Namun entah kenapa, terjadi serangan dari sekelompok kriminal, yang ingin menculik panda tersebut. Jackie dengan aksi khasnya, perlu melawan balik dengan kocak.

Nah di film keduanya bersub-judul Magical Tribe, diramaikan dengan bertualang di alam liar. Selain menyelamatkan Huhu sang panda kecil nan jinak, Jackie perlu melawan balik para suku pribumi di pedalaman. Gaya khas komedi-aksinya kembali, ala filmnya terdahulu. 

Tampaknya film Panda Plan ini mengacu pada satu film aksi Jackie Chan saat masih muda. Ya, judulnya adalah Who Am I? dari tahun 1998 lalu, saat Jackie memerankan tokoh yang hilang ingatannya, lalu tersesat di alam rimba Afrika, dan sempat diselamatkan oleh suku pribumi. 

Aksi gelutnya yang unik, ternyata cukup membuka lebar mata dunia. Banyak sineas perfilman hingga Hollywood, menghargai aksi ala Jackie Chan di film ini. Film Who Am I? memang dirilis bertepatan dengan Rush Hour di tahun yang sama, sehingga menambah pamor Jackie Chan di seantero dunia.

Okeh, bagaimana dengan kisah Huhu dan Jackie di film Panda Plan kedua ini?

Sinopsis Film Panda Plan: Magical Tribe

Jackie Chan kini tinggal bersama Huhu di dekat belantara hutan rimba. Namun, Huhu yang nakal malah melarikan diri menembus hutan. Hingga akhirnya kedua sahabat beda spesies ini tiba gerbang ajaib nan magis, tepat berada di pusat sebuah pohon tinggi.

Keduanya tiba di ranah rimba lain, yang dihuni banyak suku pribumi lokal. Akibat salah paham, Jackie dan Huhu harus berjibaku dengan suku pribumi, untuk menyelamatkan diri. 

Sebenarnya suku pribumi tidak bermaksud jahat sama sekali kepada Jackie dan Huhu. Mereka mengagungkan panda sebagai titisan dewa. Layaknya binatang yang dipuja, Huhu diterima sebagai mahluk yang sakti nan eksotis. Jackie pun bingung, karena harus bergelut dengan kerasnya kepala para warga pribumi, sekaligus mencari cara untuk keluar dari hutan rimba.

Bagaimana aksi berikutnya bagi Jackie yang sudah sepuh dan berumur 71 tahun ini? Tentu jawabannya ada di konservasi sinema ala Indonesia.

Animasi Binatang Buas nan Lucu di Film Hoppers

 

Mabel yang merasa berang (IMDB).

Berikutnya adalah kombinasi tiga film untuk anak dan remaja dari luar negeri sana, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang. Judul pertama adalah Hoppers, yaitu animasi untuk anak-anak karena memiliki rating Semua Umur (SU). 

Hoppers yang diproduksi oleh Disney dan Pixar ini tampaknya aman untuk ditonton dan dikonsumsi, tanpa ada istilah aneh ala Jomok dan Boti, yang kini sedang ramai sebagai meme di Inet.

Penelitian Hewan Antromorfik

Daripada membahas yang tidak-tidak, maka cek bagaimana film ini menyajikan satu topik penting dalam masalah lingkungan alam. Tentu, anak hingga dewasa perlu mengerti tentang pentingnya alam liar, serta siklus ekosistemnya. Seperti disajikan dalam artikel sebelumnya di SpongeBob, anak bisa dikenalkan dan diberi imajinasi berlebih, tanpa perlu menggurui. Media film seperti ini cocok agar anak lebih mudah terpapar wacana melindungi alam.

Film ini (tampaknya) mengacu pada penelitian yang dilaksanakan oleh banyak ilmuwan saat ini. Terlihat di cuplikannya, seorang remaja berhasil memasukkkan isi kesadarannya, pada seekor robot berang-berang. Sebenarnya penelitian seperti ini sudah sering dilaksanakan, tentunya tanpa metode fantastis semacam ini.

Banyak ilmuwan saat ini menggunakan robot atau boneka, yang disimpan di sekitar sarang hewan liar. Contoh paling kentaranya adalah robot primata (gorila dan simpanse) atau monyet, yang didekatkan dengan bayi atau anak hewan targetnya. Dalam boneka tersembunyi pula kamera perekam, yang terhubung jarak jauh dengan peneliti. Tujuannya adalah mengecek interaksi sosial antara kawanan hewan, dengan benda yang memiliki bentuk dan bergerak mirip mereka.

Kawanan hewan cukup tertarik, dan berinteraksi dengan boneka tersebut. Apalagi dari sudut pandang anak-anak, maka hewan mengganggap boneka sebagai bagian dari kawanan. Boneka memang hanya sedikit bergerak, tanpa banyak memberi respon kepada kawanan hewan. Namun, para hewan masih santai dalam menanggapinya.

Sesuai dengan tujuan penelitian, boneka hewan antromorfik ini memang didesain untuk memicu emosi hewan yang ditargetnya. Karena itu, penerimaan hewan pada boneka, bisa dianggap sebagai pemicu emosional. Hewan akan penasaran, menerima, dan berlaku baik pada anggota yang belum mereka kenal, asal masih berusia anak-anak.

Bahkan pada akhir penelitian, saat boneka telah kehabisan baterai dan berhenti bergerak, muncul sisi emosional lain dari para hewan. Banyak hewan anak-anak hingga dewasa, mengerumuni boneka tersebut. Mereka menganggap boneka telah meninggal, dan ikut berkabung. Walau mereka masih heran siapa boneka tersebut, namun sisi emosional terlihat kentara dalam rekaman penelitian. 

Hewan dengan tingkat sosial yang kompleks, memiliki sisi emosional yang tinggi pula. Penelitian dianggap berhasil, dengan mengacu pada sisi hewaniah, yang ternyata sangat mendalam dari segi kekerabatan dan emosi kawanannya.

Bagi yang perlu referensi semacam ini, dapat ditonton di berbagai kanal YouTube mengenai kisah hewan dan robotnya. Konten yang pernah penulis tonton di berbagai kanal sains, diantaranya adalah gorilla, simpanse, dan monyet.

Nah, bagaimana film Hoppers ini menggambarkan penelitian tersebut? Tentu lebih fantastis dengan gambar animasi yang lebih ciamik, ala karya Disney dan Pixar.

Sinopsis Film Hoppers

Mabel (Piper Curda) adalah seorang remaja yang sangat menyukai hewan. Saking menyukainya, dia selalu membawa boneka robot berang-berang miliknya, dimana pun berada. 

Suatu hari, profesor Dr. Sam (Kathy Najimi) sebagai dosennya, meminta Mabel untuk mengikuti sebuah eksperimen. Dr. Sam mencoba memasukkan kesadaran manusia ke dalam robot. Tujuannya adalah meneliti langsung kawanan hewan di alam liar, tanpa perlu bersusah payah menyelinap dan memakai kostum binatang.

Penelitian pun berhasil, sehingga Mabel bisa pergi ke alam liar, dan langsung diterima sebagai bagian dari mereka. Tidak hanya berbentuk berang-berang, Mabel ternyata sanggup memahami bahasa para binatang.

Hingga suatu masalah terjadi, akibat pengembangan lahan di sekitar lingkungan alamnya. Mabel dan banyak kawanan binatang, tidak rela rumah mereka tergusur oleh manusia. Mabel berinisiatif untuk melawan balik, yang diterima tidak baik oleh para sesepuh binatang. Mereka akan membasmi para manusia, dengan berbagai cara. Mabel pun panik, dan mencari jalur damai bagi kedua pihak.

Sanggupkah Mabel menyelamatkan manusia dan binatang sekaligus? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.

05 Maret 2026

Anehnya Imajinasi Ala SpongeBob SquarePants

 

Imajinasi ala SpongeBob (Reddit).

Monsterisasi kali ini, lebih mengacu pada blog ini, yaitu rasanya berimajinasi ala SpongeBob SquarePants. Bagi penggemarnya, perlu mengingat episode 'Idiot Box' alias 'Kotak Idiot.' Walau begitu, terdapat pula satu episode lain yang akan dibahas, yaitu berjudul 'Band Geeks' alias 'Band Kutu Buku.' 

Nantinya dibahas bahwa keduanya cukup nyambung, ala konsep Blog dan sedikit penggambaran dunia konten saat ini. Oh ya, artikel ini memang ditulis karena sempat dijanjikan saat merekomendasi film SpongeBob terbaru, Januari lalu. Yah, daripada acak dan mengacu ke sains, lebih baik dari segi yang mudah dikenal oleh penonton saja.

Imajinasi Liar Ala SpongeBob

Bagi yang perlu mengingatnya, akan diutarakan sedikit cerita dalam episode 'Kotak Idiot' ini. Squidward Tentacles (Roger Bumpass) sedang kesal akibat SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) dan Patrick Star (Bill Fagerbakke) tengah ramai bermain di sekitar rumahnya. Namun, yang terdengar cukup aneh, bahkan epik, sesuai dengan apa yang sedang dimainkan keduanya didalam sebuah kotak kardus biasa.

Saking herannya, Squidward beberapa kali menciduk apa yang dimainkan oleh kedua tetangganya itu, namun hasilnya nihil. Lalu, SpongeBob menjelaskan bagaimana cara kerjanya. Yaitu sederhana saja, yaitu dengan 'imajinasi' saja. 

Seperti biasa dalam episode SpongeBob SquarePants, akhir cerita selalu bodor, apalagi jika terdapat karakter Squidward didalamnya. Namun, bukan kekonyolan itu yang dimaksud penulis. 

Sementara Squidward yang berhasil masuk kedalam kotak, lalu mulai ikut bermain imajinasi, gagal saat ikut memainkannya. Namun Squidward tetap heran, karena kisah 'bajak laut' didalam kotak, malah semakin terdengar epik, hingga malam hari.

Maksudnya adalah penjelasan proses imajinasi diutarakan oleh para pemain dan yang menontonnya. Layaknya permainan anak, yaitu kucing-kucingan, anak bisa berimajinasi ala kucing saling mengejar, atau anjing vs kucing, atau dinosaurus vs para penyintas. Walau mekanik permainannya tetap sama, tetapi imajinasi dapat menambah hebohnya mainan tersebut.

Perlu diingat pula, bagaimana proses imajinasi bisa dilaksanakan sebagai bahan pembelajaran. Penulis yang memang berlatar linguistik dan sastra, sempat belajar mengenai proses imajinasi menggunakan format Essay. 

Guru menulis kalimat awal di papan tulis saat di kelas, lalu meminta siswa untuk melanjutkan kalimatnya sendiri. Lalu siswa berikutnya, akan menulis kelanjutan cerita, sesuai dengan minat mereka. Hingga akhirnya terbentuk sebuah paragraf, maka proses imajinasi setiap siswa dapat menambah keanehan, kehebohan, atau perbedaan sudut pandang setiap siswa. Layaknya, permainan seperti ini dalam proses pembelajaran, adalah proses untuk menumbuhkan imajinasi para siswa, daripada hanya berkutat pada EYD dan Tata Bahasa.

Justru disitulah anehnya episode ini. Squidward adalah seorang musisi yang cukup dikenal. Walau sering disepelekan akibat permainan klarinetnya yang sumbang, namun tetap dikenal sebagai seniman serba bisa. Nah, bagaimana jika Squidward mulai menggunakan instrumen yang sesuai dengan keahliannya?

Kemenangan yang Indah ala Squidward

Dalam sub-artikel ini, akan mengacu pada episode lainnya berjudul 'Band Geeks.' Justru dalam episode kali ini, Squidward memang pantas menang. Berbeda dengan banyak kesialan ala dirinya, Squidward memang perlu menang dalam episode ini.

Bagi yang agak lupa, tentu perlu mengingat episode saat Squidward ditantang oleh Squilliam Fancyson (Dee Bradley Baker), untuk mengisi band saat Super Bowl berlangsung di permukaan (alias darat). Squidward yang emosional, tentu langsung menyetujui tantangan tersebut.

Squidward lalu melatih banyak warga Bikini Bottom, agar segera siap dalam konser tersebut. Namun seperti biasa, malah kekacauan yang terjadi. Squidward pun menyerah, dan membiarkan mukanya semakin malu saja. SpongeBob akhirnya berinisiatif, agar menyatukan seluruh anggota band, dan membantu Squidward hingga berhasil.

Nah, contohnya memang agak berbeda. Layaknya permainan essay sebelumnya, perbedaan imajinasi dan kemampuan para siswa, tentu akan merubah arah cerita essay tersebut. Layaknya permainan imajinasi, tetap menyatu sama lainnya, alias menjadi karakter tersendiri. Apalagi dibawakan ringan, dengan maksud belajar sesuatu dibaliknya. Yaitu, kerjasama dan ekspresi pribadi, melalui media imajinasi dan format essay di papan tulis.

Mirip dengan keadaan Squidward dan warga Bikini Bottom, satu grup ini perlu saling memahami, untuk mencapai tujuan konser. Setiap anggota memainkan instrumen berbeda, sementara Squidward berperan sebagai pelatih serta dirijen di depannya. Satu kesatuan dengan perbedaan inilah, yang berhasil menciptakan satu alunan lagu, yang tentu enak didengar atau aneh sekaligus.

Di akhir episode memang terdengar alunan lagu 'Sweet Victory' hasil karya David Gen Eisley dan Bob Kulick. Terdengar indah, yaitu sebuah momen Squidward yang bisa sumringah, dan menang besar. Ya, Squidward adalah seniman berbakat dalam segi instrumen musik, yang dibantu oleh warga Bikini Bottom.

Squidward yang sumringah (Reddit).

Sedikit Kisah Bonus dari Sandy Squirrel

Ada sedikit referensi menarik di akhir artikel ini, yaitu mengenai Sandy Squirrel. Karena penulis agak iseng, dan kurang bisa diangkat dalam satu artikel, maka dijabarkan disini saja.

Sandy Squirrel (Carolyn Lawrence) adalah seorang tupai dari darat sana, yang entah kenapa tinggal dibawah laut. Sandy berteman dekat dengan SpongeBob dan Patrick, walau keduanya kurang dapat menanggapinya. Sandy memang bekerja sebagai seorang ilmuwan, yang tentu aneh di Bikini Bottom.

Sandy yang tidak memiliki insang layaknya ikan, sehingga perlu mengenakan baju selam untuk bernapas dalam air. Tidak hanya itu, Sandy tinggal dalam kubah berisi udara, lengkap dengan oksigen sesuai kebutuhannya.

Nah, Sandy memang cukup isekai, namun ternyata penggambarannya cukup sesuai. Bagi yang belum tahu, NASA sebagai organisasi antariksa dunia, sering melaksanakan eksperimen dibawah laut. Eksperimen ini dilaksanakan sebagai simulasi antariksa. Baju selam Sandy pun terlihat seperti seorang kosmonot (atau astronot), daripada standar saat ini. Pekerjaan dirinya sebagai ilmuwan, semakin menguatkan penggambaran dirinya sebagai simbol dari NASA.

Sandy seperti ini, tentu sesuai dengan cara mendiang Stephen Hillenburg, seorang ahli biologi lautan, yang menggambarkan setiap karakter di Bikini Bottom, dengan referensi sainsnya. Ya, seorang ilmuwan dengan banyak bakat ilmunya, dapat menciptakan banyak cerita humor nan bodor, walau tetap mendidik tanpa perlu langsung menggurui.

Okeh, Ciao.

Sandy Squirrel yang berbeda (Reddit).

Memahami Tony Stark Saat Melawan Ultron dalam Film Avengers: Age of Ultron

 

Ultron yang aselinya GG (Wiki).

Okeh, menyambut banyak topik berita selama beberapa minggu terakhir, yang tidak jelas membawa ke arah mana dunia ini, maka coba kita cek secara simbolis saja. Penulis tidak akan eksplisit dalam menjabarkan berita yang mana, namun simbolis dengan mengangkat film lama yang cocok, berjudul Avengers: Age of Ultron (2015). 

Jujur saja, Age of Ultron bukan satu favorit penulis, apalagi jika dibandingkan seri Avengers, atau standar film Marvel lain. Namun, demi minat dan kepentingan artikel Monsterisasi, maka penulis mencoba untuk mengangkat film ini sebagai simbol dari suatu bentuk kekisruhan dunia.

Tony Stark dan J.A.R.V.I.S. di Marvel Cinematic Universe

Tentu para penggemar komik Marvel telah paham, bahwa rata-rata karakter di MCU telah di-nerf alias dilemahkan daripada versi komiknya. Melemahnya karakter sesuai dengan perkembangan awal karakter, sekaligus kebutuhan cerita dan plot filmnya.

Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang memulai ini semua dalam film Iron Man (2008), justru memiliki andil tersendiri. Tidak hanya memulai kisah MCU, namun menjadi asal-muasal banyak kisruhnya dunia. Sebelum membahas bagaimana Tony menciptakan Ultron, maka perlu dibahas saat Stark masih berkecimpung bersama J.A.R.V.I.S. Bahkan sebelumnya, saat Stark masih bermasalah sebagai broker persenjataan dunia.

Bagi yang ingat, tentu paham se-cunihin apa Stark ini. Dengan statusnya sebagai biolioner, Stark terkenal di dunia Marvel sebagai teknokrat dan penyuplai senjata kepada AS. Hingga suatu momen bersejarah merubah pandangan dirinya, saat Stark tersandera akibat serangan bom di Timur Tengah sana. Disana, dia berhasil membuat baju zirah Iron Man, hanya dengan sisa teknologi saja.

Di banyak film berikutnya, yaitu film Iron Man 2 (2010) dan Iron Man 3 (2013), lalu Avengers (2012) dan Age of Ultron (2015), Stark selalu bertingkah ala pria yang ingin tobat, walau masih perlente. Dengan berhasil menciptakan reaktor energi tanpa batas bernama Arc, Stark mengalihkan fungsi perusahaannya menjadi konversi energi bagi dunia. Suplai persenjataan pun dihentikan, sekaligus dengan terbuka mencanangkan diri sebagai Iron Man.

Di banyak latar cerita pula, akhirnya terbuka se-jenius dan se-paranoid apa sebenarnya Stark. Banyak konten hingga meme di Inet, yang menjabarkan bahwa Stark selalu merubah kesalahan dia di film sebelumnya, lalu memperbaruinya di film terbaru. 

Nah, selama Stark mengoprek seluruh keahliannya, dia dibantu oleh sejenis asisten AI bernama J.A.R.V.I.S. atau sebut saja sebagai Jarvis (Paul Bettany). AI ini memiliki nada suara yang lembut, alias soft-spoken. Suaranya yang netral, cocok sebagai mitra keseharian yang damai, daripada Pepper Potts (Gwyneth Paltrow). 

Jarvis inilah yang menjadi asal muasal Ultron, yang akan dibahas menyeluruh dalam artikel ini. Sekaligus, terciptanya Vision sebagai avatar yang lebih cocok dari Jarvis.

Vision dan Ultron

Ultron (James Spader) adalah sejenis AI yang diciptakan oleh Stark, namun hanya menerima banyak masalah saja. Ultron diciptakan sebagai kebalikan dari Jarvis, yang lebih mengacu ke persenjataan. Namun seperti kebanyakan film AI yang terlalu adaptif, Ultron pun belajar bahwa manusia-lah yang perlu dibasmi (?). 

Masalah pun semakin berkembang saat Ultron berhasil merebut Mind Stone, yaitu bagian dari Infinity Stones yang tidak terelakkan kemampuannya. Untungnya lagi, tubuh robot dan Mind Stone berhasil direbut kembali oleh Avengers, sehingga Jarvis sebagai AI yang lebih stabil, dapat terunggah. Terciptalah Vision (Paul Bettany) berbahan Vibranium, yang sangat kuat dan mampu menanggulangi apapun juga (selain Thanos). 

Nah, bagaimana dengan maksud artikel ini yang kentara penggambaran antara Stark dan Ultron? Justru disitulah letak uniknya. Penulis perlu mengacu sekuat apa sebenarnya Ultron, apalagi jika dibandingkan versi komiknya.

Di komiknya, Ultron bukan hanya ancaman tingkat Avengers, melainkan tingkatan galaksi. Ultron dalam komik sebenarnya diciptakan oleh Henry 'Hank' Pym (Michael Douglas), yang dikenal dalam MCU sebagai pencipta Ant Man dan portal Quantum Realm. Namun di komik, Pym dikenal sebagai 'wild card' alias 'semi-villain' alias kacau balau. Walau sempat bergabung dengan Avengers, Pym memiliki sejarah kekerasan yang parah, serta ciptaannya sering mengancam bumi.

Ultron dalam komik, seharusnya hanya dapat ditanggulangi oleh Vision, Captain Marvel (Brie Larson), dan Guardian of Galaxy sekaligus. Kemampuan Ultron untuk menyusup ke dalam teknologi apapun, dapat mengancam bumi dan bahkan luar angkasa. Ultron yang diciptakan pada tahun 1968 lalu di komik, bisa jadi referensi awal Skynet di seri Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019).

Namun, mengapa tokoh antagonis sekuat Ultron hanya menciptakan arena duel saja di negara fiktif Sokovia, ala MCU?

Tony Stark sebagai Ultron

Penulis tidak ingin menggambarkan Age of Ultron sebagai film yang mengangkat plot dan mengenalkan karakter baru saja. Memang, terdapat karakter seperti Vision, Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) yang baru dikenalkan. 

Namun, penulis menelaahnya dari segi psikologis penciptanya sendiri, yaitu Stark. Seorang mekanik eksentrik ini memang memiliki sisi paranoid, yang membuatnya terus menciptakan kreasi baru. Khususnya, Stark seringkali membuat baju zirah Iron Man terbaru, demi menambah kemampuan apapun. Bahkan di Avengers: Infinity War (2018), Stark berhasil memakai Iron Man dengan teknologi Nano.

Sayangnya, sisi mental Stark memang belum pernah sembuh sama sekali, sejak dulu. Diawali dengan piatu, saat dirinya kehilangan ibu, lalu ayahnya sendiri hingga yatim piatu. Stark adalah seorang penyendiri sejati. Lebih parah lagi, selama berkarir di Stark Industries, dengan bangganya Stark menyuplai inovasi senjata bagi AS, melalui Jenderal Ross (William Hurt, Harrison Ford). Alias, Make America Great Again.

Sisi gelap selama banyak dekade, telah merusak mental Stark sebagai seorang pria. Sisi perlente, sok narsis dan percaya diri berlebihan Stark adalah kedok saja, karena selama ini kurang percaya dengan dirinya sendiri, apalagi dunia di sekitarnya. Bisa disebut, selain Captain America (Chris Evans), hanya Stark-lah yang secara terbuka mengenai identitas pahlawan supernya. Itupun semacam persona baru, yang telah lama bersalah dengan banyak operasi oleh AS. 

Nah, apa hubungannya dengan Ultron? Disitulah letak berbahayanya. Ultron adalah penjelmaan sisi kelam dan negatif dari Stark. Karena berfungsi sebagai robot AI persenjataan, Ultron sebenarnya dapat dikendalikan dengan lebih tepat. Namun, sisi gelap Stark tercampur dalam fungsi Ultron, dan menyebabkannya kurang terkontrol.

Lalu, bagaimana dengan Sokovia? Disitu pula letak kelemahan lain dari Stark. Ultron masih memiliki sisi Narsistik ala Stark, yang menyebabkan dia membuat arena khusus di Sokovia. Setelah gagal menciptakan tubuh baru dengan Mind Stone, sisi tidak mau kalah meruak muncul. Ultron hanya menciptakan banyak robot baru (yang tidak setara dirinya), lalu mengirimkan ke Sokovia sebagai pusat penelitian Hydra, lalu menantang bertarung dengan Avengers.

Ultron memang diciptakan demi menanggulangi tingkat ancaman Avengers, namun sisi tidak mau kalah Stark, berarti disalah-artikan sebagai kompetisi saja. Kisah seperti ini, mirip dengan sisi lain Batman dari DC Comics. Batman memiliki sejenis fail-safe, demi menghalau seluruh anggota Justice League yang memberontak. Dengan mengalahkan Avengers, maka Bumi dapat diamankan oleh dirinya saja. 

Jika Ultron berhasil mendapatkan Mind Stone, maka dirinya mungkin menerima semacam 'wangsit' lainnya. Contohnya adalah kedatangan Thanos, Galactus, dan banyak mahluk antar-dimensi yang mengancam bumi. 

Layaknya Ultron adalah penggambaran lain, dari sisi Dr. Doom di Fantastic Four. Walau berperan sebagai antagonis utama, namun Dr. Doom sangat ingin melindungi Bumi. Memang terlalu totalitarian, namun Dr. Doom di komik sampai berhasil membangun sebuah negara, yang khusus ditujukan demi menghalau ancaman bagi Bumi dari pihak luar angkasa.

Nah, karena itulah sebelum Doomsday akhirnya tiba, dan Robert Downey Jr. yang membuka wajahnya saat Comic-Con 2024 lalu sebagai Dr. Doom, hype dari film Doomsday semakin menggila. Apalagi, dari penggemar MCU yang sudah sangat paham mengenai sisi karakter ini. 

Ya, Ultron memang seharusnya menjadi seorang antagonis yang pintar, dan bukannya bertindak pecicilan ala Stark.

Okeh, tampaknya perlu diakhiri dengan meme terkenal saja dari YouTube. 

Doomsday is Coming.

Doomsday is Coming (Reddit).