![]() |
| Pelangi yang menemukan makanan kaleng (TMDB). |
Tibalah film Epik nan GG dengan efek spesialnya, berjudul Pelangi di Mars, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang di sinema Indonesia. Sesuai judulnya, Pelangi di Mars adalah hasil karya sineas perfilman Indonesia, yaitu Mahakarya. Film ini berating Semua Umur (SU), sehingga cocok sebagai lahan untuk berlibur bersama anak.
Produksi Film Pelangi di Mars
Mahakarya berwacana pada tahun 2020 lalu, untuk mengembalikan imajinasi anak Indonesia. Mereka berpendapat, anak seharusnya bercita-cita yang tinggi, yaitu ilmuwan atau astronot. Mereka sebagai sineas perfilman, mendukungnya dengan memberi imajinasi. Teknologi yang diterapkan untuk memproduksi film ini pun hibrida, yaitu antara motion capture dengan virtual production, alias Extended Reality (XR).
Mahakarya memulai langkah pertamanya di tahun 2021 lalu, dengan membangun infrastruktur produksi filmnya. Maksudnya, Mahakarya akan menjadi pionir di Indonesia dalam menyiapkan teknologi perfilman ala XR. Dengan begitu, produksi film sejenis ini dari Indonesia, dapat dipermudah oleh mereka, baik itu dari Mahakarya atau studio lainnya.
Mahakarya tidak membatasi kerjasamanya dengan pihak luar pula. Tokoh utama film Pelangi di Mars memang berasal dari Indonesia, namun digadang untuk memimpin para robotnya, yang berasal dari India, hingga Korea Selatan.
Di tahun 2021, Mahakarya mulai menulis naskah filmnya, bersama Penelitian dan Pengembangan (LitBang) yang dibutuhkan. Tahun berikutnya (2022), Mahakarya berhasil membuat portofolio untuk film Pelangi di Mars, yang berdurasi pendek. Sekaligus di tahun ini, didirikan pula studio DossGuavaXR Studios, yang memulai pengembangan aset 3D untuk film Pelangi di Mars. Sementara di tahun 2023, banyak anggota tim direkrut untuk bertanggung jawab selama produksi.
Di tahun 2024, produksi film akhirnya bisa dimulai dengan selesainya naskah. Seluruh tim telah lengkap, lalu memulai syuting dengan teknologi Motion Capture dan XR. Uniknya di tahun ini, Mahakarya sempat merilis gim simulasi Pelangi di Mars dalam portal Roblox, yang bisa dimainkan langsung. Bahkan, teknologi hibrida ini berhasil menyisipkan foto yang berasal dari Mars Orbiter Camera (MOC), ke dalam adegan film. Foto yang dimaksud, adalah hasil potret kamera satelit di Mars, yang berhasil terkirimkan ke bumi.
Tahun 2025 adalah saat Mahakarya memulai hype-nya, dengan merilis banyak karakter Pelangi di Mars dalam sistusnya, serta cuplikan yang masih berupa teaser, lengkap dengan posternya. Tahun ini adalah momen produksi final bagi Pelangi di Mars, dengan memasukkan dan membersihkan audio, serta memperbaiki dan memperbarui setiap adegan film.
'Untuk menemukan warna di tempat yang paling sulit menemukannya, yaitu Pelangi di Mars' - Slogan dari Upie Guava, sutradara Pelangi di Mars.
Polusi Air di Planet Bumi
Plot utama dalam film Pelangi di Mars, adalah tokoh utama bernama Pelangi (Messi Gusti), yang harus menemukan Zeolit Omega, demi membersihkan polutan air di Planet Bumi. Mengacu pada wacana ini, tampaknya perlu ditelaah dari segi sainsnya.
Seperti dilansir dari Mertani, perubahan iklim mengakibatkan polusi air, dengan banyak perubahan di dalam ekosistemnya. Pertama, adalah naiknya suhu air yang berdampak pada organisme air. Ikan, ganggang, dan plankton butuh suhu air yang tepat, baik itu di sungai, danau, dan laut. Selain itu, meningkatnya suhu dapat mengurangi ketersediaan air tanah yang digunakan oleh manusia, hewan, dan tanaman di sekitarnya.
Kedua adalah tingkat oksidasi polutan dalam air, yang semakin meninggi pada logam berat dan bahan kimia berbahaya. Kualitas air yang buruk, berdampak pada tercemarnya air minum serta rantai makanannya, yang berbahaya bagi manusia serta organisme lainnya, serta merusak lingkungan alam di sekitarnya.
Ketiga adalah kualitas air laut yang memburuk, dengan tingginya asam laut. Asam laut tercipta akibat banyaknya zat karbon dari atmosfer, yang terserap ke dalam lautan. Asam laut dapat merusak terumbu karang, yang penting bagi ekosistem laut, lalu seluruh organisme akan terganggu pula keragaman hayatinya.
Seluruh dampak tersebut berarti menyebabkan langkanya air bersih, sehingga berpengaruh pada pasokan air untuk keperluan manusia, pertanian, dan industri. Masalah ini berujung keamanan air, yang dapat membentuk konflik akibat wacana berkelanjutan lingkungan hidup di masing-masing daerah.
Nah, dengan penjelasan seperti itu, bagaimana cara film Pelangi di Mars dalam menggambarkannya?
Sinopsis Film Pelangi di Mars
Pelangi (Messi Gusti) adalah anak berkebangsaan Indonesia, yang lahir dan tumbuh untuk pertama kalinya dalam sejarah, di planet Mars. Pelangi tinggal di Mars demi melanjutkan misi bersama ibunya, Pratiwi (Lutesha). Keduanya berencana untuk menemukan mineral langka bernama Zeolit Omega, yang dapat membantu manusia di Bumi dalam membersihkan zat polutan dalam air.
Namun dalam perjalanannya, selama ini Pelangi hanya dibantu oleh banyak robot kenalannya. Kelima teman robotnya yang setia, adalah Petya (Gilang Dirga), Yoman (Kristo Imanuel), Batik (Bimo Kusumo), Kimchi (Canya Cinta Rivani), dan Sulil (Dimitri Arditya Hardjana).
Tidak ada sosok sang ayah, Banyu (Rio Dewanto) dan ibunya Pratiwi untuk melindunginya. Tidak hanya lokasi planet Mars yang memang berbahaya, namun tibanya perusahaan Nerotek semakin mempersulit misinya. Nerotek adalah perusahaan monopoli dagang air di Bumi, yang tidak ingin mineral ini ditemukan dan berhasil menyelamatkan bumi.
Sanggupkah Pelangi menemukan Zeolit Omega? Kemanakah gerangan ayah dan ibunya selama ini? Apakah mineral langka di Mars ini memang seampuh itu dalam membantu membersihkan zat polutan dalam air di planet Bumi?
Jawabannya, tentu ada di petualangan epik anak Indonesia ala sinema.



















