Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2026

Epiknya Efek GG Ala Indonesia saat Libur Lebaran dalam Film Pelangi di Mars

 

Pelangi yang menemukan makanan kaleng (TMDB).

Tibalah film Epik nan GG dengan efek spesialnya, berjudul Pelangi di Mars, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang di sinema Indonesia. Sesuai judulnya, Pelangi di Mars adalah hasil karya sineas perfilman Indonesia, yaitu Mahakarya. Film ini berating Semua Umur (SU), sehingga cocok sebagai lahan untuk berlibur bersama anak.

Produksi Film Pelangi di Mars

Mahakarya berwacana pada tahun 2020 lalu, untuk mengembalikan imajinasi anak Indonesia. Mereka berpendapat, anak seharusnya bercita-cita yang tinggi, yaitu ilmuwan atau astronot. Mereka sebagai sineas perfilman, mendukungnya dengan memberi imajinasi. Teknologi yang diterapkan untuk memproduksi film ini pun hibrida, yaitu antara motion capture dengan virtual production, alias Extended Reality (XR).

Mahakarya memulai langkah pertamanya di tahun 2021 lalu, dengan membangun infrastruktur produksi filmnya. Maksudnya, Mahakarya akan menjadi pionir di Indonesia dalam menyiapkan teknologi perfilman ala XR. Dengan begitu, produksi film sejenis ini dari Indonesia, dapat dipermudah oleh mereka, baik itu dari Mahakarya atau studio lainnya. 

Mahakarya tidak membatasi kerjasamanya dengan pihak luar pula. Tokoh utama film Pelangi di Mars memang berasal dari Indonesia, namun digadang untuk memimpin para robotnya, yang berasal dari India, hingga Korea Selatan.

Di tahun 2021, Mahakarya mulai menulis naskah filmnya, bersama Penelitian dan Pengembangan (LitBang) yang dibutuhkan. Tahun berikutnya (2022), Mahakarya berhasil membuat portofolio untuk film Pelangi di Mars, yang berdurasi pendek. Sekaligus di tahun ini, didirikan pula studio DossGuavaXR Studios, yang memulai pengembangan aset 3D untuk film Pelangi di Mars. Sementara di tahun 2023, banyak anggota tim direkrut untuk bertanggung jawab selama produksi.

Di tahun 2024, produksi film akhirnya bisa dimulai dengan selesainya naskah. Seluruh tim telah lengkap, lalu memulai syuting dengan teknologi Motion Capture dan XR. Uniknya di tahun ini, Mahakarya sempat merilis gim simulasi Pelangi di Mars dalam portal Roblox, yang bisa dimainkan langsung. Bahkan, teknologi hibrida ini berhasil menyisipkan foto yang berasal dari Mars Orbiter Camera (MOC), ke dalam adegan film. Foto yang dimaksud, adalah hasil potret kamera satelit di Mars, yang berhasil terkirimkan ke bumi.

Tahun 2025 adalah saat Mahakarya memulai hype-nya, dengan merilis banyak karakter Pelangi di Mars dalam sistusnya, serta cuplikan yang masih berupa teaser, lengkap dengan posternya. Tahun ini adalah momen produksi final bagi Pelangi di Mars, dengan memasukkan dan membersihkan audio, serta memperbaiki dan memperbarui setiap adegan film. 

'Untuk menemukan warna di tempat yang paling sulit menemukannya, yaitu Pelangi di Mars' - Slogan dari Upie Guava, sutradara Pelangi di Mars.

Polusi Air di Planet Bumi

Plot utama dalam film Pelangi di Mars, adalah tokoh utama bernama Pelangi (Messi Gusti), yang harus menemukan Zeolit Omega, demi membersihkan polutan air di Planet Bumi. Mengacu pada wacana ini, tampaknya perlu ditelaah dari segi sainsnya. 

Seperti dilansir dari Mertani, perubahan iklim mengakibatkan polusi air, dengan banyak perubahan di dalam ekosistemnya. Pertama, adalah naiknya suhu air yang berdampak pada organisme air. Ikan, ganggang, dan plankton butuh suhu air yang tepat, baik itu di sungai, danau, dan laut. Selain itu, meningkatnya suhu dapat mengurangi ketersediaan air tanah yang digunakan oleh manusia, hewan, dan tanaman di sekitarnya.

Kedua adalah tingkat oksidasi polutan dalam air, yang semakin meninggi pada logam berat dan bahan kimia berbahaya. Kualitas air yang buruk, berdampak pada tercemarnya air minum serta rantai makanannya, yang berbahaya bagi manusia serta organisme lainnya, serta merusak lingkungan alam di sekitarnya.

Ketiga adalah kualitas air laut yang memburuk, dengan tingginya asam laut. Asam laut tercipta akibat banyaknya zat karbon dari atmosfer, yang terserap ke dalam lautan. Asam laut dapat merusak terumbu karang, yang penting bagi ekosistem laut, lalu seluruh organisme akan terganggu pula keragaman hayatinya.

Seluruh dampak tersebut berarti menyebabkan langkanya air bersih, sehingga berpengaruh pada pasokan air untuk keperluan manusia, pertanian, dan industri. Masalah ini berujung keamanan air, yang dapat membentuk konflik akibat wacana berkelanjutan lingkungan hidup di masing-masing daerah.

Nah, dengan penjelasan seperti itu, bagaimana cara film Pelangi di Mars dalam menggambarkannya?

Sinopsis Film Pelangi di Mars

Pelangi (Messi Gusti) adalah anak berkebangsaan Indonesia, yang lahir dan tumbuh untuk pertama kalinya dalam sejarah, di planet Mars. Pelangi tinggal di Mars demi melanjutkan misi bersama ibunya, Pratiwi (Lutesha). Keduanya berencana untuk menemukan mineral langka bernama Zeolit Omega, yang dapat membantu manusia di Bumi dalam membersihkan zat polutan dalam air.

Namun dalam perjalanannya, selama ini Pelangi hanya dibantu oleh banyak robot kenalannya. Kelima teman robotnya yang setia, adalah Petya (Gilang Dirga), Yoman (Kristo Imanuel), Batik (Bimo Kusumo), Kimchi (Canya Cinta Rivani), dan Sulil (Dimitri Arditya Hardjana).

Tidak ada sosok sang ayah, Banyu (Rio Dewanto) dan ibunya Pratiwi untuk melindunginya. Tidak hanya lokasi planet Mars yang memang berbahaya, namun tibanya perusahaan Nerotek semakin mempersulit misinya. Nerotek adalah perusahaan monopoli dagang air di Bumi, yang tidak ingin mineral ini ditemukan dan berhasil menyelamatkan bumi.

Sanggupkah Pelangi menemukan Zeolit Omega? Kemanakah gerangan ayah dan ibunya selama ini? Apakah mineral langka di Mars ini memang seampuh itu dalam membantu membersihkan zat polutan dalam air di planet Bumi?

Jawabannya, tentu ada di petualangan epik anak Indonesia ala sinema.

Sulitnya Menjaga Bisnis Keluarga Ala Film Senin Harga Naik

 

Toko Roti Mercusuar yang masih buka (TMDB).

Naaah, film terakhir mengenai slice of life ini, berjudul Senin Harga Naik, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Seperti diutarakan sebelumnya, film ini kelanjutan yang multiversal, alias berbeda film tetapi saling mengisi satu sama lainnya. 

Ya, film ini berkisah perlunya melanjutkan karir atau berhenti di bisnis keluarga. Animo yang mirip dengan tokoh film sebelumnya, yang memilih menjadi Kang Mie Ayam daripada menjadi pegawai kantoran. Sebelumnya pun, diawali dengan film yang rewel anaknya saat akan masuk sekolah. Kali ini, mengenai bisnis toko roti milik ibunya, yang berhasil menyekolahkan ketiga anaknya, dan kini diurus dengan bantuan si bungsu.

Animo Bisnis Keluarga Indonesia

Animo seperti ini memang banyak dialami oleh pemuda-pemudi Indonesia, yang harus memilih antara melanjutkan pendidikannya menuju jenjang karir, atau mulai memangku bisnis keluarga. Bahkan banyak sekali konten viral, yang menguak masalah tersebut.

Tentunya perlu diingat pula saat pertengahan 2010an lalu, saat internet dan medsos memudahkan urusan ramai nan viral. Saat tersebut tidak banyak orang yang ingin viral dan 'di-push' kontennya, sehingga memicu banyak warta serta media untuk meliput keanehan warga. 

Contoh awalnya, adalah  gadis cantik yang menjaga warung makan di Jawa Barat. Sasa Darfika adalah seorang lulusan mahasiswi kebidanan, yang membantu bisnis warung makan keluarganya di Majalengka, pada tahun 2015 lalu. Saking cantiknya, Sasa di-viralkan sebagai penjaga warung yang cantik. Kini, Sasa muncul sebagai selebgram dengan dukungan viralnya, di Instagram.

Contoh berikutnya tiba dari tahun 2020 lalu, saat sosok gadis cantik bernama Intan R Sintia Rose mulai viral saat menjaga warung kopinya di Cianjur. Mahasiswi di satu kampus Cianjur ini, awalnya hanya iseng ngonten di TikTok. Hingga akhirnya viral sendiri atau bantu di-viralkan, sosok Intan terkenal sebagai gadis sederhana yang cantik nan jelita. Sering muncul sebagai selebgram di Instagram, Intan masih ingin bekerja sebagai guru.

Ya, walau terdengar seperti lucu-lucuan viral ala media sosial dan warta, tetapi wacana ini dilanjutkan dengan agenda tersendiri dari media massa. Banyak kajian dari jurnalistik, yang mengemukakan sulitnya mencari pekerjaan bagi generasi milenial hingga gen-z dari kelas menengah. Sehingga, mereka perlu melanjutkan bisnis orangtuanya, atau bahkan memulai wirausaha sendiri.

Nah, animo inilah yang menjadi drama khusus di film Senin Harga Naik. Tokoh utamanya pun yang bernama Mutia (Nadya Arina), adalah seorang gadis cantik yang sukses berkarir, namun masih galau mengenai keadaan bisnis keluarganya, yang kini masih dilangsungkan oleh ibunya. Apalagi, Mutia berlatar pekerjaan di bisnis dan pemasaran, yang cocok dalam melanjutkan toko roti milik keluarganya.

Mungkin perlu diutarakan dari pendapat tersendiri, bahwa pilihan ini cukup sulit. Penulis yang mengenal bisnis keluarga hanyalah grosir, berpikir bahwa urusan ini memang cukup banyak pertimbangan. Lokasi gudang yang dimiliki oleh keluarga besar, sementara pekerjaan yang menguras tenaga, kondisi kesehatan yang makin sulit, serta minat dan kemampuan pribadi yang kurang cocok, adalah berbagai pertimbangan pribadi dalam melanjutkan usaha keluarga ini.

Jadi, hidup adalah pilihan, sementara meninggal adalah mutlak, dan yang mengatur takdir hanyalah Tuhan semata. 

Sinopsis Film Senin Harga Naik

Mutia Soejono (Nadya Arina) telah tiga tahun meninggalkan rumahnya. Selama ini dia berkarir di perusahaan properti bernama Buana Group, dengan slogannya 'Senin Harga Naik.' Buana Group sedang memulai proyek pembebasan lahan, yang diberikan kepada Mutia. Namun, lahan yang akan dibebaskan adalah lokasi dimana keluarganya tinggal, dan memiliki usaha bernama Toko Roti Mercusuar. 

Mutia pun teringat, bahwa dirinya tidak pulang ke rumah selama tiga tahun, akibat bertengkar dengan ibunya, Retno (Meriam Bellina). Keduanya berseteru, akibat Mutia yang tidak ingin melanjutkan usaha keluarga. Selama ini, usaha bernama Toko Roti Mercusuar tersebut, dikerjakan oleh Retno, adik bungsunya bernama Tasya (Nayla D. Purnama), dan Rani (Aci Resti).

Mutia perlu kembali pulang, demi mengabarkan perihal sedih ini dan membantu ibunya untuk segera pindah. Karena komunikasi yang sulit, maka Mutia meminta bantuan kakaknya, Amal (Andri Mashadi), yang telah menikah dengan Taris (Givina Lukita), dan memiliki anak bernama Alviero (Adam Xavier). Lalu keduanya membujuk ibunya, untuk segera menjual tanahnya serta pindah ke rumah Amal.

Retno yang masih bersikeras untuk melanjutkan usahanya, tetap menolak wacana tersebut. Kerasnya Retno, menyebabkan kakak-beradik ini semakin risau, karena wacana pembebasan lahan tentunya akan terus dilaksanakan. Apalagi tekanan dari lingkungan sekitar, yang tentu masih mempertimbangkan wacana tersebut.

Apakah Retno akan luluh dan menjual tanahnya? Atau malah Mutia yang berhenti melanjutkan proyek dan memilih bisnis keluarga? Bahkan lingkungan sekitar ikut setuju bersama untuk menolak pembebasan lahan?

Jawabannya, tentu ada di potensi viral bisnis keluarga ala sinema Indonesia.

Menjaga Potensi Keluarga Ala Film Tunggu Aku Sukses Nanti

 

Arga dan keluarganya yang sangat menempel erat (TMDB).

Berikutnya adalah film remaja berjudul Tunggu Aku Sukses Nanti, yang tayang menjelang Lebaran di sinema Indonesia. Ya, film ini memang memiliki rating R13, dan cocok bagi yang galau pas Lebaran nanti. 

Cocok dengan tema film sebelumnya, film ini mengisahkan tentang apa yang terjadi setelah lulus sekolah nanti. Ya, tokoh utama dalam film ini sempat menganggur (kerja resmi) dalam waktu lama, dan memilih berwirausaha sebagai Kang Mie Ayam selama tiga tahun lamanya. Memang bukan keseharian biasa, karena momennya tepat saat kumpul keluarga besar yang penuhrasa cemas.

Arga dan Mie Ayam

Membahas Arga (Ardit Erwandha) yang sering menjadi cibiran keluarga, akibat nilainya yang jelek saat kecil, hingga perlu menganggur setelah lulus kuliah, mungkin menjadi perihal masalah bagi banyak pemuda-pemudi saat ini. 

Apalagi, banyak mahasiswa dan mahasiswi saat ini, yang perlu langsung mengikuti jenjang pendidikan S2, demi lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Ssetelahnya, mereka malah membangun sejenis startup atau UKM, setelah banyak berkenalan dengan teman se-profesi di kuliah magister ini. 

Kembali ke soal pengalaman dan biaya, para pemuda-pemudi ini perlu dukungan tambahan untuk mengikuti jenjang S2, hingga memulai usahanya. Maka, latar keluarga adalah solusinya.

Nah, itulah yang terjadi pada Arga dalam film ini. Dirinya yang sulit mendapatkan pekerjaan, memilih untuk berjualan Mie Ayam. Bahkan terdapat satu adegan lucu pada cuplikannya, saat Arga ditanya oleh personalia mengenai pengalamannya selain masak mie ayam. Arga akhirnya menjawab, bahwa pengalamannya lainnya adalah masak pangsit (kering atau basah) yang tidak ada hubungannya. 

Penulis pun merasa heran, karena Mie Ayam adalah salah satu favorit pribadi. Entah kenapa, pangsit (basah atau kering) sering tidak dimasukkan ke dalam menu mie ayam. Padahal, enak banget loh...

Ada satu adegan pecicilan lain yang menarik dari cuplikannya. Yaitu saat Arga bercerita tentang sulitnya mencari kerja kepada temannya yang sudah diterima kerja, Mereka langsung berpendapat bahwa karakter Arga harus sedikit dirubah. Ya, sering banget penulis mendengar komentar seperti ini saat menjelang kelulusan terdahulu, yang entah apa maksudnya karena gak jelas sama sekali (?).

Oh ya, ada satu adegan yang perlu ditelaah, yaitu kehadiran cameo Afghansyah Reza dalam film ini sebagai karakter Dwiki. Bagi yang mengenalnya (apalagi ibu-ibu), tentu tahu se-ganteng dan se-keren apa aktor dan penyanyi yang satu ini, yang sempat naik pamornya saat awal 2010an lalu. 

Oh ya (lagi), karakter Dwiki telah bekerja di SCBD, alias Jalan Sudirman di Jakarta yang terkenal dengan pusatnya di Bundaran HI. Lokasi perkantoran yang sangat bergengsi, yang entah kenapa Arga perlu mengejar karirnya sejauh dan setinggi itu (?).

Walau begitu, Tante Yuli (Sarah Sechan) yang sering mencibir Arga dalam momen kapan pun juga, ternyata memberi nasihat yang baik. Yaitu Arga seharusnya berprinsip untuk membantu, dan bukannya menjadi pembantu. Ya, nasihat yang cukup mendalam, apalagi di jaman pencari kerja saat ini.

Yah, ada sih satu lagi, yaitu istilah 'kapan kawin' saat kumpul keluarga sedang dilaksanakan. Tetapi, animo yang satu ini perlu dijelaskan dalam sinopsisnya saja ya... (serius, film ini Indonesia banget)

Sinopsis Film Tunggu Aku Sukses Nanti

Arga (Ardit Erwandha) sudah tiga tahun menganggur lamanya. Selama ini, dia bekerja sebagai Kang Mie Ayam Bu Rita, yang kurang porsi pangsitnya. Sudah terbiasa sejak kecil, Arga memang menjadi cibiran keluarga besar saat kumpul. Apalagi, saat ini keluarga utamanya memang masih menumpang di rumah nenek, tidak seperti paman dan bibinya yang telah tinggal terpisah.

Keadaan rumahnya pun semakin memburuk, dengan adiknya yang bernama Alma (Adzana Shaliha), berpotensi terpaksa berhenti kuliah akibat biaya. Ayahnya (Ariyo Wahab) bahkan perlu menjual motor, demi menambah biaya kuliah Alma. Bahkan saking butuh biaya, keluarga dan keluarga besar berencana untuk menjual rumah kediamannya, demi mengisi kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, Arga pun masih berencana untuk mengawini pacarnya, karena sudah lama saling mengikat hubungan.

Sanggupkah Arga melewati seluruh masalah tersebut? Akankah Arga diterima kerja dan membantu keluarganya? Atau malah beralih memfokuskan bisnis Mie Ayam-nya hingga sukses dan makmur?

Jawabannya, tentu ada di drama keluarga nan kocak dan terenyuh ala sinema Indonesia.

Pentingnya Tumbuh Kembang bagi Anak Ala Film Na Willa

 

Farida, Willa, Dul, dan Bud yang suka es krim (TMDB).

Ada tiga kombinasi film Indonesia yang tayang menjelang libur Lebaran. Karena temanya sangat mirip, dan jika dihubungkan ala 'timeline', maka terlihat seperti jalinan takdir multiversal (hah?). Cukup menarik, karena setiap judulnya memberi kisah sehari-hari (slice of life) yang sangat mengena, dan bahkan cukup dikenal setiap kalangan masyarakat Indonesia.

Sebenarnya terdapat pula judul keempat, namun karena bertema sains-fiksi dengan hebohnya efek spesial, maka tidak cocok sebagai kombo tiga film drama keseharian ini. 

Pertama adalah film yang cukup kentara permasalahannya di dunia nyata, berjudul Na Willa yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Lucunya film ini, adalah mengisahkan tentang hebohnya anak, saat pertama kali mengikuti jenjang pendidikan sekolah. 

Bagi yang mengingatnya, pertama kali masuk sekolah pasti terasa aneh. Dari pengalaman penulis, masih ingat saat pertama kali masuk TK atau Sekolah Dasar kelas satu. Banyak anak menangis, sementara orangtuanya sedang menunggu di luar kelas dengan cemas. Suatu pemandangan mencengangkan, karena baru kali itu penulis melihat banyak anak kecil menangis bersama.

Oh ya, dalam cuplikannya banyak adegan yang menggambarkan tentang cara bermain anak, mulai dari bermain kelereng, layang-layangan, ayunan, hingga membaca buku. Penulis pun perlu berkomentar mengenai hal ini. Yaitu saat banyak konten dan game ponsel yang sangat menarik, namun di lingkungan RT sendiri, justru sedang 'hype' dengan balapan manuk (burung). 

Ya, sejenis japati (merpati) yang diterbangkan sepasang, lalu dibalapkan hingga satu keliling lapangan, adalah animo yang sedang ramai di sekitar rumah penulis. Pemainnya memang beberapa anak SD, yang tampaknya tidak begitu tertarik dengan maenan ponsel jaman sekarang. 

Yang menontonnya pun bukan hanya mereka, yaitu banyak pemuda-pemudi (tua) yang penasaran dengan aktifitas di sore hari ini. Sebelumnya, anak-anak tersebut lebih heboh dengan adu layangannya. Tampaknya, sudah bertahun-tahun mereka melaksanakan maenan 'offline' tersebut.

Psikologi Anak Tidak Mau Sekolah

Sebelum membahas kisah di film Na Willa ini, coba dicek dari psikologi anak. Seperti sudah diutarakan sebelumnya, penulis sempat heran dengan keadaan TK atau SD terdahulu, dimana banyak anak menangis bersama saat pertama kali masuk sekolah. Tentu bukan hal sepele, karena dapat menganggu suasana hati anak, serta tumbuh kembangnya.

Ya, film ini menggambarkan Willa (Luisa Adreena) sebagai tokoh utamanya, yang merasa kaget saat baru mau masuk sekolah. Lebih tepatnya lagi, saat banyak temannya yang tidak bisa bermain, akibat baru masuk sekolah.

Perasaan seperti ini, sempat dijabarkan dalam banyak kajian. Karenanya, dapat berakibat mogoknya anak untuk masuk sekolah. Walau terlihat rewel saja dan perlu dimarahi, para ahli yakin bahwa fase ini perlu ditanggulangi dengan baik.

Seperti dilansir dari Educenter, masalah anak tidak mau sekolah adalah akibat rasa takut dan gelisah, lalu kegiatan sekolah yang membosankan, serta terpisah dengan zona nyaman, alias jauh dari rumah, orangtua dan saudara dekat.

Cara terbaik untuk menanggulanginya menurut Fakultasi Psikologi dari UMK, adalah melatih anak secara bertahap. Yaitu tidak memarahi anak langsung, lalu dukung mentalnya dengan memberi semangat. Bangun rasa percaya diri anak dengan memuji saat berani bersekolah, dan menyelesaikan PR-nya. 

Karena itu, minat dan rasa nyaman anak dapat berkembang. Kemandirian bisa dilatih, karena anak adalah pribadi yang merasa dan berpikir, sehingga orangtua harus berkomunikasi dengan saling memahami.

Nah, bagaimana dengan kisah Na Willa ini? Coba dicek saja sinopsisnya, yang ternyata diproduksi oleh sineas perfilman terkenal.

Sinopsis Film Na Willa

Film Na Willa ini diproduksi oleh Visinema, yaitu Studio yang merilis Jumbo, Keluarga Cemara, dan Nussa. Tentu yang pernah menontonnya, tahu sehebat apa studio ini dalam membawakan cerita sehari-hari, yang menjadi kenangan indah dan heboh ala sinema. Bahkan terdapat banyak adegan, dengan efek spesial 3D yang ciamik, layaknya film animasi Jumbo di tahun kemarin.

Film ini diadaptasi dari buku novel berjudul sama, hasil karya Reda Gaudiamo yang dirilis dengan tiga judul, yaitu Na Willa: Serial Catatan Kemarin (2012), Na Willa dan Rumah dalam Gang (2018), serta Na Willa dan Hari-hari Ramai (2022).

Willa (Luisa Adreena) adalah seorang anak kecil yang belum masuk sekolah. Kesehariannya diisi dengan bermain bersama tiga temannya, yaitu Farida (Freya Mikhalya), Bud (Ibrahim Arsenio) dan Dul (Azami Syauqi). Mulai dari bermain kelereng, layangan, ayunan, hingga banyak mainan anak, selalu mengisi keseharian empat sekawan ini.

Hingga akhirnya Dul perlu masuk sekolah SD, yang diisi dengan banyak dasar Calistung dan PR-nya. Dul pun jarang ikut bermain, sehingga membuat Willa heran. Farida yang akan sekolah pun, sempat ditanya oleh Willa untuk masuk sekolah atau tidak. Menyusul Dul yang nantinya akan masuk sekolah juga.

Willa yang merasa kesepian, mulai gelisah. Bahkan sulit menerima keseharian dirinya yang kini kosong tanpa teman. Willa jadi rewel dan sering menangis, dan bahkan memicu kemarahan ibunya, Mak (Irma Novita Rihi). Mbok (Mbok Tun) memberi nasihat, bahwa Willa hanya merasa kesepian saja.

Nah, bagaimana dengan keseharian Willa yang semakin sepi saja? Sanggupkah Willa menerima kenyataan bahwa sekolah adalah tujuan berikutnya? Apakah perlu terus berdamai dengan perubahan yang tiba?

Jawabannya, tentu ada di sinema anak Indonesia.

09 Maret 2026

Mengenang Masakan Rumah Ala Ibu di Film Number One

 

Sosok anak dan ibu yang memasak bersama di dapur (TMDB).

Dan terakhir untuk film luar negeri menjelang Lebaran, adalah film yang sangat cocok untuk mengisi sisa Ramadhan ini. Judulnya adalah Number One, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating umur R13.

Sesuai judul artikel, film ini berkisah rasanya menyicipi masakan rumah, yang dibuat oleh ibu sendiri. Dari segi ini, apalagi di bulan Ramadhan yang diisi dengan sahur dan berbuka, tentu sering mengonsumsi banyaknya masakan ibu di rumah.

Empat Sehat Lima Sempurna

Karena mengacu pada masakan rumah, dan penulis tidak akan membahas tentang resep sahur dan berbuka puasa, maka ditelaah melalui konsep pola makan saja.

Menurut penelitian yang dilansir dari Antara, masakan rumah memiliki index gizi lebih tinggi. Secara konvensional, semakin makmur hidup seseorang, maka semakin sehat pula dirinya. Namun menurut penelitian di AS sana yang dijabarkan oleh Arpita Tiwari, justru hasilnya berbeda dengan konsep tersebut.

Penelitian mengikutsertakan 400 warga Seattle dalam pola makan harian, lalu mengeceknya melalui Indeks Makan Sehat (IMS), dan hasilnya ternyata cukup mencengangkan. Nominal IMS yang mencapai angka 80, adalah tingkatan gizi baik. Sementara IMS yang berada dibawah 50, berarti gizinya buruk.

Mengacu pada ibu hingga nenek yang memasak tiga kali seminggu di rumah, justru menunjukkan indeks kesehatan rata-rata 67. Sementara yang memasak enam kali seminggu, mencapai index kesehatan 74. Itu berarti, semakin sering memasak dan melahap makanan di rumah, dapat mencapai pola makan dan gizi yang lebih sehat.

Indeks kesehatan biasanya berkaitan dengan penghasilan, pendidikan, dan status sosial. Namun ketiga faktor tersebut tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan sederhana, yaitu memperbaiki pola makan sehat dengan secara rutin memasak di rumah.

Kembali ke Indonesia, dan seperti menurut Kementerian Kesehatan, konsep empat sehat lima sempurna diterapkan untuk menjaga pola makan bergizi dan sehat. Makanan pokok sebagai sumber karbohidrat, lauk-pauk sebagai sumber protein, buah dan sayur sebagai sumber vitamin dan mineral, serta meminum air putih yang cukup, adalah faktor empat sehat lima sempurna. 

Konsep ini ditambah pula dengan beraktifitas fisik minimal 30 menit sehari, dan mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir.

Nah, bagaimana dengan film Number One yang mengisahkan masakan ibu di rumah? Justru disitulah letak uniknya. Penulis sendiri tidak bisa menggambarkan banyak, karena genre selingan kehidupan (slice of life) memiliki khas drama tersendiri, yang hanya bisa diresapi saat langsung menontonnya. 

Sinopsis Film Number One

Film ini sebenarnya kerjasama antara Jepang dan Korea Selatan. Film diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, sementara naskahnya diadaptasi dari novel karya novelis Jepang bernama Sora Uwano, dengan judul The Number of Times You Can Eat Your Mother's Cooking is 328.

Ha-min (Choi Woo-shik) adalah seorang siswa berumur 18 tahun, yang tiba-tiba melihat angka imajiner lewat pandangannya. Setiap kali dia memakan masakan ibunya yang bernama Eun-sil (Jang Hye-jin), jumlah angka itu terus menurun. Hingga akhirnya angka tersebut mencapai nol, saat ibunya meninggal dunia.

Bertahun-tahun kemudian, belum ada yang tahu momen Ha-min saat melihat angka tersebut. Namun pacarnya yang bernama Ryeo-eun (Gong Seung-yeon), sempat bertanya apa yang membuatnya irit saat mengonsumsi makanan, bahkan saat keadaan pesta sekalipun. Ha-min terpaksa mulai berkisah, tentang kenangan lama sebelum ibunya meninggal.

Apakah Ha-min berhasil menguak apa dibalik maksud angka imajiner tersebut? Jawabannya tentu ada di pola makanan sehat ala sinema Indonesia.

Beruang Eksotis Ala Jackie Chan di Film Panda Plan: The Magical Tribe

 

Jackie dan Huhu yang senang lompat (TMDB).

Daaan, berikutnya adalah film remaja yang mengembalikan kemampuan aksi ala sepuh Jackie Chan, dalam film Panda Plan: Magical Tribe. Film yang akan tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran ini, memang memiliki rating R13.

Jackie Chan yang Akrobatik

Jika membahas film anak dan panda, tentu harus mengacu pada sang beruang anomali ini. Namun film Panda Plan lebih menggambarkan keahlian asli sang sepuh Jackie Chan, dengan gaya akrobatiknya. Jika ingin lebih menelaah tentang beruang hitam putih ini serta segala keanehannya, dapat dicek di artikel ini saja.

Cuplikan film pertamanya dari tahun 2024 saja, sudah cukup menarik. Jackie Chan disini berperan sebagai dirinya sendiri, alias aktor beladiri terkenal yang sudah sepuh. Bahkan, aksi gelut biasanya tidak keluar sama sekali, dan mengandalkan akrobatik situasional yang berujung komedi. 

Ya, film ini memang mengisi aksinya dengan gaya komedi yang khas sepuh beladiri dari China ini. Perlu diingat pula, bahwa Jackie Chan memang berlatar seorang pemain Opera Tradisional China, dan tidak memiliki latar beladiri. Sehingga cocok dengan aksi-komedi ini.

Di film Panda Plan pertama, Jackie sudah menjadi figur terkenal di China, dan tengah mengikuti sebuah acara pameran konservasi. Jackie pun digadang untuk mengadopsi seekor anak panda, yang akan dijaganya seumur hidup. Namun entah kenapa, terjadi serangan dari sekelompok kriminal, yang ingin menculik panda tersebut. Jackie dengan aksi khasnya, perlu melawan balik dengan kocak.

Nah di film keduanya bersub-judul Magical Tribe, diramaikan dengan bertualang di alam liar. Selain menyelamatkan Huhu sang panda kecil nan jinak, Jackie perlu melawan balik para suku pribumi di pedalaman. Gaya khas komedi-aksinya kembali, ala filmnya terdahulu. 

Tampaknya film Panda Plan ini mengacu pada satu film aksi Jackie Chan saat masih muda. Ya, judulnya adalah Who Am I? dari tahun 1998 lalu, saat Jackie memerankan tokoh yang hilang ingatannya, lalu tersesat di alam rimba Afrika, dan sempat diselamatkan oleh suku pribumi. 

Aksi gelutnya yang unik, ternyata cukup membuka lebar mata dunia. Banyak sineas perfilman hingga Hollywood, menghargai aksi ala Jackie Chan di film ini. Film Who Am I? memang dirilis bertepatan dengan Rush Hour di tahun yang sama, sehingga menambah pamor Jackie Chan di seantero dunia.

Okeh, bagaimana dengan kisah Huhu dan Jackie di film Panda Plan kedua ini?

Sinopsis Film Panda Plan: Magical Tribe

Jackie Chan kini tinggal bersama Huhu di dekat belantara hutan rimba. Namun, Huhu yang nakal malah melarikan diri menembus hutan. Hingga akhirnya kedua sahabat beda spesies ini tiba gerbang ajaib nan magis, tepat berada di pusat sebuah pohon tinggi.

Keduanya tiba di ranah rimba lain, yang dihuni banyak suku pribumi lokal. Akibat salah paham, Jackie dan Huhu harus berjibaku dengan suku pribumi, untuk menyelamatkan diri. 

Sebenarnya suku pribumi tidak bermaksud jahat sama sekali kepada Jackie dan Huhu. Mereka mengagungkan panda sebagai titisan dewa. Layaknya binatang yang dipuja, Huhu diterima sebagai mahluk yang sakti nan eksotis. Jackie pun bingung, karena harus bergelut dengan kerasnya kepala para warga pribumi, sekaligus mencari cara untuk keluar dari hutan rimba.

Bagaimana aksi berikutnya bagi Jackie yang sudah sepuh dan berumur 71 tahun ini? Tentu jawabannya ada di konservasi sinema ala Indonesia.

Animasi Binatang Buas nan Lucu di Film Hoppers

 

Mabel yang merasa berang (IMDB).

Berikutnya adalah kombinasi tiga film untuk anak dan remaja dari luar negeri sana, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang. Judul pertama adalah Hoppers, yaitu animasi untuk anak-anak karena memiliki rating Semua Umur (SU). 

Hoppers yang diproduksi oleh Disney dan Pixar ini tampaknya aman untuk ditonton dan dikonsumsi, tanpa ada istilah aneh ala Jomok dan Boti, yang kini sedang ramai sebagai meme di Inet.

Penelitian Hewan Antromorfik

Daripada membahas yang tidak-tidak, maka cek bagaimana film ini menyajikan satu topik penting dalam masalah lingkungan alam. Tentu, anak hingga dewasa perlu mengerti tentang pentingnya alam liar, serta siklus ekosistemnya. Seperti disajikan dalam artikel sebelumnya di SpongeBob, anak bisa dikenalkan dan diberi imajinasi berlebih, tanpa perlu menggurui. Media film seperti ini cocok agar anak lebih mudah terpapar wacana melindungi alam.

Film ini (tampaknya) mengacu pada penelitian yang dilaksanakan oleh banyak ilmuwan saat ini. Terlihat di cuplikannya, seorang remaja berhasil memasukkkan isi kesadarannya, pada seekor robot berang-berang. Sebenarnya penelitian seperti ini sudah sering dilaksanakan, tentunya tanpa metode fantastis semacam ini.

Banyak ilmuwan saat ini menggunakan robot atau boneka, yang disimpan di sekitar sarang hewan liar. Contoh paling kentaranya adalah robot primata (gorila dan simpanse) atau monyet, yang didekatkan dengan bayi atau anak hewan targetnya. Dalam boneka tersembunyi pula kamera perekam, yang terhubung jarak jauh dengan peneliti. Tujuannya adalah mengecek interaksi sosial antara kawanan hewan, dengan benda yang memiliki bentuk dan bergerak mirip mereka.

Kawanan hewan cukup tertarik, dan berinteraksi dengan boneka tersebut. Apalagi dari sudut pandang anak-anak, maka hewan mengganggap boneka sebagai bagian dari kawanan. Boneka memang hanya sedikit bergerak, tanpa banyak memberi respon kepada kawanan hewan. Namun, para hewan masih santai dalam menanggapinya.

Sesuai dengan tujuan penelitian, boneka hewan antromorfik ini memang didesain untuk memicu emosi hewan yang ditargetnya. Karena itu, penerimaan hewan pada boneka, bisa dianggap sebagai pemicu emosional. Hewan akan penasaran, menerima, dan berlaku baik pada anggota yang belum mereka kenal, asal masih berusia anak-anak.

Bahkan pada akhir penelitian, saat boneka telah kehabisan baterai dan berhenti bergerak, muncul sisi emosional lain dari para hewan. Banyak hewan anak-anak hingga dewasa, mengerumuni boneka tersebut. Mereka menganggap boneka telah meninggal, dan ikut berkabung. Walau mereka masih heran siapa boneka tersebut, namun sisi emosional terlihat kentara dalam rekaman penelitian. 

Hewan dengan tingkat sosial yang kompleks, memiliki sisi emosional yang tinggi pula. Penelitian dianggap berhasil, dengan mengacu pada sisi hewaniah, yang ternyata sangat mendalam dari segi kekerabatan dan emosi kawanannya.

Bagi yang perlu referensi semacam ini, dapat ditonton di berbagai kanal YouTube mengenai kisah hewan dan robotnya. Konten yang pernah penulis tonton di berbagai kanal sains, diantaranya adalah gorilla, simpanse, dan monyet.

Nah, bagaimana film Hoppers ini menggambarkan penelitian tersebut? Tentu lebih fantastis dengan gambar animasi yang lebih ciamik, ala karya Disney dan Pixar.

Sinopsis Film Hoppers

Mabel (Piper Curda) adalah seorang remaja yang sangat menyukai hewan. Saking menyukainya, dia selalu membawa boneka robot berang-berang miliknya, dimana pun berada. 

Suatu hari, profesor Dr. Sam (Kathy Najimi) sebagai dosennya, meminta Mabel untuk mengikuti sebuah eksperimen. Dr. Sam mencoba memasukkan kesadaran manusia ke dalam robot. Tujuannya adalah meneliti langsung kawanan hewan di alam liar, tanpa perlu bersusah payah menyelinap dan memakai kostum binatang.

Penelitian pun berhasil, sehingga Mabel bisa pergi ke alam liar, dan langsung diterima sebagai bagian dari mereka. Tidak hanya berbentuk berang-berang, Mabel ternyata sanggup memahami bahasa para binatang.

Hingga suatu masalah terjadi, akibat pengembangan lahan di sekitar lingkungan alamnya. Mabel dan banyak kawanan binatang, tidak rela rumah mereka tergusur oleh manusia. Mabel berinisiatif untuk melawan balik, yang diterima tidak baik oleh para sesepuh binatang. Mereka akan membasmi para manusia, dengan berbagai cara. Mabel pun panik, dan mencari jalur damai bagi kedua pihak.

Sanggupkah Mabel menyelamatkan manusia dan binatang sekaligus? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.

05 Maret 2026

Anehnya Imajinasi Ala SpongeBob SquarePants

 

Imajinasi ala SpongeBob (Reddit).

Monsterisasi kali ini, lebih mengacu pada blog ini, yaitu rasanya berimajinasi ala SpongeBob SquarePants. Bagi penggemarnya, perlu mengingat episode 'Idiot Box' alias 'Kotak Idiot.' Walau begitu, terdapat pula satu episode lain yang akan dibahas, yaitu berjudul 'Band Geeks' alias 'Band Kutu Buku.' 

Nantinya dibahas bahwa keduanya cukup nyambung, ala konsep Blog dan sedikit penggambaran dunia konten saat ini. Oh ya, artikel ini memang ditulis karena sempat dijanjikan saat merekomendasi film SpongeBob terbaru, Januari lalu. Yah, daripada acak dan mengacu ke sains, lebih baik dari segi yang mudah dikenal oleh penonton saja.

Imajinasi Liar Ala SpongeBob

Bagi yang perlu mengingatnya, akan diutarakan sedikit cerita dalam episode 'Kotak Idiot' ini. Squidward Tentacles (Roger Bumpass) sedang kesal akibat SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) dan Patrick Star (Bill Fagerbakke) tengah ramai bermain di sekitar rumahnya. Namun, yang terdengar cukup aneh, bahkan epik, sesuai dengan apa yang sedang dimainkan keduanya didalam sebuah kotak kardus biasa.

Saking herannya, Squidward beberapa kali menciduk apa yang dimainkan oleh kedua tetangganya itu, namun hasilnya nihil. Lalu, SpongeBob menjelaskan bagaimana cara kerjanya. Yaitu sederhana saja, yaitu dengan 'imajinasi' saja. 

Seperti biasa dalam episode SpongeBob SquarePants, akhir cerita selalu bodor, apalagi jika terdapat karakter Squidward didalamnya. Namun, bukan kekonyolan itu yang dimaksud penulis. 

Sementara Squidward yang berhasil masuk kedalam kotak, lalu mulai ikut bermain imajinasi, gagal saat ikut memainkannya. Namun Squidward tetap heran, karena kisah 'bajak laut' didalam kotak, malah semakin terdengar epik, hingga malam hari.

Maksudnya adalah penjelasan proses imajinasi diutarakan oleh para pemain dan yang menontonnya. Layaknya permainan anak, yaitu kucing-kucingan, anak bisa berimajinasi ala kucing saling mengejar, atau anjing vs kucing, atau dinosaurus vs para penyintas. Walau mekanik permainannya tetap sama, tetapi imajinasi dapat menambah hebohnya mainan tersebut.

Perlu diingat pula, bagaimana proses imajinasi bisa dilaksanakan sebagai bahan pembelajaran. Penulis yang memang berlatar linguistik dan sastra, sempat belajar mengenai proses imajinasi menggunakan format Essay. 

Guru menulis kalimat awal di papan tulis saat di kelas, lalu meminta siswa untuk melanjutkan kalimatnya sendiri. Lalu siswa berikutnya, akan menulis kelanjutan cerita, sesuai dengan minat mereka. Hingga akhirnya terbentuk sebuah paragraf, maka proses imajinasi setiap siswa dapat menambah keanehan, kehebohan, atau perbedaan sudut pandang setiap siswa. Layaknya, permainan seperti ini dalam proses pembelajaran, adalah proses untuk menumbuhkan imajinasi para siswa, daripada hanya berkutat pada EYD dan Tata Bahasa.

Justru disitulah anehnya episode ini. Squidward adalah seorang musisi yang cukup dikenal. Walau sering disepelekan akibat permainan klarinetnya yang sumbang, namun tetap dikenal sebagai seniman serba bisa. Nah, bagaimana jika Squidward mulai menggunakan instrumen yang sesuai dengan keahliannya?

Kemenangan yang Indah ala Squidward

Dalam sub-artikel ini, akan mengacu pada episode lainnya berjudul 'Band Geeks.' Justru dalam episode kali ini, Squidward memang pantas menang. Berbeda dengan banyak kesialan ala dirinya, Squidward memang perlu menang dalam episode ini.

Bagi yang agak lupa, tentu perlu mengingat episode saat Squidward ditantang oleh Squilliam Fancyson (Dee Bradley Baker), untuk mengisi band saat Super Bowl berlangsung di permukaan (alias darat). Squidward yang emosional, tentu langsung menyetujui tantangan tersebut.

Squidward lalu melatih banyak warga Bikini Bottom, agar segera siap dalam konser tersebut. Namun seperti biasa, malah kekacauan yang terjadi. Squidward pun menyerah, dan membiarkan mukanya semakin malu saja. SpongeBob akhirnya berinisiatif, agar menyatukan seluruh anggota band, dan membantu Squidward hingga berhasil.

Nah, contohnya memang agak berbeda. Layaknya permainan essay sebelumnya, perbedaan imajinasi dan kemampuan para siswa, tentu akan merubah arah cerita essay tersebut. Layaknya permainan imajinasi, tetap menyatu sama lainnya, alias menjadi karakter tersendiri. Apalagi dibawakan ringan, dengan maksud belajar sesuatu dibaliknya. Yaitu, kerjasama dan ekspresi pribadi, melalui media imajinasi dan format essay di papan tulis.

Mirip dengan keadaan Squidward dan warga Bikini Bottom, satu grup ini perlu saling memahami, untuk mencapai tujuan konser. Setiap anggota memainkan instrumen berbeda, sementara Squidward berperan sebagai pelatih serta dirijen di depannya. Satu kesatuan dengan perbedaan inilah, yang berhasil menciptakan satu alunan lagu, yang tentu enak didengar atau aneh sekaligus.

Di akhir episode memang terdengar alunan lagu 'Sweet Victory' hasil karya David Gen Eisley dan Bob Kulick. Terdengar indah, yaitu sebuah momen Squidward yang bisa sumringah, dan menang besar. Ya, Squidward adalah seniman berbakat dalam segi instrumen musik, yang dibantu oleh warga Bikini Bottom.

Squidward yang sumringah (Reddit).

Sedikit Kisah Bonus dari Sandy Squirrel

Ada sedikit referensi menarik di akhir artikel ini, yaitu mengenai Sandy Squirrel. Karena penulis agak iseng, dan kurang bisa diangkat dalam satu artikel, maka dijabarkan disini saja.

Sandy Squirrel (Carolyn Lawrence) adalah seorang tupai dari darat sana, yang entah kenapa tinggal dibawah laut. Sandy berteman dekat dengan SpongeBob dan Patrick, walau keduanya kurang dapat menanggapinya. Sandy memang bekerja sebagai seorang ilmuwan, yang tentu aneh di Bikini Bottom.

Sandy yang tidak memiliki insang layaknya ikan, sehingga perlu mengenakan baju selam untuk bernapas dalam air. Tidak hanya itu, Sandy tinggal dalam kubah berisi udara, lengkap dengan oksigen sesuai kebutuhannya.

Nah, Sandy memang cukup isekai, namun ternyata penggambarannya cukup sesuai. Bagi yang belum tahu, NASA sebagai organisasi antariksa dunia, sering melaksanakan eksperimen dibawah laut. Eksperimen ini dilaksanakan sebagai simulasi antariksa. Baju selam Sandy pun terlihat seperti seorang kosmonot (atau astronot), daripada standar saat ini. Pekerjaan dirinya sebagai ilmuwan, semakin menguatkan penggambaran dirinya sebagai simbol dari NASA.

Sandy seperti ini, tentu sesuai dengan cara mendiang Stephen Hillenburg, seorang ahli biologi lautan, yang menggambarkan setiap karakter di Bikini Bottom, dengan referensi sainsnya. Ya, seorang ilmuwan dengan banyak bakat ilmunya, dapat menciptakan banyak cerita humor nan bodor, walau tetap mendidik tanpa perlu langsung menggurui.

Okeh, Ciao.

Sandy Squirrel yang berbeda (Reddit).

Memahami Tony Stark Saat Melawan Ultron dalam Film Avengers: Age of Ultron

 

Ultron yang aselinya GG (Wiki).

Okeh, menyambut banyak topik berita selama beberapa minggu terakhir, yang tidak jelas membawa ke arah mana dunia ini, maka coba kita cek secara simbolis saja. Penulis tidak akan eksplisit dalam menjabarkan berita yang mana, namun simbolis dengan mengangkat film lama yang cocok, berjudul Avengers: Age of Ultron (2015). 

Jujur saja, Age of Ultron bukan satu favorit penulis, apalagi jika dibandingkan seri Avengers, atau standar film Marvel lain. Namun, demi minat dan kepentingan artikel Monsterisasi, maka penulis mencoba untuk mengangkat film ini sebagai simbol dari suatu bentuk kekisruhan dunia.

Tony Stark dan J.A.R.V.I.S. di Marvel Cinematic Universe

Tentu para penggemar komik Marvel telah paham, bahwa rata-rata karakter di MCU telah di-nerf alias dilemahkan daripada versi komiknya. Melemahnya karakter sesuai dengan perkembangan awal karakter, sekaligus kebutuhan cerita dan plot filmnya.

Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang memulai ini semua dalam film Iron Man (2008), justru memiliki andil tersendiri. Tidak hanya memulai kisah MCU, namun menjadi asal-muasal banyak kisruhnya dunia. Sebelum membahas bagaimana Tony menciptakan Ultron, maka perlu dibahas saat Stark masih berkecimpung bersama J.A.R.V.I.S. Bahkan sebelumnya, saat Stark masih bermasalah sebagai broker persenjataan dunia.

Bagi yang ingat, tentu paham se-cunihin apa Stark ini. Dengan statusnya sebagai biolioner, Stark terkenal di dunia Marvel sebagai teknokrat dan penyuplai senjata kepada AS. Hingga suatu momen bersejarah merubah pandangan dirinya, saat Stark tersandera akibat serangan bom di Timur Tengah sana. Disana, dia berhasil membuat baju zirah Iron Man, hanya dengan sisa teknologi saja.

Di banyak film berikutnya, yaitu film Iron Man 2 (2010) dan Iron Man 3 (2013), lalu Avengers (2012) dan Age of Ultron (2015), Stark selalu bertingkah ala pria yang ingin tobat, walau masih perlente. Dengan berhasil menciptakan reaktor energi tanpa batas bernama Arc, Stark mengalihkan fungsi perusahaannya menjadi konversi energi bagi dunia. Suplai persenjataan pun dihentikan, sekaligus dengan terbuka mencanangkan diri sebagai Iron Man.

Di banyak latar cerita pula, akhirnya terbuka se-jenius dan se-paranoid apa sebenarnya Stark. Banyak konten hingga meme di Inet, yang menjabarkan bahwa Stark selalu merubah kesalahan dia di film sebelumnya, lalu memperbaruinya di film terbaru. 

Nah, selama Stark mengoprek seluruh keahliannya, dia dibantu oleh sejenis asisten AI bernama J.A.R.V.I.S. atau sebut saja sebagai Jarvis (Paul Bettany). AI ini memiliki nada suara yang lembut, alias soft-spoken. Suaranya yang netral, cocok sebagai mitra keseharian yang damai, daripada Pepper Potts (Gwyneth Paltrow). 

Jarvis inilah yang menjadi asal muasal Ultron, yang akan dibahas menyeluruh dalam artikel ini. Sekaligus, terciptanya Vision sebagai avatar yang lebih cocok dari Jarvis.

Vision dan Ultron

Ultron (James Spader) adalah sejenis AI yang diciptakan oleh Stark, namun hanya menerima banyak masalah saja. Ultron diciptakan sebagai kebalikan dari Jarvis, yang lebih mengacu ke persenjataan. Namun seperti kebanyakan film AI yang terlalu adaptif, Ultron pun belajar bahwa manusia-lah yang perlu dibasmi (?). 

Masalah pun semakin berkembang saat Ultron berhasil merebut Mind Stone, yaitu bagian dari Infinity Stones yang tidak terelakkan kemampuannya. Untungnya lagi, tubuh robot dan Mind Stone berhasil direbut kembali oleh Avengers, sehingga Jarvis sebagai AI yang lebih stabil, dapat terunggah. Terciptalah Vision (Paul Bettany) berbahan Vibranium, yang sangat kuat dan mampu menanggulangi apapun juga (selain Thanos). 

Nah, bagaimana dengan maksud artikel ini yang kentara penggambaran antara Stark dan Ultron? Justru disitulah letak uniknya. Penulis perlu mengacu sekuat apa sebenarnya Ultron, apalagi jika dibandingkan versi komiknya.

Di komiknya, Ultron bukan hanya ancaman tingkat Avengers, melainkan tingkatan galaksi. Ultron dalam komik sebenarnya diciptakan oleh Henry 'Hank' Pym (Michael Douglas), yang dikenal dalam MCU sebagai pencipta Ant Man dan portal Quantum Realm. Namun di komik, Pym dikenal sebagai 'wild card' alias 'semi-villain' alias kacau balau. Walau sempat bergabung dengan Avengers, Pym memiliki sejarah kekerasan yang parah, serta ciptaannya sering mengancam bumi.

Ultron dalam komik, seharusnya hanya dapat ditanggulangi oleh Vision, Captain Marvel (Brie Larson), dan Guardian of Galaxy sekaligus. Kemampuan Ultron untuk menyusup ke dalam teknologi apapun, dapat mengancam bumi dan bahkan luar angkasa. Ultron yang diciptakan pada tahun 1968 lalu di komik, bisa jadi referensi awal Skynet di seri Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019).

Namun, mengapa tokoh antagonis sekuat Ultron hanya menciptakan arena duel saja di negara fiktif Sokovia, ala MCU?

Tony Stark sebagai Ultron

Penulis tidak ingin menggambarkan Age of Ultron sebagai film yang mengangkat plot dan mengenalkan karakter baru saja. Memang, terdapat karakter seperti Vision, Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) yang baru dikenalkan. 

Namun, penulis menelaahnya dari segi psikologis penciptanya sendiri, yaitu Stark. Seorang mekanik eksentrik ini memang memiliki sisi paranoid, yang membuatnya terus menciptakan kreasi baru. Khususnya, Stark seringkali membuat baju zirah Iron Man terbaru, demi menambah kemampuan apapun. Bahkan di Avengers: Infinity War (2018), Stark berhasil memakai Iron Man dengan teknologi Nano.

Sayangnya, sisi mental Stark memang belum pernah sembuh sama sekali, sejak dulu. Diawali dengan piatu, saat dirinya kehilangan ibu, lalu ayahnya sendiri hingga yatim piatu. Stark adalah seorang penyendiri sejati. Lebih parah lagi, selama berkarir di Stark Industries, dengan bangganya Stark menyuplai inovasi senjata bagi AS, melalui Jenderal Ross (William Hurt, Harrison Ford). Alias, Make America Great Again.

Sisi gelap selama banyak dekade, telah merusak mental Stark sebagai seorang pria. Sisi perlente, sok narsis dan percaya diri berlebihan Stark adalah kedok saja, karena selama ini kurang percaya dengan dirinya sendiri, apalagi dunia di sekitarnya. Bisa disebut, selain Captain America (Chris Evans), hanya Stark-lah yang secara terbuka mengenai identitas pahlawan supernya. Itupun semacam persona baru, yang telah lama bersalah dengan banyak operasi oleh AS. 

Nah, apa hubungannya dengan Ultron? Disitulah letak berbahayanya. Ultron adalah penjelmaan sisi kelam dan negatif dari Stark. Karena berfungsi sebagai robot AI persenjataan, Ultron sebenarnya dapat dikendalikan dengan lebih tepat. Namun, sisi gelap Stark tercampur dalam fungsi Ultron, dan menyebabkannya kurang terkontrol.

Lalu, bagaimana dengan Sokovia? Disitu pula letak kelemahan lain dari Stark. Ultron masih memiliki sisi Narsistik ala Stark, yang menyebabkan dia membuat arena khusus di Sokovia. Setelah gagal menciptakan tubuh baru dengan Mind Stone, sisi tidak mau kalah meruak muncul. Ultron hanya menciptakan banyak robot baru (yang tidak setara dirinya), lalu mengirimkan ke Sokovia sebagai pusat penelitian Hydra, lalu menantang bertarung dengan Avengers.

Ultron memang diciptakan demi menanggulangi tingkat ancaman Avengers, namun sisi tidak mau kalah Stark, berarti disalah-artikan sebagai kompetisi saja. Kisah seperti ini, mirip dengan sisi lain Batman dari DC Comics. Batman memiliki sejenis fail-safe, demi menghalau seluruh anggota Justice League yang memberontak. Dengan mengalahkan Avengers, maka Bumi dapat diamankan oleh dirinya saja. 

Jika Ultron berhasil mendapatkan Mind Stone, maka dirinya mungkin menerima semacam 'wangsit' lainnya. Contohnya adalah kedatangan Thanos, Galactus, dan banyak mahluk antar-dimensi yang mengancam bumi. 

Layaknya Ultron adalah penggambaran lain, dari sisi Dr. Doom di Fantastic Four. Walau berperan sebagai antagonis utama, namun Dr. Doom sangat ingin melindungi Bumi. Memang terlalu totalitarian, namun Dr. Doom di komik sampai berhasil membangun sebuah negara, yang khusus ditujukan demi menghalau ancaman bagi Bumi dari pihak luar angkasa.

Nah, karena itulah sebelum Doomsday akhirnya tiba, dan Robert Downey Jr. yang membuka wajahnya saat Comic-Con 2024 lalu sebagai Dr. Doom, hype dari film Doomsday semakin menggila. Apalagi, dari penggemar MCU yang sudah sangat paham mengenai sisi karakter ini. 

Ya, Ultron memang seharusnya menjadi seorang antagonis yang pintar, dan bukannya bertindak pecicilan ala Stark.

Okeh, tampaknya perlu diakhiri dengan meme terkenal saja dari YouTube. 

Doomsday is Coming.

Doomsday is Coming (Reddit).

04 Maret 2026

Bahayanya Pria Tanpa Beban Ala Film Dead Man's Wire

 

Kiritsis yang nothing to lose (IMDB).

Daaan, terakhir adalah film berbahaya lainnya dari Hollywood sana, berjudul Dead Man's Wire yang tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran. Bagi yang suka drama kejahatan, tentu terkagum saat menonton cuplikannya yang berating umur D17. 

Apalagi, film ini mengadaptasi kisah nyata dari tahun 1977 lalu di AS. Ya, nama karakter yang diadaptasi adalah Tony Kiritsis, yang sempat melaksanakan aksi penyanderaan, namun malah dianggap sebagai seorang warga tertindas oleh khalayak media AS sana. 

Bagi penulis, kisah film ini mirip dengan istilah Nothing to Lose, alias Tanpa Beban. Saking terancamnya, suatu karakter sering disematkan dengan istilah ini. Karakter tersebut memiliki wacana dan rencana tertentu untuk beroperasi habis-habisan, dalam menyelamatkan dirinya dari situasi genting.

Kisah Tony Kiritsis

Kisah Tony Kiritsis adalah sesuatu yang campur aduk, antara stresnya seorang warga dan masalah pemberontakan kepada sistem. Masalahnya memang berakar pada sistem kapitalis ala AS sana. 

Tony Kiritsis adalah seorang warga biasa, yang terjebak hutang akibat hipotek miliknya. Saking terancamnya (menurut Kiritsis), dirinya digadang akan bangkrut parah, akibat perusahaan hipotek yang sengaja memainkan dokumen properti miliknya. Kiritsis curiga, bahwa lokasi properti miliknya telah ditarget oleh broker kurang bertanggung jawab, untuk direbut sebagai properti milik perusahaan.

Karena merasa tidak ada jalan lain (selain hukum tentunya), Kiritsis memilih jalur kekerasan. Dengan menyandera broker perusahaan hipotek, dirinya menelpon kepolisian setempat. Tebusan yang dimintanya cukup banyak, yaitu keamanan propertinya, imbalan lima Juta Dolar AS, dan bebas tanpa tuntutan hukum. 

Kepolisian yang seharusnya terbiasa menanggapi ancaman semacam ini, malah kelimpungan saat menanggapi. Sebenarnya Kiritsis adalah seorang warga yang baik, sementara media mulai membela Kritis dan latar belakang masalahnya.

Bagi yang ingin tahu kelanjutan kisahnya, bisa dicek di banyak artikel dan konten mengenai kisah nyata penyanderaan oleh Tony Kiritsis. Namun para penggemar film drama kejahatan ala Hollywood semacam ini, tentu lebih mengenal isi adegan dan akting para aktor-aktrisnya.

Bill Skarsgard yang Sudah Naik Daun

Bagi yang belum cukup paham, maka perlu dikenalkan kembali dengan nama Bill Skarsgard. Aktor kelahiran Swedia ini, sempat naik daun dengan perannya sebagai badut horor di duo film adaptasi novel Stephen King, berjudul It (2017) dan It: Chapter Two (2019). Wajahnya yang terkenal seram, memang menjadi khas akting serba bisa ala Skarsgard. 

Tidak hanya sebagai badut berwacana horor ala Hollywood, banyak karakter unik yang diperankan oleh Skarsgard. Contohnya adalah film seorang musisi rocker yang kekal abadi dalam film reka ulang, The Crow (2024). Penulis agak heran juga, karena biasanya film reka ulang, apalagi se-legendaris The Crow, kurang disukai oleh banyak penggemarnya. Namun di film tahun 2024 ini, justru banyak yang suka, karena keahlian akting milik Skarsgard.

Berikutnya ada film Nosferatu (2024), dimana Skarsgard berhasil menciptakan sosok dan suara vampir terkenal ini dengan ciamik. Sangat tidak terlihat sosok aseli Skarsgard dibalik karakter horor ini. Saking disukai para kritikus film, Nosferatu ini diberi nilai cukup besar dari mereka semua.

Satu film lainnya adalah John Wick 4 (2023), yang membuktikan kemampuan akting Skarsgard dalam film drama aksi kejahatan. Tentu dengan kehadiran dirinya dalam waralaba film bersama Keanu Reeves ini, telah membuktikan kelebihan Skarsgard dalam memerankan film yang keluar dari pamor awalnya.

Sinopsis Film Dead Man's Wire

Okeh sedikit saja kisah sinopsisnya, karena memang mirip dengan kisah Kiritsis, yang sudah dibahas sebelumnya.

Tony Kiritsis (Bill Skarsgard) adalah pria paruh baya yang sedang mengalami krisis. Dirinya terancam bangkrut dan diusir dari propertinya sendiri, akibat hutang piutang dan masalah dengan bankir hipotek. 

Kiritsis akhirnya mengambil jalur lain, yang lebih mengacu pada kejahatan. Kiritsis lalu berinisatif untuk menyandera mitra bankirnya, memakai senapan berburu miliknya. Dengan jujur, Kiritsis meminta tebusan kepada kepolisian setempat, wacana membebaskan dirinya dari tuntutan hukum, serta permintaan maaf langsung dari perusahaan hipotek.

Kepolisian setempat dan perusahaan hipotek tentu tidak mengalah begitu saja, dan terus bernegosiasi dengan Kiritsis. Namun, kisah ini akhirnya ramai diberitakan oleh media setempat. Setelah berbagai investigasi mengenai latar belakang masalah Kiritsis, media malah membela sosoknya, dan memberi tekanan berlebih kepada aparat hukum setempat.

Bagaimanakah kisah Tony Kiritsis hingga akhir hayat? Jawabannya, tentu dapat disaksikan langsung dengan berbagai tuntutan hukum ala sinema Indonesia.

Frankenstein Mendapat Istri Ala Film The Bride

Wanita yang terpaksa hidup lagi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film yang bermasalah kombinasinya dari Hollywood sana, dan mulai tayang menjelang libur Lebaran di sinema Indonesia. Judulnya adalah The Bride, film sejenis horor-drama-aksi, yang memiliki rating umur D17, alias cukup dewasa. Bagi yang paham cuplikannya, tentu tahu bahwa film ini mengambil referensi novel horor lama terkenal, yaitu Frankenstein.

Karakter Frankenstein 

Frankenstein adalah novel Inggris lama, bersub-judul The Modern Prometheus yang rilis tahun 1818 lalu dari novelis bernama Marry Shelley. Kisahnya cukup horor, walau mengemukakan drama penciptaan kreasi kehidupan. Secara harfiah melalui teknik (fiktif) Alkimia, Dr. Victor Frankenstein berhasil menghidupkan seorang mayat, yang diberi nama sebagai 'Mahluk' saja. 

Cerita novel ini sudah sering diadaptasi, dengan langsung memberi nama 'Mahluk' tersebut sebagai Frankenstein. Kadang kisahnya diisi horor yang lebih membuka kengerian sains dan adegan daging-mendagingnya. Ceritanya kadang berisi romansa antara Frankenstein dan karakter wanitanya, ala dongeng lama Beauty and the Beast.

Berbagai jenis adaptasi Frankenstein sering diproduksi oleh sineas perfilman, selama puluhan tahun lamanya. Contohnya adalah serial Frankenstein (2025) dari Netflix, yang diperankan oleh Oscar Isaac (Moon Knight) dan ditulis naskahnya oleh sineas horor handal, Guillermo del Toro. Lalu, ada Victor Frankenstein (2015), yang diperankan oleh Daniel Radcliffe (Harry Potter). 

Untuk rekomendasi khusus dari penulis, yaitu film berjudul Van Helsing, dari tahun 2004 lalu. Film ini diperankan oleh Hugh Jackman, yang dirilis tepat saat dirinya masih aktif berperan sebagai Wolverine dalam trilogi awal X-Men. Genre film ini adalah petualangan-aksi-horor, karena berlatar seorang pemburu monster.

Bonnie dan Clyde

Uniknya film The Bride adalah latar filmnya yang berada di Chicago, AS, tahun 1930an lalu dan bukannya di Eropa sana, khususnya Jenewa, Swiss. tersirat dalam cuplikan, bahwa Frankenstein telah hidup lebih dari seratus tahun, dan menjelajah ke seluruh dunia. Tidak hanya bertahan hidup, Frankenstein sebagai seorang monster telah mengenal ilmuwan Alkimia lainnya, yang dapat membantu saat tubuhnya perlu 'diservis.'

Nah, lalu apa hubungannya dengan Bonnie dan Clyde? Cuplikannya justru terlihat cocok. Ya, banyak adegan menampilkan kisah Frankenstein dan istri barunya, yang mengadakan perjalanan panjang di Midwest AS. Keduanya dengan sumringah melaksanakan perampokan di banyak kota, layaknya tokoh asli bernama Bonnie dan Clyde di tahun 1930an. Sepasang suami-istri ini memang dikenal sangat lihai dan cekatan, dalam menghindari polisi selama modus operandinya.

Sementara Frankenstein dan istrinya, karena memiliki tubuh yang tidak bisa mati dan lebih kuat dari manusia biasa, sangatlah menikmati kehidupan barunya ini. Keduanya memang sudah tidak memiliki tujuan hidup, dan baru kali ini bisa mulai bertingkah sebebas mungkin.

Sinopsis Film The Bride

Oh ya, bagi yang tahu Christian Bale, tentu ingin menonton aktor serba bisa ini di layar lebar. Sejak dikenal dalam film American Psycho (2000), Bale dianggap sanggup dalam memerankan karakter dengan akting yang berat. Contoh paling standarnya, adalah trilogi film Batman (2005, 2008, 2012). Trilogi ini mengisahkan hebatnya Bale sebagai seorang aktor aksi dan pahlawan super sekaligus.

Okeh, saatnya membahas sinopsis film The Bride.

Frankenstein (Christian Bale) adalah seorang mayat hidup, yang telah hidup selama lebih dari seratus tahun. Semenjak dihidupkan kembali tahun 1818 lalu di Jenewa, Swiss, Frankenstein melanglangbuana demi menemukan jalan hidupnya. Hingga akhirnya dia tiba di AS, dan memilih tinggal di Chicago demi berkenalan dengan ilmuwan Alkimia lainnya, bernama Euphronious (Annette Bening). 

Kesempatan pun tiba saat seorang wanita muda meninggal dunia. Dengan semangat, Frankenstein dan Euphronious menggali kubur wanita tersebut, demi menghidupkannya kembali. Selain itu, keduanya penasaran untuk memberi sejenis kekasih bagi Frankenstein, yang selama ini hidup sendiri. The Bride (Jessie Buckley) pun terlahir, dan langsung merasa dekat dengan Frankenstein.

Karena keduanya cukup aneh nan psikopat, maka tidak hanya berbulan madu sambil kasmaran, namun memiliki agenda lainnya. Keduanya mulai bertualang di sekitar AS, sambil merampok banyak kota. Saking euforia dalam menikmati hidup dengan tubuh barunya, keduanya memang sengaja dan menggila.

Bagaimanakah akhir cerita dari kedua mahluk yang sudah tak merasa eksis di dunia ini? Jawabannya tentu ada di sinema monster ala Indonesia.

Nyelenehnya Pria dari Masa Depan Ala Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

 

Sam Rockwell yang semakin kocak (IMDB).

Okeh, saatnya menyambut tiga film bermasalah dari Hollywood sana, yang berlatar aneh bin ajaib, dan tayang menjelang libur Lebaran. Pertama adalah film berjudul panjang nan kurang jelas, yaitu Good Luck, Have Fun, Don't Die yang berating umur D17. Memang, film ini cuman bisa ditelaah dengan satu kombinasi istilah, yaitu nyinyir, ironis, parodi ala jaman viral kesetanan.

Pemuda dari Masa Depan dan Kecerdasan Buatan

Memang film ini cukup nyeleneh untuk dianalisa langsung. Tetapi, penulis dapat mengacu pada satu ramai sosial di pertengahan tahun 2010an lalu, saat Media Sosial tengah viral dengan berbagai keunikannya. Memang dalam cuplikannya, film ini menggambarkan seorang pemuda (tua) yang datang dari masa depan demi mencegah masalah akibat kecerdasan buatan (AI).

Ya, pertengahan tahun 2010an lalu memang sempat viral mengenai istilah pemuda atau pemudi dari masa depan. Mereka mengaku sebagai time-traveller, alias satu penjelajah waktu yang datang dari masa depan. Memang beberapa kali, tebakan mereka mengenai suatu kejadian tertentu  di masa mendatang, berhasil terbukti. 

Ternyata banyak diantara mereka yang memang valid, alias memiliki kemampuan meramal. Hingga akhirnya ada studi melalui konten khusus, yang membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah anak indigo, yang kreatif dalam menjabarkan visinya, lalu terkadang benar dan tepat. 

Di saat itu pula, istilah indigo mulai ramai kembali, seperti jaman 90an hingga awal 2000an. Indigo memang suatu ketertarikan tertentu di ranah sosial, karena banyak anak kecil hingga remaja, memiliki tingkat kejeniusannya sendiri yang unik. 

Sementara dari segi kecerdasan buatan, sudah menjadi bahan topik di banyak film Hollywood. Contohnya adalah sejak waralaba film Terminator diproduksi (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Terminator berfokus pada pencegahan akhir dunia akibat AI bernama Skynet, yang memberontak dan menciptakan dunia yang hangus. Berbagai film terkenal tentang AI pun sering diadaptasi oleh Hollywood, sehingga menjadi satu bahan adaptasi tertentu.

Nah, mengacu pada tahun 2020an sekarang, Asisten AI sedang ramai dibahas. Berbagai perusahaan teknokrat terkenal, seperti Apple, Google, Meta, Microsoft dan banyak perusahaan AI, mulai menelurkan hasil karya Asisten AI-nya. 

Banyak program tersebut telah bermasalah sejak perilisannya, sehingga menjadi kontroversi di banyak negara. Banyak yang menganggap (walau menggunakan meme), bahwa AI adalah akhir dari interaksi alami di dunia digital, serta bentuk kemunduran kognitif bagi manusia.

Bagaimana dengan kisah film ini yang mencoba nyinyir bagi kedua topik tersebut? Bisa dicek melalui sinopsisnya, yang berisi aktor terkenal Sam Rockwell. Aktor ini memang sering berperan di banyak film produksi mahal Hollywood, namun lebih mengemukakan karakter perlente, namun tetap kocak.

Sinopsis Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

Sam Rockwell adalah pemuda tua dari masa depan, yang berhasil menggunakan mesin waktu untuk dapat kembali ke masa sekarang. Tepat setelah tiba, dirinya langsung ceramah dan membuang banyak ponsel di lokasi restoran, demi agenda merekrut banyak pengikut anti kecerdasan buatan. 

Walau banyak yang heran, ternyata kecurigaan Rockwell terbukti langsung, dengan tibanya tim Buru Sergap dari kepolisian setempat. Walau banyak sandera didalam restoran, tetapi tim Kepolisian dengan brutal dan membabi-buta langsung memburu Rockwell. Tanpa mengindahkan keamanan sandera, Rockwell dan penyintas yang percaya, akhirnya sanggup menghalau kejaran polisi.

Namun, banyak kejadian berbahaya terus mengejar mereka, akibat kecerdasan buatan yang ternyata berupa monster aseli. Hingga akhirnya, Rockwell dan banyak sekali pengikutnya, harus bertahan hidup demi menghalau setiap tantangan menggila ini.

Sanggupkah Rockwell dan banyak warga percaya untuk menghindari akhir dunia akibat AI? Atau malah hanya sekedar prank semata dari Rockwell yang jelas sudah terlihat agak gila?

Jawabannya, tentu ada di kisah PanSos ala sinema Indonesia.

03 Maret 2026

Karakter Horor Legendaris Ala Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa

 

Luya Mana sebagai Suzzanna (TMDB).

Terakhir, adalah film yang mengangkat kembali karakter seram legendaris dari tahun 80an lalu, berjudul Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Tentu sama dengan yang lainnya, film berating umur D17 ini tayang di sinema saat menjelang libur Lebaran, di akhir Maret nanti.

Suzzanna Sang Karakter Legendaris

Bagi yang sempat menjadi penggemar horor di tahun 80an hingga 90an, tentu akan mengenal nama Suzzanna. Bahkan, nama Suzzanna masih bergaung di tahun 2000an, saking terkenalnya. 

Ya, Suzzanna adalah nama seorang aktris horor selama dua dekade tersebut, yang khas dengan wajah cantiknya serta pembawaan karakter yang seram. Khas dari setiap film Suzanna, adalah drama yang kental di setiap filmnya. Bahkan tanpa adanya drama dari Suzanna dan banyak karakter disekitarnya, maka plot horor tidak dapat dimulai sama sekali pada film tersebut.

Banyak film terkenal diperankan oleh Suzzanna, menurut sumber terpercaya ala situs Tokopedia. Mulai dari tahun 1972 lalu berjudul Beranak dalam Kubur, lalu Sundel Bolong (1981), Ratu Ilmu Hitam (1981), Perkawinan Nyi Blorong (1983), Telaga Angker (1984), Malam Jumat Kliwon (1986), Malam Satu Suro (1988), Ratu Buaya Putih (1988), dan Santet (1988). Seluruh film tersebut diperankan oleh Suzzanna, sebagai antagonis, protagonis, atau karakter horornya, sesuai dengan kebutuhan cerita. 

Terakhir kali Suzzanna berperan dalam layar lebar, adalah saat tahun 2008 lalu dalam film Hantu Ambulance. Di tahun yang sama, Suzzanna meninggal saat berumur 66 tahun, akibat penyakit diabetes melitus.

Penulis sendiri sempat beberapa kali menonton film dari mendiang Suzzanna. Seingatnya saja, yaitu film sundel bolong yang khas dengan tusuk satenya. Atau, saat Suzzanna perlu menyantet setiap pria yang berani mendekatinya, karena dendam kesumat masa lalu (yang lupa judulnya).

Reka Ulang Film Suzzanna

Nah di tahun 2026 ini, adalah film ketiga dari reka ulang film Suzzanna, yang khas diberi judul sesuai namanya. Aktris yang memerankannya pun sesuai dengan tingkat kengeriannya, yaitu Luya Mana.

Sebelumnya di tahun 2018 lalu, Luya Mana memerankan Suzzanna dalam film Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur. Film ini khas cerita Suzzanna, yaitu berkisah tentang Sundel Bolong. Suzzanna yang telah lama tidak memiliki momongan, akhirnya berhasil hamil. Sayangnya dia meninggal saat hamil, dan mulai meneror area sekitar rumahnya.

Selain Luya Mana, terdapat banyak aktor-aktris terkenal di film tahun 2018 ini. Diantaranya, Herjunot Ali, Teuku Rifnu Wikana, Verdi Solaiman, Alex Abbad, Kiki Narendra, Asri Welas, Oppie Kumis, Ence Bagus, dan masih banyak lagi.

Berikutnya di tahun 2023, Luya Mana berperan di film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon. Di film yang lebih besar lagi biaya produksinya, mengisahkan tokoh Suzzanna yang bangkit kembali sebagai arwah jahat. Dirinya ingin kembali ke bayi yang baru saja ditinggalkan olehnya, setelah meninggal.

Sekali lagi, selain Luya Mana, terdapat pula beberapa nama aktor-aktris terkenal yang kembali membintangi film Suzzanna. Diantaranya adalah Ence Bagus, Oppie Kumis, Adi Bing Slamet, dan Pakusadewo.

Bagi yang belum sempat menikmati kengerian Luya Mana sebagai Suzanna dalam kedua film tersebut, dapat mengecek Netflix, atau layanan siaran lainnya.

Sinopsis Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa

Seperti biasanya selain Luya Mana, berbagai aktor-aktris terkenal seperti Reza Rahardian, Yati Surachman, Djenar Maesa Ayu, Iwa K, Restu Triandy, dan Adi Bing Slamet, kembali meramaikan film Suzzanna. Tidak hanya adegan horor, banyak aksi ledakan meramaikan film ini, layaknya genre aksi nan membludak.

Kali ini Suzzanna dikejar cinta oleh saudagar lokal nan brutal, bernama Bisman (Clift Sangra). Karena tidak ingin memperlama proses pelaminan, maka Bisman dengan cekatan menyantet langsung ayahnya, sehingga hanya tersisa Suzzanna seorang. Namun karena mulai terpapar dunia mistis, Suzzanna mulai merambah dunia santet-menyantet, demi membalaskan dendamnya.

Sayangnya, ternyata Bisman sudah cukup sakti dalam melaksanakan dunia kerja mistis-nya. Dengan telak Suzzanna terkalahkan, dan perlu hilang ditelan bumi, walau akhirnya ditemukan oleh Pramuja (Reza Rahardian).

Luya Mana pun kembali galau, antara memilih cinta terbarunya atau mengejar kisah kasih bersama dukun santet lainnya, demi mendapatkan sepotong alias seonggok daging milik Bisman sang Durjana setempat.

Jawaban apakah yang akan diterima Luya Mana diakhir cerita? Tinggal dicek saja ala sinema perjurigan Indonesia.