Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

22 April 2026

Ritual Kerasukan Ala Punggawa Pawai Seni di Film Para Perasuk

AING MAUNG! (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film Nusantara yang menjadi pamungkas di bulan April ini, berjudul Para Perasuk, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13. Film ini memang cukup beda, yaitu mengacu pada tanah adat dan ritual seninya, yang terancam digerus oleh pihak kapitalis.

Dago Elos Never Lose (via Acerax).

Dago Elos Never Lose

Sebelum membahas film yang kentara konflik antara budaya versus kapitalis, coba penulis bahas terlebih dahulu tentang wilayah terdekat. Yaitu, daerah Dago alias sepanjang Jalan Ir. H. Juanda di Kota Bandung, yang menjadi hunian penulis. 

Istilah Dago Elos Never Lose dibuat oleh warga Dago sendiri, yang mengacu pada pergerakan khusus. Yaitu, menentang penggusuran dari tanah yang disengketakan, karena dimiliki oleh warga lain yang merasa memiliki semuanya. Bahkan, sejarah warga tersebut bisa dilacak hingga jaman penjajahan Belanda dahulu, yang sudah lama ditinggalkan oleh pemilik (sertifikat) aseli.

Cerita ini sudah turun temurun menjadi kisah masalah hukum di daerah dago, yang notabene tanahnya mayoritas dimiliki oleh beberapa kampus negeri besar, seperti Unpad (Universitas Padjajaran) dan ITB (Institusi Teknologi Bandung). Namun, banyak wilayah kedua kampus akan pindah ke Jatinangor, atau menetap di Dago. Tanah pun beralih kepemilikan menjadi milik Pemerintah Daerah. Jadi, untuk wilayah yang dimiliki oleh Pemda, sudah tidak bermasalah lagi.

Tetapi kisah ini terus menerus terjadi. Contohnya adalah masalah sertifikat tanah dan hotelnya di sekitar Terminal Dago. Baru-baru ini, masalah sewa-menyewa lahan Kebun Binatang Bandung pun sempat bermasalah, akibat salahnya sendiri. 

Namun, konflik perdata lama ikut mencuat saat masa tersebut, yaitu masalah tanah SMAN 1 Bandung dengan pemilik lahan, yaitu dari PLK. Kisruh SMAN 1 Bandung diakhiri dengan putusan akhir dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan ditolak Kasasinya oleh Mahkamah Agung, bulan Maret lalu.

Pergerakan Dago Elos Never Lose memang asli dari warga, yang dibantu oleh pemerintah, tanpa campur tangan sensasional dari Warta. Media berita ini hanya diikutsertakan saat pemberitaan utamanya tiba, tanpa campur tangan berlebih. 

Warga Dago sebenarnya berpengalaman untuk urusan ini, tanpa campur tangan warta. Contohnya masalah Asrama Bank Indonesia di jalan Tubagus. Keadaan sekarang memang berbeda dengan keadaan terdahulu, saat literasi warga masih kurang. Bahkan banyak warga generasi berikutnya di Dago, adalah lulusan dari banyak universitas Bandung, sehingga cukup mampu untuk memahami urusan hukum di daerah ini.

Karnaval 17 Agustus 2025 di Jalan Tubagus (GMaps via Acerax).

Perlu kembali ke urusan film Perasuk, yang lebih mengacu ke tanah adat dan ritual seninya. Justru disitu kemiripan utama antara Dago Elos Never Lose dengan ritual ala film Para Perasuk. Setiap pawai karnaval 17 Agustus demi Hari Kemerdekaan Indonesia, banyak para punggawa seni serta sanggarnya dari daerah Dago, tetap ikut meramaikannya. Ikutserta mereka dengan warga yang berkostum acak ala seniman pun, turut meramaikan setiap tahunnya. 

Saking ramainya karnaval ini, cukup heran mengapa ada banyak kendaraan motor dan mobil, yang melewati daerah Dago saat acara berlangsung jam 12an siang. Padahal satu sisi jalan akan dipenuhi karnaval, yang bisa berlangsung selama satu hingga dua jam di satu ruas saja. Ya, bagi para 'perasuk' ala Dago ini, bisa seharian untuk mencapai satu keliling saja. Tidak heran, banyak yang akhirnya euforia dan hampir 'AING MAUNG' alias Pamacan yang terbawa intensifnya atmosfer.

Jadi intinya, tidak perlu khawatir dengan kisah di Dago Elos ini, karena kami Never Lose. Apalagi dengan Track Record sejarah turun-temurun yang sudah terwaris selama beberapa generasi lamanya. Karena kami cukup paham dan mengambil jalur rapih dan baik, tanpa mencari sensasi berlebih. Kecuali kalau sedang pawai karnaval 17an, tentunya tanpa jurus Pamacan. 

Wassalam untuk pihak lain yang tidak berkepentingan disini. Dan tentunya terima kasih kepada sineas perfilman Indonesia, yang berani mengadaptasi isu sosial di ranah fiktif tanpa sensasi berlebih. Semangat Berkarya!

Sinopsis Film Para Perasuk

Desa Latas adalah wilayah pinggiran kota, yang terkenal dengan ritual pawai seni sekaligus kesambet ala kesurupan euforia. Gurunya adalah Asri (Anggun), sebagai pewaris ritual Merasuk ini. Animo ini masih ramai dan terlatih di Desa Latas, layaknya tanah adat khusus dengan lokasi keramat bernama Mata Air Roh.

Bayu (Angga Yunanda) adalah pemuda peniup suling yang sangat berniat untuk mengikuti ritual Desa Latas, dan selalu ikut meramaikannya. Posisinya sebagai penyuling, menyebabkan dia berinisiatif untuk mendekati gadis cantik dari Desa Latas bernama Laksmi (Maudy Ayunda). Bayu yang sangat berminat menjadi punggawa seni Merasuk, sekaligus Laksmi yang berkecimpung sebagai penarinya, menyebabkan keduanya cocok untuk berlatih bersama.

Sayangnya, Bayu diminta oleh ayahnya (Indra Birowo) untuk ikut menjual rumah dan pindah ke kota. Alasannya adalah wilayah tersebut akan dibangun semacam pabrik. Tidak hanya lokasi rumah Bayu, Desa Latas serta Mata Air Roh-nya akan tergusur jika pabrik jadi dibangun. Keluarga dan teman dekat Bayu pun tetap meragukan, bahwa ritual Perasuk Desa Latas yang Pamacan ala AING MAUNG masih berlanjut hingga generasi berikutnya.

Mulailah kekisruhan wilayah tanah konflik dengan tanah adat. Tidak hanya mendekati dengan cara bisnis, perwakilan dari perusahaan pabrik mulai meneror, hingga memakai kekerasan untuk mengusir warga desa yang tidak menurut.

Sanggupkah Bayu, Laksmi, Asri, dan seluruh Desa Latas mempertahankan tanah dan adatnya? Atau memang warisan budaya hanyalah kenangan dari masa lalu yang tidak perlu dipertahankan demi cuan semata? Senihil itukah hidup di jaman modernisasi jurig ini?

Jawabannya, tentu ada dalam ritual kesurupan ala kerasukan ala pamacan alias AING MAUNG di sinema Indonesia.

Jurig dari Sulawesi yang Tiada Habisnya di Film Songko

 

Sulitnya dipercaya oleh warga desa jaman sekarang (TMDB).

Film jurig dari perfilman Indonesia muncul kembali dengan judul Songko, yang tayang di sinema indonesia saat minggu keempat bulan April ini. Film berating R13 ini mengisahkan mahluk legenda urban dari Sulawesi, khususnya dari Manado dan Minahasa.

Kisah jurig yang berasal dari luar pulau Jawa dengan segala mistisnya, memang jarang diadaptasi menjadi sebuah film. Karena itu, Songko perlu ditelaah terlebih dahulu.

Songko adalah sejenis legenda urban, yang muncul di Manado dan Minahasa sejak tahun 1980an lalu. Bentuknya adalah mahluk tinggi yang mengenakan jubah, serta songkok sebagai topinya, karena itu namanya adalah Songko. Mahluk ini dipercaya sebagai jelmaan manusia yang telah meninggal. Namun karena semasa hidupnya selalu mengejar kemampuan paranormal, sehingga arwahnya tidak tenang di alam baka, dan bahkan kembali ke dunia manusia untuk menebar teror.

Bahkan, kisah Songko sebenarnya muncul dalam arsip Belanda sejak tahun 1907 lalu, yang merupakan kompilasi cerita rakyat. Arsipnya berjudul Tontemboansche Teksten: Vertaling (1907) dan Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek (1908). Dalam kedua arsip tersebut, Songko adalah sejenis mahluk supernatural, yang mengejar warga pelanggar pantangan, atau sedang rentan.

Mirip dengan kisah supernatural lainnya, para peneliti menganggap Songko adalah bentuk instrumen sosial. Tujuannya adalah menanamkan kedisiplinan bagi warga, agar taat dan tidak macam-macam, apalagi di jaman yang penerangan malamnya kurang. Khusus Songko yang dipetuahkan oleh tetua seperti Tonaas dan Walian, adalah untuk menjaga batas aman wanua. 

Sementara Songko dari tahun 1980an, muncul kembali sebagai legenda urban. Kemunculannya kembali adalah akibat kasus mengerikan saat jaman tersebut. Mahluk mengerikan berjubah ini mengejar darah suci perempuan muda, yang tentunya masih perawan dan belum terjamah sama sekali. 

Songko yang harfiah mengancam masyarakat Sulawesi, menjadi peringatan khusus bagi pemuda dan pemudi pada jaman tersebut, sesuai dengan fungsi awalnya sebagai cerita rakyat.

Sinopsis Film Songko

Desa Tomohon di Sulawesi adalah lokasi yang taat dengan agamanya, dan selalu hidup rukun antar tetangganya. Namun suatu petaka tiba, dengan banyaknya pemudi desa yang ditemukan meninggal bersimbah darah. 

Layaknya mengenang petuah terdahulu, warga lalu mengingat bahwa teror ini mirip dengan cerita rakyat bernama Songko. Mahluk ini akan tiba di satu lokasi, jika ada warganya yang melaksanakan ritual mistis, atau melanggar pantangan.

Warga mulai menyalahkan satu keluarga yang cukup berbeda, yaitu Ekel (Tegar Satrya) sebagai kepala keluarga, bersama istrinya Helsye (Imelda Therinne), Mikha (Annette Edoarda) sebagai anak pertama, dan adiknya Lina (Fergie Brittany). Keluarga ini dituduh sebagai jelmaan Songko, karena lebih banyak  beranggota perempuan, dan belum satupun yang menjadi korban.

Hingga akhirnya keadaan berubah seketika, saat Lina yang merasa tertekan oleh sikap warga desa, akhirnya diteror pula oleh kemunculan mahluk Songko. Namun warga masih belum percaya, dan bahkan semakin buas menolak kehadirannya. Ekel yang lihai menembakkan senapan, harus berinisiatif gelut, demi menghalau serangan Songko, warga desa, atau sekaligus pihak agresor manapun.

Sanggupkah keluarga ini bertahan sampai akhir? Atau ada maksud khusus dari warga desa yang terus menyalahkan? Atau bahkan Songko sebenarnya adalah sisa dosa dari warga desa itu sendiri, yang kembali untuk membalaskan dendam?

Jawabannya, tentu ada di cerita rakyat ala sinema Indonesia.

Aksi Gelut Live Action Ala Jepang di Film Wind Breaker

 

Haruka yang suka gelut (TMDB).

Okeh, saatnya menyambut film Live Action yang berbeda dari Jepang sana, berjudul Wind Breaker, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia dengan rating D17. Film ini agak unik, jika dibandingkan dengan banyak film Live Action Jepang. Yaitu khas gelut anak SMA berandalan, yang tentu tidak seaneh animo anime lain.

Manga Wind Breaker dan Crows

Nah, sebelum membahas cerita filmnya, justru perlu dibahas animo gelut anak SMA dari Jepang sana. Wind Breaker memang diadaptasi dari manga dan anime yang berjudul sama, hasil karya Satoru Nii. Dan Ya, animo ini sempat ramai sejak film Crows Zero, yang rilis tahun 2007 lalu. Crows Zero sempat menjadi bahan rekomendasi legendaris di Indonesia, khususnya dari kalangan teman terdahulu. Apalagi, film ini khas dengan sinematografi ala Jepang.

Sayangnya, penulis belum menonton sama sekali film Crows Zero, yang rilis manganya pada tahun 1994 dari Hiroshi Takahashi. Mengapa? Karena penulis sempat menamatkan manga Crows, yang baru rilis di Indonesia pada awal 2000an. Ditambah lagi, jaman tersebut adaptasi Live Action dari manga atau anime sering mengecewakan, walau tentunya ada pengecualian khusus untuk Crows yang berlatar gelut SMA.

Nah jadi, mengapa penulis tidak mengikuti hype film Crows Zero? Jaman tersebut, memang animo-nya berubah, khususnya dari penulis sendiri. Pas sedang ramai rekomendasi Crows Zero, penulis telah lulus SMA, dan sedang fokus untuk kuliah. Ditambah lagi, teman yang dulu sering merekomendasikan manga, khususnya Crows, bahkan tidak ikut merekomendasikan filmnya.

Tidak hanya faktor luar, tetapi penulis memiliki animo berbeda untuk waralaba Crows, manga dan filmnya sekaligus. Kesinambungan yang agak berbeda, yaitu saat penulis memahami Arc terakhir manga Crows. Jadi, terasa lebih intrinsik, daripada pengaruh luar.

Entah kenapa, sepertiga manga yang tersisa hingga serialnya tamat, Crows justru berubah menjadi cerita yang antiklimaks. Banyak isi cerita, lebih mengisahkan slice of life, yang berfokus pada kegalauan anak SMA menjelang lulus. Ada yang berinisiatif langsung gabung Yakuza, ada yang fokus kerja ala Rindaman, atau bahkan lucu-lucuan bersama cewek pujaan. 

Bahkan ritual sang tokoh utama Harumichi Boya, lebih aneh lagi di akhir manga Crows. Harumichi yang biasanya telat untuk mengikuti gelut (di Arc sebelumnya), tambah telat lagi di akhir serial manganya. Karena lebih sering curhat bersama temannya yang sedang dekat sama cewek SMA, jadinya Harumichi ikut mengejar romansa masa SMA. Lucunya lagi, semua Build-Up cerita di akhir serial, ternyata diakhiri dengan sedikit duel saja, dan tidak seheboh awal manga.

Nah ternyata, manga Crows terisi banyak kegalauan anak SMA, yang fokus pada cara komunikasi ala laki remaja. Karena itu, karena terasa cukup nyambung, dan penulis sangat pesimis dengan filmnya, akhirnya tidak berinisiatif untuk menonton film Crows Zero.

Sedikit Sinopsis Wind Breaker

Lalu, apa hubungannya dengan Wind Breaker? Nah justru disinilah asyiknya kesinambungan tersebut. Dari sedikit sinopsis plot Wind Breaker di Inet, ternyata animo akhir Suzuran mirip dengan kisah Wind Breaker. Tokoh utama Haruka Sakura, ternyata baru masuk SMA dengan gang-nya yang fokus menjaga wilayah. 

Animo seperti ini, mirip dengan akhir kisah Crows, dimana para bujangan gelut ini bergabung dalam satu aliansi, untuk melindungi Suzuran dari serangan luar. Ya, berbeda dengan kisah di seluruh awal manga Crows, yang berfokus pada gelut antar karakternya.

Ya, segitu saja setelah panjang lebar. Pokoknya sinopsis lebih singkat lagi, karena cuplikan filmnya memang berisi gelut semua. Haruka Sakura (Koshi Mizukami) ternyata heran, saat dirinya gelut tepat satu hari sebelum hari pertama sekolah. Haruka dibantu oleh geng dari sekolah barunya, yang menjadi pertama kalinya. 

Haruka pun langsung dianggap teman, dan layak untuk bergabung dengan geng bernama Bofurin ini. Haruka yang selama ini gelut demi Flexing dan mengejar Rank pun, tertegun dengan niat geng Bofurin untuk menjaga wilayahnya. Bahkan Haruka akhirnya terenyuh, bahwa masa SMA ini, akhirnya dia punya teman juga.

Jadi, silahkan saksikan saja bagaimana film gelut SMA ala Jepang ini, yang kadang lebih nyambung alias relate dengan khas komunikasi bujang baragajul, di sinema Indonesia.

21 April 2026

Mengenang Raja Pop di Film Biografi Michael (Jackson)

 

Jaafar yang sanggup menari ala Michael (TMDB).

Daaaan, film untuk mengenang King of Pop pun dirilis di bulan April 2026 ini, berjudul singkat saja Michael, yang tayang di banyak sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Mendiang Michael Jackson yang wafat tahun 2009 lalu adalah sosok legendaris, yang berhasil mendobrak kesenggangan rasis di AS sana, dan bahkan hingga sedunia.

Michael Jackson Sang King Of Pop

Tampaknya kurang sreg membahas film biografi Michael Jackson, tanpa terlebih dahulu membahas kiprahnya di dunia seni populer. Michael Jackson hingga kini dijunjung sebagai artis paling menghibur sedunia, yang sangat berpengaruh pada keadaan seni dan politik pula.

Michael adalah seorang anak yang fantastis sejak kecil. Saat baru berumur enam tahun, dirinya langsung menjadi vokalis utama bersama grup band keluarganya, bernama Jackson Five. 

Saat Michael Jackson berkarir solo dan merilis album Thriller di tahun 1982 lalu, dirinya sangat sukses hingga sekarang, karena album tersebut masih meraih rekor sebagai album tersukses sepanjang masa. Di saat itu pula, Michael Jackson berhasil menggabungkan musik dengan video klip yang sangat sinkron, layaknya karya sinema.

Tidak hanya dari video klip, artis serba bisa ini sempat menciptakan berbagai gerakan dansa terkenal. Contoh terkenalnya adalah Moon Walk dan Robot. Gerakan dansa yang energetik dan suara vokalnya yang masih nyaring dan kuat, memang selalu dirindukan oleh penggemarnya. 

Kombinasi bakat alami dan sosok Michael Jackson, menyebabkan dia mencapai tahap sebagai artis dengan jumlah penjualan album terbanyak. Jumlahnya sangat fantastis, yaitu mencapai 500 juta kopi. Michael meraih pula banyak penghargaan, diantaranya adalah 13 dari Grammy, sebagai Grammy Legend, sebagai Grammy Lifetime Achievement, 26 dari American Music, 8 dari MTV Video Music, 6 dari Brits, dan 3 penghargaan dari Presiden AS.

Michael Jackson pun salah satu artis yang dermawan, dengan donasi mencapai 500 juta Dolar AS selama hidupnya. Utamanya adalah melalui organisasi yang didirikan olehnya sendiri, bernama Heal The World Foundation. 

Pada tahun 1980an, Michael Jackson sempat menuai kontroversi dengan berubah kulit. Artis kulit hitam (Negroid) ini menjalani operasi, agar seluruh tubuhnya berubah menjadi putih, mirip dengan ras Kaukasia. Padahal Michael menderita penyakit kulit langka bernama Vitiloid, yang merubah warna kulitnya menjadi pucat. Jika tidak dioperasi, maka Michael akan semakin sensitif dengan cahaya matahari, dan warna kulitnya akan belang. Tentu sebagai seorang artis, akan terlihat aneh.

Akhir masa hidupnya pun cukup kontroversial, yaitu Michael meradang overdosis obatnya, akibat anjuran dokter pribadinya. Padahal, dirinya sedang menyiapkan konser khusus, demi meramaikan dunia pop dan menghibur fansnya yang telah lama merindukan. Siaran langsung upacara pemakamannya sangat ramai, dengan rekor mencapai 2,5 milyar penonton dari seluruh dunia.

Uniknya dalam film Michael ini, yang memerankan dirinya adalah anggota keluarga Jackson. Jaafar Jackson adalah keponakan langsung Michael, yang berlatar sama dengan Jackson lainnya, yaitu penyanyi dan penari. Namun artis berumur 29 tahun ini ditantang pula untuk memerankan pamannya sendiri yang legendaris. 

Dari cuplikannya, sangat terlihat kemiripan antaranya Jaafar dan Michael. Bahkan, gaya menari dan menyanyi Michael, sanggup ditirukan langsung oleh Jaafar. Dengan hanya merubah tipe rambutnya menjadi keriting Afro ala Michael muda, dan berkostum ala King of Pop, Jaafar sanggup terlihat layaknya Michael Jackson yang masih hidup di tahun 1980an lalu.

Jadi, para penikmat musik dan khususnya penggemar Michael Jackson, film ini menjadi animo tersendiri yang sangat dirindukan. Tidak hanya mengenang dengan menonton video lama Michael Jackson saja, tetapi menjadi interpretasi baru dari Hollywood, dan khususnya langsung dari keluarga Jackson.

Rasanya Bertunangan Ala Duet Robert Pattison dan Zendaya di Film The Drama

Duo aktor-aktris yang awalnya fantastis (TMDB).

Berikutnya adalah film drama romansa yang agak pecicilan, karena judulnya saja cuman The Drama, yang tayang minggu keempat di sinema Indonesia dengan rating D17. Walau judulnya sederhana, tetapi berisi duet aktor-aktris muda yang semakin naik pamornya, yaitu Robert Pattison dan Zendaya. Uniknya, keduanya memang terkenal sejak memerankan karakter fantasi dan pahlawan super.

Zendaya dan Robert Pattison

Zendaya yang tentunya dikenal sejak film Spiderman: Homecoming (2017) lalu, sudah cukup move-on dari film ala pahlawan supernya. Sudah berkecimpung di dunia perfilman sejak kecil, kini Zendaya berhasil memenangkan penghargaan film, contohnya adalah film Euphoria (2019). Kemampuan aktingnya di waralaba film penuh penghargaan, Dune (2021) dan Dune: Part Two (2024) pun cukup dihargai, dengan nominasi sebagai Aktris Pendukung Terbaik. 

Sementara Robert Pattison, adalah aktor yang betulan menggila semenjak pamornya naik. Pattison dikenal dan dikenang sebagai aktor ganteng ala vampir di waralaba Twilight (2008, 2009, 2010, 2011, 2012). Banyak yang mengagumi Pattison, apalagi dari kaum muda-mudi. Seakan, Pattison adalah pasangan ideal yang akan mengisi ranah film Romansa hingga akhir masa.

Namun setelahnya, Robert Pattison malah serius dalam berkarir akting, apalagi di berbagai proyek film yang kurang mainstream, contohnya adalah film High Life (2018). Film ini mengisahkan drama dan akting yang kentara dari Pattison, karena berlatar di satu lokasi dengan satu karakter saja bernama Monte. Itupun berada dalam kapsul tertutup di tengah antariksa dan ditemani seorang saja, yaitu oleh anaknya yang masih bayi 

Kemampuan aktingnya pun dicoba dalam film The Lighthouse (2019), yang mengisahkan kegilaan para penjaga mercusuar, sebelum jaman otomatisasi lampunya. Film hitam putih ini memang mengadu Pattison dengan aktor drama kawakan, yaitu Willem Dafoe yang sempat bermain pula di film pahlawan super.

Berikutnya adalah film berbelit-belit dan aneh ala Chistopher Nolan, yaitu Tenet dari tahun 2020 lalu. Masih seperti khas penulisan dan sutaradara Nolan, film yang ceritanya susah dimengerti dan disambungkan ini ternyata mampu dijalankan oleh Pattison dan aktor utamanya, John David Washington.

Sang vampir pun kembali menjadi manusia setengah vampir nan kelelawar, dalam film pahlawan super berjudul singkat, The Batman (2022). Film yang berhasil menggelap-gulita-kan Gotham kembali, cukup menarik di segi detektif kriminalnya,  sekaligus dengan pembawaan karakter Wayne ala akting Pattison.

Nah, bagaimana film The Drama berisi kombinasi aktor-aktris muda yang ramai sejak memerankan karakter fantastis, namun lanjut dan kembali ke ranah drama ini? 

Sinopsis Film The Drama

Emma Harwood (Zendaya) dan Charlie Thompson (Robert Pattison) adalah sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Saking terjerembap kasmarannya, keduanya lalu bertunangan dan siap untuk lanjut menuju jenjang pernikahan. 

Namun, sebuah drama terbaru menimpa mereka. Yaitu saat kedua temannya, Mike (Mamoudou Athie) dan Rachel (Alana Haim) bertanya mengenai kesiapan mereka. Emma pun ragu, sementara Charlie malah cengengesan. 

Drama pun berlanjut menuju ranah yang kurang jelas diantara keduanya. Heboh, namun sangat mempertanyakan faedah dari hubungan diantara sepasang romansa ini. Padahal, minggu tersebut adalah jadwal sesi pernikahan mereka, yang tentu mengundang seluruh keluarga, kerabat, dan teman terdekat. 

Sanggupkah mereka bertahan hingga upacara pernikahan berlangsung? Atau malah menemukan cara baru untuk memperpanas semuanya? Jawabannya, tentu ada di ranah kasmaran nan romansa ala sinema Indonesia.

Gerbang Fantasi Unik Ala Film Magic Faraway Tree

 

Dunia yang fantastis ala Enid Blyton (TMDB).

Masuk ke ranah Hollywood, saatnya membahas film Magic Faraway Tree yang tayang di sinema Indonesia sejak pertengahan April. Film mengenai dunia dongeng cukup jarang diadaptasi oleh Hollywood, tentu selain film Mario Bros yang rilis tepat beberapa minggu kemarin. Rating Semua Umur pun menjadi alasan yang cocok untuk menonton bersama keluarga.

Nah, sebelum membahas film yang fantastis fantasinya, maka perlu salfok dulu pada aktor yang mengisinya. Yang sudah menonton cuplikannya, akan mengenal aktor bernama Andrew Garfield. Aktor yang memang berlatar drama ini, sempat ramai dengan perannya sebagai Peter Parker di film The Amazing Spiderman (2012).

Namun, sebenarnya penulis sempat menonton Garfield pada tahun 2010an lalu, di film yang media sosialnya sangat sensasional saat jaman tersebut. Yaitu film berjudul The Social Network, dimana Garfield berperan sebagai Eduardo Saverin. Garfield berperan dengan aktor utama yang sudah cukup terkenal walau masih muda, yaitu Jesse Eisenberg yang berperan langsung sebagai Marck Zuckerberg, sang pionir dan pemilik Meta. Film ini meraih dan memenangkan nominasi Oscar, jadi layak untuk ditonton bagi yang berminat drama medsos ala Facebook.

Berikutnya adalah film yang menyebabkan Garfield masuk nominasi Oscar sebagai Aktor Terbaik, berjudul Hacksaw Ridge (2016). Film yang banyak nominasi penghargaan ini, memang berbeda dengan ranah sejarah perang lainnya. Yaitu, mengisahkan seorang veteran perang asli, bernama Desmond T Doss yang diperankan oleh Garfield. 

Bekerja sebagai seorang dokter, dan berprinsip sebagai seorang pasifis (alias cinta damai), Doss justru berinisiatif untuk bergabung sebagai tentara. Saking hebatnya di lahan perang dalam menyelamatkan nyawa, Doss bahkan sempat diberi penghargaan tertinggi di militer AS, yaitu Medal of Honor. Uniknya Doss, adalah satu-satunya tentara yang diberi penghargaan ini, tanpa pernah menembakkan senapannya sekali pun (!).

Okeh, sudah cukup mengenai Andrew Garfield, dan saatnya membahas film yang berlatar fantasi di bulan April ini. Oh ya film ini diadaptasi dari buku novel ternama karya Enid Blyton, yang sebelumnya sempat diadaptasi pula novelnya menjadi film berjudul Wonka (2023).

Sinopsis Film Magic Faraway Tree

Tim (Andrew Garfield) dan Polly (Claire Foy) Thompson baru saja pindah ke lokasi rural, yang jauh dari pusat perkotaan. Sepasang suami-istri ini berinisiatif untuk pindah jauh dari keramaian, demi mempererat hubungan dengan ketiga anaknya, yaitu Joe (Phoenix Laroche), Beth (Delilah Bennet-Cardy) dan Fran (Billie Gardson).

Sepasang insan ini memang khawatir, karena tingkah ketiga anaknya yang aneh. Beth yang masuk remaja, sudah mulai rebel alias banyak berontak. Sementara Joe yang masih kecil, terlalu kecanduan gawai dan susah lepas lalu bermain ala anak biasa. Yang agak biasa namun pendiam, adalah Fran sebagai anak kedua.

Suatu hari, saat Fran menjelajah ke hutan (walau sudah dilarang oleh tetangga), dirinya menemukan sebuah ayunan ajaib, yang mengenalkan karakter bernama Silky (Nicola Couglan) dan Saucepan Man (Dustin Demri-Burns). Keduanya memiliki ritual khusus, yaitu bersama Moonface (Nonso Anozie) melaksanakan sejenis roulette, dan mengunjungi negeri ajaib yang terpilih oleh mainan putaran tersebut.

Fran pun mengajak Beth dan Joe untuk mengunjungi negeri ajaib ini. Sungguh dunia yang fantastis dan magis, yang semakin memukau setiap kunjungannya. Hubungan keluarga Thompson di rumah pun semakin membaik, dengan banyaknya interaksi luar ruangan ala daerah pedesaan.

Sanggupkah keluarga Thompson melanjutkan animo baik ini? Bagaimana dengan kisah petualangan mereka di dunia fantasi nan fantastis?

Jawabannya, tentu ada di lahan fantasional ala sinema Indonesia.

15 April 2026

Menikmati Kursi Penonton di Film The Cabin in the Woods

 

Kelima stereotype yang linglung (TMDB).

Sekarang saatnya menelaah film yang sebenarnya termasuk parodi, alias ironi dari genre-nya sendiri, berjudul The Cabin in the Woods. Film yang rilis tahun 2012 ini, berkisah sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak di sebuah kabin tua, di tengah hutan (sesuai judulnya). Ya, memang dari judul dan plot utamanya saja, sudah menyatakan ironi atas plot dan karakter dari genre horor ala film Hollywood.

Siapakah gerangan trio berkerah putih ini? (TMDB).

Sedikit Latar Kru Film The Cabin in the Woods

Bagi yang sudah menonton atau mengecek trailernya, tentu tahu beberapa aktor yang mengisinya. Chris Hemsworth sang Thor dari Marvel, tentu menjadi salfok yang khusus. Terdapat pula Franz Kranz, yang sebelumnya terkenal di film 300 (2006). Duo nama aktor yang terkenal, tapi mau juga berperan di genre yang memang pecicilan ini. 

Oh ya, ada satu nama aktris yang menjadi cameo pula di akhir film, tetapi tidak akan dibahas karena membuka isi ceritanya.

Bagi yang tahu Drew Goddard, tentu sempat mengenal film berjudul Cloverfield (2008) yang cukup fantastis. Berikut pula dengan sutradara Joss Whedon, yang dikenal sejak film Alien Resurrection (1997), lalu berlanjut di dunia Marvel dengan The Avengers (2012), Avengers: Age of Ultron (2015), dan sempat di DC dengan Justice League (2017).

Bahkan studionya pun memiliki nama tersendiri, yaitu dari Lionsgate Movies. Studio yang satu ini memang sering menyajikan film unik, padahal sudah cukup lama berkecimpung di dunia perfilman Hollywood (sejak 1997 lalu). Contoh terakhirnya, adalah film Turbulence yang dibahas tepat minggu ini dalam blog Sedia Saja.

Referensi Film dalam The Cabin in the Woods

Justru artikel ini tidak hanya merekomendasikan film The Cabin in the Woods, yang memang sangat berbeda dan memuaskan. Artikel ini akan menelaah tentang ironi dibalik produksi film horor. 

Sebenarnya banyak referensi horor yang dimasukkan ke dalam film ini, dari banyak waralaba lain. Seakan, film ini memang dibuat untuk homage saja terhadap banyak film lain dengan genre horor. 

Referensi tersebut akan dibahas sedikit, dan lebih baik dicek saat menontonnya saja. Bagi penggemar horor, tentu paham referensi dalam film The Cabin in the Woods. Contoh paling wajar adalah berbagai jenis monster dan situasi, dimana sering diadaptasi pada naskah film horor.

Contoh lebih spesifik akan membuat tercengang penonton, yaitu banyaknya mahluk bergentayangan dalam film ini. Bisa dicek satu-satu ya, dan yang sudah atau belum menonton, akan heran mengapa studio bisa mengisi film ini dengan banyak sekali karakter tersebut.

Terdapat referensi dari Friday 13th, Hellraiser, Werewolf, Sejenis Jurig, The Cube, Dreamcatcher, Eight Legged Freaks, Anaconda, Pennywise IT, The Shining, Leatherface, Zombie Pecicilan, KKK, SCP, Bats, Evil Dead, Gremlin, Alien, Psikopat Bertopeng Sok Brutal, Wrong Turn, Merman, Unicorn? dan bahkan Lovecraft! 

Masih banyak referensi film lainnya, yang penulis kurang pahami karena tidak selengkap itu menonton film horor. Ya, memang mengherankan bagaimana film berdurasi hanya 90 menit ini, berhasil memasukkan banyak dan variasi referensi film horor. Mungkin sang penulis naskah bernama Goddard ini, terlalu banyak melinting rokok saat menulisnya.

Atau mungkin, film horor sejenis ini menjadi latihan khusus bagi para penonton, penggemar, atau penulis yang berminat, dalam mengecek dan mengombinasikan referensi yang ada. Ranah sejenis ini memang bisa melatih kemampuan analisis, dalam melacak variasi dan sekaligus berkreasi.

Tidak se-ironis ini, kali ya...? (TMDB).

Ironi Film The Cabin in the Woods

Nah, apakah memang film ini hanya berisi referensi dari film lain saja? Tentu tidak. Terdapat satu hasil (observasi) orisinal dalam film ini, yang berisi ritual ala persembahan. Yaitu, dengan menumbalkan beberapa jenis karakter (ala film), dalam satu sesi pengorbanan tertentu.

Horor versi Amerika memang sering berisi stereotype karakter tertentu, yang dalam film ini berlandaskan The Athlete, The Whore, The Scholar, The Fool, dan The Virgin. Kelima karakter biasanya mengisi film horor pemuda-pemudi dan lainnya, dan terus diulang-ulang di banyak film, hingga seterusnya.

Ironi seperti ini menjadi khas utama di film The Cabin in the Woods. Seakan, seluruh naskah film yang dibuat oleh studio, telah di-setting sebegitu mungkin, agar sesuai dengan kemampuan yang pas bagi sutradara, aktor-aktris, kru, tim efek spesial, dan editornya. 

Bahkan, film ini menggambarkan secara harfiah, bagaimana ritual produksi film, bisa menjadi esensi yang mematikan dibalik layar. Tidak akan dibahas lebih lanjut mengenai tim produksi dibalik film ini, karena akan membuka (banyak) kisahnya. 

Perbedaan utama di genre film horor sejak The Cabin in the Woods dirilis, adalah berkembangnya horor Hollywood hingga sekarang. Banyak variasi horor yang semakin kreatif, dengan hanya menghindari stereotype diatas saja. Bahkan banyak filmnya yang mengambil referensi dari budaya yang cocok, tanpa perlu (ikut) menyalahgunakan referensi aslinya.

Karena itu, penulis juga heran sendiri, mengapa film horor menjadi minat terbaru. Sebelumnya, penulis lebih suka menonton film aksi, pahlawan super, atau bahkan kisah petualangan. Sementara pada jaman tersebut, film horor adalah pilihan yang aman, karena ceritanya dan adegannya suka sama dan begitu saja. 

Bahkan, Plot Twist yang berubah di film horor jaman sekarang, menjadi pilihan cerita yang kurang tertebak. Terlebih lagi, film horor sekarang seringkali bebas dalam menentukan akhirnya, yang bisa berarti Good atau Bad Ending. Kadang akhir film dikombinasikan pula, sehingga berakhir Miris-Manis alias Bittersweet Ending (ala film drama yang antiklimaks).

Ya, film The Cabin in the Woods memang mengacu pada ironi referensi film saat awal 2010an lalu, dan banyak waralaba sebelumnya. Sementara di tahun 2020an ini, film horor telah berkembang jauh, yang terkombinasi genre lainnya.

Oh ya, kisah di Cabin in the Woods ada yang berbeda pula, yaitu para karakter (utamanya) yang mau dan sanggup melawan balik agresornya. Tokohnya tidak terjebak dalam stereotype film horor, yang langsung lemah dan menyerah begitu saja (alias panik berdiam diri).

Wah2, ini film masih sejenis cermin satu arahkah? (TMDB).

Duduk Manis ala Penonton Film

Nah, singkat saja sebagai penonton, penggemar, dan pemerhati film horor (atau media secara luas), yaitu dengan duduk manis, menikmati, lalu menelaah saja tayangan yang ada. Apalagi setelah mengacu pada film The Conspiracy, yang dibahas di artikel sebelumnya.

Jadi, layaknya karakter Dana Polk sang The Virgin dari satu adegan di film The Cabin in the Woods, yang berselirih pedih "Let's Get This Party Started," sambil menekan tombol merah untuk membuka banyak hal yang berbahaya.

WAAAAARGHHHHH!!!

Mengecek Pesan Khusus dari Film The Conspiracy

 

Aaron yang sudah terlalu obsesif dan konspiratif (TMDB).

Okeh, karena beberapa minggu terakhir banyak kabar terdengar dari media massa, media sosial, hingga banyak jenis pemangku konten lainnya, jadinya penulis ingin membahas film The Conspiracy di artikel Monsterisasi. 

Film yang rilis tahun 2012 ini membahas tentang sebuah konspirasi besar, dengan sudut pandang warga biasa dalam menanggapi isu sesat tersebut. Ya, bahkan film ini adalah sejenis Found Footage, namun lebih bisa dianggap sebagai jenis film Mockumentary.

Found Footage dan Mockumentary

Found Footage (bersudut pandang kamera orang pertama) awalnya diramaikan oleh The Blair Witch Project dari tahun 1999 lalu. Bahkan, film ini sempat disetel sebagai film aseli, dengan beberapa situs web yang dibuat, dan diramaikan di ranah forum Inet. 

Namun perkembangan saat ini justru merubah Found Footage menjadi ranah yang niche, dan tidak banyak improvisasi diluar adegan kamera. Perkembangan yang kentara adalah mulai munculnya sub-genre Mockumentary, yang berisi adegan lebih stabil layaknya dokumenter biasa.

The Conspiracy sebenarnya bersub-genre Found Footage, yang tentunya berisi adegan kamera dari sudut pandang orang pertama (layaknya handcam). Namun (sekali lagi) menurut pendapat penulis, film ini lebih mirip sub-genre lainnya, yaitu Mockumentary. Film sejenis ini tidak banyak memasukkan adegan heboh, namun lebih didominasi oleh struktur ala dokumenter. Ya, tetap saja sejenis dokumenter palsu, yang berisi cerita fiktif. Istilah Mock itu artinya adalah sejenis palsu.

Namun karena penggambaran cerita yang menarik, dengan perkembangan cerita dan informasi yang agak plot twist setiap pindah adegan, menjadi jenis tontonan yang menarik. Memang berbeda dengan Found Footage yang amburadul dan goyang kameranya (shaking cam), Mockumentary menyajikan adegan yang stabil. Contohnya, adalah wawancara langsung dengan karakternya, atau sekedar lokasi TKP dan pembaruan informasi yang ditelaah bersama karakternya.

Dengan visualisasi yang berbeda dari Found Footage, Mockumentary bisa lebih mengalir dalam menjabarkan ceritanya. Kadang sedikit terjadi adegan drama, aksi, atau sejenis heboh lainnya. Namun, cerita disajikan dengan rapih dan terstruktur selayaknya menonton dokumenter, contohnya alam liar ala National Geographic atau sejarah dunia ala History Channel. 

Karena masih ranah fiktif yang menyajikan cerita dan adegan mengerikan, jadi genre utama Mockumentary (biasanya) adalah Horor. Entah berapa kali penulis merasa merinding menonton film sejenis ini, melebihi adegan horor biasa yang suka jump-scare atau terlalu sensasional. Atmosfer yang lebih damai dan kurang gelap, seakan menipu penonton dengan visual yang ada. 

Tetapi, ada beberapa film yang membuat merasa penulis tertipu. Ada dua film yang aslinya masuk ranah dokumenter nyata, namun disajikan ala (dramatisnya) Mockumentary. 

Pertama adalah film Cropsey, dari tahun 2009 lalu. Saat menonton pertama kalinya, penulis menganggap ini hanya Mockumentary. Tetapi pas dicek di Inet, ternyata film ini berisi kasus nyata mengenai aksi penculikan dan anak hilang, yang terjadi di Staten Island, AS. Film ini menyajikan hubungan kasus tersebut dengan sebuah Bangsal RSJ besar di sekitar lokasi TKP, yang ada hubungannya dengan kasus kriminal tersebut.

Dan penulis pun tertipu kedua kalinya, saat menonton film berjudul Beware The Slenderman dari tahun 2016 lalu. Awalnya penulis menganggap bahwa film ini adalah sejenis fiksi ala karakter horor bernama Slenderman, yang sempat ramai awal tahun 2010an lalu. Namun pas ditonton dan dicek di Inet (lagi), ternyata berisi kasus nyata di Wiscounsin AS. Kasus ini berisi kekerasan anak dibawah umur, dengan istilah 'bisikan setan' dari karakter Slenderman.

Kedua film pun menyajikan informasi dengan foto, rekaman, atau dokumen asli mengenai warga nyata yang terkait kasus tersebut. Keduanya memang kisah mengerikan dari ranah perfilman nyata, yang tersaji dengan cukup realistis.

Waspada ada Slenderman (TMDB).

Hubungannya dengan Film The Conspiracy

Nah, setelah membahas dua film yang ternyata dokumenter asli, kali ini perlu membahas tentang film The Conspiracy. Film ini memang masih beranah fiktif, namun tetap ada satu bahasan dan pesan yang bisa diterima oleh penonton biasa. Yaitu saat penonton atau warga biasa, menanggapi kisah konspirasi besar, yang dapat langsung berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Penulis merekomendasi film ini untuk langsung ditonton saja, karena film yang berformat Mockumentary memang sulit dibahas adegannya. Sehingga, langsung saja mengacu pada referensi dan pesan yang disampaikan. Penulis pun tidak akan membuka alias spoil isi ceritanya, agar menontonnya lebih dapat diterima.

Sebelum mengacu pada pada pesannya, penulis perlu menjabarkan adegan yang cukup masuk gambaran besar untuk film ini. Plotnya yaitu karakter Aaron (Aaron Poole) sebagai sutradara dan Jim (James Gilbert) sebagai kameramen, yang terobsesi dengan sekelompok sekte elit di sekitar huniannya, tepatnya di AS sana. Keduanya berniat menguak keberadaan asli sekelompok warga elit tersebut, layaknya video dokumenter jurnalistik investigasi.

Nah singkat cerita, keduanya berjibaku lama untuk melacak keberadaan sekte warga elit tersebut. Bahkan Aaron berhasil menyelundup masuk ke jamuan makan, pesta, sekaligus ritual sekte aneh tersebut. Aaron membawa kamera tersembunyi (hidden cam) dibalik bajunya, agar dapat merekam semuanya. 

Warga yang diundang, ternyata mengenakan kostum (dress-code), salam, dan ritual khusus lainnya. Biasanya, hanya anggota aseli yang mengajarkan ritual khusus kepada tamu yang baru diundang. 

Daaan... penulis pun tidak akan menjabarkan isi kisah berikutnya, dan pembaca perlu menonton langsung. 

Gak perlu sampai demo (sendiri) kaya gitu juga... (TMDB).

Penutup dan Pesan dari Film The Conspiracy

Nah kembali ke pesan yang disampaikan dari film, menurut penulis justru sebagai pembaca, penonton, dan warga biasa, perlu menanggapi ranah konspiratif dengan pesimis. Istilah dari bahasa Inggrisnya adalah 'Take Everything with A Grain of Salt,' yang berarti setiap informasi yang diterima, harus ditanggapi pesimis dan ditelaah terlebih dahulu. Jadi, tidak perlu terobsesi dengan kabar konspiratif jenis manapun.

Apalagi dari keadaan berita beberapa bulan terakhir, yang terasa seperti konspirasi besar para elit dunia. Contohnya adalah Epstein Files, yang dibongkar oleh Federal Bureau of Investigation (FBI). Isinya berisi banyak kalangan elit dunia, yaitu banyak pemimpin perusahaan besar multi nasional yang ikutserta ritual sekte tertentu. Bahkan ada beberapa tokoh dari negara tercinta Indonesia, yang ternyata masuk daftar tersebut.

Kalau ditanya pesimis, justru penulis masih heran tentang kabar ini. Bukan dari ranah konspirasinya, tetapi dari pihak yang menyebarkan informasinya. Standar Operasional FBI harusnya terbatas hukum (Yurisdiksi) di wilayah AS saja, walau sering membantu ranah internasional. Justru untuk wilayah internasional, kabar sejenis ini biasanya dibongkar oleh Central Intelligence Agency (CIA), yang memang berkecimpungan sebagai intelijen luar negeri utama bagi AS.

Walau begitu, FBI memang fokus pada investigasi sosok Jeffrey Epstein, yang memiliki kewarganegaraan utama sebagai warga AS. Jadi, tidak mengherankan pula bahwa kisah ini diawali dari investigasi di wilayah AS, yang berujung efeknya pada dunia internasional.

Okeh, segitu saja dan Stay Vigilant. 

Wassalam.

14 April 2026

Belajar Teknik Berpedang via Sensei Beryl Gardenant di Anime From Old Country Bumpkin to Master Swordsman

 

Sensei Beryl Gardenant yang sumringah saat minum (TMDB).

Okeh, saatnya artikel Monsterisasi yang berbeda dengan lainnya, yaitu mengacu pada anime From Old Country Bumpkin to Master Swordman (Ossan Kensei), yang tayang tahun lalu. Sebenarnya penulis baru menonton anime ini bulan Maret lalu, dan ternyata sangat menarik. Walau berasal dari Light Novel ala Jepang sana, tetapi adaptasi animenya sangat kentara dengan referensi HEMA (Historical European Martial Arts). Ya, entah kenapa bisa, teknik berpedang di novel diadaptasi dengan akurat pada anime.

Artikel ini mengacu pula pada artikel sebelumnya, yang membahas Pein Akatsuki dari Naruto. Walau penulis menjabarkan keburukan Benchmark ala Militer, khususnya di artikel tersebut, namun penulis sama sekali tidak menolak untuk belajar bela diri. Bahkan, bisa disebut bela diri adalah semacam olahraga, dan tidak perlu gelut terus (alias AING MAUNG). 

Penulis sendiri memiliki pengalaman saat belajar beladiri di jaman dahulu, tepatnya saat masih bersekolah dasar. Selama satu tahun lamanya, tepatnya bareng kelas pemantapan Ujian Nasional, penulis bersama satu kelas disiapkan pula dengan kelas beladiri Silat. Walau hanya satu tahun saja, tetapi cukup dapat mengingat berbagai kuda-kuda dan langkah dasar Silat.

Nah, di artikel kali ini, justru penulis ingin membahas observasi khusus, yaitu teknik berpedang dari HEMA. Bagi yang suka menonton konten latihan duel ala HEMA, pasti mengenal kanal bernama Skallagrim dari Kanada atau Weaponism dari Korea Selatan. Kedua kanal menyajikan berbagai teori, serta adegan duel dengan teknik berpedang HEMA, atau bahkan Katana dari Jepang dan Dao dari China serta Korsel. Ya, memang sejenis olahraga disana, menyaingi Karate dan Taekwondo dari segi ranah tangan kosongnya.

Penulis sendiri selama bertahun-tahun menonton konten tersebut, sehingga cukup mengenal banyak gerakan berpedang. Karena itu, saat menonton Sensei Beryl Gardenant di anime (yang judulnya jelek ini, harusnya Ossan Kensei saja), penulis dapat menebak seluruh gerakan yang dilancarkan selama gelutnya berlangsung. Ya, terima kasih pada berbagai kanal yang berisi duel berpedang tersebut.

Dan karena itu pula, artikel ini tidak banyak berisi adegan dari animenya. Justru banyak referensi teknik berpedang asli HEMA, sesuai dengan latar ceritanya di Eropa ala Fantasi. Untuk animenya sendiri, merupakan gabungan antara Slice of Life (selingan kehidupan) dan duel berpedang di ranah yang Low-Fantasy. Genre sejenis ini tidak begitu besar dalam menggambarkan dunia magisnya, bahkan masih terasa mistis ala The Lord of The Rings. 

Tapi, jangan diremehkan penggambaran anime ini dengan gelut berpedangnya. Gelut menggunakan senjata di anime ini cukup realistis, sesuai dengan teknik HEMA. Bahkan cukup brutal, dengan beberapa karakternya yang hobi Coup De Grace musuh atau lawannya. Tapi ya... karena masih bergenre fantasi, maka ada beberapa gerakan yang sebenarnya salah. Nanti akan dibahas pula beberapa gerakan salah tersebut dalam artikel ini.

Okeh, saatnya mulai membahas bagaimana Sensei (atau Kensei) Beryl Gardenant menyajikan berbagai adegan gelut yang kentara, tentu sesuai ala novelis Shigeru Sagazaki. Novelis yang satu ini mungkin aselinya beraliran Kendo, tetapi cukup banyak memperhatikan dan mengikuti sesi duel berpedang lainnya. 

Stance Mid Guard ala Sensei (Ossan Kensei)
Kuda-Kuda

Kuda-kuda ini semacam teknik Stance dan Guard dari HEMA, yaitu posisi awal saat belum menyerang lawannya. Biasanya terdapat tiga Guard utama bagi para ahli berpedang (alias Kenshi), yaitu High Guard, Mid Guard, dan Low Guard. 

High Guard adalah posisi senjata ada diatas atau sekitar kepala, dengan tangan yang menjulur sama keatas sesuai pegangan (Handle) pedangnya. Posisi seperti ini berarti dimaksudkan untuk menyerang dengan Tebasan (Slashing), dengan arah dari atas kebawah. 

Mid Guard adalah posisi senjata yang tepat berada di pusat gravitasi tubuh, dengan tujuan menyerang menggunakan Tusukan (Thrusting). Posisi ini adalah yang paling aman, karena menjaga jarak antara tubuh dengan lawan, yang dibatasi oleh pedang.

Low Guard adalah posisi senjata dibawah, biasanya ditempatkan agar menangkis musuh, daripada menyerang langsung. Posisinya yang agak berbeda (tidak terlihat berbahaya), justru membuat pemegangnya bisa berimprovisasi, tergantung dari arah serangan lawan.

Bahkan ada satu lagi, yaitu Rear Guard yang terlihat seperti sedang nge-troll musuhnya. Senjata ditempatkan dibelakang, dan tidak menghalangi jarak antara posisi pemegangnya dan lawan.

Gerak Dasar

Nah, gerak dasar ini adalah yang terutama dalam menggerakkan pedang, tangan, dan tubuh bersamaan dengan setiap langkahnya. Alias, seorang ahli berpedang harus menggerakkan pedangnya (di tangan) dengan gerakan dari pinggul, demi menambah kekuatan dan akurasi serang. Itupun disesuaikan dengan langkah kaki, antara kiri atau kanan sesuai dengan posisi serangan. Jadi, setiap satu gerakan, maka satu kaki akan melangkah maju atau mundur.

Langkah dasar ini sebenarnya mirip dengan Silat, atau dasar teknik beladiri dari manapun, baik itu menggunakan senjata atau tangan kosong. Full Body Movement adalah intinya.

Serangan santai ala Sensei (Ossan Kensei).
Menyerang 

Untuk menyerang, terdapat pula istilah yang jelas untuk setiap jenis senjatanya, khususnya pedang. Di anime ini, Kensei Beryl Gardenant menggunakan Longsword, yang menjadi standar bagi setiap ahli HEMA. Kelebihan Longsword adalah serangan Tebasan (Slashing), Menusuk (Thrusting), dan panjang yang cukup (Mata Tajam/Bilah sepanjang satu meter).

Slashing yang artinya menebas, berarti mengarahkan bagian Bilah (Blade) pedang untuk serangan yang mengalir, dari satu arah ke arah yang lain. Serangan ini memang ditujukan melebar saat menyerang, demi menyebarkan luka pada musuhnya.

Sementara Thrusting adalah serangan menusuk, yang ditujukan pada area vital pada bagian tubuh lawan. Serangan ini memiliki jarak lebih jauh, dan langsung lurus menuju titik yang dituju. Jika terkena dan tembus, maka organ vital lawan bisa langsung terluka, dan duel lebih mudah dimenangkan.

Bertahan dan Melawan Balik

Teknik bertahan pun ada beberapa, tetapi yang terpenting adalah Deflect alias Parry. Teknik ini tidak hanya mengeblok dan menangkis serangan lawan, tetapi mengarahkannya Bilah tajamnya ke arah yang diinginkan. Jika berhasil, maka tubuh akan aman dari serangan, dan musuh terhenti serangannya. Jika serangan terhenti tapi tetap berbahaya, pihak yang bertahan dapat memilih menghindar (Dodge) saja, dan mengamankan posisi baru dengan Guard dan Stance-nya.

Teknik lanjutan dari bertahan, adalah setelah mengeblok dan menangkis, maka akan dilanjutkan dengan serangan dari pihak yang bertahan (alias Counter Parry). Pihak yang berhasil menangkis, bisa memanfaatkan momen setelah Bilah lawan teralihkan, sementara lawan sudah kesulitan atau tidak bisa bertahan. Maka, serangan ini bisa lebih berhasil mengenai lawan, dengan keadaan lebih aman daripada kuda-kuda sebelumnya.

Bahkan di akhir musim anime ini, terdapat pula satu teknik bertahan yang sangat sulit, yaitu menangkis panah. Teknik ini tidak berlandaskan fiktif, tetapi memang ada dalam Katalog Teknik dari HEMA. Coba dicek saja videonya di YouTube, saat seorang ahli berpedang tanpa Perisai (Shield), menangkis serangan anak panah yang ditembakkan padanya. Teknik yang sangat sulit, tetapi jadi bahan Flexing di anime ini.

Banting tulang ala Sensei (YouTube).
Teknik Lanjutan

Teknik lanjutan ini ada beberapa arti, yaitu berbagai teknik yang tidak sesuai standar. Banyak yang menganggap standar diatas memiliki kemuliaan karena masih berlandaskan teknik. Namun, dengan taruhan antara hidup-mati, maka teknik lanjutan bisa dilaksanakan pula. 

Feint alias Gerakan Tipu adalah sejenis teknik lanjutan, saat ahli berpedang mengarahkan gerak senjatanya, tetapi tidak ditujukan sesuai standar tekniknya. Teknik ini ditujukan untuk menipu lawan, agar salah arah dan posisi saat bertahan dan menangkis serangan. Gerakannya memang sulit dilaksanakan, tetapi memang cocok sebagai teknik lanjutan.

Contohnya saja adalah saat seorang menggunakan High Guard dengan pedang yang ada diatas. Lalu dia mulai menyerang dengan gerakan Menebas (Slashing), tetapi sesaat sebelum serangan berakhir, dia menarik tangannya ke arah belakang. Dengan posisi pedang yang berada di Mid Guard, musuh yang terkecoh dengan tangkisan keatas, teknik serangan pun beralih menjadi Menusuk (Thrusting). Organ vital lawan di pusat tubuh pun menjadi taruhannya.

Bahkan ada gerakan lain yang sangat pecicilan, yaitu mencengkeram tangan atau Bilah lawannya, demi menghentikan gerakannya. Ya, gerakan yang terlihat licik ini, memang ditujukan untuk mengalahkan musuh tanpa teknik berarti. Penyerang bisa mencengkeram tangan musuh, yang langsung terhenti begitu saja. 

Bahkan jika sudah terlatih, bisa mencengkeram Bilah musuhnya, seperti sempat dicontohkan pada video di beberapa kanal YouTube. Nama tekniknya adalah Sword Handling, yaitu saat ahli pedang mencengkeram pedang pada bagian (Bilah) tajamnya. Jika sudah terlatih, maka tidak sulit untuk melaksanakannya, bahkan untuk menahan serangan lawan. Tentu, dengan bantuan sejenis sarung tangan berbahan kulit, atau bahkan logam (Armor).

Dari anime ini pun ditunjukkan beberapa teknik yang terlihat licik, seperti menarik mantel lawan, mengunci dan mencongkel bagian guard (bagian antara Handle pedang dan Bilah), hingga menendang lawannya. Ya, teknik berpedang memang bisa dilaksanakan dengan Full Body Contact, alias menggunakan seluruh bagian tubuh demi bertahan dan menyerang.

Armor yang sangat melindungi (Fandom Wiki).

Senjata dan Baju Zirah

Di anime yang seharusnya berjudul Beryl Gardenant Saga ini, ditunjukkan pula berbagai senjata khas Eropa, diantaranya adalah Longsword, Short Sword, Rapier, Claymore, Zweihander, Shield (Perisai), Bow and Arrow (Busur Panah), dan bahkan Belati (Dagger).

Senjata tergantung dari tipe ahli berpedang, ukuran dan beratnya. Panjang serta pendeknya senjata memang menentukan teknik apa yang bisa digunakan. Tipe Longsword yang menjadi standar, maka seluruh gerakan bisa dilaksanakan. Tetapi Short Sword yang lebih pendek, maka penggunanya harus bergerak lebih maju untuk mencapai dan menghalangi jangkauan Longsword.

Senjata pun perlu sering diperbaiki, karena berpengaruh pada kemampuan dan daya serang ahli berpedang. Pedang yang banyak tergores, teriris pada Bilahnya, hingga tumpul dan bahkan patah, tentu tidak dapat digunakan dengan baik. Dari anime ini, ditunjukkan pula adegan pedang saat rusak hingga terbelah, serta cara memperbaikinya.

Baju Zirah pun ditunjukkan, dengan berbagai tingkatan tentunya. Terdapat armor ringan seperti baju biasa (sejenis Gambeson), armor menggunakan kulit (Leather Armor) yang cukup ringan dan mampu menahan serangan, hingga armor kelas berat seperti zirah dari logam, layaknya Plate Armor. Dan jangan lupa, Perisai digunakan pula sebagai bagian dari pertahanan, yang perlu menguasai teknik tertentu agar efektif.

Chivalry alias Sikap Ksatria

Nah, kali ini adalah topik yang lebih berbudaya, yaitu dengan peran seorang Guru (Kensei), Ahli Pedang (Kenshi) dan Ksatria (Samurai  atau Knight). Memiliki kemampuan khusus berpedang, berarti mengisi peran khusus pula di institusi dan masyarakat. 

Dalam anime ini, Beryl Gardenant memang seorang ahli berpedang yang bekerja sebagai guru, demi menurunkan ilmunya. Sementara Allucia yang merekrut Gardenant, adalah seorang komandan di Pasukan Kerajaan Revelis. Muridnya yang lain, Lysandra mengisi peran sebagai Petualang (Adventurer) di Serikat (Guild), yang lebih berperan dalam berburu monster berbahaya.

Ketiga peran diatas ternyata cukup seimbang dengan penggambaran Monarkinya, yaitu dengan peran para Ksatria dalam menjaga serta membantu urusan Royalti. Mereka sering diminta untuk menjadi penjaga bangsawan, atau sekedar berburu monster berbahaya di sekitar kerajaan. Para anggota Monarkinya pun tidak berbuat aneh-aneh, selain yang memiliki peran sebagai tokoh antagonis.

Bahkan di satu adegan, mereka memiliki budaya khusus. Yaitu, saling bertukar hadiah satu sama lain. Bukan hanya sekedar simbol kedekatan (Politik), tetapi saling berkontribusi satu sama lainnya. 

Contohnya adalah memilihkan pedang yang dibuat dari hasil buruan Serikat, yang tentunya diselesaikan oleh Beryl Gardenant dan Lysandra. Allucia pun sempat memilihkan pakaian formal ala bangsawan bagi Gardenant, demi mengisi peran saat kunjungan kerajaan berlangsung.

Magis Ala Low Fantasy

Di anime ini, ada beberapa pula karakter yang bisa menggunakan magis, walau tidak seheboh anime lain. Contohnya adalah sihir yang dilaksanakan oleh Ficelle (satu angkatan dengan Curuni), yang bisa mengikat dan mengekang lawannya sekaligus. Kehadiran monster pun menjadi satu kisah yang menarik, contohnya adalah Gryphon yang diburu oleh Lysandra dan Gardenant. 

Tetapi kehadiran Magis sebenarnya cukup besar di dunia anime ini, yaitu saat cerita beralih pada jurus yang dapat menghidupkan mayat (alias sejenis zombie). Bahkan saat Beryl berduel dengan Lucy (yang menjabat sebagai Ketua Magic Corps), dirinya sama sekali tidak sanggup melawannya. Berbagai jurus magis mematikan sanggup membasmi Beryl, yang dihentikan oleh Lucy karena hanya sekedar mengetes dan duel jalanan saja.

Itu Harfiah arti Breast Plate-nya (Fandom Wiki).

Kekurangan Teknik di Ossan Kensei 

Nah, sekarang perlu membahas kekurangan anime ini, khususnya pada bagian duel yang berlandaskan HEMA. Terdapat beberapa gerakan yang sebenarnya dilarang oleh HEMA, namun tetap dimunculkan dalam anime ini. Memang anime yang masih berlatar fantasi, sehingga tidak heran juga, walau referensi bagusnya masih sangat realistis.

Pertama adalah gerakan memutar yang dilaksanakan oleh banyak karakter. Gerakan ini ditujukan untuk mempercepat serangan atau menghindar, namun memunculkan posisi belakang tubuh. Posisi punggung adalah daerah vital yang berbahaya jika diserang, karena itu banyak Stance dan Guard ditujukan saat berhadapan langsung dengan lawan.

Kedua adalah lanjutan dari gerakan memutar. Biasanya di dunia HEMA, saat seorang ahli terpaksa memunculkan punggungnya pada musuh, berarti dirinya telah melaksanakan gerakan yang salah. Serangan yang terlalu melebar (alias Overswing) adalah akibatnya, yang menyebabkan ahli berpedang menyerang dengan sembrono, dan tidak bisa kembali ke posisi bertahan.

Ketiga adalah gerakan saat kedua pihak yang berduel, malah saling mengunci senjata. Walau agak minim ditunjukkan (dan terlalu sering di anime lain), tetapi gerakan ini cukup berbahaya. Banyak teknik yang dilaksanakan, apalagi mengacu pada Full Body Contact, agar kedua pihak tidak terkunci pada satu posisi saja. Menendang atau menggenggam tangan dan senjata lawan, adalah contohnya. Duel harus dilaksanakan mengalir, karena posisi kedua Duelist yang terlalu dekat, sangatlah berbahaya.

Terakhir adalah satu yang sangat pecicilan, yaitu banyaknya Waifu di anime ini. Maksudnya bukan penggambaran karakter wanita, tetapi pakaian yang mereka gunakan. Jika mengecek Armor yang dikenakan oleh karakter pria, maka terlihat cukup modis dan realistis. Sementara wanitanya, malah memakai Armor yang terlalu terbuka (dan seksi). 

Bahkan, Rose yang menggunakan armor lengkap pun, memiliki kekurangan sendiri. Selain tidak menggunakan Helm (karena ini Anime), bagian Breastplate-nya harfiah menunjukkan bentuk Buah Dada. Seharusnya, Breastplate memang Armor yang dipasang di bagian dada, dengan bentuk cembung dan melingkar. Bentuk tersebut bukan modis saja, melainkan baik untuk membalikkan posisi Bilah senjata saat terkena serangan.

Belah Saja Dadaku! (Fandom Wiki).

Penutup

Okeh, segitu saja setelah panjang lebar. Memang anime yang mengherankan bagi penulis, karena cukup realistis dalam penggambaran duel ala HEMA-nya. Tokoh utama Beryl yang sudah tua ini pun cukup menarik, karena tidak aneh dan pecicilan ala banyak tokoh utama di anime (yang kebanyakan remaja).

Jadi, silahkan saja nonton anime ini, yang rasanya berbeda dan menarik ceritanya, karena bertokoh utama Kensei Beryl Gardenant, sang guru berpedang yang telah berumur 45 tahun.

Okeh, Ciao.

Memahami Kisah Pein Akatsuki yang Mengetes Jinchuuriki dari Naruto

 

Pein atau entah siapa ini (Narutopedia).

Okeh, saatnya membahas kisah anime yang sebenarnya saya kurang suka, berjudul Naruto dengan sudut pandang dari Pein sang Akatsuki-nya. Sebelumnya saya ingin mengaku, bahwa dulu berhenti baca manga Naruto tepat saat Arc Akatsuki berakhir, karena kecewa dengan ceritanya. Jadi, penulis tidak membaca atau menonton recap saja dari YouTube untuk cerita di 4th Shinobi War. Dan akhirnya, kisah Akatsuki menjadi bahasan yang tepat di artikel Monsterisasi ini.

Daripada membahas ceritanya yang jelas penulis tidak baca seluruhnya, mungkin lebih baik merekomendasikan satu lagu yang sangat penulis suka. Ya, judulnya adalah Wind dari penyanyi Akeboshi. Lagu ini bisa disebut kebalikan cerita Naruto semenjak Shippuden, dan bahkan dari segi pemahaman penulis sendiri (khusus di Blog ini).

Lagu ini bahkan sempat diterjemahkan dengan lebih mendalam (karena berbahasa Inggris) dalam blog lain penulis. Namun, konsep blog sudah berbeda dari yang sekarang. Jadi, fokus saja pada pemahaman visual dan narasi yang dimiliki (dan sempat pro) dari seluruh observasi dan pengalaman penulis.

Jabat tangan saja cukup, kan? (Narutopedia).

Militer di Naruto

Bagi penggemar Naruto, tentu paham bahwa ninja di manga ini adalah sejenis organisasi militer, yang melindungi satu negara. Setiap negara memiliki struktur ninja-nya sendiri, lengkap dengan desa dimana pelatihan diawali sejak shinobi atau kunoichi masih berumur muda. Misi yang dijalankan kadang tidak berujung gelut, tetapi fungsi utamanya tetaplah sejenis militer.

Nah justru di artikel ini, penulis ingin membahas dari sudut pandang Pein, sang pendiri Akatsuki yang menjadi musuh utama Naruto. Menurut penulis, kisah Pein dan Akatsuki-nya adalah sejenis Benchmark, yang difokuskan pada kekuatan militer. Tujuan Pein alias Nagato saat merubah Akatsuki ke jalur sesat, adalah untuk mengajarkan dunia mengenai kepedihan (semata), sekaligus membasmi kekuatan militer di seluruh dunia.

Sangat pecicilan kan niat Pein dengan Rinnegan-nya? Ya, tapi coba ditelaah dari sudut pandang militernya. Mengacu pada berita heboh saat ini, coba dipikirkan saja tentang sebuah negara dengan kekuatan militernya. Saat masalah di perbatasan tiba, tentu kekuatan militer menjadi jawabannya. Namun, bagaimana dengan saat damai nan sejahtera? Justru itu maksud artikel ini.

Di saat damai, organisasi militer milik negara manapun tetap mengejar kekuatan pasukan tempurnya. Entah itu dari personil, persenjataan, kendaraan, hingga kelengkapan taktiknya. Itu pun dengan banyak dana dan waktu didistribusikan khusus untuk organisasi ini, dari dana negara tentunya. Seakan, misi menumpuk kekuatan militer adalah benchmark tersendiri, mirip saat ngoprek benchmark PC dengan segala perangkatnya.

Para Bijuu dan Hagoromo (Narutopedia).

Bijuu dan Jinchuuriki

Nah dari situ, itulah yang dimaksud oleh Pain dan cerita Naruto dari Masashi Kishimoto. Walau dari segi cerita agak kurang, namun benchmark semacam ini menjadi patokan setiap negara di Naruto. Kekuatan ninja dengan chakra dan hasil jurus adalah kuncinya, yang entah kemana perginya setiap samurai yang ada. 

Lalu, apa yang menjadi kunci kemampuan setiap negara? Kalau di naruto, berarti mahluk chakra murni bernama Bijuu, alias monster berekor. Banyak negara, termasuk diantaranya adalah desa Konohagukure (Daun) di negara Hi No Kuni (Api), memiliki Jinchuuriki-nya sebagai ninja yang dirasuki oleh Bijuu. Tujuannya agar chakra murni ini bisa dikendalikan dan difungsikan sebagai kekuatan militer.

Lalu Pein punya inisiatif tersendiri, yaitu menculik semua Bijuu dan Jinchuuriki, agar dapat dibuat sebagai Juubi, alias monster chakra berekor sepuluh. Apa tujuannya? yaitu membasmi seluruh ninja di setiap negara, agar menciptakan dunia yang damai dan ideal bagi Pein. 

Sudut pandang yang terlalu idealis dari Pein, dan memang berujung anarkis. Pein yang memiliki banyak jurus terlarang nan sakti, ternyata kacau jalan pikirannya. Seakan, mengingatkan beberapa pihak (di dunia nyata) yang terlalu militan dalam menjalankan narasi dan aksinya, sehingga berujung anarkis saja (dan melanggar etika, moral, normal, serta hukum). Ya, termasuk segala jenis media, entah itu fiktif atau warta berita.

Kaguya yang ingin kekal cantik abadi (Narutopedia).

Akhir Kisah yang Hina

Lucunya, rencana Pein ini sesuai dengan Orochimaru dan Madara Uchiha. Bagi Orochimaru, memiliki jawaban atas sumber asal kemampuan chakra, adalah pertanyaan terbesar hidupnya. Sementara Madara, ingin memiliki kemampuan melebihi itu semua. Orochimaru-lah (dengan sosok Kabuto) yang menggunakan Edo-Tensei untuk menciptakan Perang Ninja Keempat, sekaligus memanggil Madara dari persemayaman dirinya.

Lucunya lagi, setelah Madara berhasil menjadi Jinchuuriki bagi Juubi-nya, tiba pula Kaguya sang Dewi Bulan. Dewi yang satu ini ternyata asal muasal dari seluruh chakra di Bumi, yang menjawab pertanyaan terbesar dari Orochimaru alias Kabuto. Madara pun ikut menjadi korban berikutnya, yaitu menjadi wadah saja bagi Juubi dengan tujuan utama Kaguya, yaitu menyerap seluruh energi Bumi. 

Nah, bagaimana dengan Pein yang sebelumnya merencanakan ini (dan sempat hidup sesaat akibat Edo Tensei)? Justru disitulah letak paling miris nan ironis ala Naruto dari Masashi Kishimoto. Pein, Orochimaru, dan Madara hanyalah pion dari rencana aseli Kaguya. 

Padahal, Dewi cantik nan caem ini (secantik bulan) seharusnya menjadi sosok ibu mereka, karena Kaguya adalah sumber aseli dari seluruh kekuatan chakra di Bumi. Jadi, entah apa maksud Masashi Kishimoto, yang merubah kesan Kaguya menjadi tokoh jahat di Naruto. Mungkin, mangaka ini kagok dengan kesan militer di Naruto, sehingga sekalian saja dibuat ironis.

Ya, seakan seluruh kejadian dari awal cerita para Shinobi dan Kunoichi di banyak negara, hanyalah pion saja dari Dewi Kaguya demi melancarkan aksinya. Sebuah bidak kecil di militer, yang layaknya sebuah permainan papan catur, memang hanya satu alat saja. Namun, bagaimana para pemain (dan penghuni aseli) menjalankan taktiknya, sehingga permainan pun dapat dimenangkan dengan pergerakan para bidaknya. 

Sedikit Penutup

Ya sekali lagi, memang sebuah kisah pecicilan dari dunia militer sana, khususnya dari anime yang rame gelut dan drama personalnya. Sedalam dan semengerikan apapun juga wacananya, memang tidak bisa dilancarkan begitu saja dengan aksi sejahat atau se-idealis itu. 

Layaknya manga dan anime Naruto, yang membuat seluruh Otaku kembali menjadi Wibu, dan menganggap dunia nyata dan fiksi bisa dihadapi dengan cara idealis atau militan saja. Ya, layaknya sehelai daun (Konoha) di negara Hi No Kuni (Api).

Okeh, Ciao.