Tampilkan postingan dengan label Monsterisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monsterisasi. Tampilkan semua postingan

14 Januari 2026

Rasanya OP Ala Karakter Kirito di Anime Sword Art Online

 

Yujio di Project Alicization (SAO-Wiki).

Okeh, rasanya cukup aneh mulai nulis artikel Monsterisasi lagi, tetapi memang cocok di awal tahun 2026 ini. Apalagi setelah penjelasan di laman Monsterisasi mengenai Tanjiro dan kawan-kawan, serta artikel pertamanya mengenai film dari Makoto Shinkai, jadi ya tinggal dilanjutkan saja.

Terlebih lagi, istilah Monsterisasi-nya sendiri cukup aneh, jika dibandingkan dengan apa yang dibahas. Jadi, di artikel ini, penulis akan membahas satu karakter OP, yang memulai animo anime isekai di Jepang sana, bernama Kirito Kazugaya.

Ya, karakter utama dari serial novel dan anime Sword Art Online (SAO) ini, justru paling cocok dibahas di artikel ini, Monsterisasi. Kenapa? Karena seperti dibahas sebelumnya mengenai perubahan 'makna' seorang karakter dan dikejar masa lalu, maka Kirito adalah satu 'Monster' terbesar dari sudut pandang tersebut.

Memang Monter terbesarkah? Tentu Saja! Karena Kirito punya Buanyak HAREM sedunia, bahkan mengalahkan seluruh anime lain! Hehe, becanda... 

Trope Kirito yang punya banyak harem, sebenarnya digambarkan di anime saja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kirito sebenarnya adalah pemain MMO solo karir, yang seringkali membantu player (cewe) lain pas namatin quest.

Trope Kirito sebagai karakter OP yang punya banyak harem pun, membuat anime SAO tidak disukai oleh banyak wibu dan otaku. Padahal, menurut novel aselinya, Kirito memang tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun (selain Asuna).

Okeh, itu pengenalan saja mengenai urusan kelamin Kirito. Tetapi bagaimana dengan jiwanya sebagai seorang Monster? Nah, dari segi Action RPG atau MMO sekalian, Kirito memang termasuk OP, layaknya karakter Endgame - Post Game Grind di banyak RPG.

Walau karakter Kirito di novel dan animenya cukup berbeda, tetapi plot utama serta jalan ceritanya tetap mirip. Yaitu, saat Kirito harus meng-carry seluruh tim, hingga seluruh server, untuk selamat walafiat di dunia MMO. Trope cerita Kirito terus berlanjut dari server Aincrad, bahkan hingga seri anime terakhir, yang berjudul Alicization: War of Underworld.

Nah, daripada membahas bagaimana kisah Kirito meng-carry semuanya (padahal mah pake cheat juga anjir), lebih baik dicek saja pas Kirito cocok sebagai MC kita selama ini. Tepatnya, saat masih berada di dunia Project Alicization. Itupun, tidak hanya berfokus pada Kirito, tetapi teman virtualnya sendiri, yaitu Eugeo (Yujio).

Kirito dan Asuna yang sudah resmi berumur dewasa (Mipon).

Project Alicization bersama Alice, Yujio dan Kirito

Perlu diingat, bahwa Kirito di Project Alicization sudah berumur 20 tahun, alias baru lulus SMA dan memulai kuliah. Penggemarnya pasti tahu, bahwa Kirito dan banyak penyintas Aincrad lain, ke-skip sekolahnya selama dua tahun lebih. 

Jadi, Kirito di serial anime ini memang sudah dewasa, dan bekerja (magang) sebagai beta tester (lagi) di Project Alicization. Sayangnya (seperti biasanya), proyek yang sudah diamankan ini, harus dioperasikan sebagai penelitian bagi pasien yang mengalami koma.

Ya, Kirito yang diserang oleh racun syaraf saat berduaan dengan Asuna di dunia nyata, akhirnya koma dan perlu dirawat di dunia Project Alicization. Kirito yang sebenarnya berumur lima tahun di dunia ini, perlu mengulang kembali sepuluh tahun hidupnya, akibat perbedaan waktu dengan dunia nyata.

Namun, dari segi ini bisa dianalisa, bahwa Kirito bersama karakter AI bernama Yujio dan Alice, sebenarnya mengulang kembali masa kecil yang hilang. Di dunia nyata, Kirito adalah seorang yatim-piatu, yang tinggal bersama sepupunya yaitu Suguha, dan kakeknya saja. Momen masa kecil bersama Alice dan Yujio, seakan proses untuk menyembuhkan kembali rasa terpendam Kirito.

Tidak hanya itu, saat berumur 15 tahun alias SMP, Kirito pun terjebak di Sword Art Online dan dunia Aincrad-nya. Disitu, Kirito selalu merasa bersalah, karena tidak sanggup membantu banyak pemain SAO.

Dan latar Kirito tersebut sangat nyambung dengan karakter baru di Alicization, yaitu temannya sendiri bernama Yujio. Karakter berambut pirang dan tinggi sama dengan Kirito ini, memiliki keperibadian baik, halus, penurut, dan setia. 

Namun sedikit spoiler, Yujio akhirnya meninggal dalam seri ini. Kisah Yujio yang meninggal, mengingatkan pula perubahan terbesar dalam diri Kirito. Yaitu, untuk terus berinisiatif gelut, dengan berbagai tingkat edgy-nya. Yujio pun meninggal akibat misi keduanya.

Padahal, sebelum terjebak di dunia Aincrad, Kirito adalah anak SMP biasa yang cukup halus pembawaannya. Kematian Yujio seakan mengingatkan, bahwa Kirito yang selama ini terlalu Power-Creep, adalah perubahan besar akibat Aincrad. Padahal di episode awal SAO saja, Kirito pura-pura edgy, untuk menghindari kejaran dari pemain lain.

Visual karakter Yujio pun cukup terbalik dengan Kirito, khususnya sebagai avatar. Kirito berambut hitam, dengan pakaian serba hitam pula. Sementara Yujio berambut pirang, dengan pakaian berwarna biru cerah. Padahal, desain baju keduanya masih cukup mirip.

Nah, kembali ke momen Yujio meninggal, bencana lain menimpa pula Kirito yang kalah bertarung. Dirinya terjebak dalam dirinya sendiri, mirip dengan koma di dunia nyata. Alias, Kirito memang koma dua dunia sekaligus. 

Saat masih koma, dengan serial Alicization yang dilanjutkan di War of Underworld, Kirito memang tidak muncul sama sekali. Jika adegan Kirito muncul, berarti saat dirinya terjebak dalam kenangannya sendiri, mulai jaman SMP hingga Aincrad, lalu banyak momen menyedihkan lainnya. 

Momen ini, layaknya men-defrag Operational System dalam Personal Computer dengan begitu banyak data yang memenuhi memori Hard Disk Drive atau Solid State Drive. Dengan begitu, PC akan bekerja lebih cepat dan kinerja lebih baik lagi. 

Bahkan di akhir momen tersebut, Yujio, Asuna, Shino, dan Suguha muncul, untuk membangunkan kembali Kirito dari dalam kenangannya. Momennya cukup dalam, karena Kirito harus menerima dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan, yang sempat menyelamatkan (nyawa) keempat temannya tersebut. Walau Yujio telah meninggal, dirinya adalah sosok jiwa Kirito yang Aseli.

Daaan, begitulah alasannya mengapa Kirito (alias Yujio) adalah seorang karakter Monster, yang selalu diminta untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia MMO, hingga berujung celaka di dunia nyata.

Avatar-nya saja di dunia Project Alicization, masih berupa Kirito umur 15 tahunan. Seakan, mengingatkan kembali awal edgy-nya karakter Kirito yang OP ini.

Akhir dari Alicization, yang entah kapan dilanjutkan serial anime-nya, menjadi sekedar closure alias penutup, bagi kisah Kirito yang sudah terlalu OP, hingga berujung status sebagai Monster!

8 Januari 2026

Menjiwai Anime Ala Sutradara Makoto Shinkai

 

Akari yang sudah lama move-on (TMDB).

Daaan, akhirnya sampai di penghujung minggu dengan rangkaian kisah romansa menarik dari negeri Sakura sana, berjudul 5 Centimeters Per Second, yang tayang ulang di sinema Indonesia. Film ini diproduksi dengan arahan sutradara mantap bernama Makoto Shinkai, yang lihai membuat visual ciamik saat menjabarkan adegannya.

Penulis mau jujur, sebenarnya baru mengenal nama Makoto Shinkai, yang ternyata sering berkecimpung sebagai pemimpin produksi anime terkenal, dengan beberapa karya yang termasuk favorit saya (alias sempat ditonton).

Diantaranya adalah Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007), Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013), Kimi no Nawa (Your Name; 2016) dan Tenki no Ko (Weathering with You; 2019). Seluruh anime ini, bisa dinikmati oleh rating umur Remaja (R13) keatas.

Arahan Makoto Shinkai pada setiap film anime-nya, khas dengan referensi lokasi langsung di dunia nyata. Lalu, digambarkan dengan indah ala anime, sebagai bagian adegan filmnya. Cukup sinkron memang, padahal banyak kisah filmnya kurang mudah dicerna.

Karena itu, di artikel pertama Monsterisasi ini, saya coba membahas seluruh 'Penjiwaan' berbagai film ini, yang ternyata cukup dalam. Mengingatkan pula, bahwa artikel Monsterisasi di blog ini adalah sejenis istilah (yang penulis kreasi sendiri) untuk mengenal penggambaran non-harfiah, dari karya seni tersebut.

Lokasi sebuah perlintasan rel (TMDB).

Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007)

Ya, mulai saja dengan film yang paling sulit dianalisis, sekaligus akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ini. Memang sulit dianalisa, karena film Byosoku ini cukup realistis (P). Mungkin, satu anime Romansa paling realistis yang pernah saya tonton sendiri (agak relate kali ya?).

Pokoknya, bagaimanapun plot utama, adegan, dan jalan cerita yang terjalin dalam film anime ini, tonton saja sampai akhir. Film ini memang mengisahkan, hubungan jarak jauh (LDR), antara Takaki (Kenji Misuhashi) dan Akari (Yoshimi Kondou & Ayaka Onoue). Keduanya harus berjibaku, dengan perbedaan jarak, ruang dan waktu. Serta, keduanya hanya dapat berkomunikasi melalui media surat menyurat, dan ponsel saja.

Penulis bisa merekomendasikan, satu lagu di akhir film, yang terlihat layaknya credit song. Padahal, jika ditonton animasinya secara mendetail (saat lagu masih berlangsung) , maka terjawab sudah maksud cerita sejak awal film, hingga berakhir.

Takao dan Yukino yang masih terjebak hujan (TMDB).

Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013)

Okeh, berlanjut ke Kotonoha no Niwa, yang memang lebih jelas dan dalam lagi penggambarannya, padahal hanya berdurasi kurang dari satu jam saja, sama seperti film sebelumnya.

Terlihat dalam adegannya, bahwa Takao (Miyu Irino) yang terjebak hujan saat berangkat sekolah, dan perlu berteduh di sebuah gazebo taman. Disana, dia bertemu dengan Yukino (Kana Hanazawa), seorang guru muda yang terlambat pula saat berangkat sekolah.

Dari situ, keduanya berkenalan, dan saling memahami profesi masing-masing. Takao bahkan berselirih, bahwa dirinya tidak begitu peduli dengan sekolah, dan bermimpi untuk bekerja sebagai seorang perajin sepatu. Sementara Yukino, tercengang dan kagum atas dedikasi Takao, setelah melihat katalog serta beberapa hasil karyanya.

Nah, tampaknya untuk menelaah kisah ini, perlu langsung mengacu ke istilah atau peribahasa bule, yang berselirih 'Someone's Shoes.' Arti dari istilah ini, adalah profesi seseorang dan segala keahliannya. 

Segitu saja sudah cukup jelas, bahwa Takao adalah seorang perajin sepatu, yang bersemangat untuk memberikan dasar langkah seseorang. Sementara Yukino adalah seorang guru, yang bertanggung jawab untuk membantu muridnya, dalam memiliki 'sepatu' tersebut, lalu melangkah maju menuju profesi masing-masing.

Ada satu adegan lagi, dimana Yukino yang penasaran dengan kemampuan Takao, lalu mencoba salah satu sepatu karyanya. Layaknya adegan dongeng terdahulu, bukannya maksud ini seperti kisah Cinderella, yang fokus pada sepasang sepatu? Apalagi, dengan referensi peribahasa dari Eropa itu sendiri, yang menguatkan gambaran dan maksud film ini.

Bahkan, bagi yang sudah cukup paham mengenai dua poin tersebut, kenapa tidak coba cek judulnya saja sekalian? Judulnya saja sudah Garden of Words, yang berarti Taman Kata-Kata. Maksud yang sudah sangat kentara, bahwa komunikasi antara guru dan murid, serta Kegiatan Belajar dan Mengajar, layaknya momen mengurus taman, beserta banyak tanaman, bunga, serta serangganya (^^).

Pertemuan keduanya pun selalu terjadi saat hujan deras tiba, sehingga keduanya 'terpaksa' telat ke sekolah. Air hujan, atau air pada umumnya, tentu sebuah 'nutrisi kesegaran' khusus, bagi siklus fotosintesis ala tanaman yang tumbuh.

Taki dan Mitsuha yang entah kenapa dipertemukan (TMDB).

Kimi no Nawa (Your Name; 2016)

Dan, berikutnya adalah anime yang begitu melejit nama Makoto Shinkai sebagai sutradara ciamik sedunia, dengan anime berjudul Kimi no Nawa. Penulis hanya bisa mengacu pada dua hal saja mengenai anime Romansa meriah ini, yaitu konsep Waktu dan Proses Berimajinasi.

Plot utama Kimi no Nawa, adalah saat Taki (Ryunosuke Kamiki) yang terbalik tubuhnya dengan Mitsuha (Mone Kamishiraishi). Keduanya pun ternyata berbeda waktu, karena kota hunian Mitsuha bernama Itomori, kondisinya telah berbeda dari sudut pandang Taki. Padahal, Itomori terus diceritakan selama anime berlangsung.

Dari situ, penulis langsung beranggapan, bahwa fantasi dalam film ini, memang tidak bisa dianggap harfiah lagi. Konsep waktu dalam Kimi no Nawa, kentara terasa perbedaannya. Jadi, jika ditelaah secara visual animenya, maka hasilnya adalah hubungan manusiawi yang cukup lekat, yaitu proses imajinasi di organ Otak.

Bayangkan saja, saat sepasang insan mengobrol berdua di sebuah kafe, sambil ngemil dan minum jus. Saat itu, sang cewek, alias Mitsuha, berselirih tentang kondisi kotanya dahulu, sebelum dia pindah ke kota hunian, dimana dia bertemu dengan sang cowok, alias Taki.

Mitsuha lalu mulai menjelaskan, bagaimana kondisi kota Itomori, saat dia masih tinggal disitu. Taki yang belum pernah berkunjung ke kota tersebut, dan tidak bisa mengeceknya karena kotanya sudah berbeda, akhirnya merangsang area visual korteks posterior di otak. Dengan begitu, Taki sanggup berimajinasi mengenai gambaran kota yang diceritakan Taki.

Sementara dari Mitsuha-nya sendiri, dia sanggup memiliki visual yang lebih tepat, karena memang dia tinggal dan melihat langsung seluruh momen di Itomori. 

Nah, dari hasil imajinasi sepasang insan tersebut, jika tercampur, maka akan saling berjumpalitan visualnya. Layaknya kedua manusia yang tengah mengobrol, maka visual yang muncul akan variatif, sesuai persepsi masing-masing.

Durasinya juga mirip, loh. Yaitu hampir dua jam lamanya, yang berarti waktu yang cukup untuk ngobrol ngalor-ngidul antar sepasang muda-mudi, di sebuah momen tertentu. Jadi menurut penulis, Kimi no Nawa mengisahkan secara abstrak, romansa apa yang terjadi diantara kedua insan manusia.

Hodaka dan Hina yang masih sanggup melihat keadaan (TMDB). 

Tenki no Ko (Weathering with You; 2019)

Oh ya, jujur saja (lagi), sebenarnya penulis baru menonton film Tenki no Ko saat tahun 2025 kemarin, hehe. Penulis memang terbiasa menghindari kisah Romansa dari Jepang sana, yang memang suka mendalam ceritanya. Biasanya sih, paling nonton anime horor atau Seinen, dan kadang Shonen.

Okeh, kembali ke Anime Tenki no Ko, yang menurut penulis lebih mengisahkan sebuah konsep utama lainnya, yaitu Ruang. Kali ini, tentu lebih kentara lagi penggambarannya, dengan berfokus pada satu lokasi kota, yaitu ibukota Tokyo yang sedang mengalami cuaca ekstrem.

Tenki no Ko, mengisahkan tentang Hodaka (Kotaro Daigo), yang baru melarikan diri dari kota kediamannya, dan memilih hidup di Tokyo. Kebetulan Hodaka bertemu dengan Hina (Nana Mori), seorang gadis cuaca sekaligus legenda urban, di atap gedung tua yang lengkap dengan gerbang Tori-nya.

Dari situ saja, konsep ruang sudah terlihat jelas, dengan adegan di atap gedung tua terbengkalai, dan gerbang Tori. Gerbang semacam ini, biasa ditempatkan sebagai Gapura masuk kuil Shinto, dan cukup dikeramatkan. Namun, jika gedung, gerbang, serta lokasinya saja sudah terbengkalai, maka kuil yang ada didalamnya sudah tidak digunakan kembali, alias angker. Di anime ini, tidak ada kuilnya.

Tenki no Ko berarti coba menggambarkan, bahwa diantara perkembangan jaman modern yang maju di Jepang, dengan sistem kepercayaan tradisional sudah mulai dilupakan. Layaknya, gedung tua serta gerbang Tori tersebut.

Lalu meloncat ke akhir film, dimana akhirnya Tokyo terendam banjir, mirip dengan julukan lamanya, yaitu Venice dari Asia. Salah seorang karakter dalam film ini, yaitu seorang nenek, berselirih bahwa Tokyo layaknya kembali ke jaman Edo, alias 200 tahun lalu, sekitar tahun 1868.  

Maka, akhir film menggambarkan, bahwa Tokyo sebenarnya kembali ke jaman tersebut. Yaitu, awal mula kota dengan banyak kanal ini, hingga dikenal sebagai Venice dari Asia.

Menurut penulis sendiri, walau Tokyo sedang mengalami banjir sebagai bencana dahsyat, ternyata hanya sebuah siklus saja. Bahkan, dokumentasi sejarah cukup menunjukkan, bahwa Tokyo memang belum pernah 'sekering' itu, sejak 200 tahun lalu. Bisa disebut sebagai perubahan geografis, namun tetap saja, 'ruangnya' malah kembali ke bentuk sebelumnya.

Okeh, tampaknya segitu saja. Ciao.