Tampilkan postingan dengan label Monsterisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monsterisasi. Tampilkan semua postingan

15 April 2026

Menikmati Kursi Penonton di Film The Cabin in the Woods

 

Kelima stereotype yang linglung (TMDB).

Sekarang saatnya menelaah film yang sebenarnya termasuk parodi, alias ironi dari genre-nya sendiri, berjudul The Cabin in the Woods. Film yang rilis tahun 2012 ini, berkisah sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak di sebuah kabin tua, di tengah hutan (sesuai judulnya). Ya, memang dari judul dan plot utamanya saja, sudah menyatakan ironi atas plot dan karakter dari genre horor ala film Hollywood.

Siapakah gerangan trio berkerah putih ini? (TMDB).

Sedikit Latar Kru Film The Cabin in the Woods

Bagi yang sudah menonton atau mengecek trailernya, tentu tahu beberapa aktor yang mengisinya. Chris Hemsworth sang Thor dari Marvel, tentu menjadi salfok yang khusus. Terdapat pula Franz Kranz, yang sebelumnya terkenal di film 300 (2006). Duo nama aktor yang terkenal, tapi mau juga berperan di genre yang memang pecicilan ini. 

Oh ya, ada satu nama aktris yang menjadi cameo pula di akhir film, tetapi tidak akan dibahas karena membuka isi ceritanya.

Bagi yang tahu Drew Goddard, tentu sempat mengenal film berjudul Cloverfield (2008) yang cukup fantastis. Berikut pula dengan sutradara Joss Whedon, yang dikenal sejak film Alien Resurrection (1997), lalu berlanjut di dunia Marvel dengan The Avengers (2012), Avengers: Age of Ultron (2015), dan sempat di DC dengan Justice League (2017).

Bahkan studionya pun memiliki nama tersendiri, yaitu dari Lionsgate Movies. Studio yang satu ini memang sering menyajikan film unik, padahal sudah cukup lama berkecimpung di dunia perfilman Hollywood (sejak 1997 lalu). Contoh terakhirnya, adalah film Turbulence yang dibahas tepat minggu ini dalam blog Sedia Saja.

Referensi Film dalam The Cabin in the Woods

Justru artikel ini tidak hanya merekomendasikan film The Cabin in the Woods, yang memang sangat berbeda dan memuaskan. Artikel ini akan menelaah tentang ironi dibalik produksi film horor. 

Sebenarnya banyak referensi horor yang dimasukkan ke dalam film ini, dari banyak waralaba lain. Seakan, film ini memang dibuat untuk homage saja terhadap banyak film lain dengan genre horor. 

Referensi tersebut akan dibahas sedikit, dan lebih baik dicek saat menontonnya saja. Bagi penggemar horor, tentu paham referensi dalam film The Cabin in the Woods. Contoh paling wajar adalah berbagai jenis monster dan situasi, dimana sering diadaptasi pada naskah film horor.

Contoh lebih spesifik akan membuat tercengang penonton, yaitu banyaknya mahluk bergentayangan dalam film ini. Bisa dicek satu-satu ya, dan yang sudah atau belum menonton, akan heran mengapa studio bisa mengisi film ini dengan banyak sekali karakter tersebut.

Terdapat referensi dari Friday 13th, Hellraiser, Werewolf, Sejenis Jurig, The Cube, Dreamcatcher, Eight Legged Freaks, Anaconda, Pennywise IT, The Shining, Leatherface, Zombie Pecicilan, KKK, SCP, Bats, Evil Dead, Gremlin, Alien, Psikopat Bertopeng Sok Brutal, Wrong Turn, Merman, Unicorn? dan bahkan Lovecraft! 

Masih banyak referensi film lainnya, yang penulis kurang pahami karena tidak selengkap itu menonton film horor. Ya, memang mengherankan bagaimana film berdurasi hanya 90 menit ini, berhasil memasukkan banyak dan variasi referensi film horor. Mungkin sang penulis naskah bernama Goddard ini, terlalu banyak melinting rokok saat menulisnya.

Atau mungkin, film horor sejenis ini menjadi latihan khusus bagi para penonton, penggemar, atau penulis yang berminat, dalam mengecek dan mengombinasikan referensi yang ada. Ranah sejenis ini memang bisa melatih kemampuan analisis, dalam melacak variasi dan sekaligus berkreasi.

Tidak se-ironis ini, kali ya...? (TMDB).

Ironi Film The Cabin in the Woods

Nah, apakah memang film ini hanya berisi referensi dari film lain saja? Tentu tidak. Terdapat satu hasil (observasi) orisinal dalam film ini, yang berisi ritual ala persembahan. Yaitu, dengan menumbalkan beberapa jenis karakter (ala film), dalam satu sesi pengorbanan tertentu.

Horor versi Amerika memang sering berisi stereotype karakter tertentu, yang dalam film ini berlandaskan The Athlete, The Whore, The Scholar, The Fool, dan The Virgin. Kelima karakter biasanya mengisi film horor pemuda-pemudi dan lainnya, dan terus diulang-ulang di banyak film, hingga seterusnya.

Ironi seperti ini menjadi khas utama di film The Cabin in the Woods. Seakan, seluruh naskah film yang dibuat oleh studio, telah di-setting sebegitu mungkin, agar sesuai dengan kemampuan yang pas bagi sutradara, aktor-aktris, kru, tim efek spesial, dan editornya. 

Bahkan, film ini menggambarkan secara harfiah, bagaimana ritual produksi film, bisa menjadi esensi yang mematikan dibalik layar. Tidak akan dibahas lebih lanjut mengenai tim produksi dibalik film ini, karena akan membuka (banyak) kisahnya. 

Perbedaan utama di genre film horor sejak The Cabin in the Woods dirilis, adalah berkembangnya horor Hollywood hingga sekarang. Banyak variasi horor yang semakin kreatif, dengan hanya menghindari stereotype diatas saja. Bahkan banyak filmnya yang mengambil referensi dari budaya yang cocok, tanpa perlu (ikut) menyalahgunakan referensi aslinya.

Karena itu, penulis juga heran sendiri, mengapa film horor menjadi minat terbaru. Sebelumnya, penulis lebih suka menonton film aksi, pahlawan super, atau bahkan kisah petualangan. Sementara pada jaman tersebut, film horor adalah pilihan yang aman, karena ceritanya dan adegannya suka sama dan begitu saja. 

Bahkan, Plot Twist yang berubah di film horor jaman sekarang, menjadi pilihan cerita yang kurang tertebak. Terlebih lagi, film horor sekarang seringkali bebas dalam menentukan akhirnya, yang bisa berarti Good atau Bad Ending. Kadang akhir film dikombinasikan pula, sehingga berakhir Miris-Manis alias Bittersweet Ending (ala film drama yang antiklimaks).

Ya, film The Cabin in the Woods memang mengacu pada ironi referensi film saat awal 2010an lalu, dan banyak waralaba sebelumnya. Sementara di tahun 2020an ini, film horor telah berkembang jauh, yang terkombinasi genre lainnya.

Oh ya, kisah di Cabin in the Woods ada yang berbeda pula, yaitu para karakter (utamanya) yang mau dan sanggup melawan balik agresornya. Tokohnya tidak terjebak dalam stereotype film horor, yang langsung lemah dan menyerah begitu saja (alias panik berdiam diri).

Wah2, ini film masih sejenis cermin satu arahkah? (TMDB).

Duduk Manis ala Penonton Film

Nah, singkat saja sebagai penonton, penggemar, dan pemerhati film horor (atau media secara luas), yaitu dengan duduk manis, menikmati, lalu menelaah saja tayangan yang ada. Apalagi setelah mengacu pada film The Conspiracy, yang dibahas di artikel sebelumnya.

Jadi, layaknya karakter Dana Polk sang The Virgin dari satu adegan di film The Cabin in the Woods, yang berselirih pedih "Let's Get This Party Started," sambil menekan tombol merah untuk membuka banyak hal yang berbahaya.

WAAAAARGHHHHH!!!

Mengecek Pesan Khusus dari Film The Conspiracy

 

Aaron yang sudah terlalu obsesif dan konspiratif (TMDB).

Okeh, karena beberapa minggu terakhir banyak kabar terdengar dari media massa, media sosial, hingga banyak jenis pemangku konten lainnya, jadinya penulis ingin membahas film The Conspiracy di artikel Monsterisasi. 

Film yang rilis tahun 2012 ini membahas tentang sebuah konspirasi besar, dengan sudut pandang warga biasa dalam menanggapi isu sesat tersebut. Ya, bahkan film ini adalah sejenis Found Footage, namun lebih bisa dianggap sebagai jenis film Mockumentary.

Found Footage dan Mockumentary

Found Footage (bersudut pandang kamera orang pertama) awalnya diramaikan oleh The Blair Witch Project dari tahun 1999 lalu. Bahkan, film ini sempat disetel sebagai film aseli, dengan beberapa situs web yang dibuat, dan diramaikan di ranah forum Inet. 

Namun perkembangan saat ini justru merubah Found Footage menjadi ranah yang niche, dan tidak banyak improvisasi diluar adegan kamera. Perkembangan yang kentara adalah mulai munculnya sub-genre Mockumentary, yang berisi adegan lebih stabil layaknya dokumenter biasa.

The Conspiracy sebenarnya bersub-genre Found Footage, yang tentunya berisi adegan kamera dari sudut pandang orang pertama (layaknya handcam). Namun (sekali lagi) menurut pendapat penulis, film ini lebih mirip sub-genre lainnya, yaitu Mockumentary. Film sejenis ini tidak banyak memasukkan adegan heboh, namun lebih didominasi oleh struktur ala dokumenter. Ya, tetap saja sejenis dokumenter palsu, yang berisi cerita fiktif. Istilah Mock itu artinya adalah sejenis palsu.

Namun karena penggambaran cerita yang menarik, dengan perkembangan cerita dan informasi yang agak plot twist setiap pindah adegan, menjadi jenis tontonan yang menarik. Memang berbeda dengan Found Footage yang amburadul dan goyang kameranya (shaking cam), Mockumentary menyajikan adegan yang stabil. Contohnya, adalah wawancara langsung dengan karakternya, atau sekedar lokasi TKP dan pembaruan informasi yang ditelaah bersama karakternya.

Dengan visualisasi yang berbeda dari Found Footage, Mockumentary bisa lebih mengalir dalam menjabarkan ceritanya. Kadang sedikit terjadi adegan drama, aksi, atau sejenis heboh lainnya. Namun, cerita disajikan dengan rapih dan terstruktur selayaknya menonton dokumenter, contohnya alam liar ala National Geographic atau sejarah dunia ala History Channel. 

Karena masih ranah fiktif yang menyajikan cerita dan adegan mengerikan, jadi genre utama Mockumentary (biasanya) adalah Horor. Entah berapa kali penulis merasa merinding menonton film sejenis ini, melebihi adegan horor biasa yang suka jump-scare atau terlalu sensasional. Atmosfer yang lebih damai dan kurang gelap, seakan menipu penonton dengan visual yang ada. 

Tetapi, ada beberapa film yang membuat merasa penulis tertipu. Ada dua film yang aslinya masuk ranah dokumenter nyata, namun disajikan ala (dramatisnya) Mockumentary. 

Pertama adalah film Cropsey, dari tahun 2009 lalu. Saat menonton pertama kalinya, penulis menganggap ini hanya Mockumentary. Tetapi pas dicek di Inet, ternyata film ini berisi kasus nyata mengenai aksi penculikan dan anak hilang, yang terjadi di Staten Island, AS. Film ini menyajikan hubungan kasus tersebut dengan sebuah Bangsal RSJ besar di sekitar lokasi TKP, yang ada hubungannya dengan kasus kriminal tersebut.

Dan penulis pun tertipu kedua kalinya, saat menonton film berjudul Beware The Slenderman dari tahun 2016 lalu. Awalnya penulis menganggap bahwa film ini adalah sejenis fiksi ala karakter horor bernama Slenderman, yang sempat ramai awal tahun 2010an lalu. Namun pas ditonton dan dicek di Inet (lagi), ternyata berisi kasus nyata di Wiscounsin AS. Kasus ini berisi kekerasan anak dibawah umur, dengan istilah 'bisikan setan' dari karakter Slenderman.

Kedua film pun menyajikan informasi dengan foto, rekaman, atau dokumen asli mengenai warga nyata yang terkait kasus tersebut. Keduanya memang kisah mengerikan dari ranah perfilman nyata, yang tersaji dengan cukup realistis.

Waspada ada Slenderman (TMDB).

Hubungannya dengan Film The Conspiracy

Nah, setelah membahas dua film yang ternyata dokumenter asli, kali ini perlu membahas tentang film The Conspiracy. Film ini memang masih beranah fiktif, namun tetap ada satu bahasan dan pesan yang bisa diterima oleh penonton biasa. Yaitu saat penonton atau warga biasa, menanggapi kisah konspirasi besar, yang dapat langsung berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Penulis merekomendasi film ini untuk langsung ditonton saja, karena film yang berformat Mockumentary memang sulit dibahas adegannya. Sehingga, langsung saja mengacu pada referensi dan pesan yang disampaikan. Penulis pun tidak akan membuka alias spoil isi ceritanya, agar menontonnya lebih dapat diterima.

Sebelum mengacu pada pada pesannya, penulis perlu menjabarkan adegan yang cukup masuk gambaran besar untuk film ini. Plotnya yaitu karakter Aaron (Aaron Poole) sebagai sutradara dan Jim (James Gilbert) sebagai kameramen, yang terobsesi dengan sekelompok sekte elit di sekitar huniannya, tepatnya di AS sana. Keduanya berniat menguak keberadaan asli sekelompok warga elit tersebut, layaknya video dokumenter jurnalistik investigasi.

Nah singkat cerita, keduanya berjibaku lama untuk melacak keberadaan sekte warga elit tersebut. Bahkan Aaron berhasil menyelundup masuk ke jamuan makan, pesta, sekaligus ritual sekte aneh tersebut. Aaron membawa kamera tersembunyi (hidden cam) dibalik bajunya, agar dapat merekam semuanya. 

Warga yang diundang, ternyata mengenakan kostum (dress-code), salam, dan ritual khusus lainnya. Biasanya, hanya anggota aseli yang mengajarkan ritual khusus kepada tamu yang baru diundang. 

Daaan... penulis pun tidak akan menjabarkan isi kisah berikutnya, dan pembaca perlu menonton langsung. 

Gak perlu sampai demo (sendiri) kaya gitu juga... (TMDB).

Penutup dan Pesan dari Film The Conspiracy

Nah kembali ke pesan yang disampaikan dari film, menurut penulis justru sebagai pembaca, penonton, dan warga biasa, perlu menanggapi ranah konspiratif dengan pesimis. Istilah dari bahasa Inggrisnya adalah 'Take Everything with A Grain of Salt,' yang berarti setiap informasi yang diterima, harus ditanggapi pesimis dan ditelaah terlebih dahulu. Jadi, tidak perlu terobsesi dengan kabar konspiratif jenis manapun.

Apalagi dari keadaan berita beberapa bulan terakhir, yang terasa seperti konspirasi besar para elit dunia. Contohnya adalah Epstein Files, yang dibongkar oleh Federal Bureau of Investigation (FBI). Isinya berisi banyak kalangan elit dunia, yaitu banyak pemimpin perusahaan besar multi nasional yang ikutserta ritual sekte tertentu. Bahkan ada beberapa tokoh dari negara tercinta Indonesia, yang ternyata masuk daftar tersebut.

Kalau ditanya pesimis, justru penulis masih heran tentang kabar ini. Bukan dari ranah konspirasinya, tetapi dari pihak yang menyebarkan informasinya. Standar Operasional FBI harusnya terbatas hukum (Yurisdiksi) di wilayah AS saja, walau sering membantu ranah internasional. Justru untuk wilayah internasional, kabar sejenis ini biasanya dibongkar oleh Central Intelligence Agency (CIA), yang memang berkecimpungan sebagai intelijen luar negeri utama bagi AS.

Walau begitu, FBI memang fokus pada investigasi sosok Jeffrey Epstein, yang memiliki kewarganegaraan utama sebagai warga AS. Jadi, tidak mengherankan pula bahwa kisah ini diawali dari investigasi di wilayah AS, yang berujung efeknya pada dunia internasional.

Okeh, segitu saja dan Stay Vigilant. 

Wassalam.

14 April 2026

Belajar Teknik Berpedang via Sensei Beryl Gardenant di Anime From Old Country Bumpkin to Master Swordsman

 

Sensei Beryl Gardenant yang sumringah saat minum (TMDB).

Okeh, saatnya artikel Monsterisasi yang berbeda dengan lainnya, yaitu mengacu pada anime From Old Country Bumpkin to Master Swordman (Ossan Kensei), yang tayang tahun lalu. Sebenarnya penulis baru menonton anime ini bulan Maret lalu, dan ternyata sangat menarik. Walau berasal dari Light Novel ala Jepang sana, tetapi adaptasi animenya sangat kentara dengan referensi HEMA (Historical European Martial Arts). Ya, entah kenapa bisa, teknik berpedang di novel diadaptasi dengan akurat pada anime.

Artikel ini mengacu pula pada artikel sebelumnya, yang membahas Pein Akatsuki dari Naruto. Walau penulis menjabarkan keburukan Benchmark ala Militer, khususnya di artikel tersebut, namun penulis sama sekali tidak menolak untuk belajar bela diri. Bahkan, bisa disebut bela diri adalah semacam olahraga, dan tidak perlu gelut terus (alias AING MAUNG). 

Penulis sendiri memiliki pengalaman saat belajar beladiri di jaman dahulu, tepatnya saat masih bersekolah dasar. Selama satu tahun lamanya, tepatnya bareng kelas pemantapan Ujian Nasional, penulis bersama satu kelas disiapkan pula dengan kelas beladiri Silat. Walau hanya satu tahun saja, tetapi cukup dapat mengingat berbagai kuda-kuda dan langkah dasar Silat.

Nah, di artikel kali ini, justru penulis ingin membahas observasi khusus, yaitu teknik berpedang dari HEMA. Bagi yang suka menonton konten latihan duel ala HEMA, pasti mengenal kanal bernama Skallagrim dari Kanada atau Weaponism dari Korea Selatan. Kedua kanal menyajikan berbagai teori, serta adegan duel dengan teknik berpedang HEMA, atau bahkan Katana dari Jepang dan Dao dari China serta Korsel. Ya, memang sejenis olahraga disana, menyaingi Karate dan Taekwondo dari segi ranah tangan kosongnya.

Penulis sendiri selama bertahun-tahun menonton konten tersebut, sehingga cukup mengenal banyak gerakan berpedang. Karena itu, saat menonton Sensei Beryl Gardenant di anime (yang judulnya jelek ini, harusnya Ossan Kensei saja), penulis dapat menebak seluruh gerakan yang dilancarkan selama gelutnya berlangsung. Ya, terima kasih pada berbagai kanal yang berisi duel berpedang tersebut.

Dan karena itu pula, artikel ini tidak banyak berisi adegan dari animenya. Justru banyak referensi teknik berpedang asli HEMA, sesuai dengan latar ceritanya di Eropa ala Fantasi. Untuk animenya sendiri, merupakan gabungan antara Slice of Life (selingan kehidupan) dan duel berpedang di ranah yang Low-Fantasy. Genre sejenis ini tidak begitu besar dalam menggambarkan dunia magisnya, bahkan masih terasa mistis ala The Lord of The Rings. 

Tapi, jangan diremehkan penggambaran anime ini dengan gelut berpedangnya. Gelut menggunakan senjata di anime ini cukup realistis, sesuai dengan teknik HEMA. Bahkan cukup brutal, dengan beberapa karakternya yang hobi Coup De Grace musuh atau lawannya. Tapi ya... karena masih bergenre fantasi, maka ada beberapa gerakan yang sebenarnya salah. Nanti akan dibahas pula beberapa gerakan salah tersebut dalam artikel ini.

Okeh, saatnya mulai membahas bagaimana Sensei (atau Kensei) Beryl Gardenant menyajikan berbagai adegan gelut yang kentara, tentu sesuai ala novelis Shigeru Sagazaki. Novelis yang satu ini mungkin aselinya beraliran Kendo, tetapi cukup banyak memperhatikan dan mengikuti sesi duel berpedang lainnya. 

Stance Mid Guard ala Sensei (Ossan Kensei)
Kuda-Kuda

Kuda-kuda ini semacam teknik Stance dan Guard dari HEMA, yaitu posisi awal saat belum menyerang lawannya. Biasanya terdapat tiga Guard utama bagi para ahli berpedang (alias Kenshi), yaitu High Guard, Mid Guard, dan Low Guard. 

High Guard adalah posisi senjata ada diatas atau sekitar kepala, dengan tangan yang menjulur sama keatas sesuai pegangan (Handle) pedangnya. Posisi seperti ini berarti dimaksudkan untuk menyerang dengan Tebasan (Slashing), dengan arah dari atas kebawah. 

Mid Guard adalah posisi senjata yang tepat berada di pusat gravitasi tubuh, dengan tujuan menyerang menggunakan Tusukan (Thrusting). Posisi ini adalah yang paling aman, karena menjaga jarak antara tubuh dengan lawan, yang dibatasi oleh pedang.

Low Guard adalah posisi senjata dibawah, biasanya ditempatkan agar menangkis musuh, daripada menyerang langsung. Posisinya yang agak berbeda (tidak terlihat berbahaya), justru membuat pemegangnya bisa berimprovisasi, tergantung dari arah serangan lawan.

Bahkan ada satu lagi, yaitu Rear Guard yang terlihat seperti sedang nge-troll musuhnya. Senjata ditempatkan dibelakang, dan tidak menghalangi jarak antara posisi pemegangnya dan lawan.

Gerak Dasar

Nah, gerak dasar ini adalah yang terutama dalam menggerakkan pedang, tangan, dan tubuh bersamaan dengan setiap langkahnya. Alias, seorang ahli berpedang harus menggerakkan pedangnya (di tangan) dengan gerakan dari pinggul, demi menambah kekuatan dan akurasi serang. Itupun disesuaikan dengan langkah kaki, antara kiri atau kanan sesuai dengan posisi serangan. Jadi, setiap satu gerakan, maka satu kaki akan melangkah maju atau mundur.

Langkah dasar ini sebenarnya mirip dengan Silat, atau dasar teknik beladiri dari manapun, baik itu menggunakan senjata atau tangan kosong. Full Body Movement adalah intinya.

Serangan santai ala Sensei (Ossan Kensei).
Menyerang 

Untuk menyerang, terdapat pula istilah yang jelas untuk setiap jenis senjatanya, khususnya pedang. Di anime ini, Kensei Beryl Gardenant menggunakan Longsword, yang menjadi standar bagi setiap ahli HEMA. Kelebihan Longsword adalah serangan Tebasan (Slashing), Menusuk (Thrusting), dan panjang yang cukup (Mata Tajam/Bilah sepanjang satu meter).

Slashing yang artinya menebas, berarti mengarahkan bagian Bilah (Blade) pedang untuk serangan yang mengalir, dari satu arah ke arah yang lain. Serangan ini memang ditujukan melebar saat menyerang, demi menyebarkan luka pada musuhnya.

Sementara Thrusting adalah serangan menusuk, yang ditujukan pada area vital pada bagian tubuh lawan. Serangan ini memiliki jarak lebih jauh, dan langsung lurus menuju titik yang dituju. Jika terkena dan tembus, maka organ vital lawan bisa langsung terluka, dan duel lebih mudah dimenangkan.

Bertahan dan Melawan Balik

Teknik bertahan pun ada beberapa, tetapi yang terpenting adalah Deflect alias Parry. Teknik ini tidak hanya mengeblok dan menangkis serangan lawan, tetapi mengarahkannya Bilah tajamnya ke arah yang diinginkan. Jika berhasil, maka tubuh akan aman dari serangan, dan musuh terhenti serangannya. Jika serangan terhenti tapi tetap berbahaya, pihak yang bertahan dapat memilih menghindar (Dodge) saja, dan mengamankan posisi baru dengan Guard dan Stance-nya.

Teknik lanjutan dari bertahan, adalah setelah mengeblok dan menangkis, maka akan dilanjutkan dengan serangan dari pihak yang bertahan (alias Counter Parry). Pihak yang berhasil menangkis, bisa memanfaatkan momen setelah Bilah lawan teralihkan, sementara lawan sudah kesulitan atau tidak bisa bertahan. Maka, serangan ini bisa lebih berhasil mengenai lawan, dengan keadaan lebih aman daripada kuda-kuda sebelumnya.

Bahkan di akhir musim anime ini, terdapat pula satu teknik bertahan yang sangat sulit, yaitu menangkis panah. Teknik ini tidak berlandaskan fiktif, tetapi memang ada dalam Katalog Teknik dari HEMA. Coba dicek saja videonya di YouTube, saat seorang ahli berpedang tanpa Perisai (Shield), menangkis serangan anak panah yang ditembakkan padanya. Teknik yang sangat sulit, tetapi jadi bahan Flexing di anime ini.

Banting tulang ala Sensei (YouTube).
Teknik Lanjutan

Teknik lanjutan ini ada beberapa arti, yaitu berbagai teknik yang tidak sesuai standar. Banyak yang menganggap standar diatas memiliki kemuliaan karena masih berlandaskan teknik. Namun, dengan taruhan antara hidup-mati, maka teknik lanjutan bisa dilaksanakan pula. 

Feint alias Gerakan Tipu adalah sejenis teknik lanjutan, saat ahli berpedang mengarahkan gerak senjatanya, tetapi tidak ditujukan sesuai standar tekniknya. Teknik ini ditujukan untuk menipu lawan, agar salah arah dan posisi saat bertahan dan menangkis serangan. Gerakannya memang sulit dilaksanakan, tetapi memang cocok sebagai teknik lanjutan.

Contohnya saja adalah saat seorang menggunakan High Guard dengan pedang yang ada diatas. Lalu dia mulai menyerang dengan gerakan Menebas (Slashing), tetapi sesaat sebelum serangan berakhir, dia menarik tangannya ke arah belakang. Dengan posisi pedang yang berada di Mid Guard, musuh yang terkecoh dengan tangkisan keatas, teknik serangan pun beralih menjadi Menusuk (Thrusting). Organ vital lawan di pusat tubuh pun menjadi taruhannya.

Bahkan ada gerakan lain yang sangat pecicilan, yaitu mencengkeram tangan atau Bilah lawannya, demi menghentikan gerakannya. Ya, gerakan yang terlihat licik ini, memang ditujukan untuk mengalahkan musuh tanpa teknik berarti. Penyerang bisa mencengkeram tangan musuh, yang langsung terhenti begitu saja. 

Bahkan jika sudah terlatih, bisa mencengkeram Bilah musuhnya, seperti sempat dicontohkan pada video di beberapa kanal YouTube. Nama tekniknya adalah Sword Handling, yaitu saat ahli pedang mencengkeram pedang pada bagian (Bilah) tajamnya. Jika sudah terlatih, maka tidak sulit untuk melaksanakannya, bahkan untuk menahan serangan lawan. Tentu, dengan bantuan sejenis sarung tangan berbahan kulit, atau bahkan logam (Armor).

Dari anime ini pun ditunjukkan beberapa teknik yang terlihat licik, seperti menarik mantel lawan, mengunci dan mencongkel bagian guard (bagian antara Handle pedang dan Bilah), hingga menendang lawannya. Ya, teknik berpedang memang bisa dilaksanakan dengan Full Body Contact, alias menggunakan seluruh bagian tubuh demi bertahan dan menyerang.

Armor yang sangat melindungi (Fandom Wiki).

Senjata dan Baju Zirah

Di anime yang seharusnya berjudul Beryl Gardenant Saga ini, ditunjukkan pula berbagai senjata khas Eropa, diantaranya adalah Longsword, Short Sword, Rapier, Claymore, Zweihander, Shield (Perisai), Bow and Arrow (Busur Panah), dan bahkan Belati (Dagger).

Senjata tergantung dari tipe ahli berpedang, ukuran dan beratnya. Panjang serta pendeknya senjata memang menentukan teknik apa yang bisa digunakan. Tipe Longsword yang menjadi standar, maka seluruh gerakan bisa dilaksanakan. Tetapi Short Sword yang lebih pendek, maka penggunanya harus bergerak lebih maju untuk mencapai dan menghalangi jangkauan Longsword.

Senjata pun perlu sering diperbaiki, karena berpengaruh pada kemampuan dan daya serang ahli berpedang. Pedang yang banyak tergores, teriris pada Bilahnya, hingga tumpul dan bahkan patah, tentu tidak dapat digunakan dengan baik. Dari anime ini, ditunjukkan pula adegan pedang saat rusak hingga terbelah, serta cara memperbaikinya.

Baju Zirah pun ditunjukkan, dengan berbagai tingkatan tentunya. Terdapat armor ringan seperti baju biasa (sejenis Gambeson), armor menggunakan kulit (Leather Armor) yang cukup ringan dan mampu menahan serangan, hingga armor kelas berat seperti zirah dari logam, layaknya Plate Armor. Dan jangan lupa, Perisai digunakan pula sebagai bagian dari pertahanan, yang perlu menguasai teknik tertentu agar efektif.

Chivalry alias Sikap Ksatria

Nah, kali ini adalah topik yang lebih berbudaya, yaitu dengan peran seorang Guru (Kensei), Ahli Pedang (Kenshi) dan Ksatria (Samurai  atau Knight). Memiliki kemampuan khusus berpedang, berarti mengisi peran khusus pula di institusi dan masyarakat. 

Dalam anime ini, Beryl Gardenant memang seorang ahli berpedang yang bekerja sebagai guru, demi menurunkan ilmunya. Sementara Allucia yang merekrut Gardenant, adalah seorang komandan di Pasukan Kerajaan Revelis. Muridnya yang lain, Lysandra mengisi peran sebagai Petualang (Adventurer) di Serikat (Guild), yang lebih berperan dalam berburu monster berbahaya.

Ketiga peran diatas ternyata cukup seimbang dengan penggambaran Monarkinya, yaitu dengan peran para Ksatria dalam menjaga serta membantu urusan Royalti. Mereka sering diminta untuk menjadi penjaga bangsawan, atau sekedar berburu monster berbahaya di sekitar kerajaan. Para anggota Monarkinya pun tidak berbuat aneh-aneh, selain yang memiliki peran sebagai tokoh antagonis.

Bahkan di satu adegan, mereka memiliki budaya khusus. Yaitu, saling bertukar hadiah satu sama lain. Bukan hanya sekedar simbol kedekatan (Politik), tetapi saling berkontribusi satu sama lainnya. 

Contohnya adalah memilihkan pedang yang dibuat dari hasil buruan Serikat, yang tentunya diselesaikan oleh Beryl Gardenant dan Lysandra. Allucia pun sempat memilihkan pakaian formal ala bangsawan bagi Gardenant, demi mengisi peran saat kunjungan kerajaan berlangsung.

Magis Ala Low Fantasy

Di anime ini, ada beberapa pula karakter yang bisa menggunakan magis, walau tidak seheboh anime lain. Contohnya adalah sihir yang dilaksanakan oleh Ficelle (satu angkatan dengan Curuni), yang bisa mengikat dan mengekang lawannya sekaligus. Kehadiran monster pun menjadi satu kisah yang menarik, contohnya adalah Gryphon yang diburu oleh Lysandra dan Gardenant. 

Tetapi kehadiran Magis sebenarnya cukup besar di dunia anime ini, yaitu saat cerita beralih pada jurus yang dapat menghidupkan mayat (alias sejenis zombie). Bahkan saat Beryl berduel dengan Lucy (yang menjabat sebagai Ketua Magic Corps), dirinya sama sekali tidak sanggup melawannya. Berbagai jurus magis mematikan sanggup membasmi Beryl, yang dihentikan oleh Lucy karena hanya sekedar mengetes dan duel jalanan saja.

Itu Harfiah arti Breast Plate-nya (Fandom Wiki).

Kekurangan Teknik di Ossan Kensei 

Nah, sekarang perlu membahas kekurangan anime ini, khususnya pada bagian duel yang berlandaskan HEMA. Terdapat beberapa gerakan yang sebenarnya dilarang oleh HEMA, namun tetap dimunculkan dalam anime ini. Memang anime yang masih berlatar fantasi, sehingga tidak heran juga, walau referensi bagusnya masih sangat realistis.

Pertama adalah gerakan memutar yang dilaksanakan oleh banyak karakter. Gerakan ini ditujukan untuk mempercepat serangan atau menghindar, namun memunculkan posisi belakang tubuh. Posisi punggung adalah daerah vital yang berbahaya jika diserang, karena itu banyak Stance dan Guard ditujukan saat berhadapan langsung dengan lawan.

Kedua adalah lanjutan dari gerakan memutar. Biasanya di dunia HEMA, saat seorang ahli terpaksa memunculkan punggungnya pada musuh, berarti dirinya telah melaksanakan gerakan yang salah. Serangan yang terlalu melebar (alias Overswing) adalah akibatnya, yang menyebabkan ahli berpedang menyerang dengan sembrono, dan tidak bisa kembali ke posisi bertahan.

Ketiga adalah gerakan saat kedua pihak yang berduel, malah saling mengunci senjata. Walau agak minim ditunjukkan (dan terlalu sering di anime lain), tetapi gerakan ini cukup berbahaya. Banyak teknik yang dilaksanakan, apalagi mengacu pada Full Body Contact, agar kedua pihak tidak terkunci pada satu posisi saja. Menendang atau menggenggam tangan dan senjata lawan, adalah contohnya. Duel harus dilaksanakan mengalir, karena posisi kedua Duelist yang terlalu dekat, sangatlah berbahaya.

Terakhir adalah satu yang sangat pecicilan, yaitu banyaknya Waifu di anime ini. Maksudnya bukan penggambaran karakter wanita, tetapi pakaian yang mereka gunakan. Jika mengecek Armor yang dikenakan oleh karakter pria, maka terlihat cukup modis dan realistis. Sementara wanitanya, malah memakai Armor yang terlalu terbuka (dan seksi). 

Bahkan, Rose yang menggunakan armor lengkap pun, memiliki kekurangan sendiri. Selain tidak menggunakan Helm (karena ini Anime), bagian Breastplate-nya harfiah menunjukkan bentuk Buah Dada. Seharusnya, Breastplate memang Armor yang dipasang di bagian dada, dengan bentuk cembung dan melingkar. Bentuk tersebut bukan modis saja, melainkan baik untuk membalikkan posisi Bilah senjata saat terkena serangan.

Belah Saja Dadaku! (Fandom Wiki).

Penutup

Okeh, segitu saja setelah panjang lebar. Memang anime yang mengherankan bagi penulis, karena cukup realistis dalam penggambaran duel ala HEMA-nya. Tokoh utama Beryl yang sudah tua ini pun cukup menarik, karena tidak aneh dan pecicilan ala banyak tokoh utama di anime (yang kebanyakan remaja).

Jadi, silahkan saja nonton anime ini, yang rasanya berbeda dan menarik ceritanya, karena bertokoh utama Kensei Beryl Gardenant, sang guru berpedang yang telah berumur 45 tahun.

Okeh, Ciao.

Memahami Kisah Pein Akatsuki yang Mengetes Jinchuuriki dari Naruto

 

Pein atau entah siapa ini (Narutopedia).

Okeh, saatnya membahas kisah anime yang sebenarnya saya kurang suka, berjudul Naruto dengan sudut pandang dari Pein sang Akatsuki-nya. Sebelumnya saya ingin mengaku, bahwa dulu berhenti baca manga Naruto tepat saat Arc Akatsuki berakhir, karena kecewa dengan ceritanya. Jadi, penulis tidak membaca atau menonton recap saja dari YouTube untuk cerita di 4th Shinobi War. Dan akhirnya, kisah Akatsuki menjadi bahasan yang tepat di artikel Monsterisasi ini.

Daripada membahas ceritanya yang jelas penulis tidak baca seluruhnya, mungkin lebih baik merekomendasikan satu lagu yang sangat penulis suka. Ya, judulnya adalah Wind dari penyanyi Akeboshi. Lagu ini bisa disebut kebalikan cerita Naruto semenjak Shippuden, dan bahkan dari segi pemahaman penulis sendiri (khusus di Blog ini).

Lagu ini bahkan sempat diterjemahkan dengan lebih mendalam (karena berbahasa Inggris) dalam blog lain penulis. Namun, konsep blog sudah berbeda dari yang sekarang. Jadi, fokus saja pada pemahaman visual dan narasi yang dimiliki (dan sempat pro) dari seluruh observasi dan pengalaman penulis.

Jabat tangan saja cukup, kan? (Narutopedia).

Militer di Naruto

Bagi penggemar Naruto, tentu paham bahwa ninja di manga ini adalah sejenis organisasi militer, yang melindungi satu negara. Setiap negara memiliki struktur ninja-nya sendiri, lengkap dengan desa dimana pelatihan diawali sejak shinobi atau kunoichi masih berumur muda. Misi yang dijalankan kadang tidak berujung gelut, tetapi fungsi utamanya tetaplah sejenis militer.

Nah justru di artikel ini, penulis ingin membahas dari sudut pandang Pein, sang pendiri Akatsuki yang menjadi musuh utama Naruto. Menurut penulis, kisah Pein dan Akatsuki-nya adalah sejenis Benchmark, yang difokuskan pada kekuatan militer. Tujuan Pein alias Nagato saat merubah Akatsuki ke jalur sesat, adalah untuk mengajarkan dunia mengenai kepedihan (semata), sekaligus membasmi kekuatan militer di seluruh dunia.

Sangat pecicilan kan niat Pein dengan Rinnegan-nya? Ya, tapi coba ditelaah dari sudut pandang militernya. Mengacu pada berita heboh saat ini, coba dipikirkan saja tentang sebuah negara dengan kekuatan militernya. Saat masalah di perbatasan tiba, tentu kekuatan militer menjadi jawabannya. Namun, bagaimana dengan saat damai nan sejahtera? Justru itu maksud artikel ini.

Di saat damai, organisasi militer milik negara manapun tetap mengejar kekuatan pasukan tempurnya. Entah itu dari personil, persenjataan, kendaraan, hingga kelengkapan taktiknya. Itu pun dengan banyak dana dan waktu didistribusikan khusus untuk organisasi ini, dari dana negara tentunya. Seakan, misi menumpuk kekuatan militer adalah benchmark tersendiri, mirip saat ngoprek benchmark PC dengan segala perangkatnya.

Para Bijuu dan Hagoromo (Narutopedia).

Bijuu dan Jinchuuriki

Nah dari situ, itulah yang dimaksud oleh Pain dan cerita Naruto dari Masashi Kishimoto. Walau dari segi cerita agak kurang, namun benchmark semacam ini menjadi patokan setiap negara di Naruto. Kekuatan ninja dengan chakra dan hasil jurus adalah kuncinya, yang entah kemana perginya setiap samurai yang ada. 

Lalu, apa yang menjadi kunci kemampuan setiap negara? Kalau di naruto, berarti mahluk chakra murni bernama Bijuu, alias monster berekor. Banyak negara, termasuk diantaranya adalah desa Konohagukure (Daun) di negara Hi No Kuni (Api), memiliki Jinchuuriki-nya sebagai ninja yang dirasuki oleh Bijuu. Tujuannya agar chakra murni ini bisa dikendalikan dan difungsikan sebagai kekuatan militer.

Lalu Pein punya inisiatif tersendiri, yaitu menculik semua Bijuu dan Jinchuuriki, agar dapat dibuat sebagai Juubi, alias monster chakra berekor sepuluh. Apa tujuannya? yaitu membasmi seluruh ninja di setiap negara, agar menciptakan dunia yang damai dan ideal bagi Pein. 

Sudut pandang yang terlalu idealis dari Pein, dan memang berujung anarkis. Pein yang memiliki banyak jurus terlarang nan sakti, ternyata kacau jalan pikirannya. Seakan, mengingatkan beberapa pihak (di dunia nyata) yang terlalu militan dalam menjalankan narasi dan aksinya, sehingga berujung anarkis saja (dan melanggar etika, moral, normal, serta hukum). Ya, termasuk segala jenis media, entah itu fiktif atau warta berita.

Kaguya yang ingin kekal cantik abadi (Narutopedia).

Akhir Kisah yang Hina

Lucunya, rencana Pein ini sesuai dengan Orochimaru dan Madara Uchiha. Bagi Orochimaru, memiliki jawaban atas sumber asal kemampuan chakra, adalah pertanyaan terbesar hidupnya. Sementara Madara, ingin memiliki kemampuan melebihi itu semua. Orochimaru-lah (dengan sosok Kabuto) yang menggunakan Edo-Tensei untuk menciptakan Perang Ninja Keempat, sekaligus memanggil Madara dari persemayaman dirinya.

Lucunya lagi, setelah Madara berhasil menjadi Jinchuuriki bagi Juubi-nya, tiba pula Kaguya sang Dewi Bulan. Dewi yang satu ini ternyata asal muasal dari seluruh chakra di Bumi, yang menjawab pertanyaan terbesar dari Orochimaru alias Kabuto. Madara pun ikut menjadi korban berikutnya, yaitu menjadi wadah saja bagi Juubi dengan tujuan utama Kaguya, yaitu menyerap seluruh energi Bumi. 

Nah, bagaimana dengan Pein yang sebelumnya merencanakan ini (dan sempat hidup sesaat akibat Edo Tensei)? Justru disitulah letak paling miris nan ironis ala Naruto dari Masashi Kishimoto. Pein, Orochimaru, dan Madara hanyalah pion dari rencana aseli Kaguya. 

Padahal, Dewi cantik nan caem ini (secantik bulan) seharusnya menjadi sosok ibu mereka, karena Kaguya adalah sumber aseli dari seluruh kekuatan chakra di Bumi. Jadi, entah apa maksud Masashi Kishimoto, yang merubah kesan Kaguya menjadi tokoh jahat di Naruto. Mungkin, mangaka ini kagok dengan kesan militer di Naruto, sehingga sekalian saja dibuat ironis.

Ya, seakan seluruh kejadian dari awal cerita para Shinobi dan Kunoichi di banyak negara, hanyalah pion saja dari Dewi Kaguya demi melancarkan aksinya. Sebuah bidak kecil di militer, yang layaknya sebuah permainan papan catur, memang hanya satu alat saja. Namun, bagaimana para pemain (dan penghuni aseli) menjalankan taktiknya, sehingga permainan pun dapat dimenangkan dengan pergerakan para bidaknya. 

Sedikit Penutup

Ya sekali lagi, memang sebuah kisah pecicilan dari dunia militer sana, khususnya dari anime yang rame gelut dan drama personalnya. Sedalam dan semengerikan apapun juga wacananya, memang tidak bisa dilancarkan begitu saja dengan aksi sejahat atau se-idealis itu. 

Layaknya manga dan anime Naruto, yang membuat seluruh Otaku kembali menjadi Wibu, dan menganggap dunia nyata dan fiksi bisa dihadapi dengan cara idealis atau militan saja. Ya, layaknya sehelai daun (Konoha) di negara Hi No Kuni (Api).

Okeh, Ciao.

05 Maret 2026

Anehnya Imajinasi Ala SpongeBob SquarePants

 

Imajinasi ala SpongeBob (Reddit).

Monsterisasi kali ini, lebih mengacu pada blog ini, yaitu rasanya berimajinasi ala SpongeBob SquarePants. Bagi penggemarnya, perlu mengingat episode 'Idiot Box' alias 'Kotak Idiot.' Walau begitu, terdapat pula satu episode lain yang akan dibahas, yaitu berjudul 'Band Geeks' alias 'Band Kutu Buku.' 

Nantinya dibahas bahwa keduanya cukup nyambung, ala konsep Blog dan sedikit penggambaran dunia konten saat ini. Oh ya, artikel ini memang ditulis karena sempat dijanjikan saat merekomendasi film SpongeBob terbaru, Januari lalu. Yah, daripada acak dan mengacu ke sains, lebih baik dari segi yang mudah dikenal oleh penonton saja.

Imajinasi Liar Ala SpongeBob

Bagi yang perlu mengingatnya, akan diutarakan sedikit cerita dalam episode 'Kotak Idiot' ini. Squidward Tentacles (Roger Bumpass) sedang kesal akibat SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) dan Patrick Star (Bill Fagerbakke) tengah ramai bermain di sekitar rumahnya. Namun, yang terdengar cukup aneh, bahkan epik, sesuai dengan apa yang sedang dimainkan keduanya didalam sebuah kotak kardus biasa.

Saking herannya, Squidward beberapa kali menciduk apa yang dimainkan oleh kedua tetangganya itu, namun hasilnya nihil. Lalu, SpongeBob menjelaskan bagaimana cara kerjanya. Yaitu sederhana saja, yaitu dengan 'imajinasi' saja. 

Seperti biasa dalam episode SpongeBob SquarePants, akhir cerita selalu bodor, apalagi jika terdapat karakter Squidward didalamnya. Namun, bukan kekonyolan itu yang dimaksud penulis. 

Sementara Squidward yang berhasil masuk kedalam kotak, lalu mulai ikut bermain imajinasi, gagal saat ikut memainkannya. Namun Squidward tetap heran, karena kisah 'bajak laut' didalam kotak, malah semakin terdengar epik, hingga malam hari.

Maksudnya adalah penjelasan proses imajinasi diutarakan oleh para pemain dan yang menontonnya. Layaknya permainan anak, yaitu kucing-kucingan, anak bisa berimajinasi ala kucing saling mengejar, atau anjing vs kucing, atau dinosaurus vs para penyintas. Walau mekanik permainannya tetap sama, tetapi imajinasi dapat menambah hebohnya mainan tersebut.

Perlu diingat pula, bagaimana proses imajinasi bisa dilaksanakan sebagai bahan pembelajaran. Penulis yang memang berlatar linguistik dan sastra, sempat belajar mengenai proses imajinasi menggunakan format Essay. 

Guru menulis kalimat awal di papan tulis saat di kelas, lalu meminta siswa untuk melanjutkan kalimatnya sendiri. Lalu siswa berikutnya, akan menulis kelanjutan cerita, sesuai dengan minat mereka. Hingga akhirnya terbentuk sebuah paragraf, maka proses imajinasi setiap siswa dapat menambah keanehan, kehebohan, atau perbedaan sudut pandang setiap siswa. Layaknya, permainan seperti ini dalam proses pembelajaran, adalah proses untuk menumbuhkan imajinasi para siswa, daripada hanya berkutat pada EYD dan Tata Bahasa.

Justru disitulah anehnya episode ini. Squidward adalah seorang musisi yang cukup dikenal. Walau sering disepelekan akibat permainan klarinetnya yang sumbang, namun tetap dikenal sebagai seniman serba bisa. Nah, bagaimana jika Squidward mulai menggunakan instrumen yang sesuai dengan keahliannya?

Kemenangan yang Indah ala Squidward

Dalam sub-artikel ini, akan mengacu pada episode lainnya berjudul 'Band Geeks.' Justru dalam episode kali ini, Squidward memang pantas menang. Berbeda dengan banyak kesialan ala dirinya, Squidward memang perlu menang dalam episode ini.

Bagi yang agak lupa, tentu perlu mengingat episode saat Squidward ditantang oleh Squilliam Fancyson (Dee Bradley Baker), untuk mengisi band saat Super Bowl berlangsung di permukaan (alias darat). Squidward yang emosional, tentu langsung menyetujui tantangan tersebut.

Squidward lalu melatih banyak warga Bikini Bottom, agar segera siap dalam konser tersebut. Namun seperti biasa, malah kekacauan yang terjadi. Squidward pun menyerah, dan membiarkan mukanya semakin malu saja. SpongeBob akhirnya berinisiatif, agar menyatukan seluruh anggota band, dan membantu Squidward hingga berhasil.

Nah, contohnya memang agak berbeda. Layaknya permainan essay sebelumnya, perbedaan imajinasi dan kemampuan para siswa, tentu akan merubah arah cerita essay tersebut. Layaknya permainan imajinasi, tetap menyatu sama lainnya, alias menjadi karakter tersendiri. Apalagi dibawakan ringan, dengan maksud belajar sesuatu dibaliknya. Yaitu, kerjasama dan ekspresi pribadi, melalui media imajinasi dan format essay di papan tulis.

Mirip dengan keadaan Squidward dan warga Bikini Bottom, satu grup ini perlu saling memahami, untuk mencapai tujuan konser. Setiap anggota memainkan instrumen berbeda, sementara Squidward berperan sebagai pelatih serta dirijen di depannya. Satu kesatuan dengan perbedaan inilah, yang berhasil menciptakan satu alunan lagu, yang tentu enak didengar atau aneh sekaligus.

Di akhir episode memang terdengar alunan lagu 'Sweet Victory' hasil karya David Gen Eisley dan Bob Kulick. Terdengar indah, yaitu sebuah momen Squidward yang bisa sumringah, dan menang besar. Ya, Squidward adalah seniman berbakat dalam segi instrumen musik, yang dibantu oleh warga Bikini Bottom.

Squidward yang sumringah (Reddit).

Sedikit Kisah Bonus dari Sandy Squirrel

Ada sedikit referensi menarik di akhir artikel ini, yaitu mengenai Sandy Squirrel. Karena penulis agak iseng, dan kurang bisa diangkat dalam satu artikel, maka dijabarkan disini saja.

Sandy Squirrel (Carolyn Lawrence) adalah seorang tupai dari darat sana, yang entah kenapa tinggal dibawah laut. Sandy berteman dekat dengan SpongeBob dan Patrick, walau keduanya kurang dapat menanggapinya. Sandy memang bekerja sebagai seorang ilmuwan, yang tentu aneh di Bikini Bottom.

Sandy yang tidak memiliki insang layaknya ikan, sehingga perlu mengenakan baju selam untuk bernapas dalam air. Tidak hanya itu, Sandy tinggal dalam kubah berisi udara, lengkap dengan oksigen sesuai kebutuhannya.

Nah, Sandy memang cukup isekai, namun ternyata penggambarannya cukup sesuai. Bagi yang belum tahu, NASA sebagai organisasi antariksa dunia, sering melaksanakan eksperimen dibawah laut. Eksperimen ini dilaksanakan sebagai simulasi antariksa. Baju selam Sandy pun terlihat seperti seorang kosmonot (atau astronot), daripada standar saat ini. Pekerjaan dirinya sebagai ilmuwan, semakin menguatkan penggambaran dirinya sebagai simbol dari NASA.

Sandy seperti ini, tentu sesuai dengan cara mendiang Stephen Hillenburg, seorang ahli biologi lautan, yang menggambarkan setiap karakter di Bikini Bottom, dengan referensi sainsnya. Ya, seorang ilmuwan dengan banyak bakat ilmunya, dapat menciptakan banyak cerita humor nan bodor, walau tetap mendidik tanpa perlu langsung menggurui.

Okeh, Ciao.

Sandy Squirrel yang berbeda (Reddit).

Memahami Tony Stark Saat Melawan Ultron dalam Film Avengers: Age of Ultron

 

Ultron yang aselinya GG (Wiki).

Okeh, menyambut banyak topik berita selama beberapa minggu terakhir, yang tidak jelas membawa ke arah mana dunia ini, maka coba kita cek secara simbolis saja. Penulis tidak akan eksplisit dalam menjabarkan berita yang mana, namun simbolis dengan mengangkat film lama yang cocok, berjudul Avengers: Age of Ultron (2015). 

Jujur saja, Age of Ultron bukan satu favorit penulis, apalagi jika dibandingkan seri Avengers, atau standar film Marvel lain. Namun, demi minat dan kepentingan artikel Monsterisasi, maka penulis mencoba untuk mengangkat film ini sebagai simbol dari suatu bentuk kekisruhan dunia.

Tony Stark dan J.A.R.V.I.S. di Marvel Cinematic Universe

Tentu para penggemar komik Marvel telah paham, bahwa rata-rata karakter di MCU telah di-nerf alias dilemahkan daripada versi komiknya. Melemahnya karakter sesuai dengan perkembangan awal karakter, sekaligus kebutuhan cerita dan plot filmnya.

Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang memulai ini semua dalam film Iron Man (2008), justru memiliki andil tersendiri. Tidak hanya memulai kisah MCU, namun menjadi asal-muasal banyak kisruhnya dunia. Sebelum membahas bagaimana Tony menciptakan Ultron, maka perlu dibahas saat Stark masih berkecimpung bersama J.A.R.V.I.S. Bahkan sebelumnya, saat Stark masih bermasalah sebagai broker persenjataan dunia.

Bagi yang ingat, tentu paham se-cunihin apa Stark ini. Dengan statusnya sebagai biolioner, Stark terkenal di dunia Marvel sebagai teknokrat dan penyuplai senjata kepada AS. Hingga suatu momen bersejarah merubah pandangan dirinya, saat Stark tersandera akibat serangan bom di Timur Tengah sana. Disana, dia berhasil membuat baju zirah Iron Man, hanya dengan sisa teknologi saja.

Di banyak film berikutnya, yaitu film Iron Man 2 (2010) dan Iron Man 3 (2013), lalu Avengers (2012) dan Age of Ultron (2015), Stark selalu bertingkah ala pria yang ingin tobat, walau masih perlente. Dengan berhasil menciptakan reaktor energi tanpa batas bernama Arc, Stark mengalihkan fungsi perusahaannya menjadi konversi energi bagi dunia. Suplai persenjataan pun dihentikan, sekaligus dengan terbuka mencanangkan diri sebagai Iron Man.

Di banyak latar cerita pula, akhirnya terbuka se-jenius dan se-paranoid apa sebenarnya Stark. Banyak konten hingga meme di Inet, yang menjabarkan bahwa Stark selalu merubah kesalahan dia di film sebelumnya, lalu memperbaruinya di film terbaru. 

Nah, selama Stark mengoprek seluruh keahliannya, dia dibantu oleh sejenis asisten AI bernama J.A.R.V.I.S. atau sebut saja sebagai Jarvis (Paul Bettany). AI ini memiliki nada suara yang lembut, alias soft-spoken. Suaranya yang netral, cocok sebagai mitra keseharian yang damai, daripada Pepper Potts (Gwyneth Paltrow). 

Jarvis inilah yang menjadi asal muasal Ultron, yang akan dibahas menyeluruh dalam artikel ini. Sekaligus, terciptanya Vision sebagai avatar yang lebih cocok dari Jarvis.

Vision dan Ultron

Ultron (James Spader) adalah sejenis AI yang diciptakan oleh Stark, namun hanya menerima banyak masalah saja. Ultron diciptakan sebagai kebalikan dari Jarvis, yang lebih mengacu ke persenjataan. Namun seperti kebanyakan film AI yang terlalu adaptif, Ultron pun belajar bahwa manusia-lah yang perlu dibasmi (?). 

Masalah pun semakin berkembang saat Ultron berhasil merebut Mind Stone, yaitu bagian dari Infinity Stones yang tidak terelakkan kemampuannya. Untungnya lagi, tubuh robot dan Mind Stone berhasil direbut kembali oleh Avengers, sehingga Jarvis sebagai AI yang lebih stabil, dapat terunggah. Terciptalah Vision (Paul Bettany) berbahan Vibranium, yang sangat kuat dan mampu menanggulangi apapun juga (selain Thanos). 

Nah, bagaimana dengan maksud artikel ini yang kentara penggambaran antara Stark dan Ultron? Justru disitulah letak uniknya. Penulis perlu mengacu sekuat apa sebenarnya Ultron, apalagi jika dibandingkan versi komiknya.

Di komiknya, Ultron bukan hanya ancaman tingkat Avengers, melainkan tingkatan galaksi. Ultron dalam komik sebenarnya diciptakan oleh Henry 'Hank' Pym (Michael Douglas), yang dikenal dalam MCU sebagai pencipta Ant Man dan portal Quantum Realm. Namun di komik, Pym dikenal sebagai 'wild card' alias 'semi-villain' alias kacau balau. Walau sempat bergabung dengan Avengers, Pym memiliki sejarah kekerasan yang parah, serta ciptaannya sering mengancam bumi.

Ultron dalam komik, seharusnya hanya dapat ditanggulangi oleh Vision, Captain Marvel (Brie Larson), dan Guardian of Galaxy sekaligus. Kemampuan Ultron untuk menyusup ke dalam teknologi apapun, dapat mengancam bumi dan bahkan luar angkasa. Ultron yang diciptakan pada tahun 1968 lalu di komik, bisa jadi referensi awal Skynet di seri Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019).

Namun, mengapa tokoh antagonis sekuat Ultron hanya menciptakan arena duel saja di negara fiktif Sokovia, ala MCU?

Tony Stark sebagai Ultron

Penulis tidak ingin menggambarkan Age of Ultron sebagai film yang mengangkat plot dan mengenalkan karakter baru saja. Memang, terdapat karakter seperti Vision, Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) yang baru dikenalkan. 

Namun, penulis menelaahnya dari segi psikologis penciptanya sendiri, yaitu Stark. Seorang mekanik eksentrik ini memang memiliki sisi paranoid, yang membuatnya terus menciptakan kreasi baru. Khususnya, Stark seringkali membuat baju zirah Iron Man terbaru, demi menambah kemampuan apapun. Bahkan di Avengers: Infinity War (2018), Stark berhasil memakai Iron Man dengan teknologi Nano.

Sayangnya, sisi mental Stark memang belum pernah sembuh sama sekali, sejak dulu. Diawali dengan piatu, saat dirinya kehilangan ibu, lalu ayahnya sendiri hingga yatim piatu. Stark adalah seorang penyendiri sejati. Lebih parah lagi, selama berkarir di Stark Industries, dengan bangganya Stark menyuplai inovasi senjata bagi AS, melalui Jenderal Ross (William Hurt, Harrison Ford). Alias, Make America Great Again.

Sisi gelap selama banyak dekade, telah merusak mental Stark sebagai seorang pria. Sisi perlente, sok narsis dan percaya diri berlebihan Stark adalah kedok saja, karena selama ini kurang percaya dengan dirinya sendiri, apalagi dunia di sekitarnya. Bisa disebut, selain Captain America (Chris Evans), hanya Stark-lah yang secara terbuka mengenai identitas pahlawan supernya. Itupun semacam persona baru, yang telah lama bersalah dengan banyak operasi oleh AS. 

Nah, apa hubungannya dengan Ultron? Disitulah letak berbahayanya. Ultron adalah penjelmaan sisi kelam dan negatif dari Stark. Karena berfungsi sebagai robot AI persenjataan, Ultron sebenarnya dapat dikendalikan dengan lebih tepat. Namun, sisi gelap Stark tercampur dalam fungsi Ultron, dan menyebabkannya kurang terkontrol.

Lalu, bagaimana dengan Sokovia? Disitu pula letak kelemahan lain dari Stark. Ultron masih memiliki sisi Narsistik ala Stark, yang menyebabkan dia membuat arena khusus di Sokovia. Setelah gagal menciptakan tubuh baru dengan Mind Stone, sisi tidak mau kalah meruak muncul. Ultron hanya menciptakan banyak robot baru (yang tidak setara dirinya), lalu mengirimkan ke Sokovia sebagai pusat penelitian Hydra, lalu menantang bertarung dengan Avengers.

Ultron memang diciptakan demi menanggulangi tingkat ancaman Avengers, namun sisi tidak mau kalah Stark, berarti disalah-artikan sebagai kompetisi saja. Kisah seperti ini, mirip dengan sisi lain Batman dari DC Comics. Batman memiliki sejenis fail-safe, demi menghalau seluruh anggota Justice League yang memberontak. Dengan mengalahkan Avengers, maka Bumi dapat diamankan oleh dirinya saja. 

Jika Ultron berhasil mendapatkan Mind Stone, maka dirinya mungkin menerima semacam 'wangsit' lainnya. Contohnya adalah kedatangan Thanos, Galactus, dan banyak mahluk antar-dimensi yang mengancam bumi. 

Layaknya Ultron adalah penggambaran lain, dari sisi Dr. Doom di Fantastic Four. Walau berperan sebagai antagonis utama, namun Dr. Doom sangat ingin melindungi Bumi. Memang terlalu totalitarian, namun Dr. Doom di komik sampai berhasil membangun sebuah negara, yang khusus ditujukan demi menghalau ancaman bagi Bumi dari pihak luar angkasa.

Nah, karena itulah sebelum Doomsday akhirnya tiba, dan Robert Downey Jr. yang membuka wajahnya saat Comic-Con 2024 lalu sebagai Dr. Doom, hype dari film Doomsday semakin menggila. Apalagi, dari penggemar MCU yang sudah sangat paham mengenai sisi karakter ini. 

Ya, Ultron memang seharusnya menjadi seorang antagonis yang pintar, dan bukannya bertindak pecicilan ala Stark.

Okeh, tampaknya perlu diakhiri dengan meme terkenal saja dari YouTube. 

Doomsday is Coming.

Doomsday is Coming (Reddit).

18 Februari 2026

Memahami Mitologi China dari Episode How to Become Three Dragons

 

Tiga siluman ular yang berniat besar (Newhanfu).

Menyambut Tahun Baru China alias Imlek tahun 2577 dengan kalender bulannya, penulis justru mengecek mitologi sebelum jaman ini berlangsung. Tentu blog ini lebih membahas referensi budaya populer, khususnya film dan banyak media lainnya. Jika penulis membahas terlalu banyak khas budaya serta demografi aslinya, malah berubah menjadi blog Antropologi dan Teologi.

Nah karena itu, artikel ini akan membahas satu episode dari Zhong Guo qi tan (Yao Chinese Folktales), berjudul How to Become Three Dragons. Kisah yang lebih mirip folklor ini disajikan ala animasi modern sejak awal tahun 2026. Kisahnya sangat mengacu pada mitologi China dengan perbedaan antara siluman hingga dewa, dan hubungannya ke manusia.

Khong Hu Cu di Indonesia

Mengingat Imlek biasa dirayakan oleh umat Khong Hu Cu di Indonesia, yaitu kentara berasal dari etnis Tionghoa, maka perlu dibahas disini. Dilansir dari UGM, Khong Hu Cu adalah pengucapan Hokkien dari filsuf China bernama Kong Fuzi, atau terkenal dengan nama latinnya sebagai Confucius. Semenjak reformasi di akhir abad lalu, Khong Hu cu secara resmi diterima sebagai satu dari enam agama yang di Indonesia.

Khong Hu Cu di Indonesia pun berbeda dengan China sebagai negara asalnya. Di kuil China, atau biasa disebut sebagai Kelenteng, banyak umat berdoa tanpa perlu menunggu waktu khusus. Figur yang disembah adalah kombinasi dari tiga sistem kepercayaan besar dari China, yaitu Confucius, Dao, dan Buddha. Tiga komunitas berbeda di Indonesia menyatukan organisasinya dibawah Asosiasi Tri-Dharma.

Berbeda pula pandangan mengenai Tuhan Yang Maha Esa dari Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sekaligus negara aslinya di China, oleh warga penganut Khong Hu Cu. Yaitu konsep Tian yang artinya dalam bahasa China, berarti istilah surgawi. Bagi warga yang berasal dari agama monoteistik, maka Tian bisa diartikan sebagai Tuhan. Tetapi bagi umat Khong Hu Cu, Tian tidak memiliki atribut khusus, dan tidak berperan langsung pada kehidupan umat manusianya.

Memang, ideologi Indonesia lebih mengacu pada Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap saling bersatu sama lainnya.

Mitologi dan Folklor China

Karena di artikel ini membahas suatu cerita dari folklor China, maka cocok untuk membahas sedikit dasar dari Mitologi China. Walau media dari China saat ini lebih mengisahkan dengan heboh dan masifnya mitologi, namun justru di episode ini lebih mudah dicerna, karena mirip dengan dongeng ala daerah Indonesia.

Mitologi China berasal dari banyak mitos regional dan tradisi budaya, yang diwariskan turun temurun secara oral. Ceritanya mulai dari kisah menarik hingga suatu entitas dengan kekuatan magis. Bersama folklor, mitologi membentuk kepercayaan tradisional dan Dao di banyak kalangan warga China. Naratif dari cerita masa lampau mengacu pada karakter atau kejadian, yang di-interpretasi melalui perspektif sejarah atau mitologi.

Mitologi di china sangat erat hubungannya dengan konsep Li (Confucius) yang lebih mengatur tatatan sosial, dan Qi (Dao) yang lebih mengemukakan semangat spiritual. Dua konsep mendasar ini saling berkaitan dengan ritual sosial, yang dilaksanakan saat berkomunikasi, salam, dansa, upacara, dan pengorbanan.

Kisah Tiga Ular di How To Become Three Dragons

Kisah episode How To Become Three Dragons saat musim kedua Yao Chinese Folktales, memang sangat kentara dengan penjelasan diatas. Karena itu, penulis memulai artikel ini dengan menjelaskannya terlebih dahulu.

Kisahnya diawali ala hebohnya tiga warga siluman yang berbentuk ular. Mirip dengan kisah siluman lainnya, ketiga ular berinisiatif untuk mencapai level Dewa. Karenanya, mereka mulai mencari pengikut dengan menjaga suatu desa.

Kisah ketiga ular tentu tidak akan diceritakan sepenuhnya disini, karena akan menjadi spoiler. Namun, ada satu wacana tersendiri dari ketiga ular, yaitu dengan terus menjaga dan mengalirkan air menuju sebuah desa yang kekeringan, agar mereka semakin disembah.

Sayangnya, karena tingkah mereka yang pecicilan, Dewa Naga marah dan menyerang desa tersebut. Saking besarnyanya serangan kilat Dewa Naga, banyak rumah di desa tersebut lalu terbakar hebat. Ketiga ular tidak mampu melawan atau terlalu lemah untuk membantu warga desa. Hingga satu diantaranya langsung mengorbankan diri, dengan mengumpankan dirinya pada sang Naga. 

Namun saat serangan Dewa Naga berhasil membasmi sang ular, ledakannya malah menghancurkan batu yang menahan aliran air diatas gunung. Sungai dan airnya pun terbebaskan alirannya, dan berhasil memadamkan banyak rumah yang terbakar di desa, serta mengairi seluruh ladang warga.

Waktu pun berlalu setelah ketiga ular kalah dalam bencana tersebut. Namun, reinkarnasi ketiga ular muncul di kuil kecil yang disembah warga desa. Warga pun semakin bersyukur dan terus berdoa sepenuh hati di kuil tersebut, selama banyak generasi berikutnya.

Pendapat Penulis

Ya, memang suatu kisah yang sangat mencerminkan dongeng dan folklor, walau tidak se-epik kisah dari animasi China. Dengan penjelasan awal mengenai sebuah kepercayaan, yang asalnya dari mitologi dan folklore China, dan diakhiri dengan suatu animasi kartun saja, tentu dapat dipahami dari segi ini. 

Ya, sesuatu yang susah dinalar di dunia yang besar, dan hanya berisi kisah drama naik-turunnya kehidupan, selalu menjadi siklus kehidupan yang terus mengalir. Baik itu bagi manusia, hewan, tanaman, dan seluruh alam di sekitarnya.

Okeh, Zaijian.

12 Februari 2026

Lebih Memaknai Karakter Son Dalam Film Linda Linda Linda

 

Anggota Paranmaum yang ingin konser (TMDB).

Berikutnya, saatnya mengakhiri kisah mengerikan di minggu ini, dengan film yang baru saja diperbarui hingga 4k, berjudul Linda Linda Linda. Ya, memang judul filmnya kurang cocok dengan istilah Monsterisasi, tetapi cukup menarik jika dicek latarnya. Terdapat analisis khusus, mengenai perbedaan industri Jepang dan Korea, khususnya semenjak jaman modern. Analisisnya pun cukup brutal, jadi ada sedikit sosok monster dibaliknya.

Oh ya, penulis mau konfirmasi pula, bahwa sebenarnya baru menonton film Linda Linda Linda, setelah merekomendasikan dalam artikel lainnya di Blog Sedia Saja. Bahkan jika diingat-ingat, memang genre musikal Pop-Rock adalah minat saya sejak lama. Sekaligus, mengingat momen terdahulu pas jaman SMA. Selain itu, kayaknya teman sekelas cewek jaman SMA, pernah minta untuk menonton Linda Linda Linda. Mungkin hanya sekedar obrolan, jadi kurang bisa mengingatnya.

Walau film ini cukup dingin dan santai pembawaannya, cukup nyambung dengan minat saya. Layaknya drama dari Jepang sana, memang tidak seheboh anime-nya. Bahkan saking dinginnya setiap momen (walau lucu), penulis merasa adegan di film ini sangat mirip dengan cara ngobrol sehari-hari, apalagi jaman SMA terdahulu. Karena itu ketika film diakhiri dengan dua tayangan lagu, semakin kagum saja setelah selesai menontonnya. 

Bae Doona sebagai Son dan Personil Paranmaum

Bae Doona adalah aktris ternama dari Korea Selatan, yang berperan sebagai Son di film Linda Linda Linda, yang semakin melambungkan namanya. Hingga kini, Bae Doona telah berperan di banyak film Korea Selatan terkenal, contohnya adalah The Host (2006), Silent Sea (2021), dan serial terkenal Kingdom (2019-2020). 

Bahkan Bae Doona sempat pamor namanya di Hollywood sana, dengan film Jupiter Ascending (2015), dan Rebel Moon (2023) dari sutradara ternama Zack Snyder. Pokoknya jika membahas Bae Doona, maka akan mengenal sosok aktris ternama, sekaligus aktris internasional.

Sementara anggota lain dari grup band Paranmaum, memiliki banyak peran pula di Jepang sana. Aki Maeda sebagai Kyoko Yamada alias sang drummer, sempat berperan dalam film kontroversial Battle Royale (2000, 2003). Yuu Kashii sebagai Kei Tachibana alias sang gitaris, berperan di film Death Note (2006) dan My Boss My Hero (2006) yang penuh nostalgia. 

Terakhir adalah Shiori Sekina sebagai Nozomi Shirakawa, yang sebenarnya tidak berperan sebagai aktris. Melainkan dirinya telah bekerja sebagai bassist sebuah band, sesuai dengan perannya di film Linda Linda Linda.

Pertukaran Pelajar Jepang dan Korea Selatan

Nah, Son dari Korea Selatan, sebenarnya tidak cukup nyambung dengan karakter lainnya, yang asli dari Jepang. Namun karena konflik internal band, Son sebagai murid pertukaran pelajar, lalu direkrut sebagai vokalis. Son yang kurang mengenal banyak kosakata Jepang, ternyata sanggup bernyanyi pula. Bahkan girlband ini merubah namanya menjadi Paranmaum, yang artinya adalah Blue Hearts dalam bahasa Korea. 

Mengapa film Linda Linda Linda banyak yang suka, hingga bahkan sutradaranya yang bernama Nobuhiro Yamashita meraih penghargaan sutradara terbaik di tahun 2006? Jawabannya ternyata cukup dalam, yaitu film ini memberi dampak budaya langsung bagi Jepang dan Korea Selatan.

Ya, bagi yang suka Jepang dan Korea Selatan, tentu tahu mengenai ketegangan industri diantaranya keduanya. Banyak produk dari Jepang, tidak diterima di Korea Selatan akibat sejarah kedua negara. Sehingga, banyak perkembangan berbeda antar keduanya.

Paling kentara, adalah produk ponsel Samsung dari Korea Selatan, dengan Sony dari Jepang. Keduanya sempat meramaikan Indonesia, namun sangat kentara kompetisi keduanya. Industri mobil pun cukup bersaing, yaitu banyak merk otomotif dari Jepang, sementara Korea Selatan mengandalkan Hyundai-nya. 

Fans Jepang dan Studio Animasi

Nah, hubungannya dengan film ini pun cukup kentara, yaitu segi dunia hiburannya. Perkembangan industri hiburan cukup terpisah, contohnya saat Jepang dengan sinematografi tradisionalnya, sementara Korea Selatan yang heboh ala film Hollywood.

Salah satu perbedaan paling terasa, ada di dunia gaming-nya. Ya, saat Jepang sangat bersemangat untuk menyebarkan konsol gimnya, contohnya Nintendo hingga Playstation, namun produk tersebut tidak beredar di Korea Selatan. Sehingga, negara di semenanjung Korea ini memilih produk lainnya, yaitu lebih berlandaskan gim PC. 

Bagi yang melanglangbuana di dunia gaming, tentu tahu sehebat apa Korea Selatan di kompetisi digital. Hingga kini, Korea Selatan sering menjuarai banyak kompetisi internasional gim, sejak jaman Counter Strike pertama. Tidak hanya itu, adalah pesatnya MMORPG sebagai industri khas Korea Selatan. Hingga kini, ranah gim MOBA berjudul League of Legends (dari Eropa), masih menjadi animo terbesar di Korea Selatan.

Tentu perkembangan ini berbeda dengan distribusi gim konsol ala Jepang, dengan banyak gim offline-nya. Namun, ternyata keduanya sempat disatukan, sejak gim MMO berjudul Ragnarok Online, yang dirilis pada tahun 2002 lalu. Gambarnya yang lebih imut daripada gim kebanyakan, serta grind-nya yang keterlaluan, ternyata menarik bagi banyak pemain Jepang.

Perkembangan pun berlanjut hingga tahun 2020an sekarang. Bagi penggemar film animasi atau anime, tentu tahu sebesar apa pengaruh serial Webtoon berjudul Solo Leveling di Jepang. Bahkan jika para penggemar (ala Wibu dan Otaku) mengecek kredit akhir anime dari studio Mappa dan Madhouse, ternyata banyak anggota dari Korea Selatan. Hal itu membuktikan, bahwa perkembangan berbeda industri kedua negara, malah menyatukan keduanya saat ini.

Jadi, akulturasi budaya populer antara Jepang dan Korea Selatan di masa kini, sangatlah damai dan terasa. Tentu, tidak sekontras jaman sebelumnya. Dan karena itu, banyak fans dari Korea Selatan dan Jepang, sangat menghargai film Linda Linda Linda, sebagai pionir dalam menyatukan kedua negara industri ini.

Paranmaum (Blue Hearts) dan Khas Punk-Rock

Okeh, memang kisah yang berdampak bagi budaya Jepang dan Korea Selatan. Namun, bagaimana dengan cerita filmnya sendiri? Ya, film ini memiliki momen berbeda di akhir film. Tidak begitu aneh dan bahkan bukan spoiler, karena memang akhirnya adalah lagu saja (hehe).

Namun, perlu ditelaah dari lagu yang dibawakannya, yaitu dua lagu dari band Punk-Rock Jepang tahun 80an, bernama Blue Hearts. Band ini memang betulan genre Punk-Rock lama, yang sangat kentara dengan kerasnya vokal, layaknya lagu Trash yang banyak Noise-nya. Bagi yang sudah mendengar lagu Linda Linda versi asli dari Blue Hearts, pasti sanggup memahaminya. Perlu dipahami pula, bahwa genre Punk-Rock dalam musik, memang berada di tingkatan anti-mainstream (saat itu), namun tetap disukai penggemarnya.

Nah, khas Punk-Rock yang acak adut ternyata cocok bagi personil Paranmaum. Padahal, anggota girlband ini cantik semua dan menjalani kisah Romansa SMA. Son, Kyoko, dan Kei bahkan memiliki kisah cintanya sendiri. Terkecuali sang bassist Nozomi, yang terkenal pemalu.

Bahkan ada satu adegan lucu untuk romansa SMA ini. Son yang ketiduran saat menjaga gerai pertukaran budaya Korea Selatan dan Jepangnya, diminta melalui surat untuk datang ke lokasi gudang. Lokasi ini terkenal, sebagai tempat untuk menyatakan cinta pada cewek, saat Festival Budaya atau Pentas Seni berlangsung di sekolah Jepang.  

Bahkan dalam adegan ini, sang cowok berbicara bahasa Korea, demi menyatakan isi hati pada Son. Namun Son dengan tingkahnya yang nyentrik, hanya dapat menjawab (dalam bahasa Korea), bahwa dirinya ingin berlatih nyanyi sebagai vokalis Paranmaum saja, bersama teman-temannya. Dirinya pun kembali keluar lokasi gudang, yang disambut langsung anggota Paranmaum lainnya.

Nah, kisah di akhir film ini ternyata cocok dengan gaya Punk-Rock, namun khas ala pembawaan cewek. Paranmaum yang ketiduran akibat begadang untuk berlatih, akhirnya telat untuk sampai ke sekolah, dan perlu melewati hujan deras, demi sampai di gymnasium sebagai lokasi panggung. Bahkan Son sempat jatuh, akibat genangan air sambil lari terburu-buru. 

Keempatnya pun dengan baju basah nan lusuh, rambut yang belum mengering, perlu langsung mengisi panggung dengan dua lagunya. Adegan akhir ini layaknya Punk-Rock yang memang setelannya berantakan, namun sanggup manggung dengan hebat dan energetik. 

Oh ya, karakter suara dan logat Son yang khas dari Korea Selatan, ternyata cocok untuk kedua lagu dari Blue Hearts. Memang jika dibandingkan dengan logat khas Jepang yang lebih nyaring dan cempreng, logat khas Korea lebih berat dan dalam.

Lagu Linda Linda dan Uwaranai Uta dari Paranmaum

Kedua lagu yang di-cover oleh Paranmaum dari Blue Hearts, ternyata sangat cocok sebagai akhir dari kisah ini. 

Lagu Linda Linda yang dibawakan sangar oleh band aslinya, ternyata cocok dengan penggambaran film ini. Seakan, seluruh jawaban romansa SMA mereka, dapat dijawab dengan lagu ini. Beberapa karakter cowok yang dekat atau menyatakan isi hati kepada anggota personil Paranmaum, hanya bisa ikut moshing atau mengangguk bersenandung bersama lagu ini.

Lagu terakhir berjudul Uwaranai Uta, alias Endless Song, alias Lagu Tanpa Akhir, ternyata dapat menjawab semuanya, dan bahkan cukup wholesome. Dicek saja lirik lagunya, yang menjawab semua kegalauan jaman sekolah terdahulu. Seakan perjuangan selama ini, dapat terjawab dengan cara mendoakan semuanya, bahkan bagi mereka yang karakternya cukup sulit diterima. 

Akulturasi Budaya memang Indah, tetapi saya cuman ingin bersama teman-teman saja.

Stay on the Brightside, Brothers...

"Hehe, maaf ya...," ujar Son (YouTube).