Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan

04 Maret 2026

Frankenstein Mendapat Istri Ala Film The Bride

Wanita yang terpaksa hidup lagi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film yang bermasalah kombinasinya dari Hollywood sana, dan mulai tayang menjelang libur Lebaran di sinema Indonesia. Judulnya adalah The Bride, film sejenis horor-drama-aksi, yang memiliki rating umur D17, alias cukup dewasa. Bagi yang paham cuplikannya, tentu tahu bahwa film ini mengambil referensi novel horor lama terkenal, yaitu Frankenstein.

Karakter Frankenstein 

Frankenstein adalah novel Inggris lama, bersub-judul The Modern Prometheus yang rilis tahun 1818 lalu dari novelis bernama Marry Shelley. Kisahnya cukup horor, walau mengemukakan drama penciptaan kreasi kehidupan. Secara harfiah melalui teknik (fiktif) Alkimia, Dr. Victor Frankenstein berhasil menghidupkan seorang mayat, yang diberi nama sebagai 'Mahluk' saja. 

Cerita novel ini sudah sering diadaptasi, dengan langsung memberi nama 'Mahluk' tersebut sebagai Frankenstein. Kadang kisahnya diisi horor yang lebih membuka kengerian sains dan adegan daging-mendagingnya. Ceritanya kadang berisi romansa antara Frankenstein dan karakter wanitanya, ala dongeng lama Beauty and the Beast.

Berbagai jenis adaptasi Frankenstein sering diproduksi oleh sineas perfilman, selama puluhan tahun lamanya. Contohnya adalah serial Frankenstein (2025) dari Netflix, yang diperankan oleh Oscar Isaac (Moon Knight) dan ditulis naskahnya oleh sineas horor handal, Guillermo del Toro. Lalu, ada Victor Frankenstein (2015), yang diperankan oleh Daniel Radcliffe (Harry Potter). 

Untuk rekomendasi khusus dari penulis, yaitu film berjudul Van Helsing, dari tahun 2004 lalu. Film ini diperankan oleh Hugh Jackman, yang dirilis tepat saat dirinya masih aktif berperan sebagai Wolverine dalam trilogi awal X-Men. Genre film ini adalah petualangan-aksi-horor, karena berlatar seorang pemburu monster.

Bonnie dan Clyde

Uniknya film The Bride adalah latar filmnya yang berada di Chicago, AS, tahun 1930an lalu dan bukannya di Eropa sana, khususnya Jenewa, Swiss. tersirat dalam cuplikan, bahwa Frankenstein telah hidup lebih dari seratus tahun, dan menjelajah ke seluruh dunia. Tidak hanya bertahan hidup, Frankenstein sebagai seorang monster telah mengenal ilmuwan Alkimia lainnya, yang dapat membantu saat tubuhnya perlu 'diservis.'

Nah, lalu apa hubungannya dengan Bonnie dan Clyde? Cuplikannya justru terlihat cocok. Ya, banyak adegan menampilkan kisah Frankenstein dan istri barunya, yang mengadakan perjalanan panjang di Midwest AS. Keduanya dengan sumringah melaksanakan perampokan di banyak kota, layaknya tokoh asli bernama Bonnie dan Clyde di tahun 1930an. Sepasang suami-istri ini memang dikenal sangat lihai dan cekatan, dalam menghindari polisi selama modus operandinya.

Sementara Frankenstein dan istrinya, karena memiliki tubuh yang tidak bisa mati dan lebih kuat dari manusia biasa, sangatlah menikmati kehidupan barunya ini. Keduanya memang sudah tidak memiliki tujuan hidup, dan baru kali ini bisa mulai bertingkah sebebas mungkin.

Sinopsis Film The Bride

Oh ya, bagi yang tahu Christian Bale, tentu ingin menonton aktor serba bisa ini di layar lebar. Sejak dikenal dalam film American Psycho (2000), Bale dianggap sanggup dalam memerankan karakter dengan akting yang berat. Contoh paling standarnya, adalah trilogi film Batman (2005, 2008, 2012). Trilogi ini mengisahkan hebatnya Bale sebagai seorang aktor aksi dan pahlawan super sekaligus.

Okeh, saatnya membahas sinopsis film The Bride.

Frankenstein (Christian Bale) adalah seorang mayat hidup, yang telah hidup selama lebih dari seratus tahun. Semenjak dihidupkan kembali tahun 1818 lalu di Jenewa, Swiss, Frankenstein melanglangbuana demi menemukan jalan hidupnya. Hingga akhirnya dia tiba di AS, dan memilih tinggal di Chicago demi berkenalan dengan ilmuwan Alkimia lainnya, bernama Euphronious (Annette Bening). 

Kesempatan pun tiba saat seorang wanita muda meninggal dunia. Dengan semangat, Frankenstein dan Euphronious menggali kubur wanita tersebut, demi menghidupkannya kembali. Selain itu, keduanya penasaran untuk memberi sejenis kekasih bagi Frankenstein, yang selama ini hidup sendiri. The Bride (Jessie Buckley) pun terlahir, dan langsung merasa dekat dengan Frankenstein.

Karena keduanya cukup aneh nan psikopat, maka tidak hanya berbulan madu sambil kasmaran, namun memiliki agenda lainnya. Keduanya mulai bertualang di sekitar AS, sambil merampok banyak kota. Saking euforia dalam menikmati hidup dengan tubuh barunya, keduanya memang sengaja dan menggila.

Bagaimanakah akhir cerita dari kedua mahluk yang sudah tak merasa eksis di dunia ini? Jawabannya tentu ada di sinema monster ala Indonesia.

28 Februari 2026

Gajah, Sepeda dan Kue Tart

Ilustrasi Fanny dan Dino sang Gajah (Acerax via Gmaps). 

Sinar matahari kekuningan merembes masuk jendela, menyilaukan mata sepasang kekasih. Sepasang suami istri tepatnya, saling berpelukan mesra diatas kotanya kasur. Fiona sebagai istri, menyambut cahaya pagi ini dengan mata bulatnya. 

"ahhmmm...," Fiona menggeliat santai, meregangkan seluruh jaringan otot tubuh yang telah delapan jam berjibaku di alam mimpi. 

"Kamu dah bangun?" ujar sang suami, Fido, menyambut tangan sang istri, lalu mendekapnya. "Udahlah say," jawab Fiona sambil mengecup mesra di pipi sang suami. 

"Pagi yang indah, ya kan?" ujar Fido.

"Ya, dan akan lebih baik lagi ...," bisik Fiona. 

Memang suatu kegiatan reguler di pagi hari, bagi pasangan muda Fiona dan Fido. Umur perkawinan yang masih muda, selalu disambut dengan kesan masa depan yang terasa cerah. Setelah lima tahun tinggal bersama, pandangan mereka begitu luas membahana, layaknya horison di penghujung lautan biru. 

"Inget yah, pagi ini hari apa?" tanya Fiona. 

"Hari Sabtu, lah,... hari untuk menikmati empuknya kamar, seharian," tutur Fido.

"Haha, lucu...," timpal Fiona, menepis tangan suami yang mulai nakal di perutnya.

"Ini hari besar untuk Fanny," tambah Fiona, dengan alis mata yang naik sedikit dan senyuman tipis. 

"Ah Okeeee, haha. Hampir lupa...," timpal Fido, sambil memandang ke arah langit rumah sewanya. 

Fido adalah seorang karyawan swasta, yang paham agar keluarganya tumbuh bersama. Kegiatan regulernya adalah berangkat pukul 07.00 menggunakan sepeda motor matic-nya, demi bergelut dalam pekerjaannya. Sebagai seorang akuntan berposisi junior di perusahaan swasta, tentu bukan pekerjaanlah yang ditunggu oleh Fido setiap harinya. Namun sambutan sang buah hatilah, yang selalu mencerahkan sore hari sang ayah. Potensi masa depan inilah yang memberi senyuman bagi Fido setiap harinya.

Fiona pun tidak rela melewatkan momen ini, pagi maupun sore. Pekerjaannya sebagai guru les privat, menyebabkan Fiona punya banyak waktu untuk mengurus kegiatan rumah tangga. Sementara Fanny, anak gadis mereka yang baru berumur empat tahun, tentu masih butuh bimbingan langsung sang ibu. Fiona juga cukup lihai dalam masak-memasak, demi kebutuhan seluruh anggota keluarga.

"Dengan insting cinta ibu," begitulah prinsip Fiona, saat tengah memasak menu favoritnya. "Tanpa cabai yang cukup," timpal sang suami, yang tidak tahan dengan masakan kurang pedas ala Fiona.

Candaan inilah yang mengingatkan Fiona, mengenai indahnya setiap momen kehidupan mereka. Momen dimana duduk bertiga bersama, saat "Membanting tulang demi nutrisi otot dan anak", menikmati hidangan spaghetti saus asam manis dan brokoli. Masakan yang terlalu sederhana, mengingat kondisi keluarga muda ini, namun mantap terasa. Mungkin suatu saat, Fiona dapat memasak sesuatu yang lebih sedap, lebih mewah, atau lebih cantik. Namun bukan itu 'Intinya,' sesuai dengan hati nurani Fiona. 

Momen seperti ini pula yang mengingatkan Fiona dengan kisah indah di masa lalu. Momen bersejarah pemicu seluruh keindahan rumah tangganya. Sebuah karangan bunga, cincin di jari manis, hembusan angin pantai, dan semburat cahaya matahari senja. "Will you marry me?" ujar sang pemuda, bersimpuh diatas pasir memandang pasrah sumringah kepada sang gadis, yang kini sedang menangis bahagia. "Tentu..., Of course my love...," timpalnya. "Have I got another choice?" tambahnya, senyuman kini terlukis diwajahnya. 

Lima tahun. Lima tahun sejak momen indah ini, keluarganya tumbuh dengan baik. Tumbuh menjadi keluarga muda ideal, keluarga yang menjadi dambaan setiap gadis muda, atau lebih tepatnya, seorang wanita dewasa. Seluruh memori ini, hanya perlu diingat dengan momen sarapan dan makan malam. 

"Jadi, udah siap?," tanya sang ayah, menyeka saus dari bibirnya. 

"Siap apa yah?" timpal Fanny, menyeruput segelas susu porsi paginya. 

"Kita jalan-jalan sayang," jawab Fiona, "Nih, pake tissue, nak," tambahnya, melambaikan selembar tissue kepada Fanny.

"Makasih Maaa..., jadi kita mau kemana?" timpal Fanny dengan riang. 

Gajah

"Mah, lihat itu GAJAH!", Fanny teriak girang, memandang sesosok gajah nan megah di tengah arena. Kebun Binatang memang pilihan bagi pasangan muda ini, yang notabene tidak memiliki banyak waktu untuk mengisi liburannya. Tidak banyak, namun cukup memberi senyum penuh arti bagi pasangan Fiona dan Fido, serta Fanny. 

"Mah, Yah, ikut naik yu!", tambah Fanny, menarik-narik lengan kedua insan dewasa yang menemaninya. "Iyah, iya... sabar nak...," tutur Fiona. 

Arena gajah memang digunakan bagi pengunjung yang ingin menungganginya, mirip dengan arena unta. Satu gajah dapat dinaiki satu keluarga, mengelilingi rute Kebun Binatang yang asri nan rimbun (dengan ongkos tambahan tentunya, hehe).

Fanny tiba-tiba melepas pegangannya, dan mendekati gajah terdekat. "Fanny!", Fiona dan Fido panik, mengejar anak pertamanya. Fanny sudah berada di samping sang gajah bernama Dino, terbatas pagar setinggi kepalanya. Dino berada di ujung terdekat arena, jauh dari kerumunan gajah lainnya. Fiona bertatap muka dengan mata gajah, saling pandang dengan wajah polos. Satu sama lainnya, tidak ada yang maju maupun mundur, dan ekspresi apapun. 

Fanny  lalu memanjangkan tangannya yang memegang sepetik bunga taman, lalu mencoba meraih belalai sang gajah. Jangkauan tangan Fiona terlalu pendek untuk anak berumur empat tahun, namun Dino tampaknya mengerti. Dino mulai menggerakkan belalainya, untuk menggapai tangan sang anak. 

Fanny, tanpa rasa takut sama sekali, tersenyum lebar. Belalai Dino kini mencapai ujung bunga miliknya, dengan mata yang menatap lirih padanya. Salam perkenalan antara mahluk rimba dan manusia kecil dari kota ini, tiba-tiba terlepas tanpa sempat tersurat. Teriakan nyaring dari seorang ibu pun membahana, "Fanny, bahaya!!!". 

Fiona lalu menggapai sang anak, yang langsung terangkat dengan ringannya. Bunga taman pun terjatuh dengan ringan ke rerumputan. Sementara Fido sibuk menahan belalai sang gajah, dengan memposisikan tubuh tegap diantaranya.

Namun tanpa ada peringatan apapun, Dino dengan sumringah menyemprotkan air dari belalainya, tepat menyirami tubuh Fido yang menghalangi. "Woaaaaah!" teriak Fanny, yang lalu turun dari pelukan Fiona, lalu mengambil kembali bunga taman yang jatuh. "Ini hadiah untukmu, gajah!" tambah Fanny dengan sumringah.

Gelak tawa pun mulai terdengar dari Fiona, tepat dibelakang sang suami, tanpa tersiram sedikit pun. Nyaringnya tawa Fiona, tertular ke seluruh pengunjung di sekitar arena. Bahkan sang petugas penjaga arena gajah, ikut tertawa sambil melerai kedua mahluk berbeda spesies ini. Sang gajah Dino sebelumnya memang tengah meminum air dari kolam di tengah arena, dan teralihkan kegiatannya saat melihat Fanny datang mendekat.

"Maaf-maaf, punten ngariwehkeun...," ujar Fido sambil menunduk malu kepada petugas penjaga kebun binatang, yang setengah serius sambil menahan tawa.

Sementara sang suami meminta maaf kepada seorang petugas dengan sungguh-sungguh, Fiona memeriksa tubuh Fanny. Takutnya sang gadis kecil terluka, atau terdapat kotor sedikit pun. Semprotan dis-infectant pun menjadi senjata terakhir Fiona, tentu tanpa melupakan sang suami yang telah basah kuyup. 

Kejadian yang singkat, namun cukup mencengangkan bagi seluruh pengunjung arena gajah. Tidak ada yang menyalahkan siapa pun, melainkan hanya menatap kagum sambil terus menahan tawa atas kejadian ini. Gajah dan seorang anak empat tahun, dua mahluk Tuhan polos yang berpapasan takdir dalam satu momen sederhana (walau epik).

Kue Tart

Siang yang cukup terik, memisahkan ketiga insan muda ini. Sang Ayah yang baru saja mandi, perlu mengunjungi kota untuk berbelanja. Fanny dan Fiona kini berada di rumahnya yang berwarna biru laut, tanpa Fido yang kini mengendarai motornya menuju toko sepeda.

"Ayah kemana, bu?" tanya Fanny. "Ada deh... nanti dikasih tau yah..." timpal Fiona.

"Ini kan ultah Fanny bu..." ujar Fanny dengan bibir dimanyunkan. "Hehe... ntar yah..." sahut Fiona dengan senyum tipis. 

Tiba di rumah, layaknya seorang ibu rumah tangga idaman, Fiona langsung memasak bahan favoritnya, sayur brokoli. Mengesampingkan momen hari spesial untuk Fanny, sayur harus tersedia dalam setiap menu masakannya. 

"Perut emang harus diisi, nak. Tapi, gizi yang terpenting." ujar Fiona.

"Iya, entar rempong kayak mama pas tua ya, hehe," sahut Fanny.

"Empat sehat, lima sempurna nak...," sambut Fiona, dengan nada yang lembut.

Terkilas obrolan masa lalu Fiona dengan ibunya, Diana. Tersenyum sendiri mengingatnya, Fiona tak pernah menyangka bahwa hal tersebut akan menjadi prinsip hidupnya, sekaligus ekspresi cintanya dalam menjalani hidup. Tapi Fiona adalah seorang penerus, yang harus berkembang. Fanny mungkin tidak mengerti, tetapi kue tart berlapis cokelat dan krim tentu menjadi fokus penantiannya.

Strawberry merah terpucuk layaknya piala api diatas kubah nan megah. Sebuah pesta kerajaan tentu tidak akan lengkap dengan seorang putri beserta mahkotanya. Seorang putri yang baru belajar mengenal dunia, dan saatnya belajar untuk menaiki kelana.

Keadaan yang Berbeda

Fanny yang kelelahan, berbaring manja di kamarnya. Boneka gajah dipeluk olehnya, sambil mengingat kejadian tadi. "Coba aku bisa bawa gajah tadi pulang ke rumah," gerutu Fanny.

Kamar yang baru ditidurinya beberapa bulan terakhir, kini serasa lahan bermain bagi Fanny. Dinding berwarna merah muda cerah mengelilingi kasurnya, yang bermotif bunga kehijauan. Tumpukan buku bergambar binatang terlihat di ujung meja, tepat di sebelah kotak mainan. Suasana yang cerah dengan banyak poster pahlawan super favorit Fido, tidak semudah itu menyerap ke dalam perasaan Fanny.

Kala di malam hari, hembusan angin dari tirai jendela sering membangunkan Fanny, yang baru belajar tidur sendiri.  Fanny cukup berani untuk menatap balik ke arah jendela, yang langsung mengarah ke taman belakang. Pohon pinus serta rerumputan kurang terurus menjadi pemandangan khas dari jendela. Di ujung taman, dibangun dinding pembatas setinggi satu meter. Pagar kayu dengan tinggi setengahnya, menghalangi bagian atasnya. Paduan inovasi modern dan produk alam, sanggup membatasi antara taman dan terjalnya dinding serta sungai deras dibawahnya. 

Kadang Fanny merasa sesuatu menatapnya langsung dari arah jendela, khususnya saat malam hari tiba. Perasaan yang sulit digambarkan, karena dinginnya malam tidak menusuk seperti itu. Fanny sekarang ingat perasaan apa itu, layaknya gajah dalam kandang dengan banyak pengunjung menatapnya. Kagum, lucu, atau takut, namun entah apakah itu. 

Terbangun dari lamunannya, kini Fanny merasa tahu sesuatu. Tahu bahwa di luar jendela terdapat sesuatu, yang selalu menatapnya, mengawasi gerak-gerik dirinya. 

"Oh," Fanny akhirnya tersadar, bahwa itu bukanlah sebuah perasaan saja. Dia pun turun dari kasur, dan bergerak menuju jendela.

Taman tampaknya begitu mengundang di sore mendung tersebut.

Akhir Kisah Fido dan Sepeda Roda Tiga

Naas tidak dapat terhindarkan. Fido yang tengah membawa sepeda roda tiga di jok belakang motornya, tidak pernah kembali bersama Fiona dan Fanny. Akibat tersenggol mobil, motor Fido terpaksa berbelok drastis, hingga menabrak pagar pembatas sungai di pusat kota. Aliran sungai Ciliwung yang sedang deras akibat kiriman air hujan dari daerah gunung, menyeret Fido dan motornya sejauh mungkin. Tubuh serta motornya belum dapat ditemukan untuk beberapa lama, padahal sempat dicek oleh rekaman CCTV di lokasi kecelakaan.

Sementara di rumah...

"Ada apa mah?" tanya Fanny, kepada Fiona yang sedang menangis sesenggukan, dengan ponsel dipegang erat oleh kesepuluh jarinya. Kabar dari ponsel mengenai hilangnya Fido, memang tidak dapat diterima sama sekali.

"Maaf ya nak," ujar Fiona, sambil turun dari kursi dan langsung mendekap erat Fanny. 

"Ayah baru saja celaka. Mungkin dia tidak dapat pulang (lagi)," tambahnya.

"Lah, tadi kan ayah pulang. Baru aja ketemu tadi. Tuh, Fanny sudah punya hadiah ultah hari ini," ujar Fanny dengan polosnya, sambil menunjuk ke arah taman.

"Eh, ngomong apa kamu Fanny?" tanya Fiona, kebingungan. 

"Sini geura, mah," timpal Fanny, sambil menggiring tangan Fiona menuju pintu di arah dapur, menuju lokasi taman belakang.

Tepat setelah membuka pintu belakang menuju taman, disaat guyuran hujan yang dengan rintik-lembutnya turun, sebuah pemandangan ganjil membuat tertegun Fiona. Terdapat sebuah sepeda roda tiga, yang ditempatkan rapih nan bersih akibat terbasahi air, di tengah rerumputan taman. 

Tidak hanya sepeda, terikat pula pada bagian stangnya, pita merah mudah lebar bertuliskan 'Selamat Hari Ultah Fanny'. Tersematnya pita tersebut, mengingatkan momen indah saat Fido dan Fiona, tengah memilih pita hadiah bagi sepeda Fanny.

Tidak sanggup memandangi hadiah terakhir dari suaminya, Fiona lalu terjatuh duduk,  menangis sejadi-jadinya.

Epilog

Beberapa minggu kemudian telah berlalu, setelah prosesi pemakaman Fido yang bersemayam tanpa keberadaan tubuhnya. Keadaan rumah Fido berisi Diana, Fiona, Fanny, masih terasa suram. 

Aura kesedihan semakin terasa, akibat kue tart ulang tahun Fanny yang belum pernah tiba di lokasi rumah. Entah apa yang terjadi pada kurir pengirim kue tart, di hari yang sama saat Fido menghilang, karena masih dalam status pengiriman, hingga kini.

TAMAT.

24 Februari 2026

Mengejar Mimpi Ala Timothee Chalameet di Film Marty Supreme

 

Marty yang terlalu niat dalam mengejar mimpinya (IMDB).

Kisah drama perjalanan hidup dari Hollywood pun kembali meramaikan sinema perfilman di bulan Februari ini, yang berjudul Marty Supreme. Film berating D17 dari A24 ini berdurasi 2,5 jam. Jadi, harus menyempatkan waktu cukup lama untuk dapat menontonnya.

Marty Supreme mengisahkan suatu kisah mimpi yang (menurut penulis) berlandaskan peribahasa bule, dengan istilah Go Big or Go Broke. Ya, maksud peribahasa ini adalah seseorang harus bermimpi besar, atau gagal sebelum mencapainya. Film ini sebenarnya diadaptasi dari kisah nyata seorang juara tenis dari AS, yang memenangkan kejuaraan tahun 1949 lalu di Jepang, bernama Marty Reissman.

Timothee Chalameet, Sang Wonderboy dari Hollywood

Aktor muda yang baru berumur 30 tahun ini, memang sedang digadang sebagai aktor terbaik dari Hollywood sana. Banyak proyek besar perfilman, diisi oleh aktor kelahiran Manhattan ini. Film paling epik yang pernah diperankan Timothee adalah Dune: Part One (2021), dan Dune: Part Two (2024), yang diadaptasi oleh novel berjudul Dune (1965) hasil karya Frank Herbert.

Selain itu, Timothee memang memiliki keahlian akting yang cukup luas. Satu film yang menaikkan namanya, adalah Wonka (2023). Peran Willy Wonka memang membutuhkan seorang aktor yang nyentrik nan eksenstrik, dan Timothee ternyata sanggup mengadaptasinya. Seakan, Hollywood mendukung aktor ini sebagai sosok baru pengganti Johnny Depp, yang sempat memerankan karakter sama di tahun 2005 lalu, dalam film Charlie and Chocolate Factory.

Karena keahlian akting serta film yang nilai produksinya mahal, Timothee sering dinominasikan penghargaan film, walau belum memenangkan satupun Oscar. Khusus untuk film Marty Supreme, Timothee Chalameet dinominasikan dalam Oscar sebagai Aktor Terbaik, sementara filmnya sendiri diberi nominasi sebagai Film Terbaik, di tahun 2026 ini.

Studio Film A24 yang Unik

Perlu ditelaah pula dari segi studio yang memproduksi film Marty Supreme ini. Ya, A24 memang satu studio (yang kini terkenal) aneh, dengan sering memproduksi film bersudut pandang unik. Walau awalnya lebih mengemukakan horor, namun kini studio film A24 lebih mengacu ke kritik sosial, atau film yang lebih abstrak dan nyeleneh horornya.

Satu film aneh dari A24 yang pernah penulis tonton, adalah berjudul Tusk (2014). Film dengan genre komedi-horor ini diperankan oleh Justin Long, yang berkisah satu perubahan manusia yang diculik. Ya, bukan diculik biasa, melainkan dirubah tubuhnya menjadi seekor anjing laut.

Di tahun yang sama, A24 merilis film Ex Machina, yang diperankan oleh aktris Alicia Vikander. Aktris berdarah Swedia ini memerankan seorang robot yang sanggup sadar diri alias sentien, namun tetap bernada horor-psikologis ala film A24.

Tahun 2015, A24 kembali membuat gebrakan di genre horor, dengan film The Vvitch. Film berlatar awal koloni di Amerika dan diperankan oleh Anya Taylor Joy ini, mengisahkan dengan abstrak sebuah kisah kajajaden (alias kesurupan) di lokasi terpencil sebuah koloni. Fokus utamanya adalah sebuah keluarga kecil di ladang yang jauh dari pusat koloni. Saking ngerinya, film ini direkomendasikan oleh penulis, sebagai film paling horor dari A24.

Free Fire yang dirilis tahun 2016 pun menunjukkan, bahwa A24 sanggup memproduksi film drama-aksi yang hanya berlatar satu lokasi saja. Jadi, filmnya mirip dengan khas sutradara kawakan Quentin Tarantino. Apalagi, Brie Larson sebagai aktris pemenang Oscar pun, mengisi film ini.

Film sejenis horor klasik pun diproduksi oleh A24, dengan judul The Monster di tahun 2016. Film ini mengisahkan ibu dan anak, yang terpisahkan akibat serangan monster besar ala seekor Yeti atau Bigfoot.

Di tahun yang sama, drama psikologis berjudul A Ghost Story pun dirilis. Film ini kembali dengan gaya khas A24, yaitu drama psikologis bernuansa horor. Namun, kisahnya cukup mendalam, karena lebih mirip kisah jurig alias arwah penasaran. Arwah ini belum sempat kembali ke dunianya sana, dan perlu menonton langsung seluruh kegiatan keluarga yang ditinggalkan olehnya.

Sebenarnya masih banyak film dari A24 yang bisa direkomendasikan. Tetapi, cukup disitu saja, karena penulis sendiri belum menonton semuanya.

Sinopsis Film Marty Supreme

Tahun 1952 lalu di AS, Marty Mauser (Timothee Chalameet) adalah seorang atlet tenis meja yang cukup hebat. Namun, dirinya tidak memiliki latar belakang seorang kaya raya, atau memiliki koneksi. Jadi selama ini, Marty berkompetisi di banyak turnamen tenis meja, tanpa dukungan sponsor sama sekali. 

Namun, Marty memiliki karakter yang pantang menyerah dan terlalu berorientasi target. Sehingga, Marty sering memposisikan dirinya dalam situasi berbahaya, demi mencapai tujuannya sendiri. Maksud Marty sebenarnya cukup baik, yaitu demi mendukung dirinya, serta ibunya yang kini bekerja di toko sepatu milik pamannya.

Beberapa turnamen di banyak negara diikuti oleh Marty dengan dana seadanya, walau tetap memenangkan sedikit hadiahnya. Kini, Marty berniat untuk mengejar mimpi terbesarnya, yaitu memenangkan Kejuaraan Dunia Tenis Meja di Jepang.

Sanggupkah Marty meraih mimpinya? Atau malah terjebak lingkaran hutang sana-sini akibat banyak mencari masalah?

Jawabannya, tentu ada drama olahraga ala sinema Indonesia.

18 Februari 2026

Rasanya Romansa Bersama Jurig Thailand Ala Film A Useful Ghost

 

March yang heran ama jurig yang satu ini (TMDB).

Okeh, saatnya film kurang-kurangi dari ranah Thailand sana, yang khas dengan genre horornya, berjudul A Useful Ghost. Film yang tayang di banyak sinema Indonesia ini, ternyata memiliki rating tinggi, alias 21 tahun keatas (D21). Mungkin karena film ini mengambil jalur nyeleneh drama-komedi-horor, seakan mengkritisi industri perfilmannya sendiri, yang mayoritas terkenal akibat horor saja di Thailand.

Namun, justru animo komedi-horor memang dapat menjadi alternatif tersendiri. Bosannya penggemar dengan adegan seram saja, dapat disegarkan dengan kombo sub-genre lain, contohnya dengan genre drama atau komedi. 

Horor dan Sub-Genre Alternatif

Sebelum membahas cuplikan film A Useful Ghost yang cukup menarik, aneh, bodor dan ternyata cukup brutal, maka saatnya membahas pula alternatif dari genre horor, yang ternyata cukup ciamik jika dikombinasikan.

Mari mengenang dahulu dengan film berjudul The Sixth Sense, dari tahun 1999 lalu yang dibintangi oleh aktor kawakan, Bruce Willis. Aktor yang sebenarnya terbiasa berperan di film aksi, ternyata cukup mumpuni saat memainkan film drama. Karya hasil M Night Shyamalan yang terkenal dengan horor uniknya, cukup membawa film ini ke ranah berbeda. Plot Twist yang disajikan di akhir cerita pun, ternyata cukup membuat heran penonton.

Animo semacam ini lalu dilanjutkan pada film The Others (2001), yang dibintangi oleh aktris terkenal Nicole Kidman. Sama seperti The Sixth Sense, kisah horor ternyata dapat ditutup dengan Plot Twist yang berbeda. Penonton pasti kaget dengan akhir ceritanya. Padahal selama dinginnya lokasi adegan selama durasi film berlangsung, mencerminkan bahwa film ini adalah sejenis horor biasa.

Nah, meloncat ke ranah film dari Asia, khususnya Korea Selatan, terdapat dua film dengan pembawaan drama yang cukup mumpuni. Film pertama adalah A Werewolf Boy (2012), yang sesuai judulnya, mengisahkan tentang seorang anak yang dapat berubah menjadi manusia serigala, alias kajajaden. Namun, karena pembawaan film yang berisi drama kehidupan sehari-hari (slice of life), dan akhir yang miris-manis, ternyata cukup memukau bagi penggemar drama.

Satu film lagi dari Korea Selatan, adalah My Daughter is a Zombie, dari tahun 2025 kemarin. Ya, terdengar sadis dengan istilah zombie, tetapi justru disitulah uniknya. Filmnya ternyata mengisahkan drama perjuangan ayah dan putrinya yang terinfeksi virus zombie. Bahkan, film ini diakhiri dengan plot twist yang begitu wholesome alias berfaedah, walau cukup sedih saat klimaksnya. Penulis berpendapat, bahwa film ini adalah yang terbaik dari segi ranah sub-genre Zombie.

Nah bagaimana dengan film dari Nusantara? Justru terdapat animo yang mirip dari film komedi sejenis A Useful Ghost. Ya, judulnya saja sudah kacau, bahkan mengacu ke Thailand, yaitu From Kang Mak X Nenek Gayung, dari tahun 2025 lalu. Film ini diisi banyak bintang komedi terkenal Indonesia. Bagi penulis yang berlatar Sunda, film ini seakan mengingatkan, khas bodor dan budaya yang melekat di Priangan. Walau pembawaannya komedi bodor, tetapi tersirat sebuah pesan khusus budaya, yang hanya dapat dimengerti oleh warga Sunda.

Okeh, karena cocok dengan pembawaan film A Useful Ghost, yang terlihat nyinyir pada demografinya sendiri, maka dicek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film A Useful Ghost

March (Witsarut Himmarat) adalah seorang duda yang baru kehilangan istrinya, bernama Nat (Davika Hoorne), akibat sakit. Tidak ingin terus termenung dengan kesedihannya, March mulai bekerja membabi-buta di pabrik milik keluarganya. Namun suatu hari, sebuah mesin penyedot debu yang cantik mandraguna, menghampiri dirinya dengan otomatis. Heran namun cukup berminat, March lalu bercengkerama dengan mesin tersebut layaknya istri sendiri. 

Keanehan romansa March bersama mesinnya, menyebabkan seluruh keluarganya terpana hingga menggila. Walau mesin tersebut memiliki banyak ingatan dan berbicara lugas layaknya Nat, namun keluarga masih menganggap aneh dan tidak suka romansa cinta edan antar keduanya. Mereka langsung memanggil banyak ahli paranormal ahli banyak dunia kajajaden, demi menyembuhkan March dari romansa kesetanan miliknya.

Hingga akhirnya March terjebak dalam suatu lingkaran bencana oportunistik. March ternyata mengidap penyakit yang sama dengan Nat, yaitu infeksi pernapasan akibat debu. Hingga ditutupnya pabrik akibat gagal memenuhi standar kesehatan dari pemerintah negara Siam ini. Keluarganya pun semakin curiga dengan kedekatan cinta nyelenehnya antar suami-istri beda dunia ini. 

Tidak hanya masalah duniawi, ternyata March dan Nat mendalami atmosfer berbeda, yang lebih supernatural, jika dibandingkan dengan masalah keluarganya yang jelas mengejar duniawi semata. March dan Nat ternyata memiliki rencana berbahaya karena sakti mandraguna, dan hanya Nat-lah dengan jurus sedot debunya, yang mampu mengenal tujuan akhir dari aksi jurig laknat tersebut. 

Plot Twist sebesar apakah yang terkuat di akhir film?

Jawabannya tentu ada di sinema jurig pecicilan ala sinema Indonesia.

12 Februari 2026

Lebih Memaknai Karakter Son Dalam Film Linda Linda Linda

 

Anggota Paranmaum yang ingin konser (TMDB).

Berikutnya, saatnya mengakhiri kisah mengerikan di minggu ini, dengan film yang baru saja diperbarui hingga 4k, berjudul Linda Linda Linda. Ya, memang judul filmnya kurang cocok dengan istilah Monsterisasi, tetapi cukup menarik jika dicek latarnya. Terdapat analisis khusus, mengenai perbedaan industri Jepang dan Korea, khususnya semenjak jaman modern. Analisisnya pun cukup brutal, jadi ada sedikit sosok monster dibaliknya.

Oh ya, penulis mau konfirmasi pula, bahwa sebenarnya baru menonton film Linda Linda Linda, setelah merekomendasikan dalam artikel lainnya di Blog Sedia Saja. Bahkan jika diingat-ingat, memang genre musikal Pop-Rock adalah minat saya sejak lama. Sekaligus, mengingat momen terdahulu pas jaman SMA. Selain itu, kayaknya teman sekelas cewek jaman SMA, pernah minta untuk menonton Linda Linda Linda. Mungkin hanya sekedar obrolan, jadi kurang bisa mengingatnya.

Walau film ini cukup dingin dan santai pembawaannya, cukup nyambung dengan minat saya. Layaknya drama dari Jepang sana, memang tidak seheboh anime-nya. Bahkan saking dinginnya setiap momen (walau lucu), penulis merasa adegan di film ini sangat mirip dengan cara ngobrol sehari-hari, apalagi jaman SMA terdahulu. Karena itu ketika film diakhiri dengan dua tayangan lagu, semakin kagum saja setelah selesai menontonnya. 

Bae Doona sebagai Son dan Personil Paranmaum

Bae Doona adalah aktris ternama dari Korea Selatan, yang berperan sebagai Son di film Linda Linda Linda, yang semakin melambungkan namanya. Hingga kini, Bae Doona telah berperan di banyak film Korea Selatan terkenal, contohnya adalah The Host (2006), Silent Sea (2021), dan serial terkenal Kingdom (2019-2020). 

Bahkan Bae Doona sempat pamor namanya di Hollywood sana, dengan film Jupiter Ascending (2015), dan Rebel Moon (2023) dari sutradara ternama Zack Snyder. Pokoknya jika membahas Bae Doona, maka akan mengenal sosok aktris ternama, sekaligus aktris internasional.

Sementara anggota lain dari grup band Paranmaum, memiliki banyak peran pula di Jepang sana. Aki Maeda sebagai Kyoko Yamada alias sang drummer, sempat berperan dalam film kontroversial Battle Royale (2000, 2003). Yuu Kashii sebagai Kei Tachibana alias sang gitaris, berperan di film Death Note (2006) dan My Boss My Hero (2006) yang penuh nostalgia. 

Terakhir adalah Shiori Sekina sebagai Nozomi Shirakawa, yang sebenarnya tidak berperan sebagai aktris. Melainkan dirinya telah bekerja sebagai bassist sebuah band, sesuai dengan perannya di film Linda Linda Linda.

Pertukaran Pelajar Jepang dan Korea Selatan

Nah, Son dari Korea Selatan, sebenarnya tidak cukup nyambung dengan karakter lainnya, yang asli dari Jepang. Namun karena konflik internal band, Son sebagai murid pertukaran pelajar, lalu direkrut sebagai vokalis. Son yang kurang mengenal banyak kosakata Jepang, ternyata sanggup bernyanyi pula. Bahkan girlband ini merubah namanya menjadi Paranmaum, yang artinya adalah Blue Hearts dalam bahasa Korea. 

Mengapa film Linda Linda Linda banyak yang suka, hingga bahkan sutradaranya yang bernama Nobuhiro Yamashita meraih penghargaan sutradara terbaik di tahun 2006? Jawabannya ternyata cukup dalam, yaitu film ini memberi dampak budaya langsung bagi Jepang dan Korea Selatan.

Ya, bagi yang suka Jepang dan Korea Selatan, tentu tahu mengenai ketegangan industri diantaranya keduanya. Banyak produk dari Jepang, tidak diterima di Korea Selatan akibat sejarah kedua negara. Sehingga, banyak perkembangan berbeda antar keduanya.

Paling kentara, adalah produk ponsel Samsung dari Korea Selatan, dengan Sony dari Jepang. Keduanya sempat meramaikan Indonesia, namun sangat kentara kompetisi keduanya. Industri mobil pun cukup bersaing, yaitu banyak merk otomotif dari Jepang, sementara Korea Selatan mengandalkan Hyundai-nya. 

Fans Jepang dan Studio Animasi

Nah, hubungannya dengan film ini pun cukup kentara, yaitu segi dunia hiburannya. Perkembangan industri hiburan cukup terpisah, contohnya saat Jepang dengan sinematografi tradisionalnya, sementara Korea Selatan yang heboh ala film Hollywood.

Salah satu perbedaan paling terasa, ada di dunia gaming-nya. Ya, saat Jepang sangat bersemangat untuk menyebarkan konsol gimnya, contohnya Nintendo hingga Playstation, namun produk tersebut tidak beredar di Korea Selatan. Sehingga, negara di semenanjung Korea ini memilih produk lainnya, yaitu lebih berlandaskan gim PC. 

Bagi yang melanglangbuana di dunia gaming, tentu tahu sehebat apa Korea Selatan di kompetisi digital. Hingga kini, Korea Selatan sering menjuarai banyak kompetisi internasional gim, sejak jaman Counter Strike pertama. Tidak hanya itu, adalah pesatnya MMORPG sebagai industri khas Korea Selatan. Hingga kini, ranah gim MOBA berjudul League of Legends (dari Eropa), masih menjadi animo terbesar di Korea Selatan.

Tentu perkembangan ini berbeda dengan distribusi gim konsol ala Jepang, dengan banyak gim offline-nya. Namun, ternyata keduanya sempat disatukan, sejak gim MMO berjudul Ragnarok Online, yang dirilis pada tahun 2002 lalu. Gambarnya yang lebih imut daripada gim kebanyakan, serta grind-nya yang keterlaluan, ternyata menarik bagi banyak pemain Jepang.

Perkembangan pun berlanjut hingga tahun 2020an sekarang. Bagi penggemar film animasi atau anime, tentu tahu sebesar apa pengaruh serial Webtoon berjudul Solo Leveling di Jepang. Bahkan jika para penggemar (ala Wibu dan Otaku) mengecek kredit akhir anime dari studio Mappa dan Madhouse, ternyata banyak anggota dari Korea Selatan. Hal itu membuktikan, bahwa perkembangan berbeda industri kedua negara, malah menyatukan keduanya saat ini.

Jadi, akulturasi budaya populer antara Jepang dan Korea Selatan di masa kini, sangatlah damai dan terasa. Tentu, tidak sekontras jaman sebelumnya. Dan karena itu, banyak fans dari Korea Selatan dan Jepang, sangat menghargai film Linda Linda Linda, sebagai pionir dalam menyatukan kedua negara industri ini.

Paranmaum (Blue Hearts) dan Khas Punk-Rock

Okeh, memang kisah yang berdampak bagi budaya Jepang dan Korea Selatan. Namun, bagaimana dengan cerita filmnya sendiri? Ya, film ini memiliki momen berbeda di akhir film. Tidak begitu aneh dan bahkan bukan spoiler, karena memang akhirnya adalah lagu saja (hehe).

Namun, perlu ditelaah dari lagu yang dibawakannya, yaitu dua lagu dari band Punk-Rock Jepang tahun 80an, bernama Blue Hearts. Band ini memang betulan genre Punk-Rock lama, yang sangat kentara dengan kerasnya vokal, layaknya lagu Trash yang banyak Noise-nya. Bagi yang sudah mendengar lagu Linda Linda versi asli dari Blue Hearts, pasti sanggup memahaminya. Perlu dipahami pula, bahwa genre Punk-Rock dalam musik, memang berada di tingkatan anti-mainstream (saat itu), namun tetap disukai penggemarnya.

Nah, khas Punk-Rock yang acak adut ternyata cocok bagi personil Paranmaum. Padahal, anggota girlband ini cantik semua dan menjalani kisah Romansa SMA. Son, Kyoko, dan Kei bahkan memiliki kisah cintanya sendiri. Terkecuali sang bassist Nozomi, yang terkenal pemalu.

Bahkan ada satu adegan lucu untuk romansa SMA ini. Son yang ketiduran saat menjaga gerai pertukaran budaya Korea Selatan dan Jepangnya, diminta melalui surat untuk datang ke lokasi gudang. Lokasi ini terkenal, sebagai tempat untuk menyatakan cinta pada cewek, saat Festival Budaya atau Pentas Seni berlangsung di sekolah Jepang.  

Bahkan dalam adegan ini, sang cowok berbicara bahasa Korea, demi menyatakan isi hati pada Son. Namun Son dengan tingkahnya yang nyentrik, hanya dapat menjawab (dalam bahasa Korea), bahwa dirinya ingin berlatih nyanyi sebagai vokalis Paranmaum saja, bersama teman-temannya. Dirinya pun kembali keluar lokasi gudang, yang disambut langsung anggota Paranmaum lainnya.

Nah, kisah di akhir film ini ternyata cocok dengan gaya Punk-Rock, namun khas ala pembawaan cewek. Paranmaum yang ketiduran akibat begadang untuk berlatih, akhirnya telat untuk sampai ke sekolah, dan perlu melewati hujan deras, demi sampai di gymnasium sebagai lokasi panggung. Bahkan Son sempat jatuh, akibat genangan air sambil lari terburu-buru. 

Keempatnya pun dengan baju basah nan lusuh, rambut yang belum mengering, perlu langsung mengisi panggung dengan dua lagunya. Adegan akhir ini layaknya Punk-Rock yang memang setelannya berantakan, namun sanggup manggung dengan hebat dan energetik. 

Oh ya, karakter suara dan logat Son yang khas dari Korea Selatan, ternyata cocok untuk kedua lagu dari Blue Hearts. Memang jika dibandingkan dengan logat khas Jepang yang lebih nyaring dan cempreng, logat khas Korea lebih berat dan dalam.

Lagu Linda Linda dan Uwaranai Uta dari Paranmaum

Kedua lagu yang di-cover oleh Paranmaum dari Blue Hearts, ternyata sangat cocok sebagai akhir dari kisah ini. 

Lagu Linda Linda yang dibawakan sangar oleh band aslinya, ternyata cocok dengan penggambaran film ini. Seakan, seluruh jawaban romansa SMA mereka, dapat dijawab dengan lagu ini. Beberapa karakter cowok yang dekat atau menyatakan isi hati kepada anggota personil Paranmaum, hanya bisa ikut moshing atau mengangguk bersenandung bersama lagu ini.

Lagu terakhir berjudul Uwaranai Uta, alias Endless Song, alias Lagu Tanpa Akhir, ternyata dapat menjawab semuanya, dan bahkan cukup wholesome. Dicek saja lirik lagunya, yang menjawab semua kegalauan jaman sekolah terdahulu. Seakan perjuangan selama ini, dapat terjawab dengan cara mendoakan semuanya, bahkan bagi mereka yang karakternya cukup sulit diterima. 

Akulturasi Budaya memang Indah, tetapi saya cuman ingin bersama teman-teman saja.

Stay on the Brightside, Brothers...

"Hehe, maaf ya...," ujar Son (YouTube).

11 Februari 2026

Memahami Jiwa Seorang Wanita Ala Film Spring

 

Layaknya wanita yang terus berubah-rubah ala rubah (TMDB).

Okeh, saya berbohong lagi sebenarnya. Di dua artikel Monsterisasi minggu ini, saya akan membahas juga tentang romansa, walau genre utamanya tetaplah horor atau drama kehidupan sehari-hari di judul terakhir.

Film Horor-Romansa yang dibahas, berjudul Spring dari tahun 2014 lalu. Ya, layaknya membahas Nadia Hilker saat masih sangat ca'em, kisah ini memang berlandaskan dirinya. Bukan sebagai seorang aktris cantik, tetapi metafora dan simbol terbesar dari jiwa seorang wanita. Bagi yang sudah menontonnya dan kurang paham, dapat mengeceknya di artikel ini.

Oh ya, walau film ini aslinya karya Hollywood, namun lokasi latar syuting serta aktor-aktrisnya kebanyakan dari Eropa. Mungkin, agar otentik sesuai ceritanya, yang jelas mengisahkan di Italia sana.

Kisah Horor-Romansa

Kisah horor di film ini sebenarnya tidak begitu kentara, namun lebih terasa seperti misteri. Banyak kejadian aneh meliputi tokoh utama prianya, bernama Evan (Lou Tayler Pucci) dari AS, yang tengah berlibur di Italia. 

Di kota Polignalo a Mare yang eksotis, Evan bertemu dengan gadis cantik bernama Louise (Nadia Hilker). Gadis cantik misterius ini lalu setuju membina hubungan sementara, layaknya dua insan yang sedang berlibur. Namun semenjak keduanya saling kenal, sering terjadi kejadian aneh di sekitar mereka. 

Karakter Louise

Karakter wanita Louise ini, setelah diselidiki dan secara kebetulan diungkap oleh Evan, merupakan sesosok monster aneh. Walau awalnya ngeri, tetapi Evan dengan cepat tanggap (beberapa menit saja), langsung memaklumi anehnya diri Louise. 

Padahal Louise adalah semacam mahluk anomali, yang memiliki siklus beberapa hari setiap bulannya, untuk berubah bentuk menjadi mahluk lain. Ya, bukannya seorang vampir atau manusia serigala, atau bahkan wanita yang lagi menstruasi bulanan, Louise adalah seorang yang berubah wujud (menjadi monster) setiap bulannya. Satu cara untuk menunda siklus tersebut, adalah suntikan hormon.

Hingga akhirnya di akhir film, ditemukanlah jawabannya. Satu cara agar Louise berhenti siklus perubahannya, adalah dengan menerima dirinya sebagai manusia. Namun, dirinya beresiko tidak kekal abadi lagi. Louise ternyata sering membina hubungan dengan manusia lainnya, namun justru berakhir dirinya takut menjadi manusia biasa.

Dan diakhir film pun, saat keduanya tengah duduk pada sebuah batu, tepat saat matahari mulai terbit, sebuah gunung vulkanik besar di seberang laut, meletus dengan dahsyatnya.

Ya, kebetulan yang sangat tepat momennya.

Tema Ibu yang Kentara

Perlu digaris-bawahi, bahwa tema ibu memang sangat kentara dalam film ini. Evan melarikan diri ke Eropa, akibat sedih setelah memakamkan ibunya. Dirinya lalu bertemu Louise, yang sebenarnya tidak bisa hamil akibat terus berubah wujudnya.

Suatu lingkaran takdir, yang memisahkan Evan dengan ibunya sendiri, berlanjut saat bertemu Louise di Italia. Walau aneh bin ajaib, Evan malah terpukau dengan anehnya Louise, dan dengan siap membantu. 

Dari situ, Louise dapat digambarkan sebagai seorang yang sangat kita kenal. Ya, bukannya ibu kita sendiri, melainkan Ibu Pertiwi alias Motherland bagi warga Slavic, alias planet biru bernama Bumi ini.

Adaptasi, Evolusi, dan Perubahan Geografis Bumi

Ya, Planet Bumi yang menjadi rumah bagi manusia, hewan, tanaman, dan banyak kondisi geografis, adalah lokasi yang layak disebut sebagai ibu. Seperti beberapa istilah tadi, banyak budaya serta warga dunia yang menghargai Bumi layaknya Ibu sendiri.

Itupun sesuai dengan karakter Louise dalam film Spring ini. Louise memiliki siklus uniknya sendiri, yaitu berubah setiap bulannya menjadi mahluk lain. Entah itu gurita, rubah, atau bahkan tanaman. Perubahan Louise ini adalah simbol dari adaptasi dan evolusi banyak mahluk di muka Bumi. Apalagi, Louise mengaku bahwa dirinya telah hidup lama di Bumi, hingga jutaan tahun lamanya.

Siklus perubahan dapat dihentikan dengan menyuntikkan hormon dari hewan lain, atau dengan menerima diri sendiri sebagai manusia. Maksud paling kentara, adalah manusia sebagai mahluk sentien, adalah suatu puncak dari siklus evolusi. Secara hati dan pikiran, Louise seharusnya menerima diri sebagai seorang wanita, yang senantiasa mengasuh anak dan melanjutkan generasi berikutnya. Daripada, Louise menganggap dirinya sebagai dewi yang kekal abadi.

Apalagi di akhir film, terdapat kebetulan yang berbeda. Seperti sudah dijelaskan, keduanya tengah berada di atas batu, dengan pemandangan matahari terbit dan meletusnya gunung vulkanik. 

Adegan ini mengingatkan, bahwa Louise layaknya seorang avatar dari Bumi. Keadaan geografis bumi terus berubah selama milyaran tahun, semenjak masih bersatu sebagai Benua Pangea, hingga terpisah menjadi banyak benua di jaman modern. Tentu perubahan geografis Bumi, diakibatkan oleh pergerakan Tektonik dan banyak lempengan yang dibawanya. Penggambaran yang tepat sekali, sesuai dengan momen meletusnya sebuah gunung vulkanik.

Ya, menurut penulis sendiri, film ini memang Drama-Horor-Romansa paling romantis yang pernah saya tonton. Memang menggambarkan, bahwa kekayaan alam yang telah kita nikmati selama ini, adalah hasil dari perlindungan Planet Bumi tercinta, layaknya seorang Ibu.

Okeh, Ciao.

Louise dan Evan yang masih kasmaran (TMDB).

Oh ya, ada teori kurang nyambung tersendiri mengenai sosok Evan di film ini. Menurut penulis, Evan bukan seorang pelarian sejati. Walau dirinya bekerja sebagai bartender di bar kecil AS saat awal film, namun terlihat sudah terbiasa untuk berjalan-jalan jauh. Bahkan melanglang-buana sendiri hingga Eropa sana, khususnya menuju Italia.

Tampaknya sebelum kembali ke rumah kediaman ibunya, Evan adalah seorang bartender di kapal pesiar. Karena itu, walau tidak begitu mengenal Italia sebagai lahan rekreasi, namun dirinya memilih satu kota yang berada di pesisir pantai, dan bukannya pusat pariwisata (layaknya Roma atau lokasi landmark lainnya).

Apalagi dengan pembawaan karakternya yang mudah nyambung dengan siapa pun di film ini, termasuk Louise yang eksentrik. Penulis akhirnya yakin, bahwa Evan memang seorang pengelana sejati, yang siap bertahan dimanapun lokasi dirinya berada.

10 Februari 2026

Kompilasi Film Horor yang Semua Tokoh Utamanya adalah Wanita: The Strangers: Chapter 3, Whistle, Panor 2, Waru

Maya yang harus ikut-ikutan (IMDB).

Untuk menyambung dengan hangat, hari kasih sayang di tanggal 14 Februari mendatang, sebaiknya kita rayakan dengan empat film horor saja (haha). Sayang seribu sayang memang, tapi mau gimana lagi. Bukannya penulis mau berbagi minat pecicilan, tetapi jadwal rilis keempat filmnya adalah minggu ini, di banyak sinema Indonesia. Apalagi seluruh tokoh utamanya, ternyata semuanya wanita.

Untuk menyambut perilisan film seperti ini, nanti dirilis tiga artikel Monsterisasi, yang semua tokoh utamanya wanita, dan diantaranya bergenre horor atau drama sehari-hari. Ya, tidak akan membahas romansa di minggu ini, namun kita cek saja dari genre lainnya.

Oh ya, ternyata rata-rata film horor ini memiliki rating berat pula, tiga diantaranya berating D17. Satu lainnya berating D21, karena memiliki banyak adegan daging-mendaging dengan latar tokoh utama seorang psikopat yang kesurupan.

The Strangers: Chapter 3

Okeh, ternyata film yang baru dirilis seri keduanya bulan Oktober tahun lalu, diakhiri dengan kisah romansa antara tokoh antagonis dan pemeran utamanya. Karakter Maya (Medelaine Petcsh) di The Strangers: Chapter 3, ternyata harus bergabung dengan grup psikopat, yang sebelumnya terus mengejar dirinya. 

Terlihat sekilas dalam cuplikannya, Maya dipasangkan topeng oleh tokoh psikopat bertopeng lainnya. Bahkan, keduanya hingga curhat di satu adegan, dengan berbincang kisah kematian seorang anggota keluarga atau temannya.

Entah maksud dari dialog tersebut, atau memang ritual khas psikopat bertopeng tersebut. Jadi, jumlah anggota grup psikopat akan terus bertambah atau terisi kembali, dengan menculik salah seorang penyintas sebelumnya. Mungkin sejenis Pansos, kali ya?

Atau, memang sejenis Stockholm Syndrome, yang perlu dibahas di artikel ini. Ya, bagi yang tahu arti dari gangguan mental sejenis ini, pasti langsung ngeuh melihat cuplikan filmnya. Karena antara penculik dan korban, malah saling berbagi empati satu sama lainnya. Bahkan, Maya terlihat dalam satu aksi, dimana dia harus ikut menyiksa korban lainnya, alias ikut 'inisiasi' grup psikopat ini.

Entah bagaimana kelanjutan film ini, apakah Maya perlu bertahan hidup saja, atau ikut berperan sebagai psikopat. Uniknya film horor saat ini, adalah banyak akhir cerita yang tidak terduga. Bukan hanya plot twist, tetapi beberapa kemungkinan (selalu) dapat terjadi setiap akhir film horor, bahkan hingga akhir terburuk.

Chrys dengan peluit Aztec keramatnya (IMDB).

Whistle

Berikutnya adalah film ala standar horor remaja, dengan tokoh utama yang cukup familiar, bernama aktris Dafne Keen sebagai Chrys Willet. Aktris berdarah Spanyol dan Inggris ini awalnya naik daun, semenjak memerankan Laura alias X23 di film Wolverine paling sedih, berjudul Logan dari tahun 2017 lalu. Keen sempat kembali dalam film Deadpool & Wolverine pada tahun 2024 lalu, dengan memerankan kembali X23 yang telah dewasa.

Kembali ke film Whistle, justru memiliki sineas perfilman yang berlatar mumpuni. Dalam cuplikannya tersemat dengan kentara dan bangga, nama sutradara Corin Hardy. Produksi film The Nun (2018) yang dipimpin oleh Hardy, adalah sejenis film sampingan (spin-off) dari waralaba The Conjuring. Studio produksi film Whistle pun cukup unik, yaitu No Trace Camping, yang sempat memproduksi film unik, berjudul Late Night with The Devil (2023).

Cukup mengherankan juga, karena awal cuplikan diisi dengan nama Independent Film Company (IFC), yang tetap setia merilis film bersama Shudder sebagai layanan siarannya. Keduanya memang terkenal dalam merilis banyak film horor unik dengan bujet terbatas. Contoh terakhirnya adalah film Good Boy, yang dirilis bulan Oktober tahun 2025 lalu. Mungkin karena sineasnya memiliki latar berbeda, sehingga film ini cukup banyak diisi para bintang.

Nah di film Whistle ini, Chrys Willet memiliki sebuah peluit keramat dari jaman suku Aztec terdahulu. Ketika ditiup oleh seseorang, maka sejenis jurig akan mengejar semua orang yang mendengar siulannya, dan membasmi mereka semua. Jurig yang muncul pun cukup kontras, karena berupa dan berwujud korbannya di masa depan, namun lebih sangar.

Panor yang kembali menjelma dalam dirinya (TMDB).
Panor 2

Nah, untuk film yang satu-satunya berating D21, Panor 2 cocok bagi para penikmat film sadis, dengan adegan intimidasi, darah-mendarah, daging-mendaging, alias body-horror-nya. Cukup terlihat sadis dari cuplikannya, yang memang berasal dari negara terhoror Asia Tenggara, bernama Thailand.

Film Panor sebenarnya bagian dari dunia Art of the Devil (Long Khong), yang dirilis pertama kalinya sejak tahun 2004. Waralaba film Art of the Devil dilanjutkan hingga menjadi trilogi, dengan perilisan sekuelnya di tahun 2005 dan 2008. Baru di bulan April tahun 2025 lalu, dirilis film Panor pertama dengan animo yang sama.

Berbeda lajur waktu dengan trilogi pertamanya, film Panor adalah prekuel dari Art of the Devil, berfokus latar karakter utamanya yang bernama sama. Panor (Cherprang Areekul) adalah nama seorang gadis terkutuk, yang masih bersekolah dan memiliki aura berbeda. Namun di film tahun 2026 ini, Panor telah lulus sekolah dan sedang mendalami ilmu sebagai pendidikan guru.

Fokus Panor sebagai karakter utamanya, ternyata kontroversial. Karena Panor dalam kesehariannya, adalah gadis biasa yang sedang tumbuh dewasa. Namun akibat memiliki kutukan warisan orangtuanya, maka saat ditindas, karakter kedua Panor akan muncul. Layaknya kepribadian ganda dan kesurupan alias kerasukan sekaligus ala Pamacan, Panor berubah sifat, sikap, dan aksi. Panor melawan balik dengan jahat, sehingga sangat kontras perbedaannya.

Melanjutkan film pertamanya, Panor tengah ditarget oleh keluarga dari korban sebelumnya. Tokoh 'antagonis' tersebut, ternyata tahu semacam ilmu hitam, demi melawan Panor yang lebih sakti mandraguna dari dirinya.

Berbeda dengan film Art of the Devil, justru film Panor lebih kentara dengan adegan sadisnya. Karena itu, ratingnya pun naik dari D17, menjadi D21. Bagi yang tidak suka kengerian sejenis ini, maka disarankan untuk menghindarinya saja.

Pohon Waru yang berwujud lebih ngeri (TMDB).

Waru

Dan kurang lengkap rasanya, jika membahas film horor tanpa mengikut-sertakan film dalam negeri. Kali ini tokoh utamanya masih wanita, yang berjudul film Waru. Masih mirip dengan animo horor lokal yang kental dengan budaya Jawa-nya, serta berbeda dengan mayoritas film luar negeri, Waru menceritakan kisah tumbal di lokasi yang menyeramkan.

Padahal Waru adalah sejenis nama tanaman, yang dikenal sebagai tanaman kapas pesisir pantai, khususnya di Jawa. Nama Waru itu sendiri kental sebagai sebutan di berbagai lokasi Jawa, yaitu di daerah Sunda, Jawa, dan Bali.

Namun di film ini, pohon Waru justru dihuni oleh sejenis jurig jahat, yang memiliki ritual khusus bagi pengikutnya. Dalam cuplikannya sendiri, terdapat satu referensi khusus dengan aksara Jawa, yang selalu kental dengan horornya. Jadi, semakin jelas referensi darimana film ini, beserta ritual pesugihannya. Ya, film ini berkisah tentang ritual pesugihan tumbal, seperti dilansir dari percakapan karakternya.

Surat dengan aksara Jawa yang ditampilkan, mengacu pada Lidya (Dewi Amanda) yang sering kesurupan hingga harus dipasung. Setelah diselidiki oleh anaknya yang bernama Nadine (Bella Graceva), ternyata gangguan mental ibunya adalah akibat perjanjian mistis terdahulu. Demi kesuksesan keluarga, pesugihan meminta tumbal satu kepala setiap tahunnya, namun tidak pernah dilaksanakan.

Karena itu, satu cara untuk membatalkan perjanjian ini, yaitu dengan membakar pohon Waru di sekitar rumah neneknya, yang bernama Waru (Yati Surachman) pula. Entah apa akhir ceritanya, kemungkinan yang terjadi adalah Nadine dan beberapa kawannya, tidak akan selamat dan malah memenuhi janji tumbal.

03 Februari 2026

5 CM Per Second versi Live Action Muncul di Sinema Indonesia

 

Akari dan Takaki yang Gaje (TMDB).

Saatnya menikmati dirilisnya karya Sensei Makoto Shinkai berjudul 5 Centimeters Per Second, yang diadaptasi ala aktor-aktris nyata alias Live Action. Ratingnya pun masih sama, yaitu R13 alias remaja. Film yang dirilis awal bulan Februari 2026 di sinema Indonesia, cukup berbeda dengan versi anime. 

Makoto Shinkai tidak ikut berandil dalam produksi Live Action-nya. Bagi yang ingin mengecek beberapa film anime hasil karya Makoto Shinkai, bisa membaca artikel referensinya di Blog ini. Sensei Shinkai memang sudah senku sebagai sineas di perfilman Jepang, khususnya drama dengan banyak karya hebat, yang semuanya dimulai dari film anime 5 Centimeters Per Second ini.

Drama Live Action di Jepang

Nah, bagi yang agak risih dengan istilah Live Action, menurut penulis sih tidak perlu ragu untuk menontonnya. Justru karena tema anime ini adalah Drama Romansa pemuda-pemudi Jepang, maka akting yang ditampilkan lebih natural, dengan karakter yang realistis. Biasanya drama semacam ini di ranah perfilman Jepang, justru lebih kental dengan budayanya sendiri, dan berbeda dengan hebohnya anime.

Penulis sempat menonton beberapa anime yang kurang layak diadaptasi sebagai Live Action, contohnya adalah Attack on Titan (2015), yang berakhir Cringefest. Padahal AoT tidak seperti kebanyakan anime, yaitu atmosfernya yang serius, brutal, dan dingin, karena berlatar cerita militer. Namun, di AoT Live Action, malah jadi cringefest yang kurang nyambung sama sumber cerita aslinya.

Contoh karya lama bergenre drama dari Jepang, adalah film One Liter of Tears di tahun 2005, dan My Boss My Hero di tahun 2006. Keduanya memang menyajikan cerita yang bisa dikategorikan sebagai kisah drama sehari-hari, namun tetap menyanyat hati karena cukup dalam momennya. 

Versi Anime dan Live Action

Nah sesuai khasnya karya Makoto Shinkai, maka banyak latar tempatnya yang mengambil referensi lokasi di dunia nyata, dengan penggambaran yang tepat dan mendetail. Visual animenya pun sangat ciamik, dengan warna dan pencahayaan yang hangat, layaknya sebuah lukisan hidup.

Dari segi cerita, mungkin dijabarkan lebih panjang dan mendetail lagi. Jujur, penulis kurang ngeuh saat menonton anime 5 Centimeters Per Second ini, apalagi kurang terbiasa dengan drama romansa. Namun ceritanya cukup dingin, dengan adegan yang kurang begitu nyambung. Alias anime ini layaknya sebuah timeline saja, tanpa adegan dialog atau drama yang kentara. Justru karya Makoto Shinkai setelahnya, lebih banyak menggambarkan adegan yang lebih heboh.

Apalagi dengan durasinya yang hanya sekitar satu jam, maka adegan pun kurang dramatis. Nah karena itu di artikel sebelumnya yang membahas anime ini, justru penulis hanya menganjurkan untuk mendengarkan lagu di akhir film, berjudul One More Time, One More Chance. Maksudnya ada beberapa kekosongan adegan di anime ini, yang terisi saat lagu ini dimainkan di akhir film.

Segitu saja membahas versi animenya. Lalu, bagaimana dengan versi cerita Live Action-nya? Justru tidak begitu terlihat dalam cuplikannya, namun bisa dicek saja pada durasinya. Ya, film di tahun 2026 ini justru berdurasi dua kali lipat, alias dua jam. Menurut penulis, daripada seluruh kekosongan cerita justru berada di akhir film dengan lagunya, film ini akan diisi dengan banyak adegan yang lebih kentara di seluruh durasi penayangannya.

Realistisnya Cerita 5 Centimeters Per Second

Nah penulis tetap akan membahas, bahwa kisah di film ini sangat realistis. Saat masa muda yang penuh gejolak, hingga melangkah menuju dunia dewasa dan segala kesibukannya, hubungan komunikasi dan batin akan menjadi suatu halangan tertentu, atau terhalang oleh sesuatu.

Seperti kisah di 5 Centimeters Per Second, dimana karakternya telah kasmaran sejak berumur kecil. Namun, keduanya terpisah oleh jarak dan waktu. Ceritanya lalu berlanjut tentang kisah Long Distance Relationship (LDR), lalu mulai Lost Contact (LC), dan akhirnya tidak kenal sama sekali. Bahkan keduanya mungkin tidak akan kenal lagi dengan wajahnya, walau bertemu langsung. 

Keduanya memang digambarkan dengan alurnya masing-masing. Kedua karakter utama, yaitu Akari (Noa Shiroyama, Mitsuki Takahata) dan Takaki (Haruto Ueda, Yuzu Aoki, Hokuto Matsumura), melalui jalan hidup yang berbeda satu sama lainnya, semenjak terpisah. Keduanya sempat berhubungan dengan surat menyurat, walau akhirnya hilang kontak saat jaman ponsel tiba. 

Terdapat pula karakter ketiga lainnya, yaitu bernama Kanae Sumida (Nana Mori), yang sempat mengisi kekosongan Takaki saat masih bersekolah SMA, dan telah hilang kontak dengan Akari sejak lama. 

Bahkan, cerita ini berlanjut hingga Takaki yang telah dewasa, kuliah dan mulai bekerja di kota yang sama dengan Akari. Walau begitu, momen galau keduanya tetap disajikan berbeda. Kota yang telah dianggap (oleh Takaki) sebagai dunianya Akari, membuat dirinya tertekan akan masa lalu. Coba dicek saja, bagaimana perubahan Takaki di film ini, saat dirinya menginjak umur dewasa, dan kembali bernostalgia tanpa Akari.

Nah segitu saja, dan jangan heran bahwa artikel ini mengisahkan semuanya. Kenapa? Karena berbeda dengan film lain yang lebih Dramatis dan Epik sekaligus, film Romansa dan Drama ini justru tidak begitu 'Liar' ceritanya, dan mementingkan adegan yang lebih 'Relate' dengan penontonnya. Ya sekali lagi, adegannya memang cukup wajar namun nyambung, seperti khas karya drama dari Jepang sana. Jadi bagi yang menontonnya, harus lebih menjiwai setiap adegan yang muncul di layar.

Okeh, saya pun bingung. Sayounara!

08 Januari 2026

Menjiwai Anime Ala Sutradara Makoto Shinkai

 

Akari yang sudah lama move-on (TMDB).

Daaan, akhirnya sampai di penghujung minggu dengan rangkaian kisah romansa menarik dari negeri Sakura sana, berjudul 5 Centimeters Per Second, yang tayang ulang di sinema Indonesia. Film ini diproduksi dengan arahan sutradara mantap bernama Makoto Shinkai, yang lihai membuat visual ciamik saat menjabarkan adegannya.

Penulis mau jujur, sebenarnya baru mengenal nama Makoto Shinkai, yang ternyata sering berkecimpung sebagai pemimpin produksi anime terkenal, dengan beberapa karya yang termasuk favorit saya (alias sempat ditonton).

Diantaranya adalah Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007), Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013), Kimi no Nawa (Your Name; 2016) dan Tenki no Ko (Weathering with You; 2019). Seluruh anime ini, bisa dinikmati oleh rating umur Remaja (R13) keatas.

Arahan Makoto Shinkai pada setiap film anime-nya, khas dengan referensi lokasi langsung di dunia nyata. Lalu, digambarkan dengan indah ala anime, sebagai bagian adegan filmnya. Cukup sinkron memang, padahal banyak kisah filmnya kurang mudah dicerna.

Karena itu, di artikel pertama Monsterisasi ini, saya coba membahas seluruh 'Penjiwaan' berbagai film ini, yang ternyata cukup dalam. Mengingatkan pula, bahwa artikel Monsterisasi di blog ini adalah sejenis istilah (yang penulis kreasi sendiri) untuk mengenal penggambaran non-harfiah, dari karya seni tersebut.

Lokasi sebuah perlintasan rel (TMDB).

Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007)

Ya, mulai saja dengan film yang paling sulit dianalisis, sekaligus akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ini. Memang sulit dianalisa, karena film Byosoku ini cukup realistis (P). Mungkin, satu anime Romansa paling realistis yang pernah saya tonton sendiri (agak relate kali ya?).

Pokoknya, bagaimanapun plot utama, adegan, dan jalan cerita yang terjalin dalam film anime ini, tonton saja sampai akhir. Film ini memang mengisahkan, hubungan jarak jauh (LDR), antara Takaki (Kenji Misuhashi) dan Akari (Yoshimi Kondou & Ayaka Onoue). Keduanya harus berjibaku, dengan perbedaan jarak, ruang dan waktu. Serta, keduanya hanya dapat berkomunikasi melalui media surat menyurat, dan ponsel saja.

Penulis bisa merekomendasikan, satu lagu di akhir film, yang terlihat layaknya credit song. Padahal, jika ditonton animasinya secara mendetail (saat lagu masih berlangsung) , maka terjawab sudah maksud cerita sejak awal film, hingga berakhir.

Takao dan Yukino yang masih terjebak hujan (TMDB).

Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013)

Okeh, berlanjut ke Kotonoha no Niwa, yang memang lebih jelas dan dalam lagi penggambarannya, padahal hanya berdurasi kurang dari satu jam saja, sama seperti film sebelumnya.

Terlihat dalam adegannya, bahwa Takao (Miyu Irino) yang terjebak hujan saat berangkat sekolah, dan perlu berteduh di sebuah gazebo taman. Disana, dia bertemu dengan Yukino (Kana Hanazawa), seorang guru muda yang terlambat pula saat berangkat sekolah.

Dari situ, keduanya berkenalan, dan saling memahami profesi masing-masing. Takao bahkan berselirih, bahwa dirinya tidak begitu peduli dengan sekolah, dan bermimpi untuk bekerja sebagai seorang perajin sepatu. Sementara Yukino, tercengang dan kagum atas dedikasi Takao, setelah melihat katalog serta beberapa hasil karyanya.

Nah, tampaknya untuk menelaah kisah ini, perlu langsung mengacu ke istilah atau peribahasa bule, yang berselirih 'Someone's Shoes.' Arti dari istilah ini, adalah profesi seseorang dan segala keahliannya. 

Segitu saja sudah cukup jelas, bahwa Takao adalah seorang perajin sepatu, yang bersemangat untuk memberikan dasar langkah seseorang. Sementara Yukino adalah seorang guru, yang bertanggung jawab untuk membantu muridnya, dalam memiliki 'sepatu' tersebut, lalu melangkah maju menuju profesi masing-masing.

Ada satu adegan lagi, dimana Yukino yang penasaran dengan kemampuan Takao, lalu mencoba salah satu sepatu karyanya. Layaknya adegan dongeng terdahulu, bukannya maksud ini seperti kisah Cinderella, yang fokus pada sepasang sepatu? Apalagi, dengan referensi peribahasa dari Eropa itu sendiri, yang menguatkan gambaran dan maksud film ini.

Bahkan, bagi yang sudah cukup paham mengenai dua poin tersebut, kenapa tidak coba cek judulnya saja sekalian? Judulnya saja sudah Garden of Words, yang berarti Taman Kata-Kata. Maksud yang sudah sangat kentara, bahwa komunikasi antara guru dan murid, serta Kegiatan Belajar dan Mengajar, layaknya momen mengurus taman, beserta banyak tanaman, bunga, serta serangganya (^^).

Pertemuan keduanya pun selalu terjadi saat hujan deras tiba, sehingga keduanya 'terpaksa' telat ke sekolah. Air hujan, atau air pada umumnya, tentu sebuah 'nutrisi kesegaran' khusus, bagi siklus fotosintesis ala tanaman yang tumbuh.

Taki dan Mitsuha yang entah kenapa dipertemukan (TMDB).

Kimi no Nawa (Your Name; 2016)

Dan, berikutnya adalah anime yang begitu melejit nama Makoto Shinkai sebagai sutradara ciamik sedunia, dengan anime berjudul Kimi no Nawa. Penulis hanya bisa mengacu pada dua hal saja mengenai anime Romansa meriah ini, yaitu konsep Waktu dan Proses Berimajinasi.

Plot utama Kimi no Nawa, adalah saat Taki (Ryunosuke Kamiki) yang terbalik tubuhnya dengan Mitsuha (Mone Kamishiraishi). Keduanya pun ternyata berbeda waktu, karena kota hunian Mitsuha bernama Itomori, kondisinya telah berbeda dari sudut pandang Taki. Padahal, Itomori terus diceritakan selama anime berlangsung.

Dari situ, penulis langsung beranggapan, bahwa fantasi dalam film ini, memang tidak bisa dianggap harfiah lagi. Konsep waktu dalam Kimi no Nawa, kentara terasa perbedaannya. Jadi, jika ditelaah secara visual animenya, maka hasilnya adalah hubungan manusiawi yang cukup lekat, yaitu proses imajinasi di organ Otak.

Bayangkan saja, saat sepasang insan mengobrol berdua di sebuah kafe, sambil ngemil dan minum jus. Saat itu, sang cewek, alias Mitsuha, berselirih tentang kondisi kotanya dahulu, sebelum dia pindah ke kota hunian, dimana dia bertemu dengan sang cowok, alias Taki.

Mitsuha lalu mulai menjelaskan, bagaimana kondisi kota Itomori, saat dia masih tinggal disitu. Taki yang belum pernah berkunjung ke kota tersebut, dan tidak bisa mengeceknya karena kotanya sudah berbeda, akhirnya merangsang area visual korteks posterior di otak. Dengan begitu, Taki sanggup berimajinasi mengenai gambaran kota yang diceritakan Taki.

Sementara dari Mitsuha-nya sendiri, dia sanggup memiliki visual yang lebih tepat, karena memang dia tinggal dan melihat langsung seluruh momen di Itomori. 

Nah, dari hasil imajinasi sepasang insan tersebut, jika tercampur, maka akan saling berjumpalitan visualnya. Layaknya kedua manusia yang tengah mengobrol, maka visual yang muncul akan variatif, sesuai persepsi masing-masing.

Durasinya juga mirip, loh. Yaitu hampir dua jam lamanya, yang berarti waktu yang cukup untuk ngobrol ngalor-ngidul antar sepasang muda-mudi, di sebuah momen tertentu. Jadi menurut penulis, Kimi no Nawa mengisahkan secara abstrak, romansa apa yang terjadi diantara kedua insan manusia.

Hodaka dan Hina yang masih sanggup melihat keadaan (TMDB). 

Tenki no Ko (Weathering with You; 2019)

Oh ya, jujur saja (lagi), sebenarnya penulis baru menonton film Tenki no Ko saat tahun 2025 kemarin, hehe. Penulis memang terbiasa menghindari kisah Romansa dari Jepang sana, yang memang suka mendalam ceritanya. Biasanya sih, paling nonton anime horor atau Seinen, dan kadang Shonen.

Okeh, kembali ke Anime Tenki no Ko, yang menurut penulis lebih mengisahkan sebuah konsep utama lainnya, yaitu Ruang. Kali ini, tentu lebih kentara lagi penggambarannya, dengan berfokus pada satu lokasi kota, yaitu ibukota Tokyo yang sedang mengalami cuaca ekstrem.

Tenki no Ko, mengisahkan tentang Hodaka (Kotaro Daigo), yang baru melarikan diri dari kota kediamannya, dan memilih hidup di Tokyo. Kebetulan Hodaka bertemu dengan Hina (Nana Mori), seorang gadis cuaca sekaligus legenda urban, di atap gedung tua yang lengkap dengan gerbang Tori-nya.

Dari situ saja, konsep ruang sudah terlihat jelas, dengan adegan di atap gedung tua terbengkalai, dan gerbang Tori. Gerbang semacam ini, biasa ditempatkan sebagai Gapura masuk kuil Shinto, dan cukup dikeramatkan. Namun, jika gedung, gerbang, serta lokasinya saja sudah terbengkalai, maka kuil yang ada didalamnya sudah tidak digunakan kembali, alias angker. Di anime ini, tidak ada kuilnya.

Tenki no Ko berarti coba menggambarkan, bahwa diantara perkembangan jaman modern yang maju di Jepang, dengan sistem kepercayaan tradisional sudah mulai dilupakan. Layaknya, gedung tua serta gerbang Tori tersebut.

Lalu meloncat ke akhir film, dimana akhirnya Tokyo terendam banjir, mirip dengan julukan lamanya, yaitu Venice dari Asia. Salah seorang karakter dalam film ini, yaitu seorang nenek, berselirih bahwa Tokyo layaknya kembali ke jaman Edo, alias 200 tahun lalu, sekitar tahun 1868.  

Maka, akhir film menggambarkan, bahwa Tokyo sebenarnya kembali ke jaman tersebut. Yaitu, awal mula kota dengan banyak kanal ini, hingga dikenal sebagai Venice dari Asia.

Menurut penulis sendiri, walau Tokyo sedang mengalami banjir sebagai bencana dahsyat, ternyata hanya sebuah siklus saja. Bahkan, dokumentasi sejarah cukup menunjukkan, bahwa Tokyo memang belum pernah 'sekering' itu, sejak 200 tahun lalu. Bisa disebut sebagai perubahan geografis, namun tetap saja, 'ruangnya' malah kembali ke bentuk sebelumnya.

Okeh, tampaknya segitu saja. Ciao.