![]() |
| Akari yang sudah lama move-on (TMDB). |
Daaan, akhirnya sampai di penghujung minggu dengan rangkaian kisah romansa menarik dari negeri Sakura sana, berjudul 5 Centimeters Per Second, yang tayang ulang di sinema Indonesia. Film ini diproduksi dengan arahan sutradara mantap bernama Makoto Shinkai, yang lihai membuat visual ciamik saat menjabarkan adegannya.
Penulis mau jujur, sebenarnya baru mengenal nama Makoto Shinkai, yang ternyata sering berkecimpung sebagai pemimpin produksi anime terkenal, dengan beberapa karya yang termasuk favorit saya (alias sempat ditonton).
Diantaranya adalah Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007), Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013), Kimi no Nawa (Your Name; 2016) dan Tenki no Ko (Weathering with You; 2019). Seluruh anime ini, bisa dinikmati oleh rating umur Remaja (R13) keatas.
Arahan Makoto Shinkai pada setiap film anime-nya, khas dengan referensi lokasi langsung di dunia nyata. Lalu, digambarkan dengan indah ala anime, sebagai bagian adegan filmnya. Cukup sinkron memang, padahal banyak kisah filmnya kurang mudah dicerna.
Karena itu, di artikel pertama Monsterisasi ini, saya coba membahas seluruh 'Penjiwaan' berbagai film ini, yang ternyata cukup dalam. Mengingatkan pula, bahwa artikel Monsterisasi di blog ini adalah sejenis istilah (yang penulis kreasi sendiri) untuk mengenal penggambaran non-harfiah, dari karya seni tersebut.
![]() |
| Lokasi sebuah perlintasan rel (TMDB). |
Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007)
Ya, mulai saja dengan film yang paling sulit dianalisis, sekaligus akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ini. Memang sulit dianalisa, karena film Byosoku ini cukup realistis (P). Mungkin, satu anime Romansa paling realistis yang pernah saya tonton sendiri (agak relate kali ya?).
Pokoknya, bagaimanapun plot utama, adegan, dan jalan cerita yang terjalin dalam film anime ini, tonton saja sampai akhir. Film ini memang mengisahkan, hubungan jarak jauh (LDR), antara Takaki (Kenji Misuhashi) dan Akari (Yoshimi Kondou & Ayaka Onoue). Keduanya harus berjibaku, dengan perbedaan jarak, ruang dan waktu. Serta, keduanya hanya dapat berkomunikasi melalui media surat menyurat, dan ponsel saja.
Penulis bisa merekomendasikan, satu lagu di akhir film, yang terlihat layaknya credit song. Padahal, jika ditonton animasinya secara mendetail (saat lagu masih berlangsung) , maka terjawab sudah maksud cerita sejak awal film, hingga berakhir.
![]() |
| Takao dan Yukino yang masih terjebak hujan (TMDB). |
Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013)
Okeh, berlanjut ke Kotonoha no Niwa, yang memang lebih jelas dan dalam lagi penggambarannya, padahal hanya berdurasi kurang dari satu jam saja, sama seperti film sebelumnya.
Terlihat dalam adegannya, bahwa Takao (Miyu Irino) yang terjebak hujan saat berangkat sekolah, dan perlu berteduh di sebuah gazebo taman. Disana, dia bertemu dengan Yukino (Kana Hanazawa), seorang guru muda yang terlambat pula saat berangkat sekolah.
Dari situ, keduanya berkenalan, dan saling memahami profesi masing-masing. Takao bahkan berselirih, bahwa dirinya tidak begitu peduli dengan sekolah, dan bermimpi untuk bekerja sebagai seorang perajin sepatu. Sementara Yukino, tercengang dan kagum atas dedikasi Takao, setelah melihat katalog serta beberapa hasil karyanya.
Nah, tampaknya untuk menelaah kisah ini, perlu langsung mengacu ke istilah atau peribahasa bule, yang berselirih 'Someone's Shoes.' Arti dari istilah ini, adalah profesi seseorang dan segala keahliannya.
Segitu saja sudah cukup jelas, bahwa Takao adalah seorang perajin sepatu, yang bersemangat untuk memberikan dasar langkah seseorang. Sementara Yukino adalah seorang guru, yang bertanggung jawab untuk membantu muridnya, dalam memiliki 'sepatu' tersebut, lalu melangkah maju menuju profesi masing-masing.
Ada satu adegan lagi, dimana Yukino yang penasaran dengan kemampuan Takao, lalu mencoba salah satu sepatu karyanya. Layaknya adegan dongeng terdahulu, bukannya maksud ini seperti kisah Cinderella, yang fokus pada sepasang sepatu? Apalagi, dengan referensi peribahasa dari Eropa itu sendiri, yang menguatkan gambaran dan maksud film ini.
Bahkan, bagi yang sudah cukup paham mengenai dua poin tersebut, kenapa tidak coba cek judulnya saja sekalian? Judulnya saja sudah Garden of Words, yang berarti Taman Kata-Kata. Maksud yang sudah sangat kentara, bahwa komunikasi antara guru dan murid, serta Kegiatan Belajar dan Mengajar, layaknya momen mengurus taman, beserta banyak tanaman, bunga, serta serangganya (^^).
Pertemuan keduanya pun selalu terjadi saat hujan deras tiba, sehingga keduanya 'terpaksa' telat ke sekolah. Air hujan, atau air pada umumnya, tentu sebuah 'nutrisi kesegaran' khusus, bagi siklus fotosintesis ala tanaman yang tumbuh.
![]() |
| Taki dan Mitsuha yang entah kenapa dipertemukan (TMDB). |
Kimi no Nawa (Your Name; 2016)
Dan, berikutnya adalah anime yang begitu melejit nama Makoto Shinkai sebagai sutradara ciamik sedunia, dengan anime berjudul Kimi no Nawa. Penulis hanya bisa mengacu pada dua hal saja mengenai anime Romansa meriah ini, yaitu konsep Waktu dan Proses Berimajinasi.
Plot utama Kimi no Nawa, adalah saat Taki (Ryunosuke Kamiki) yang terbalik tubuhnya dengan Mitsuha (Mone Kamishiraishi). Keduanya pun ternyata berbeda waktu, karena kota hunian Mitsuha bernama Itomori, kondisinya telah berbeda dari sudut pandang Taki. Padahal, Itomori terus diceritakan selama anime berlangsung.
Dari situ, penulis langsung beranggapan, bahwa fantasi dalam film ini, memang tidak bisa dianggap harfiah lagi. Konsep waktu dalam Kimi no Nawa, kentara terasa perbedaannya. Jadi, jika ditelaah secara visual animenya, maka hasilnya adalah hubungan manusiawi yang cukup lekat, yaitu proses imajinasi di organ Otak.
Bayangkan saja, saat sepasang insan mengobrol berdua di sebuah kafe, sambil ngemil dan minum jus. Saat itu, sang cewek, alias Mitsuha, berselirih tentang kondisi kotanya dahulu, sebelum dia pindah ke kota hunian, dimana dia bertemu dengan sang cowok, alias Taki.
Mitsuha lalu mulai menjelaskan, bagaimana kondisi kota Itomori, saat dia masih tinggal disitu. Taki yang belum pernah berkunjung ke kota tersebut, dan tidak bisa mengeceknya karena kotanya sudah berbeda, akhirnya merangsang area visual korteks posterior di otak. Dengan begitu, Taki sanggup berimajinasi mengenai gambaran kota yang diceritakan Taki.
Sementara dari Mitsuha-nya sendiri, dia sanggup memiliki visual yang lebih tepat, karena memang dia tinggal dan melihat langsung seluruh momen di Itomori.
Nah, dari hasil imajinasi sepasang insan tersebut, jika tercampur, maka akan saling berjumpalitan visualnya. Layaknya kedua manusia yang tengah mengobrol, maka visual yang muncul akan variatif, sesuai persepsi masing-masing.
Durasinya juga mirip, loh. Yaitu hampir dua jam lamanya, yang berarti waktu yang cukup untuk ngobrol ngalor-ngidul antar sepasang muda-mudi, di sebuah momen tertentu. Jadi menurut penulis, Kimi no Nawa mengisahkan secara abstrak, romansa apa yang terjadi diantara kedua insan manusia.
![]() |
| Hodaka dan Hina yang masih sanggup melihat keadaan (TMDB). |
Tenki no Ko (Weathering with You; 2019)
Oh ya, jujur saja (lagi), sebenarnya penulis baru menonton film Tenki no Ko saat tahun 2025 kemarin, hehe. Penulis memang terbiasa menghindari kisah Romansa dari Jepang sana, yang memang suka mendalam ceritanya. Biasanya sih, paling nonton anime horor atau Seinen, dan kadang Shonen.
Okeh, kembali ke Anime Tenki no Ko, yang menurut penulis lebih mengisahkan sebuah konsep utama lainnya, yaitu Ruang. Kali ini, tentu lebih kentara lagi penggambarannya, dengan berfokus pada satu lokasi kota, yaitu ibukota Tokyo yang sedang mengalami cuaca ekstrem.
Tenki no Ko, mengisahkan tentang Hodaka (Kotaro Daigo), yang baru melarikan diri dari kota kediamannya, dan memilih hidup di Tokyo. Kebetulan Hodaka bertemu dengan Hina (Nana Mori), seorang gadis cuaca sekaligus legenda urban, di atap gedung tua yang lengkap dengan gerbang Tori-nya.
Dari situ saja, konsep ruang sudah terlihat jelas, dengan adegan di atap gedung tua terbengkalai, dan gerbang Tori. Gerbang semacam ini, biasa ditempatkan sebagai Gapura masuk kuil Shinto, dan cukup dikeramatkan. Namun, jika gedung, gerbang, serta lokasinya saja sudah terbengkalai, maka kuil yang ada didalamnya sudah tidak digunakan kembali, alias angker. Di anime ini, tidak ada kuilnya.
Tenki no Ko berarti coba menggambarkan, bahwa diantara perkembangan jaman modern yang maju di Jepang, dengan sistem kepercayaan tradisional sudah mulai dilupakan. Layaknya, gedung tua serta gerbang Tori tersebut.
Lalu meloncat ke akhir film, dimana akhirnya Tokyo terendam banjir, mirip dengan julukan lamanya, yaitu Venice dari Asia. Salah seorang karakter dalam film ini, yaitu seorang nenek, berselirih bahwa Tokyo layaknya kembali ke jaman Edo, alias 200 tahun lalu, sekitar tahun 1868.
Maka, akhir film menggambarkan, bahwa Tokyo sebenarnya kembali ke jaman tersebut. Yaitu, awal mula kota dengan banyak kanal ini, hingga dikenal sebagai Venice dari Asia.
Menurut penulis sendiri, walau Tokyo sedang mengalami banjir sebagai bencana dahsyat, ternyata hanya sebuah siklus saja. Bahkan, dokumentasi sejarah cukup menunjukkan, bahwa Tokyo memang belum pernah 'sekering' itu, sejak 200 tahun lalu. Bisa disebut sebagai perubahan geografis, namun tetap saja, 'ruangnya' malah kembali ke bentuk sebelumnya.
Okeh, tampaknya segitu saja. Ciao.
















