Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan

8 Januari 2026

Menjiwai Anime Ala Sutradara Makoto Shinkai

 

Akari yang sudah lama move-on (TMDB).

Daaan, akhirnya sampai di penghujung minggu dengan rangkaian kisah romansa menarik dari negeri Sakura sana, berjudul 5 Centimeters Per Second, yang tayang ulang di sinema Indonesia. Film ini diproduksi dengan arahan sutradara mantap bernama Makoto Shinkai, yang lihai membuat visual ciamik saat menjabarkan adegannya.

Penulis mau jujur, sebenarnya baru mengenal nama Makoto Shinkai, yang ternyata sering berkecimpung sebagai pemimpin produksi anime terkenal, dengan beberapa karya yang termasuk favorit saya (alias sempat ditonton).

Diantaranya adalah Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007), Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013), Kimi no Nawa (Your Name; 2016) dan Tenki no Ko (Weathering with You; 2019). Seluruh anime ini, bisa dinikmati oleh rating umur Remaja (R13) keatas.

Arahan Makoto Shinkai pada setiap film anime-nya, khas dengan referensi lokasi langsung di dunia nyata. Lalu, digambarkan dengan indah ala anime, sebagai bagian adegan filmnya. Cukup sinkron memang, padahal banyak kisah filmnya kurang mudah dicerna.

Karena itu, di artikel pertama Monsterisasi ini, saya coba membahas seluruh 'Penjiwaan' berbagai film ini, yang ternyata cukup dalam. Mengingatkan pula, bahwa artikel Monsterisasi di blog ini adalah sejenis istilah (yang penulis kreasi sendiri) untuk mengenal penggambaran non-harfiah, dari karya seni tersebut.

Lokasi sebuah perlintasan rel (TMDB).

Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007)

Ya, mulai saja dengan film yang paling sulit dianalisis, sekaligus akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ini. Memang sulit dianalisa, karena film Byosoku ini cukup realistis (P). Mungkin, satu anime Romansa paling realistis yang pernah saya tonton sendiri (agak relate kali ya?).

Pokoknya, bagaimanapun plot utama, adegan, dan jalan cerita yang terjalin dalam film anime ini, tonton saja sampai akhir. Film ini memang mengisahkan, hubungan jarak jauh (LDR), antara Takaki (Kenji Misuhashi) dan Akari (Yoshimi Kondou & Ayaka Onoue). Keduanya harus berjibaku, dengan perbedaan jarak, ruang dan waktu. Serta, keduanya hanya dapat berkomunikasi melalui media surat menyurat, dan ponsel saja.

Penulis bisa merekomendasikan, satu lagu di akhir film, yang terlihat layaknya credit song. Padahal, jika ditonton animasinya secara mendetail (saat lagu masih berlangsung) , maka terjawab sudah maksud cerita sejak awal film, hingga berakhir.

Takao dan Yukino yang masih terjebak hujan (TMDB).

Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013)

Okeh, berlanjut ke Kotonoha no Niwa, yang memang lebih jelas dan dalam lagi penggambarannya, padahal hanya berdurasi kurang dari satu jam saja, sama seperti film sebelumnya.

Terlihat dalam adegannya, bahwa Takao (Miyu Irino) yang terjebak hujan saat berangkat sekolah, dan perlu berteduh di sebuah gazebo taman. Disana, dia bertemu dengan Yukino (Kana Hanazawa), seorang guru muda yang terlambat pula saat berangkat sekolah.

Dari situ, keduanya berkenalan, dan saling memahami profesi masing-masing. Takao bahkan berselirih, bahwa dirinya tidak begitu peduli dengan sekolah, dan bermimpi untuk bekerja sebagai seorang perajin sepatu. Sementara Yukino, tercengang dan kagum atas dedikasi Takao, setelah melihat katalog serta beberapa hasil karyanya.

Nah, tampaknya untuk menelaah kisah ini, perlu langsung mengacu ke istilah atau peribahasa bule, yang berselirih 'Someone's Shoes.' Arti dari istilah ini, adalah profesi seseorang dan segala keahliannya. 

Segitu saja sudah cukup jelas, bahwa Takao adalah seorang perajin sepatu, yang bersemangat untuk memberikan dasar langkah seseorang. Sementara Yukino adalah seorang guru, yang bertanggung jawab untuk membantu muridnya, dalam memiliki 'sepatu' tersebut, lalu melangkah maju menuju profesi masing-masing.

Ada satu adegan lagi, dimana Yukino yang penasaran dengan kemampuan Takao, lalu mencoba salah satu sepatu karyanya. Layaknya adegan dongeng terdahulu, bukannya maksud ini seperti kisah Cinderella, yang fokus pada sepasang sepatu? Apalagi, dengan referensi peribahasa dari Eropa itu sendiri, yang menguatkan gambaran dan maksud film ini.

Bahkan, bagi yang sudah cukup paham mengenai dua poin tersebut, kenapa tidak coba cek judulnya saja sekalian? Judulnya saja sudah Garden of Words, yang berarti Taman Kata-Kata. Maksud yang sudah sangat kentara, bahwa komunikasi antara guru dan murid, serta Kegiatan Belajar dan Mengajar, layaknya momen mengurus taman, beserta banyak tanaman, bunga, serta serangganya (^^).

Pertemuan keduanya pun selalu terjadi saat hujan deras tiba, sehingga keduanya 'terpaksa' telat ke sekolah. Air hujan, atau air pada umumnya, tentu sebuah 'nutrisi kesegaran' khusus, bagi siklus fotosintesis ala tanaman yang tumbuh.

Taki dan Mitsuha yang entah kenapa dipertemukan (TMDB).

Kimi no Nawa (Your Name; 2016)

Dan, berikutnya adalah anime yang begitu melejit nama Makoto Shinkai sebagai sutradara ciamik sedunia, dengan anime berjudul Kimi no Nawa. Penulis hanya bisa mengacu pada dua hal saja mengenai anime Romansa meriah ini, yaitu konsep Waktu dan Proses Berimajinasi.

Plot utama Kimi no Nawa, adalah saat Taki (Ryunosuke Kamiki) yang terbalik tubuhnya dengan Mitsuha (Mone Kamishiraishi). Keduanya pun ternyata berbeda waktu, karena kota hunian Mitsuha bernama Itomori, kondisinya telah berbeda dari sudut pandang Taki. Padahal, Itomori terus diceritakan selama anime berlangsung.

Dari situ, penulis langsung beranggapan, bahwa fantasi dalam film ini, memang tidak bisa dianggap harfiah lagi. Konsep waktu dalam Kimi no Nawa, kentara terasa perbedaannya. Jadi, jika ditelaah secara visual animenya, maka hasilnya adalah hubungan manusiawi yang cukup lekat, yaitu proses imajinasi di organ Otak.

Bayangkan saja, saat sepasang insan mengobrol berdua di sebuah kafe, sambil ngemil dan minum jus. Saat itu, sang cewek, alias Mitsuha, berselirih tentang kondisi kotanya dahulu, sebelum dia pindah ke kota hunian, dimana dia bertemu dengan sang cowok, alias Taki.

Mitsuha lalu mulai menjelaskan, bagaimana kondisi kota Itomori, saat dia masih tinggal disitu. Taki yang belum pernah berkunjung ke kota tersebut, dan tidak bisa mengeceknya karena kotanya sudah berbeda, akhirnya merangsang area visual korteks posterior di otak. Dengan begitu, Taki sanggup berimajinasi mengenai gambaran kota yang diceritakan Taki.

Sementara dari Mitsuha-nya sendiri, dia sanggup memiliki visual yang lebih tepat, karena memang dia tinggal dan melihat langsung seluruh momen di Itomori. 

Nah, dari hasil imajinasi sepasang insan tersebut, jika tercampur, maka akan saling berjumpalitan visualnya. Layaknya kedua manusia yang tengah mengobrol, maka visual yang muncul akan variatif, sesuai persepsi masing-masing.

Durasinya juga mirip, loh. Yaitu hampir dua jam lamanya, yang berarti waktu yang cukup untuk ngobrol ngalor-ngidul antar sepasang muda-mudi, di sebuah momen tertentu. Jadi menurut penulis, Kimi no Nawa mengisahkan secara abstrak, romansa apa yang terjadi diantara kedua insan manusia.

Hodaka dan Hina yang masih sanggup melihat keadaan (TMDB). 

Tenki no Ko (Weathering with You; 2019)

Oh ya, jujur saja (lagi), sebenarnya penulis baru menonton film Tenki no Ko saat tahun 2025 kemarin, hehe. Penulis memang terbiasa menghindari kisah Romansa dari Jepang sana, yang memang suka mendalam ceritanya. Biasanya sih, paling nonton anime horor atau Seinen, dan kadang Shonen.

Okeh, kembali ke Anime Tenki no Ko, yang menurut penulis lebih mengisahkan sebuah konsep utama lainnya, yaitu Ruang. Kali ini, tentu lebih kentara lagi penggambarannya, dengan berfokus pada satu lokasi kota, yaitu ibukota Tokyo yang sedang mengalami cuaca ekstrem.

Tenki no Ko, mengisahkan tentang Hodaka (Kotaro Daigo), yang baru melarikan diri dari kota kediamannya, dan memilih hidup di Tokyo. Kebetulan Hodaka bertemu dengan Hina (Nana Mori), seorang gadis cuaca sekaligus legenda urban, di atap gedung tua yang lengkap dengan gerbang Tori-nya.

Dari situ saja, konsep ruang sudah terlihat jelas, dengan adegan di atap gedung tua terbengkalai, dan gerbang Tori. Gerbang semacam ini, biasa ditempatkan sebagai Gapura masuk kuil Shinto, dan cukup dikeramatkan. Namun, jika gedung, gerbang, serta lokasinya saja sudah terbengkalai, maka kuil yang ada didalamnya sudah tidak digunakan kembali, alias angker. Di anime ini, tidak ada kuilnya.

Tenki no Ko berarti coba menggambarkan, bahwa diantara perkembangan jaman modern yang maju di Jepang, dengan sistem kepercayaan tradisional sudah mulai dilupakan. Layaknya, gedung tua serta gerbang Tori tersebut.

Lalu meloncat ke akhir film, dimana akhirnya Tokyo terendam banjir, mirip dengan julukan lamanya, yaitu Venice dari Asia. Salah seorang karakter dalam film ini, yaitu seorang nenek, berselirih bahwa Tokyo layaknya kembali ke jaman Edo, alias 200 tahun lalu, sekitar tahun 1868.  

Maka, akhir film menggambarkan, bahwa Tokyo sebenarnya kembali ke jaman tersebut. Yaitu, awal mula kota dengan banyak kanal ini, hingga dikenal sebagai Venice dari Asia.

Menurut penulis sendiri, walau Tokyo sedang mengalami banjir sebagai bencana dahsyat, ternyata hanya sebuah siklus saja. Bahkan, dokumentasi sejarah cukup menunjukkan, bahwa Tokyo memang belum pernah 'sekering' itu, sejak 200 tahun lalu. Bisa disebut sebagai perubahan geografis, namun tetap saja, 'ruangnya' malah kembali ke bentuk sebelumnya.

Okeh, tampaknya segitu saja. Ciao. 

12 November 2025

Menemani Sang Kekasih Sampai Akhir Hayat di Film Sampai Titik Terakhirmu

 

Shella dan Albi yang masih sumringah di lahan terbuka (TMBD).

Okeh, setelah berbagai film tentang kesehatan dirilis di sinema Indonesia, di bulan November ini akhirnya muncul film berjudul Sampai Titik Terakhirmu.

Sebelumnya di Juli lalu, film Sore: Istri Dari Masa Depan dirilis dengan mengisahkan tentang pola makan dan hidup yang sehat, walau dengan sedikit bumbu fantasi.

Dan di bulan September, film Agape: Unconditional Love dirilis dengan mengisahkan banyak sudut pandang karakter, pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda di satu rumah sakit, yang tentunya adalah situasi galau bagi banyak warga.

Nah, di film Sampai Titik Terakhirmu, bisa dibilang adalah kombinasi dari kedua film tersebut. Film ini berfokus pada sepasang muda-mudi yang belum menikah, namun bermasalah dengan kesehatan salah satunya.

Selain filmnya yang memang mengisahkan kesehatan, ternyata penyakit yang diderita karakternya adalah sejenis kanker, yang tentu perlu pengobatan canggih dan sulit untuk disembuhkan. Sang kekasih pun tetap setia dengan menemani pujaan hatinya, mulai dari masa sehat hingga menuju perawatan, hingga akhirnya perlu diopname dan dioperasi.

Mungkin film ini ingin memberi pertanyaan bagi penontonnya, apakah sebuah hubungan (romansa hingga romantis) hanya sekedar melihat fisik dan mental yang masih sehat saja? Atau perlu menanggulangi semuanya sampai titik penghabisan darah terakhir? Bahkan di saat umur masih muda dan banyak potensi cemceman lainnya?

Sayang seribu sayang memang, cobaan seperti itu terasa sulit, apalagi potensi diri yang belum mencapai puncaknya di masa muda. Karena itu, jaga kesehatan fisik, mental dan mencoba tanpa pamrih ya... Ikhlaskan saja... Tentu, maksudnya adalah 'Saat Kanker Datang, Cinta Tetap Bertahan.'

Oh ya, film ini diadaptasi dari sebuah kisah nyata Albi dan Shella, yang sempat viral di banyak media Indonesia pada tahun 2024 lalu. 

Sinopsis Film Sampai Titik Terakhirmu

Shella (Mawar Eva De Jongh) adalah seorang gadis aktif nan atletis. Kesehariannya diisi dengan banyak olahraga, khususnya sepakbola sambil berkiprah sebagai kaptennya.

Shella yang aktif, lalu memikat hati Albi (Arbani Yasiz), yang suka dengan tomboynya Shella. Keduanya saling bercengkrama tentang sepakbola, yang berakhir keduanya menjalin asmara sebagai sepasang kekasih.

Namun suatu hari, Shella yang tengah latihan berenang, tiba-tiba pingsan di tengah kolam. Shella lalu dilarikan ke rumah sakit, yang akhirnya terdiagnosa kanker.

Albi yang kaget tetap setia, bahkan sampai memotong rambut Shella demi menjalani kemoterapi. Albi yang cukup rela, bahkan berfoto wefie keduanya, sementara Shella telah botak plontos.

Albi yang memang ingin Shella ceria, bahkan menemani Shella bermain bola diatas kursi rodanya. Saking tidak ingin kehilangan, Albi bahkan berjanji untuk menikah dengan Shella.

Bagaimana akhir dari kisah keduanya? Tentu harus diresapi di sinema-sinema Indonesia.

Berasa Kaya Setelah Menemukan Sekoper Uang di Film Dopamin

Malik dan Alya yang sumringah ketiban sekaligus belah duren (TMDB).

Akhirnya, sineas perfilman Indonesia menelurkan sebuah film yang mengisahkan tentang drama kriminalitas tanpa aksi gelut, berjudul Dopamin, yang kini sedang tayang di banyak sinema.

Berbeda dengan khas film Indonesia yang berisi aksi silat yang brutal, kini di film Dopamin justru mengisahkan sepasang suami istri yang ketiban rejeki. Namun, ketibannya harfiah ala durian runtuh, alias kena kepala dan langsung 'knock.'

Karena tokoh utamanya adalah sepasang suami istri biasa, maka memberikan kesan berbeda. Keduanya bukanlah ahli beladiri maupun anggota keamanan, melainkan warga yang tertimpa situasi sulit setelah menemukan sekoper uang.

Situasi mereka yang sedang kesulitan keuangan pun, menyebabkan mereka bertingkah aneh. Drama diantara mereka pun semakin mencuat, dengan begitu banyak pertentangan batin akibat masalah ekonomi. 

Nah, apalagi dengan plot utama menemukan sekoper uang, yang biasanya sudah pernah dikhayalkan oleh banyak orang, dalam situasi dan kondisi apapun juga. Penulis sendiri belum pernah, bertemu orang yang belum berkhayal sejenis ini (hehe).

Patokannya kadang bukan masalah ekonomi, tetapi berasa praktisnya tiba-tiba menemukan uang tanpa syarat apapun, di tengah perjuangan hidup yang begitu memusingkan.

Mungkin ceritanya akan berbeda, jika nanti (seperti berita viral sekarang) redenominasi rupiah dilaksanakan dan diterapkan dengan baik dan benar di masa mendatang. Sekoper milyaran uang, nantinya hanya berarti jutaan saja (!)

Yaaah, namanya juga khayalan dan wacana... Tapi ya... kembali ke filmnya saja lah... Sulit memang kalau membahas keuangan, jadi ya kita bahas sinopsis film Dopamin saja ya...

Sinopsis Film Dopamin

Malik (Angga Yunanda) dan Alya (Shenina Cinnamon) adalah sepasang suami-istri muda yang tengah kesulitan. Setelah di PHK dari pekerjaannya, Malik terpaksa mencari lowongan dan hutang kesana-kemari.

Usahanya tetap nihil, hingga suatu hari Malik bertemu dengan seseorang yang membantu. Malik diantar pulang oleh orang yang baru dikenalnya, karena mobilnya mogok di jalan. Karena sudah kemalaman, pengantarnya ikut tidur di rumah mereka. Namun, keesokan harinya, tamu tersebut sudah tidak bernyawa dengan jarum suntik di lengannya.

Mereka pun semakin kaget, karena menemukan koper yang dibawa tamunya. Isinya ternyata banyak uang kertas, yang dihitung mencapai milyaran rupiah dengan nominal 100 ribuan.

Saking paniknya akan kematian tiba-tiba tamunya, dan tergiur dengan uang tanpa jejak rekening digital tersebut, Malik dan Alya terpaksa menguburkan jenazah di dekat lingkungan rumahnya. 

Keduanya pun sempat sumringah, dengan banyak membayar hutang disana-dimari dan berbelanja kebutuhan sehari-hari, memakai uang hasil 'sitaan' mereka. Bahkan, mereka sering jalan-jalan dan makan di restoran mahal, layaknya jaman pacaran terdahulu.

Hingga suatu hari, Malik yang tengah membayar hutangnya ke sebuah warung, mendengar kabar bahwa rumahnya didatangi orang tak dikenal. Sejak saat itu, banyak drama, masalah, dan teror dari berbagai pihak. 

Tampaknya, pemilik sah uang tersebut telah melacak keberadaan uang mereka. Mungkin, keberadaan mobil dan ponsel 'korban' bisa dilacak oleh mereka, sehingga tidak terlalu lama untuk dapat menemukannya kembali.

Keduanya pun sempat bertengkar, bahkan hingga saling stres, mau dikemanakan uang, jenazah, mobil, dan hidup mereka yang semuanya sudah terlena namun terlenta-lenta.

Sanggupkah mereka melewati semua 'cobaan' tersebut? Atau milih meminta bantuan polisi dengan menyerahkan diri? Atau malah berakhir parah dan kehilangan seluruh hidup mereka?

Jawabannya, coba dicek saja di sinema-sinema Indonesia.

28 Agustus 2025

Suami-Istri Isekai Jepang yang Tertukar Peran di Film Shiranai Kanojo

Riku dan Minami saat masih hangat-hangatnya (TMDB).

Di bulan kemerdekaan ini, saat Indonesia tengah merayakan hari jadi ke 80-nya, kita masih mendalami sulitnya menapaki hidup sebagai warga negara berkembang. Umur negara kita memang masih terbilang 'muda.'

Internet Saat Ini

Mengacu pada umur muda, jaman generasi milenial hingga gen-z saat ini, dimana internet adalah keseharian yang dilalui, dan bahkan dibutuhkan dari banyak segi formal. Maka, literasi internet sudah sangat tinggi sekali di Indonesia.

Tidak hanya literasi internet yang cukup kuat, buktinya pengguna internet aktif Indonesia sangatlah banyak, dengan pencapaian rekor dunia sebagai negara paling banyak komentar sedunia!

Berarti generasi saat ini dari Indonesia tengah ekspresif, dan sangatlah terbuka dalam mengemukakan karakternya. Dengan terpaan berita dan pemerintah yang sering memancing, kedewasaan menyikapi media dan peran generasi muda sekarang sudah dapat diandalkan, bahkan melebihi banyak generasi sebelumnya.

Walau dunia musik agak berkurang secara 'mainstream,' justru dari segi internet para kreator seni masih aktif berkreasi dengan sangat menarik, hingga kini dan semoga mendatang.

Film Shiranai Kanojo dan Aktor-Aktrisnya

Nah, kisah para seniman kini coba diangkat oleh film berjudul Shiranai Kanojo, atau My Beloved Stranger. Film ini berasal dari Jepang, yang kebetulan sempat sekalian 'berperan' pula saat kemerdekaan kita 80 tahun lalu.

Nah, di film Shiranai Kanojo, para penggemar lagu pop Jepang (J-Pop) pasti kenal dengan pemerannya. Milet alias Miro Kamishiraishi, adalah pemeran utama wanitanya, sebagai Minami Maezono. Milet mengisi bersama aktor Kento Nakajima yang berperan sebagai suaminya, yaitu Riku Kambayashi.

Kemampuan Milet sebagai penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi, tampaknya mencari tantangan baru di film ini. Mengisi filmnya dengan musik latar berjudul 'I Still,' Milet pun masih berperan langsung di filmnya sendiri. Kento Nakajima sebagai lawan mainnya adalah seniman lengkap lainnya, yang berkecimpung pula sebagai penyanyi, aktor, dan pengisi suara di ranah hiburan Jepang.

Sebelumnya, Milet sempat naik pamor di seluruh dunia, sebagai pelantun lagu utama pada anime Frieren: Beyond Journey's End. Anime ini memang sempat viral sedunia pula, dengan latar ceritanya yang berbeda.

Frieren berlatar cerita epilog dari sebuah kisah fantasi epik, yang telah terlewati 50 tahun lamanya. Anime ini tampaknya menjadi sebuah pengingat, bahwa masa sulit sebenarnya telah terlewati. Hanya tersisa perjuangan sehari-hari, yang memang perlu dibereskan dengan baik dan benar.

Nah, kembali ke film Shiranai Kanojo, tampaknya perlu ditelaah kembali dari segi karakternya. Karena Manami adalah seorang penyanyi panggung, sementara Riku adalah seorang novelis. 

Melihat sisi latar keduanya, yang perlu sangat ekspresif dalam pekerjaannya, sangatlah nyambung dengan jaman media sosial sekarang. Banyak warga biasa yang sering bermain peran di media sosialnya sendiri (atau bahkan dunia nyata), padahal tidak bekerja sebagai streamer, vtuber, atau kreator konten.

Peran tersebut tentu ada baik-buruknya, karena masalah pribadi tetaplah dibatasi aturan privasi tersendiri. Jika para kreator mengalami tahap khusus untuk mendalami perannya sendiri sebagai profesional, nah bagaimana dengan amatir yang suka berperan? Itulah sebuah pertimbangan khusus di jaman media sosial ini.

Dilihat dari cuplikannya, film Shiranai Kanojo tampaknya akan mengisahkan jalinan kedua profesional ekspresif, yang mengalami masalah dalam hubungan mereka sebagai suami-istri. 

Fiktif, tetapi seperti guru SMA terdahulu sempat bilang, bahwa fiksi adalah contoh skenario yang mungkin terjadi. Bukanlah berarti contoh yang perlu diikuti, dan hanya perlu diwaspadai.

Nah, yang terpenting adalah mengisi satu sama lainnya. Makanya coba kita cek sinopsis film untuk menemukan kembali cinta dalam diri ini ya...

Sinopsis Film Shiranai Kanojo

Riku Kambayashi (Kento Nakajima) adalah seorang mahasiswa yang bercita-cita sebagai penulis novel. Sementara Minami Maezeono (Milet) adalah mahasiswi yang bercita-cita sebagai penyanyi.  Keduanya ingin sukses dan terkenal, dalam bidangnya masing-masing.

Keduanya bertemu saat masih kuliah, dan saling jatuh cinta saat pandangan pertama, lalu kedua, hingga ketiga, dan seringkali berikutnya, hingga akhirnya memutuskan menikah saat masih mendalami ilmu di universitas.

Beberapa tahun terlampaui, dan sekarang, Riku telah berhasil menjadi seorang penulis terkenal, yang novelnya laris di pasar literasi. Sementara Minami belum mencapai mimpinya sebagai penyanyi terkenal, dan hanya mengisi harian saja di beberapa kafe musik. Minami kini merasa kurang nyambung dengan suaminya sendiri, yang memang tengah sibuk dengan pekerjaannya sebagai penulis.

Suatu hari, sebuah komentar dari Riku sempat memicu pertengkaran keduanya. Keesokan harinya, tiba-tiba dunia terbalik. Riku yang merasa 'isekai,' menemukan dirinya adalah seorang jomblo yang bekerja sebagai editor, dan bukannya penulis novel terkenal. Sementara Minami kini telah sukses, sebagai bintang penyanyi pop di Jepang.

Riku yang penasaran coba mengikuti Minami ke lokasi premier untuk bertemu langsung dengan Minami, namun justru sang istri sudah tidak mengenalinya lagi. Tampaknya dunia memang terbalik, dan temannya yang langsung jengah atas teori 'multiverse' ala Riku, bahkan mengingatkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa di dunia ini, khususnya pada Minami.

Riku yang masih penasaran bahkan menguntit ke rumah Minami, bahkan hingga sempat mengobrol dengan neneknya. Saat pulang, Minami yang panik melihat Riku, lalu mengusir dan akan melaporkannya kepada polisi. Namun, neneknya justru mengingatkan, bahwa Riku berperan penting bagi mereka berdua.

Riku bahkan nekat hingga mengajak kencan Minami, yang notabene adalah seorang bintang terkenal di Jepang. Apakah Riku perlu kembali ke dunianya lagi dengan Minami yang masih sama? Atau dirinya malah betah dengan Minami yang sudah menjadi bintang sekarang?

Coba cek jawabannya di film Shiranai Kanojo alias My Beloved Stranger, yang kini tengah tayang di banyak romansa sinema Indonesia.

20 Agustus 2025

Horornya Berbagi dan Berhubungan Badan di Film Together

 

Tim dan Millie yang menemukan gua besar di sekitar rumahnya (IMDB).

Mungkin saatnya para aktor dan aktris Hollywood berperan romantis bersama pasangan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Alison Brie dan Dave Franco, yang keduanya memerankan sepasang suami istri di film Together, dan kini sudah tayang di romansa ala sinema Indonesia.

Tampaknya film ini menyusul sama seperti film sebelumnya yang lebih nyeleneh, yaitu waralaba Quiet Place. Di film Quiet Place, Emily Blunt dan John Krasinki memang menikah di dunia nyata, dan memerankan sepasang suami istri pula di filmnya. Yaaaaang entah kenapa, berinisiatif memiliki anak bayi kembali, padahal seluruh dunia sedang terinvasi oleh alien pendeteksi suara.

Nah, di film Together ini, tampaknya lebih menyerempet pada kisah sepasang muda-mudi yang mengalami masalah 'baru pindah'. Mungkin, memang seharusnya masalah itu terjadi diantaranya keduanya. Film sebagai komentar sosial bukanlah hal baru, walau tentu lebih aneh lagi jika diangkat dalam film horor. Karena, kengerian itu bisa berarti harfiah, atau bahkan simbolis, tanpa adanya unsur 'dramatis' sama sekali.

Pasangan yang baru menikah, lalu pindah, akhirnya memulai hidup baru tentu mengalami banyak tantangan. Tantangan tersebut bukan masalah komunikasi, karena keduanya sedang 'hangat-hangatnya'. Namun, masalah 'logistik' justru yang menimpa banyak pasangan 'baru menikah'.

Nah lagi, bagaimana jika masalah yang muncul berasal dari masalah lain, yaitu mistis. Tidak hanya menganggu kesadaran batin dan ragawi, namun dapat merusak pula mental dan fisik dengan langsung, secara harfiah dan mengerikan. 

Mungkin sutradara film Together ini, Michael Shanks, ingin mengangkat isu sosial, yang digabungkan dengan body horor (horor ragawi). Premisenya adalah tema 'daging-mendaging' yang 'berjumpalitan' untuk mengisi 'satu sama lainnya'.

Sinopsis Film Together

Tim (Dave Franco) dan Millie (Alison Brie) adalah sepasang kekasih yang baru saja pindah ke rumah baru. Mereka pindah dari lokasi lain, menuju lokasi yang jauh dari keramaian dan kurang familiar.

Millie sempat merasa jengah, sehingga perlu berkonsultasi dengan konsultan perkawinan. Millie merasa bukan masalah hubungan mereka, namun lebih kepada rasa takut akan 'berpuas diri' terlalu cepat.

Walau begitu, mereka telah bersama selama beberapa tahun terakhir. Rasa jengah Millie hanya sementara, karena gelora asmara keduanya justru tengah tinggi, seakan hidup hanya berdua.

Namun, lokasi rumah mereka yang agak terpencil, memunculkan banyak masalah baru. Di sekitar rumah mereka, terdapat gua yang cukup besar untuk dijelajahi. Bahkan, ada kemunculan sekte aneh yang melaksanakan ritual di gua tersebut.

Kisah mereka pun semakin aneh, dengan seringnya kejadian daging mereka yang 'menempel' satu sama lainnya, seakan terserap satu sama lain, saat kulit mereka saling bersentuhan. 

Keduanya pun harus mencari petunjuk, apakah wilayah dan rumah misterius yang baru mereka tempati benar-benar aman.

1 Mei 2025

Film Perang Kota, Antara Cinta dan Bubuk Mesiu

 

Para bintang pemain film Perang Kota (IMDB).

Akhirnya setelah sekian lama, Indonesia kembali menelurkan film berlatar sejarah, berjudul Perang Kota, yang kini sudah tayang di banyak sinema Indonesia. 

Film berlatar belakang Jakarta tahun 1946 ini, menceritakan kisah drama sepasang suami-istri yang terjebak di banyak pertempuran, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Indonesia pada tahun 1946 memang masih dalam keadaan tanggung. Pihak koloni seperti Persemakmuran Inggris Raya, Kerajaan Jepang, dan VOC Belanda masih mencoba untuk menguasai Nusantara. 

Banyak pejuang kemerdekaan Indonesia masih bertikai dengan pihak koloni di banyak kota Indonesia. Dilansir dari IMDB, salah satunya adalah Isa yang diperankan oleh Chicco Jerikho di film Perang Kota ini. Istrinya yang bernama Fatimah (Ariel Tatum) pun harus berjuang bersama dengan Isa, karena dengan perannya sebagai pejuang kemerdekaan, membuat mereka harus melaksanakan beberapa misi pertempuran.

Film Perang Kota ini diadaptasi dari novel Jalan Tak Ada Ujung, hasil karya novelis legendaris Muchtar Lubis yang dirilis pada tahun 1952 lalu. 

Sinopsis Film Perang Kota

Isa (Chicco Jerikho) adalah seorang guru instrumen biola berumur 35 tahun di Jakarta tahun 1946. Selama tahun 1945 lalu, Isa sempat berperan di Pertempuran Surabaya melawan Pasukan Sekutu. Seluruh pertempuran yang dia jalani, menyebabkan dia trauma dan impoten. 

Isa bahkan tidak dapat mengajar lagi, karena sekolah tutup karena murid-muridnya yang tidak dapat datang, akibat sengitnya pertempuran setelah kemerdekaan Indonesia. 

Bersama anak angkatnya bernama Salim (Ar Barrani Lintang) dan istrinya Fatimah (Ariel Tatum), Isa mencoba bertahan hidup di Jakarta yang tengah kacau balau. Jakarta saat itu memang tengah banyak mengalami masalah dengan kaburnya Presiden Sukarno, serta konflik melawan keberadaan pasukan Gurkhas, Inggris, dan Belanda.

Isa bersama muridnya yang bernama Hazil (Jerome Kurnia), merencanakan misi agar dapat mengamankan Jakarta dan menciptakan revolusi di Indonesia. Misi tersebut adalah mengebom sebuah bioskop di Pasar Senen, yang merupakan lokasi berkumpul bagi pasukan Inggris yang membawa Gurkha dari India sebagai pasukan garis depan mereka. 

Seiring waktu, kedekatan Hazil dan Fatimah, serta fokusnya Isa pada misi kemerderkaan, menyebabkan ketiganya terjebak dalam cinta segitiga. Isa yang tahu bahwa Hazil dan Fatimah berselingkuh, hanya dapat merelakannya dan mencoba bertahan demi kemerdekaan Indonesia.

Apakah kemerdekaan Indonesia lebih layak dipertahankan daripada kehidupan pribadi? Atau sebenarnya dunia yang kacau balau, telah mengakibatkan Isa menjadi stres dan memilih melarikan diri dari dunia?

Jawabannya, tentu ada pada senandung nasionalisme ala sinema Indonesia.