![]() |
| Marty yang terlalu niat dalam mengejar mimpinya (IMDB). |
Kisah drama perjalanan hidup dari Hollywood pun kembali meramaikan sinema perfilman di bulan Februari ini, yang berjudul Marty Supreme. Film berating D17 dari A24 ini berdurasi 2,5 jam. Jadi, harus menyempatkan waktu cukup lama untuk dapat menontonnya.
Marty Supreme mengisahkan suatu kisah mimpi yang (menurut penulis) berlandaskan peribahasa bule, dengan istilah Go Big or Go Broke. Ya, maksud peribahasa ini adalah seseorang harus bermimpi besar, atau gagal sebelum mencapainya. Film ini sebenarnya diadaptasi dari kisah nyata seorang juara tenis dari AS, yang memenangkan kejuaraan tahun 1949 lalu di Jepang, bernama Marty Reissman.
Timothee Chalameet, Sang Wonderboy dari Hollywood
Aktor muda yang baru berumur 30 tahun ini, memang sedang digadang sebagai aktor terbaik dari Hollywood sana. Banyak proyek besar perfilman, diisi oleh aktor kelahiran Manhattan ini. Film paling epik yang pernah diperankan Timothee adalah Dune: Part One (2021), dan Dune: Part Two (2024), yang diadaptasi oleh novel berjudul Dune (1965) hasil karya Frank Herbert.
Selain itu, Timothee memang memiliki keahlian akting yang cukup luas. Satu film yang menaikkan namanya, adalah Wonka (2023). Peran Willy Wonka memang membutuhkan seorang aktor yang nyentrik nan eksenstrik, dan Timothee ternyata sanggup mengadaptasinya. Seakan, Hollywood mendukung aktor ini sebagai sosok baru pengganti Johnny Depp, yang sempat memerankan karakter sama di tahun 2005 lalu, dalam film Charlie and Chocolate Factory.
Karena keahlian akting serta film yang nilai produksinya mahal, Timothee sering dinominasikan penghargaan film, walau belum memenangkan satupun Oscar. Khusus untuk film Marty Supreme, Timothee Chalameet dinominasikan dalam Oscar sebagai Aktor Terbaik, sementara filmnya sendiri diberi nominasi sebagai Film Terbaik, di tahun 2026 ini.
Studio Film A24 yang Unik
Perlu ditelaah pula dari segi studio yang memproduksi film Marty Supreme ini. Ya, A24 memang satu studio (yang kini terkenal) aneh, dengan sering memproduksi film bersudut pandang unik. Walau awalnya lebih mengemukakan horor, namun kini studio film A24 lebih mengacu ke kritik sosial, atau film yang lebih abstrak dan nyeleneh horornya.
Satu film aneh dari A24 yang pernah penulis tonton, adalah berjudul Tusk (2014). Film dengan genre komedi-horor ini diperankan oleh Justin Long, yang berkisah satu perubahan manusia yang diculik. Ya, bukan diculik biasa, melainkan dirubah tubuhnya menjadi seekor anjing laut.
Di tahun yang sama, A24 merilis film Ex Machina, yang diperankan oleh aktris Alicia Vikander. Aktris berdarah Swedia ini memerankan seorang robot yang sanggup sadar diri alias sentien, namun tetap bernada horor-psikologis ala film A24.
Tahun 2015, A24 kembali membuat gebrakan di genre horor, dengan film The Vvitch. Film berlatar awal koloni di Amerika dan diperankan oleh Anya Taylor Joy ini, mengisahkan dengan abstrak sebuah kisah kajajaden (alias kesurupan) di lokasi terpencil sebuah koloni. Fokus utamanya adalah sebuah keluarga kecil di ladang yang jauh dari pusat koloni. Saking ngerinya, film ini direkomendasikan oleh penulis, sebagai film paling horor dari A24.
Free Fire yang dirilis tahun 2016 pun menunjukkan, bahwa A24 sanggup memproduksi film drama-aksi yang hanya berlatar satu lokasi saja. Jadi, filmnya mirip dengan khas sutradara kawakan Quentin Tarantino. Apalagi, Brie Larson sebagai aktris pemenang Oscar pun, mengisi film ini.
Film sejenis horor klasik pun diproduksi oleh A24, dengan judul The Monster di tahun 2016. Film ini mengisahkan ibu dan anak, yang terpisahkan akibat serangan monster besar ala seekor Yeti atau Bigfoot.
Di tahun yang sama, drama psikologis berjudul A Ghost Story pun dirilis. Film ini kembali dengan gaya khas A24, yaitu drama psikologis bernuansa horor. Namun, kisahnya cukup mendalam, karena lebih mirip kisah jurig alias arwah penasaran. Arwah ini belum sempat kembali ke dunianya sana, dan perlu menonton langsung seluruh kegiatan keluarga yang ditinggalkan olehnya.
Sebenarnya masih banyak film dari A24 yang bisa direkomendasikan. Tetapi, cukup disitu saja, karena penulis sendiri belum menonton semuanya.
Sinopsis Film Marty Supreme
Tahun 1952 lalu di AS, Marty Mauser (Timothee Chalameet) adalah seorang atlet tenis meja yang cukup hebat. Namun, dirinya tidak memiliki latar belakang seorang kaya raya, atau memiliki koneksi. Jadi selama ini, Marty berkompetisi di banyak turnamen tenis meja, tanpa dukungan sponsor sama sekali.
Namun, Marty memiliki karakter yang pantang menyerah dan terlalu berorientasi target. Sehingga, Marty sering memposisikan dirinya dalam situasi berbahaya, demi mencapai tujuannya sendiri. Maksud Marty sebenarnya cukup baik, yaitu demi mendukung dirinya, serta ibunya yang kini bekerja di toko sepatu milik pamannya.
Beberapa turnamen di banyak negara diikuti oleh Marty dengan dana seadanya, walau tetap memenangkan sedikit hadiahnya. Kini, Marty berniat untuk mengejar mimpi terbesarnya, yaitu memenangkan Kejuaraan Dunia Tenis Meja di Jepang.
Sanggupkah Marty meraih mimpinya? Atau malah terjebak lingkaran hutang sana-sini akibat banyak mencari masalah?
Jawabannya, tentu ada drama olahraga ala sinema Indonesia.



