Tampilkan postingan dengan label Rating R13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rating R13. Tampilkan semua postingan

22 April 2026

Ritual Kerasukan Ala Punggawa Pawai Seni di Film Para Perasuk

AING MAUNG! (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film Nusantara yang menjadi pamungkas di bulan April ini, berjudul Para Perasuk, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13. Film ini memang cukup beda, yaitu mengacu pada tanah adat dan ritual seninya, yang terancam digerus oleh pihak kapitalis.

Dago Elos Never Lose (via Acerax).

Dago Elos Never Lose

Sebelum membahas film yang kentara konflik antara budaya versus kapitalis, coba penulis bahas terlebih dahulu tentang wilayah terdekat. Yaitu, daerah Dago alias sepanjang Jalan Ir. H. Juanda di Kota Bandung, yang menjadi hunian penulis. 

Istilah Dago Elos Never Lose dibuat oleh warga Dago sendiri, yang mengacu pada pergerakan khusus. Yaitu, menentang penggusuran dari tanah yang disengketakan, karena dimiliki oleh warga lain yang merasa memiliki semuanya. Bahkan, sejarah warga tersebut bisa dilacak hingga jaman penjajahan Belanda dahulu, yang sudah lama ditinggalkan oleh pemilik (sertifikat) aseli.

Cerita ini sudah turun temurun menjadi kisah masalah hukum di daerah dago, yang notabene tanahnya mayoritas dimiliki oleh beberapa kampus negeri besar, seperti Unpad (Universitas Padjajaran) dan ITB (Institusi Teknologi Bandung). Namun, banyak wilayah kedua kampus akan pindah ke Jatinangor, atau menetap di Dago. Tanah pun beralih kepemilikan menjadi milik Pemerintah Daerah. Jadi, untuk wilayah yang dimiliki oleh Pemda, sudah tidak bermasalah lagi.

Tetapi kisah ini terus menerus terjadi. Contohnya adalah masalah sertifikat tanah dan hotelnya di sekitar Terminal Dago. Baru-baru ini, masalah sewa-menyewa lahan Kebun Binatang Bandung pun sempat bermasalah, akibat salahnya sendiri. 

Namun, konflik perdata lama ikut mencuat saat masa tersebut, yaitu masalah tanah SMAN 1 Bandung dengan pemilik lahan, yaitu dari PLK. Kisruh SMAN 1 Bandung diakhiri dengan putusan akhir dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan ditolak Kasasinya oleh Mahkamah Agung, bulan Maret lalu.

Pergerakan Dago Elos Never Lose memang asli dari warga, yang dibantu oleh pemerintah, tanpa campur tangan sensasional dari Warta. Media berita ini hanya diikutsertakan saat pemberitaan utamanya tiba, tanpa campur tangan berlebih. 

Warga Dago sebenarnya berpengalaman untuk urusan ini, tanpa campur tangan warta. Contohnya masalah Asrama Bank Indonesia di jalan Tubagus. Keadaan sekarang memang berbeda dengan keadaan terdahulu, saat literasi warga masih kurang. Bahkan banyak warga generasi berikutnya di Dago, adalah lulusan dari banyak universitas Bandung, sehingga cukup mampu untuk memahami urusan hukum di daerah ini.

Karnaval 17 Agustus 2025 di Jalan Tubagus (GMaps via Acerax).

Perlu kembali ke urusan film Perasuk, yang lebih mengacu ke tanah adat dan ritual seninya. Justru disitu kemiripan utama antara Dago Elos Never Lose dengan ritual ala film Para Perasuk. Setiap pawai karnaval 17 Agustus demi Hari Kemerdekaan Indonesia, banyak para punggawa seni serta sanggarnya dari daerah Dago, tetap ikut meramaikannya. Ikutserta mereka dengan warga yang berkostum acak ala seniman pun, turut meramaikan setiap tahunnya. 

Saking ramainya karnaval ini, cukup heran mengapa ada banyak kendaraan motor dan mobil, yang melewati daerah Dago saat acara berlangsung jam 12an siang. Padahal satu sisi jalan akan dipenuhi karnaval, yang bisa berlangsung selama satu hingga dua jam di satu ruas saja. Ya, bagi para 'perasuk' ala Dago ini, bisa seharian untuk mencapai satu keliling saja. Tidak heran, banyak yang akhirnya euforia dan hampir 'AING MAUNG' alias Pamacan yang terbawa intensifnya atmosfer.

Jadi intinya, tidak perlu khawatir dengan kisah di Dago Elos ini, karena kami Never Lose. Apalagi dengan Track Record sejarah turun-temurun yang sudah terwaris selama beberapa generasi lamanya. Karena kami cukup paham dan mengambil jalur rapih dan baik, tanpa mencari sensasi berlebih. Kecuali kalau sedang pawai karnaval 17an, tentunya tanpa jurus Pamacan. 

Wassalam untuk pihak lain yang tidak berkepentingan disini. Dan tentunya terima kasih kepada sineas perfilman Indonesia, yang berani mengadaptasi isu sosial di ranah fiktif tanpa sensasi berlebih. Semangat Berkarya!

Sinopsis Film Para Perasuk

Desa Latas adalah wilayah pinggiran kota, yang terkenal dengan ritual pawai seni sekaligus kesambet ala kesurupan euforia. Gurunya adalah Asri (Anggun), sebagai pewaris ritual Merasuk ini. Animo ini masih ramai dan terlatih di Desa Latas, layaknya tanah adat khusus dengan lokasi keramat bernama Mata Air Roh.

Bayu (Angga Yunanda) adalah pemuda peniup suling yang sangat berniat untuk mengikuti ritual Desa Latas, dan selalu ikut meramaikannya. Posisinya sebagai penyuling, menyebabkan dia berinisiatif untuk mendekati gadis cantik dari Desa Latas bernama Laksmi (Maudy Ayunda). Bayu yang sangat berminat menjadi punggawa seni Merasuk, sekaligus Laksmi yang berkecimpung sebagai penarinya, menyebabkan keduanya cocok untuk berlatih bersama.

Sayangnya, Bayu diminta oleh ayahnya (Indra Birowo) untuk ikut menjual rumah dan pindah ke kota. Alasannya adalah wilayah tersebut akan dibangun semacam pabrik. Tidak hanya lokasi rumah Bayu, Desa Latas serta Mata Air Roh-nya akan tergusur jika pabrik jadi dibangun. Keluarga dan teman dekat Bayu pun tetap meragukan, bahwa ritual Perasuk Desa Latas yang Pamacan ala AING MAUNG masih berlanjut hingga generasi berikutnya.

Mulailah kekisruhan wilayah tanah konflik dengan tanah adat. Tidak hanya mendekati dengan cara bisnis, perwakilan dari perusahaan pabrik mulai meneror, hingga memakai kekerasan untuk mengusir warga desa yang tidak menurut.

Sanggupkah Bayu, Laksmi, Asri, dan seluruh Desa Latas mempertahankan tanah dan adatnya? Atau memang warisan budaya hanyalah kenangan dari masa lalu yang tidak perlu dipertahankan demi cuan semata? Senihil itukah hidup di jaman modernisasi jurig ini?

Jawabannya, tentu ada dalam ritual kesurupan ala kerasukan ala pamacan alias AING MAUNG di sinema Indonesia.

Jurig dari Sulawesi yang Tiada Habisnya di Film Songko

 

Sulitnya dipercaya oleh warga desa jaman sekarang (TMDB).

Film jurig dari perfilman Indonesia muncul kembali dengan judul Songko, yang tayang di sinema indonesia saat minggu keempat bulan April ini. Film berating R13 ini mengisahkan mahluk legenda urban dari Sulawesi, khususnya dari Manado dan Minahasa.

Kisah jurig yang berasal dari luar pulau Jawa dengan segala mistisnya, memang jarang diadaptasi menjadi sebuah film. Karena itu, Songko perlu ditelaah terlebih dahulu.

Songko adalah sejenis legenda urban, yang muncul di Manado dan Minahasa sejak tahun 1980an lalu. Bentuknya adalah mahluk tinggi yang mengenakan jubah, serta songkok sebagai topinya, karena itu namanya adalah Songko. Mahluk ini dipercaya sebagai jelmaan manusia yang telah meninggal. Namun karena semasa hidupnya selalu mengejar kemampuan paranormal, sehingga arwahnya tidak tenang di alam baka, dan bahkan kembali ke dunia manusia untuk menebar teror.

Bahkan, kisah Songko sebenarnya muncul dalam arsip Belanda sejak tahun 1907 lalu, yang merupakan kompilasi cerita rakyat. Arsipnya berjudul Tontemboansche Teksten: Vertaling (1907) dan Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek (1908). Dalam kedua arsip tersebut, Songko adalah sejenis mahluk supernatural, yang mengejar warga pelanggar pantangan, atau sedang rentan.

Mirip dengan kisah supernatural lainnya, para peneliti menganggap Songko adalah bentuk instrumen sosial. Tujuannya adalah menanamkan kedisiplinan bagi warga, agar taat dan tidak macam-macam, apalagi di jaman yang penerangan malamnya kurang. Khusus Songko yang dipetuahkan oleh tetua seperti Tonaas dan Walian, adalah untuk menjaga batas aman wanua. 

Sementara Songko dari tahun 1980an, muncul kembali sebagai legenda urban. Kemunculannya kembali adalah akibat kasus mengerikan saat jaman tersebut. Mahluk mengerikan berjubah ini mengejar darah suci perempuan muda, yang tentunya masih perawan dan belum terjamah sama sekali. 

Songko yang harfiah mengancam masyarakat Sulawesi, menjadi peringatan khusus bagi pemuda dan pemudi pada jaman tersebut, sesuai dengan fungsi awalnya sebagai cerita rakyat.

Sinopsis Film Songko

Desa Tomohon di Sulawesi adalah lokasi yang taat dengan agamanya, dan selalu hidup rukun antar tetangganya. Namun suatu petaka tiba, dengan banyaknya pemudi desa yang ditemukan meninggal bersimbah darah. 

Layaknya mengenang petuah terdahulu, warga lalu mengingat bahwa teror ini mirip dengan cerita rakyat bernama Songko. Mahluk ini akan tiba di satu lokasi, jika ada warganya yang melaksanakan ritual mistis, atau melanggar pantangan.

Warga mulai menyalahkan satu keluarga yang cukup berbeda, yaitu Ekel (Tegar Satrya) sebagai kepala keluarga, bersama istrinya Helsye (Imelda Therinne), Mikha (Annette Edoarda) sebagai anak pertama, dan adiknya Lina (Fergie Brittany). Keluarga ini dituduh sebagai jelmaan Songko, karena lebih banyak  beranggota perempuan, dan belum satupun yang menjadi korban.

Hingga akhirnya keadaan berubah seketika, saat Lina yang merasa tertekan oleh sikap warga desa, akhirnya diteror pula oleh kemunculan mahluk Songko. Namun warga masih belum percaya, dan bahkan semakin buas menolak kehadirannya. Ekel yang lihai menembakkan senapan, harus berinisiatif gelut, demi menghalau serangan Songko, warga desa, atau sekaligus pihak agresor manapun.

Sanggupkah keluarga ini bertahan sampai akhir? Atau ada maksud khusus dari warga desa yang terus menyalahkan? Atau bahkan Songko sebenarnya adalah sisa dosa dari warga desa itu sendiri, yang kembali untuk membalaskan dendam?

Jawabannya, tentu ada di cerita rakyat ala sinema Indonesia.

15 April 2026

Mengecek Pesan Khusus dari Film The Conspiracy

 

Aaron yang sudah terlalu obsesif dan konspiratif (TMDB).

Okeh, karena beberapa minggu terakhir banyak kabar terdengar dari media massa, media sosial, hingga banyak jenis pemangku konten lainnya, jadinya penulis ingin membahas film The Conspiracy di artikel Monsterisasi. 

Film yang rilis tahun 2012 ini membahas tentang sebuah konspirasi besar, dengan sudut pandang warga biasa dalam menanggapi isu sesat tersebut. Ya, bahkan film ini adalah sejenis Found Footage, namun lebih bisa dianggap sebagai jenis film Mockumentary.

Found Footage dan Mockumentary

Found Footage (bersudut pandang kamera orang pertama) awalnya diramaikan oleh The Blair Witch Project dari tahun 1999 lalu. Bahkan, film ini sempat disetel sebagai film aseli, dengan beberapa situs web yang dibuat, dan diramaikan di ranah forum Inet. 

Namun perkembangan saat ini justru merubah Found Footage menjadi ranah yang niche, dan tidak banyak improvisasi diluar adegan kamera. Perkembangan yang kentara adalah mulai munculnya sub-genre Mockumentary, yang berisi adegan lebih stabil layaknya dokumenter biasa.

The Conspiracy sebenarnya bersub-genre Found Footage, yang tentunya berisi adegan kamera dari sudut pandang orang pertama (layaknya handcam). Namun (sekali lagi) menurut pendapat penulis, film ini lebih mirip sub-genre lainnya, yaitu Mockumentary. Film sejenis ini tidak banyak memasukkan adegan heboh, namun lebih didominasi oleh struktur ala dokumenter. Ya, tetap saja sejenis dokumenter palsu, yang berisi cerita fiktif. Istilah Mock itu artinya adalah sejenis palsu.

Namun karena penggambaran cerita yang menarik, dengan perkembangan cerita dan informasi yang agak plot twist setiap pindah adegan, menjadi jenis tontonan yang menarik. Memang berbeda dengan Found Footage yang amburadul dan goyang kameranya (shaking cam), Mockumentary menyajikan adegan yang stabil. Contohnya, adalah wawancara langsung dengan karakternya, atau sekedar lokasi TKP dan pembaruan informasi yang ditelaah bersama karakternya.

Dengan visualisasi yang berbeda dari Found Footage, Mockumentary bisa lebih mengalir dalam menjabarkan ceritanya. Kadang sedikit terjadi adegan drama, aksi, atau sejenis heboh lainnya. Namun, cerita disajikan dengan rapih dan terstruktur selayaknya menonton dokumenter, contohnya alam liar ala National Geographic atau sejarah dunia ala History Channel. 

Karena masih ranah fiktif yang menyajikan cerita dan adegan mengerikan, jadi genre utama Mockumentary (biasanya) adalah Horor. Entah berapa kali penulis merasa merinding menonton film sejenis ini, melebihi adegan horor biasa yang suka jump-scare atau terlalu sensasional. Atmosfer yang lebih damai dan kurang gelap, seakan menipu penonton dengan visual yang ada. 

Tetapi, ada beberapa film yang membuat merasa penulis tertipu. Ada dua film yang aslinya masuk ranah dokumenter nyata, namun disajikan ala (dramatisnya) Mockumentary. 

Pertama adalah film Cropsey, dari tahun 2009 lalu. Saat menonton pertama kalinya, penulis menganggap ini hanya Mockumentary. Tetapi pas dicek di Inet, ternyata film ini berisi kasus nyata mengenai aksi penculikan dan anak hilang, yang terjadi di Staten Island, AS. Film ini menyajikan hubungan kasus tersebut dengan sebuah Bangsal RSJ besar di sekitar lokasi TKP, yang ada hubungannya dengan kasus kriminal tersebut.

Dan penulis pun tertipu kedua kalinya, saat menonton film berjudul Beware The Slenderman dari tahun 2016 lalu. Awalnya penulis menganggap bahwa film ini adalah sejenis fiksi ala karakter horor bernama Slenderman, yang sempat ramai awal tahun 2010an lalu. Namun pas ditonton dan dicek di Inet (lagi), ternyata berisi kasus nyata di Wiscounsin AS. Kasus ini berisi kekerasan anak dibawah umur, dengan istilah 'bisikan setan' dari karakter Slenderman.

Kedua film pun menyajikan informasi dengan foto, rekaman, atau dokumen asli mengenai warga nyata yang terkait kasus tersebut. Keduanya memang kisah mengerikan dari ranah perfilman nyata, yang tersaji dengan cukup realistis.

Waspada ada Slenderman (TMDB).

Hubungannya dengan Film The Conspiracy

Nah, setelah membahas dua film yang ternyata dokumenter asli, kali ini perlu membahas tentang film The Conspiracy. Film ini memang masih beranah fiktif, namun tetap ada satu bahasan dan pesan yang bisa diterima oleh penonton biasa. Yaitu saat penonton atau warga biasa, menanggapi kisah konspirasi besar, yang dapat langsung berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Penulis merekomendasi film ini untuk langsung ditonton saja, karena film yang berformat Mockumentary memang sulit dibahas adegannya. Sehingga, langsung saja mengacu pada referensi dan pesan yang disampaikan. Penulis pun tidak akan membuka alias spoil isi ceritanya, agar menontonnya lebih dapat diterima.

Sebelum mengacu pada pada pesannya, penulis perlu menjabarkan adegan yang cukup masuk gambaran besar untuk film ini. Plotnya yaitu karakter Aaron (Aaron Poole) sebagai sutradara dan Jim (James Gilbert) sebagai kameramen, yang terobsesi dengan sekelompok sekte elit di sekitar huniannya, tepatnya di AS sana. Keduanya berniat menguak keberadaan asli sekelompok warga elit tersebut, layaknya video dokumenter jurnalistik investigasi.

Nah singkat cerita, keduanya berjibaku lama untuk melacak keberadaan sekte warga elit tersebut. Bahkan Aaron berhasil menyelundup masuk ke jamuan makan, pesta, sekaligus ritual sekte aneh tersebut. Aaron membawa kamera tersembunyi (hidden cam) dibalik bajunya, agar dapat merekam semuanya. 

Warga yang diundang, ternyata mengenakan kostum (dress-code), salam, dan ritual khusus lainnya. Biasanya, hanya anggota aseli yang mengajarkan ritual khusus kepada tamu yang baru diundang. 

Daaan... penulis pun tidak akan menjabarkan isi kisah berikutnya, dan pembaca perlu menonton langsung. 

Gak perlu sampai demo (sendiri) kaya gitu juga... (TMDB).

Penutup dan Pesan dari Film The Conspiracy

Nah kembali ke pesan yang disampaikan dari film, menurut penulis justru sebagai pembaca, penonton, dan warga biasa, perlu menanggapi ranah konspiratif dengan pesimis. Istilah dari bahasa Inggrisnya adalah 'Take Everything with A Grain of Salt,' yang berarti setiap informasi yang diterima, harus ditanggapi pesimis dan ditelaah terlebih dahulu. Jadi, tidak perlu terobsesi dengan kabar konspiratif jenis manapun.

Apalagi dari keadaan berita beberapa bulan terakhir, yang terasa seperti konspirasi besar para elit dunia. Contohnya adalah Epstein Files, yang dibongkar oleh Federal Bureau of Investigation (FBI). Isinya berisi banyak kalangan elit dunia, yaitu banyak pemimpin perusahaan besar multi nasional yang ikutserta ritual sekte tertentu. Bahkan ada beberapa tokoh dari negara tercinta Indonesia, yang ternyata masuk daftar tersebut.

Kalau ditanya pesimis, justru penulis masih heran tentang kabar ini. Bukan dari ranah konspirasinya, tetapi dari pihak yang menyebarkan informasinya. Standar Operasional FBI harusnya terbatas hukum (Yurisdiksi) di wilayah AS saja, walau sering membantu ranah internasional. Justru untuk wilayah internasional, kabar sejenis ini biasanya dibongkar oleh Central Intelligence Agency (CIA), yang memang berkecimpungan sebagai intelijen luar negeri utama bagi AS.

Walau begitu, FBI memang fokus pada investigasi sosok Jeffrey Epstein, yang memiliki kewarganegaraan utama sebagai warga AS. Jadi, tidak mengherankan pula bahwa kisah ini diawali dari investigasi di wilayah AS, yang berujung efeknya pada dunia internasional.

Okeh, segitu saja dan Stay Vigilant. 

Wassalam.

14 April 2026

Rekomendasi Gim Roguelike Terkenal Santai Tanpa VGA

Kalah lagi, lah... (Freepik).

Okeh, saatnya penulis mencoba artikel berbahan topik lainnya, yaitu sejenis gim yang sempat dimainkan. Artikel ini menjadi rekomendasi lima gim, yang diantaranya adalah FTL, Banished, Stardew Valley, Battle Brothers, dan Slay The Spire. Kelima gim ini adalah sejenis gim Roguelike, yang bisa langsung Game Over jika salah satu-dua langkah saja. Namun, kelima gim dipilih karena tidak terlalu kompleks dan Hardcore, dan setiap sesinya tidak terlalu lama. 

Mengacu pada judul artikel ini, Roguelike Terkenal Santai Tanpa VGA memang harfiah. Yaitu, gim Roguelike terkenal, dan saking terkenalnya, bahkan langsung merubah pasar gim sejak perilisannya. Ya, semenjak kelima gim ini dirilis, pasar gim berubah dan tidak hanya banyak orang yang suka, para developer (alias pengembang) gim pun banyak yang ikut menirunya. Seakan gim tersebut menjadi sub-genre tersendiri.

Nah, bagaimana dengan istilah Tanpa VGA-nya? Justru disitulah uniknya. Gim tersebut memang memiliki spesifikasi rendah, sehingga dapat dimainkan di banyak kemampuan PC atau Laptop (layaknya meme Doom). 

Memang tertulis pada setiap spek gimnya, yaitu minimum VGA yang bisa menjalankan OpenGL 3, DirectX 9c, atau Pixel Shader 3 saja, dengan berbagai jumlah VRAM-nya. Spesifikasi macam ini, adalah minimum (Intel HD) bagi setiap PC. Bahkan tanpa bantuan grafis semacam ini, membuka notepad atau bahkan menonton video saja bisa berujung nge-lag.

Penulis pun memiliki pengalaman sendiri mengenai gim tersebut, yaitu sempat dimainkan saat VGA dalam PC rusak, dan perlu menggunakan VGA Onboard saja, alias bawaan dari Motherboard. Penulis memang telah memainkan, dan bahkan memiliki beberapa screenshot (tangkapan layar) dari berbagai gim tersebut. 

Semenjak itu pula, penulis mulai beralih menyukai berbagai jenis gim Roguelike. Layaknya gim arcade terdahulu (alias ding-dong), setiap sesinya memang hanya setengah hingga satu jam saja. Namun, karena sangat hectic, visceral, dan instan, sehingga sangatlah menyenangkan, selayaknya gim yang tanpa perlu berpikir lebih untuk mencobanya. 

Gim sejenis ini pun memiliki RNG (Random Numeric Generator) tersendiri, jadi setiap sesi bisa berubah keadaan yang tiba, sesuai pilihan acak dari gimnya. Tentunya, replayability (main ulang) akan tinggi, karena berbeda tantangan setiap kali main. Bahkan ada istilah meme sendiri dari Inet, yaitu kurang puas tanpa bermain satu kali lagi, padahal baru saja memainkan sesi setengah jam gim Roguelike (saking asyiknya).

Sementara genre Roguelike adalah pengembangan dari nama gim Rogue dari tahun 1985 lalu, saat PC masih bersistem operasi MS-DOS. Karena gim Rogue bisa menyebabkan pemainnya insta-fail alias game over saat bertahan di satu sesi dungeon saja, justru membuat pemainnya gregetan, dan ingin mencoba lagi. Sub-genre Roguelike di jaman sekarang pun sudah terkombinasi dengan banyak genre lainnya, sehingga merubah pasar gim secara keseluruhan. 

Okeh, saatnya membahas kombinasi berbagai gim yang berasal dari banyak genre ini, namun tetap memberi kesan Roguelike-nya. Oh ya, penulis hanya mengisi tahun saat gimnya sudah melalui Full-Release, alias tidak membahas tahun awal Early-Access-nya (yang biasanya bertahun-tahun).

Belum apa-apa, ruang medis sudah terbakar (via Acerax).

Faster Than Light (FTL)

Yang pertama adalah gim Roguelike bertema antariksa dengan pesawatnya, berjudul singkat saja FTL, yang dirilis pada tahun 2012 lalu. Ceritanya adalah satu pesawat yang perlu mengantarkan suatu benda berharga, namun dikejar oleh federasi angkasa yang besar, sehingga tidak bisa kembali dan harus terus maju. 

Pemain pertama memilih pesawatnya terlebih dahulu, dengan kombinasi senjata dan krunya. Pesawat awalnya ditempatkan di satu titik koordinat, dan harus mengecek lalu maju ke titik berikutnya demi mencapai tujuan akhir.

Saat berada dalam satu titik, gim ini dimainkan secara Real Time with Pause, alias bisa dijeda saat aksinya berlangsung. Titik koordinat berisi random nan acak, yaitu bisa berisi asteroid dan planet yang bisa ditambang, sejenis stasiun atau pesawat antariksa untuk berdagang, atau bahkan musuh dan sejenis alien. 

Jika bertemu dengan lawan berbahaya, maka gim masuk ke mode tarung. Pemain bisa menjeda gim-nya terlebih dahulu, untuk menentukan strategi dan mengarah senjata pada bagian tertentu pesawat, sebelum melawan musuhnya. 

Nah, uniknya FTL ini, ternyata membuka banyak inspirasi bagi banyak developer gim. Entah berapa banyak gim sejenis yang ditelurkan oleh para pengembang, yang memang berlandaskan FTL. Kisah satu pesawat yang menjelajahi antariksa demi satu misi, lengkap dengan aksi ala Star Trek, memang cukup jarang diadaptasi pada sebuah gim. 

Bagi yang ingin mencoba gim berukuran 150 megabytes ini, perlu diperingati satu terlebih dahulu. Dibandingkan gim lain di artikel ini, gim ini agak lambat diawal. Sehingga, lebih cocok dengan istilah slow-burn, dimana awalnya lambat namun tetap greget berkepanjangan.

Ini baru sampai udah disambut badai salju... (via Acerax).

Banished

Berikutnya adalah gim yang mengingatkan ramainya animo city builder, alias colony simulator di era tahun 90an hingga 2000an, berjudul Banished. Gim dari tahun 2014 yang berukuran 100an MB ini memang sejenis strategi yang khas dengan sudut pandang isometriknya. 

Namun berbeda dengan kebanyakan RTS (Real Time Strategy), justru karakternya tidak dikendalikan langsung, sementara satu koloni dibantu oleh pemain untuk bertahan hidup. Ya, tidak ada gelut sama sekali dalam gim Banished ini.

Animo sejenis ini memang sempat ramai di tahun 90 hingga 2000an, hingga akhirnya jaman dimana banyak RTS tergerus oleh genre lain. Namun, Banished berhasil mempopulerkan genre ini lagi. Seperti sebelumnya, banyak pengembang gim lain yang mencoba ngoprek gim simulasi koloni ini.

Pertama, pemain hanya diminta memilih peta saja, yang dipilih secara acak detail dan isinya oleh gim. Lalu, disana pemain memiliki sekitar satu lusin warga desa, yang perlu bertahan di koloni baru (saat jaman pertengahan). Pemain mulai membangun rumah, lahan gandum, gudang makanan dan mineral, jalan raya, lokasi tambang, gudang peralatan, hingga pandai besi dan toko baju.

Urusan logistik serta komoditas yang ada, harus disesuaikan setiap sesinya, yang bisa mencapai berjam-jam. Itu pun tergantung lokasi, kondisi, serta kelihaian pemain, maka satu koloni bisa berhasil atau tidak (layaknya Roguelike). Makanya, banyak penggemar menyukainya dan pengembang gim lain pun menirunya.

Bahkan di ujung sesi yang berhasil, satu desa yang awalnya hanya memiliki sedikit rumah, gudang, dan satu lahan gandum saja, dapat terlihat seperti kota di akhir sesi tersebut. Terdapat sekolah, rumah sakit, pasar, toko pakaian, gedung ibadah dan teater, pemakaman umum, hingga rumah mewah bagi yang sanggup. Semua itu, tergantung pada kemampuan pemain untuk dapat mencapai koloni yang makmur nan sejahtera.

Namun banyak kendala pula yang menghadap pemain, seperti gagal panen, lokasi tambang batu dan besi yang habis, jalan yang terlalu jauh dan berbelit, hama dan wabah penyakit, hingga musim yang berubah. Tantangan ini muncul setiap sesinya, dan perlu dikelola langsung oleh pemain dengan rencana jangka panjang dan berfaedah.

Peternakan Ikan yang minimalis ala Valis (via Acerax).

Stardew Valley

Nah bagi yang paham dunia gim, pasti heran mengapa Stardew Valley masuk dalam daftar di artikel ini. Namun, gim bercocok tanam dan tambang ini ternyata punya satu khas yang menjadikannya Roguelike. Yaitu, saat pemain hanya bisa menyimpan gim satu hari sekali di rumah (pas tidur). 

Selain itu, ketika pemain kelelahan atau bahkan berada di dalamnya tambang, pemain bisa knock (pingsan) dan langsung kehilangan banyak barang yang dibawanya. Jadi, ternyata cukup 'berbahaya' juga gim ini.

Okeh, selain fitur tersebut yang agak Roguelike, ternyata sisanya cukup santai. Gim bercocok tanam ini, sebenarnya adalah genre yang mirip Harvest Moon, alias cozy nan santai berwibawa. Pemain bisa bercocok tanam sesuai musimnya, menanam bunga untuk mengundang lebah, memancing ikan di sungai, danau, dan laut, menambang sambil berburu slime, hingga membangun rumah dan keluarga. Ya, memang sejenis simulasi hidup (Life Sim) yang wajar.

Sama seperti gim sebelumnya, Stardew Valley adalah pencetus ramainya kembali gim bercocok tanam di PC. Saking ramainya, sang kreator Concerned Ape (Eric Barone) yang pas awal hanya bekerja sendiri, langsung instan menjadi miliuner. Memang banyak yang kangen dengan gim sejenis ini, sehingga early-access-nya langsung terjual 500 ribu copy pas awal peluncurannya (!)

Bahkan Stardew Valley sebenarnya tidak seribet itu. Dari pengalaman penulis yang membangun lokasi pertanian ikan (?), lebih banyak berisi kolam untuk memanen telurnya, alias caviar. Selain itu, penulis hanya menanam bunga demi membuat madu, serta manisan buah-buahan dari rumah kaca. 

Sisanya, hanya terdengar suara ayam, kambing, dan sapi. Ayam kadang diambil telurnya, sementara sapi diperah susunya, dan kambing digunting wolnya. Jadi, hanya terdapat tiga lokasi utama, yang menghabiskan sepertiga lahan saja.

Oh ya, gim ini memiliki open-world pula, alias bisa menjelajah kemana saja. Terdapat lokasi kota, pantai, hutan, dan stasiun kereta. Bahkan terdapat pula pulau lain yang bisa dikunjungi (dan sekalian gelut). Jadi, tidak terjebak di satu lokasi pertanian saja. Kadang di kota terjadwal pula banyak festival setiap musimnya, dan pemain bisa ikutserta selama satu hari penuh.

Tutorial BB yang sudah cukup sulit (via Acerax).

Battle Brothers

Akhirnya, tiba di gim yang cukup brutal pula, berjudul Battle Brothers dari tahun 2017 lalu. Gim open-world yang penuh dengan luka-liku para pasukan bayaran di dunia fantasi ini, berlandaskan gelut turn-based, alias setiap karakter harus menunggu gilirannya ala catur dan kartu. 

Selayaknya catur, setiap karakter yang diturunkan pemain saat gelut pun terbatas. Hanya maksimum 12 saja yang bisa diturunkan langsung, sementara sisanya adalah cadangan. Misi yang diterima di kota, lalu dilancarkan dengan sistem combat (gelut) semacam ini. 

Pemain harus memilih senjata dan baju zirah (armor) bagi setiap karakternya, dan disesuaikan dengan perannya saat gelut. Terdapat senjata seperti kapak, pedang, hingga gada yang lengkap dengan perisainya. Untuk urusan jarak jauh, busur panah serta senapan mesiu masih mengisi gim ini. 

Jika karakter naik level, maka skill (alias kemampuan)-nya bisa dinaikan, dan disesuaikan dengan perannya. Musuh pun memiliki kemampuan yang sama, itupun kalau bentuknya manusia. Ya, gim ini adalah sejenis low-fantasy, dimana banyak monster dan mahluk mitos lainnya, tetapi tidak mengumbar banyak kemampuan magisnya. Sehingga, gelut pun terbatas pada standar saja.

Namun, bahayanya sangatlah Roguelike, yaitu setiap karakter di Battle Brothers dapat meninggal begitu saja pas gelut. Bahkan jika selamat pun, terdapat cedera hingga cacat pada bagian tubuh tertentu, tanpa bisa disembuhkan sama sekali. 

Jika saat gelut seluruh tim kalah (wiped out), maka pemain perlu mengulang dari awal. Namun tidak perlu kecewa, karena setiap sesi gim ini paling lama (hingga late-game) hanya selusin jam saja. Ya, memang gim BB ini agak hardcore sih. Tinggal disetel saja tingkat kesulitan yang ingin dimainkan.

Oh ya, gim ini punya banyak cerpen (cerita pendek) pada setiap sesinya, yang muncul saat misi atau saat perjalanan antar wilayah. Cerita kadang berpengaruh langsung pada moral para karakter, jadi perlu dibaca dan dicek apa efeknya.

Musuh khusus monster memiliki nama yang unik, karena berasal dari kisah mitologi Jerman. Jadi, monster bernama Webknecht berarti laba-laba berukuran raksasa. Monster lain pun sama uniknya, yaitu sejenis Orc, Goblin, Undead (Mayat Hidup), Golem, Unhold (sejenis Troll), Alp (sejenis Jurig), Lindwurm (sejenis Naga). Untuk manusianya, banyak pula jenisnya seperti Barbarian, Brigands (sejenis Bandit), atau pasukan berbayar lainnya.

Setiap jenis musuh, memiliki taktiknya sendiri. Pokoknya, sesuaikan saja strategi untuk melawannya. Yang terpenting, di depan adalah Tank dengan perisainya, lalu dibelakangnya adalah karakter sangar bersenjata raksasa (two-handed), lalu jauh di belakang adalah pemanah (Archer) serta penembak jitu (Gunner). Terdapat senjata lain seperti Javelin (Tombak Lempar), Net (Jaring), dan Bom yang bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi tertentu.

Oh ya, karena tingkat kesulitan serta variasi permainan yang cukup unik, BB alias Battle Brothers menjadi satu gim terkenal yang banyak ditiru pula inspirasinya. Namun, semua berawal dari minimalisnya low-fantasy ala BB ini.

Urbexile yang sudah jelas salah langkah (via Acerax).
Slay The Spire

Dan terakhir, adalah gim yang menggunakan kartu, ala turn-based-nya. Ya, Slay The Spire dari tahun 2019 adalah Roguelike yang berisi kartu, namun dengan latar yang fantastis dan irasional. Untuk strukturnya, justru gim ini mirip dengan FTL. Setiap titik yang dipilih pemain, berisi monster, cerita, pedagang, atau harta. Namun yang berbeda, memang dimainkan dengan gelut ala kartu, dan semua yang ada di gim ini adalah random nan acak.

Awalnya karakter yang dapat dimainkan adalah The Warrior, yang berujung tiga pilihan karakter lainnya. Setiap karakter memiliki khasnya sendiri, dan perlu disesuaikan dengan acaknya kartu yang didapat atau dibeli pada setiap titiknya. Kartu bisa berarti menyerang, bertahan, mengeluarkan jurus, mengisi nyawa, atau kombinasi dari semuanya. Tentu taktik harus disesuaikan dengan keadaan, atau tipe musuh yang sedang dilawan.

Selain kartu, terdapat pula Potion atau Relic. Potion adalah obat sekali pakai, yang memiliki efek berbeda-beda. Sementara Relic memiliki efek permanen, yang didapat dari monster Elite, Boss, atau Peti Harta (Chest). Namun Relic bisa berarti baik atau buruk, dan bahkan merubah cara main. Jika tidak disesuaikan, maka Relic malah berujung petaka bagi karakter dan pemainnya.

Nah, berbeda dengan gim sebelumnya dan lebih mirip FTL, justru yang asyik dari gim ini adalah Kartu, Relic, atau sejenis barang lain yang dibuka (unlock) setelah setiap sesinya. Ya, terdapat banyak fitur gim yang terkunci saat awal memainkan gim Slay The Spire (yang memang khas dari setiap gim Roguelike). 

Nantinya, jumlah barang nan acak yang didapat pemain, akan semakin bervariatif setiap sesinya. Karena itu, istilah meme One More Run sangat cocok untuk gim kartu ini, dan secara luas untuk genre Roguelike.

Penutup dari Gamer

Jadi, sudah dipilih gim mana saja yang cocok untuk dimainkan? Oh ya, gim diatas memang kurang genre aksinya, karena memang berbeda lahan. Namun karena tujuannya santai, maka sengaja tidak dimasukkan. 

Adapun satu gim aksi yang khas dengan terlihat dari satu sisi (Side Scroller) saja, dengan bumbu platformer dan Roguelike-nya. Judulnya adalah Rogue Legacy dari tahun 2013 lalu, yang memang memulai kembali ramainya sub-genre Side-Scroller dan Platformer (!) Penulis kurang suka kontrolnya (tidak pakai kombinasi Mouse dan Keyboard), jadi tidak bisa merekomendasikannya.

Tapi ya... kalau mau rekomendasi sih, sebenarnya langsung saja mainkan Dead Cells dari tahun 2018 lalu (yang bisa pakai MKB). Mungkin untuk VGA Laptop sejenis Vega 8 atau Intel Iris, bisa saja dimainkan (?) Yah... memang penulis bukan seorang digital benchmark-er sih...

Okeh,... Back to Gaming...

Belajar Teknik Berpedang via Sensei Beryl Gardenant di Anime From Old Country Bumpkin to Master Swordsman

 

Sensei Beryl Gardenant yang sumringah saat minum (TMDB).

Okeh, saatnya artikel Monsterisasi yang berbeda dengan lainnya, yaitu mengacu pada anime From Old Country Bumpkin to Master Swordman (Ossan Kensei), yang tayang tahun lalu. Sebenarnya penulis baru menonton anime ini bulan Maret lalu, dan ternyata sangat menarik. Walau berasal dari Light Novel ala Jepang sana, tetapi adaptasi animenya sangat kentara dengan referensi HEMA (Historical European Martial Arts). Ya, entah kenapa bisa, teknik berpedang di novel diadaptasi dengan akurat pada anime.

Artikel ini mengacu pula pada artikel sebelumnya, yang membahas Pein Akatsuki dari Naruto. Walau penulis menjabarkan keburukan Benchmark ala Militer, khususnya di artikel tersebut, namun penulis sama sekali tidak menolak untuk belajar bela diri. Bahkan, bisa disebut bela diri adalah semacam olahraga, dan tidak perlu gelut terus (alias AING MAUNG). 

Penulis sendiri memiliki pengalaman saat belajar beladiri di jaman dahulu, tepatnya saat masih bersekolah dasar. Selama satu tahun lamanya, tepatnya bareng kelas pemantapan Ujian Nasional, penulis bersama satu kelas disiapkan pula dengan kelas beladiri Silat. Walau hanya satu tahun saja, tetapi cukup dapat mengingat berbagai kuda-kuda dan langkah dasar Silat.

Nah, di artikel kali ini, justru penulis ingin membahas observasi khusus, yaitu teknik berpedang dari HEMA. Bagi yang suka menonton konten latihan duel ala HEMA, pasti mengenal kanal bernama Skallagrim dari Kanada atau Weaponism dari Korea Selatan. Kedua kanal menyajikan berbagai teori, serta adegan duel dengan teknik berpedang HEMA, atau bahkan Katana dari Jepang dan Dao dari China serta Korsel. Ya, memang sejenis olahraga disana, menyaingi Karate dan Taekwondo dari segi ranah tangan kosongnya.

Penulis sendiri selama bertahun-tahun menonton konten tersebut, sehingga cukup mengenal banyak gerakan berpedang. Karena itu, saat menonton Sensei Beryl Gardenant di anime (yang judulnya jelek ini, harusnya Ossan Kensei saja), penulis dapat menebak seluruh gerakan yang dilancarkan selama gelutnya berlangsung. Ya, terima kasih pada berbagai kanal yang berisi duel berpedang tersebut.

Dan karena itu pula, artikel ini tidak banyak berisi adegan dari animenya. Justru banyak referensi teknik berpedang asli HEMA, sesuai dengan latar ceritanya di Eropa ala Fantasi. Untuk animenya sendiri, merupakan gabungan antara Slice of Life (selingan kehidupan) dan duel berpedang di ranah yang Low-Fantasy. Genre sejenis ini tidak begitu besar dalam menggambarkan dunia magisnya, bahkan masih terasa mistis ala The Lord of The Rings. 

Tapi, jangan diremehkan penggambaran anime ini dengan gelut berpedangnya. Gelut menggunakan senjata di anime ini cukup realistis, sesuai dengan teknik HEMA. Bahkan cukup brutal, dengan beberapa karakternya yang hobi Coup De Grace musuh atau lawannya. Tapi ya... karena masih bergenre fantasi, maka ada beberapa gerakan yang sebenarnya salah. Nanti akan dibahas pula beberapa gerakan salah tersebut dalam artikel ini.

Okeh, saatnya mulai membahas bagaimana Sensei (atau Kensei) Beryl Gardenant menyajikan berbagai adegan gelut yang kentara, tentu sesuai ala novelis Shigeru Sagazaki. Novelis yang satu ini mungkin aselinya beraliran Kendo, tetapi cukup banyak memperhatikan dan mengikuti sesi duel berpedang lainnya. 

Stance Mid Guard ala Sensei (Ossan Kensei)
Kuda-Kuda

Kuda-kuda ini semacam teknik Stance dan Guard dari HEMA, yaitu posisi awal saat belum menyerang lawannya. Biasanya terdapat tiga Guard utama bagi para ahli berpedang (alias Kenshi), yaitu High Guard, Mid Guard, dan Low Guard. 

High Guard adalah posisi senjata ada diatas atau sekitar kepala, dengan tangan yang menjulur sama keatas sesuai pegangan (Handle) pedangnya. Posisi seperti ini berarti dimaksudkan untuk menyerang dengan Tebasan (Slashing), dengan arah dari atas kebawah. 

Mid Guard adalah posisi senjata yang tepat berada di pusat gravitasi tubuh, dengan tujuan menyerang menggunakan Tusukan (Thrusting). Posisi ini adalah yang paling aman, karena menjaga jarak antara tubuh dengan lawan, yang dibatasi oleh pedang.

Low Guard adalah posisi senjata dibawah, biasanya ditempatkan agar menangkis musuh, daripada menyerang langsung. Posisinya yang agak berbeda (tidak terlihat berbahaya), justru membuat pemegangnya bisa berimprovisasi, tergantung dari arah serangan lawan.

Bahkan ada satu lagi, yaitu Rear Guard yang terlihat seperti sedang nge-troll musuhnya. Senjata ditempatkan dibelakang, dan tidak menghalangi jarak antara posisi pemegangnya dan lawan.

Gerak Dasar

Nah, gerak dasar ini adalah yang terutama dalam menggerakkan pedang, tangan, dan tubuh bersamaan dengan setiap langkahnya. Alias, seorang ahli berpedang harus menggerakkan pedangnya (di tangan) dengan gerakan dari pinggul, demi menambah kekuatan dan akurasi serang. Itupun disesuaikan dengan langkah kaki, antara kiri atau kanan sesuai dengan posisi serangan. Jadi, setiap satu gerakan, maka satu kaki akan melangkah maju atau mundur.

Langkah dasar ini sebenarnya mirip dengan Silat, atau dasar teknik beladiri dari manapun, baik itu menggunakan senjata atau tangan kosong. Full Body Movement adalah intinya.

Serangan santai ala Sensei (Ossan Kensei).
Menyerang 

Untuk menyerang, terdapat pula istilah yang jelas untuk setiap jenis senjatanya, khususnya pedang. Di anime ini, Kensei Beryl Gardenant menggunakan Longsword, yang menjadi standar bagi setiap ahli HEMA. Kelebihan Longsword adalah serangan Tebasan (Slashing), Menusuk (Thrusting), dan panjang yang cukup (Mata Tajam/Bilah sepanjang satu meter).

Slashing yang artinya menebas, berarti mengarahkan bagian Bilah (Blade) pedang untuk serangan yang mengalir, dari satu arah ke arah yang lain. Serangan ini memang ditujukan melebar saat menyerang, demi menyebarkan luka pada musuhnya.

Sementara Thrusting adalah serangan menusuk, yang ditujukan pada area vital pada bagian tubuh lawan. Serangan ini memiliki jarak lebih jauh, dan langsung lurus menuju titik yang dituju. Jika terkena dan tembus, maka organ vital lawan bisa langsung terluka, dan duel lebih mudah dimenangkan.

Bertahan dan Melawan Balik

Teknik bertahan pun ada beberapa, tetapi yang terpenting adalah Deflect alias Parry. Teknik ini tidak hanya mengeblok dan menangkis serangan lawan, tetapi mengarahkannya Bilah tajamnya ke arah yang diinginkan. Jika berhasil, maka tubuh akan aman dari serangan, dan musuh terhenti serangannya. Jika serangan terhenti tapi tetap berbahaya, pihak yang bertahan dapat memilih menghindar (Dodge) saja, dan mengamankan posisi baru dengan Guard dan Stance-nya.

Teknik lanjutan dari bertahan, adalah setelah mengeblok dan menangkis, maka akan dilanjutkan dengan serangan dari pihak yang bertahan (alias Counter Parry). Pihak yang berhasil menangkis, bisa memanfaatkan momen setelah Bilah lawan teralihkan, sementara lawan sudah kesulitan atau tidak bisa bertahan. Maka, serangan ini bisa lebih berhasil mengenai lawan, dengan keadaan lebih aman daripada kuda-kuda sebelumnya.

Bahkan di akhir musim anime ini, terdapat pula satu teknik bertahan yang sangat sulit, yaitu menangkis panah. Teknik ini tidak berlandaskan fiktif, tetapi memang ada dalam Katalog Teknik dari HEMA. Coba dicek saja videonya di YouTube, saat seorang ahli berpedang tanpa Perisai (Shield), menangkis serangan anak panah yang ditembakkan padanya. Teknik yang sangat sulit, tetapi jadi bahan Flexing di anime ini.

Banting tulang ala Sensei (YouTube).
Teknik Lanjutan

Teknik lanjutan ini ada beberapa arti, yaitu berbagai teknik yang tidak sesuai standar. Banyak yang menganggap standar diatas memiliki kemuliaan karena masih berlandaskan teknik. Namun, dengan taruhan antara hidup-mati, maka teknik lanjutan bisa dilaksanakan pula. 

Feint alias Gerakan Tipu adalah sejenis teknik lanjutan, saat ahli berpedang mengarahkan gerak senjatanya, tetapi tidak ditujukan sesuai standar tekniknya. Teknik ini ditujukan untuk menipu lawan, agar salah arah dan posisi saat bertahan dan menangkis serangan. Gerakannya memang sulit dilaksanakan, tetapi memang cocok sebagai teknik lanjutan.

Contohnya saja adalah saat seorang menggunakan High Guard dengan pedang yang ada diatas. Lalu dia mulai menyerang dengan gerakan Menebas (Slashing), tetapi sesaat sebelum serangan berakhir, dia menarik tangannya ke arah belakang. Dengan posisi pedang yang berada di Mid Guard, musuh yang terkecoh dengan tangkisan keatas, teknik serangan pun beralih menjadi Menusuk (Thrusting). Organ vital lawan di pusat tubuh pun menjadi taruhannya.

Bahkan ada gerakan lain yang sangat pecicilan, yaitu mencengkeram tangan atau Bilah lawannya, demi menghentikan gerakannya. Ya, gerakan yang terlihat licik ini, memang ditujukan untuk mengalahkan musuh tanpa teknik berarti. Penyerang bisa mencengkeram tangan musuh, yang langsung terhenti begitu saja. 

Bahkan jika sudah terlatih, bisa mencengkeram Bilah musuhnya, seperti sempat dicontohkan pada video di beberapa kanal YouTube. Nama tekniknya adalah Sword Handling, yaitu saat ahli pedang mencengkeram pedang pada bagian (Bilah) tajamnya. Jika sudah terlatih, maka tidak sulit untuk melaksanakannya, bahkan untuk menahan serangan lawan. Tentu, dengan bantuan sejenis sarung tangan berbahan kulit, atau bahkan logam (Armor).

Dari anime ini pun ditunjukkan beberapa teknik yang terlihat licik, seperti menarik mantel lawan, mengunci dan mencongkel bagian guard (bagian antara Handle pedang dan Bilah), hingga menendang lawannya. Ya, teknik berpedang memang bisa dilaksanakan dengan Full Body Contact, alias menggunakan seluruh bagian tubuh demi bertahan dan menyerang.

Armor yang sangat melindungi (Fandom Wiki).

Senjata dan Baju Zirah

Di anime yang seharusnya berjudul Beryl Gardenant Saga ini, ditunjukkan pula berbagai senjata khas Eropa, diantaranya adalah Longsword, Short Sword, Rapier, Claymore, Zweihander, Shield (Perisai), Bow and Arrow (Busur Panah), dan bahkan Belati (Dagger).

Senjata tergantung dari tipe ahli berpedang, ukuran dan beratnya. Panjang serta pendeknya senjata memang menentukan teknik apa yang bisa digunakan. Tipe Longsword yang menjadi standar, maka seluruh gerakan bisa dilaksanakan. Tetapi Short Sword yang lebih pendek, maka penggunanya harus bergerak lebih maju untuk mencapai dan menghalangi jangkauan Longsword.

Senjata pun perlu sering diperbaiki, karena berpengaruh pada kemampuan dan daya serang ahli berpedang. Pedang yang banyak tergores, teriris pada Bilahnya, hingga tumpul dan bahkan patah, tentu tidak dapat digunakan dengan baik. Dari anime ini, ditunjukkan pula adegan pedang saat rusak hingga terbelah, serta cara memperbaikinya.

Baju Zirah pun ditunjukkan, dengan berbagai tingkatan tentunya. Terdapat armor ringan seperti baju biasa (sejenis Gambeson), armor menggunakan kulit (Leather Armor) yang cukup ringan dan mampu menahan serangan, hingga armor kelas berat seperti zirah dari logam, layaknya Plate Armor. Dan jangan lupa, Perisai digunakan pula sebagai bagian dari pertahanan, yang perlu menguasai teknik tertentu agar efektif.

Chivalry alias Sikap Ksatria

Nah, kali ini adalah topik yang lebih berbudaya, yaitu dengan peran seorang Guru (Kensei), Ahli Pedang (Kenshi) dan Ksatria (Samurai  atau Knight). Memiliki kemampuan khusus berpedang, berarti mengisi peran khusus pula di institusi dan masyarakat. 

Dalam anime ini, Beryl Gardenant memang seorang ahli berpedang yang bekerja sebagai guru, demi menurunkan ilmunya. Sementara Allucia yang merekrut Gardenant, adalah seorang komandan di Pasukan Kerajaan Revelis. Muridnya yang lain, Lysandra mengisi peran sebagai Petualang (Adventurer) di Serikat (Guild), yang lebih berperan dalam berburu monster berbahaya.

Ketiga peran diatas ternyata cukup seimbang dengan penggambaran Monarkinya, yaitu dengan peran para Ksatria dalam menjaga serta membantu urusan Royalti. Mereka sering diminta untuk menjadi penjaga bangsawan, atau sekedar berburu monster berbahaya di sekitar kerajaan. Para anggota Monarkinya pun tidak berbuat aneh-aneh, selain yang memiliki peran sebagai tokoh antagonis.

Bahkan di satu adegan, mereka memiliki budaya khusus. Yaitu, saling bertukar hadiah satu sama lain. Bukan hanya sekedar simbol kedekatan (Politik), tetapi saling berkontribusi satu sama lainnya. 

Contohnya adalah memilihkan pedang yang dibuat dari hasil buruan Serikat, yang tentunya diselesaikan oleh Beryl Gardenant dan Lysandra. Allucia pun sempat memilihkan pakaian formal ala bangsawan bagi Gardenant, demi mengisi peran saat kunjungan kerajaan berlangsung.

Magis Ala Low Fantasy

Di anime ini, ada beberapa pula karakter yang bisa menggunakan magis, walau tidak seheboh anime lain. Contohnya adalah sihir yang dilaksanakan oleh Ficelle (satu angkatan dengan Curuni), yang bisa mengikat dan mengekang lawannya sekaligus. Kehadiran monster pun menjadi satu kisah yang menarik, contohnya adalah Gryphon yang diburu oleh Lysandra dan Gardenant. 

Tetapi kehadiran Magis sebenarnya cukup besar di dunia anime ini, yaitu saat cerita beralih pada jurus yang dapat menghidupkan mayat (alias sejenis zombie). Bahkan saat Beryl berduel dengan Lucy (yang menjabat sebagai Ketua Magic Corps), dirinya sama sekali tidak sanggup melawannya. Berbagai jurus magis mematikan sanggup membasmi Beryl, yang dihentikan oleh Lucy karena hanya sekedar mengetes dan duel jalanan saja.

Itu Harfiah arti Breast Plate-nya (Fandom Wiki).

Kekurangan Teknik di Ossan Kensei 

Nah, sekarang perlu membahas kekurangan anime ini, khususnya pada bagian duel yang berlandaskan HEMA. Terdapat beberapa gerakan yang sebenarnya dilarang oleh HEMA, namun tetap dimunculkan dalam anime ini. Memang anime yang masih berlatar fantasi, sehingga tidak heran juga, walau referensi bagusnya masih sangat realistis.

Pertama adalah gerakan memutar yang dilaksanakan oleh banyak karakter. Gerakan ini ditujukan untuk mempercepat serangan atau menghindar, namun memunculkan posisi belakang tubuh. Posisi punggung adalah daerah vital yang berbahaya jika diserang, karena itu banyak Stance dan Guard ditujukan saat berhadapan langsung dengan lawan.

Kedua adalah lanjutan dari gerakan memutar. Biasanya di dunia HEMA, saat seorang ahli terpaksa memunculkan punggungnya pada musuh, berarti dirinya telah melaksanakan gerakan yang salah. Serangan yang terlalu melebar (alias Overswing) adalah akibatnya, yang menyebabkan ahli berpedang menyerang dengan sembrono, dan tidak bisa kembali ke posisi bertahan.

Ketiga adalah gerakan saat kedua pihak yang berduel, malah saling mengunci senjata. Walau agak minim ditunjukkan (dan terlalu sering di anime lain), tetapi gerakan ini cukup berbahaya. Banyak teknik yang dilaksanakan, apalagi mengacu pada Full Body Contact, agar kedua pihak tidak terkunci pada satu posisi saja. Menendang atau menggenggam tangan dan senjata lawan, adalah contohnya. Duel harus dilaksanakan mengalir, karena posisi kedua Duelist yang terlalu dekat, sangatlah berbahaya.

Terakhir adalah satu yang sangat pecicilan, yaitu banyaknya Waifu di anime ini. Maksudnya bukan penggambaran karakter wanita, tetapi pakaian yang mereka gunakan. Jika mengecek Armor yang dikenakan oleh karakter pria, maka terlihat cukup modis dan realistis. Sementara wanitanya, malah memakai Armor yang terlalu terbuka (dan seksi). 

Bahkan, Rose yang menggunakan armor lengkap pun, memiliki kekurangan sendiri. Selain tidak menggunakan Helm (karena ini Anime), bagian Breastplate-nya harfiah menunjukkan bentuk Buah Dada. Seharusnya, Breastplate memang Armor yang dipasang di bagian dada, dengan bentuk cembung dan melingkar. Bentuk tersebut bukan modis saja, melainkan baik untuk membalikkan posisi Bilah senjata saat terkena serangan.

Belah Saja Dadaku! (Fandom Wiki).

Penutup

Okeh, segitu saja setelah panjang lebar. Memang anime yang mengherankan bagi penulis, karena cukup realistis dalam penggambaran duel ala HEMA-nya. Tokoh utama Beryl yang sudah tua ini pun cukup menarik, karena tidak aneh dan pecicilan ala banyak tokoh utama di anime (yang kebanyakan remaja).

Jadi, silahkan saja nonton anime ini, yang rasanya berbeda dan menarik ceritanya, karena bertokoh utama Kensei Beryl Gardenant, sang guru berpedang yang telah berumur 45 tahun.

Okeh, Ciao.

Memahami Kisah Pein Akatsuki yang Mengetes Jinchuuriki dari Naruto

 

Pein atau entah siapa ini (Narutopedia).

Okeh, saatnya membahas kisah anime yang sebenarnya saya kurang suka, berjudul Naruto dengan sudut pandang dari Pein sang Akatsuki-nya. Sebelumnya saya ingin mengaku, bahwa dulu berhenti baca manga Naruto tepat saat Arc Akatsuki berakhir, karena kecewa dengan ceritanya. Jadi, penulis tidak membaca atau menonton recap saja dari YouTube untuk cerita di 4th Shinobi War. Dan akhirnya, kisah Akatsuki menjadi bahasan yang tepat di artikel Monsterisasi ini.

Daripada membahas ceritanya yang jelas penulis tidak baca seluruhnya, mungkin lebih baik merekomendasikan satu lagu yang sangat penulis suka. Ya, judulnya adalah Wind dari penyanyi Akeboshi. Lagu ini bisa disebut kebalikan cerita Naruto semenjak Shippuden, dan bahkan dari segi pemahaman penulis sendiri (khusus di Blog ini).

Lagu ini bahkan sempat diterjemahkan dengan lebih mendalam (karena berbahasa Inggris) dalam blog lain penulis. Namun, konsep blog sudah berbeda dari yang sekarang. Jadi, fokus saja pada pemahaman visual dan narasi yang dimiliki (dan sempat pro) dari seluruh observasi dan pengalaman penulis.

Jabat tangan saja cukup, kan? (Narutopedia).

Militer di Naruto

Bagi penggemar Naruto, tentu paham bahwa ninja di manga ini adalah sejenis organisasi militer, yang melindungi satu negara. Setiap negara memiliki struktur ninja-nya sendiri, lengkap dengan desa dimana pelatihan diawali sejak shinobi atau kunoichi masih berumur muda. Misi yang dijalankan kadang tidak berujung gelut, tetapi fungsi utamanya tetaplah sejenis militer.

Nah justru di artikel ini, penulis ingin membahas dari sudut pandang Pein, sang pendiri Akatsuki yang menjadi musuh utama Naruto. Menurut penulis, kisah Pein dan Akatsuki-nya adalah sejenis Benchmark, yang difokuskan pada kekuatan militer. Tujuan Pein alias Nagato saat merubah Akatsuki ke jalur sesat, adalah untuk mengajarkan dunia mengenai kepedihan (semata), sekaligus membasmi kekuatan militer di seluruh dunia.

Sangat pecicilan kan niat Pein dengan Rinnegan-nya? Ya, tapi coba ditelaah dari sudut pandang militernya. Mengacu pada berita heboh saat ini, coba dipikirkan saja tentang sebuah negara dengan kekuatan militernya. Saat masalah di perbatasan tiba, tentu kekuatan militer menjadi jawabannya. Namun, bagaimana dengan saat damai nan sejahtera? Justru itu maksud artikel ini.

Di saat damai, organisasi militer milik negara manapun tetap mengejar kekuatan pasukan tempurnya. Entah itu dari personil, persenjataan, kendaraan, hingga kelengkapan taktiknya. Itu pun dengan banyak dana dan waktu didistribusikan khusus untuk organisasi ini, dari dana negara tentunya. Seakan, misi menumpuk kekuatan militer adalah benchmark tersendiri, mirip saat ngoprek benchmark PC dengan segala perangkatnya.

Para Bijuu dan Hagoromo (Narutopedia).

Bijuu dan Jinchuuriki

Nah dari situ, itulah yang dimaksud oleh Pain dan cerita Naruto dari Masashi Kishimoto. Walau dari segi cerita agak kurang, namun benchmark semacam ini menjadi patokan setiap negara di Naruto. Kekuatan ninja dengan chakra dan hasil jurus adalah kuncinya, yang entah kemana perginya setiap samurai yang ada. 

Lalu, apa yang menjadi kunci kemampuan setiap negara? Kalau di naruto, berarti mahluk chakra murni bernama Bijuu, alias monster berekor. Banyak negara, termasuk diantaranya adalah desa Konohagukure (Daun) di negara Hi No Kuni (Api), memiliki Jinchuuriki-nya sebagai ninja yang dirasuki oleh Bijuu. Tujuannya agar chakra murni ini bisa dikendalikan dan difungsikan sebagai kekuatan militer.

Lalu Pein punya inisiatif tersendiri, yaitu menculik semua Bijuu dan Jinchuuriki, agar dapat dibuat sebagai Juubi, alias monster chakra berekor sepuluh. Apa tujuannya? yaitu membasmi seluruh ninja di setiap negara, agar menciptakan dunia yang damai dan ideal bagi Pein. 

Sudut pandang yang terlalu idealis dari Pein, dan memang berujung anarkis. Pein yang memiliki banyak jurus terlarang nan sakti, ternyata kacau jalan pikirannya. Seakan, mengingatkan beberapa pihak (di dunia nyata) yang terlalu militan dalam menjalankan narasi dan aksinya, sehingga berujung anarkis saja (dan melanggar etika, moral, normal, serta hukum). Ya, termasuk segala jenis media, entah itu fiktif atau warta berita.

Kaguya yang ingin kekal cantik abadi (Narutopedia).

Akhir Kisah yang Hina

Lucunya, rencana Pein ini sesuai dengan Orochimaru dan Madara Uchiha. Bagi Orochimaru, memiliki jawaban atas sumber asal kemampuan chakra, adalah pertanyaan terbesar hidupnya. Sementara Madara, ingin memiliki kemampuan melebihi itu semua. Orochimaru-lah (dengan sosok Kabuto) yang menggunakan Edo-Tensei untuk menciptakan Perang Ninja Keempat, sekaligus memanggil Madara dari persemayaman dirinya.

Lucunya lagi, setelah Madara berhasil menjadi Jinchuuriki bagi Juubi-nya, tiba pula Kaguya sang Dewi Bulan. Dewi yang satu ini ternyata asal muasal dari seluruh chakra di Bumi, yang menjawab pertanyaan terbesar dari Orochimaru alias Kabuto. Madara pun ikut menjadi korban berikutnya, yaitu menjadi wadah saja bagi Juubi dengan tujuan utama Kaguya, yaitu menyerap seluruh energi Bumi. 

Nah, bagaimana dengan Pein yang sebelumnya merencanakan ini (dan sempat hidup sesaat akibat Edo Tensei)? Justru disitulah letak paling miris nan ironis ala Naruto dari Masashi Kishimoto. Pein, Orochimaru, dan Madara hanyalah pion dari rencana aseli Kaguya. 

Padahal, Dewi cantik nan caem ini (secantik bulan) seharusnya menjadi sosok ibu mereka, karena Kaguya adalah sumber aseli dari seluruh kekuatan chakra di Bumi. Jadi, entah apa maksud Masashi Kishimoto, yang merubah kesan Kaguya menjadi tokoh jahat di Naruto. Mungkin, mangaka ini kagok dengan kesan militer di Naruto, sehingga sekalian saja dibuat ironis.

Ya, seakan seluruh kejadian dari awal cerita para Shinobi dan Kunoichi di banyak negara, hanyalah pion saja dari Dewi Kaguya demi melancarkan aksinya. Sebuah bidak kecil di militer, yang layaknya sebuah permainan papan catur, memang hanya satu alat saja. Namun, bagaimana para pemain (dan penghuni aseli) menjalankan taktiknya, sehingga permainan pun dapat dimenangkan dengan pergerakan para bidaknya. 

Sedikit Penutup

Ya sekali lagi, memang sebuah kisah pecicilan dari dunia militer sana, khususnya dari anime yang rame gelut dan drama personalnya. Sedalam dan semengerikan apapun juga wacananya, memang tidak bisa dilancarkan begitu saja dengan aksi sejahat atau se-idealis itu. 

Layaknya manga dan anime Naruto, yang membuat seluruh Otaku kembali menjadi Wibu, dan menganggap dunia nyata dan fiksi bisa dihadapi dengan cara idealis atau militan saja. Ya, layaknya sehelai daun (Konoha) di negara Hi No Kuni (Api).

Okeh, Ciao.

13 April 2026

Terjebak dalam Wahana Balon Udara Setinggi Angkasa di Film Turbulence

 

Emmy yang kesulitan setelah hampir jatuh (TMDB).

Saatnya membahas film unik nan cukup langka di sinema Indonesia, berjudul Turbulence yang tayang di minggu kedua bulan April ini, dengan rating film berumur Dewasa (D17). Film ini sebenarnya telah rilis akhir tahun lalu di AS sana, dan baru mulai tayang di Indonesia sejak bulan April.

Film yang diproduksi oleh Lionsgate ini memang berbeda, yaitu kisah terjebak dalam wahana balon udara (panas), dengan ketinggian cukup tinggi. Tampaknya Lionsgate mencoba mengembalikan animo film lama, dengan mengisahkan para pendaki gunung yang terjebak di ketinggian. Contohnya adalah film Cliffhanger bersama Sylverster Stallone dari tahun 1993, lalu ada Vertical Limit dari tahun 2000.

Satu film yang menarik adalah 127 Hours dari tahun 2010 lalu. Film yang diperankan oleh James Franco dan disutradarai oleh Danny Boyle (waralaba film zombie 28) ini, adalah adaptasi dari kisah nyata seorang pendaki bernama Aron Ralston. Pendaki yang sial ini terjebak saat mendaki gunung terpencil di Utah, AS. Dirinya perlu bertahan selama 127 jam lamanya, dibawah terik matahari dan kurang suplai makanan serta air. Untungnya Ralston sempat terselamatkan, walau dengan kekurangan tertentu.

Film Fall dari Lionsgate

Sebelum membahas film Turbulence, lebih cocok lagi dengan membahas film Fall terlebih dahulu, yang tayang tahun 2022 lalu dengan rating Remaja (R13). Film yang sama-sama diproduksi oleh studio Lionsgate ini, memiliki latar dan animo yang mirip, yaitu saat sedikit orang terjebak di lokasi terpencil nan tinggi. 

Dari cuplikannya, film Fall menyajikan kisah dua wanita pendaki, bernama Becky Connor (Grace Caroline Currey) dan Shiloh Hunter (Virginia Gardner). Keduanya adalah penantang maut, dengan menaiki sebuah menara telepon setinggi 700an meter, yang sudah tua dan karatan. 

Walau keduanya berhasil mendaki hingga puncak, bahkan hingga berfoto (wefie) bareng, namun naas terjadi. Saat akan turun kembali ke darat, tangga yang sudah rapuh malah terpotong, dan menyebabkan Becky hampir terjatuh. Untungnya Shiloh yang masih berada di puncak, terikat talinya dengan Becky dan sempat membantu naik kembali.

Berbeda dengan area gunung, keduanya memang tidak bisa memasang paku serta tali yang menjadi standar pendakian. Usaha bertahan hidup selama berjam-jam dibawah terik matahari, angin, serta cuaca yang berubah-rubah di tengah gurun pun, menjadi tantangan hidup-mati bagi Becky dan Shilloh. 

Sinopsis Film Turbulence

Zach (Jeremy Irvine) dan Emmy (Hera Hilmar) adalah sepasang suami istri yang sedang berbulan madu kedua. Rekreasi ini dilaksanakan demi mendekatkan pasangan kembali, setelah sempat lama renggang. Keduanya memang memiliki pekerjaan yang berbeda, sehingga sempat tidak sering bertemu.

Mereka berinisiatif untuk menaiki wahana Balon Udara Panas, yang awalnya berjalan baik-baik saja hingga ketinggian lima ribu meter. Namun seorang wanita bernama Julia (Olga Kuryler) tiba-tiba Tantrum dan berlaku ala Karen dari AS sana. Sambil menodongkan pisau, Julia bertanya pada Zach, apakah dirinya benar-benar telah melupakan dia.

Sementara itu, terjadi pergolakan berbahaya diatas ketinggian tersebut. Karena berjibaku dengan kurang senonoh di lahan sempit, mesin pemanas udara diatas balon tertarik talinya. Akibatnya, balon naik menuju ketinggian yang tidak masuk standar anjuran keamanan.

Lebih berbahaya lagi, tali yang ditujukan untuk mengatur panasnya udara menuju balon, tertarik hingga tidak bisa digapai tangan. Emmy yang badannya cukup ringan pun membantu dengan menaiki sisi balon, namun gagal dan malah tergelincir, walau terselamatkan oleh tali pengekang.

Sanggupkah Harry (Kelsey Grammer) sang pemandu wahana mendamaikan situasi penuh drama ini? Hingga akhirnya sampai ke darat dan semua berhasil selamat. Atau malah berujung mematikan bagi semuanya, diatas ketinggian berbahaya dengan penuh dendam kesumat?

Jawabannya, tentu ada di ranah tantangan keselamatan diri dan keluarga ala sinema Indonesia.