Tampilkan postingan dengan label Rating R13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rating R13. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2026

Menjaga Potensi Keluarga Ala Film Tunggu Aku Sukses Nanti

 

Arga dan keluarganya yang sangat menempel erat (TMDB).

Berikutnya adalah film remaja berjudul Tunggu Aku Sukses Nanti, yang tayang menjelang Lebaran di sinema Indonesia. Ya, film ini memang memiliki rating R13, dan cocok bagi yang galau pas Lebaran nanti. 

Cocok dengan tema film sebelumnya, film ini mengisahkan tentang apa yang terjadi setelah lulus sekolah nanti. Ya, tokoh utama dalam film ini sempat menganggur (kerja resmi) dalam waktu lama, dan memilih berwirausaha sebagai Kang Mie Ayam selama tiga tahun lamanya. Memang bukan keseharian biasa, karena momennya tepat saat kumpul keluarga besar yang penuhrasa cemas.

Arga dan Mie Ayam

Membahas Arga (Ardit Erwandha) yang sering menjadi cibiran keluarga, akibat nilainya yang jelek saat kecil, hingga perlu menganggur setelah lulus kuliah, mungkin menjadi perihal masalah bagi banyak pemuda-pemudi saat ini. 

Apalagi, banyak mahasiswa dan mahasiswi saat ini, yang perlu langsung mengikuti jenjang pendidikan S2, demi lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Ssetelahnya, mereka malah membangun sejenis startup atau UKM, setelah banyak berkenalan dengan teman se-profesi di kuliah magister ini. 

Kembali ke soal pengalaman dan biaya, para pemuda-pemudi ini perlu dukungan tambahan untuk mengikuti jenjang S2, hingga memulai usahanya. Maka, latar keluarga adalah solusinya.

Nah, itulah yang terjadi pada Arga dalam film ini. Dirinya yang sulit mendapatkan pekerjaan, memilih untuk berjualan Mie Ayam. Bahkan terdapat satu adegan lucu pada cuplikannya, saat Arga ditanya oleh personalia mengenai pengalamannya selain masak mie ayam. Arga akhirnya menjawab, bahwa pengalamannya lainnya adalah masak pangsit (kering atau basah) yang tidak ada hubungannya. 

Penulis pun merasa heran, karena Mie Ayam adalah salah satu favorit pribadi. Entah kenapa, pangsit (basah atau kering) sering tidak dimasukkan ke dalam menu mie ayam. Padahal, enak banget loh...

Ada satu adegan pecicilan lain yang menarik dari cuplikannya. Yaitu saat Arga bercerita tentang sulitnya mencari kerja kepada temannya yang sudah diterima kerja, Mereka langsung berpendapat bahwa karakter Arga harus sedikit dirubah. Ya, sering banget penulis mendengar komentar seperti ini saat menjelang kelulusan terdahulu, yang entah apa maksudnya karena gak jelas sama sekali (?).

Oh ya, ada satu adegan yang perlu ditelaah, yaitu kehadiran cameo Afghansyah Reza dalam film ini sebagai karakter Dwiki. Bagi yang mengenalnya (apalagi ibu-ibu), tentu tahu se-ganteng dan se-keren apa aktor dan penyanyi yang satu ini, yang sempat naik pamornya saat awal 2010an lalu. 

Oh ya (lagi), karakter Dwiki telah bekerja di SCBD, alias Jalan Sudirman di Jakarta yang terkenal dengan pusatnya di Bundaran HI. Lokasi perkantoran yang sangat bergengsi, yang entah kenapa Arga perlu mengejar karirnya sejauh dan setinggi itu (?).

Walau begitu, Tante Yuli (Sarah Sechan) yang sering mencibir Arga dalam momen kapan pun juga, ternyata memberi nasihat yang baik. Yaitu Arga seharusnya berprinsip untuk membantu, dan bukannya menjadi pembantu. Ya, nasihat yang cukup mendalam, apalagi di jaman pencari kerja saat ini.

Yah, ada sih satu lagi, yaitu istilah 'kapan kawin' saat kumpul keluarga sedang dilaksanakan. Tetapi, animo yang satu ini perlu dijelaskan dalam sinopsisnya saja ya... (serius, film ini Indonesia banget)

Sinopsis Film Tunggu Aku Sukses Nanti

Arga (Ardit Erwandha) sudah tiga tahun menganggur lamanya. Selama ini, dia bekerja sebagai Kang Mie Ayam Bu Rita, yang kurang porsi pangsitnya. Sudah terbiasa sejak kecil, Arga memang menjadi cibiran keluarga besar saat kumpul. Apalagi, saat ini keluarga utamanya memang masih menumpang di rumah nenek, tidak seperti paman dan bibinya yang telah tinggal terpisah.

Keadaan rumahnya pun semakin memburuk, dengan adiknya yang bernama Alma (Adzana Shaliha), berpotensi terpaksa berhenti kuliah akibat biaya. Ayahnya (Ariyo Wahab) bahkan perlu menjual motor, demi menambah biaya kuliah Alma. Bahkan saking butuh biaya, keluarga dan keluarga besar berencana untuk menjual rumah kediamannya, demi mengisi kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, Arga pun masih berencana untuk mengawini pacarnya, karena sudah lama saling mengikat hubungan.

Sanggupkah Arga melewati seluruh masalah tersebut? Akankah Arga diterima kerja dan membantu keluarganya? Atau malah beralih memfokuskan bisnis Mie Ayam-nya hingga sukses dan makmur?

Jawabannya, tentu ada di drama keluarga nan kocak dan terenyuh ala sinema Indonesia.

09 Maret 2026

Mengenang Masakan Rumah Ala Ibu di Film Number One

 

Sosok anak dan ibu yang memasak bersama di dapur (TMDB).

Dan terakhir untuk film luar negeri menjelang Lebaran, adalah film yang sangat cocok untuk mengisi sisa Ramadhan ini. Judulnya adalah Number One, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating umur R13.

Sesuai judul artikel, film ini berkisah rasanya menyicipi masakan rumah, yang dibuat oleh ibu sendiri. Dari segi ini, apalagi di bulan Ramadhan yang diisi dengan sahur dan berbuka, tentu sering mengonsumsi banyaknya masakan ibu di rumah.

Empat Sehat Lima Sempurna

Karena mengacu pada masakan rumah, dan penulis tidak akan membahas tentang resep sahur dan berbuka puasa, maka ditelaah melalui konsep pola makan saja.

Menurut penelitian yang dilansir dari Antara, masakan rumah memiliki index gizi lebih tinggi. Secara konvensional, semakin makmur hidup seseorang, maka semakin sehat pula dirinya. Namun menurut penelitian di AS sana yang dijabarkan oleh Arpita Tiwari, justru hasilnya berbeda dengan konsep tersebut.

Penelitian mengikutsertakan 400 warga Seattle dalam pola makan harian, lalu mengeceknya melalui Indeks Makan Sehat (IMS), dan hasilnya ternyata cukup mencengangkan. Nominal IMS yang mencapai angka 80, adalah tingkatan gizi baik. Sementara IMS yang berada dibawah 50, berarti gizinya buruk.

Mengacu pada ibu hingga nenek yang memasak tiga kali seminggu di rumah, justru menunjukkan indeks kesehatan rata-rata 67. Sementara yang memasak enam kali seminggu, mencapai index kesehatan 74. Itu berarti, semakin sering memasak dan melahap makanan di rumah, dapat mencapai pola makan dan gizi yang lebih sehat.

Indeks kesehatan biasanya berkaitan dengan penghasilan, pendidikan, dan status sosial. Namun ketiga faktor tersebut tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan sederhana, yaitu memperbaiki pola makan sehat dengan secara rutin memasak di rumah.

Kembali ke Indonesia, dan seperti menurut Kementerian Kesehatan, konsep empat sehat lima sempurna diterapkan untuk menjaga pola makan bergizi dan sehat. Makanan pokok sebagai sumber karbohidrat, lauk-pauk sebagai sumber protein, buah dan sayur sebagai sumber vitamin dan mineral, serta meminum air putih yang cukup, adalah faktor empat sehat lima sempurna. 

Konsep ini ditambah pula dengan beraktifitas fisik minimal 30 menit sehari, dan mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir.

Nah, bagaimana dengan film Number One yang mengisahkan masakan ibu di rumah? Justru disitulah letak uniknya. Penulis sendiri tidak bisa menggambarkan banyak, karena genre selingan kehidupan (slice of life) memiliki khas drama tersendiri, yang hanya bisa diresapi saat langsung menontonnya. 

Sinopsis Film Number One

Film ini sebenarnya kerjasama antara Jepang dan Korea Selatan. Film diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, sementara naskahnya diadaptasi dari novel karya novelis Jepang bernama Sora Uwano, dengan judul The Number of Times You Can Eat Your Mother's Cooking is 328.

Ha-min (Choi Woo-shik) adalah seorang siswa berumur 18 tahun, yang tiba-tiba melihat angka imajiner lewat pandangannya. Setiap kali dia memakan masakan ibunya yang bernama Eun-sil (Jang Hye-jin), jumlah angka itu terus menurun. Hingga akhirnya angka tersebut mencapai nol, saat ibunya meninggal dunia.

Bertahun-tahun kemudian, belum ada yang tahu momen Ha-min saat melihat angka tersebut. Namun pacarnya yang bernama Ryeo-eun (Gong Seung-yeon), sempat bertanya apa yang membuatnya irit saat mengonsumsi makanan, bahkan saat keadaan pesta sekalipun. Ha-min terpaksa mulai berkisah, tentang kenangan lama sebelum ibunya meninggal.

Apakah Ha-min berhasil menguak apa dibalik maksud angka imajiner tersebut? Jawabannya tentu ada di pola makanan sehat ala sinema Indonesia.

Beruang Eksotis Ala Jackie Chan di Film Panda Plan: The Magical Tribe

 

Jackie dan Huhu yang senang lompat (TMDB).

Daaan, berikutnya adalah film remaja yang mengembalikan kemampuan aksi ala sepuh Jackie Chan, dalam film Panda Plan: Magical Tribe. Film yang akan tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran ini, memang memiliki rating R13.

Jackie Chan yang Akrobatik

Jika membahas film anak dan panda, tentu harus mengacu pada sang beruang anomali ini. Namun film Panda Plan lebih menggambarkan keahlian asli sang sepuh Jackie Chan, dengan gaya akrobatiknya. Jika ingin lebih menelaah tentang beruang hitam putih ini serta segala keanehannya, dapat dicek di artikel ini saja.

Cuplikan film pertamanya dari tahun 2024 saja, sudah cukup menarik. Jackie Chan disini berperan sebagai dirinya sendiri, alias aktor beladiri terkenal yang sudah sepuh. Bahkan, aksi gelut biasanya tidak keluar sama sekali, dan mengandalkan akrobatik situasional yang berujung komedi. 

Ya, film ini memang mengisi aksinya dengan gaya komedi yang khas sepuh beladiri dari China ini. Perlu diingat pula, bahwa Jackie Chan memang berlatar seorang pemain Opera Tradisional China, dan tidak memiliki latar beladiri. Sehingga cocok dengan aksi-komedi ini.

Di film Panda Plan pertama, Jackie sudah menjadi figur terkenal di China, dan tengah mengikuti sebuah acara pameran konservasi. Jackie pun digadang untuk mengadopsi seekor anak panda, yang akan dijaganya seumur hidup. Namun entah kenapa, terjadi serangan dari sekelompok kriminal, yang ingin menculik panda tersebut. Jackie dengan aksi khasnya, perlu melawan balik dengan kocak.

Nah di film keduanya bersub-judul Magical Tribe, diramaikan dengan bertualang di alam liar. Selain menyelamatkan Huhu sang panda kecil nan jinak, Jackie perlu melawan balik para suku pribumi di pedalaman. Gaya khas komedi-aksinya kembali, ala filmnya terdahulu. 

Tampaknya film Panda Plan ini mengacu pada satu film aksi Jackie Chan saat masih muda. Ya, judulnya adalah Who Am I? dari tahun 1998 lalu, saat Jackie memerankan tokoh yang hilang ingatannya, lalu tersesat di alam rimba Afrika, dan sempat diselamatkan oleh suku pribumi. 

Aksi gelutnya yang unik, ternyata cukup membuka lebar mata dunia. Banyak sineas perfilman hingga Hollywood, menghargai aksi ala Jackie Chan di film ini. Film Who Am I? memang dirilis bertepatan dengan Rush Hour di tahun yang sama, sehingga menambah pamor Jackie Chan di seantero dunia.

Okeh, bagaimana dengan kisah Huhu dan Jackie di film Panda Plan kedua ini?

Sinopsis Film Panda Plan: Magical Tribe

Jackie Chan kini tinggal bersama Huhu di dekat belantara hutan rimba. Namun, Huhu yang nakal malah melarikan diri menembus hutan. Hingga akhirnya kedua sahabat beda spesies ini tiba gerbang ajaib nan magis, tepat berada di pusat sebuah pohon tinggi.

Keduanya tiba di ranah rimba lain, yang dihuni banyak suku pribumi lokal. Akibat salah paham, Jackie dan Huhu harus berjibaku dengan suku pribumi, untuk menyelamatkan diri. 

Sebenarnya suku pribumi tidak bermaksud jahat sama sekali kepada Jackie dan Huhu. Mereka mengagungkan panda sebagai titisan dewa. Layaknya binatang yang dipuja, Huhu diterima sebagai mahluk yang sakti nan eksotis. Jackie pun bingung, karena harus bergelut dengan kerasnya kepala para warga pribumi, sekaligus mencari cara untuk keluar dari hutan rimba.

Bagaimana aksi berikutnya bagi Jackie yang sudah sepuh dan berumur 71 tahun ini? Tentu jawabannya ada di konservasi sinema ala Indonesia.

05 Maret 2026

Memahami Tony Stark Saat Melawan Ultron dalam Film Avengers: Age of Ultron

 

Ultron yang aselinya GG (Wiki).

Okeh, menyambut banyak topik berita selama beberapa minggu terakhir, yang tidak jelas membawa ke arah mana dunia ini, maka coba kita cek secara simbolis saja. Penulis tidak akan eksplisit dalam menjabarkan berita yang mana, namun simbolis dengan mengangkat film lama yang cocok, berjudul Avengers: Age of Ultron (2015). 

Jujur saja, Age of Ultron bukan satu favorit penulis, apalagi jika dibandingkan seri Avengers, atau standar film Marvel lain. Namun, demi minat dan kepentingan artikel Monsterisasi, maka penulis mencoba untuk mengangkat film ini sebagai simbol dari suatu bentuk kekisruhan dunia.

Tony Stark dan J.A.R.V.I.S. di Marvel Cinematic Universe

Tentu para penggemar komik Marvel telah paham, bahwa rata-rata karakter di MCU telah di-nerf alias dilemahkan daripada versi komiknya. Melemahnya karakter sesuai dengan perkembangan awal karakter, sekaligus kebutuhan cerita dan plot filmnya.

Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang memulai ini semua dalam film Iron Man (2008), justru memiliki andil tersendiri. Tidak hanya memulai kisah MCU, namun menjadi asal-muasal banyak kisruhnya dunia. Sebelum membahas bagaimana Tony menciptakan Ultron, maka perlu dibahas saat Stark masih berkecimpung bersama J.A.R.V.I.S. Bahkan sebelumnya, saat Stark masih bermasalah sebagai broker persenjataan dunia.

Bagi yang ingat, tentu paham se-cunihin apa Stark ini. Dengan statusnya sebagai biolioner, Stark terkenal di dunia Marvel sebagai teknokrat dan penyuplai senjata kepada AS. Hingga suatu momen bersejarah merubah pandangan dirinya, saat Stark tersandera akibat serangan bom di Timur Tengah sana. Disana, dia berhasil membuat baju zirah Iron Man, hanya dengan sisa teknologi saja.

Di banyak film berikutnya, yaitu film Iron Man 2 (2010) dan Iron Man 3 (2013), lalu Avengers (2012) dan Age of Ultron (2015), Stark selalu bertingkah ala pria yang ingin tobat, walau masih perlente. Dengan berhasil menciptakan reaktor energi tanpa batas bernama Arc, Stark mengalihkan fungsi perusahaannya menjadi konversi energi bagi dunia. Suplai persenjataan pun dihentikan, sekaligus dengan terbuka mencanangkan diri sebagai Iron Man.

Di banyak latar cerita pula, akhirnya terbuka se-jenius dan se-paranoid apa sebenarnya Stark. Banyak konten hingga meme di Inet, yang menjabarkan bahwa Stark selalu merubah kesalahan dia di film sebelumnya, lalu memperbaruinya di film terbaru. 

Nah, selama Stark mengoprek seluruh keahliannya, dia dibantu oleh sejenis asisten AI bernama J.A.R.V.I.S. atau sebut saja sebagai Jarvis (Paul Bettany). AI ini memiliki nada suara yang lembut, alias soft-spoken. Suaranya yang netral, cocok sebagai mitra keseharian yang damai, daripada Pepper Potts (Gwyneth Paltrow). 

Jarvis inilah yang menjadi asal muasal Ultron, yang akan dibahas menyeluruh dalam artikel ini. Sekaligus, terciptanya Vision sebagai avatar yang lebih cocok dari Jarvis.

Vision dan Ultron

Ultron (James Spader) adalah sejenis AI yang diciptakan oleh Stark, namun hanya menerima banyak masalah saja. Ultron diciptakan sebagai kebalikan dari Jarvis, yang lebih mengacu ke persenjataan. Namun seperti kebanyakan film AI yang terlalu adaptif, Ultron pun belajar bahwa manusia-lah yang perlu dibasmi (?). 

Masalah pun semakin berkembang saat Ultron berhasil merebut Mind Stone, yaitu bagian dari Infinity Stones yang tidak terelakkan kemampuannya. Untungnya lagi, tubuh robot dan Mind Stone berhasil direbut kembali oleh Avengers, sehingga Jarvis sebagai AI yang lebih stabil, dapat terunggah. Terciptalah Vision (Paul Bettany) berbahan Vibranium, yang sangat kuat dan mampu menanggulangi apapun juga (selain Thanos). 

Nah, bagaimana dengan maksud artikel ini yang kentara penggambaran antara Stark dan Ultron? Justru disitulah letak uniknya. Penulis perlu mengacu sekuat apa sebenarnya Ultron, apalagi jika dibandingkan versi komiknya.

Di komiknya, Ultron bukan hanya ancaman tingkat Avengers, melainkan tingkatan galaksi. Ultron dalam komik sebenarnya diciptakan oleh Henry 'Hank' Pym (Michael Douglas), yang dikenal dalam MCU sebagai pencipta Ant Man dan portal Quantum Realm. Namun di komik, Pym dikenal sebagai 'wild card' alias 'semi-villain' alias kacau balau. Walau sempat bergabung dengan Avengers, Pym memiliki sejarah kekerasan yang parah, serta ciptaannya sering mengancam bumi.

Ultron dalam komik, seharusnya hanya dapat ditanggulangi oleh Vision, Captain Marvel (Brie Larson), dan Guardian of Galaxy sekaligus. Kemampuan Ultron untuk menyusup ke dalam teknologi apapun, dapat mengancam bumi dan bahkan luar angkasa. Ultron yang diciptakan pada tahun 1968 lalu di komik, bisa jadi referensi awal Skynet di seri Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019).

Namun, mengapa tokoh antagonis sekuat Ultron hanya menciptakan arena duel saja di negara fiktif Sokovia, ala MCU?

Tony Stark sebagai Ultron

Penulis tidak ingin menggambarkan Age of Ultron sebagai film yang mengangkat plot dan mengenalkan karakter baru saja. Memang, terdapat karakter seperti Vision, Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) yang baru dikenalkan. 

Namun, penulis menelaahnya dari segi psikologis penciptanya sendiri, yaitu Stark. Seorang mekanik eksentrik ini memang memiliki sisi paranoid, yang membuatnya terus menciptakan kreasi baru. Khususnya, Stark seringkali membuat baju zirah Iron Man terbaru, demi menambah kemampuan apapun. Bahkan di Avengers: Infinity War (2018), Stark berhasil memakai Iron Man dengan teknologi Nano.

Sayangnya, sisi mental Stark memang belum pernah sembuh sama sekali, sejak dulu. Diawali dengan piatu, saat dirinya kehilangan ibu, lalu ayahnya sendiri hingga yatim piatu. Stark adalah seorang penyendiri sejati. Lebih parah lagi, selama berkarir di Stark Industries, dengan bangganya Stark menyuplai inovasi senjata bagi AS, melalui Jenderal Ross (William Hurt, Harrison Ford). Alias, Make America Great Again.

Sisi gelap selama banyak dekade, telah merusak mental Stark sebagai seorang pria. Sisi perlente, sok narsis dan percaya diri berlebihan Stark adalah kedok saja, karena selama ini kurang percaya dengan dirinya sendiri, apalagi dunia di sekitarnya. Bisa disebut, selain Captain America (Chris Evans), hanya Stark-lah yang secara terbuka mengenai identitas pahlawan supernya. Itupun semacam persona baru, yang telah lama bersalah dengan banyak operasi oleh AS. 

Nah, apa hubungannya dengan Ultron? Disitulah letak berbahayanya. Ultron adalah penjelmaan sisi kelam dan negatif dari Stark. Karena berfungsi sebagai robot AI persenjataan, Ultron sebenarnya dapat dikendalikan dengan lebih tepat. Namun, sisi gelap Stark tercampur dalam fungsi Ultron, dan menyebabkannya kurang terkontrol.

Lalu, bagaimana dengan Sokovia? Disitu pula letak kelemahan lain dari Stark. Ultron masih memiliki sisi Narsistik ala Stark, yang menyebabkan dia membuat arena khusus di Sokovia. Setelah gagal menciptakan tubuh baru dengan Mind Stone, sisi tidak mau kalah meruak muncul. Ultron hanya menciptakan banyak robot baru (yang tidak setara dirinya), lalu mengirimkan ke Sokovia sebagai pusat penelitian Hydra, lalu menantang bertarung dengan Avengers.

Ultron memang diciptakan demi menanggulangi tingkat ancaman Avengers, namun sisi tidak mau kalah Stark, berarti disalah-artikan sebagai kompetisi saja. Kisah seperti ini, mirip dengan sisi lain Batman dari DC Comics. Batman memiliki sejenis fail-safe, demi menghalau seluruh anggota Justice League yang memberontak. Dengan mengalahkan Avengers, maka Bumi dapat diamankan oleh dirinya saja. 

Jika Ultron berhasil mendapatkan Mind Stone, maka dirinya mungkin menerima semacam 'wangsit' lainnya. Contohnya adalah kedatangan Thanos, Galactus, dan banyak mahluk antar-dimensi yang mengancam bumi. 

Layaknya Ultron adalah penggambaran lain, dari sisi Dr. Doom di Fantastic Four. Walau berperan sebagai antagonis utama, namun Dr. Doom sangat ingin melindungi Bumi. Memang terlalu totalitarian, namun Dr. Doom di komik sampai berhasil membangun sebuah negara, yang khusus ditujukan demi menghalau ancaman bagi Bumi dari pihak luar angkasa.

Nah, karena itulah sebelum Doomsday akhirnya tiba, dan Robert Downey Jr. yang membuka wajahnya saat Comic-Con 2024 lalu sebagai Dr. Doom, hype dari film Doomsday semakin menggila. Apalagi, dari penggemar MCU yang sudah sangat paham mengenai sisi karakter ini. 

Ya, Ultron memang seharusnya menjadi seorang antagonis yang pintar, dan bukannya bertindak pecicilan ala Stark.

Okeh, tampaknya perlu diakhiri dengan meme terkenal saja dari YouTube. 

Doomsday is Coming.

Doomsday is Coming (Reddit).

03 Maret 2026

Sekuel Terakhir dalam Horornya Film Danur: The Last Chapter

 

Riri yang sudah gemulai saat menari (TMDB).

Berikutnya adalah film horor yang meramaikan kembali bagusnya sineas perfilman Indonesia di akhir tahun 2010an, berjudul Danur: The Last Chapter. Film ini memiliki rating umur R13, dan tayang di sinema Indonesia saat menjelang libur Lebaran mendatang. 

Adaptasi Novel Karya Risa Saraswati dan Indigo

Film ini adalah hasil adaptasi dari novel karya seorang artis terkenal, bernama Risa Saraswati. Selama ini, Risa berkecimpung sebagai penulis novel dan kreator konten, yang khas dengan kemampuan paranormal dan supernaturalnya.

Walau tentu ditulis dengan imajinasi tambahan, namun Risa menyebutkan bahwa dirinya adalah anak indigo saat masa kecilnya, sehingga menambah bumbu anehnya horor sejenis ini. Judul novelnya adalah Gerbang Dialog Danur, Maddah, dan Sunyaruri. Ketiga novel mengisahkan imajinasi Risa saat masih kecil sebagai anak indigo, yang berplot utama persahabatan bersama teman imajiner.

Bagi yang belum tahu, anak indigo selalu dideskripsikan dengan karakter yang memiliki kemampuan khusus atau berbeda dengan lainnya. Tidak bisa langsung disebut jenius, namun anak indigo memiliki khasnya masing-masing. Jika ditelaah, maka kemampuan anak indigo paling kentara adalah intuisi tajam, kecerdasan cukup tinggi, kreatifitas melebihi lainnya, serta berwatak empati dan independen. 

Namun menurut dunia kedokteran, anak indigo sebenarnya tidak masuk diagnosa manapun, dan hanya sejenis istilah saja. Tetap saja, perbedaan tersebut dapat menyebabkan anak indigo sering dianggap aneh oleh lingkungannya.

Trilogi Film Danur

Trilogi pertama film Danur, diantaranya adalah Danur (2017) yang diadaptasi langsung dari novel Dialog Danur, lalu Danur 2: Maddah (2018) yang diadaptasi dari novel Maddah, dan terakhir adalah Danur 3: Sunyaruri (2019) yang diadaptasi dari novel Sunyaruri. Bagi yang belum sempat menonton filmnya, bisa dicek melalui layanan siaran Netflix.

Film pertama Danur, mengisahkan Risa Saraswati (Asha Kenyari Bermudez, Prilly Latuconsina) yang telah dewasa, dan tengah menjaga sepupunya yang masih kecil, bernama Riri (Sandrinna Michelle). Khasnya film ini, adalah kehadiran sosok imajiner lain bernama Asih (Shareefa Danish), yang cukup mengerikan. 

Oh ya, dalam cuplikannya terdengar lantunan lagu Kakawihan Sunda, berjudul Boneka Abdi, yang diadaptasi dari lagu rakyat Jerman berjudul 'Hanschen Klein.' Ketiga film Danur memang sangat khas dengan referensi Buhun dari suku Sunda.

Di film keduanya, justru berfokus pada nama Danurnya itu sendiri, walau bersub- judul Maddah. Risa kini lebih sering menemani Riri, dengan tinggal bersama tantenya Tina (Sophia Latjuba), dan pamannya Ahmad (Bucek Depp). Risa harus tinggal bersama di rumah Riri, karena ayah dan ibunya yang sedang dinas ke Malaysia demi kepentingan bisnis. 

Wangi bunga Danur yang khas dari berbagai wilayah Jawa, adalah suatu jenis perantara 'jurig.' Sering terjadi kisah supernatural, yang berisi wewangian bunga. Terciumnya wangi ini tanpa adanya bunga aseli di sekitarnya, berarti tersirat kedatangan supernatural. Istilah Pamali dari khas Sunda pun sempat disebutkan dalam cuplikannya, yang berarti tidak boleh Sompral, alias sembarangan dalam membahas hal mistis.

Di film ketiganya yang bersub-judul Sunyaruri, justru berfokus pada perpisahan antara Risa dan teman imajiner masa kecilnya. Apalagi saat ini Risa telah menikah dengan Dimas Tri Adityo (Rizky Nazar), dan tinggal bersama. Namun, kekisruhan mistis mulai muncul di kediaman mereka, dengan banyak kejadian aneh yang mencelakai Dimas. Risa bahkan mencari paranormal, demi menutup kemampuan supernaturalnya dan mengamankan masa pernikahannya.

Sinopsis Film Danur: The Last Chapter

Nah, untuk film keempat Danur, justru tidak berlandaskan novel manapun. Namun tetap melanjutkan akhir cerita dari film sebelumnya. Risa yang telah lama tidak sanggup melihat teman imajiner-nya, kini dihantui rasa bersalah. Rasanya, kawan supernatural Risa sedang memberitahu sesuatu, yang dapat berujung bahaya bagi semuanya.

Sementara itu, Riri kini telah dewasa dan bekerja sebagai seorang penari balet. Walau memiliki potensi besar, namun kini Riri sedang galau, akibat segera menikah dengan Dimas Raditya Soesatyo (Dito Darmawan). Riri harus memilih, untuk langsung menikah atau melanjutkan karirnya. Namun, justru masalah itulah yang mengundang petaka lain. Kehadiran sosok mahluk dari dunia lain, mulai merusak hubungan antara Riri dan Dimas. 

Risa yang sudah merasakannya pun, semakin sering bermimpi buruk. Bahkan sempat terdengar sebuah pesan dari suara kawan imajiner lamanya. Yaitu, agar Risa segera kembali kepada mereka, dan Riri bisa terselamatkan.

Bagaimana akhir kisah Risa, Riri, dan kawan imajinernya di seri terakhir Danur ini? Jawabannya tentu ada di ranah dunia anak indigo ala sinema Indonesia.

18 Februari 2026

Memahami Mitologi China dari Episode How to Become Three Dragons

 

Tiga siluman ular yang berniat besar (Newhanfu).

Menyambut Tahun Baru China alias Imlek tahun 2577 dengan kalender bulannya, penulis justru mengecek mitologi sebelum jaman ini berlangsung. Tentu blog ini lebih membahas referensi budaya populer, khususnya film dan banyak media lainnya. Jika penulis membahas terlalu banyak khas budaya serta demografi aslinya, malah berubah menjadi blog Antropologi dan Teologi.

Nah karena itu, artikel ini akan membahas satu episode dari Zhong Guo qi tan (Yao Chinese Folktales), berjudul How to Become Three Dragons. Kisah yang lebih mirip folklor ini disajikan ala animasi modern sejak awal tahun 2026. Kisahnya sangat mengacu pada mitologi China dengan perbedaan antara siluman hingga dewa, dan hubungannya ke manusia.

Khong Hu Cu di Indonesia

Mengingat Imlek biasa dirayakan oleh umat Khong Hu Cu di Indonesia, yaitu kentara berasal dari etnis Tionghoa, maka perlu dibahas disini. Dilansir dari UGM, Khong Hu Cu adalah pengucapan Hokkien dari filsuf China bernama Kong Fuzi, atau terkenal dengan nama latinnya sebagai Confucius. Semenjak reformasi di akhir abad lalu, Khong Hu cu secara resmi diterima sebagai satu dari enam agama yang di Indonesia.

Khong Hu Cu di Indonesia pun berbeda dengan China sebagai negara asalnya. Di kuil China, atau biasa disebut sebagai Kelenteng, banyak umat berdoa tanpa perlu menunggu waktu khusus. Figur yang disembah adalah kombinasi dari tiga sistem kepercayaan besar dari China, yaitu Confucius, Dao, dan Buddha. Tiga komunitas berbeda di Indonesia menyatukan organisasinya dibawah Asosiasi Tri-Dharma.

Berbeda pula pandangan mengenai Tuhan Yang Maha Esa dari Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sekaligus negara aslinya di China, oleh warga penganut Khong Hu Cu. Yaitu konsep Tian yang artinya dalam bahasa China, berarti istilah surgawi. Bagi warga yang berasal dari agama monoteistik, maka Tian bisa diartikan sebagai Tuhan. Tetapi bagi umat Khong Hu Cu, Tian tidak memiliki atribut khusus, dan tidak berperan langsung pada kehidupan umat manusianya.

Memang, ideologi Indonesia lebih mengacu pada Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap saling bersatu sama lainnya.

Mitologi dan Folklor China

Karena di artikel ini membahas suatu cerita dari folklor China, maka cocok untuk membahas sedikit dasar dari Mitologi China. Walau media dari China saat ini lebih mengisahkan dengan heboh dan masifnya mitologi, namun justru di episode ini lebih mudah dicerna, karena mirip dengan dongeng ala daerah Indonesia.

Mitologi China berasal dari banyak mitos regional dan tradisi budaya, yang diwariskan turun temurun secara oral. Ceritanya mulai dari kisah menarik hingga suatu entitas dengan kekuatan magis. Bersama folklor, mitologi membentuk kepercayaan tradisional dan Dao di banyak kalangan warga China. Naratif dari cerita masa lampau mengacu pada karakter atau kejadian, yang di-interpretasi melalui perspektif sejarah atau mitologi.

Mitologi di china sangat erat hubungannya dengan konsep Li (Confucius) yang lebih mengatur tatatan sosial, dan Qi (Dao) yang lebih mengemukakan semangat spiritual. Dua konsep mendasar ini saling berkaitan dengan ritual sosial, yang dilaksanakan saat berkomunikasi, salam, dansa, upacara, dan pengorbanan.

Kisah Tiga Ular di How To Become Three Dragons

Kisah episode How To Become Three Dragons saat musim kedua Yao Chinese Folktales, memang sangat kentara dengan penjelasan diatas. Karena itu, penulis memulai artikel ini dengan menjelaskannya terlebih dahulu.

Kisahnya diawali ala hebohnya tiga warga siluman yang berbentuk ular. Mirip dengan kisah siluman lainnya, ketiga ular berinisiatif untuk mencapai level Dewa. Karenanya, mereka mulai mencari pengikut dengan menjaga suatu desa.

Kisah ketiga ular tentu tidak akan diceritakan sepenuhnya disini, karena akan menjadi spoiler. Namun, ada satu wacana tersendiri dari ketiga ular, yaitu dengan terus menjaga dan mengalirkan air menuju sebuah desa yang kekeringan, agar mereka semakin disembah.

Sayangnya, karena tingkah mereka yang pecicilan, Dewa Naga marah dan menyerang desa tersebut. Saking besarnyanya serangan kilat Dewa Naga, banyak rumah di desa tersebut lalu terbakar hebat. Ketiga ular tidak mampu melawan atau terlalu lemah untuk membantu warga desa. Hingga satu diantaranya langsung mengorbankan diri, dengan mengumpankan dirinya pada sang Naga. 

Namun saat serangan Dewa Naga berhasil membasmi sang ular, ledakannya malah menghancurkan batu yang menahan aliran air diatas gunung. Sungai dan airnya pun terbebaskan alirannya, dan berhasil memadamkan banyak rumah yang terbakar di desa, serta mengairi seluruh ladang warga.

Waktu pun berlalu setelah ketiga ular kalah dalam bencana tersebut. Namun, reinkarnasi ketiga ular muncul di kuil kecil yang disembah warga desa. Warga pun semakin bersyukur dan terus berdoa sepenuh hati di kuil tersebut, selama banyak generasi berikutnya.

Pendapat Penulis

Ya, memang suatu kisah yang sangat mencerminkan dongeng dan folklor, walau tidak se-epik kisah dari animasi China. Dengan penjelasan awal mengenai sebuah kepercayaan, yang asalnya dari mitologi dan folklore China, dan diakhiri dengan suatu animasi kartun saja, tentu dapat dipahami dari segi ini. 

Ya, sesuatu yang susah dinalar di dunia yang besar, dan hanya berisi kisah drama naik-turunnya kehidupan, selalu menjadi siklus kehidupan yang terus mengalir. Baik itu bagi manusia, hewan, tanaman, dan seluruh alam di sekitarnya.

Okeh, Zaijian.

Film Rekaman Horor Ala Indonesia Berjudul Taneuh Kalaknat

 

Siapakah yang Laknat sekarang? (TMDB).

Saatnya kembali ke film Nusantara yang kental dengan nuansa horornya, berjudul Taneuh Kalaknat, yang tayang di banyak sinema Indonesia. Judul film berating R13 ini, memang mengambil referensi dari bahasa Sunda. Maksudnya, Taneuh Kalaknat adalah Tanah Laknat.

Urban Exploration ala YouTuber

Ya, sebelum membahas film horor satu ini, yang kelihatan dalam cuplikannya sama seperti banyak film horor Indonesia, perlu ditelaah dari segi Urbex alias Urban Exploration. Urbex adalah sejenis kegiatan luar dan dalam ruangan, dimana satu orang atau beberapa orang sekaligus, melaksanakan penjelajahan di lokasi tertentu. Khusus untuk istilah ini, biasanya dilaksanakan di lokasi terbengkalai, walaupun berada di tengah atau dekat hunian yang ramai.

Kegiatan ini ternyata cukup ramai dilaksanakan oleh para YouTuber, sesuai dengan cuplikan dalam film Taneuh Kalaknat. Coba dicek saja di banyak kanal YouTube Indonesia, yang dimiliki oleh pemuda-pemudi nasional. Banyak diantara mereka, melaksanakan Urbex di lokasi yang tidak berpenghuni, terlihat ngeri dan seram, terbengkalai, tidak terurus, acak adut, dan bahkan sudah memiliki kuncen sendiri. Para YouTuber ini biasanya meminta ijin pada kuncen atau warga setempat, untuk melaksanakan kegiatan rekamannya.

Kegiatan menyeramkan ini merupakan kelanjutan dari animo terdahulu di televisi Indonesia. Ya, bagi yang mengingatnya, seakan terinspirasi dari acara Dunia Lain, saat tahun 2002 hingga 2004 lalu. Lokasinya yang jelas angker, walau pas siang terlihat tidak begitu menyeramkan, malah dijadikan satu lokasi Uji Nyali. Peserta yang mengikutinya, harus begadang semalam penuh di lokasi tersebut, layaknya jurit malam di pos ronda.

Banyak hasil rekaman uji nyali tersebut, menyebabkan banyak gejolak di khalayak ramai. Contohnya adalah sejenis penampakan hantu, benda yang bergerak sendiri, suara entah darimana, atau bahkan pesertanya didorong oleh mahluk tak kasat mata. Tidak hanya diganggu dengan hebat, kadang sesi uji nyali berakhir dengan peserta yang kesurupan. 

Di setiap episode Dunia Lain, selain meminta izin pada kuncen dan warga setempat, kru produksi selalu menghadirkan pula satu atau dua orang paranormal. Jika terjadi kesurupan, maka paranormal ikut membantu. Saat awal acara, justru paranormal diminta untuk menjelaskan lokasi angker tersebut. Berbeda dengan cerita banyak warga sekitar atau kuncennya, paranormal yang memiliki beda keahlian akan menjelaskan dengan kisah atau cara yang unik.

Nah, animo semacam ini yang tampaknya ingin diingatkan oleh film Taneuh Kalaknat ini. Namun berbeda dengan teknik solo karir yang suka dilaksanakan oleh YouTuber Indonesia, terlihat dalam cuplikannya memiliki satu tim lengkap. Menambah jumlah kru rekaman untuk konten YouTube, apalagi di lokasi angker, tentu menambah keamanan pula. Baik itu keamanan batin dari gangguan sejenis jin, atau mahluk buas di sekitar lokasi terbengkalai tersebut.

Oh ya, ada sekilas adegan yang memberi referensi pada film sejenis dokumenter Found Footage. Namun jika ditonton keseluruhan cuplikannya, justru lebih banyak adegan dengan rekaman stabilnya. Tampaknya animo found footage di Nusantara tidak begitu kentara terasa, baik bagi para sineas atau penggemar filmnya.

Untuk yang masih penasaran dengan sub-genre dokumenter found footage, sekaligus tips untuk melaksanakan Urbex, dapat mengecek artikel mengenai film Shelby Oaks di blog ini. Mungkin film ini mengacu pada format film Shelby Oaks, yang terdapat beberapa menit rekaman found footage, tetapi lebih banyak durasi dengan kamera yang stabil.

Sinopsis Film Taneuh Kalaknat

Dara (Adinda Thomas) adalah seorang gadis muda yang menyukai kegiatan horor. Bersama grup YouTuber-nya yang bernama The Eyes, dirinya sering menjelajahi lokasi angker demi melaksanakan kegiatan Urbex-nya. 

Setelah tiba di lokasi angker bernama Taneuh Kalaknat di daerah Pasundan, alias Jawa Barat, grup The Eyes malah berjibaku dengan banyak gangguan mistis. Dara bahkan sempat bertengkar dengan Monty (Nagra Kautsar Pakusadewo), agar tidak melanjutkan kegiatan rekaman. 

Ternyata sesosok kuncen yang menjaga lokasi tersebut, mulai memburu mereka. Hanya ada satu tujuannya, yaitu mengusir atau membasmi semua orang yang melanggar pantangan masuk ke tanah keramat ini.

Sanggupkah Dara dan kawanan The Eyes melarikan diri dengan selamat? Atau malah terjebak selamanya di lokasi Taneuh Kalaknat?

Jawabannya, tentu ada di area angker sinema Indonesia.

17 Februari 2026

Duo Film Kerajaan China yang Sama Epiknya: Blades of The Guardians, Three Kingdoms: Starlit Heroes

 

Topeng siapa ini? (TMDB).

Nah, ada kombinasi khusus di minggu ini, yaitu duo film dari China, yang khas ala epiknya jaman kerajaan terdahulu, berjudul Blades of The Guardians (D17) dan Three Kingdoms: Starlit Heroes (R13). Mungkin, perilisan kedua film ini untuk menyambut Tahun Baru China alias Imlek, di bulan Februari ini.

Walau keduanya memiliki referensi yang sama yaitu animasi, tetapi keduanya disajikan berbeda kali ini. Blades of The Guardians adalah film dengan aktor-aktris nyata, alias sejenis Live Action. Sementara Three Kingdoms: Starlit Heroes disajikan ala animasi, yang jelas tengah naik pamornya dari negara China sana.

Siapa pula ini anak kecil? (TMDB).

Film Blades of The Guardians

Film ini ternyata adaptasi langsung dari judul yang sama, namun berformat animasi dan dirilis serial berjumlah 15 episode, tahun 2023 lalu. Cuplikan serial animasinya tidak menjelaskan apapun, jadi langsung bahas adaptasi filmnya. Yang ternyata sama saja, cuplikannya tidak memberi tahu sama sekali plotnya (hehe). Dan sekali lagi, ternyata adegan kungfu bersenjata ala wuxian, sangat ciamik dengan koregrafi yang mantap. 

Entah apa maksud dari dua jenis adaptasi film Blades of The Guardians ini. Tampaknya memang hanya memancing saja dari segi adegan gelut mantap, biar tidak perlu berbelit-belit dengan plotnya. Ataukah ada plot besar dibaliknya? Biar penonton baru memahaminya setelah menonton hingga akhir? Entahlah... Karena sinopsis film masih berkutat pada cerita mengawal seorang kriminal berbahaya, yang langsung diadaptasi dari manhwa-nya.

Tetapi ada satu yang harus diingat, yaitu kembalinya sosok aktor kungfu terkenal dari China sana, bernama Jet Li yang berperan sebagai Chang Guiren. Aktor yang sebenarnya satu jaman dengan Jackie Chan ini, tidak begitu sering berkutat dalam perfilman China saat ini. Padahal Jackie Chan masih sering berperan, contohnya adalah tiga film yang dirilis pada tahun 2025 lalu.

Namun, kemunculan aktor yang telah berumur 62 tahun ini, tentu memberi angin segar bagi para penggemarnya. Jet Li adalah satu aktor yang sama-sama berasal dari akademi beladiri China. Berbeda dengan Jackie Chan yang berasal dari Opera Tradisional, Jet Li adalah seorang atlet Wushu saat masih muda, yang lalu berkarir sebagai seorang aktor.

Cao Cao yang mulai Epik (TMDB).

Film Three Kingdoms: Starlit Heroes

Sekarang saatnya format film yang sedang naik pamor di China sana, yaitu tersaji ala animasi 3D. Berbeda dengan film sebelumnya, Three Kingdoms: Starlit Heroes ini berlatar langsung sejarah China. Ya, tepatnya saat akhir Dinasti Han Timur, yang memulai Kisah Tiga Dinasti Kerajaan China. Bagi yang suka dengan sejarah China, pasti mengenal masa ini. Ketiga Dinasti Kerajaan seringkali bertikai dalam sebuah peperangan besar, yang semakin meramaikan epiknya sejarah China. 

Penulis cukup heran mengenai cuplikannya, karena rating filmnya ternyata R13, alias remaja bisa ikut nonton. Mungkin bagian dari kurikulum sekolah China, yang sidaj mengenalkan langsung cerita sejarahnya.  Atau karena formatnya animasi 3D, yang lebih mudah dicerna mata dan diterima oleh banyak kalangan, khususnya China dengan banyak syarat sensornya.

Di film ini, berfokus pada Jenderal Cao Cao (Tan Jianci), yang menguasai Kerajaan Utara China. Cao Cao berhasil menduduki kursi Kaisar, setelah meruntuhkan Dinasti Han yang sebelumnya berkuasa. Cao Cao berhasil meraih singgasana kerajaan, karena sebelumnya berjasa saat peperangan besar di Guandu. Nah, seluruh adegan film ini, berlatar kisah dan peran Cao Cao selama masa peperangan Guandu, hingga akhirnya berhasil menduduki tahta kerajaan. 

Jenderal Cao Cao dalam sejarah aslinya, memiliki andil dalam melindungi tahta kerajaan dari berbagai pihak keluarga dinasti yang bertikai. Selain itu, Cao Cao seringkali menang saat melancarkan kampanye merebut wilayah, dari utara hingga pusat China. Hingga akhir hayatnya, Cao Cao dikenal sebagai tokoh pionir yang memulai momen bersejarah Tiga Dinasti Kerajaan di China.  

Entah seberapa banyak referensi sejarah yang diadaptasi dalam film epik ini. Tetapi dari nama Cao Cao saja, sudah cukup memberi animo yang jelas. Istilahnya, sosok Cao Cao adalah seorang prolog, dari besar dan masifnya peperangan di jaman Tiga Dinasti Kerajaan China. Animo ini sudah terasa kolosal di jaman aslinya, hingga sekarang.

12 Februari 2026

Lebih Memaknai Karakter Son Dalam Film Linda Linda Linda

 

Anggota Paranmaum yang ingin konser (TMDB).

Berikutnya, saatnya mengakhiri kisah mengerikan di minggu ini, dengan film yang baru saja diperbarui hingga 4k, berjudul Linda Linda Linda. Ya, memang judul filmnya kurang cocok dengan istilah Monsterisasi, tetapi cukup menarik jika dicek latarnya. Terdapat analisis khusus, mengenai perbedaan industri Jepang dan Korea, khususnya semenjak jaman modern. Analisisnya pun cukup brutal, jadi ada sedikit sosok monster dibaliknya.

Oh ya, penulis mau konfirmasi pula, bahwa sebenarnya baru menonton film Linda Linda Linda, setelah merekomendasikan dalam artikel lainnya di Blog Sedia Saja. Bahkan jika diingat-ingat, memang genre musikal Pop-Rock adalah minat saya sejak lama. Sekaligus, mengingat momen terdahulu pas jaman SMA. Selain itu, kayaknya teman sekelas cewek jaman SMA, pernah minta untuk menonton Linda Linda Linda. Mungkin hanya sekedar obrolan, jadi kurang bisa mengingatnya.

Walau film ini cukup dingin dan santai pembawaannya, cukup nyambung dengan minat saya. Layaknya drama dari Jepang sana, memang tidak seheboh anime-nya. Bahkan saking dinginnya setiap momen (walau lucu), penulis merasa adegan di film ini sangat mirip dengan cara ngobrol sehari-hari, apalagi jaman SMA terdahulu. Karena itu ketika film diakhiri dengan dua tayangan lagu, semakin kagum saja setelah selesai menontonnya. 

Bae Doona sebagai Son dan Personil Paranmaum

Bae Doona adalah aktris ternama dari Korea Selatan, yang berperan sebagai Son di film Linda Linda Linda, yang semakin melambungkan namanya. Hingga kini, Bae Doona telah berperan di banyak film Korea Selatan terkenal, contohnya adalah The Host (2006), Silent Sea (2021), dan serial terkenal Kingdom (2019-2020). 

Bahkan Bae Doona sempat pamor namanya di Hollywood sana, dengan film Jupiter Ascending (2015), dan Rebel Moon (2023) dari sutradara ternama Zack Snyder. Pokoknya jika membahas Bae Doona, maka akan mengenal sosok aktris ternama, sekaligus aktris internasional.

Sementara anggota lain dari grup band Paranmaum, memiliki banyak peran pula di Jepang sana. Aki Maeda sebagai Kyoko Yamada alias sang drummer, sempat berperan dalam film kontroversial Battle Royale (2000, 2003). Yuu Kashii sebagai Kei Tachibana alias sang gitaris, berperan di film Death Note (2006) dan My Boss My Hero (2006) yang penuh nostalgia. 

Terakhir adalah Shiori Sekina sebagai Nozomi Shirakawa, yang sebenarnya tidak berperan sebagai aktris. Melainkan dirinya telah bekerja sebagai bassist sebuah band, sesuai dengan perannya di film Linda Linda Linda.

Pertukaran Pelajar Jepang dan Korea Selatan

Nah, Son dari Korea Selatan, sebenarnya tidak cukup nyambung dengan karakter lainnya, yang asli dari Jepang. Namun karena konflik internal band, Son sebagai murid pertukaran pelajar, lalu direkrut sebagai vokalis. Son yang kurang mengenal banyak kosakata Jepang, ternyata sanggup bernyanyi pula. Bahkan girlband ini merubah namanya menjadi Paranmaum, yang artinya adalah Blue Hearts dalam bahasa Korea. 

Mengapa film Linda Linda Linda banyak yang suka, hingga bahkan sutradaranya yang bernama Nobuhiro Yamashita meraih penghargaan sutradara terbaik di tahun 2006? Jawabannya ternyata cukup dalam, yaitu film ini memberi dampak budaya langsung bagi Jepang dan Korea Selatan.

Ya, bagi yang suka Jepang dan Korea Selatan, tentu tahu mengenai ketegangan industri diantaranya keduanya. Banyak produk dari Jepang, tidak diterima di Korea Selatan akibat sejarah kedua negara. Sehingga, banyak perkembangan berbeda antar keduanya.

Paling kentara, adalah produk ponsel Samsung dari Korea Selatan, dengan Sony dari Jepang. Keduanya sempat meramaikan Indonesia, namun sangat kentara kompetisi keduanya. Industri mobil pun cukup bersaing, yaitu banyak merk otomotif dari Jepang, sementara Korea Selatan mengandalkan Hyundai-nya. 

Fans Jepang dan Studio Animasi

Nah, hubungannya dengan film ini pun cukup kentara, yaitu segi dunia hiburannya. Perkembangan industri hiburan cukup terpisah, contohnya saat Jepang dengan sinematografi tradisionalnya, sementara Korea Selatan yang heboh ala film Hollywood.

Salah satu perbedaan paling terasa, ada di dunia gaming-nya. Ya, saat Jepang sangat bersemangat untuk menyebarkan konsol gimnya, contohnya Nintendo hingga Playstation, namun produk tersebut tidak beredar di Korea Selatan. Sehingga, negara di semenanjung Korea ini memilih produk lainnya, yaitu lebih berlandaskan gim PC. 

Bagi yang melanglangbuana di dunia gaming, tentu tahu sehebat apa Korea Selatan di kompetisi digital. Hingga kini, Korea Selatan sering menjuarai banyak kompetisi internasional gim, sejak jaman Counter Strike pertama. Tidak hanya itu, adalah pesatnya MMORPG sebagai industri khas Korea Selatan. Hingga kini, ranah gim MOBA berjudul League of Legends (dari Eropa), masih menjadi animo terbesar di Korea Selatan.

Tentu perkembangan ini berbeda dengan distribusi gim konsol ala Jepang, dengan banyak gim offline-nya. Namun, ternyata keduanya sempat disatukan, sejak gim MMO berjudul Ragnarok Online, yang dirilis pada tahun 2002 lalu. Gambarnya yang lebih imut daripada gim kebanyakan, serta grind-nya yang keterlaluan, ternyata menarik bagi banyak pemain Jepang.

Perkembangan pun berlanjut hingga tahun 2020an sekarang. Bagi penggemar film animasi atau anime, tentu tahu sebesar apa pengaruh serial Webtoon berjudul Solo Leveling di Jepang. Bahkan jika para penggemar (ala Wibu dan Otaku) mengecek kredit akhir anime dari studio Mappa dan Madhouse, ternyata banyak anggota dari Korea Selatan. Hal itu membuktikan, bahwa perkembangan berbeda industri kedua negara, malah menyatukan keduanya saat ini.

Jadi, akulturasi budaya populer antara Jepang dan Korea Selatan di masa kini, sangatlah damai dan terasa. Tentu, tidak sekontras jaman sebelumnya. Dan karena itu, banyak fans dari Korea Selatan dan Jepang, sangat menghargai film Linda Linda Linda, sebagai pionir dalam menyatukan kedua negara industri ini.

Paranmaum (Blue Hearts) dan Khas Punk-Rock

Okeh, memang kisah yang berdampak bagi budaya Jepang dan Korea Selatan. Namun, bagaimana dengan cerita filmnya sendiri? Ya, film ini memiliki momen berbeda di akhir film. Tidak begitu aneh dan bahkan bukan spoiler, karena memang akhirnya adalah lagu saja (hehe).

Namun, perlu ditelaah dari lagu yang dibawakannya, yaitu dua lagu dari band Punk-Rock Jepang tahun 80an, bernama Blue Hearts. Band ini memang betulan genre Punk-Rock lama, yang sangat kentara dengan kerasnya vokal, layaknya lagu Trash yang banyak Noise-nya. Bagi yang sudah mendengar lagu Linda Linda versi asli dari Blue Hearts, pasti sanggup memahaminya. Perlu dipahami pula, bahwa genre Punk-Rock dalam musik, memang berada di tingkatan anti-mainstream (saat itu), namun tetap disukai penggemarnya.

Nah, khas Punk-Rock yang acak adut ternyata cocok bagi personil Paranmaum. Padahal, anggota girlband ini cantik semua dan menjalani kisah Romansa SMA. Son, Kyoko, dan Kei bahkan memiliki kisah cintanya sendiri. Terkecuali sang bassist Nozomi, yang terkenal pemalu.

Bahkan ada satu adegan lucu untuk romansa SMA ini. Son yang ketiduran saat menjaga gerai pertukaran budaya Korea Selatan dan Jepangnya, diminta melalui surat untuk datang ke lokasi gudang. Lokasi ini terkenal, sebagai tempat untuk menyatakan cinta pada cewek, saat Festival Budaya atau Pentas Seni berlangsung di sekolah Jepang.  

Bahkan dalam adegan ini, sang cowok berbicara bahasa Korea, demi menyatakan isi hati pada Son. Namun Son dengan tingkahnya yang nyentrik, hanya dapat menjawab (dalam bahasa Korea), bahwa dirinya ingin berlatih nyanyi sebagai vokalis Paranmaum saja, bersama teman-temannya. Dirinya pun kembali keluar lokasi gudang, yang disambut langsung anggota Paranmaum lainnya.

Nah, kisah di akhir film ini ternyata cocok dengan gaya Punk-Rock, namun khas ala pembawaan cewek. Paranmaum yang ketiduran akibat begadang untuk berlatih, akhirnya telat untuk sampai ke sekolah, dan perlu melewati hujan deras, demi sampai di gymnasium sebagai lokasi panggung. Bahkan Son sempat jatuh, akibat genangan air sambil lari terburu-buru. 

Keempatnya pun dengan baju basah nan lusuh, rambut yang belum mengering, perlu langsung mengisi panggung dengan dua lagunya. Adegan akhir ini layaknya Punk-Rock yang memang setelannya berantakan, namun sanggup manggung dengan hebat dan energetik. 

Oh ya, karakter suara dan logat Son yang khas dari Korea Selatan, ternyata cocok untuk kedua lagu dari Blue Hearts. Memang jika dibandingkan dengan logat khas Jepang yang lebih nyaring dan cempreng, logat khas Korea lebih berat dan dalam.

Lagu Linda Linda dan Uwaranai Uta dari Paranmaum

Kedua lagu yang di-cover oleh Paranmaum dari Blue Hearts, ternyata sangat cocok sebagai akhir dari kisah ini. 

Lagu Linda Linda yang dibawakan sangar oleh band aslinya, ternyata cocok dengan penggambaran film ini. Seakan, seluruh jawaban romansa SMA mereka, dapat dijawab dengan lagu ini. Beberapa karakter cowok yang dekat atau menyatakan isi hati kepada anggota personil Paranmaum, hanya bisa ikut moshing atau mengangguk bersenandung bersama lagu ini.

Lagu terakhir berjudul Uwaranai Uta, alias Endless Song, alias Lagu Tanpa Akhir, ternyata dapat menjawab semuanya, dan bahkan cukup wholesome. Dicek saja lirik lagunya, yang menjawab semua kegalauan jaman sekolah terdahulu. Seakan perjuangan selama ini, dapat terjawab dengan cara mendoakan semuanya, bahkan bagi mereka yang karakternya cukup sulit diterima. 

Akulturasi Budaya memang Indah, tetapi saya cuman ingin bersama teman-teman saja.

Stay on the Brightside, Brothers...

"Hehe, maaf ya...," ujar Son (YouTube).

03 Februari 2026

5 CM Per Second versi Live Action Muncul di Sinema Indonesia

 

Akari dan Takaki yang Gaje (TMDB).

Saatnya menikmati dirilisnya karya Sensei Makoto Shinkai berjudul 5 Centimeters Per Second, yang diadaptasi ala aktor-aktris nyata alias Live Action. Ratingnya pun masih sama, yaitu R13 alias remaja. Film yang dirilis awal bulan Februari 2026 di sinema Indonesia, cukup berbeda dengan versi anime. 

Makoto Shinkai tidak ikut berandil dalam produksi Live Action-nya. Bagi yang ingin mengecek beberapa film anime hasil karya Makoto Shinkai, bisa membaca artikel referensinya di Blog ini. Sensei Shinkai memang sudah senku sebagai sineas di perfilman Jepang, khususnya drama dengan banyak karya hebat, yang semuanya dimulai dari film anime 5 Centimeters Per Second ini.

Drama Live Action di Jepang

Nah, bagi yang agak risih dengan istilah Live Action, menurut penulis sih tidak perlu ragu untuk menontonnya. Justru karena tema anime ini adalah Drama Romansa pemuda-pemudi Jepang, maka akting yang ditampilkan lebih natural, dengan karakter yang realistis. Biasanya drama semacam ini di ranah perfilman Jepang, justru lebih kental dengan budayanya sendiri, dan berbeda dengan hebohnya anime.

Penulis sempat menonton beberapa anime yang kurang layak diadaptasi sebagai Live Action, contohnya adalah Attack on Titan (2015), yang berakhir Cringefest. Padahal AoT tidak seperti kebanyakan anime, yaitu atmosfernya yang serius, brutal, dan dingin, karena berlatar cerita militer. Namun, di AoT Live Action, malah jadi cringefest yang kurang nyambung sama sumber cerita aslinya.

Contoh karya lama bergenre drama dari Jepang, adalah film One Liter of Tears di tahun 2005, dan My Boss My Hero di tahun 2006. Keduanya memang menyajikan cerita yang bisa dikategorikan sebagai kisah drama sehari-hari, namun tetap menyanyat hati karena cukup dalam momennya. 

Versi Anime dan Live Action

Nah sesuai khasnya karya Makoto Shinkai, maka banyak latar tempatnya yang mengambil referensi lokasi di dunia nyata, dengan penggambaran yang tepat dan mendetail. Visual animenya pun sangat ciamik, dengan warna dan pencahayaan yang hangat, layaknya sebuah lukisan hidup.

Dari segi cerita, mungkin dijabarkan lebih panjang dan mendetail lagi. Jujur, penulis kurang ngeuh saat menonton anime 5 Centimeters Per Second ini, apalagi kurang terbiasa dengan drama romansa. Namun ceritanya cukup dingin, dengan adegan yang kurang begitu nyambung. Alias anime ini layaknya sebuah timeline saja, tanpa adegan dialog atau drama yang kentara. Justru karya Makoto Shinkai setelahnya, lebih banyak menggambarkan adegan yang lebih heboh.

Apalagi dengan durasinya yang hanya sekitar satu jam, maka adegan pun kurang dramatis. Nah karena itu di artikel sebelumnya yang membahas anime ini, justru penulis hanya menganjurkan untuk mendengarkan lagu di akhir film, berjudul One More Time, One More Chance. Maksudnya ada beberapa kekosongan adegan di anime ini, yang terisi saat lagu ini dimainkan di akhir film.

Segitu saja membahas versi animenya. Lalu, bagaimana dengan versi cerita Live Action-nya? Justru tidak begitu terlihat dalam cuplikannya, namun bisa dicek saja pada durasinya. Ya, film di tahun 2026 ini justru berdurasi dua kali lipat, alias dua jam. Menurut penulis, daripada seluruh kekosongan cerita justru berada di akhir film dengan lagunya, film ini akan diisi dengan banyak adegan yang lebih kentara di seluruh durasi penayangannya.

Realistisnya Cerita 5 Centimeters Per Second

Nah penulis tetap akan membahas, bahwa kisah di film ini sangat realistis. Saat masa muda yang penuh gejolak, hingga melangkah menuju dunia dewasa dan segala kesibukannya, hubungan komunikasi dan batin akan menjadi suatu halangan tertentu, atau terhalang oleh sesuatu.

Seperti kisah di 5 Centimeters Per Second, dimana karakternya telah kasmaran sejak berumur kecil. Namun, keduanya terpisah oleh jarak dan waktu. Ceritanya lalu berlanjut tentang kisah Long Distance Relationship (LDR), lalu mulai Lost Contact (LC), dan akhirnya tidak kenal sama sekali. Bahkan keduanya mungkin tidak akan kenal lagi dengan wajahnya, walau bertemu langsung. 

Keduanya memang digambarkan dengan alurnya masing-masing. Kedua karakter utama, yaitu Akari (Noa Shiroyama, Mitsuki Takahata) dan Takaki (Haruto Ueda, Yuzu Aoki, Hokuto Matsumura), melalui jalan hidup yang berbeda satu sama lainnya, semenjak terpisah. Keduanya sempat berhubungan dengan surat menyurat, walau akhirnya hilang kontak saat jaman ponsel tiba. 

Terdapat pula karakter ketiga lainnya, yaitu bernama Kanae Sumida (Nana Mori), yang sempat mengisi kekosongan Takaki saat masih bersekolah SMA, dan telah hilang kontak dengan Akari sejak lama. 

Bahkan, cerita ini berlanjut hingga Takaki yang telah dewasa, kuliah dan mulai bekerja di kota yang sama dengan Akari. Walau begitu, momen galau keduanya tetap disajikan berbeda. Kota yang telah dianggap (oleh Takaki) sebagai dunianya Akari, membuat dirinya tertekan akan masa lalu. Coba dicek saja, bagaimana perubahan Takaki di film ini, saat dirinya menginjak umur dewasa, dan kembali bernostalgia tanpa Akari.

Nah segitu saja, dan jangan heran bahwa artikel ini mengisahkan semuanya. Kenapa? Karena berbeda dengan film lain yang lebih Dramatis dan Epik sekaligus, film Romansa dan Drama ini justru tidak begitu 'Liar' ceritanya, dan mementingkan adegan yang lebih 'Relate' dengan penontonnya. Ya sekali lagi, adegannya memang cukup wajar namun nyambung, seperti khas karya drama dari Jepang sana. Jadi bagi yang menontonnya, harus lebih menjiwai setiap adegan yang muncul di layar.

Okeh, saya pun bingung. Sayounara!

29 Januari 2026

Tanpa Batasnya Simbol Saat Gelut Saitama vs Boros di One Punch Man

 

Saitama vs Boros (Fiction Horizon).

Hehe, saatnya membahas satu anime yang sangat kentara dengan referensinya, OPM alias One Punch Man. Bagi para penggemar anime, tentu tahu bahwa OPM adalah parodi dari segala jenis anime, khususnya Battle Shonen atau Super Hero. 

Namun menurut penulis, ada satu adegan yang sangat kentara simbolismenya, daripada referensi Budaya Populernya. Ya sesuai judul, sangat kentara saat akhir musim pertama alias tahun 2016 lalu, saat Saitama duel melawan Boros diatas pesawat invasi. Bagi yang kurang ingat dengan gelutnya, bisa dicek saja di YouTube. Banyak kanal yang mengunggah klip khusus Saitama vs Boros.

Oh ya, sebelum membahas gelut yang lebih kentara ke penggambaran Boros, maka perlu diingat bahwa Saitama adalah referensi simpel. Saitama mengacu pada Biksu Shao Lin dari China, yang jelas berpakaian kuning dengan kepala botaknya. Bahkan selama bertahun-tahun, hidup Saitama hanya diisi latihan berat seharian, dengan hanya memakan pisang saja, layaknya biksu yang berlatih dengan pola makan vegetarian.

Simbol Ouroboros (Wikimedia).

Nama Boros

Boros mengambil referensi dari Ouroboros, yaitu sejenis simbol dari Mesir dan Yunani Kuno. Gambarnya cukup aneh, yaitu sejenis naga atau ular, yang memakan ekornya sendiri. Secara simbolis, interpretasi gambar ini adalah siklus tanpa akhir untuk kehidupan, kematian, dan kebangkitan kembali. Tetapi simbol ini berbeda jauh dengan Infiniti, yaitu bentuk pita berkesinambungan lebih jelas.

Padahal jika dicek secara sainsya, ular yang melahap ekornya sendiri, berarti ular tersebut sedang di penghujung hidupnya. Ular berarti gagal memangsa hewan lain, sehingga satu-satunya pilihan adalah melahap ekor sendiri. Atau, akibat ular yang stres dan salah mengartikan ekornya sendiri. Sesuai dengan anehnya sikap ular, dalam satu istilah frase bule, menggigit ekor sendiri berarti maksudnya adalah menyakiti diri sendiri.

Dari situ, cocok sebagai referensi langsung tentang kegilaan Boros, yang tiada habisnya. Boros adalah karakter jahat yang bertualang antar galaksi bersama anak buah dan pesawat miliknya, demi mencari gelut yang sepadan. Namun saat tiba di bumi, hasilnya adalah Saitama sanggup mengalahkannya. Bahkan, Boros merasa gelut tersebut tidak sepadan sama sekali, karena Saitama tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Dua Mata Boros

Kalau yang kurang ngeuh, pasti menganggap bahwa mata Boros hanyalah satu, alias di wajah saja. Padahal jika dicek adegannya, mata Boros ada dua, yaitu satu lagi berada di perutnya, yang menutupi kristal regenerasinya. Ya, dua mata ini adalah simbol dari dua dewa Mesir Kuno, yaitu Dewa Ra dan Dewa Horus. 

Oh ya, simbol satu mata ini tidak mengacu ke satu tokoh terkenal itu loh, yang memang matanya hanya satu, dan suka bikin kisruh sedunia, dari jaman terdahulu hingga sekarang.

Di mitologi Mesir Kuno, Dewa Ra adalah Dewa Matahari, dengan mata (kanan)-nya sebagai simbol. Dewa Ra bisa diartikan pula sebagai kekuatan besar dunia, yang dapat menghalau musuh manapun. Matahari bukan hanya simbol, karena dalam kesehariannya, warga Mesir Kuno menggunakan penanggalan matahari, alias 365 hari setahunnya. Khusus di Boros, berarti ini adalah mata di bagian wajahnya, alias penunjuk arah dan identitas.

Sementara mata kedua yang berada di perut, mengambil referensi simbol Mata Horus. Dewa yang satu ini, menyimbolkan kesejahteraan, kesembuhan, dan perlindungan. Maka, mata yang satu ini cocok ditempatkan di perut, walau tidak begitu jelas penggambarannya di tubuh Boros. Tetapi, Boros berkemampuan regenerasi yang sangat kuat dan cepat, sesuai dengan simbol Dewa Horus, dan siklus Infiniti (tanpa batas) ala Ouroboros.

Ada dua adegan yang perlu dicek mengenai kemampuan regenerasi Boros saat melawan Saitama. Yaitu saat Saitama memukul keras Boros, tepat di bagian perut. Lalu saat Saitama memukul cepat dan banyak, untuk menghancurkan seluruh tubuh Boros. Sayangnya, masih tersisa kristal regenerasinya, sehingga Boros berhasil menyembuhkan tubuhnya.

Bumi, Bulan, dan Matahari

Kali ini, bukan hanya mengacu pada simbol kedua karakter, tetapi adegan langsung saat gelutnya. Saat Boros akhirnya berhasil menendang keluar Saitama dari Bumi, dan berakhir di permukaan Bulan. Dari situ, Saitama tetap berhasil loncat kembali ke Bumi, dan langsung berhadapan dengan Boros.

Simpel saja seperti sudah diutarakan sebelumnya, Saitama adalah visualisasi Biksu Shao Lin dari China. Berarti, dengan dirinya yang berakhir di Bulan, layaknya mengingatkan China yang (secara tradisional) masih menggunakan penanggalan Bulan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Boros dari Mesir Kuno, sudah pasti berlandaskan siklus Matahari sebagai penanggalannya. 

Tidak ada definisi berarti dalam keduanya, karena memang menggambarkan dua jenis penanggalan berbeda. Di negara seperti China dengan kalender Bulannya, Hijriyah ala negara Muslim, serta penanggalan Jawa yang kental, Bulan memang menjadi landasan utama di kalender.

Sementara di seluruh dunia, Masehi alias penanggalan matahari, masih menjadi standar kerjasama internasional. Jika dicek sejarahnya, Mesir Kuno memang mempengaruhi banyak kerajaan dalam penanggalan mataharinya, sementara Yunani hingga Romawi Kuno masih menggunakan tanggal ala Bulan. Baru mendekati tahun Masehi, Romawi akhirnya mengadaptasi penanggalan Matahari.

Pendapat Penulis tentang Siklus Ouroboros

Penulis sendiri memiliki pendapat khusus dengan Ouroboros, yang sangat destruktif pada diri sendiri (dan orang lain), padahal bagian utama dari siklusnya. Ya, bukannya penulis memiliki masalah menyakiti diri sendiri (atau orang lain), tetapi terdapat suatu bentuk destruktif yang perlu dihindari.

Tidak hanya mengacu pada Biksu yang damai, atau Ouroboros yang destruktif, tetapi penulis memang perlu menjabarkan simbol ini di banyak media. Dari segi ini, walau saya menulis dan menjabarkan simbol yang ada di banyak media terkenal, namun cukup sulit untuk menghindari pola destruktif-nya. Ya, setiap media memang memiliki pola ancur-ancurannya sendiri.

Apalagi jika mengacu pada Seni Populer atau bahkan Jurnalistik, yang kehilangan dasar konsep serta Primbonnya (seakan Politik Praktis). Bahkan, beberapa media seperti itu, layaknya ngalor-ngidul di artikel Monsterisasi, yang (bisa jadi) tidak cocok referensinya, dan bahkan kurang sesuai dengan kebutuhan kesehariannya.

Nah karena itu, (mungkin) One Punch Man menjadi artikel terakhir Monsterisasi berisi anime. Nantinya artikel sejenis ini tidak akan ditulis setiap minggunya, dengan referensi yang lebih berat di genre dan media lain, khususnya horor.

Okeh, Amitabha.

23 Januari 2026

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece

 

Luffy sang Topi Jerami yang ternyata Jurig Persib (KapanLagi).

Sebenarnya sudah lama pengen nulis Monsterisasi tentang One Piece, apalagi dengan banyak referensi mengenai buah setannya, tetapi apalah daya dengan keadaan berita pada September 2025 kemarin. Seorang Infuencer pecicilan dan banyak pasukan bajak lautnya, malah ngebadut dan bakar-bakar gedung DPR. Jadi ya malas membahasnya, seakan nge-feed suatu kontroversi. Sang Influencer pun masih memanasi Inet dengan clickbait lainnya di akhir tahun kemarin.

Tetapi di awal tahun 2026 ini, tepatnya tengah musim Liga 1 sepakbola Indonesia, akhirnya ada genderang betulan yang bergaung dari Bandung sini. Ya, saat Persib menjadi juara pertengahan musim dengan mengalahkan Persija, lalu berkibarlah lima bendera koreo raksasa di stadion, berisi gambar Luffy yang tengah membawa piala Liga 1. Animo semacam ini, sekali lagi layaknya warga Bandung, menantang dan menimpa kesan buruk sebelumnya. 

Nya nuhunkeun Persib anu atos Juara Tengah Musim Liga 1 Indonesia. Nuhunkeun oge ka Bobotoh sareng Jurig Persib, anu ngobarkeun bandera Luffy. Saur kuring mah kanu kitu teh, tiasa ngajunjung kompetisi anu bersih sareng kiblat anu bener, nya eta sami berkarya tina jalur bener. Sakali deui, Nuhun!

Some Chase Noise, We Chase Horizons!

Luffy di GBLA (Instagram).

Saya akhirnya bisa nulis juga artikel tentang One Piece, khususnya karakter utama bernama Luffy. Sama seperti sebelumnya, satu karakter saja yang dibahas latar serta visualisasinya, karena menghindari (banyak) spoiler dan lebih terfokus. Apalagi Luffy dan buah setannya, cocok sebagai karakter yang kesetanan.

Luffy Sang Topi Jerami

Dari sini, saya menggambarkan satu benda paling kentara saja, yaitu topi jerami milik Luffy, yang tergambar pada bendera bajak lautnya, sekaligus julukan kru tokoh utama kita ini. Apalagi topi jerami adalah simbol janji antara dua karakter, yang akan dikembalikan oleh Luffy kepada Shanks, saat dirinya mencapai status bajak laut yang hebat.

Mengacu dengan simpel, topi jerami adalah sejenis topi berbahan jerami (lah?), yang dipakai sebagai topi surya. Berbagai bentuknya telah ada sejak jaman dahulu, seperti topi ala fedora atau topi petani yang kerucut. Hingga kini, topi jerami masih digunakan karena ringan dan tidak panas, dengan fungsi utama menghalau cerah matahari mengenai mata. Karena itu, topi jerami dipakai oleh banyak orang saat beraktifitas siang hari di luar ruangan, khususnya di Jepang.

Sesuai dengan tema bajak laut di One Piece, topi jerami (entah kenapa hanya Luffy dan Shanks yang punya), adalah simbol khusus mengenai keadaan para bajak laut, alias para pelaut. Ya, topi ini identik pula dengan para pemancing, yang beraktifitas di tengah laut bersama terik mataharinya. 

Topi pemancing ini cocok dengan keadaan di manga dan anime One Piece, yaitu simbol 'mencari makan' di laut. Bahkan di beberapa episode, yang menunjukkan Kru Topi Jerami memancing ikan untuk dimasak. Jika tidak habis dagingnya, sisa ikan (raksasa) akan dijual saat berlabuh ke pulau. Bahkan ada satu episode saat Kru Topi Jerami perlu menjual ikan hasil pancingan demi menambah dana, yang dipakai untuk memperbaiki Going Merry di Water 7 (selain harta karun Skypea).

Konsep topi jerami ini berarti cukup dalam pula, karena Luffy lebih mementingkan topi daripada hidupnya. Bahkan ada satu film (non-canon), yang fokus berkisah Kru Topi Jerami saat membobol satu markas Marinir, demi meraih kembali topi miliknya. Judulnya One Piece 3D, dari tahun 2011.

Cukup sederhana layaknya trope atau gag anime yang lucu. Tetapi coba ingat seluruh Arc di One Piece, yang aslinya Battle Shonen. Setiap Arc mengisahkan Kru Topi Jerami yang menyelamatkan warga satu pulau, dari tindasan para bajak laut jahat. Luffy sangat tidak suka dengan penindasan yang semena-mena. Karena, mereka adalah warga biasa yang hanya bertahan hidup saja.

Buah Setan

Nah, dimulailah paradox Luffy sebagai pahlawan. Luffy (selalu) tidak ingin dianggap sebagai pahlawan, namun bajak laut yang senang bertualang. Ya, Luffy memiliki tingkat IQ yang nyebelin, namun menurut penulis, itu hanya pelarian saja. Luffy sebenarnya cukup pintar, namun menolak status tersebut, dengan hanya ingin bertualang sambil gelut saja. 

Tetapi, Luffy sebagai seorang kapten bajak laut dan buah setannya, memang cocok. Buah setan ini digambarkan oleh mangaka Eiichiro Oda, layaknya buah eksotis yang tiba dari daerah tropis sedunia, hingga benua Amerika yang baru ditemukan. Referensi yang kentara, bahwa cerita One Piece mengacu pada masa keemasan bajak laut di Karibia sana (abad 17-18). 

Referensi buah eksotis sebagai bagian dari setan, bukan karena kemampuan aneh yang diberikannya saja, tetapi mengacu pada potensi untuk memanggil setan besar sebelumnya. Belum dijelaskan langsung oleh Eiichiro Oda, tetapi sudah ditampilkan pada film One Piece: Red, dimana fokusnya adalah karakter Uta dan buah setan Musiknya. 

Uta yang bekerja sebagai penyanyi, ternyata sempat memanggil setan dalam buah musiknya. Padahal Uta masih kecil saat pertama kali memanggilnya, dan berakhir satu pulau yang dibantai habis. Shanks yang berada disana, harus menghalau setan tersebut bersama kru-nya. Walau film ini yang canon hanya Uta dan Shanks-nya saja, tetapi cukup menggambarkan potensi setan dari buah ajaib ini. Uta yang belum pernah melatihnya saja, sanggup memanggil setan sekuat itu.

Bahkan ada satu pepatah canon dari One Piece, bahwa buah setan adalah hasil ajaib dari minat manusianya. Sensei Oda pun beberapa kali menggambarkan Luffy yang mencapai Gear 5th alias telah Awakened, dengan wajah hitam dan bola mata merah, seakan setan yang baru saja muncul dengan kesetanan. Jadi apapun yang terjadi di dunia, buah setan selalu menjadi mitos nyata, tentang perubahan besar di One Piece.

Buah Setan Gomu-Gomu dan Revolusi Industri

Namun, bagaimana dengan sikap pahlawan ala Luffy dan Kru Topi Jerami? Nah ini lebih cocok lagi. Daripada digambarkan ala simbol Buah Nika sebagai Dewa Kemerdekaan di One Piece, lebih cocok dicek saja referensinya.

Buah Gomu-Gomu alias karet, adalah komoditas yang seharusnya jarang. Sejarah ditemukannya pohon karet, adalah sebagai pohon endemi asli Amerika Selatan, khususnya Brazil. Sejak jaman koloni di Amerika, pohon karet lalu disebarkan ke seluruh dunia, dengan beberapa lokasi seperti Indonesia, yang cocok ditanam pohon karet.

Abad 17an adalah akhir dari jaman Renaisans, saat banyak negara Eropa memulai kolonialisme, dengan wacana menambah sumber daya alam mereka. Untuk apa? Demi menjalankan dunia progresif dan kemajuan ilmu sains, yang saat itu kurang dibarengi perkembangan teknologinya. 

Namun bukan itu fokus artikel ini, dan kembali ke fungsi karet itu sendiri. Komoditas karet adalah zat baru bagi negara sedunia, yang membuka potensi besar lainnya. Bahkan tanpa karet, saat ini kita tidak memiliki komoditas seperti karet atau plastik sintetis, dan hanya memakai bahan kayu, kulit, serta logam saja, layaknya sub-genre SteamPunk. Jadi, pohon karet adalah satu komoditas penting yang dioprek saat jaman Viktoria, dan berhasil membawa dunia menuju jaman Revolusi Industri.

Sekali lagi, para penggemar One Piece pasti tahu, bahwa dunianya mengacu pada jaman bajak laut dan kolonialisme. Jadi sebenarnya Sang Buah Setan Gomu-Gomu, adalah komoditas yang berhasil meng-carry dunia, menuju jaman keemasan berikutnya. Ya, memang tidak se-nihil simbol pecicilan ala Buah Nika. Biasa-lah Sensei Oda, tahu aja cara ngejebak pihak yang kurang paham.

Perubahan Iklim

Nah kalau yang satu ini sih, sudah cukup jelas ya, tetapi penulis saja yang ingin menambahkannya. Perubahan Iklim memang satu wacana yang sangat kentara di One Piece, bahkan kini hampir disejajarkan dengan tingkatan anti-rasisme-nya.

Semenjak dibukanya kisah Kerajaan Lulusia yang hancur seketika oleh Imu, dan menyebabkan permukaan laut meninggi 1 meter, kisah One Piece di Arc Pulau Egghead mulai mengacu ke penyebab anehnya geografi dunia. Vegapunk yang menyiarkannya, bahkan mencatat tinggi permukaan laut bumi sempat naik 100 meter. Segitu saja sudah menunjukkan, bahwa dunia One Piece semakin terbanjiri oleh lautan. Bahkan, nantinya yang tersisa hanyalah Red Line sebagai benua tertinggi, sementara seluruh pulau akan terendam. 

Seluruh kisah geografis ini, tentu mengacu pada perubahan iklim, yang tahun 2025 kemarin ternyata memporakporandakan seluruh dunia. Contoh paling dekat, adalah banyaknya badai topan yang tiba di Asia Tenggara, khususnya di Filipina dan Vietnam. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika kedua negara tersebut, badai topan yang tiba biasanya berjumlah sekitar 20 saja dalam waktu setahun. Namun di tahun 2025 kemarin, jumlah badai topan yang tiba di hampir mencapai 30! Tidak heran banyak bencana alam akibat cuaca di tahun 2025 kemarin.

Kembali lagi ke One Piece, dengan banjirnya seluruh dunia, maka siapa yang paling diuntungkan? Ya jelas Imu, serta kawan-kawannya di Tenryuubito, sebagai Top Global 1 Persen yang tersisa. Sementara itu, seluruh dunia layaknya menjadi korban genosida. Para punggawanya yang memiliki Buah Setan sakti pun, akan sulit berkelana akibat langsung tenggelam oleh air laut.

Oh ya, ada satu teori fans One Piece dari Reddit, bahwa Imu adalah simbol dari Umibozu, sejenis Yokai laut di folklore Jepang. Daripada membahas teorinya yang cukup panjang, coba dicek saja efeknya. Kalau memang laut akhirnya meninggi dan menenggelamkan dunia, maka Imu sebagai Umibozu akan semakin kuat, karena sumber kekuatannya adalah laut itu sendiri!

Okeh, Adios.