![]() |
| Trinity yang prihatin Neo hanya bisa OP dalam VR (TMDB). |
Karena monsterisasi sebelumnya membahas dunia gim serta awal yang horor dari internet, maka penulis akan membahas kombinasi keduanya ala dunia virtual.
Film yang pertama dibahas tentunya adalah trilogi The Matrix yang sangat terkenal dan meramaikan tema Virtual Reality (VR) di dunia perfilman. Tetapi, berikutnya akan dibahas tentang empat film lain yang temanya fokus pada VR.
Dua film yang akan dibahas adalah Ready Player One (2018) dan The Thirteenth Floor (1999). Keduanya masih bernafaskan VR yang kentara, tetapi mengacu pada horornya dunia digital nan maya ini, serta berbagai masalahnya.
Sementara dua film terakhir, yaitu I, Robot (2004) dan Surrogates (2009) lebih menggambarkan sinkronisasi antara dunia digital, dengan teknologi sehari-hari di jaman tersebut. Di akhir artikel, akan mengacu pada Matrix lagi, tetapi sebagai resiko terakhir yang bisa disebut, post-apocalyptic.
Hype VR dari The Matrix
Trilogi film The Matrix (1999, 2003) adalah film yang meramaikan VR. Walau bukan pionirnya, tetapi trilogi ini mengacu pada akhir dunia manusia, akibat dominasi robot dan kecerdasan buatannya (AI). Keanu Reeves sebagai karakter utama Neo dalam trilogi Matrix, tentu mendominasi film aksi hingga sekarang.
Dalam dunia The Matrix, dunia telah hancur akibat manusia yang kalah berperang melawan robot. Miliaran manusia justru dijadikan 'sapi perah,' sebagai baterai abadi untuk para robot. Manusia pun diberi lokasi dunia palsu, dalam format VR bernama The Matrix, yang isi dunianya masih cukup damai.
Sementara manusia yang selamat dan berada di dunia nyata, berusaha melawan dibalik koloni tersembunyi, sambil menghindari kejaran robot. Persenjataan yang minim, menyebabkan mereka perlu melawan dari dalam VR-nya. Berperan sebagai virus yang punya cheat ala gim, mereka harus menghancurkan inti The Matrix demi keselamatan umat manusia.
Ya, memang kisah yang epik dari The Matrix ini. Namun, maksud tertentu dari film ini adalah ketergantungan manusia dengan segala teknologinya. Bahkan sistem modern jaman sekarang (menurut The Matrix), direkayasa demi mendukung perkembangan teknologi saja.
Kadang, peran teknologi tidak mendukung peradaban manusia, apalagi budayanya. Sehingga, skenario di The Matrix mungkin terjadi, dalam skala mikro atau makro. Bahkan ada kemungkinan terjebak 'kiamatnya dunia' ala The Matrix ini.
Nah dalam film The Matrix, memang tidak begitu dijabarkan sejarah dunia hingga sehancur itu. Maka di artikel ini, adalah variasi skenario dari berbagai film, yang makin memungkinkan hancurnya dunia ala The Matrix.
![]() |
| Bermain VR di garasi sendiri (TMDB). |
Kisah VR yang Mulai Kacau di Ready Player One
Khusus untuk awalnya ini, memang belum sekacau film The Matrix. Apalagi film ini adalah arahan dari sutradara Steven Spielberg, yang lihai memimpin produksi film sains fiktif dan futuristik. Yang mengenal namanya, tentu akan terngiang Jurassic Park (1993) dan ET (1982). Kedua film menyebabkan nama Spielberg sebagai sutradara kawakan, semakin melambung tinggi.
Film Ready Player One yang memang tidak sekacau itu, justru perlu ditelaah dari epilog ceritanya. Ceritanya berkutat pada karakter utama bernama Wade atau aliasnya Parzival, yang perlu mencari hadiah dari pengembang (developer) dalam gim The Oasis. Jika tidak, maka dunia VR akan berubah acak, tergantung dari pemain yang berhasil merebut 'benda keramat' berbentuk telur ini.
Nah di epilog film, justru mengisahkan simbolis mengenai keadaan digital saat ini. Narasi akhir menggambarkan (dengan beberapa adegan), banyak pemain yang berlatar variatif, menggantungkan hidupnya di dunia digital.
Jika dibandingkan, maka dunia digital sekarang berisi pengembang perangkat lunak (software), pengembang gim, e-commerce, bank data, instansi pemerintah, institusi pendidikan dan media, streamer, vtuber, video editor, atau kreator konten seperti studio film indie dan animator.
Jika dunia digital kacau akibat pihak yang totaliter (totalitarian), maka ranah hidup khalayak ramai dapat terganggu. Dengan mengesampingkan perkembangan teknologi yang terus berubah, banyak warga dan warganet tentu akan resah, jika ranah digital semakin sulit digunakan atau bahkan rusak.
![]() |
| Ambang batas dunia tanpa aset digital (TMDB). |
Pengembang VR yang Terjebak Sendiri Ala Film The Thirteenth Floor
Berikutnya mirip dengan kisah Ready Player One, saat seorang pengembang perangkat lunak, yang berjudi dengan karir dan keadaan hidupnya di dunia VR. Namun, kisah ini memiliki plot twist yang hebat, ala novelis Daniel F. Galouye yang diadaptasi karyanya dalam film The Thirteenth Floor.
Ceritanya adalah karakter utama bernama Douglas Hall, yang berhasil mencapai ujung kota, dan menemukan bahwa dunianya adalah VR. Ironi yang sangat hebat, karena dirinya adalah seorang pengembang VR, dengan server yang berada di lantai 13 gedung kantornya.
Ya, film dari tahun 1999 ini mengisi animo yang sama bersama The Matrix. Namun, lebih mengisahkan fantastis dan horornya VR, daripada bermain MC ala Neo dan kawan-kawan.
Bahkan dalam beberapa plot twist berikutnya, Hall berhasil memasuki dunia nyata. Dengan beberapa kode kepada pengembangnya sendiri, Hall berhasil menarik perhatiannya. Hall pun sempat diberikan seorang avatar robot, yang wajah dan perawakannya sangat mirip dengan dunia VR. Paradoks yang terbalik memang, dibanding The Matrix.
Untuk kisah berikutnya bisa ditonton saja, karena penulis akan membahas maksud dari film ini. Dengan jaman dimana AI ramai dari tahun 2025 kemarin, hingga tahun 2026 sekarang, kecerdasan buatan mulai menunjukkan kehebatannya.
Bahkan dalam film ini, seakan mahluk digital menjadi sentien, dan berhasil masuk ke dunia nyata. Perlu dijabarkan pula, bahwa dunia nyata di film ini, sudah sangat maju. Sehingga memberi avatar robot pada seorang AI yang berhasil sadar, adalah hal yang mudah.
Jadi, kisahnya memang fokus pada keberhasilan AI dalam mencapai tingkat sadar dan intelejensi manusia, dengan segala kemampuan, dan tentu kelemahannya (ala mahluk hidup).
![]() |
| Sonny yang lebih sentien dari robot lainnya (TMDB). |
Tiga Pedoman Robotik dari Isaac Asimov dalam Film I, Robot
Karena film sebelumnya membahas tentang robot, maka akan sedikit menyimpang dengan tema robotiknya. Namun, sangat mengacu pada tingkah robot, dengan kecerdasan buatannya yang variatif.
Jika dalam film The Thirteenth Floor mengisahkan AI yang berhasil masuk ke dunia nyata dengan avatar seorang robot, maka di film I, Robot ini lebih mengacu pada aturannya. Di film ini terdapat pula Will Smith yang masih segar bugar, dan tidak aneh seperti sekarang.
Dengan melansir penulis fiksi terkenal bernama Isaac Asimov, Tiga Pedoman Robotik (1942) menjadi acuan banyak film futuristik jaman sekarang.
Tiga Pedoman Robotik adalah, Pertama robot tidak boleh menyakiti manusia, baik langsung atau tidak langsung. Kedua, robot harus mematuhi manusia, kecuali jika bertentangan dengan pedoman pertama. Ketiga adalah robot harus melindungi dirinya, kecuali bertentangan dengan pedoman pertama dan kedua.
Pedoman Robotik ini menjadi acuan yang kentara dalam film I, Robot. Memang plot utamanya, adalah seorang robot yang AI dan keperibadiannya berhasil sentien. Tidak hanya memiliki karakter, tetapi robot unik bernama Sonny ini berhasil memiliki emosi, dan segala naik-turunnya perasaan. Bahkan, Tiga Pedoman Robotik itu pun, bisa dipertanyakan olehnya.
![]() |
| Seberbahaya itukah gawai VR ini? (TMDB). |
Dunia VR yang Melebihi Offline-nya dalam Film Surrogates
Terakhir adalah film yang sangat mirip dengan kacaunya The Matrix, namun masih terkendali dan dapat dipertanggung-jawabkan. Judulnya adalah Surrogates, bersama Bruce Willis yang masih segar bugar pula.
Kisahnya mengenai VR yang penyambungnya adalah robot, dan masih sesuai film sebelumnya, saat robot menjadi acuan hidup banyak orang. Bedanya, seluruh robot adalah avatar manusia, yang badan (biologis) miliknya tiduran di kamar.
Karena banyak manusia melaksanakan hal tersebut, jadinya kota justru sepi dari warga lansia. Tidak ada lansia sama sekali, karena semua orang terlihat bugar dengan kondisi robotnya yang masih muda. Jadi, semua lokasi yang ramai di kota, berisi robot semua.
Nah dari situ, sudah semakin mengacu pada The Matrix saja. Namun perbedaan plot dan kisahnya, ada pada kisah pembunuhan. Seorang pria tua berbadan gemuk, ditemukan tewas dalam gawai Surrogates-nya sendiri. Sementara robot avatar-nya yang berupa robot ganteng, tengah berkencan dengan gadis muda.
Tokoh utamanya bernama Tom Greer yang diperankan oleh Bruce Willis, adalah detektif kepolisian yang menggunakan avatar robot dari masa mudanya. Karena kasus ini aneh dan dirinya terancam pembunuhan tidak langsung dari ranah digital, maka Greer terpaksa keluar dari rumah untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun terakhir. Dengan tubuh yang sudah tua dan kaku, dirinya harus mencari banyak petunjuk mengenai kasus diluar nalar ini.
![]() |
| Tampaknya VR memang seberbahaya ini (TMDB). |
Petunjuk Akhir dari Para Penulis VR
Okeh, dengan mengacu pada film ini, cocok sebagai bahan pertimbangan skenario, mengenai perubahan dunia akibat kecerdasan buatan, dunia digital, teknologi robot, dan kesan manusia yang ingin selalu terjaga.
Seluruh lima film ini mencampur-adukkan antara perkembangan teknologi, dengan faedah manusia sebagai mahluk hidup. Dikombinasikan pula dengan drama akibat kehadiran mahluk hasil ciptaan manusia, yang ternyata sanggup menggantikan peran dan hidup manusia.
Dari situ, pertanyaan filosofis pun muncul, yang sebenarnya telah dipertanyakan dengan kentara selama puluhan terakhir lamanya, yaitu sejak jaman industrialisasi. Berfaedahkah seluruh peran manusia, jika harus tergantikan beberapa bagiannya, atau bahkan seluruhnya, dengan teknologi hasil ciptaannya sendiri?
Wassalam, dan Titik.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.