Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Pemantauan Warga Tanpa Privasi Ala Film Enemy of the State dan Suicide Club

Robert dan Brill yang dipantau habis-habisan (TMDB).

Sekarang berlanjut ke kombinasi film dari tahun 1997 berjudul Enemy of the State dari Hollywood, dan film tahun 2001 berjudul Suicide Club dari Jepang. Film pertama mengacu pada pemantauan (elektronik) digital melalui jarak jauh oleh pihak resmi berkepentingan, sekaligus dengan responnya dari warga akibat kabar yang terlalu viral di film kedua.

Kombinasi kedua film memang kurang nyambung bagi yang sudah menonton. Tetapi, jika ditelaah dari segi ranah sosial, tentu banyaknya kabar di jaman informasi seperti ini dan internetnya, yang dapat merubah suasana seseorang. Apalagi jika viral, yang menciptakan euforia tertentu bagi khalayak ramai. 

Pihak berkepentingan seperti instansi pemerintah sering melaksanakan pantauan pada warganya, baik itu dari jalur elektronik, digital, maupun internet. Kadang pula dilanjutkan melalui eksperimen sosial. Namun gunanya sangatlah penting, seperti dihapusnya (take down) konten berbahaya seperti hoax dan penipuan.

Sementara respon dari warga (biasanya) hanya sekedar mengikuti perkembangan informasi saja. Tetapi arahan media massa, pihak besar lain dibaliknya, masalah literasi warga, serta pihak troll yang sengaja berkarya konten kontroversial, atau sejenis hoax (kabar palsu) dan penipuan daring, bisa menciptakan masalah besar. 

Karena itu kedua film cukup nyambung dari segi ranah elektronik dan digital, yang kini sangat terhubung di jaman internet. Kedua film seakan menebak keadaan sosial jaman sekarang, yang sangat tergerus oleh banjirnya konten dan informasi.

Para pemantau yang cukup nerdy (TMDB).

Pemantauan Elektronik dalam Film Enemy of the State

Film dari Hollwood ini memang agak berbeda, dengan aktor terkenal Will Smith (Robert Clayton Dean) dan Gene Hackman (Brill) sebagai tokoh utamanya. Kedua karakter berjibaku dalam menghalau pemantauan warga yang brutal, dan bahkan berujung aksi tembak menembak.

Kisah filmnya tidak akan dijabarkan disini, yang perlu ditonton langsung seluruh adegannya. Yang ditelaah adalah saat karakter Robert, yaitu seorang pengacara publik, yang terjebak dalam skema pemantauan 100 persen warga. Akibat dirinya tertukar tas saat berbelanja, dirinya malah dipantau habis-habisan oleh pihak pemantau yang terlalu brutal dari pemerintah AS.

Kisahnya kacau karena pihak pemantau (elektronic and digital surveillance) ini sebenarnya belum resmi, dan bukti kebrutalan mereka terdapat di tangan Robert. Dengan cara menempelkan alat penyadap dan kamera tersembunyi dalam rumah Robert, serta intel dalam mobil yang berjaga dekat rumahnya, Robert pun terus dipantau selama 24 jam lamanya. Udah berasa koruptor yang sedang dipantau KPK saja, Robert ini ya.

Masalahnya pun bukan hanya urusan pribadi (privasi) serta keselamatan Robert dan keluarganya saja, melainkan berpengaruh pada seluruh warga. Jika skema resmi pemantauan warga berhasil dicanangkan dan diterapkan oleh pemerintah, maka seluruh warga AS akan kehilangan privasi, layaknya Totalitarian.

Mengacu pada istilah yang sangat membatasi warganya ini, tentu mengacu pada inti dari sub-genre Cyberpunk. Ketika seluruh manusia terkena dampak digitalisasi, hingga KTP saja berbentuk chip yang ditanam di dalam kepala manusia. Maka, banyak warga sudah kehilangan privasinya (kecuali runner).

Tidak perlu mengacu ke ranah fiksi tersebut. Saat ini saja di Indonesia, kita perlu daftar nomor ponsel dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dari Kartu Tanpa Penduduk (KTP). Itu berarti, kita adalah warga yang resmi terdaftar. 

Bahkan untuk mendaftar surel saja, kini kita diminta NIK. Tanpa nama surel yang terdaftar, ponsel sistem operasi (OS) Android atau iOS tidak akan berfungsi sama sekali. Belum lagi urusan data keuangan, yaitu saat kita perlu mendaftar nomor ponsel dan surel, untuk urusan Bank, BPJS, dan Pajak. 

Walau formatnya masih diluar tubuh kita, tetapi setidaknya identitas utama kita sebagai warga tentunya (alias bukan jurig), terdaftar secara resmi dalam bank data pemerintah. Memang demi keamanan data pribadi dan pemantauan pemerintah, tetapi sangat terpusat dan berbahaya jika disalahgunakan (layaknya kabar Bjorka dari tahun 2022 lalu).

Prank sosial yang mengerikan (TMDB).

Respon Prank Sosial dari Warga dalam Film Suicide Club

Namun, itulah lucunya warga yang entah literasinya tinggi atau rendah, tetapi serasa hobi pecicilan untuk merespon pemantauan tersebut. Yaitu, dengan cara nge-troll habis-habisan di dunia digital, dengan mudahnya viral di internet. 

Terakhir dengar kabar saja, ada remaja yang membuat turnamen rasis di TikTok. Dalam kontennya, setiap warganet harus berkomentar rasis segila mungkin. Nanti, pengunggah konten tersebut akan memberi hadiah pada akun yang paling rasis dan gila saat berkomentar.

Okeh, tapi kali ini membahas film Suicide Club ya, yang memang vibe-nya sangat mirip dengan gila-gilaan Tekotok, walau atmosfer filmnya lebih mengacu ke horor. 

Film Suicide Club memang aneh, saat suatu kabar bundir alias mengakhiri hidup, dibawa viral oleh media massa, dan direspon berlebihan oleh warganya. Seakan tren yang sedang menjamur (layaknya seni populer ala film, lagu, konten, atau gim), bundir adalah satu karya yang asik mendunia (dalam film ini) bagi warga.

Khususnya di kalangan anak remaja yang terpapar bahayanya media massa, dan merespon dengan salah. Seakan bundir dengan viral adalah satu cara yang wajar bagi mereka. Tidak hanya di sekolah, bahkan prank sosial (mematikan) ini berlanjut hingga ke stasiun kereta api, dan bahkan di rumah hunian sendiri. 

Paradoks seperti ini sudah terjadi jaman sekarang, dengan semakin menggilanya konten. Seakan warga dan warganet yang sedang dipantau oleh pantauan digital, malah menyerang balik dengan menggila. Padahal, ranah konten berbahaya seperti itu, sudah banyak aturannya melalui UU Keamanan Siber dari pemerintah.

Dan mengacu pada pemantauan digital alias siber, pemerintah sekarang sebenarnya sudah cukup maju. Memang banyak konten berbahaya lebih mudah dihapus, baik itu di aplikasi milik Meta, TikTok, atau YouTube. 

Contohnya adalah konten TikTok yang menyalahkan Bill Gates, saat berwacana untuk memulai eksperimen Gates Foundation, mengenai vaksin Tuberkolusis di Indonesia. Konten video ini lalu dihapus dalam waktu beberapa jam saja, walau beberapa warga sudah terhasut oleh pendapat dalam kontennya.

Namun, tantangan ranah lainnya yang berasal dari Darknet ala Bjorka dan banyak kawan kriminalnya, tentu masih berseliweran di Inet. Seringkali mahluk digital ini mengganggu warga, dengan wacananya masing-masing. Sementara warga dan warganet sendiri malah bertindak bodoh, seperti mengunggah NIK (fotocopy KTP) di medsos demi viral atau curhat apapun juga.

Selayaknya film Suicide Club, dimana ceritanya terdapat sesi viral bundir yang dilaksanakan banyak warga, yang justru menjadi bahan prank sosial di jaman viralnya Inet sekarang. 

Tidak harfiah bundir (alias fisik), namun kejadian seperti ini layaknya pembunuhan karakter, yang justru dilaksanakan oleh korbannya sendiri. Kasus ini bukan berasal dari pihak berwenang yang terlalu memantau dan berlanjut eksperimen sosial, atau pihak berbahaya yang ikut menyalahgunakan data digital.

Selayaknya, Data Kesehatan Digital yang kini berada di aplikasi pemerintah, OS dari Google Android dan Apple iOS, serta aplikasi bawaan dari merek ponsel, tidak diacuhkan sama sekali oleh para penggunanya.

Jadi, Stay Healthy Brothers.

Wassalam.

Warganet yang mantaunya santai sambil merokok (TMDB).

Bagikan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Logo Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Rekomendasi

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece