Tampilkan postingan dengan label Isu Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isu Sosial. Tampilkan semua postingan

14 Januari 2026

Berbincang Sunda Sebagai Budaya Bahasa Lokal di Jawa Barat

 

Aksara Sunda di Jalan Merdeka Bandung (Kagum Insight).

Punten, saatnya membahas Hari Kebangkitan Bahasa Sunda, yang dirayakan setiap 17 Januari, sejak tahun 2024 lalu. Tanggal penting ini digagas oleh Dedi Mulyadi, yang kini menjabat sebagai gubernur Provinsi Jawa Barat. 

Sedikit Sejarah Hari Kebangkitan Bahasa Sunda

Awal dicanangkannya Hari Kebangkitan Bahasa Sunda memang sempat kisruh, akibat politisi yang (seperti biasanya) sedang gimmick dari pusat sana. Sementara Dedi Mulyadi yang tidak menjabat posisi administrasi manapun, dan tengah aktif di salah satu partai besar, cukup berang menanggapinya. 

Dedi Mulyadi lalu meminta kepada pemerintah pusat, untuk mengesahkan tanggal 17 Januari sebagai Hari Kebangkitan Bahasa Sunda. Karena rekam jejak dan kontribusi Dedi Mulyadi sebagai pejabat di daerah Sunda alias Jawa Barat, maka wacana tanggal penting ini disahkan oleh pemerintah. 

Seperti dilansir dari Media Indonesia, maka untuk merayakan tanggal penting ini, dapat dijabarkan dengan satu kalimat berbahasa Sunda berikut. 

'Rahayu selawasna Hari Kebangkitan Bahasa Sunda! Tetep budaya, tetep basa, supados tiasa nyandakkeun ka samudaya.' 

Paribasa Sunda Lelea dari Indramayu (Wikimedia)

Keseharian Berbahasa Sunda 

Menurut penelitian ringkas tahun 2021 yang dilaksanakan oleh Dr. H. Wawan ‘Hawe’ Setiawan, M.Sn, selaku ketua Ketua Lembaga Budaya Sunda dari Universitas Pasundan, penggunaan bahasa sunda sehari-hari sangatlah kental diantara anak muda.

Wawan menyatakan, bahwa lembaga pendidikan (sekolah dan universitas) telah baik mengajarkan bahasa Sunda yang terstandarisasi (sebagai muatan lokal atau jurusan kuliah). Ternyata, saat kajian dilaksanakan di lingkungan non-formal, maka komunikasi bahasa Sunda yang 'kekinian' dapat dan harus diapresiasi, karena lebih fleksibel.

Menurut Wawan, bahasa Sunda digunakan oleh milenial, sebagai label untuk berbagai karya produk, contohnya pada desain kaus, makanan, hingga produk tembakau. Generasi milenial saat ini tidak meninggalkan bahasa Sunda, melainkan dipandang sebagai elemen lokal dan 'pembeda' yang dominan. 

Maksud Wawan, justru bagi milenial yang mengambil langkah inovatif tersebut, adalah cara mereka untuk mengoreksi hal yang sudah dominan dengan ragam mereka sendiri. Maka, kearifan lokal masih bernaung dalam jiwa para generasi milenial.

Bahkan, menurut Wawan, ragam bahasa Sunda seperti ini dari generasi muda, tidak perlu dibuat strukturnya. Nantinya, tidak akan ekspresif lagi. Ranah antara ekspresif dan strukturisasi, harus dijaga perbedaannya, karena mengacu pada sistem yang sebetulnya masih perlu dikoreksi. 

Sementara dari penulis sendiri, jujur saja lebih sering berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Bahkan, saking dominannya, justru hanya bertutur-kata bahasa Indonesia, saat menulis di Blog ini saja (P). 

Karena itu, kadang berbagai kata Sunda yang 'terasa enak,' sering dilampirkan dalam banyak artikel di blog ini, biar terasa lebih komunikatif. Atau, penulis merasa kurang cocok dengan kata yang berbahasa Indonesia, sehingga memilih kata dari Sunda saja (P).

Paguyuban Pasundan

Sebenarnya, urusan kebangkitan bahasa daerah, khususnya suku Sunda di Jawa Barat, sempat terjadi dalam sejarah. Fakta ini dilansir dari Edi S Ekadjati, dalam bukunya yang berjudul Kebangkitan Kembali Orang Sunda, yang dilampirkan dalam situs Bandung Bergerak

Edi S Ekadjati menyatakan bahwa awal abad 20 di Indonesia, alias Hindia-Belanda saat jaman tersebut, sedang tumbuh kesadaran dalam masyarakat pribumi, khususnya dari kaum terpelajar. Jaman tersebut, sangat dibutuhkan organisasi yang menghimpun kekuatan dan kebersamaan sesama warga.

Sehingga, terbentuklah banyak organisasi kaum pribumi yang bercorak etnis, agama, dan dagang. Contoh yang berdasarkan etnis, diantaranya adalah Budi Utomo, Rukun Minahasa, Paguyuban Pasundan, Kaum Betawi, serta Ambonsh Studiefonds. 

Sementara untuk segi ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam, dan dari segi agama diantaranya adalah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Perserikatan Kaum Kristen, dan sebagainya.

Paguyuban Pasundan didirikan dan dipimpin oleh DK Ardiwinata pada tahun 1913 lalu, demi membedakan suku Sunda, dengan organisasi pemuda di banyak wilayah lainnya.

Sedikit kisruh pandangan terjadi, akibat banyaknya warga terpelajar Sunda yang sebelumnya bergabung dengan Budi Utomo (1908), memilih bergabung dengan Paguyuban Pasundan saat tahun 1913. Masuknya warga terpelajar dari Sunda ini, dianggap sebagai perpisahan dari Budi Utomo.

Padahal, Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan memiliki konsep yang sama, yaitu konsep etnis, bahasa, kebudayaan, dan wilayah yang berbeda. Sementara itu pembeda utamanya, adalah dominannya penggunaan bahasa dan budaya Jawa di Budi Utomo, yang menyebabkan warga Sunda perlu berhenti mengikutinya.

Dari segi kebudayaan, ideologi Sunda sudah terbentuk sejak awal abad 8 hingga akhir abad 16. Budaya Sunda ini berwujud aksara, bahasa, etika, adat istiadat alias hukum, lembaga masyarakat, serta kepercayaan.

Namun akibat datangnya kebudayaan Islam dari pesisir utara, lalu berlanjut dengan tibanya kebudayaan Jawa dari kerajaan Mataram, mengakibatkan banyak warisan budaya Kerajaan Sunda tergerus oleh dominasi asing.

Bahkan, Belanda sempat mengalihkan minat pemuda terpelajar Sunda pada awal abad 20, dengan menganjurkan bahasa, bacaan, dan budaya Jawa. Memang, saat tersebut banyak warga Sunda, yang menganggap bahwa status terpelajar dan beradab, adalah dengan sanggup memahami budaya Jawa.

Puncaknya, berdirinya Paguyuban Pasundan adalah tonggak sejarah kebangkitan kembali, eksistensi dan peranan Sunda, di tengah lingkungan masyarakatnya sendiri, dan secara luas di Hindia-Belanda (dengan multi-etnis dan budayanya).

R Otto Iskandar di Nata yang merupakan seorang warga Sunda, mulai memimpin Paguyuban Pasundan sejak tahun 1929 hingga 1942. Memang, sebelumnya Otto sempat menjadi anggota dan pengurus cabang Budi Utomo di Banjarnegara, Bandung, dan Pekalongan. 

Selama memimpin Paguyuban Pasundan, Otto sempat menjalin banyak kerjasama dengan Budi Utomo, demi menghadapi musuh bersama, yaitu penguasa kolonial Hindia-Belanda.

12 Januari 2026

Lucu-lucuan Penguin Korea Ala Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

 

Pororo dan banyak kawannya (TMDB).

Daaaan, masih ada satu lagi film bagi anak (alias ratingnya Semua Umur) di minggu ketiga bulan Januari 2026 ini, berjudul Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure, yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Kali ini, Pororo adalah sejenis karakter animasi dari Korea Selatan sana, yang berbentuk Penguin, lengkap dengan topi pilot dan kacamatanya. Inovasi karakter Pororo cukup mendunia, yang merupakan awal kebangkitan budaya seni populer dari Korea Selatan, hingga sanggup menyaingi Hello Kitty dari Jepang, Mickey Mouse dari AS, dan Smurfs dari Eropa.

Bagi para penggemar film, tentu dapat mengingat bangkitnya Korea Selatan dengan pop-dansanya yang sempat merajai awal tahun 2010an lalu. Filmnya pun sangat berkelas ala film produksi Hollywood, walau cukup jarang mengemukakan khas budayanya sendiri.

Pororo adalah pionir dari kebangkitan tersebut. Bahkan hingga sekarang, sebanyak delapan musim kartun animasi telah ditelurkan, dari tahun 2003, 2005, 2009, 2012, 2014, 2016, 2020, dan 2023. Filmnya bahkan mencapai 12 banyaknya, yaitu pas tahun 2004, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2017, 2019, 2022, 2022, 2023, dan 2025. Tentunya, film berjudul Sweet Castle Adventure ini, adalah film ke 13-nya.

Masih banyak karya lainnya yang mengikutsertakan Pororo dan kawan-kawannya, namun ikoniknya penguin berwarna biru ini tidak hanya dari segi kelucuannya saja. Pororo diproduksi dengan menghilangkan bias budaya dan referensi sejarah, sehingga cukup familiar di seluruh belahan dunia. 

Selain itu, sejak awal, Pororo didesain untuk anak berumur 4 hingga 7 tahun, yang mengenalkan berbagai sikap, norma, moral, banyak nilai edukasi (alias life skill). Pada saat awal penayangannya di Korea Selatan, banyak anak di Korea Selatan mengikuti gaya Pororo saat mengangkat tangan untuk menyeberang jalan, makan dengan dikunyah 30 kali, mencuci tangan, dan berbagai 'nilai keseharian' lainnya.

Orangtua dari Korea Selatan yang menyukai karakter Pororo, saat itu menyarankan Iconix Entertainment sebagai studio produksi, dalam memasukkan adegan tersebut pada setiap episodenya. Iconix pun setuju, sehingga timbal-balik antara hiburan dan edukasi, khususnya pada anak Korea Selatan, semakin terjalin dengan baik.

Sinopsis Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

Kali ini, dunia Pororo sedang dalam musim dingin dan menjelang perayaan Natal. Di Kerajaan Dessert, sedang diadakan kompetisi memasak kue. Pemenangnya, akan mendapatkan lapisan topping dari Sinterklas.

Pororo dan kawan-kawannya yang kebetulan bertemu Sinterklas di jalan, akhirnya diminta untuk mengirimkan piala topping tersebut kepada Ratu di Kerajaan Dessert. Petualangan baru mereka pun dimulai, sambil menikmati momen di musim dingin. 

Namun, saat akan menyerahkan piala tersebut di Kerajaan Dessert, seorang tokoh produsen cokelat bernama Leo No. 5 menghalau mereka. Leo tidak rela, kompetisi dilaksanakan tanpa kehadiran cokelat buatannya. Pororo pun perlu mengamankan piala tersebut, sambil menghindari kejaran Leo.

Amankah kompetisi ini dengan perayaan musim dinginnya di Kerajaan Dessert? Jawabannya, tentu dapat disaksikan di keberagaman kue ala sinema Indonesia.

Jackie Chan Akhirnya Merasa Sepuh di Film Unexpected Family

Sepuh Jackie yang akhirnya istirahat (TMDB).

Okeh, saatnya melanjutkan animo film keluarga di awal tahun 2026, dengan ikut membahas The Man, The Myth, and The Legend Himself, Jackie Chan, dalam film sepuhnya berjudul Unexpected FamilyRemaja dan lebih tua, dapat menonton film ini karena rating umurnya adalah R13.

Film yang akan tayang di banyak sinema Indonesia ini, memang berbeda dengan mayoritas karya Jackie Chan, yang biasanya mengutamakan adu gelut beladiri. Kini, sang sepuh kembali sadar bahwa dirinya telah berumur 71 tahun, dengan berperan sebagai kakek tua di film Unexpected Family.

Karir Jackie Chan

Sebelum membahas lebih jauh filmnya, perlu diingat karir Jackie Chan yang telah melanglangbuana sejak tahun 70an hingga sekarang. 

Jackie pertama kali berperan sebagai pemeran ganda di film Bruce Lee terdahulu, berjudul Fist of Fury, tepatnya tahun 1972. Setelahnya pada tahun 1973, film Enter The Dragon menjadi langkah pro keduanya dalam film beladiri. Dari situ, Jackie mulai dikenal sebagai ahli beladiri yang cekatan di ranah perfilman HongKong.

Jackie bahkan sempat digadang sebagai penerus Bruce Lee, dengan direkrut oleh sutradara terkenal Willie Chan, yang berhasil menelurkan New Fist of Fury (1976). Namun, film ini gagal di sinema dan tidak cocok dengan gaya akting Jackie Chan.

Dua tahun berikutnya, tepatnya tahun 1978, Jackie Chan berperan dalam film Snake in Eagle's Shadow dan Drunken Master. Karena sutradara Yuen Woo-ping membebaskan gaya akting dan koreografi Jackie, maka hasilnya adalah sukses besar. Kedua film tersebut memulai jalur Jackie Chan sebagai aktor beladiri, namun berbumbu komedi.

Willie Chan yang sebelumnya berniat menciptakan Bruce Lee baru dalam tubuh Jackie Chan, akhirnya merasa cocok dengan gaya akting aslinya. Willie lalu turun berkecimpung sebagai manajer Jackie, selama 30 tahun lamanya. 

Dan kini, karir Jackie Chan sudah mencapai jangka 54 tahun lamanya, berjibaku sebagai aktor beladiri di puluhan film. Bahkan di tahun 2025 lalu, Jackie masih sempat berperan aksi dalam film Shadow's Edge pada bulan Agustus, dan sebagai sepuh dalam film Karate Kid: Legends pada bulan Mei.

Nah, akhirnya kembali ke film Unexpected Family, justru mengisahkan Jackie Chan yang berperan sebagai seorang kakek tua, yang sudah pikun dan sulit mengenali siapa keluarga atau tetangganya. 

Cocok memang, karena keterbatasan umur pun, sang legenda akhirnya berkarya tanpa aksi berlebihan lagi. Ditambah lagi, puluhan cedera telah menggerogoti tubuhnya sejak awal karir, yang entah sembuh sepenuhnya atau tidak, mungkin tetap menjangkit tubuh Jackie yang sudah sepuh.

Sinopsis Film Unexpected Family

Zhong Bufan (Peng Yuchang) baru saja melarikan diri dari kota kecil kediamannya, demi tinggal di ibukota Beijing. Tanpa arah yang jelas, kebetulan dia bertemu dengan kakek tua bernama Ren Jiqing (Jackie Chan), yang sudah pikun.

Ren yang ingatannya sudah campur aduk tidak jelas, malah mengira Zhong sebagai anaknya sendiri, yang telah lama tidak datang mengunjunginya. Serba salah, Zhong pun menghindari terus Ren, karena tidak ingin salah tanggap.

Sementara tetangga Ren yang tahu sikap nyentriknya, coba menghalau dirinya yang sering mengejar Zhong. Tetangga Ren memang sudah memaklumi, dirinya tinggal sendiri sudah lama, sementara ingatannya semakin kabur.

Namun, waktu berlalu cukup lambat, dan dedikasi Ren untuk terus menganggap Zhong sebagai anaknya, menyebabkan seluruh tetangganya terenyuh. Bahkan, seluruh tetangganya pun berinisiatif, untuk menemani Ren lebih dekat lagi, dengan berfokus pada Zhong sebagai anaknya.

Bagaimana akhir kisahnya? Dapat disaksikan ala panti jompo sinema Indonesia.

7 Januari 2026

Repotnya Mengurus Prasmanan Ala Film Uang Passolo

Biba dan Rizky yang masih terbebani (TMDB).

Berikutnya, adalah film drama keluarga Indonesia yang lebih mengena lagi, berjudul Uang Passolo, yang tengah tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur cukup membahana, yaitu R13 (Remaja).

Berbeda dengan ketiga film sebelumnya di minggu ini, Uang Passolo cukup mengingatkan, bagaimana drama paling mudah ditemui di keseharian, yaitu saat repotnya mengurus Prasmanan Pernikahan anggota keluarga. Tentu, bukan maksudnya kawin dan kawin lagi ala film lain, tetapi bagi yang sudah merasakan atau tidak, tentu ingat hiruk-pikuknya melaksanakan acara pernikahan. 

Oh ya, menariknya film Uang Passolo ini, mengadaptasi budaya Indonesia wilayah Timur, khususnya di Sulawesi, dengan gaya komedi khas dari sana. Tetapi, jika ditelaah kembali, justru keadaan seperti ini lumrah di seluruh Nusantara. Uang Passolo pun artinya uang Prasmanan, yang biasa berada dalam sebuah amplop, dan diberikan saat pengunjung tiba di meja tamu saat acara berlangsung.

Perlu diingat, budaya kekeluargaan di Indonesia, yang begitu lekat hingga leburnya istilah besan, dan cocok sebagai bagian dari keluarga besar. Budaya kekeluargaan tersebut, mengacu pula saat seorang anggota keluarga, menjelang pernikahan mereka. Tentu, seluruh keluarga besar ingin acara tersebut dimeriahkan.

Bahkan, jika mengingat budaya arisan keluarga Indonesia, momen pernikahan menjadi satu tahap dimana seluruh anggota keluarga, berkontribusi langsung. Tergantung dari budaya persukuannya, dan tradisi keluarga itu sendiri, maka keluarga besar tentu turun membantu dalam segi biaya dan persiapan lainnya.

Apalagi, momen tersebut kadang berujung hutang besar, kepada keluarga besar. Tentu, banyak yang tidak ingin terikat hutang sebesar itu, apalagi dengan urusan kedekatan keluarga pula. Namun, justru itulah menariknya. Bayangkan, tidak mirip film dan sinetron Indonesia yang mengedepankan kawin-cerai serta poligami, justru stigma buruk tersebut sangat melekat dalam budaya kekeluargaan Nusantara.

Istilahnya, budaya Nusantara sangat tidak menyukai kawin-cerai atau poligami, karena menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Bahkan tidak hanya sebagai norma sehari-hari, namun ditunjukkan saat momen pernikahan, saat seluruh keluarga besar tidak hanya berkumpul, tetapi langsung berkontribusi.

Tentunya, momen pernikahan memang mengundang pula tetangga terdekat, keluarga besar lainnya, kenalan di pekerjaan, dan mungkin Para Pemburu Prasmanan sekaligus (Hehe).

Nah, justru karena hal tersebut, maka gengsi pernikahan semakin tinggi. Dan, penulis juga memiliki beberapa pengalaman aneh mengenai pernikahan di Nusantara. Bukan maksudnya membuka momen pribadi saat pernikahan, tetapi lebih mengemukakan tentang repotnya saat ada momen Prasmanan di jalan raya. 

Contohnya, saat sedang berlibur ke luar kota, yang memang saat itu tengah minggu liburan, kadang banyak jalan ditutupi oleh semacam area khusus. Ya, jalan tersebut ditutup karena sedang ada Prasmanan. Mobil serta motor harus berbalik, untuk melanjutkan perjalanan.

Kadang, momen tersebut tidak sepenuhnya memenuhi jalan raya. Tetapi, lokasi parkir yang sempit, serta banyaknya kendaraan yang perlu lewat, menyebabkan jalan yang macet parah. Belum lagi suara sound horeg yang keras, yang betulan meramaikan suasana jalan raya.

Ya, maklum saja kalau begitu, karena momen itu memang jarang dan cukup berharga. Pengemudi yang numpang lewat, mungkin sekalian saja menikmati, karena memang momen tersebut cukup langka terjadi, walau diundang sekali pun.

Okeh, saatnya kembali ke film Uang Passolo, yang jelas animonya mirip dengan acara kekeluargaan ala Nusantara ini. Oh ya, bahasanya pun khas dari Sulawesi sana, jadi siap saja untuk membaca terjemahannya.

Sinopsis Film Uang Passolo

Rizky (Imran Ismail) dan Biba (Masita Aspah) adalah sepasang muda-mudi yang siap menikah. Namun, keduanya justru ingin melaksanakan proses pernikahan yang sederhana, alias hanya mengundang keluarga besar saja.

Namun, orangtua dari kedua belah pihak, justru menolak acara sederhana tersebut. Mereka menginginkan anaknya melaksanakan acara pernikahan yang meriah, lengkap dengan undangan kepada ratusan tetangga dan kenalan.

Bahkan, Biba lebih miris lagi. Jika acara pernikahan besar jadi dilaksanakan, maka rumah ibunya digadai demi menutupi biaya. Sementara orangtua dari Rizky, berpendapat bahwa acara pernikahan yang besar undangannya, tidak hanya memperbanyak doa, namun menambah pula banyak berkah dan rezeki (langsung).

Pernikahan pasti tetap berlangsung, tetapi bagaimanakah caranya mereka semua mencapai tahap tersebut? Jawabannya, tentu dapat dicek melalui ritual pernikahan ala sinema Indonesia.

Makna Dibalik Horornya Film Malam 3 Yasinan

 

Keluarga Djoyodiredjo yang tengah berkabung (TMDB).

Sekarang, berlanjut menuju film keluarga berikutnya, walau lebih beratmosfer horor, ala film berjudul Malam 3 Yasinan, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur D17 alias Dewasa.

Sebelumnya, saya perlu mengisahkan pula, satu posisi yang mengomentari film berjudul terlalu keagamaan ini. Sebenarnya telah beberapa kali saya sebagai penulis, menghindari film horor sejenis ini. Tetapi, jika ditelaah dari dasar ritualnya, dan dibandingkan dengan cuplikannya, maka khusus film ini cukup jelas dan bisa diangkat dalam artikel.

Memang, tradisi tahlilan, atau biasa disebut juga yasinan karena mengacu pada surah yang dibaca, bukanlah suatu bentuk tradisi asli Muslim. Tradisi semacam ini dilaksanakan sejak jaman terdahulu, demi berdoa kepada leluhur. Seperti dilansir dari Etnis, tradisi ini lalu bercampur akulturasi budayanya di Nusantara, khususnya Jawa, saat hadirnya Islam di Indonesia. 

Bahkan, ada satu organisasi Muslim bernama PERSIS, yang menolak sepenuhnya tradisi ini, karena bukanlah anjuran dari Islam. Tradisi ini dianggap akulturasi saja, dan bukanlah pedoman Syariah dari agamanya.

Dan kembali ke film Malam 3 Yasinan, maka penulis cukup mengerti, bahwa sineas perfilmannya mencoba mengangkat bahan horor yang cukup sesuai. Bahkan dalam beberapa poster filmnya, terlihat budaya Jawa yang kental, lengkap dengan Kupluk (Blangkon) dan nama keluarga khas dari Jawa.

Jika dibandingkan dengan film Nasional sejenis yang ikut mengadaptasi horornya budaya keagamaan Nusantara, justru Malam 3 Yasinan ini cukup sesuai dengan kondisi di ranah sosial masyarakat. 

Justru lebih parah di film lainnya, saat judul saja tidak sesuai dengan definisi dan deskripsi istilahnya sendiri. Malah bisa dibilang, tidak hanya menyepelekan, namun membodohi penontonnya, dengan salah arti dan makna. Bahkan, di beberapa adegan cuplikannya saja, tidak nyambung dengan judulnya sendiri (!)

Menurut penulis, justru film tersebut salah mengartikan, bahkan menyalahgunakan, wacana yang berasal dari Ensiklopedia. Contohnya adalah satu kalimat dari artikel di blog ini, berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Dari artikel yang diterjemahkan sesuai sumber aslinya ini, terdapat kalimat 'perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap sebagai merusak tatanan budaya.'

Dari situ saja, penulis sudah menganggap, bahwa perubahan yang diterapkan pada film, hanyalah arahan dari satu kalimat di Ensiklopedia saja. Sementara, mereka berkreasi dengan bebas tanpa arah yang jelas. Naudzubillah.

Sinopsis Film Malam 3 Yasinan

Samira (Shalom Razade), baru saja pulang ke kediaman keluarga besarnya, yang bernama Djoyodirejo. Kembalinya Samira, akibat saudari kembarnya, Sara, baru saja meninggal dunia dan segera dimakamkan. 

Selama ini, Samira memang tinggal jauh dari keluarga besar, akibat tekanan gengsi berlebihan sebagai keluarga ningrat, serta kompetisi antar keluarga Djoyodirejo. Padahal sebelumnya, keluarga ini sempat damai, (yang seperti dalam cuplikannya) dan sempat membuat video dokumenter dan foto bersama.

Namun, ternyata semenjak Samira tidak berada di rumah, keadaan banyak anggota Djoyodirejo memburuk seketika. Berbagai ketegangan berbeda, semakin meruak, dan berbeda dengan momen kehilangan seorang anggota keluarga.

Bahkan, kengerian ini muncul paling terasa, sesaat setelah ritual pemakaman Sara, yang dilanjutkan dengan tahlilan di rumah duka. Banyak kejadian mistis aneh, menerpa seluruh anggota keluarga Djoyodirejo, yang termasuk Samira itu sendiri.

Sanggupkah Samira menguak apa yang terjadi gerangan pada keluarganya? Atau malah terjerumus kembali dalam gelapnya kompetisi keluarga? Atau malah sosok Sara muncul kembali demi melindungi Samira seorang?

Jawabannya, tentu ada di ritual tradisi ala Sinema Indonesia.

Nah, dari segitu saja sudah cukup meyakinkan, bahwa film ini tidak menyalah-artikan syariah, serta mengedepankan ritual tradisi serta drama manusianya. Manusia tentu selalu dapat disalahkan, sementara budaya yang mengikat, justru memang disalah-gunakan oleh beberapa pihak.  

Okeh, Wassalam (lagi).

Mencari Tanah Harapan Baru di Film Greenland 2: Migration

 

Keluarga Garrity yang memilih migrasi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film keluarga lainnya, namun dengan bumbu drama para penyintas bencana alam, berjudul Greenland 2: Migration, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating R13 (Remaja).

Film ini tentu meramaikan kembali, ranah bencana alam dahsyat yang kurang diangkat oleh sineas perfilman dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin, film ini mengingatkan tentang cuaca ekstrem, walau dalam filmnya lebih mengisahkan tentang jatuhnya komet di bumi, dan perubahan iklim setelahnya. Animo ini memang naik-turun dalam sejarah perfilman Hollywood. 

Pemainnya pun cukup mumpuni, yaitu Gerard Butler yang naik pamornya sejak film 300 (2006) terdahulu, dan Morena Baccarin yang ikut naik pamornya, sejak film Spring (2014) dan Deadpool (2016).

Oh ya karena sedang membahas tentang bencana alam, coba cek film Spring dari Morena Baccarin. Yang paham, tentunya akan mengerti maksud film tersebut, walau mayoritasnya adegannya lebih menunjukkan horor-drama sekaligus.

Bagi yang kurang paham, mungkin nanti saya tulis di artikel Monsterisasi saja, ya...

Atmosfer Bencana Alam Dahsyat di Perfilman Hollywood

Perlu diingat, animo bencana komet dahsyat sebagai plot utama film, sempat ramai saat film Armageddon (1998) yang dirilis dengan penuh bintang, diantaranya Bruce Willis, Ben Affleck, Liv Tyler, Steve Buscemi, Owen Wilson, serta Ving Rhames. Bahkan, para penikmat film tentu masih mengingat, lagu latar berjudul Leaving On A Jetplane, dari penyanyi Chantal Kreavizuk.

Animo ini dilanjutkan kembali dalam film Deep Impact di tahun yang sama, dan masih berplot utama komet yang jatuh. Namun, dengan mengedepankan visual Tsunami yang melebihi tingginya gedung pencakar langit di New York, AS. Aktor pengisinya pun termasuk bintang, yang diantaranya adalah Morgan Freeman, Elijah Woods, and Jon Favreau.

Berikutnya adapula film Day After Tomorrow (2004), yang mengisahkan tentang dinginnya bumi setelah mencairnya kedua kutub bumi akibat pemanasan global. Film ini dibintangi pula oleh aktor ternama Jake Gyllenhaal.

Loncat beberapa tahun berikutnya, film berjudul 2012, dirilis pada tahun 2009. Film ini memang memanfaatkan ramainya teori kiamat bumi pada tahun 2012, padahal tahun tersebut adalah akhir dari kalender kuno milik Suku Maya terdahulu. 

Walau begitu, film ini sebenarnya mengacu pada patahan sesar di seluruh bumi, yang terpicu akibat masifnya pergeseran tektonik, dan menyebabkan bencana dahsyat di seluruh dunia. Aktor bintang yang mengisinya pun cukup terkenal, yaitu John Cusack, Woody Harelson, dan Chiwetel Ajiofor.

Animo yang sama pun dikembangkan kembali oleh film San Andreas (2015), yang diperankan oleh aktor Dwayne 'The Rock' Johnson, Paul Giamatti, dan Kylie Minogue. Berbeda dengan 2012, film ini lebih mengisahkan satu patahan sesar saja di California AS, yang memang bernama San Andreas.

Tahun 2022 lalu, sempat dirilis pula film yang mengisahkan tentang jatuhnya obyek antariksa menuju bumi, berjudul Moonfall. Walau berkisah fantasi ala sains-fiksi, namun cukup mantap dengan sepasang bintang ala Patrick Wilson dan Halle Berry.

Sinopsis Film Greenland (2020)

Okeh, dan tampaknya perlu kembali ke Greenland, yang disukai oleh penggemar dan kritikus film. Berbeda dengan daftar film diatas, justru film Greenland sangat berbumbu drama, dengan fokus karakter utama sebagai penyintas bencana. Tingkat bencana serta hingar-bingarnya kerusakan pun diminimalisir oleh film ini.

Tidak perlu mengisahkan terlalu banyak mengenai sinopsisnya, karena memang sengaja cuplikannya dibuat acak agar tidak membuka banyak plotnya. 

Disimpulkan sedikit saja, John Garrity (Gerard Butler) dan Allison Garrity (Morena Baccarin) adalah sepasang suami dan istri yang tengah mengadakan pesta di rumahnya bersama tetangga terdekat.

Namun, terdengar kabar berita komet bernama Clarke, yang akan tiba dalam waktu 24 jam di atmosfer bumi. Awalnya mereka menyepelekan, karena komet biasanya hancur sebelum menyentuh bumi. Namun, ketika anaknya yang bernama Nathan (Roger Dale Floyd) berteriak, mereka akhirnya dapat melihat langit yang berubah merah menyala.

Seluruh keluarga beserta tetangganya pun panik, dan dengan arahan dari berita tersebut, bergerak menuju lokasi bunker bagi penyintas di Greenland. Keluarga Garrity pun berjibaku hebat, melawan kemacetan, jatuhnya pecahan komet secara acak, brutalnya para penyintas yang depresi, serta tertahan oleh regu penyelamat yang sengaja memilah penyintas untuk dapat masuk bunker.

Bagi yang penasaran, dapat menyaksikan film pertama Greenland di banyak layanan siaran internet.  

Sinopsis Film Greenland 2: Migration

Dalam film keduanya, Allison, John, dan Nathan akhirnya berhasil memulai hidup baru di Greenland, setelah beberapa bulan tinggal dalam bunker, akibat bencana komet Clarke. Kini, keluarga Garrity telah bertahun-tahun lamanya selamat sejak jatuhnya komet, dan memulai hidup baru yang damai.

Namun, bumi memang sudah berubah sejak tibanya komet Clarke, dengan cuaca ekstrem yang terus mengancam planet ini. Tidak hanya bencana alam, ternyata kondisi alam yang berubah, menyebabkan Greenland sudah sulit ditinggali lagi. 

Sulitnya kondisi di Greenland, serta bencana alam ekstrem yang secara acak terus mengancam lokasi hunian, menyebabkan keluarga Garrity berinisiatif kembali. Ya, mereka mulai melaksanakan migrasi, demi menemukan tanah harapan baru. Tentu, yang dicari adalah lokasi layak untuk dapat ditinggali oleh manusia.

Dapatkah mereka menemukan kembali lahan yang cukup aman? Atau malah berujung petaka lainnya, seperti perjalanan pertama mereka menuju Greenland?

Jawabannya, tentu ada di siklus akhir dan awal dunia ala sinema Indonesia.

Sedikit Pendapat Akhir Dunia

Mengenai kisah akhir dunia, yang tentu banyak kisahnya dan kontroversinya, justru penulis ingin mengomentarinya dari segi para 'aktivis-nya.'

Terdapat beberapa kreator (di Internet), yang setiap merilis karya kontennya, terlalu mengedepankan kontroversi yang ada, layaknya bencana alam dan manusianya adalah suatu bentuk pro atau kontra.

Memang cukup bagus untuk meningkatkan pemantauan kita sebagai warga biasa. Namun, kontennya saja judulnya sudah click-bait, apalagi hingga rage-bait. Seakan, konten tersebut hanya ditujukan untuk memancing saja. Padahal kalau topiknya bencana alam, tentu dapat dicek dengan membaca beritanya, dokumenter berisi sainsnya, dan bahkan sedikit drama dari fiksinya.

Jadi, penulis hanya ingin mengomentari, bahwa konten seperti itu hanya dijadikan sebagai bahan obrolan saja, dengan para kreatornya yang jelas terlihat paranoid. Bahkan, penulis sempat menonton sebuah konten, yang jika ditelaah, tiga dari lima topik yang diutarakannya ternyata salah fakta dan data! Padahal, konten tersebut tidak mengomentari urusan Fiksi! Jadi, dimana sebenarnya kredibilitas mereka?

Lebih paranoid lagi, mereka layaknya seorang pemberontak, khususnya kepada 1 Persen Top Global, yang sudah dari jaman terdahulu, menjadi prioritas keamanan jika bencana alam dahsyat menimpa bumi. Terlalu paranoid-kah mereka? Menurut penulis sih iya, mereka paranoid. 

Kembali ke segi penulis sendiri, penulis menyimpulkan cuplikan dan referensi film seadanya, layaknya sastra dan seni yang memiliki penjiwaan tersendiri, dengan disandingkan ala balutan budaya yang ada. Jadi, berbeda dengan para 'influencer' ini, tulisan artikel saya memang lebih mirip sebuah bentuk studi dan penjiwaan, daripada dapat merubah pandangan para pembacanya.

Okeh, Wassalam.

26 Desember 2025

Kocaknya Dikejar Hutang Ala Komedian di Film Modual Nekad

 

Film yang emang modualnya nekad (Instagram).

Menjelang akhir tahun 2025 ini, alias minggu kelima Desember saat perpindahan tahun menuju tahun 2026, tampaknya memang perlu diisi dengan film komedi nan kocak. Ya, kali ini judulnya adalah Modual Nekad, yaitu sekuel dari film pertamanya yang mirip judulnya, Modal Nekad

Film Modual Nekad tentu akan tayang di sinema-sinema Indonesia mulai akhir minggu kelima sekaligus batas ujung tahun, alias tanggal 31 Desember mendatang. Bagi yang perlu menonton film pertamanya dari tahun 2024 (dan masih di bulan Desember lalu), masih bisa disaksikan di layanan siaran Netflix. Kedua film pun memiliki rating sama, yaitu R13+.

Oh ya, bagi yang merasa kenal dengan Imam Darto, ya kali ini Modual Nekad menjadi film kedua yang menjadi arahannya, sekaligus penulis naskahnya. Lulusan dari radio ini memang telah berkecimpung lama sebagai penulis naskah film, yaitu sejak film Vote for Love, tahun 2008 lalu. Walau begitu, film hasil naskah miliknya lebih konsisten dimulai sejak tahun 2019 lalu, dengan judul Pretty Boys.

Animo filmnya yang kocak ala komedi Indonesia pun sebenarnya berujung ironis, karena kedua film mengisahkan tentang sulitnya membayar hutang, yang berakibat dari biaya rumah sakit. Saking ekstremnya, seluruh karakter utama di kedua film malah mengambil jalur yang lebih ekstrem lagi, yaitu mencoba mencuri dari sebuah rumah orang kaya.

Okeh, segitu saja dulu plot utamanya. Sudah saatnya membahas sinopsis film pertamanya, ya wak?

Sinopsis Film Modal Nekad

Saipul (Gading Marten), Jamal (Tarra Budiman), dan Marwan (Fatih Unru), baru saja kehilangan sosok ayah mereka. Baru saja ketiganya menguburkan jenazah ayahnya, dengan kata-kata ceramah mengingatkan tentang hutang almarhum, administrasi rumah sakit yang ikut menumpang ambulans, langsung tanpa ragu menggelontorkan sepucuk surat tagihan biaya perawatan.

Ketiganya pun mengadakan rapat, untuk menghitung bagaimana caranya membayar hutang tersebut. Akhirnya, karena ketiga bersaudara ini mentok, maka memilih jalur yang kurang baik, yaitu mencuri dari sebuah rumah milik orang kaya, bernama Teddy Salsa (Bucek Depp), yang (katanya) jarang pulang ke rumah.

Namun, saat ketiganya berhasil memasuki area dalam rumah tersebut, ternyata sang pemilik rumah kembali pulang. Tidak sendiri, melainkan bersama seluruh ajudannya, yang bernama Petrus (Mike Lucock), Eka (Prisia Nasution), Bakti (Sadana Agung), dan Agus (Coki Anwar). Trio bersaudara ini pun kalang kabut untuk mencari tempat persembunyian.

Lebih parah lagi, ternyata kepulangan pemilik rumah, bareng pula dengan tibanya anggota kepolisian, yang dikepalai oleh Bripka Bowo (Tanta Ginting) dan Briptu Ardi (Reza Hilman). Mereka melaksanakan Buser (Buru Sergap) sekaligus Sidak (Inspeksi Mendadak), karena tahu bahwa pemilik rumah yang terkenal kriminil, sedang berada di rumah. 

Lebih kacau lagi, ternyata Teddy Salsa tidak mau mengalah begitu saja. Ajudannya malah melawan balik, dan berakhir dengan menyandera seluruh anggota regu kepolisian.

Trio bersaudara ini akhirnya mendapatkan bantuan khusus, yaitu dari pembantu dan penjaga rumah tersebut yang bernama Rosma (Sahila Hisyam) dan Salim (Fajar Nugra). Kedua pembantu yang biasa mengurus rumah saat ditinggalkan pemiliknya, ternyata tahu kegilaan yang sering dilaksanakan bos-nya. 

Bahkan, setelah berhasil keluar rumah, ketiganya justru membantu lagi para penjaga rumah, agar dapat menguak kejahatan di rumah tersebut, sekaligus mendapatkan cuan untuk hutang mereka.

Okeh, plotnya terdengar epik dan cukup menarik. Sekali lagi, yang penasaran bisa mengeceknya di siaran Netflix. Oh ya, film ini sekaligus menjadi debut aktris cilik bernama Gempita Nora Marten, anak dari Gading Marten, yang memerankan karakter Aisyah.

Dan lanjut, ke sinopsis film keduanya, ya...

Sinopsis Film Modual Nekad

Kali ini di film keduanya, trio bersaudara Saipul, Jamal, dan Marwan malah terjerat di situasi yang lebih parah lagi. Yaitu, resiko rumah warisan peninggalan bapaknya, Bapak Husein (Budi Ros), yang akan disita oleh bank. 

Penyitaan sejenis ini, kadang terjadi di dunia nyata, akibat sang pewaris malah menitipkan sertifikat rumah bukannya pada anggota keluarga atau ahli hukum, dan bahkan bank yang memang dapat menyita, melainkan pihak ketiga yang dianggap memiliki kedekatan batin. Namun, pihak ketiga (yang dalam film ini bernama Pak Haji dan diperankan oleh Andre Taulany) malah menyalahgunakan sertifikat tersebut demi kepentingan pribadi, contohnya adalah sebagai jaminan untuk  meminjam sejumlah dana dari bank.

Jadi, ketiga karakter utama di film Modual Nekad, justru tidak berandil sama sekali, yang berakibat penyitaan rumah milik mereka. Namun, ketiganya yang sudah berpengalaman untuk menjebol rumah orang kaya, memanfaatkan situasi lain yang sama berbahayanya. 

Di sekitar area rumahnya, terdapat seorang rumah pejabat korup yang baru saja ditangkap kepolisian. Dari situ, Marwan memanfaatkan situasi Buser dan Sidak di lokasi rumah tersangka, dengan berpura-pura sebagai anggota pers. Padahal, tujuannya adalah memantau isi keadaan rumah, agar dapat dibobol saat operasi berlangsung malam harinya.

Trio penjahat pecicilan itupun sukses besar, dengan berhasil merebut sekitar 400 juta rupiah! Namun, kesuksesan tersebut ternyata menguak fakta lain, yang dapat membongkar kejahatan besar di rumah tersebut. Sebuah flashdisk berisi rekaman CCTV, ternyata menguak kejahatan lain yang dilaksanakan oleh pemilih rumah, bersama seorang pengusaha, bernama Omar (Surya Saputra).

Sayang seribu sayang, ajudan terdahulu yang memang ikut naik level setelah film pertamanya, yaitu Bakti, berhasil melacak lokasi duo Saipul dan Jamal. Mereka lalu disandera bersama seluruh anggota keluarganya, untuk diberikan kepada Omar.

Marwan yang tidak berhasil disekap, ternyata ikut naik level pula, yang berhasil menyergap dan menyandera para ajudan tersebut. Tanpa berpikir panjang, Marwan akhirnya mencoba menyelamatkan seluruh keluarganya.

Masih epik saja film keduanya ini. Maka, bagi yang cukup mengerti bagaimana epiknya kisah warga biasa lalu naik level menjadi penjahat pecicilan, dapat menyaksikannya langsung di ranah kriminalitas ala sinema Indonesia.

18 Desember 2025

Terbang ke Wilayah Terujung Nusantara di Film Timur

Iko Uwais yang mencoba menyelamatkan saudaranya (TMDB).

Okeh, sudah saatnya di penghujung minggu ketiga bulan Desember ini, para penggemar film Nusantara berjibaku dengan film aksi nan serius berikutnya, berjudul Timur. Film aksi mengenai kisah di penghujung timur negara tercinta ini, tentunya tayang di sinema-sinema Indonesia.

Dari judulnya, sudah menyiratkan bahwa film ini berlatar lokasi di sekitar Papua, dengan keenam provinsinya. Bagi yang sudah mengecek cuplikannya, tentu tahu bahwa Iko Uwais berperan sebagai tokoh utama, dan bahkan sebagai sutradara. 

Ya, film Timur ini adalah debut pertama Iko Uwais sebagai pengarah film. Tidak hanya itu, ternyata film ini diproduksi oleh Uwais Pictures, sebagai studio miliknya sendiri, yang resmi meramaikan ranah perfilman Indonesia sejak didirikan pada bulan Januari 2025.

Tentu, Iko Uwais yang telah melanglangbuana sebagai aktor aksi yang khas dengan gaya silatnya, menjadi animo khusus bagi penggemar film aksi. Bagi penggemar yang suka kuda-kuda silat tradisional khas Nusantara, maka aksi Iko Uwais sebagai pencetus kembali viralnya aksi silat di Indonesia sejak film The Raid (2011;2014) lalu, sangatlah ditunggu. 

Tentu karena adegan aksi yang sadis seperti banyak film silat lainnya, film ini diberi rating umur D17+ (alias umur dewasa).

Film Timur dan Kisah Papua

Kembali ke beberapa adegan cuplikannya, tentu mengenal isu apa yang diadaptasi di film Timur ini. Cukup miris, karena film ini mengisahkan tentang operasi militer dalam menghalau KKB dan KST bernama OPM. Padahal, masalah ini masih terjadi di Papua sana, dan bahkan masih panas-panasnya.

Bagi para troll, justru film ini bisa dianggap sebagai bagian propaganda dari sineas perfilman, dan pemerintah Indonesia itu sendiri. 

Bahkan jika dipanaskan lebih dalam lagi, film Timur justru berlatar operasi nyata di Mapenduma pada tahun 1996 lalu. Di tahun tersebut, OPM berhasil menyandera 26 anggota misi penelitian dari World Wildlife Fund. Terlebih lagi, saat itu Presiden kita saat ini, yaitu Prabowo Subianto, memimpin operasi Kopassus tersebut, saat dirinya masih menjabat sebagai Brigadir Jenderal TNI.

Padahal, kinerja TNI dan pemerintah dalam meluruskan masalah ini, sudah cukup dikenal. Cukup diingat, kisah di Timor Leste, lalu merambah ke Provinsi Aceh dengan GAM-nya, dan kini masih panas pula di Papua. Politik saja? belum tentu. Karena, usaha mempertahankan Nusantara yang lengkap, memang sudah menjadi acuan sejak berdirinya negara ini.

Bahkan jika diteliti dari sejarahnya, maka Indonesia yang baru saja merdeka tahun 1945 lalu, sempat mengalami pergolakan di banyak daerah. Padahal dari segi administrasi, Indonesia telah diakui sebagai anggota PBB sejak tahun 1950 lalu. 

Jadi, dengan banyak penolakan dari daerahnya sendiri, Presiden Pertama RI Soekarno sempat berpidato, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Padahal tidak hanya berkecimpung di dalam negeri, TNI cukup sering berkontribusi sebagai pasukan perdamaian dunia, hingga sekarang. Jadi, kiprah TNI sebenarnya dapat diandalkan di seluruh dunia.

Kembali dari segi administratif, Indonesia saat baru berdiri, tentu memiliki banyak tantangan di daerah maupun pusat. Beberapa agresi dari pihak luar mencemarkan integritas nasional, walau berhasil dihalau. 

Maka, terbentuknya Indonesia saat itu adalah bentuk perkembangan Nusantara, yang menyatukan status administrasi serta mengembangkan peradaban nasional menuju arah modern. Presiden setelah Soekarno, yaitu Soeharto yang banyak mengalami kontroversi, justru diberi gelar sebagai Bapak Pembangunan Indonesia.

Nah, karena lebih mengacu ke administrasi, maka coba dicek saja perkembangan yang lebih mudah dicerna oleh kita sebagai warga Indonesia.

Pemekaran Wilayah Administrasi Indonesia

Nah, daripada mengingat konflik militer yang semakin membuat resah, dan lebih baik dinikmati dari segi ranah film saja, maka coba kita telaah dari segi yang lebih damai, yaitu mengenai pemekaran wilayah di Indonesia.

Sejak awal jaman Reformasi terdahulu, hingga tercipta desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, dan kini berlanjut dengan banyaknya pemekaran wilayah administrasi di Indonesia, tampaknya menjadi acuan khusus bagi warga.

Contohnya Papua yang dulunya bernama Irian Jaya, sejak tahun 2003 dan 2004 lalu terbagi dua menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Namun, saat tahun 2022 lalu, Provinsi ini kembali terbagi menjadi tambahan Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya. 

Tampaknya pemerintah Indonesia memang sedang giat untuk melaksanakan kelanjutan desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, yang diterapkan dengan pemekaran wilayah administrasi. Menurut kabar yang ada, tujuannya adalah mendekatkan diri dari layanan pemerintah dengan warganya, alias agar birokrasi tidak terlalu mengacu ke pusat, dan setiap administrasi dapat mengurus wilayahnya sendiri.

Jika dilihat dari Pulau Jawa itu sendiri, khususnya di Jawa Barat, banyak sekali terjadi pemekaran tersebut dengan detil wilayah sekecil-kecilnya. Contohnya adalah saat Pangandaran terpisah dari Ciamis, dan menjadi Kabupaten, sejak tahun 2012 lalu. 

Di Kota Bandung, wilayahnya terpisah dengan Kota Cimahi pada tahun 2001, lalu terpisah pula antar Kabupaten Bandung, dengan Kabupaten Bandung Barat sejak tahun 2007 lalu.

Jadi, saat banyak warga dan warganet protes bahwa birokrasi Indonesia berbelit-belit, serta perkembangan daerah yang tidak merata, terdapat usaha khusus dari pemerintah, selaku pemegang kuasa administrasinya. Apalagi, jumlah pegawai negeri sipil beserta keahlian dan kedekatan batinnya, dapat lebih terikat dengan daerahnya sendiri.

Nah, sudah saatnya kembali ke film Timur, yang tampaknya mengisahkan bahwa kedekatan batin beberapa karakter, dengan warga pribumi di Pulau Papua. Jadi ya, daripada mengurus jiwa nasionalisme kita yang kadang terbengkalai, maka coba dicek saja kedekatan kita dengan wilayah hunian sendiri, ya...

Sinopsis Film Timur

Timur (Iko Uwais), Apollo (Aufa Assegaf), dan Sila (Jimmy Kobogau) adalah ketiga saudara sepersusuan ibu, yang sangat dekat saat masih kecil. Ketiganya sering bermain tembak-tembakan dengan senapan kayu, demi mengisi kesehariannya. Saking dekatnya, Isman (Andri Mashadi) memberi wasiat pada mereka, bahwa ketiganya adalah keluarga, yang harus saling jaga satu sama lainnya.

Namun, Seiring waktu, Timur, Sila, dan Apollo yang tumbuh dewasa, berpisah untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Timur dan Sila memilih bergabung dengan TNI demi mengabdi kepada Republik Indonesia. Namun, Apollo malah terjebak di lingkaran grup separatis. Hingga suatu hari, terjadi masalah besar dengan para anggota separatis tersebut. OPM menyandera anggota WWF, yang sebenarnya bermasalah dengan pemerintah Indonesia. 

Sayangnya, Timur dan Sila yang sempat mengenal medan lokasi penyanderaan, yaitu di Mapenduma, dikirimkan oleh Kopassus Angkatan Darat dalam operasi penyelamatan ini. Ketiganya pun berjibaku, untuk dapat menyelesaikan misi mereka, dengan tujuan yang saling berlawanan arah, akibat deskripsi tanah air yang sangat berbeda diantaranya.

Bagaimana akhirnya? Coba dicek saja melalui adegan nasionalisme yang kini sering berjibaku di sinema Indonesia, ya?

3 Desember 2025

Mendalami Kisah Nyata dari Tanah Minang di Film Nia

 

Film Nia yang heboh perbedaanya antara warganet, film, dan kasusnya (TMDB).

Okeh, satu film Nusantara lagi yang diadaptasi dari kasus nyata dari Sumatera Barat, berjudul singkat Nia, yang kini tengah tayang di sinema-sinema Indonesia.

Kasusnya sendiri cukup miris, karena Nia yang sebenarnya adalah gadis remaja masih sekolah, perlu membantu keuangan keluarga dengan berjualan gorengan. Namun, kisahnya berakhir tragis akibat meninggal dianiaya, setelah disergap oleh tersangka di musim hujan. 

Kelanjutan kasusnya tentu dapat dicek di banyak artikel serta berita di Indonesia. Namun, ada satu masalah mengenai adaptasi film Nia ini, yang dikemukakan oleh banyak warganet Indonesia.

Ya, terima kasih warganet Indonesia atas peringatannnya. Bagi yang penasaran, bisa dicek saja melalui cuplikan filmnya di kanal YouTube. Walau begitu, penulis tidak ingin berjibaku dengan kisah pribadi serta kekisruhan saat kasus ini ramai diangkat, hingga akhirnya dibuat sebagai karya film dari sineas Indonesia.

Terlebih lagi, coba ditelaah saja dari satu topik yang pernah penulis angkat, yaitu mengenai masalah keharmonisan keluarga dan disfungsional-nya. Dengan mengesampingkan isi cerita dari film Nia, yang tentu menjadi spoiler atas isi, maka coba dicek saja dari segi masalah sosial ini.

Masalah kawin-cerai, serta kepala keluarga yang tidak dapat mencari nafkah, hilangnya tumpuan rezeki dari kepala keluarga sebelumnya, serta sistem perlindungan anak sebagai korban, tentu menjadi permasalahan saat ini. Masalah ini seharusnya adalah tugas bagi Komnas Perempuan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Walau begitu, banyak permasalahan tidak dapat diselesaikan begitu saja. Masalah hukum ini memang terkait keluarga dan pribadi, dan bukanlah pidana, alias perdata, sehingga perlu ditanggulangi berbeda. Perlindungan hukum bagi banyak pihak dan penanggulangannya pun perlu diproses lebih.

Terlebih lagi, terdapat masalah dari Hukum Adat itu sendiri. Khusus di Indonesia, urusan hukum yang berasal dari Adat masing-masing suku budaya di Indonesia, disahkan dan bahkan hampir disejajarkan dengan hukum dari negara. Padahal, dasar hukum adat itu berlandaskan pada norma budaya sehari-hari, yang tentu berbeda setiap wilayah dan nama persukuannya. 

Bahkan, jika suatu wilayah atau keluarga tidak begitu mengedepankan hukum adatnya, maka aturan yang ada akan sedikit rancu. Walau begitu, hukum yang dibuat dari negara tentu lebih mengikat warganya. Jika memang masalah hukum adat tidak sangggup menyelesaikan, maka hukum dari negara dapat interfensi dan menjadi landasan solusi setiap kasusnya.

Dan kembali ke masalah keharmonisan keluarga, itulah yang menjadi kekisruhan anggotanya. Antara Hukum Adat, Hukum Negara, dan satu lagi, Hukum Agama, tentu saling terkait dengan pribadi masing-masing. 

Jadi, ada satu perbedaan penting dari perbedaan hukum tersebut, yaitu posisi pribadi (yang bukan berarti politik). Namun, layaknya Komnas Perempuan dan KPAI yang kini sudah terpisah lembaganya, maka setiap pribadi (seharusnya) mengenal posisi diri di mata hukum. 

Walau hukum sudah sewajarnya tidak memihak, namun jika setiap pribadi, bahkan anak, mengenal posisinya sendiri, maka kekisruhan ini dapat terhindarkan. Aparat hukum dan komisi yang bertugas pun dapat membantu sesuai dengan posisi dari pihak terkait. Terlebih lagi, bantuan mereka dapat merubah harapan hidup kedepannya, dengan dokumentasi administratif yang lebih terikat dan resmi.

Perundungan Nyata di Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel

 

Mendoakan David Latumahina (TMDB).

Okeh, hari ini kembalinya film dari Nusantara tercinta, Indonesia, dengan judul Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, yang tengah tayang di sinema Indonesia. Bagi yang sempat mengenal nama Ozora, tentu teringat kasus tahun 2023 lalu, yang film ini mengadaptasi langsung kisahnya.

Sayang seribu sayang, kasus David Ozora bisa disebut kisah perundungan paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia. Tidak hanya itu, kasus sang pelaku, Mario Dandy ini terkait dengan kasus korupsi milik ayahnya (Rafael Alun) sendiri, yang (entah kenapa) terjadi pada momen yang hampir sama. 

Penulis perlu berpendapat, bahwa kasus ini adalah satu contoh sebuah keluarga disfungsional. Walau sang ayah berkarir hebat di Kementerian (dan bisa korupsi banyak), namun anaknya sendiri malah bertingkah brutal. Itupun, tepat saat ayahnya tengah mengalami masalah hukum. Entah bagaimana komunikasi di rumah berjalan, tetapi yang pasti keduanya jelas-jelas bersalah, namun bersikap lebih buruk lagi. 

Kasus hubungan ayah-anak inipun, dengan begitu tingginya jalur karir, gengsi jabatan, harta, serta keuntungan hidup lainnya, sama sekali tidak memastikan keharmonisan keluarga. Untuk kasus hubungan keluarga ini tidak begitu dijelajahi oleh para pemerhati sosial, karena keduanya memang sedang terjerat proses hukum (saat itu).

Dan kembali ke korban, bernama David Ozora, adalah seorang pemuda berumur 17 tahun saat kasus terjadi (alias masih anak remaja). Ozora sempat disekap, dan bukan hanya dirundung saja, melainkan dianiaya. Penganiayaan mental serta fisik menyebabkan Ozora koma selama satu bulan lamanya, dan setelahnya didiagnosa mengalami regresi mental.

Sebenarnya penulis tidak ingin membawa masalah agama, namun perlu diceritakan juga. Muncul pada cuplikan filmnya, bahwa Jonathan Latahumina dan David Ozora adalah mualaf, yang baru saja memeluk Islam setelah pindah dari Kristen Katolik. 

Penulis hanya bisa berselirih, Wallahu a'lam, bahwa ini sebuah cobaan berat bagi keduanya. Ozora dan Jonathan Latahumina kini menjalani karir sebagai anggota pesantren, demi berkarya dan mendalami ilmu agama Islam lebih dalam lagi.

Untuk kronologis kasusnya, tidak perlu diceritakan karena berhubungan langsung dengan seluruh isi filmnya. Bagi yang ingin mengingat kasus ini, bisa membaca ulang banyak artikel mengenai kasus ini. Tentu, perbedaan adegan dan kronologis yang disajikan di film, bisa menjadi bahan pertimbangan pula.

27 November 2025

Ngerinya Dikejar Masa Lalu ala film Legenda Kelam Malin Kundang

 

Amak dan Alif yang terpisah oleh cahaya di area kelam (TMDB).

Dan akhirnya, kembali ke kegalauan ala Indonesia banget, dengan dirilisnya film berjudul mirip dengan cerita dongeng Nusantara, berjudul Legenda Kelam Malin Kundang

Film yang sedang tayang di sinema-sinema ini memang mengadaptasi dari sebuah dongeng rakyat terkenal di Indonesia, yang mengisahkan sebuah cerita 'anak durhaka.' Namun, jika ditelaah dari segi adaptasinya berlatar jaman modern, dengan pembawaan dunia yang telah berbeda, tentu perlu diperkenalkan kembali.

Cerita rakyat ini aslinya berasal dari ranah Minang, alias Sumatera Barat sana, mengisahkan tentang seorang anak durhaka, bernama Malin Kundang. Sang anak terpaksa merantau, namun justru setelah sukses, melupakan ibunya sendiri, dan tidak pernah pulang mudik untuk silaturahmi.

Ada satu kekhasan dari Minang itu sendiri, dimana saudaranya memang harus diingatkan, agar ingat kepada keluarga di rumah. Entah apa bahasa Minang-nya, tapi yang pasti, jika ada keluarga yang tengah merantau, akan dipantau langsung oleh keluarga lain yang telah merantau sebelumnya. 

Namun yang memantau telah hidup jemawa dan menetap permanen di wilayah barunya. Mungkin, memang mengingatkan cerita rakyat ini, atau sudah bawaan dari budaya Minang-nya itu sendiri. Alias, istilah kekeluargaan Indonesia, 'jangan bagai kacang lupa akan kulitnya.' 

Bahkan, budaya Jawa yang suka merantau saja tidak sespesifik itu. Biasanya, warga Jawa jika merantau memang memilih untuk menetap permanen. Alias 'dimana bumi dipijak, disana langit diunjung.'

Naaaaah, tetapi bagaimana dengan pembawaan jaman modern sekarang? Itulah yang menjadi 'heran tersendiri' dengan film Malin Kundang ini (P)

Mengingat bahwa banyak situs lowongan kerja, lokasi kantor, serta personalianya, yang justru 'mengedepankan' rantau mania (!) Entah skema dari mana, tetapi mungkin mengacu pada pemerataan Sumber Daya Manusia yang menyeluruh di Nusantara.

Padahal dari segi bahasa, budaya, koneksi kerja, spesifikasi pekerjaan, lokasi sekolah dan kampus, lokasi tempat tinggal, SDM Lokal, dan bahkan keuangan (!) sama sekali tidak masuk dinalar (!) 

Penulis malah teringat, jaman lowongan pekerjaan saat ini, layaknya kembali ke jaman eksplorasi Eropa, alias berujung kolonialisme beberapa abad yang lalu (!) Mungkin, itulah maksud bahwa Indonesia masih dalam istilah 'Mental Terjajah.'

Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke film Malin Kundang saja ya, yang memang terpaksa merantau akibat perlu mencari uang. Walau ya, berbeda sih di film ini, Malin (?) justru harus merantau akibat keadaan di rumah yang sulit, dari segi keharmonisan dan keuangan pula (!)

Sinopsis Film Legenda Kelam Malin Kundang

Alif (Rio Dewanto) adalah seorang anak remaja, yang terpaksa melarikan jauh dari rumahnya di tanah Minang. Ayah dan Ibunya sering cekcok, bahkan berakhir KDRT, yang menyebabkan tangan ibunya berdarah akibat sabetan pisau.

Alif yang sudah tidak tahan, akhirnya melarikan sendiri ke kota besar alias Jakarta. Tidak berapa lama, Alif yang hidup bagaikan Anjal (anak jalanan) pun mendapatkan belas kasihan dari Nadine (Faradina Mufti) dan ayahnya. 

Selain diberi makan, Alif diminta untuk membantu ayah Nadine di galerinya. Alif yang ternyata berbakat, akhirnya berhasil diajari oleh ayah Nadine. Alif pun sukses sebagai pelukis mikro terkenal di Jakarta.

Alif masih terpukau dengan kebaikan mereka, lalu membina hubungan spesial dengan Nadine saat beranjak dewasa, yang berujung keduanya menikah dan memiliki anak. 

Tiba-tiba, ibunya Alif yang sudah tidak lama bertemu, Amak (Vonny Aggraini) memutuskan datang berkunjung. Dengan cepat setelah tiba, ibunya pun berkelakar, bahwa dirinya takut Alif terkena kutukan Malin Kundang, sang anak durhaka dari cerita rakyat Minang. 

Namun, secepat itu pula Amak segera meninggalkan rumah kediaman Alif dan keluarganya. Alif panik, dan merasa jengah dengan keadaan rumah yang tiba-tiba horor. Bahkan, Alif perlu kembali ke rumah lamanya, demi menemukan arti dan maksud dari semua ini.

Apakah memang keadaan aneh itu ada di dalam diri Alif dan keluarganya? Atau hanya halusinasi semata akibat terkejut dengan rasa dikejar masa lalu?

Jawabannya tentu bisa diresapi di Paririmbon ala sinema Indonesia.

Galaunya Bekerja Sebagai Guru di Kota Besar ala Film Belum Ada Judul

 

Umar Bakri yang heran mengapa perlu viral kontroversial (TMDB).

Naaah, saatnya film yang berkisah tentang guru kembali, di film berjudul Belum Ada Judul, yang kini tengah tayang di sinema Indonesia.

Sebelum menanggapi filmnya, dimana tokoh utamanya bermasalah akibat viral setelah menampar siswanya di sekolah, mari kita cek kasus sebelumnya (yang entah mengapa baru-baru ini terjadi). 

Sebelumnya pada Oktober lalu, ratusan siswa mogok belajar di salah satu SMAN, tepatnya di Provinsi Banten. Masalahnya pun nihil, akibat kepala sekolahnya menampar seorang siswa yang merokok di wilayah sekolah, lalu didispensasi untuk tidak bisa bersekolah (sementara).

Lucunya, banyak siswa di sekolah tersebut malah unjuk rasa, lalu mogok sekolah, demi mendukung siswa yang jelas-jelas bersalah. Tampaknya jaman 'bendera bajak laut' kini telah merubah banyak pandangan 'generasi doomscrolling' saat ini.

Terasa bodoh memang, dan tampaknya cocok bagi yang terbawa konten dan tiba-tiba ingin membakar gedung DPR. Ada pula kasus bakar-membakar lainnya, tapi tidak layak dibahas akibat langsung mengacu pada terorisme.

Walau pihak sekolah memang tidak layak melaksanakan kekerasan sebagai hukuman pada siswanya, tetapi efeknya justru harus ditelaah kembali. Mengapa perlu melawan dengan mendukung yang bersalah? Apakah memang hidup hanya untuk 'troll' saja?

Sempat terjadi di pengalaman pribadi terdahulu, seorang 'reman sekolah,' yang datang telat sambil mabuk ke sekolah. Dia pun langsung didispensasi, tidak boleh masuk sekolah selama satu minggu. Kisah tersebut hanya menjadi bahan obrolan, sementara siswa yang sering menongkrong kembali santai, sambil merokok di warung sekitar sekolah (P)

Bukannya menghalalkan kenakalan remaja, namun apa memang perlu terbawa-bawa oleh urusan yang jelas beresiko lebih? Aneh memang, dan tetap saja berharap bahwa kasus tersebut hanyalah sebuah anomali saja.

Okeh, sudah terlalu aneh, coba dicek saja sinopsis film Belum Ada Judul ini, yang memberi nama karakter utamanya Umar Bakri. Film ini mengundang pula sang legenda nasional, Iwan Fals, yang pernah mengumandangkan lagu dengan nama yang sama. Mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar pun berkecimpung dalam film ini.

Sinopsis Film Belum Ada Judul

Umar Bakri (Bucek Depp) adalah seorang guru yang berbakti dan antusias dalam mengajar. Di saat banyak guru yang sulit meraih hati muridnya, justru Umar Bakri adalah seorang guru idaman siswa di sekolahnya.

Namun, masalah pun tiba-tiba menerpa dirinya. Saat tengah memarahi Marlon (Zeyn Arsa Datau), dan saking marahnya hingga menampar, ternyata dirinya terekam oleh muridnya yang lain, yaitu Maria (Aisha Nurra Datau).

Maria memang seorang siswa yang hobi siaran langsung di sekolahnya, sehingga 'adegan kekerasan' guru serta siswanya langsung viral, tanpa dapat dihapus terlebih dahulu.

Saking viralnya, kisah kekerasan Umar Bakri dijerat dalam sebuah sidang hukum oleh pengadilan setempat. Umar pun merasa sakit, hati, pikiran, serta fisik, karena satu kesalahan membuat dia beresiko kehilangan pekerjaan impiannya. Bahkan Maria yang tanpa sengaja memviralkan video tersebut, menyesal, karena Umar adalah satu guru idolanya di sekolah tersebut.

Umar pun berjibaku, bahkan memohon kepada kepala sekolahnya, Dewantoro (Surya Saputra), untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada siswanya, sebelum berhenti menjadi guru. Sayangnya, Umar Bakri masih memiliki tanggungan sebagai seorang duda, yaitu anaknya Magda (Arla Ailani), yang telah berumur 17 tahun dengan penyakit Polio-nya.

Sanggupkah Umar Bakri melewati semua cobaan ini? Ataukah ada mukjizat yang membantu posisi dirinya?

Jawabannya tentu ada di sinema-sinema Indonesia.

Sedihnya jadi Operator Sabit Merah Palestina di Film Voice of Hind Rajab

 

Almarhumah Hind Rajab Hamada (TMDB).

Okeh, sekarang saatnya sebuah film yang berdasarkan kisah nyata di Palestina, berjudul Voice of Hind Rajab, yang kini sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Daripada membahas kerusakan dan mirisnya Palestina, yang kini sudah terlihat pincang dan hancur lebur, mari kita lihat saja dari segi agama sebesar Yahudi. 

Tentu, penulis ingin menghindari seluruh kisruhnya perang, yang hanya mementingkan sensasi gelut perang modern, tanpa unsur manusiawi dan solusi, layaknya politisasi.

Warga Israel dan ZIONIS

Tentu seluruh dunia tahu, tentang kisrush di perbatasan Palestina, yang wilayahnya banyak bermasalah akibat Israel. Tentu banyak yang tahu juga, bahwa Israel sebenarnya hanya sebuah 'proyek' pecicilan dari negara-negara besar dunia, akibat masalah mereka sendiri dengan Yahudi.

Belum dapat dikonfirmasi langsung, tetapi tampaknya banyak warga Yahudi di seluruh dunia langsung diakui sebagai warga Israel, sebuah negara yang mungkin 'jadi atau tidak.'

Banyak warga Yahudi seluruh dunia, yang mau dan tak mau untuk menjadi warga Israel. Banyak yang memanfaatkannya hanya sebagai jalur karir, sementara menunggu 'amannya' negara di penghujung laut Mediterania ini.

Sementara banyak warga lainnya yang terpaksa memiliki dua kewarganegaraan, yaitu negara asalnya dan Israel. Jika sering membaca berita dari Eropa, pasti sering mendengar korban kecelakaan dari Israel, atau warga Israel yang rusuh saat kompetisi olahraga (khususnya sepakbola).

Entah memang masalah mereka yang begitu fanatik dengan Israel, atau memang cara 'troll' terakhir mereka. Memang, dari segi kewarganegaraan, mereka 'aslinya' adalah warga Israel, padahal telah tinggal di banyak negara Eropa selama beberapa generasi lamanya. Media pun 'mendukung' dengan memasukkan nama mereka sebagai 'warga Israel,' saat kisah mereka masuk berita.

Dan ini bukanlah urusan logika semata, tetapi urusan administrasi, hukum, dan kewarganegaraan, yang tentunya berefek pula pada segi urusan sipil setiap warganya. Dan dari segi tersebut, Israel selalu menang dan didukung oleh banyak pemerintah negara Eropa, dengan mengesahkannya. 

Jadi, mungkin kisah kekisruhan 'warga Israel' di Eropa, adalah bentuk 'ekspresi depresi terakhir' warga yang terpaksa diaku sebagai bagian dari ZIONIS. Mungkin patut dipertanyakan, bagaimana rasanya lahir, tumbuh, sekolah, hingga bekerja dan berkeluarga di Italia (contohnya), tetapi memiliki KTP bertuliskan 'warga Israel.' 

Okeh, saya tidak mendukung sama sekali Israel dan pergerakan ZIONIS-nya, tetapi dari segi ranah sipil, tentu suatu bentuk 'kegalauan administratif.' Dan tentu, urusan sipil adalah 'sisa' dari suatu perang, yang jika dilihat dari sejarahnya, telah menjadi urusan masalah setelah 'drama perang' sejak ribuan tahun lalu (!)

Terlebih lagi, coba diingat, bagaimana warga Indonesia yang dulunya sempat mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat perubahan kepemimpinan Soekarno menjadi Soeharto, dengan kisruhnya G30SPKI, setelahnya adalah 'kisah miris administratif lainnya.' Banyak anak-anak keturunan pendukung PKI, tidak memiliki KTP, alias tidak dianggap sebagai warga negara Indonesia (!) Entah sekarang bagaimana, karena tidak terdengar kabarnya sama sekali.

Organisasi Kemanusiaan di Palestina

Sayangnya, kisruh antara 'warga Israel' dan negaranya, perlu mengorbankan banyak jiwa di 'tanah yang dijanjikan,' yaitu wilayah Palestina. 

Setelah banyak konflik dengan berbagai negara Timur Tengah, diantaranya adalah Mesir, Suriah, Irak, dan Yordania, Israel akhirnya semakin menjurus pada 'wilayahnya sendiri,' yaitu Palestina.

Palestina pun kini terbagi dua, yaitu wilayah yang cukup padat dan maju, yaitu Pesisir Barat dengan Otoritas Palestina dan dukungan Hizbullah dari Yordania, serta wilayah terpisah di pesisir Mediterania, yaitu Jalur Gaza.

Banyak organisasi kemanusiaan dari seluruh dunia, contoh terbesarnya adalah UNWRA (Badan Bantuan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina dari PBB), Red Cross (Palang Merah Internasional), dan Red Crescent (Sabit Merah dari Timur Tengah).  Seluruh organisasi kemanusiaan berpusat dan memiliki jalur suplai dari Pesisir Barat Palestina, namun lebih banyak beroperasi di Jalur Gaza yang 'keramat.' 

Dan itulah, yang menjadi fokus pada film Voice of Hind Rajab ini. Jika menonton cuplikannya, justru banyak adegan para operator organisasi kemanusiaan Sabit Merah, tanpa ada sensasi 'perang dan kekerasan.' Justru, lebih banyak dialog antar karakternya, dengan fokus paling ngeri dengan telepon permintaan tolong, dari seorang anak yang terjebak di Jalur Gaza.

Oh ya, film ini dipuji karena memadukan Dramatisasi dan Realitas kenyataan di Pesisir Barat dan Jalur Gaza Palestina, dengan fokus organisasi kemanusiaan yang terus berjibaku untuk membantu korban kekisruhan ini.

Nama Hind Rajab pun adalah seorang nama warga asli Palestina, yang suaranya terrekam saat panggilan darurat kepada Sabit Merah, dan dilampirkan langsung dalam film ini. Alias, suara asli Hind Rajab dapat terdengar, dan film ini diadaptasi dari kisah nyata.

Sinopsis Film Voice of Hind Rajab

Organisasi Sabit Merah (Red Crescent) kini berpusat di Ramallah, Pesisir Barat Palestina. Setiap hari, mereka berjibaku dengan laporan permintaan tolong dari banyak wilayah di Palestina.

Omar A. Alqam (Motaz Malhees) adalah seorang operator, yang bekerja untuk menerima seluruh panggilan telepon, sekaligus mengkoordinasi operasi Sabit Merah dari kantornya.

Suatu hari, suatu panggilan telepon dari seorang anak, menyebabkan perubahan di ruang kantor. Anak berumur lima tahun tersebut mengenalkan diri sebagai Hind Rajab Hamada, yang rumahnya diserang oleh pasukan Israel. Bahkan, Hind Rajab menyatakan bahwa tank kini sedang liar di sekitar rumahnya.

Omar pun meminta Mahdi M. Aljamal (Amer Hlehel), untuk segera mengirimkan ambulan bantuan. Namun, Mahdi meminta kepastian, bahwa jalur menuju rumah Hind Rajab, haruslah aman untuk evakuasi.

Omar bersikukuh bahwa delapan menit cukup untuk dapat  mengevakuasi Hind Rajab. Namun, Mahdi tetap menolaknya, dengan mencontohkan belasan anggota regu penyelamat Sabit Merah, yang meninggal akibat kurangnya koordinasi di lapangan.

Bersama operator lainnya, Rana Hassan Faqih (Saja Kilani) dan Nisreen Jeries Qawas (Clara Khoury), keempat anggota Sabit Merah ini hanya dapat mengajak ngobrol dengan Hind Rajab, sambil menunggu kondisi lebih aman untuk evakuasi.

Bagi yang pernah mengecek latar film ini, tentu mengerti bagaimana kisahnya berakhir. Miris, tetapi perlu dicek sebagai pengingat rasa kemanusiaan kita saat ini dan kedepannya.