Monsterisasi

Jurig

Monsterisasi

Khusus artikel film, isinya terdapat pendapat serta referensi film yang pernah penulis blog Sedia Saja tonton dan analisa. Karena penulis berpendidikan linguistik dan sastra, maka film ternalar dari referensi dan penggambaran khusus film, secara kebahasaan, simbolis, fiksi, nyata, ataupun bentuk makna lainnya.

Sama seperti di bagian Perkenalan dan Navigasi, tidak ada artikel Monsterisasi yang berisi spoiler alias cerita yang terlalu dibuka, selain adegan yang terpilih serta penggambarannya saja. 

Khusus pada laman ini, ditujukan pula untuk tautan artikel Cerita Pendek Horor, karangan fiksi orisinal dari penulis Blog Sedia Saja. Karena penulis suka cerita horor, maka Cerpenhor adalah cerita seram, berisi tentang dunia mistis, supernatural, paranormal, hantu, monster, dan kisah menyeramkan lainnya.

Luffy sang Topi Jerami yang ternyata Jurig Persib.

Istilah Monsterisasi

Oh ya, bagi yang heran mengapa halaman ini diberi nama Monsterisasi, memang harus dijelaskan lebih mendalam lagi. Atau, mungkin lebih meluas lagi, kali ya...

Pertama, harus mengecek dahulu anime berjudul Kimetsu no Yaiba, alias Demon Slayer. Pada saat pertama kali menonton Demon Slayer, penulis merasa bahwa anime ini bisa jadi kurang harfiah.

Pada beberapa episode awal musim pertamanya, tokoh utama bernama Tanjiro sedang berlatih gaya berpedang air dengan membelah suatu batu keramat. Ya, batu bulat yang lebih tinggi dari ukuran tubuh Tanjiro ini, memang diminta untuk dibelah, dengan sebuah pedang saja! Hal yang tentu tidak mungkin terjadi, selain ala anime fantasi. Namun, akhirnya terbelah juga. 

Nah, jadi apa hubungannya? Jadi, batu tersebut adalah batu yang diikat tali tambang dengan kertas zig-zag bernama Shide, yang memaksudkan bahwa batu tersebut adalah keramat, beserta lokasinya. Padahal, kalau dipikir lagi, namanya memotong talinya saja (apalagi batu), sudah dianggap Pamali di negeri Shinto sana. Bagi yang melanggarnya, maka akan terkutuk.

Tapi ya, namanya juga seni populer, yang kadang seperti dongeng terdahulu, dimana banyak anime justru sengaja menggambarkan Primbon seperti itu. Apalagi animo tersebut terus dilanjutkan hingga seluruh penggambaran manga dan anime Kimetsu no Yaiba ! (sampai tamat)

Istilahnya, Luar Binasa lah... 

Apalagi, di banyak seni populer saat ini, dari semacam karya film, manga, manhwa, novel, dan sajabana, dengan isi yang menggambarkan Paririmbon terdahulu, dan bahkan sudah melekat tradisinya hingga kini, direpresentasikan secara horor. Contoh paling kentara, adalah banyaknya film nasional dan internasional yang 'mengkhususkan' semacam budaya tersebut, menjadi bahan inspirasi horor untuk karya mereka.

Jadi, seakan seluruh budaya tradisional semenjak jaman terdahulu, adalah bentuk dari kengerian di masa lalu, yang bahkan lebih mengerikan dari dokumentasi resmi sejarah aslinya. Seakan, 'masa lalu' adalah sejenis 'monster' mengerikan yang terus mengejar kita. Sementara, saat ini kita harus berpikir dan bertindak progresif. 

Tapi, kembali ke Kimetsu no Yaiba, bukannya Tanjiro memakai baju tradisional Yukata, yang menutupi sebagian baju Kisatsusai-nya? Seragam tersebut justru tidak terlihat militan, karena mirip dengan baju seragam sekolah bagi pemuda SMP di Jepang. Zenitsu pun memakai baju yang mirip, dengan bonus Inosuke yang tidak pakai baju sama sekali. (^ 0 ^)

Maksudnya ya, walau kita memiliki wacana untuk maju, seakan jaman sekolah terdahulu, tetapi balutan berbudaya tetaplah sangat melekat, tepat di luar fisik kita yang telanjang. Lapisan budaya tersebut, seakan menjadi 'Romansa' bagi diri yang masih berfisik manusia, namun terus dikejar masa lalu.

Nah, makanya artikel sejenis ini di Blog Sedia Saja dinamai Monsterisasi, yaitu istilah yang mengacu pada perubahan makna tersebut, khususnya di hasil karya seni populer saat ini. Tentu, dengan arahan yang sesuai ala deskripsi Blog ini.

Okeh, Ciao!

0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.