Tampilkan postingan dengan label Dokumenter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dokumenter. Tampilkan semua postingan

3 Desember 2025

Perundungan Nyata di Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel

 

Mendoakan David Latumahina (TMDB).

Okeh, hari ini kembalinya film dari Nusantara tercinta, Indonesia, dengan judul Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, yang tengah tayang di sinema Indonesia. Bagi yang sempat mengenal nama Ozora, tentu teringat kasus tahun 2023 lalu, yang film ini mengadaptasi langsung kisahnya.

Sayang seribu sayang, kasus David Ozora bisa disebut kisah perundungan paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia. Tidak hanya itu, kasus sang pelaku, Mario Dandy ini terkait dengan kasus korupsi milik ayahnya (Rafael Alun) sendiri, yang (entah kenapa) terjadi pada momen yang hampir sama. 

Penulis perlu berpendapat, bahwa kasus ini adalah satu contoh sebuah keluarga disfungsional. Walau sang ayah berkarir hebat di Kementerian (dan bisa korupsi banyak), namun anaknya sendiri malah bertingkah brutal. Itupun, tepat saat ayahnya tengah mengalami masalah hukum. Entah bagaimana komunikasi di rumah berjalan, tetapi yang pasti keduanya jelas-jelas bersalah, namun bersikap lebih buruk lagi. 

Kasus hubungan ayah-anak inipun, dengan begitu tingginya jalur karir, gengsi jabatan, harta, serta keuntungan hidup lainnya, sama sekali tidak memastikan keharmonisan keluarga. Untuk kasus hubungan keluarga ini tidak begitu dijelajahi oleh para pemerhati sosial, karena keduanya memang sedang terjerat proses hukum (saat itu).

Dan kembali ke korban, bernama David Ozora, adalah seorang pemuda berumur 17 tahun saat kasus terjadi (alias masih anak remaja). Ozora sempat disekap, dan bukan hanya dirundung saja, melainkan dianiaya. Penganiayaan mental serta fisik menyebabkan Ozora koma selama satu bulan lamanya, dan setelahnya didiagnosa mengalami regresi mental.

Sebenarnya penulis tidak ingin membawa masalah agama, namun perlu diceritakan juga. Muncul pada cuplikan filmnya, bahwa Jonathan Latahumina dan David Ozora adalah mualaf, yang baru saja memeluk Islam setelah pindah dari Kristen Katolik. 

Penulis hanya bisa berselirih, Wallahu a'lam, bahwa ini sebuah cobaan berat bagi keduanya. Ozora dan Jonathan Latahumina kini menjalani karir sebagai anggota pesantren, demi berkarya dan mendalami ilmu agama Islam lebih dalam lagi.

Untuk kronologis kasusnya, tidak perlu diceritakan karena berhubungan langsung dengan seluruh isi filmnya. Bagi yang ingin mengingat kasus ini, bisa membaca ulang banyak artikel mengenai kasus ini. Tentu, perbedaan adegan dan kronologis yang disajikan di film, bisa menjadi bahan pertimbangan pula.

27 November 2025

Sedihnya jadi Operator Sabit Merah Palestina di Film Voice of Hind Rajab

 

Almarhumah Hind Rajab Hamada (TMDB).

Okeh, sekarang saatnya sebuah film yang berdasarkan kisah nyata di Palestina, berjudul Voice of Hind Rajab, yang kini sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Daripada membahas kerusakan dan mirisnya Palestina, yang kini sudah terlihat pincang dan hancur lebur, mari kita lihat saja dari segi agama sebesar Yahudi. 

Tentu, penulis ingin menghindari seluruh kisruhnya perang, yang hanya mementingkan sensasi gelut perang modern, tanpa unsur manusiawi dan solusi, layaknya politisasi.

Warga Israel dan ZIONIS

Tentu seluruh dunia tahu, tentang kisrush di perbatasan Palestina, yang wilayahnya banyak bermasalah akibat Israel. Tentu banyak yang tahu juga, bahwa Israel sebenarnya hanya sebuah 'proyek' pecicilan dari negara-negara besar dunia, akibat masalah mereka sendiri dengan Yahudi.

Belum dapat dikonfirmasi langsung, tetapi tampaknya banyak warga Yahudi di seluruh dunia langsung diakui sebagai warga Israel, sebuah negara yang mungkin 'jadi atau tidak.'

Banyak warga Yahudi seluruh dunia, yang mau dan tak mau untuk menjadi warga Israel. Banyak yang memanfaatkannya hanya sebagai jalur karir, sementara menunggu 'amannya' negara di penghujung laut Mediterania ini.

Sementara banyak warga lainnya yang terpaksa memiliki dua kewarganegaraan, yaitu negara asalnya dan Israel. Jika sering membaca berita dari Eropa, pasti sering mendengar korban kecelakaan dari Israel, atau warga Israel yang rusuh saat kompetisi olahraga (khususnya sepakbola).

Entah memang masalah mereka yang begitu fanatik dengan Israel, atau memang cara 'troll' terakhir mereka. Memang, dari segi kewarganegaraan, mereka 'aslinya' adalah warga Israel, padahal telah tinggal di banyak negara Eropa selama beberapa generasi lamanya. Media pun 'mendukung' dengan memasukkan nama mereka sebagai 'warga Israel,' saat kisah mereka masuk berita.

Dan ini bukanlah urusan logika semata, tetapi urusan administrasi, hukum, dan kewarganegaraan, yang tentunya berefek pula pada segi urusan sipil setiap warganya. Dan dari segi tersebut, Israel selalu menang dan didukung oleh banyak pemerintah negara Eropa, dengan mengesahkannya. 

Jadi, mungkin kisah kekisruhan 'warga Israel' di Eropa, adalah bentuk 'ekspresi depresi terakhir' warga yang terpaksa diaku sebagai bagian dari ZIONIS. Mungkin patut dipertanyakan, bagaimana rasanya lahir, tumbuh, sekolah, hingga bekerja dan berkeluarga di Italia (contohnya), tetapi memiliki KTP bertuliskan 'warga Israel.' 

Okeh, saya tidak mendukung sama sekali Israel dan pergerakan ZIONIS-nya, tetapi dari segi ranah sipil, tentu suatu bentuk 'kegalauan administratif.' Dan tentu, urusan sipil adalah 'sisa' dari suatu perang, yang jika dilihat dari sejarahnya, telah menjadi urusan masalah setelah 'drama perang' sejak ribuan tahun lalu (!)

Terlebih lagi, coba diingat, bagaimana warga Indonesia yang dulunya sempat mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat perubahan kepemimpinan Soekarno menjadi Soeharto, dengan kisruhnya G30SPKI, setelahnya adalah 'kisah miris administratif lainnya.' Banyak anak-anak keturunan pendukung PKI, tidak memiliki KTP, alias tidak dianggap sebagai warga negara Indonesia (!) Entah sekarang bagaimana, karena tidak terdengar kabarnya sama sekali.

Organisasi Kemanusiaan di Palestina

Sayangnya, kisruh antara 'warga Israel' dan negaranya, perlu mengorbankan banyak jiwa di 'tanah yang dijanjikan,' yaitu wilayah Palestina. 

Setelah banyak konflik dengan berbagai negara Timur Tengah, diantaranya adalah Mesir, Suriah, Irak, dan Yordania, Israel akhirnya semakin menjurus pada 'wilayahnya sendiri,' yaitu Palestina.

Palestina pun kini terbagi dua, yaitu wilayah yang cukup padat dan maju, yaitu Pesisir Barat dengan Otoritas Palestina dan dukungan Hizbullah dari Yordania, serta wilayah terpisah di pesisir Mediterania, yaitu Jalur Gaza.

Banyak organisasi kemanusiaan dari seluruh dunia, contoh terbesarnya adalah UNWRA (Badan Bantuan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina dari PBB), Red Cross (Palang Merah Internasional), dan Red Crescent (Sabit Merah dari Timur Tengah).  Seluruh organisasi kemanusiaan berpusat dan memiliki jalur suplai dari Pesisir Barat Palestina, namun lebih banyak beroperasi di Jalur Gaza yang 'keramat.' 

Dan itulah, yang menjadi fokus pada film Voice of Hind Rajab ini. Jika menonton cuplikannya, justru banyak adegan para operator organisasi kemanusiaan Sabit Merah, tanpa ada sensasi 'perang dan kekerasan.' Justru, lebih banyak dialog antar karakternya, dengan fokus paling ngeri dengan telepon permintaan tolong, dari seorang anak yang terjebak di Jalur Gaza.

Oh ya, film ini dipuji karena memadukan Dramatisasi dan Realitas kenyataan di Pesisir Barat dan Jalur Gaza Palestina, dengan fokus organisasi kemanusiaan yang terus berjibaku untuk membantu korban kekisruhan ini.

Nama Hind Rajab pun adalah seorang nama warga asli Palestina, yang suaranya terrekam saat panggilan darurat kepada Sabit Merah, dan dilampirkan langsung dalam film ini. Alias, suara asli Hind Rajab dapat terdengar, dan film ini diadaptasi dari kisah nyata.

Sinopsis Film Voice of Hind Rajab

Organisasi Sabit Merah (Red Crescent) kini berpusat di Ramallah, Pesisir Barat Palestina. Setiap hari, mereka berjibaku dengan laporan permintaan tolong dari banyak wilayah di Palestina.

Omar A. Alqam (Motaz Malhees) adalah seorang operator, yang bekerja untuk menerima seluruh panggilan telepon, sekaligus mengkoordinasi operasi Sabit Merah dari kantornya.

Suatu hari, suatu panggilan telepon dari seorang anak, menyebabkan perubahan di ruang kantor. Anak berumur lima tahun tersebut mengenalkan diri sebagai Hind Rajab Hamada, yang rumahnya diserang oleh pasukan Israel. Bahkan, Hind Rajab menyatakan bahwa tank kini sedang liar di sekitar rumahnya.

Omar pun meminta Mahdi M. Aljamal (Amer Hlehel), untuk segera mengirimkan ambulan bantuan. Namun, Mahdi meminta kepastian, bahwa jalur menuju rumah Hind Rajab, haruslah aman untuk evakuasi.

Omar bersikukuh bahwa delapan menit cukup untuk dapat  mengevakuasi Hind Rajab. Namun, Mahdi tetap menolaknya, dengan mencontohkan belasan anggota regu penyelamat Sabit Merah, yang meninggal akibat kurangnya koordinasi di lapangan.

Bersama operator lainnya, Rana Hassan Faqih (Saja Kilani) dan Nisreen Jeries Qawas (Clara Khoury), keempat anggota Sabit Merah ini hanya dapat mengajak ngobrol dengan Hind Rajab, sambil menunggu kondisi lebih aman untuk evakuasi.

Bagi yang pernah mengecek latar film ini, tentu mengerti bagaimana kisahnya berakhir. Miris, tetapi perlu dicek sebagai pengingat rasa kemanusiaan kita saat ini dan kedepannya.

30 Oktober 2025

Dokumenter Horor ala Found Footage di Film Shelby Oaks

 

Entah jurig mana yang muncul di Shelby Oaks (TMDB).

Akhirnya, ada film sub-genre horor found footage yang dirilis di sinema Indonesia di bulan Oktober ini, yaitu Shelby Oaks

Sedikit Penjelasan Mengenai Found Footage

Nah, sebelum membahas sinopsis Shelby Oaks, coba dibahas dulu bagaimana found footage disajikan bagi penontonnya. Dari ranah sinematografi, justru film sejenis ini menerobos batas dasar prinsipnya, dan semakin sulit untuk direkomendasikan.

Dan, bahkan ada sub-genre lainnya yang lebih aneh lagi, yaitu mockumentary. Film sejenis ini menampilkan format film dokumenter, dengan setiap bab (chapter) ceritanya, disajikan ala berita investigasi. Namun, setiap ada perkembangan plot, pasti menyajikan 'plot twist' yang cukup mencengangkan. 

Contoh jelek dari film found footage ini, adalah kamera amatir berkualitas High Definition (HD) dengan gambar yang goyang, dialog terlalu 'biasa' sehingga terdengar kurang dramatis, lokasi yang terlalu gelap karena ingin 'realistis,' serta plot cerita yang kurang jelas fasenya (pacing).

Namun, justru seluruh 'keunikan' tersebut menjadi khasnya tersendiri, karena memang terasa seperti sebuah rekaman pribadi, dengan posisi penonton sebagai orang pertama. Bahkan, 'kesederhanaan' tersebut terasa meyakinkan, sehingga penonton lebih mudah 'terbawa' oleh ceritanya.

Sejak dimulai oleh film The Blair Witch Project di tahun 1999 lalu, puluhan film found footage telah 'ditemukan' oleh Hollywood dan banyak sineas dari seluruh dunia, khususnya dari Jepang, Korea Selatan, Perancis dan bahkan Indonesia.

Contoh dari Indonesia, para sineas nasional sering berperan di seri found footage berjudul V/H/S (2012), V/H/S/2 (2013), V/H/S: Viral (2014), V/H/S/94 (2021), V/H/S/99 (2022), V/H/S: 85 (2023), V/H/S: Beyond (2024), dan terakhir di tahun 2025 ini, V/H/S: Halloween.

Jadi, ramainya film found footage bagi sineas perfilman, layaknya para produser, penulis naskah, sutradara, aktor-aktris, kameramen, desainer suara, animator, dan editor di banyak kanal YouTube. 

Banyak kanal di portal ini, berisi khusus film horor pendek (sekitar 15 menit), namun menyajikan cerita dan visual yang cukup memukau. Bahkan, berbagai film pendek yang tersaji di YouTube, kadang dibeli karyanya, dan tercipta menjadi satu film panjang, yang bisa dirilis di bioskop atau layanan streaming daring.

Jadi, semakin mirip dengan berbagai cerita horor Indonesia, yang akhirnya diadaptasi sebagai naskah film. Satu contoh terakhirnya, adalah film Getih Ireng yang masih tayang di sinema Indonesia, yaitu adaptasi aslinya dari cerita horor di akun Threads @Jeropoint.

Okeh, tampaknya sudah terlalu panjang, jadi coba cek saja sinopsisnya. Eh, ga jadi, karena cuplikannya tidak terlalu jelas, alias 'misterius' ala film horor.

Sedikit saja, yaitu tokoh utamanya menemukan rekaman dari camcorder, yang berisi berbagai film pendek tidak jelas. Padahal, dirinya telah dinyatakan hilang dari Shelby Oaks, yaitu sebuah lokasi wahana hiburan terbengkalai.

Oh, ya, satu tips saja, karena tampaknya mengisahkan Urbex alias Urban Exploration (jelajah urban) khusus reruntuhan, yang memang sering dilakukan oleh para kreator konten, khususnya Indonesia pula.

Coba bawa sejenis senjata, khususnya yang tumpul, seperti tongkat kasti atau linggis, saat melaksanakan urbex. Bukan untuk melawan jurig, tetapi khusus bertahan diri (gelut) melawan sejenis gelandangan sangar, anjing liar rabies, atau terjebak di dalam lokasi terbengkalai tersebut.

Seluruh kemungkinan diatas mungkin terjadi, karena lokasi urbex yang terbengkalai, dan perlu dicek tingkat keamanannya. Jadi, tidak hanya membawa kamera saja, apalagi kalau memang ber-solo karir (!) Lebih bagus kalau bawa anjing penjaga sendiri. 

Jangan lupa bawa masker, karena tidak tahu zat (biologis dan kimiawi) apa yang tersisa dan terhirup oleh napas saat menjelajah. Sekaligus pula disinfektan, karena kalau tidak terhirup, mungkin tersentuh tangan.

16 Oktober 2025

Dwayne The Rock Johnson Berperan Serius di The Smashing Machine

 

Mark Kerr yang lelah terjengah (IMDB).

Setelah sekian lama dianggap tidak berbakat akting, dengan karakter yang diperankan sama setiap filmnya, akhirnya aktor terkenal Dwayne 'The Rock' Johnson memerankan karakter yang mengasah kemampuannya di film The Smashing Machine.

Film mengenai UFC MMA yang tengah tayang di sinema Indonesia ini, mengisahkan atlet UFC MMA Kelas Berat bernama Mark Kerr. Atlet bertubuh besar ini berhasil menjuarai banyak ajang bela diri campuran, diantaranya trofi UFC Heavyweight Tournament Champion dan World Vale Tudo Championship.

Saking terkenalnya, Mark Kerr bahkan sempat memerankan dirinya sendiri di sebuah film dokumenter berjudul sama, pada tahun 2002 lalu. Film The Smashing Machine tahun 2025 ini, memang reka ulang dari filmnya tahun 2002, dan lebih dramatis sehingga diperankan oleh Dwayne Johnson sebagai tokoh utamanya. 

Terlihat dari dua cuplikannya yang berbeda, film pertama justru mengisahkan tentang keseruan dan brutalnya UFC pada jaman Mark Kerr, tahun 90an hingga 2000an lalu. Banyak klip adegannya lebih menyoroti ajang gelut di ring, atau wawancara dengan berbagai pihak terkait Mark Kerr.

Berbeda dengan film The Smashing Machine pada tahun 2025 ini, justru lebih mengisahkan drama di dalam dan luar ring gelut. Banyak adegan dimana Mark Kerr berbincang hal-hal berat bersama istrinya, menyiratkan perbedaan sikap sebagai suami atau petarung UFC.

Bahkan saking dramatisnya, cuplikan tahun 2025 ini mengisahkan banyak jatuh-bangunnya Mark Kerr di luar ring. Contohnya saat Mark dan istrinya bertengkar, atau saat harus dirawat di rumah sakit. Tidak hanya drama, cuplikannya terisi pula momen saat menghadapi latihan, promotor gelut, hingga sesi konferensi pers.

Bahkan adegan nihil dimana istrinya menantang Mark Kerr, untuk naik wahana di taman hiburan pun bermaksud khusus. Mark Kerr aslinya takut akan wahana tersebut, namun istrinya menantang, bahwa hanya penampilan luar dan di ring saja, dimana Mark Kerr terlihat sangar.

Dari perbedaan cuplikannya saja, dapat terlihat bahwa film di tahun 2025 ini lebih dramatis, dan menguak berbagai kemampuan akting asli ala Dwayne Johnson.

Aktor yang telah berkecimpung lama di Hollywood ini memang cocok sebagai tokoh utama The Smashing Machine. Dengan nama alias The Rock, dirinya sempat beradu gulat lama di ajang WWE, yang menjadi awal karirnya didunia perfilman.

Bahkan banyak rumor, bahwa Dwayne Johnson akan dinominasikan penghargaan Oscar karena film ini, sebagai aktor terbaik di tahun 2026 mendatang. Apalagi lawan main sebagai istri Mark Kerr adalah Emily Blunt, yang sering meraih nominasi Oscar dan berbagai penghargaan film lain.

Tidak kurang pula, sutradara dan penulis naskah film ini adalah Benny Safdie, yang sempat memimpin produksi film Oppenheimer (2023), dan meraih berbagai penghargaan ternama.

Oh ya, film ini diproduksi oleh studio film eksentrik A24, yang memang kini sudah sering merambah berbagai genre film, walau film jurig nan horornya tetap paling unik diantara studio lainnya.

11 Mei 2025

Contagion, Film Penyebaran Virus Penyakit yang Fatal

 

Rasanya di-Sidak saat Corona merambah dunia (IMDB).

Masih ingat tentang Covid-19? Virus Corona yang menyebar tengah tahun 2020 lalu, sanggup melumpuhkan dunia dengan penyebarannya yang masif. Sekolah dan tempat umum ditutup hingga pertengahan tahun 2021, setelah banyak vaksin sudah diterima oleh warga. 

Nah, film Contagion yang dirilis 2011 lalu, adalah satu contoh skenario bagaimana virus penyakit bisa menyebar dengan masif. Saking dramatisnya, film ini sempat memenangkan banyak penghargaan film di ranah Hollywood.

Diisi Aktor-Aktris Bintang

Dilansir dari IMDB, film Contagion ini dibintangi oleh pemenang Oscar Matt Damon, yang dikenal dengan film seri aksi mata-mata, Bourne. Seri ini telah melahirkan 5 film, diantaranya adalah The Bourne Identity (2002), The Bourne Supremacy (2004), The Bourne Ultimatum (2007), The Bourne Legacy (2012), dan Jason Bourne (2016).

Bagi penyuka film Marvel, Gwyneth Paltrow adalah nama lainnya yang sudah tak asing lagi. Aktris pemenang Oscar ini mengisi banyak film Iron Man bersama Robert Downey Jr. Sebagai karakter pendukung Peppers Potts, Paltrow mengisi Iron Man (2008), Iron Man 2 (2010), The Avengers (2012), Iron Man 3 (2013), Spide-Man: Homecoming (2017), hingga Avengers: Infinity War (2018) dan Endgame (2019). 

Bintang lain yang mengisi film ini adalah pemenang Oscar, Kate Winslet (Titanic pada tahun 1997), dan Jude Law (The Grand Budapest Hotel pada tahun 2014) yang sempat dinominasikan Oscar dua kali. 

Sinopsis

Tidak lama setelah pulang dari perjalanan bisnis di Hong Kong, Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow) tiba-tiba jatuh sakit oleh flu atau infeksi lainnya. Suaminya, Mitch Emhoff (Matt Damon) langsung panik, yang lalu mengantar Beth ke rumah sakit. Tak berlangsung lama, Beth pun meninggal yang disusul oleh anaknya yang masih kecil, Clark Morrow (Griffin Kane) di hari yang sama. Mitch justru tampak kebal terhadap penyakit mematikan tersebut. 

Sementara bagi doktor dan ilmuwan dari Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) AS, beberapa hari telah berlalu semenjak tipe penyakit baru ini menyebar. CDC harus mengidentifikasi tipe virus terlebih dahulu, sebelum mampu menanggulanginya. Proses ini membutuhkan beberapa bulan lamanya, sementara di seluruh dunia virus telah menjangkit jutaan warga dan menyebabkan banyak kepanikan masal.

Bagi penyuka drama sains-fiksi yang mirip skenario Covid-19 ini, Contagion bisa ditonton melalui langganan Netflik maupun Youtube.