Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan

09 Maret 2026

Animasi Binatang Buas nan Lucu di Film Hoppers

 

Mabel yang merasa berang (IMDB).

Berikutnya adalah kombinasi tiga film untuk anak dan remaja dari luar negeri sana, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang. Judul pertama adalah Hoppers, yaitu animasi untuk anak-anak karena memiliki rating Semua Umur (SU). 

Hoppers yang diproduksi oleh Disney dan Pixar ini tampaknya aman untuk ditonton dan dikonsumsi, tanpa ada istilah aneh ala Jomok dan Boti, yang kini sedang ramai sebagai meme di Inet.

Penelitian Hewan Antromorfik

Daripada membahas yang tidak-tidak, maka cek bagaimana film ini menyajikan satu topik penting dalam masalah lingkungan alam. Tentu, anak hingga dewasa perlu mengerti tentang pentingnya alam liar, serta siklus ekosistemnya. Seperti disajikan dalam artikel sebelumnya di SpongeBob, anak bisa dikenalkan dan diberi imajinasi berlebih, tanpa perlu menggurui. Media film seperti ini cocok agar anak lebih mudah terpapar wacana melindungi alam.

Film ini (tampaknya) mengacu pada penelitian yang dilaksanakan oleh banyak ilmuwan saat ini. Terlihat di cuplikannya, seorang remaja berhasil memasukkkan isi kesadarannya, pada seekor robot berang-berang. Sebenarnya penelitian seperti ini sudah sering dilaksanakan, tentunya tanpa metode fantastis semacam ini.

Banyak ilmuwan saat ini menggunakan robot atau boneka, yang disimpan di sekitar sarang hewan liar. Contoh paling kentaranya adalah robot primata (gorila dan simpanse) atau monyet, yang didekatkan dengan bayi atau anak hewan targetnya. Dalam boneka tersembunyi pula kamera perekam, yang terhubung jarak jauh dengan peneliti. Tujuannya adalah mengecek interaksi sosial antara kawanan hewan, dengan benda yang memiliki bentuk dan bergerak mirip mereka.

Kawanan hewan cukup tertarik, dan berinteraksi dengan boneka tersebut. Apalagi dari sudut pandang anak-anak, maka hewan mengganggap boneka sebagai bagian dari kawanan. Boneka memang hanya sedikit bergerak, tanpa banyak memberi respon kepada kawanan hewan. Namun, para hewan masih santai dalam menanggapinya.

Sesuai dengan tujuan penelitian, boneka hewan antromorfik ini memang didesain untuk memicu emosi hewan yang ditargetnya. Karena itu, penerimaan hewan pada boneka, bisa dianggap sebagai pemicu emosional. Hewan akan penasaran, menerima, dan berlaku baik pada anggota yang belum mereka kenal, asal masih berusia anak-anak.

Bahkan pada akhir penelitian, saat boneka telah kehabisan baterai dan berhenti bergerak, muncul sisi emosional lain dari para hewan. Banyak hewan anak-anak hingga dewasa, mengerumuni boneka tersebut. Mereka menganggap boneka telah meninggal, dan ikut berkabung. Walau mereka masih heran siapa boneka tersebut, namun sisi emosional terlihat kentara dalam rekaman penelitian. 

Hewan dengan tingkat sosial yang kompleks, memiliki sisi emosional yang tinggi pula. Penelitian dianggap berhasil, dengan mengacu pada sisi hewaniah, yang ternyata sangat mendalam dari segi kekerabatan dan emosi kawanannya.

Bagi yang perlu referensi semacam ini, dapat ditonton di berbagai kanal YouTube mengenai kisah hewan dan robotnya. Konten yang pernah penulis tonton di berbagai kanal sains, diantaranya adalah gorilla, simpanse, dan monyet.

Nah, bagaimana film Hoppers ini menggambarkan penelitian tersebut? Tentu lebih fantastis dengan gambar animasi yang lebih ciamik, ala karya Disney dan Pixar.

Sinopsis Film Hoppers

Mabel (Piper Curda) adalah seorang remaja yang sangat menyukai hewan. Saking menyukainya, dia selalu membawa boneka robot berang-berang miliknya, dimana pun berada. 

Suatu hari, profesor Dr. Sam (Kathy Najimi) sebagai dosennya, meminta Mabel untuk mengikuti sebuah eksperimen. Dr. Sam mencoba memasukkan kesadaran manusia ke dalam robot. Tujuannya adalah meneliti langsung kawanan hewan di alam liar, tanpa perlu bersusah payah menyelinap dan memakai kostum binatang.

Penelitian pun berhasil, sehingga Mabel bisa pergi ke alam liar, dan langsung diterima sebagai bagian dari mereka. Tidak hanya berbentuk berang-berang, Mabel ternyata sanggup memahami bahasa para binatang.

Hingga suatu masalah terjadi, akibat pengembangan lahan di sekitar lingkungan alamnya. Mabel dan banyak kawanan binatang, tidak rela rumah mereka tergusur oleh manusia. Mabel berinisiatif untuk melawan balik, yang diterima tidak baik oleh para sesepuh binatang. Mereka akan membasmi para manusia, dengan berbagai cara. Mabel pun panik, dan mencari jalur damai bagi kedua pihak.

Sanggupkah Mabel menyelamatkan manusia dan binatang sekaligus? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.

05 Maret 2026

Anehnya Imajinasi Ala SpongeBob SquarePants

 

Imajinasi ala SpongeBob (Reddit).

Monsterisasi kali ini, lebih mengacu pada blog ini, yaitu rasanya berimajinasi ala SpongeBob SquarePants. Bagi penggemarnya, perlu mengingat episode 'Idiot Box' alias 'Kotak Idiot.' Walau begitu, terdapat pula satu episode lain yang akan dibahas, yaitu berjudul 'Band Geeks' alias 'Band Kutu Buku.' 

Nantinya dibahas bahwa keduanya cukup nyambung, ala konsep Blog dan sedikit penggambaran dunia konten saat ini. Oh ya, artikel ini memang ditulis karena sempat dijanjikan saat merekomendasi film SpongeBob terbaru, Januari lalu. Yah, daripada acak dan mengacu ke sains, lebih baik dari segi yang mudah dikenal oleh penonton saja.

Imajinasi Liar Ala SpongeBob

Bagi yang perlu mengingatnya, akan diutarakan sedikit cerita dalam episode 'Kotak Idiot' ini. Squidward Tentacles (Roger Bumpass) sedang kesal akibat SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) dan Patrick Star (Bill Fagerbakke) tengah ramai bermain di sekitar rumahnya. Namun, yang terdengar cukup aneh, bahkan epik, sesuai dengan apa yang sedang dimainkan keduanya didalam sebuah kotak kardus biasa.

Saking herannya, Squidward beberapa kali menciduk apa yang dimainkan oleh kedua tetangganya itu, namun hasilnya nihil. Lalu, SpongeBob menjelaskan bagaimana cara kerjanya. Yaitu sederhana saja, yaitu dengan 'imajinasi' saja. 

Seperti biasa dalam episode SpongeBob SquarePants, akhir cerita selalu bodor, apalagi jika terdapat karakter Squidward didalamnya. Namun, bukan kekonyolan itu yang dimaksud penulis. 

Sementara Squidward yang berhasil masuk kedalam kotak, lalu mulai ikut bermain imajinasi, gagal saat ikut memainkannya. Namun Squidward tetap heran, karena kisah 'bajak laut' didalam kotak, malah semakin terdengar epik, hingga malam hari.

Maksudnya adalah penjelasan proses imajinasi diutarakan oleh para pemain dan yang menontonnya. Layaknya permainan anak, yaitu kucing-kucingan, anak bisa berimajinasi ala kucing saling mengejar, atau anjing vs kucing, atau dinosaurus vs para penyintas. Walau mekanik permainannya tetap sama, tetapi imajinasi dapat menambah hebohnya mainan tersebut.

Perlu diingat pula, bagaimana proses imajinasi bisa dilaksanakan sebagai bahan pembelajaran. Penulis yang memang berlatar linguistik dan sastra, sempat belajar mengenai proses imajinasi menggunakan format Essay. 

Guru menulis kalimat awal di papan tulis saat di kelas, lalu meminta siswa untuk melanjutkan kalimatnya sendiri. Lalu siswa berikutnya, akan menulis kelanjutan cerita, sesuai dengan minat mereka. Hingga akhirnya terbentuk sebuah paragraf, maka proses imajinasi setiap siswa dapat menambah keanehan, kehebohan, atau perbedaan sudut pandang setiap siswa. Layaknya, permainan seperti ini dalam proses pembelajaran, adalah proses untuk menumbuhkan imajinasi para siswa, daripada hanya berkutat pada EYD dan Tata Bahasa.

Justru disitulah anehnya episode ini. Squidward adalah seorang musisi yang cukup dikenal. Walau sering disepelekan akibat permainan klarinetnya yang sumbang, namun tetap dikenal sebagai seniman serba bisa. Nah, bagaimana jika Squidward mulai menggunakan instrumen yang sesuai dengan keahliannya?

Kemenangan yang Indah ala Squidward

Dalam sub-artikel ini, akan mengacu pada episode lainnya berjudul 'Band Geeks.' Justru dalam episode kali ini, Squidward memang pantas menang. Berbeda dengan banyak kesialan ala dirinya, Squidward memang perlu menang dalam episode ini.

Bagi yang agak lupa, tentu perlu mengingat episode saat Squidward ditantang oleh Squilliam Fancyson (Dee Bradley Baker), untuk mengisi band saat Super Bowl berlangsung di permukaan (alias darat). Squidward yang emosional, tentu langsung menyetujui tantangan tersebut.

Squidward lalu melatih banyak warga Bikini Bottom, agar segera siap dalam konser tersebut. Namun seperti biasa, malah kekacauan yang terjadi. Squidward pun menyerah, dan membiarkan mukanya semakin malu saja. SpongeBob akhirnya berinisiatif, agar menyatukan seluruh anggota band, dan membantu Squidward hingga berhasil.

Nah, contohnya memang agak berbeda. Layaknya permainan essay sebelumnya, perbedaan imajinasi dan kemampuan para siswa, tentu akan merubah arah cerita essay tersebut. Layaknya permainan imajinasi, tetap menyatu sama lainnya, alias menjadi karakter tersendiri. Apalagi dibawakan ringan, dengan maksud belajar sesuatu dibaliknya. Yaitu, kerjasama dan ekspresi pribadi, melalui media imajinasi dan format essay di papan tulis.

Mirip dengan keadaan Squidward dan warga Bikini Bottom, satu grup ini perlu saling memahami, untuk mencapai tujuan konser. Setiap anggota memainkan instrumen berbeda, sementara Squidward berperan sebagai pelatih serta dirijen di depannya. Satu kesatuan dengan perbedaan inilah, yang berhasil menciptakan satu alunan lagu, yang tentu enak didengar atau aneh sekaligus.

Di akhir episode memang terdengar alunan lagu 'Sweet Victory' hasil karya David Gen Eisley dan Bob Kulick. Terdengar indah, yaitu sebuah momen Squidward yang bisa sumringah, dan menang besar. Ya, Squidward adalah seniman berbakat dalam segi instrumen musik, yang dibantu oleh warga Bikini Bottom.

Squidward yang sumringah (Reddit).

Sedikit Kisah Bonus dari Sandy Squirrel

Ada sedikit referensi menarik di akhir artikel ini, yaitu mengenai Sandy Squirrel. Karena penulis agak iseng, dan kurang bisa diangkat dalam satu artikel, maka dijabarkan disini saja.

Sandy Squirrel (Carolyn Lawrence) adalah seorang tupai dari darat sana, yang entah kenapa tinggal dibawah laut. Sandy berteman dekat dengan SpongeBob dan Patrick, walau keduanya kurang dapat menanggapinya. Sandy memang bekerja sebagai seorang ilmuwan, yang tentu aneh di Bikini Bottom.

Sandy yang tidak memiliki insang layaknya ikan, sehingga perlu mengenakan baju selam untuk bernapas dalam air. Tidak hanya itu, Sandy tinggal dalam kubah berisi udara, lengkap dengan oksigen sesuai kebutuhannya.

Nah, Sandy memang cukup isekai, namun ternyata penggambarannya cukup sesuai. Bagi yang belum tahu, NASA sebagai organisasi antariksa dunia, sering melaksanakan eksperimen dibawah laut. Eksperimen ini dilaksanakan sebagai simulasi antariksa. Baju selam Sandy pun terlihat seperti seorang kosmonot (atau astronot), daripada standar saat ini. Pekerjaan dirinya sebagai ilmuwan, semakin menguatkan penggambaran dirinya sebagai simbol dari NASA.

Sandy seperti ini, tentu sesuai dengan cara mendiang Stephen Hillenburg, seorang ahli biologi lautan, yang menggambarkan setiap karakter di Bikini Bottom, dengan referensi sainsnya. Ya, seorang ilmuwan dengan banyak bakat ilmunya, dapat menciptakan banyak cerita humor nan bodor, walau tetap mendidik tanpa perlu langsung menggurui.

Okeh, Ciao.

Sandy Squirrel yang berbeda (Reddit).

18 Februari 2026

Memahami Mitologi China dari Episode How to Become Three Dragons

 

Tiga siluman ular yang berniat besar (Newhanfu).

Menyambut Tahun Baru China alias Imlek tahun 2577 dengan kalender bulannya, penulis justru mengecek mitologi sebelum jaman ini berlangsung. Tentu blog ini lebih membahas referensi budaya populer, khususnya film dan banyak media lainnya. Jika penulis membahas terlalu banyak khas budaya serta demografi aslinya, malah berubah menjadi blog Antropologi dan Teologi.

Nah karena itu, artikel ini akan membahas satu episode dari Zhong Guo qi tan (Yao Chinese Folktales), berjudul How to Become Three Dragons. Kisah yang lebih mirip folklor ini disajikan ala animasi modern sejak awal tahun 2026. Kisahnya sangat mengacu pada mitologi China dengan perbedaan antara siluman hingga dewa, dan hubungannya ke manusia.

Khong Hu Cu di Indonesia

Mengingat Imlek biasa dirayakan oleh umat Khong Hu Cu di Indonesia, yaitu kentara berasal dari etnis Tionghoa, maka perlu dibahas disini. Dilansir dari UGM, Khong Hu Cu adalah pengucapan Hokkien dari filsuf China bernama Kong Fuzi, atau terkenal dengan nama latinnya sebagai Confucius. Semenjak reformasi di akhir abad lalu, Khong Hu cu secara resmi diterima sebagai satu dari enam agama yang di Indonesia.

Khong Hu Cu di Indonesia pun berbeda dengan China sebagai negara asalnya. Di kuil China, atau biasa disebut sebagai Kelenteng, banyak umat berdoa tanpa perlu menunggu waktu khusus. Figur yang disembah adalah kombinasi dari tiga sistem kepercayaan besar dari China, yaitu Confucius, Dao, dan Buddha. Tiga komunitas berbeda di Indonesia menyatukan organisasinya dibawah Asosiasi Tri-Dharma.

Berbeda pula pandangan mengenai Tuhan Yang Maha Esa dari Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sekaligus negara aslinya di China, oleh warga penganut Khong Hu Cu. Yaitu konsep Tian yang artinya dalam bahasa China, berarti istilah surgawi. Bagi warga yang berasal dari agama monoteistik, maka Tian bisa diartikan sebagai Tuhan. Tetapi bagi umat Khong Hu Cu, Tian tidak memiliki atribut khusus, dan tidak berperan langsung pada kehidupan umat manusianya.

Memang, ideologi Indonesia lebih mengacu pada Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap saling bersatu sama lainnya.

Mitologi dan Folklor China

Karena di artikel ini membahas suatu cerita dari folklor China, maka cocok untuk membahas sedikit dasar dari Mitologi China. Walau media dari China saat ini lebih mengisahkan dengan heboh dan masifnya mitologi, namun justru di episode ini lebih mudah dicerna, karena mirip dengan dongeng ala daerah Indonesia.

Mitologi China berasal dari banyak mitos regional dan tradisi budaya, yang diwariskan turun temurun secara oral. Ceritanya mulai dari kisah menarik hingga suatu entitas dengan kekuatan magis. Bersama folklor, mitologi membentuk kepercayaan tradisional dan Dao di banyak kalangan warga China. Naratif dari cerita masa lampau mengacu pada karakter atau kejadian, yang di-interpretasi melalui perspektif sejarah atau mitologi.

Mitologi di china sangat erat hubungannya dengan konsep Li (Confucius) yang lebih mengatur tatatan sosial, dan Qi (Dao) yang lebih mengemukakan semangat spiritual. Dua konsep mendasar ini saling berkaitan dengan ritual sosial, yang dilaksanakan saat berkomunikasi, salam, dansa, upacara, dan pengorbanan.

Kisah Tiga Ular di How To Become Three Dragons

Kisah episode How To Become Three Dragons saat musim kedua Yao Chinese Folktales, memang sangat kentara dengan penjelasan diatas. Karena itu, penulis memulai artikel ini dengan menjelaskannya terlebih dahulu.

Kisahnya diawali ala hebohnya tiga warga siluman yang berbentuk ular. Mirip dengan kisah siluman lainnya, ketiga ular berinisiatif untuk mencapai level Dewa. Karenanya, mereka mulai mencari pengikut dengan menjaga suatu desa.

Kisah ketiga ular tentu tidak akan diceritakan sepenuhnya disini, karena akan menjadi spoiler. Namun, ada satu wacana tersendiri dari ketiga ular, yaitu dengan terus menjaga dan mengalirkan air menuju sebuah desa yang kekeringan, agar mereka semakin disembah.

Sayangnya, karena tingkah mereka yang pecicilan, Dewa Naga marah dan menyerang desa tersebut. Saking besarnyanya serangan kilat Dewa Naga, banyak rumah di desa tersebut lalu terbakar hebat. Ketiga ular tidak mampu melawan atau terlalu lemah untuk membantu warga desa. Hingga satu diantaranya langsung mengorbankan diri, dengan mengumpankan dirinya pada sang Naga. 

Namun saat serangan Dewa Naga berhasil membasmi sang ular, ledakannya malah menghancurkan batu yang menahan aliran air diatas gunung. Sungai dan airnya pun terbebaskan alirannya, dan berhasil memadamkan banyak rumah yang terbakar di desa, serta mengairi seluruh ladang warga.

Waktu pun berlalu setelah ketiga ular kalah dalam bencana tersebut. Namun, reinkarnasi ketiga ular muncul di kuil kecil yang disembah warga desa. Warga pun semakin bersyukur dan terus berdoa sepenuh hati di kuil tersebut, selama banyak generasi berikutnya.

Pendapat Penulis

Ya, memang suatu kisah yang sangat mencerminkan dongeng dan folklor, walau tidak se-epik kisah dari animasi China. Dengan penjelasan awal mengenai sebuah kepercayaan, yang asalnya dari mitologi dan folklore China, dan diakhiri dengan suatu animasi kartun saja, tentu dapat dipahami dari segi ini. 

Ya, sesuatu yang susah dinalar di dunia yang besar, dan hanya berisi kisah drama naik-turunnya kehidupan, selalu menjadi siklus kehidupan yang terus mengalir. Baik itu bagi manusia, hewan, tanaman, dan seluruh alam di sekitarnya.

Okeh, Zaijian.

17 Februari 2026

Animasi Hewan yang Berkompetisi Olahraga dalam Film Goat

 

Will sebagai kambing yang beda sendiri (IMDB).

Mungkin memang saatnya bernostalgia dengan film sejenis ini, yaitu animasi Hollywood bertema olahraga, berjudul Goat. Tentu tayang di banyak sinema Indonesia dengan rating SU alias Semua Umur, animasi ciamik khas AS sana memang memiliki kesan berbeda. 

Apalagi bagi yang paham istilah GOAT, yang seringpula dijadikan meme oleh warganet. Padahal, GOAT adalah kependekan dari Greatest Of All Time, yang berarti Terbaik Sepanjang Masa. Istilah ini sering disematkan pada seorang atlet atau sejenis produk, yang sangat baik pada masanya, hingga layak dikenang sebagai yang terbaik sepanjang masa.

Studio dan artis yang memproduksinya pun sangat ternama, yaitu Sony yang sempat bekerja dengan para artis di film SpiderMan: Across The SpiderVerse.

Kartun Legendaris Space Jam

Tetapi sebelum membahas film Goat, yang harfiah disini adalah seekor kambing, tampaknya perlu mengecek terlebih dahulu animo-nya. Ya, animo olahraga untuk film animasi anak, ternyata cukup jarang diadaptasi oleh sineas perfilman, dari negara manapun. 

Bagi yang masih mengingatnya, tentu terkenang dengan film animasi Space Jam. Ya, film animasi tahun 1996 lalu ini, adalah film yang mengombinasikan olahraga basket, dengan animasi ciamik ala Looney Tunes. Tidak hanya kombinasi tema, terdapat pula kombinasi karakter Michael Jordan (yang memainkan dirinya sendiri), sekaligus lucunya para karakter kartun dari Looney Tunes. Teknik kombinasi antara adegan langsung antara Jordan dengan kartun, memang suatu animo yang heboh di perfilman Hollywood, saat masa tersebut.

Apalagi di jaman tersebut, Michael Jordan memang mengalami tingkatan tertinggi karirnya. Tidak hanya kesuksesan bersama tim Chicago Bulls, merk sepatu Air Jordan, serta Slam-Dunk-nya yang fenomenal, maka Michael Jordan adalah figur publik dan idola terbesar saat jaman 90an lalu. Karena itu, munculnya Jordan sebagai tokoh utama di film Space Jam, semakin meninggikan namanya di AS sana, sekaligus seluruh dunia. GOAT adalah sebutan yang tepat bagi Michael Jordan, khususnya di dunia olahraga Basket dunia.

Animo ini sempat dilanjutkan pada tahun 2021 lalu, dengan judul Space Jam: A New Legacy. Ya, tentu dengan merekrut pula seorang atlet basket terbaik sedunia masa kini, bernama LeBron James. Atlet dengan banyak kiprah serta kesuksesan karir basketnya, menjadikan LeBron James sebagai salah satu GOAT sedunia.

Sinopsis Film Goat

Will Harris (Caleb McLaughlin) adalah seekor kambing yang badannya berukuran kecil. Berbeda dengan spesies hewan lainnya, Will adalah spesies kambing yang lebih mirip rusa daripada jenis hewan herbivora lainnya. Namun Will memiliki impian besar, yaitu menjadi seorang atlet profesional Roarball. Louise Harris (Jennifer Hudson), sangat mendukung cita-cita anaknya tersebut.

Walau tubuhnya tidak berukuran besar, namun Will cukup cekatan dan lincah dalam menghadapi kerasnya Roarball. Olahraga ini memang bukan Basket biasa, melainkan Full-Body-Contact ala Rugy dan American Football. Sehingga, banyak spesies hewan berukuran kecil yang tidak sanggup menguasainya.

Namun dengan kemampuan Will yang berbeda, seluruh jalur kompetisi Roarball sempat dia menangi, mulai dari basket jalanan, hingga kompetisi kecil di sekitar rumahnya. Will lalu direkrut oleh tim yang digemarinya sejak dulu. Walau sempat terasa ketegangan dibalik GOR basket, namun Will berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu. 

Sanggupkah Will meraih mimpinya dalam merubah jalur pertandingan Roarball? Atau malah terjebak drama berjumpalitan bersama anggota timnya sendiri?

Jawabannya tentu ada di keberagaman hayati dan olahraga ala sinema Indonesia.

20 Januari 2026

Stop Motion Ala Coraline Ikut di Remastered Pula

 

Lubang menuju dunia lain (TMDB).

Film Stop-Motion layaknya 'bapak' di dunia perfilman, dengan teknisnya yang memotret satu frame saja, lalu disambungkan dengan frame berikutnya, sehingga terlihat bergerak alias animasi.

Nah, sejak minggu ini di sinema Indonesia, dirilis ulang film Stop-Motion terkemuka berjudul Coraline. Film yang aslinya dirilis tahun 2009 ini, di-remaster pula, dan bahkan dirilis dalam format tayangan 3D. Walau rating umur film ini adalah Semua Umur (SU), namun perlu dipandu oleh orangtua atau orang terdekat, karena banyak menyajikan adegan horor.

Sebelumnya di tahun 2024, versi remastered ini dirilis seluruh dunia, demi menyambut Hari Jadi 15 Tahun sejak awal perilisannya, terkecuali Indonesia. Karenanya, studio LAIKA sebagai rumah produksinya, bekerja sama dengan Universal Pictures sebagai distributornya, baru merilis Coraline pada awal 2026 ini di sinema nasional.

Film Coraline termasuk terkemuka di jamannya, yang sedang dibanjiri kembali oleh film Stop-Motion, sejak awal 90an lalu. Coraline menjadi satu yang terbaik, karena sempat meraih nominasi Oscar Academy Awards. Banyak penghargaan dari kritikus film pun, diraih oleh film ini.

Sutradara yang memimpin produksi film ini memang telah berkecimpung lama sebagai ahli Stop-Motion, bernama Henry Selick. Sebelumnya di tahun 1993, sempat memproduksi film Nightmare Before Christmas, yang sempat meraih pula nominasi film Oscar Academy Awards.

Coraline pun meraih box office tinggi di pasar sinema, walau dengan biaya 60 Juta Dolar AS saja. Perilisan awalnya di tahun 2009 mencapai pendapatan hingga 126 Juta Dolar AS. Hingga kini dengan beberapa kali perilisan ulang, pendapatannya telah mencapai 188 Juta Dolar AS.

Untuk perilisan ulangnya yang telah di-remaster, sangat terlihat mencolok dengan gradasi warna yang lebih tajam, serta resolusi lebih tinggi. Dengan frame yang lebih banyak, bahkan terlihat lebih mulus, layaknya film animasi 3D kekinian. Coba dibandingkan saja, antara cuplikan film Coraline di tahun 2009, dengan cuplikannya tahun 2024 dari LAIKA Studios. 

Versi remastered ini ditambahkan pula teknik tayangan 3D, yang ditayangkan di beberapa sinema berfitur ini.

Sinopsis Film Coraline

Coraline (Dakota Fanning) adalah seorang anak berumur 11 tahun yang bosan dengan keadaan rumahnya. Ayahnya yang bekerja di rumah, lalu ibunya yang bekerja di luar, serta keadaan perkakas dan peralatan rumahnya yang sering rusak, menyebabkan Coraline tidak betah di rumah.

Hingga suatu hari, Coraline menemukan sebuah lubang besar dibalik kabinet kecil kamarnya. Dari lubang tersebut, Coraline sampai di rumahnya sendiri, namun dengan keadaan yang berbeda. Rumahnya terlihat lebih rapih dan hidup, dengan orangtuanya yang tidak membosankan, tidak seperti biasanya.

Namun, orangtua 'dari dunia lainnya' meminta agar Coraline tinggal permanen di rumah tersebut, dengan memasang sepasang kancing di kedua matanya. Coraline yang ragu, tidak langsung memasangnya, namun tetap sering kembali untuk berkunjung.

Banyak mahluk lain yang tidak memakai kancing, contohnya kucing (Keith David) dan jurig (Aankha Neal), terus memperingatkan Coraline, mengenai bahayanya tinggal di 'dunia lain.' Mereka menyarankan, agar tidak pernah kembali lagi, dan menutup lubang portal dimensi di rumahnya.

Sanggupkah Coraline menahan diri untuk mencoba kancing? Atau malah terus keranjingan di dunia lainnya? Lebih parah lagi, yaitu terjebak tanpa sempat kembali?

Jawabannya, tentu ada di lokasi pelarian dari rumah ala sinema Indonesia.

Sejarah Film Stop-Motion

Film dengan menerapkan teknik Stop-Motion adalah teknik awal perfilman saat kamera perekam belum ditemukan. Tepatnya tahun 1850an, sebelum kamera video ditemukan, namun kamera potret telah lumrah di jaman tersebut. Menggunakan rangkaian film yang dimainkan satu persatu dengan kecepatan tinggi, suatu gerak animasi pun dapat ditampilkan.

Satu contoh terkenalnya adalah film Hotel Electrique pada tahun 1908. Film ini menampilkan aktris Julienne Matthieu, dengan adegan seorang wanita yang rambutnya disisir dan dirapihkan otomatis oleh mahluk tak kasat mata. Adegan ini bisa ditampilkan dengan baik, karena teknik Stop-Motion yang cekatan.

Film lainnya berjudul La Maison Ensorecelee pada tahun 1906, mengombinasikan efek spesial dengan film berisi aktor dan aktrisnya. Di film ini, beberapa aktor-aktris yang masuk ke rumah angker, diganggu semacam kekuatan mistis supernatural. Seluruh efek spesial, yaitu saat banyak benda digerakkan oleh mahluk tak kasat mata, diterapkan dengan teknik Stop-Motion. 

Perkembangan lensa kamera serta mekaniknya, dilanjutkan hingga kamera video ditemukan pada tahun 1920an. Namun teknik Stop-Motion masih diterapkan pada berbagai film oleh banyak sineas perfilman, bahkan hingga era modern saat ini.

BoBoiBoy Kembali dalam Film Papa Zola The Movie

 

Zola yang kembali sakti (TMDB).

Okeh, saatnya Malaysia dan Indonesia kembali bersatu, dalam satu film animasi yang menyatukan keduanya, yaitu berjudul Papa Zola The Movie. Tentu yang mengenal karakter ini, paham akan kiprahnya di serial animasi kartun BoBoiBoy.

Ya, karakter Papa Zola adalah satu pahlawan super dalam serial BoBoiBoy, yang telah meramaikan animo kartun Indonesia sejak tahun 2012 lalu. Tentu, ratingnya adalah Semua Umur yang dapat ditonton mayoritas khalayak.

Masih tayang hingga kini dengan sempat berpindah kanal televisi, kartun ini turut melanjutkan kisah kartun Malaysia yang sederhana dan cocok, ala Upin Ipin sebelumnya. Memang, keduanya lebih menceritakan keseharian banyak karakter, yang ditambah bumbu aksi ala pahlawan super di BoBoiBoy.

Kiprah Monsta Studios dari Malaysia

Tidak hanya di televisi nasional, BoBoiBoy telah melanglang buana di siaran internet Netflix, dengan sub-judul Galaxy (2016). Bahkan, bagi yang masih penasaran dengan seluruh musim penayangan BoBoiBoy, dapat menyaksikannya di kanal resmi milik Monsta Studios (Monsta dan Monsta Keren), selaku tim produksinya dari Malaysia.

Berbagai karya yang terkait dengan waralaba BoBoiBoy pun telah ditelurkan oleh Monsta. Diantaranya adalah dua film BoBoiBoy (2016, 2019), satu seri dan film Mechamoto (2021, 2022), dan seri khusus Papa Pipi (2019, 2025). Selain itu, lima film pendek BoBoiBoy pun digelontorkan oleh Monsta Studios, yang diantaranya dirilis tahun 2019, 2020, 2021, 2022, 2023 dan 2024. 

Ranah komik pun dijabani pula oleh Monsta, yaitu serial komik BoBoiBoy Galaxy musim kedua (2020), dan Detektif Yaya (2016). Seluruh karya tersebut, adalah bagian dari Jagat Power Sphera, alias dunia khas berisi BoBoiBoy dan banyak karakter lainnya.

Sedikit Info Karakter Papa Zola

Kembali ke film ini, Papa Zola adalah satu karakter yang seringkali membantu BoBoiBoy, dalam membasmi berbagai serangan alien. Adu Du dan Tengkotak, adalah sejenis mahluk luar angkasa jahat, yang sering mengganggu di Pulau Rintis, lokasi tempat tinggal mereka. Dengan bantuan teman-temannya dan Papa Zola, BoBoiBoy sanggup menggagalkan usaha jahat dari alien.

Uniknya, Papa Zola sebenarnya adalah seorang karakter fiksi dalam dunia BoBoiBoy. Karakter Papa Zola berhasil keluar dari video gim miliknya sendiri, dan sempat linglung akibat berasa isekai. Terpaksa tinggal di Pulau Rintis, dirinya lalu bekerja sebagai guru, sambil menyembunyikan identitas pahlawan supernya.

Nah, kali ini justru dimulai kembali petualangan yang berbeda dari Papa Zola, yang tayang di banyak sinema Indonesia. Bagi yang kangen dengan kerennya BoBoiBoy, berbagai aksi mantap ala animasi 3D terlihat dalam cuplikannya. Beberapa drama pun menyajikan latar belakang Zola, yang masih berjuang keras demi hidup damai sejahtera di Pulau Rintis, bersama keluarganya.

Sinopsis Film Papa Zola The Movie

Papa Zola (Nizam Razak) masih berjuang keras demi menghidupi keluarganya, dengan melaksanakan tiga pekerjaan sekaligus. Zola masih berniat untuk berlibur layak bagi anaknya, Pipi Zola (Ieesya Isandra). Istrinya, Mami Zila (Noor Ezdiani Ahmad Fauwzi) justru memberi saran, bahwa Zola tidak perlu bekerja sekeras itu, dan liburan saja jika memang mampu.

Saat mereka tengah berkemah di tengah hutan, Zola bertemu seorang agen dari PAPA (Protect and Prevent Agency), yaitu organisasi yang berfungsi menghalau serangan alien. Zola diingatkan, bahwa dirinya sempat menjadi anggota dari PAPA, sekaligus mitra lamanya. Karena sudah tidak ingat, Zola malah menyarankan untuk menghubungi BoBoiBoy (Nur Fathiah Diaz) saja, yaitu seorang anak super dengan kemampuan elemen dan bertopi oranye.

Namun, keesokan harinya Pipi diculik oleh sekawanan alien. Kelompok alien baru tersebut, memang tengah mencari anak, yang bisa diculik demi eksperimen. Sementara, kapal utama menyerang ibukota Kuala Lumpur, demi merubah dunia menjadi simulasi jajahan mereka.

Zola yang masih memiliki kemampuan super, perlu mengumpulkan kembali seluruh kekuatannya yang telah lama tidak dipakai. Terlebih lagi, BoBoiBoy dan Gopal (Dzubir Mohamed Zakaria) yang sudah lama berjibaku, malah hilang setelah ditelan oleh portal menuju dunia simulasi lainnya. 

Sanggupkah Zola menyelamatkan Pipi dan seluruh dunianya? Tentu dapat disaksikan di sinema kombo Indonesia dan Malaysia.

14 Januari 2026

Rasanya OP Ala Karakter Kirito di Anime Sword Art Online

 

Yujio di Project Alicization (SAO-Wiki).

Okeh, rasanya cukup aneh mulai nulis artikel Monsterisasi lagi, tetapi memang cocok di awal tahun 2026 ini. Apalagi setelah penjelasan di laman Monsterisasi mengenai Tanjiro dan kawan-kawan, serta artikel pertamanya mengenai film dari Makoto Shinkai, jadi ya tinggal dilanjutkan saja.

Terlebih lagi, istilah Monsterisasi-nya sendiri cukup aneh, jika dibandingkan dengan apa yang dibahas. Jadi, di artikel ini, penulis akan membahas satu karakter OP, yang memulai animo anime isekai di Jepang sana, bernama Kirito Kazugaya.

Ya, karakter utama dari serial novel dan anime Sword Art Online (SAO) ini, justru paling cocok dibahas di artikel ini, Monsterisasi. Kenapa? Karena seperti dibahas sebelumnya mengenai perubahan 'makna' seorang karakter dan dikejar masa lalu, maka Kirito adalah satu 'Monster' terbesar dari sudut pandang tersebut.

Memang Monter terbesarkah? Tentu Saja! Karena Kirito punya Buanyak HAREM sedunia, bahkan mengalahkan seluruh anime lain! Hehe, becanda... 

Trope Kirito yang punya banyak harem, sebenarnya digambarkan di anime saja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kirito sebenarnya adalah pemain MMO solo karir, yang seringkali membantu player (cewe) lain pas namatin quest.

Trope Kirito sebagai karakter OP yang punya banyak harem pun, membuat anime SAO tidak disukai oleh banyak wibu dan otaku. Padahal, menurut novel aselinya, Kirito memang tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun (selain Asuna).

Okeh, itu pengenalan saja mengenai urusan kelamin Kirito. Tetapi bagaimana dengan jiwanya sebagai seorang Monster? Nah, dari segi Action RPG atau MMO sekalian, Kirito memang termasuk OP, layaknya karakter Endgame - Post Game Grind di banyak RPG.

Walau karakter Kirito di novel dan animenya cukup berbeda, tetapi plot utama serta jalan ceritanya tetap mirip. Yaitu, saat Kirito harus meng-carry seluruh tim, hingga seluruh server, untuk selamat walafiat di dunia MMO. Trope cerita Kirito terus berlanjut dari server Aincrad, bahkan hingga seri anime terakhir, yang berjudul Alicization: War of Underworld.

Nah, daripada membahas bagaimana kisah Kirito meng-carry semuanya (padahal mah pake cheat juga anjir), lebih baik dicek saja pas Kirito cocok sebagai MC kita selama ini. Tepatnya, saat masih berada di dunia Project Alicization. Itupun, tidak hanya berfokus pada Kirito, tetapi teman virtualnya sendiri, yaitu Eugeo (Yujio).

Kirito dan Asuna yang sudah resmi berumur dewasa (Mipon).

Project Alicization bersama Alice, Yujio dan Kirito

Perlu diingat, bahwa Kirito di Project Alicization sudah berumur 20 tahun, alias baru lulus SMA dan memulai kuliah. Penggemarnya pasti tahu, bahwa Kirito dan banyak penyintas Aincrad lain, ke-skip sekolahnya selama dua tahun lebih. 

Jadi, Kirito di serial anime ini memang sudah dewasa, dan bekerja (magang) sebagai beta tester (lagi) di Project Alicization. Sayangnya (seperti biasanya), proyek yang sudah diamankan ini, harus dioperasikan sebagai penelitian bagi pasien yang mengalami koma.

Ya, Kirito yang diserang oleh racun syaraf saat berduaan dengan Asuna di dunia nyata, akhirnya koma dan perlu dirawat di dunia Project Alicization. Kirito yang sebenarnya berumur lima tahun di dunia ini, perlu mengulang kembali sepuluh tahun hidupnya, akibat perbedaan waktu dengan dunia nyata.

Namun, dari segi ini bisa dianalisa, bahwa Kirito bersama karakter AI bernama Yujio dan Alice, sebenarnya mengulang kembali masa kecil yang hilang. Di dunia nyata, Kirito adalah seorang yatim-piatu, yang tinggal bersama sepupunya yaitu Suguha, dan kakeknya saja. Momen masa kecil bersama Alice dan Yujio, seakan proses untuk menyembuhkan kembali rasa terpendam Kirito.

Tidak hanya itu, saat berumur 15 tahun alias SMP, Kirito pun terjebak di Sword Art Online dan dunia Aincrad-nya. Disitu, Kirito selalu merasa bersalah, karena tidak sanggup membantu banyak pemain SAO.

Dan latar Kirito tersebut sangat nyambung dengan karakter baru di Alicization, yaitu temannya sendiri bernama Yujio. Karakter berambut pirang dan tinggi sama dengan Kirito ini, memiliki keperibadian baik, halus, penurut, dan setia. 

Namun sedikit spoiler, Yujio akhirnya meninggal dalam seri ini. Kisah Yujio yang meninggal, mengingatkan pula perubahan terbesar dalam diri Kirito. Yaitu, untuk terus berinisiatif gelut, dengan berbagai tingkat edgy-nya. Yujio pun meninggal akibat misi keduanya.

Padahal, sebelum terjebak di dunia Aincrad, Kirito adalah anak SMP biasa yang cukup halus pembawaannya. Kematian Yujio seakan mengingatkan, bahwa Kirito yang selama ini terlalu Power-Creep, adalah perubahan besar akibat Aincrad. Padahal di episode awal SAO saja, Kirito pura-pura edgy, untuk menghindari kejaran dari pemain lain.

Visual karakter Yujio pun cukup terbalik dengan Kirito, khususnya sebagai avatar. Kirito bermata dan berambut hitam, dengan pakaian serba hitam pula. Sementara Yujio bermata biru dan berambut pirang, dengan pakaian berwarna biru cerah. Padahal, desain baju keduanya masih cukup mirip.

Nah, kembali ke momen Yujio meninggal, bencana lain menimpa pula Kirito yang kalah bertarung. Dirinya terjebak dalam dirinya sendiri, mirip dengan koma di dunia nyata. Alias, Kirito memang koma dua dunia sekaligus. 

Saat masih koma, dengan serial Alicization yang dilanjutkan di War of Underworld, Kirito memang tidak muncul sama sekali. Jika adegan Kirito muncul, berarti saat dirinya terjebak dalam kenangannya sendiri, mulai jaman SMP hingga Aincrad, lalu banyak momen menyedihkan lainnya. 

Momen ini, layaknya men-defrag Operational System dalam Personal Computer dengan begitu banyak data yang memenuhi memori Hard Disk Drive atau Solid State Drive. Dengan begitu, PC akan bekerja lebih cepat dan kinerja lebih baik lagi. 

Bahkan di akhir momen tersebut, Yujio, Asuna, Shino, dan Suguha muncul, untuk membangunkan kembali Kirito dari dalam kenangannya. Momennya cukup dalam, karena Kirito harus menerima dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan, yang sempat menyelamatkan (nyawa) keempat temannya tersebut. Walau Yujio telah meninggal, dirinya adalah sosok jiwa Kirito yang Aseli.

Daaan, begitulah alasannya mengapa Kirito (alias Yujio) adalah seorang karakter Monster, yang selalu diminta untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia MMO, hingga berujung celaka di dunia nyata.

Avatar-nya saja di dunia Project Alicization, masih berupa Kirito umur 15 tahunan. Seakan, mengingatkan kembali awal edgy-nya karakter Kirito yang OP ini.

Akhir dari Alicization, yang entah kapan dilanjutkan serial anime-nya, menjadi sekedar closure alias penutup, bagi kisah Kirito yang sudah terlalu OP, hingga berujung status sebagai Monster!

Oh ya, daripada galau menanggapi Kirito, mending dengarkan saja lagu pembuka anime Alicization kedua, dari penyanyi ReoNa berjudul Anima. Bagi yang mengecek judul serta liriknya, pasti paham seluruh maksud artikel ini.

Okeh, Ciao!

12 Januari 2026

Lucu-lucuan Penguin Korea Ala Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

 

Pororo dan banyak kawannya (TMDB).

Daaaan, masih ada satu lagi film bagi anak (alias ratingnya Semua Umur) di minggu ketiga bulan Januari 2026 ini, berjudul Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure, yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Kali ini, Pororo adalah sejenis karakter animasi dari Korea Selatan sana, yang berbentuk Penguin, lengkap dengan topi pilot dan kacamatanya. Inovasi karakter Pororo cukup mendunia, yang merupakan awal kebangkitan budaya seni populer dari Korea Selatan, hingga sanggup menyaingi Hello Kitty dari Jepang, Mickey Mouse dari AS, dan Smurfs dari Eropa.

Bagi para penggemar film, tentu dapat mengingat bangkitnya Korea Selatan dengan pop-dansanya yang sempat merajai awal tahun 2010an lalu. Filmnya pun sangat berkelas ala film produksi Hollywood, walau cukup jarang mengemukakan khas budayanya sendiri.

Pororo adalah pionir dari kebangkitan tersebut. Bahkan hingga sekarang, sebanyak delapan musim kartun animasi telah ditelurkan, dari tahun 2003, 2005, 2009, 2012, 2014, 2016, 2020, dan 2023. Filmnya bahkan mencapai 12 banyaknya, yaitu pas tahun 2004, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2017, 2019, 2022, 2022, 2023, dan 2025. Tentunya, film berjudul Sweet Castle Adventure ini, adalah film ke 13-nya.

Masih banyak karya lainnya yang mengikutsertakan Pororo dan kawan-kawannya, namun ikoniknya penguin berwarna biru ini tidak hanya dari segi kelucuannya saja. Pororo diproduksi dengan menghilangkan bias budaya dan referensi sejarah, sehingga cukup familiar di seluruh belahan dunia. 

Selain itu, sejak awal, Pororo didesain untuk anak berumur 4 hingga 7 tahun, yang mengenalkan berbagai sikap, norma, moral, banyak nilai edukasi (alias life skill). Pada saat awal penayangannya di Korea Selatan, banyak anak di Korea Selatan mengikuti gaya Pororo saat mengangkat tangan untuk menyeberang jalan, makan dengan dikunyah 30 kali, mencuci tangan, dan berbagai 'nilai keseharian' lainnya.

Orangtua dari Korea Selatan yang menyukai karakter Pororo, saat itu menyarankan Iconix Entertainment sebagai studio produksi, dalam memasukkan adegan tersebut pada setiap episodenya. Iconix pun setuju, sehingga timbal-balik antara hiburan dan edukasi, khususnya pada anak Korea Selatan, semakin terjalin dengan baik.

Sinopsis Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

Kali ini, dunia Pororo sedang dalam musim dingin dan menjelang perayaan Natal. Di Kerajaan Dessert, sedang diadakan kompetisi memasak kue. Pemenangnya, akan mendapatkan lapisan topping dari Sinterklas.

Pororo dan kawan-kawannya yang kebetulan bertemu Sinterklas di jalan, akhirnya diminta untuk mengirimkan piala topping tersebut kepada Ratu di Kerajaan Dessert. Petualangan baru mereka pun dimulai, sambil menikmati momen di musim dingin. 

Namun, saat akan menyerahkan piala tersebut di Kerajaan Dessert, seorang tokoh produsen cokelat bernama Leo No. 5 menghalau mereka. Leo tidak rela, kompetisi dilaksanakan tanpa kehadiran cokelat buatannya. Pororo pun perlu mengamankan piala tersebut, sambil menghindari kejaran Leo.

Amankah kompetisi ini dengan perayaan musim dinginnya di Kerajaan Dessert? Jawabannya, tentu dapat disaksikan di keberagaman kue ala sinema Indonesia.

18 Desember 2025

Mengakhiri Perang di Pandora dalam Film Avatar: Fire and Ash

 

Generasi berikutnya ras Na'vi di bulan Pandora (IMDB).

Daaan, dengan berakhirnya tahun 2025 ini, kembali pula akhir dari film paling epik sedunia, berjudul Avatar: Fire and Ash, yang tayang mulai minggu ini di sinema-sinema Indonesia, untuk penonton berumur 13 tahun ke atas (R13+).

Tentu bagi yang sudah menonton film Avatar: Way of Water di tahun 2022 lalu, bakal geregetan untuk menyusul sekuelnya di bulan Desember ini. Ya, film Avatar: Fire and Ash adalah akhir dari trilogi film ini. 

Oh ya, bagi yang ingin menikmati film Fire and Ash dengan lebih ciamik, tentu dapat memesan tiket yang memberi fasilitas 3D dan IMAX. Tentu, dengan harga tiket yang lebih mahal dan kursi yang lebih terbatas.

Arahan James Cameron selaku pendiri Lightstorm Entertainment, sanggup merekayasa adegan mocap dengan hasil animasi 3D yang ciamik. Lightstorm memang telah berkecimpung bersama Cameron sejak dirilisnya film Terminator 2: Judgment Day (1991). Sejak itu hingga kini, Lightstorm selalu mencengangkan dunia perfilman dengan efek spesialnya yang terbilang inovatif.

Trilogi Avatar dari James Cameron

Walau dimulai pada tahun 2009 lalu oleh sutradara James Cameron, dan membutuhkan jangka waktu 13 tahun untuk film keduanya, film ketiga ini hanya berjarak tiga tahun saja sejak film keduanya. Sebagai akhir dari trilogi, belum ada kabar pasti mengenai film keempat atau kelanjutannya. Namun, dari rumor yang beredar, jika film keempat Avatar diproduksi, maka karakternya akan berbeda dengan trilogi awal.

Trilogi Avatar memang berfokus kepada Jake (Sam Worthington) dan istrinya, Neytiri (Zoe Saldana). Bagi penggemarnya, pasti tahu bahwa sepasang ras Na'vi dari bulan Pandora ini memang fokus utama, yang berjibaku antara kehadiran manusia (RDA), suku pribumi (Na'vi), dan bulan Pandora dengan kehadiran dewa Eywa.

Nah, bagi yang cukup mengingat latar kisah Avatar, Eywa adalah penggambaran harfiah mengenai ekosistem ala bulan Pandora. Eywa adalah nama Dewa tersebut, yang memiliki koneksi langsung dengan seluruh mahluk di Pandora. 

Setiap mahluk, bahkan hingga tanaman, memiliki sulur sebagai anggota tubuhnya. Sulur tersebut bisa dihubungkan dengan pohon bernama sama, lalu membantu menyembuhkan atau bahkan berbagi kesadaran dengannya. Bahkan, sulur dapat saling terhubung dengan mahluk lain, agar mereka dapat bekerja sama secara langsung dan telepati dalam berbagai aktifitas sehari-hari.

Nah, itulah yang menjadi khas dari setiap film Avatar, bahwa bulan Pandora yang sangat eksotis, digambarkan dengan indah ala teknologi CGI dan animasi yang memukau. Tidak heran, film pertamanya menjadi film sinema terlaris sepanjang masa. Box Office-nya mencapai 2,9 Milyar Dolar AS sejak tahun 2009 lalu! Bahkan, Way of Water mencapai 2,3 Milyar Dolar AS, padahal baru tiga tahun sejak dirilis tahun 2022 lalu!

Lokasi syutingnya pun cukup mengesankan, yaitu berada di Selandia Baru, sebuah negara kepulauan kecil di tenggara Australia. Rasanya bernostalgia, semenjak Selandia Baru digunakan sebagai lokasi syuting trilogi The Lord of the Rings (2001;2002;2003). 

Karenanya, banyak sineas perfilman internasional terus melaksanakan syuting di Selandia Baru. Luas, karakter, serta pemandangan Selandia Baru cocok diterapkan sebagai latar sebuah film Epik. Bahkan, Peter Jackson sebagai sutradara trilogi The Lord of the Rings, menyatakan bahwa Selandia Baru bukanlah sebuah negara kecil, melainkan desa yang luas membahana.

Mengingat Plot Film Avatar: Way of Water

Sebelumnya di film Way of Water, Jake mencoba tinggal dan bekerja sama dengan suku Na'vi dari pesisir pantai. Menurut kabar, suku Na'vi pesisir pantai bernama Metkayina, mengambil referensi dari Suku Bajo (Bajau). Suku adat pribumi ini berasal dari Malaysia (Sabah), Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara, alias dari negara Nusantara Tercinta, Indonesia.

Dari situ, kembalilah manusia RDA (Resource Development Administration) dengan kapal laut dan kemampuan mecha amfibi, yang sanggup merambah ranah lautan di Pandora. Sementara dari pihak suku Na'vi, bantuan dari mahluk lautan sejenis paus (Tulkun) dapat menghalau mereka.

Sinopsis Film Avatar: Fire and Ash

Nah, kembali ke Fire and Ash, ketidakhadiran langsung Eywa pula yang menjadi kekhawatiran di film ketiganya ini. Salah satu suku yang tinggal dekat dengan gunung volkano, bernama Mangkwan, malah bergabung dengan RDA. 

Suku Mangkwan dipimpin oleh Varang (Oona Chaplin), yang berselirih khusus mengapa sukunya membelot. Posisi desa huniannya dahulu sempat terkena bencana hebat, yaitu letusan gunung volkano. 

Walau seluruh anggota suku sudah berdoa kepada Eywa, namun bencana sama sekali tidak dapat dihalau. Seluruh anggota suku Mangkwan pun tidak percaya kepada Eywa lagi, dan bahkan menyembah api sebagai simbol dewa, lalu mulai membelot serta berambisi menguasai seluruh Pandora bersama RDA.

Tentu bagi yang sudah menonton film pertama dan keduanya, tahun bahwa RDA hanya menginginkan satu hal saja di bulan Pandora. Satu bijih mineral bertama Unobtainum, adalah target utama RDA. Sementara suku pribumi Na'vi melawan balik, menghalau, mencoba untuk mengusir, serta menghentikan ambisi RDA di bulan kediamannya.

Nah, kali ini ada beberapa kehadiran lain, yang mampu membantu Jake untuk melawan gempuran tersebut. Ya, naga berspesies Ikran kembali bersama banyak kawanannya untuk menghalau gempuran RDA.

Generasi Berikut dan Alamnya

Dan, tidak hanya kehadiran mahluk eksotis dan alamnya saja yang sanggup membantu kampanye ini. Ada satu senjata terkuat, yang tidak berdasarkan kemampuan militer, namun paling signifikan dalam sejarah peperangan militer, di dunia manapun.

Ya, nama senjata tersebut adalah generasi berikutnya. Walau tidak diterapkan harfiah dalam peperangan, namun layaknya Rite of Passage (Ritual Peralihan Lintas Generasi). Anak yang paham mengenai kekisruhan di generasi sebelumnya, dapat melanjutkan usaha tersebut kedepannya, dengan kemampuan dan caranya masing-masing.

Tidak perlu disebutkan siapa saja anggota keluarga dari Jake dan Neytiri, namun seluruh generasi berikutnya, berperan penting bagi kelangsungan hidup di bulan Pandora yang masih penuh konflik.

Oh ya, satu lagi referensi menarik dari trilogi Avatar ini, yang mengemukakan lokasi eksotis nan indah dengan kegalauan para mahluk di dalamnya. Jika disejajarkan, maka lokasi eksotis nan indah ala kepulauan Nusantara, hingga Madagaskar di Afrika, kepulauan Hawaii di Pasifik, serta Lautan Karibia, yang cocok sebagai acuan ngerinya kekuatan alam, namun sebanding dengan keindahannya.

Walau begitu, banyak bencana alam akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim, yang masih sesuai dengan siklusnya, mulai merambah dan semakin berubah, di banyak lokasi planet Bumi, baru-baru ini.

Okeh, selamat menikmati film Avatar: Fire and Ash di ranah keberagaman hayati ala sinema Indonesia.

Berpetualang bersama Cemilan Imut di Film Dream Animals: The Movie

 

Binatang lucu yang sedang asyik (TMDB).

Saatnya di akhir tahun 2025 ini, tepatnya bulan Desember yang sedang hangat-hangatnya berlibur, menonton film bersama anak atau anggota keluarga lainnya (rating Semua Umur). Kali ini, film animasi untuk anak yang dirilis adalah Dream Animals: The Movie, yang tayang di sinema-sinema Indonesia pada akhir minggu.

Studio animasi yang memproduksi Dream Animals pun bukanlah sembarang studio, melainkan Marza Animation Project dari Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, Mara merilis trilogi film Sonic the Hedgehog (2020;2022;2024), yang disukai banyak penggemarnya. 

Jika mengingat Sonic, tentu kembali pula kenangan saat film pertamanya akan dirilis. Penggemar Sonic dari seluruh dunia protes di dunia maya, saat menonton cuplikan pertamanya. Desain karakter utama Sonic, terlihat mengerikan, dan tidak imut layaknya Sonic di Video Gim-nya. Namun, karena sineas filmnya memahami, maka mereka menunda perilisan film hingga tiga bulan (rencana rilis asli untuk bulan November 2019), untuk mendesain ulang karakter Sonic.

Distributor yang merilisnya pun cukup keren, yaitu Tokyo Broadcast System (TBS), yang sering membuyarkan dunia dengan anime mantap dari Jepang. Beberapa contoh anime viral dari TBS, diantaranya adalah serial anime Dandadan (2024) Jujutsu Kaisen (2020), dan Full Metal: Alchemist Brotherhood (2009).

Dan, saatnya kembali membahas Dream Animals. Bagi anak atau penggemar yang suka film animasi 3D, alias tiga dimensi yang imut, tentu tertarik dengan cuplikan Dream Animals yang cerah dan mulus animasinya. Oh ya, yang imut bukan hanya karakter di filmnya, tetapi juga asal muasal para karakternya.

Dream Animals adalah produk makanan ringan berjenis kraker, yang berbentuk karakter binatang dan diproduksi dari Jepang. Perusahaan yang memproduksinya adalah Ginbis, yang telah memulai usahanya sejak tahun 1930 lalu. Khusus untuk produk Dream Animals (Tabekko Doubutsu), mulai diproduksi sejak tahun 1978 lalu.

Makanan ringan Dream Animals masih diproduksi hingga sekarang, dengan banyak tambahan karakter berbeda pada setiap bungkusnya. Karakter binatang seperti gajah, kuda nil, pegasus, kucing, kelinci, ayam, jerapah, singa, buaya, dan monyet selalu meramaikan isi setiap bungkus Dream Animals. 

Bagi yang penasaran dengan rasa makanan ringan ini, sebenarnya Dream Animals tidak begitu luas didistribusikan di Indonesia. Namun, banyak toko daring (online) yang menawarkannya, sehingga dapat dipesan saja langsung. 

Atau bagi yang kangen jajanan anak, tentu masih bisa mengecek makanan ringan Fugu. Makanan ringan ini justru berbentuk mirip, dengan ikan sebagai karakternya, yang tentu diproduksi oleh perusahaan Indonesia bernama OrangTua

Sinopsis Dream Animals: The Movie

Di Negeri Manisan, sekelompok grup musik terkenal bernama Dream Animals, yang beranggota Gajah, Kuda nil, Pegasus, Kucing, Kelinci, Jerapah, Singa, dan Monyet sedang heran dan terperangah atas kondisi nasionalnya. Dream Animals yang baru saja kembali dari tur musik internasional, menemukan negerinya kini dikuasasi oleh sejenis cemilan permen.

Sejenis kelompok permen bernama Gotton ingin mendominasi pasar di Negeri Manisan, yang biasanya seimbang antara campuran makanan ringan biskuit, dengan banyak variasi permen. 

Walau sebenarnya seluruh anggota Dream Animals tidak ingin berkonflik, justru terperangah dengan diculiknya salah seorang anggota mereka, yaitu Pegasus (Akairi Takaishi). Singa (Genta Matsuda) sebagai seorang pemimpin, berinisiatif bersama seluruh anggotanya untuk memulai misi penyelamatan.

Dengan dibantu oleh seorang gadis nan baik hati (Liliano Ono), Dream Animals mulai berjibaku dan merekrut banyak binatang idola lainnya, seperti Anak Ayam dan Buaya, demi menyelamatkan Pegasus dan mengembalikan kedamaian di Negeri Manisan tercinta. 

Sedikit Komentar Mengenai Sinopsis Film Dream Animals

Oh ya, tampaknya film ini menggambarkan, bahwa makanan cemilan alias ringan sejenis biskuit, kraker, dan banyak makanan adonan kering lainnya, sebenarnya lebih sehat. Bahkan, jika dicek per bungkusnya, terdapat cetakan berbentuk kotak, bertuliskan kandungan gizi per-gram untuk setiap bungkusnya. Label kandungan gizi ini bisa dicek pula dari bungkus sejenis sirup atau susu

Apalagi jika dibandingkan dengan sejenis permen, yang dapat langsung terlihat efeknya pada gigi anak, yang hitam bahkan hingga ompong karena terlalu banyak mengonsumsi permen atau manisan. Cukup merusak tubuh anak pula, karena gizi-nya jauh lebih sedikit dengan bahan kimiawi lebih banyak.

Sementara di cemilan makanan kering, sering ditambahkan dengan cokelat, susu, bumbu asam, manis, pedas, serta banyak tambahan lainnya. Walau tetap masuk sebagai kategori makanan ultra proses, tetapi prosesnya cukup sederhana dan lebih bergizi untuk dikonsumsi tubuh.

Produk Ringan dari Indonesia

Oh ya lagi, setelah membahas sinopsis film Dream Animals, penulis mau berbagi pula tentang pengalaman makanan ringan di Indonesia. Selama beberapa dekade lamanya, keluarga berkecimpung sebagai grosir makanan ringan. 

Ternyata, rata-rata produk makanan ringan berasal dari perusahaan Nasional alias Nusantara. Mulai dari biskuit, cokelat batang, keripik, hingga minuman susu dan sirup, seluruhnya diproduksi dari perusahaan nasional atau lokal. 

Tidak hanya makanan ringan, banyak produk rumahan seperti pasta gigi, sabun batang, sabun cair, sabun pel, sabun cuci piring, shampoo, sikat gigi, hingga kebutuhan rumah lainnya, diproduksi dari pabrikan dalam negeri tercinta.

Bahkan saat keluarga beralih usaha ke bumbu makanan, mulai dari bumbu jadi, bumbu marinasi, santan, hingga bumbu racik, ternyata seluruhnya diproduksi dari perusahaan nasional. Beberapa produk yang lebih tradisional, yaitu gula merah, gula, garam, minyak curah, hingga bumbu rempah, adalah hasil Usaha Kecil Menengah (UKM) regional.

Tampaknya tidak perlu dijelaskan lagi, bahkan produk tas hingga pakaian santai dan formal (apalagi batik), diproduksi oleh perusahaan nasional atau lokal. Memang, banyak pabrikan tekstil maupun garmen, bisa 'dititipkan' produksinya demi kebutuhan merk lokal pula.

Ya, maksudnya tentu bukanlah se-kompetitif ala Ginbis yang melanglangbuana hingga bisa diproduksi filmnya. Tetapi, dengan begitu dari segi manufaktur, barang dan bahan kebutuhan sehari-hari, ternyata sudah terpenuhi oleh produksi nasional dari negara tercinta. Ya, Indonesia.

Tentu kekurangannya adalah berbagai jenis barang elektronik serta otomotif, yang masih didominasi oleh produk dari Jepang atau China. Tetapi kedepannya, mungkin Indonesia akan mencapai tahap tersebut, karena banyak bahan mineral mentah yang memang didapatkan dari kekayaan dalam negeri. Ya, Indonesia.

Kayaknya tidak perlu dijelaskan lagi dari segi keberagaman Hayati Indonesia, ya. 

Okeh, wassalam, dan selamat menikmati kisah Dream Animals ala ranah produk sinema internasional di Indonesia.

10 Desember 2025

Berjuang Bersama Ksatria Putri di Film Anime Scarlet

 

Scarlet yang heran sendiri (TMDB)

Dan, saatnya mencapai film dari studio yang seringkali memenangkan langsung penghargaan setiap merilis filmnya, yaitu studio animasi Chizu dari Jepang, dengan karyanya berjudul Scarlet, di sinema Indonesia akhir tahun ini.

Chizu seakan bangkit sebagai 'studio Ghibli baru' dari Jepang, sejak didirikan pada bulan April tahun 2011 lalu. Dengan filmnya berjudul Wolf Children pada tahun 2012, bersama pendirinya yaitu Mamoru Hosoda, berhasil memenangkan satu perhargaan Film Animasi Terbaik Jepang.

Setelah film debutnya, serentetan penghargaan terus menghampiri studio Chizo. Film keduanya berjudul The Boy and the Beast pada tahun 2015, berhasil meraih penghargaan untuk kedua kalinya untuk Film Animasi Terbaik Jepang.

Bahkan di tahun 2018, studio Chizo menerima nominasi Oscar sebagai Film Animasi Terbaik, untuk film berjudul Mirai, walau tidak berhasil menang. Film terakhirnya di tahun 2021, berjudul Belle pun meraih nilai yang baik dari kritikus seluruh dunia.

Nah, bagaimana dengan film Scarlet yang dirilis di Indonesia di tahun 2025 ini? Menurut Mamoru Hosoda, film Scarlet diproduksi dengan teknik berbeda dari animasi 2D atau CG. Penulis kurang mengerti, namun terlihat pada cuplikannya, layaknya film 3D dengan arahan gaya anime. Kisahnya pun ternyata terinspirasi dari Hamlet, alias karya Shakespeare terdahulu.

Sinopsis Film Scarlet

Scarlet (Mana Ashida) adalah seorang ksatria sekaligus putri yang telah kalah bertarung. Dirinya kalah dan meninggal saat mencoba membalaskan dendam ayahnya, yang dituduh membelot kerajaan.

Sayangnya, walau sudah meninggal, Scarlet tidak bisa istirahat dalam damai. Scarlet terjebak di sebuah Daratan Kematian, yaitu sebuah daratan luas tanpa pepohonan dan hanya terlihat pegunungan, bebatuan, serta gurun pasir. 

Di Daratan Kematian, Scarlet bertemu dengan Hijiri (Masaki Okada), yaitu seorang paramedis dari dunia modern. Tampaknya, Daratan Kematian tidak memiliki periode waktu tertentu, sehingga jutaan orang yang meninggal, tiba dari banyak variasi jaman dan waktu.

Hijiri pun heran, bahwa saat dicek, sebenarnya Scarlet masih hidup, dan bisa kembali ke jamannya. Scarlet pun geram, karena paham dan sikap idealis yang berbeda di antara keduanya.Tidak berapa lama, Hijiri dan Scarlet perlu merambah tantangan lain di daratan tandus ini. 

Yaitu seorang raja, yang memproklamirkan seluruh penghuni daratan, untuk siap berperang. Raja tersebut menegaskan, bahwa jika perang ini dimenangkan, maka seluruh penyintas akan berhasil memasuki Daratan tak Terbatas. Namun, bagi yang kalah, akan hilang sepenuhnya dari daratan manapun.

Tidak ingin mengalah begitu saja, Hijiri dan Scarlet pun memulai perjalanan Epik mereka, walau tidak yakin dengan akhir tujuannya.

Bagi yang cukup yakin, bisa mengecek saja di daratan gelap sinema Indonesia.

Berkelana ke Barat Ala Siluman Dari China Di Film Nobody

 

Keempat siluman yang cukup berdedikasi (TMDB).

Akhirnya setelah sekian banyak film mengenalkan kembali Berkelana Ke Barat, di Desember tahun 2025 ini muncul kembali dengan gaya yang sesuai, yaitu cerita kocak para siluman (harfiah) berjudul Nobody, yang kini tentu tayang di sinema-sinema Indonesia.

Mungkin perlu diingat, adaptasi novel abad 16 (tepatnya tahun 1592) karya novelis Wu Cheng'en ini sering diproduksi oleh sineas perfilman dari China. Serial televisi Indonesia pada tahun 90an hingga awal 2000an lalu, tentu menjadi awal terkenalnya kisah Berkelana Ke Barat di Indonesia. 

Satu contoh yang kembali meramaikan cerita ini, adalah Journey to the West: Conquering the Demons (2013), yang diproduksi dan disutradarai langsung oleh Stephen Chow. Kisahnya pun cukup rapih dengan adegan dan petunjuk cerita yang saling mengikat satu sama lainnya. Ketika menontonnya, penulis tidak menyangka bahwa kisah ini akan berakhir sebagai prekuel Berkelana Ke Barat. 

Bagi yang ingin mengecek film lainnya, tentu perlu menonton trilogi Monkey King (2014; 2016; 2018). Kisah di trilogi ini sesuai dengan judulnya, yaitu prekuel Berkelana Ke Barat, dengan fokus pada Sun Wukong saja. Yang pernah menontonnya, tentu tahu bahwa Sun Wukong sering membuat kacau Khayangan dan beradu gelut dengan siapa saja, sebelum bertemu dengan biksu Tang.

Nah, berbeda dengan kedua film sebelumnya, yang berlatar film aksi epik langsung dengan aktor nyata, film Nobody di tahun 2025 ini justru berformat animasi. Tidak hanya itu, ternyata ceritanya cukup berbeda, yaitu para karakter utama bukanlah anggota asli, yang terdiri dari Biksu Tang Sanzang, Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Sha Wujing. Melainkan, karakter utama di film Nobody adalah siluman yang Pura-Pura ke Barat, demi mengembalikan status Kekal miliknya.

Okeh, saatnya mengecek kisah film Nobody yang pembawaannya lebih ke kartun komedi, layaknya serial televisi Berkelana ke Barat tahun 90an lalu.

Sinopsis Film Nobody

Yao Babi (Chen Ziping) adalah seorang siluman babi yang galau, karena tidak pernah berhasil melalui ujian Gua Raja. Yao Babi tidak ingin hidupnya sebagai siluman, berakhir begitu saja.

Hingga suatu hari, akibat kesalahan saat bekerja, Babi Yao dan Kodok Yao (Lu Yang) terpaksa diusir dari Gunung Langlang. Yao Kodok pun marah, karena jika keluar dari Gunung, maka status kekalnya sebagai siluman akan punah.

Namun, masalah kritis tersebut menyebabkan Yao Babi malah semakin kritis, dengan berinisiatif berpura-pura sebagai Kelompok Biksu Tang yang sedang Berkelana ke Barat demi Kitab Suci. Dengan begitu, keduanya dapat meraih kembali hidup kekal nan abadi.

Keduanya pun merekrut Yao Musang (Dong Wenliang) dan Yao Kera (Liu Cong), yang jelas-jelas salah spesies, karena Sun Wukong adalah seorang siluman monyet. Karena keduanya memang siluman pecicilan alias nganggur tanpa arahan jelas, mereka pun setuju saja sambil asyik.

Tentu dengan wajah mereka yang masih berbentuk siluman, banyak warga desa dan bahkan siluman lain yang tidak percaya. Mereka diusir, bahkan dikejar layaknya monster atau rampok, yang dianggap mengganggu desa mereka.

Namun, seorang biksu tua yang baik hati memilih percaya pada mereka, dan membantu dengan menyiapkan makanan dan ruang istirahat bagi keempatnya. 

Saking mendalami peran, keempatnya bahkan siap membantu warga desa yang meminta bantuannya. Walau kuadro ini bukanlah siluman sakti, tetapi mereka tidak rela warga yang ikhlas membantu, tidak terbalaskan kebaikannya.

Apakah mereka sanggup untuk menyelesaikan perjalanan Epik ini? Atau malah identitas terbongkar karena kurang meyakinkan? Dan malah kalah bertarung dan berakhir seketika karena memang kurang mampu?

Jawabannya, tentu ada di ranah mitos sinema-sinema Indonesia.

12 November 2025

Animasi Fantastis ala China di Film The Legend of Hei 2

 

Hei dan Shifu Wuxian yang sedang jajan es krim (TMDB).

Okeh, saatnya kembali ke film dari negara Tiongkok China, alias negara tirai bambu, yang kali ini berjudul The Legend of Hei 2. Film yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, berformat animasi dua dimensi, berbeda dengan kebanyakan film saat ini (selain anime).

Setelah kesuksesan film Ne Zha 2 menjadi film animasi terbesar sepanjang masa, sineas perfilman China tampaknya melanjutkan animo tersebut di film The Legend of Hei 2.

Semangatnya pun masih sama, yaitu menceritakan kisah kungfu fantastis ala China, yang berbumbu mitologi dari sana. Dari cuplikannya, terlihat bahwa para karakternya bukanlah ahli beladiri biasa, melainkan penghubung antara dunia arwah dan manusia.

Dilirik sekilas, maka animo film The Legend of Hei justru lebih mirip film Panji Tengkorak dari Indonesia, yang lebih mengisahkan kekisruhan beladiri antar dua dunia. Tentu, karena film Panji lebih 'gelap,' maka animasinya pun lebih kasar nan brutal.

Justru, di film dari China ini lebih halus animasinya, dengan visual yang lebih cerah nan ciamik efeknya, serta pembawaan yang (mungkin) cocok untuk ditonton semua umur. Tokoh utamanya pun seorang anak kecil, yang baru saja belajar sebagai ahli beladiri 'dua dunia.'

Tentu, yang masih penasaran, perlu menonton film pertamanya di tahun 2019 lalu, yang dilanjutkan sebagai serial animasi berjudul The Legend of Luo Xiaohei. Dalam film pertamanya, Luo Xiaohei bahkan masih berbentuk arwah kucing, yang masih mencari jalan dalam menempatkan dirinya diantara dua dunia.

Sinopsis Film The Legend of Hei 2

Luo Xiaohei (Shan Xin) kini sudah menjadi murid dari Shifu Wuxian (Liu Mingyue). Hei sebagai nama panggilannya, kini memilih berbakti untuk menjaga perbatasan antar dua dunia, agar arwah atau manusia tidak saling menerobos.

Setelah sekian lama tanpa perkembangan berarti, Hei lalu diperkenalkan kepada Shiju Luye (Zhu Jing), yaitu murid Shifu sebelumnya. Ketiganya harus menyelidiki penyerangan di Serikat Liu Shi, yang dicurigai akibat manusia.

Tidak hanya mereka bertiga, Dewa Na Za pun tiba untuk membantu mereka dalam investigasinya. Namun, syaratnya adalah mengalahkan Na Za dalam sebuah video gim gelut, di kamarnya, yang tercolok pada sebuah konsol dan tv.

Dapatkah ketiganya menguak arti penyerangan di Liu Shi? Atau malah gagal mengalahkan Dewa Na Za dalam permainan gelutnya? Atau sebenarnya terdapat pihak lain yang membelot, sehingga Na Za perlu ikut turun membantu?

Jawabannya, dapat dicek di seluruh sinema Indonesia yang menayangkan film ini.