Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan

21 April 2026

Gerbang Fantasi Unik Ala Film Magic Faraway Tree

 

Dunia yang fantastis ala Enid Blyton (TMDB).

Masuk ke ranah Hollywood, saatnya membahas film Magic Faraway Tree yang tayang di sinema Indonesia sejak pertengahan April. Film mengenai dunia dongeng cukup jarang diadaptasi oleh Hollywood, tentu selain film Mario Bros yang rilis tepat beberapa minggu kemarin. Rating Semua Umur pun menjadi alasan yang cocok untuk menonton bersama keluarga.

Nah, sebelum membahas film yang fantastis fantasinya, maka perlu salfok dulu pada aktor yang mengisinya. Yang sudah menonton cuplikannya, akan mengenal aktor bernama Andrew Garfield. Aktor yang memang berlatar drama ini, sempat ramai dengan perannya sebagai Peter Parker di film The Amazing Spiderman (2012).

Namun, sebenarnya penulis sempat menonton Garfield pada tahun 2010an lalu, di film yang media sosialnya sangat sensasional saat jaman tersebut. Yaitu film berjudul The Social Network, dimana Garfield berperan sebagai Eduardo Saverin. Garfield berperan dengan aktor utama yang sudah cukup terkenal walau masih muda, yaitu Jesse Eisenberg yang berperan langsung sebagai Marck Zuckerberg, sang pionir dan pemilik Meta. Film ini meraih dan memenangkan nominasi Oscar, jadi layak untuk ditonton bagi yang berminat drama medsos ala Facebook.

Berikutnya adalah film yang menyebabkan Garfield masuk nominasi Oscar sebagai Aktor Terbaik, berjudul Hacksaw Ridge (2016). Film yang banyak nominasi penghargaan ini, memang berbeda dengan ranah sejarah perang lainnya. Yaitu, mengisahkan seorang veteran perang asli, bernama Desmond T Doss yang diperankan oleh Garfield. 

Bekerja sebagai seorang dokter, dan berprinsip sebagai seorang pasifis (alias cinta damai), Doss justru berinisiatif untuk bergabung sebagai tentara. Saking hebatnya di lahan perang dalam menyelamatkan nyawa, Doss bahkan sempat diberi penghargaan tertinggi di militer AS, yaitu Medal of Honor. Uniknya Doss, adalah satu-satunya tentara yang diberi penghargaan ini, tanpa pernah menembakkan senapannya sekali pun (!).

Okeh, sudah cukup mengenai Andrew Garfield, dan saatnya membahas film yang berlatar fantasi di bulan April ini. Oh ya film ini diadaptasi dari buku novel ternama karya Enid Blyton, yang sebelumnya sempat diadaptasi pula novelnya menjadi film berjudul Wonka (2023).

Sinopsis Film Magic Faraway Tree

Tim (Andrew Garfield) dan Polly (Claire Foy) Thompson baru saja pindah ke lokasi rural, yang jauh dari pusat perkotaan. Sepasang suami-istri ini berinisiatif untuk pindah jauh dari keramaian, demi mempererat hubungan dengan ketiga anaknya, yaitu Joe (Phoenix Laroche), Beth (Delilah Bennet-Cardy) dan Fran (Billie Gardson).

Sepasang insan ini memang khawatir, karena tingkah ketiga anaknya yang aneh. Beth yang masuk remaja, sudah mulai rebel alias banyak berontak. Sementara Joe yang masih kecil, terlalu kecanduan gawai dan susah lepas lalu bermain ala anak biasa. Yang agak biasa namun pendiam, adalah Fran sebagai anak kedua.

Suatu hari, saat Fran menjelajah ke hutan (walau sudah dilarang oleh tetangga), dirinya menemukan sebuah ayunan ajaib, yang mengenalkan karakter bernama Silky (Nicola Couglan) dan Saucepan Man (Dustin Demri-Burns). Keduanya memiliki ritual khusus, yaitu bersama Moonface (Nonso Anozie) melaksanakan sejenis roulette, dan mengunjungi negeri ajaib yang terpilih oleh mainan putaran tersebut.

Fran pun mengajak Beth dan Joe untuk mengunjungi negeri ajaib ini. Sungguh dunia yang fantastis dan magis, yang semakin memukau setiap kunjungannya. Hubungan keluarga Thompson di rumah pun semakin membaik, dengan banyaknya interaksi luar ruangan ala daerah pedesaan.

Sanggupkah keluarga Thompson melanjutkan animo baik ini? Bagaimana dengan kisah petualangan mereka di dunia fantasi nan fantastis?

Jawabannya, tentu ada di lahan fantasional ala sinema Indonesia.

14 April 2026

Rekomendasi Gim Roguelike Terkenal Santai Tanpa VGA

Kalah lagi, lah... (Freepik).

Okeh, saatnya penulis mencoba artikel berbahan topik lainnya, yaitu sejenis gim yang sempat dimainkan. Artikel ini menjadi rekomendasi lima gim, yang diantaranya adalah FTL, Banished, Stardew Valley, Battle Brothers, dan Slay The Spire. Kelima gim ini adalah sejenis gim Roguelike, yang bisa langsung Game Over jika salah satu-dua langkah saja. Namun, kelima gim dipilih karena tidak terlalu kompleks dan Hardcore, dan setiap sesinya tidak terlalu lama. 

Mengacu pada judul artikel ini, Roguelike Terkenal Santai Tanpa VGA memang harfiah. Yaitu, gim Roguelike terkenal, dan saking terkenalnya, bahkan langsung merubah pasar gim sejak perilisannya. Ya, semenjak kelima gim ini dirilis, pasar gim berubah dan tidak hanya banyak orang yang suka, para developer (alias pengembang) gim pun banyak yang ikut menirunya. Seakan gim tersebut menjadi sub-genre tersendiri.

Nah, bagaimana dengan istilah Tanpa VGA-nya? Justru disitulah uniknya. Gim tersebut memang memiliki spesifikasi rendah, sehingga dapat dimainkan di banyak kemampuan PC atau Laptop (layaknya meme Doom). 

Memang tertulis pada setiap spek gimnya, yaitu minimum VGA yang bisa menjalankan OpenGL 3, DirectX 9c, atau Pixel Shader 3 saja, dengan berbagai jumlah VRAM-nya. Spesifikasi macam ini, adalah minimum (Intel HD) bagi setiap PC. Bahkan tanpa bantuan grafis semacam ini, membuka notepad atau bahkan menonton video saja bisa berujung nge-lag.

Penulis pun memiliki pengalaman sendiri mengenai gim tersebut, yaitu sempat dimainkan saat VGA dalam PC rusak, dan perlu menggunakan VGA Onboard saja, alias bawaan dari Motherboard. Penulis memang telah memainkan, dan bahkan memiliki beberapa screenshot (tangkapan layar) dari berbagai gim tersebut. 

Semenjak itu pula, penulis mulai beralih menyukai berbagai jenis gim Roguelike. Layaknya gim arcade terdahulu (alias ding-dong), setiap sesinya memang hanya setengah hingga satu jam saja. Namun, karena sangat hectic, visceral, dan instan, sehingga sangatlah menyenangkan, selayaknya gim yang tanpa perlu berpikir lebih untuk mencobanya. 

Gim sejenis ini pun memiliki RNG (Random Numeric Generator) tersendiri, jadi setiap sesi bisa berubah keadaan yang tiba, sesuai pilihan acak dari gimnya. Tentunya, replayability (main ulang) akan tinggi, karena berbeda tantangan setiap kali main. Bahkan ada istilah meme sendiri dari Inet, yaitu kurang puas tanpa bermain satu kali lagi, padahal baru saja memainkan sesi setengah jam gim Roguelike (saking asyiknya).

Sementara genre Roguelike adalah pengembangan dari nama gim Rogue dari tahun 1985 lalu, saat PC masih bersistem operasi MS-DOS. Karena gim Rogue bisa menyebabkan pemainnya insta-fail alias game over saat bertahan di satu sesi dungeon saja, justru membuat pemainnya gregetan, dan ingin mencoba lagi. Sub-genre Roguelike di jaman sekarang pun sudah terkombinasi dengan banyak genre lainnya, sehingga merubah pasar gim secara keseluruhan. 

Okeh, saatnya membahas kombinasi berbagai gim yang berasal dari banyak genre ini, namun tetap memberi kesan Roguelike-nya. Oh ya, penulis hanya mengisi tahun saat gimnya sudah melalui Full-Release, alias tidak membahas tahun awal Early-Access-nya (yang biasanya bertahun-tahun).

Belum apa-apa, ruang medis sudah terbakar (via Acerax).

Faster Than Light (FTL)

Yang pertama adalah gim Roguelike bertema antariksa dengan pesawatnya, berjudul singkat saja FTL, yang dirilis pada tahun 2012 lalu. Ceritanya adalah satu pesawat yang perlu mengantarkan suatu benda berharga, namun dikejar oleh federasi angkasa yang besar, sehingga tidak bisa kembali dan harus terus maju. 

Pemain pertama memilih pesawatnya terlebih dahulu, dengan kombinasi senjata dan krunya. Pesawat awalnya ditempatkan di satu titik koordinat, dan harus mengecek lalu maju ke titik berikutnya demi mencapai tujuan akhir.

Saat berada dalam satu titik, gim ini dimainkan secara Real Time with Pause, alias bisa dijeda saat aksinya berlangsung. Titik koordinat berisi random nan acak, yaitu bisa berisi asteroid dan planet yang bisa ditambang, sejenis stasiun atau pesawat antariksa untuk berdagang, atau bahkan musuh dan sejenis alien. 

Jika bertemu dengan lawan berbahaya, maka gim masuk ke mode tarung. Pemain bisa menjeda gim-nya terlebih dahulu, untuk menentukan strategi dan mengarah senjata pada bagian tertentu pesawat, sebelum melawan musuhnya. 

Nah, uniknya FTL ini, ternyata membuka banyak inspirasi bagi banyak developer gim. Entah berapa banyak gim sejenis yang ditelurkan oleh para pengembang, yang memang berlandaskan FTL. Kisah satu pesawat yang menjelajahi antariksa demi satu misi, lengkap dengan aksi ala Star Trek, memang cukup jarang diadaptasi pada sebuah gim. 

Bagi yang ingin mencoba gim berukuran 150 megabytes ini, perlu diperingati satu terlebih dahulu. Dibandingkan gim lain di artikel ini, gim ini agak lambat diawal. Sehingga, lebih cocok dengan istilah slow-burn, dimana awalnya lambat namun tetap greget berkepanjangan.

Ini baru sampai udah disambut badai salju... (via Acerax).

Banished

Berikutnya adalah gim yang mengingatkan ramainya animo city builder, alias colony simulator di era tahun 90an hingga 2000an, berjudul Banished. Gim dari tahun 2014 yang berukuran 100an MB ini memang sejenis strategi yang khas dengan sudut pandang isometriknya. 

Namun berbeda dengan kebanyakan RTS (Real Time Strategy), justru karakternya tidak dikendalikan langsung, sementara satu koloni dibantu oleh pemain untuk bertahan hidup. Ya, tidak ada gelut sama sekali dalam gim Banished ini.

Animo sejenis ini memang sempat ramai di tahun 90 hingga 2000an, hingga akhirnya jaman dimana banyak RTS tergerus oleh genre lain. Namun, Banished berhasil mempopulerkan genre ini lagi. Seperti sebelumnya, banyak pengembang gim lain yang mencoba ngoprek gim simulasi koloni ini.

Pertama, pemain hanya diminta memilih peta saja, yang dipilih secara acak detail dan isinya oleh gim. Lalu, disana pemain memiliki sekitar satu lusin warga desa, yang perlu bertahan di koloni baru (saat jaman pertengahan). Pemain mulai membangun rumah, lahan gandum, gudang makanan dan mineral, jalan raya, lokasi tambang, gudang peralatan, hingga pandai besi dan toko baju.

Urusan logistik serta komoditas yang ada, harus disesuaikan setiap sesinya, yang bisa mencapai berjam-jam. Itu pun tergantung lokasi, kondisi, serta kelihaian pemain, maka satu koloni bisa berhasil atau tidak (layaknya Roguelike). Makanya, banyak penggemar menyukainya dan pengembang gim lain pun menirunya.

Bahkan di ujung sesi yang berhasil, satu desa yang awalnya hanya memiliki sedikit rumah, gudang, dan satu lahan gandum saja, dapat terlihat seperti kota di akhir sesi tersebut. Terdapat sekolah, rumah sakit, pasar, toko pakaian, gedung ibadah dan teater, pemakaman umum, hingga rumah mewah bagi yang sanggup. Semua itu, tergantung pada kemampuan pemain untuk dapat mencapai koloni yang makmur nan sejahtera.

Namun banyak kendala pula yang menghadap pemain, seperti gagal panen, lokasi tambang batu dan besi yang habis, jalan yang terlalu jauh dan berbelit, hama dan wabah penyakit, hingga musim yang berubah. Tantangan ini muncul setiap sesinya, dan perlu dikelola langsung oleh pemain dengan rencana jangka panjang dan berfaedah.

Peternakan Ikan yang minimalis ala Valis (via Acerax).

Stardew Valley

Nah bagi yang paham dunia gim, pasti heran mengapa Stardew Valley masuk dalam daftar di artikel ini. Namun, gim bercocok tanam dan tambang ini ternyata punya satu khas yang menjadikannya Roguelike. Yaitu, saat pemain hanya bisa menyimpan gim satu hari sekali di rumah (pas tidur). 

Selain itu, ketika pemain kelelahan atau bahkan berada di dalamnya tambang, pemain bisa knock (pingsan) dan langsung kehilangan banyak barang yang dibawanya. Jadi, ternyata cukup 'berbahaya' juga gim ini.

Okeh, selain fitur tersebut yang agak Roguelike, ternyata sisanya cukup santai. Gim bercocok tanam ini, sebenarnya adalah genre yang mirip Harvest Moon, alias cozy nan santai berwibawa. Pemain bisa bercocok tanam sesuai musimnya, menanam bunga untuk mengundang lebah, memancing ikan di sungai, danau, dan laut, menambang sambil berburu slime, hingga membangun rumah dan keluarga. Ya, memang sejenis simulasi hidup (Life Sim) yang wajar.

Sama seperti gim sebelumnya, Stardew Valley adalah pencetus ramainya kembali gim bercocok tanam di PC. Saking ramainya, sang kreator Concerned Ape (Eric Barone) yang pas awal hanya bekerja sendiri, langsung instan menjadi miliuner. Memang banyak yang kangen dengan gim sejenis ini, sehingga early-access-nya langsung terjual 500 ribu copy pas awal peluncurannya (!)

Bahkan Stardew Valley sebenarnya tidak seribet itu. Dari pengalaman penulis yang membangun lokasi pertanian ikan (?), lebih banyak berisi kolam untuk memanen telurnya, alias caviar. Selain itu, penulis hanya menanam bunga demi membuat madu, serta manisan buah-buahan dari rumah kaca. 

Sisanya, hanya terdengar suara ayam, kambing, dan sapi. Ayam kadang diambil telurnya, sementara sapi diperah susunya, dan kambing digunting wolnya. Jadi, hanya terdapat tiga lokasi utama, yang menghabiskan sepertiga lahan saja.

Oh ya, gim ini memiliki open-world pula, alias bisa menjelajah kemana saja. Terdapat lokasi kota, pantai, hutan, dan stasiun kereta. Bahkan terdapat pula pulau lain yang bisa dikunjungi (dan sekalian gelut). Jadi, tidak terjebak di satu lokasi pertanian saja. Kadang di kota terjadwal pula banyak festival setiap musimnya, dan pemain bisa ikutserta selama satu hari penuh.

Tutorial BB yang sudah cukup sulit (via Acerax).

Battle Brothers

Akhirnya, tiba di gim yang cukup brutal pula, berjudul Battle Brothers dari tahun 2017 lalu. Gim open-world yang penuh dengan luka-liku para pasukan bayaran di dunia fantasi ini, berlandaskan gelut turn-based, alias setiap karakter harus menunggu gilirannya ala catur dan kartu. 

Selayaknya catur, setiap karakter yang diturunkan pemain saat gelut pun terbatas. Hanya maksimum 12 saja yang bisa diturunkan langsung, sementara sisanya adalah cadangan. Misi yang diterima di kota, lalu dilancarkan dengan sistem combat (gelut) semacam ini. 

Pemain harus memilih senjata dan baju zirah (armor) bagi setiap karakternya, dan disesuaikan dengan perannya saat gelut. Terdapat senjata seperti kapak, pedang, hingga gada yang lengkap dengan perisainya. Untuk urusan jarak jauh, busur panah serta senapan mesiu masih mengisi gim ini. 

Jika karakter naik level, maka skill (alias kemampuan)-nya bisa dinaikan, dan disesuaikan dengan perannya. Musuh pun memiliki kemampuan yang sama, itupun kalau bentuknya manusia. Ya, gim ini adalah sejenis low-fantasy, dimana banyak monster dan mahluk mitos lainnya, tetapi tidak mengumbar banyak kemampuan magisnya. Sehingga, gelut pun terbatas pada standar saja.

Namun, bahayanya sangatlah Roguelike, yaitu setiap karakter di Battle Brothers dapat meninggal begitu saja pas gelut. Bahkan jika selamat pun, terdapat cedera hingga cacat pada bagian tubuh tertentu, tanpa bisa disembuhkan sama sekali. 

Jika saat gelut seluruh tim kalah (wiped out), maka pemain perlu mengulang dari awal. Namun tidak perlu kecewa, karena setiap sesi gim ini paling lama (hingga late-game) hanya selusin jam saja. Ya, memang gim BB ini agak hardcore sih. Tinggal disetel saja tingkat kesulitan yang ingin dimainkan.

Oh ya, gim ini punya banyak cerpen (cerita pendek) pada setiap sesinya, yang muncul saat misi atau saat perjalanan antar wilayah. Cerita kadang berpengaruh langsung pada moral para karakter, jadi perlu dibaca dan dicek apa efeknya.

Musuh khusus monster memiliki nama yang unik, karena berasal dari kisah mitologi Jerman. Jadi, monster bernama Webknecht berarti laba-laba berukuran raksasa. Monster lain pun sama uniknya, yaitu sejenis Orc, Goblin, Undead (Mayat Hidup), Golem, Unhold (sejenis Troll), Alp (sejenis Jurig), Lindwurm (sejenis Naga). Untuk manusianya, banyak pula jenisnya seperti Barbarian, Brigands (sejenis Bandit), atau pasukan berbayar lainnya.

Setiap jenis musuh, memiliki taktiknya sendiri. Pokoknya, sesuaikan saja strategi untuk melawannya. Yang terpenting, di depan adalah Tank dengan perisainya, lalu dibelakangnya adalah karakter sangar bersenjata raksasa (two-handed), lalu jauh di belakang adalah pemanah (Archer) serta penembak jitu (Gunner). Terdapat senjata lain seperti Javelin (Tombak Lempar), Net (Jaring), dan Bom yang bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi tertentu.

Oh ya, karena tingkat kesulitan serta variasi permainan yang cukup unik, BB alias Battle Brothers menjadi satu gim terkenal yang banyak ditiru pula inspirasinya. Namun, semua berawal dari minimalisnya low-fantasy ala BB ini.

Urbexile yang sudah jelas salah langkah (via Acerax).
Slay The Spire

Dan terakhir, adalah gim yang menggunakan kartu, ala turn-based-nya. Ya, Slay The Spire dari tahun 2019 adalah Roguelike yang berisi kartu, namun dengan latar yang fantastis dan irasional. Untuk strukturnya, justru gim ini mirip dengan FTL. Setiap titik yang dipilih pemain, berisi monster, cerita, pedagang, atau harta. Namun yang berbeda, memang dimainkan dengan gelut ala kartu, dan semua yang ada di gim ini adalah random nan acak.

Awalnya karakter yang dapat dimainkan adalah The Warrior, yang berujung tiga pilihan karakter lainnya. Setiap karakter memiliki khasnya sendiri, dan perlu disesuaikan dengan acaknya kartu yang didapat atau dibeli pada setiap titiknya. Kartu bisa berarti menyerang, bertahan, mengeluarkan jurus, mengisi nyawa, atau kombinasi dari semuanya. Tentu taktik harus disesuaikan dengan keadaan, atau tipe musuh yang sedang dilawan.

Selain kartu, terdapat pula Potion atau Relic. Potion adalah obat sekali pakai, yang memiliki efek berbeda-beda. Sementara Relic memiliki efek permanen, yang didapat dari monster Elite, Boss, atau Peti Harta (Chest). Namun Relic bisa berarti baik atau buruk, dan bahkan merubah cara main. Jika tidak disesuaikan, maka Relic malah berujung petaka bagi karakter dan pemainnya.

Nah, berbeda dengan gim sebelumnya dan lebih mirip FTL, justru yang asyik dari gim ini adalah Kartu, Relic, atau sejenis barang lain yang dibuka (unlock) setelah setiap sesinya. Ya, terdapat banyak fitur gim yang terkunci saat awal memainkan gim Slay The Spire (yang memang khas dari setiap gim Roguelike). 

Nantinya, jumlah barang nan acak yang didapat pemain, akan semakin bervariatif setiap sesinya. Karena itu, istilah meme One More Run sangat cocok untuk gim kartu ini, dan secara luas untuk genre Roguelike.

Penutup dari Gamer

Jadi, sudah dipilih gim mana saja yang cocok untuk dimainkan? Oh ya, gim diatas memang kurang genre aksinya, karena memang berbeda lahan. Namun karena tujuannya santai, maka sengaja tidak dimasukkan. 

Adapun satu gim aksi yang khas dengan terlihat dari satu sisi (Side Scroller) saja, dengan bumbu platformer dan Roguelike-nya. Judulnya adalah Rogue Legacy dari tahun 2013 lalu, yang memang memulai kembali ramainya sub-genre Side-Scroller dan Platformer (!) Penulis kurang suka kontrolnya (tidak pakai kombinasi Mouse dan Keyboard), jadi tidak bisa merekomendasikannya.

Tapi ya... kalau mau rekomendasi sih, sebenarnya langsung saja mainkan Dead Cells dari tahun 2018 lalu (yang bisa pakai MKB). Mungkin untuk VGA Laptop sejenis Vega 8 atau Intel Iris, bisa saja dimainkan (?) Yah... memang penulis bukan seorang digital benchmark-er sih...

Okeh,... Back to Gaming...

30 Maret 2026

Memahami Teater sebagai Ekspresi Sosial Hingga Kajian Perfilman

 

Ilustrasi seni panggung Teater dan Film (Freepik).

Mengacu pada Hari Teater Boneka (21 Maret), lalu Hari Teater Sedunia (27 Maret), hingga hari Film Nasional di tanggal 30 Maret, maka artikel ini akan membahas setiap tanggal pentingnya. Artikel dilansir dari Britannica sebagai sumber utama ensiklopedia, dengan sedikit tambahan dari penulis.

Khusus untuk Hari Teater Boneka, penulis perlu mengacu pada artikel Wayang dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Karena perkembangan Wayang sebagai teater boneka sejak abad 15 lalu, setelah sebelumnya diadaptasi dengan cerita dari India, maka perkembangannya tentu akan berbeda dengan referensi internasional.

Sementara untuk teater, penulis tidak menulis mengenai versi tradisional dari Nusantara. Tentu, karena penulis mengarahkan artikel menuju konsep blog yang lebih sesuai, yaitu perkembangannya menuju ke arah perfilman. 

Film memang menjadi bahasan utama dalam blog ini, dan sama seperti konsep dasar teater, menyajikan karakter dengan berbagai akting ala aktor-aktrisnya, yang sesuai dengan penggambaran cerita apapun, khususnya keadaan sosial saat ini (selain fantasi). Maka, banyak teater atau film diartikan dengan istilah 'produk dari masanya,' alias langsung mengacu ke jaman dirilisnya karya seni tersebut.

Teater sebagai Ekspresi Sosial

Di banyak konteks, variasi aspek kemanusiaan dianggap penting dan difokuskan sebagai representasi teater di negara Barat. Banyak drama jaman Renaisans, fokus pada khas tiap karakternya. Sementara di abad 17, masih terbatas filosofi dan latarnya, yang karakternya yang tidak disajikan ala mahluk dengan status unik. Melainkan, seseorang yang beradaptasi dan bermotivasi pada lingkungan masyarakatnya. Di akhir abad 17, seni teater memfokuskan pada tema yang mengerucut, dan sesuai dengan target masyarakatnya.

Pada awal abad 19, teater Eropa telah menjadi bagian dari hiburan warga kelas menengah, sama seperti tujuan sebelumnya pada kelas aristokrat. Walau begitu, seorang aktor tidak hanya berbekat, namun dapat berbicara baik dan berpakaian bagus. Banyak seni panggung yang sukses di Eropa, berisi karakter yang berposisi sosial baik, dengan mengacu pada kode sikap.

Namun pada pertengahan abad yang sama, drama literasi oleh Henrik Ibsen muncul untuk menantang kode normatif tersebut. Setelah Revolusi Rusia pada tahun 1917 lalu, teater di Soviet telah keluar dari jalur normatifnya. Sementara di Eropa, kode bersikap masih dilanjutkan hingga tahun 1930an, dengan target teater bergengsi. Namun di Kota New York, AS, masa Depresi Besar pada tahun 1930an menyebabkan perubahan besar pada kode normatifnya. 

Di Eropa setelah Perang Dunia II, teater mulai beralih dengan merefleksikan minat yang lebih luas di masyarakat. Namun di masa tersebut, banyak warga kehilangan minat mengunjungi teater, dan memilih untuk menonton film di sinema atau melalui televisi, sebagai sumber utama hiburannya. Teater lalu mulai diarahkan tidak hanya pada satu golongan masyarakat saja, tetapi kepada siapa pun yang cukup berminat pada sikap seni dan kreatif.

Pada akhir abad 20 dengan banyaknya inovasi teknologi digital, diantaranya adalah pengunaan video rekaman berkualitas tinggi dan suara di teater, telah membuka debat mengenai kehidupan teater itu sendiri. Atau, bagaimana dasar teater telah berubah secara fundamental akibat implementasi teknologi tersebut.

Kajian Studi Perfilman

Selama dua dekade perfilman, banyak diskusi dalam media yang dikembangkan, pada berbagai tingkatan apresiasi dan analisis. Diantaranya, adalah kajian koran, analisis profesional, buku teknik produksi, majalaj fans, dan kolom gosip.

Pada jaman Perang Dunia I, terdapat monograf keilmuan dengan mata kuliah perfilman di universitas. Pada tahun 1930an, arsip diciptakan dengan model yang terhubung di museum seni, demi mengoleksi film dan berbagai teknik produksi sebagai bagian dari apresiasi publik. 

Kajian film di universitas dan kampus semakin meluas pada awal tahun 1970an, yang dianggap sebagai bagian dari kesuksesan artistik. Film akhirnya layak untuk dikaji sebagai pengaruh budaya, politik, dan sikap sosial. Kajian ini ditujukan kepada publik yang membutuhkan kritik serta analisis khusus perfilman.

Pengajaran dan keilmuan yang dibantu dengan banyaknya arsip perfilman lama, televisi, media DVD, serta video, seluruhnya menjelajahi masalah isu sosial, mulai dari ras, kelas sosial, dan gender (SARA) yang direpresentasikan melalui film. 

Genre film, sutradara, aktor-aktris, praktek industri, serta sinema nasional telah menjadi subyek kajian mata kuliah dan penelitian. Universitas merilis puluhan buku setiap tahunnya, yang berisi sejarah, teori, dan estetika film. Kegiatan ini sekaligus mendukung dan mendistribusikan jurnal akademik perfilman.

Dengan banyaknya jenis media baru, yang kadang menyaingi perfilman itu sendiri dari segi kepopulerannya, justru menambah berbagai komentar (dan kritik) pada banyak aspek dari film tersebut.

Media dan Internet sebagai Bagian dari Apresiasi Film

Sejak awal abad 21, internet telah menyediakan ribuan situs untuk informasi dan pendapat mengenai film, aktor-aktris, sutradara, dan sejarah. Media penyiaran secara regular mengabarkan berita mengenai aktor dan produksi film terbaru. Beberapa majalah fokus untuk membahas media hiburan, yang diantaranya berisi publik figur perfilman, film terbaru, dan perkembangan industrinya.

Minat untuk perfilman besar seperti Hollywood telah memicu reportase mengenai film yang akan dirilis setiap minggunya, dimana filmnya dibandingkan langsung layaknya sebuah kompetisi olahraga. Beberapa bahasan ini bahkan bisa disebut sebagai usaha promosi dari media itu sendiri, yang bekerja bersama studio film dengan koran, stasiun televisi, dan situs internet.

Bagi penulis sendiri, yang banyak mengambil referensi serta informasi dari internet, selain observasi sendiri, wacana ini tentunya cocok. Blog Sedia Saja bisa diartikan sebagai promosi film, namun dengan latar penulis sebagai pengkaji cerita, tentu diisi pula pendapat yang langsung mengacu pada isu sosialnya di masyarakat.

Jadi dari artikel ini sudah jelas, bagaimana perkembangan teater dan isu sosial sejak abad 17 lalu, lalu dilanjutkan dengan perkembangan film di awal abad 20 serta apresiasi medianya, menjadi konsep khusus yang mendasar bagi Blog Sedia Saja sebagai situs internet saat abad 21 ini.

Mengajari Anak Mengenai Kearifan Budaya Lokal Melalui Dongeng Nusantara

 

Ilustrasi buku folklor (Freepik).

Menyambut Hari Dongeng Sedunia (20 Maret), lalu dilanjutkan dengan Hari Puisi Sedunia (21 Maret), yang diakhiri dengan Hari Buku Anak Sedunia pada tanggal 4 April mendatang, tampaknya cocok untuk membahas mengenai Buku Dongeng, khususnya sebagai bagian dari tumbuh kembang anak di Nusantara.

Dalam artikel ini, penulis mengkaji studi dari banyak ahli pendidikan nasional, mengenai hubungan antara dongeng dengan tumbuh kembang anak. Dongeng Nusantara memang menjadi satu bahan ajar bagi anak PAUD, TK, hingga Sekolah Dasar. Tentu tujuannya untuk mengajarkan budaya lokal Indonesia, dengan segala kearifan lokalnya.

Untuk referensi mengenai fungsi dongeng di abad 20 hingga 21 sekarang, dapat dicek saja melalui terjemahan dan referensi ensiklopedianya, dalam artikel berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Artikel ini ditulis saat bulan November tahun lalu, demi menyambut hari Dongeng Nusantara pada tanggal 28 November setiap tahunnya.

Karena itu, dalam artikel menyambut Hari Dongeng Sedunia, dikombinasikan dengan dua tanggal penting lainnya. Bagaimana pun juga, korelasi serta kolaborasi studi adalah kombinasi yang menciptakan perkembangan budaya, teknologi, dan peradaban manusia hingga kini.

Khusus untuk blog ini, justru penulis dapat menjabarkan pula, bahwa setiap film dan cerita pada umumnya, memiliki nilai moralnya tersendiri. Walau blog ini lebih mengacu pada simbol dan referensi pada setiap artikelnya, namun tentu berlatar pada nilai dan moral yang dipercaya oleh jutaan warga di Nusantara.

Hari Dongeng Sedunia

Hari Dongeng dirayakan di seluruh dunia sejak tahun 1997 lalu, saat ditetapkan oleh banyak negara, contohnya adalah AS dan Australia. Sebelumnya, 20 Maret ditetapkan sebagai hari Mendongeng Nasional di Swedia, sejak tahun 1991. 

Dilansir dari Universitas Muhammadiyah Malang, Hari Dongeng Sedunia dirayakan sebagai wahana imajinasi anak. Pendongeng menutur cerita dengan gestur tubuh, sehingga anak dapat berimajinasi dalam alur cerita dongeng. Dengan berimajinasi bebas, maka kreatifitas anak akan bertambah. Tidak hanya imajinasi, namun rasa empati dan simpati akan muncul dalam diri mereka. Karena, dongeng Nusantara mengandung banyak nilai moral dan pendidikan.

Guru bahkan perlu diberi pendidikan khusus dalam mendongeng. Dengan semacam softskill ala mendongeng, guru akan lebih mudah dalam menanamkan nilai moral serta menumbuhkan sisi kreatifitas bagi anak.

Hari Puisi Sedunia

Menurut Perpustakaan Universitas  Brawijaya, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan pentingnya Puisi saat Konferensi Umum ke-30, pada tahun 1999 lalu. Konferensi yang dilaksanakan di Paris, Perancis ini mencanangkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Puisi Sedunia, yang mendukung keragaman bahasa melalui ekspresi puitis, dan kesempatan untuk mengajarkan bahasa yang terancam punah.

Menurut UNESCO, puisi bermemiliki peran strategis dalam seni dan budaya, dan termasuk diantaranya adalah sejarah. Puisi adalah katalis kuat untuk berdialog dan menjaga perdamaian. Kolaborasi puisi dengan karya seni seperti musik, tari, drama, atau lukisan tidak hanya dapat terus dinikmati dan tidak hilang oleh waktu, namun sebagai bagian dari upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dari segi ini, penulis berpendapat bahwa bentuk ekspresif puitis telah terkombinasi dengan menyeluruh pada banyak media, khususnya pada lagu (musik) dan film yang tersaji saat ini. Penulis sendiri sering memasukkan banyak istilah frasa, dalam banyak kajian film di artikel blog ini. Istilah frasa tersebut kadang memiliki rima ala puisi, dengan maksud tidak langsung dan suatu pedoman norma tertentu.

Hari Buku Anak Sedunia

Menurut Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara, perayaan Hari Buku Anak Sedunia setiap tanggal 2 April mengacu pada hari lahir penulis dongeng bernama Hans Christian Andersen. Perayaan ini untuk menumbuhkan budaya membaca, meningkatkan kesadaran literasi, serta menghomati karya sastra yang berkontribusi besar dalam dunia pendidikan, khususnya pada anak.

Wacana ini sesuai dengan manfaat dongeng untuk anak, yang dilansir dari Generasi Maju. Keterampilan kognitif anak dalam memproses ingatan, bahasa, pemikiran, dan penalaran dapat terlatih dengan cara mendengarkan dan memahami dongeng.

Aspek perkembangan yang didukung oleh pembacaan dongeng diantaranya adalah merangsang kecerdasan anak dengan aktivasi otak yang berkelanjutan, dan mendukung perkembangan psikologi dengan mempengaruhi perasaan mendalam anak saat menghadapi situasi problematis.

Membaca dongeng dapat dilaksanakan sebagai media belajar bahasa dengan banyak kosakata,  padanan kalimat, serta konteksnya. Selain itu, dongeng dapat membangun minat literasi sejak dini, yang menjadi satu kunci pembelajaran di masa depan.

Membaca dongeng dapat mengasah keterampilan berpikir anak, agar mereka berpikir kritis sejak dini. Mendengarkan dongeng dapat mendorong anak dalam memecahkan masalah, memahami keberagaman serta kerja sama. Anak dapat merespon dengan menunjukkan tanggapannya sendiri atas cerita dongeng yang orangtua sampaikan.

Karena membaca dongeng dilaksanakan dua arah, maka aktifitas komunikasi ini dapat mempererat hubungan orangtua dan anak, yang membangun ikatan kuat antar keduanya. Dengan interaksi positif, maka anak akan merasa aman, dicintai, diperhatikan, dan disayangi. Aktifitas ini membantu anak berkembang secara sosial maupun emosional dalam memahami dunia.

Keunikan Mengenal Dunia Melalui Dongeng

Terdapat pula keunikan lain melalui pembacaan dongeng antara anak dan orangtua, yaitu mengenalkan berbagai jenis suara dan bentuk ilustrasi di sekitar lingkungannya, seperti dilansir dari Kemendikdasmen

Suara ketukan pintu, degup jantung, dan bel sepeda disajikan secara imajinatif, untuk mengasah indra dan rasa ingin tahu anak. Setiap suara memiliki simbol dan tanda sebagai alat komunikasi dengan orang lain atau mahluk hidup di sekitar lingkungannya. Terlebih lagi, anak usia dini membutuhkan pengenalan suara melalui dongeng.

Menunjukkan ilustrasi yang sesuai dengan benda, alam, atau manusia yang diceritakan, dapat mengisi pola imajinasi anak. Isi cerita beserta ilustrasinya yang sederhana, singkat, dan jelas informasinya dalam dongeng, dapat lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Tentunya, nilai moral yang berisi kejujuran, doa, dan kemandirian sangat diperlukan oleh anak. Khususnya, cerita yang berasal dari buku, cerita pengalaman, kisah nabi, dan cerita rakyat yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan tumbuh kembang anak usia dini.

Gim Pertama Milyaran Umat Manusia dalam Film The Super Mario Galaxy Movie

 

Saatnya berlayar ke dunia lain (TMDB).

Setelah berlibur Lebaran selama beberapa minggu (atau hari) lamanya, saatnya kembali menonton sinema bersama keluarga. Kali ini, film yang dirilis awal April adalah gim yang legendaris, yaitu Mario Bros. Setelah film pertamanya dirilis pada tahun 2023 lalu, kini menyusul sekuelnya berjudul The Super Mario Galaxy Movie, yang tayang dengan rating Semua Umur (SU).

Gim klasik Super Mario Bros.

Gim Pertama Milyaran Umat Manusia

Bagi para penggemar gim lawas, atau sempat memiliki konsol dan PC lama, tentu mengenal gim bernama Super Mario Bros. Gim yang memiliki grafik sederhana ini, memang menjadi pengenal banyak anak dengan dunia gim, khususnya dari konsol. Pengembang sekaligus manufaktur gim konsol bernama Nintendo mengenalkan karakter Mario Bros di tahun 1985 lalu, yang hingga kini menjadi khas dari konsol Jepang ini.

Nintendo sebenarnya mengenalkan Mario Bros di konsol arkade pada tahun 1983, atau sempat dikenal sebagai Ding-dong di Indonesia. Konsol adalah sejenis mesin gim raksasa, yang hanya bisa dimainkan di pusat permainan saat jaman tersebut. Konsol permainan menggunakan koin ini, memang cukup murah untuk dinikmati oleh anak hingga remaja, sehingga banyak lokasi permainan menjadi sangat ramai.

Kembali ke Super Mario Bros, yang dikenalkan sebagai gim lucu dan santai di konsol Nintendo, memang menarik banyak perhatian. Walau grafik dan mainnya terlihat santai, namun sama seperti gim jaman tersebut, tetap perlu memahami kontrolnya yang agak sulit. Latar karakter Mario sebagai tukang ledeng pun menyajikan kisah yang lebih santai, daripada karakter gim di jaman yang sama.

Berbeda dengan gim arkade terdahulu yang karakter serta dunianya terlihat sangar, bersenjata cukup brutal, dan tombol yang banyak, justru gim Mario Bros jauh lebih sederhana. Yang dibutuhkan hanyalah presisi saat berjalan kanan-kiri (ala side-scroller), loncat, dan menimpuk monster satu persatu. Cukup terlihat sederhana, selayaknya tiap area di gim Mario Bros adalah sebuah puzzle saja.

Perkembangan dunia gim pun semakin menggila di tahun 90an, dimana karakter Mario Bros adalah khas dan ikonik dari Nintendo. Banyak jenis permainan lain dimana Mario ikutserta sebagai karakternya. Diantaranya adalah gim balapan Mario Kart, gelut ala Super Smash Bros, hingga dansa di Dance Dance Revolution. Mario memang menjadi karakter flagship bagi Nintendo, yang setia untuk mengisi gimnya dengan kehadiran karakter ini.

Film The Super Mario Bros. Movie (TMDB).

Film The Super Mario Bros. Movie

Sebenarnya film di tahun 2023 lalu, bukanlah kali pertama saat karakter Mario diadaptasi pada sebuah film. Tahun 1986 lalu, Super Mario Bros.: The Great Mission to Rescue Princess Peach dirilis, dengan format kartun 2D. Karena cerita serta gambar karakternya tidak berbeda jauh, film ini cukup dikenal walau hanya dirilis terbatas.

Lalu ada film Mario Bros yang sangat nyeleneh dan kontroversial, yaitu pada tahun 1993. Film ini berformat live-action, alias diperankan oleh aktor-aktris nyata. Namun karena jalan ceritanya yang sama sekali tidak nyambung dengan gim-nya, maka tidak sukses di pasaran sinema, dan bahkan dibenci para penggemarnya.

Nah, justru di tahun 2023 lalu, The Super Mario Bros. Movie dirilis dengan banyak bintang Hollywood yang mengisinya. Chris Pratt, Anya Taylor-Joy, Charlie Day, Jack Black, Michael-Key, dan Seth Rogen adalah sederet pengisi suara terkenal di film ini. Banyak kritikus film yang menyukainya, dengan nominasi penghargaan selama tahun 2024 lalu. 

Jumlah pemasukannya pun cukup fantastis, yaitu mencapai 1,3 Milyar Dolar AS sejak tahun 2023 lalu. Selain animasi yang ciamik dari Illumination Entertainment dan Nintendo, film ini memang didistribusikan ke seluruh dunia oleh Universal Pictures. 

Ceritanya memang berkutat dengan dunia Super Mario Bros. yang telah dibangun selama ini, yaitu berfokus pada karakter Mario, Luigi, Putri Peach, Bowser, dan dunia Kerajaan Jamurnya. Beberapa karakter Nintendo lain, contohnya adalah Donkey Kong, sempat meramaikan film ini pula. 

Untuk plot utamanya, adalah saat Bowser (Jack Black) yang memiliki rencana jahat terbaru. Yaitu, dengan menculik Luigi (Charlie Day) untuk memancing Mario (Chris Pratt) dan Putri Peach (Anya Taylor-Joy) keluar dari kerajaan dan mengejarnya langsung.

Bagi yang masih penasaran karena belum menonton film pertamanya, dan sebelum sekuelnya tiba di bulan April mendatang, dapat mengecek berbagai layanan siaran internet.

Sinopsis Film The Super Mario Galaxy Movie

Di film keduanya ini, tiba pula satu aktris terkenal lain yang mengisinya, yaitu Brie Larson yang mengisi suara karakter Putri Rosalina.

Mario dan Luigi kini telah santai di Kerajaan Jamur, setelah sempat mengalahkan dan menghalau seluruh rencana jahat Bowser. Kini, kura-kura raksasa yang jahat ini dipenjara di sebuah kastil kecil, dengan ukuran tubuhnya yang diciutkan sebesar kepalan tangan saja. Penjara ini memang didesain khusus bagi Bowser, yang sangat berbahaya jika ukurannya besar.

Namun, adapula kehadiran sosok jahat lain yang mengancam Kerajaan Jamur beserta Putri Peach. Sosok tersebut bernama Bowser Jr. (Benny Safdie), yang merupakan anak dari Bowser. Dirinya yang berasal dari galaksi lain, ingin membebaskan ayahnya dari kekangan Kerajaan Jamur.

Tidak hanya kehadiran Bowser Jr., muncul pula sesosok putri lainnya bernama Rosalina (Brie Larson). Dengan tongkat magis saktinya, tampaknya Rosalina akan menjadi bagian dari plot utama dalam membebaskan ancaman di Kerajaan Jamur.

Bagi yang penasaran dengan akhir kisah Kerajaan Jamur bersama para Tukang Ledengnya, dapat menontonnya di banyak adaptasi gim ala sinema Indonesia.

09 Maret 2026

Animasi Binatang Buas nan Lucu di Film Hoppers

 

Mabel yang merasa berang (IMDB).

Berikutnya adalah kombinasi tiga film untuk anak dan remaja dari luar negeri sana, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang. Judul pertama adalah Hoppers, yaitu animasi untuk anak-anak karena memiliki rating Semua Umur (SU). 

Hoppers yang diproduksi oleh Disney dan Pixar ini tampaknya aman untuk ditonton dan dikonsumsi, tanpa ada istilah aneh ala Jomok dan Boti, yang kini sedang ramai sebagai meme di Inet.

Penelitian Hewan Antromorfik

Daripada membahas yang tidak-tidak, maka cek bagaimana film ini menyajikan satu topik penting dalam masalah lingkungan alam. Tentu, anak hingga dewasa perlu mengerti tentang pentingnya alam liar, serta siklus ekosistemnya. Seperti disajikan dalam artikel sebelumnya di SpongeBob, anak bisa dikenalkan dan diberi imajinasi berlebih, tanpa perlu menggurui. Media film seperti ini cocok agar anak lebih mudah terpapar wacana melindungi alam.

Film ini (tampaknya) mengacu pada penelitian yang dilaksanakan oleh banyak ilmuwan saat ini. Terlihat di cuplikannya, seorang remaja berhasil memasukkkan isi kesadarannya, pada seekor robot berang-berang. Sebenarnya penelitian seperti ini sudah sering dilaksanakan, tentunya tanpa metode fantastis semacam ini.

Banyak ilmuwan saat ini menggunakan robot atau boneka, yang disimpan di sekitar sarang hewan liar. Contoh paling kentaranya adalah robot primata (gorila dan simpanse) atau monyet, yang didekatkan dengan bayi atau anak hewan targetnya. Dalam boneka tersembunyi pula kamera perekam, yang terhubung jarak jauh dengan peneliti. Tujuannya adalah mengecek interaksi sosial antara kawanan hewan, dengan benda yang memiliki bentuk dan bergerak mirip mereka.

Kawanan hewan cukup tertarik, dan berinteraksi dengan boneka tersebut. Apalagi dari sudut pandang anak-anak, maka hewan mengganggap boneka sebagai bagian dari kawanan. Boneka memang hanya sedikit bergerak, tanpa banyak memberi respon kepada kawanan hewan. Namun, para hewan masih santai dalam menanggapinya.

Sesuai dengan tujuan penelitian, boneka hewan antromorfik ini memang didesain untuk memicu emosi hewan yang ditargetnya. Karena itu, penerimaan hewan pada boneka, bisa dianggap sebagai pemicu emosional. Hewan akan penasaran, menerima, dan berlaku baik pada anggota yang belum mereka kenal, asal masih berusia anak-anak.

Bahkan pada akhir penelitian, saat boneka telah kehabisan baterai dan berhenti bergerak, muncul sisi emosional lain dari para hewan. Banyak hewan anak-anak hingga dewasa, mengerumuni boneka tersebut. Mereka menganggap boneka telah meninggal, dan ikut berkabung. Walau mereka masih heran siapa boneka tersebut, namun sisi emosional terlihat kentara dalam rekaman penelitian. 

Hewan dengan tingkat sosial yang kompleks, memiliki sisi emosional yang tinggi pula. Penelitian dianggap berhasil, dengan mengacu pada sisi hewaniah, yang ternyata sangat mendalam dari segi kekerabatan dan emosi kawanannya.

Bagi yang perlu referensi semacam ini, dapat ditonton di berbagai kanal YouTube mengenai kisah hewan dan robotnya. Konten yang pernah penulis tonton di berbagai kanal sains, diantaranya adalah gorilla, simpanse, dan monyet.

Nah, bagaimana film Hoppers ini menggambarkan penelitian tersebut? Tentu lebih fantastis dengan gambar animasi yang lebih ciamik, ala karya Disney dan Pixar.

Sinopsis Film Hoppers

Mabel (Piper Curda) adalah seorang remaja yang sangat menyukai hewan. Saking menyukainya, dia selalu membawa boneka robot berang-berang miliknya, dimana pun berada. 

Suatu hari, profesor Dr. Sam (Kathy Najimi) sebagai dosennya, meminta Mabel untuk mengikuti sebuah eksperimen. Dr. Sam mencoba memasukkan kesadaran manusia ke dalam robot. Tujuannya adalah meneliti langsung kawanan hewan di alam liar, tanpa perlu bersusah payah menyelinap dan memakai kostum binatang.

Penelitian pun berhasil, sehingga Mabel bisa pergi ke alam liar, dan langsung diterima sebagai bagian dari mereka. Tidak hanya berbentuk berang-berang, Mabel ternyata sanggup memahami bahasa para binatang.

Hingga suatu masalah terjadi, akibat pengembangan lahan di sekitar lingkungan alamnya. Mabel dan banyak kawanan binatang, tidak rela rumah mereka tergusur oleh manusia. Mabel berinisiatif untuk melawan balik, yang diterima tidak baik oleh para sesepuh binatang. Mereka akan membasmi para manusia, dengan berbagai cara. Mabel pun panik, dan mencari jalur damai bagi kedua pihak.

Sanggupkah Mabel menyelamatkan manusia dan binatang sekaligus? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.

05 Maret 2026

Anehnya Imajinasi Ala SpongeBob SquarePants

 

Imajinasi ala SpongeBob (Reddit).

Monsterisasi kali ini, lebih mengacu pada blog ini, yaitu rasanya berimajinasi ala SpongeBob SquarePants. Bagi penggemarnya, perlu mengingat episode 'Idiot Box' alias 'Kotak Idiot.' Walau begitu, terdapat pula satu episode lain yang akan dibahas, yaitu berjudul 'Band Geeks' alias 'Band Kutu Buku.' 

Nantinya dibahas bahwa keduanya cukup nyambung, ala konsep Blog dan sedikit penggambaran dunia konten saat ini. Oh ya, artikel ini memang ditulis karena sempat dijanjikan saat merekomendasi film SpongeBob terbaru, Januari lalu. Yah, daripada acak dan mengacu ke sains, lebih baik dari segi yang mudah dikenal oleh penonton saja.

Imajinasi Liar Ala SpongeBob

Bagi yang perlu mengingatnya, akan diutarakan sedikit cerita dalam episode 'Kotak Idiot' ini. Squidward Tentacles (Roger Bumpass) sedang kesal akibat SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) dan Patrick Star (Bill Fagerbakke) tengah ramai bermain di sekitar rumahnya. Namun, yang terdengar cukup aneh, bahkan epik, sesuai dengan apa yang sedang dimainkan keduanya didalam sebuah kotak kardus biasa.

Saking herannya, Squidward beberapa kali menciduk apa yang dimainkan oleh kedua tetangganya itu, namun hasilnya nihil. Lalu, SpongeBob menjelaskan bagaimana cara kerjanya. Yaitu sederhana saja, yaitu dengan 'imajinasi' saja. 

Seperti biasa dalam episode SpongeBob SquarePants, akhir cerita selalu bodor, apalagi jika terdapat karakter Squidward didalamnya. Namun, bukan kekonyolan itu yang dimaksud penulis. 

Sementara Squidward yang berhasil masuk kedalam kotak, lalu mulai ikut bermain imajinasi, gagal saat ikut memainkannya. Namun Squidward tetap heran, karena kisah 'bajak laut' didalam kotak, malah semakin terdengar epik, hingga malam hari.

Maksudnya adalah penjelasan proses imajinasi diutarakan oleh para pemain dan yang menontonnya. Layaknya permainan anak, yaitu kucing-kucingan, anak bisa berimajinasi ala kucing saling mengejar, atau anjing vs kucing, atau dinosaurus vs para penyintas. Walau mekanik permainannya tetap sama, tetapi imajinasi dapat menambah hebohnya mainan tersebut.

Perlu diingat pula, bagaimana proses imajinasi bisa dilaksanakan sebagai bahan pembelajaran. Penulis yang memang berlatar linguistik dan sastra, sempat belajar mengenai proses imajinasi menggunakan format Essay. 

Guru menulis kalimat awal di papan tulis saat di kelas, lalu meminta siswa untuk melanjutkan kalimatnya sendiri. Lalu siswa berikutnya, akan menulis kelanjutan cerita, sesuai dengan minat mereka. Hingga akhirnya terbentuk sebuah paragraf, maka proses imajinasi setiap siswa dapat menambah keanehan, kehebohan, atau perbedaan sudut pandang setiap siswa. Layaknya, permainan seperti ini dalam proses pembelajaran, adalah proses untuk menumbuhkan imajinasi para siswa, daripada hanya berkutat pada EYD dan Tata Bahasa.

Justru disitulah anehnya episode ini. Squidward adalah seorang musisi yang cukup dikenal. Walau sering disepelekan akibat permainan klarinetnya yang sumbang, namun tetap dikenal sebagai seniman serba bisa. Nah, bagaimana jika Squidward mulai menggunakan instrumen yang sesuai dengan keahliannya?

Kemenangan yang Indah ala Squidward

Dalam sub-artikel ini, akan mengacu pada episode lainnya berjudul 'Band Geeks.' Justru dalam episode kali ini, Squidward memang pantas menang. Berbeda dengan banyak kesialan ala dirinya, Squidward memang perlu menang dalam episode ini.

Bagi yang agak lupa, tentu perlu mengingat episode saat Squidward ditantang oleh Squilliam Fancyson (Dee Bradley Baker), untuk mengisi band saat Super Bowl berlangsung di permukaan (alias darat). Squidward yang emosional, tentu langsung menyetujui tantangan tersebut.

Squidward lalu melatih banyak warga Bikini Bottom, agar segera siap dalam konser tersebut. Namun seperti biasa, malah kekacauan yang terjadi. Squidward pun menyerah, dan membiarkan mukanya semakin malu saja. SpongeBob akhirnya berinisiatif, agar menyatukan seluruh anggota band, dan membantu Squidward hingga berhasil.

Nah, contohnya memang agak berbeda. Layaknya permainan essay sebelumnya, perbedaan imajinasi dan kemampuan para siswa, tentu akan merubah arah cerita essay tersebut. Layaknya permainan imajinasi, tetap menyatu sama lainnya, alias menjadi karakter tersendiri. Apalagi dibawakan ringan, dengan maksud belajar sesuatu dibaliknya. Yaitu, kerjasama dan ekspresi pribadi, melalui media imajinasi dan format essay di papan tulis.

Mirip dengan keadaan Squidward dan warga Bikini Bottom, satu grup ini perlu saling memahami, untuk mencapai tujuan konser. Setiap anggota memainkan instrumen berbeda, sementara Squidward berperan sebagai pelatih serta dirijen di depannya. Satu kesatuan dengan perbedaan inilah, yang berhasil menciptakan satu alunan lagu, yang tentu enak didengar atau aneh sekaligus.

Di akhir episode memang terdengar alunan lagu 'Sweet Victory' hasil karya David Gen Eisley dan Bob Kulick. Terdengar indah, yaitu sebuah momen Squidward yang bisa sumringah, dan menang besar. Ya, Squidward adalah seniman berbakat dalam segi instrumen musik, yang dibantu oleh warga Bikini Bottom.

Squidward yang sumringah (Reddit).

Sedikit Kisah Bonus dari Sandy Squirrel

Ada sedikit referensi menarik di akhir artikel ini, yaitu mengenai Sandy Squirrel. Karena penulis agak iseng, dan kurang bisa diangkat dalam satu artikel, maka dijabarkan disini saja.

Sandy Squirrel (Carolyn Lawrence) adalah seorang tupai dari darat sana, yang entah kenapa tinggal dibawah laut. Sandy berteman dekat dengan SpongeBob dan Patrick, walau keduanya kurang dapat menanggapinya. Sandy memang bekerja sebagai seorang ilmuwan, yang tentu aneh di Bikini Bottom.

Sandy yang tidak memiliki insang layaknya ikan, sehingga perlu mengenakan baju selam untuk bernapas dalam air. Tidak hanya itu, Sandy tinggal dalam kubah berisi udara, lengkap dengan oksigen sesuai kebutuhannya.

Nah, Sandy memang cukup isekai, namun ternyata penggambarannya cukup sesuai. Bagi yang belum tahu, NASA sebagai organisasi antariksa dunia, sering melaksanakan eksperimen dibawah laut. Eksperimen ini dilaksanakan sebagai simulasi antariksa. Baju selam Sandy pun terlihat seperti seorang kosmonot (atau astronot), daripada standar saat ini. Pekerjaan dirinya sebagai ilmuwan, semakin menguatkan penggambaran dirinya sebagai simbol dari NASA.

Sandy seperti ini, tentu sesuai dengan cara mendiang Stephen Hillenburg, seorang ahli biologi lautan, yang menggambarkan setiap karakter di Bikini Bottom, dengan referensi sainsnya. Ya, seorang ilmuwan dengan banyak bakat ilmunya, dapat menciptakan banyak cerita humor nan bodor, walau tetap mendidik tanpa perlu langsung menggurui.

Okeh, Ciao.

Sandy Squirrel yang berbeda (Reddit).

18 Februari 2026

Memahami Mitologi China dari Episode How to Become Three Dragons

 

Tiga siluman ular yang berniat besar (Newhanfu).

Menyambut Tahun Baru China alias Imlek tahun 2577 dengan kalender bulannya, penulis justru mengecek mitologi sebelum jaman ini berlangsung. Tentu blog ini lebih membahas referensi budaya populer, khususnya film dan banyak media lainnya. Jika penulis membahas terlalu banyak khas budaya serta demografi aslinya, malah berubah menjadi blog Antropologi dan Teologi.

Nah karena itu, artikel ini akan membahas satu episode dari Zhong Guo qi tan (Yao Chinese Folktales), berjudul How to Become Three Dragons. Kisah yang lebih mirip folklor ini disajikan ala animasi modern sejak awal tahun 2026. Kisahnya sangat mengacu pada mitologi China dengan perbedaan antara siluman hingga dewa, dan hubungannya ke manusia.

Khong Hu Cu di Indonesia

Mengingat Imlek biasa dirayakan oleh umat Khong Hu Cu di Indonesia, yaitu kentara berasal dari etnis Tionghoa, maka perlu dibahas disini. Dilansir dari UGM, Khong Hu Cu adalah pengucapan Hokkien dari filsuf China bernama Kong Fuzi, atau terkenal dengan nama latinnya sebagai Confucius. Semenjak reformasi di akhir abad lalu, Khong Hu cu secara resmi diterima sebagai satu dari enam agama yang di Indonesia.

Khong Hu Cu di Indonesia pun berbeda dengan China sebagai negara asalnya. Di kuil China, atau biasa disebut sebagai Kelenteng, banyak umat berdoa tanpa perlu menunggu waktu khusus. Figur yang disembah adalah kombinasi dari tiga sistem kepercayaan besar dari China, yaitu Confucius, Dao, dan Buddha. Tiga komunitas berbeda di Indonesia menyatukan organisasinya dibawah Asosiasi Tri-Dharma.

Berbeda pula pandangan mengenai Tuhan Yang Maha Esa dari Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sekaligus negara aslinya di China, oleh warga penganut Khong Hu Cu. Yaitu konsep Tian yang artinya dalam bahasa China, berarti istilah surgawi. Bagi warga yang berasal dari agama monoteistik, maka Tian bisa diartikan sebagai Tuhan. Tetapi bagi umat Khong Hu Cu, Tian tidak memiliki atribut khusus, dan tidak berperan langsung pada kehidupan umat manusianya.

Memang, ideologi Indonesia lebih mengacu pada Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap saling bersatu sama lainnya.

Mitologi dan Folklor China

Karena di artikel ini membahas suatu cerita dari folklor China, maka cocok untuk membahas sedikit dasar dari Mitologi China. Walau media dari China saat ini lebih mengisahkan dengan heboh dan masifnya mitologi, namun justru di episode ini lebih mudah dicerna, karena mirip dengan dongeng ala daerah Indonesia.

Mitologi China berasal dari banyak mitos regional dan tradisi budaya, yang diwariskan turun temurun secara oral. Ceritanya mulai dari kisah menarik hingga suatu entitas dengan kekuatan magis. Bersama folklor, mitologi membentuk kepercayaan tradisional dan Dao di banyak kalangan warga China. Naratif dari cerita masa lampau mengacu pada karakter atau kejadian, yang di-interpretasi melalui perspektif sejarah atau mitologi.

Mitologi di china sangat erat hubungannya dengan konsep Li (Confucius) yang lebih mengatur tatatan sosial, dan Qi (Dao) yang lebih mengemukakan semangat spiritual. Dua konsep mendasar ini saling berkaitan dengan ritual sosial, yang dilaksanakan saat berkomunikasi, salam, dansa, upacara, dan pengorbanan.

Kisah Tiga Ular di How To Become Three Dragons

Kisah episode How To Become Three Dragons saat musim kedua Yao Chinese Folktales, memang sangat kentara dengan penjelasan diatas. Karena itu, penulis memulai artikel ini dengan menjelaskannya terlebih dahulu.

Kisahnya diawali ala hebohnya tiga warga siluman yang berbentuk ular. Mirip dengan kisah siluman lainnya, ketiga ular berinisiatif untuk mencapai level Dewa. Karenanya, mereka mulai mencari pengikut dengan menjaga suatu desa.

Kisah ketiga ular tentu tidak akan diceritakan sepenuhnya disini, karena akan menjadi spoiler. Namun, ada satu wacana tersendiri dari ketiga ular, yaitu dengan terus menjaga dan mengalirkan air menuju sebuah desa yang kekeringan, agar mereka semakin disembah.

Sayangnya, karena tingkah mereka yang pecicilan, Dewa Naga marah dan menyerang desa tersebut. Saking besarnyanya serangan kilat Dewa Naga, banyak rumah di desa tersebut lalu terbakar hebat. Ketiga ular tidak mampu melawan atau terlalu lemah untuk membantu warga desa. Hingga satu diantaranya langsung mengorbankan diri, dengan mengumpankan dirinya pada sang Naga. 

Namun saat serangan Dewa Naga berhasil membasmi sang ular, ledakannya malah menghancurkan batu yang menahan aliran air diatas gunung. Sungai dan airnya pun terbebaskan alirannya, dan berhasil memadamkan banyak rumah yang terbakar di desa, serta mengairi seluruh ladang warga.

Waktu pun berlalu setelah ketiga ular kalah dalam bencana tersebut. Namun, reinkarnasi ketiga ular muncul di kuil kecil yang disembah warga desa. Warga pun semakin bersyukur dan terus berdoa sepenuh hati di kuil tersebut, selama banyak generasi berikutnya.

Pendapat Penulis

Ya, memang suatu kisah yang sangat mencerminkan dongeng dan folklor, walau tidak se-epik kisah dari animasi China. Dengan penjelasan awal mengenai sebuah kepercayaan, yang asalnya dari mitologi dan folklore China, dan diakhiri dengan suatu animasi kartun saja, tentu dapat dipahami dari segi ini. 

Ya, sesuatu yang susah dinalar di dunia yang besar, dan hanya berisi kisah drama naik-turunnya kehidupan, selalu menjadi siklus kehidupan yang terus mengalir. Baik itu bagi manusia, hewan, tanaman, dan seluruh alam di sekitarnya.

Okeh, Zaijian.

17 Februari 2026

Animasi Hewan yang Berkompetisi Olahraga dalam Film Goat

 

Will sebagai kambing yang beda sendiri (IMDB).

Mungkin memang saatnya bernostalgia dengan film sejenis ini, yaitu animasi Hollywood bertema olahraga, berjudul Goat. Tentu tayang di banyak sinema Indonesia dengan rating SU alias Semua Umur, animasi ciamik khas AS sana memang memiliki kesan berbeda. 

Apalagi bagi yang paham istilah GOAT, yang seringpula dijadikan meme oleh warganet. Padahal, GOAT adalah kependekan dari Greatest Of All Time, yang berarti Terbaik Sepanjang Masa. Istilah ini sering disematkan pada seorang atlet atau sejenis produk, yang sangat baik pada masanya, hingga layak dikenang sebagai yang terbaik sepanjang masa.

Studio dan artis yang memproduksinya pun sangat ternama, yaitu Sony yang sempat bekerja dengan para artis di film SpiderMan: Across The SpiderVerse.

Kartun Legendaris Space Jam

Tetapi sebelum membahas film Goat, yang harfiah disini adalah seekor kambing, tampaknya perlu mengecek terlebih dahulu animo-nya. Ya, animo olahraga untuk film animasi anak, ternyata cukup jarang diadaptasi oleh sineas perfilman, dari negara manapun. 

Bagi yang masih mengingatnya, tentu terkenang dengan film animasi Space Jam. Ya, film animasi tahun 1996 lalu ini, adalah film yang mengombinasikan olahraga basket, dengan animasi ciamik ala Looney Tunes. Tidak hanya kombinasi tema, terdapat pula kombinasi karakter Michael Jordan (yang memainkan dirinya sendiri), sekaligus lucunya para karakter kartun dari Looney Tunes. Teknik kombinasi antara adegan langsung antara Jordan dengan kartun, memang suatu animo yang heboh di perfilman Hollywood, saat masa tersebut.

Apalagi di jaman tersebut, Michael Jordan memang mengalami tingkatan tertinggi karirnya. Tidak hanya kesuksesan bersama tim Chicago Bulls, merk sepatu Air Jordan, serta Slam-Dunk-nya yang fenomenal, maka Michael Jordan adalah figur publik dan idola terbesar saat jaman 90an lalu. Karena itu, munculnya Jordan sebagai tokoh utama di film Space Jam, semakin meninggikan namanya di AS sana, sekaligus seluruh dunia. GOAT adalah sebutan yang tepat bagi Michael Jordan, khususnya di dunia olahraga Basket dunia.

Animo ini sempat dilanjutkan pada tahun 2021 lalu, dengan judul Space Jam: A New Legacy. Ya, tentu dengan merekrut pula seorang atlet basket terbaik sedunia masa kini, bernama LeBron James. Atlet dengan banyak kiprah serta kesuksesan karir basketnya, menjadikan LeBron James sebagai salah satu GOAT sedunia.

Sinopsis Film Goat

Will Harris (Caleb McLaughlin) adalah seekor kambing yang badannya berukuran kecil. Berbeda dengan spesies hewan lainnya, Will adalah spesies kambing yang lebih mirip rusa daripada jenis hewan herbivora lainnya. Namun Will memiliki impian besar, yaitu menjadi seorang atlet profesional Roarball. Louise Harris (Jennifer Hudson), sangat mendukung cita-cita anaknya tersebut.

Walau tubuhnya tidak berukuran besar, namun Will cukup cekatan dan lincah dalam menghadapi kerasnya Roarball. Olahraga ini memang bukan Basket biasa, melainkan Full-Body-Contact ala Rugy dan American Football. Sehingga, banyak spesies hewan berukuran kecil yang tidak sanggup menguasainya.

Namun dengan kemampuan Will yang berbeda, seluruh jalur kompetisi Roarball sempat dia menangi, mulai dari basket jalanan, hingga kompetisi kecil di sekitar rumahnya. Will lalu direkrut oleh tim yang digemarinya sejak dulu. Walau sempat terasa ketegangan dibalik GOR basket, namun Will berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu. 

Sanggupkah Will meraih mimpinya dalam merubah jalur pertandingan Roarball? Atau malah terjebak drama berjumpalitan bersama anggota timnya sendiri?

Jawabannya tentu ada di keberagaman hayati dan olahraga ala sinema Indonesia.

20 Januari 2026

Stop Motion Ala Coraline Ikut di Remastered Pula

 

Lubang menuju dunia lain (TMDB).

Film Stop-Motion layaknya 'bapak' di dunia perfilman, dengan teknisnya yang memotret satu frame saja, lalu disambungkan dengan frame berikutnya, sehingga terlihat bergerak alias animasi.

Nah, sejak minggu ini di sinema Indonesia, dirilis ulang film Stop-Motion terkemuka berjudul Coraline. Film yang aslinya dirilis tahun 2009 ini, di-remaster pula, dan bahkan dirilis dalam format tayangan 3D. Walau rating umur film ini adalah Semua Umur (SU), namun perlu dipandu oleh orangtua atau orang terdekat, karena banyak menyajikan adegan horor.

Sebelumnya di tahun 2024, versi remastered ini dirilis seluruh dunia, demi menyambut Hari Jadi 15 Tahun sejak awal perilisannya, terkecuali Indonesia. Karenanya, studio LAIKA sebagai rumah produksinya, bekerja sama dengan Universal Pictures sebagai distributornya, baru merilis Coraline pada awal 2026 ini di sinema nasional.

Film Coraline termasuk terkemuka di jamannya, yang sedang dibanjiri kembali oleh film Stop-Motion, sejak awal 90an lalu. Coraline menjadi satu yang terbaik, karena sempat meraih nominasi Oscar Academy Awards. Banyak penghargaan dari kritikus film pun, diraih oleh film ini.

Sutradara yang memimpin produksi film ini memang telah berkecimpung lama sebagai ahli Stop-Motion, bernama Henry Selick. Sebelumnya di tahun 1993, sempat memproduksi film Nightmare Before Christmas, yang sempat meraih pula nominasi film Oscar Academy Awards.

Coraline pun meraih box office tinggi di pasar sinema, walau dengan biaya 60 Juta Dolar AS saja. Perilisan awalnya di tahun 2009 mencapai pendapatan hingga 126 Juta Dolar AS. Hingga kini dengan beberapa kali perilisan ulang, pendapatannya telah mencapai 188 Juta Dolar AS.

Untuk perilisan ulangnya yang telah di-remaster, sangat terlihat mencolok dengan gradasi warna yang lebih tajam, serta resolusi lebih tinggi. Dengan frame yang lebih banyak, bahkan terlihat lebih mulus, layaknya film animasi 3D kekinian. Coba dibandingkan saja, antara cuplikan film Coraline di tahun 2009, dengan cuplikannya tahun 2024 dari LAIKA Studios. 

Versi remastered ini ditambahkan pula teknik tayangan 3D, yang ditayangkan di beberapa sinema berfitur ini.

Sinopsis Film Coraline

Coraline (Dakota Fanning) adalah seorang anak berumur 11 tahun yang bosan dengan keadaan rumahnya. Ayahnya yang bekerja di rumah, lalu ibunya yang bekerja di luar, serta keadaan perkakas dan peralatan rumahnya yang sering rusak, menyebabkan Coraline tidak betah di rumah.

Hingga suatu hari, Coraline menemukan sebuah lubang besar dibalik kabinet kecil kamarnya. Dari lubang tersebut, Coraline sampai di rumahnya sendiri, namun dengan keadaan yang berbeda. Rumahnya terlihat lebih rapih dan hidup, dengan orangtuanya yang tidak membosankan, tidak seperti biasanya.

Namun, orangtua 'dari dunia lainnya' meminta agar Coraline tinggal permanen di rumah tersebut, dengan memasang sepasang kancing di kedua matanya. Coraline yang ragu, tidak langsung memasangnya, namun tetap sering kembali untuk berkunjung.

Banyak mahluk lain yang tidak memakai kancing, contohnya kucing (Keith David) dan jurig (Aankha Neal), terus memperingatkan Coraline, mengenai bahayanya tinggal di 'dunia lain.' Mereka menyarankan, agar tidak pernah kembali lagi, dan menutup lubang portal dimensi di rumahnya.

Sanggupkah Coraline menahan diri untuk mencoba kancing? Atau malah terus keranjingan di dunia lainnya? Lebih parah lagi, yaitu terjebak tanpa sempat kembali?

Jawabannya, tentu ada di lokasi pelarian dari rumah ala sinema Indonesia.

Sejarah Film Stop-Motion

Film dengan menerapkan teknik Stop-Motion adalah teknik awal perfilman saat kamera perekam belum ditemukan. Tepatnya tahun 1850an, sebelum kamera video ditemukan, namun kamera potret telah lumrah di jaman tersebut. Menggunakan rangkaian film yang dimainkan satu persatu dengan kecepatan tinggi, suatu gerak animasi pun dapat ditampilkan.

Satu contoh terkenalnya adalah film Hotel Electrique pada tahun 1908. Film ini menampilkan aktris Julienne Matthieu, dengan adegan seorang wanita yang rambutnya disisir dan dirapihkan otomatis oleh mahluk tak kasat mata. Adegan ini bisa ditampilkan dengan baik, karena teknik Stop-Motion yang cekatan.

Film lainnya berjudul La Maison Ensorecelee pada tahun 1906, mengombinasikan efek spesial dengan film berisi aktor dan aktrisnya. Di film ini, beberapa aktor-aktris yang masuk ke rumah angker, diganggu semacam kekuatan mistis supernatural. Seluruh efek spesial, yaitu saat banyak benda digerakkan oleh mahluk tak kasat mata, diterapkan dengan teknik Stop-Motion. 

Perkembangan lensa kamera serta mekaniknya, dilanjutkan hingga kamera video ditemukan pada tahun 1920an. Namun teknik Stop-Motion masih diterapkan pada berbagai film oleh banyak sineas perfilman, bahkan hingga era modern saat ini.