Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan

14 Januari 2026

Rasanya OP Ala Karakter Kirito di Anime Sword Art Online

 

Yujio di Project Alicization (SAO-Wiki).

Okeh, rasanya cukup aneh mulai nulis artikel Monsterisasi lagi, tetapi memang cocok di awal tahun 2026 ini. Apalagi setelah penjelasan di laman Monsterisasi mengenai Tanjiro dan kawan-kawan, serta artikel pertamanya mengenai film dari Makoto Shinkai, jadi ya tinggal dilanjutkan saja.

Terlebih lagi, istilah Monsterisasi-nya sendiri cukup aneh, jika dibandingkan dengan apa yang dibahas. Jadi, di artikel ini, penulis akan membahas satu karakter OP, yang memulai animo anime isekai di Jepang sana, bernama Kirito Kazugaya.

Ya, karakter utama dari serial novel dan anime Sword Art Online (SAO) ini, justru paling cocok dibahas di artikel ini, Monsterisasi. Kenapa? Karena seperti dibahas sebelumnya mengenai perubahan 'makna' seorang karakter dan dikejar masa lalu, maka Kirito adalah satu 'Monster' terbesar dari sudut pandang tersebut.

Memang Monter terbesarkah? Tentu Saja! Karena Kirito punya Buanyak HAREM sedunia, bahkan mengalahkan seluruh anime lain! Hehe, becanda... 

Trope Kirito yang punya banyak harem, sebenarnya digambarkan di anime saja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kirito sebenarnya adalah pemain MMO solo karir, yang seringkali membantu player (cewe) lain pas namatin quest.

Trope Kirito sebagai karakter OP yang punya banyak harem pun, membuat anime SAO tidak disukai oleh banyak wibu dan otaku. Padahal, menurut novel aselinya, Kirito memang tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun (selain Asuna).

Okeh, itu pengenalan saja mengenai urusan kelamin Kirito. Tetapi bagaimana dengan jiwanya sebagai seorang Monster? Nah, dari segi Action RPG atau MMO sekalian, Kirito memang termasuk OP, layaknya karakter Endgame - Post Game Grind di banyak RPG.

Walau karakter Kirito di novel dan animenya cukup berbeda, tetapi plot utama serta jalan ceritanya tetap mirip. Yaitu, saat Kirito harus meng-carry seluruh tim, hingga seluruh server, untuk selamat walafiat di dunia MMO. Trope cerita Kirito terus berlanjut dari server Aincrad, bahkan hingga seri anime terakhir, yang berjudul Alicization: War of Underworld.

Nah, daripada membahas bagaimana kisah Kirito meng-carry semuanya (padahal mah pake cheat juga anjir), lebih baik dicek saja pas Kirito cocok sebagai MC kita selama ini. Tepatnya, saat masih berada di dunia Project Alicization. Itupun, tidak hanya berfokus pada Kirito, tetapi teman virtualnya sendiri, yaitu Eugeo (Yujio).

Kirito dan Asuna yang sudah resmi berumur dewasa (Mipon).

Project Alicization bersama Alice, Yujio dan Kirito

Perlu diingat, bahwa Kirito di Project Alicization sudah berumur 20 tahun, alias baru lulus SMA dan memulai kuliah. Penggemarnya pasti tahu, bahwa Kirito dan banyak penyintas Aincrad lain, ke-skip sekolahnya selama dua tahun lebih. 

Jadi, Kirito di serial anime ini memang sudah dewasa, dan bekerja (magang) sebagai beta tester (lagi) di Project Alicization. Sayangnya (seperti biasanya), proyek yang sudah diamankan ini, harus dioperasikan sebagai penelitian bagi pasien yang mengalami koma.

Ya, Kirito yang diserang oleh racun syaraf saat berduaan dengan Asuna di dunia nyata, akhirnya koma dan perlu dirawat di dunia Project Alicization. Kirito yang sebenarnya berumur lima tahun di dunia ini, perlu mengulang kembali sepuluh tahun hidupnya, akibat perbedaan waktu dengan dunia nyata.

Namun, dari segi ini bisa dianalisa, bahwa Kirito bersama karakter AI bernama Yujio dan Alice, sebenarnya mengulang kembali masa kecil yang hilang. Di dunia nyata, Kirito adalah seorang yatim-piatu, yang tinggal bersama sepupunya yaitu Suguha, dan kakeknya saja. Momen masa kecil bersama Alice dan Yujio, seakan proses untuk menyembuhkan kembali rasa terpendam Kirito.

Tidak hanya itu, saat berumur 15 tahun alias SMP, Kirito pun terjebak di Sword Art Online dan dunia Aincrad-nya. Disitu, Kirito selalu merasa bersalah, karena tidak sanggup membantu banyak pemain SAO.

Dan latar Kirito tersebut sangat nyambung dengan karakter baru di Alicization, yaitu temannya sendiri bernama Yujio. Karakter berambut pirang dan tinggi sama dengan Kirito ini, memiliki keperibadian baik, halus, penurut, dan setia. 

Namun sedikit spoiler, Yujio akhirnya meninggal dalam seri ini. Kisah Yujio yang meninggal, mengingatkan pula perubahan terbesar dalam diri Kirito. Yaitu, untuk terus berinisiatif gelut, dengan berbagai tingkat edgy-nya. Yujio pun meninggal akibat misi keduanya.

Padahal, sebelum terjebak di dunia Aincrad, Kirito adalah anak SMP biasa yang cukup halus pembawaannya. Kematian Yujio seakan mengingatkan, bahwa Kirito yang selama ini terlalu Power-Creep, adalah perubahan besar akibat Aincrad. Padahal di episode awal SAO saja, Kirito pura-pura edgy, untuk menghindari kejaran dari pemain lain.

Visual karakter Yujio pun cukup terbalik dengan Kirito, khususnya sebagai avatar. Kirito berambut hitam, dengan pakaian serba hitam pula. Sementara Yujio berambut pirang, dengan pakaian berwarna biru cerah. Padahal, desain baju keduanya masih cukup mirip.

Nah, kembali ke momen Yujio meninggal, bencana lain menimpa pula Kirito yang kalah bertarung. Dirinya terjebak dalam dirinya sendiri, mirip dengan koma di dunia nyata. Alias, Kirito memang koma dua dunia sekaligus. 

Saat masih koma, dengan serial Alicization yang dilanjutkan di War of Underworld, Kirito memang tidak muncul sama sekali. Jika adegan Kirito muncul, berarti saat dirinya terjebak dalam kenangannya sendiri, mulai jaman SMP hingga Aincrad, lalu banyak momen menyedihkan lainnya. 

Momen ini, layaknya men-defrag Operational System dalam Personal Computer dengan begitu banyak data yang memenuhi memori Hard Disk Drive atau Solid State Drive. Dengan begitu, PC akan bekerja lebih cepat dan kinerja lebih baik lagi. 

Bahkan di akhir momen tersebut, Yujio, Asuna, Shino, dan Suguha muncul, untuk membangunkan kembali Kirito dari dalam kenangannya. Momennya cukup dalam, karena Kirito harus menerima dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan, yang sempat menyelamatkan (nyawa) keempat temannya tersebut. Walau Yujio telah meninggal, dirinya adalah sosok jiwa Kirito yang Aseli.

Daaan, begitulah alasannya mengapa Kirito (alias Yujio) adalah seorang karakter Monster, yang selalu diminta untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia MMO, hingga berujung celaka di dunia nyata.

Avatar-nya saja di dunia Project Alicization, masih berupa Kirito umur 15 tahunan. Seakan, mengingatkan kembali awal edgy-nya karakter Kirito yang OP ini.

Akhir dari Alicization, yang entah kapan dilanjutkan serial anime-nya, menjadi sekedar closure alias penutup, bagi kisah Kirito yang sudah terlalu OP, hingga berujung status sebagai Monster!

12 Januari 2026

Lucu-lucuan Penguin Korea Ala Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

 

Pororo dan banyak kawannya (TMDB).

Daaaan, masih ada satu lagi film bagi anak (alias ratingnya Semua Umur) di minggu ketiga bulan Januari 2026 ini, berjudul Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure, yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Kali ini, Pororo adalah sejenis karakter animasi dari Korea Selatan sana, yang berbentuk Penguin, lengkap dengan topi pilot dan kacamatanya. Inovasi karakter Pororo cukup mendunia, yang merupakan awal kebangkitan budaya seni populer dari Korea Selatan, hingga sanggup menyaingi Hello Kitty dari Jepang, Mickey Mouse dari AS, dan Smurfs dari Eropa.

Bagi para penggemar film, tentu dapat mengingat bangkitnya Korea Selatan dengan pop-dansanya yang sempat merajai awal tahun 2010an lalu. Filmnya pun sangat berkelas ala film produksi Hollywood, walau cukup jarang mengemukakan khas budayanya sendiri.

Pororo adalah pionir dari kebangkitan tersebut. Bahkan hingga sekarang, sebanyak delapan musim kartun animasi telah ditelurkan, dari tahun 2003, 2005, 2009, 2012, 2014, 2016, 2020, dan 2023. Filmnya bahkan mencapai 12 banyaknya, yaitu pas tahun 2004, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2017, 2019, 2022, 2022, 2023, dan 2025. Tentunya, film berjudul Sweet Castle Adventure ini, adalah film ke 13-nya.

Masih banyak karya lainnya yang mengikutsertakan Pororo dan kawan-kawannya, namun ikoniknya penguin berwarna biru ini tidak hanya dari segi kelucuannya saja. Pororo diproduksi dengan menghilangkan bias budaya dan referensi sejarah, sehingga cukup familiar di seluruh belahan dunia. 

Selain itu, sejak awal, Pororo didesain untuk anak berumur 4 hingga 7 tahun, yang mengenalkan berbagai sikap, norma, moral, banyak nilai edukasi (alias life skill). Pada saat awal penayangannya di Korea Selatan, banyak anak di Korea Selatan mengikuti gaya Pororo saat mengangkat tangan untuk menyeberang jalan, makan dengan dikunyah 30 kali, mencuci tangan, dan berbagai 'nilai keseharian' lainnya.

Orangtua dari Korea Selatan yang menyukai karakter Pororo, saat itu menyarankan Iconix Entertainment sebagai studio produksi, dalam memasukkan adegan tersebut pada setiap episodenya. Iconix pun setuju, sehingga timbal-balik antara hiburan dan edukasi, khususnya pada anak Korea Selatan, semakin terjalin dengan baik.

Sinopsis Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

Kali ini, dunia Pororo sedang dalam musim dingin dan menjelang perayaan Natal. Di Kerajaan Dessert, sedang diadakan kompetisi memasak kue. Pemenangnya, akan mendapatkan lapisan topping dari Sinterklas.

Pororo dan kawan-kawannya yang kebetulan bertemu Sinterklas di jalan, akhirnya diminta untuk mengirimkan piala topping tersebut kepada Ratu di Kerajaan Dessert. Petualangan baru mereka pun dimulai, sambil menikmati momen di musim dingin. 

Namun, saat akan menyerahkan piala tersebut di Kerajaan Dessert, seorang tokoh produsen cokelat bernama Leo No. 5 menghalau mereka. Leo tidak rela, kompetisi dilaksanakan tanpa kehadiran cokelat buatannya. Pororo pun perlu mengamankan piala tersebut, sambil menghindari kejaran Leo.

Amankah kompetisi ini dengan perayaan musim dinginnya di Kerajaan Dessert? Jawabannya, tentu dapat disaksikan di keberagaman kue ala sinema Indonesia.

18 Desember 2025

Mengakhiri Perang di Pandora dalam Film Avatar: Fire and Ash

 

Generasi berikutnya ras Na'vi di bulan Pandora (IMDB).

Daaan, dengan berakhirnya tahun 2025 ini, kembali pula akhir dari film paling epik sedunia, berjudul Avatar: Fire and Ash, yang tayang mulai minggu ini di sinema-sinema Indonesia, untuk penonton berumur 13 tahun ke atas (R13+).

Tentu bagi yang sudah menonton film Avatar: Way of Water di tahun 2022 lalu, bakal geregetan untuk menyusul sekuelnya di bulan Desember ini. Ya, film Avatar: Fire and Ash adalah akhir dari trilogi film ini. 

Oh ya, bagi yang ingin menikmati film Fire and Ash dengan lebih ciamik, tentu dapat memesan tiket yang memberi fasilitas 3D dan IMAX. Tentu, dengan harga tiket yang lebih mahal dan kursi yang lebih terbatas.

Arahan James Cameron selaku pendiri Lightstorm Entertainment, sanggup merekayasa adegan mocap dengan hasil animasi 3D yang ciamik. Lightstorm memang telah berkecimpung bersama Cameron sejak dirilisnya film Terminator 2: Judgment Day (1991). Sejak itu hingga kini, Lightstorm selalu mencengangkan dunia perfilman dengan efek spesialnya yang terbilang inovatif.

Trilogi Avatar dari James Cameron

Walau dimulai pada tahun 2009 lalu oleh sutradara James Cameron, dan membutuhkan jangka waktu 13 tahun untuk film keduanya, film ketiga ini hanya berjarak tiga tahun saja sejak film keduanya. Sebagai akhir dari trilogi, belum ada kabar pasti mengenai film keempat atau kelanjutannya. Namun, dari rumor yang beredar, jika film keempat Avatar diproduksi, maka karakternya akan berbeda dengan trilogi awal.

Trilogi Avatar memang berfokus kepada Jake (Sam Worthington) dan istrinya, Neytiri (Zoe Saldana). Bagi penggemarnya, pasti tahu bahwa sepasang ras Na'vi dari bulan Pandora ini memang fokus utama, yang berjibaku antara kehadiran manusia (RDA), suku pribumi (Na'vi), dan bulan Pandora dengan kehadiran dewa Eywa.

Nah, bagi yang cukup mengingat latar kisah Avatar, Eywa adalah penggambaran harfiah mengenai ekosistem ala bulan Pandora. Eywa adalah nama Dewa tersebut, yang memiliki koneksi langsung dengan seluruh mahluk di Pandora. 

Setiap mahluk, bahkan hingga tanaman, memiliki sulur sebagai anggota tubuhnya. Sulur tersebut bisa dihubungkan dengan pohon bernama sama, lalu membantu menyembuhkan atau bahkan berbagi kesadaran dengannya. Bahkan, sulur dapat saling terhubung dengan mahluk lain, agar mereka dapat bekerja sama secara langsung dan telepati dalam berbagai aktifitas sehari-hari.

Nah, itulah yang menjadi khas dari setiap film Avatar, bahwa bulan Pandora yang sangat eksotis, digambarkan dengan indah ala teknologi CGI dan animasi yang memukau. Tidak heran, film pertamanya menjadi film sinema terlaris sepanjang masa. Box Office-nya mencapai 2,9 Milyar Dolar AS sejak tahun 2009 lalu! Bahkan, Way of Water mencapai 2,3 Milyar Dolar AS, padahal baru tiga tahun sejak dirilis tahun 2022 lalu!

Lokasi syutingnya pun cukup mengesankan, yaitu berada di Selandia Baru, sebuah negara kepulauan kecil di tenggara Australia. Rasanya bernostalgia, semenjak Selandia Baru digunakan sebagai lokasi syuting trilogi The Lord of the Rings (2001;2002;2003). 

Karenanya, banyak sineas perfilman internasional terus melaksanakan syuting di Selandia Baru. Luas, karakter, serta pemandangan Selandia Baru cocok diterapkan sebagai latar sebuah film Epik. Bahkan, Peter Jackson sebagai sutradara trilogi The Lord of the Rings, menyatakan bahwa Selandia Baru bukanlah sebuah negara kecil, melainkan desa yang luas membahana.

Mengingat Plot Film Avatar: Way of Water

Sebelumnya di film Way of Water, Jake mencoba tinggal dan bekerja sama dengan suku Na'vi dari pesisir pantai. Menurut kabar, suku Na'vi pesisir pantai bernama Metkayina, mengambil referensi dari Suku Bajo (Bajau). Suku adat pribumi ini berasal dari Malaysia (Sabah), Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara, alias dari negara Nusantara Tercinta, Indonesia.

Dari situ, kembalilah manusia RDA (Resource Development Administration) dengan kapal laut dan kemampuan mecha amfibi, yang sanggup merambah ranah lautan di Pandora. Sementara dari pihak suku Na'vi, bantuan dari mahluk lautan sejenis paus (Tulkun) dapat menghalau mereka.

Sinopsis Film Avatar: Fire and Ash

Nah, kembali ke Fire and Ash, ketidakhadiran langsung Eywa pula yang menjadi kekhawatiran di film ketiganya ini. Salah satu suku yang tinggal dekat dengan gunung volkano, bernama Mangkwan, malah bergabung dengan RDA. 

Suku Mangkwan dipimpin oleh Varang (Oona Chaplin), yang berselirih khusus mengapa sukunya membelot. Posisi desa huniannya dahulu sempat terkena bencana hebat, yaitu letusan gunung volkano. 

Walau seluruh anggota suku sudah berdoa kepada Eywa, namun bencana sama sekali tidak dapat dihalau. Seluruh anggota suku Mangkwan pun tidak percaya kepada Eywa lagi, dan bahkan menyembah api sebagai simbol dewa, lalu mulai membelot serta berambisi menguasai seluruh Pandora bersama RDA.

Tentu bagi yang sudah menonton film pertama dan keduanya, tahun bahwa RDA hanya menginginkan satu hal saja di bulan Pandora. Satu bijih mineral bertama Unobtainum, adalah target utama RDA. Sementara suku pribumi Na'vi melawan balik, menghalau, mencoba untuk mengusir, serta menghentikan ambisi RDA di bulan kediamannya.

Nah, kali ini ada beberapa kehadiran lain, yang mampu membantu Jake untuk melawan gempuran tersebut. Ya, naga berspesies Ikran kembali bersama banyak kawanannya untuk menghalau gempuran RDA.

Generasi Berikut dan Alamnya

Dan, tidak hanya kehadiran mahluk eksotis dan alamnya saja yang sanggup membantu kampanye ini. Ada satu senjata terkuat, yang tidak berdasarkan kemampuan militer, namun paling signifikan dalam sejarah peperangan militer, di dunia manapun.

Ya, nama senjata tersebut adalah generasi berikutnya. Walau tidak diterapkan harfiah dalam peperangan, namun layaknya Rite of Passage (Ritual Peralihan Lintas Generasi). Anak yang paham mengenai kekisruhan di generasi sebelumnya, dapat melanjutkan usaha tersebut kedepannya, dengan kemampuan dan caranya masing-masing.

Tidak perlu disebutkan siapa saja anggota keluarga dari Jake dan Neytiri, namun seluruh generasi berikutnya, berperan penting bagi kelangsungan hidup di bulan Pandora yang masih penuh konflik.

Oh ya, satu lagi referensi menarik dari trilogi Avatar ini, yang mengemukakan lokasi eksotis nan indah dengan kegalauan para mahluk di dalamnya. Jika disejajarkan, maka lokasi eksotis nan indah ala kepulauan Nusantara, hingga Madagaskar di Afrika, kepulauan Hawaii di Pasifik, serta Lautan Karibia, yang cocok sebagai acuan ngerinya kekuatan alam, namun sebanding dengan keindahannya.

Walau begitu, banyak bencana alam akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim, yang masih sesuai dengan siklusnya, mulai merambah dan semakin berubah, di banyak lokasi planet Bumi, baru-baru ini.

Okeh, selamat menikmati film Avatar: Fire and Ash di ranah keberagaman hayati ala sinema Indonesia.

Berpetualang bersama Cemilan Imut di Film Dream Animals: The Movie

 

Binatang lucu yang sedang asyik (TMDB).

Saatnya di akhir tahun 2025 ini, tepatnya bulan Desember yang sedang hangat-hangatnya berlibur, menonton film bersama anak atau anggota keluarga lainnya (rating Semua Umur). Kali ini, film animasi untuk anak yang dirilis adalah Dream Animals: The Movie, yang tayang di sinema-sinema Indonesia pada akhir minggu.

Studio animasi yang memproduksi Dream Animals pun bukanlah sembarang studio, melainkan Marza Animation Project dari Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, Mara merilis trilogi film Sonic the Hedgehog (2020;2022;2024), yang disukai banyak penggemarnya. 

Jika mengingat Sonic, tentu kembali pula kenangan saat film pertamanya akan dirilis. Penggemar Sonic dari seluruh dunia protes di dunia maya, saat menonton cuplikan pertamanya. Desain karakter utama Sonic, terlihat mengerikan, dan tidak imut layaknya Sonic di Video Gim-nya. Namun, karena sineas filmnya memahami, maka mereka menunda perilisan film hingga tiga bulan (rencana rilis asli untuk bulan November 2019), untuk mendesain ulang karakter Sonic.

Distributor yang merilisnya pun cukup keren, yaitu Tokyo Broadcast System (TBS), yang sering membuyarkan dunia dengan anime mantap dari Jepang. Beberapa contoh anime viral dari TBS, diantaranya adalah serial anime Dandadan (2024) Jujutsu Kaisen (2020), dan Full Metal: Alchemist Brotherhood (2009).

Dan, saatnya kembali membahas Dream Animals. Bagi anak atau penggemar yang suka film animasi 3D, alias tiga dimensi yang imut, tentu tertarik dengan cuplikan Dream Animals yang cerah dan mulus animasinya. Oh ya, yang imut bukan hanya karakter di filmnya, tetapi juga asal muasal para karakternya.

Dream Animals adalah produk makanan ringan berjenis kraker, yang berbentuk karakter binatang dan diproduksi dari Jepang. Perusahaan yang memproduksinya adalah Ginbis, yang telah memulai usahanya sejak tahun 1930 lalu. Khusus untuk produk Dream Animals (Tabekko Doubutsu), mulai diproduksi sejak tahun 1978 lalu.

Makanan ringan Dream Animals masih diproduksi hingga sekarang, dengan banyak tambahan karakter berbeda pada setiap bungkusnya. Karakter binatang seperti gajah, kuda nil, pegasus, kucing, kelinci, ayam, jerapah, singa, buaya, dan monyet selalu meramaikan isi setiap bungkus Dream Animals. 

Bagi yang penasaran dengan rasa makanan ringan ini, sebenarnya Dream Animals tidak begitu luas didistribusikan di Indonesia. Namun, banyak toko daring (online) yang menawarkannya, sehingga dapat dipesan saja langsung. 

Atau bagi yang kangen jajanan anak, tentu masih bisa mengecek makanan ringan Fugu. Makanan ringan ini justru berbentuk mirip, dengan ikan sebagai karakternya, yang tentu diproduksi oleh perusahaan Indonesia bernama OrangTua

Sinopsis Dream Animals: The Movie

Di Negeri Manisan, sekelompok grup musik terkenal bernama Dream Animals, yang beranggota Gajah, Kuda nil, Pegasus, Kucing, Kelinci, Jerapah, Singa, dan Monyet sedang heran dan terperangah atas kondisi nasionalnya. Dream Animals yang baru saja kembali dari tur musik internasional, menemukan negerinya kini dikuasasi oleh sejenis cemilan permen.

Sejenis kelompok permen bernama Gotton ingin mendominasi pasar di Negeri Manisan, yang biasanya seimbang antara campuran makanan ringan biskuit, dengan banyak variasi permen. 

Walau sebenarnya seluruh anggota Dream Animals tidak ingin berkonflik, justru terperangah dengan diculiknya salah seorang anggota mereka, yaitu Pegasus (Akairi Takaishi). Singa (Genta Matsuda) sebagai seorang pemimpin, berinisiatif bersama seluruh anggotanya untuk memulai misi penyelamatan.

Dengan dibantu oleh seorang gadis nan baik hati (Liliano Ono), Dream Animals mulai berjibaku dan merekrut banyak binatang idola lainnya, seperti Anak Ayam dan Buaya, demi menyelamatkan Pegasus dan mengembalikan kedamaian di Negeri Manisan tercinta. 

Sedikit Komentar Mengenai Sinopsis Film Dream Animals

Oh ya, tampaknya film ini menggambarkan, bahwa makanan cemilan alias ringan sejenis biskuit, kraker, dan banyak makanan adonan kering lainnya, sebenarnya lebih sehat. Bahkan, jika dicek per bungkusnya, terdapat cetakan berbentuk kotak, bertuliskan kandungan gizi per-gram untuk setiap bungkusnya. Label kandungan gizi ini bisa dicek pula dari bungkus sejenis sirup atau susu

Apalagi jika dibandingkan dengan sejenis permen, yang dapat langsung terlihat efeknya pada gigi anak, yang hitam bahkan hingga ompong karena terlalu banyak mengonsumsi permen atau manisan. Cukup merusak tubuh anak pula, karena gizi-nya jauh lebih sedikit dengan bahan kimiawi lebih banyak.

Sementara di cemilan makanan kering, sering ditambahkan dengan cokelat, susu, bumbu asam, manis, pedas, serta banyak tambahan lainnya. Walau tetap masuk sebagai kategori makanan ultra proses, tetapi prosesnya cukup sederhana dan lebih bergizi untuk dikonsumsi tubuh.

Produk Ringan dari Indonesia

Oh ya lagi, setelah membahas sinopsis film Dream Animals, penulis mau berbagi pula tentang pengalaman makanan ringan di Indonesia. Selama beberapa dekade lamanya, keluarga berkecimpung sebagai grosir makanan ringan. 

Ternyata, rata-rata produk makanan ringan berasal dari perusahaan Nasional alias Nusantara. Mulai dari biskuit, cokelat batang, keripik, hingga minuman susu dan sirup, seluruhnya diproduksi dari perusahaan nasional atau lokal. 

Tidak hanya makanan ringan, banyak produk rumahan seperti pasta gigi, sabun batang, sabun cair, sabun pel, sabun cuci piring, shampoo, sikat gigi, hingga kebutuhan rumah lainnya, diproduksi dari pabrikan dalam negeri tercinta.

Bahkan saat keluarga beralih usaha ke bumbu makanan, mulai dari bumbu jadi, bumbu marinasi, santan, hingga bumbu racik, ternyata seluruhnya diproduksi dari perusahaan nasional. Beberapa produk yang lebih tradisional, yaitu gula merah, gula, garam, minyak curah, hingga bumbu rempah, adalah hasil Usaha Kecil Menengah (UKM) regional.

Tampaknya tidak perlu dijelaskan lagi, bahkan produk tas hingga pakaian santai dan formal (apalagi batik), diproduksi oleh perusahaan nasional atau lokal. Memang, banyak pabrikan tekstil maupun garmen, bisa 'dititipkan' produksinya demi kebutuhan merk lokal pula.

Ya, maksudnya tentu bukanlah se-kompetitif ala Ginbis yang melanglangbuana hingga bisa diproduksi filmnya. Tetapi, dengan begitu dari segi manufaktur, barang dan bahan kebutuhan sehari-hari, ternyata sudah terpenuhi oleh produksi nasional dari negara tercinta. Ya, Indonesia.

Tentu kekurangannya adalah berbagai jenis barang elektronik serta otomotif, yang masih didominasi oleh produk dari Jepang atau China. Tetapi kedepannya, mungkin Indonesia akan mencapai tahap tersebut, karena banyak bahan mineral mentah yang memang didapatkan dari kekayaan dalam negeri. Ya, Indonesia.

Kayaknya tidak perlu dijelaskan lagi dari segi keberagaman Hayati Indonesia, ya. 

Okeh, wassalam, dan selamat menikmati kisah Dream Animals ala ranah produk sinema internasional di Indonesia.

10 Desember 2025

Berjuang Bersama Ksatria Putri di Film Anime Scarlet

 

Scarlet yang heran sendiri (TMDB)

Dan, saatnya mencapai film dari studio yang seringkali memenangkan langsung penghargaan setiap merilis filmnya, yaitu studio animasi Chizu dari Jepang, dengan karyanya berjudul Scarlet, di sinema Indonesia akhir tahun ini.

Chizu seakan bangkit sebagai 'studio Ghibli baru' dari Jepang, sejak didirikan pada bulan April tahun 2011 lalu. Dengan filmnya berjudul Wolf Children pada tahun 2012, bersama pendirinya yaitu Mamoru Hosoda, berhasil memenangkan satu perhargaan Film Animasi Terbaik Jepang.

Setelah film debutnya, serentetan penghargaan terus menghampiri studio Chizo. Film keduanya berjudul The Boy and the Beast pada tahun 2015, berhasil meraih penghargaan untuk kedua kalinya untuk Film Animasi Terbaik Jepang.

Bahkan di tahun 2018, studio Chizo menerima nominasi Oscar sebagai Film Animasi Terbaik, untuk film berjudul Mirai, walau tidak berhasil menang. Film terakhirnya di tahun 2021, berjudul Belle pun meraih nilai yang baik dari kritikus seluruh dunia.

Nah, bagaimana dengan film Scarlet yang dirilis di Indonesia di tahun 2025 ini? Menurut Mamoru Hosoda, film Scarlet diproduksi dengan teknik berbeda dari animasi 2D atau CG. Penulis kurang mengerti, namun terlihat pada cuplikannya, layaknya film 3D dengan arahan gaya anime. Kisahnya pun ternyata terinspirasi dari Hamlet, alias karya Shakespeare terdahulu.

Sinopsis Film Scarlet

Scarlet (Mana Ashida) adalah seorang ksatria sekaligus putri yang telah kalah bertarung. Dirinya kalah dan meninggal saat mencoba membalaskan dendam ayahnya, yang dituduh membelot kerajaan.

Sayangnya, walau sudah meninggal, Scarlet tidak bisa istirahat dalam damai. Scarlet terjebak di sebuah Daratan Kematian, yaitu sebuah daratan luas tanpa pepohonan dan hanya terlihat pegunungan, bebatuan, serta gurun pasir. 

Di Daratan Kematian, Scarlet bertemu dengan Hijiri (Masaki Okada), yaitu seorang paramedis dari dunia modern. Tampaknya, Daratan Kematian tidak memiliki periode waktu tertentu, sehingga jutaan orang yang meninggal, tiba dari banyak variasi jaman dan waktu.

Hijiri pun heran, bahwa saat dicek, sebenarnya Scarlet masih hidup, dan bisa kembali ke jamannya. Scarlet pun geram, karena paham dan sikap idealis yang berbeda di antara keduanya.Tidak berapa lama, Hijiri dan Scarlet perlu merambah tantangan lain di daratan tandus ini. 

Yaitu seorang raja, yang memproklamirkan seluruh penghuni daratan, untuk siap berperang. Raja tersebut menegaskan, bahwa jika perang ini dimenangkan, maka seluruh penyintas akan berhasil memasuki Daratan tak Terbatas. Namun, bagi yang kalah, akan hilang sepenuhnya dari daratan manapun.

Tidak ingin mengalah begitu saja, Hijiri dan Scarlet pun memulai perjalanan Epik mereka, walau tidak yakin dengan akhir tujuannya.

Bagi yang cukup yakin, bisa mengecek saja di daratan gelap sinema Indonesia.

Berkelana ke Barat Ala Siluman Dari China Di Film Nobody

 

Keempat siluman yang cukup berdedikasi (TMDB).

Akhirnya setelah sekian banyak film mengenalkan kembali Berkelana Ke Barat, di Desember tahun 2025 ini muncul kembali dengan gaya yang sesuai, yaitu cerita kocak para siluman (harfiah) berjudul Nobody, yang kini tentu tayang di sinema-sinema Indonesia.

Mungkin perlu diingat, adaptasi novel abad 16 (tepatnya tahun 1592) karya novelis Wu Cheng'en ini sering diproduksi oleh sineas perfilman dari China. Serial televisi Indonesia pada tahun 90an hingga awal 2000an lalu, tentu menjadi awal terkenalnya kisah Berkelana Ke Barat di Indonesia. 

Satu contoh yang kembali meramaikan cerita ini, adalah Journey to the West: Conquering the Demons (2013), yang diproduksi dan disutradarai langsung oleh Stephen Chow. Kisahnya pun cukup rapih dengan adegan dan petunjuk cerita yang saling mengikat satu sama lainnya. Ketika menontonnya, penulis tidak menyangka bahwa kisah ini akan berakhir sebagai prekuel Berkelana Ke Barat. 

Bagi yang ingin mengecek film lainnya, tentu perlu menonton trilogi Monkey King (2014; 2016; 2018). Kisah di trilogi ini sesuai dengan judulnya, yaitu prekuel Berkelana Ke Barat, dengan fokus pada Sun Wukong saja. Yang pernah menontonnya, tentu tahu bahwa Sun Wukong sering membuat kacau Khayangan dan beradu gelut dengan siapa saja, sebelum bertemu dengan biksu Tang.

Nah, berbeda dengan kedua film sebelumnya, yang berlatar film aksi epik langsung dengan aktor nyata, film Nobody di tahun 2025 ini justru berformat animasi. Tidak hanya itu, ternyata ceritanya cukup berbeda, yaitu para karakter utama bukanlah anggota asli, yang terdiri dari Biksu Tang Sanzang, Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Sha Wujing. Melainkan, karakter utama di film Nobody adalah siluman yang Pura-Pura ke Barat, demi mengembalikan status Kekal miliknya.

Okeh, saatnya mengecek kisah film Nobody yang pembawaannya lebih ke kartun komedi, layaknya serial televisi Berkelana ke Barat tahun 90an lalu.

Sinopsis Film Nobody

Yao Babi (Chen Ziping) adalah seorang siluman babi yang galau, karena tidak pernah berhasil melalui ujian Gua Raja. Yao Babi tidak ingin hidupnya sebagai siluman, berakhir begitu saja.

Hingga suatu hari, akibat kesalahan saat bekerja, Babi Yao dan Kodok Yao (Lu Yang) terpaksa diusir dari Gunung Langlang. Yao Kodok pun marah, karena jika keluar dari Gunung, maka status kekalnya sebagai siluman akan punah.

Namun, masalah kritis tersebut menyebabkan Yao Babi malah semakin kritis, dengan berinisiatif berpura-pura sebagai Kelompok Biksu Tang yang sedang Berkelana ke Barat demi Kitab Suci. Dengan begitu, keduanya dapat meraih kembali hidup kekal nan abadi.

Keduanya pun merekrut Yao Musang (Dong Wenliang) dan Yao Kera (Liu Cong), yang jelas-jelas salah spesies, karena Sun Wukong adalah seorang siluman monyet. Karena keduanya memang siluman pecicilan alias nganggur tanpa arahan jelas, mereka pun setuju saja sambil asyik.

Tentu dengan wajah mereka yang masih berbentuk siluman, banyak warga desa dan bahkan siluman lain yang tidak percaya. Mereka diusir, bahkan dikejar layaknya monster atau rampok, yang dianggap mengganggu desa mereka.

Namun, seorang biksu tua yang baik hati memilih percaya pada mereka, dan membantu dengan menyiapkan makanan dan ruang istirahat bagi keempatnya. 

Saking mendalami peran, keempatnya bahkan siap membantu warga desa yang meminta bantuannya. Walau kuadro ini bukanlah siluman sakti, tetapi mereka tidak rela warga yang ikhlas membantu, tidak terbalaskan kebaikannya.

Apakah mereka sanggup untuk menyelesaikan perjalanan Epik ini? Atau malah identitas terbongkar karena kurang meyakinkan? Dan malah kalah bertarung dan berakhir seketika karena memang kurang mampu?

Jawabannya, tentu ada di ranah mitos sinema-sinema Indonesia.

12 November 2025

Animasi Fantastis ala China di Film The Legend of Hei 2

 

Hei dan Shifu Wuxian yang sedang jajan es krim (TMDB).

Okeh, saatnya kembali ke film dari negara Tiongkok China, alias negara tirai bambu, yang kali ini berjudul The Legend of Hei 2. Film yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, berformat animasi dua dimensi, berbeda dengan kebanyakan film saat ini (selain anime).

Setelah kesuksesan film Ne Zha 2 menjadi film animasi terbesar sepanjang masa, sineas perfilman China tampaknya melanjutkan animo tersebut di film The Legend of Hei 2.

Semangatnya pun masih sama, yaitu menceritakan kisah kungfu fantastis ala China, yang berbumbu mitologi dari sana. Dari cuplikannya, terlihat bahwa para karakternya bukanlah ahli beladiri biasa, melainkan penghubung antara dunia arwah dan manusia.

Dilirik sekilas, maka animo film The Legend of Hei justru lebih mirip film Panji Tengkorak dari Indonesia, yang lebih mengisahkan kekisruhan beladiri antar dua dunia. Tentu, karena film Panji lebih 'gelap,' maka animasinya pun lebih kasar nan brutal.

Justru, di film dari China ini lebih halus animasinya, dengan visual yang lebih cerah nan ciamik efeknya, serta pembawaan yang (mungkin) cocok untuk ditonton semua umur. Tokoh utamanya pun seorang anak kecil, yang baru saja belajar sebagai ahli beladiri 'dua dunia.'

Tentu, yang masih penasaran, perlu menonton film pertamanya di tahun 2019 lalu, yang dilanjutkan sebagai serial animasi berjudul The Legend of Luo Xiaohei. Dalam film pertamanya, Luo Xiaohei bahkan masih berbentuk arwah kucing, yang masih mencari jalan dalam menempatkan dirinya diantara dua dunia.

Sinopsis Film The Legend of Hei 2

Luo Xiaohei (Shan Xin) kini sudah menjadi murid dari Shifu Wuxian (Liu Mingyue). Hei sebagai nama panggilannya, kini memilih berbakti untuk menjaga perbatasan antar dua dunia, agar arwah atau manusia tidak saling menerobos.

Setelah sekian lama tanpa perkembangan berarti, Hei lalu diperkenalkan kepada Shiju Luye (Zhu Jing), yaitu murid Shifu sebelumnya. Ketiganya harus menyelidiki penyerangan di Serikat Liu Shi, yang dicurigai akibat manusia.

Tidak hanya mereka bertiga, Dewa Na Za pun tiba untuk membantu mereka dalam investigasinya. Namun, syaratnya adalah mengalahkan Na Za dalam sebuah video gim gelut, di kamarnya, yang tercolok pada sebuah konsol dan tv.

Dapatkah ketiganya menguak arti penyerangan di Liu Shi? Atau malah gagal mengalahkan Dewa Na Za dalam permainan gelutnya? Atau sebenarnya terdapat pihak lain yang membelot, sehingga Na Za perlu ikut turun membantu?

Jawabannya, dapat dicek di seluruh sinema Indonesia yang menayangkan film ini.

16 Oktober 2025

Beradu Keahlian Kungfu ala Novelis China di A Writer's Oddisey 2

 

Terasa Isekai di dunia novel (TMDB).

Film dari negara China pun kembali dengan aksi kungfu fantastisnya di film A Writer's Oddisey 2, saat pertengahan bulan Oktober ini di sinema Indonesia. Kali ini, mirip dengan karya ala Korea dan Jepang, A Writer/s Oddisey pun diadaptasi dari novel laris berjudul sama. 

Agak berbeda dengan film fantasi epik ala China, justru di film ini mengambil kisah isekai ala anime dari Jepang dan Korea (lagi). Tokoh utamanya sendiri adalah seorang novelis, yang terjebak di narasi karyanya sendiri.

Dalam film pertamanya, kisahnya lebih supernatural, dengan beberapa visual latar dari dunia nyata. Guan Ning (Lei Jiayin) adalah seorang pembunuh bayaran, yang disewa oleh seorang saudagar kaya untuk membasmi seorang penulis. Menurut sang klien, novel berjudul Membunuh Dewa tersebut merusak kesehatannya.

Padahal, novel itu sendiri memiliki kemampuan sakti yang aneh. Guan Ning sempat melihat banyak keanehan saat mengejar sang novelis Kongwen (Dong Zijian). Bahkan, Guan Ning terjebak pula di dunia novel tersebut bersama penulisnya.

Guan Ning yang sebenarnya ingin mempercepat misinya selesai pun terpaksa membantu Kongwen dalam menamatkan misi di dunia novel. Padahal, saat itu anaknya, Xiao Ju Zi (Wang Shengdi) yang masih kecil, hilang entah kemana dan Guan Ning perlu mencarinya.

Sayangnya, Guan Ning dan Kongwen harus menamatkan misi untuk membasmi pemimpin jahat bernama Raja Surai Merah, yang berkuasa di dunia novel dengan zalim dan totaliter.

Nah, mengacu ke film keduanya, cerita dari film pertamanya memang belum selesai. Kali ini, mereka bertempur langsung melawan Raja Surai Merah, dengan bantuan Xiao Ju Zi yang ternyata berada di dunia fantasi yang sama dan telah sakti mandraguna pula.

Jika misi mereka gagal, maka batas dimensi antara dunia nyata dan dunia fantasi novel akan terbuka lebar.  Terbukanya batas dunia fantasi dan nyata akan menyebabkan tercampur-aduknya kedua dimensi, sehingga kerusakan masif pun dipastikan terjadi.

Misi ketiga tokoh utama pun beralih, yang asalnya adalah menyelamatkan diri dari dunia fantasi nan brutal, menjadi mengamankan dunia nyata yang dapat terinvasi oleh pasukan monster Raja Surai Merah dari dunia novel.

9 Oktober 2025

Kembali Isekai di Dunia Digital Bernama Tron Ares

 

Ares yang tengah terbang tanpa arah antara dunia nyata dan maya (IMDB).

Satu film agak beda dari Hollywood sana, mengisahkan sebuah dunia digital agak isekai kembali dirilis di awal Oktober, yaitu berjudul Tron: AresFilm yang sedang tayang di sinema Indonesia ini adalah seri ketiga dari Tron, yang rilis pertamanya tahun 1982 lalu, dan sekuelnya berjudul Tron: Legacy pada tahun 2010.

Sungguh lama memang, karena Tron inspirasinya dimulai sejak 80an, yang jaraknya sekitar 20 tahun dari film dunia digital terkenal, yaitu trilogi The Matrix (1999, 2003, 2003). Waralaba The Matrix pun sempat dilanjutkan pada tahun 2021 lalu dengan sub judul Resurrections.

Nah, di dua film sebelumnya, kisah filmnya lebih mengisahkan dunia digital yang tumbuh sendiri, dan sangat terpisah dengan dunia nyata. Tokoh utamanya bahkan harus 'login' terlebih dahulu pada sebuah mesin aneh, dan menggunakan 'avatar' khusus dalam dunia Tron tersebut.

Sayangnya, kehadiran manusia tidak cukup lumrah di dalam Tron, sehingga tokoh utamanya harus berjibaku agar bisa selamat, walau kebanyakan sesi di dalam Tron adalah kompetisi 'gim' melawan penghuni aslinya. 

Terlihat dari cuplikan berbagai film Tron, visualnya memang ciamik, dan tidak hanya mengandalkan efek canggih saja. Visualnya dibuat abstrak, dengan warna-warni neon cyberpunk cerah diantara gelapnya dunia distopia Tron, sehingga terlihat kontras nan canggih.

Kembali ke Tron: Ares, kali ini filmnya justru tidak lagi mengisahkan manusia yang masuk ke dunia Tron. Terbalik, seorang avatar dari dunia Tron malah berhasil masuk ke dunia nyata, walau dipekerjakan sebagai pasukan keamanan.

Tokoh utamanya, Ares diperankan oleh seorang aktor ternama Jared Leto. Walau banyak fans tidak suka perannya sebagai Joker di Suicide Squad (2016), namun Leto dianggap sebagai aktor serba bisa dan sering memerankan karakter yang sulit di berbagai film, sejak dirinya mengisi film American Psycho (2000).

Sinopsis Film Tron: Ares

Ares (Jared Leto) adalah seorang pasukan di dunia Tron, yang memiliki kehidupan kedua. Dirinya sering 'dipanggil' ke dunia nyata, sebagai pasukan keamanan. 

Sayangnya, Ares tidak begitu dihargai, karena dianggap bukan manusia biasa. Dirinya dianggap 'Habis Manis Sepah Dibuang' alias setiap kali mati, dia langsung kembali ke dunia Tron. Ares memang termasuk mahluk abadi jika berada di dunia nyata, karena tiap kali dia mati, kesadaran dan tubuhnya tetap utuh di dunia Tron.

Namun, seluruh karakter di Tron memang dari sananya sudah sentien, alias sadar ala manusia biasa. Ares pun tidak ingin disamakan seperti barang sampah, sehingga dirinya memberontak dan mencari cara agar bisa 'hidup' sesuai takdirnya.

Dapatkah Ares berhasil mencapai tujuannya? Atau malah terjebak di dunia nyata dan dunia Tron yang tidak mengakui dirinya lagi?

Jawabannya dapat dicek di sinema Indonesia.

3 Oktober 2025

Keajaiban Alam Melawan Teknologi di Film Avatar The Way of Water

Anggota ras Na'vi yang sumringah bisa berenang bersama ikan kecil (IMDB).

Menyambut cuplikan terbaru film Avatar: Fire and Ash yang dirilis minggu kemarin,  film Avatar: The Way of Water (2022) dirilis ulang selama seminggu kedepan. Bagi yang belum sempat menontonnya, bisa berangkat ke sinema Indonesia atau setelahnya di layanan streaming Disney+.

Memang, Avatar (2009) adalah film animasi paling bersejarah di dunia, dengan pendapatan mencapai 2,9 Milyar AS, tertinggi dari seluruh sinema dunia. Selain itu, seri Avatar sering meraih nominasi Oscar dan memenangkan beberapa piala.

Gambarnya yang ciamik dengan efek visual yang mantap, sekaligus gerak animasi yang alami, karena hasil tangkapan gerak langsung dari aktor dan aktrisnya, menyebabkan banyak penggemar yang kagum atas karya James Cameron ini.

Tidak hanya dari segi visual, isi ceritanya pun cukup kuat, yaitu saat alam melawan balik invasi teknologi. Bulan Pandora sebagai latar filmnya, adalah lokasi rumah ras Na'vi, yang sangat indah nan mencengangkan kekayaan alamnya. Sehingga manusia yang ingin meraup sumber dayanya, harus melawan dengan kuat pula.

Bukan hanya konflik saja, namun selama durasi film, Avatar lebih mengisahkan kekayaan alam bulan Pandora. Berbagai siklus alam yang nampak 'alien' sungguh memberikan kesan hebat, bahwa alam haruslah dijaga sepenuhnya tanpa terjamah manusia yang kerap menganggu.

Memang, di bulan Pandora, ras Na'vi dan berbagai binatang serta tumbuhannya, menyatu dalam satu siklus ekosistem yang sama. Secara harfiah, seluruh mahluk di bulan Pandora terhubung satu sama lain, hingga tercipta budaya alami yang berbeda dengan bumi. 

Tokoh utamanya pun bukan hanya dari kubu Na'vi saja, melainkan sinkronisasi antara manusia dan ras berkulit biru ini. Jake (Sam Worthington) adalah seorang veteran perang, yang lumpuh akibat konflik berkepanjangan.

Jake bersama tim peneliti yang dipimpin Kiri (Sigourney Weaver), mencoba masuk ke pemukiman suku pribumi Bulan Pandora. Mereka menyisipkan kesadaran manusia pada tubuh kloning ras Na'vi, yang programnya disebut sebagai Avatar.

Jake dan Kiri yang semakin kagum atas ekosistem dan siklus alam di bulan Pandora, malah berubah pandangan. Mereka tidak ingin alam dan mahluk apapun di dalamnya, terganggu sama sekali oleh manusia. 

Jake yang mengetahui sistem persenjataan manusia pun memimpin taktik untuk melawan balik invasi manusia. Jake melawan manusia dengan menunggangi naga terbang miliknya, bahkan setelah kesadaran dirinya dicabut oleh komandan invasi.

Nah, di film Avatar: Way of Water yang sempat memenangkan Visual Terbaik dari Oscar tahun 2023 lalu, Jake telah tinggal di Bulan Pandora selama lebih dari satu dekade, bersama keluarganya dari ras Na'vi. 

Berbagai petualangan serta lokasi hunian keluarganya telah Jake lalui, yang semakin kagum dengan kekayaan alam dan budaya di bulan Pandora. 

Bersama istrinya bernama Neytiri (Zoe Saldana), Jake kini tengah hidup bersama suku Na'vi yang tinggal di pesisir pantai. Suku ini memiliki budaya berbeda dengan suku asli Neytiri, yang tinggal di atas pohon tertinggi dan terbang bersama naga. 

Sayangnya, setelah mendengar kabar dari Kiri, manusia akan kembali menyusup di bulan Pandora. Jake pun harus berjibaku melawan manusia lagi, sementara kisahnya berlanjut di film Avatar: Fire and Ash, yang akan tayang bulan Desember mendatang. 

Seri film Avatar ini memang pengingat, bahwa manusia tidak bisa hidup dengan melawan alamnya sendiri. Bahkan semakin dijarah, alam akan melawan balik dengan bencananya. Sementara itu, alam akan pulih dengan sendirinya, walau membutuhkan waktu yang lama.

Di lain sisi, bencana yang menerjang manusia serta mahluk lain, bahkan hingga punah, hanyalah siklus kecil dari milyaran tahun sejarah sebuah planet.

16 September 2025

Teman Conan yang Sama Barbarnya di Film Red Sonja

 

Sonja yang semakin memerah saat menembak panah (IMDB).

Akhirnya, tiba juga kisah epik fantasi dari ranah dunia sana, berjudul Red Sonja, di bulan September ini. Red Sonja adalah karakter dari Conan the Barbarian, yang berlatar di benua fantasi Hyborian dengan aturan main Sword and Sorcery.

Robert E. Howard adalah penulis orisinal kisah Jaman Hyborian ini, pada tahun 1932 lalu. Kisah Conan bahkan bareng dengan epiknya Lord of The Rings, yang lebih mengisahkan perang mitologi di dunia fantasi.

Namun, tidak seperti banyak karakter utama politikus yang culas, licik, jago bersilat lidah, psikopat, dan vampir kesiangan dari Game of Thrones, Conan justru seorang pendekar yang khas dengan pedang besarnya. 

Sebelumnya, kisah Conan sempat diadaptasi Hollywood pada tahun 1982 lalu, berjudul Conan the Barbarian yang diperankan oleh aktor kawakan Arnold Schwarzenegger. Filmnya pun sempat direka ulang pada tahun 2011 lalu, yang diperankan oleh Jason Momoa.

Nah, sebenarnya film Red Sonja tahun 2025 ini adalah bagian dari film Conan The Barbarian tahun 2011 lalu, namun karena kurang laku di sinema, sehingga produksi Red Sonja pun ditunda hingga sekarang. Belum ada kabar bahwa Jason Momoa akan muncul sebagai cameo di film ini, karena berasal dari studio yang sama.

Red Sonja sendiri aslinya karakter hasil ciptaan penulis Robert E. Howard pada tahun 1934 lalu, yang akhirnya populer sebagai satu dari beberapa karakter utama di seri Conan the Barbarian miliknya.

Walau kisah Conan the Barbarian akhirnya diadaptasi oleh komik Marvel yang semakin isekai saja, kisah film Conan tahun 2011 dan Red Sonja tahun 2025 ini mengacu pada karya orisinal Robert E. Howard.

Studionya pun berbeda, yaitu Millenium Media yang dipremierkan oleh Samuel Goldwyn Films. Bahkan, walau aslinya karakter ini adalah hasil karya Amerika, filmnya dirilis pertama kali di Rusia terlebih dahulu (!)

Sinopsis Film Red Sonja

Sonja (Matilda Lutz) adalah seorang pendekar desa Hyrkania yang tak kenal takut. Saat desanya diserang suku barbarian, Sonja melawan balik dengan hebat, walau akhirnya terpaksa melarikan diri ke hutan dan hidup sebagai pemburu, sambil menyembah dewi hutan Ashera.

Bertahun-tahun berlalu, Sonja terpancing emosinya saat pasukan bayaran dari Dragan menginvasi hutannya, dan memburu liar binatang eksotis sebagai persembahan raja. 

Sonja yang akhirnya kalah dalam satu pertarungan, diculik ke ibukota kerajaan Dragan dan dipersembahkan sebagai petarung arena gladiator. Raja Dragan (Robert Sheehan) berhasil mengecek latar belakang Sonja, sebagai bagian dari suku Hyrkania terdahulu. 

Raja Dragan percaya, bahwa Sonja memiliki setengah bagian peta yang dibutuhkannya. Hanya dengan setengah manuskrip sekaligus peta miliknya, Dragan berhasil melindungi kerajaan dengan energi magisnya. 

Kisah Sonja yang awalnya bertahan hidup sebagai pejuang saja, berakhir perang besar yang dapat merubah nasib satu kerajaan.

28 Agustus 2025

Suami-Istri Isekai Jepang yang Tertukar Peran di Film Shiranai Kanojo

Riku dan Minami saat masih hangat-hangatnya (TMDB).

Di bulan kemerdekaan ini, saat Indonesia tengah merayakan hari jadi ke 80-nya, kita masih mendalami sulitnya menapaki hidup sebagai warga negara berkembang. Umur negara kita memang masih terbilang 'muda.'

Internet Saat Ini

Mengacu pada umur muda, jaman generasi milenial hingga gen-z saat ini, dimana internet adalah keseharian yang dilalui, dan bahkan dibutuhkan dari banyak segi formal. Maka, literasi internet sudah sangat tinggi sekali di Indonesia.

Tidak hanya literasi internet yang cukup kuat, buktinya pengguna internet aktif Indonesia sangatlah banyak, dengan pencapaian rekor dunia sebagai negara paling banyak komentar sedunia!

Berarti generasi saat ini dari Indonesia tengah ekspresif, dan sangatlah terbuka dalam mengemukakan karakternya. Dengan terpaan berita dan pemerintah yang sering memancing, kedewasaan menyikapi media dan peran generasi muda sekarang sudah dapat diandalkan, bahkan melebihi banyak generasi sebelumnya.

Walau dunia musik agak berkurang secara 'mainstream,' justru dari segi internet para kreator seni masih aktif berkreasi dengan sangat menarik, hingga kini dan semoga mendatang.

Film Shiranai Kanojo dan Aktor-Aktrisnya

Nah, kisah para seniman kini coba diangkat oleh film berjudul Shiranai Kanojo, atau My Beloved Stranger. Film ini berasal dari Jepang, yang kebetulan sempat sekalian 'berperan' pula saat kemerdekaan kita 80 tahun lalu.

Nah, di film Shiranai Kanojo, para penggemar lagu pop Jepang (J-Pop) pasti kenal dengan pemerannya. Milet alias Miro Kamishiraishi, adalah pemeran utama wanitanya, sebagai Minami Maezono. Milet mengisi bersama aktor Kento Nakajima yang berperan sebagai suaminya, yaitu Riku Kambayashi.

Kemampuan Milet sebagai penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi, tampaknya mencari tantangan baru di film ini. Mengisi filmnya dengan musik latar berjudul 'I Still,' Milet pun masih berperan langsung di filmnya sendiri. Kento Nakajima sebagai lawan mainnya adalah seniman lengkap lainnya, yang berkecimpung pula sebagai penyanyi, aktor, dan pengisi suara di ranah hiburan Jepang.

Sebelumnya, Milet sempat naik pamor di seluruh dunia, sebagai pelantun lagu utama pada anime Frieren: Beyond Journey's End. Anime ini memang sempat viral sedunia pula, dengan latar ceritanya yang berbeda.

Frieren berlatar cerita epilog dari sebuah kisah fantasi epik, yang telah terlewati 50 tahun lamanya. Anime ini tampaknya menjadi sebuah pengingat, bahwa masa sulit sebenarnya telah terlewati. Hanya tersisa perjuangan sehari-hari, yang memang perlu dibereskan dengan baik dan benar.

Nah, kembali ke film Shiranai Kanojo, tampaknya perlu ditelaah kembali dari segi karakternya. Karena Manami adalah seorang penyanyi panggung, sementara Riku adalah seorang novelis. 

Melihat sisi latar keduanya, yang perlu sangat ekspresif dalam pekerjaannya, sangatlah nyambung dengan jaman media sosial sekarang. Banyak warga biasa yang sering bermain peran di media sosialnya sendiri (atau bahkan dunia nyata), padahal tidak bekerja sebagai streamer, vtuber, atau kreator konten.

Peran tersebut tentu ada baik-buruknya, karena masalah pribadi tetaplah dibatasi aturan privasi tersendiri. Jika para kreator mengalami tahap khusus untuk mendalami perannya sendiri sebagai profesional, nah bagaimana dengan amatir yang suka berperan? Itulah sebuah pertimbangan khusus di jaman media sosial ini.

Dilihat dari cuplikannya, film Shiranai Kanojo tampaknya akan mengisahkan jalinan kedua profesional ekspresif, yang mengalami masalah dalam hubungan mereka sebagai suami-istri. 

Fiktif, tetapi seperti guru SMA terdahulu sempat bilang, bahwa fiksi adalah contoh skenario yang mungkin terjadi. Bukanlah berarti contoh yang perlu diikuti, dan hanya perlu diwaspadai.

Nah, yang terpenting adalah mengisi satu sama lainnya. Makanya coba kita cek sinopsis film untuk menemukan kembali cinta dalam diri ini ya...

Sinopsis Film Shiranai Kanojo

Riku Kambayashi (Kento Nakajima) adalah seorang mahasiswa yang bercita-cita sebagai penulis novel. Sementara Minami Maezeono (Milet) adalah mahasiswi yang bercita-cita sebagai penyanyi.  Keduanya ingin sukses dan terkenal, dalam bidangnya masing-masing.

Keduanya bertemu saat masih kuliah, dan saling jatuh cinta saat pandangan pertama, lalu kedua, hingga ketiga, dan seringkali berikutnya, hingga akhirnya memutuskan menikah saat masih mendalami ilmu di universitas.

Beberapa tahun terlampaui, dan sekarang, Riku telah berhasil menjadi seorang penulis terkenal, yang novelnya laris di pasar literasi. Sementara Minami belum mencapai mimpinya sebagai penyanyi terkenal, dan hanya mengisi harian saja di beberapa kafe musik. Minami kini merasa kurang nyambung dengan suaminya sendiri, yang memang tengah sibuk dengan pekerjaannya sebagai penulis.

Suatu hari, sebuah komentar dari Riku sempat memicu pertengkaran keduanya. Keesokan harinya, tiba-tiba dunia terbalik. Riku yang merasa 'isekai,' menemukan dirinya adalah seorang jomblo yang bekerja sebagai editor, dan bukannya penulis novel terkenal. Sementara Minami kini telah sukses, sebagai bintang penyanyi pop di Jepang.

Riku yang penasaran coba mengikuti Minami ke lokasi premier untuk bertemu langsung dengan Minami, namun justru sang istri sudah tidak mengenalinya lagi. Tampaknya dunia memang terbalik, dan temannya yang langsung jengah atas teori 'multiverse' ala Riku, bahkan mengingatkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa di dunia ini, khususnya pada Minami.

Riku yang masih penasaran bahkan menguntit ke rumah Minami, bahkan hingga sempat mengobrol dengan neneknya. Saat pulang, Minami yang panik melihat Riku, lalu mengusir dan akan melaporkannya kepada polisi. Namun, neneknya justru mengingatkan, bahwa Riku berperan penting bagi mereka berdua.

Riku bahkan nekat hingga mengajak kencan Minami, yang notabene adalah seorang bintang terkenal di Jepang. Apakah Riku perlu kembali ke dunianya lagi dengan Minami yang masih sama? Atau dirinya malah betah dengan Minami yang sudah menjadi bintang sekarang?

Coba cek jawabannya di film Shiranai Kanojo alias My Beloved Stranger, yang kini tengah tayang di banyak romansa sinema Indonesia.

31 Juli 2025

Film Ramalan Kiamat ala Korea, Omniscient Reader: The Prophecy

 

Dok-ja yang merasa sudah veteran di dunia fantasi (IMDB).

Para penggemar film Korea Selatan dan Manhwa ala Webnovel, tampaknya kini lagi dimanja. Pada bulan Agustus tahun 2025 ini, dirilis pula film diadaptasi dari Webnovel terkenal, Omniscient Reader: The Propechy

Walau begitu, karena perbedaan media dan teknis produksinya, maka cerita filmnya tidak akan se-otentik novelnya. Termasuk naskah yang diangkat, dan karakter banyak tokohnya.

Bagi yang suka musik Korea Selatan, mungkin akan tertarik karena kehadiran Kim Jisoo di film ini, yang merupakan salah seorang anggota grup musik Blackpink.

Nah, untuk film Omniscient Reader ini, mengisahkan sebuah ramalan maut yang menjadi kenyataan. Seluruh tantangan yang berada dalam dunia nyata, adalah hasil referensi sebuah novel fiksi.

Dari cuplikannya, bisa dilihat banyak adegan aksi gelut, yang diantaranya melawan kawanan monster berukuran variatif. Mulai dari monster sebesar jembatan layang antar pulau, hingga monster kecil lincah di terowongan rel kereta api.

Jika dilihat dari segi kisahnya, tampaknya memang sebuah visi dan misi penulis novel yang nyeleneh. Karyanya ditujukan bukan untuk terkenal atau laku, dan malah membuat sebuah ramalan heboh, yang mungkin terjadi di dunia nyata. 

Hal konspiratif tersebut biasanya dilaksanakan oleh aparat tertentu, yang berfungsi sebagai kendali pikiran masyarakatnya. Standarnya, justru aparat dan media, bertanggungjawab sebagai penyaring informasi, agar salah persepsi dan kepanikan masal tidak terjadi di kalangan masyarakat.

Sinopsis Omniscient Reader: The Prophecy

Kisah ini diawali oleh Kim Dok-ja (Ahn Hyo-seop), seorang pegawai kantoran, yang sangat suka sekali membaca novel daring, berjudul Three Ways to Survive the Apocalypse (TWSA). Saking keranjingannya, Dok-ja bahkan sempat membacanya saat dia tengah menaiki kereta api, untuk pergi atau pulang bekerja.

Dalam novel tersebut, banyak tantangan yang perlu diselesaikan oleh tokoh utamanya, agar dapat menghindari kebinasaan manusia dari muka bumi. Walau webnovel tersebut cukup meyakinkan, namun ternyata pembacanya hanya sedikit. Dok-ja adalah pembaca terakhir dan satu-satunya novel tersebut, tepat saat rilis bab akhir dan seluruh jalan ceritanya diakhiri, alias tamat.

Namun, tepat saat novelnya berakhir, Dok-ja terkejut akan tibanya mahluk aneh di dalam gerbong kereta api. Mahluk tersebut berbentuk hologram, yang meminta misi aneh bagi seluruh penumpang. Dok-ja yang heran, hanya bisa mengingat bahwa misi tersebut mirip dengan misi pertama di novel TWSA. 

Walau kurang memahami maksud misi tersebut, namun seisi penumpang gerbong malah panik, dan saling membantai satu sama lain. Misinya adalah setiap orang yang ingin selamat, harus membunuh satu organisme apapun di sekitarnya dalam kurun waktu tertentu. 

Dok-ja yang selamat, setelahnya malah makin sulit dalam bertahan hidup. Karena misi berikutnya semakin kompleks, sementara yang bertahan hidup semakin brutal dalam menyelesaikannya.Kehadiran banyak monster, dari yang berukuran raksasa hingga kecil, tambah mempersulit perjuangan Dok-ja. 

Sanggupkah Dok-ja dengan beberapa penyintas lainnya selamat hingga akhir? Atau malah berinisiatif untuk merubah jalur cerita dan mengakhirinya dengan karya tulisan sendiri?

Jawabannya, ada di naratif interaktif ala sinema Indonesia.

Film Animasi Anak, Bad Guys 2

 

Sekawanan hewan kelas kakap (TMDB).

Film animasi anak jarang yang mengambil tema berat, apalagi dengan aksi yang kuat. Namun, ciri khas tersebut tidak berlaku bagi film Bad Guys 2, yang kini tengah tayang di sinema-sinema Indonesia.

Berbeda dengan animasi anak lain yang bertema fantasi di dunia dongeng ala Disney, atau mengisahkan sebuah petualangan hebat ala Pixar, Bad Guys 2 dari Universal Pictures justru mengisahkan dunia modern, yang diisi oleh banyak karakter binatang (ala Fabel). 

Karakter utamanyanya walaupun lucu, tetapi dasarnya tetap saja hewan beringas, yaitu seekor hiu, serigala, piranha, ular, dan tarantula. Berbeda dengan film pertamanya, kelima sekawan ini bertobat, dengan mengambil jalan yang benar.

Bad Guys 2 sebenarnya adalah seri buku terkenal hasil karya Aaron Blabey. Buku ini sempat naik kembali pamornya saat masih terjual 8 juta jilid, menjadi 30 juta setelah perilisan film pertamanya, tahun 2022 lalu. 

Tidak hanya bukunya yang pamor, pengisi suara Bad Guys di film ini pun sangat berbakat. Diantaranya adalah Sam Rockwell sebagai Mr. Wolf, seorang pemenang Oscar di ajang Academy Awards. Marc Maron yang sempat menjadi nominasi SAG Award pun mengisi Mr. Snake.

Craig Robinson adalah salah satu peserta nominasi di ajang SAG Award, yang mengisi suara Mr. Shark. Anthony Ramos sebagai pengisi suara Mr. Piranha, adalahpemenang ajang Grammy. Terakhir adalah pemenang Emmy bernama Awkwafina, berperan sebagai pengisi suara Ms. Tarantula.

Tidak hanya karakter utamanya yang diisi para pengisi suara berbakat, bahkan tokoh pendukung antagonisnya, Bad Girls, pun didukung oleh talenta terkenal. Danielle Brooks adalah seorang pemenang Oscar, yang mengisi suara Kitty Kat. Maria Bakalova sempat menjadi nominasi Oscar, dan berperan sebagai Pigtail. Terakhir adalah pemenang Emmy Natasha Lyonne, sebagai pengisi suara Doom.

Sinopsis Film Bad Guys 2

Kali ini kelima sekawan Bad Guys, tengah bertobat dari jalannya yang kurang benar. Sebelumnya, hidup mereka penuh lika-liku kriminalitas yang merugikan banyak orang.

Kelimanya mencoba untuk mencari pekerjaan baru yang halal. Namun, identitas mereka yang terkenal, banyak pemberi lowongan kerja malah menolaknya. Alasannya sangat jelas, bahwa mereka memiliki catatan kriminal yang banyak.

Dengan motivasi tersebut, ternyata cobaan lain tiba dengan terbaliknya kembali jalan mereka. Kelima sekawan tersebut diculik oleh Bad Girls, yaitu kelompok penjahat yang beranggotakan tiga wanita.

Bad Guys diancam untuk menjalankan sebuah misi kejahatan lainnya. Kali ini, targetnya adalah sebuah roket antariksa. Walau menyatakan setuju atas rencana Bad Girls, para Bad Guys hanya ingin dilepaskan saja dari kekangan. 

Niat baik mereka pun tetap terjaga, karena Bad Guys akan mensabotase misi dari Bad Girls. Jika berhasil, maka Bad Guys akan menggagalkan misi jahat Bad Girls, sekaligus mendapatkan kesan baik dari seantero masyarakat.

Dilansir dari YouTube dengan cuplikannya, Bad Guys 2 ini memiliki banyak adegan aksi dengan tingkah lucu dari para karakternya, ala sinema Indonesia.

24 Juli 2025

Film Henshin, Ultraman Arc The Movie: The Clash of Light and Evil

 

Ultraman Arc (IMDB).

Tampaknya bukan hanya studio Marvel dari Amerika Serikat yang menelurkan film berjibaku dengan raksasa, di minggu terakhir Juli 2025 ini, di berbagai lokasi perlindungan kaiju sinema Indonesia.

Jepang dengan film henshin ala Ultraman, kini meramaikan tema kaiju-nya bersama sinema Indonesia. Setelah setahun penuh penayangan serial televisinya, Ultraman Arc merilis film bersub-judul, The Clash of Light and Evil.

Sebelumnya saat beberapa minggu lalu, tema kaiju dengan pasukan pertahanan manusia, sempat diisi pula oleh sebuah film. Kaiju No. 8 adalah anime tersebut, dimana tokoh utamanya justru seorang monster henshin.

Serial Televisi Ultraman Arc: The Clash of Light and Evil  

Sebelum menonton film-nya, ada baiknya dicek terlebih dahulu kisah Ultraman Arc dari serial televisinya, yang sudah mencapai 26 episode sejak penayangannya di tahun 2024 hingga 2025 ini (IMDB).

Latar belakangnya berada di kota Hoshimoto, yang dikenal dengan sebuah menara raksasa di Gunung Shishio. Menara ini bernama 'Monohorn', yang aslinya adalah tanduk kaiju, dan tertancap di tanah akibat insiden 16 tahun lalu.

Sejak insiden kemunculan kaiju di seluruh dunia, bencana ini lalu disebut sebagai 'K-Day'. Insiden kaiju lalu menciptakan pula inisiatif Pasukan Pertahanan Global (GDF). Bekerja bersama GDF, Pusat Ilmiah Investigasi dan Pencegahan Kaiju (SKIP), didirikan pula sebagai tim pendukung di belakang garis pertahanan bumi.

Yuma Hize (Yuki Totsuka) baru berumur tujuh tahun saat Monogelos, kaiju pemilik asli tanduk Monohorn, muncul di Gunung Shishio. Yuma selamat saat K-Day, padahal dirinya sedang berkemah di gunung tersebut. 

Sebagai penyintas yang selamat, Yuma lalu bertekad untuk belajar bentuk biologis kaiju, yang memberi jalan bagi dirinya untuk bekerja di SKIP. Kebetulan, dia ditempatkan bekerja di kota Hoshimoto, setelah diterima oleh SKIP. Monohorn pun menjadi sampel utama penelitian Yuma setiap harinya.

Selang beberapa lama, serangan kaiju pun muncul di kota Hoshimoto. Yuma yang melihat kesulitan para warga kota, lalu bertekad bahwa dirinya ingin melindungi mereka. Saat itulah, Yuma mendengar suara Rution, sebuah penjelmaan cahaya yang sempat dia lihat pas selamat dari K-Day masa kecilnya. Ruiton berkata bahwa semangat diri mereka sama, yaitu bermimpi agar semua selamat nan damai. 

Sebuah cahaya lalu muncul menyelimuti tubuh Yuma, dan merubahnya menjadi Ultraman Arc. Yuma lalu menggunakan kekuatan Ultraman, untuk melindungi seluruh teman-temannya di SKIP dan GDF, sekaligus warga kota Hoshimoto.

Sinopsis Film Ultraman Arc The Movie: The Clash of Light and Evil

Filmnya kali ini mengisahkan percobaan terakhir yang dialami Yuma dan Ultraman. Yuma mengalami masalah hebat, karena ada kemungkinan dirinya kehilangan kekuatan Ultraman. Tidak hanya itu, muncul sesosok lain yang membahayakan kota Hoshimoto. 

Seekor monter berhasil menerobos masuk markas SKIP, yang tiba-tiba muncul sosok Ultraman lainnya. Ultraman ini berwarna hitam, dan tidak seperti Arc, justru berniat jahat. Tidak ingin kotanya hancur, dan ragu akan kehilangan kemampuan Ultraman-nya, Yuma pun harus berjibaku demi menjaga kedamaian bumi.

Dilihat sekilas dari cuplikannya, tampaknya film Ultraman Arc ini mengikuti jejak Doraemon, yang dirilis minggu lalu. Tidak terlihat efek 3D CGI yang berlebihan, dengan peran manusia dibalik kostum Ultraman dan monsternya. Studio perfilman Jepang, kayaknya beralih menggunakan teknik klasik lagi, untuk banyak jenis filmnya.

Film Terbaru Marvel, Fantastic Four: The First Steps

 

Panas juga ini kostum super (IMDB).

Marvel akhirnya menelurkan kembali film layar lebar di tahun 2025 ini, yang mengisahkan pahlawan super lama namun terasa baru, yaitu Fantastic 4: The First Steps

Berbeda dengan banyak film Marvel lainnya, Fantastic Four tahun 2025 ini adalah reka ulang film sebelumnya. Tahun 2005 dan 2007 lalu, film Fantastic Four masih dimiliki oleh studio 20th Century Fox, dan bukannya Marvel Cinematic Universe. 

Bahkan, Fox masih penasaran dengan waralaba ini, dengan menelurkan film Fantastic Four lainnya pada tahun 2015 lalu. Selang satu dekade lamanya, akhirnya Marvel sanggup merilis film bertemakan keempat astronot ini.

Fantastic Four: The First Steps kini telah tayang dibanyak sinema pahlawan super Indonesia. Bagi yang mengenal Pedro Pascal di film ini, seperti di lansir dari IMDB, aktor ini baru saja berperan di serial televisi terkenal, yaitu The Last of Us: Season 2.

Anggota Fantastic Four

Keempat anggota F4 berkarir menjadi pahlawan super, setelah kecelakaan di satelit luar angkasa. Kecelakaan kosmik saat misi antariksa, menyebabkan keempat sekawan ini berubah tubuhnya, dengan keahlian unik yang berbeda.

Pertama adalah Reed Richards, seorang jenius yang tubuhnya berubah sangat lentur. Istrinya, Sue Storm, memiliki kemampuan menghilang dan menciptakan perisai tembus pandang. 

Ben Grimm berubah seluruh bagian tubuhnya menjadi batu, namun fisiknya sekuat Hulk. Sementara saudara Sue, Johnny Storm, dapat merubah tubuhnya menjadi api dan terbang.

Karena kecelakaan dan perubahan mereka diberitakan umum, identitas asli dari seluruh anggota Fantastic Four telah dikenal oleh seluruh warga bumi. Nama alias mereka pun khas, yaitu Mr. Fantasic, Invisible Woman, The Thing, dan Human Torch. 

Terdapat satu anggota lainnya, yaitu Victor von Doom, yang memiliki kemampuan lengkap, dan dikenal sebagai Dr. Doom. Berbeda dengan keempat temannya yang memilih jalan baik, Doom memilih menjadi jahat, demi menghalau bencana yang lebih besar dari antariksa (seperti Thanos dan Galactus).

Sinopsis Film Fantastic Four: The First Steps

Dengan latar belakang tahun 1960-an, seluruh anggota Fantastic Four, diantaranya adalah Reed Richards (Pedro Pascal), Sue Storm (Vanessa Kirby), Ben Grimm (Ebon Moss-Bachrach), dan Johnny Storm (Joseph Quinn), hidup layaknya selebritas. 

Mereka dikenal sebagai pahlawan super yang baik, dan membuat aman bumi. Setelah tidak lama ada kabar dari Dr. Doom, yang sempat mereka kalahkan, hidup mereka tampaknya akan normal. Reed dan Sue bahkan kini tengah memulai jenjang baru, dengan mengasuh anak pertama mereka.

Namun, kehadiran Silver Surfer (Julia Garner) sebagai pemberi pesan, menyulut kembali aksi pahlawan super keempat anggota Fantastic Four. Silver Surfer mengancam, bahwa Galactus (Ralph Ineson) akan tiba di bumi, dan 'menelan' seluruh isi planet. 

Fantastic Four pun harus berjibaku kembali, dengan berjuang menghalau tibanya Galactus di bumi, sekaligus mengalahkan Silver Surfer sebagai anak buahnya.