![]() |
| Mabel yang merasa berang (IMDB). |
Berikutnya adalah kombinasi tiga film untuk anak dan remaja dari luar negeri sana, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang. Judul pertama adalah Hoppers, yaitu animasi untuk anak-anak karena memiliki rating Semua Umur (SU).
Hoppers yang diproduksi oleh Disney dan Pixar ini tampaknya aman untuk ditonton dan dikonsumsi, tanpa ada istilah aneh ala Jomok dan Boti, yang kini sedang ramai sebagai meme di Inet.
Penelitian Hewan Antromorfik
Daripada membahas yang tidak-tidak, maka cek bagaimana film ini menyajikan satu topik penting dalam masalah lingkungan alam. Tentu, anak hingga dewasa perlu mengerti tentang pentingnya alam liar, serta siklus ekosistemnya. Seperti disajikan dalam artikel sebelumnya di SpongeBob, anak bisa dikenalkan dan diberi imajinasi berlebih, tanpa perlu menggurui. Media film seperti ini cocok agar anak lebih mudah terpapar wacana melindungi alam.
Film ini (tampaknya) mengacu pada penelitian yang dilaksanakan oleh banyak ilmuwan saat ini. Terlihat di cuplikannya, seorang remaja berhasil memasukkkan isi kesadarannya, pada seekor robot berang-berang. Sebenarnya penelitian seperti ini sudah sering dilaksanakan, tentunya tanpa metode fantastis semacam ini.
Banyak ilmuwan saat ini menggunakan robot atau boneka, yang disimpan di sekitar sarang hewan liar. Contoh paling kentaranya adalah robot primata (gorila dan simpanse) atau monyet, yang didekatkan dengan bayi atau anak hewan targetnya. Dalam boneka tersembunyi pula kamera perekam, yang terhubung jarak jauh dengan peneliti. Tujuannya adalah mengecek interaksi sosial antara kawanan hewan, dengan benda yang memiliki bentuk dan bergerak mirip mereka.
Kawanan hewan cukup tertarik, dan berinteraksi dengan boneka tersebut. Apalagi dari sudut pandang anak-anak, maka hewan mengganggap boneka sebagai bagian dari kawanan. Boneka memang hanya sedikit bergerak, tanpa banyak memberi respon kepada kawanan hewan. Namun, para hewan masih santai dalam menanggapinya.
Sesuai dengan tujuan penelitian, boneka hewan antromorfik ini memang didesain untuk memicu emosi hewan yang ditargetnya. Karena itu, penerimaan hewan pada boneka, bisa dianggap sebagai pemicu emosional. Hewan akan penasaran, menerima, dan berlaku baik pada anggota yang belum mereka kenal, asal masih berusia anak-anak.
Bahkan pada akhir penelitian, saat boneka telah kehabisan baterai dan berhenti bergerak, muncul sisi emosional lain dari para hewan. Banyak hewan anak-anak hingga dewasa, mengerumuni boneka tersebut. Mereka menganggap boneka telah meninggal, dan ikut berkabung. Walau mereka masih heran siapa boneka tersebut, namun sisi emosional terlihat kentara dalam rekaman penelitian.
Hewan dengan tingkat sosial yang kompleks, memiliki sisi emosional yang tinggi pula. Penelitian dianggap berhasil, dengan mengacu pada sisi hewaniah, yang ternyata sangat mendalam dari segi kekerabatan dan emosi kawanannya.
Bagi yang perlu referensi semacam ini, dapat ditonton di berbagai kanal YouTube mengenai kisah hewan dan robotnya. Konten yang pernah penulis tonton di berbagai kanal sains, diantaranya adalah gorilla, simpanse, dan monyet.
Nah, bagaimana film Hoppers ini menggambarkan penelitian tersebut? Tentu lebih fantastis dengan gambar animasi yang lebih ciamik, ala karya Disney dan Pixar.
Sinopsis Film Hoppers
Mabel (Piper Curda) adalah seorang remaja yang sangat menyukai hewan. Saking menyukainya, dia selalu membawa boneka robot berang-berang miliknya, dimana pun berada.
Suatu hari, profesor Dr. Sam (Kathy Najimi) sebagai dosennya, meminta Mabel untuk mengikuti sebuah eksperimen. Dr. Sam mencoba memasukkan kesadaran manusia ke dalam robot. Tujuannya adalah meneliti langsung kawanan hewan di alam liar, tanpa perlu bersusah payah menyelinap dan memakai kostum binatang.
Penelitian pun berhasil, sehingga Mabel bisa pergi ke alam liar, dan langsung diterima sebagai bagian dari mereka. Tidak hanya berbentuk berang-berang, Mabel ternyata sanggup memahami bahasa para binatang.
Hingga suatu masalah terjadi, akibat pengembangan lahan di sekitar lingkungan alamnya. Mabel dan banyak kawanan binatang, tidak rela rumah mereka tergusur oleh manusia. Mabel berinisiatif untuk melawan balik, yang diterima tidak baik oleh para sesepuh binatang. Mereka akan membasmi para manusia, dengan berbagai cara. Mabel pun panik, dan mencari jalur damai bagi kedua pihak.
Sanggupkah Mabel menyelamatkan manusia dan binatang sekaligus? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.

















