![]() |
| Hei dan Shifu Wuxian yang sedang jajan es krim (TMDB). |
Okeh, saatnya kembali ke film dari negara Tiongkok China, alias negara tirai bambu, yang kali ini berjudul The Legend of Hei 2. Film yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, berformat animasi dua dimensi, berbeda dengan kebanyakan film saat ini (selain anime).
Setelah kesuksesan film Ne Zha 2 menjadi film animasi terbesar sepanjang masa, sineas perfilman China tampaknya melanjutkan animo tersebut di film The Legend of Hei 2.
Semangatnya pun masih sama, yaitu menceritakan kisah kungfu fantastis ala China, yang berbumbu mitologi dari sana. Dari cuplikannya, terlihat bahwa para karakternya bukanlah ahli beladiri biasa, melainkan penghubung antara dunia arwah dan manusia.
Dilirik sekilas, maka animo film The Legend of Hei justru lebih mirip film Panji Tengkorak dari Indonesia, yang lebih mengisahkan kekisruhan beladiri antar dua dunia. Tentu, karena film Panji lebih 'gelap,' maka animasinya pun lebih kasar nan brutal.
Justru, di film dari China ini lebih halus animasinya, dengan visual yang lebih cerah nan ciamik efeknya, serta pembawaan yang (mungkin) cocok untuk ditonton semua umur. Tokoh utamanya pun seorang anak kecil, yang baru saja belajar sebagai ahli beladiri 'dua dunia.'
Tentu, yang masih penasaran, perlu menonton film pertamanya di tahun 2019 lalu, yang dilanjutkan sebagai serial animasi berjudul The Legend of Luo Xiaohei. Dalam film pertamanya, Luo Xiaohei bahkan masih berbentuk arwah kucing, yang masih mencari jalan dalam menempatkan dirinya diantara dua dunia.
Sinopsis Film The Legend of Hei 2
Luo Xiaohei (Shan Xin) kini sudah menjadi murid dari Shifu Wuxian (Liu Mingyue). Hei sebagai nama panggilannya, kini memilih berbakti untuk menjaga perbatasan antar dua dunia, agar arwah atau manusia tidak saling menerobos.
Setelah sekian lama tanpa perkembangan berarti, Hei lalu diperkenalkan kepada Shiju Luye (Zhu Jing), yaitu murid Shifu sebelumnya. Ketiganya harus menyelidiki penyerangan di Serikat Liu Shi, yang dicurigai akibat manusia.
Tidak hanya mereka bertiga, Dewa Na Za pun tiba untuk membantu mereka dalam investigasinya. Namun, syaratnya adalah mengalahkan Na Za dalam sebuah video gim gelut, di kamarnya, yang tercolok pada sebuah konsol dan tv.
Dapatkah ketiganya menguak arti penyerangan di Liu Shi? Atau malah gagal mengalahkan Dewa Na Za dalam permainan gelutnya? Atau sebenarnya terdapat pihak lain yang membelot, sehingga Na Za perlu ikut turun membantu?
Jawabannya, dapat dicek di seluruh sinema Indonesia yang menayangkan film ini.








0 comments:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.