![]() |
| Raka yang sudah siap habis demi keadilan (TMDB). |
Okeh, saatnya film Indonesia yang mengadaptasi sebuah kisah berat nan sulit, yaitu tentang hukum di negara tercinta, dengan film berjudul Keadilan, yang sedang tayang di banyak sinema.
Mungkin penulis kurang ngeuh (ngerti) tentang urusan hukum, tetapi jelas memang, tetap memantau masalah berita sekarang, yang 'mengedepankan' korupsi, salah tangkap, kriminalitas tingkat tinggi, sensasi politikus, tanpa penyitaan aset, denda yang rendah, hingga dakwaan yang dibuat-buat di segi ranah hukum Indonesia.
Setiap kali membaca berita kontroversial Indonesia, seakan menguji 'nyali' dan nalar warga sekalian. Bagi warga biasa yang kurang mengerti urusan hukum, nalar seakan ditantang ala melawan 'jurig.' Hasilnya? Malah semakin kurang ngeuh dengan keadaan hukum di Indonesia.
Nah, kembali ke film Keadilan yang diperankan oleh dua aktor ternama, yaitu Rio Dewanto dan Reza Rahardian, hukum diadaptasi dengan lebih brutal lagi.
Dari cuplikannya saja terlihat, seorang tersangka yang menyiksa ibu hamil, namun tetap dibebaskan. Bahkan saking marahnya, Raka (Rio Dewanto) yang bekerja sebagai petugas keamanan di pengadilan, perlu 'turun dan menyandera' proses pengadilan tersebut (!)
Jadi teringat se-ekstrem apa situasi tersebut, layaknya demonstrasi besar pada bulan September kemarin. Demi berunjuk rasa kepada instansi DPR-DPRD-DPD, banyak pemuda (yang banyak diantaranya masih SMA), bahkan bertindak hingga membakar gedung perwakilan rakyat di banyak daerah.
Bukan tindakan terpuji memang, dan salah arahan kebebasan berpendapat, karena jelas berakhir rusuh dan anarkis (!) Namun, tindakan seperti itu, jika dilaksanakan tanpa momen unjuk rasa, maka pelakunya akan berakhir dibui (!)
Dengan dakwaan kerusuhan hingga merusak fasilitas publik (!) Bahkan, bisa berujung dakwaan terorisme (!) Karena tetap diluar batas aturan kebebasan berpendapat dan unjuk rasa (!)
Nah, kembali ke film Keadilan, dalam cuplikannya terlihat, bahwa anggota Detasemen Khusus (Densus) Kepolisian Indonesia telah bersiap, untuk buru sergap Raka. Namun, karena resiko banyak sandera dalam gedung pengadilan, maka ditunda demi alasan keamanan korban.
Bahkan dalam film ini pun, terlihat bahwa aparat masih memantau dengan seksama, tanpa tergesa-gesa, karena masih berurusan dengan warga biasa (sebelum didakwa dan divonis).
Jadi teringat, dengan kisah kejadian hari Minggu kemarin (dari segi pengalaman penulis sendiri). Beberapa minggu lalu di Bandung, terdapat kejadian naas di Jembatan Layang Pasupati. Kejadiannya cukup miris, dan berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.
Namun, beberapa minggu kemudian, tepat pada hari Minggu saat berolahraga di Car Free Day (CFD) Dago, justru terbalik dengan momen sebelumnya. Ratusan warga dari sekitar Bandung berkumpul, untuk jalan-jalan, joging, senam, lalu sarapan, dan bahkan mendengarkan lagu di sekitar CFD.
Bukan menyepelekan, namun maksud dari momen ramai tersebut, seakan 'menimpa' kejadian naas sebelumnya. Daripada harus terus protes dengan arahan tidak jelas, maka lebih baik diisi dengan kegiatan positif bersama orang terdekat. Bahkan salah satu lokasi pengamen di bawah Pasupati, dengan lantang (dan beberapa kali) menyanyikan lagu 'Arti Kehidupan' dari sang legenda, Doel Sumbang.
Jadi, kembali ke film Keadilan yang tokoh utamanya bertindak dramatis, bahkan sampai anarkis dan teroris, maka sebagai warga biasa harus berkaca saja. Apakah perlu bertindak sejauh itu? Atau 'melawan' dengan cara positif, yaitu berolahrasa, berolahraga, sambil menahan mirisnya kehidupan?
Sinopsis Film Keadilan
Raka (Rio Dewanto) adalah seorang petugas keamanan pengadilan Indonesia. Bersama istrinya yang tengah hamil, Nina (Niken Anjani), mereka baru saja merayakan kelulusan Nina sebagai pengacara muda.
Namun naas, Nina yang sudah hamil tua, malah dibunuh dengan sadis oleh seorang pemuda psikopat, bernama Dika Akbar (Elang El Gibran). Walau sudah jelas bersalah, Dika masih dibela habis-habisan oleh pengacaranya yang terkenal korup, Timo (Reza Rahardian).
Bahkan, dakwaan berbalik langsung kepada Raka, saat seorang saksi menyatakan bahwa senjata bukti pembunuhan, dipegang oleh Raka yang baru tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Saking marah dan 'nothing to lose,' Raka pun bertindak anarkis, bahkan teroris, untuk membalas dendam. Saat pengadilan berjalan, Raka masuk ruangan sambil menembakkan pistol, lalu menyandera seisi gedung. Raka bahkan mengancam, bahwa banyak bom telah ditanam di seluruh lokasi gedung.
Raka meminta kepada Hakim dan Jaksa, untuk mengulangi seluruh proses pengadilan. Walau bertindak ekstrem, Raka masih memberi kesempatan pada proses hukum, untuk menentukan siapa yang sebenarnya layak divonis bersalah.
Cukup ngeri film ini, jadi yang cukup penasaran dan heran dengan kejadian semacam ini, bisa bersaksi mata langsung di sinema-sinema Indonesia.
Dan Ingat! Stay Positive!








0 comments:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.