Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

22 April 2026

Ritual Kerasukan Ala Punggawa Pawai Seni di Film Para Perasuk

AING MAUNG! (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film Nusantara yang menjadi pamungkas di bulan April ini, berjudul Para Perasuk, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13. Film ini memang cukup beda, yaitu mengacu pada tanah adat dan ritual seninya, yang terancam digerus oleh pihak kapitalis.

Dago Elos Never Lose (via Acerax).

Dago Elos Never Lose

Sebelum membahas film yang kentara konflik antara budaya versus kapitalis, coba penulis bahas terlebih dahulu tentang wilayah terdekat. Yaitu, daerah Dago alias sepanjang Jalan Ir. H. Juanda di Kota Bandung, yang menjadi hunian penulis. 

Istilah Dago Elos Never Lose dibuat oleh warga Dago sendiri, yang mengacu pada pergerakan khusus. Yaitu, menentang penggusuran dari tanah yang disengketakan, karena dimiliki oleh warga lain yang merasa memiliki semuanya. Bahkan, sejarah warga tersebut bisa dilacak hingga jaman penjajahan Belanda dahulu, yang sudah lama ditinggalkan oleh pemilik (sertifikat) aseli.

Cerita ini sudah turun temurun menjadi kisah masalah hukum di daerah dago, yang notabene tanahnya mayoritas dimiliki oleh beberapa kampus negeri besar, seperti Unpad (Universitas Padjajaran) dan ITB (Institusi Teknologi Bandung). Namun, banyak wilayah kedua kampus akan pindah ke Jatinangor, atau menetap di Dago. Tanah pun beralih kepemilikan menjadi milik Pemerintah Daerah. Jadi, untuk wilayah yang dimiliki oleh Pemda, sudah tidak bermasalah lagi.

Tetapi kisah ini terus menerus terjadi. Contohnya adalah masalah sertifikat tanah dan hotelnya di sekitar Terminal Dago. Baru-baru ini, masalah sewa-menyewa lahan Kebun Binatang Bandung pun sempat bermasalah, akibat salahnya sendiri. 

Namun, konflik perdata lama ikut mencuat saat masa tersebut, yaitu masalah tanah SMAN 1 Bandung dengan pemilik lahan, yaitu dari PLK. Kisruh SMAN 1 Bandung diakhiri dengan putusan akhir dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan ditolak Kasasinya oleh Mahkamah Agung, bulan Maret lalu.

Pergerakan Dago Elos Never Lose memang asli dari warga, yang dibantu oleh pemerintah, tanpa campur tangan sensasional dari Warta. Media berita ini hanya diikutsertakan saat pemberitaan utamanya tiba, tanpa campur tangan berlebih. 

Warga Dago sebenarnya berpengalaman untuk urusan ini, tanpa campur tangan warta. Contohnya masalah Asrama Bank Indonesia di jalan Tubagus. Keadaan sekarang memang berbeda dengan keadaan terdahulu, saat literasi warga masih kurang. Bahkan banyak warga generasi berikutnya di Dago, adalah lulusan dari banyak universitas Bandung, sehingga cukup mampu untuk memahami urusan hukum di daerah ini.

Karnaval 17 Agustus 2025 di Jalan Tubagus (GMaps via Acerax).

Perlu kembali ke urusan film Perasuk, yang lebih mengacu ke tanah adat dan ritual seninya. Justru disitu kemiripan utama antara Dago Elos Never Lose dengan ritual ala film Para Perasuk. Setiap pawai karnaval 17 Agustus demi Hari Kemerdekaan Indonesia, banyak para punggawa seni serta sanggarnya dari daerah Dago, tetap ikut meramaikannya. Ikutserta mereka dengan warga yang berkostum acak ala seniman pun, turut meramaikan setiap tahunnya. 

Saking ramainya karnaval ini, cukup heran mengapa ada banyak kendaraan motor dan mobil, yang melewati daerah Dago saat acara berlangsung jam 12an siang. Padahal satu sisi jalan akan dipenuhi karnaval, yang bisa berlangsung selama satu hingga dua jam di satu ruas saja. Ya, bagi para 'perasuk' ala Dago ini, bisa seharian untuk mencapai satu keliling saja. Tidak heran, banyak yang akhirnya euforia dan hampir 'AING MAUNG' alias Pamacan yang terbawa intensifnya atmosfer.

Jadi intinya, tidak perlu khawatir dengan kisah di Dago Elos ini, karena kami Never Lose. Apalagi dengan Track Record sejarah turun-temurun yang sudah terwaris selama beberapa generasi lamanya. Karena kami cukup paham dan mengambil jalur rapih dan baik, tanpa mencari sensasi berlebih. Kecuali kalau sedang pawai karnaval 17an, tentunya tanpa jurus Pamacan. 

Wassalam untuk pihak lain yang tidak berkepentingan disini. Dan tentunya terima kasih kepada sineas perfilman Indonesia, yang berani mengadaptasi isu sosial di ranah fiktif tanpa sensasi berlebih. Semangat Berkarya!

Sinopsis Film Para Perasuk

Desa Latas adalah wilayah pinggiran kota, yang terkenal dengan ritual pawai seni sekaligus kesambet ala kesurupan euforia. Gurunya adalah Asri (Anggun), sebagai pewaris ritual Merasuk ini. Animo ini masih ramai dan terlatih di Desa Latas, layaknya tanah adat khusus dengan lokasi keramat bernama Mata Air Roh.

Bayu (Angga Yunanda) adalah pemuda peniup suling yang sangat berniat untuk mengikuti ritual Desa Latas, dan selalu ikut meramaikannya. Posisinya sebagai penyuling, menyebabkan dia berinisiatif untuk mendekati gadis cantik dari Desa Latas bernama Laksmi (Maudy Ayunda). Bayu yang sangat berminat menjadi punggawa seni Merasuk, sekaligus Laksmi yang berkecimpung sebagai penarinya, menyebabkan keduanya cocok untuk berlatih bersama.

Sayangnya, Bayu diminta oleh ayahnya (Indra Birowo) untuk ikut menjual rumah dan pindah ke kota. Alasannya adalah wilayah tersebut akan dibangun semacam pabrik. Tidak hanya lokasi rumah Bayu, Desa Latas serta Mata Air Roh-nya akan tergusur jika pabrik jadi dibangun. Keluarga dan teman dekat Bayu pun tetap meragukan, bahwa ritual Perasuk Desa Latas yang Pamacan ala AING MAUNG masih berlanjut hingga generasi berikutnya.

Mulailah kekisruhan wilayah tanah konflik dengan tanah adat. Tidak hanya mendekati dengan cara bisnis, perwakilan dari perusahaan pabrik mulai meneror, hingga memakai kekerasan untuk mengusir warga desa yang tidak menurut.

Sanggupkah Bayu, Laksmi, Asri, dan seluruh Desa Latas mempertahankan tanah dan adatnya? Atau memang warisan budaya hanyalah kenangan dari masa lalu yang tidak perlu dipertahankan demi cuan semata? Senihil itukah hidup di jaman modernisasi jurig ini?

Jawabannya, tentu ada dalam ritual kesurupan ala kerasukan ala pamacan alias AING MAUNG di sinema Indonesia.

Jurig dari Sulawesi yang Tiada Habisnya di Film Songko

 

Sulitnya dipercaya oleh warga desa jaman sekarang (TMDB).

Film jurig dari perfilman Indonesia muncul kembali dengan judul Songko, yang tayang di sinema indonesia saat minggu keempat bulan April ini. Film berating R13 ini mengisahkan mahluk legenda urban dari Sulawesi, khususnya dari Manado dan Minahasa.

Kisah jurig yang berasal dari luar pulau Jawa dengan segala mistisnya, memang jarang diadaptasi menjadi sebuah film. Karena itu, Songko perlu ditelaah terlebih dahulu.

Songko adalah sejenis legenda urban, yang muncul di Manado dan Minahasa sejak tahun 1980an lalu. Bentuknya adalah mahluk tinggi yang mengenakan jubah, serta songkok sebagai topinya, karena itu namanya adalah Songko. Mahluk ini dipercaya sebagai jelmaan manusia yang telah meninggal. Namun karena semasa hidupnya selalu mengejar kemampuan paranormal, sehingga arwahnya tidak tenang di alam baka, dan bahkan kembali ke dunia manusia untuk menebar teror.

Bahkan, kisah Songko sebenarnya muncul dalam arsip Belanda sejak tahun 1907 lalu, yang merupakan kompilasi cerita rakyat. Arsipnya berjudul Tontemboansche Teksten: Vertaling (1907) dan Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek (1908). Dalam kedua arsip tersebut, Songko adalah sejenis mahluk supernatural, yang mengejar warga pelanggar pantangan, atau sedang rentan.

Mirip dengan kisah supernatural lainnya, para peneliti menganggap Songko adalah bentuk instrumen sosial. Tujuannya adalah menanamkan kedisiplinan bagi warga, agar taat dan tidak macam-macam, apalagi di jaman yang penerangan malamnya kurang. Khusus Songko yang dipetuahkan oleh tetua seperti Tonaas dan Walian, adalah untuk menjaga batas aman wanua. 

Sementara Songko dari tahun 1980an, muncul kembali sebagai legenda urban. Kemunculannya kembali adalah akibat kasus mengerikan saat jaman tersebut. Mahluk mengerikan berjubah ini mengejar darah suci perempuan muda, yang tentunya masih perawan dan belum terjamah sama sekali. 

Songko yang harfiah mengancam masyarakat Sulawesi, menjadi peringatan khusus bagi pemuda dan pemudi pada jaman tersebut, sesuai dengan fungsi awalnya sebagai cerita rakyat.

Sinopsis Film Songko

Desa Tomohon di Sulawesi adalah lokasi yang taat dengan agamanya, dan selalu hidup rukun antar tetangganya. Namun suatu petaka tiba, dengan banyaknya pemudi desa yang ditemukan meninggal bersimbah darah. 

Layaknya mengenang petuah terdahulu, warga lalu mengingat bahwa teror ini mirip dengan cerita rakyat bernama Songko. Mahluk ini akan tiba di satu lokasi, jika ada warganya yang melaksanakan ritual mistis, atau melanggar pantangan.

Warga mulai menyalahkan satu keluarga yang cukup berbeda, yaitu Ekel (Tegar Satrya) sebagai kepala keluarga, bersama istrinya Helsye (Imelda Therinne), Mikha (Annette Edoarda) sebagai anak pertama, dan adiknya Lina (Fergie Brittany). Keluarga ini dituduh sebagai jelmaan Songko, karena lebih banyak  beranggota perempuan, dan belum satupun yang menjadi korban.

Hingga akhirnya keadaan berubah seketika, saat Lina yang merasa tertekan oleh sikap warga desa, akhirnya diteror pula oleh kemunculan mahluk Songko. Namun warga masih belum percaya, dan bahkan semakin buas menolak kehadirannya. Ekel yang lihai menembakkan senapan, harus berinisiatif gelut, demi menghalau serangan Songko, warga desa, atau sekaligus pihak agresor manapun.

Sanggupkah keluarga ini bertahan sampai akhir? Atau ada maksud khusus dari warga desa yang terus menyalahkan? Atau bahkan Songko sebenarnya adalah sisa dosa dari warga desa itu sendiri, yang kembali untuk membalaskan dendam?

Jawabannya, tentu ada di cerita rakyat ala sinema Indonesia.

14 April 2026

Belajar Teknik Berpedang via Sensei Beryl Gardenant di Anime From Old Country Bumpkin to Master Swordsman

 

Sensei Beryl Gardenant yang sumringah saat minum (TMDB).

Okeh, saatnya artikel Monsterisasi yang berbeda dengan lainnya, yaitu mengacu pada anime From Old Country Bumpkin to Master Swordman (Ossan Kensei), yang tayang tahun lalu. Sebenarnya penulis baru menonton anime ini bulan Maret lalu, dan ternyata sangat menarik. Walau berasal dari Light Novel ala Jepang sana, tetapi adaptasi animenya sangat kentara dengan referensi HEMA (Historical European Martial Arts). Ya, entah kenapa bisa, teknik berpedang di novel diadaptasi dengan akurat pada anime.

Artikel ini mengacu pula pada artikel sebelumnya, yang membahas Pein Akatsuki dari Naruto. Walau penulis menjabarkan keburukan Benchmark ala Militer, khususnya di artikel tersebut, namun penulis sama sekali tidak menolak untuk belajar bela diri. Bahkan, bisa disebut bela diri adalah semacam olahraga, dan tidak perlu gelut terus (alias AING MAUNG). 

Penulis sendiri memiliki pengalaman saat belajar beladiri di jaman dahulu, tepatnya saat masih bersekolah dasar. Selama satu tahun lamanya, tepatnya bareng kelas pemantapan Ujian Nasional, penulis bersama satu kelas disiapkan pula dengan kelas beladiri Silat. Walau hanya satu tahun saja, tetapi cukup dapat mengingat berbagai kuda-kuda dan langkah dasar Silat.

Nah, di artikel kali ini, justru penulis ingin membahas observasi khusus, yaitu teknik berpedang dari HEMA. Bagi yang suka menonton konten latihan duel ala HEMA, pasti mengenal kanal bernama Skallagrim dari Kanada atau Weaponism dari Korea Selatan. Kedua kanal menyajikan berbagai teori, serta adegan duel dengan teknik berpedang HEMA, atau bahkan Katana dari Jepang dan Dao dari China serta Korsel. Ya, memang sejenis olahraga disana, menyaingi Karate dan Taekwondo dari segi ranah tangan kosongnya.

Penulis sendiri selama bertahun-tahun menonton konten tersebut, sehingga cukup mengenal banyak gerakan berpedang. Karena itu, saat menonton Sensei Beryl Gardenant di anime (yang judulnya jelek ini, harusnya Ossan Kensei saja), penulis dapat menebak seluruh gerakan yang dilancarkan selama gelutnya berlangsung. Ya, terima kasih pada berbagai kanal yang berisi duel berpedang tersebut.

Dan karena itu pula, artikel ini tidak banyak berisi adegan dari animenya. Justru banyak referensi teknik berpedang asli HEMA, sesuai dengan latar ceritanya di Eropa ala Fantasi. Untuk animenya sendiri, merupakan gabungan antara Slice of Life (selingan kehidupan) dan duel berpedang di ranah yang Low-Fantasy. Genre sejenis ini tidak begitu besar dalam menggambarkan dunia magisnya, bahkan masih terasa mistis ala The Lord of The Rings. 

Tapi, jangan diremehkan penggambaran anime ini dengan gelut berpedangnya. Gelut menggunakan senjata di anime ini cukup realistis, sesuai dengan teknik HEMA. Bahkan cukup brutal, dengan beberapa karakternya yang hobi Coup De Grace musuh atau lawannya. Tapi ya... karena masih bergenre fantasi, maka ada beberapa gerakan yang sebenarnya salah. Nanti akan dibahas pula beberapa gerakan salah tersebut dalam artikel ini.

Okeh, saatnya mulai membahas bagaimana Sensei (atau Kensei) Beryl Gardenant menyajikan berbagai adegan gelut yang kentara, tentu sesuai ala novelis Shigeru Sagazaki. Novelis yang satu ini mungkin aselinya beraliran Kendo, tetapi cukup banyak memperhatikan dan mengikuti sesi duel berpedang lainnya. 

Stance Mid Guard ala Sensei (Ossan Kensei)
Kuda-Kuda

Kuda-kuda ini semacam teknik Stance dan Guard dari HEMA, yaitu posisi awal saat belum menyerang lawannya. Biasanya terdapat tiga Guard utama bagi para ahli berpedang (alias Kenshi), yaitu High Guard, Mid Guard, dan Low Guard. 

High Guard adalah posisi senjata ada diatas atau sekitar kepala, dengan tangan yang menjulur sama keatas sesuai pegangan (Handle) pedangnya. Posisi seperti ini berarti dimaksudkan untuk menyerang dengan Tebasan (Slashing), dengan arah dari atas kebawah. 

Mid Guard adalah posisi senjata yang tepat berada di pusat gravitasi tubuh, dengan tujuan menyerang menggunakan Tusukan (Thrusting). Posisi ini adalah yang paling aman, karena menjaga jarak antara tubuh dengan lawan, yang dibatasi oleh pedang.

Low Guard adalah posisi senjata dibawah, biasanya ditempatkan agar menangkis musuh, daripada menyerang langsung. Posisinya yang agak berbeda (tidak terlihat berbahaya), justru membuat pemegangnya bisa berimprovisasi, tergantung dari arah serangan lawan.

Bahkan ada satu lagi, yaitu Rear Guard yang terlihat seperti sedang nge-troll musuhnya. Senjata ditempatkan dibelakang, dan tidak menghalangi jarak antara posisi pemegangnya dan lawan.

Gerak Dasar

Nah, gerak dasar ini adalah yang terutama dalam menggerakkan pedang, tangan, dan tubuh bersamaan dengan setiap langkahnya. Alias, seorang ahli berpedang harus menggerakkan pedangnya (di tangan) dengan gerakan dari pinggul, demi menambah kekuatan dan akurasi serang. Itupun disesuaikan dengan langkah kaki, antara kiri atau kanan sesuai dengan posisi serangan. Jadi, setiap satu gerakan, maka satu kaki akan melangkah maju atau mundur.

Langkah dasar ini sebenarnya mirip dengan Silat, atau dasar teknik beladiri dari manapun, baik itu menggunakan senjata atau tangan kosong. Full Body Movement adalah intinya.

Serangan santai ala Sensei (Ossan Kensei).
Menyerang 

Untuk menyerang, terdapat pula istilah yang jelas untuk setiap jenis senjatanya, khususnya pedang. Di anime ini, Kensei Beryl Gardenant menggunakan Longsword, yang menjadi standar bagi setiap ahli HEMA. Kelebihan Longsword adalah serangan Tebasan (Slashing), Menusuk (Thrusting), dan panjang yang cukup (Mata Tajam/Bilah sepanjang satu meter).

Slashing yang artinya menebas, berarti mengarahkan bagian Bilah (Blade) pedang untuk serangan yang mengalir, dari satu arah ke arah yang lain. Serangan ini memang ditujukan melebar saat menyerang, demi menyebarkan luka pada musuhnya.

Sementara Thrusting adalah serangan menusuk, yang ditujukan pada area vital pada bagian tubuh lawan. Serangan ini memiliki jarak lebih jauh, dan langsung lurus menuju titik yang dituju. Jika terkena dan tembus, maka organ vital lawan bisa langsung terluka, dan duel lebih mudah dimenangkan.

Bertahan dan Melawan Balik

Teknik bertahan pun ada beberapa, tetapi yang terpenting adalah Deflect alias Parry. Teknik ini tidak hanya mengeblok dan menangkis serangan lawan, tetapi mengarahkannya Bilah tajamnya ke arah yang diinginkan. Jika berhasil, maka tubuh akan aman dari serangan, dan musuh terhenti serangannya. Jika serangan terhenti tapi tetap berbahaya, pihak yang bertahan dapat memilih menghindar (Dodge) saja, dan mengamankan posisi baru dengan Guard dan Stance-nya.

Teknik lanjutan dari bertahan, adalah setelah mengeblok dan menangkis, maka akan dilanjutkan dengan serangan dari pihak yang bertahan (alias Counter Parry). Pihak yang berhasil menangkis, bisa memanfaatkan momen setelah Bilah lawan teralihkan, sementara lawan sudah kesulitan atau tidak bisa bertahan. Maka, serangan ini bisa lebih berhasil mengenai lawan, dengan keadaan lebih aman daripada kuda-kuda sebelumnya.

Bahkan di akhir musim anime ini, terdapat pula satu teknik bertahan yang sangat sulit, yaitu menangkis panah. Teknik ini tidak berlandaskan fiktif, tetapi memang ada dalam Katalog Teknik dari HEMA. Coba dicek saja videonya di YouTube, saat seorang ahli berpedang tanpa Perisai (Shield), menangkis serangan anak panah yang ditembakkan padanya. Teknik yang sangat sulit, tetapi jadi bahan Flexing di anime ini.

Banting tulang ala Sensei (YouTube).
Teknik Lanjutan

Teknik lanjutan ini ada beberapa arti, yaitu berbagai teknik yang tidak sesuai standar. Banyak yang menganggap standar diatas memiliki kemuliaan karena masih berlandaskan teknik. Namun, dengan taruhan antara hidup-mati, maka teknik lanjutan bisa dilaksanakan pula. 

Feint alias Gerakan Tipu adalah sejenis teknik lanjutan, saat ahli berpedang mengarahkan gerak senjatanya, tetapi tidak ditujukan sesuai standar tekniknya. Teknik ini ditujukan untuk menipu lawan, agar salah arah dan posisi saat bertahan dan menangkis serangan. Gerakannya memang sulit dilaksanakan, tetapi memang cocok sebagai teknik lanjutan.

Contohnya saja adalah saat seorang menggunakan High Guard dengan pedang yang ada diatas. Lalu dia mulai menyerang dengan gerakan Menebas (Slashing), tetapi sesaat sebelum serangan berakhir, dia menarik tangannya ke arah belakang. Dengan posisi pedang yang berada di Mid Guard, musuh yang terkecoh dengan tangkisan keatas, teknik serangan pun beralih menjadi Menusuk (Thrusting). Organ vital lawan di pusat tubuh pun menjadi taruhannya.

Bahkan ada gerakan lain yang sangat pecicilan, yaitu mencengkeram tangan atau Bilah lawannya, demi menghentikan gerakannya. Ya, gerakan yang terlihat licik ini, memang ditujukan untuk mengalahkan musuh tanpa teknik berarti. Penyerang bisa mencengkeram tangan musuh, yang langsung terhenti begitu saja. 

Bahkan jika sudah terlatih, bisa mencengkeram Bilah musuhnya, seperti sempat dicontohkan pada video di beberapa kanal YouTube. Nama tekniknya adalah Sword Handling, yaitu saat ahli pedang mencengkeram pedang pada bagian (Bilah) tajamnya. Jika sudah terlatih, maka tidak sulit untuk melaksanakannya, bahkan untuk menahan serangan lawan. Tentu, dengan bantuan sejenis sarung tangan berbahan kulit, atau bahkan logam (Armor).

Dari anime ini pun ditunjukkan beberapa teknik yang terlihat licik, seperti menarik mantel lawan, mengunci dan mencongkel bagian guard (bagian antara Handle pedang dan Bilah), hingga menendang lawannya. Ya, teknik berpedang memang bisa dilaksanakan dengan Full Body Contact, alias menggunakan seluruh bagian tubuh demi bertahan dan menyerang.

Armor yang sangat melindungi (Fandom Wiki).

Senjata dan Baju Zirah

Di anime yang seharusnya berjudul Beryl Gardenant Saga ini, ditunjukkan pula berbagai senjata khas Eropa, diantaranya adalah Longsword, Short Sword, Rapier, Claymore, Zweihander, Shield (Perisai), Bow and Arrow (Busur Panah), dan bahkan Belati (Dagger).

Senjata tergantung dari tipe ahli berpedang, ukuran dan beratnya. Panjang serta pendeknya senjata memang menentukan teknik apa yang bisa digunakan. Tipe Longsword yang menjadi standar, maka seluruh gerakan bisa dilaksanakan. Tetapi Short Sword yang lebih pendek, maka penggunanya harus bergerak lebih maju untuk mencapai dan menghalangi jangkauan Longsword.

Senjata pun perlu sering diperbaiki, karena berpengaruh pada kemampuan dan daya serang ahli berpedang. Pedang yang banyak tergores, teriris pada Bilahnya, hingga tumpul dan bahkan patah, tentu tidak dapat digunakan dengan baik. Dari anime ini, ditunjukkan pula adegan pedang saat rusak hingga terbelah, serta cara memperbaikinya.

Baju Zirah pun ditunjukkan, dengan berbagai tingkatan tentunya. Terdapat armor ringan seperti baju biasa (sejenis Gambeson), armor menggunakan kulit (Leather Armor) yang cukup ringan dan mampu menahan serangan, hingga armor kelas berat seperti zirah dari logam, layaknya Plate Armor. Dan jangan lupa, Perisai digunakan pula sebagai bagian dari pertahanan, yang perlu menguasai teknik tertentu agar efektif.

Chivalry alias Sikap Ksatria

Nah, kali ini adalah topik yang lebih berbudaya, yaitu dengan peran seorang Guru (Kensei), Ahli Pedang (Kenshi) dan Ksatria (Samurai  atau Knight). Memiliki kemampuan khusus berpedang, berarti mengisi peran khusus pula di institusi dan masyarakat. 

Dalam anime ini, Beryl Gardenant memang seorang ahli berpedang yang bekerja sebagai guru, demi menurunkan ilmunya. Sementara Allucia yang merekrut Gardenant, adalah seorang komandan di Pasukan Kerajaan Revelis. Muridnya yang lain, Lysandra mengisi peran sebagai Petualang (Adventurer) di Serikat (Guild), yang lebih berperan dalam berburu monster berbahaya.

Ketiga peran diatas ternyata cukup seimbang dengan penggambaran Monarkinya, yaitu dengan peran para Ksatria dalam menjaga serta membantu urusan Royalti. Mereka sering diminta untuk menjadi penjaga bangsawan, atau sekedar berburu monster berbahaya di sekitar kerajaan. Para anggota Monarkinya pun tidak berbuat aneh-aneh, selain yang memiliki peran sebagai tokoh antagonis.

Bahkan di satu adegan, mereka memiliki budaya khusus. Yaitu, saling bertukar hadiah satu sama lain. Bukan hanya sekedar simbol kedekatan (Politik), tetapi saling berkontribusi satu sama lainnya. 

Contohnya adalah memilihkan pedang yang dibuat dari hasil buruan Serikat, yang tentunya diselesaikan oleh Beryl Gardenant dan Lysandra. Allucia pun sempat memilihkan pakaian formal ala bangsawan bagi Gardenant, demi mengisi peran saat kunjungan kerajaan berlangsung.

Magis Ala Low Fantasy

Di anime ini, ada beberapa pula karakter yang bisa menggunakan magis, walau tidak seheboh anime lain. Contohnya adalah sihir yang dilaksanakan oleh Ficelle (satu angkatan dengan Curuni), yang bisa mengikat dan mengekang lawannya sekaligus. Kehadiran monster pun menjadi satu kisah yang menarik, contohnya adalah Gryphon yang diburu oleh Lysandra dan Gardenant. 

Tetapi kehadiran Magis sebenarnya cukup besar di dunia anime ini, yaitu saat cerita beralih pada jurus yang dapat menghidupkan mayat (alias sejenis zombie). Bahkan saat Beryl berduel dengan Lucy (yang menjabat sebagai Ketua Magic Corps), dirinya sama sekali tidak sanggup melawannya. Berbagai jurus magis mematikan sanggup membasmi Beryl, yang dihentikan oleh Lucy karena hanya sekedar mengetes dan duel jalanan saja.

Itu Harfiah arti Breast Plate-nya (Fandom Wiki).

Kekurangan Teknik di Ossan Kensei 

Nah, sekarang perlu membahas kekurangan anime ini, khususnya pada bagian duel yang berlandaskan HEMA. Terdapat beberapa gerakan yang sebenarnya dilarang oleh HEMA, namun tetap dimunculkan dalam anime ini. Memang anime yang masih berlatar fantasi, sehingga tidak heran juga, walau referensi bagusnya masih sangat realistis.

Pertama adalah gerakan memutar yang dilaksanakan oleh banyak karakter. Gerakan ini ditujukan untuk mempercepat serangan atau menghindar, namun memunculkan posisi belakang tubuh. Posisi punggung adalah daerah vital yang berbahaya jika diserang, karena itu banyak Stance dan Guard ditujukan saat berhadapan langsung dengan lawan.

Kedua adalah lanjutan dari gerakan memutar. Biasanya di dunia HEMA, saat seorang ahli terpaksa memunculkan punggungnya pada musuh, berarti dirinya telah melaksanakan gerakan yang salah. Serangan yang terlalu melebar (alias Overswing) adalah akibatnya, yang menyebabkan ahli berpedang menyerang dengan sembrono, dan tidak bisa kembali ke posisi bertahan.

Ketiga adalah gerakan saat kedua pihak yang berduel, malah saling mengunci senjata. Walau agak minim ditunjukkan (dan terlalu sering di anime lain), tetapi gerakan ini cukup berbahaya. Banyak teknik yang dilaksanakan, apalagi mengacu pada Full Body Contact, agar kedua pihak tidak terkunci pada satu posisi saja. Menendang atau menggenggam tangan dan senjata lawan, adalah contohnya. Duel harus dilaksanakan mengalir, karena posisi kedua Duelist yang terlalu dekat, sangatlah berbahaya.

Terakhir adalah satu yang sangat pecicilan, yaitu banyaknya Waifu di anime ini. Maksudnya bukan penggambaran karakter wanita, tetapi pakaian yang mereka gunakan. Jika mengecek Armor yang dikenakan oleh karakter pria, maka terlihat cukup modis dan realistis. Sementara wanitanya, malah memakai Armor yang terlalu terbuka (dan seksi). 

Bahkan, Rose yang menggunakan armor lengkap pun, memiliki kekurangan sendiri. Selain tidak menggunakan Helm (karena ini Anime), bagian Breastplate-nya harfiah menunjukkan bentuk Buah Dada. Seharusnya, Breastplate memang Armor yang dipasang di bagian dada, dengan bentuk cembung dan melingkar. Bentuk tersebut bukan modis saja, melainkan baik untuk membalikkan posisi Bilah senjata saat terkena serangan.

Belah Saja Dadaku! (Fandom Wiki).

Penutup

Okeh, segitu saja setelah panjang lebar. Memang anime yang mengherankan bagi penulis, karena cukup realistis dalam penggambaran duel ala HEMA-nya. Tokoh utama Beryl yang sudah tua ini pun cukup menarik, karena tidak aneh dan pecicilan ala banyak tokoh utama di anime (yang kebanyakan remaja).

Jadi, silahkan saja nonton anime ini, yang rasanya berbeda dan menarik ceritanya, karena bertokoh utama Kensei Beryl Gardenant, sang guru berpedang yang telah berumur 45 tahun.

Okeh, Ciao.

30 Maret 2026

Memahami Teater sebagai Ekspresi Sosial Hingga Kajian Perfilman

 

Ilustrasi seni panggung Teater dan Film (Freepik).

Mengacu pada Hari Teater Boneka (21 Maret), lalu Hari Teater Sedunia (27 Maret), hingga hari Film Nasional di tanggal 30 Maret, maka artikel ini akan membahas setiap tanggal pentingnya. Artikel dilansir dari Britannica sebagai sumber utama ensiklopedia, dengan sedikit tambahan dari penulis.

Khusus untuk Hari Teater Boneka, penulis perlu mengacu pada artikel Wayang dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Karena perkembangan Wayang sebagai teater boneka sejak abad 15 lalu, setelah sebelumnya diadaptasi dengan cerita dari India, maka perkembangannya tentu akan berbeda dengan referensi internasional.

Sementara untuk teater, penulis tidak menulis mengenai versi tradisional dari Nusantara. Tentu, karena penulis mengarahkan artikel menuju konsep blog yang lebih sesuai, yaitu perkembangannya menuju ke arah perfilman. 

Film memang menjadi bahasan utama dalam blog ini, dan sama seperti konsep dasar teater, menyajikan karakter dengan berbagai akting ala aktor-aktrisnya, yang sesuai dengan penggambaran cerita apapun, khususnya keadaan sosial saat ini (selain fantasi). Maka, banyak teater atau film diartikan dengan istilah 'produk dari masanya,' alias langsung mengacu ke jaman dirilisnya karya seni tersebut.

Teater sebagai Ekspresi Sosial

Di banyak konteks, variasi aspek kemanusiaan dianggap penting dan difokuskan sebagai representasi teater di negara Barat. Banyak drama jaman Renaisans, fokus pada khas tiap karakternya. Sementara di abad 17, masih terbatas filosofi dan latarnya, yang karakternya yang tidak disajikan ala mahluk dengan status unik. Melainkan, seseorang yang beradaptasi dan bermotivasi pada lingkungan masyarakatnya. Di akhir abad 17, seni teater memfokuskan pada tema yang mengerucut, dan sesuai dengan target masyarakatnya.

Pada awal abad 19, teater Eropa telah menjadi bagian dari hiburan warga kelas menengah, sama seperti tujuan sebelumnya pada kelas aristokrat. Walau begitu, seorang aktor tidak hanya berbekat, namun dapat berbicara baik dan berpakaian bagus. Banyak seni panggung yang sukses di Eropa, berisi karakter yang berposisi sosial baik, dengan mengacu pada kode sikap.

Namun pada pertengahan abad yang sama, drama literasi oleh Henrik Ibsen muncul untuk menantang kode normatif tersebut. Setelah Revolusi Rusia pada tahun 1917 lalu, teater di Soviet telah keluar dari jalur normatifnya. Sementara di Eropa, kode bersikap masih dilanjutkan hingga tahun 1930an, dengan target teater bergengsi. Namun di Kota New York, AS, masa Depresi Besar pada tahun 1930an menyebabkan perubahan besar pada kode normatifnya. 

Di Eropa setelah Perang Dunia II, teater mulai beralih dengan merefleksikan minat yang lebih luas di masyarakat. Namun di masa tersebut, banyak warga kehilangan minat mengunjungi teater, dan memilih untuk menonton film di sinema atau melalui televisi, sebagai sumber utama hiburannya. Teater lalu mulai diarahkan tidak hanya pada satu golongan masyarakat saja, tetapi kepada siapa pun yang cukup berminat pada sikap seni dan kreatif.

Pada akhir abad 20 dengan banyaknya inovasi teknologi digital, diantaranya adalah pengunaan video rekaman berkualitas tinggi dan suara di teater, telah membuka debat mengenai kehidupan teater itu sendiri. Atau, bagaimana dasar teater telah berubah secara fundamental akibat implementasi teknologi tersebut.

Kajian Studi Perfilman

Selama dua dekade perfilman, banyak diskusi dalam media yang dikembangkan, pada berbagai tingkatan apresiasi dan analisis. Diantaranya, adalah kajian koran, analisis profesional, buku teknik produksi, majalaj fans, dan kolom gosip.

Pada jaman Perang Dunia I, terdapat monograf keilmuan dengan mata kuliah perfilman di universitas. Pada tahun 1930an, arsip diciptakan dengan model yang terhubung di museum seni, demi mengoleksi film dan berbagai teknik produksi sebagai bagian dari apresiasi publik. 

Kajian film di universitas dan kampus semakin meluas pada awal tahun 1970an, yang dianggap sebagai bagian dari kesuksesan artistik. Film akhirnya layak untuk dikaji sebagai pengaruh budaya, politik, dan sikap sosial. Kajian ini ditujukan kepada publik yang membutuhkan kritik serta analisis khusus perfilman.

Pengajaran dan keilmuan yang dibantu dengan banyaknya arsip perfilman lama, televisi, media DVD, serta video, seluruhnya menjelajahi masalah isu sosial, mulai dari ras, kelas sosial, dan gender (SARA) yang direpresentasikan melalui film. 

Genre film, sutradara, aktor-aktris, praktek industri, serta sinema nasional telah menjadi subyek kajian mata kuliah dan penelitian. Universitas merilis puluhan buku setiap tahunnya, yang berisi sejarah, teori, dan estetika film. Kegiatan ini sekaligus mendukung dan mendistribusikan jurnal akademik perfilman.

Dengan banyaknya jenis media baru, yang kadang menyaingi perfilman itu sendiri dari segi kepopulerannya, justru menambah berbagai komentar (dan kritik) pada banyak aspek dari film tersebut.

Media dan Internet sebagai Bagian dari Apresiasi Film

Sejak awal abad 21, internet telah menyediakan ribuan situs untuk informasi dan pendapat mengenai film, aktor-aktris, sutradara, dan sejarah. Media penyiaran secara regular mengabarkan berita mengenai aktor dan produksi film terbaru. Beberapa majalah fokus untuk membahas media hiburan, yang diantaranya berisi publik figur perfilman, film terbaru, dan perkembangan industrinya.

Minat untuk perfilman besar seperti Hollywood telah memicu reportase mengenai film yang akan dirilis setiap minggunya, dimana filmnya dibandingkan langsung layaknya sebuah kompetisi olahraga. Beberapa bahasan ini bahkan bisa disebut sebagai usaha promosi dari media itu sendiri, yang bekerja bersama studio film dengan koran, stasiun televisi, dan situs internet.

Bagi penulis sendiri, yang banyak mengambil referensi serta informasi dari internet, selain observasi sendiri, wacana ini tentunya cocok. Blog Sedia Saja bisa diartikan sebagai promosi film, namun dengan latar penulis sebagai pengkaji cerita, tentu diisi pula pendapat yang langsung mengacu pada isu sosialnya di masyarakat.

Jadi dari artikel ini sudah jelas, bagaimana perkembangan teater dan isu sosial sejak abad 17 lalu, lalu dilanjutkan dengan perkembangan film di awal abad 20 serta apresiasi medianya, menjadi konsep khusus yang mendasar bagi Blog Sedia Saja sebagai situs internet saat abad 21 ini.

Mengajari Anak Mengenai Kearifan Budaya Lokal Melalui Dongeng Nusantara

 

Ilustrasi buku folklor (Freepik).

Menyambut Hari Dongeng Sedunia (20 Maret), lalu dilanjutkan dengan Hari Puisi Sedunia (21 Maret), yang diakhiri dengan Hari Buku Anak Sedunia pada tanggal 4 April mendatang, tampaknya cocok untuk membahas mengenai Buku Dongeng, khususnya sebagai bagian dari tumbuh kembang anak di Nusantara.

Dalam artikel ini, penulis mengkaji studi dari banyak ahli pendidikan nasional, mengenai hubungan antara dongeng dengan tumbuh kembang anak. Dongeng Nusantara memang menjadi satu bahan ajar bagi anak PAUD, TK, hingga Sekolah Dasar. Tentu tujuannya untuk mengajarkan budaya lokal Indonesia, dengan segala kearifan lokalnya.

Untuk referensi mengenai fungsi dongeng di abad 20 hingga 21 sekarang, dapat dicek saja melalui terjemahan dan referensi ensiklopedianya, dalam artikel berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Artikel ini ditulis saat bulan November tahun lalu, demi menyambut hari Dongeng Nusantara pada tanggal 28 November setiap tahunnya.

Karena itu, dalam artikel menyambut Hari Dongeng Sedunia, dikombinasikan dengan dua tanggal penting lainnya. Bagaimana pun juga, korelasi serta kolaborasi studi adalah kombinasi yang menciptakan perkembangan budaya, teknologi, dan peradaban manusia hingga kini.

Khusus untuk blog ini, justru penulis dapat menjabarkan pula, bahwa setiap film dan cerita pada umumnya, memiliki nilai moralnya tersendiri. Walau blog ini lebih mengacu pada simbol dan referensi pada setiap artikelnya, namun tentu berlatar pada nilai dan moral yang dipercaya oleh jutaan warga di Nusantara.

Hari Dongeng Sedunia

Hari Dongeng dirayakan di seluruh dunia sejak tahun 1997 lalu, saat ditetapkan oleh banyak negara, contohnya adalah AS dan Australia. Sebelumnya, 20 Maret ditetapkan sebagai hari Mendongeng Nasional di Swedia, sejak tahun 1991. 

Dilansir dari Universitas Muhammadiyah Malang, Hari Dongeng Sedunia dirayakan sebagai wahana imajinasi anak. Pendongeng menutur cerita dengan gestur tubuh, sehingga anak dapat berimajinasi dalam alur cerita dongeng. Dengan berimajinasi bebas, maka kreatifitas anak akan bertambah. Tidak hanya imajinasi, namun rasa empati dan simpati akan muncul dalam diri mereka. Karena, dongeng Nusantara mengandung banyak nilai moral dan pendidikan.

Guru bahkan perlu diberi pendidikan khusus dalam mendongeng. Dengan semacam softskill ala mendongeng, guru akan lebih mudah dalam menanamkan nilai moral serta menumbuhkan sisi kreatifitas bagi anak.

Hari Puisi Sedunia

Menurut Perpustakaan Universitas  Brawijaya, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan pentingnya Puisi saat Konferensi Umum ke-30, pada tahun 1999 lalu. Konferensi yang dilaksanakan di Paris, Perancis ini mencanangkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Puisi Sedunia, yang mendukung keragaman bahasa melalui ekspresi puitis, dan kesempatan untuk mengajarkan bahasa yang terancam punah.

Menurut UNESCO, puisi bermemiliki peran strategis dalam seni dan budaya, dan termasuk diantaranya adalah sejarah. Puisi adalah katalis kuat untuk berdialog dan menjaga perdamaian. Kolaborasi puisi dengan karya seni seperti musik, tari, drama, atau lukisan tidak hanya dapat terus dinikmati dan tidak hilang oleh waktu, namun sebagai bagian dari upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dari segi ini, penulis berpendapat bahwa bentuk ekspresif puitis telah terkombinasi dengan menyeluruh pada banyak media, khususnya pada lagu (musik) dan film yang tersaji saat ini. Penulis sendiri sering memasukkan banyak istilah frasa, dalam banyak kajian film di artikel blog ini. Istilah frasa tersebut kadang memiliki rima ala puisi, dengan maksud tidak langsung dan suatu pedoman norma tertentu.

Hari Buku Anak Sedunia

Menurut Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara, perayaan Hari Buku Anak Sedunia setiap tanggal 2 April mengacu pada hari lahir penulis dongeng bernama Hans Christian Andersen. Perayaan ini untuk menumbuhkan budaya membaca, meningkatkan kesadaran literasi, serta menghomati karya sastra yang berkontribusi besar dalam dunia pendidikan, khususnya pada anak.

Wacana ini sesuai dengan manfaat dongeng untuk anak, yang dilansir dari Generasi Maju. Keterampilan kognitif anak dalam memproses ingatan, bahasa, pemikiran, dan penalaran dapat terlatih dengan cara mendengarkan dan memahami dongeng.

Aspek perkembangan yang didukung oleh pembacaan dongeng diantaranya adalah merangsang kecerdasan anak dengan aktivasi otak yang berkelanjutan, dan mendukung perkembangan psikologi dengan mempengaruhi perasaan mendalam anak saat menghadapi situasi problematis.

Membaca dongeng dapat dilaksanakan sebagai media belajar bahasa dengan banyak kosakata,  padanan kalimat, serta konteksnya. Selain itu, dongeng dapat membangun minat literasi sejak dini, yang menjadi satu kunci pembelajaran di masa depan.

Membaca dongeng dapat mengasah keterampilan berpikir anak, agar mereka berpikir kritis sejak dini. Mendengarkan dongeng dapat mendorong anak dalam memecahkan masalah, memahami keberagaman serta kerja sama. Anak dapat merespon dengan menunjukkan tanggapannya sendiri atas cerita dongeng yang orangtua sampaikan.

Karena membaca dongeng dilaksanakan dua arah, maka aktifitas komunikasi ini dapat mempererat hubungan orangtua dan anak, yang membangun ikatan kuat antar keduanya. Dengan interaksi positif, maka anak akan merasa aman, dicintai, diperhatikan, dan disayangi. Aktifitas ini membantu anak berkembang secara sosial maupun emosional dalam memahami dunia.

Keunikan Mengenal Dunia Melalui Dongeng

Terdapat pula keunikan lain melalui pembacaan dongeng antara anak dan orangtua, yaitu mengenalkan berbagai jenis suara dan bentuk ilustrasi di sekitar lingkungannya, seperti dilansir dari Kemendikdasmen

Suara ketukan pintu, degup jantung, dan bel sepeda disajikan secara imajinatif, untuk mengasah indra dan rasa ingin tahu anak. Setiap suara memiliki simbol dan tanda sebagai alat komunikasi dengan orang lain atau mahluk hidup di sekitar lingkungannya. Terlebih lagi, anak usia dini membutuhkan pengenalan suara melalui dongeng.

Menunjukkan ilustrasi yang sesuai dengan benda, alam, atau manusia yang diceritakan, dapat mengisi pola imajinasi anak. Isi cerita beserta ilustrasinya yang sederhana, singkat, dan jelas informasinya dalam dongeng, dapat lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Tentunya, nilai moral yang berisi kejujuran, doa, dan kemandirian sangat diperlukan oleh anak. Khususnya, cerita yang berasal dari buku, cerita pengalaman, kisah nabi, dan cerita rakyat yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan tumbuh kembang anak usia dini.

18 Februari 2026

Mengenang dan Menyelenggarakan Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional (Kemendikdasmen).

Berikutnya adalah momen menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, yang dirayakan tanggal 21 Februari setiap tahunnya. Hari Bahasa Ibu Internasional dirayakan sejak tahun 1999 lalu, yang diusung oleh UNESCO dari PBB. Tujuannya adalah untuk melindungi dan melestarikan banyak ragam bahasa ibu, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa ibu dalam kehidupan manusia.

Seperti sudah diutarakan sebelumnya pada artikel Hari Kebangkitan Bahasa Sunda di blog ini, penulis yang berlatar Tatar Sunda, cukup dekat kesehariannya dengan bahasa Ibu. Bahkan, penulis hanya bertutur kata bahasa Indonesia saat menulis blog ini, sementara seharian hanya berbincang Sunda.

Merayakan Bahasa Ibu

Dilansir dari UPI, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasi seorang umat manusia sejak lahir. Perannya sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak hingga dewasa, yaitu sebagai pembentukan identitas dan budaya bagi individu, proses belajar anak sejak usia dini, dan pelestarian nilai-nilai lokal.

Sebagai proses belajar anak di usia dini, anak lebih mudah memahami materi belajar dalam bahasa yang dikuasainya. Proses ini sesuai dengan ucapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, yang menyatakan melalui situs Kemendikdasmen, "Kajian akademik menunjukkan bahwa anak yang memulai pembelajaran dengan bahasa ibu, memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep akademik dengan kemampuan literasi yang lebih optimal."

Sementara dari segi pelestarian nilai lokal, dimulai saat anak mendengarkan cerita rakyat, tradisi, dan kearifan lokal dari budaya dan bahasa persukuannya. Seperti dilansir dari STPS Sahid Surakarta, bahasa ibu bukan hanya sarana komunikasi, melainkan mencerminkan budaya dan cara berpikir masyarakat. 

Setiap bahasa membawa warisan pengetahuan, tradisi, dan nilai yang sangat berharga. Dengan terus melestarikan penggunaan bahasa ibu, warga sebagai pelakon utamanya, tidak hanya menjaga kelangsungan bahasa itu sendiri. Tetapi, menghidupkan kembali warisan budaya sebagai satu identitas bagi komunitas berbahasa daerah.

Foto Naskah Carita Waruga Guru (Wikimedia).

Ngamumule Basa Sunda

Menurut sejarahnya, bangsa Austronesia bermigrasi dari Taiwan, lalu Filipina, dan akhirnya tiba di Pulau Jawa pada tahun 1000 hingga 1500 tahun Sebelum Masehi, seperti dilansir dari FISIP UI.

Mengenai namanya itu sendiri, asal nama Sunda masih abstrak. Secara etimologis, merujuk pada kata Cuddha dari Sansekerta, yang berarti cahaya, putih, bersih, murni, atau bersinar. Adapula yang mengartikan bahwa Sunda adalah perpaduan morfologi antara Sun (satu) dan Da (dua). 

Dari basa Sunda sendiri, Saunda berarti lumbung atau makmur, atau Sonda yang berarti bagus, bahagia, dan unggul. Kata Sunda merujuk pula pada ibukota Sundapura, sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara, yang berjaya saat abad empat hingga tujuh Masehi lalu, seperti dilansir dari Portal Brebes.

Pelestarian resmi basa Sunda, sudah dicanangkan sejak tahun 2013 lalu di Jawa Barat. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) No. 69 tahun 2013, Bahasa dan Sastra Sunda dicanangkan sebagai muatan lokal wajib bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah, bagi seluruh sekolah di Jawa Barat. 

Pendidikan bahasa Sunda sangat penting dilaksanakan untuk di sekolah, karena bertujuan untuk membedakan tingkatan bahasa Sunda. Tergantung kepada siapa yang diajak berbicara, maka bahasa Sunda harus menggunakan tutur kata Lemes (halus), Loma (akrab), atau kasar.

Menurut Ahmad Ghibson Al-Busthomi sebagai Pakar Hikmah Kasundaan, yang dilansir dari situs UIN Sunan Gunung Djatingamumule (melestarikan) basa Sunda berarti harus dilaksanakan oleh semua warga Sunda. Jangan sampai ada kesan budaya Sunda hanya milik budayawan dan sastrawan saja. Pesantren dianggap pula tidak menjaga kelestarian Sunda, dengan mengajarkan bahasa dan menulis aksara Jawi atau Pegon.

Namun menurut Ghibson, ada empat cara untuk tetap ngamumule Sunda sebagai warga biasa. Pertama, yaitu menghormati, memuliakan, serta mengagungkan kesenian seperti pentas, berbicara basa, memakai baju adat, dan menjaga sikap etika Sunda. Kedua yaitu terus menyerap dan menerima makna baru ke dalam basa Sunda. Ketiga adalah membangun kreasi baru di bidang perkakas dan teknologi. Keempat adalah meningkatkan kebudayaan karuhun (leluhur) Sunda, dengan mengembangkan bahasa sehari-hari, sastra, hingga seni.

Ghibson menambahkan bahwa tahap pengembangan budaya Sunda harus dengan dua cara. Satu yaitu dengan meningkatkan lokalitas wilayah dan sejarahnya. Kedua, dengan terus mewariskan budaya Sunda secara berkelanjutan.

Janten, sakanteunan ngahaturkeun filosofi hirup ti Kang Prabu Siliwangi, nyaeta Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh ka sadayana.

Sanes teu sono, tapi bade permios. Wassalam.

Sedikit Carita Buhun Sunda

Oh ya, ada satu lagi penggambaran mitologi Sunda, yang seperti biasa, kurang dapat dicek keabsahannya. Warga pulau Jawa saat awal penjelajahannya, memang berpusat di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sementara wilayah Jawa Barat belum terjamah sama sekali.

Namun, ekspedisi untuk membuka lahan dengan membabat hutan di Jawa Barat saat jaman tersebut, ternyata cukup menghasilkan. Walau begitu, warga perlu melalui naik-turunnya pegunungan, dalamnya lembah, curamnya jurang, serta banyak hewan berbahaya seperti harimau, buaya dan ular berbisa.

Karena itu, sejak keberhasilan warga pulau Jawa untuk mendiami Jawa Barat, dan bahkan hingga membangun kerajaan sendiri selama berabad-abad lamanya, memberi simbol khusus pada warga Sunda. Maung alias Harimau yang kuat dan sanggup menguasai hutan belantara, adalah simbol tersebut.

Tapi ya, jangan sampai langsung pamacan dan berkoar "Aing Maung!"

Aing Maung! (YouTube).

Memahami Mitologi China dari Episode How to Become Three Dragons

 

Tiga siluman ular yang berniat besar (Newhanfu).

Menyambut Tahun Baru China alias Imlek tahun 2577 dengan kalender bulannya, penulis justru mengecek mitologi sebelum jaman ini berlangsung. Tentu blog ini lebih membahas referensi budaya populer, khususnya film dan banyak media lainnya. Jika penulis membahas terlalu banyak khas budaya serta demografi aslinya, malah berubah menjadi blog Antropologi dan Teologi.

Nah karena itu, artikel ini akan membahas satu episode dari Zhong Guo qi tan (Yao Chinese Folktales), berjudul How to Become Three Dragons. Kisah yang lebih mirip folklor ini disajikan ala animasi modern sejak awal tahun 2026. Kisahnya sangat mengacu pada mitologi China dengan perbedaan antara siluman hingga dewa, dan hubungannya ke manusia.

Khong Hu Cu di Indonesia

Mengingat Imlek biasa dirayakan oleh umat Khong Hu Cu di Indonesia, yaitu kentara berasal dari etnis Tionghoa, maka perlu dibahas disini. Dilansir dari UGM, Khong Hu Cu adalah pengucapan Hokkien dari filsuf China bernama Kong Fuzi, atau terkenal dengan nama latinnya sebagai Confucius. Semenjak reformasi di akhir abad lalu, Khong Hu cu secara resmi diterima sebagai satu dari enam agama yang di Indonesia.

Khong Hu Cu di Indonesia pun berbeda dengan China sebagai negara asalnya. Di kuil China, atau biasa disebut sebagai Kelenteng, banyak umat berdoa tanpa perlu menunggu waktu khusus. Figur yang disembah adalah kombinasi dari tiga sistem kepercayaan besar dari China, yaitu Confucius, Dao, dan Buddha. Tiga komunitas berbeda di Indonesia menyatukan organisasinya dibawah Asosiasi Tri-Dharma.

Berbeda pula pandangan mengenai Tuhan Yang Maha Esa dari Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sekaligus negara aslinya di China, oleh warga penganut Khong Hu Cu. Yaitu konsep Tian yang artinya dalam bahasa China, berarti istilah surgawi. Bagi warga yang berasal dari agama monoteistik, maka Tian bisa diartikan sebagai Tuhan. Tetapi bagi umat Khong Hu Cu, Tian tidak memiliki atribut khusus, dan tidak berperan langsung pada kehidupan umat manusianya.

Memang, ideologi Indonesia lebih mengacu pada Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap saling bersatu sama lainnya.

Mitologi dan Folklor China

Karena di artikel ini membahas suatu cerita dari folklor China, maka cocok untuk membahas sedikit dasar dari Mitologi China. Walau media dari China saat ini lebih mengisahkan dengan heboh dan masifnya mitologi, namun justru di episode ini lebih mudah dicerna, karena mirip dengan dongeng ala daerah Indonesia.

Mitologi China berasal dari banyak mitos regional dan tradisi budaya, yang diwariskan turun temurun secara oral. Ceritanya mulai dari kisah menarik hingga suatu entitas dengan kekuatan magis. Bersama folklor, mitologi membentuk kepercayaan tradisional dan Dao di banyak kalangan warga China. Naratif dari cerita masa lampau mengacu pada karakter atau kejadian, yang di-interpretasi melalui perspektif sejarah atau mitologi.

Mitologi di china sangat erat hubungannya dengan konsep Li (Confucius) yang lebih mengatur tatatan sosial, dan Qi (Dao) yang lebih mengemukakan semangat spiritual. Dua konsep mendasar ini saling berkaitan dengan ritual sosial, yang dilaksanakan saat berkomunikasi, salam, dansa, upacara, dan pengorbanan.

Kisah Tiga Ular di How To Become Three Dragons

Kisah episode How To Become Three Dragons saat musim kedua Yao Chinese Folktales, memang sangat kentara dengan penjelasan diatas. Karena itu, penulis memulai artikel ini dengan menjelaskannya terlebih dahulu.

Kisahnya diawali ala hebohnya tiga warga siluman yang berbentuk ular. Mirip dengan kisah siluman lainnya, ketiga ular berinisiatif untuk mencapai level Dewa. Karenanya, mereka mulai mencari pengikut dengan menjaga suatu desa.

Kisah ketiga ular tentu tidak akan diceritakan sepenuhnya disini, karena akan menjadi spoiler. Namun, ada satu wacana tersendiri dari ketiga ular, yaitu dengan terus menjaga dan mengalirkan air menuju sebuah desa yang kekeringan, agar mereka semakin disembah.

Sayangnya, karena tingkah mereka yang pecicilan, Dewa Naga marah dan menyerang desa tersebut. Saking besarnyanya serangan kilat Dewa Naga, banyak rumah di desa tersebut lalu terbakar hebat. Ketiga ular tidak mampu melawan atau terlalu lemah untuk membantu warga desa. Hingga satu diantaranya langsung mengorbankan diri, dengan mengumpankan dirinya pada sang Naga. 

Namun saat serangan Dewa Naga berhasil membasmi sang ular, ledakannya malah menghancurkan batu yang menahan aliran air diatas gunung. Sungai dan airnya pun terbebaskan alirannya, dan berhasil memadamkan banyak rumah yang terbakar di desa, serta mengairi seluruh ladang warga.

Waktu pun berlalu setelah ketiga ular kalah dalam bencana tersebut. Namun, reinkarnasi ketiga ular muncul di kuil kecil yang disembah warga desa. Warga pun semakin bersyukur dan terus berdoa sepenuh hati di kuil tersebut, selama banyak generasi berikutnya.

Pendapat Penulis

Ya, memang suatu kisah yang sangat mencerminkan dongeng dan folklor, walau tidak se-epik kisah dari animasi China. Dengan penjelasan awal mengenai sebuah kepercayaan, yang asalnya dari mitologi dan folklore China, dan diakhiri dengan suatu animasi kartun saja, tentu dapat dipahami dari segi ini. 

Ya, sesuatu yang susah dinalar di dunia yang besar, dan hanya berisi kisah drama naik-turunnya kehidupan, selalu menjadi siklus kehidupan yang terus mengalir. Baik itu bagi manusia, hewan, tanaman, dan seluruh alam di sekitarnya.

Okeh, Zaijian.

Kombo Sangar Ala Yakuza dan Kabuki Jepang di Film Kokuho

 

Pemeran Kabuki wanita yang aselinya pria (TMDB).

Menanggapi jaman ramai streamer dan roleplayer GTA di YouTube dan sajabana, saatnya beralih ke masa lalu dengan menyambut film kombinasi keduanya, berjudul Kokuho. Film yang tayang di sinema Indonesia bulan Februari ini, memiliki rating yang cukup untuk sebuah film drama kejahatan, yaitu D17. 

Bagi yang paham vibe-nya, maka mengerti bahwa Yazuka Jepang memiliki latar belakang sadis, namun sering berjumpalitan alias saling berselingan dengan dunia hiburan. Entah bagaimana keadaannya sekarang di tahun 2020an. Tetapi daripada membahas lingkar kejahatan yang sudah lama menurun pamornya, dan mengacu pada dunia yang brutal, maka coba dicek dari segi seni budayanya.

Kokuho bertema dunia seni, khususnya Kabuki sebagai seni teater tradisional Jepang. Tokoh utamanya memiliki latar sebagai anggota Kabuki, sekaligus seorang anak bos Yakuza. Animo yang berbeda tentunya, sehingga para kritikus memberi banyak penghargaan bagi film ini. Mulai dari Japan Academy Awards sebagai lokasi aslinya, hingga Oscar's Academy Awards dari Hollywood sana. Jadi, film ini mudah direkomendasikan bagi para penggemar film drama, khususnya yang berbau kejahatan.

Kabuki Jepang, Ketoprak Jawa, dan Longser Sunda

Nah seperti sudah diutarakan sebelumnya, daripada membahas sangarnya para Yakuza, lebih baik mengambil sudut pandang dari ranah seninya saja. Dari cuplikannya, Kukoho menunjukkan banyak adegan yang lebih berlatar seni teater dan segala keglamorannya. Hanya sedikit adegan berisi kerasnya para Yakuza.

Kabuki adalah sejenis teater tradisional Jepang, yang mulai dikembangkan dan ramai sejak tahun 1603 lalu. Khas dari teater ini adalah para karakternya berdandan warna putih, dengan garis merah di seluruh wajahnya. Kombinasi pola yang berbeda pada setiap karakternya, dan biasa disebut sebagai Kumadori. 

Dari etimologi-nya (yang setiap nama dan istilah bahasa Jepang lebih mengacu, daripada morfologinya), Kabuki berarti gabungan kata dari kemampuan, menyanyi, dan berdansa. Berbeda pula dengan padanan katanya, yang berarti kabuku atau aneh, nyeleneh, atau beda dengan yang biasa. Karena itu, pertunjukan Kabuki selalu luar binasa, layaknya anime Jepang yang selalu heboh.

Jika disandingkan sederhana, dandan Kabuki yang berwarna putih, sangat mirip dengan Wayang Orang. Namun dari segi hebohnya pertunjukan, Kabuki bisa disandingkan dengan hebohnya teater tradisional Jawa, yaitu Ketoprak. Teater ini ramai dimainkan dari Jawa Tengah hingga Timur, dengan khas gaya bahasa Jawa yang lugas dan keras, tidak seperti kesehariannya. Teater yang mulai keluar dari ranah Keraton sejak 1922 lalu, meramaikan kekayaan teater tradisional Jawa.

Berbeda pula perkembangan di daerah Sunda, alias daerah Jawa Barat. Khas kekonyolan Sunda tersirat dengan kuat di Longser Sunda, sejak tahun 1920 lalu. Sebelum dikenal hingga saat ini, teater tradisional ini sempat bernama awal doger, lalu lengger, dan akhirnya baru longser. Khas paling berbeda pada longser, adalah sesi bobodoran Sunda, yang kental dengan komentar sosialnya. Saat ini, longser sering diadakan sebagai seni saat hajatan (kawinan) berlangsung, daripada sebagai seni pertunjukan panggung atau jalanan.

Penulis memiliki minat khusus pada seni longser, khususnya saat acara nikahan berlangsung. Jika pengunjung acara tiba sebelum prasamanan dimulai, maka akan disajikan dengan pertunjukan longser. Humor, tari, serta tema sosial yang ditampilkan, menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis. Apalagi bobodoran-nya yang cukup dimengerti oleh penulis. 

Nah, sedikit mengacu pada Kabuki di film Kokuho, seni tradisional sejenis ini sering merubah karakter wanita, namun diperankan oleh seorang pria. Bahkan dari seni teater longser, ada istilah yang cukup kasar, yaitu Bebencongan. Sesuai namanya, bencong berarti pria yang bertingkah terlalu kewanitaan. 

Tetapi dari segi seni, apalagi humor, perubahan peran ini biasa dilansirkan sebagai bagian dari ekspresi, atau memang keterbatasan jumlah aktor-aktrisnya. Jika dicek hingga seni teater dari Eropa sana, maka peralihan jenis kelamin demi mengisi suatu peran, cukup biasa dan sering dilaksanakan pula.

Lucunya lagi, khusus untuk longser sunda, bebencongan ini khas dengan dandan ala warna putihnya. Karena kulit cokelat para pria yang berasal dari Tatar Sunda, maka lebih cocok berdandan tebal, apalagi niatnya memang humor. Jadi, walau dari sini terdengar agak lucu, namun nyambung dengan animo film Kokuho.

Jadi, sekeras apa Kabuki dan Yakuza jika digabungkan dengan peran wanita? Coba dicek saja sinopsisnya.

Bebencongan ala Longser Sunda (YouTube).

Sinopsis Film Kokuho

Kikuo Tachibana (Ryo Yoshizawa) adalah seorang anak Yakuza terkenal, di tahun 1964 lalu. Sejak berumur 15 tahun, Kikuo telah ditinggalkan ayahnya akibat kekisruhan di lingkar kejahatan mereka. 

Namun sejak berumur muda, Kikuo sama sekali tidak berminat dengan hidup keras dan sangar ala Yakuza Jepang, yang terkenal sadis dalam menjalankan bisnisnya. Kikuo justru lebih tertarik pada seni teater tradisional Jepang, bernama Kabuki. Tidak seperti biasanya, peran heboh ala Kabuki tidak diperankan oleh Kikuo. Melainkan dirinya lebih memilih peran wanita, yang wajar dilaksanakan sebagai pertukaran gender di teater Kabuki.

Selama menjalani karir sebagai aktor Kabuki, Kikuo dekat dengan Shunsuke Ogaki (Ryusei Yokohama), yang merupakan anak Sensei di Padepokan Seni Kabuki-nya. Keduanya yang satu generasi, menyebabkan pertemanan mereka semakin erat. 

Lebih dari beberapa dekade dijalani oleh Kikuo di dunia Kabuki, tanpa begitu berandil dalam dunia Yakuza warisan ayahnya. Namun, sifat dan sikap sangar Kikuo mulai muncul dalam dirinya. Apalagi, Kikuo kini justru bersaing dengan sahabatnya sendiri, demi meraih penghargaan sebagai aktor terbaik Kabuki seantero Jepang.

Bagaimanakah akhirnya yang penuh luka-liku budaya dibalik modern-nya Jepang? 

Jawabannya, tentu dapat dinikmati saat teater tradisional ala sinema Indonesia.

03 Februari 2026

Berkelana ke Pulau Papua di Film Teman Tegar Maira

 

Maria, Tegar, dan kawan yang heran dengan apa gerangan di Papua (TMDB).

Saatnya kembali lagi ke pulau besar Papua di penghujung Indonesia, dalam film Teman Tegar Maria, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Nah, seperti film Tegar sebelumnya di tahun 2022 lalu, kali ini tokoh utamanya tetaplah Tegar, yaitu seorang aktor disabilitas, yang berjibaku dengan semangat hidupnya.

Tegar yang tidak memiliki dua tangan dan satu kaki, memang memiliki banyak tantangan hidup. Seperti dicontohkan dalam filmnya di tahun 2022 lalu yang diproduksi bersama Deddy Mizwar, Tegar masih mencoba untuk bersekolah dan memiliki banyak teman.

Nah di tahun 2026 ini, Tegar justru melanglangbuana hingga Pulau Papua sana. Di sana, Tegar tinggal dan belajar dari suku pribumi Papua, demi memahami kearifan lokal setempat. Dalam film keduanya ini, studio Aksa Bumi Langit merekam lokasi syuting dengan keindahan alam Papua, yang sangat terlihat memukau dalam cuplikannya. 

Film ini adalah kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir, yang mengangkat kisah dari pulau paling ujung Nusantara ini. Sebelumnya pada bulan Desember lalu, film berjudul Timur sempat mengadaptasi kekisruhan di Pulau Papua, namun dengan bumbu aksi ala aktor Iko Uwais dan studio miliknya.

Tentu sama dengan kisah kekayaan alam dan ekspansi kelapa Sawitnya, kisah di film Teman Tegar Maria ini berlatar belakang pula kisruhnya alam Indonesia.

Lowongan Pekerjaan dan Pengalihan Fungsi Lahan

Sayang seribu sayang memang, kisah membuka lowongan pekerjaan di Indonesia, malah menjadi wacana untuk mengalih-gunakan alam menjadi lahan perkebunan. Layaknya banyak meme yang dilancarkan oleh warganet, Wapres kita saat kini sering dianggap kurang paham dengan janjinya sendiri. 

Contohnya di Jawa Barat saja, beberapa lokasi akan dialih-gunakan sebagai Perkebunan Kelapa Sawit. Penanaman ini akhirnya diprotes warga sekitar lahan, dan dilarang oleh Gubernar Jabar saat ini.

Dari segitu, daripada bikin meme lucu-lucuan atau sekedar protes, penulis memiliki pendapat sendiri. Jaman wacana lowongan pekerjaan serta banyak industri yang mendukungnya, sebenarnya sudah lewat. Wacana seperti itu sudah ada sejak dua presiden pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno dan Jenderal Soeharto. Namun, keduanya memang menjabat saat awal Indonesia baru merdeka, yang perlu diawasi serta dibantu secara langsung oleh pemerintahnya.

Namun selepas jaman reformasi dengan segala wacana barunya, seharusnya dialihkan kepada pengusaha, industri, serta warganya sendiri. Karena Indonesia sudah cukup maju, jadinya Pemerintah tinggal mengawasi, membuat regulasi, mengatur penerapannya, dan mengaudit kinerjanya. Itulah fungsi utama sebuah pemerintahan, yang sesuai dengan konsep dasarnya, yaitu mengurus negara dan segala urusan administrasinya. 

Lalu, mengapa wacana lowongan pekerjaan malah berubah menjadi pengalihan lahan? Justru disitulah batas kuasa pemerintah dalam fungsi administrasinya. Memang, pengalihan fungsi lahan (awalnya) hanya bisa disetujui dan diterapkan oleh pemerintah, sementara sisanya dilaksanakan oleh Pengusaha beserta Perusahaan miliknya (semacam proyek). Warga yang berada di sekitar lahan, serta pegawai yang bekerja di dalamnya, harus diberi perlindungan oleh pemerintah, karena tujuan utama bisnis tetaplah mengejar untung.

Justru, saat ini pemerintah Indonesia berlaku layaknya broker usaha, dengan segala jenis komoditasnya. Sikap seperti ini layaknya pengusaha yang mencari untung, daripada mengatur infrastruktur serta regulasinya. Hasilnya? Pemerintah yang masih kurang becus dalam dasar fungsi administrasinya, apalagi berjibaku pada banyak proyek, yang hanya menguntungkan perusahaan saja. 

Apalagi dengan kekisruhan tahun 2025 kemarin, yang berfokus pada anggota DPR pusat sana. Dari situ saja terlihat, bahwa dengan besarnya gaji, anggota DPR sebenarnya lebih mementingkan urusan Partai dan Komunitasnya. Karena mereka berlaku layaknya Marketing Communication Perusahaan bernama Partai, dan bukannya sebagai perwakilan rakyat. Tidak heran banyak urusan rakyat (yang bahkan mencapai tingkatan konspiratif), tidak diselesaikan sama sekali. 

Mungkin anggota DPR menganggap ada broker lain yang hanya meramaikan media massa saja. Tetapi, anggota DPR bisa pula berperan sebagai broker yang melaksanakan tingkatan konspiratif tersebut. Karena memang berhubungan langsung dengan pekerjaan sehari-hari mereka, lalu dengan gaji besar yang nganggur, serta bisnis dan investasi yang aman di relasi partainya.

Ya, kalau ada yang bertanya mengapa Indonesia tidak maju juga, tetapi makin kacau di pemberitaannya, dapat disederhanakan saja penyebabnya. Karena pemerintah yang berlaku sebagai broker usaha, daripada mengurusi dengan rapih, benar, dan jujur dalam fungsi utamanya, yaitu (sekali lagi) sebagai badan administratif.

Kekisruhan administratif ini pun ditampilkan pula secara gamblang dalam film Teman Tegar Maira. Ya, terdapat satu adegan dalam cuplikannya mengenai alih fungsi lahan di pedalaman Papua. Sementara Tegar dan kawan-kawannya yang paham dari segi administrasi, ingin membereskan masalah tersebut dengan mengurusi lembar kertas kuasanya saja.

Sinopsis Film Teman Tegar Maria

Tegar (Muhammad Aldifi Tegar Rajasa) kali ini berada jauh dari rumahnya, yaitu di Pulau Papua. Disana, Tegar tinggal untuk belajar mengenai kearifan lokal suku Pribumi Papua, serta kekayaan alamnya sekaligus. Tegar pun langsung kagum, dengan indahnya alam disekitar desa tempatnya tinggal.

Namun baru berapa lama tinggal, terjadi masalah pembabatan hutan demi pengalihan fungsi lahan di sekitar lokasi desanya. Apalagi, masalah ini bukanlah penebangan liar, melainkan resmi dengan kuasa dari pemerintah setempat. Tegar yang cukup paham akan masalah administrasi, berinisiatif untuk merusak lembaran dokumen izin penebangan tersebut. Namun temannya tetap melarang, karena lembaran semacam itu pasti ada salinannya.

Mulailah petualangan Tegar, Maria, dan kedua kawannya, dalam menemukan kembali surat wasiat mengenai desa tempat tinggalnya. Jika ditemukan, surat tersebut akan menjadi bukti, bahwa lokasi desa adalah tanah adat milik warisan budaya leluhur beserta warganya. 

Sanggupkah Tegar sekawan menyelamatkan asrinya alam di Papua?

Jawabannya, tentu ada di keberagaman alam ala sinema Indonesia.