Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

18 Februari 2026

Mengenang dan Menyelenggarakan Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional (Kemendikdasmen).

Berikutnya adalah momen menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, yang dirayakan tanggal 21 Februari setiap tahunnya. Hari Bahasa Ibu Internasional dirayakan sejak tahun 1999 lalu, yang diusung oleh UNESCO dari PBB. Tujuannya adalah untuk melindungi dan melestarikan banyak ragam bahasa ibu, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa ibu dalam kehidupan manusia.

Seperti sudah diutarakan sebelumnya pada artikel Hari Kebangkitan Bahasa Sunda di blog ini, penulis yang berlatar Tatar Sunda, cukup dekat kesehariannya dengan bahasa Ibu. Bahkan, penulis hanya bertutur kata bahasa Indonesia saat menulis blog ini, sementara seharian hanya berbincang Sunda.

Merayakan Bahasa Ibu

Dilansir dari UPI, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasi seorang umat manusia sejak lahir. Perannya sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak hingga dewasa, yaitu sebagai pembentukan identitas dan budaya bagi individu, proses belajar anak sejak usia dini, dan pelestarian nilai-nilai lokal.

Sebagai proses belajar anak di usia dini, anak lebih mudah memahami materi belajar dalam bahasa yang dikuasainya. Proses ini sesuai dengan ucapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, yang menyatakan melalui situs Kemendikdasmen, "Kajian akademik menunjukkan bahwa anak yang memulai pembelajaran dengan bahasa ibu, memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep akademik dengan kemampuan literasi yang lebih optimal."

Sementara dari segi pelestarian nilai lokal, dimulai saat anak mendengarkan cerita rakyat, tradisi, dan kearifan lokal dari budaya dan bahasa persukuannya. Seperti dilansir dari STPS Sahid Surakarta, bahasa ibu bukan hanya sarana komunikasi, melainkan mencerminkan budaya dan cara berpikir masyarakat. 

Setiap bahasa membawa warisan pengetahuan, tradisi, dan nilai yang sangat berharga. Dengan terus melestarikan penggunaan bahasa ibu, warga sebagai pelakon utamanya, tidak hanya menjaga kelangsungan bahasa itu sendiri. Tetapi, menghidupkan kembali warisan budaya sebagai satu identitas bagi komunitas berbahasa daerah.

Foto Naskah Carita Waruga Guru (Wikimedia).

Ngamumule Basa Sunda

Menurut sejarahnya, bangsa Austronesia bermigrasi dari Taiwan, lalu Filipina, dan akhirnya tiba di Pulau Jawa pada tahun 1000 hingga 1500 tahun Sebelum Masehi, seperti dilansir dari FISIP UI.

Mengenai namanya itu sendiri, asal nama Sunda masih abstrak. Secara etimologis, merujuk pada kata Cuddha dari Sansekerta, yang berarti cahaya, putih, bersih, murni, atau bersinar. Adapula yang mengartikan bahwa Sunda adalah perpaduan morfologi antara Sun (satu) dan Da (dua). 

Dari basa Sunda sendiri, Saunda berarti lumbung atau makmur, atau Sonda yang berarti bagus, bahagia, dan unggul. Kata Sunda merujuk pula pada ibukota Sundapura, sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara, yang berjaya saat abad empat hingga tujuh Masehi lalu, seperti dilansir dari Portal Brebes.

Pelestarian resmi basa Sunda, sudah dicanangkan sejak tahun 2013 lalu di Jawa Barat. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) No. 69 tahun 2013, Bahasa dan Sastra Sunda dicanangkan sebagai muatan lokal wajib bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah, bagi seluruh sekolah di Jawa Barat. 

Pendidikan bahasa Sunda sangat penting dilaksanakan untuk di sekolah, karena bertujuan untuk membedakan tingkatan bahasa Sunda. Tergantung kepada siapa yang diajak berbicara, maka bahasa Sunda harus menggunakan tutur kata Lemes (halus), Loma (akrab), atau kasar.

Menurut Ahmad Ghibson Al-Busthomi sebagai Pakar Hikmah Kasundaan, yang dilansir dari situs UIN Sunan Gunung Djatingamumule (melestarikan) basa Sunda berarti harus dilaksanakan oleh semua warga Sunda. Jangan sampai ada kesan budaya Sunda hanya milik budayawan dan sastrawan saja. Pesantren dianggap pula tidak menjaga kelestarian Sunda, dengan mengajarkan bahasa dan menulis aksara Jawi atau Pegon.

Namun menurut Ghibson, ada empat cara untuk tetap ngamumule Sunda sebagai warga biasa. Pertama, yaitu menghormati, memuliakan, serta mengagungkan kesenian seperti pentas, berbicara basa, memakai baju adat, dan menjaga sikap etika Sunda. Kedua yaitu terus menyerap dan menerima makna baru ke dalam basa Sunda. Ketiga adalah membangun kreasi baru di bidang perkakas dan teknologi. Keempat adalah meningkatkan kebudayaan karuhun (leluhur) Sunda, dengan mengembangkan bahasa sehari-hari, sastra, hingga seni.

Ghibson menambahkan bahwa tahap pengembangan budaya Sunda harus dengan dua cara. Satu yaitu dengan meningkatkan lokalitas wilayah dan sejarahnya. Kedua, dengan terus mewariskan budaya Sunda secara berkelanjutan.

Janten, sakanteunan ngahaturkeun filosofi hirup ti Kang Prabu Siliwangi, nyaeta Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh ka sadayana.

Sanes teu sono, tapi bade permios. Wassalam.

Sedikit Carita Buhun Sunda

Oh ya, ada satu lagi penggambaran mitologi Sunda, yang seperti biasa, kurang dapat dicek keabsahannya. Warga pulau Jawa saat awal penjelajahannya, memang berpusat di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sementara wilayah Jawa Barat belum terjamah sama sekali.

Namun, ekspedisi untuk membuka lahan dengan membabat hutan di Jawa Barat saat jaman tersebut, ternyata cukup menghasilkan. Walau begitu, warga perlu melalui naik-turunnya pegunungan, dalamnya lembah, curamnya jurang, serta banyak hewan berbahaya seperti harimau, buaya dan ular berbisa.

Karena itu, sejak keberhasilan warga pulau Jawa untuk mendiami Jawa Barat, dan bahkan hingga membangun kerajaan sendiri selama berabad-abad lamanya, memberi simbol khusus pada warga Sunda. Maung alias Harimau yang kuat dan sanggup menguasai hutan belantara, adalah simbol tersebut.

Tapi ya, jangan sampai langsung pamacan dan berkoar "Aing Maung!"

Aing Maung! (YouTube).

Memahami Mitologi China dari Episode How to Become Three Dragons

 

Tiga siluman ular yang berniat besar (Newhanfu).

Menyambut Tahun Baru China alias Imlek tahun 2577 dengan kalender bulannya, penulis justru mengecek mitologi sebelum jaman ini berlangsung. Tentu blog ini lebih membahas referensi budaya populer, khususnya film dan banyak media lainnya. Jika penulis membahas terlalu banyak khas budaya serta demografi aslinya, malah berubah menjadi blog Antropologi dan Teologi.

Nah karena itu, artikel ini akan membahas satu episode dari Zhong Guo qi tan (Yao Chinese Folktales), berjudul How to Become Three Dragons. Kisah yang lebih mirip folklor ini disajikan ala animasi modern sejak awal tahun 2026. Kisahnya sangat mengacu pada mitologi China dengan perbedaan antara siluman hingga dewa, dan hubungannya ke manusia.

Khong Hu Cu di Indonesia

Mengingat Imlek biasa dirayakan oleh umat Khong Hu Cu di Indonesia, yaitu kentara berasal dari etnis Tionghoa, maka perlu dibahas disini. Dilansir dari UGM, Khong Hu Cu adalah pengucapan Hokkien dari filsuf China bernama Kong Fuzi, atau terkenal dengan nama latinnya sebagai Confucius. Semenjak reformasi di akhir abad lalu, Khong Hu cu secara resmi diterima sebagai satu dari enam agama yang di Indonesia.

Khong Hu Cu di Indonesia pun berbeda dengan China sebagai negara asalnya. Di kuil China, atau biasa disebut sebagai Kelenteng, banyak umat berdoa tanpa perlu menunggu waktu khusus. Figur yang disembah adalah kombinasi dari tiga sistem kepercayaan besar dari China, yaitu Confucius, Dao, dan Buddha. Tiga komunitas berbeda di Indonesia menyatukan organisasinya dibawah Asosiasi Tri-Dharma.

Berbeda pula pandangan mengenai Tuhan Yang Maha Esa dari Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sekaligus negara aslinya di China, oleh warga penganut Khong Hu Cu. Yaitu konsep Tian yang artinya dalam bahasa China, berarti istilah surgawi. Bagi warga yang berasal dari agama monoteistik, maka Tian bisa diartikan sebagai Tuhan. Tetapi bagi umat Khong Hu Cu, Tian tidak memiliki atribut khusus, dan tidak berperan langsung pada kehidupan umat manusianya.

Memang, ideologi Indonesia lebih mengacu pada Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap saling bersatu sama lainnya.

Mitologi dan Folklor China

Karena di artikel ini membahas suatu cerita dari folklor China, maka cocok untuk membahas sedikit dasar dari Mitologi China. Walau media dari China saat ini lebih mengisahkan dengan heboh dan masifnya mitologi, namun justru di episode ini lebih mudah dicerna, karena mirip dengan dongeng ala daerah Indonesia.

Mitologi China berasal dari banyak mitos regional dan tradisi budaya, yang diwariskan turun temurun secara oral. Ceritanya mulai dari kisah menarik hingga suatu entitas dengan kekuatan magis. Bersama folklor, mitologi membentuk kepercayaan tradisional dan Dao di banyak kalangan warga China. Naratif dari cerita masa lampau mengacu pada karakter atau kejadian, yang di-interpretasi melalui perspektif sejarah atau mitologi.

Mitologi di china sangat erat hubungannya dengan konsep Li (Confucius) yang lebih mengatur tatatan sosial, dan Qi (Dao) yang lebih mengemukakan semangat spiritual. Dua konsep mendasar ini saling berkaitan dengan ritual sosial, yang dilaksanakan saat berkomunikasi, salam, dansa, upacara, dan pengorbanan.

Kisah Tiga Ular di How To Become Three Dragons

Kisah episode How To Become Three Dragons saat musim kedua Yao Chinese Folktales, memang sangat kentara dengan penjelasan diatas. Karena itu, penulis memulai artikel ini dengan menjelaskannya terlebih dahulu.

Kisahnya diawali ala hebohnya tiga warga siluman yang berbentuk ular. Mirip dengan kisah siluman lainnya, ketiga ular berinisiatif untuk mencapai level Dewa. Karenanya, mereka mulai mencari pengikut dengan menjaga suatu desa.

Kisah ketiga ular tentu tidak akan diceritakan sepenuhnya disini, karena akan menjadi spoiler. Namun, ada satu wacana tersendiri dari ketiga ular, yaitu dengan terus menjaga dan mengalirkan air menuju sebuah desa yang kekeringan, agar mereka semakin disembah.

Sayangnya, karena tingkah mereka yang pecicilan, Dewa Naga marah dan menyerang desa tersebut. Saking besarnyanya serangan kilat Dewa Naga, banyak rumah di desa tersebut lalu terbakar hebat. Ketiga ular tidak mampu melawan atau terlalu lemah untuk membantu warga desa. Hingga satu diantaranya langsung mengorbankan diri, dengan mengumpankan dirinya pada sang Naga. 

Namun saat serangan Dewa Naga berhasil membasmi sang ular, ledakannya malah menghancurkan batu yang menahan aliran air diatas gunung. Sungai dan airnya pun terbebaskan alirannya, dan berhasil memadamkan banyak rumah yang terbakar di desa, serta mengairi seluruh ladang warga.

Waktu pun berlalu setelah ketiga ular kalah dalam bencana tersebut. Namun, reinkarnasi ketiga ular muncul di kuil kecil yang disembah warga desa. Warga pun semakin bersyukur dan terus berdoa sepenuh hati di kuil tersebut, selama banyak generasi berikutnya.

Pendapat Penulis

Ya, memang suatu kisah yang sangat mencerminkan dongeng dan folklor, walau tidak se-epik kisah dari animasi China. Dengan penjelasan awal mengenai sebuah kepercayaan, yang asalnya dari mitologi dan folklore China, dan diakhiri dengan suatu animasi kartun saja, tentu dapat dipahami dari segi ini. 

Ya, sesuatu yang susah dinalar di dunia yang besar, dan hanya berisi kisah drama naik-turunnya kehidupan, selalu menjadi siklus kehidupan yang terus mengalir. Baik itu bagi manusia, hewan, tanaman, dan seluruh alam di sekitarnya.

Okeh, Zaijian.

Kombo Sangar Ala Yakuza dan Kabuki Jepang di Film Kokuho

 

Pemeran Kabuki wanita yang aselinya pria (TMDB).

Menanggapi jaman ramai streamer dan roleplayer GTA di YouTube dan sajabana, saatnya beralih ke masa lalu dengan menyambut film kombinasi keduanya, berjudul Kokuho. Film yang tayang di sinema Indonesia bulan Februari ini, memiliki rating yang cukup untuk sebuah film drama kejahatan, yaitu D17. 

Bagi yang paham vibe-nya, maka mengerti bahwa Yazuka Jepang memiliki latar belakang sadis, namun sering berjumpalitan alias saling berselingan dengan dunia hiburan. Entah bagaimana keadaannya sekarang di tahun 2020an. Tetapi daripada membahas lingkar kejahatan yang sudah lama menurun pamornya, dan mengacu pada dunia yang brutal, maka coba dicek dari segi seni budayanya.

Kokuho bertema dunia seni, khususnya Kabuki sebagai seni teater tradisional Jepang. Tokoh utamanya memiliki latar sebagai anggota Kabuki, sekaligus seorang anak bos Yakuza. Animo yang berbeda tentunya, sehingga para kritikus memberi banyak penghargaan bagi film ini. Mulai dari Japan Academy Awards sebagai lokasi aslinya, hingga Oscar's Academy Awards dari Hollywood sana. Jadi, film ini mudah direkomendasikan bagi para penggemar film drama, khususnya yang berbau kejahatan.

Kabuki Jepang, Ketoprak Jawa, dan Longser Sunda

Nah seperti sudah diutarakan sebelumnya, daripada membahas sangarnya para Yakuza, lebih baik mengambil sudut pandang dari ranah seninya saja. Dari cuplikannya, Kukoho menunjukkan banyak adegan yang lebih berlatar seni teater dan segala keglamorannya. Hanya sedikit adegan berisi kerasnya para Yakuza.

Kabuki adalah sejenis teater tradisional Jepang, yang mulai dikembangkan dan ramai sejak tahun 1603 lalu. Khas dari teater ini adalah para karakternya berdandan warna putih, dengan garis merah di seluruh wajahnya. Kombinasi pola yang berbeda pada setiap karakternya, dan biasa disebut sebagai Kumadori. 

Dari etimologi-nya (yang setiap nama dan istilah bahasa Jepang lebih mengacu, daripada morfologinya), Kabuki berarti gabungan kata dari kemampuan, menyanyi, dan berdansa. Berbeda pula dengan padanan katanya, yang berarti kabuku atau aneh, nyeleneh, atau beda dengan yang biasa. Karena itu, pertunjukan Kabuki selalu luar binasa, layaknya anime Jepang yang selalu heboh.

Jika disandingkan sederhana, dandan Kabuki yang berwarna putih, sangat mirip dengan Wayang Orang. Namun dari segi hebohnya pertunjukan, Kabuki bisa disandingkan dengan hebohnya teater tradisional Jawa, yaitu Ketoprak. Teater ini ramai dimainkan dari Jawa Tengah hingga Timur, dengan khas gaya bahasa Jawa yang lugas dan keras, tidak seperti kesehariannya. Teater yang mulai keluar dari ranah Keraton sejak 1922 lalu, meramaikan kekayaan teater tradisional Jawa.

Berbeda pula perkembangan di daerah Sunda, alias daerah Jawa Barat. Khas kekonyolan Sunda tersirat dengan kuat di Longser Sunda, sejak tahun 1920 lalu. Sebelum dikenal hingga saat ini, teater tradisional ini sempat bernama awal doger, lalu lengger, dan akhirnya baru longser. Khas paling berbeda pada longser, adalah sesi bobodoran Sunda, yang kental dengan komentar sosialnya. Saat ini, longser sering diadakan sebagai seni saat hajatan (kawinan) berlangsung, daripada sebagai seni pertunjukan panggung atau jalanan.

Penulis memiliki minat khusus pada seni longser, khususnya saat acara nikahan berlangsung. Jika pengunjung acara tiba sebelum prasamanan dimulai, maka akan disajikan dengan pertunjukan longser. Humor, tari, serta tema sosial yang ditampilkan, menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis. Apalagi bobodoran-nya yang cukup dimengerti oleh penulis. 

Nah, sedikit mengacu pada Kabuki di film Kokuho, seni tradisional sejenis ini sering merubah karakter wanita, namun diperankan oleh seorang pria. Bahkan dari seni teater longser, ada istilah yang cukup kasar, yaitu Bebencongan. Sesuai namanya, bencong berarti pria yang bertingkah terlalu kewanitaan. 

Tetapi dari segi seni, apalagi humor, perubahan peran ini biasa dilansirkan sebagai bagian dari ekspresi, atau memang keterbatasan jumlah aktor-aktrisnya. Jika dicek hingga seni teater dari Eropa sana, maka peralihan jenis kelamin demi mengisi suatu peran, cukup biasa dan sering dilaksanakan pula.

Lucunya lagi, khusus untuk longser sunda, bebencongan ini khas dengan dandan ala warna putihnya. Karena kulit cokelat para pria yang berasal dari Tatar Sunda, maka lebih cocok berdandan tebal, apalagi niatnya memang humor. Jadi, walau dari sini terdengar agak lucu, namun nyambung dengan animo film Kokuho.

Jadi, sekeras apa Kabuki dan Yakuza jika digabungkan dengan peran wanita? Coba dicek saja sinopsisnya.

Bebencongan ala Longser Sunda (YouTube).

Sinopsis Film Kokuho

Kikuo Tachibana (Ryo Yoshizawa) adalah seorang anak Yakuza terkenal, di tahun 1964 lalu. Sejak berumur 15 tahun, Kikuo telah ditinggalkan ayahnya akibat kekisruhan di lingkar kejahatan mereka. 

Namun sejak berumur muda, Kikuo sama sekali tidak berminat dengan hidup keras dan sangar ala Yakuza Jepang, yang terkenal sadis dalam menjalankan bisnisnya. Kikuo justru lebih tertarik pada seni teater tradisional Jepang, bernama Kabuki. Tidak seperti biasanya, peran heboh ala Kabuki tidak diperankan oleh Kikuo. Melainkan dirinya lebih memilih peran wanita, yang wajar dilaksanakan sebagai pertukaran gender di teater Kabuki.

Selama menjalani karir sebagai aktor Kabuki, Kikuo dekat dengan Shunsuke Ogaki (Ryusei Yokohama), yang merupakan anak Sensei di Padepokan Seni Kabuki-nya. Keduanya yang satu generasi, menyebabkan pertemanan mereka semakin erat. 

Lebih dari beberapa dekade dijalani oleh Kikuo di dunia Kabuki, tanpa begitu berandil dalam dunia Yakuza warisan ayahnya. Namun, sifat dan sikap sangar Kikuo mulai muncul dalam dirinya. Apalagi, Kikuo kini justru bersaing dengan sahabatnya sendiri, demi meraih penghargaan sebagai aktor terbaik Kabuki seantero Jepang.

Bagaimanakah akhirnya yang penuh luka-liku budaya dibalik modern-nya Jepang? 

Jawabannya, tentu dapat dinikmati saat teater tradisional ala sinema Indonesia.

03 Februari 2026

Berkelana ke Pulau Papua di Film Teman Tegar Maira

 

Maria, Tegar, dan kawan yang heran dengan apa gerangan di Papua (TMDB).

Saatnya kembali lagi ke pulau besar Papua di penghujung Indonesia, dalam film Teman Tegar Maria, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Nah, seperti film Tegar sebelumnya di tahun 2022 lalu, kali ini tokoh utamanya tetaplah Tegar, yaitu seorang aktor disabilitas, yang berjibaku dengan semangat hidupnya.

Tegar yang tidak memiliki dua tangan dan satu kaki, memang memiliki banyak tantangan hidup. Seperti dicontohkan dalam filmnya di tahun 2022 lalu yang diproduksi bersama Deddy Mizwar, Tegar masih mencoba untuk bersekolah dan memiliki banyak teman.

Nah di tahun 2026 ini, Tegar justru melanglangbuana hingga Pulau Papua sana. Di sana, Tegar tinggal dan belajar dari suku pribumi Papua, demi memahami kearifan lokal setempat. Dalam film keduanya ini, studio Aksa Bumi Langit merekam lokasi syuting dengan keindahan alam Papua, yang sangat terlihat memukau dalam cuplikannya. 

Film ini adalah kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir, yang mengangkat kisah dari pulau paling ujung Nusantara ini. Sebelumnya pada bulan Desember lalu, film berjudul Timur sempat mengadaptasi kekisruhan di Pulau Papua, namun dengan bumbu aksi ala aktor Iko Uwais dan studio miliknya.

Tentu sama dengan kisah kekayaan alam dan ekspansi kelapa Sawitnya, kisah di film Teman Tegar Maria ini berlatar belakang pula kisruhnya alam Indonesia.

Lowongan Pekerjaan dan Pengalihan Fungsi Lahan

Sayang seribu sayang memang, kisah membuka lowongan pekerjaan di Indonesia, malah menjadi wacana untuk mengalih-gunakan alam menjadi lahan perkebunan. Layaknya banyak meme yang dilancarkan oleh warganet, Wapres kita saat kini sering dianggap kurang paham dengan janjinya sendiri. 

Contohnya di Jawa Barat saja, beberapa lokasi akan dialih-gunakan sebagai Perkebunan Kelapa Sawit. Penanaman ini akhirnya diprotes warga sekitar lahan, dan dilarang oleh Gubernar Jabar saat ini.

Dari segitu, daripada bikin meme lucu-lucuan atau sekedar protes, penulis memiliki pendapat sendiri. Jaman wacana lowongan pekerjaan serta banyak industri yang mendukungnya, sebenarnya sudah lewat. Wacana seperti itu sudah ada sejak dua presiden pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno dan Jenderal Soeharto. Namun, keduanya memang menjabat saat awal Indonesia baru merdeka, yang perlu diawasi serta dibantu secara langsung oleh pemerintahnya.

Namun selepas jaman reformasi dengan segala wacana barunya, seharusnya dialihkan kepada pengusaha, industri, serta warganya sendiri. Karena Indonesia sudah cukup maju, jadinya Pemerintah tinggal mengawasi, membuat regulasi, mengatur penerapannya, dan mengaudit kinerjanya. Itulah fungsi utama sebuah pemerintahan, yang sesuai dengan konsep dasarnya, yaitu mengurus negara dan segala urusan administrasinya. 

Lalu, mengapa wacana lowongan pekerjaan malah berubah menjadi pengalihan lahan? Justru disitulah batas kuasa pemerintah dalam fungsi administrasinya. Memang, pengalihan fungsi lahan (awalnya) hanya bisa disetujui dan diterapkan oleh pemerintah, sementara sisanya dilaksanakan oleh Pengusaha beserta Perusahaan miliknya (semacam proyek). Warga yang berada di sekitar lahan, serta pegawai yang bekerja di dalamnya, harus diberi perlindungan oleh pemerintah, karena tujuan utama bisnis tetaplah mengejar untung.

Justru, saat ini pemerintah Indonesia berlaku layaknya broker usaha, dengan segala jenis komoditasnya. Sikap seperti ini layaknya pengusaha yang mencari untung, daripada mengatur infrastruktur serta regulasinya. Hasilnya? Pemerintah yang masih kurang becus dalam dasar fungsi administrasinya, apalagi berjibaku pada banyak proyek, yang hanya menguntungkan perusahaan saja. 

Apalagi dengan kekisruhan tahun 2025 kemarin, yang berfokus pada anggota DPR pusat sana. Dari situ saja terlihat, bahwa dengan besarnya gaji, anggota DPR sebenarnya lebih mementingkan urusan Partai dan Komunitasnya. Karena mereka berlaku layaknya Marketing Communication Perusahaan bernama Partai, dan bukannya sebagai perwakilan rakyat. Tidak heran banyak urusan rakyat (yang bahkan mencapai tingkatan konspiratif), tidak diselesaikan sama sekali. 

Mungkin anggota DPR menganggap ada broker lain yang hanya meramaikan media massa saja. Tetapi, anggota DPR bisa pula berperan sebagai broker yang melaksanakan tingkatan konspiratif tersebut. Karena memang berhubungan langsung dengan pekerjaan sehari-hari mereka, lalu dengan gaji besar yang nganggur, serta bisnis dan investasi yang aman di relasi partainya.

Ya, kalau ada yang bertanya mengapa Indonesia tidak maju juga, tetapi makin kacau di pemberitaannya, dapat disederhanakan saja penyebabnya. Karena pemerintah yang berlaku sebagai broker usaha, daripada mengurusi dengan rapih, benar, dan jujur dalam fungsi utamanya, yaitu (sekali lagi) sebagai badan administratif.

Kekisruhan administratif ini pun ditampilkan pula secara gamblang dalam film Teman Tegar Maira. Ya, terdapat satu adegan dalam cuplikannya mengenai alih fungsi lahan di pedalaman Papua. Sementara Tegar dan kawan-kawannya yang paham dari segi administrasi, ingin membereskan masalah tersebut dengan mengurusi lembar kertas kuasanya saja.

Sinopsis Film Teman Tegar Maria

Tegar (Muhammad Aldifi Tegar Rajasa) kali ini berada jauh dari rumahnya, yaitu di Pulau Papua. Disana, Tegar tinggal untuk belajar mengenai kearifan lokal suku Pribumi Papua, serta kekayaan alamnya sekaligus. Tegar pun langsung kagum, dengan indahnya alam disekitar desa tempatnya tinggal.

Namun baru berapa lama tinggal, terjadi masalah pembabatan hutan demi pengalihan fungsi lahan di sekitar lokasi desanya. Apalagi, masalah ini bukanlah penebangan liar, melainkan resmi dengan kuasa dari pemerintah setempat. Tegar yang cukup paham akan masalah administrasi, berinisiatif untuk merusak lembaran dokumen izin penebangan tersebut. Namun temannya tetap melarang, karena lembaran semacam itu pasti ada salinannya.

Mulailah petualangan Tegar, Maria, dan kedua kawannya, dalam menemukan kembali surat wasiat mengenai desa tempat tinggalnya. Jika ditemukan, surat tersebut akan menjadi bukti, bahwa lokasi desa adalah tanah adat milik warisan budaya leluhur beserta warganya. 

Sanggupkah Tegar sekawan menyelamatkan asrinya alam di Papua?

Jawabannya, tentu ada di keberagaman alam ala sinema Indonesia.

29 Januari 2026

Tanpa Batasnya Simbol Saat Gelut Saitama vs Boros di One Punch Man

 

Saitama vs Boros (Fiction Horizon).

Hehe, saatnya membahas satu anime yang sangat kentara dengan referensinya, OPM alias One Punch Man. Bagi para penggemar anime, tentu tahu bahwa OPM adalah parodi dari segala jenis anime, khususnya Battle Shonen atau Super Hero. 

Namun menurut penulis, ada satu adegan yang sangat kentara simbolismenya, daripada referensi Budaya Populernya. Ya sesuai judul, sangat kentara saat akhir musim pertama alias tahun 2016 lalu, saat Saitama duel melawan Boros diatas pesawat invasi. Bagi yang kurang ingat dengan gelutnya, bisa dicek saja di YouTube. Banyak kanal yang mengunggah klip khusus Saitama vs Boros.

Oh ya, sebelum membahas gelut yang lebih kentara ke penggambaran Boros, maka perlu diingat bahwa Saitama adalah referensi simpel. Saitama mengacu pada Biksu Shao Lin dari China, yang jelas berpakaian kuning dengan kepala botaknya. Bahkan selama bertahun-tahun, hidup Saitama hanya diisi latihan berat seharian, dengan hanya memakan pisang saja, layaknya biksu yang berlatih dengan pola makan vegetarian.

Simbol Ouroboros (Wikimedia).

Nama Boros

Boros mengambil referensi dari Ouroboros, yaitu sejenis simbol dari Mesir dan Yunani Kuno. Gambarnya cukup aneh, yaitu sejenis naga atau ular, yang memakan ekornya sendiri. Secara simbolis, interpretasi gambar ini adalah siklus tanpa akhir untuk kehidupan, kematian, dan kebangkitan kembali. Tetapi simbol ini berbeda jauh dengan Infiniti, yaitu bentuk pita berkesinambungan lebih jelas.

Padahal jika dicek secara sainsya, ular yang melahap ekornya sendiri, berarti ular tersebut sedang di penghujung hidupnya. Ular berarti gagal memangsa hewan lain, sehingga satu-satunya pilihan adalah melahap ekor sendiri. Atau, akibat ular yang stres dan salah mengartikan ekornya sendiri. Sesuai dengan anehnya sikap ular, dalam satu istilah frase bule, menggigit ekor sendiri berarti maksudnya adalah menyakiti diri sendiri.

Dari situ, cocok sebagai referensi langsung tentang kegilaan Boros, yang tiada habisnya. Boros adalah karakter jahat yang bertualang antar galaksi bersama anak buah dan pesawat miliknya, demi mencari gelut yang sepadan. Namun saat tiba di bumi, hasilnya adalah Saitama sanggup mengalahkannya. Bahkan, Boros merasa gelut tersebut tidak sepadan sama sekali, karena Saitama tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Dua Mata Boros

Kalau yang kurang ngeuh, pasti menganggap bahwa mata Boros hanyalah satu, alias di wajah saja. Padahal jika dicek adegannya, mata Boros ada dua, yaitu satu lagi berada di perutnya, yang menutupi kristal regenerasinya. Ya, dua mata ini adalah simbol dari dua dewa Mesir Kuno, yaitu Dewa Ra dan Dewa Horus. 

Oh ya, simbol satu mata ini tidak mengacu ke satu tokoh terkenal itu loh, yang memang matanya hanya satu, dan suka bikin kisruh sedunia, dari jaman terdahulu hingga sekarang.

Di mitologi Mesir Kuno, Dewa Ra adalah Dewa Matahari, dengan mata (kanan)-nya sebagai simbol. Dewa Ra bisa diartikan pula sebagai kekuatan besar dunia, yang dapat menghalau musuh manapun. Matahari bukan hanya simbol, karena dalam kesehariannya, warga Mesir Kuno menggunakan penanggalan matahari, alias 365 hari setahunnya. Khusus di Boros, berarti ini adalah mata di bagian wajahnya, alias penunjuk arah dan identitas.

Sementara mata kedua yang berada di perut, mengambil referensi simbol Mata Horus. Dewa yang satu ini, menyimbolkan kesejahteraan, kesembuhan, dan perlindungan. Maka, mata yang satu ini cocok ditempatkan di perut, walau tidak begitu jelas penggambarannya di tubuh Boros. Tetapi, Boros berkemampuan regenerasi yang sangat kuat dan cepat, sesuai dengan simbol Dewa Horus, dan siklus Infiniti (tanpa batas) ala Ouroboros.

Ada dua adegan yang perlu dicek mengenai kemampuan regenerasi Boros saat melawan Saitama. Yaitu saat Saitama memukul keras Boros, tepat di bagian perut. Lalu saat Saitama memukul cepat dan banyak, untuk menghancurkan seluruh tubuh Boros. Sayangnya, masih tersisa kristal regenerasinya, sehingga Boros berhasil menyembuhkan tubuhnya.

Bumi, Bulan, dan Matahari

Kali ini, bukan hanya mengacu pada simbol kedua karakter, tetapi adegan langsung saat gelutnya. Saat Boros akhirnya berhasil menendang keluar Saitama dari Bumi, dan berakhir di permukaan Bulan. Dari situ, Saitama tetap berhasil loncat kembali ke Bumi, dan langsung berhadapan dengan Boros.

Simpel saja seperti sudah diutarakan sebelumnya, Saitama adalah visualisasi Biksu Shao Lin dari China. Berarti, dengan dirinya yang berakhir di Bulan, layaknya mengingatkan China yang (secara tradisional) masih menggunakan penanggalan Bulan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Boros dari Mesir Kuno, sudah pasti berlandaskan siklus Matahari sebagai penanggalannya. 

Tidak ada definisi berarti dalam keduanya, karena memang menggambarkan dua jenis penanggalan berbeda. Di negara seperti China dengan kalender Bulannya, Hijriyah ala negara Muslim, serta penanggalan Jawa yang kental, Bulan memang menjadi landasan utama di kalender.

Sementara di seluruh dunia, Masehi alias penanggalan matahari, masih menjadi standar kerjasama internasional. Jika dicek sejarahnya, Mesir Kuno memang mempengaruhi banyak kerajaan dalam penanggalan mataharinya, sementara Yunani hingga Romawi Kuno masih menggunakan tanggal ala Bulan. Baru mendekati tahun Masehi, Romawi akhirnya mengadaptasi penanggalan Matahari.

Pendapat Penulis tentang Siklus Ouroboros

Penulis sendiri memiliki pendapat khusus dengan Ouroboros, yang sangat destruktif pada diri sendiri (dan orang lain), padahal bagian utama dari siklusnya. Ya, bukannya penulis memiliki masalah menyakiti diri sendiri (atau orang lain), tetapi terdapat suatu bentuk destruktif yang perlu dihindari.

Tidak hanya mengacu pada Biksu yang damai, atau Ouroboros yang destruktif, tetapi penulis memang perlu menjabarkan simbol ini di banyak media. Dari segi ini, walau saya menulis dan menjabarkan simbol yang ada di banyak media terkenal, namun cukup sulit untuk menghindari pola destruktif-nya. Ya, setiap media memang memiliki pola ancur-ancurannya sendiri.

Apalagi jika mengacu pada Seni Populer atau bahkan Jurnalistik, yang kehilangan dasar konsep serta Primbonnya (seakan Politik Praktis). Bahkan, beberapa media seperti itu, layaknya ngalor-ngidul di artikel Monsterisasi, yang (bisa jadi) tidak cocok referensinya, dan bahkan kurang sesuai dengan kebutuhan kesehariannya.

Nah karena itu, (mungkin) One Punch Man menjadi artikel terakhir Monsterisasi berisi anime. Nantinya artikel sejenis ini tidak akan ditulis setiap minggunya, dengan referensi yang lebih berat di genre dan media lain, khususnya horor.

Okeh, Amitabha.

27 Januari 2026

Horornya Jurig Orok dari Taiwan di Film Mudborn

 

Kisah keluarga yang menunggu momongan (TMDB).

Sudah saatnya mengalihkan perhatian ke ranah perfilman dari Taiwan, khususnya dalam genre horor. Contohnya akhir Januari ini, dirilis film berjudul Mudborn di sinema Indonesia, dengan rating yang sama seperti sebelumnya, yaitu D17. Walau sudah dirilis tahun 2025 lalu dan baru masuk Indonesia di tahun 2026, Mudborn tampaknya melanjutkan animo horor berbeda dari Taiwan sana.

Sedikit Kabar Horor dari Taiwan

Taiwan memang sudah cukup jarang terdengar mengenai ranah perfilmannya lagi, khususnya di Nusantara. Namun, menjelang tahun 2020an, gaung horor mulai terdengar dari negara kepulauan di semenanjung China ini. 

Awalnya (menurut penulis), adalah hasil dari film yang sudah mencapai seri ketiganya, yang berjudul The Rope Curse. Film yang dirilis tahun 2018, 2020, lalu 2023 ini, mengambil kisah yang sangat kentara budayanya. 

Mengambil referensi jurig Thailand yang suka menjebak manusia dengan ikatan tali tambang, dalam film The Rope Curse memang jurignya tiba dari negara Siam. Cara melawan kutukannya pun cukup unik, yaitu sejenis opera tradisional China-Taiwan. Bahkan hingga seri keempatnya (yang belum dirilis), khas opera tradisional sebagai ritual anti jurig, masih lekat dalam waralaba film ini. 

Berikutnya adalah film yang lebih mengacu pada legenda urban, dalam film The Bridge Curse (2020). Film ini mengisahkan tentang legenda jembatan di sebuah kampus, yang sering dipakai sebagai bagian jurit malam dari mahasiswa. Cukup seram dan aneh, karena banyak adegan berjumpalitan, sehingga menyajikan misteri berbeda dalam duo film ini. Bahkan jika ingin mengerti seluruh kisahnya, maka perlu menonton sekuelnya yang bersub-judul The Ritual, di tahun 2023. 

Terakhir adalah contoh film Taiwan yang sangat viral di tahun 2022 lalu, berjudul Incantation. Berbeda dengan dua waralaba film sebelumnya, film Incantation ini lebih mengisahkan tentang ritual aneh di penghujung desa Taiwan. Karena lokasi terpencil desa serta ritual tradisinya yang berbeda, film ini layaknya menggunakan teknik sineas perfilman Jepang terdahulu. Ya, layaknya film Ringu (1998, 2003, 2005), kisah investigasi sejarah dan budaya tradisional di lokasi urban terpencil, sangat kentara dalam film Incantation ini.

Nah, film Incantation ini cocok sebagai perbandingan dengan film Mudborn, karena memiliki plot yang mirip. Dalam film tahun 2022 lalu, lebih mengisahkan tentang seorang ibu yang ingin anaknya tetap bertahan hidup, tanpa gangguan jurig. Kali ini di film Mudborn, justru sepasang suami istri yang ingin segera memiliki anak. 

Tidak hanya kisah keluarga yang dihororkan, namun mengacu pada benda keramat serta ritual aneh lainnya, yang ditampilkan dalam kedua film ini. Di film Incantation, terdapat banyak jimat serta penggambaran dewa yang seharusnya melindungi insan sang anak. Namun di film Mudborn, justru banyak kejadian aneh yang muncul akibat patung tanah liat kecil berbentuk anak. Patung ini justru tidak seharusnya horor, karena dipercaya membawa keberuntungan di Taiwan sana.

Sinopsis Film Mudborn

Xu Chuan (Tony Yang) secara tidak sengaja membawa kutukan berat ke rumahnya. Dirinya yang tengah menunggu istrinya, Mu Hua (Cecillia Choi) untuk segera hamil, malah menyebabkan rumahnya menjadi horor. Mu Hua sebagai seorang kolektor barang antik, yang diberikan boneka tanah liat berbentuk anak oleh Xu Chuan. Dirinya malah terobsesi oleh patung tersebut, dan bahkan mulai berubah seluruh kepribadiannya, hingga terbalik 180 derajat. 

Mu Hua pun semakin sakit fisiknya, namun turut sakti mandraguna, sehingga Xu Chuan menganggapnya kerasukan. Saat dicek, ternyata boneka tersebut bukan patung jimat biasa, melainkan digunakan untuk menyegel sejenis mahluk mistis berbahaya. Mu Hua semakin terlihat kesurupan, sementara Xu Chuan tidak bisa tinggal di rumah lagi. Dirinya lalu mulai mencari banyak dukun bersama teman-temannya, demi menyembuhkan Mu Hua dari godaan jurig laknat tersebut.

Dapatkah keluarga kecil ini selamat? Atau malah menyebabkan kerusuhan besar di seantero lingkungan rumah?

Jawabannya, tentu ada di ritual keluarga kecil ala sinema Indonesia.

14 Januari 2026

Berbincang Sunda Sebagai Budaya Bahasa Lokal di Jawa Barat

 

Aksara Sunda di Jalan Merdeka Bandung (Kagum Insight).

Punten, saatnya membahas Hari Kebangkitan Bahasa Sunda, yang dirayakan setiap 17 Januari, sejak tahun 2022 lalu. Tanggal penting ini digagas oleh Dedi Mulyadi, yang kini menjabat sebagai gubernur Provinsi Jawa Barat. 

Sedikit Sejarah Hari Kebangkitan Bahasa Sunda

Awal dicanangkannya Hari Kebangkitan Bahasa Sunda memang sempat kisruh, akibat politisi yang (seperti biasanya) sedang gimmick dari pusat sana. Sementara Dedi Mulyadi yang tidak menjabat posisi administrasi manapun, dan tengah aktif di salah satu partai besar, cukup berang menanggapinya. 

Dedi Mulyadi lalu meminta kepada pemerintah pusat, untuk mengesahkan tanggal 17 Januari sebagai Hari Kebangkitan Bahasa Sunda. Karena rekam jejak dan kontribusi Dedi Mulyadi sebagai pejabat di daerah Sunda alias Jawa Barat, maka wacana tanggal penting ini disahkan oleh pemerintah. 

Seperti dilansir dari Media Indonesia, maka untuk merayakan tanggal penting ini, dapat dijabarkan dengan satu kalimat berbahasa Sunda berikut. 

'Rahayu selawasna Hari Kebangkitan Bahasa Sunda! Tetep budaya, tetep basa, supados tiasa nyandakkeun ka samudaya.' 

Paribasa Sunda Lelea dari Indramayu (Wikimedia)

Keseharian Berbahasa Sunda 

Menurut penelitian ringkas tahun 2021 yang dilaksanakan oleh Dr. H. Wawan ‘Hawe’ Setiawan, M.Sn, selaku ketua Ketua Lembaga Budaya Sunda dari Universitas Pasundan, penggunaan bahasa sunda sehari-hari sangatlah kental diantara anak muda.

Wawan menyatakan, bahwa lembaga pendidikan (sekolah dan universitas) telah baik mengajarkan bahasa Sunda yang terstandarisasi (sebagai muatan lokal atau jurusan kuliah). Ternyata, saat kajian dilaksanakan di lingkungan non-formal, maka komunikasi bahasa Sunda yang 'kekinian' dapat dan harus diapresiasi, karena lebih fleksibel.

Menurut Wawan, bahasa Sunda digunakan oleh milenial, sebagai label untuk berbagai karya produk, contohnya pada desain kaus, makanan, hingga produk tembakau. Generasi milenial saat ini tidak meninggalkan bahasa Sunda, melainkan dipandang sebagai elemen lokal dan 'pembeda' yang dominan. 

Maksud Wawan, justru bagi milenial yang mengambil langkah inovatif tersebut, adalah cara mereka untuk mengoreksi hal yang sudah dominan dengan ragam mereka sendiri. Maka, kearifan lokal masih bernaung dalam jiwa para generasi milenial.

Bahkan, menurut Wawan, ragam bahasa Sunda seperti ini dari generasi muda, tidak perlu dibuat strukturnya. Nantinya, tidak akan ekspresif lagi. Ranah antara ekspresif dan strukturisasi, harus dijaga perbedaannya, karena mengacu pada sistem yang sebetulnya masih perlu dikoreksi. 

Sementara dari penulis sendiri, jujur saja lebih sering berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Bahkan, saking dominannya, justru hanya bertutur-kata bahasa Indonesia, saat menulis di Blog ini saja (P). 

Karena itu, kadang berbagai kata Sunda yang 'terasa enak,' sering dilampirkan dalam banyak artikel di blog ini, biar terasa lebih komunikatif. Atau, penulis merasa kurang cocok dengan kata yang berbahasa Indonesia, sehingga memilih kata dari Sunda saja (P).

Ya, kadang kerasa pabeulit letah sih (alias tongue twister), tapi mumpung ngeunaheun.

Paguyuban Pasundan

Sebenarnya, urusan kebangkitan bahasa daerah, khususnya suku Sunda di Jawa Barat, sempat terjadi dalam sejarah. Fakta ini dilansir dari Edi S Ekadjati, dalam bukunya yang berjudul Kebangkitan Kembali Orang Sunda, yang dilampirkan dalam situs Bandung Bergerak

Edi S Ekadjati menyatakan bahwa awal abad 20 di Indonesia, alias Hindia-Belanda saat jaman tersebut, sedang tumbuh kesadaran dalam masyarakat pribumi, khususnya dari kaum terpelajar. Jaman tersebut, sangat dibutuhkan organisasi yang menghimpun kekuatan dan kebersamaan sesama warga.

Sehingga, terbentuklah banyak organisasi kaum pribumi yang bercorak etnis, agama, dan dagang. Contoh yang berdasarkan etnis, diantaranya adalah Budi Utomo, Rukun Minahasa, Paguyuban Pasundan, Kaum Betawi, serta Ambonsh Studiefonds. 

Sementara untuk segi ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam, dan dari segi agama diantaranya adalah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Perserikatan Kaum Kristen, dan sebagainya.

Paguyuban Pasundan didirikan dan dipimpin oleh DK Ardiwinata pada tahun 1913 lalu, demi membedakan suku Sunda, dengan organisasi pemuda di banyak wilayah lainnya.

Sedikit kisruh pandangan terjadi, akibat banyaknya warga terpelajar Sunda yang sebelumnya bergabung dengan Budi Utomo (1908), memilih bergabung dengan Paguyuban Pasundan saat tahun 1913. Masuknya warga terpelajar dari Sunda ini, dianggap sebagai perpisahan dari Budi Utomo.

Padahal, Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan memiliki konsep yang sama, yaitu konsep etnis, bahasa, kebudayaan, dan wilayah yang berbeda. Sementara itu pembeda utamanya, adalah dominannya penggunaan bahasa dan budaya Jawa di Budi Utomo, yang menyebabkan warga Sunda perlu berhenti mengikutinya.

Dari segi kebudayaan, ideologi Sunda sudah terbentuk sejak awal abad 8 hingga akhir abad 16. Budaya Sunda ini berwujud aksara, bahasa, etika, adat istiadat alias hukum, lembaga masyarakat, serta kepercayaan.

Namun akibat datangnya kebudayaan Islam dari pesisir utara, lalu berlanjut dengan tibanya kebudayaan Jawa dari kerajaan Mataram, mengakibatkan banyak warisan budaya Kerajaan Sunda tergerus oleh dominasi asing.

Bahkan, Belanda sempat mengalihkan minat pemuda terpelajar Sunda pada awal abad 20, dengan menganjurkan bahasa, bacaan, dan budaya Jawa. Memang, saat tersebut banyak warga Sunda, yang menganggap bahwa status terpelajar dan beradab, adalah dengan sanggup memahami budaya Jawa.

Puncaknya, berdirinya Paguyuban Pasundan adalah tonggak sejarah kebangkitan kembali, eksistensi dan peranan Sunda, di tengah lingkungan masyarakatnya sendiri, dan secara luas di Hindia-Belanda (dengan multi-etnis dan budayanya).

R Otto Iskandar di Nata yang merupakan seorang warga Sunda, mulai memimpin Paguyuban Pasundan sejak tahun 1929 hingga 1942. Memang, sebelumnya Otto sempat menjadi anggota dan pengurus cabang Budi Utomo di Banjarnegara, Bandung, dan Pekalongan. 

Selama memimpin Paguyuban Pasundan, Otto sempat menjalin banyak kerjasama dengan Budi Utomo, demi menghadapi musuh bersama, yaitu penguasa kolonial Hindia-Belanda.

13 Januari 2026

Siluman Raksasa Nusantara Ala Film Penunggu Rumah Buto Ijo

 

Buto Ijo lagi ngintip (TMDB).

Okeh, sekarang film horor berikutnya, yang ternyata mencoba mengangkat cerita dongeng Timun Mas, tetapi lebih berlatar horor, dengan judul Penunggu Rumah: Buto Ijo. Tentu, dengan rating cukup dewasa, alias D17, yang akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ketiga Januari ini.

Animo yang dibawakan pun cukup menarik, karena banyak menggunakan efek CGI untuk karakter Buto Ijonya. Tidak begitu ciamik ala film Hollywood, namun cukup menggambarkan karakter ngeri ini.

Yang masih ingat kisah Timun Mas, pasti paham arahan plot film Buto Ijo ini. Apalagi, sebenarnya Buto Ijo digambarkan berbeda dalam kisah wayangnya. Maka, penulis mencoba untuk menggambarkan kembali, bagaimana aslinya karakter Buto Ijo, alias Buta Hejo dari Wayang Golek daerah Sunda.

Karakter Buta Hejo Alias Buto Ijo

Buta Hejo adalah satu karakter favorit penulis dari kisah dan pagelaran Wayang Golek. Tentu, favorit utamanya adalah Trio Cepot, Udawala, dan Gareng serta sang ayah, bernama Semar. 

Karena itu, favicon serta foto profil penulis pun, diberi wajah Sisingaan yang lengkap dengan iket Sundanya, atau sejenis Barongsai. Avatar ini tidak cukup mirip dengan Leak dari Bali, tetapi lebih mirip dengan karakter Buta Hejo dari Wayang Golek. 

Memang di Sunda, Buta Hejo tidak berwarna hijau menyeluruh, namun khas utamanya adalah giginya yang besar. Jika disandingkan dengan karya Dalang Legendaris Asep Sunandar Sunarya, Buta Hejo terlihat seperti karakter wayang ala Cepot, tetapi dengan kulit lebih pucat, hijau atau merah. Lucunya, jika kalah  bertarung atau dipukul, dari dalam mulutnya keluar satu rangkaian ular yang banyak sekali (Borolo Oray) (^^).

Memang di Wayang Golek, karakter Buta Hejo tidak begitu horor alias mengerikan. Ala Cepot dan saudaranya, Buta Hejo disandingkan dalam satu cerita, dimana banyak kekonyolan terjadi. 

Bahkan menurut GoodNovel, secara simbolis Buto Ijo memang mewakili kekuatan alamiah dan kekacauan spontan (Borolo Oray!). Buto Ijo memang harus dihadapi langsung dengan cara fisik atau humor.

Dari segitu saja, memang cocok sebagai karakter yang hampir mencapai tingkatan lucu-lucuan (Gag). Tetapi simbolisnya, jika dihadapi langsung dengan cara kerja fisik atau humor, layaknya sebuah masalah yang harus dibereskan sekalian, atau disepelekan dengan cara bodor.

Borojol Orok Buta Hejo (Facebook). 

Sinopsis Film Penunggu Rumah: Buto Ijo

Srini (Celine Evangelista) adalah seorang janda yang baru saja pindah rumah baru bersama anak semata wayangnya, Tisya (Meryem Hasanah). Namun, belum lama tinggal di rumah tersebut, banyak kejadian mistis aneh menimpa mereka. 

Karena butuh bantuan mistis, maka Srini menghubungi Ali (Gandhi Fernando) serta saudarinya, Lana (Valerie Thomas). Keduanya adalah kreator konten, yang khas dan berfokus pada kisah horor.

Namun, belum lama keduanya beroperasi, kengerian mistis di rumah malah makin berbahaya. Penampakan serta paniknya Tisya, semakin meruak di seluruh area rumah.

Apakah memang Buto Ijo semengerikan itu? Atau memang kasihan dengan janda anak satu tanpa suami? Sementara itu, Buto Ijo pun kesel sama viralisasi ala para kreator konten?

Jawabannya, tentu ada di pagelaran wayang ala sinema Indonesia.

07 Januari 2026

Repotnya Mengurus Prasmanan Ala Film Uang Passolo

Biba dan Rizky yang masih terbebani (TMDB).

Berikutnya, adalah film drama keluarga Indonesia yang lebih mengena lagi, berjudul Uang Passolo, yang tengah tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur cukup membahana, yaitu R13 (Remaja).

Berbeda dengan ketiga film sebelumnya di minggu ini, Uang Passolo cukup mengingatkan, bagaimana drama paling mudah ditemui di keseharian, yaitu saat repotnya mengurus Prasmanan Pernikahan anggota keluarga. Tentu, bukan maksudnya kawin dan kawin lagi ala film lain, tetapi bagi yang sudah merasakan atau tidak, tentu ingat hiruk-pikuknya melaksanakan acara pernikahan. 

Oh ya, menariknya film Uang Passolo ini, mengadaptasi budaya Indonesia wilayah Timur, khususnya di Sulawesi, dengan gaya komedi khas dari sana. Tetapi, jika ditelaah kembali, justru keadaan seperti ini lumrah di seluruh Nusantara. Uang Passolo pun artinya uang Prasmanan, yang biasa berada dalam sebuah amplop, dan diberikan saat pengunjung tiba di meja tamu saat acara berlangsung.

Perlu diingat, budaya kekeluargaan di Indonesia, yang begitu lekat hingga leburnya istilah besan, dan cocok sebagai bagian dari keluarga besar. Budaya kekeluargaan tersebut, mengacu pula saat seorang anggota keluarga, menjelang pernikahan mereka. Tentu, seluruh keluarga besar ingin acara tersebut dimeriahkan.

Bahkan, jika mengingat budaya arisan keluarga Indonesia, momen pernikahan menjadi satu tahap dimana seluruh anggota keluarga, berkontribusi langsung. Tergantung dari budaya persukuannya, dan tradisi keluarga itu sendiri, maka keluarga besar tentu turun membantu dalam segi biaya dan persiapan lainnya.

Apalagi, momen tersebut kadang berujung hutang besar, kepada keluarga besar. Tentu, banyak yang tidak ingin terikat hutang sebesar itu, apalagi dengan urusan kedekatan keluarga pula. Namun, justru itulah menariknya. Bayangkan, tidak mirip film dan sinetron Indonesia yang mengedepankan kawin-cerai serta poligami, justru stigma buruk tersebut sangat melekat dalam budaya kekeluargaan Nusantara.

Istilahnya, budaya Nusantara sangat tidak menyukai kawin-cerai atau poligami, karena menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Bahkan tidak hanya sebagai norma sehari-hari, namun ditunjukkan saat momen pernikahan, saat seluruh keluarga besar tidak hanya berkumpul, tetapi langsung berkontribusi.

Tentunya, momen pernikahan memang mengundang pula tetangga terdekat, keluarga besar lainnya, kenalan di pekerjaan, dan mungkin Para Pemburu Prasmanan sekaligus (Hehe).

Nah, justru karena hal tersebut, maka gengsi pernikahan semakin tinggi. Dan, penulis juga memiliki beberapa pengalaman aneh mengenai pernikahan di Nusantara. Bukan maksudnya membuka momen pribadi saat pernikahan, tetapi lebih mengemukakan tentang repotnya saat ada momen Prasmanan di jalan raya. 

Contohnya, saat sedang berlibur ke luar kota, yang memang saat itu tengah minggu liburan, kadang banyak jalan ditutupi oleh semacam area khusus. Ya, jalan tersebut ditutup karena sedang ada Prasmanan. Mobil serta motor harus berbalik, untuk melanjutkan perjalanan.

Kadang, momen tersebut tidak sepenuhnya memenuhi jalan raya. Tetapi, lokasi parkir yang sempit, serta banyaknya kendaraan yang perlu lewat, menyebabkan jalan yang macet parah. Belum lagi suara sound horeg yang keras, yang betulan meramaikan suasana jalan raya.

Ya, maklum saja kalau begitu, karena momen itu memang jarang dan cukup berharga. Pengemudi yang numpang lewat, mungkin sekalian saja menikmati, karena memang momen tersebut cukup langka terjadi, walau diundang sekali pun.

Okeh, saatnya kembali ke film Uang Passolo, yang jelas animonya mirip dengan acara kekeluargaan ala Nusantara ini. Oh ya, bahasanya pun khas dari Sulawesi sana, jadi siap saja untuk membaca terjemahannya.

Sinopsis Film Uang Passolo

Rizky (Imran Ismail) dan Biba (Masita Aspah) adalah sepasang muda-mudi yang siap menikah. Namun, keduanya justru ingin melaksanakan proses pernikahan yang sederhana, alias hanya mengundang keluarga besar saja.

Namun, orangtua dari kedua belah pihak, justru menolak acara sederhana tersebut. Mereka menginginkan anaknya melaksanakan acara pernikahan yang meriah, lengkap dengan undangan kepada ratusan tetangga dan kenalan.

Bahkan, Biba lebih miris lagi. Jika acara pernikahan besar jadi dilaksanakan, maka rumah ibunya digadai demi menutupi biaya. Sementara orangtua dari Rizky, berpendapat bahwa acara pernikahan yang besar undangannya, tidak hanya memperbanyak doa, namun menambah pula banyak berkah dan rezeki (langsung).

Pernikahan pasti tetap berlangsung, tetapi bagaimanakah caranya mereka semua mencapai tahap tersebut? Jawabannya, tentu dapat dicek melalui ritual pernikahan ala sinema Indonesia.

Makna Dibalik Horornya Film Malam 3 Yasinan

 

Keluarga Djoyodiredjo yang tengah berkabung (TMDB).

Sekarang, berlanjut menuju film keluarga berikutnya, walau lebih beratmosfer horor, ala film berjudul Malam 3 Yasinan, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur D17 alias Dewasa.

Sebelumnya, saya perlu mengisahkan pula, satu posisi yang mengomentari film berjudul terlalu keagamaan ini. Sebenarnya telah beberapa kali saya sebagai penulis, menghindari film horor sejenis ini. Tetapi, jika ditelaah dari dasar ritualnya, dan dibandingkan dengan cuplikannya, maka khusus film ini cukup jelas dan bisa diangkat dalam artikel.

Memang, tradisi tahlilan, atau biasa disebut juga yasinan karena mengacu pada surah yang dibaca, bukanlah suatu bentuk tradisi asli Muslim. Tradisi semacam ini dilaksanakan sejak jaman terdahulu, demi berdoa kepada leluhur. Seperti dilansir dari Etnis, tradisi ini lalu bercampur akulturasi budayanya di Nusantara, khususnya Jawa, saat hadirnya Islam di Indonesia. 

Bahkan, ada satu organisasi Muslim bernama PERSIS, yang menolak sepenuhnya tradisi ini, karena bukanlah anjuran dari Islam. Tradisi ini dianggap akulturasi saja, dan bukanlah pedoman Syariah dari agamanya.

Dan kembali ke film Malam 3 Yasinan, maka penulis cukup mengerti, bahwa sineas perfilmannya mencoba mengangkat bahan horor yang cukup sesuai. Bahkan dalam beberapa poster filmnya, terlihat budaya Jawa yang kental, lengkap dengan Kupluk (Blangkon) dan nama keluarga khas dari Jawa.

Jika dibandingkan dengan film Nasional sejenis yang ikut mengadaptasi horornya budaya keagamaan Nusantara, justru Malam 3 Yasinan ini cukup sesuai dengan kondisi di ranah sosial masyarakat. 

Justru lebih parah di film lainnya, saat judul saja tidak sesuai dengan definisi dan deskripsi istilahnya sendiri. Malah bisa dibilang, tidak hanya menyepelekan, namun membodohi penontonnya, dengan salah arti dan makna. Bahkan, di beberapa adegan cuplikannya saja, tidak nyambung dengan judulnya sendiri (!)

Menurut penulis, justru film tersebut salah mengartikan, bahkan menyalahgunakan, wacana yang berasal dari Ensiklopedia. Contohnya adalah satu kalimat dari artikel di blog ini, berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Dari artikel yang diterjemahkan sesuai sumber aslinya ini, terdapat kalimat 'perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap sebagai merusak tatanan budaya.'

Dari situ saja, penulis sudah menganggap, bahwa perubahan yang diterapkan pada film, hanyalah arahan dari satu kalimat di Ensiklopedia saja. Sementara, mereka berkreasi dengan bebas tanpa arah yang jelas. Naudzubillah.

Sinopsis Film Malam 3 Yasinan

Samira (Shalom Razade), baru saja pulang ke kediaman keluarga besarnya, yang bernama Djoyodirejo. Kembalinya Samira, akibat saudari kembarnya, Sara, baru saja meninggal dunia dan segera dimakamkan. 

Selama ini, Samira memang tinggal jauh dari keluarga besar, akibat tekanan gengsi berlebihan sebagai keluarga ningrat, serta kompetisi antar keluarga Djoyodirejo. Padahal sebelumnya, keluarga ini sempat damai, (yang seperti dalam cuplikannya) dan sempat membuat video dokumenter dan foto bersama.

Namun, ternyata semenjak Samira tidak berada di rumah, keadaan banyak anggota Djoyodirejo memburuk seketika. Berbagai ketegangan berbeda, semakin meruak, dan berbeda dengan momen kehilangan seorang anggota keluarga.

Bahkan, kengerian ini muncul paling terasa, sesaat setelah ritual pemakaman Sara, yang dilanjutkan dengan tahlilan di rumah duka. Banyak kejadian mistis aneh, menerpa seluruh anggota keluarga Djoyodirejo, yang termasuk Samira itu sendiri.

Sanggupkah Samira menguak apa yang terjadi gerangan pada keluarganya? Atau malah terjerumus kembali dalam gelapnya kompetisi keluarga? Atau malah sosok Sara muncul kembali demi melindungi Samira seorang?

Jawabannya, tentu ada di ritual tradisi ala Sinema Indonesia.

Nah, dari segitu saja sudah cukup meyakinkan, bahwa film ini tidak menyalah-artikan syariah, serta mengedepankan ritual tradisi serta drama manusianya. Manusia tentu selalu dapat disalahkan, sementara budaya yang mengikat, justru memang disalah-gunakan oleh beberapa pihak.  

Okeh, Wassalam (lagi).

26 Desember 2025

Tersasar Kembali di Tanah Keramat Ala Film Dusun Mayit

 

Keempat manusia yang isekai di gunung (TMDB).

Daaaan, akhirnya kembali lagi di penghujung akhir tahun 2025, tepatnya dirilis pada 31 Desember (lagi), dengan satu judul film horor yang mengemukakan kembali keramatnya lokasi pegunungan, berjudul Dusun Mayit. Tentu, tayangan ini cocok bagi para penggemar horor, di sinema Indonesia, tentunya.

Sedikit Penalaran Plot Utama Dusun Mayit

Nah, sekarang perlu ditelaah sedikit melalui cuplikannya (saja), yaitu berlatar di sebuah gunung, tepatnya bernama Gunung Welirang. Walau pada cuplikannya terlihat indah, tentunya dengan kebutuhan plot dan cerita film horor, dibutuhkan berbagai bumbu ngeri. Oh ya, film ini memiliki rating R13+, alias hanya cocok ditonton oleh remaja keatas.

Dan memang, beberapa adegan pada cuplikannya memberi petunjuk (lagi), demi menceritakan keramatnya sebuah gunung, yang biasa masuk pada Weton di sekitar gunung oleh warga. Gunung memang dianggap keramat, dan beberapa ritual dan pantangan ditujukan bagi setiap warga yang mengunjunginya.

Contohnya adalah sebuah pantangan, dimana para pendaki tidak boleh keluar dari jalur pendakian (secara eksplisit disebut dalam cuplikannya). Tentu agar tidak tersasar di wilayah hutan lebat dan pegunungan yang naik-turun, terdapat pula pantangan mistis lain-lain. Takhayul atau tidak, maka resiko tersasar saja sudah cukup sebagai peringatan khusus bagi para pendaki.

Adapula terdapat adegan, dimana seorang pendaki pemula yang meremehkan Weton tersebut, dan bahkan menendang sesajen di antara sebuah pohon. Walau ritual tersebut hanya mengacu pada beberapa sistem kepercayaan saja di Jawa, tapi coba dicek saja dari segi nilainya. 

Maksud paling kentara bukanlah langsung mistis, melainkan simbol dari sebuah penghargaan kepada alamnya. Jadi, bagi yang tidak mengikuti ajaran tersebut, maka bisa dianggap simbol saja, bahwa kita yang mengunjungi alam belantara, harus menghargainya. Sekaligus pula, bebersih saja setelah kunjungan kita selesai, dan jangan meninggalkan sampah atau perlengkapan kemah lainnya.

Bahkan, sebuah pohon bisa disebut keramat, bukan karena terlihat besar dan menyeramkan saja. Pohon tertinggi dan terbesar di sebuah lokasi hutan, adalah penyeimbang dan pelindung di ekosistem tersebut, sehingga berperan penting bagi habitat tanaman dan hewan di sekitarnya. Jadi, pohon tersebut layaknya 'kuncen asli' di hutan tersebut, dan jangan diganggu, apalagi ditebang.

Ya, maksudnya, sains saja sudah membuktikan pentingnya kelangsungan pohon tersebut bagi ekosistem. Kita sebagai manusia, tentu paham maksudnya. Oh ya, pohon yang dikeramatkan, sempat meluas pula di seluruh dunia. 

Tidak hanya penjaga ekosistem, maka pohon tertinggi dapat melindungi hutan saat badai kilat. Dalam sainsnya, objek tertinggi di sebuah lahan akan lebih mudah tersambar kilat, daripada objek yang lebih rendah. Jadi, pohon terbesar (yang mungkin masih bisa tumbuh), menjadi satu-satunya yang tersambar lalu terbakar, diantara jutaan pohon lainnya di seluruh hutan.

Dan satu lagi dari segi kebahasaan, dalam bahasa Jepang, 'Kami' berarti Dewa, lalu 'Kaminari' berarti kilat. Walau Kanji-nya berbeda, tetapi morfologinya tetap sama. Maka, kilat adalah suatu simbol kuat mengenai dewa di langit, yang selalu digambarkan dengan selendang pada belakang punggungnya, khususnya dari China, hingga Jepang. 

Di paragraf berikutnya, dijelaskan pula kesinambungan simbol budaya ini dengan  budaya lainnya dari Asia Timur, khususnya dari Jepang. 

Selain itu, terdapat pula sebuah adegan dimana pendakinya sampai di sebuah desa terpencil, dengan keadaan yang cukup berbeda. Para warganya terlihat begitu tradisional, dan tidak kelihatan 'hidup' seperti biasanya.

Nah, kalau yang satu ini, bisa ditelaah pula dari segi cerita jurig. Tidak hanya di Indonesia yang kadang berisi kisah tersasar hingga lokasi pasar malam atau desa terpencil mistis, tetapi ternyata sering muncul pula di banyak negara Asia Timur lainnya. 

Indonesia termasuk Timur loh, alias Tenggara, dan memang dari segi budaya cukup berbeda dengan Asia Tengah dan Timur Tengah, namun sangat mirip dengan negara di Asia Timur. Entah apa yang terjadi selama jaman keemasan kerajaan terdahulu, dimana intensitas dagang ternyata cukup lekat akulturasi budayanya, sepanjang Asia Timur hingga Tenggara.

Okeh, kembali lagi ke lokasi dusun atau pasar malam mistis. Contohnya saja, terdapat mitos yang mirip dari Jepang, yaitu lokasi pasar malam, dimana banyak mahluk mengikutinya. Mahluk tersebut biasa disebut Yokai atau Siluman, dan memang berlokasi di tengah hutan. Manusia yang kebetulan lewat dan sempat mendengar, diberi pantangan untuk mengikutinya. Bahkan, cerita ini bisa disebut Pamali dari negara Sakura sana.

Padahal jika ditelaah kembali, pasar malam ini bisa menjadi simbol lainnya pula. Penulis bahkan sempat menemukan, lokasi situs aneh ditengah gunung yang dipenuhi pohon pinus, yaitu gunung antara Tasikmalaya dan Majalengka. Penulis bahkan sempat berfoto disana, dimana banyak batu yang jika dipukul dengan koin atau sejenis logam, akan bergema dan mendengung, layaknya sebuah Gamelan.

Lokasinya memang dekat jalan yang waktu itu penulis lewati, sebagai jalan pintas antar wilayah di Jawa Barat. Namun, bukan berarti penulis melaksanakan ritual tersebut. Mungkin, jika 'pemainnya' berbeda, maka rangkaian batu tersebut bisa disebut sebagai alat musik mistis.

Nah, bagaimana dengan penggambaran film di Dusun Mayit ini, yang lebih kental logat serta budaya Jawa-nya? Coba dicek saja melalui sinopsisnya.

Sinopsis Film Dusun Mayit

Aryo (Fahad Haydra), Raka (Randy Martin), dan Nita (Ersya Aurelia), adalah teman dekat sejak lama. Ketiganya sudah terbiasa mendaki gunung, dan kali ini ingin mendaki dan berkemah di Gunung Welirang. Trio ini lalu mengajak kawan baru mereka, bernama Yuni (Amanda Manopo).

Quadro ini lalu berangkat menuju Gunung Welirang, yang walau sempat diperingatkan agar tidak keluar dari jalur pendakian, mereka malah menjelajah terlalu jauh. Walau begitu, mereka berhasil menemukan sebuah danau cantik ditengah gunung, yang menjadi hasil memuaskan dari penjelajahan mereka.

Namun, saat pulang, mereka menemukan sebuah lokasi sesajen, tepat dibawah pohon besar. Nita, yang memang kurang percaya takhayul, malah menendang sesajen tersebut. Lebih parahnya lagi, keempat sekawan malah tersasar, padahal lokasinya masih padang rumput yang luas.

Hingga akhirnya keempat sekawan ini berhasil masuk ke hutan kembali, lalu tiba di lokasi gubuk peristirahatan pendaki. Dan semakin parah lagi, Nita yang sempat hilang, malah kesurupan dan pingsan seketika. 

Keempatnya pun semakin panik, yang lalu merasa tambah heran, saat tiba di sebuah desa. Di Desa tersebut, keadaan terasa aneh, dengan warganya yang terlihat kurang komunikatif. 

Dan saat malam tiba, Mbah Surop (Bambang Gundul), yaitu seorang paranormal dan kuncen gunung tersebut, berselirih bahwa mereka berada di ambang batas dunia nyata dan ghaib. Tepat pada malam tersebut, kekuatan supernatural akan terserap dan menerobos dunia nyata, sementara manusia (selain Kuncen), dapat terjebak dan tidak dapat kembali.

Sanggupkah mereka melarikan diri dari lokasi dusun mistis tersebut? Atau malah pasrah dan milih bergabung dalam ritualnya? Atau malah belajar langsung dari Kuncen agar sakti mandraguna?

Jawabannya, tentu terdapat di ritual desa terpencil sinema Indonesia.