18 Desember 2025

Terbang ke Wilayah Terujung Nusantara di Film Timur

Iko Uwais yang mencoba menyelamatkan saudaranya (TMDB).

Okeh, sudah saatnya di penghujung minggu ketiga bulan Desember ini, para penggemar film Nusantara berjibaku dengan film aksi nan serius berikutnya, berjudul Timur. Film aksi mengenai kisah di penghujung timur negara tercinta ini, tentunya tayang di sinema-sinema Indonesia.

Dari judulnya, sudah menyiratkan bahwa film ini berlatar lokasi di sekitar Papua, dengan keenam provinsinya. Bagi yang sudah mengecek cuplikannya, tentu tahu bahwa Iko Uwais berperan sebagai tokoh utama, dan bahkan sebagai sutradara. 

Ya, film Timur ini adalah debut pertama Iko Uwais sebagai pengarah film. Tidak hanya itu, ternyata film ini diproduksi oleh Uwais Pictures, sebagai studio miliknya sendiri, yang resmi meramaikan ranah perfilman Indonesia sejak didirikan pada bulan Januari 2025.

Tentu, Iko Uwais yang telah melanglangbuana sebagai aktor aksi yang khas dengan gaya silatnya, menjadi animo khusus bagi penggemar film aksi. Bagi penggemar yang suka kuda-kuda silat tradisional khas Nusantara, maka aksi Iko Uwais sebagai pencetus kembali viralnya aksi silat di Indonesia sejak film The Raid (2011;2014) lalu, sangatlah ditunggu. 

Tentu karena adegan aksi yang sadis seperti banyak film silat lainnya, film ini diberi rating umur D17+ (alias umur dewasa).

Film Timur dan Kisah Papua

Kembali ke beberapa adegan cuplikannya, tentu mengenal isu apa yang diadaptasi di film Timur ini. Cukup miris, karena film ini mengisahkan tentang operasi militer dalam menghalau KKB dan KST bernama OPM. Padahal, masalah ini masih terjadi di Papua sana, dan bahkan masih panas-panasnya.

Bagi para troll, justru film ini bisa dianggap sebagai bagian propaganda dari sineas perfilman, dan pemerintah Indonesia itu sendiri. 

Bahkan jika dipanaskan lebih dalam lagi, film Timur justru berlatar operasi nyata di Mapenduma pada tahun 1996 lalu. Di tahun tersebut, OPM berhasil menyandera 26 anggota misi penelitian dari World Wildlife Fund. Terlebih lagi, saat itu Presiden kita saat ini, yaitu Prabowo Subianto, memimpin operasi Kopassus tersebut, saat dirinya masih menjabat sebagai Brigadir Jenderal TNI.

Padahal, kinerja TNI dan pemerintah dalam meluruskan masalah ini, sudah cukup dikenal. Cukup diingat, kisah di Timor Leste, lalu merambah ke Provinsi Aceh dengan GAM-nya, dan kini masih panas pula di Papua. Politik saja? belum tentu. Karena, usaha mempertahankan Nusantara yang lengkap, memang sudah menjadi acuan sejak berdirinya negara ini.

Bahkan jika diteliti dari sejarahnya, maka Indonesia yang baru saja merdeka tahun 1945 lalu, sempat mengalami pergolakan di banyak daerah. Padahal dari segi administrasi, Indonesia telah diakui sebagai anggota PBB sejak tahun 1950 lalu. 

Jadi, dengan banyak penolakan dari daerahnya sendiri, Presiden Pertama RI Soekarno sempat berpidato, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Padahal tidak hanya berkecimpung di dalam negeri, TNI cukup sering berkontribusi sebagai pasukan perdamaian dunia, hingga sekarang. Jadi, kiprah TNI sebenarnya dapat diandalkan di seluruh dunia.

Kembali dari segi administratif, Indonesia saat baru berdiri, tentu memiliki banyak tantangan di daerah maupun pusat. Beberapa agresi dari pihak luar mencemarkan integritas nasional, walau berhasil dihalau. 

Maka, terbentuknya Indonesia saat itu adalah bentuk perkembangan Nusantara, yang menyatukan status administrasi serta mengembangkan peradaban nasional menuju arah modern. Presiden setelah Soekarno, yaitu Soeharto yang banyak mengalami kontroversi, justru diberi gelar sebagai Bapak Pembangunan Indonesia.

Nah, karena lebih mengacu ke administrasi, maka coba dicek saja perkembangan yang lebih mudah dicerna oleh kita sebagai warga Indonesia.

Pemekaran Wilayah Administrasi Indonesia

Nah, daripada mengingat konflik militer yang semakin membuat resah, dan lebih baik dinikmati dari segi ranah film saja, maka coba kita telaah dari segi yang lebih damai, yaitu mengenai pemekaran wilayah di Indonesia.

Sejak awal jaman Reformasi terdahulu, hingga tercipta desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, dan kini berlanjut dengan banyaknya pemekaran wilayah administrasi di Indonesia, tampaknya menjadi acuan khusus bagi warga.

Contohnya Papua yang dulunya bernama Irian Jaya, sejak tahun 2003 dan 2004 lalu terbagi dua menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Namun, saat tahun 2022 lalu, Provinsi ini kembali terbagi menjadi tambahan Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya. 

Tampaknya pemerintah Indonesia memang sedang giat untuk melaksanakan kelanjutan desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, yang diterapkan dengan pemekaran wilayah administrasi. Menurut kabar yang ada, tujuannya adalah mendekatkan diri dari layanan pemerintah dengan warganya, alias agar birokrasi tidak terlalu mengacu ke pusat, dan setiap administrasi dapat mengurus wilayahnya sendiri.

Jika dilihat dari Pulau Jawa itu sendiri, khususnya di Jawa Barat, banyak sekali terjadi pemekaran tersebut dengan detil wilayah sekecil-kecilnya. Contohnya adalah saat Pangandaran terpisah dari Ciamis, dan menjadi Kabupaten, sejak tahun 2012 lalu. 

Di Kota Bandung, wilayahnya terpisah dengan Kota Cimahi pada tahun 2001, lalu terpisah pula antar Kabupaten Bandung, dengan Kabupaten Bandung Barat sejak tahun 2007 lalu.

Jadi, saat banyak warga dan warganet protes bahwa birokrasi Indonesia berbelit-belit, serta perkembangan daerah yang tidak merata, terdapat usaha khusus dari pemerintah, selaku pemegang kuasa administrasinya. Apalagi, jumlah pegawai negeri sipil beserta keahlian dan kedekatan batinnya, dapat lebih terikat dengan daerahnya sendiri.

Nah, sudah saatnya kembali ke film Timur, yang tampaknya mengisahkan bahwa kedekatan batin beberapa karakter, dengan warga pribumi di Pulau Papua. Jadi ya, daripada mengurus jiwa nasionalisme kita yang kadang terbengkalai, maka coba dicek saja kedekatan kita dengan wilayah hunian sendiri, ya...

Sinopsis Film Timur

Timur (Iko Uwais), Apollo (Aufa Assegaf), dan Sila (Jimmy Kobogau) adalah ketiga saudara sepersusuan ibu, yang sangat dekat saat masih kecil. Ketiganya sering bermain tembak-tembakan dengan senapan kayu, demi mengisi kesehariannya. Saking dekatnya, Isman (Andri Mashadi) memberi wasiat pada mereka, bahwa ketiganya adalah keluarga, yang harus saling jaga satu sama lainnya.

Namun, Seiring waktu, Timur, Sila, dan Apollo yang tumbuh dewasa, berpisah untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Timur dan Sila memilih bergabung dengan TNI demi mengabdi kepada Republik Indonesia. Namun, Apollo malah terjebak di lingkaran grup separatis. Hingga suatu hari, terjadi masalah besar dengan para anggota separatis tersebut. OPM menyandera anggota WWF, yang sebenarnya bermasalah dengan pemerintah Indonesia. 

Sayangnya, Timur dan Sila yang sempat mengenal medan lokasi penyanderaan, yaitu di Mapenduma, dikirimkan oleh Kopassus Angkatan Darat dalam operasi penyelamatan ini. Ketiganya pun berjibaku, untuk dapat menyelesaikan misi mereka, dengan tujuan yang saling berlawanan arah, akibat deskripsi tanah air yang sangat berbeda diantaranya.

Bagaimana akhirnya? Coba dicek saja melalui adegan nasionalisme yang kini sering berjibaku di sinema Indonesia, ya?

0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.