24 Desember 2025

Menguak Alur Cerita Prekuel Sewu Dino di Film Janur Ireng

 

Entah apa yang terjadi pada keluarga Kuncoro (TMDB).

Okeh, saatnya film bercerita baru dari Dunia Sewu Dino untuk dibahas dan dirilis di minggu keempat Desember tahun ini, tentu berjudul Janur Ireng, yang tayang akhir minggu di banyak sinema Indonesia.

Sebelum mengacu pada kisahnya di film kedua ini, Janur Ireng memang prekuel dari film pertamanya, Sewu Dino. Sehingga, alur jalan cerita justru terbalik. Karena memang sudah dirilis tahun 2023 lalu, maka film Sewu Dino bisa dicek di layanan siaran Amazon Prime Video

Oh ya untuk film Sewu Dino, memiliki rating usia R13 (alias remaja). Sementara film Janur Ireng, memiliki rating usia D17, yang berarti dewasa. Entah apa perbedaan pada detail ceritanya, sampai rating usia pun berbeda. Atau, gara-gara visual yang menjurus pada daging-mendaging dan darah mendarah, yang lebih eksplisit dari sebelumnya.

Bahasa karakternya pun tercampur aduk ala logat Jawa, dengan bahasanya, serta tambahan bahasa Indonesia. Jadi, bagi yang kurang ngeuh, pasti bakal merasa heran dengan banyak dialog film bernafaskan Jawa. Bahkan, banyak dialog yang perlu diberi terjemahan, agar penonton (non-Jawa) bisa mengerti.

Untuk film pertamanya pun, langsung berkisah pada banyak adegan horor di dalam dan sekitar sebuah gubuk, di tengah hutan. Sementara di Janur Ireng, lebih banyak karakter dengan pembawaan dramanya, yang mengacu pada kondisi keluarga Kuntjoro.

Oh ya sekali lagi, Epy Kusnandar, sang tokoh utama dalam serial televisi Preman Pensiun lalu, hingga cukup sering berkontribusi di film Nasional dan Internasional, baru saja meninggal dunia, pada tanggal 3 Desember lalu, saat berusia 61 tahun. Bagi yang merasa kehilangan, maka film Janur Ireng adalah karya terakhir yang sempat memunculkan Epy Kusnandar, aktor Sunda dari Garut Kota ini.

Sinopsis Film Sewu Dino

Dan seperti biasanya, kali ini perlu dibahas pula sinopsis dari Sewu Dino, yang berarti seribu hari dalam bahasa Jawa. Film ini diadaptasi dari Thread horor, hasil karya penulisnya bernama SimpleMan. Animo cerita dari sebuah Thread, memang sekarang sedang sering-seringnya diadaptasi menjadi sebuah film.

Dalam film ini, justru mengisahkan sebuah misi seribu malam, dimana karakter utamanya harus menjaga sebuah keranda mayat. Cukup mengerikan, seperti dicontohkan pada cuplikan filmnya.

Tidak hanya menjaga mayat, Sri Rahayu (Mikha Tambayong), Erna (Givina Lukita), dan Dini (Agla Artalidia) diminta pula untuk melaksanakan ritual Basuh Sedo, alias memandikan jenazah agar arwahnya tenang.

Namun, yang belum mereka ketahui adalah jenazah tersebut bukanlah seseorang yang telah meninggal, namun sesosok Della (Gisella Firmansyah), yang pingsan setelah kerasukan arwah jahil lainnya. 

Sewu Dino adalah semacam santet yang menimpa Della, sehingga terpaksa pingsan selama seribu hari. Ritual Basuh Sedo pun hanya untuk menenangkan arwah yang merasuki Della, sementara ritual pamungkasnya akan dilaksanakan pada hari ke seribu.

Namun, empat hari menjelang hari ke seribu, ketiganya diteror oleh banyak hal mengerikan. Trio tersebut menemukan bahwa Della mulai bisa bergerak, dan bahkan hilang dari lokasi keranda mayat. Ketiganya pun perlu mereka ulang ritual mereka, menemukan kembali Della, serta mengamankan posisi hidup. Karena, dengan lepasnya Della, berarti pekerjaan mereka gagal dan hidup mereka terancam.

Oh ya, jika dicek cuplikannya, maka jumlah info yang terlihat tentu tidak sebanyak artikel ini. Namun, cuplikannya lebih berisi banyak adegan awal, hingga diakhiri ngerinya dikejar Della, yang tampaknya kerasukan parah dan berperilaku layaknya zombie alias mayat hidup. Akting Della pun cukup meyakinkan, layaknya warga yang kesurupan parah (alias teriak gak jelas menyeramkan).

Lokasinya pun yang termasuk terpencil, yaitu berada di sebuah gubuk kecil tengah hutan, tentu memberi atmosfer tersendiri bagi visualnya. Seperti biasa, film horor Indonesia memang lihai dalam memainkan lokasi adegan serta pencahayaannya.

Bagi yang suka dengan berbagai istilah mistis Indonesia, khususnya mengenai cerita dari Jawa, maka film Sewo Dino dan sekuelnya Janur Ireng, seakan menjadi kamus kosakata khusus. Banyak istilah Jawa yang tidak penulis begitu mengerti, digambarkan ala horor di film ini, walau tentu ada perbedaan yang sesuai dengan jalan dan plot cerita.

Dan tentu, perlu dikomentari pula dari sudut pandang pribadi sebagai penganut agama yang diakui di Indonesia. Ritual memandikan jenazah, selalu dilaksanakan oleh warga penganut agama, sebelum akhirnya jenazah dikafani, diberi pakaian rapih, atau dikremasi. 

Tujuannya, tentu berbeda pada setiap agamanya, namun intinya adalah jenazah harus bersih, sebelum tubuhnya dilansirkan menuju dunia berikutnya. Pamali atau tidak, ritual ini adalah penghormatan terakhir kepada jenazah, sebelum akhirnya berpulang.

Tentu sangat berbeda dengan kisah di Sewu Dino, dimana ritual Basuh Sedo memang beraliran mistis, dengan tujuannya menenangkan arwah (lain) yang bersemayam dalam sebuah tubuh manusianya.

Sinopsis Film Janur Ireng

Della yang menjadi tokoh kesurupan di film pertamanya, muncul kembali sebagai cameo di film Janur Ireng. Untuk film keduanya, SimpleMan kini telah merilis versi buku novelnya, dengan arahan dunia Sewu Dino Universe (layaknya Marvel Cinematic Universe). 

Kisah Janur Ireng merupakan prekuel, yang berlatar enam tahun sebelum kisah di film Sewu Dino. Kali ini, dunianya dikembangkan mengenai kisah tujuh keluarga, yang diantaranya adalah Kuntjoro di film Janur Ireng, dan Atmodjo di film Sewu Dino.

Sementara di film ini, kisahnya masih berkutat pada tiga tokoh utama. Diantaranya adalah Arjo Kuntjoro (Tora Sudiro), yaitu pakde dari Sabdo (Marthino Lio), yang beristri Intan (Nyimas Ratu Rafa). 

Sepasang suami istri muda tersebut sebenarnya hidup bahagia, walau sederhana. Hingga suatu bencana kebakaran hebat, membakar hangus seluruh rumahnya. Keduanya pun beralih meminta bantuan pada Arjo, pakdenya yang terkenal makmur. Saking hebatnya, Arjo dikenal sebagai pewaris sebuah perkebunan sawit luas nan membahana.

Sayangnya, semenjak Sabdo dan Intan tinggal bersama di rumah kediaman besar milik keluarga besar Kuntjoro, keduanya banyak mengalami berbagai kejadian aneh. Mulai dari sehelai daun panjang yang ditempatkan pada ranjang, hingga sempat menyaksikan sebuah ritual aneh. 

Saking anehnya, banyak kejadian semakin membrutalkan. Beberapa penghuni mulai kerasukan, hingga puncaknya saat acara prasmanan, dimana seluruh tamu tiba-tiba kerasukan dan suka daging mendaging (namun tidak seperti selera daging ala film zombie).

Bagaimanakah sebenarnya alur cerita horor ini? Tentu dapat disaksikan melalui ritual kebudayaan langsung ala sinema di Indonesia.

0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.