Tampilkan postingan dengan label Futuristik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Futuristik. Tampilkan semua postingan

14 April 2026

Rekomendasi Gim Roguelike Terkenal Santai Tanpa VGA

Kalah lagi, lah... (Freepik).

Okeh, saatnya penulis mencoba artikel berbahan topik lainnya, yaitu sejenis gim yang sempat dimainkan. Artikel ini menjadi rekomendasi lima gim, yang diantaranya adalah FTL, Banished, Stardew Valley, Battle Brothers, dan Slay The Spire. Kelima gim ini adalah sejenis gim Roguelike, yang bisa langsung Game Over jika salah satu-dua langkah saja. Namun, kelima gim dipilih karena tidak terlalu kompleks dan Hardcore, dan setiap sesinya tidak terlalu lama. 

Mengacu pada judul artikel ini, Roguelike Terkenal Santai Tanpa VGA memang harfiah. Yaitu, gim Roguelike terkenal, dan saking terkenalnya, bahkan langsung merubah pasar gim sejak perilisannya. Ya, semenjak kelima gim ini dirilis, pasar gim berubah dan tidak hanya banyak orang yang suka, para developer (alias pengembang) gim pun banyak yang ikut menirunya. Seakan gim tersebut menjadi sub-genre tersendiri.

Nah, bagaimana dengan istilah Tanpa VGA-nya? Justru disitulah uniknya. Gim tersebut memang memiliki spesifikasi rendah, sehingga dapat dimainkan di banyak kemampuan PC atau Laptop (layaknya meme Doom). 

Memang tertulis pada setiap spek gimnya, yaitu minimum VGA yang bisa menjalankan OpenGL 3, DirectX 9c, atau Pixel Shader 3 saja, dengan berbagai jumlah VRAM-nya. Spesifikasi macam ini, adalah minimum (Intel HD) bagi setiap PC. Bahkan tanpa bantuan grafis semacam ini, membuka notepad atau bahkan menonton video saja bisa berujung nge-lag.

Penulis pun memiliki pengalaman sendiri mengenai gim tersebut, yaitu sempat dimainkan saat VGA dalam PC rusak, dan perlu menggunakan VGA Onboard saja, alias bawaan dari Motherboard. Penulis memang telah memainkan, dan bahkan memiliki beberapa screenshot (tangkapan layar) dari berbagai gim tersebut. 

Semenjak itu pula, penulis mulai beralih menyukai berbagai jenis gim Roguelike. Layaknya gim arcade terdahulu (alias ding-dong), setiap sesinya memang hanya setengah hingga satu jam saja. Namun, karena sangat hectic, visceral, dan instan, sehingga sangatlah menyenangkan, selayaknya gim yang tanpa perlu berpikir lebih untuk mencobanya. 

Gim sejenis ini pun memiliki RNG (Random Numeric Generator) tersendiri, jadi setiap sesi bisa berubah keadaan yang tiba, sesuai pilihan acak dari gimnya. Tentunya, replayability (main ulang) akan tinggi, karena berbeda tantangan setiap kali main. Bahkan ada istilah meme sendiri dari Inet, yaitu kurang puas tanpa bermain satu kali lagi, padahal baru saja memainkan sesi setengah jam gim Roguelike (saking asyiknya).

Sementara genre Roguelike adalah pengembangan dari nama gim Rogue dari tahun 1985 lalu, saat PC masih bersistem operasi MS-DOS. Karena gim Rogue bisa menyebabkan pemainnya insta-fail alias game over saat bertahan di satu sesi dungeon saja, justru membuat pemainnya gregetan, dan ingin mencoba lagi. Sub-genre Roguelike di jaman sekarang pun sudah terkombinasi dengan banyak genre lainnya, sehingga merubah pasar gim secara keseluruhan. 

Okeh, saatnya membahas kombinasi berbagai gim yang berasal dari banyak genre ini, namun tetap memberi kesan Roguelike-nya. Oh ya, penulis hanya mengisi tahun saat gimnya sudah melalui Full-Release, alias tidak membahas tahun awal Early-Access-nya (yang biasanya bertahun-tahun).

Belum apa-apa, ruang medis sudah terbakar (via Acerax).

Faster Than Light (FTL)

Yang pertama adalah gim Roguelike bertema antariksa dengan pesawatnya, berjudul singkat saja FTL, yang dirilis pada tahun 2012 lalu. Ceritanya adalah satu pesawat yang perlu mengantarkan suatu benda berharga, namun dikejar oleh federasi angkasa yang besar, sehingga tidak bisa kembali dan harus terus maju. 

Pemain pertama memilih pesawatnya terlebih dahulu, dengan kombinasi senjata dan krunya. Pesawat awalnya ditempatkan di satu titik koordinat, dan harus mengecek lalu maju ke titik berikutnya demi mencapai tujuan akhir.

Saat berada dalam satu titik, gim ini dimainkan secara Real Time with Pause, alias bisa dijeda saat aksinya berlangsung. Titik koordinat berisi random nan acak, yaitu bisa berisi asteroid dan planet yang bisa ditambang, sejenis stasiun atau pesawat antariksa untuk berdagang, atau bahkan musuh dan sejenis alien. 

Jika bertemu dengan lawan berbahaya, maka gim masuk ke mode tarung. Pemain bisa menjeda gim-nya terlebih dahulu, untuk menentukan strategi dan mengarah senjata pada bagian tertentu pesawat, sebelum melawan musuhnya. 

Nah, uniknya FTL ini, ternyata membuka banyak inspirasi bagi banyak developer gim. Entah berapa banyak gim sejenis yang ditelurkan oleh para pengembang, yang memang berlandaskan FTL. Kisah satu pesawat yang menjelajahi antariksa demi satu misi, lengkap dengan aksi ala Star Trek, memang cukup jarang diadaptasi pada sebuah gim. 

Bagi yang ingin mencoba gim berukuran 150 megabytes ini, perlu diperingati satu terlebih dahulu. Dibandingkan gim lain di artikel ini, gim ini agak lambat diawal. Sehingga, lebih cocok dengan istilah slow-burn, dimana awalnya lambat namun tetap greget berkepanjangan.

Ini baru sampai udah disambut badai salju... (via Acerax).

Banished

Berikutnya adalah gim yang mengingatkan ramainya animo city builder, alias colony simulator di era tahun 90an hingga 2000an, berjudul Banished. Gim dari tahun 2014 yang berukuran 100an MB ini memang sejenis strategi yang khas dengan sudut pandang isometriknya. 

Namun berbeda dengan kebanyakan RTS (Real Time Strategy), justru karakternya tidak dikendalikan langsung, sementara satu koloni dibantu oleh pemain untuk bertahan hidup. Ya, tidak ada gelut sama sekali dalam gim Banished ini.

Animo sejenis ini memang sempat ramai di tahun 90 hingga 2000an, hingga akhirnya jaman dimana banyak RTS tergerus oleh genre lain. Namun, Banished berhasil mempopulerkan genre ini lagi. Seperti sebelumnya, banyak pengembang gim lain yang mencoba ngoprek gim simulasi koloni ini.

Pertama, pemain hanya diminta memilih peta saja, yang dipilih secara acak detail dan isinya oleh gim. Lalu, disana pemain memiliki sekitar satu lusin warga desa, yang perlu bertahan di koloni baru (saat jaman pertengahan). Pemain mulai membangun rumah, lahan gandum, gudang makanan dan mineral, jalan raya, lokasi tambang, gudang peralatan, hingga pandai besi dan toko baju.

Urusan logistik serta komoditas yang ada, harus disesuaikan setiap sesinya, yang bisa mencapai berjam-jam. Itu pun tergantung lokasi, kondisi, serta kelihaian pemain, maka satu koloni bisa berhasil atau tidak (layaknya Roguelike). Makanya, banyak penggemar menyukainya dan pengembang gim lain pun menirunya.

Bahkan di ujung sesi yang berhasil, satu desa yang awalnya hanya memiliki sedikit rumah, gudang, dan satu lahan gandum saja, dapat terlihat seperti kota di akhir sesi tersebut. Terdapat sekolah, rumah sakit, pasar, toko pakaian, gedung ibadah dan teater, pemakaman umum, hingga rumah mewah bagi yang sanggup. Semua itu, tergantung pada kemampuan pemain untuk dapat mencapai koloni yang makmur nan sejahtera.

Namun banyak kendala pula yang menghadap pemain, seperti gagal panen, lokasi tambang batu dan besi yang habis, jalan yang terlalu jauh dan berbelit, hama dan wabah penyakit, hingga musim yang berubah. Tantangan ini muncul setiap sesinya, dan perlu dikelola langsung oleh pemain dengan rencana jangka panjang dan berfaedah.

Peternakan Ikan yang minimalis ala Valis (via Acerax).

Stardew Valley

Nah bagi yang paham dunia gim, pasti heran mengapa Stardew Valley masuk dalam daftar di artikel ini. Namun, gim bercocok tanam dan tambang ini ternyata punya satu khas yang menjadikannya Roguelike. Yaitu, saat pemain hanya bisa menyimpan gim satu hari sekali di rumah (pas tidur). 

Selain itu, ketika pemain kelelahan atau bahkan berada di dalamnya tambang, pemain bisa knock (pingsan) dan langsung kehilangan banyak barang yang dibawanya. Jadi, ternyata cukup 'berbahaya' juga gim ini.

Okeh, selain fitur tersebut yang agak Roguelike, ternyata sisanya cukup santai. Gim bercocok tanam ini, sebenarnya adalah genre yang mirip Harvest Moon, alias cozy nan santai berwibawa. Pemain bisa bercocok tanam sesuai musimnya, menanam bunga untuk mengundang lebah, memancing ikan di sungai, danau, dan laut, menambang sambil berburu slime, hingga membangun rumah dan keluarga. Ya, memang sejenis simulasi hidup (Life Sim) yang wajar.

Sama seperti gim sebelumnya, Stardew Valley adalah pencetus ramainya kembali gim bercocok tanam di PC. Saking ramainya, sang kreator Concerned Ape (Eric Barone) yang pas awal hanya bekerja sendiri, langsung instan menjadi miliuner. Memang banyak yang kangen dengan gim sejenis ini, sehingga early-access-nya langsung terjual 500 ribu copy pas awal peluncurannya (!)

Bahkan Stardew Valley sebenarnya tidak seribet itu. Dari pengalaman penulis yang membangun lokasi pertanian ikan (?), lebih banyak berisi kolam untuk memanen telurnya, alias caviar. Selain itu, penulis hanya menanam bunga demi membuat madu, serta manisan buah-buahan dari rumah kaca. 

Sisanya, hanya terdengar suara ayam, kambing, dan sapi. Ayam kadang diambil telurnya, sementara sapi diperah susunya, dan kambing digunting wolnya. Jadi, hanya terdapat tiga lokasi utama, yang menghabiskan sepertiga lahan saja.

Oh ya, gim ini memiliki open-world pula, alias bisa menjelajah kemana saja. Terdapat lokasi kota, pantai, hutan, dan stasiun kereta. Bahkan terdapat pula pulau lain yang bisa dikunjungi (dan sekalian gelut). Jadi, tidak terjebak di satu lokasi pertanian saja. Kadang di kota terjadwal pula banyak festival setiap musimnya, dan pemain bisa ikutserta selama satu hari penuh.

Tutorial BB yang sudah cukup sulit (via Acerax).

Battle Brothers

Akhirnya, tiba di gim yang cukup brutal pula, berjudul Battle Brothers dari tahun 2017 lalu. Gim open-world yang penuh dengan luka-liku para pasukan bayaran di dunia fantasi ini, berlandaskan gelut turn-based, alias setiap karakter harus menunggu gilirannya ala catur dan kartu. 

Selayaknya catur, setiap karakter yang diturunkan pemain saat gelut pun terbatas. Hanya maksimum 12 saja yang bisa diturunkan langsung, sementara sisanya adalah cadangan. Misi yang diterima di kota, lalu dilancarkan dengan sistem combat (gelut) semacam ini. 

Pemain harus memilih senjata dan baju zirah (armor) bagi setiap karakternya, dan disesuaikan dengan perannya saat gelut. Terdapat senjata seperti kapak, pedang, hingga gada yang lengkap dengan perisainya. Untuk urusan jarak jauh, busur panah serta senapan mesiu masih mengisi gim ini. 

Jika karakter naik level, maka skill (alias kemampuan)-nya bisa dinaikan, dan disesuaikan dengan perannya. Musuh pun memiliki kemampuan yang sama, itupun kalau bentuknya manusia. Ya, gim ini adalah sejenis low-fantasy, dimana banyak monster dan mahluk mitos lainnya, tetapi tidak mengumbar banyak kemampuan magisnya. Sehingga, gelut pun terbatas pada standar saja.

Namun, bahayanya sangatlah Roguelike, yaitu setiap karakter di Battle Brothers dapat meninggal begitu saja pas gelut. Bahkan jika selamat pun, terdapat cedera hingga cacat pada bagian tubuh tertentu, tanpa bisa disembuhkan sama sekali. 

Jika saat gelut seluruh tim kalah (wiped out), maka pemain perlu mengulang dari awal. Namun tidak perlu kecewa, karena setiap sesi gim ini paling lama (hingga late-game) hanya selusin jam saja. Ya, memang gim BB ini agak hardcore sih. Tinggal disetel saja tingkat kesulitan yang ingin dimainkan.

Oh ya, gim ini punya banyak cerpen (cerita pendek) pada setiap sesinya, yang muncul saat misi atau saat perjalanan antar wilayah. Cerita kadang berpengaruh langsung pada moral para karakter, jadi perlu dibaca dan dicek apa efeknya.

Musuh khusus monster memiliki nama yang unik, karena berasal dari kisah mitologi Jerman. Jadi, monster bernama Webknecht berarti laba-laba berukuran raksasa. Monster lain pun sama uniknya, yaitu sejenis Orc, Goblin, Undead (Mayat Hidup), Golem, Unhold (sejenis Troll), Alp (sejenis Jurig), Lindwurm (sejenis Naga). Untuk manusianya, banyak pula jenisnya seperti Barbarian, Brigands (sejenis Bandit), atau pasukan berbayar lainnya.

Setiap jenis musuh, memiliki taktiknya sendiri. Pokoknya, sesuaikan saja strategi untuk melawannya. Yang terpenting, di depan adalah Tank dengan perisainya, lalu dibelakangnya adalah karakter sangar bersenjata raksasa (two-handed), lalu jauh di belakang adalah pemanah (Archer) serta penembak jitu (Gunner). Terdapat senjata lain seperti Javelin (Tombak Lempar), Net (Jaring), dan Bom yang bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi tertentu.

Oh ya, karena tingkat kesulitan serta variasi permainan yang cukup unik, BB alias Battle Brothers menjadi satu gim terkenal yang banyak ditiru pula inspirasinya. Namun, semua berawal dari minimalisnya low-fantasy ala BB ini.

Urbexile yang sudah jelas salah langkah (via Acerax).
Slay The Spire

Dan terakhir, adalah gim yang menggunakan kartu, ala turn-based-nya. Ya, Slay The Spire dari tahun 2019 adalah Roguelike yang berisi kartu, namun dengan latar yang fantastis dan irasional. Untuk strukturnya, justru gim ini mirip dengan FTL. Setiap titik yang dipilih pemain, berisi monster, cerita, pedagang, atau harta. Namun yang berbeda, memang dimainkan dengan gelut ala kartu, dan semua yang ada di gim ini adalah random nan acak.

Awalnya karakter yang dapat dimainkan adalah The Warrior, yang berujung tiga pilihan karakter lainnya. Setiap karakter memiliki khasnya sendiri, dan perlu disesuaikan dengan acaknya kartu yang didapat atau dibeli pada setiap titiknya. Kartu bisa berarti menyerang, bertahan, mengeluarkan jurus, mengisi nyawa, atau kombinasi dari semuanya. Tentu taktik harus disesuaikan dengan keadaan, atau tipe musuh yang sedang dilawan.

Selain kartu, terdapat pula Potion atau Relic. Potion adalah obat sekali pakai, yang memiliki efek berbeda-beda. Sementara Relic memiliki efek permanen, yang didapat dari monster Elite, Boss, atau Peti Harta (Chest). Namun Relic bisa berarti baik atau buruk, dan bahkan merubah cara main. Jika tidak disesuaikan, maka Relic malah berujung petaka bagi karakter dan pemainnya.

Nah, berbeda dengan gim sebelumnya dan lebih mirip FTL, justru yang asyik dari gim ini adalah Kartu, Relic, atau sejenis barang lain yang dibuka (unlock) setelah setiap sesinya. Ya, terdapat banyak fitur gim yang terkunci saat awal memainkan gim Slay The Spire (yang memang khas dari setiap gim Roguelike). 

Nantinya, jumlah barang nan acak yang didapat pemain, akan semakin bervariatif setiap sesinya. Karena itu, istilah meme One More Run sangat cocok untuk gim kartu ini, dan secara luas untuk genre Roguelike.

Penutup dari Gamer

Jadi, sudah dipilih gim mana saja yang cocok untuk dimainkan? Oh ya, gim diatas memang kurang genre aksinya, karena memang berbeda lahan. Namun karena tujuannya santai, maka sengaja tidak dimasukkan. 

Adapun satu gim aksi yang khas dengan terlihat dari satu sisi (Side Scroller) saja, dengan bumbu platformer dan Roguelike-nya. Judulnya adalah Rogue Legacy dari tahun 2013 lalu, yang memang memulai kembali ramainya sub-genre Side-Scroller dan Platformer (!) Penulis kurang suka kontrolnya (tidak pakai kombinasi Mouse dan Keyboard), jadi tidak bisa merekomendasikannya.

Tapi ya... kalau mau rekomendasi sih, sebenarnya langsung saja mainkan Dead Cells dari tahun 2018 lalu (yang bisa pakai MKB). Mungkin untuk VGA Laptop sejenis Vega 8 atau Intel Iris, bisa saja dimainkan (?) Yah... memang penulis bukan seorang digital benchmark-er sih...

Okeh,... Back to Gaming...

01 April 2026

Mustahilnya Misi Antariksa Dalam Film Project Hail Mary

Grace yang sendirian dalam pesawat antariksanya (IMDB).

Sekarang saatnya membahas film yang dirilis awal April tahun ini, yang sangat kuat dengan genre Sains-Fiksinya, berjudul Project Hail Mary. Film yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13 ini, memang mengacu pada misi antariksa yang heboh, sekaligus ramai efek spesial nan canggih pada setiap adegannya.

Sebelum membahas film ini, perlu dicek terlebih dahulu novel asli yang diadaptasi sebagai sinematografinya. Film Project Hail Mary mengadaptasi novel berjudul sama, hasil karya novelis Andy Weir. Mungkin masih ada yang mengingat, bahwa novelis ini sempat diadaptasi pula karya lainnya, berjudul film The Martian. Film tahun 2015 ini dibintangi oleh aktor kawakan Matt Damon, yang mengisahkan karakter Watney saat terjebak sendiri di planet Mars dan sama sekali tanpa bantuan komunikasi dengan Bumi.

Nah, Project Hail Mary mirip dengan kisah tersebut, yaitu satu karakter manusia yang terjebak sendirian di antariksa. Terlihat dalam cuplikannya, Ryland Grace (Ryan Gosling) sedang sendirian saat di antariksa, demi misi kemanusiaan. Tapi berbeda dengan karakter Watney di The Martian, Grace bukan berlatar seorang kosmonot, astronot, atau ahli antariksa manapun. Grace adalah ahli biologi molekular, yang bekerja sebagai guru di sekolah. 

Kisah yang terasa isekai dari latar karakternya ini, mirip dengan kisah film epik terdahulu, berjudul Armageddon (1998). Film yang dibintangi oleh Bruce Willis dan banyak bintang Hollywood masa tersebut, mengisahkan pekerja kilang minyak. Karena keahlian mereka untuk mengebor dalamnya tanah di tengah samudera, menyebabkan mereka direkrut untuk mengebor komet yang hampir jatuh ke bumi. Terasa beda memang, karena tidak berlatar para ahli antariksa.

Tentu bagi yang sempat menonton film berisi Ryan Gosling, aktor serba bisa ini sudah melanglang buana di perfilman Hollywood sejak pertengahan 2010an lalu. Berbagai karakter unik sempat diperankan olehnya, seperti Sebastian di film La La Land (2016) yang musikal, lalu sebagai Replicant bernama K di Blade Runner 2049 (2017) yang melodramatik, hingga menjadi karakter Ken dalam film boneka Barbie (2023) bersama Margot Robbie. Ryan memang aktor yang memilih film serta karakter unik, sehingga tiap filmnya cukup mudah dikenang.

Oh ya bagi yang ingin menontonnya, perlu menyiapkan waktu berlebih. Film ini ternyata berdurasi sekitar 150 menit, alias dua setengah jam!

Sinopsis Film Project Hail Mary

Ryland Grace (Ryan Gosling) adalah seorang guru di sekolah dasar. Walau dirinya memiliki pekerjaan utama sebagai ilmuwan biologi molekular, namun justru semangatnya adalah mengajar di kelas bersama anak-anak.

Hingga suatu hari seorang komandan dari NASA bernama Eva Stratt (Sandra Huller), merekrut Grace untuk sebuah misi antariksa. Keahlian dirinya dalam biologi molekular sangat dibutuhkan, untuk 'menyembuhkan matahari yang terinfeksi.' Bencana yang sangat mencengangkan, karena banyak bintang di seluruh galaksi Bima Sakti terinfeksi oleh 'penyakit' ini. Jika bintang, khususnya matahari di tata surya ini gagal 'disembuhkan,' maka sumber cahaya ini akan mati dan bencana yang menghancurkan seluruh alam semesta langsung terjadi.  

Sementara Grace yang kurang memahami antariksa, menolak mentah misi tersebut. Dirinya meminta untuk para ahlinya untuk turun langsung, sementara dirinya pasrah saja di bumi. Namun, Grace terpaksa menuruti misi sejauh jutaan tahun cahaya ini, demi meneliti sistem tata surya yang mataharinya tidak terinfeksi sama sekali.

Grace yang baru bangun dari cryosleep pun terjebak sendirian di tengah antariksa. Hingga akhirnya dia bertemu dengan seekor ras alien, yang berada di suatu kapal tanpa awak. Alien tersebut menjadi teman perjalanan dirinya, hingga mencapai tata surya yang ditujunya.

Sanggupkah Grace menyelamatkan diri serta seluruh dunia? Jawabannya tentu ada di megahnya antariksa ala sinema Indonesia. 

10 Maret 2026

Epiknya Efek GG Ala Indonesia saat Libur Lebaran dalam Film Pelangi di Mars

 

Pelangi yang menemukan makanan kaleng (TMDB).

Tibalah film Epik nan GG dengan efek spesialnya, berjudul Pelangi di Mars, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang di sinema Indonesia. Sesuai judulnya, Pelangi di Mars adalah hasil karya sineas perfilman Indonesia, yaitu Mahakarya. Film ini berating Semua Umur (SU), sehingga cocok sebagai lahan untuk berlibur bersama anak.

Produksi Film Pelangi di Mars

Mahakarya berwacana pada tahun 2020 lalu, untuk mengembalikan imajinasi anak Indonesia. Mereka berpendapat, anak seharusnya bercita-cita yang tinggi, yaitu ilmuwan atau astronot. Mereka sebagai sineas perfilman, mendukungnya dengan memberi imajinasi. Teknologi yang diterapkan untuk memproduksi film ini pun hibrida, yaitu antara motion capture dengan virtual production, alias Extended Reality (XR).

Mahakarya memulai langkah pertamanya di tahun 2021 lalu, dengan membangun infrastruktur produksi filmnya. Maksudnya, Mahakarya akan menjadi pionir di Indonesia dalam menyiapkan teknologi perfilman ala XR. Dengan begitu, produksi film sejenis ini dari Indonesia, dapat dipermudah oleh mereka, baik itu dari Mahakarya atau studio lainnya. 

Mahakarya tidak membatasi kerjasamanya dengan pihak luar pula. Tokoh utama film Pelangi di Mars memang berasal dari Indonesia, namun digadang untuk memimpin para robotnya, yang berasal dari India, hingga Korea Selatan.

Di tahun 2021, Mahakarya mulai menulis naskah filmnya, bersama Penelitian dan Pengembangan (LitBang) yang dibutuhkan. Tahun berikutnya (2022), Mahakarya berhasil membuat portofolio untuk film Pelangi di Mars, yang berdurasi pendek. Sekaligus di tahun ini, didirikan pula studio DossGuavaXR Studios, yang memulai pengembangan aset 3D untuk film Pelangi di Mars. Sementara di tahun 2023, banyak anggota tim direkrut untuk bertanggung jawab selama produksi.

Di tahun 2024, produksi film akhirnya bisa dimulai dengan selesainya naskah. Seluruh tim telah lengkap, lalu memulai syuting dengan teknologi Motion Capture dan XR. Uniknya di tahun ini, Mahakarya sempat merilis gim simulasi Pelangi di Mars dalam portal Roblox, yang bisa dimainkan langsung. Bahkan, teknologi hibrida ini berhasil menyisipkan foto yang berasal dari Mars Orbiter Camera (MOC), ke dalam adegan film. Foto yang dimaksud, adalah hasil potret kamera satelit di Mars, yang berhasil terkirimkan ke bumi.

Tahun 2025 adalah saat Mahakarya memulai hype-nya, dengan merilis banyak karakter Pelangi di Mars dalam sistusnya, serta cuplikan yang masih berupa teaser, lengkap dengan posternya. Tahun ini adalah momen produksi final bagi Pelangi di Mars, dengan memasukkan dan membersihkan audio, serta memperbaiki dan memperbarui setiap adegan film. 

'Untuk menemukan warna di tempat yang paling sulit menemukannya, yaitu Pelangi di Mars' - Slogan dari Upie Guava, sutradara Pelangi di Mars.

Polusi Air di Planet Bumi

Plot utama dalam film Pelangi di Mars, adalah tokoh utama bernama Pelangi (Messi Gusti), yang harus menemukan Zeolit Omega, demi membersihkan polutan air di Planet Bumi. Mengacu pada wacana ini, tampaknya perlu ditelaah dari segi sainsnya. 

Seperti dilansir dari Mertani, perubahan iklim mengakibatkan polusi air, dengan banyak perubahan di dalam ekosistemnya. Pertama, adalah naiknya suhu air yang berdampak pada organisme air. Ikan, ganggang, dan plankton butuh suhu air yang tepat, baik itu di sungai, danau, dan laut. Selain itu, meningkatnya suhu dapat mengurangi ketersediaan air tanah yang digunakan oleh manusia, hewan, dan tanaman di sekitarnya.

Kedua adalah tingkat oksidasi polutan dalam air, yang semakin meninggi pada logam berat dan bahan kimia berbahaya. Kualitas air yang buruk, berdampak pada tercemarnya air minum serta rantai makanannya, yang berbahaya bagi manusia serta organisme lainnya, serta merusak lingkungan alam di sekitarnya.

Ketiga adalah kualitas air laut yang memburuk, dengan tingginya asam laut. Asam laut tercipta akibat banyaknya zat karbon dari atmosfer, yang terserap ke dalam lautan. Asam laut dapat merusak terumbu karang, yang penting bagi ekosistem laut, lalu seluruh organisme akan terganggu pula keragaman hayatinya.

Seluruh dampak tersebut berarti menyebabkan langkanya air bersih, sehingga berpengaruh pada pasokan air untuk keperluan manusia, pertanian, dan industri. Masalah ini berujung keamanan air, yang dapat membentuk konflik akibat wacana berkelanjutan lingkungan hidup di masing-masing daerah.

Nah, dengan penjelasan seperti itu, bagaimana cara film Pelangi di Mars dalam menggambarkannya?

Sinopsis Film Pelangi di Mars

Pelangi (Messi Gusti) adalah anak berkebangsaan Indonesia, yang lahir dan tumbuh untuk pertama kalinya dalam sejarah, di planet Mars. Pelangi tinggal di Mars demi melanjutkan misi bersama ibunya, Pratiwi (Lutesha). Keduanya berencana untuk menemukan mineral langka bernama Zeolit Omega, yang dapat membantu manusia di Bumi dalam membersihkan zat polutan dalam air.

Namun dalam perjalanannya, selama ini Pelangi hanya dibantu oleh banyak robot kenalannya. Kelima teman robotnya yang setia, adalah Petya (Gilang Dirga), Yoman (Kristo Imanuel), Batik (Bimo Kusumo), Kimchi (Canya Cinta Rivani), dan Sulil (Dimitri Arditya Hardjana).

Tidak ada sosok sang ayah, Banyu (Rio Dewanto) dan ibunya Pratiwi untuk melindunginya. Tidak hanya lokasi planet Mars yang memang berbahaya, namun tibanya perusahaan Nerotek semakin mempersulit misinya. Nerotek adalah perusahaan monopoli dagang air di Bumi, yang tidak ingin mineral ini ditemukan dan berhasil menyelamatkan bumi.

Sanggupkah Pelangi menemukan Zeolit Omega? Kemanakah gerangan ayah dan ibunya selama ini? Apakah mineral langka di Mars ini memang seampuh itu dalam membantu membersihkan zat polutan dalam air di planet Bumi?

Jawabannya, tentu ada di petualangan epik anak Indonesia ala sinema.

05 Maret 2026

Memahami Tony Stark Saat Melawan Ultron dalam Film Avengers: Age of Ultron

 

Ultron yang aselinya GG (Wiki).

Okeh, menyambut banyak topik berita selama beberapa minggu terakhir, yang tidak jelas membawa ke arah mana dunia ini, maka coba kita cek secara simbolis saja. Penulis tidak akan eksplisit dalam menjabarkan berita yang mana, namun simbolis dengan mengangkat film lama yang cocok, berjudul Avengers: Age of Ultron (2015). 

Jujur saja, Age of Ultron bukan satu favorit penulis, apalagi jika dibandingkan seri Avengers, atau standar film Marvel lain. Namun, demi minat dan kepentingan artikel Monsterisasi, maka penulis mencoba untuk mengangkat film ini sebagai simbol dari suatu bentuk kekisruhan dunia.

Tony Stark dan J.A.R.V.I.S. di Marvel Cinematic Universe

Tentu para penggemar komik Marvel telah paham, bahwa rata-rata karakter di MCU telah di-nerf alias dilemahkan daripada versi komiknya. Melemahnya karakter sesuai dengan perkembangan awal karakter, sekaligus kebutuhan cerita dan plot filmnya.

Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang memulai ini semua dalam film Iron Man (2008), justru memiliki andil tersendiri. Tidak hanya memulai kisah MCU, namun menjadi asal-muasal banyak kisruhnya dunia. Sebelum membahas bagaimana Tony menciptakan Ultron, maka perlu dibahas saat Stark masih berkecimpung bersama J.A.R.V.I.S. Bahkan sebelumnya, saat Stark masih bermasalah sebagai broker persenjataan dunia.

Bagi yang ingat, tentu paham se-cunihin apa Stark ini. Dengan statusnya sebagai biolioner, Stark terkenal di dunia Marvel sebagai teknokrat dan penyuplai senjata kepada AS. Hingga suatu momen bersejarah merubah pandangan dirinya, saat Stark tersandera akibat serangan bom di Timur Tengah sana. Disana, dia berhasil membuat baju zirah Iron Man, hanya dengan sisa teknologi saja.

Di banyak film berikutnya, yaitu film Iron Man 2 (2010) dan Iron Man 3 (2013), lalu Avengers (2012) dan Age of Ultron (2015), Stark selalu bertingkah ala pria yang ingin tobat, walau masih perlente. Dengan berhasil menciptakan reaktor energi tanpa batas bernama Arc, Stark mengalihkan fungsi perusahaannya menjadi konversi energi bagi dunia. Suplai persenjataan pun dihentikan, sekaligus dengan terbuka mencanangkan diri sebagai Iron Man.

Di banyak latar cerita pula, akhirnya terbuka se-jenius dan se-paranoid apa sebenarnya Stark. Banyak konten hingga meme di Inet, yang menjabarkan bahwa Stark selalu merubah kesalahan dia di film sebelumnya, lalu memperbaruinya di film terbaru. 

Nah, selama Stark mengoprek seluruh keahliannya, dia dibantu oleh sejenis asisten AI bernama J.A.R.V.I.S. atau sebut saja sebagai Jarvis (Paul Bettany). AI ini memiliki nada suara yang lembut, alias soft-spoken. Suaranya yang netral, cocok sebagai mitra keseharian yang damai, daripada Pepper Potts (Gwyneth Paltrow). 

Jarvis inilah yang menjadi asal muasal Ultron, yang akan dibahas menyeluruh dalam artikel ini. Sekaligus, terciptanya Vision sebagai avatar yang lebih cocok dari Jarvis.

Vision dan Ultron

Ultron (James Spader) adalah sejenis AI yang diciptakan oleh Stark, namun hanya menerima banyak masalah saja. Ultron diciptakan sebagai kebalikan dari Jarvis, yang lebih mengacu ke persenjataan. Namun seperti kebanyakan film AI yang terlalu adaptif, Ultron pun belajar bahwa manusia-lah yang perlu dibasmi (?). 

Masalah pun semakin berkembang saat Ultron berhasil merebut Mind Stone, yaitu bagian dari Infinity Stones yang tidak terelakkan kemampuannya. Untungnya lagi, tubuh robot dan Mind Stone berhasil direbut kembali oleh Avengers, sehingga Jarvis sebagai AI yang lebih stabil, dapat terunggah. Terciptalah Vision (Paul Bettany) berbahan Vibranium, yang sangat kuat dan mampu menanggulangi apapun juga (selain Thanos). 

Nah, bagaimana dengan maksud artikel ini yang kentara penggambaran antara Stark dan Ultron? Justru disitulah letak uniknya. Penulis perlu mengacu sekuat apa sebenarnya Ultron, apalagi jika dibandingkan versi komiknya.

Di komiknya, Ultron bukan hanya ancaman tingkat Avengers, melainkan tingkatan galaksi. Ultron dalam komik sebenarnya diciptakan oleh Henry 'Hank' Pym (Michael Douglas), yang dikenal dalam MCU sebagai pencipta Ant Man dan portal Quantum Realm. Namun di komik, Pym dikenal sebagai 'wild card' alias 'semi-villain' alias kacau balau. Walau sempat bergabung dengan Avengers, Pym memiliki sejarah kekerasan yang parah, serta ciptaannya sering mengancam bumi.

Ultron dalam komik, seharusnya hanya dapat ditanggulangi oleh Vision, Captain Marvel (Brie Larson), dan Guardian of Galaxy sekaligus. Kemampuan Ultron untuk menyusup ke dalam teknologi apapun, dapat mengancam bumi dan bahkan luar angkasa. Ultron yang diciptakan pada tahun 1968 lalu di komik, bisa jadi referensi awal Skynet di seri Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019).

Namun, mengapa tokoh antagonis sekuat Ultron hanya menciptakan arena duel saja di negara fiktif Sokovia, ala MCU?

Tony Stark sebagai Ultron

Penulis tidak ingin menggambarkan Age of Ultron sebagai film yang mengangkat plot dan mengenalkan karakter baru saja. Memang, terdapat karakter seperti Vision, Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) yang baru dikenalkan. 

Namun, penulis menelaahnya dari segi psikologis penciptanya sendiri, yaitu Stark. Seorang mekanik eksentrik ini memang memiliki sisi paranoid, yang membuatnya terus menciptakan kreasi baru. Khususnya, Stark seringkali membuat baju zirah Iron Man terbaru, demi menambah kemampuan apapun. Bahkan di Avengers: Infinity War (2018), Stark berhasil memakai Iron Man dengan teknologi Nano.

Sayangnya, sisi mental Stark memang belum pernah sembuh sama sekali, sejak dulu. Diawali dengan piatu, saat dirinya kehilangan ibu, lalu ayahnya sendiri hingga yatim piatu. Stark adalah seorang penyendiri sejati. Lebih parah lagi, selama berkarir di Stark Industries, dengan bangganya Stark menyuplai inovasi senjata bagi AS, melalui Jenderal Ross (William Hurt, Harrison Ford). Alias, Make America Great Again.

Sisi gelap selama banyak dekade, telah merusak mental Stark sebagai seorang pria. Sisi perlente, sok narsis dan percaya diri berlebihan Stark adalah kedok saja, karena selama ini kurang percaya dengan dirinya sendiri, apalagi dunia di sekitarnya. Bisa disebut, selain Captain America (Chris Evans), hanya Stark-lah yang secara terbuka mengenai identitas pahlawan supernya. Itupun semacam persona baru, yang telah lama bersalah dengan banyak operasi oleh AS. 

Nah, apa hubungannya dengan Ultron? Disitulah letak berbahayanya. Ultron adalah penjelmaan sisi kelam dan negatif dari Stark. Karena berfungsi sebagai robot AI persenjataan, Ultron sebenarnya dapat dikendalikan dengan lebih tepat. Namun, sisi gelap Stark tercampur dalam fungsi Ultron, dan menyebabkannya kurang terkontrol.

Lalu, bagaimana dengan Sokovia? Disitu pula letak kelemahan lain dari Stark. Ultron masih memiliki sisi Narsistik ala Stark, yang menyebabkan dia membuat arena khusus di Sokovia. Setelah gagal menciptakan tubuh baru dengan Mind Stone, sisi tidak mau kalah meruak muncul. Ultron hanya menciptakan banyak robot baru (yang tidak setara dirinya), lalu mengirimkan ke Sokovia sebagai pusat penelitian Hydra, lalu menantang bertarung dengan Avengers.

Ultron memang diciptakan demi menanggulangi tingkat ancaman Avengers, namun sisi tidak mau kalah Stark, berarti disalah-artikan sebagai kompetisi saja. Kisah seperti ini, mirip dengan sisi lain Batman dari DC Comics. Batman memiliki sejenis fail-safe, demi menghalau seluruh anggota Justice League yang memberontak. Dengan mengalahkan Avengers, maka Bumi dapat diamankan oleh dirinya saja. 

Jika Ultron berhasil mendapatkan Mind Stone, maka dirinya mungkin menerima semacam 'wangsit' lainnya. Contohnya adalah kedatangan Thanos, Galactus, dan banyak mahluk antar-dimensi yang mengancam bumi. 

Layaknya Ultron adalah penggambaran lain, dari sisi Dr. Doom di Fantastic Four. Walau berperan sebagai antagonis utama, namun Dr. Doom sangat ingin melindungi Bumi. Memang terlalu totalitarian, namun Dr. Doom di komik sampai berhasil membangun sebuah negara, yang khusus ditujukan demi menghalau ancaman bagi Bumi dari pihak luar angkasa.

Nah, karena itulah sebelum Doomsday akhirnya tiba, dan Robert Downey Jr. yang membuka wajahnya saat Comic-Con 2024 lalu sebagai Dr. Doom, hype dari film Doomsday semakin menggila. Apalagi, dari penggemar MCU yang sudah sangat paham mengenai sisi karakter ini. 

Ya, Ultron memang seharusnya menjadi seorang antagonis yang pintar, dan bukannya bertindak pecicilan ala Stark.

Okeh, tampaknya perlu diakhiri dengan meme terkenal saja dari YouTube. 

Doomsday is Coming.

Doomsday is Coming (Reddit).

04 Maret 2026

Nyelenehnya Pria dari Masa Depan Ala Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

 

Sam Rockwell yang semakin kocak (IMDB).

Okeh, saatnya menyambut tiga film bermasalah dari Hollywood sana, yang berlatar aneh bin ajaib, dan tayang menjelang libur Lebaran. Pertama adalah film berjudul panjang nan kurang jelas, yaitu Good Luck, Have Fun, Don't Die yang berating umur D17. Memang, film ini cuman bisa ditelaah dengan satu kombinasi istilah, yaitu nyinyir, ironis, parodi ala jaman viral kesetanan.

Pemuda dari Masa Depan dan Kecerdasan Buatan

Memang film ini cukup nyeleneh untuk dianalisa langsung. Tetapi, penulis dapat mengacu pada satu ramai sosial di pertengahan tahun 2010an lalu, saat Media Sosial tengah viral dengan berbagai keunikannya. Memang dalam cuplikannya, film ini menggambarkan seorang pemuda (tua) yang datang dari masa depan demi mencegah masalah akibat kecerdasan buatan (AI).

Ya, pertengahan tahun 2010an lalu memang sempat viral mengenai istilah pemuda atau pemudi dari masa depan. Mereka mengaku sebagai time-traveller, alias satu penjelajah waktu yang datang dari masa depan. Memang beberapa kali, tebakan mereka mengenai suatu kejadian tertentu  di masa mendatang, berhasil terbukti. 

Ternyata banyak diantara mereka yang memang valid, alias memiliki kemampuan meramal. Hingga akhirnya ada studi melalui konten khusus, yang membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah anak indigo, yang kreatif dalam menjabarkan visinya, lalu terkadang benar dan tepat. 

Di saat itu pula, istilah indigo mulai ramai kembali, seperti jaman 90an hingga awal 2000an. Indigo memang suatu ketertarikan tertentu di ranah sosial, karena banyak anak kecil hingga remaja, memiliki tingkat kejeniusannya sendiri yang unik. 

Sementara dari segi kecerdasan buatan, sudah menjadi bahan topik di banyak film Hollywood. Contohnya adalah sejak waralaba film Terminator diproduksi (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Terminator berfokus pada pencegahan akhir dunia akibat AI bernama Skynet, yang memberontak dan menciptakan dunia yang hangus. Berbagai film terkenal tentang AI pun sering diadaptasi oleh Hollywood, sehingga menjadi satu bahan adaptasi tertentu.

Nah, mengacu pada tahun 2020an sekarang, Asisten AI sedang ramai dibahas. Berbagai perusahaan teknokrat terkenal, seperti Apple, Google, Meta, Microsoft dan banyak perusahaan AI, mulai menelurkan hasil karya Asisten AI-nya. 

Banyak program tersebut telah bermasalah sejak perilisannya, sehingga menjadi kontroversi di banyak negara. Banyak yang menganggap (walau menggunakan meme), bahwa AI adalah akhir dari interaksi alami di dunia digital, serta bentuk kemunduran kognitif bagi manusia.

Bagaimana dengan kisah film ini yang mencoba nyinyir bagi kedua topik tersebut? Bisa dicek melalui sinopsisnya, yang berisi aktor terkenal Sam Rockwell. Aktor ini memang sering berperan di banyak film produksi mahal Hollywood, namun lebih mengemukakan karakter perlente, namun tetap kocak.

Sinopsis Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

Sam Rockwell adalah pemuda tua dari masa depan, yang berhasil menggunakan mesin waktu untuk dapat kembali ke masa sekarang. Tepat setelah tiba, dirinya langsung ceramah dan membuang banyak ponsel di lokasi restoran, demi agenda merekrut banyak pengikut anti kecerdasan buatan. 

Walau banyak yang heran, ternyata kecurigaan Rockwell terbukti langsung, dengan tibanya tim Buru Sergap dari kepolisian setempat. Walau banyak sandera didalam restoran, tetapi tim Kepolisian dengan brutal dan membabi-buta langsung memburu Rockwell. Tanpa mengindahkan keamanan sandera, Rockwell dan penyintas yang percaya, akhirnya sanggup menghalau kejaran polisi.

Namun, banyak kejadian berbahaya terus mengejar mereka, akibat kecerdasan buatan yang ternyata berupa monster aseli. Hingga akhirnya, Rockwell dan banyak sekali pengikutnya, harus bertahan hidup demi menghalau setiap tantangan menggila ini.

Sanggupkah Rockwell dan banyak warga percaya untuk menghindari akhir dunia akibat AI? Atau malah hanya sekedar prank semata dari Rockwell yang jelas sudah terlihat agak gila?

Jawabannya, tentu ada di kisah PanSos ala sinema Indonesia.

21 Januari 2026

Chris Pratt Melawan Kecerdasan Buatan di Film Mercy

 

Chris yang terjebak kreasinya sendiri (IMDB).

Daaan seperti biasanya, ranah Hollywood pun kembali meramaikan ngerinya AI di film terbarunya berjudul Mercy, yang tayang di sinema Indonesia. Film yang diisi oleh Chris Pratt ini, memiliki rating R13, alias untuk remaja. 

Pada cuplikannya, film ini menyajikan aksi dan ketegangan berbeda, karena memiliki format cerita maju-mundur (alias banyak flashback), akibat tokoh utamanya yang terjebak dalam persidangan khusus AI.

Sedikit Kisah AI dari Ranah Hollywood

Memang, jaman AI kali ini perlu ditelaah dari segi urusan keamanannya. Seperti sebelumnya di film ala nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, beberapa masalah yang mengganggu manusia dapat terjadi akibat AI.

Jika ditelaah dari segi ranah film Hollywood, kisah AI yang agak rusak ini memang dimulai kembali sejak film futuristik, berjudul Deus Ex Machina di tahun 2016 lalu. Walau arti harfiahnya adalah plot armor, tetapi film ini bertema mengenai tentang perkembangan AI, hingga bisa berupa seorang robot.

Nah di film ini, AI yang sudah berbentuk robot ternyata sanggup mengembangkan kepribadiannya sendiri. Hingga akhirnya terjadi ketegangan antara kreatornya, satu jurnalis, dan beberapa AI berbentuk robot wanita. Cek saja bagaimana tegangnya tersebut, karena memang film ini lebih ke drama dan horor sekaligus.

Daaan, tentu tidak cocok rasanya membahas tema rusaknya AI, tanpa mengacu pada satu waralaba film yang meramaikannya, yaitu Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Ya, film yang khas dengan Arnold Schwarzenegger ini, memang awalnya mengisahkan tentang kekisruhan dunia akibat AI.

Sejak film awalnya di tahun 1984, memang mengisahkan sedikit bumbu perjalanan waktu, namun tetap berfokus pada AI, dengan sinkronnya para robot pembasmi, bernama Terminator. 

Kacaunya dunia di film Terminator, akibat kecerdasan buatan bernama Skynet, yang malah memberontak dan meretas senjata nuklir sedunia. Banyak lokasi di dunia, kini menjadi puing akibat radiasi nuklir, dan dijajah oleh robot humanoid bernama Terminator dari Skynet.

Dari segitu saja, sudah jelas bagaimana besarnya resiko aplikasi AI, yang tentu dijabarkan dengan heboh dalam film ini. Memang di film Terminator, AI sebenarnya dikembangkan demi keamanan negara, alias program eksperimen persenjataan dari Kementerian Keamanan Nasional AS. 

Kembali ke film Mercy, AI yang ditampilkan disini sudah memiliki kuasa tersendiri, bahkan hingga setara hukum. Ya, film ini mengacu pada sebuah program AI, yang memiliki posisi sebagai Hakim, Jaksa, dan Juri sekaligus dalam sistem peradilan hukum di AS. 

Dari cuplikannya pun terlihat, bahwa AS sudah dalam tahap dystopia, namun justru ditanggulangi oleh pemerintah yang totalitarian. Seluruh fungsi pengawasan dan pemantauan publik, dilaksanakan melalui ponsel, kamera pengawas, drone, dan bahkan pindaian satelit, oleh pemerintahnya.

Sinopsis Film Mercy

Keadaan di AS sudah kacau balau, dengan tingginya aksi kriminalitas dan kesenggangan sosial yang sangat berbahaya. Namun, pemerintahnya justru menerapkan pemantauan publik yang menyeluruh. 

Bahkan, pemerintah perlu mengembangkan sistem hukum AI, yang bernama Hakim Maddox (Rebecca Ferguson). Detektif bernama Chris Raven (Chris Pratt) adalah salah seorang anggota kepolisian, yang turut berkontribusi saat mengembangkan program AI berkuasa hukum ini.

Program ini didesain demi menyambungkan seluruh bukti dari pantauan ponsel, kamera pengawas, drone, pindaian satelit, serta kuasa hukum miliknya, dalam menyidang dan mengeksekusi langsung terdakwa. 

Sayangnya, justru Chris yang terjebak dalam sistem ini, akibat disangka membunuh istrinya sendiri. Chris yang tidak ingin mengalah begitu saja, hanya memiliki waktu 90 menit demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

Chris pun teringat, bahwa awal kisruh tersebut dimulai saat dirinya tengah melacak keberadaan bom besar, yang dikirimkan melalui sebuah truk trailer. Kasus tersebut memang berakhir buruk, sehingga banyak pihak keamanan kehilangan nyawa.

Chris yang tahu seluk-beluk Hakim Maddox, akhirnya mencoba bekerjasama, demi melacak petunjuk yang hilang dari kasus tersebut, sekaligus membuktikan dirinya tidak bersalah atas pembunuhan istrinya.

Sanggupkan Chris melalui seluruh proses sidang ? Atau malah terpaksa mengaku atas kasus ini? Dan malah, hancur sendiri akibat konspirasi besar dibaliknya?

Jawabannya, tentu ada di drama hukum ala sinema Indonesia.

20 Januari 2026

Sedihnya Ngobrol Dengan AI Ala Film Esok Tanpa Ibu

 

Sekeluarga yang masih lengkap (TMDB).

Nah, saatnya kembali ke jaman saat ini, yang lebih kentara dengan AI-nya, ala film Nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, yang tayang di banyak sinema Indonesia.

Kali ini, banyak aktor yang mengisinya pun berasa mega bintang, yaitu Ringgo Agus Rahman (yang kembali mengisahkan drama keluarga), Dian Sastrowardoyo (yang memang ahli dalam film drama). Keduanya ditemani oleh duo aktris-aktor muda yang tengah naik daun, yaitu Ali Fikry dan Aisha Nurra Datau. 

Sinopsis film ini memang mengisahkan cerita futuristik, tidak seperti kebanyakan film drama Indonesia. Ya, film Esok Tanpa Ibu ini mengisahkan tentang kecerdasan buatan (AI), yang kini sedang ramai digemari oleh banyak remaja dan pemuda-pemudi Indonesia. Ratingnya pun disesuaikan, yaitu untuk remaja (R13) keatas.

Sekilas tentang AI dan Remaja

Mengenai kisah perkembangan AI-nya itu sendiri, khususnya di kalangan warga yang mudah mengaksesnya, adalah sejak munculnya Siri di iPhone 4s dari Apple, pada tahun 2011 lalu. Siri memang dikenal sebagai asisten pribadi, tetapi karena keterbatasan spek ponsel, tidak membuka banyak peluang bagi pengembangan AI.

Lalu loncat ke 11 tahun berikutnya, ChatGPT dari OpenAI meramaikan ranah kecerdasan buatan di ponsel, pada tahun 2022 lalu. Banyak perusahaan lain, contohnya adalah raksasa Google, merilis pula Gemini untuk ponsel androidnya. Bahkan, sejak tahun 2022 hingga sekarang, bisa disebut sebagai jamannya balapan bagi para developer IT, untuk mengembangkan teknologi berbasis AI.

Nah (lagi), kini saatnya di tahun 2026 dengan hingar-bingar dari dunia AI di tahun sebelumnya, tampaknya perlu ditelaah dari segi efeknya bagi remaja. Beberapa kampus dan sekolah bahkan sempat mencanangkan Kurikulum Berbasis AI sebagai bagian dari pendidikannya. 

Namun, karena penulis sendiri (selalu) skeptis dengan AI, dan paham dengan perbedaannya bagi perkembangan anak, maka dilansirkan saja beberapa info dari pemerhati pendidikan. Penulis skeptis, karena AI lebih cocok dipakai oleh kaum tekno, yang sanggup memahami dan mengopreknya langsung, daripada dipakai sehari-hari. Apalagi, banyak gawean manual yang harus dikerjakan manusia. 

Terdapat pula beberapa kasus berujung kehilangan nyawa di luar sana, yang menyangkut hubungan langsung antara AI dan remaja. Berbagai kasus tersebut, adalah satu anomali, yang sempat mempengaruhi perkembangan anak akibat AI.

Bahkan menurut GentaQurani, yang melansir dari penelitian di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), dengan melansir kajian oleh Guru Besar Prof. Ridi Ferdiana, menyatakan bahwa 77 persen generasi milenial hingga gen Z menggunakan AI dalam kesehariannya. Sementara 45 ribu dari 60 ribu mahasiswa di UGM, telah menggunakan AI secara intensif.

Sisi terang AI dalam keseharian remaja dan pemuda, adalah sebagai teman belajar yang cerdas. AI dapat menjadi sahabat belajar yang luar biasa bagi anak. Fitur guided learning dari Gemini AI, dapat membantu pelajar untuk memahami konsep mata pelajaran hingga kuliah.

Dengan begitu, seperti dilansir dari DCloud, hubungan remaja dan AI harus meliputi beberapa faktor. Diantaranya adalah pendidikan literasi digital, peningkatan kesadaran etika AI, pengawasan dan pendampingan, kurikulum berbasis AI di pendidikan, regulasi dan kebijakan yang mendukung, serta kerjasama antara industri dan pemerintah.

Namun kembali UGM, Prof. Ridi menyatakan beberapa resiko mengenai penerapan AI yang intensif. Diantaraya kemampuan berpikir kritis dan analisis menurun, sehingga tidak dapat menyelesaikan masalah secara mandiri. Daya ingat akan melemah, akibat mudahnya mencari informasi. Serta efek yang dikenal ramai sebagai brain rot, alias kondisi otak yang tumpul.

Kisah Ado yang Terinspirasi oleh AI bernama Hatsune Miku

Walau begitu, daripada membahas kisah mengerikan tentang AI, dan membahas acuan terpenting digital mengenainya, maka perlu dikenal pula dari segi lainnya, yaitu dunia hiburan. Kenapa? Karena blog ini memang berisi dunia seni hiburan, khususnya film dan banyak kisah berbudaya lainnya.

Dari segi ini, memang sedang kisruh dengan Hak Cipta dan urusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) akibat AI, terdapat secercah harapan dari ranah lainnya. 

Yaitu, dengan mengacu pada seorang penyanyi terkenal bernama Ado, yang kini tengah ramai dibincangkan di ranah digital, dunia nyata Jepang, dan dunia musik internasional. Penyanyi ini seperti gabungan Vtuber dan Idol ala Jepang, namun dengan bumbu horor ala Gadis Gothik (GeGe). Namun, lagu dan vokalnya memang cukup kuat, sehingga layak disebut sebagai Diva dari Jepang. 

Nah, Ado ini sebenarnya mengidolakan Hatsune Miku sejak remaja, yang memberi inspirasi karirnya sebagai penyanyi di Jepang. Telah debut sejak tahun 2020 lalu, kini di tahun 2026, Ado sebenarnya baru berumur 23 tahun! Sebelum dia debut, Ado adalah bagian dari Utaite, yaitu semacam e-girl yang suka meng-cover lagu.

Okeh, tentunya cukup mengerti bahwa kisah ini, berarti sebuah cerita berbeda, bagaimana seorang penyanyi yang kuat meraih mimpinya berkat bantuan AI, dan berakhir sebagai Diva di Jepang. Ado bahkan sempat menyatakan, bahwa masa remaja dirinya, sering diisi dengan menonton Hatsune Miku pada konsol DS-nya.

Nah, karena sudah panjang lebar, dan akhirnya kembali ke dunia hiburan juga, maka coba kita cek saja sinopsis film Esok Tanpa Ibu. Perlu penulis tegaskan, isu sosial semacam ini memang sudah dikaji oleh banyak profesional. Sehingga, perlu diadaptasi pula sebagai bagian dari sebuah film, baik itu untuk hiburan, maupun meningkatkan kesadaran warga.

Sinopsis Film Esok Tanpa Ibu

Rama (Ali Fikry) adalah seorang remaja yang aktif, namun hanya dekat dengan ibunya saja, Laras (Dian Sastrowardoyo). Rama sering curhat dengan Laras, mengenai dirinya yang kurang dekat dengan ayahnya sendiri, yaitu Hendi (Ringgo Agus Rahman). Karena itu, ibunya yang kocak serta sering bercerita, menjadi bahan keseharian Rama.

Namun, suatu hari Laras mengalami kecelakaan, yang berakibat dirinya harus dirawat dan koma di rumah sakit. Rama yang memang sangat dekat dengan ibunya, merasa kehilangan minat untuk berdiam diri di rumah. Hubungan dirinya dengan Hendi, malah semakin kurang harmonis.

Suatu hari, Rama berkunjung ke rumah temannya, Zyla (Aisha Nurra Datau) yang lihai dalam hal Teknologi Informatika. Zyla menyarakan, untuk mengunggah seluruh video Laras, kedalam mesin kecerdasan buatan miliknya. Dengan begitu, Rama masih bisa mengobrol dengan ibunya.

Keseharian Rama pun diisi kembali dengan hadirnya Laras, walau dalam bentuk digital, pada gawai jam tangan pintar maupun komputernya. Namun, Hendi tidak menyukai Laras versi AI, dan mencoba membongkar instalasi tersebut dirumahnya. Rama dan Hendi sempat bersitegang, hingga akhirnya satu instalasi monitor besar, secara kebetulan memunculkan sosok Laras yang sehat walafiat.

Dapatkan keluarga ini menerima kehadiran AI bersosok ibu? Atau malah semakin galau dalam menunggu kesembuhan Laras di rumah sakit? 

Jawabannya, tentu ada di ranah kecerdasan buatan ala sinema Indonesia.

BoBoiBoy Kembali dalam Film Papa Zola The Movie

 

Zola yang kembali sakti (TMDB).

Okeh, saatnya Malaysia dan Indonesia kembali bersatu, dalam satu film animasi yang menyatukan keduanya, yaitu berjudul Papa Zola The Movie. Tentu yang mengenal karakter ini, paham akan kiprahnya di serial animasi kartun BoBoiBoy.

Ya, karakter Papa Zola adalah satu pahlawan super dalam serial BoBoiBoy, yang telah meramaikan animo kartun Indonesia sejak tahun 2012 lalu. Tentu, ratingnya adalah Semua Umur yang dapat ditonton mayoritas khalayak.

Masih tayang hingga kini dengan sempat berpindah kanal televisi, kartun ini turut melanjutkan kisah kartun Malaysia yang sederhana dan cocok, ala Upin Ipin sebelumnya. Memang, keduanya lebih menceritakan keseharian banyak karakter, yang ditambah bumbu aksi ala pahlawan super di BoBoiBoy.

Kiprah Monsta Studios dari Malaysia

Tidak hanya di televisi nasional, BoBoiBoy telah melanglang buana di siaran internet Netflix, dengan sub-judul Galaxy (2016). Bahkan, bagi yang masih penasaran dengan seluruh musim penayangan BoBoiBoy, dapat menyaksikannya di kanal resmi milik Monsta Studios (Monsta dan Monsta Keren), selaku tim produksinya dari Malaysia.

Berbagai karya yang terkait dengan waralaba BoBoiBoy pun telah ditelurkan oleh Monsta. Diantaranya adalah dua film BoBoiBoy (2016, 2019), satu seri dan film Mechamoto (2021, 2022), dan seri khusus Papa Pipi (2019, 2025). Selain itu, lima film pendek BoBoiBoy pun digelontorkan oleh Monsta Studios, yang diantaranya dirilis tahun 2019, 2020, 2021, 2022, 2023 dan 2024. 

Ranah komik pun dijabani pula oleh Monsta, yaitu serial komik BoBoiBoy Galaxy musim kedua (2020), dan Detektif Yaya (2016). Seluruh karya tersebut, adalah bagian dari Jagat Power Sphera, alias dunia khas berisi BoBoiBoy dan banyak karakter lainnya.

Sedikit Info Karakter Papa Zola

Kembali ke film ini, Papa Zola adalah satu karakter yang seringkali membantu BoBoiBoy, dalam membasmi berbagai serangan alien. Adu Du dan Tengkotak, adalah sejenis mahluk luar angkasa jahat, yang sering mengganggu di Pulau Rintis, lokasi tempat tinggal mereka. Dengan bantuan teman-temannya dan Papa Zola, BoBoiBoy sanggup menggagalkan usaha jahat dari alien.

Uniknya, Papa Zola sebenarnya adalah seorang karakter fiksi dalam dunia BoBoiBoy. Karakter Papa Zola berhasil keluar dari video gim miliknya sendiri, dan sempat linglung akibat berasa isekai. Terpaksa tinggal di Pulau Rintis, dirinya lalu bekerja sebagai guru, sambil menyembunyikan identitas pahlawan supernya.

Nah, kali ini justru dimulai kembali petualangan yang berbeda dari Papa Zola, yang tayang di banyak sinema Indonesia. Bagi yang kangen dengan kerennya BoBoiBoy, berbagai aksi mantap ala animasi 3D terlihat dalam cuplikannya. Beberapa drama pun menyajikan latar belakang Zola, yang masih berjuang keras demi hidup damai sejahtera di Pulau Rintis, bersama keluarganya.

Sinopsis Film Papa Zola The Movie

Papa Zola (Nizam Razak) masih berjuang keras demi menghidupi keluarganya, dengan melaksanakan tiga pekerjaan sekaligus. Zola masih berniat untuk berlibur layak bagi anaknya, Pipi Zola (Ieesya Isandra). Istrinya, Mami Zila (Noor Ezdiani Ahmad Fauwzi) justru memberi saran, bahwa Zola tidak perlu bekerja sekeras itu, dan liburan saja jika memang mampu.

Saat mereka tengah berkemah di tengah hutan, Zola bertemu seorang agen dari PAPA (Protect and Prevent Agency), yaitu organisasi yang berfungsi menghalau serangan alien. Zola diingatkan, bahwa dirinya sempat menjadi anggota dari PAPA, sekaligus mitra lamanya. Karena sudah tidak ingat, Zola malah menyarankan untuk menghubungi BoBoiBoy (Nur Fathiah Diaz) saja, yaitu seorang anak super dengan kemampuan elemen dan bertopi oranye.

Namun, keesokan harinya Pipi diculik oleh sekawanan alien. Kelompok alien baru tersebut, memang tengah mencari anak, yang bisa diculik demi eksperimen. Sementara, kapal utama menyerang ibukota Kuala Lumpur, demi merubah dunia menjadi simulasi jajahan mereka.

Zola yang masih memiliki kemampuan super, perlu mengumpulkan kembali seluruh kekuatannya yang telah lama tidak dipakai. Terlebih lagi, BoBoiBoy dan Gopal (Dzubir Mohamed Zakaria) yang sudah lama berjibaku, malah hilang setelah ditelan oleh portal menuju dunia simulasi lainnya. 

Sanggupkah Zola menyelamatkan Pipi dan seluruh dunianya? Tentu dapat disaksikan di sinema kombo Indonesia dan Malaysia.

14 Januari 2026

Rasanya OP Ala Karakter Kirito di Anime Sword Art Online

 

Yujio di Project Alicization (SAO-Wiki).

Okeh, rasanya cukup aneh mulai nulis artikel Monsterisasi lagi, tetapi memang cocok di awal tahun 2026 ini. Apalagi setelah penjelasan di laman Monsterisasi mengenai Tanjiro dan kawan-kawan, serta artikel pertamanya mengenai film dari Makoto Shinkai, jadi ya tinggal dilanjutkan saja.

Terlebih lagi, istilah Monsterisasi-nya sendiri cukup aneh, jika dibandingkan dengan apa yang dibahas. Jadi, di artikel ini, penulis akan membahas satu karakter OP, yang memulai animo anime isekai di Jepang sana, bernama Kirito Kazugaya.

Ya, karakter utama dari serial novel dan anime Sword Art Online (SAO) ini, justru paling cocok dibahas di artikel ini, Monsterisasi. Kenapa? Karena seperti dibahas sebelumnya mengenai perubahan 'makna' seorang karakter dan dikejar masa lalu, maka Kirito adalah satu 'Monster' terbesar dari sudut pandang tersebut.

Memang Monter terbesarkah? Tentu Saja! Karena Kirito punya Buanyak HAREM sedunia, bahkan mengalahkan seluruh anime lain! Hehe, becanda... 

Trope Kirito yang punya banyak harem, sebenarnya digambarkan di anime saja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kirito sebenarnya adalah pemain MMO solo karir, yang seringkali membantu player (cewe) lain pas namatin quest.

Trope Kirito sebagai karakter OP yang punya banyak harem pun, membuat anime SAO tidak disukai oleh banyak wibu dan otaku. Padahal, menurut novel aselinya, Kirito memang tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun (selain Asuna).

Okeh, itu pengenalan saja mengenai urusan kelamin Kirito. Tetapi bagaimana dengan jiwanya sebagai seorang Monster? Nah, dari segi Action RPG atau MMO sekalian, Kirito memang termasuk OP, layaknya karakter Endgame - Post Game Grind di banyak RPG.

Walau karakter Kirito di novel dan animenya cukup berbeda, tetapi plot utama serta jalan ceritanya tetap mirip. Yaitu, saat Kirito harus meng-carry seluruh tim, hingga seluruh server, untuk selamat walafiat di dunia MMO. Trope cerita Kirito terus berlanjut dari server Aincrad, bahkan hingga seri anime terakhir, yang berjudul Alicization: War of Underworld.

Nah, daripada membahas bagaimana kisah Kirito meng-carry semuanya (padahal mah pake cheat juga anjir), lebih baik dicek saja pas Kirito cocok sebagai MC kita selama ini. Tepatnya, saat masih berada di dunia Project Alicization. Itupun, tidak hanya berfokus pada Kirito, tetapi teman virtualnya sendiri, yaitu Eugeo (Yujio).

Kirito dan Asuna yang sudah resmi berumur dewasa (Mipon).

Project Alicization bersama Alice, Yujio dan Kirito

Perlu diingat, bahwa Kirito di Project Alicization sudah berumur 20 tahun, alias baru lulus SMA dan memulai kuliah. Penggemarnya pasti tahu, bahwa Kirito dan banyak penyintas Aincrad lain, ke-skip sekolahnya selama dua tahun lebih. 

Jadi, Kirito di serial anime ini memang sudah dewasa, dan bekerja (magang) sebagai beta tester (lagi) di Project Alicization. Sayangnya (seperti biasanya), proyek yang sudah diamankan ini, harus dioperasikan sebagai penelitian bagi pasien yang mengalami koma.

Ya, Kirito yang diserang oleh racun syaraf saat berduaan dengan Asuna di dunia nyata, akhirnya koma dan perlu dirawat di dunia Project Alicization. Kirito yang sebenarnya berumur lima tahun di dunia ini, perlu mengulang kembali sepuluh tahun hidupnya, akibat perbedaan waktu dengan dunia nyata.

Namun, dari segi ini bisa dianalisa, bahwa Kirito bersama karakter AI bernama Yujio dan Alice, sebenarnya mengulang kembali masa kecil yang hilang. Di dunia nyata, Kirito adalah seorang yatim-piatu, yang tinggal bersama sepupunya yaitu Suguha, dan kakeknya saja. Momen masa kecil bersama Alice dan Yujio, seakan proses untuk menyembuhkan kembali rasa terpendam Kirito.

Tidak hanya itu, saat berumur 15 tahun alias SMP, Kirito pun terjebak di Sword Art Online dan dunia Aincrad-nya. Disitu, Kirito selalu merasa bersalah, karena tidak sanggup membantu banyak pemain SAO.

Dan latar Kirito tersebut sangat nyambung dengan karakter baru di Alicization, yaitu temannya sendiri bernama Yujio. Karakter berambut pirang dan tinggi sama dengan Kirito ini, memiliki keperibadian baik, halus, penurut, dan setia. 

Namun sedikit spoiler, Yujio akhirnya meninggal dalam seri ini. Kisah Yujio yang meninggal, mengingatkan pula perubahan terbesar dalam diri Kirito. Yaitu, untuk terus berinisiatif gelut, dengan berbagai tingkat edgy-nya. Yujio pun meninggal akibat misi keduanya.

Padahal, sebelum terjebak di dunia Aincrad, Kirito adalah anak SMP biasa yang cukup halus pembawaannya. Kematian Yujio seakan mengingatkan, bahwa Kirito yang selama ini terlalu Power-Creep, adalah perubahan besar akibat Aincrad. Padahal di episode awal SAO saja, Kirito pura-pura edgy, untuk menghindari kejaran dari pemain lain.

Visual karakter Yujio pun cukup terbalik dengan Kirito, khususnya sebagai avatar. Kirito bermata dan berambut hitam, dengan pakaian serba hitam pula. Sementara Yujio bermata biru dan berambut pirang, dengan pakaian berwarna biru cerah. Padahal, desain baju keduanya masih cukup mirip.

Nah, kembali ke momen Yujio meninggal, bencana lain menimpa pula Kirito yang kalah bertarung. Dirinya terjebak dalam dirinya sendiri, mirip dengan koma di dunia nyata. Alias, Kirito memang koma dua dunia sekaligus. 

Saat masih koma, dengan serial Alicization yang dilanjutkan di War of Underworld, Kirito memang tidak muncul sama sekali. Jika adegan Kirito muncul, berarti saat dirinya terjebak dalam kenangannya sendiri, mulai jaman SMP hingga Aincrad, lalu banyak momen menyedihkan lainnya. 

Momen ini, layaknya men-defrag Operational System dalam Personal Computer dengan begitu banyak data yang memenuhi memori Hard Disk Drive atau Solid State Drive. Dengan begitu, PC akan bekerja lebih cepat dan kinerja lebih baik lagi. 

Bahkan di akhir momen tersebut, Yujio, Asuna, Shino, dan Suguha muncul, untuk membangunkan kembali Kirito dari dalam kenangannya. Momennya cukup dalam, karena Kirito harus menerima dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan, yang sempat menyelamatkan (nyawa) keempat temannya tersebut. Walau Yujio telah meninggal, dirinya adalah sosok jiwa Kirito yang Aseli.

Daaan, begitulah alasannya mengapa Kirito (alias Yujio) adalah seorang karakter Monster, yang selalu diminta untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia MMO, hingga berujung celaka di dunia nyata.

Avatar-nya saja di dunia Project Alicization, masih berupa Kirito umur 15 tahunan. Seakan, mengingatkan kembali awal edgy-nya karakter Kirito yang OP ini.

Akhir dari Alicization, yang entah kapan dilanjutkan serial anime-nya, menjadi sekedar closure alias penutup, bagi kisah Kirito yang sudah terlalu OP, hingga berujung status sebagai Monster!

Oh ya, daripada galau menanggapi Kirito, mending dengarkan saja lagu pembuka anime Alicization kedua, dari penyanyi ReoNa berjudul Anima. Bagi yang mengecek judul serta liriknya, pasti paham seluruh maksud artikel ini.

Okeh, Ciao!

18 Desember 2025

Mengakhiri Perang di Pandora dalam Film Avatar: Fire and Ash

 

Generasi berikutnya ras Na'vi di bulan Pandora (IMDB).

Daaan, dengan berakhirnya tahun 2025 ini, kembali pula akhir dari film paling epik sedunia, berjudul Avatar: Fire and Ash, yang tayang mulai minggu ini di sinema-sinema Indonesia, untuk penonton berumur 13 tahun ke atas (R13+).

Tentu bagi yang sudah menonton film Avatar: Way of Water di tahun 2022 lalu, bakal geregetan untuk menyusul sekuelnya di bulan Desember ini. Ya, film Avatar: Fire and Ash adalah akhir dari trilogi film ini. 

Oh ya, bagi yang ingin menikmati film Fire and Ash dengan lebih ciamik, tentu dapat memesan tiket yang memberi fasilitas 3D dan IMAX. Tentu, dengan harga tiket yang lebih mahal dan kursi yang lebih terbatas.

Arahan James Cameron selaku pendiri Lightstorm Entertainment, sanggup merekayasa adegan mocap dengan hasil animasi 3D yang ciamik. Lightstorm memang telah berkecimpung bersama Cameron sejak dirilisnya film Terminator 2: Judgment Day (1991). Sejak itu hingga kini, Lightstorm selalu mencengangkan dunia perfilman dengan efek spesialnya yang terbilang inovatif.

Trilogi Avatar dari James Cameron

Walau dimulai pada tahun 2009 lalu oleh sutradara James Cameron, dan membutuhkan jangka waktu 13 tahun untuk film keduanya, film ketiga ini hanya berjarak tiga tahun saja sejak film keduanya. Sebagai akhir dari trilogi, belum ada kabar pasti mengenai film keempat atau kelanjutannya. Namun, dari rumor yang beredar, jika film keempat Avatar diproduksi, maka karakternya akan berbeda dengan trilogi awal.

Trilogi Avatar memang berfokus kepada Jake (Sam Worthington) dan istrinya, Neytiri (Zoe Saldana). Bagi penggemarnya, pasti tahu bahwa sepasang ras Na'vi dari bulan Pandora ini memang fokus utama, yang berjibaku antara kehadiran manusia (RDA), suku pribumi (Na'vi), dan bulan Pandora dengan kehadiran dewa Eywa.

Nah, bagi yang cukup mengingat latar kisah Avatar, Eywa adalah penggambaran harfiah mengenai ekosistem ala bulan Pandora. Eywa adalah nama Dewa tersebut, yang memiliki koneksi langsung dengan seluruh mahluk di Pandora. 

Setiap mahluk, bahkan hingga tanaman, memiliki sulur sebagai anggota tubuhnya. Sulur tersebut bisa dihubungkan dengan pohon bernama sama, lalu membantu menyembuhkan atau bahkan berbagi kesadaran dengannya. Bahkan, sulur dapat saling terhubung dengan mahluk lain, agar mereka dapat bekerja sama secara langsung dan telepati dalam berbagai aktifitas sehari-hari.

Nah, itulah yang menjadi khas dari setiap film Avatar, bahwa bulan Pandora yang sangat eksotis, digambarkan dengan indah ala teknologi CGI dan animasi yang memukau. Tidak heran, film pertamanya menjadi film sinema terlaris sepanjang masa. Box Office-nya mencapai 2,9 Milyar Dolar AS sejak tahun 2009 lalu! Bahkan, Way of Water mencapai 2,3 Milyar Dolar AS, padahal baru tiga tahun sejak dirilis tahun 2022 lalu!

Lokasi syutingnya pun cukup mengesankan, yaitu berada di Selandia Baru, sebuah negara kepulauan kecil di tenggara Australia. Rasanya bernostalgia, semenjak Selandia Baru digunakan sebagai lokasi syuting trilogi The Lord of the Rings (2001;2002;2003). 

Karenanya, banyak sineas perfilman internasional terus melaksanakan syuting di Selandia Baru. Luas, karakter, serta pemandangan Selandia Baru cocok diterapkan sebagai latar sebuah film Epik. Bahkan, Peter Jackson sebagai sutradara trilogi The Lord of the Rings, menyatakan bahwa Selandia Baru bukanlah sebuah negara kecil, melainkan desa yang luas membahana.

Mengingat Plot Film Avatar: Way of Water

Sebelumnya di film Way of Water, Jake mencoba tinggal dan bekerja sama dengan suku Na'vi dari pesisir pantai. Menurut kabar, suku Na'vi pesisir pantai bernama Metkayina, mengambil referensi dari Suku Bajo (Bajau). Suku adat pribumi ini berasal dari Malaysia (Sabah), Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara, alias dari negara Nusantara Tercinta, Indonesia.

Dari situ, kembalilah manusia RDA (Resource Development Administration) dengan kapal laut dan kemampuan mecha amfibi, yang sanggup merambah ranah lautan di Pandora. Sementara dari pihak suku Na'vi, bantuan dari mahluk lautan sejenis paus (Tulkun) dapat menghalau mereka.

Sinopsis Film Avatar: Fire and Ash

Nah, kembali ke Fire and Ash, ketidakhadiran langsung Eywa pula yang menjadi kekhawatiran di film ketiganya ini. Salah satu suku yang tinggal dekat dengan gunung volkano, bernama Mangkwan, malah bergabung dengan RDA. 

Suku Mangkwan dipimpin oleh Varang (Oona Chaplin), yang berselirih khusus mengapa sukunya membelot. Posisi desa huniannya dahulu sempat terkena bencana hebat, yaitu letusan gunung volkano. 

Walau seluruh anggota suku sudah berdoa kepada Eywa, namun bencana sama sekali tidak dapat dihalau. Seluruh anggota suku Mangkwan pun tidak percaya kepada Eywa lagi, dan bahkan menyembah api sebagai simbol dewa, lalu mulai membelot serta berambisi menguasai seluruh Pandora bersama RDA.

Tentu bagi yang sudah menonton film pertama dan keduanya, tahun bahwa RDA hanya menginginkan satu hal saja di bulan Pandora. Satu bijih mineral bertama Unobtainum, adalah target utama RDA. Sementara suku pribumi Na'vi melawan balik, menghalau, mencoba untuk mengusir, serta menghentikan ambisi RDA di bulan kediamannya.

Nah, kali ini ada beberapa kehadiran lain, yang mampu membantu Jake untuk melawan gempuran tersebut. Ya, naga berspesies Ikran kembali bersama banyak kawanannya untuk menghalau gempuran RDA.

Generasi Berikut dan Alamnya

Dan, tidak hanya kehadiran mahluk eksotis dan alamnya saja yang sanggup membantu kampanye ini. Ada satu senjata terkuat, yang tidak berdasarkan kemampuan militer, namun paling signifikan dalam sejarah peperangan militer, di dunia manapun.

Ya, nama senjata tersebut adalah generasi berikutnya. Walau tidak diterapkan harfiah dalam peperangan, namun layaknya Rite of Passage (Ritual Peralihan Lintas Generasi). Anak yang paham mengenai kekisruhan di generasi sebelumnya, dapat melanjutkan usaha tersebut kedepannya, dengan kemampuan dan caranya masing-masing.

Tidak perlu disebutkan siapa saja anggota keluarga dari Jake dan Neytiri, namun seluruh generasi berikutnya, berperan penting bagi kelangsungan hidup di bulan Pandora yang masih penuh konflik.

Oh ya, satu lagi referensi menarik dari trilogi Avatar ini, yang mengemukakan lokasi eksotis nan indah dengan kegalauan para mahluk di dalamnya. Jika disejajarkan, maka lokasi eksotis nan indah ala kepulauan Nusantara, hingga Madagaskar di Afrika, kepulauan Hawaii di Pasifik, serta Lautan Karibia, yang cocok sebagai acuan ngerinya kekuatan alam, namun sebanding dengan keindahannya.

Walau begitu, banyak bencana alam akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim, yang masih sesuai dengan siklusnya, mulai merambah dan semakin berubah, di banyak lokasi planet Bumi, baru-baru ini.

Okeh, selamat menikmati film Avatar: Fire and Ash di ranah keberagaman hayati ala sinema Indonesia.