Tampilkan postingan dengan label Futuristik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Futuristik. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2026

Epiknya Efek GG Ala Indonesia saat Libur Lebaran dalam Film Pelangi di Mars

 

Pelangi yang menemukan makanan kaleng (TMDB).

Tibalah film Epik nan GG dengan efek spesialnya, berjudul Pelangi di Mars, yang tayang menjelang libur Lebaran mendatang di sinema Indonesia. Sesuai judulnya, Pelangi di Mars adalah hasil karya sineas perfilman Indonesia, yaitu Mahakarya. Film ini berating Semua Umur (SU), sehingga cocok sebagai lahan untuk berlibur bersama anak.

Produksi Film Pelangi di Mars

Mahakarya berwacana pada tahun 2020 lalu, untuk mengembalikan imajinasi anak Indonesia. Mereka berpendapat, anak seharusnya bercita-cita yang tinggi, yaitu ilmuwan atau astronot. Mereka sebagai sineas perfilman, mendukungnya dengan memberi imajinasi. Teknologi yang diterapkan untuk memproduksi film ini pun hibrida, yaitu antara motion capture dengan virtual production, alias Extended Reality (XR).

Mahakarya memulai langkah pertamanya di tahun 2021 lalu, dengan membangun infrastruktur produksi filmnya. Maksudnya, Mahakarya akan menjadi pionir di Indonesia dalam menyiapkan teknologi perfilman ala XR. Dengan begitu, produksi film sejenis ini dari Indonesia, dapat dipermudah oleh mereka, baik itu dari Mahakarya atau studio lainnya. 

Mahakarya tidak membatasi kerjasamanya dengan pihak luar pula. Tokoh utama film Pelangi di Mars memang berasal dari Indonesia, namun digadang untuk memimpin para robotnya, yang berasal dari India, hingga Korea Selatan.

Di tahun 2021, Mahakarya mulai menulis naskah filmnya, bersama Penelitian dan Pengembangan (LitBang) yang dibutuhkan. Tahun berikutnya (2022), Mahakarya berhasil membuat portofolio untuk film Pelangi di Mars, yang berdurasi pendek. Sekaligus di tahun ini, didirikan pula studio DossGuavaXR Studios, yang memulai pengembangan aset 3D untuk film Pelangi di Mars. Sementara di tahun 2023, banyak anggota tim direkrut untuk bertanggung jawab selama produksi.

Di tahun 2024, produksi film akhirnya bisa dimulai dengan selesainya naskah. Seluruh tim telah lengkap, lalu memulai syuting dengan teknologi Motion Capture dan XR. Uniknya di tahun ini, Mahakarya sempat merilis gim simulasi Pelangi di Mars dalam portal Roblox, yang bisa dimainkan langsung. Bahkan, teknologi hibrida ini berhasil menyisipkan foto yang berasal dari Mars Orbiter Camera (MOC), ke dalam adegan film. Foto yang dimaksud, adalah hasil potret kamera satelit di Mars, yang berhasil terkirimkan ke bumi.

Tahun 2025 adalah saat Mahakarya memulai hype-nya, dengan merilis banyak karakter Pelangi di Mars dalam sistusnya, serta cuplikan yang masih berupa teaser, lengkap dengan posternya. Tahun ini adalah momen produksi final bagi Pelangi di Mars, dengan memasukkan dan membersihkan audio, serta memperbaiki dan memperbarui setiap adegan film. 

'Untuk menemukan warna di tempat yang paling sulit menemukannya, yaitu Pelangi di Mars' - Slogan dari Upie Guava, sutradara Pelangi di Mars.

Polusi Air di Planet Bumi

Plot utama dalam film Pelangi di Mars, adalah tokoh utama bernama Pelangi (Messi Gusti), yang harus menemukan Zeolit Omega, demi membersihkan polutan air di Planet Bumi. Mengacu pada wacana ini, tampaknya perlu ditelaah dari segi sainsnya. 

Seperti dilansir dari Mertani, perubahan iklim mengakibatkan polusi air, dengan banyak perubahan di dalam ekosistemnya. Pertama, adalah naiknya suhu air yang berdampak pada organisme air. Ikan, ganggang, dan plankton butuh suhu air yang tepat, baik itu di sungai, danau, dan laut. Selain itu, meningkatnya suhu dapat mengurangi ketersediaan air tanah yang digunakan oleh manusia, hewan, dan tanaman di sekitarnya.

Kedua adalah tingkat oksidasi polutan dalam air, yang semakin meninggi pada logam berat dan bahan kimia berbahaya. Kualitas air yang buruk, berdampak pada tercemarnya air minum serta rantai makanannya, yang berbahaya bagi manusia serta organisme lainnya, serta merusak lingkungan alam di sekitarnya.

Ketiga adalah kualitas air laut yang memburuk, dengan tingginya asam laut. Asam laut tercipta akibat banyaknya zat karbon dari atmosfer, yang terserap ke dalam lautan. Asam laut dapat merusak terumbu karang, yang penting bagi ekosistem laut, lalu seluruh organisme akan terganggu pula keragaman hayatinya.

Seluruh dampak tersebut berarti menyebabkan langkanya air bersih, sehingga berpengaruh pada pasokan air untuk keperluan manusia, pertanian, dan industri. Masalah ini berujung keamanan air, yang dapat membentuk konflik akibat wacana berkelanjutan lingkungan hidup di masing-masing daerah.

Nah, dengan penjelasan seperti itu, bagaimana cara film Pelangi di Mars dalam menggambarkannya?

Sinopsis Film Pelangi di Mars

Pelangi (Messi Gusti) adalah anak berkebangsaan Indonesia, yang lahir dan tumbuh untuk pertama kalinya dalam sejarah, di planet Mars. Pelangi tinggal di Mars demi melanjutkan misi bersama ibunya, Pratiwi (Lutesha). Keduanya berencana untuk menemukan mineral langka bernama Zeolit Omega, yang dapat membantu manusia di Bumi dalam membersihkan zat polutan dalam air.

Namun dalam perjalanannya, selama ini Pelangi hanya dibantu oleh banyak robot kenalannya. Kelima teman robotnya yang setia, adalah Petya (Gilang Dirga), Yoman (Kristo Imanuel), Batik (Bimo Kusumo), Kimchi (Canya Cinta Rivani), dan Sulil (Dimitri Arditya Hardjana).

Tidak ada sosok sang ayah, Banyu (Rio Dewanto) dan ibunya Pratiwi untuk melindunginya. Tidak hanya lokasi planet Mars yang memang berbahaya, namun tibanya perusahaan Nerotek semakin mempersulit misinya. Nerotek adalah perusahaan monopoli dagang air di Bumi, yang tidak ingin mineral ini ditemukan dan berhasil menyelamatkan bumi.

Sanggupkah Pelangi menemukan Zeolit Omega? Kemanakah gerangan ayah dan ibunya selama ini? Apakah mineral langka di Mars ini memang seampuh itu dalam membantu membersihkan zat polutan dalam air di planet Bumi?

Jawabannya, tentu ada di petualangan epik anak Indonesia ala sinema.

05 Maret 2026

Memahami Tony Stark Saat Melawan Ultron dalam Film Avengers: Age of Ultron

 

Ultron yang aselinya GG (Wiki).

Okeh, menyambut banyak topik berita selama beberapa minggu terakhir, yang tidak jelas membawa ke arah mana dunia ini, maka coba kita cek secara simbolis saja. Penulis tidak akan eksplisit dalam menjabarkan berita yang mana, namun simbolis dengan mengangkat film lama yang cocok, berjudul Avengers: Age of Ultron (2015). 

Jujur saja, Age of Ultron bukan satu favorit penulis, apalagi jika dibandingkan seri Avengers, atau standar film Marvel lain. Namun, demi minat dan kepentingan artikel Monsterisasi, maka penulis mencoba untuk mengangkat film ini sebagai simbol dari suatu bentuk kekisruhan dunia.

Tony Stark dan J.A.R.V.I.S. di Marvel Cinematic Universe

Tentu para penggemar komik Marvel telah paham, bahwa rata-rata karakter di MCU telah di-nerf alias dilemahkan daripada versi komiknya. Melemahnya karakter sesuai dengan perkembangan awal karakter, sekaligus kebutuhan cerita dan plot filmnya.

Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang memulai ini semua dalam film Iron Man (2008), justru memiliki andil tersendiri. Tidak hanya memulai kisah MCU, namun menjadi asal-muasal banyak kisruhnya dunia. Sebelum membahas bagaimana Tony menciptakan Ultron, maka perlu dibahas saat Stark masih berkecimpung bersama J.A.R.V.I.S. Bahkan sebelumnya, saat Stark masih bermasalah sebagai broker persenjataan dunia.

Bagi yang ingat, tentu paham se-cunihin apa Stark ini. Dengan statusnya sebagai biolioner, Stark terkenal di dunia Marvel sebagai teknokrat dan penyuplai senjata kepada AS. Hingga suatu momen bersejarah merubah pandangan dirinya, saat Stark tersandera akibat serangan bom di Timur Tengah sana. Disana, dia berhasil membuat baju zirah Iron Man, hanya dengan sisa teknologi saja.

Di banyak film berikutnya, yaitu film Iron Man 2 (2010) dan Iron Man 3 (2013), lalu Avengers (2012) dan Age of Ultron (2015), Stark selalu bertingkah ala pria yang ingin tobat, walau masih perlente. Dengan berhasil menciptakan reaktor energi tanpa batas bernama Arc, Stark mengalihkan fungsi perusahaannya menjadi konversi energi bagi dunia. Suplai persenjataan pun dihentikan, sekaligus dengan terbuka mencanangkan diri sebagai Iron Man.

Di banyak latar cerita pula, akhirnya terbuka se-jenius dan se-paranoid apa sebenarnya Stark. Banyak konten hingga meme di Inet, yang menjabarkan bahwa Stark selalu merubah kesalahan dia di film sebelumnya, lalu memperbaruinya di film terbaru. 

Nah, selama Stark mengoprek seluruh keahliannya, dia dibantu oleh sejenis asisten AI bernama J.A.R.V.I.S. atau sebut saja sebagai Jarvis (Paul Bettany). AI ini memiliki nada suara yang lembut, alias soft-spoken. Suaranya yang netral, cocok sebagai mitra keseharian yang damai, daripada Pepper Potts (Gwyneth Paltrow). 

Jarvis inilah yang menjadi asal muasal Ultron, yang akan dibahas menyeluruh dalam artikel ini. Sekaligus, terciptanya Vision sebagai avatar yang lebih cocok dari Jarvis.

Vision dan Ultron

Ultron (James Spader) adalah sejenis AI yang diciptakan oleh Stark, namun hanya menerima banyak masalah saja. Ultron diciptakan sebagai kebalikan dari Jarvis, yang lebih mengacu ke persenjataan. Namun seperti kebanyakan film AI yang terlalu adaptif, Ultron pun belajar bahwa manusia-lah yang perlu dibasmi (?). 

Masalah pun semakin berkembang saat Ultron berhasil merebut Mind Stone, yaitu bagian dari Infinity Stones yang tidak terelakkan kemampuannya. Untungnya lagi, tubuh robot dan Mind Stone berhasil direbut kembali oleh Avengers, sehingga Jarvis sebagai AI yang lebih stabil, dapat terunggah. Terciptalah Vision (Paul Bettany) berbahan Vibranium, yang sangat kuat dan mampu menanggulangi apapun juga (selain Thanos). 

Nah, bagaimana dengan maksud artikel ini yang kentara penggambaran antara Stark dan Ultron? Justru disitulah letak uniknya. Penulis perlu mengacu sekuat apa sebenarnya Ultron, apalagi jika dibandingkan versi komiknya.

Di komiknya, Ultron bukan hanya ancaman tingkat Avengers, melainkan tingkatan galaksi. Ultron dalam komik sebenarnya diciptakan oleh Henry 'Hank' Pym (Michael Douglas), yang dikenal dalam MCU sebagai pencipta Ant Man dan portal Quantum Realm. Namun di komik, Pym dikenal sebagai 'wild card' alias 'semi-villain' alias kacau balau. Walau sempat bergabung dengan Avengers, Pym memiliki sejarah kekerasan yang parah, serta ciptaannya sering mengancam bumi.

Ultron dalam komik, seharusnya hanya dapat ditanggulangi oleh Vision, Captain Marvel (Brie Larson), dan Guardian of Galaxy sekaligus. Kemampuan Ultron untuk menyusup ke dalam teknologi apapun, dapat mengancam bumi dan bahkan luar angkasa. Ultron yang diciptakan pada tahun 1968 lalu di komik, bisa jadi referensi awal Skynet di seri Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019).

Namun, mengapa tokoh antagonis sekuat Ultron hanya menciptakan arena duel saja di negara fiktif Sokovia, ala MCU?

Tony Stark sebagai Ultron

Penulis tidak ingin menggambarkan Age of Ultron sebagai film yang mengangkat plot dan mengenalkan karakter baru saja. Memang, terdapat karakter seperti Vision, Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) yang baru dikenalkan. 

Namun, penulis menelaahnya dari segi psikologis penciptanya sendiri, yaitu Stark. Seorang mekanik eksentrik ini memang memiliki sisi paranoid, yang membuatnya terus menciptakan kreasi baru. Khususnya, Stark seringkali membuat baju zirah Iron Man terbaru, demi menambah kemampuan apapun. Bahkan di Avengers: Infinity War (2018), Stark berhasil memakai Iron Man dengan teknologi Nano.

Sayangnya, sisi mental Stark memang belum pernah sembuh sama sekali, sejak dulu. Diawali dengan piatu, saat dirinya kehilangan ibu, lalu ayahnya sendiri hingga yatim piatu. Stark adalah seorang penyendiri sejati. Lebih parah lagi, selama berkarir di Stark Industries, dengan bangganya Stark menyuplai inovasi senjata bagi AS, melalui Jenderal Ross (William Hurt, Harrison Ford). Alias, Make America Great Again.

Sisi gelap selama banyak dekade, telah merusak mental Stark sebagai seorang pria. Sisi perlente, sok narsis dan percaya diri berlebihan Stark adalah kedok saja, karena selama ini kurang percaya dengan dirinya sendiri, apalagi dunia di sekitarnya. Bisa disebut, selain Captain America (Chris Evans), hanya Stark-lah yang secara terbuka mengenai identitas pahlawan supernya. Itupun semacam persona baru, yang telah lama bersalah dengan banyak operasi oleh AS. 

Nah, apa hubungannya dengan Ultron? Disitulah letak berbahayanya. Ultron adalah penjelmaan sisi kelam dan negatif dari Stark. Karena berfungsi sebagai robot AI persenjataan, Ultron sebenarnya dapat dikendalikan dengan lebih tepat. Namun, sisi gelap Stark tercampur dalam fungsi Ultron, dan menyebabkannya kurang terkontrol.

Lalu, bagaimana dengan Sokovia? Disitu pula letak kelemahan lain dari Stark. Ultron masih memiliki sisi Narsistik ala Stark, yang menyebabkan dia membuat arena khusus di Sokovia. Setelah gagal menciptakan tubuh baru dengan Mind Stone, sisi tidak mau kalah meruak muncul. Ultron hanya menciptakan banyak robot baru (yang tidak setara dirinya), lalu mengirimkan ke Sokovia sebagai pusat penelitian Hydra, lalu menantang bertarung dengan Avengers.

Ultron memang diciptakan demi menanggulangi tingkat ancaman Avengers, namun sisi tidak mau kalah Stark, berarti disalah-artikan sebagai kompetisi saja. Kisah seperti ini, mirip dengan sisi lain Batman dari DC Comics. Batman memiliki sejenis fail-safe, demi menghalau seluruh anggota Justice League yang memberontak. Dengan mengalahkan Avengers, maka Bumi dapat diamankan oleh dirinya saja. 

Jika Ultron berhasil mendapatkan Mind Stone, maka dirinya mungkin menerima semacam 'wangsit' lainnya. Contohnya adalah kedatangan Thanos, Galactus, dan banyak mahluk antar-dimensi yang mengancam bumi. 

Layaknya Ultron adalah penggambaran lain, dari sisi Dr. Doom di Fantastic Four. Walau berperan sebagai antagonis utama, namun Dr. Doom sangat ingin melindungi Bumi. Memang terlalu totalitarian, namun Dr. Doom di komik sampai berhasil membangun sebuah negara, yang khusus ditujukan demi menghalau ancaman bagi Bumi dari pihak luar angkasa.

Nah, karena itulah sebelum Doomsday akhirnya tiba, dan Robert Downey Jr. yang membuka wajahnya saat Comic-Con 2024 lalu sebagai Dr. Doom, hype dari film Doomsday semakin menggila. Apalagi, dari penggemar MCU yang sudah sangat paham mengenai sisi karakter ini. 

Ya, Ultron memang seharusnya menjadi seorang antagonis yang pintar, dan bukannya bertindak pecicilan ala Stark.

Okeh, tampaknya perlu diakhiri dengan meme terkenal saja dari YouTube. 

Doomsday is Coming.

Doomsday is Coming (Reddit).

04 Maret 2026

Nyelenehnya Pria dari Masa Depan Ala Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

 

Sam Rockwell yang semakin kocak (IMDB).

Okeh, saatnya menyambut tiga film bermasalah dari Hollywood sana, yang berlatar aneh bin ajaib, dan tayang menjelang libur Lebaran. Pertama adalah film berjudul panjang nan kurang jelas, yaitu Good Luck, Have Fun, Don't Die yang berating umur D17. Memang, film ini cuman bisa ditelaah dengan satu kombinasi istilah, yaitu nyinyir, ironis, parodi ala jaman viral kesetanan.

Pemuda dari Masa Depan dan Kecerdasan Buatan

Memang film ini cukup nyeleneh untuk dianalisa langsung. Tetapi, penulis dapat mengacu pada satu ramai sosial di pertengahan tahun 2010an lalu, saat Media Sosial tengah viral dengan berbagai keunikannya. Memang dalam cuplikannya, film ini menggambarkan seorang pemuda (tua) yang datang dari masa depan demi mencegah masalah akibat kecerdasan buatan (AI).

Ya, pertengahan tahun 2010an lalu memang sempat viral mengenai istilah pemuda atau pemudi dari masa depan. Mereka mengaku sebagai time-traveller, alias satu penjelajah waktu yang datang dari masa depan. Memang beberapa kali, tebakan mereka mengenai suatu kejadian tertentu  di masa mendatang, berhasil terbukti. 

Ternyata banyak diantara mereka yang memang valid, alias memiliki kemampuan meramal. Hingga akhirnya ada studi melalui konten khusus, yang membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah anak indigo, yang kreatif dalam menjabarkan visinya, lalu terkadang benar dan tepat. 

Di saat itu pula, istilah indigo mulai ramai kembali, seperti jaman 90an hingga awal 2000an. Indigo memang suatu ketertarikan tertentu di ranah sosial, karena banyak anak kecil hingga remaja, memiliki tingkat kejeniusannya sendiri yang unik. 

Sementara dari segi kecerdasan buatan, sudah menjadi bahan topik di banyak film Hollywood. Contohnya adalah sejak waralaba film Terminator diproduksi (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Terminator berfokus pada pencegahan akhir dunia akibat AI bernama Skynet, yang memberontak dan menciptakan dunia yang hangus. Berbagai film terkenal tentang AI pun sering diadaptasi oleh Hollywood, sehingga menjadi satu bahan adaptasi tertentu.

Nah, mengacu pada tahun 2020an sekarang, Asisten AI sedang ramai dibahas. Berbagai perusahaan teknokrat terkenal, seperti Apple, Google, Meta, Microsoft dan banyak perusahaan AI, mulai menelurkan hasil karya Asisten AI-nya. 

Banyak program tersebut telah bermasalah sejak perilisannya, sehingga menjadi kontroversi di banyak negara. Banyak yang menganggap (walau menggunakan meme), bahwa AI adalah akhir dari interaksi alami di dunia digital, serta bentuk kemunduran kognitif bagi manusia.

Bagaimana dengan kisah film ini yang mencoba nyinyir bagi kedua topik tersebut? Bisa dicek melalui sinopsisnya, yang berisi aktor terkenal Sam Rockwell. Aktor ini memang sering berperan di banyak film produksi mahal Hollywood, namun lebih mengemukakan karakter perlente, namun tetap kocak.

Sinopsis Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

Sam Rockwell adalah pemuda tua dari masa depan, yang berhasil menggunakan mesin waktu untuk dapat kembali ke masa sekarang. Tepat setelah tiba, dirinya langsung ceramah dan membuang banyak ponsel di lokasi restoran, demi agenda merekrut banyak pengikut anti kecerdasan buatan. 

Walau banyak yang heran, ternyata kecurigaan Rockwell terbukti langsung, dengan tibanya tim Buru Sergap dari kepolisian setempat. Walau banyak sandera didalam restoran, tetapi tim Kepolisian dengan brutal dan membabi-buta langsung memburu Rockwell. Tanpa mengindahkan keamanan sandera, Rockwell dan penyintas yang percaya, akhirnya sanggup menghalau kejaran polisi.

Namun, banyak kejadian berbahaya terus mengejar mereka, akibat kecerdasan buatan yang ternyata berupa monster aseli. Hingga akhirnya, Rockwell dan banyak sekali pengikutnya, harus bertahan hidup demi menghalau setiap tantangan menggila ini.

Sanggupkah Rockwell dan banyak warga percaya untuk menghindari akhir dunia akibat AI? Atau malah hanya sekedar prank semata dari Rockwell yang jelas sudah terlihat agak gila?

Jawabannya, tentu ada di kisah PanSos ala sinema Indonesia.

21 Januari 2026

Chris Pratt Melawan Kecerdasan Buatan di Film Mercy

 

Chris yang terjebak kreasinya sendiri (IMDB).

Daaan seperti biasanya, ranah Hollywood pun kembali meramaikan ngerinya AI di film terbarunya berjudul Mercy, yang tayang di sinema Indonesia. Film yang diisi oleh Chris Pratt ini, memiliki rating R13, alias untuk remaja. 

Pada cuplikannya, film ini menyajikan aksi dan ketegangan berbeda, karena memiliki format cerita maju-mundur (alias banyak flashback), akibat tokoh utamanya yang terjebak dalam persidangan khusus AI.

Sedikit Kisah AI dari Ranah Hollywood

Memang, jaman AI kali ini perlu ditelaah dari segi urusan keamanannya. Seperti sebelumnya di film ala nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, beberapa masalah yang mengganggu manusia dapat terjadi akibat AI.

Jika ditelaah dari segi ranah film Hollywood, kisah AI yang agak rusak ini memang dimulai kembali sejak film futuristik, berjudul Deus Ex Machina di tahun 2016 lalu. Walau arti harfiahnya adalah plot armor, tetapi film ini bertema mengenai tentang perkembangan AI, hingga bisa berupa seorang robot.

Nah di film ini, AI yang sudah berbentuk robot ternyata sanggup mengembangkan kepribadiannya sendiri. Hingga akhirnya terjadi ketegangan antara kreatornya, satu jurnalis, dan beberapa AI berbentuk robot wanita. Cek saja bagaimana tegangnya tersebut, karena memang film ini lebih ke drama dan horor sekaligus.

Daaan, tentu tidak cocok rasanya membahas tema rusaknya AI, tanpa mengacu pada satu waralaba film yang meramaikannya, yaitu Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Ya, film yang khas dengan Arnold Schwarzenegger ini, memang awalnya mengisahkan tentang kekisruhan dunia akibat AI.

Sejak film awalnya di tahun 1984, memang mengisahkan sedikit bumbu perjalanan waktu, namun tetap berfokus pada AI, dengan sinkronnya para robot pembasmi, bernama Terminator. 

Kacaunya dunia di film Terminator, akibat kecerdasan buatan bernama Skynet, yang malah memberontak dan meretas senjata nuklir sedunia. Banyak lokasi di dunia, kini menjadi puing akibat radiasi nuklir, dan dijajah oleh robot humanoid bernama Terminator dari Skynet.

Dari segitu saja, sudah jelas bagaimana besarnya resiko aplikasi AI, yang tentu dijabarkan dengan heboh dalam film ini. Memang di film Terminator, AI sebenarnya dikembangkan demi keamanan negara, alias program eksperimen persenjataan dari Kementerian Keamanan Nasional AS. 

Kembali ke film Mercy, AI yang ditampilkan disini sudah memiliki kuasa tersendiri, bahkan hingga setara hukum. Ya, film ini mengacu pada sebuah program AI, yang memiliki posisi sebagai Hakim, Jaksa, dan Juri sekaligus dalam sistem peradilan hukum di AS. 

Dari cuplikannya pun terlihat, bahwa AS sudah dalam tahap dystopia, namun justru ditanggulangi oleh pemerintah yang totalitarian. Seluruh fungsi pengawasan dan pemantauan publik, dilaksanakan melalui ponsel, kamera pengawas, drone, dan bahkan pindaian satelit, oleh pemerintahnya.

Sinopsis Film Mercy

Keadaan di AS sudah kacau balau, dengan tingginya aksi kriminalitas dan kesenggangan sosial yang sangat berbahaya. Namun, pemerintahnya justru menerapkan pemantauan publik yang menyeluruh. 

Bahkan, pemerintah perlu mengembangkan sistem hukum AI, yang bernama Hakim Maddox (Rebecca Ferguson). Detektif bernama Chris Raven (Chris Pratt) adalah salah seorang anggota kepolisian, yang turut berkontribusi saat mengembangkan program AI berkuasa hukum ini.

Program ini didesain demi menyambungkan seluruh bukti dari pantauan ponsel, kamera pengawas, drone, pindaian satelit, serta kuasa hukum miliknya, dalam menyidang dan mengeksekusi langsung terdakwa. 

Sayangnya, justru Chris yang terjebak dalam sistem ini, akibat disangka membunuh istrinya sendiri. Chris yang tidak ingin mengalah begitu saja, hanya memiliki waktu 90 menit demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

Chris pun teringat, bahwa awal kisruh tersebut dimulai saat dirinya tengah melacak keberadaan bom besar, yang dikirimkan melalui sebuah truk trailer. Kasus tersebut memang berakhir buruk, sehingga banyak pihak keamanan kehilangan nyawa.

Chris yang tahu seluk-beluk Hakim Maddox, akhirnya mencoba bekerjasama, demi melacak petunjuk yang hilang dari kasus tersebut, sekaligus membuktikan dirinya tidak bersalah atas pembunuhan istrinya.

Sanggupkan Chris melalui seluruh proses sidang ? Atau malah terpaksa mengaku atas kasus ini? Dan malah, hancur sendiri akibat konspirasi besar dibaliknya?

Jawabannya, tentu ada di drama hukum ala sinema Indonesia.

20 Januari 2026

Sedihnya Ngobrol Dengan AI Ala Film Esok Tanpa Ibu

 

Sekeluarga yang masih lengkap (TMDB).

Nah, saatnya kembali ke jaman saat ini, yang lebih kentara dengan AI-nya, ala film Nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, yang tayang di banyak sinema Indonesia.

Kali ini, banyak aktor yang mengisinya pun berasa mega bintang, yaitu Ringgo Agus Rahman (yang kembali mengisahkan drama keluarga), Dian Sastrowardoyo (yang memang ahli dalam film drama). Keduanya ditemani oleh duo aktris-aktor muda yang tengah naik daun, yaitu Ali Fikry dan Aisha Nurra Datau. 

Sinopsis film ini memang mengisahkan cerita futuristik, tidak seperti kebanyakan film drama Indonesia. Ya, film Esok Tanpa Ibu ini mengisahkan tentang kecerdasan buatan (AI), yang kini sedang ramai digemari oleh banyak remaja dan pemuda-pemudi Indonesia. Ratingnya pun disesuaikan, yaitu untuk remaja (R13) keatas.

Sekilas tentang AI dan Remaja

Mengenai kisah perkembangan AI-nya itu sendiri, khususnya di kalangan warga yang mudah mengaksesnya, adalah sejak munculnya Siri di iPhone 4s dari Apple, pada tahun 2011 lalu. Siri memang dikenal sebagai asisten pribadi, tetapi karena keterbatasan spek ponsel, tidak membuka banyak peluang bagi pengembangan AI.

Lalu loncat ke 11 tahun berikutnya, ChatGPT dari OpenAI meramaikan ranah kecerdasan buatan di ponsel, pada tahun 2022 lalu. Banyak perusahaan lain, contohnya adalah raksasa Google, merilis pula Gemini untuk ponsel androidnya. Bahkan, sejak tahun 2022 hingga sekarang, bisa disebut sebagai jamannya balapan bagi para developer IT, untuk mengembangkan teknologi berbasis AI.

Nah (lagi), kini saatnya di tahun 2026 dengan hingar-bingar dari dunia AI di tahun sebelumnya, tampaknya perlu ditelaah dari segi efeknya bagi remaja. Beberapa kampus dan sekolah bahkan sempat mencanangkan Kurikulum Berbasis AI sebagai bagian dari pendidikannya. 

Namun, karena penulis sendiri (selalu) skeptis dengan AI, dan paham dengan perbedaannya bagi perkembangan anak, maka dilansirkan saja beberapa info dari pemerhati pendidikan. Penulis skeptis, karena AI lebih cocok dipakai oleh kaum tekno, yang sanggup memahami dan mengopreknya langsung, daripada dipakai sehari-hari. Apalagi, banyak gawean manual yang harus dikerjakan manusia. 

Terdapat pula beberapa kasus berujung kehilangan nyawa di luar sana, yang menyangkut hubungan langsung antara AI dan remaja. Berbagai kasus tersebut, adalah satu anomali, yang sempat mempengaruhi perkembangan anak akibat AI.

Bahkan menurut GentaQurani, yang melansir dari penelitian di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), dengan melansir kajian oleh Guru Besar Prof. Ridi Ferdiana, menyatakan bahwa 77 persen generasi milenial hingga gen Z menggunakan AI dalam kesehariannya. Sementara 45 ribu dari 60 ribu mahasiswa di UGM, telah menggunakan AI secara intensif.

Sisi terang AI dalam keseharian remaja dan pemuda, adalah sebagai teman belajar yang cerdas. AI dapat menjadi sahabat belajar yang luar biasa bagi anak. Fitur guided learning dari Gemini AI, dapat membantu pelajar untuk memahami konsep mata pelajaran hingga kuliah.

Dengan begitu, seperti dilansir dari DCloud, hubungan remaja dan AI harus meliputi beberapa faktor. Diantaranya adalah pendidikan literasi digital, peningkatan kesadaran etika AI, pengawasan dan pendampingan, kurikulum berbasis AI di pendidikan, regulasi dan kebijakan yang mendukung, serta kerjasama antara industri dan pemerintah.

Namun kembali UGM, Prof. Ridi menyatakan beberapa resiko mengenai penerapan AI yang intensif. Diantaraya kemampuan berpikir kritis dan analisis menurun, sehingga tidak dapat menyelesaikan masalah secara mandiri. Daya ingat akan melemah, akibat mudahnya mencari informasi. Serta efek yang dikenal ramai sebagai brain rot, alias kondisi otak yang tumpul.

Kisah Ado yang Terinspirasi oleh AI bernama Hatsune Miku

Walau begitu, daripada membahas kisah mengerikan tentang AI, dan membahas acuan terpenting digital mengenainya, maka perlu dikenal pula dari segi lainnya, yaitu dunia hiburan. Kenapa? Karena blog ini memang berisi dunia seni hiburan, khususnya film dan banyak kisah berbudaya lainnya.

Dari segi ini, memang sedang kisruh dengan Hak Cipta dan urusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) akibat AI, terdapat secercah harapan dari ranah lainnya. 

Yaitu, dengan mengacu pada seorang penyanyi terkenal bernama Ado, yang kini tengah ramai dibincangkan di ranah digital, dunia nyata Jepang, dan dunia musik internasional. Penyanyi ini seperti gabungan Vtuber dan Idol ala Jepang, namun dengan bumbu horor ala Gadis Gothik (GeGe). Namun, lagu dan vokalnya memang cukup kuat, sehingga layak disebut sebagai Diva dari Jepang. 

Nah, Ado ini sebenarnya mengidolakan Hatsune Miku sejak remaja, yang memberi inspirasi karirnya sebagai penyanyi di Jepang. Telah debut sejak tahun 2020 lalu, kini di tahun 2026, Ado sebenarnya baru berumur 23 tahun! Sebelum dia debut, Ado adalah bagian dari Utaite, yaitu semacam e-girl yang suka meng-cover lagu.

Okeh, tentunya cukup mengerti bahwa kisah ini, berarti sebuah cerita berbeda, bagaimana seorang penyanyi yang kuat meraih mimpinya berkat bantuan AI, dan berakhir sebagai Diva di Jepang. Ado bahkan sempat menyatakan, bahwa masa remaja dirinya, sering diisi dengan menonton Hatsune Miku pada konsol DS-nya.

Nah, karena sudah panjang lebar, dan akhirnya kembali ke dunia hiburan juga, maka coba kita cek saja sinopsis film Esok Tanpa Ibu. Perlu penulis tegaskan, isu sosial semacam ini memang sudah dikaji oleh banyak profesional. Sehingga, perlu diadaptasi pula sebagai bagian dari sebuah film, baik itu untuk hiburan, maupun meningkatkan kesadaran warga.

Sinopsis Film Esok Tanpa Ibu

Rama (Ali Fikry) adalah seorang remaja yang aktif, namun hanya dekat dengan ibunya saja, Laras (Dian Sastrowardoyo). Rama sering curhat dengan Laras, mengenai dirinya yang kurang dekat dengan ayahnya sendiri, yaitu Hendi (Ringgo Agus Rahman). Karena itu, ibunya yang kocak serta sering bercerita, menjadi bahan keseharian Rama.

Namun, suatu hari Laras mengalami kecelakaan, yang berakibat dirinya harus dirawat dan koma di rumah sakit. Rama yang memang sangat dekat dengan ibunya, merasa kehilangan minat untuk berdiam diri di rumah. Hubungan dirinya dengan Hendi, malah semakin kurang harmonis.

Suatu hari, Rama berkunjung ke rumah temannya, Zyla (Aisha Nurra Datau) yang lihai dalam hal Teknologi Informatika. Zyla menyarakan, untuk mengunggah seluruh video Laras, kedalam mesin kecerdasan buatan miliknya. Dengan begitu, Rama masih bisa mengobrol dengan ibunya.

Keseharian Rama pun diisi kembali dengan hadirnya Laras, walau dalam bentuk digital, pada gawai jam tangan pintar maupun komputernya. Namun, Hendi tidak menyukai Laras versi AI, dan mencoba membongkar instalasi tersebut dirumahnya. Rama dan Hendi sempat bersitegang, hingga akhirnya satu instalasi monitor besar, secara kebetulan memunculkan sosok Laras yang sehat walafiat.

Dapatkan keluarga ini menerima kehadiran AI bersosok ibu? Atau malah semakin galau dalam menunggu kesembuhan Laras di rumah sakit? 

Jawabannya, tentu ada di ranah kecerdasan buatan ala sinema Indonesia.

BoBoiBoy Kembali dalam Film Papa Zola The Movie

 

Zola yang kembali sakti (TMDB).

Okeh, saatnya Malaysia dan Indonesia kembali bersatu, dalam satu film animasi yang menyatukan keduanya, yaitu berjudul Papa Zola The Movie. Tentu yang mengenal karakter ini, paham akan kiprahnya di serial animasi kartun BoBoiBoy.

Ya, karakter Papa Zola adalah satu pahlawan super dalam serial BoBoiBoy, yang telah meramaikan animo kartun Indonesia sejak tahun 2012 lalu. Tentu, ratingnya adalah Semua Umur yang dapat ditonton mayoritas khalayak.

Masih tayang hingga kini dengan sempat berpindah kanal televisi, kartun ini turut melanjutkan kisah kartun Malaysia yang sederhana dan cocok, ala Upin Ipin sebelumnya. Memang, keduanya lebih menceritakan keseharian banyak karakter, yang ditambah bumbu aksi ala pahlawan super di BoBoiBoy.

Kiprah Monsta Studios dari Malaysia

Tidak hanya di televisi nasional, BoBoiBoy telah melanglang buana di siaran internet Netflix, dengan sub-judul Galaxy (2016). Bahkan, bagi yang masih penasaran dengan seluruh musim penayangan BoBoiBoy, dapat menyaksikannya di kanal resmi milik Monsta Studios (Monsta dan Monsta Keren), selaku tim produksinya dari Malaysia.

Berbagai karya yang terkait dengan waralaba BoBoiBoy pun telah ditelurkan oleh Monsta. Diantaranya adalah dua film BoBoiBoy (2016, 2019), satu seri dan film Mechamoto (2021, 2022), dan seri khusus Papa Pipi (2019, 2025). Selain itu, lima film pendek BoBoiBoy pun digelontorkan oleh Monsta Studios, yang diantaranya dirilis tahun 2019, 2020, 2021, 2022, 2023 dan 2024. 

Ranah komik pun dijabani pula oleh Monsta, yaitu serial komik BoBoiBoy Galaxy musim kedua (2020), dan Detektif Yaya (2016). Seluruh karya tersebut, adalah bagian dari Jagat Power Sphera, alias dunia khas berisi BoBoiBoy dan banyak karakter lainnya.

Sedikit Info Karakter Papa Zola

Kembali ke film ini, Papa Zola adalah satu karakter yang seringkali membantu BoBoiBoy, dalam membasmi berbagai serangan alien. Adu Du dan Tengkotak, adalah sejenis mahluk luar angkasa jahat, yang sering mengganggu di Pulau Rintis, lokasi tempat tinggal mereka. Dengan bantuan teman-temannya dan Papa Zola, BoBoiBoy sanggup menggagalkan usaha jahat dari alien.

Uniknya, Papa Zola sebenarnya adalah seorang karakter fiksi dalam dunia BoBoiBoy. Karakter Papa Zola berhasil keluar dari video gim miliknya sendiri, dan sempat linglung akibat berasa isekai. Terpaksa tinggal di Pulau Rintis, dirinya lalu bekerja sebagai guru, sambil menyembunyikan identitas pahlawan supernya.

Nah, kali ini justru dimulai kembali petualangan yang berbeda dari Papa Zola, yang tayang di banyak sinema Indonesia. Bagi yang kangen dengan kerennya BoBoiBoy, berbagai aksi mantap ala animasi 3D terlihat dalam cuplikannya. Beberapa drama pun menyajikan latar belakang Zola, yang masih berjuang keras demi hidup damai sejahtera di Pulau Rintis, bersama keluarganya.

Sinopsis Film Papa Zola The Movie

Papa Zola (Nizam Razak) masih berjuang keras demi menghidupi keluarganya, dengan melaksanakan tiga pekerjaan sekaligus. Zola masih berniat untuk berlibur layak bagi anaknya, Pipi Zola (Ieesya Isandra). Istrinya, Mami Zila (Noor Ezdiani Ahmad Fauwzi) justru memberi saran, bahwa Zola tidak perlu bekerja sekeras itu, dan liburan saja jika memang mampu.

Saat mereka tengah berkemah di tengah hutan, Zola bertemu seorang agen dari PAPA (Protect and Prevent Agency), yaitu organisasi yang berfungsi menghalau serangan alien. Zola diingatkan, bahwa dirinya sempat menjadi anggota dari PAPA, sekaligus mitra lamanya. Karena sudah tidak ingat, Zola malah menyarankan untuk menghubungi BoBoiBoy (Nur Fathiah Diaz) saja, yaitu seorang anak super dengan kemampuan elemen dan bertopi oranye.

Namun, keesokan harinya Pipi diculik oleh sekawanan alien. Kelompok alien baru tersebut, memang tengah mencari anak, yang bisa diculik demi eksperimen. Sementara, kapal utama menyerang ibukota Kuala Lumpur, demi merubah dunia menjadi simulasi jajahan mereka.

Zola yang masih memiliki kemampuan super, perlu mengumpulkan kembali seluruh kekuatannya yang telah lama tidak dipakai. Terlebih lagi, BoBoiBoy dan Gopal (Dzubir Mohamed Zakaria) yang sudah lama berjibaku, malah hilang setelah ditelan oleh portal menuju dunia simulasi lainnya. 

Sanggupkah Zola menyelamatkan Pipi dan seluruh dunianya? Tentu dapat disaksikan di sinema kombo Indonesia dan Malaysia.

14 Januari 2026

Rasanya OP Ala Karakter Kirito di Anime Sword Art Online

 

Yujio di Project Alicization (SAO-Wiki).

Okeh, rasanya cukup aneh mulai nulis artikel Monsterisasi lagi, tetapi memang cocok di awal tahun 2026 ini. Apalagi setelah penjelasan di laman Monsterisasi mengenai Tanjiro dan kawan-kawan, serta artikel pertamanya mengenai film dari Makoto Shinkai, jadi ya tinggal dilanjutkan saja.

Terlebih lagi, istilah Monsterisasi-nya sendiri cukup aneh, jika dibandingkan dengan apa yang dibahas. Jadi, di artikel ini, penulis akan membahas satu karakter OP, yang memulai animo anime isekai di Jepang sana, bernama Kirito Kazugaya.

Ya, karakter utama dari serial novel dan anime Sword Art Online (SAO) ini, justru paling cocok dibahas di artikel ini, Monsterisasi. Kenapa? Karena seperti dibahas sebelumnya mengenai perubahan 'makna' seorang karakter dan dikejar masa lalu, maka Kirito adalah satu 'Monster' terbesar dari sudut pandang tersebut.

Memang Monter terbesarkah? Tentu Saja! Karena Kirito punya Buanyak HAREM sedunia, bahkan mengalahkan seluruh anime lain! Hehe, becanda... 

Trope Kirito yang punya banyak harem, sebenarnya digambarkan di anime saja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kirito sebenarnya adalah pemain MMO solo karir, yang seringkali membantu player (cewe) lain pas namatin quest.

Trope Kirito sebagai karakter OP yang punya banyak harem pun, membuat anime SAO tidak disukai oleh banyak wibu dan otaku. Padahal, menurut novel aselinya, Kirito memang tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun (selain Asuna).

Okeh, itu pengenalan saja mengenai urusan kelamin Kirito. Tetapi bagaimana dengan jiwanya sebagai seorang Monster? Nah, dari segi Action RPG atau MMO sekalian, Kirito memang termasuk OP, layaknya karakter Endgame - Post Game Grind di banyak RPG.

Walau karakter Kirito di novel dan animenya cukup berbeda, tetapi plot utama serta jalan ceritanya tetap mirip. Yaitu, saat Kirito harus meng-carry seluruh tim, hingga seluruh server, untuk selamat walafiat di dunia MMO. Trope cerita Kirito terus berlanjut dari server Aincrad, bahkan hingga seri anime terakhir, yang berjudul Alicization: War of Underworld.

Nah, daripada membahas bagaimana kisah Kirito meng-carry semuanya (padahal mah pake cheat juga anjir), lebih baik dicek saja pas Kirito cocok sebagai MC kita selama ini. Tepatnya, saat masih berada di dunia Project Alicization. Itupun, tidak hanya berfokus pada Kirito, tetapi teman virtualnya sendiri, yaitu Eugeo (Yujio).

Kirito dan Asuna yang sudah resmi berumur dewasa (Mipon).

Project Alicization bersama Alice, Yujio dan Kirito

Perlu diingat, bahwa Kirito di Project Alicization sudah berumur 20 tahun, alias baru lulus SMA dan memulai kuliah. Penggemarnya pasti tahu, bahwa Kirito dan banyak penyintas Aincrad lain, ke-skip sekolahnya selama dua tahun lebih. 

Jadi, Kirito di serial anime ini memang sudah dewasa, dan bekerja (magang) sebagai beta tester (lagi) di Project Alicization. Sayangnya (seperti biasanya), proyek yang sudah diamankan ini, harus dioperasikan sebagai penelitian bagi pasien yang mengalami koma.

Ya, Kirito yang diserang oleh racun syaraf saat berduaan dengan Asuna di dunia nyata, akhirnya koma dan perlu dirawat di dunia Project Alicization. Kirito yang sebenarnya berumur lima tahun di dunia ini, perlu mengulang kembali sepuluh tahun hidupnya, akibat perbedaan waktu dengan dunia nyata.

Namun, dari segi ini bisa dianalisa, bahwa Kirito bersama karakter AI bernama Yujio dan Alice, sebenarnya mengulang kembali masa kecil yang hilang. Di dunia nyata, Kirito adalah seorang yatim-piatu, yang tinggal bersama sepupunya yaitu Suguha, dan kakeknya saja. Momen masa kecil bersama Alice dan Yujio, seakan proses untuk menyembuhkan kembali rasa terpendam Kirito.

Tidak hanya itu, saat berumur 15 tahun alias SMP, Kirito pun terjebak di Sword Art Online dan dunia Aincrad-nya. Disitu, Kirito selalu merasa bersalah, karena tidak sanggup membantu banyak pemain SAO.

Dan latar Kirito tersebut sangat nyambung dengan karakter baru di Alicization, yaitu temannya sendiri bernama Yujio. Karakter berambut pirang dan tinggi sama dengan Kirito ini, memiliki keperibadian baik, halus, penurut, dan setia. 

Namun sedikit spoiler, Yujio akhirnya meninggal dalam seri ini. Kisah Yujio yang meninggal, mengingatkan pula perubahan terbesar dalam diri Kirito. Yaitu, untuk terus berinisiatif gelut, dengan berbagai tingkat edgy-nya. Yujio pun meninggal akibat misi keduanya.

Padahal, sebelum terjebak di dunia Aincrad, Kirito adalah anak SMP biasa yang cukup halus pembawaannya. Kematian Yujio seakan mengingatkan, bahwa Kirito yang selama ini terlalu Power-Creep, adalah perubahan besar akibat Aincrad. Padahal di episode awal SAO saja, Kirito pura-pura edgy, untuk menghindari kejaran dari pemain lain.

Visual karakter Yujio pun cukup terbalik dengan Kirito, khususnya sebagai avatar. Kirito bermata dan berambut hitam, dengan pakaian serba hitam pula. Sementara Yujio bermata biru dan berambut pirang, dengan pakaian berwarna biru cerah. Padahal, desain baju keduanya masih cukup mirip.

Nah, kembali ke momen Yujio meninggal, bencana lain menimpa pula Kirito yang kalah bertarung. Dirinya terjebak dalam dirinya sendiri, mirip dengan koma di dunia nyata. Alias, Kirito memang koma dua dunia sekaligus. 

Saat masih koma, dengan serial Alicization yang dilanjutkan di War of Underworld, Kirito memang tidak muncul sama sekali. Jika adegan Kirito muncul, berarti saat dirinya terjebak dalam kenangannya sendiri, mulai jaman SMP hingga Aincrad, lalu banyak momen menyedihkan lainnya. 

Momen ini, layaknya men-defrag Operational System dalam Personal Computer dengan begitu banyak data yang memenuhi memori Hard Disk Drive atau Solid State Drive. Dengan begitu, PC akan bekerja lebih cepat dan kinerja lebih baik lagi. 

Bahkan di akhir momen tersebut, Yujio, Asuna, Shino, dan Suguha muncul, untuk membangunkan kembali Kirito dari dalam kenangannya. Momennya cukup dalam, karena Kirito harus menerima dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan, yang sempat menyelamatkan (nyawa) keempat temannya tersebut. Walau Yujio telah meninggal, dirinya adalah sosok jiwa Kirito yang Aseli.

Daaan, begitulah alasannya mengapa Kirito (alias Yujio) adalah seorang karakter Monster, yang selalu diminta untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia MMO, hingga berujung celaka di dunia nyata.

Avatar-nya saja di dunia Project Alicization, masih berupa Kirito umur 15 tahunan. Seakan, mengingatkan kembali awal edgy-nya karakter Kirito yang OP ini.

Akhir dari Alicization, yang entah kapan dilanjutkan serial anime-nya, menjadi sekedar closure alias penutup, bagi kisah Kirito yang sudah terlalu OP, hingga berujung status sebagai Monster!

Oh ya, daripada galau menanggapi Kirito, mending dengarkan saja lagu pembuka anime Alicization kedua, dari penyanyi ReoNa berjudul Anima. Bagi yang mengecek judul serta liriknya, pasti paham seluruh maksud artikel ini.

Okeh, Ciao!

18 Desember 2025

Mengakhiri Perang di Pandora dalam Film Avatar: Fire and Ash

 

Generasi berikutnya ras Na'vi di bulan Pandora (IMDB).

Daaan, dengan berakhirnya tahun 2025 ini, kembali pula akhir dari film paling epik sedunia, berjudul Avatar: Fire and Ash, yang tayang mulai minggu ini di sinema-sinema Indonesia, untuk penonton berumur 13 tahun ke atas (R13+).

Tentu bagi yang sudah menonton film Avatar: Way of Water di tahun 2022 lalu, bakal geregetan untuk menyusul sekuelnya di bulan Desember ini. Ya, film Avatar: Fire and Ash adalah akhir dari trilogi film ini. 

Oh ya, bagi yang ingin menikmati film Fire and Ash dengan lebih ciamik, tentu dapat memesan tiket yang memberi fasilitas 3D dan IMAX. Tentu, dengan harga tiket yang lebih mahal dan kursi yang lebih terbatas.

Arahan James Cameron selaku pendiri Lightstorm Entertainment, sanggup merekayasa adegan mocap dengan hasil animasi 3D yang ciamik. Lightstorm memang telah berkecimpung bersama Cameron sejak dirilisnya film Terminator 2: Judgment Day (1991). Sejak itu hingga kini, Lightstorm selalu mencengangkan dunia perfilman dengan efek spesialnya yang terbilang inovatif.

Trilogi Avatar dari James Cameron

Walau dimulai pada tahun 2009 lalu oleh sutradara James Cameron, dan membutuhkan jangka waktu 13 tahun untuk film keduanya, film ketiga ini hanya berjarak tiga tahun saja sejak film keduanya. Sebagai akhir dari trilogi, belum ada kabar pasti mengenai film keempat atau kelanjutannya. Namun, dari rumor yang beredar, jika film keempat Avatar diproduksi, maka karakternya akan berbeda dengan trilogi awal.

Trilogi Avatar memang berfokus kepada Jake (Sam Worthington) dan istrinya, Neytiri (Zoe Saldana). Bagi penggemarnya, pasti tahu bahwa sepasang ras Na'vi dari bulan Pandora ini memang fokus utama, yang berjibaku antara kehadiran manusia (RDA), suku pribumi (Na'vi), dan bulan Pandora dengan kehadiran dewa Eywa.

Nah, bagi yang cukup mengingat latar kisah Avatar, Eywa adalah penggambaran harfiah mengenai ekosistem ala bulan Pandora. Eywa adalah nama Dewa tersebut, yang memiliki koneksi langsung dengan seluruh mahluk di Pandora. 

Setiap mahluk, bahkan hingga tanaman, memiliki sulur sebagai anggota tubuhnya. Sulur tersebut bisa dihubungkan dengan pohon bernama sama, lalu membantu menyembuhkan atau bahkan berbagi kesadaran dengannya. Bahkan, sulur dapat saling terhubung dengan mahluk lain, agar mereka dapat bekerja sama secara langsung dan telepati dalam berbagai aktifitas sehari-hari.

Nah, itulah yang menjadi khas dari setiap film Avatar, bahwa bulan Pandora yang sangat eksotis, digambarkan dengan indah ala teknologi CGI dan animasi yang memukau. Tidak heran, film pertamanya menjadi film sinema terlaris sepanjang masa. Box Office-nya mencapai 2,9 Milyar Dolar AS sejak tahun 2009 lalu! Bahkan, Way of Water mencapai 2,3 Milyar Dolar AS, padahal baru tiga tahun sejak dirilis tahun 2022 lalu!

Lokasi syutingnya pun cukup mengesankan, yaitu berada di Selandia Baru, sebuah negara kepulauan kecil di tenggara Australia. Rasanya bernostalgia, semenjak Selandia Baru digunakan sebagai lokasi syuting trilogi The Lord of the Rings (2001;2002;2003). 

Karenanya, banyak sineas perfilman internasional terus melaksanakan syuting di Selandia Baru. Luas, karakter, serta pemandangan Selandia Baru cocok diterapkan sebagai latar sebuah film Epik. Bahkan, Peter Jackson sebagai sutradara trilogi The Lord of the Rings, menyatakan bahwa Selandia Baru bukanlah sebuah negara kecil, melainkan desa yang luas membahana.

Mengingat Plot Film Avatar: Way of Water

Sebelumnya di film Way of Water, Jake mencoba tinggal dan bekerja sama dengan suku Na'vi dari pesisir pantai. Menurut kabar, suku Na'vi pesisir pantai bernama Metkayina, mengambil referensi dari Suku Bajo (Bajau). Suku adat pribumi ini berasal dari Malaysia (Sabah), Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara, alias dari negara Nusantara Tercinta, Indonesia.

Dari situ, kembalilah manusia RDA (Resource Development Administration) dengan kapal laut dan kemampuan mecha amfibi, yang sanggup merambah ranah lautan di Pandora. Sementara dari pihak suku Na'vi, bantuan dari mahluk lautan sejenis paus (Tulkun) dapat menghalau mereka.

Sinopsis Film Avatar: Fire and Ash

Nah, kembali ke Fire and Ash, ketidakhadiran langsung Eywa pula yang menjadi kekhawatiran di film ketiganya ini. Salah satu suku yang tinggal dekat dengan gunung volkano, bernama Mangkwan, malah bergabung dengan RDA. 

Suku Mangkwan dipimpin oleh Varang (Oona Chaplin), yang berselirih khusus mengapa sukunya membelot. Posisi desa huniannya dahulu sempat terkena bencana hebat, yaitu letusan gunung volkano. 

Walau seluruh anggota suku sudah berdoa kepada Eywa, namun bencana sama sekali tidak dapat dihalau. Seluruh anggota suku Mangkwan pun tidak percaya kepada Eywa lagi, dan bahkan menyembah api sebagai simbol dewa, lalu mulai membelot serta berambisi menguasai seluruh Pandora bersama RDA.

Tentu bagi yang sudah menonton film pertama dan keduanya, tahun bahwa RDA hanya menginginkan satu hal saja di bulan Pandora. Satu bijih mineral bertama Unobtainum, adalah target utama RDA. Sementara suku pribumi Na'vi melawan balik, menghalau, mencoba untuk mengusir, serta menghentikan ambisi RDA di bulan kediamannya.

Nah, kali ini ada beberapa kehadiran lain, yang mampu membantu Jake untuk melawan gempuran tersebut. Ya, naga berspesies Ikran kembali bersama banyak kawanannya untuk menghalau gempuran RDA.

Generasi Berikut dan Alamnya

Dan, tidak hanya kehadiran mahluk eksotis dan alamnya saja yang sanggup membantu kampanye ini. Ada satu senjata terkuat, yang tidak berdasarkan kemampuan militer, namun paling signifikan dalam sejarah peperangan militer, di dunia manapun.

Ya, nama senjata tersebut adalah generasi berikutnya. Walau tidak diterapkan harfiah dalam peperangan, namun layaknya Rite of Passage (Ritual Peralihan Lintas Generasi). Anak yang paham mengenai kekisruhan di generasi sebelumnya, dapat melanjutkan usaha tersebut kedepannya, dengan kemampuan dan caranya masing-masing.

Tidak perlu disebutkan siapa saja anggota keluarga dari Jake dan Neytiri, namun seluruh generasi berikutnya, berperan penting bagi kelangsungan hidup di bulan Pandora yang masih penuh konflik.

Oh ya, satu lagi referensi menarik dari trilogi Avatar ini, yang mengemukakan lokasi eksotis nan indah dengan kegalauan para mahluk di dalamnya. Jika disejajarkan, maka lokasi eksotis nan indah ala kepulauan Nusantara, hingga Madagaskar di Afrika, kepulauan Hawaii di Pasifik, serta Lautan Karibia, yang cocok sebagai acuan ngerinya kekuatan alam, namun sebanding dengan keindahannya.

Walau begitu, banyak bencana alam akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim, yang masih sesuai dengan siklusnya, mulai merambah dan semakin berubah, di banyak lokasi planet Bumi, baru-baru ini.

Okeh, selamat menikmati film Avatar: Fire and Ash di ranah keberagaman hayati ala sinema Indonesia.

12 November 2025

Berlari Sebrutal Mungkin Dalam Kompetisi Film The Running Man

 

Ben Richards yang sumringah (mungkin) cuan (IMDB).

Mungkin daripada berjalan saja demi protes, sudah saatnya kita berlari saja untuk mencari uang alias duit. Cerita seperti ini diangkat oleh film The Running Man, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia.

Tentu, sebelum membahas filmnya, ternyata film ini adalah hasil adaptasi novel sang novelis terkenal (khususnya horor atau kengerian lainnya), yaitu Stephen King, dengan judul yang sama dan dirilis tahun 1982 lalu.

Bulan September lalu, karya Stephen King yang berjudul The Long Walk diadaptasi ke layar lebar (dan mungkin memicu ramainya unjuk rasa selama September kemarin). Kali ini di The Running Man, justru mengisahkan tentang tokoh utamanya yang harus berlari terus dalam suatu kompetisi.

Tokoh utama dalam novel The Running Man memang seorang yang depresi karena berbagai hal, namun masih semangat untuk mencari jalan keluar, khususnya untuk mengejar cuan. Dunia dalam novel inipun sudah mencapai tahap dystopia, yaitu kacaunya dunia canggih serba brutal tanpa aturan norma.

Novel ini pun sebenarnya sempat diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1987 lalu, dengan judul yang sama, namun tokoh utamanya diperankan oleh Arnold Schwarzenegger. 

Berbeda dengan film reka ulangnya di tahun 2025 ini, dalam film 1987, tokoh utamanya justru berlatar seorang narapidana dan mantan polisi, yang dapat bebas dari hukuman dengan mengikuti sebuah kompetisi brutal, bernama The Running Man.

Ya, di dunia novel ini, banyak narapidana dapat mengikuti kompetisi The Running Man, yang ditayangkan di televisi secara nasional, agar dapat terbebas dari hukumannya. 

Namun, resikonya adalah mati, karena setelah kompetisi dimulai, sekelompok pemburu akan mengejar dan menangkap kontestan, dengan cara apapun juga, bahkan saat masih hidup atau telah mati. Memang penggambaran yang cocok di dunia dystopia.

Naaah, di film 2025 ini, latar tokoh utama dan dunianya pun berbeda, namun dicek saja di sinopsisnya saja ya...

Sinopsis The Running Man

Ben Richards (Glen Powell) adalah seorang pengangguran yang keras kepala, walau telah didaftar hitamkan (blacklist) oleh banyak perusahaan. Perangainya yang meledak-ledak dan keras, membuat dirinya sulit mencari pekerjaan. Padahal, umurnya masih cukup muda, yaitu 35 tahun. Sayangnya, dia adalah seorang ayah tanpa istri (alias pisah ranjang), dan memiliki anak yang sakit-sakitan.

Ben yang sudah mentok membantu anaknya, akhirnya terpaksa memanggil seorang konsulat dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), bernama Sheila (Jayme Lawson). Ben akhirnya menitipkan anaknya pada Sheila, lalu mengikuti sebuah acara brutal berjudul The Running Man.

Saat baru mendaftar, sang produser acara Dan Killian (Josh Brolin), langsung kagum dengan latar dan karakter yang dimiliki oleh Ben. Keduanya bahkan taruhan, bahwa siapa yang menang, dapat mengacak-acak acara The Running Man.

Hanya berbekal pengetahuan wilayah dan nekat, Ben lalu melarikan diri dengan banyak kontestan lainnya selama 30 hari kedepan. Berbagai aksi dia jalani, bahkan sampai menantang para pemburunya, yang terlihat kesulitan mengejar Ben, padahal sudah setengah mati menjalani hidup.

Sanggupkah Ben selamat dalam acara ini demi mengejar cuan yang sudah menjadi haknya? Atau malah bergabung dengan tim pemberontak yang tiba-tiba membantu Ben?

Jawabannya, tentu ada di sinema Indonesia saat ini.

05 November 2025

Pemburu yang Terpaksa Diburu Balik Mangsanya di Predator: Badlands

 

Thia dan Dek yang saling menjaga bagian belakang (IMDB).

Setelah ramainya film alien Predator tanpa judul Predator di film Prey (2022) lalu, akhirnya di November 2025 ini, dirilis Predator: Badlands di sinema-sinema Indonesia.

Memang, film Prey lalu mengisahkan cerita berbeda dari waralaba Predator, yaitu berlatar jaman kolonialisme Eropa di Amerika sana. Tokoh utamanya pun berasal dari suku Indian, yang telah terlatih sebagai seorang pemburu.

Kini, mungkin melanjutkan animo film sebelumnya, Predator: Badlands mengisahkan seorang Yautja (nama spesies klan predator) muda, yang perlu membuktikan keahlian dirinya dalam berburu.

Tentu dengan masih bumbu predator, kali ini melanjutkan arena pemburuan di ekosistem yang sulit. Premise ini memang sudah dimulai sejak film pertamanya, yaitu Predator (1987) yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger. 

Kisah perburuan ini terus dilanjutkan hingga banyak film setelahnya, yaitu di film Predator 2 (1990), Predators (2010), The Predator (2018), hingga Prey (2022) yang tadi disebutkan.

Predator pun sempat dibuat karya film cross-over-nya, yaitu kombinasi dengan waralaba film Alien, di film Alien vs. Predator (2004), dan Aliens vs. Predator: Requiem (2007). 

Nah, kali ini berbeda dengan seluruh film predator sebelumnya, Predator: Badlands justru tidak mengisahkan yautja yang meneror manusia atau mahluk lainnya. Justru, yautja disini mirip dengan film Alien vs. Predator, dimana perlu bekerja sama dengan mahluk lain, demi menangkap buruannya.

Bahkan, tokoh utamanya adalah seorang yautja muda yang terusir dari klannya, yaitu status terrendah dari spesiesnya yang senang berburu berbagai mahluk mengerikan seantero galaksi.

Sinopsis Film Predator: Badlands

Dek (Dimitrius Schuster-Koloamatangi) adalah seorang yautja muda yang diusir dari klannya. Namun, Dek masih merasa sanggup mengembalikan kehormatannya sebagai seorang predator. Dengan bekal dan peralatan seadanya, dirinya lalu berangkat ke sebuah planet berbahaya, demi memburu satu spesies yang sulit dikalahkan oleh para predator.

Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Thia (Elle Fanning), yaitu seorang robot synth yang pesawatnya jatuh di planet tersebut. Thia tidak memiliki bagian tubuh bawahnya, akibat rusak parah setelah kecelakaan.

Keduanya pun lalu setuju, bahwa kemampuan navigasi Thia sanggup membantu misi solo karir Dek. Thia pun selalu mencemooh Dek, yang menyatakan bahwa planet ini justru sangat berbahaya, dan Dek adalah mangsa sesungguhnya.

Sayang seribu sayang, ternyata tidak hanya mereka dan mahluk buas lainnya yang berada di planet tersebut. Sekelompok manusia yang melacak lokasi jatuhnya pesawat, mencoba membuat pangkalan militer di sekitarnya.

Dek dan Thia pun perlu berjuang lebih sulit lagi, karena selain melarikan diri dari mahluk buas, kejaran manusia yang jumlahnya lebih banyak dengan teknologi lebih lengkap pun menyulitkan misi keduanya.

Sanggupkah Dek mengembalikan kembali kehormatannya? Dan sebenarnya Thia memiliki maksud apa dibalik bantuannya? Atau malah tetap manusia yang mengambil untung dari seluruh 'drama'? Dan bahkan seluruh mahluk buas jengah dan membasmi seluruh pihak penyusup di planet tersebut?

Jawabannya, dapat disaksikan di sinema Indonesia.

09 Oktober 2025

Kembali Isekai di Dunia Digital Bernama Tron Ares

 

Ares yang tengah terbang tanpa arah antara dunia nyata dan maya (IMDB).

Satu film agak beda dari Hollywood sana, mengisahkan sebuah dunia digital agak isekai kembali dirilis di awal Oktober, yaitu berjudul Tron: AresFilm yang sedang tayang di sinema Indonesia ini adalah seri ketiga dari Tron, yang rilis pertamanya tahun 1982 lalu, dan sekuelnya berjudul Tron: Legacy pada tahun 2010.

Sungguh lama memang, karena Tron inspirasinya dimulai sejak 80an, yang jaraknya sekitar 20 tahun dari film dunia digital terkenal, yaitu trilogi The Matrix (1999, 2003, 2003). Waralaba The Matrix pun sempat dilanjutkan pada tahun 2021 lalu dengan sub judul Resurrections.

Nah, di dua film sebelumnya, kisah filmnya lebih mengisahkan dunia digital yang tumbuh sendiri, dan sangat terpisah dengan dunia nyata. Tokoh utamanya bahkan harus 'login' terlebih dahulu pada sebuah mesin aneh, dan menggunakan 'avatar' khusus dalam dunia Tron tersebut.

Sayangnya, kehadiran manusia tidak cukup lumrah di dalam Tron, sehingga tokoh utamanya harus berjibaku agar bisa selamat, walau kebanyakan sesi di dalam Tron adalah kompetisi 'gim' melawan penghuni aslinya. 

Terlihat dari cuplikan berbagai film Tron, visualnya memang ciamik, dan tidak hanya mengandalkan efek canggih saja. Visualnya dibuat abstrak, dengan warna-warni neon cyberpunk cerah diantara gelapnya dunia distopia Tron, sehingga terlihat kontras nan canggih.

Kembali ke Tron: Ares, kali ini filmnya justru tidak lagi mengisahkan manusia yang masuk ke dunia Tron. Terbalik, seorang avatar dari dunia Tron malah berhasil masuk ke dunia nyata, walau dipekerjakan sebagai pasukan keamanan.

Tokoh utamanya, Ares diperankan oleh seorang aktor ternama Jared Leto. Walau banyak fans tidak suka perannya sebagai Joker di Suicide Squad (2016), namun Leto dianggap sebagai aktor serba bisa dan sering memerankan karakter yang sulit di berbagai film, sejak dirinya mengisi film American Psycho (2000).

Sinopsis Film Tron: Ares

Ares (Jared Leto) adalah seorang pasukan di dunia Tron, yang memiliki kehidupan kedua. Dirinya sering 'dipanggil' ke dunia nyata, sebagai pasukan keamanan. 

Sayangnya, Ares tidak begitu dihargai, karena dianggap bukan manusia biasa. Dirinya dianggap 'Habis Manis Sepah Dibuang' alias setiap kali mati, dia langsung kembali ke dunia Tron. Ares memang termasuk mahluk abadi jika berada di dunia nyata, karena tiap kali dia mati, kesadaran dan tubuhnya tetap utuh di dunia Tron.

Namun, seluruh karakter di Tron memang dari sananya sudah sentien, alias sadar ala manusia biasa. Ares pun tidak ingin disamakan seperti barang sampah, sehingga dirinya memberontak dan mencari cara agar bisa 'hidup' sesuai takdirnya.

Dapatkah Ares berhasil mencapai tujuannya? Atau malah terjebak di dunia nyata dan dunia Tron yang tidak mengakui dirinya lagi?

Jawabannya dapat dicek di sinema Indonesia.

03 Oktober 2025

Keajaiban Alam Melawan Teknologi di Film Avatar The Way of Water

Anggota ras Na'vi yang sumringah bisa berenang bersama ikan kecil (IMDB).

Menyambut cuplikan terbaru film Avatar: Fire and Ash yang dirilis minggu kemarin,  film Avatar: The Way of Water (2022) dirilis ulang selama seminggu kedepan. Bagi yang belum sempat menontonnya, bisa berangkat ke sinema Indonesia atau setelahnya di layanan streaming Disney+.

Memang, Avatar (2009) adalah film animasi paling bersejarah di dunia, dengan pendapatan mencapai 2,9 Milyar AS, tertinggi dari seluruh sinema dunia. Selain itu, seri Avatar sering meraih nominasi Oscar dan memenangkan beberapa piala.

Gambarnya yang ciamik dengan efek visual yang mantap, sekaligus gerak animasi yang alami, karena hasil tangkapan gerak langsung dari aktor dan aktrisnya, menyebabkan banyak penggemar yang kagum atas karya James Cameron ini.

Tidak hanya dari segi visual, isi ceritanya pun cukup kuat, yaitu saat alam melawan balik invasi teknologi. Bulan Pandora sebagai latar filmnya, adalah lokasi rumah ras Na'vi, yang sangat indah nan mencengangkan kekayaan alamnya. Sehingga manusia yang ingin meraup sumber dayanya, harus melawan dengan kuat pula.

Bukan hanya konflik saja, namun selama durasi film, Avatar lebih mengisahkan kekayaan alam bulan Pandora. Berbagai siklus alam yang nampak 'alien' sungguh memberikan kesan hebat, bahwa alam haruslah dijaga sepenuhnya tanpa terjamah manusia yang kerap menganggu.

Memang, di bulan Pandora, ras Na'vi dan berbagai binatang serta tumbuhannya, menyatu dalam satu siklus ekosistem yang sama. Secara harfiah, seluruh mahluk di bulan Pandora terhubung satu sama lain, hingga tercipta budaya alami yang berbeda dengan bumi. 

Tokoh utamanya pun bukan hanya dari kubu Na'vi saja, melainkan sinkronisasi antara manusia dan ras berkulit biru ini. Jake (Sam Worthington) adalah seorang veteran perang, yang lumpuh akibat konflik berkepanjangan.

Jake bersama tim peneliti yang dipimpin Kiri (Sigourney Weaver), mencoba masuk ke pemukiman suku pribumi Bulan Pandora. Mereka menyisipkan kesadaran manusia pada tubuh kloning ras Na'vi, yang programnya disebut sebagai Avatar.

Jake dan Kiri yang semakin kagum atas ekosistem dan siklus alam di bulan Pandora, malah berubah pandangan. Mereka tidak ingin alam dan mahluk apapun di dalamnya, terganggu sama sekali oleh manusia. 

Jake yang mengetahui sistem persenjataan manusia pun memimpin taktik untuk melawan balik invasi manusia. Jake melawan manusia dengan menunggangi naga terbang miliknya, bahkan setelah kesadaran dirinya dicabut oleh komandan invasi.

Nah, di film Avatar: Way of Water yang sempat memenangkan Visual Terbaik dari Oscar tahun 2023 lalu, Jake telah tinggal di Bulan Pandora selama lebih dari satu dekade, bersama keluarganya dari ras Na'vi. 

Berbagai petualangan serta lokasi hunian keluarganya telah Jake lalui, yang semakin kagum dengan kekayaan alam dan budaya di bulan Pandora. 

Bersama istrinya bernama Neytiri (Zoe Saldana), Jake kini tengah hidup bersama suku Na'vi yang tinggal di pesisir pantai. Suku ini memiliki budaya berbeda dengan suku asli Neytiri, yang tinggal di atas pohon tertinggi dan terbang bersama naga. 

Sayangnya, setelah mendengar kabar dari Kiri, manusia akan kembali menyusup di bulan Pandora. Jake pun harus berjibaku melawan manusia lagi, sementara kisahnya berlanjut di film Avatar: Fire and Ash, yang akan tayang bulan Desember mendatang. 

Seri film Avatar ini memang pengingat, bahwa manusia tidak bisa hidup dengan melawan alamnya sendiri. Bahkan semakin dijarah, alam akan melawan balik dengan bencananya. Sementara itu, alam akan pulih dengan sendirinya, walau membutuhkan waktu yang lama.

Di lain sisi, bencana yang menerjang manusia serta mahluk lain, bahkan hingga punah, hanyalah siklus kecil dari milyaran tahun sejarah sebuah planet.

16 September 2025

Harta Karun yang Hilang Setelah Hancurnya Dunia di Film Afterburn

 

Bautista yang heran kenapa terus berperan sebagai maling (IMDB).

Akhirnya, setelah bertahun-tahun berkecimpung sebagai aktor yang dikenal serba bisa, aktor lulusan WWE Dave Bautista memerankan kembali tokoh utama di film Afterburn.

Afterburn yang dirilis September ini di sinema Indonesia, melanjutkan animo aktor Bautista sebagai tokoh utama dalam film relokasi barang, mirip film Army of The Dead tahun 2021 lalu.

Bautista memang dikenal sebagai peran pendukung, walau mengisi banyak film terkenal bersama aktor hebat lainnya, diantaranya The Naked Gun (2025), Dune (2021, 2024), Guardian of the Galaxy (2014, 2017, 2023), Knock at the Cabin (2023), Blade Runner 2049 (2017) dan Riddick (2013).

Walau berstatuskan aktor lulusan ajang gulat WWE bersama John Cena dan Dwayne Johnson (The Rock), namun Bautista dikenal lebih berani memerankan karakter yang emosional dan ekspresif. Sehingga, Bautista dikenal sebagai aktor berbakat di ranah Hollywood.

Film Afterburn kali ini pun mirip dengan Army of The Dead, yang mengisahkan relokasi brankas di Las Vegas yang telah hancur dan dijadikan zona terbatas korban zombie.

Sementara di film Afterburn, seluruh dunia telah hancur akibat suar matahari (solar flare) yang merusak seluruh alat elektronik di bumi. Bencana ini menyebabkan peradaban manusia hancur seketika dan mundur beberapa dekade lamanya.

Bautista sekarang dikenal telah menurunkan berat tubuhnya hingga puluhan kilogram. Menurutnya, tubuh miliknya sudah tidak sanggup menjaga fisik diumurnya yang telah mencapai 50an. Karena kelebihan aktingnya pula, Bautista lebih siap berperan dengan lebih banyak pilihan karakter.

Dari cuplikan Afterburn, terlihat bagaimana sosok Bautista yang masih setinggi 190an cm, namun berat tubuhnya hanya 100an kilogram saja. Terlihat lebih kecil memang, walau sosoknya yang tinggi tetap cocok sebagai pemain film aksi. 

Samuel L. Jackson sebagai aktor kawakan pun mengisi film ini, walau hanya berperan sebagai karakter pendukung saja. Karakter wanitanya diperankan oleh Olga Kurylenko, yang terkenal sejak memerankan gadis Bond di film Quantum of Solace (2008).

Sinopsis Film Afterburn

Dunia telah hancur sepuluh tahun lalu, saat suar matahari mencapai bumi dan menghancurkan banyak siklus teknologi. Di dunia yang mundur kemajuan peradabannya beberapa dekade, manusia harus berjuang dari sisa yang ada.

Namun, beberapa orang memiliki pandangan berbeda. Seorang kolektor ternama yang masih kaya raya, King August (Samuel L. Jackson) memiliki visi dan misi dalam mengumpulkan seluruh karya seni klasik terkenal.

Saking terobsesinya, King August meminta kepada Jake (Dave Bautista) untuk 'mengembalikan' karya lukisan terkenal Mona Lisa. Jake memang dikenal sebagai agen yang handal dalam melacak hasil karya seni, yang hilang sejak bencana suar matahari merambah bumi.

Namun, misi yang diberikan cukup sulit. Jake harus terbang menuju Eropa, untuk bekerja sama dengan Drea (Olga Kurylenko) dalam misinya. Drea adalah seorang pejuang kemerdekaan, dimana negaranya tengah mengalami kekisruhan militer.

Kisah Jake pun semakin sulit, karena pemimpin militer di negara tersebut ingin merebut pula lukisan Mona Lisa. Jake dan Drea pun harus berjibaku dengan aksi fantastis melawan pasukan militer yang terorganisir nan beringas.