Tampilkan postingan dengan label Kearifan Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kearifan Lokal. Tampilkan semua postingan

18 Februari 2026

Mengenang dan Menyelenggarakan Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional (Kemendikdasmen).

Berikutnya adalah momen menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, yang dirayakan tanggal 21 Februari setiap tahunnya. Hari Bahasa Ibu Internasional dirayakan sejak tahun 1999 lalu, yang diusung oleh UNESCO dari PBB. Tujuannya adalah untuk melindungi dan melestarikan banyak ragam bahasa ibu, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa ibu dalam kehidupan manusia.

Seperti sudah diutarakan sebelumnya pada artikel Hari Kebangkitan Bahasa Sunda di blog ini, penulis yang berlatar Tatar Sunda, cukup dekat kesehariannya dengan bahasa Ibu. Bahkan, penulis hanya bertutur kata bahasa Indonesia saat menulis blog ini, sementara seharian hanya berbincang Sunda.

Merayakan Bahasa Ibu

Dilansir dari UPI, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasi seorang umat manusia sejak lahir. Perannya sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak hingga dewasa, yaitu sebagai pembentukan identitas dan budaya bagi individu, proses belajar anak sejak usia dini, dan pelestarian nilai-nilai lokal.

Sebagai proses belajar anak di usia dini, anak lebih mudah memahami materi belajar dalam bahasa yang dikuasainya. Proses ini sesuai dengan ucapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, yang menyatakan melalui situs Kemendikdasmen, "Kajian akademik menunjukkan bahwa anak yang memulai pembelajaran dengan bahasa ibu, memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep akademik dengan kemampuan literasi yang lebih optimal."

Sementara dari segi pelestarian nilai lokal, dimulai saat anak mendengarkan cerita rakyat, tradisi, dan kearifan lokal dari budaya dan bahasa persukuannya. Seperti dilansir dari STPS Sahid Surakarta, bahasa ibu bukan hanya sarana komunikasi, melainkan mencerminkan budaya dan cara berpikir masyarakat. 

Setiap bahasa membawa warisan pengetahuan, tradisi, dan nilai yang sangat berharga. Dengan terus melestarikan penggunaan bahasa ibu, warga sebagai pelakon utamanya, tidak hanya menjaga kelangsungan bahasa itu sendiri. Tetapi, menghidupkan kembali warisan budaya sebagai satu identitas bagi komunitas berbahasa daerah.

Foto Naskah Carita Waruga Guru (Wikimedia).

Ngamumule Basa Sunda

Menurut sejarahnya, bangsa Austronesia bermigrasi dari Taiwan, lalu Filipina, dan akhirnya tiba di Pulau Jawa pada tahun 1000 hingga 1500 tahun Sebelum Masehi, seperti dilansir dari FISIP UI.

Mengenai namanya itu sendiri, asal nama Sunda masih abstrak. Secara etimologis, merujuk pada kata Cuddha dari Sansekerta, yang berarti cahaya, putih, bersih, murni, atau bersinar. Adapula yang mengartikan bahwa Sunda adalah perpaduan morfologi antara Sun (satu) dan Da (dua). 

Dari basa Sunda sendiri, Saunda berarti lumbung atau makmur, atau Sonda yang berarti bagus, bahagia, dan unggul. Kata Sunda merujuk pula pada ibukota Sundapura, sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara, yang berjaya saat abad empat hingga tujuh Masehi lalu, seperti dilansir dari Portal Brebes.

Pelestarian resmi basa Sunda, sudah dicanangkan sejak tahun 2013 lalu di Jawa Barat. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) No. 69 tahun 2013, Bahasa dan Sastra Sunda dicanangkan sebagai muatan lokal wajib bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah, bagi seluruh sekolah di Jawa Barat. 

Pendidikan bahasa Sunda sangat penting dilaksanakan untuk di sekolah, karena bertujuan untuk membedakan tingkatan bahasa Sunda. Tergantung kepada siapa yang diajak berbicara, maka bahasa Sunda harus menggunakan tutur kata Lemes (halus), Loma (akrab), atau kasar.

Menurut Ahmad Ghibson Al-Busthomi sebagai Pakar Hikmah Kasundaan, yang dilansir dari situs UIN Sunan Gunung Djatingamumule (melestarikan) basa Sunda berarti harus dilaksanakan oleh semua warga Sunda. Jangan sampai ada kesan budaya Sunda hanya milik budayawan dan sastrawan saja. Pesantren dianggap pula tidak menjaga kelestarian Sunda, dengan mengajarkan bahasa dan menulis aksara Jawi atau Pegon.

Namun menurut Ghibson, ada empat cara untuk tetap ngamumule Sunda sebagai warga biasa. Pertama, yaitu menghormati, memuliakan, serta mengagungkan kesenian seperti pentas, berbicara basa, memakai baju adat, dan menjaga sikap etika Sunda. Kedua yaitu terus menyerap dan menerima makna baru ke dalam basa Sunda. Ketiga adalah membangun kreasi baru di bidang perkakas dan teknologi. Keempat adalah meningkatkan kebudayaan karuhun (leluhur) Sunda, dengan mengembangkan bahasa sehari-hari, sastra, hingga seni.

Ghibson menambahkan bahwa tahap pengembangan budaya Sunda harus dengan dua cara. Satu yaitu dengan meningkatkan lokalitas wilayah dan sejarahnya. Kedua, dengan terus mewariskan budaya Sunda secara berkelanjutan.

Janten, sakanteunan ngahaturkeun filosofi hirup ti Kang Prabu Siliwangi, nyaeta Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh ka sadayana.

Sanes teu sono, tapi bade permios. Wassalam.

Sedikit Carita Buhun Sunda

Oh ya, ada satu lagi penggambaran mitologi Sunda, yang seperti biasa, kurang dapat dicek keabsahannya. Warga pulau Jawa saat awal penjelajahannya, memang berpusat di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sementara wilayah Jawa Barat belum terjamah sama sekali.

Namun, ekspedisi untuk membuka lahan dengan membabat hutan di Jawa Barat saat jaman tersebut, ternyata cukup menghasilkan. Walau begitu, warga perlu melalui naik-turunnya pegunungan, dalamnya lembah, curamnya jurang, serta banyak hewan berbahaya seperti harimau, buaya dan ular berbisa.

Karena itu, sejak keberhasilan warga pulau Jawa untuk mendiami Jawa Barat, dan bahkan hingga membangun kerajaan sendiri selama berabad-abad lamanya, memberi simbol khusus pada warga Sunda. Maung alias Harimau yang kuat dan sanggup menguasai hutan belantara, adalah simbol tersebut.

Tapi ya, jangan sampai langsung pamacan dan berkoar "Aing Maung!"

Aing Maung! (YouTube).

14 Januari 2026

Berbincang Sunda Sebagai Budaya Bahasa Lokal di Jawa Barat

 

Aksara Sunda di Jalan Merdeka Bandung (Kagum Insight).

Punten, saatnya membahas Hari Kebangkitan Bahasa Sunda, yang dirayakan setiap 17 Januari, sejak tahun 2022 lalu. Tanggal penting ini digagas oleh Dedi Mulyadi, yang kini menjabat sebagai gubernur Provinsi Jawa Barat. 

Sedikit Sejarah Hari Kebangkitan Bahasa Sunda

Awal dicanangkannya Hari Kebangkitan Bahasa Sunda memang sempat kisruh, akibat politisi yang (seperti biasanya) sedang gimmick dari pusat sana. Sementara Dedi Mulyadi yang tidak menjabat posisi administrasi manapun, dan tengah aktif di salah satu partai besar, cukup berang menanggapinya. 

Dedi Mulyadi lalu meminta kepada pemerintah pusat, untuk mengesahkan tanggal 17 Januari sebagai Hari Kebangkitan Bahasa Sunda. Karena rekam jejak dan kontribusi Dedi Mulyadi sebagai pejabat di daerah Sunda alias Jawa Barat, maka wacana tanggal penting ini disahkan oleh pemerintah. 

Seperti dilansir dari Media Indonesia, maka untuk merayakan tanggal penting ini, dapat dijabarkan dengan satu kalimat berbahasa Sunda berikut. 

'Rahayu selawasna Hari Kebangkitan Bahasa Sunda! Tetep budaya, tetep basa, supados tiasa nyandakkeun ka samudaya.' 

Paribasa Sunda Lelea dari Indramayu (Wikimedia)

Keseharian Berbahasa Sunda 

Menurut penelitian ringkas tahun 2021 yang dilaksanakan oleh Dr. H. Wawan ‘Hawe’ Setiawan, M.Sn, selaku ketua Ketua Lembaga Budaya Sunda dari Universitas Pasundan, penggunaan bahasa sunda sehari-hari sangatlah kental diantara anak muda.

Wawan menyatakan, bahwa lembaga pendidikan (sekolah dan universitas) telah baik mengajarkan bahasa Sunda yang terstandarisasi (sebagai muatan lokal atau jurusan kuliah). Ternyata, saat kajian dilaksanakan di lingkungan non-formal, maka komunikasi bahasa Sunda yang 'kekinian' dapat dan harus diapresiasi, karena lebih fleksibel.

Menurut Wawan, bahasa Sunda digunakan oleh milenial, sebagai label untuk berbagai karya produk, contohnya pada desain kaus, makanan, hingga produk tembakau. Generasi milenial saat ini tidak meninggalkan bahasa Sunda, melainkan dipandang sebagai elemen lokal dan 'pembeda' yang dominan. 

Maksud Wawan, justru bagi milenial yang mengambil langkah inovatif tersebut, adalah cara mereka untuk mengoreksi hal yang sudah dominan dengan ragam mereka sendiri. Maka, kearifan lokal masih bernaung dalam jiwa para generasi milenial.

Bahkan, menurut Wawan, ragam bahasa Sunda seperti ini dari generasi muda, tidak perlu dibuat strukturnya. Nantinya, tidak akan ekspresif lagi. Ranah antara ekspresif dan strukturisasi, harus dijaga perbedaannya, karena mengacu pada sistem yang sebetulnya masih perlu dikoreksi. 

Sementara dari penulis sendiri, jujur saja lebih sering berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Bahkan, saking dominannya, justru hanya bertutur-kata bahasa Indonesia, saat menulis di Blog ini saja (P). 

Karena itu, kadang berbagai kata Sunda yang 'terasa enak,' sering dilampirkan dalam banyak artikel di blog ini, biar terasa lebih komunikatif. Atau, penulis merasa kurang cocok dengan kata yang berbahasa Indonesia, sehingga memilih kata dari Sunda saja (P).

Ya, kadang kerasa pabeulit letah sih (alias tongue twister), tapi mumpung ngeunaheun.

Paguyuban Pasundan

Sebenarnya, urusan kebangkitan bahasa daerah, khususnya suku Sunda di Jawa Barat, sempat terjadi dalam sejarah. Fakta ini dilansir dari Edi S Ekadjati, dalam bukunya yang berjudul Kebangkitan Kembali Orang Sunda, yang dilampirkan dalam situs Bandung Bergerak

Edi S Ekadjati menyatakan bahwa awal abad 20 di Indonesia, alias Hindia-Belanda saat jaman tersebut, sedang tumbuh kesadaran dalam masyarakat pribumi, khususnya dari kaum terpelajar. Jaman tersebut, sangat dibutuhkan organisasi yang menghimpun kekuatan dan kebersamaan sesama warga.

Sehingga, terbentuklah banyak organisasi kaum pribumi yang bercorak etnis, agama, dan dagang. Contoh yang berdasarkan etnis, diantaranya adalah Budi Utomo, Rukun Minahasa, Paguyuban Pasundan, Kaum Betawi, serta Ambonsh Studiefonds. 

Sementara untuk segi ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam, dan dari segi agama diantaranya adalah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Perserikatan Kaum Kristen, dan sebagainya.

Paguyuban Pasundan didirikan dan dipimpin oleh DK Ardiwinata pada tahun 1913 lalu, demi membedakan suku Sunda, dengan organisasi pemuda di banyak wilayah lainnya.

Sedikit kisruh pandangan terjadi, akibat banyaknya warga terpelajar Sunda yang sebelumnya bergabung dengan Budi Utomo (1908), memilih bergabung dengan Paguyuban Pasundan saat tahun 1913. Masuknya warga terpelajar dari Sunda ini, dianggap sebagai perpisahan dari Budi Utomo.

Padahal, Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan memiliki konsep yang sama, yaitu konsep etnis, bahasa, kebudayaan, dan wilayah yang berbeda. Sementara itu pembeda utamanya, adalah dominannya penggunaan bahasa dan budaya Jawa di Budi Utomo, yang menyebabkan warga Sunda perlu berhenti mengikutinya.

Dari segi kebudayaan, ideologi Sunda sudah terbentuk sejak awal abad 8 hingga akhir abad 16. Budaya Sunda ini berwujud aksara, bahasa, etika, adat istiadat alias hukum, lembaga masyarakat, serta kepercayaan.

Namun akibat datangnya kebudayaan Islam dari pesisir utara, lalu berlanjut dengan tibanya kebudayaan Jawa dari kerajaan Mataram, mengakibatkan banyak warisan budaya Kerajaan Sunda tergerus oleh dominasi asing.

Bahkan, Belanda sempat mengalihkan minat pemuda terpelajar Sunda pada awal abad 20, dengan menganjurkan bahasa, bacaan, dan budaya Jawa. Memang, saat tersebut banyak warga Sunda, yang menganggap bahwa status terpelajar dan beradab, adalah dengan sanggup memahami budaya Jawa.

Puncaknya, berdirinya Paguyuban Pasundan adalah tonggak sejarah kebangkitan kembali, eksistensi dan peranan Sunda, di tengah lingkungan masyarakatnya sendiri, dan secara luas di Hindia-Belanda (dengan multi-etnis dan budayanya).

R Otto Iskandar di Nata yang merupakan seorang warga Sunda, mulai memimpin Paguyuban Pasundan sejak tahun 1929 hingga 1942. Memang, sebelumnya Otto sempat menjadi anggota dan pengurus cabang Budi Utomo di Banjarnegara, Bandung, dan Pekalongan. 

Selama memimpin Paguyuban Pasundan, Otto sempat menjalin banyak kerjasama dengan Budi Utomo, demi menghadapi musuh bersama, yaitu penguasa kolonial Hindia-Belanda.

26 November 2025

Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21

Ilustrasi tradisi budaya Indonesia (Freepik).

Saat bidang keilmuan dongeng dikembangkan, inovasi terpenting adalah analisa materi yang komparatif. Dilansir dari Britannica, standar identifikasi dongeng diciptakan, yang merujuk pada balada (oleh F.J. Child), dan untuk plot serta komponen motif pada dongeng dan mitos (oleh Antti Aarne dan Stith Thomspon). 

Komponen motif layaknya Pamali di budaya Pulau Jawa, yang secara tradisional mengemukakan apa yang bisa dilaksanakan atau tidak. Kadang, Pamali mengacu pada banyak hal berbau mistis atau takhayul (yang sering muncul dalam berbagai dongeng), karena sesuai dengan pewarisan ceritanya yang empiris, dan belum didukung oleh kajian yang tepat.

Dengan standar tersebut, ahli dongeng dari Finlandia yang dipimpin oleh Kaarle Krohn, mengembangkan metode penelitian sejarah-geografis. Teknik ini mengenali banyak varian dongeng, balada, teka-teki, atau sejenis prosa yang diklasifikasikan dari tempat dan waktu koleksi, agar kajian pola distribusi dapat dilaksanakan dan membentuk pola orisinalnya. 

Standar tersebut layaknya kajian dongeng di Indonesia, yang sejak merdeka dapat  mengkategorikan asal dongeng sesuai dengan wilayahnya secara administratif, tanpa perlu bantuan ahli dongeng dari Eropa (khususnya Belanda). Biasanya, mengacu pada suku di wilayah tertentu, yang akhirnya terdaftar sebagai provinsi atau kota di Indonesia.

Metode penelitian sejarah-geografis memang mengacu pada statistik, dan tidak berdasar spekulatif, jika dibandingkan dengan ahli dongeng antropologi, yang mendominasi setengah awal abad 20 lalu.

Setelah Perang Dunia II berakhir, tren baru akhirnya muncul, khususnya di AS. Minat pada dongeng tidak hanya terbatas pada komunitas rural alias pelosok, namun dikenali di banyak kota, dengan komunitas tertentu berkarakteristik seni, budaya, dan nilai yang mengacu pada identitas mereka.

Namun, ahli Marxisme terus mengacu pada dongeng sebagai bagian dari kelas pekerja. Sementara di komunitas lainnya, batasan kelas telah hilang konsepnya, dan bahkan pada berbagai tingkatan pendidikan. 

Setiap kelompok yang mengekspresikan kepaduan dirinya dengan menjaga tradisi yang sama, diklasifikasikan sebagai bagian dari 'warga,' walau berbeda faktor pekerjaan, bahasa, tempat tinggal, umur, agama, dan etnis aslinya. 

Dari segi ini, layaknya banyak fakultas bahasa yang dipadukan dengan seni pada satu struktur yang sama pada universitas di Indonesia. Komunitas tersebut berkembang sebagai pemerhati, praktisi, dan ahli kebudayaan, khususnya saat pagelaran seni dan bahasa yang mengisahkan dongeng.

Perubahan ini mengacu pada perbedaan antara masa lalu ke sekarang, dengan pencarian dan investigasi mengenai asal, maksud, dan fungsi dongeng untuk jaman sekarang. Sehingga, perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap merusak tatanan budaya.

Dengan sudut pandang kontekstual dan pertunjukan, analisis di akhir abad 20, contohnya pada cerita, lagu, drama, atau budaya, telah merubah fungsi dongeng dari sebuah rekaman budaya, menjadi bagian dari budaya itu sendiri.

Setiap fenomena yang terjadi. dianggap sebagai bagian dari momen yang muncul disebabkan interaksi antara individu dan kelompok sosial, yang memenuhi berbagai fungsi serta memuaskan kebutuhan para artis serta penontonnya.

Dengan pandangan sosiologis dan fungsional ini, sebuah acara dapat dimengerti hanya dalam konteks keseluruhan saja, diantaranya dari biografi dan kepribadian artis, perannya di komunitas, repertoar dan keseniannya, peran penontonnya, momen saat pertunjukan berlangsung, serta kontribusi acara bagi maksud dari dongengnya itu sendiri.

Dengan begitu, setiap komunitas budaya, baik itu berasal dari warga atau sanggar seni khusus, dapat menginterpretasikan khas budaya serta dongeng tradisional dalam sebuah pertunjukan. Komunitas budaya adalah representasi dari banyak nilai budaya, yang normanya layak dipertahankan sebagai identitas komunitas. 

Namun, praktisi seni dapat mengkaji, merekayasa, serta mempraktekan perubahan sosial, sesuai dengan kebutuhan pertunjukan atau keadaan sosial yang sedang berlangsung. Contohnya baru-baru ini, kisah Malin Kundang yang berasal dari tanah Minang, diadaptasi menjadi sebuah film dengan perubahan kondisi latar serta sosialnya. Film berjudul Legenda Kelam Malin Kundang pada bulan November lalu, disebut pula dengan istilah reinterpretasi dongeng.

Lalu muncul kajian dongeng saat pertengahan abad 20, yaitu sebuah konsep legenda urban (urban legend). Yaitu, sebuah cerita mengenai momen tidak biasa, yang banyak warga percaya atau tidak. Legenda urban menjadi media yang semakin lumrah, layaknya berkisah legenda urban melalui media, khususnya di media massa. 

Karenanya, banyak cerita legenda urban berisi hantu yang tiba-tiba muncul di latar sebuah adegan film atau foto, dan berbagai pesan kesetanan yang tersembunyi (contohnya pada banyak lagu yang jika dimainkan terbalik, maka terdengar horor). Kisah seperti ini banyak meruak pada akhir abad 20 lalu, sehingga menambah ramainya jenis dongeng di jaman modern.

Seperti contoh Malin Kundang di tahun 2025 lalu, cerita dongeng seperti Si Pitung (yang memang belum ditemukan keabsahannya), atau Si Kabayan, Sangkuriang, dan banyak kisah dongeng lainnya diadaptasi dengan format sinetron atau film. 

Khususnya pada kisah legenda urban, maka cerita seperti Si Manis Jembatan Ancol, Jembatan Emen, Suster Ngesot, Rumah Kentang, serta banyak cerita horor legenda urban lainnya, sesuai dengan kategori dongeng. Yaitu, masih terikat dengan sejarah dan geografisnya. Sementara reinterpretasinya, muncul saat film atau sinetron diproduksi lalu dirilis, dengan target penonton yang lebih banyak dan luas, layaknya media massa.

Peran Dongeng di Abad 21

Banyak yang khawatir bahwa perubahan abad, dengan tibanya internet, dapat menghancurkan peran dongeng. Namun, justru World Wide Web menjadi teater utama untuk produksi dan transmisi banyak dongeng rakyat.

Perubahan ini tiba dengan perbedaan lainnya, yaitu dari teoritis (seperti Trevor J. Blank pada buku Folklore and the Internet) dan praktisnya (seperti cepatnya adaptasi budaya rakyat untuk menyebar dan berubah di dunia daring).

Komunikasi di Internet yang konstan, dan bisa dua arah, menyebabkan perubahan yang kentara dalam mengisahkan dongeng. Pada awal abad 21, akses Internet lebih mudah daripada akhir abad 20 (yang biasanya berlatar forum dan situs). Sehingga, kisah dongeng atau legenda urban di awal abad 21, semakin meruak dengan ramainya para peseluncur daring.

Internet adalah bank data bagi para pendongeng, untuk mengoleksi banyak cerita dongeng, dan menerapkan metode baru dalam menganalisanya. Pendongeng mengoleksi data melalui wawancara dengan kelompok atau individu, atau dengan meramban dan membaca situs. 

Data digital lalu dikompilasi pada basis data, yang digunakan oleh ahli untuk memformulasikan pertanyaan penelitan, atau melaksanakan pembacaan jarak jauh, sebagai teknik yang digunakan untuk menganalisa pola dari banyak isi teks. Banyaknya data mengenai dongeng, dapat menambah banyak analisa statistik, seperti analisis jejaring sosial, yang dapat diterapkan di lapangan.

Layaknya seorang perpustakaan, Internet adalah lokasi dimana banyak buku, kajian, dan jurnal ditempatkan untuk dibaca oleh banyak warga. Tanpa administrasi tambahan selain biaya dan alat, maka internet adalah ahan bagi siswa, akademisi, dan praktisi kebudayaan. Selain menjadi bahan bacaan, banyak penelitian dapat dilaksanakan melalui internet, dengan mengacu pada sumber yang terpercaya.

Sementara perkembangan Internet serta kebudayaan saat ini, layanan daring adalah lokasi khusus untuk mencari data tersebut. Dengan istilah konten, banyak warganet membaca internet sebagai tahap untuk meraih dongeng, dalam berbagai format pertunjukkan. Berbagai layanan daring untuk membaca konten, seperti berlangganan atau sekali bayar, adalah cara untuk dapat meraihnya. 

Praktisi serta ahli kebudayaan pun mengandalkan internet sebagai bank data miliknya, baik itu sebagai fungsi dari institusi, atau pelayanan kepada warganya. Hubungan bisnis tersebut berjalan dengan alami seiiring perkembangan internet, sebagai bagian dari komunikasi serta warisan budaya, yang khusus diantaranya adalah dongeng serta banyak kisah lainnya.

11 November 2025

Angklung dari Indonesia Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

 

Angklung di Saung Mang Udjo (Wikimedia).

Angklung berasal dari bahasa sunda yang berarti angkleung-angkleungan. Maksudnya adalah gerakan para pemainnya, yang menghasilkan bunyi 'klung,' untuk memainkan instrumen musik Angklung.

Dilansir dari Angklung Center, kata Angklung berarti mengacu pada nada yang dipecah. Jadi, satu Angklung hanya memiliki satu pecahan nada, dan perlu dimainkan lebih dari satu Angklung.

Bentuk Angklung

Bentuk Angklung sendiri adalah dua atau lebih batang bambu, yang disesuaikan dengan tinggi dan rendahnya nada. Setiap nada adalah hasil dari getaran bilah bambu didalam setiap ruasnya, dari yang berukuran kecil untuk nada tinggi, hingga berukuran besar untuk nada rendah.

Desainnya dimiripkan dengan alat musik calung (yang sama berasal dari tatar Sunda). Bahan dasar Angklung adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu ater (awi temen), yang dikeringkan akan berwarna kuning keputihan.

Sejarah Angklung

Belum ada sejarah pasti kapan Angklung mulai digunakan, namun diperkirakan sudah ada sejak jaman Neolitikum, yang berkembang hingga awal penanggalan modern. Jadi, Angklung adalah bagian dari budaya Nusantara sebelum zaman Hindu (menurut Dr. Groneman). 

Catatan sejarah paling kentara adalah masa kerajaan Sunda pada abad 12 hingga 16 lalu. Selama perkembangannya, Angklung menyebar ke seluruh Jawa, Kalimantan, dan bahkan hingga Thailand (menurut Jaap Kunst dalam buku Music in Java).

Bahkan, terdapat satu catatan misi kebudayaan dari Indonesia menuju Thailand pada tahun 1908 lalu. Misi tersebut ditandai dengan seremonial penyerahan Angklung, yang sempat menyebar sebagai seni budaya di Thailand.

Angklung dimainkan pula sebagai penyemangat saat pertempuran kerajaan. Bahkan, gema Angklung merambah hingga jaman penjajahan Belanda, yang dilarang dimainkan secara umum. Justru, larangan tersebut menyebabkan Angklung semakin populer, walau hanya dimainkan oleh anak-anak.

Angklung di Thailand

Menurut Kementerian Sekreatriat Negara Republik Indonesia, Angklung sempat menjadi alat seni untuk diplomasi dengan negara Thailand. Raja Rama V dari Thailand, sempat tertarik pada Angklung saat berkunjung ke Indonesia, lalu membawanya sebagai oleh-oleh dan ditempatkan di Istana Bangkok. Raja Rama V cukup dekat hubungannya dengan Nusantara saat itu, sehingga berkunjung tiga kali, yaitu pada tahun 1870, 1896, dan 1910. 

Tidak hanya Raja, pada tahun 1908 Pangeran Thailand Bhanu-Rangsri-Sawangwong yang merupakan adik Raja Rama V, datang ke Nusantara bersama musisi bernama Jawang Sorn Silapa-Bunleng. Keduanya datang untuk belajar Angklung, yang akhirnya membawa sepuluh buah Angklung untuk dimainkan di Istana Burapa, Bangkok.

Saking terkenal dan menyebarnya, Angklung telah menjadi bahan ajar sekolah di Thailand, melalui para guru musiknya. Phol Kit-Khan adalah satu tokoh terkenal dalam mengajarkan Angklung di Thailand. Saking termotivasi, kebun durian miliknya diganti dengan kebun bambu (sebagai bahan produksi Angklung). Hingga akhirnya dikenal pula sebagai Angkalung, yaitu sejenis Angklung khas dari Thailand.

Foto arak-arakan Angklung (UNESCO).

Tradisi Angklung

Budaya tradisional Sunda pun mengacu pada prinsip pembuatan Angklung. Karena mayoritas warga di tatar Sunda adalah petani dengan komoditas utama padi (pare). Mitos pun muncul dengan nama Nyai Sri Pohaci, sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (Hirup-Hurip).

Masyarakat tradisional Badui yang dianggap sebagai keturunan asli Sunda, masih mempraktikan Angklung sebagai bagian dari ritual menabur padi. 

Angklung Gubrag di Jasinga Bogor bahkan telah berumur lebih dari 400 tahun, yang sama dimainkan saat ritual menabur padi. Angklung disinyalir untuk dapat memikat Dewi Sri Pohaci turun ke bumi, dan memberkati suburnya tanaman padi.

Permainan Angklung lalu dikenalkan saat Pesta Panen atau Seren Taun di tatar Sunda. Angklung dimainkan saat upacara padi, bersama banyak jenis kesenian lainnya dalam satu arak-arakan di alam. 

Berbagai alat yang dibawa saat arak-arakan adalah kesenian Rengkong (Angklung yang dipikul), Dongdang (alat pikul padi), Jampana (wadah makanan), dan banyak lainnya.

Foto Daeng Soetigna yang mengenalkan diatonik pada Angklung (Angklung Centre).

Inovasi Modern Angklung

Pada tahun 1938, Daeng Soetigna mengembangkan Angklung Diatonis dari sebelumnya Pentatonis, yang mengubah bentuk dan nada Angklung, sehingga dapat memainkan banyak variasi jenis musik, bahkan hingga lagu dari Barat.

Daeng Soetigna sangat berjasa dalam mengembangkan Angklung di Indonesia saat jaman modern, sehingga karyanya dikenal sebagai warisan budaya alat musik di dunia Internasional.

Foto Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung (Angklung Centre).

Lalu pada tahun 1966 lalu, Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung, mengembangkan teknik bermain dengan dasar Pelag (sistem urutan nada tiga surupan), Salendro (sistem urutan lima nada), dan Madenda (Laras dengan pemecahan laras Salendro). Udjo Ngalagena lalu mengajarkan banyak komunitas, dengan berbagai bentuk, cara, dan tradisi memainkan Angklung.

Hingga kini, salah satu komunitas yang aktif dalam memainkan Angklung adalah Sanggar Keluarga Besar Bumi Siliwangi (Kabumi) dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat. 

Angklung dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Dilansir dari UNESCO, Angklung diakui sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2010 lalu. Angklung adalah instrumen musik yang terdiri dari empat hingga dua tabung bambu, yang terpasang pada rangka bambu, dan diikat dengan rotan.

Tabung dipahat dan dipotong dengan hati-hati oleh perajin ahlinya, agar dapat membunyikan nada saat rangka bambu digoyang atau ditepuk. Setiap Angklung hanya membunyikan satu nada atau senar, jadi banyak pemain harus berkolaborasi untuk dapat membunyikan melodi.

Angklung tradisional menggunakan skala Pentatonik, namun pada tahun 1938, musisi Daeng Soetigna mengenalkan Angklung dengan skala Diatonik, yang disebut sebagai Angklung Padaeng.

Angklung sangat erat kaitannya dengan budaya tradisional, seni, dan identitas budaya Indonesia, yang dimainkan saat perayaan menabur dan memanen padi, atau sunat. 

Bambu hitam khusus untuk Angklung dipanen saat dua minggu dalam satu tahunnya, saat jangkrik tengah ramai, dengan dipotong setidaknya tiga segmen diatas tanah, agar akarnya tetap tersebar.

Edukasi Angklung disebarkan dengan mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan semakin semarak saat diselenggarakan di institusi pendidikan.

Karena berdasarkan budaya kolaboratif pada musik Angklung, memainkanya mendukung kerjasama dan saling hormat antar pemainnya, dengan disipilin, tanggung jawab, konsentrasi, pengembangan imajinasi dan ingatan, serta rasa artistik dan musik.

Kiprah Angklung Tahun 2025

Menyambut Hari Angklung Tradisional Internasional ke 15, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KABUMI UPI mengadakan acara bermain Angklung dengan 4750 peserta. 

Dilansir dari Berita UPI, para pemain Angklung hadir dari banyak lokasi kota Bandung, mulai dari anak sekolah, anak berkebutuhan khusus, atau lansia, yang tiba di Stadion Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Acara ini dilaksanakan tepat satu bulan lalu, yaitu pada tanggal 23 November 2025. Acara dilaksanakan demi persatuan lintas generasi, demi melestarikan Angklung sebagai warisan dan identitas budaya Indonesia, khususnya di daerah Sunda.

Beberapa kenalan dari penulis, diantaranya sepupu yang masih berumur sekolah, mengikuti acara ini. Walau masih berumur sekolah dasar atau sekolah menengah pertama, tetapi mereka cukup semangat untuk melanjutkan kiprah semangat bersama memainkan warisan budaya Sunda ini.

Semoga, kedepannya Angklung masih menjadi seni warisan budaya yang terus terkemuka di tatar Sunda.

06 November 2025

Wayang dari Indonesia Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

 

Pagelaran Wayang Golek oleh Dalangnya (Wikimedia).

Menyambut Hari Wayang Nasional pada tanggal 7 November, rasanya cocok dirayakan dengan mengingat bahwa wayang adalah warisan budaya tak benda yang kental di Indonesia.

Sebelum mengacu pada artikel yang disematkan oleh UNESCO dari PBB (UN), tampaknya perlu mengecek wayang dari sejarahnya. Bagi yang masih ingat pelajaran SD terdahulu, tentu tahu bahwa Wayang adalah media literasi terdahulu, yang biasa diselenggarakan bersama gamelan.

Seperti dilansir dari NU Online, Wayang itu sendiri berasal dari India, yang kental dengan ajaran Hindu. Namun, pada abad 15, salah seorang Wali Songo bernama Sunan Kalijaga, menggunakan wayang sebagai media penyebaran Islam. Setelah masuk ke Nusantara, kisah wiracarita Mahabharata dan Ramayana, lalu dirubah menjadi lakon yang lekat dengan banyaknya ajaran Islam.

Seperti dilansir dari Britannica, wayang sebenarnya bisa ditemukan hingga seluruh Asia Tenggara dan China. Namun khusus di Jawa, konotasi mistis dan religius sangatlah kental.

Wayang bahkan sempat diadaptasi oleh seniman boneka Richard Teschner, yang pada awal abad 20 lalu, mengombinasikan seni dan kesederhanaan wayang, dengan keahlian teknik Jerman, dan sempat diselenggarakan di teater Figuren Spiegel, Vienna, Austria.

Kembali ke Nusantara, terdapat beberapa jenis variasi wayang, yaitu Wayang Kulit khas Jawa Tengah yang berbentuk pipih dan menggunakan bayangan sebagai media visualnya. Satu lagi, Wayang Golek yang berbentuk boneka kayu dengan tongkat dipegang langsung oleh dalangnya dari Jawa Barat.

Terdapat pula Wayang Wong atau Orang, yang lakonnya diperankan langsung oleh seorang aktor. Sementara Wayang Krucil atau Klithik, adalah wayang sejenis pipih, namun berukuran lebih kecil dari Wayang Kulit.

Dan meloncat pada jaman sekarang, banyak kanal YouTube yang memainkan berbagai cerita wayang, melalui konten video atau bahkan siaran langsung. Contohnya adalah Wayang Kulit, yang dimainkan oleh Dalang Seno Nugroho. 

Berbagai kanal rekaman lama Wayang Golek dari Dalang legendaris Asep Sunandar Sunarya pun, masih meramaikan YouTube. Video tersebut khas dengan kelucuan lakon Cepot, Udawala, dan Gareng, bersama sang ayah, Semar.

Kiprah Wayang Golek Sunda tahun 2025

Acara Wayang Golek sempat digelar kembali pada tahun 2025 ini, tepatnya pada saat Dies Natalis ke 71 UPI, pada hari Kamis, tanggal 7 November lalu, di Stadion Sepak Bola UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), dengan mengundang Ki Dalang Dadan Sunandar Sukarya, dari Putra Giri Harja 3.

Dilansir dari Berita UPI, acara sempat tertunda akibat hujan, jadwal yang sebelumnya dimulai pukul 19.15 WIB, akhirnya diundur menjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Acara dilaksanakan hingga pukul 02.00 dini hari.

Pagelaran diawali dengan tarian pembuka bernama Dangiang Isola, dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD). Tarian ini menggambarkan perjuangan, romantika, kebahagian, dan kesedihan yang meliputi sejarah Gedung Isila, sebagai simbol kejayaan dan kewibawaan UPI.

Wayang Golek serta Tarian Tradisional sebagai bagian dari seni dan kebijaksanaa lokal, perlu dilestarikan sebagai rasa syukur perkembangan adat, budaya, dan peradaban Indonesia, khususnya di tanah Sunda. Pelestarian budaya, kebersamaan, dan dedikasi untuk pendidikan akan terus menggema, di bawah langit Bandung yang membahana.

Artikel UNESCO Mengenai Wayang dari Indonesia

Wayang diterima sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2008 oleh UNESCO, setelah sebelumnya diklaim oleh Indonesia pada tahun 2003 lalu.

Wayang terkenal dengan ragam boneka dan musiknya yang kompleks, dan merupakan format kuno dalam mendongeng yang berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Selama sepuluh abad lamanya, Wayang ramai dimainkan di banyak kerajaan Jawa hingga Bali, dan bahkan hingga area pelosok. 

Wayang pun merambah hingga kepulauan lainnya, seperti Lombok, Madura, Sumatera, hingga Kalimantan. Ragamnya pun disesuaikan dengan seni dan musik lokal, sehingga semakin berkembang dan berbeda.

Wayang dibuat secara tradisional dan bervariasi dalam bentuk, ukuran, dan ragamnya. Dua prinsip dasar tetap menjadi utama bagi Wayang, yaitu boneka kayu tiga dimensi seperti Wayang Golek, atau berbahan kulit pipih Wayang Kulit dan Klithik, dengan media bayangan akibat sorotan cahaya dibelakangnya. 

Kedua jenis Wayang diberi karakter dengan kostum, bentuk wajah, dan bagian tubuh yang dapat digerakkan. Dalang menggerakkan Wayang melalui bagian tangannya dan tongkat yang menempel pada bagian bawahnya.

Sementara Dalang memainkan Wayangnya, sinden dan musisi (gamelan) memainkan instrumen berbahan perunggu, hingga menciptakan melodi sebagai latar pagelaran.

21 Oktober 2025

Ramainya KAGAMA Karawitan Saat Osaka Expo di Jepang

Foto KAGAMA Karawitan saat manggung di Osaka Expo, Jepang (KAGAMA).

Gamelan adalah alat kesenian tradisional dari Indonesia, yang khususnya dari Pulau Jawa. Gamelan kentara dimainkan sebagai seni tradisional Pulau Jawa, dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Pulau Bali. Gamelan adalah khas musik tradisional yang telah menjadi bagian dari jiwa bagi warganya. 

Dilansir dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Gamelan adalah alat musik yang dipukul, dan awalnya disebut dengan nama gembelan. Seiring berubahnya istilah, digembel-gembel artinya adalah dipukul-pukul dari bahasa Jawa. Namanya pun berubah menjadi Gamelan.

Hingga kini, Gamelan sebagai musik perkusif sering dimainkan dalam berbagai acara ritual, keagamaan, pendidikan, media penerangan, hingga kawinan.

Gamelan yang disatukan dalam satu acara biasa disebut sebagai Karawitan, yang diselenggarakan dalam suatu pergelaran seni. Kadang di Jawa Barat, bersama sejenis Longser, berisi cerita lucu mengenai budaya khas Sunda.

Nah, di pertengahan bulan Oktober ini, tepatnya 13 Oktober lalu di Osaka Jepang, diselenggarakan pula Karawitan dari kelompok seni KAGAMA alias Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada. Acara ini dilaksanakan saat Osaka Expo, ditengah panggung paviliun Indonesia, dan telah dimulai sejak 13 April lalu.

Seni memang sebuah bentuk diplomasi budaya di panggung dunia, khususnya di Jepang melalui Osaka Expo tersebut. 

"Karawitan adalah cerminan harmoni dan kedalaman budaya Jawa. Kami bangga bisa mempersembahkan (karawitan) ini di panggung dunia," ujar salah seorang pengrawit KAGAMA di Osaka Expo, seperti dilansir dari situs KAGAMA.

Seperti pada perilisan beritanya, KAGAMA mengisahkan maksud dari KAGAMA Karawitan di Osaka Expo 2025.

"Di tengah arus globalisasi dan teknologi, alunan gamelan dari KAGAMA Karawitan di Osaka Expo 2025 menjadi pengingat bahwa akar budaya adalah fondasi yang tak tergantikan dalam membangun masa depan yang harmonis," ujar KAGAMA melalui perilisan beritanya.

KAGAMA sebagai kelompok seni karawitan gamelan memang telah membumbung dunia, dengan sering mengisi berbagai acara di banyak negara. KAGAMA sempat mengisi pula panggung di New York, AS pada tahun 2024, dan Cekoslovakia pada tahun 2023 lalu.

Sedikit Pendapat dari Otaku

Akulturasi seni budaya tradisional Indonesia dan Jepang memang telah berjalan sejak lama. Geinoh Yamashirogumi adalah kelompok seni dari Jepang, yang dilengkapi oleh warga asli Jepang dengan kemampuan seni gamelannya.

Hingga kini, Geinoh Yamashirogumi masih berkarya sebagai kombo musik tradisional Jepang dan Indonesia, yang mengisi berbagai karnaval dan musik di Jepang.

Geinoh Yamashirogumi sempat membuat sebuah mahakarya berjudul Kaneda, yaitu sebuah lagu kombinasi tradisional antara Gamelan Indonesia dan musik Noh dari Jepang. Kaneda adalah lajur bunyi resmi dari film anime terbesar pada tahun 1988 lalu, yaitu Akira.

Mengacu pada film anime Akira itu sendiri, ceritanya berlatar cyberpunk dystopia, dimana dunia dikendalikan oleh totaliter militer, tanpa keberadaan pemerintah, banyak perusahaan yang saling membasmi satu sama lain, dan seluruh kekayaan budaya adat manusia hilang seketika, yang memicu sifat ekstrem manusianya.

Akira pun dibesar-besarkan beberapa tahun terakhir, dengan berbagai konspirasi mengenai banyak latar ceritanya yang terjadi di dunia nyata. Latar Akira memang mengisahkan jaman tahun 2010an hingga tahun 2020an.

Nah, justru yang terjadi sekarang, adalah perbedaan yang sangat kentara di dunia seni dan nyata. Walau banyak berita yang berujung ekstrem, seluruh dunia justru semakin erat hubungannya melalui berbagai kerjasama di nyata maupun maya.

Kisah dunia dengan latar di film Akira pun tidak terjadi, dan semoga tidak pernah terjadi, karena mengacu pada ekstremisme manusia, yang (mungkin) hanya terjadi di ranah fiksi saja.

Melampir dari banyak karya seni populer (pop art) modern saat ini, yang sering 'menerobos' batas norma dan budaya, memang karya 'gimmick' para punggawa seni, yang sering dipolitisasi oleh berbagai pihak berkepentingan (lain) dibaliknya (!)

30 September 2025

Batik Adalah Sejarah Warisan Budaya Nasional Indonesia

Ilustrasi desain pola Batik dari Indonesia (Freepik).

Seluruh wilayah negara Indonesia terkenal dengan variasi kain Batik. Dilansir dari National Geographic, Batik berasal dari Jawa Tengah, dimana warna krem dan cokelat mendominasi pada lembaran kainnya. Produksi tekstil Batik tradisional menerapkan teknik pewarnaan lilin, saat senimannya mendesain titik pola dengan tangan dan stempel berbahan tembaga atau kayu.

Batik merambah hingga wilayah kesultanan sepanjang pesisir pantai Indonesia, dimana perdagangan internasional menginspirasi warna yang lebih cerah. Contoh corak Batik yang berwarna cerah berasal dari Madura yang khas dengan motif mega mendung dan Kulon Progo dengan motif khas geblek renteng.

Maka, Batik adalah kain simbol negara Indonesia yang terus berkembang, baik itu secara nasional, maupun lokal. "Batik diproduksi dan dikenakan di seluruh wilayah negara Indonesia. Batik adalah simbol identitas kami," ujar Benny Gratha, seorang kurator Museum Tekstil Jakarta.

Kain Batik dapat digunakan sebagai pakaian keseharian (formal, informal, dan adat tradisional), termasuk diantaranya celana, masker, topi, sabuk, sarung bantal dan guling, sprei, kain jarik (gendongan bayi), kain penutup keranda jenazah, hingga sampul gawai elektronik. 

Hari Batik Nasional dirayakan tanggal 2 Oktober di Indonesia, yang sejak tahun 2009, tepat saat diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang dilindungi oleh UNESCO.

Proses Pembuatan Kain Batik

Dilansir oleh Britannica, batik adalah metode mewarnai kain dengan area yang diberi pola oleh lilin, sehingga kain dapat menyerap warna tersebut. 

Metode batik biasanya didesain pada kain katun dengan warna tradisional seperti biru, cokelat, dan merah. Tercampurnya efek beberapa warna efek didapatkan setelah beberapa kali proses pewarnaan ulang. Pola dari lilin yang menempel pada kain awalnya direbus terlebih dahulu, lalu diproses kembali sebelum memberi tambahan warna cerah.

Teknik dasar batik belum diketahui tepat awal sejarahnya, walau telah dilaksanakan secara luas di banyak wilayah Asia Tenggara, dengan berbagai variasi berbeda. Dilansir dari Bhinneka, berbagai teknik produksi Batik diantaranya adalah Batik Tulis (Canting), Batik Cap, Batik Kombinasi, Batik Ikat Celup, Batik Lukis Colet, dan tentu Batik Modern. Contohnya lainnya ada di pulau Selebes, Sulawesi, dimana lilin terpasang pada batang bambu. 

Di pulau Jawa saat pertengahan abad 18 lalu, inovasi stempel tembaga dengan pegangan dan moncong titik yang berlapis lilin, dapat memperindah pola pada kainnya. Inovasi dari Jawa lainnya adalah saat menggunakan batang kayu sebagai stempel polanya, yang dikenalkan sejak abad 19 lalu. Belanda sempat mengimpor kain dan tekniknya ke Eropa. 

Mesin garmen jaman sekarang dapat memproses lilin dengan pola tradisional Jawa, dan dapat mereproduksi efek layaknya pemrosesan tangan. Mesin masih memiliki konsep yang sama, yaitu menempelkan pola dari lilin pada kainnya. 

Batik Dakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO

Dilansir dari UNESCO, Batik memiliki teknik, simbolisme, dan budaya yang meliputi pelukisan tangan kain katun dan sutra, sehingga menyerap ke seluruh pola kehidupan sehari-hari di Indonesia. 

Mulai dari awal hingga akhir, Batik digunakan sebagai kain jarik untuk menggendong bayi, dengan banyak pola simbol yang didesain untuk memberi peruntungan, sementara warga yang meninggal ditutupi oleh kain jenazah (atau penutup keranda).

Pakaian didesain untuk dikenakan sehari-hari, saat keperluan bisnis dan akademik, sementara variasi khusus dikenakan saat perayaan pernikahan, kehamilan, pagelaran Wayang, dan banyak format seni lainnya. Kain Batik bahkan berperan utama saat ritual khusus, contohnya saat pelemparan batik ke dalam kawah gunung volkano.

Pola Batik diwarnai oleh perajinnya pada kain, dengan desain titik dan garis menggunakan lilin panas, yang didapatkan dari sayuran dan bua. Lalu, perajin memisahkan warna dengan membasuhi kain dengan satu jenis warna, memisahkan lilin dengan air rebus bersuhu panas, dan diwarnai berulang kali.

Variasi pola merefleksikan banyak pengaruh, diantaranya berasal dari kaligrafi Arab, buket Eropa, phoenix China, bunga sakura Jepang, serta merak dari India atau Persia. 

Batik biasanya diwariskan secara turun temurun dalam banyak generasi keluarga, sehingga kerajinan Batik sangat terikat dengan identitas budaya warga Indonesia. Bermaksud simbolis dari setiap warna dan desainnya, Batik adalah ekspresi kreativitas dan spiritualitas warga Indonesia.

Sedikit Komentar dari Penyuka Batik

Selaku penulis, saya memiliki minat khusus pada Batik. Sejak pertama kali melihat Batik digunakan secara santai jaman SMP terdahulu, Batik telah menarik minat saya. Walau tentu tidak seminat itu untuk memiliki kain Batik asli yang cukup sulit didapatkan.

Kini, penulis memiliki koleksi berbagai jenis kebutuhan pakaian berpola Batik, diantaranya kemeja, celana, masker, serta sarung bantal dan guling. Satu pakaian paling cocok, tentu adalah sejenis Iket Sunda, yang biasanya memang  berpola Batik.

Khusus untuk momen saat mengenakannya, penulis lebih suka dan sering memakai Batik saat mengunjungi acara pernikahan, selamatan, dan perayaan lainnya, baik itu yang berlengan pendek maupun panjang. 

Bahkan, penulis kurang suka memakai pakaian kemeja biasa, karena terlalu gerah dan mudah kotor, dengan bagian bawah yang harus dimasukkan dalam celana agar dianggap rapih. Sementara Batik, cukup dipakai dan langsung dianggap formal.

10 Mei 2025

Lima Warisan Budaya Tak Berwujud Menurut UNESCO

Ilustrasi jamu dari Indonesia (TMDB).

Organisasi Edukasi, Sains, dan Budaya PBB (UNESCO) dikenal sebagai pelindung bagi arsitektur, alam, dan bentuk seni dari seluruh dunia. Ternyata, UNESCO melindungi pula banyak warisan budaya yang terkait untuk merawat kesehatan, yang menjadi bagian dari Warisan Budaya Tak Berwujud.

Dilansir dari National Geographic, daftar UNESCO ini bertujuan agar  melindungi ritual, festival, bahasa, serta musik yang ada di seluruh dunia. Jamu dari Indonesia termasuk salah satu diantaranya.  

Jamu di Indonesia

Jamu sangat dikenal di Indonesia sebagai minuman herbal yang menyehatkan. Ternyata, jamu ini terukir di kuil Borobodur, yang telah berumur 1200 tahun. 

Ukiran kuno ini menggambarkan jamu yang merupakan hasil racikan antara jahe, jeruk limau, kunyit, dan asam jawa. Biasanya racikan herbal ini diberikan kepada orang sakit agar cepat sembuh.

Beda pula suhu jamu yang diberikan kepada orang yang sakit. Jamu yang panas diberikan kepada orang yang sakit flu atau masuk angin, sementara yang dingin diberikan kepada yang sedang demam. 

Jamu pun berbeda resep setiap wilayahnya, yang disesuaikan dosisnya dengan variasi usia dan tingkat kesehatan peminumnya. Banyak penjual jamu meramu bahannya dengan alami, dan biasanya dinikmati langsung oleh orang terdekat.

Jamu pun berbeda resep setiap wilayahnya, yang disesuaikan dosisnya dengan variasi usia dan tingkat kesehatan peminumnya. Banyak penjual jamu meramu bahannya dengan alami, dan biasanya dinikmati langsung oleh orang terdekat.

Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 lalu, data menunjukkan 31,4 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi secara tradisional, sementara 12,9 persen meramu jamunya sendiri. Produknya sebanyak 48 persen adalah berupa ramuan, dan 31,8 persen buatan sendiri.

Karena masih berbahan herbal tradisional, maka jamu akan bermanfaat sebagai intervensi dari manusianya, dalam memberi bantuan optimal pada fungsi tubuh, sehingga terbentuklah pertahanan tubuh yang sanggup beradaptasi terhadap penyebab peradangan.

Seperti dilansir dari Direktorat Jenderal Kesehatan Republik Indonesia, jamu adalah sejenis obat tradisional sederhana, yang diwariskan turun temurun, dengan pembuktian khasiatnya secara empiris. 

Dalam pemasarannya, maka klaim jamu tentang khasiatnya tidak boleh berlebihan. Contohnya adalah jamu yang dapat 'membantu' atau 'secara tradisional digunakan,' daripada 'menyembuhkan' secara langsung.

Untuk standarisasi produk, maka jamu tidak diwajibkan untuk dapat memenuhinya. Tetapi, tetap harus memenuhi persyaratan mutu yang dicanangkan oleh Farmakope.

Terdapat beberapa rempah dan hasil jamu yang terproses, diantaranya adalah kunyit, temulawak, beras kencur, cabai jawa, paitan, lengkuas, mengkudu, dan galian singset.

Kunyit atau Kunir, terbukti berkhasiat untuk mengurangi nyeri, anti peradangan, tekanan darah tinggi, dan bahkan menurunkan berat badan. Kunyit biasa diramu dengan buah asam agar menjadi jamu Kunir Asam. Kadang, bahan lain seperti sinom, temulawak, kedawung, air jeruk lemon, gula merah, gula putih, dan garam ditambahkan sebagai bahan tambahan.

Temulawak (atau jahe jawa) yang merupakan rempah asli Indonesia, dengan khasiat diantaranya meredakan mual, pusing, gejala pilek, dan menambah napsu makan anak. Temulawak biasa dicampur dengan rimpang temulawak, kencur, asam kawak tanpa biji, gula aren, daun pandan segar, serta jinten.

Beras Kencur, atau biasa disebut sebagai jahe aromatik atau jahe pasir, tercampur dengan beras untuk dapat membantu menurunkan kolesterol, peradangan, dan sistem kekebalan tubuh. Bahan utama beras kencur, tentu adalah beras dan kecur, yang biasa diramu dengan campuran kedawung, jahe, kapulaga, asam kawk, termukunci, kayu keningar, kunyit, kapur, dan pala. Untuk memberi rasa manis, maka gula coklat pasir dan gula putih dapat ditambahkan.

Cabai Jawa atau disebut pula sebagai Cabai Puyang/Lempuyang, biasa digunakan pula sebagai bumbu masakan khas Indonesia. Karena Cabai Jawa mengandung zat besi tinggi, maka dapat membantu produksi sel darah merah dan mencegah anemia. 

Untuk khasiatnya, Cabai Jawa membantu mengatasi kelelahan dan otot kaku, masuk angin, menambah energi, mengurangi kembung, membantu beri-beri, reumatik, tekanan darah rendah, kolera, influenza, sakit kepala, lemah syahwat, bronkitis, dan sesak napas. 

Ramuan jamu ini diantaranya adalah tambahan temuireng, temulawak, jahe, kudu, adas, polosari, kunyit, merica, kedawung, keningar, asam jawa, dan temukunci. Agar tidak terlalu pahit, maka gula merah, gula putih, dan garam dapat ditambahkan.

Paitan atau Pahitan, adalah sebutan untuk ramuan jamu yang berasa pahit, seperti campuran dari sambiloto, brotowali, meniran, lempuyang, widorolaut, doroputih, babakan pule, adas, dan empon-empon. Walau rasanya kurang mengenakkan, tetapi telah terbukti berkhasiat dalam masalah perncernaan.

Paitan dapat dikonsumsi untuk meringankan masalah kesehatan, seperti cuci darah, penghilang gatal, biduran, menambah napsu makan, diabetes, bau badan, menurunkan kolesterol, kembungnya perut, jerawat, pegal, dan pusing. 

Kudu Laos adalah kombinasi dari dua bahan utamanya, yaitu laos atau lengkuas, dengan buah mengkudu. Efeknya adalah menghangatkan tubuh, membantu meredakan kram menstruasi, mengurangi hipertensi, serta menambah napsu makan.

Hasil potongan teriris tipis lengkuas dan mengkudu dapat diseduh langsung, dan ditambahkan dengan bahan lain seperti asam jawa, bawang putih, cabai puyang, garan, dan merica, sesuai kebutuhan nutrisi, fisik, dan selera peminumnya.

Galian Singset adalah nama ramuan yang disesuaikan dengan fungsinya, yaitu 'Singset' alia langsung dan ramping. Maka, ramuan ini terkenl bagi kalanganw wanita. Namun, berbagai khasiat yang baik diantaranya adalah aroma tubuh yang harum serta kulit lebih sehat. 

Untuk meramunya, resep yang digunakan dengan dihaluskan dan direbus, diantaranya adalah temulawak, jahe, kunyit, serai, dan kayu manis, yang tercampur pula dengan asam jawa, ketumbah, dan merica.

Perlu diingat pula, terdapat anjuran langsung mengenai konsumsi jamu dari Direktorat Jenderal Kesehatan Republik Indonesia. Walau banyak khasiatnya, tetap hindari konsumsi dengan frekuensi berlebihan dan jangka panjang. Hal itu akibat dampak negatif ginjal serta saluran pencernaan.

Selain itu, karena kondisi tubuh berbeda-beda, maka reaksi alergi dapat terjadi bagi peminumnya. Apalagi, bagi yang sedang mengalami pengobatan modern. Jenis jamu yang dapat dikonsumsi saat mengalami gangguan kesehatan, harus dikonsultasikan kepada dokter.

Ilustrasi botol jamu yang biasa dibakul (Instagram).

Pengalaman Pribadi Meminum Ramuan Jamu

Penulis sendiri memiliki banyak pengalaman mengonsumsi jamu sedari kecil. Saat Ibu Bakul Jamu dengan gendongan ramuannya lewat depan rumah, biasanya keluarga memesan jamu. Kala itu saat saya masih kecil, diminta pula meminumnya. Karena masih cukup sehat, maka saya dianjurkan untuk meminum jamu manis saja (apalagi kurang tahan dengan rasa yang pahit).

Nah, meloncat ke beberapa tahun kemudian, yaitu saat saya sudah mulai kuliah di kampus terdahulu. Karena kuliah pagi cukup jarang dilaksanakan, maka saya agak santai di pagi hari, tepat saat Ibu Bakul Jamu lewat depan rumah lagi. 

Karena itu, saya mulai sering meminum jamu setiap pagi, beberapa tahun lamanya. Apalagi, karena jarak kampus yang jauh, ditambah lokasi gerbang hingga fakultas yang memang cukup menggetarkan kaki, akhirnya saya berinisiatif untuk lebih sering meninum jamu, yang tentu kini sudah lewat pahitnya. 

Jika diingat-ingat, jarak saya menuju angkutan umum dari rumah, hingga turun dari gerbang kampus menuju fakultas, lalu naik ke lantai empat melewati tangga, karena lift selalu penuh, menyebabkan kaki terus tergerakkan. 

Mungkin, setiap hari saya melangkah sekitar tiga hingga lima kilometer setiap harinya, dari berangkat hingga pula. Kalau jaman tersebut sudah ada Odometer di ponsel, mungkin lebih tepat lagi jarak dan durasinya.

Dan jika diingat-ingat (sekali lagi), kebiasaan berjalan kaki jauh setiap hari sudah saya laksanakan sejak jaman SMP terdahulu. Tentu, akibat jarak angkutan umum serta lokasi sekolah yang kurang terlewati. SMP, SMA, dan Kuliah, berarti mencapai jangka waktu sepuluh tahun. Jadi, rasanya memang kaki sudah terlatih untuk berjalan marathon. 

Nah, jika diingat lagi, dulu saya sering diajak berjalan kaki melewati daerah asri di kota, bersama beberapa anggota dari keluarga besar. Mungkin, momen tersebut menumbuhkan kecintaan saya terhadap berjalan kaki dan menikmati asrinya alam bumi nan indah di Bandung.

Lalu, loncat momennya ke saat ini, saat saya tengah rajin menulis kembali. Karena saya merasa menulis akan menambah pusing, maka berinisiatif untuk berjalan kaki tiap pagi, sambil meminum jamu dari Ibu Bakul Jamu. Memang, setiap pagi pasti ada saja yang lewat, walau sekarang lokasinya berada di sekitar pasar.

Tidak hanya berjalan kaki dan meminum jamu setiap pagi saja, tetapi mulai berolahraga pagi di Car Free Day. Targetnya, mencapai 8.000 langkah, atau sekitar lima kilometer jauhnya. Semua itu, karena niat saya dan bantuan jamu, yang sanggup menambah energi setiap paginya. Apalagi, penulis adalah seorang yang jarang sarapan, dan hanya meminum kopi saja setiap paginya.

Seluruh kebiasaan tersebut sudah terlaksana oleh saya, sejak awal tahun (mungkin tepatnya bulan Maret lalu), hingga sekarang. Okeh, saatnya melanjutkan bahasan berikutnya, ya...

Yoga di India

Yoga yang dimulai sejak 5000 tahun lalu, di bagian utara India, mendukung praktisinya agar dapat mencapai pencerahan, kesembuhan fisik, kebersihan emosional dan tujuan pribadi lainnya.

Yoga memang berbentuk dasar fisik, spiritual, dan filosofi. Praktisinya berlatih dengan urutan pose tubuh yang berbeda, dimulai dari pose sederhana sampai yang lebih rumit. 

Secara bersamaan saat pose tersebut dilakukan, praktisi yoga akan bermeditasi, membaca mantra, atau melatih kendali pernapasan, agar mencapai kedamaian pikiran dan mental.

Olahraga sekaligus olahrasa ini dapat dipraktekan oleh seluruh golongan umur, dari muda hingga tua, tanpa memandang gender, kelas sosial, atau agama. 

Pijat di Thailand

Pijat Nuad Thai adalah terapi fisik dari Thailand yang telah berumur sekitar 2500 tahun lamanya. Pijat ini banyak dipraktekkan oleh warga Thailand sebagai kombinasi dari seni dan sains.

Pemijat Nuad Thai menggunakan tangan, kaki, lutut, dan sikut untuk meremas, melipat, dan melonggarkan tubuh pasien. Tujuannya adalah untuk membuka jalan bagi 72 ribu sen atau jalur energi dari dalam tubuh. 

Menurut kepercayaan Buddhisme Thailand, pijatan ini dapat mengembalikan elemen internal tubuh manusia, yang terdiri dari elemen air, angin, api, dan tanah.

Menurut kepercayaan Buddhisme Thailand, pijatan ini dapat mengembalikan elemen internal tubuh manusia, yang terdiri dari elemen air, angin, api, dan tanah.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kita di Nusantara memiliki jenisnya tersendiri, yaitu umumnya bernama Pijat Jawa dan Pijat Bali. Pijat tradisional ini, memang berasal dari dua wilayah tersebut, dan terus mengalir ke seluruh Nusantara. 

Karena itu, perkembangan pijat tradisional pun terus merambah hingga jaman modern ini. Kemenkes pun telah membuat standarisasi untuk prakteknya. Bahkan, terdapat buku hasil Kemenkes, sebagai panduan dalam melaksanakannya. 

Momen saat ini, pijat tradisional Indonesia belum berhasil diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO. 

Akupuntur dari China

Praktek menusukkan jarum ke (titik saraf) dari kulit tubuh manusia, yang bernama akupuntur ini telah dimulai sejak lima ribu tahun lalu di China. 

Praktisi akupuntur biasanya menusukkan lima, hingga dua puluh jarum di kulit tubuh pasien, yang mewakili titik syaraf tubuh manusia. Praktek kesehatan ini dapat membantu pasien dari penyakit migrain, mual, nyeri otot, masalah pernapasan, hingga keram menstruasi.

Menurut kepercayaan China, metode ini dapat menyeimbangkan energi gelap Yin dan energi cahaya Yang di dalam tubuh manusia, dan ditujukan agar kesehatan mental dan fisik terjaga serta tetap seimbang. 

Yin dan Yang adalah bagian dari energi kehidupan, yang biasa disebut Qi,dan  mengalir sebanyak 12 jalur di tubuh manusia. Setiap jalur Qi menghubungkan organ dan fungsi tubuh utama.

Sauna dari Finlandia

Finlandia telah memiliki budaya sauna sejak sepuluh ribu tahun lalu, dan semakin ramai hingga sekarang. 3,3 juta lebih kamar mandi sauna berada di Finlandia, padahal jumlah warganya hanya 5,5 juta saja.

Rata-rata warga Finlandia bermandi sauna satu kali dalam seminggunya. Tidak hanya dapat membuang racun tubuh (lewat keringat) dan stres, mandi sauna adalah ajang sosial di Finlandia.

Banyaknya lokasi mandi sauna yang berada di sisi danau, hutan atau pegunungan, mandi secara sosial ini dianggap sebagai lahan komunikasi antar warga, sekaligus untuk menikmati indahnya alam. 

Banyaknya lokasi mandi sauna yang berada di sisi danau, hutan atau pegunungan, mandi secara sosial ini dianggap sebagai lahan komunikasi antar warga, sekaligus untuk menikmati indahnya alam. 

Sementara dari Indonesia itu sendiri, terdapat beberapa contoh mengenai sauna tradisional. Namanya pun berbeda-beda, contohnya adalah Leuhang dari Sunda, Batangeh dari Minang, dan Betangas dari Kalimantan.

Khas sauna Leuhang dari Sunda, adalah menggunakan rebusan rempah, yang uapnya dialirkan dalam sebuah kotak tertutup khusus, sementara bagian tubuh (dari batas leher kebawah) menyerap nutrisinya melalui kulit. 

Seperti saat diutarakan pada acara Pajajaran Anyar (Pekan Kebudayaan Daerah Jawa Barat 2025) dari Humas Jabar, Leuhang sebagai bentuk sauna tradisional Sunda, masih diusahakan di tahun 2025 ini, sebagai bagian dari daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.