![]() |
| Raja Danjong yang masih mewah saat diasingkan (TMDB). |
Akhirnya, ada film drama kerajaan pula dari Korea Selatan, berjudul The King's Warden, yang tayang minggu ini di sinema Indonesia. Film dengan rating R13 (remaja) ini memang kombinasi unik antara sub-genre drama dan kerajaan sekaligus. Latar semacam ini cukup jarang diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, karena targetnya mengacu pada ranah internasional ala film Hollywood.
Film drama kerajaan dari Korsel yang pernah penulis tonton pun, cukup sedikit. Terakhir kalinya, penulis baru saja menonton film dan serial The Kingdom (2019-2020, 2021), yang berisi drama kerajaan dan malah bertema zombie pula. Ya, film yang berisi aktris Bae Doona ini memang bergenre horor zombie, cukup jauh dengan judul filmnya. Walau begitu, drama kerajaan ala abad pertengahan hingga renaisans ini, ternyata cocok dengan segala intrik di sistem monarki-nya.
Mengacu pada drama monarki, dan kembali ke film The King's Warden, ternyata cuplikannya memberi kesan berbeda. Biasanya di film kerajaan dari berbagai negara manapun, berisi kisah epik peperangan atau politik monarkinya. Namun dari cuplikan film ini, justru menunjukkan sisi drama monarki, yang langsung terkait dengan rakyat kecil di Korea.
Kisahnya memang berkutat pada seorang raja, yang terasingkan setelah terjadi kudeta di istana kerajaan. Kisah seperti ini sudah cukup sering diadaptasi di banyak film, yang memang mengambil referensi dari sejarah aslinya.
Khusus untuk membahas monarki, kisah sejarah ini dapat terjadi akibat kesalahan raja atas kepemimpinannya, kudeta dari pemerintahannya sendiri, aturan garis keturunan raja, peperangan yang menyebabkan raja dan penerusnya meninggal, atau bahkan pemberontakan dari rakyatnya sendiri. Tentu kadang tercampur dengan banyak dinasti bangsawan saat masa tersebut, yang memang tidak suka dengan raja saat ini, atau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Yah, jangan dibahas-lah dengan keadaan politik saat ini (khususnya di Korsel). Kadang memang mirip, tapi ya sistem dan peradaban jaman sekarang sudah terlampau jauh. Jadi kisah ini, memang selayaknya jadi referensi sejarah saja, dan bukanlah referensi untuk diulang kembali, layaknya petuah dari Soekarno terdahulu.
Oh ya, dari judulnya saja, arti The King's Warden bisa diartikan simbolis. Dalam cuplikannya, terlihat raja masih bersemangat untuk mengembalikan tahtanya. Raja muda ini memang ingin memajukan Korea, dan secara harfiah dengan bantuan langsung rakyatnya di desa pengasingan. Selayaknya simbol tersebut, The King's Warden yang berarti Penjaga Raja, adalah usaha rakyat untuk menjaga rajanya sendiri, walau urusan kerajaan yang terlalu berbelit-belit untuk diurusi oleh rakyatnya langsung.
Sinopsis Film The King's Warden
Eom Heung-do (Yoo Hai-jin) adalah seorang rakyat Korea biasa, yang diinterogasi oleh pejabat kerajaan saat berkunjung ke wilayah kota dekat istana. Dia pun terpaksa menceritakan wilayah desanya, yang memiliki lokasi rumah terpencil mewah milik kerajaan, dan cocok sebagai area pengasingan.
Namun saat pejabat yang diasingkan tiba, dia pun terheran-heran. Bahkan salah satu temannya perlu marah sambil mengingatkan, bahwa yang diasingkan adalah Raja Danjong (Park Ji-hoon) yang dimakzulkan dari tahtanya. Saking merasa bersalah, Heung-do lalu mulai sering berkunjung ke area pengasingan, demi menemani sang mantan raja tersebut.
Ternyata kedekatan keduanya melebihi hubungan antara raja dan rakyatnya. Raja Danjong sangat menyukai kesederhanaan Heung-do bersama seluruh warga desanya. Walau masih tidak rela dimakzulkan, dirinya menikmati keseharian baru di desa kecil tersebut.
Hingga suatu hari drama dari istana kerajaan semakin membesar, dan meruak hampir ke wilayah desa pengasingannya. Raja Danjong yang tidak ingin desa kecil ini ikut tergerus urusan kerajaan, perlu mencoba segala cara demi mengamankan semuanya. Bahkan dengan bantuan langsung dari Heung-do, yang masih heran dengan kedekatannya bersama raja.
Sanggupkah Raja Danjong dan Heung-do mengamankan desa kecil milik semuanya? Atau malah terjadi pengkhianatan dari banyak sudut pandang dan kepentingan?
Jawabannya, ada di drama pangeran Korea Selata ala sinema Indonesia.



