27 April 2026

Mengenang Idealisme Ala Mahasiswa di Film Dilan ITB 1997

 

Dilan dan Ancika dibawah Bendera Indonesia Berkibar Sedia Kala (TMDB).

Okeh, sekarang adalah film pamungkas di akhir bulan April, berjudul Dilan ITB 1997, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13. Film yang diadaptasi dari buku novel Pidi Baiq ini, memang khas yang sangat membumi bagi sineas perfilman Nusantara, apalagi bagi para penggemar bukunya.

Pidi Baiq dan serial Drunken

Okeh, sebenarnya penulis sering berkomentar, bahwa kurang suka dengan film sejenis romansa. Tetapi mengacu pada penulis Pidi Baiq, tentu perlu dibahas lebih mendalam. 

Apalagi, Pidi Baiq adalah anggota The Panas Dalam, yang sedari dahulu kala, lagunya absurd nan ngacak. Beberapa tahun kemarin, kanal Budi Dalton Ngobat di YouTube selalu tayang setiap Senin, lengkap dengan anggota band kocak ini. Lagu yang direkomendasikan penulis, adalah kombo Rintihan Kuntilanak dan Cita-citaku (Polwan). Kedua lagu tentu terasa anekdot, ironis dan satire-nya, khususnya yang suka berlebihan di dunia seni (ala FSRD).

Penulis sebenarnya menyukai Pidi Baiq sebagai penulis, sejak buku Drunken Monster dari tahun 2008 lalu. Seluruh serinya, yaitu berkelanjutan mulai dari buku Drunken MoLen (2008), Drunken Mama (2009), dan Drunken Marmut (2009). Seluruh buku sudah penulis baca, dan bikin ngakak walau tidak jelas animonya.

Ada dua kisah dari Drunken yang penulis ingat, yaitu saat tokoh utama yang malah pura-pura sebagai supir angkot karena iseng. Entah apa maksudnya, karena ya... cuman iseng sambil coba berkendara sekeliling Bandung, sambil roleplay ala sopir Angkot.

Satu lagi adalah kisah yang bisa diterima akal sehat serta normatifnya, yaitu saat penulis saling tidur bersama di satu kasur, dengan istri dan anaknya. Ketiganya lalu mulai berimajinasi liar mengenai satu kisah, tanpa batas sesuai keingingan masing-masing yang ambil giliran untuk berbicara. Layaknya, teknik bercerita dongeng sebelum tidur, namun terkombinasi pembelajaran mengarang cerita.

Nah dari segitu, penulis cukup heran dengan dirilisnya buku Dilan dari tahun 2014 lalu. Saat itu penulis milih fokus untuk jalan-jalan dan menjalani karir, sebagai penulis di suatu media tentunya. Ya, memang kelewat hype sih, apalagi dengan film Dilan 1990 yang sempat banyak meraih penghargaan di tahun 2018. 

Nah kali ini, bagaimana dengan kisah Dilan di tahun 1997? Tentunya akan terasa lebih aneh, karena kembalinya Ariel Peterpan sekaligus Noah, yang masih terlihat muda di film yang seharusnya cukup nostal-gila.

Sinopsis Film Dilan ITB 1997

Dilan (Nazriel Ilham) kini sudah bersekolah di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (Institut Teknologi Bandung). Saking fokusnya, Dilan mencoba romansa ala kampus bersama Ancika (Niken Anjani).

Kisah kasmaran Dilan dan Ancika berasa tidak terangsang oleh waktu, akibat masa berkabung Indonesia, menjelang era Reformasi agar turunnya Presiden Soeharto. Reformasi yang digadang merubah keadaan Indonesia ini, memang mengalir dengan indah, layaknya potensi rebel yang tiada hentinya (ala jurig internet).

Sayangnya, kehadiran Milea (Raline Shah) dari masa lalu Dilan di masa SMA dahulu kala, menjadi tiang penyembahan berhala yang perlu ditebas. Dilan berasa kangen dan deja vu dengan masa SMA terdahulu, menyebabkan kemelut antara Obelisk setinggi langit atau sedangkal nisan pemakaman (Lah, Milea bukan Orda Baru, kan?).

Kisah campur aduknya perubahan Indonesia dan jatidiri Dilan bersama dirinya yang Panas Dalam, menyebabkan semuanya perlu dicerna dengan kocak semata. Tiada hari tanpa ngalor ngidul bodor ala Sunda, yang kadang teu nyarambung ala Jaka Sembung, alias kiruh ku dikoclok tihela jiga tukang Bajigur.

Akhirnya, Pidi Baiq pun hanya bisa berselirih pedih, 'Ketika Sunyi' di ujung akhir kalimat miliknya, layaknya dibawah jembatan layang Alun-Alun Bandung yang menjadi saksi perjuangan selama ini.

Okeh... Ciao...