![]() |
| Sulitnya dipercaya oleh warga desa jaman sekarang (TMDB). |
Film jurig dari perfilman Indonesia muncul kembali dengan judul Songko, yang tayang di sinema indonesia saat minggu keempat bulan April ini. Film berating R13 ini mengisahkan mahluk legenda urban dari Sulawesi, khususnya dari Manado dan Minahasa.
Kisah jurig yang berasal dari luar pulau Jawa dengan segala mistisnya, memang jarang diadaptasi menjadi sebuah film. Karena itu, Songko perlu ditelaah terlebih dahulu.
Songko adalah sejenis legenda urban, yang muncul di Manado dan Minahasa sejak tahun 1980an lalu. Bentuknya adalah mahluk tinggi yang mengenakan jubah, serta songkok sebagai topinya, karena itu namanya adalah Songko. Mahluk ini dipercaya sebagai jelmaan manusia yang telah meninggal. Namun karena semasa hidupnya selalu mengejar kemampuan paranormal, sehingga arwahnya tidak tenang di alam baka, dan bahkan kembali ke dunia manusia untuk menebar teror.
Bahkan, kisah Songko sebenarnya muncul dalam arsip Belanda sejak tahun 1907 lalu, yang merupakan kompilasi cerita rakyat. Arsipnya berjudul Tontemboansche Teksten: Vertaling (1907) dan Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek (1908). Dalam kedua arsip tersebut, Songko adalah sejenis mahluk supernatural, yang mengejar warga pelanggar pantangan, atau sedang rentan.
Mirip dengan kisah supernatural lainnya, para peneliti menganggap Songko adalah bentuk instrumen sosial. Tujuannya adalah menanamkan kedisiplinan bagi warga, agar taat dan tidak macam-macam, apalagi di jaman yang penerangan malamnya kurang. Khusus Songko yang dipetuahkan oleh tetua seperti Tonaas dan Walian, adalah untuk menjaga batas aman wanua.
Sementara Songko dari tahun 1980an, muncul kembali sebagai legenda urban. Kemunculannya kembali adalah akibat kasus mengerikan saat jaman tersebut. Mahluk mengerikan berjubah ini mengejar darah suci perempuan muda, yang tentunya masih perawan dan belum terjamah sama sekali.
Songko yang harfiah mengancam masyarakat Sulawesi, menjadi peringatan khusus bagi pemuda dan pemudi pada jaman tersebut, sesuai dengan fungsi awalnya sebagai cerita rakyat.
Sinopsis Film Songko
Desa Tomohon di Sulawesi adalah lokasi yang taat dengan agamanya, dan selalu hidup rukun antar tetangganya. Namun suatu petaka tiba, dengan banyaknya pemudi desa yang ditemukan meninggal bersimbah darah.
Layaknya mengenang petuah terdahulu, warga lalu mengingat bahwa teror ini mirip dengan cerita rakyat bernama Songko. Mahluk ini akan tiba di satu lokasi, jika ada warganya yang melaksanakan ritual mistis, atau melanggar pantangan.
Warga mulai menyalahkan satu keluarga yang cukup berbeda, yaitu Ekel (Tegar Satrya) sebagai kepala keluarga, bersama istrinya Helsye (Imelda Therinne), Mikha (Annette Edoarda) sebagai anak pertama, dan adiknya Lina (Fergie Brittany). Keluarga ini dituduh sebagai jelmaan Songko, karena lebih banyak beranggota perempuan, dan belum satupun yang menjadi korban.
Hingga akhirnya keadaan berubah seketika, saat Lina yang merasa tertekan oleh sikap warga desa, akhirnya diteror pula oleh kemunculan mahluk Songko. Namun warga masih belum percaya, dan bahkan semakin buas menolak kehadirannya. Ekel yang lihai menembakkan senapan, harus berinisiatif gelut, demi menghalau serangan Songko, warga desa, atau sekaligus pihak agresor manapun.
Sanggupkah keluarga ini bertahan sampai akhir? Atau ada maksud khusus dari warga desa yang terus menyalahkan? Atau bahkan Songko sebenarnya adalah sisa dosa dari warga desa itu sendiri, yang kembali untuk membalaskan dendam?
Jawabannya, tentu ada di cerita rakyat ala sinema Indonesia.



