15 April 2026

Mengecek Pesan Khusus dari Film The Conspiracy

 

Aaron yang sudah terlalu obsesif dan konspiratif (TMDB).

Okeh, karena beberapa minggu terakhir banyak kabar terdengar dari media massa, media sosial, hingga banyak jenis pemangku konten lainnya, jadinya penulis ingin membahas film The Conspiracy di artikel Monsterisasi. 

Film yang rilis tahun 2012 ini membahas tentang sebuah konspirasi besar, dengan sudut pandang warga biasa dalam menanggapi isu sesat tersebut. Ya, bahkan film ini adalah sejenis Found Footage, namun lebih bisa dianggap sebagai jenis film Mockumentary.

Found Footage dan Mockumentary

Found Footage (bersudut pandang kamera orang pertama) awalnya diramaikan oleh The Blair Witch Project dari tahun 1999 lalu. Bahkan, film ini sempat disetel sebagai film aseli, dengan beberapa situs web yang dibuat, dan diramaikan di ranah forum Inet. 

Namun perkembangan saat ini justru merubah Found Footage menjadi ranah yang niche, dan tidak banyak improvisasi diluar adegan kamera. Perkembangan yang kentara adalah mulai munculnya sub-genre Mockumentary, yang berisi adegan lebih stabil layaknya dokumenter biasa.

The Conspiracy sebenarnya bersub-genre Found Footage, yang tentunya berisi adegan kamera dari sudut pandang orang pertama (layaknya handcam). Namun (sekali lagi) menurut pendapat penulis, film ini lebih mirip sub-genre lainnya, yaitu Mockumentary. Film sejenis ini tidak banyak memasukkan adegan heboh, namun lebih didominasi oleh struktur ala dokumenter. Ya, tetap saja sejenis dokumenter palsu, yang berisi cerita fiktif. Istilah Mock itu artinya adalah sejenis palsu.

Namun karena penggambaran cerita yang menarik, dengan perkembangan cerita dan informasi yang agak plot twist setiap pindah adegan, menjadi jenis tontonan yang menarik. Memang berbeda dengan Found Footage yang amburadul dan goyang kameranya (shaking cam), Mockumentary menyajikan adegan yang stabil. Contohnya, adalah wawancara langsung dengan karakternya, atau sekedar lokasi TKP dan pembaruan informasi yang ditelaah bersama karakternya.

Dengan visualisasi yang berbeda dari Found Footage, Mockumentary bisa lebih mengalir dalam menjabarkan ceritanya. Kadang sedikit terjadi adegan drama, aksi, atau sejenis heboh lainnya. Namun, cerita disajikan dengan rapih dan terstruktur selayaknya menonton dokumenter, contohnya alam liar ala National Geographic atau sejarah dunia ala History Channel. 

Karena masih ranah fiktif yang menyajikan cerita dan adegan mengerikan, jadi genre utama Mockumentary (biasanya) adalah Horor. Entah berapa kali penulis merasa merinding menonton film sejenis ini, melebihi adegan horor biasa yang suka jump-scare atau terlalu sensasional. Atmosfer yang lebih damai dan kurang gelap, seakan menipu penonton dengan visual yang ada. 

Tetapi, ada beberapa film yang membuat merasa penulis tertipu. Ada dua film yang aslinya masuk ranah dokumenter nyata, namun disajikan ala (dramatisnya) Mockumentary. 

Pertama adalah film Cropsey, dari tahun 2009 lalu. Saat menonton pertama kalinya, penulis menganggap ini hanya Mockumentary. Tetapi pas dicek di Inet, ternyata film ini berisi kasus nyata mengenai aksi penculikan dan anak hilang, yang terjadi di Staten Island, AS. Film ini menyajikan hubungan kasus tersebut dengan sebuah Bangsal RSJ besar di sekitar lokasi TKP, yang ada hubungannya dengan kasus kriminal tersebut.

Dan penulis pun tertipu kedua kalinya, saat menonton film berjudul Beware The Slenderman dari tahun 2016 lalu. Awalnya penulis menganggap bahwa film ini adalah sejenis fiksi ala karakter horor bernama Slenderman, yang sempat ramai awal tahun 2010an lalu. Namun pas ditonton dan dicek di Inet (lagi), ternyata berisi kasus nyata di Wiscounsin AS. Kasus ini berisi kekerasan anak dibawah umur, dengan istilah 'bisikan setan' dari karakter Slenderman.

Kedua film pun menyajikan informasi dengan foto, rekaman, atau dokumen asli mengenai warga nyata yang terkait kasus tersebut. Keduanya memang kisah mengerikan dari ranah perfilman nyata, yang tersaji dengan cukup realistis.

Waspada ada Slenderman (TMDB).

Hubungannya dengan Film The Conspiracy

Nah, setelah membahas dua film yang ternyata dokumenter asli, kali ini perlu membahas tentang film The Conspiracy. Film ini memang masih beranah fiktif, namun tetap ada satu bahasan dan pesan yang bisa diterima oleh penonton biasa. Yaitu saat penonton atau warga biasa, menanggapi kisah konspirasi besar, yang dapat langsung berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Penulis merekomendasi film ini untuk langsung ditonton saja, karena film yang berformat Mockumentary memang sulit dibahas adegannya. Sehingga, langsung saja mengacu pada referensi dan pesan yang disampaikan. Penulis pun tidak akan membuka alias spoil isi ceritanya, agar menontonnya lebih dapat diterima.

Sebelum mengacu pada pada pesannya, penulis perlu menjabarkan adegan yang cukup masuk gambaran besar untuk film ini. Plotnya yaitu karakter Aaron (Aaron Poole) sebagai sutradara dan Jim (James Gilbert) sebagai kameramen, yang terobsesi dengan sekelompok sekte elit di sekitar huniannya, tepatnya di AS sana. Keduanya berniat menguak keberadaan asli sekelompok warga elit tersebut, layaknya video dokumenter jurnalistik investigasi.

Nah singkat cerita, keduanya berjibaku lama untuk melacak keberadaan sekte warga elit tersebut. Bahkan Aaron berhasil menyelundup masuk ke jamuan makan, pesta, sekaligus ritual sekte aneh tersebut. Aaron membawa kamera tersembunyi (hidden cam) dibalik bajunya, agar dapat merekam semuanya. 

Warga yang diundang, ternyata mengenakan kostum (dress-code), salam, dan ritual khusus lainnya. Biasanya, hanya anggota aseli yang mengajarkan ritual khusus kepada tamu yang baru diundang. 

Daaan... penulis pun tidak akan menjabarkan isi kisah berikutnya, dan pembaca perlu menonton langsung. 

Gak perlu sampai demo (sendiri) kaya gitu juga... (TMDB).

Penutup dan Pesan dari Film The Conspiracy

Nah kembali ke pesan yang disampaikan dari film, menurut penulis justru sebagai pembaca, penonton, dan warga biasa, perlu menanggapi ranah konspiratif dengan pesimis. Istilah dari bahasa Inggrisnya adalah 'Take Everything with A Grain of Salt,' yang berarti setiap informasi yang diterima, harus ditanggapi pesimis dan ditelaah terlebih dahulu. Jadi, tidak perlu terobsesi dengan kabar konspiratif jenis manapun.

Apalagi dari keadaan berita beberapa bulan terakhir, yang terasa seperti konspirasi besar para elit dunia. Contohnya adalah Epstein Files, yang dibongkar oleh Federal Bureau of Investigation (FBI). Isinya berisi banyak kalangan elit dunia, yaitu banyak pemimpin perusahaan besar multi nasional yang ikutserta ritual sekte tertentu. Bahkan ada beberapa tokoh dari negara tercinta Indonesia, yang ternyata masuk daftar tersebut.

Kalau ditanya pesimis, justru penulis masih heran tentang kabar ini. Bukan dari ranah konspirasinya, tetapi dari pihak yang menyebarkan informasinya. Standar Operasional FBI harusnya terbatas hukum (Yurisdiksi) di wilayah AS saja, walau sering membantu ranah internasional. Justru untuk wilayah internasional, kabar sejenis ini biasanya dibongkar oleh Central Intelligence Agency (CIA), yang memang berkecimpungan sebagai intelijen luar negeri utama bagi AS.

Walau begitu, FBI memang fokus pada investigasi sosok Jeffrey Epstein, yang memiliki kewarganegaraan utama sebagai warga AS. Jadi, tidak mengherankan pula bahwa kisah ini diawali dari investigasi di wilayah AS, yang berujung efeknya pada dunia internasional.

Okeh, segitu saja dan Stay Vigilant. 

Wassalam.