Tampilkan postingan dengan label Cerpenhor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenhor. Tampilkan semua postingan

28 Februari 2026

Gajah, Sepeda dan Kue Tart

Ilustrasi Fanny dan Dino sang Gajah (Acerax via Gmaps). 

Sinar matahari kekuningan merembes masuk jendela, menyilaukan mata sepasang kekasih. Sepasang suami istri tepatnya, saling berpelukan mesra diatas kotanya kasur. Fiona sebagai istri, menyambut cahaya pagi ini dengan mata bulatnya. 

"ahhmmm...," Fiona menggeliat santai, meregangkan seluruh jaringan otot tubuh yang telah delapan jam berjibaku di alam mimpi. 

"Kamu dah bangun?" ujar sang suami, Fido, menyambut tangan sang istri, lalu mendekapnya. "Udahlah say," jawab Fiona sambil mengecup mesra di pipi sang suami. 

"Pagi yang indah, ya kan?" ujar Fido.

"Ya, dan akan lebih baik lagi ...," bisik Fiona. 

Memang suatu kegiatan reguler di pagi hari, bagi pasangan muda Fiona dan Fido. Umur perkawinan yang masih muda, selalu disambut dengan kesan masa depan yang terasa cerah. Setelah lima tahun tinggal bersama, pandangan mereka begitu luas membahana, layaknya horison di penghujung lautan biru. 

"Inget yah, pagi ini hari apa?" tanya Fiona. 

"Hari Sabtu, lah,... hari untuk menikmati empuknya kamar, seharian," tutur Fido.

"Haha, lucu...," timpal Fiona, menepis tangan suami yang mulai nakal di perutnya.

"Ini hari besar untuk Fanny," tambah Fiona, dengan alis mata yang naik sedikit dan senyuman tipis. 

"Ah Okeeee, haha. Hampir lupa...," timpal Fido, sambil memandang ke arah langit rumah sewanya. 

Fido adalah seorang karyawan swasta, yang paham agar keluarganya tumbuh bersama. Kegiatan regulernya adalah berangkat pukul 07.00 menggunakan sepeda motor matic-nya, demi bergelut dalam pekerjaannya. Sebagai seorang akuntan berposisi junior di perusahaan swasta, tentu bukan pekerjaanlah yang ditunggu oleh Fido setiap harinya. Namun sambutan sang buah hatilah, yang selalu mencerahkan sore hari sang ayah. Potensi masa depan inilah yang memberi senyuman bagi Fido setiap harinya.

Fiona pun tidak rela melewatkan momen ini, pagi maupun sore. Pekerjaannya sebagai guru les privat, menyebabkan Fiona punya banyak waktu untuk mengurus kegiatan rumah tangga. Sementara Fanny, anak gadis mereka yang baru berumur empat tahun, tentu masih butuh bimbingan langsung sang ibu. Fiona juga cukup lihai dalam masak-memasak, demi kebutuhan seluruh anggota keluarga.

"Dengan insting cinta ibu," begitulah prinsip Fiona, saat tengah memasak menu favoritnya. "Tanpa cabai yang cukup," timpal sang suami, yang tidak tahan dengan masakan kurang pedas ala Fiona.

Candaan inilah yang mengingatkan Fiona, mengenai indahnya setiap momen kehidupan mereka. Momen dimana duduk bertiga bersama, saat "Membanting tulang demi nutrisi otot dan anak", menikmati hidangan spaghetti saus asam manis dan brokoli. Masakan yang terlalu sederhana, mengingat kondisi keluarga muda ini, namun mantap terasa. Mungkin suatu saat, Fiona dapat memasak sesuatu yang lebih sedap, lebih mewah, atau lebih cantik. Namun bukan itu 'Intinya,' sesuai dengan hati nurani Fiona. 

Momen seperti ini pula yang mengingatkan Fiona dengan kisah indah di masa lalu. Momen bersejarah pemicu seluruh keindahan rumah tangganya. Sebuah karangan bunga, cincin di jari manis, hembusan angin pantai, dan semburat cahaya matahari senja. "Will you marry me?" ujar sang pemuda, bersimpuh diatas pasir memandang pasrah sumringah kepada sang gadis, yang kini sedang menangis bahagia. "Tentu..., Of course my love...," timpalnya. "Have I got another choice?" tambahnya, senyuman kini terlukis diwajahnya. 

Lima tahun. Lima tahun sejak momen indah ini, keluarganya tumbuh dengan baik. Tumbuh menjadi keluarga muda ideal, keluarga yang menjadi dambaan setiap gadis muda, atau lebih tepatnya, seorang wanita dewasa. Seluruh memori ini, hanya perlu diingat dengan momen sarapan dan makan malam. 

"Jadi, udah siap?," tanya sang ayah, menyeka saus dari bibirnya. 

"Siap apa yah?" timpal Fanny, menyeruput segelas susu porsi paginya. 

"Kita jalan-jalan sayang," jawab Fiona, "Nih, pake tissue, nak," tambahnya, melambaikan selembar tissue kepada Fanny.

"Makasih Maaa..., jadi kita mau kemana?" timpal Fanny dengan riang. 

Gajah

"Mah, lihat itu GAJAH!", Fanny teriak girang, memandang sesosok gajah nan megah di tengah arena. Kebun Binatang memang pilihan bagi pasangan muda ini, yang notabene tidak memiliki banyak waktu untuk mengisi liburannya. Tidak banyak, namun cukup memberi senyum penuh arti bagi pasangan Fiona dan Fido, serta Fanny. 

"Mah, Yah, ikut naik yu!", tambah Fanny, menarik-narik lengan kedua insan dewasa yang menemaninya. "Iyah, iya... sabar nak...," tutur Fiona. 

Arena gajah memang digunakan bagi pengunjung yang ingin menungganginya, mirip dengan arena unta. Satu gajah dapat dinaiki satu keluarga, mengelilingi rute Kebun Binatang yang asri nan rimbun (dengan ongkos tambahan tentunya, hehe).

Fanny tiba-tiba melepas pegangannya, dan mendekati gajah terdekat. "Fanny!", Fiona dan Fido panik, mengejar anak pertamanya. Fanny sudah berada di samping sang gajah bernama Dino, terbatas pagar setinggi kepalanya. Dino berada di ujung terdekat arena, jauh dari kerumunan gajah lainnya. Fiona bertatap muka dengan mata gajah, saling pandang dengan wajah polos. Satu sama lainnya, tidak ada yang maju maupun mundur, dan ekspresi apapun. 

Fanny  lalu memanjangkan tangannya yang memegang sepetik bunga taman, lalu mencoba meraih belalai sang gajah. Jangkauan tangan Fiona terlalu pendek untuk anak berumur empat tahun, namun Dino tampaknya mengerti. Dino mulai menggerakkan belalainya, untuk menggapai tangan sang anak. 

Fanny, tanpa rasa takut sama sekali, tersenyum lebar. Belalai Dino kini mencapai ujung bunga miliknya, dengan mata yang menatap lirih padanya. Salam perkenalan antara mahluk rimba dan manusia kecil dari kota ini, tiba-tiba terlepas tanpa sempat tersurat. Teriakan nyaring dari seorang ibu pun membahana, "Fanny, bahaya!!!". 

Fiona lalu menggapai sang anak, yang langsung terangkat dengan ringannya. Bunga taman pun terjatuh dengan ringan ke rerumputan. Sementara Fido sibuk menahan belalai sang gajah, dengan memposisikan tubuh tegap diantaranya.

Namun tanpa ada peringatan apapun, Dino dengan sumringah menyemprotkan air dari belalainya, tepat menyirami tubuh Fido yang menghalangi. "Woaaaaah!" teriak Fanny, yang lalu turun dari pelukan Fiona, lalu mengambil kembali bunga taman yang jatuh. "Ini hadiah untukmu, gajah!" tambah Fanny dengan sumringah.

Gelak tawa pun mulai terdengar dari Fiona, tepat dibelakang sang suami, tanpa tersiram sedikit pun. Nyaringnya tawa Fiona, tertular ke seluruh pengunjung di sekitar arena. Bahkan sang petugas penjaga arena gajah, ikut tertawa sambil melerai kedua mahluk berbeda spesies ini. Sang gajah Dino sebelumnya memang tengah meminum air dari kolam di tengah arena, dan teralihkan kegiatannya saat melihat Fanny datang mendekat.

"Maaf-maaf, punten ngariwehkeun...," ujar Fido sambil menunduk malu kepada petugas penjaga kebun binatang, yang setengah serius sambil menahan tawa.

Sementara sang suami meminta maaf kepada seorang petugas dengan sungguh-sungguh, Fiona memeriksa tubuh Fanny. Takutnya sang gadis kecil terluka, atau terdapat kotor sedikit pun. Semprotan dis-infectant pun menjadi senjata terakhir Fiona, tentu tanpa melupakan sang suami yang telah basah kuyup. 

Kejadian yang singkat, namun cukup mencengangkan bagi seluruh pengunjung arena gajah. Tidak ada yang menyalahkan siapa pun, melainkan hanya menatap kagum sambil terus menahan tawa atas kejadian ini. Gajah dan seorang anak empat tahun, dua mahluk Tuhan polos yang berpapasan takdir dalam satu momen sederhana (walau epik).

Kue Tart

Siang yang cukup terik, memisahkan ketiga insan muda ini. Sang Ayah yang baru saja mandi, perlu mengunjungi kota untuk berbelanja. Fanny dan Fiona kini berada di rumahnya yang berwarna biru laut, tanpa Fido yang kini mengendarai motornya menuju toko sepeda.

"Ayah kemana, bu?" tanya Fanny. "Ada deh... nanti dikasih tau yah..." timpal Fiona.

"Ini kan ultah Fanny bu..." ujar Fanny dengan bibir dimanyunkan. "Hehe... ntar yah..." sahut Fiona dengan senyum tipis. 

Tiba di rumah, layaknya seorang ibu rumah tangga idaman, Fiona langsung memasak bahan favoritnya, sayur brokoli. Mengesampingkan momen hari spesial untuk Fanny, sayur harus tersedia dalam setiap menu masakannya. 

"Perut emang harus diisi, nak. Tapi, gizi yang terpenting." ujar Fiona.

"Iya, entar rempong kayak mama pas tua ya, hehe," sahut Fanny.

"Empat sehat, lima sempurna nak...," sambut Fiona, dengan nada yang lembut.

Terkilas obrolan masa lalu Fiona dengan ibunya, Diana. Tersenyum sendiri mengingatnya, Fiona tak pernah menyangka bahwa hal tersebut akan menjadi prinsip hidupnya, sekaligus ekspresi cintanya dalam menjalani hidup. Tapi Fiona adalah seorang penerus, yang harus berkembang. Fanny mungkin tidak mengerti, tetapi kue tart berlapis cokelat dan krim tentu menjadi fokus penantiannya.

Strawberry merah terpucuk layaknya piala api diatas kubah nan megah. Sebuah pesta kerajaan tentu tidak akan lengkap dengan seorang putri beserta mahkotanya. Seorang putri yang baru belajar mengenal dunia, dan saatnya belajar untuk menaiki kelana.

Keadaan yang Berbeda

Fanny yang kelelahan, berbaring manja di kamarnya. Boneka gajah dipeluk olehnya, sambil mengingat kejadian tadi. "Coba aku bisa bawa gajah tadi pulang ke rumah," gerutu Fanny.

Kamar yang baru ditidurinya beberapa bulan terakhir, kini serasa lahan bermain bagi Fanny. Dinding berwarna merah muda cerah mengelilingi kasurnya, yang bermotif bunga kehijauan. Tumpukan buku bergambar binatang terlihat di ujung meja, tepat di sebelah kotak mainan. Suasana yang cerah dengan banyak poster pahlawan super favorit Fido, tidak semudah itu menyerap ke dalam perasaan Fanny.

Kala di malam hari, hembusan angin dari tirai jendela sering membangunkan Fanny, yang baru belajar tidur sendiri.  Fanny cukup berani untuk menatap balik ke arah jendela, yang langsung mengarah ke taman belakang. Pohon pinus serta rerumputan kurang terurus menjadi pemandangan khas dari jendela. Di ujung taman, dibangun dinding pembatas setinggi satu meter. Pagar kayu dengan tinggi setengahnya, menghalangi bagian atasnya. Paduan inovasi modern dan produk alam, sanggup membatasi antara taman dan terjalnya dinding serta sungai deras dibawahnya. 

Kadang Fanny merasa sesuatu menatapnya langsung dari arah jendela, khususnya saat malam hari tiba. Perasaan yang sulit digambarkan, karena dinginnya malam tidak menusuk seperti itu. Fanny sekarang ingat perasaan apa itu, layaknya gajah dalam kandang dengan banyak pengunjung menatapnya. Kagum, lucu, atau takut, namun entah apakah itu. 

Terbangun dari lamunannya, kini Fanny merasa tahu sesuatu. Tahu bahwa di luar jendela terdapat sesuatu, yang selalu menatapnya, mengawasi gerak-gerik dirinya. 

"Oh," Fanny akhirnya tersadar, bahwa itu bukanlah sebuah perasaan saja. Dia pun turun dari kasur, dan bergerak menuju jendela.

Taman tampaknya begitu mengundang di sore mendung tersebut.

Akhir Kisah Fido dan Sepeda Roda Tiga

Naas tidak dapat terhindarkan. Fido yang tengah membawa sepeda roda tiga di jok belakang motornya, tidak pernah kembali bersama Fiona dan Fanny. Akibat tersenggol mobil, motor Fido terpaksa berbelok drastis, hingga menabrak pagar pembatas sungai di pusat kota. Aliran sungai Ciliwung yang sedang deras akibat kiriman air hujan dari daerah gunung, menyeret Fido dan motornya sejauh mungkin. Tubuh serta motornya belum dapat ditemukan untuk beberapa lama, padahal sempat dicek oleh rekaman CCTV di lokasi kecelakaan.

Sementara di rumah...

"Ada apa mah?" tanya Fanny, kepada Fiona yang sedang menangis sesenggukan, dengan ponsel dipegang erat oleh kesepuluh jarinya. Kabar dari ponsel mengenai hilangnya Fido, memang tidak dapat diterima sama sekali.

"Maaf ya nak," ujar Fiona, sambil turun dari kursi dan langsung mendekap erat Fanny. 

"Ayah baru saja celaka. Mungkin dia tidak dapat pulang (lagi)," tambahnya.

"Lah, tadi kan ayah pulang. Baru aja ketemu tadi. Tuh, Fanny sudah punya hadiah ultah hari ini," ujar Fanny dengan polosnya, sambil menunjuk ke arah taman.

"Eh, ngomong apa kamu Fanny?" tanya Fiona, kebingungan. 

"Sini geura, mah," timpal Fanny, sambil menggiring tangan Fiona menuju pintu di arah dapur, menuju lokasi taman belakang.

Tepat setelah membuka pintu belakang menuju taman, disaat guyuran hujan yang dengan rintik-lembutnya turun, sebuah pemandangan ganjil membuat tertegun Fiona. Terdapat sebuah sepeda roda tiga, yang ditempatkan rapih nan bersih akibat terbasahi air, di tengah rerumputan taman. 

Tidak hanya sepeda, terikat pula pada bagian stangnya, pita merah mudah lebar bertuliskan 'Selamat Hari Ultah Fanny'. Tersematnya pita tersebut, mengingatkan momen indah saat Fido dan Fiona, tengah memilih pita hadiah bagi sepeda Fanny.

Tidak sanggup memandangi hadiah terakhir dari suaminya, Fiona lalu terjatuh duduk,  menangis sejadi-jadinya.

Epilog

Beberapa minggu kemudian telah berlalu, setelah prosesi pemakaman Fido yang bersemayam tanpa keberadaan tubuhnya. Keadaan rumah Fido berisi Diana, Fiona, Fanny, masih terasa suram. 

Aura kesedihan semakin terasa, akibat kue tart ulang tahun Fanny yang belum pernah tiba di lokasi rumah. Entah apa yang terjadi pada kurir pengirim kue tart, di hari yang sama saat Fido menghilang, karena masih dalam status pengiriman, hingga kini.

TAMAT.