![]() |
| Jurig jahanam dari dunia digital sana (TMDB). |
DAAAAAN, sekarang saatnya membahas film yang memulai semuanya, akibat internet yang semakin menggila sejak tahun 2000an lalu. Yaitu dengan membahas film horor berjudul Kairo dari Jepang sana, yang rilis pada tahun 2001 lalu.
Oh ya sebelum dibahas, penulis memperingatkan untuk jangan menonton adaptasi Hollywood berjudul Pulse (2006), karena filmnya gak jelas dan jauh dari maksud film orisinalnya.
Dan perlu dijabarkan sebelumnya, mengenai sedikit sinopsis dan plot film Kairo. Film ini berlatar di Tokyo awal tahun 2000an, saat integrasi komputer pribadi dan internet mulai ramai. Namun yang terjadi, adalah munculnya mahluk lain dari Inet. Lahan digital ini seakan membuka gerbang supernatural, yang berakibat banyak warga mengalami teror, bahkan hingga tingkatan diluar nalar.
Untuk sinematografinya, film Kairo memang khas Jepang dari tahun 2000an. Yaitu dengan adegan kalem serta sudut pandang kamera yang diam, serta drama yang kurang kentara. Namun karena bergenre horor, justru mengakibatkan atmosfer ngeri yang bikin merinding.
![]() |
| Magang yang damai diatas atap gedung (TMDB). |
Internet dan Simulasi Titik Sosial
Awalnya adalah film yang dimulai dengan cukup santai dan sederhana. Michi dan temannya adalah sekelompok mahasiswa, yang magang bersama dosennya diatas atap. Mereka magang untuk mengasuh sebuah rumah kaca, lengkap dengan beberapa tanaman yang berada dalam pot.
Sementara tokoh utama lainnya adalah Ryosuke, seorang mahasiswa yang suka bermain gim dalam komputernya, dan sering nongkrong di laboratorium komputer milik kampusnya. Ryosuke pun baru penasaran dengan internet, sehingga sering menanyakan fitur ini ke laborannya.
Kebetulan laboran bersama dosen informatika, tengah melaksanakan penelitian simulasi titik sosial. Simulasi ini ditampilkan dengan banyak titik berwarna putih dalam layar yang hitam. Setiap titik mewakili warga yang terhubung di dunia nyata maupun internet. Hasilnya adalah setiap titik putih akan saling menarik satu sama lainnya, layaknya ketertarikan sosial ala warga biasa.
Maksudnya tentu, simulasi ini memiliki simbol khusus, layaknya media sosial di jaman sekarang. Bentuknya yang terlalu meta, memang masih dalam tingkat purwarupa. Namun forum internet di jaman 2000an sebenarnya telah ramai, walau hanya bisa berbagi pesan saja (ala SBS).
Nah, setelah adegan inilah, kisah perkenalan film yang damai terhenti. Berikutnya selama sisa durasi film Kairo, yang ada hanya kengerian semata, yang semakin menyimbolkan horornya sosial melalui dunia digital.
![]() |
| Ini PC ama purwarupa medsosnya bagus (TMDB). |
Lakban Merah (Red Tape/Band)
Dalam adegan film selama durasi awal, terdapat beberapa kejadian aneh yang cukup terisolasi. Beberapa warga sekitar kampus hilang, ditemukan meninggal, atau mengakhiri hidup di dalam kamarnya sendiri. Kejadian ini dianggap kasus khusus, karena Jepang saat jaman ini sering mengalami isu sosial tersebut.
Namun setelah kematian naas terjadi, lahan rumah atau kamar korban justru tidak ditempeli oleh garis polisi, sebagai bagian dari investigasi. Malahan, lokasi TKP justru ditutupi oleh Lakban Merah sebagai tandanya. Bahkan tidak hanya berasal dari segel polisi, namun beberapa TKP justru ditemukan dengan lakban merah yang sudah tertempel di sela jendela atau pintu.
Visual yang kentara, jika lakban merah diartikan ke bahasa inggris, berarti Red Band atau Red Tape. Istilah ini sering digunakan dalam dunia perfilman dan sinematografi, yang berarti konten (video atau gambar) ini memiliki rating umur tinggi dan berisi adegan mendarah-darah atau mendaging-daging (gore). Istilah red band biasa disematkan pada judul cuplikan film, sebagai peringatan agar anak dibawah umur tidak menontonnya.
Nah, apa hubungannya dengan film Kairo ini? Berarti lokasi TKP dengan kematiaan naasnya, adalah lokasi berbahaya. Hanya polisi dan proses investigasinya, yang diperbolehkan masuk. Isinya tentu berbahaya bagi warga biasa, dan saksinya mungkin trauma saat pertama kali menemukannya.
Namun mengapa banyak TKP ditemukan dengan lakban merah? Berarti mengacu pada dunia digitalnya itu sendiri. Korban sebenarnya merasa diteror oleh kabar dari komputer, atau internetnya sendiri. Dunia Inet yang sering brutal (pada masa itu) tanpa sensor yang terjaga, justru mengakibatkan aliran informasi yang sangat berlebihan dan berbahaya.
Okeh sampai sini, filmnya belum mengacu ke supernatural, melainkan simbol aneh yang digunakan oleh aparat dan korban meninggal, tanpa dijelaskan lagi (ala anime yang cerewet).
![]() |
| Pintu yang sudah tersegel Lakban Merah (TMDB). |
Abu Kematian
Kali ini, filmnya sudah mencapai pertengahan durasi. Banyak kabar dan adegan ngeri, mulai bermunculan. Mulai dari panggilan telepon tanpa ada suara di ujung alias pemanggilnya, hingga kemunculan halusinasi semacam arwah. Suasana pun berubah dingin tapi aneh, saat banyak warga mulai tidak fokus, sering meracau, hingga panik sendiri.
Kemunculan arwah mulai meneror warga, dengan beberapa anggota keluarga yang telah lama meninggal, tiba-tiba muncul dalam keseharian. Banyak yang merasa rindu atau malah tertekan, akibat arwah dari kenalannya.
Semua momen ngeri ini dimulai saat warga terpapar dunia digital, baik itu melalui komputer yang sedang luring, atau terhubung daring dengan internet. Perlu diingat bahwa jaman ini, jaringan masih internet masih menggunakan saluran telepon rumah, dan kadang menelpon sendiri (?).
Ternyata sesi ini hanya awalnya saja. Banyak warga mulai lesu alias kurang semangat, mengakhiri hidupnya dengan naas. Baik itu di kamar sendiri maupun saat ditemani orang lain, atau bahkan di lingkungan yang sedang ramai, banyak warga melaksanakan akhir hidupnya.
Namun setiap kematian yang terjadi, baik itu yang wajar maupun tidak, ternyata menyisakan sesuatu. Yaitu sejenis noda bekas terbakar, layaknya sisa bahan yang hangus akibat api atau abu yang ditempelkan pada lantai dan dinding.
Simbol yang sangat kentara, yaitu setiap kematian warga di Jepang, maka jenazah akan dikremasi terlebih dahulu hingga menjadi abu, sebelum akhirnya dimakamkan dalam kuburan beserta nisannya.
![]() |
| Abu kematian (TMDB). |
Memang sedikit simbol yang ditelaah, namun banyak signifikansinya jika memakai sudut pandang budaya Jepang (seperti diatas).
Maksud paling kentara, adalah 'invasi' dunia lain melalui dunia digital, yang semakin intensif melalui jaringan telepon dan internet. Dua media yang terhubung melalui komputer di rumah, menjadi jembatan menuju dunia maya sekaligus mistis.
Perlu diingat sebelumnya, bahwa film Kairo berlandaskan tahun 2000an awal, saat jaman informasi baru dimulai, dan internet merebak sebagai fiturnya. Saat itu, kesan media berbeda dengan sekarang. Media jaman tersebut masih terasa keramat, namun tetap menyebalkan (dan kadang berbahaya). Sementara media di jaman sekarang sangat ramai, walau tidak terasa penting alias pecicilan. Film Kairo, memang produk dari masanya.
Tetapi yang perlu diingat, bahwa film Kairo bermaksud sesuatu yang lebih mendasar. Di jaman sekarang bahkan terasa lebih kentara, dengan banyaknya kabar yang kadang tidak ingin kita dengar, tetapi sering muncul akibat perlu mengecek media sosial di internet.
Banyak kabar lain-lain, yang bahkan tidak sesuai dengan lingkungan sosial dan kerja kita, saling berjumpalitan melalui penghubung sosial manapun. Kadang terasa penting, berfaedah, nihil, emosional, sedih, suka, atau bahkan kebencian, namun infonya tetap saja terserap.
Variatifnya informasi tersebut layaknya dunia Schizofrenia yang dimaksudkan untuk mengganggu mental warga. Pasti terasa bahwa konten yang berbeda setiap kali menggeser medsos, dapat menciptakan gejala 'Mood Swings' (perubahan suasana hati yang bergejolak). Istilah mental ini, adalah bagian dari gangguan mental Bipolar, saat penderitanya tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
Pernah terasa bahwa Schizofrenia dan Bipolar, yang gejalanya (mood swings) adalah bagian dari gangguan jurig? Pernah ingat bahwa istilah jurig dari paranormal terdahulu, bahwa kekuatan supernatural semakin masuk akibat targetnya terjebak dalam sugestinya sendiri? Ingatkah pula, bahwa siklus dalam otak manusia berisi reaksi biologis, kimiawi, serta energi berbentuk listrik?
Ya, setidaknya dapat terjawab dari dalam diri pribadi, dengan mengecek selama dan sebanyak apa memainkan internet bersama medsos dan dunia digitalnya. Dan ya, maksud lain dari film Kairo ini adalah masalah kesehatan mental, akibat terlalu banyak terpapar dunia digital.
Wassalam.
![]() |
| Michi yang emosinya stabil dan Ryosuke yang sering gerak cepat (TMDB). |
Oh ya,... daripada kebanyakan galau, coba dengarkan senandung indah dari penyanyi Jepang Cocco berjudul Lay Down My Arms. Dari judulnya saja, lagu penutup film Kairo ini, sudah meminta untuk beristirahat dan cari damai saja.
Dan terus semangat berkarya, walau banyak teman dan keluarga yang sudah berguguran.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.