![]() |
| Joi dan K yang romantis (TMDB). |
Artikel sebelumnya membahas teknologi yang dapat menggantikan peran manusia, namun bentuknya masih kecerdasan buatan dan robotik. Bagaimana jika mereka bahkan sanggup menggantikan manusia, secara biologis dan bukannya mekanik ala standar mesin?
Di artikel ini, berlatarkan dua film yang mengacu pada gender manusia, atau lebih tepatnya rahim buatan. Filmnya adalah Ex Machina (2015), serta Blade Runner 2049 (2017). Mekanisme rekayasa rahim, dibuat oleh kombinasi kecerdasan buatan, robotik, serta kloning yang sanggup menciptakan manusia dari nol.
Berita Mengenai Rahim Buatan
Terdapat berita yang muncul pada bulan Agustus 2025 lalu, saat robot dari China sedang diteliti sebagai rahim buatan. Namun karena simpang siurnya info, maka berita tersebut dinyatakan sebagai hoax oleh Tempo (Februari 2026).
Penelitian rahim buatan sebenarnya telah dikembangkan sejak lama, yaitu tahun 1920an, untuk membantu ibu yang tidak mampu hamil. Namun perkembangannya tidak sepesat itu, akibat regulasi embrio dalam penelitian. Sehingga, banyak kabar berakhir hoax atau salah paham dengan maksud dari penelitian rahim.
Contoh lainnya adalah saat Rumah Sakit Anak Philadelphia mengembangkan rekayasa bayi tabung tahun 2016 lalu, demi menyelamatkan anak kambing yang lahir prematur. Operasi medis dinyatakan berhasil, walau kabarnya menjadi simpang siur.
Memang kisah seperti ini mengacu pada rekayasa rahim buatan serta proses kloning, yang berarti uji sains yang mengarah ke rahim buatan. Karena itu, penulis akan membahas dari skenario film futuristik. Seperti biasa pula, kombinasi antara manusia dan teknologi yang kentara, mengarah ke dunia cyberpunk.
![]() |
| Ava yang terlihat meyakinkan (TMDB). |
Ketertarikan Seksual dengan Robot dalam Film Ex Machina
Pertama, tentu tidak langsung membahas dunia cyberpunk, karena syaratnya banyak untuk mencapai tahap sub-genre yang brutal ini (contoh pada artikel VR sebelumnya). Jadi yang pertama dibahas adalah film Ex Machina, yang sudah mengarah ke masalah robot berupa wanita.
Walau dalam judul artikelnya lebih ke seksual, tapi adegan filmnya tidak semesum itu. Justru film ini lebih mengarah ke horor psikologis, dimana interaksi karakternya berasa ngeri dan berbahaya.
Dalam Ex Machina, karakter utama bernama Caleb adalah seorang penulis indie, yang tidak terkait dengan media massa manapun. Dirinya adalah penulis solo dengan teknis publikasi mandiri (layaknya blogger), sehingga disukai oleh karakter utama lainnya bernama Nathan (Oscar Isaac).
Layaknya seorang milioner dan teknokrat, Nathan memiliki visi, misi, dan karakter yang eksentrik. Saking jeniusnya, dia berhasil menciptakan AI alias kecerdasan buatan, lengkap dengan rekayasa robotiknya.
Namun, dalam tahap ini, pasar masih menggunakan teknologi robot biasa, yang tidak secerdas AI. Sementara di rumah kediaman serta laboratoriumnya, sebenarnya Nathan telah berhasil menciptakan robot yang sangat cerdas AI-nya.
Caleb yang bekerja sebagai penulis mandiri, lalu diundang oleh Nathan ke rumah kediamannya. Dirinya harus mewawancarai seorang purwarupa robot dan AI-nya, bernama Ava (Alicia Vikander). Dari sini, ceritanya berkembang menjadi interaksi aneh antara Caleb yang manusiawi, serta Ava yang masih belajar, dengan Nathan yang eksentrik nan ambisius.
Tidak hanya interaksi, tetapi Nathan memiliki hubungan khusus yang terselubung dengan robot Ava. Dia memiliki ketertarikan seksual khusus, yang akan berujung konflik dengan Ava yang cukup manusiawi dibanding robot lainnya.
Nah dari sedikit adegannya saja, film ini masih mirip dengan artikel sebelumnya, dimana seorang kecerdasan buatan dapat mencapai tingkatan sentien. Contohnya dalam film I, Robot yang berkarakter utama Sonny, seorang robot yang berhasil menemukan emosinya sendiri.
Perbedaan utamanya, adalah saat karakter Sonny lebih mengacu pada pria, namun di film ini Ava lebih mengacu karakter wanita, dengan ketertarikan seksualnya. Terlihat cantik dan anggun, Ava sengaja diciptakan seperti itu oleh Nathan.
![]() |
| Lokasi arsip warga LA, dan replicant-nya (TMDB). |
Rahim Buatan Massal Ala Blade Runner 2049
Nah kalau yang satu ini, sudah mengacu pada edannya sub-genre cyberpunk, dimana dunianya sudah kacau-balau akibat perang sebelumnya, sehingga banyak lokasi menjadi puing reruntuhan.
Sementara di lokasi hunian aman, penuh sesak karena hanya terpusat disitu saja. Kemajuan teknologi masih mendukung peradaban manusia, walau normanya sudah tergerus oleh korporat yang menguasai, dan pemerintah yang sudah hilang keberadaanya.
Oh ya, ada tiga nama terkenal yang muncul sebagai karakter di film ini. Yaitu Ryan Gosling yang selalu berkarakter unik dalam filmnya. Lalu ada Harrison Ford, yang menjadi cameo dari film Blade Runner pertama (1984). Jared Leto pun muncul sebagai cameo, dengan durasi adegan yang sangat minim.
Sementara Anna de Armas, naik pamornya sejak film ini. Terakhir pada tahun 2025 lalu, Armas membintangi film Ballerina, sebagai film spin-off dari waralaba aksi terkenal, John Wick.
Bautista pun menunjukan bakat aktingnya, mulai dari film ini. Walau hanya sedikit durasinya, wajah emosional serta dialog filosofis dari Bautista, sangat meyakinkan bahwa aktor dari WWE ini bisa berakting dengan baik.
Film Blade Runner 2049 memang mengacu pada replicant, yaitu sejenis robot android. Mekanisme robot android, adalah kombinasi manusia (organik) dengan robot (mesin), yang sanggup berperilaku dengan kecerdasan sepintar manusia, namun tubuh dan mentalnya masih terbatas aturan robotik.
Kembali ke robotik, replicant di film ini masih mengacu Tiga Pedoman Robotik dari Isaac Asimov, yang dibahas dalam artikel sebelumnya tentang I, Robot (lagi).
Namun disini, replicant telah berkembang jauh, dan menjadi kegalauan khusus para manusia serta pengembangnya sendiri. Replicant diciptakan demi perang, yang berakhir buruk bagi semuanya. Replicant memiliki kemampuan fisik melebihi manusia, karena tercipta dari kombinasi robotik dan organik.
Sementara manusia bertahan dengan teknologi yang tersisa, replicant masih digunakan demi membantu peradaban. Banyak replicant veteran perang, diubah perannya menjadi anggota kepolisian, atau aparat keamanan. Sementara replicant baru yang tidak terlibat perang, dapat dipesan sebagai asisten rumah tangga, atau apapun jenis pekerjaannya.
Jadi, robot android dengan istilah replicant dalam waralaba film Blade Runner, sudah hampir disejajarkan dengan manusia. Bahkan beberapa bagian tubuhnya adalah organik, dengan reaksi biologis dan kimiawinya sendiri. Namun karena diproduksi masal layaknya mesin, warga di dunia dystopia ini banyak yang kurang suka dengan kehadiran replicant.
Filmnya berfokus pada karakter replicant bernama K (Ryan Gosling), yang bekerja sebagai detektif di kepolisian Los Angeles. Walau dirinya tetap dianggap robot semata, tetapi diberi hubungan batin khusus. Terdapat banyak adegan romantis antara K dengan pacar AI-nya, bernama Joi (Anna de Armas).
Hubungan keduanya memang paradoks, dimana robot harus membina hubungan romansa dengan seorang AI. Replicant yang berupa hibrida teknologi manusia, memang dijaga kondisi jiwanya oleh aturan setempat. Karena itu, hubungan batin dan kesehatan psikologis para replicant, dijaga agar bekerja dengan baik, layaknya dorongan psikologis manusia.
Kondisi seperti ini, mirip dengan manusia yang tertarik dengan robot ciptaanya sendiri, dalam film Ex Machina. Nah berikutnya, adalah misi diluar nalar yang menciptakan kisah Blade Runner 2049, menjadi pertanyaan filosofis (lagi) mengenai keberadaan dan peran manusia diantara teknologinya sendiri.
![]() |
| K yang sudah habis-habisan (TMDB). |
Misi Utama K sebagai Replicant, Anggota Kepolisian, dan Mahluk Sentien
Misi K sebagai detektif kepolisian adalah mencari keberadaan replicant yang hilang. Para replicant, apalagi yang berlatar veteran perang, kadang tidak memiliki tempat di masyarakat Los Angeles. Dan mirip misi karakter Rick Deckard (Harrison Ford) di film sebelumnya, plot utama film ini adalah mencari replicant yang terbengkalai.
Namun, misinya berubah drastis dengan tidak mengarah ke kekerasan (seperti film sebelumnya), namun mengacu pada seorang replicant yang ternyata bisa hamil dan melahirkan.
Para replicant banyak yang tergabung dalam komunitas khusus, untuk mandiri dan mengasingkan diri. Karena itu, ketika K menjalankan misinya, banyak replicant yang menghalau atau tidak mau memberi informasi.
Sementara replicant yang bisa hamil dan melahirkan, adalah keajaiban dari hasil sains, Walau didesain mirip dengan manusia, tubuh replicant tidak seharusnya bisa mengandung anak.
Apalagi pada adegan yang menampilkan Niander Wallace (Jared Leto), selaku pemilik Wallace Corporation. Perusahaan ini memonopoli produksi replicant di Los Angeles, yang menjadi sumber semua robot.
Dalam adegannya, terlihat Wallace yang menarik seorang replicant dari rahim buatan berukuran raksasa. Adega ini tidak signifikan pada plotnya, tetapi menunjukkan bahwa para replicant hanyalah sebuah produk semata.
![]() |
| Robot dan anaknya (Freepik). |
Petunjuk Berikutnya dari Penulis Cyberpunk
Pertanyaan filosofis yang sama pun muncul di akhir artikel ini, mirip dengan artikel sebelumnya yang mengacu pada VR dan robotik.
Robot dan kecerdasan buatan hasil karya manusia, bahkan bisa menggantikan peran dan karakter manusia, hingga sedetail reaksi biologis dan kimiawinya. Walau masih berupa android hibrida manusia, tetapi fungsi seksual alias berkembang biak adalah karakter utama mahluk hidup, yang dapat pula direkayasa.
Bahkan dengan perkembangan sosial dan komunitas replicant, ternyata sanggup menciptakan masyarakat dan normanya sendiri. Bahkan hubungan batin yang semakin kuat diantara replicant, menjadi kecerdasan emosional yang kuat pula, layaknya mahluk hidup.
Jika replicant memang masih berupa robot semata, maka tidak akan ada halangan bagi K, saat mencari jejak replicant unik yang sebelumnya hilang.
Jadi, apakah peran manusia memang sudah seharusnya tergantikan? Atau memang ada perkembangan lain dengan hibrida manusia dan teknologi itu sendiri?
Wassalam, dan Titik-titik...











Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.