Analisa Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Kisah Simbolis Mengunjungi Lahiran Keluarga Ala FEAR 3

Alma yang selalu suram (Moddb).

Kali ini adalah gim yang serba heboh namun berlandaskan horor, berjudul F.E.A.R. 3 yang berupa First Person Shooter. Gim ini dibahas karena seri paling beda dari waralabanya, serta arahan misi yang simbolis. 

Namun, sebenarnya gim ini diarahkan oleh John Carpenter, salah satu maestro sutradara film horor dari Hollywood, yang pernah memimpin produksi film The Thing (1982). Walau begitu, penulis kurang paham sebanyak apa arahan dari Carpenter, selain tentu cutscene di gim ini. 

Bisa dibilang dari segi cerita dan gameplay, F.E.A.R 1 layaknya kisah horor dari film Jepang awal tahun 2000an (Ringu), lalu F.E.A.R 2 adalah kisah dari banyak film horor Jepang, yang agak jauh dari orisinalnya (Ju-On). Sementara F.E.A.R 3 malah berubah menjadi kisah horor yang heboh ala karya Stephen King saat kesetanan.

Nah, tapi bukan arahan gameplay maupun cerita yang dibahas dalam artikel ini. Penulis justru 100 persen menyimbolkan seluruh sesi dari gim F.E.A.R 3, menjadi kisah lainnya. Ya, artikel ini semacam paradoks dari seri terakhir gim F.E.A.R., yang tidak mengisahkan world building atau lore dari kisah aslinya. Organisasi jahat Armacham sebagai musuh utama pun tidak akan dibahas.

Kisahnya mengenai dua saudara bernama Point Man dan Fettel, sebagai bagian dari keluarga horor Alma. Keduanya sempat berseteru di seri pertama, dan kini justru bekerja sama untuk mengunjungi Alma yang sedang melahirkan. Ya, ibu mereka yang sudah lama tidak mengandung, akhirnya melahirkan anak ketiganya.

Dari sini penulis minta untuk membuat liar imajinasi. Dengan mengesampingkan seluruh kisah, aksi, dan adegan horor yang tersaji di setiap bab (misi atau interval) F.E.A.R 3, bayangkan saja bahwa kisah ini adalah dua saudara yang mengunjungi ibunya yang sudah tua, tapi hamil kembali. 

Ya, artikel ini memang paradoks dari proses berimajinasi, yaitu dengan membelok atas apa yang ada, dengan pemahaman lain yang simbolis. 

Berasa terkekang di rumah sendiri (YouTube).

Berangkat dari Rumah di Interval 1: Prison

Untuk misi pertama, justru kisahnya diawali dari sebuah penjara, dimana Point Man disekap dan perlu dibantu oleh Fettel untuk melarikan diri. Dari situ saja sudah menyimbolkan, bahwa lokasi hunian adalah semacam penjara bagi keduanya. 

Lucunya di dunia gim, kadang penjara adalah simbol khusus untuk dunia nyata. Ya, banyak gim yang mengacu tetapi tidak segamblang itu menjelaskan, bahwa dunia nyata adalah semacam penjara. 

Sementara dunia fiksi nan fantasi dalam dunia gim, adalah lahan untuk bebas dari kekangan tersebut. Contoh paling kuatnya adalah seri Elder Scroll, saat setiap serinya diawali dengan membuat karakter berlatar napi.

Terdapat petunjuk lain yang cocok, yaitu saat sosok supernatural Alma yang muncul di misi penjara ini. Sosok Alma muncul sebagai bantuan untuk membasmi musuh, walau tetap terganggu oleh sosok lainnya. Sosok bernama The Creep adalah arwah jahat dari yang dikenal, namun berbeda tujuannya.

Namun secara simbolis, akhir kisah di misi ini adalah sosok orangtua bagi Point Man dan Fettel, yang teringat saat akan berangkat dari rumah.

Lingkungan yang masih suram (YouTube).

Melewati Jalan yang Sulit di Interval 2: Slums

Berikutnya kedua bersaudara perlu melewati daerah hunian mereka, yaitu daerah kumuh yang penuh luka-liku. Masih mengacu pada simbol sebelumnya, walaupun tidak sejelek itu kawasannya, tetapi suasana hati dan penggambarannya (gimnya) masih jelek. Rumah sendiri saja disimbolkan sebagai penjara, maka lingkungan di sekitarnya adalah kawasan kumuh. 

Saatnya berbelanja di mal yang luas (YouTube).

Berbelanja Kebutuhan dan Oleh-oleh di Interval 3: Store

Kali ini, adalah sesi dimana kedua saudara belanja kebutuhan untuk bekal selama perjalanan. Ya, sesi yang terpusat di lokasi perbelanjaan ini, adalah tempat dimana Fettel dan Point Man makan, lalu berbelanja bekal, dan mencari hadiah serta oleh-oleh untuk sang ibu.

Selayaknya ritual mengunjungi keluarga, di AS sana terdapat pula ritual memberi oleh-oleh. Apalagi jika sudah jarang bertemu, dan akhirnya bertemu pada momen yang lebih spesial.

Simbol paling kuatnya, adalah sesi aneh yang menggambarkan sebuah keranjang bayi, tepat di tengah toko. Terlihat megah, aneh, dan terlalu besar, tetapi bukankah keranjang bayi adalah hadiah yang cocok bagi ibu saat menjelang kelahiran?

Daerah hunian yang damai (YouTube).

Bernostalgia di Interval 4: Suburbs

Nah untuk yang satu ini, suasana hati kedua saudara semakin membaik. Tidak hanya lingkungan yang lebih bersih, aman, dan rapih, tetapi bernostalgia dengan keadaan rumah terdahulu. Obrolan keduanya pun semakin nyambung, walau disini Point Man masih diam saja, sementara Fettel terus cerocos sendiri (?).

Lingkungannya memang berada di kompleks rumah yang luas, lengkap dengan taman bermain bagi anak-anak. Kemunculan Alma pun semakin muncul, yang semakin disukai oleh para 'tetangganya.' 

Tidak hanya taman bermain, sejenis robot mecha pun datang menghadang, layaknya mainan robot-robotan bagi anak kecil. Tidak hanya melawan, satu diantara mecha pun berhasil ditunggangi, hingga area berikutnya.

Di akhir sesi ini, kedua saudara perlu menjemput satu kenalan, bernama Jin Sun-kwon. Gadis ini adalah teman keluarga yang cukup dekat, jadi perlu hadir selama sesi persalinan Alma.

Pusat kota yang terlalu ramai (YouTube).

Melewati Macetnya Pusat Kota di Interval 5: Tower

Karena sudah berbelanja dan melewati daerah hunian, maka kedua bersaudara melewati ramainya pusat kota. Di pusat kota yang hiruk pikuk, semakin banyak saja masalah yang dihadapi. Mulai dari jalanan macet, hingga area yang sulit dilewati. 

Bahkan kabar dari Alma pun semakin intensif. Tidak hanya muncul memori dari sosok ibu, tetapi kabarnya yang mengalami masalah konstraksi. Bahkan secara harfiah, teriakan sang ibu terdengar di seluruh kota. Bareng dengan kabar tersebut, The Creep semakin sering muncul dan mengganggu langsung kedua saudara, tidak seperti sebelumnya.

Luka-liku jalan yang sulit hingga macet, sulitnya mencari akses jalan lancar, lalu banyaknya perubahan di kota, menyebabkan kedua bersaudara yang sudah hampir seharian di jalan, sangat kelelahan. Padahal, tantangan disini adalah yang paling ramai dan banyak variasinya.

Jembatan layang yang banyak patrolinya (YouTube).

Jalan Layang yang Seharusnya Landai di Interval 6: Bridge

Jalan layang biasanya dimaksudkan sebagai jalan yang lancar, dan sampai ke tujuan dengan lebih mudah. Namun dalam sesi ini, malah jalur paling sulit. Setelah tiba di jalan layang, banyak halangan seperti macet akibat blokade. Padahal, jalan layang ini adalah jembatan pula, yang menghubungkan dua lokasi kota.

Tidak hanya kereta api yang sempat kecelakaan, banyak mahluk supernatural tiba dan korban lainnya yang bergelimpangan. Blokade jalan pun semakin penuh, dengan setiap pos pemeriksaan yang dijaga ketat. Akibatnya, helikopter pun perlu berpatroli di sekitar jembatan layang, demi memperketat keamanan.

Bandara yang menjadi transportasi utama (YouTube).

Tiba juga di Bandara Ala Interval 7: Port

Untuk yang satu ini, keadaan justru lebih lega karena sudah tiba di bandara. Perlu diingat, desain kota di AS memang seperti ini. Infrastruktur besar untuk transportasi bandar udara, memang sengaja dipisahkan dari pusat kota. Karena itu, sesi sebelumnya perlu melewati jembatan layang. 

Tidak hanya itu, sesi menggunakan pesawat terbang pun biasa saja bagi warga AS. Di sana, menaiki pesawat terbang tidak ada bedanya dengan menaiki bus antar kota atau negara bagian. Bahkan istilah lainnya bagi pesawat, adalah airbus alias bus udara. Biayanya saja yang lebih mahal, serta kondisi di darat atau udara.

Hiruk-pikuknya pun minim, yaitu akibat sesi boarding dan memilah tas, yang sering menjadi masalah di bandara. Khusus di bandara, sesi memilah nomor bagi tas yang dibawa, saat berangkat dan sudah tiba, adalah sesi rumitnya sendiri.

Secara harfiah, kedua saudara pun melewati ini dengan lorong conveyor yang berisi banyak tas, dan perlu dilewati langsung demi mencapai pesawat. Di sesi ini, sosok The Creep muncul dengan lebih kentara. The Creep sebenarnya anggota keluarga juga, tetapi tidak akan dibahas karena spoiler.

Fettel yang pernah sakit di RS (YouTube).

Sampailah di Bangsal Rumah Sakit Ala Interval 8: Ward

Khusus untuk sesi ini, rasa nostalgia semakin kentara. Dengan Fettel yang semakin banyak curhat tentang trauma masa lalu, lalu Point Man yang sebenarnya heran sedang menghadapi masalah apa. 

Bahkan musuh disini, adalah munculnya The Creep saja. Namun berbeda dengan sebelumnya, The Creep muncul langsung untuk mengganggu jiwa serta fisik kedua saudara. Kedua bersaudara harus mengenang hal-hal sulit di masa lalu, demi mendamaikan dan menyiapkan diri mereka pada momen berikutnya.

Momen yang ditunggu pun tiba, dengan kelahiran adik baru mereka. Kisahnya pun tamat, sementara kelanjutannya adalah open interpretation, karena seri ini belum dilanjutkan sama sekali sejak tahun 2011 lalu.

End.

Bagikan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Logo Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Rekomendasi

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece