Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horor. Tampilkan semua postingan

13 Januari 2026

Siluman Raksasa Nusantara Ala Film Penunggu Rumah Buto Ijo

 

Buto Ijo lagi ngintip (TMDB).

Okeh, sekarang film horor berikutnya, yang ternyata mencoba mengangkat cerita dongeng Timun Mas, tetapi lebih berlatar horor, dengan judul Penunggu Rumah: Buto Ijo. Tentu, dengan rating cukup dewasa, alias D17, yang akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ketiga Januari ini.

Animo yang dibawakan pun cukup menarik, karena banyak menggunakan efek CGI untuk karakter Buto Ijonya. Tidak begitu ciamik ala film Hollywood, namun cukup menggambarkan karakter ngeri ini.

Yang masih ingat kisah Timun Mas, pasti paham arahan plot film Buto Ijo ini. Apalagi, sebenarnya Buto Ijo digambarkan berbeda dalam kisah wayangnya. Maka, penulis mencoba untuk menggambarkan kembali, bagaimana aslinya karakter Buto Ijo, alias Buta Hejo dari Wayang Golek daerah Sunda.

Karakter Buta Hejo Alias Buto Ijo

Buta Hejo adalah satu karakter favorit penulis dari kisah dan pagelaran Wayang Golek. Tentu, favorit utamanya adalah Trio Cepot, Udawala, dan Gareng serta sang ayah, bernama Semar. 

Karena itu, favicon serta foto profil penulis pun, diberi wajah Sisingaan yang lengkap dengan iket Sundanya, atau sejenis Barongsai. Avatar ini tidak cukup mirip dengan Leak dari Bali, tetapi lebih mirip dengan karakter Buta Hejo dari Wayang Golek. 

Memang di Sunda, Buta Hejo tidak berwarna hijau menyeluruh, namun khas utamanya adalah giginya yang besar. Jika disandingkan dengan karya Dalang Legendaris Asep Sunandar Sunarya, Buta Hejo terlihat seperti karakter wayang ala Cepot, tetapi dengan kulit lebih pucat, hijau atau merah. Lucunya, jika kalah  bertarung atau dipukul, dari dalam mulutnya keluar satu rangkaian ular yang banyak sekali (Borolo Oray) (^^).

Memang di Wayang Golek, karakter Buta Hejo tidak begitu horor alias mengerikan. Ala Cepot dan saudaranya, Buta Hejo disandingkan dalam satu cerita, dimana banyak kekonyolan terjadi. 

Bahkan menurut GoodNovel, secara simbolis Buto Ijo memang mewakili kekuatan alamiah dan kekacauan spontan (Borolo Oray!). Buto Ijo memang harus dihadapi langsung dengan cara fisik atau humor.

Dari segitu saja, memang cocok sebagai karakter yang hampir mencapai tingkatan lucu-lucuan (Gag). Tetapi simbolisnya, jika dihadapi langsung dengan cara kerja fisik atau humor, layaknya sebuah masalah yang harus dibereskan sekalian, atau disepelekan dengan cara bodor.

Buta Hejo Borolo Orok (Facebook). 

Sinopsis Film Penunggu Rumah: Buto Ijo

Srini (Celine Evangelista) adalah seorang janda yang baru saja pindah rumah baru bersama anak semata wayangnya, Tisya (Meryem Hasanah). Namun, belum lama tinggal di rumah tersebut, banyak kejadian mistis aneh menimpa mereka. 

Karena butuh bantuan mistis, maka Srini menghubungi Ali (Gandhi Fernando) serta saudarinya, Lana (Valerie Thomas). Keduanya adalah kreator konten, yang khas dan berfokus pada kisah horor.

Namun, belum lama keduanya beroperasi, kengerian mistis di rumah malah makin berbahaya. Penampakan serta paniknya Tisya, semakin meruak di seluruh area rumah.

Apakah memang Buto Ijo semengerikan itu? Atau memang kasihan dengan janda anak satu tanpa suami? Sementara itu, Buto Ijo pun kesel sama viralisasi ala para kreator konten?

Jawabannya, tentu ada di pagelaran wayang ala sinema Indonesia.

Terjebak di Alam Lain Akibat Angkernya Jalanan Film Alas Roban

 

Busnya saja sudah angker (TMDB).

Berikutnya dalam minggu ketiga Januari yang penuh aura horor ini, kembali juga satu kisah yang merupakan legenda urban Nusantara, berjudul Alas Roban, yang akan tayang di sinema Indonesia. Ratingnya pun cukup tinggi, alias umurnya harus 17 tahun keatas (D17).

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya, legenda urban jalan raya angker memang mengisahkan satu kisah yang sering ada di dunia nyata. Kali ini, Alas Roban yang berada di jalur Pantura, tepatnya di kabupaten Batang, Jawa Tengah. 

Terlihat pada cuplikannya, tampaknya mengambil latar jaman dimana Pantura masih ramai dilalui, alias sebelum jalur tol Trans-Jawa, antara jalur Cisumdawu, Cipali, Palikanci, dan seterusnya dibuka untuk umum.

Memang pada jaman tersebut, bukan hanya tingginya jumlah kecelakaan di jalur Pantura, namun panjangnya jalan yang membuat banyak kisah legenda urban. Banyak pengemudi yang melalui jalur Pantura, akhirnya terpaksa mencoba jalur lain, walau lebih memutar arahnya.

Sedikit Kisah Angker dari Jalan Raya

Daripada membahas area Alas Roban yang akan disajikan dalam filmnya, maka penulis coba mengangkat jalan raya angker lainnya. 

Ya, yang coba diangkat adalah jalan angker bernama Tanjakan Emen, yang berada di antara Subang dan Lembang, Jawa Barat. Jalan tanjakan ini memang sempat melegenda, akibat seringnya kecelakaan kendaraan bermotor dan terjalnya jalur tersebut. Jalan yang menanjak dan berbelok dengan tikungan sulit, menyebabkan kecelakaan mudah terjadi di Tanjakan Emen. 

Kecelakaannya itu sendiri terjadi pada tahun 1956 lalu, saat sebuah oplet dengan kernet bernama Emen, jatuh ke jurang. Akibat lokasi tanki bahan bakar yang dekat dengan dasbor dan kelengkapan listriknya, oplet seketika terbakar, dan melahap jiwa ke-27 penumpangnya. 

Ngerinya kecelakaan tersebut, menyebabkan tanjakan curam tersebut dinamai sesuai dengan korbannya, yaitu Tanjakan Emen. Padahal, nama asli korbannya berbeda, alias hanya sebutan saja. 

Karena mitos angkernya Tanjakan Emen merebak, maka banyak ritual bagi para pengendara saat melaluinya. Diantaranya adalah membunyikan klakson, melempar koin ke jalan, hingga menyalakan rokok baru, lalu membuangnya langsung. Ritual tersebut dipercaya, dapat mengamankan kendaraan mereka dari celaka.

Namun, setelah beberapa kali direnovasi dan dikonstruksi ulang, Tanjakan Emen kini telah mencapai tingkatan aman. Sejalan dengan menurunnya jumlah celaka dan ritual aneh di sekitarnya, jalan ini pun dirubah namanya menjadi Tanjakan Aman oleh pemerintah lokal, sejak tahun 2018 lalu.

Agak berbeda memang, namun penulis percaya, bahwa keangkeran mistis bisa ditanggulangi dengan merubah medianya. Yaitu, dengan memperbaiki infrastruktur jalur tersebut, lalu merubah namanya, agar kesan dan atmosfer angker pun berlalu. Warga pun akan kembali melaluinya dengan perasaan lebih aman. Jadi, tidak perlu dikaitkan langsung dengan mistis.

Sinopsis Film Alas Roban 

Sita (Michelle Ziudith) adalah seorang ibu tunggal, dengan anaknya yang tunanetra, bernama Gendis (Fara Shakila). Suatu hari, karena dirinya mendapatkan pekerjaan baru di Semarang, harus berangkat ke Semarang saat hari mulai sore. 

Walau supir busnya sempat menolak, namun karena kasihan, maka mengantar kedua insan tersebut. Padahal, supirnya tahu bahwa jalur Alas Roban adalah lokasi angker, apalagi dilalui saat hari mulai gelap. Alas Roban sudah dianggap jalur ramai kecelakaan, yang semakin angker dengan banyak ditemukannya sisa tubuh di lokasi tersebut.

Sita berhasil tiba di Semarang, dan mulai bekerja di rumah sakit. Namun, semenjak saat itu, Gendis mulai bertingkah aneh. Gendis dapat menggambar dengan baik, padahal matanya sulit melihat. Gendis pun sering kerasukan tiap malam harinya, yang menambah panik Sita serta keluarga dekatnya.

Apakah yang terjadi di rumah Sita dan Gendis? Apakah ada hubungannya dengan lokasi angker Alas Roban? Atau ada yang bermaksud lain pada gadis cilik ini?

Jawabannya, tentu ada di legenda angker sinema Indonesia.

Berlanjut Sekuelnya di Film 28 Years Later: The Bone Temple

Dr. Kelson yang masih berharap dapat mengobati wabah (IMDB).

Film zombie berikutnya selama dua minggu berturut-turut rilis di sinema Indonesia, berjudul 28 Years Later: The Bone Temple, yang memang langsung melanjutkan cerita film sebelumnya. Uniknya, rilis antara film 28 Years later pertama dan sekarang, hanya berjarak tujuh bulan saja. Oh ya, sama seperti rating umur sebelumnya, harus ditonton oleh dewasa berumur 17 tahun plus.

Entah apa yang menjadi wacana studio waralaba 28 Years Later. Rilis sekuel seperti ini, seperti mengingatkan film kedua dan ketiga The Matrix, yang sama-sama dirilis pada tahun 2003 lalu. Menurut produser film The Matrix, perilisan film sengaja dibuat cepat, karena animo dari fansnya. Mereka tidak ingin, film ini dirilis lama, sehingga langsung dapat ditamatkan dalam waktu satu tahun saja.  

Sementara para sineas film dibalik 28 Years Later, sempat menyatakan bahwa mereka melaksanakan syuting film pertama dan keduanya langsung, demi mempercepat produksi. 

Berbeda dengan film pertamanya, karakter utama Jamie yang diperankan oleh Aaron Taylor Johnson, tidak kembali dalam film The Bone Temple. Fokus cerita justru beralih ke karakter anaknya, bernama Spike (Alfie Williams), bersama dua karakter dewasa lainnya, yaitu Dr. Kelson (Ralph Fiennes) dan Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connel).

Bagi yang belum menonton film pertamanya, tentu tidak akan paham cerita di film keduanya. Beberapa bagian artikel ini pun, akan sedikit membahas cerita di film pertamanya, sehingga menjadi spoiler bagi yang belum menonton.

Sedikit Referensi The Bone Temple

Film kedua 28 Years Later yang bersub-judul Bone Temple, alias bisa diartikan sebagai Kuil Tulang Belulang. Memang, dalam film pertamanya, terdapat sebuah lokasi dimana Dr. Kelson tinggal, diisi dengan banyak totem berbahan tulang. 

Selama 28 tahun terakhir, Dr. Kelson mengumpulkan banyak pasien terinfeksi dan korban Rage Virus, yang lalu dikuliti dagingnya setelah dibakar. Dr. Kelson lalu menempatkan sisa tulang, pada tiang yang dijadikan totem. Sementara bagian tengkoraknya, terpasang di pusatnya, dengan fondasi yang berbeda.

Jika dicek di dunia nyata, terdapat satu lokasi paling terkenal mengenai makam semacam ini, yaitu Katakomba Paris, di Perancis. Pemakaman masal ini berukuran masif, yaitu sepanjang 300 kilometer dan berada dibawah tanah. Walau begitu, yang bisa dikunjungi turis hanya 1,5 kilometer saja. Tengkorak dan tulang belulang menyelimuti seluruh lapisan terowongan, yang tentu terlihat sangat mengerikan. 

Bagi yang penasaran, dapat mengecek film dokumenter found footage, yang bersyuting di lokasi ini, berjudul As Above, So Below, yang rilis tahun 2014 lalu.

Kembali ke Inggris Raya sebagai lokasi latar film waralaba 28, maka perlu melacak pula latar sejarahnya. Selama akhir abad pertengahan, pemakaman Charnel, yaitu pemakaman dimana tengkorak dan tulang dari jenazah, ditempatkan secara masif di satu lokasi khusus. Praktek ini lumrah dilaksanakan selama Kristen Katolik berjaya di Inggris Raya.

Ritual Charnel dilaksanakan demi memudahkan pemakaman di jaman tersebut, sekaligus ritual keagamaan Katolik di Inggris Raya. Namun, pada abad 16 praktek ini ditutup, karena perubahan struktur kepengurusan agama Kristen di Inggris.  

Dan kembali lagi ke film 28 Years Later, yang sebenarnya lebih mengemukakan tentang wabah penyakit, tampaknya harus mengacu kepada Wabah Hitam. Selama abad 14 di Eropa, sekitar 50 juta warga meninggal akibat wabah yang dibawa hama tikus tersebut. Jumlah kematian masif tersebut, mencapai setengah dari jumlah warga di Eropa saat abad 14 lalu.

Bahkan, jika dicek pada film pertamanya yang berjudul 28 Days Later (2002), maka jumlahnya hampir mirip. Dilansir dari Worldometers, maka jumlah warga Inggris Raya pada tahun 2000an lalu, mencapai 59 juta. Berarti, mirip dengan jumlah kematian saat Wabah Hitam di Eropa.

Di film pertamanya pun, seluruh kepulauan Inggris Raya sudah tidak dapat diakses lagi, dan menjadi lokasi karantina. Hanya pasukan militer yang diperbolehkan masuk, itupun dengan misi tertentu.

Sinopsis Film 28 Years Later: The Bone Temple

Berbeda dengan film pertamanya, cuplikan di film ini justru lebih jelas, apalagi dengan dua rilis cuplikannya. Jika disatukan, maka animo film kedua 28 Years Later dapat disimpulkan dengan tiga sudut pandang karakternya. 

Yaitu, dari Spike (Alfie Williams) sebagai tokoh utama sebelumnya, lalu dari Dr. Kelson (Ralph Fiennes) yang masih berharap menemukan obat untuk wabah, serta Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connel), yang masih penasaran dengan kondisi wabah serta penyintas lainnya.

Ketiganya pun berjibaku dengan drama yang cukup berbeda. Karena Dr. Kelson masih ingin mengobati korban terinfeksi, maka dirinya mendekati sang Alpha bernama Samson. Dr. Kelson tampaknya berhasil menciptakan sebuah obat anti Rage Virus, yang masih perlu dites.

Sementara Spike, yang berhasil bertemu dengan kawanan Sir Jimmy Crystal, mencoba berbaur dengan mereka. Namun, Spike masih belum sadar, bahwa gang ini cukup brutal. Karena, misi mereka adalah membasmi semua penyintas lain yang belum terinfeksi wabah.

Sementara Sir Jimmy Crystal sedang mencoba mengetahui apa gerangan dengan Dr. Kelson, setelah sempat bertemu di Kuil Tulang Belulang. Dirinya sempat heran, namun cukup kagum dengan dedikasi Dr. Kelson, selama wabah merebak di seluruh Inggris Raya.

Dari segitu saja, cukup berbeda dengan film pertamanya yang lebih linear. Tiga sudut pandang berbeda dalam film ini, ternyata cukup menarik dibanding film zombie biasa. 

Kisah akhirnya, tentu dapat dicek di kuil tulang belulang, daging mendaging, dan darah membuyar ala sinema Indonesia.

Zombie Kembali Lagi di Film We Bury The Dead

 

Daisy Ridley yang kembali berperan tokoh utama (IMDB).

Tiba-tiba, ranah perfilman Hollywood sana sedang ramai mengadaptasi kembali film Zombie, yang kali ini berjudul We Bury The Dead, dan sedang tayang di sinema Indonesia. 

Bahkan, khusus untuk waralaba 28, film sekuelnya ternyata rilis juga di minggu ini.Tidak hanya itu di satu minggu ini saja, dirilis empat film horor, yang diantaranya ternyata mirip film zombie. Tentu, film zombie memiliki rating umur 17 tahun keatas, alias dewasa, akibat adegan daging mendaging dan darah mendarahnya.

Bagi yang sudah menonton cuplikan film We Bury The Dead, Daisy Ridley tentu menjadi fokus utamanya. Aktris dari Inggris ini sempat berperan di trilogi terakhir Star Wars, dan cukup viral dibahas di dunia maya dengan kontroversi ceritanya.

Dan, daripada membahas kisruhnya Perang Bintang, ternyata, Daisy Ridley cukup berbakat sebagai pengisi suara. Sejak awal karirnya, Daisy berkontribusi sebagai pengisi suara atau narator, khususnya di video gim atau film animasi. 

Karya khusus suaranya, adalah gim Disney Infinity 3.0 (2015), buku Audio Star Wars Force Awakens (2016), gim Star Wars Battlefront II (2017), film Peter Rabbit (2018), buku audio Star Wars The Last Jedi (2018), film Flopsy Turvy (2018), serial Star Wars Voice of Destiny (2018), gim Dawn of Art (2020), film pendek Baba Yaga dan Asteroid Hunters (2020), gim Twelve Minutes (2021), film The Inventor (2023), film Butterfly Journey (2025), dan terakhir di gim Trailblazer (2025).

Okeh, saatnya kembali ke film We Bury The Dead, yang kalau membahas zombie, tentu harus melansir tulisan saya berisi teori dan ramuan aneh, yang sengaja saya lampirkan pada artikel film Abadi Nan Jaya

Nah, daripada membahas kembali seluruh teori film zombie, kali ini lebih baik membahas animo yang dibawa ke film We Bury The Dead. Apalagi, di minggu ini ada film zombie lainnya, yang dapat dibahas referensi pula.

Ya, animo film ini berbeda dengan kebanyakan zombie, yaitu tidak mengisahkan mayat hidup layaknya target tembak saja. Atmosfer yang terlihat pada cuplikan, lebih horor layaknya dikejar monster, dengan zombie yang terlihat lebih pintar dari biasanya. Jumlahnya pun sedikit, dibanding ramainya kawanan zombie (horde). 

Ya, memang jelas bahwa zombie sudah musnah, dan film ini berlatar momen epilog dari kiamat ala zombie, akibat militer yang berhasil membasminya. Ya (lagi), di film ini militer akhirnya menang, daripada film lain yang entah pasukan keamanannya hilang begitu saja (?). Dua film zombie terakhir saat militer menang, yaitu di film 28 Years Later (2025) dan Army of The Dead (2021). 

Untuk sinopsisnya cukup pendek, karena cuplikannya memang tidak memberi banyak info plot utama. Sementara sutradara yang memimpin produksi film ini, bernama Zak Hilditch yang disukai oleh para kritikus film. Rata-rata film hasil karyanya, diberi nilai enam keatas di IMDB. 

Oh ya, bagi yang mengenal situs ini, tentu tahu bahwa banyak film memiliki nilai sekitar empat hingga lima saja. Jadi, film yang memiliki nilai enam keatas, dari genre apapun, berarti cocok ditonton dengan didukung oleh akting, cerita, dan nilai produksi yang mumpuni.

Sinopsis Film We Bury The Dead

Ava yang diperankan oleh Daisy Ridley, adalah seorang penyintas setelah wabah zombie merebak. Namun, dirinya masih penasaran, akibat tubuh suaminya yang masih hilang. Sama seperti judul filmnya, kisah film ini adalah tentang usaha Ava dalam menemukan tubuh suaminya, lalu menguburnya dengan layak.

Ava pun bergabung dengan Body Retrieval Unit dari militer, demi menemukan jasad suaminya, baik dalam keadaan zombie atau sudah terkapar. Ava terpaksa masuk zona karantina, yang membuatnya lebih terperangah. Karena mayat hidup yang masih tersisa, ternyata lebih pintar, cekatan, dan sanggup berburu manusia.

Dengan bantuan penyintas lainnya bernama Clay (Brenton Thwaites), Ava harus menjelajah seluruh puing urban, sebelum akhirnya lokasi karantina ini dibom rata oleh pasukan militer.

Dapatkah Ava menemukan kembali suaminya? Atau malah bertemu dengan kawanan zombie intelijen nan sentien yang memimpin semuanya? 

Jawabannya, tentu ada di keragaman mayat hidup ala sinema Indonesia. 

7 Januari 2026

Makna Dibalik Horornya Film Malam 3 Yasinan

 

Keluarga Djoyodiredjo yang tengah berkabung (TMDB).

Sekarang, berlanjut menuju film keluarga berikutnya, walau lebih beratmosfer horor, ala film berjudul Malam 3 Yasinan, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur D17 alias Dewasa.

Sebelumnya, saya perlu mengisahkan pula, satu posisi yang mengomentari film berjudul terlalu keagamaan ini. Sebenarnya telah beberapa kali saya sebagai penulis, menghindari film horor sejenis ini. Tetapi, jika ditelaah dari dasar ritualnya, dan dibandingkan dengan cuplikannya, maka khusus film ini cukup jelas dan bisa diangkat dalam artikel.

Memang, tradisi tahlilan, atau biasa disebut juga yasinan karena mengacu pada surah yang dibaca, bukanlah suatu bentuk tradisi asli Muslim. Tradisi semacam ini dilaksanakan sejak jaman terdahulu, demi berdoa kepada leluhur. Seperti dilansir dari Etnis, tradisi ini lalu bercampur akulturasi budayanya di Nusantara, khususnya Jawa, saat hadirnya Islam di Indonesia. 

Bahkan, ada satu organisasi Muslim bernama PERSIS, yang menolak sepenuhnya tradisi ini, karena bukanlah anjuran dari Islam. Tradisi ini dianggap akulturasi saja, dan bukanlah pedoman Syariah dari agamanya.

Dan kembali ke film Malam 3 Yasinan, maka penulis cukup mengerti, bahwa sineas perfilmannya mencoba mengangkat bahan horor yang cukup sesuai. Bahkan dalam beberapa poster filmnya, terlihat budaya Jawa yang kental, lengkap dengan Kupluk (Blangkon) dan nama keluarga khas dari Jawa.

Jika dibandingkan dengan film Nasional sejenis yang ikut mengadaptasi horornya budaya keagamaan Nusantara, justru Malam 3 Yasinan ini cukup sesuai dengan kondisi di ranah sosial masyarakat. 

Justru lebih parah di film lainnya, saat judul saja tidak sesuai dengan definisi dan deskripsi istilahnya sendiri. Malah bisa dibilang, tidak hanya menyepelekan, namun membodohi penontonnya, dengan salah arti dan makna. Bahkan, di beberapa adegan cuplikannya saja, tidak nyambung dengan judulnya sendiri (!)

Menurut penulis, justru film tersebut salah mengartikan, bahkan menyalahgunakan, wacana yang berasal dari Ensiklopedia. Contohnya adalah satu kalimat dari artikel di blog ini, berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Dari artikel yang diterjemahkan sesuai sumber aslinya ini, terdapat kalimat 'perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap sebagai merusak tatanan budaya.'

Dari situ saja, penulis sudah menganggap, bahwa perubahan yang diterapkan pada film, hanyalah arahan dari satu kalimat di Ensiklopedia saja. Sementara, mereka berkreasi dengan bebas tanpa arah yang jelas. Naudzubillah.

Sinopsis Film Malam 3 Yasinan

Samira (Shalom Razade), baru saja pulang ke kediaman keluarga besarnya, yang bernama Djoyodirejo. Kembalinya Samira, akibat saudari kembarnya, Sara, baru saja meninggal dunia dan segera dimakamkan. 

Selama ini, Samira memang tinggal jauh dari keluarga besar, akibat tekanan gengsi berlebihan sebagai keluarga ningrat, serta kompetisi antar keluarga Djoyodirejo. Padahal sebelumnya, keluarga ini sempat damai, (yang seperti dalam cuplikannya) dan sempat membuat video dokumenter dan foto bersama.

Namun, ternyata semenjak Samira tidak berada di rumah, keadaan banyak anggota Djoyodirejo memburuk seketika. Berbagai ketegangan berbeda, semakin meruak, dan berbeda dengan momen kehilangan seorang anggota keluarga.

Bahkan, kengerian ini muncul paling terasa, sesaat setelah ritual pemakaman Sara, yang dilanjutkan dengan tahlilan di rumah duka. Banyak kejadian mistis aneh, menerpa seluruh anggota keluarga Djoyodirejo, yang termasuk Samira itu sendiri.

Sanggupkah Samira menguak apa yang terjadi gerangan pada keluarganya? Atau malah terjerumus kembali dalam gelapnya kompetisi keluarga? Atau malah sosok Sara muncul kembali demi melindungi Samira seorang?

Jawabannya, tentu ada di ritual tradisi ala Sinema Indonesia.

Nah, dari segitu saja sudah cukup meyakinkan, bahwa film ini tidak menyalah-artikan syariah, serta mengedepankan ritual tradisi serta drama manusianya. Manusia tentu selalu dapat disalahkan, sementara budaya yang mengikat, justru memang disalah-gunakan oleh beberapa pihak.  

Okeh, Wassalam (lagi).

26 Desember 2025

Tersasar Kembali di Tanah Keramat Ala Film Dusun Mayit

 

Keempat manusia yang isekai di gunung (TMDB).

Daaaan, akhirnya kembali lagi di penghujung akhir tahun 2025, tepatnya dirilis pada 31 Desember (lagi), dengan satu judul film horor yang mengemukakan kembali keramatnya lokasi pegunungan, berjudul Dusun Mayit. Tentu, tayangan ini cocok bagi para penggemar horor, di sinema Indonesia, tentunya.

Sedikit Penalaran Plot Utama Dusun Mayit

Nah, sekarang perlu ditelaah sedikit melalui cuplikannya (saja), yaitu berlatar di sebuah gunung, tepatnya bernama Gunung Welirang. Walau pada cuplikannya terlihat indah, tentunya dengan kebutuhan plot dan cerita film horor, dibutuhkan berbagai bumbu ngeri. Oh ya, film ini memiliki rating R13+, alias hanya cocok ditonton oleh remaja keatas.

Dan memang, beberapa adegan pada cuplikannya memberi petunjuk (lagi), demi menceritakan keramatnya sebuah gunung, yang biasa masuk pada Weton di sekitar gunung oleh warga. Gunung memang dianggap keramat, dan beberapa ritual dan pantangan ditujukan bagi setiap warga yang mengunjunginya.

Contohnya adalah sebuah pantangan, dimana para pendaki tidak boleh keluar dari jalur pendakian (secara eksplisit disebut dalam cuplikannya). Tentu agar tidak tersasar di wilayah hutan lebat dan pegunungan yang naik-turun, terdapat pula pantangan mistis lain-lain. Takhayul atau tidak, maka resiko tersasar saja sudah cukup sebagai peringatan khusus bagi para pendaki.

Adapula terdapat adegan, dimana seorang pendaki pemula yang meremehkan Weton tersebut, dan bahkan menendang sesajen di antara sebuah pohon. Walau ritual tersebut hanya mengacu pada beberapa sistem kepercayaan saja di Jawa, tapi coba dicek saja dari segi nilainya. 

Maksud paling kentara bukanlah langsung mistis, melainkan simbol dari sebuah penghargaan kepada alamnya. Jadi, bagi yang tidak mengikuti ajaran tersebut, maka bisa dianggap simbol saja, bahwa kita yang mengunjungi alam belantara, harus menghargainya. Sekaligus pula, bebersih saja setelah kunjungan kita selesai, dan jangan meninggalkan sampah atau perlengkapan kemah lainnya.

Bahkan, sebuah pohon bisa disebut keramat, bukan karena terlihat besar dan menyeramkan saja. Pohon tertinggi dan terbesar di sebuah lokasi hutan, adalah penyeimbang dan pelindung di ekosistem tersebut, sehingga berperan penting bagi habitat tanaman dan hewan di sekitarnya. Jadi, pohon tersebut layaknya 'kuncen asli' di hutan tersebut, dan jangan diganggu, apalagi ditebang.

Ya, maksudnya, sains saja sudah membuktikan pentingnya kelangsungan pohon tersebut bagi ekosistem. Kita sebagai manusia, tentu paham maksudnya. Oh ya, pohon yang dikeramatkan, sempat meluas pula di seluruh dunia. 

Tidak hanya penjaga ekosistem, maka pohon tertinggi dapat melindungi hutan saat badai kilat. Dalam sainsnya, objek tertinggi di sebuah lahan akan lebih mudah tersambar kilat, daripada objek yang lebih rendah. Jadi, pohon terbesar (yang mungkin masih bisa tumbuh), menjadi satu-satunya yang tersambar lalu terbakar, diantara jutaan pohon lainnya di seluruh hutan.

Dan satu lagi dari segi kebahasaan, dalam bahasa Jepang, 'Kami' berarti Dewa, lalu 'Kaminari' berarti kilat. Walau Kanji-nya berbeda, tetapi morfologinya tetap sama. Maka, kilat adalah suatu simbol kuat mengenai dewa di langit, yang selalu digambarkan dengan selendang pada belakang punggungnya, khususnya dari China, hingga Jepang. 

Di paragraf berikutnya, dijelaskan pula kesinambungan simbol budaya ini dengan  budaya lainnya dari Asia Timur, khususnya dari Jepang. 

Selain itu, terdapat pula sebuah adegan dimana pendakinya sampai di sebuah desa terpencil, dengan keadaan yang cukup berbeda. Para warganya terlihat begitu tradisional, dan tidak kelihatan 'hidup' seperti biasanya.

Nah, kalau yang satu ini, bisa ditelaah pula dari segi cerita jurig. Tidak hanya di Indonesia yang kadang berisi kisah tersasar hingga lokasi pasar malam atau desa terpencil mistis, tetapi ternyata sering muncul pula di banyak negara Asia Timur lainnya. 

Indonesia termasuk Timur loh, alias Tenggara, dan memang dari segi budaya cukup berbeda dengan Asia Tengah dan Timur Tengah, namun sangat mirip dengan negara di Asia Timur. Entah apa yang terjadi selama jaman keemasan kerajaan terdahulu, dimana intensitas dagang ternyata cukup lekat akulturasi budayanya, sepanjang Asia Timur hingga Tenggara.

Okeh, kembali lagi ke lokasi dusun atau pasar malam mistis. Contohnya saja, terdapat mitos yang mirip dari Jepang, yaitu lokasi pasar malam, dimana banyak mahluk mengikutinya. Mahluk tersebut biasa disebut Yokai atau Siluman, dan memang berlokasi di tengah hutan. Manusia yang kebetulan lewat dan sempat mendengar, diberi pantangan untuk mengikutinya. Bahkan, cerita ini bisa disebut Pamali dari negara Sakura sana.

Padahal jika ditelaah kembali, pasar malam ini bisa menjadi simbol lainnya pula. Penulis bahkan sempat menemukan, lokasi situs aneh ditengah gunung yang dipenuhi pohon pinus, yaitu gunung antara Tasikmalaya dan Majalengka. Penulis bahkan sempat berfoto disana, dimana banyak batu yang jika dipukul dengan koin atau sejenis logam, akan bergema dan mendengung, layaknya sebuah Gamelan.

Lokasinya memang dekat jalan yang waktu itu penulis lewati, sebagai jalan pintas antar wilayah di Jawa Barat. Namun, bukan berarti penulis melaksanakan ritual tersebut. Mungkin, jika 'pemainnya' berbeda, maka rangkaian batu tersebut bisa disebut sebagai alat musik mistis.

Nah, bagaimana dengan penggambaran film di Dusun Mayit ini, yang lebih kental logat serta budaya Jawa-nya? Coba dicek saja melalui sinopsisnya.

Sinopsis Film Dusun Mayit

Aryo (Fahad Haydra), Raka (Randy Martin), dan Nita (Ersya Aurelia), adalah teman dekat sejak lama. Ketiganya sudah terbiasa mendaki gunung, dan kali ini ingin mendaki dan berkemah di Gunung Welirang. Trio ini lalu mengajak kawan baru mereka, bernama Yuni (Amanda Manopo).

Quadro ini lalu berangkat menuju Gunung Welirang, yang walau sempat diperingatkan agar tidak keluar dari jalur pendakian, mereka malah menjelajah terlalu jauh. Walau begitu, mereka berhasil menemukan sebuah danau cantik ditengah gunung, yang menjadi hasil memuaskan dari penjelajahan mereka.

Namun, saat pulang, mereka menemukan sebuah lokasi sesajen, tepat dibawah pohon besar. Nita, yang memang kurang percaya takhayul, malah menendang sesajen tersebut. Lebih parahnya lagi, keempat sekawan malah tersasar, padahal lokasinya masih padang rumput yang luas.

Hingga akhirnya keempat sekawan ini berhasil masuk ke hutan kembali, lalu tiba di lokasi gubuk peristirahatan pendaki. Dan semakin parah lagi, Nita yang sempat hilang, malah kesurupan dan pingsan seketika. 

Keempatnya pun semakin panik, yang lalu merasa tambah heran, saat tiba di sebuah desa. Di Desa tersebut, keadaan terasa aneh, dengan warganya yang terlihat kurang komunikatif. 

Dan saat malam tiba, Mbah Surop (Bambang Gundul), yaitu seorang paranormal dan kuncen gunung tersebut, berselirih bahwa mereka berada di ambang batas dunia nyata dan ghaib. Tepat pada malam tersebut, kekuatan supernatural akan terserap dan menerobos dunia nyata, sementara manusia (selain Kuncen), dapat terjebak dan tidak dapat kembali.

Sanggupkah mereka melarikan diri dari lokasi dusun mistis tersebut? Atau malah pasrah dan milih bergabung dalam ritualnya? Atau malah belajar langsung dari Kuncen agar sakti mandraguna?

Jawabannya, tentu terdapat di ritual desa terpencil sinema Indonesia.

24 Desember 2025

Kocaknya Dunia Jurig Nusantara Ala Film Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t

 

Cak Lontong yang entah kenapa masih jadi Presiden Nusantara (YouTube).

Daaan, akhirnya bagi penggemar StandUp Comedy Indonesia, film berjudul Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t, dirilis akhir tahun meramaikan libur saat ini, dengan tayang di sinema Indonesia. Bagi anak SMP, SMA, Kuliah, hingga warga yang ingin hiburan kocak, tentu dapat menikmatinya dengan bebas, alias ratingnya adalah R13+.

Komika di Indonesia

Stand Up Comedy adalah sejenis hiburan panggung, dimana komikanya hanya bertutur kata dan berceloteh lucu, dengan panjang atau pendeknya narasi, hingga memunculkan punch-line yang membuatnya lucu. Kadang, saking mengalirnya narasi para Komika, satu sesi bisa habis dengan suara tertawaan dari penonton. 

Setiap komika memiliki khasnya masing-masing, yang berasal dari cerita obrolan sehari-hari, observasi, komentar isu sosial, atau sejenis cerita berlatar komikanya sendiri. Kadang saking bodornya, alunan cerita kurang nyambung pun bisa menjadi sangat lucu, tergantung dari cara komika mendongeng, serta minat penonton saat acara berlangsung.

Nah, bagi yang kenal, tentu tahu bahwa Comic 8 adalah sebuah kanal YouTube yang diisi oleh banyak komedian dari Stand Up, khususnya acara StandUp Comedy Indonesia (SUCI), di salah satu stasiun televisi nasional Indonesia. 

Tentu, berbeda dengan ajang bakat di stasiun televisi tersebut, Comic 8 adalah satu kelompok dengan kanal YouTube, yang acaranya dapat mengundang banyak komedian, khususnya Stand Up Comedian, yang aktif maupun tidak.

Bahkan, tahun 2025 adalah musim ke sebelas acaranya telah berlangsung, alias telah 11 tahun lamanya meramaikan ranah komedi nasional, sejak tahun 2011 lalu. Sebutannya pun khusus, yaitu bernama Comic atau Komika, yang mengacu para komedian berbakat dari sejenis acara ini.

Bagi yang perlu mengingat beberapa namanya, tampaknya bisa disebutkan disini. Mulai dari Mo Sidik, Dodik Mulyanto, Pandji Pragiwaksono, Ryan Adriandhy, Raditya Dika (sebagai awal viralnya Komika), Indra Jegel, Arie Kriting, Kemal Palevi, Soleh Solihun, Sang Legenda Komeng (yang kini sibuk di Perwakilan Rakyat), dan salah satu favorit saya, Gilang Bhaskara. 

Sebelum melangkah dan mengacu pada film dari Comic 8 ini, banyak diantara komedian sering merilis film bersama para sineasnya. Gaya mereka yang kocak di panggung, ternyata cocok sebagai ranah film komedi nasional.

Film Pertama Comic 8 dan Revolution

Nah, kembali ke Comic 8, yang ternyata film pertamanya dirilis pada tahun 2014 lalu, dengan banyak nama-nama terkenal dari dunia komika. Animonya pun lebih mengacu ke film aksi, karena sesuai dengan momen bangkitnya film aksi dari Indonesia, sejak dirilisnya The Raid (lagi, dari tahun 2011 lalu).

Cukup banyak bintang legendaris dari Comic 8 tersebut, diantaranya adalah Indro Warkop, Cak Lontong, Nirina Zubir, Agung Hercules, Kiki Fatmala, Candil, dan sutradara terkenal, Anggy Umbara. Memang, film Comic 8 selalu diproduksi dengan menghadirkan banyak bintang, dengan adegan yang diarahkan ala komedi situasional, dan ditambah celotehan khas para komika.

Nah, sekarang kembali ke film Comic 8 di tahun 2025, maka banyak pemainnya berasal dari legenda yang sama. Indro Warkop (yang kembali lagi), ditambah Andre Taulany (yang masih belum puas celoteh simping), Hesti Purwadinata (yang masih ca'em saja), Vino G. Bastian (yang sebenarnya jarang bermain komedi, padahal anaknya Wiro Sableng), Cak Lontong (yang masih belum nyambung), Indy Barends (yang kini harus membawakan acara film), dan Daan Aria (anggota komedian legendaris Project P alias Padhyangan, tahun 90an lalu).

Okeh, tampaknya coba cek saja sinopsisnya, walau bagaimana pun cukup ngakak melihat cuplikannya, haha... (Padahal efek spesialnya cukup bagus).

Sinopsis Film Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t

Awal cuplikan dimulai dengan wacana ala Presiden Cak Lontong (yang entah kenapa nyambung), yang disambut secara lugas oleh anggota kabinetnya, Daan Aria. Mereka semua tengah rapat, bahwa kabinet mereka sedang disantet oleh gerombolan paranormal kurang viral nan bernaung kasih.

Ternyata, adegan dilanjutkan dengan ritual kasmaran ala Ki Bagus (Andrea Taulany) dan Ni Gendis (Hesti Purwadinata). Padahal, keduanya di masa lampau yang telah terdahulu lamanya sejak jaman persilatan Indonesia masih kacau balau, sering beradu kesaktian demi membuktikan siapa yang terbaik dibawah luasnya khayangan. 

Namun, di jaman modernisasi jurig, sepasang keduanya malah kasmaran, dan mencoba melawan viralisasi dunia supernatural, dengan menyantet tokoh utamanya, yaitu Presidennya sendiri, yang sudah jelas kurang nyambung ala Cak Lontong.

Pihak Kabinet pun perlu memanggil agensi khusus, yang sering berlandaskan paranormal, diantaranya Tora Sudiro dan Vino G. Bastian, demi menghalau santet galau gulana se-Nusantara ini. 

Sayang seribu sayang, kasmaran Ki Bagus dan Ni Gendis malah melahirkan sebangsa jurig sebesar Mo Sidik, sehingga urusan mereka semakin kentara terasa menyakiti hati (kanyeyeri) para korban santet. Tidak hanya mahluk sebesar itu, namun urusan kajajaden seperti Tuyul, Kuntilanak, dan Pocong, pun dilansir serta disunting kembali demi meraih hasil naratif yang memuaskan.

Agensi dari kabinet pun perlu merekrut para agen baru, yang diantaranya adalah komika yang sanggup menghibur hati para jurig, tanpa perlu sakti mandraguna alias tidak perlu sampai bermuram durja. Agensi baru ini dikirimkan menuju pulau liburan akhir tahun milik Ki Bagus dan Ni Gendis.

Ternyata eh ternyata, Kiky Saputri dan Mongol Stres pun muncul di akhir cuplikan. Keduanya memilih jalur kasmaran yang berbeda, yaitu dengan mengadopsi sebuah tengkorak baru di lahan yang lebih menyeramkan lagi.

Bagaimana rasanya berasa kocak nan diserem-seremin? Coba nikmati saja di akhir dunia nan Indah ala sinema-sinema Indonesia.

Berjibaku dengan Kembalinya Ular Raksasa Kocak Ala Film Anaconda

 

Paul Rudd dan Jack Black yang suka ular (IMDB).

Film mencengangkan baru dari ranah Hollywood sana, akhirnya kembali dirilis di penghujung tahun 2025 ini, dengan mengusung judul Anaconda, yang tentu akan tayang di akhir minggu keempat bulan Desember ini. Bagi yang menyukai film binatang-monster-horor sejak jaman 90an, maka judul ini berasa nostalgia khusus. 

Namun, berbeda pula animonya, walaupun berjudul sama dengan film tahun 1997 lalu. Justru, kini film Anaconda di tahun 2025 dikisahkan dengan gaya komedi. Aktor dan aktris yang mengisinya pun bukan sembarang, melainkan Jack Black dan Paul Rudd. Bahkan, aktor dari Anaconda orisinal, Ice Cube, terlihat dalam adegan cuplikannya, sebagai cameo.

Film Anaconda dari Tahun 1997 dan 2004

Pada film tahun 1997 lalu, Anaconda adalah salah satu film monster yang sukses meramaikan dunia horor saat itu, dengan plot utamanya yang cukup sederhana untuk dinikmati. 

Yaitu saat sebuah kelompok ekspedisi dokumenter alam liar, yang menjelajahi sungai Amazon. Dalam perjalanan, mereka terhenti oleh ular Anakonda raksasa, yang panjangnya mencapai belasan meter. Padahal, biasanya Anakonda memiliki  panjang maksimum sembilan meter, dan berbobot 250 kilogram.

Animo film ini dilanjutkan pada film keduanya, berjudul Anacondas: Hunt for the Blood Orchid, yang mengambil latar di Pulau Kalimantan. Ya, lokasi syutingnya di Indonesia, namun dengan salah arti, alias ular Anakonda tidak berada di Pulau Kalimantan. Sebenarnya, ular yang ada di film ini adalah sejenis Sanca atau Piton, yang entah kenapa menjadi Anakonda di film ini.

Aktor dan Rating Umur di Anaconda 2025

Okeh, kembali ke film Anakonda 2025, karena plot filmnya dan aktor-aktris yang mengisinya berlatar komedi, maka animo yang disajikan pun berbeda. Jack Black adalah seorang aktor komedi terkenal, yang pada bulan April lalu sempat merilis karya sukses lainnya, yaitu Minecraft: The Movie. 

Sementara lawan mainnya, adalah Paul Rudd. Bagi yang suka menyaksikan film pahlawan super dari Marvel Studios, pasti mengenal wajahnya sebagai aktor dibalik karakter Ant-Man (2015, 2018, 2023) dan beberapa film Avengers. 

Bahkan, karakter Scott Lang yang diperankan oleh Paul Rudd, bisa disebut sebagai karakter paling kocak dari Marvel. Karena, niatnya bukanlah menjadi penyelamat dunia dan memiliki kekuatan super, melainkan agar dekat dengan anak semata wayangnya saja.

Untuk ratingnya, karena bergenre komedi tanpa ada adegan daging mendaging atau darah mendarah ala film monster biasanya, maka diberi rating umur R13, alias cocok dengan penonton remaja (dan setelahnya).

Sedikit Referensi dari Ular Anakonda dan Habitat di Amazon

Oh ya, bagi yang heran mengapa ular di film bisa berukuran raksasa, sebenarnya didukung oleh bukti penelitian sains. Berbeda dengan banyak binatang lainnya, ular masih bisa tumbuh terus sepanjang umurnya, tanpa terbatas metabolisme tubuh, dan hanya terhenti saat telah mencapai akhir usia. Jadi, legenda ular raksasa bukanlah mitos saja, melainkan mungkin terjadi di alam liar.

Hutan Amazon di Brazil, Amerika Selatan pun dipenuhi oleh banyak hewan eksotis berukuran raksasa lainnya. Contohnya adalah Kapibara sebagai hewan pengerat terbesar sedunia, Dugong sebagai hewan mamalia sungai terbesar di Amazon, Lumba-lumba sungai berwarna merah muda, Buaya Caiman, Burung Elang Harpy, Burung Makaw dan Toukan, serta Kaki Seribu Raksasa.

Okeh saatnya mengecek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Anaconda 2025

Doug McCallister (Jack Black) bersama ketiga kawannya, Ronald Grifin Jr. (Paul Rudd), Kenny Trent (Steve Zahn), dan Claire Simmons (Thandiwe Newton), sedang mengalami krisis masa paruh baya. Keempatnya ingin mengulangi masa keemasan mereka, dengan memproduksi ulang film lama favorit, yang mengisahkan tentang ular raksasa.

Karena ditolak beberapa kali oleh studio dan distributor film, maka quadro ini berinisiatif untuk memproduksi film dengan teknik Indie, alias produksi tanpa bantuan studio dan distributor. Semua perlengkapan disiapkan, beserta merekrut seorang pawang ular, yaitu Santiago Braga (Selton Mello), yang memiliki seekor ular Anakonda.

Namun, saat tengah syuting di sungai tengah hutan Amazon, seluruh proses produksi hampir dibatalkan, akibat ular yang jatuh ke sungai dan habis dilahap buaya. Doug pun merasa jengah, karena tidak memiliki aktor binatangnya lagi. Dia akhirnya berinisiatif, untuk menangkap ular baru bersama pawangnya.

Namun lebih parah lagi, keempatnya malah bertemu dengan seekor ular legendaris Anakonda berukuran raksasa, yang mencapai panjang belasan meter dan berbobot lebih dari setengah ton.

Kelimanya pun terpaksa melarikan diri dari area perburuan ular, hingga akhirnya bertemu dengan aktor ternama Ice Cube di sebuah desa. Ice Cube adalah seorang penyintas dari film pertama Anaconda, yang tampaknya masih trauma dan memilih jalan untuk terus berburu ular raksasa (:P).

Akhir kisahnya yang (mungkin) tragis, dapat disaksikan melalui keragaman hayati ala sinema-sinema Indonesia.

Alternatif Film Anaconda dari Tahun 2024

Oh ya, bagi yang penasaran mengenai kisah ular raksasa dari ranah Asia, dapat menyaksikan pula film Anaconda lainnya dari tahun 2024 lalu, dengan sub-judul Cursed Jungle. Sineas perfilman yang memproduksinya pun berasal dari negara yang kini tengah naik daun, yaitu China. Tentu, karakter serta studio dari negara besar di Asia Timur ini, menjadi animo tersendiri. 

Mungkin, reka ulang dari China yang masih memiliki atmosfer serius, menyebabkan Hollywood mengambil jalur alternatif saat me-reka ulang filmnya sendiri, yaitu dengan humor komedi ala Jack Black dan kawan-kawan. Bagi yang merasa Anaconda harusnya dibawa serius, film tahun 2024 masih bisa ditonton melalui layanan siaran Google Play Movie dan Netflix.

Menguak Alur Cerita Prekuel Sewu Dino di Film Janur Ireng

 

Entah apa yang terjadi pada keluarga Kuncoro (TMDB).

Okeh, saatnya film bercerita baru dari Dunia Sewu Dino untuk dibahas dan dirilis di minggu keempat Desember tahun ini, tentu berjudul Janur Ireng, yang tayang akhir minggu di banyak sinema Indonesia.

Sebelum mengacu pada kisahnya di film kedua ini, Janur Ireng memang prekuel dari film pertamanya, Sewu Dino. Sehingga, alur jalan cerita justru terbalik. Karena memang sudah dirilis tahun 2023 lalu, maka film Sewu Dino bisa dicek di layanan siaran Amazon Prime Video

Oh ya untuk film Sewu Dino, memiliki rating usia R13 (alias remaja). Sementara film Janur Ireng, memiliki rating usia D17, yang berarti dewasa. Entah apa perbedaan pada detail ceritanya, sampai rating usia pun berbeda. Atau, gara-gara visual yang menjurus pada daging-mendaging dan darah mendarah, yang lebih eksplisit dari sebelumnya.

Bahasa karakternya pun tercampur aduk ala logat Jawa, dengan bahasanya, serta tambahan bahasa Indonesia. Jadi, bagi yang kurang ngeuh, pasti bakal merasa heran dengan banyak dialog film bernafaskan Jawa. Bahkan, banyak dialog yang perlu diberi terjemahan, agar penonton (non-Jawa) bisa mengerti.

Untuk film pertamanya pun, langsung berkisah pada banyak adegan horor di dalam dan sekitar sebuah gubuk, di tengah hutan. Sementara di Janur Ireng, lebih banyak karakter dengan pembawaan dramanya, yang mengacu pada kondisi keluarga Kuntjoro.

Oh ya sekali lagi, Epy Kusnandar, sang tokoh utama dalam serial televisi Preman Pensiun lalu, hingga cukup sering berkontribusi di film Nasional dan Internasional, baru saja meninggal dunia, pada tanggal 3 Desember lalu, saat berusia 61 tahun. Bagi yang merasa kehilangan, maka film Janur Ireng adalah karya terakhir yang sempat memunculkan Epy Kusnandar, aktor Sunda dari Garut Kota ini.

Sinopsis Film Sewu Dino

Dan seperti biasanya, kali ini perlu dibahas pula sinopsis dari Sewu Dino, yang berarti seribu hari dalam bahasa Jawa. Film ini diadaptasi dari Thread horor, hasil karya penulisnya bernama SimpleMan. Animo cerita dari sebuah Thread, memang sekarang sedang sering-seringnya diadaptasi menjadi sebuah film.

Dalam film ini, justru mengisahkan sebuah misi seribu malam, dimana karakter utamanya harus menjaga sebuah keranda mayat. Cukup mengerikan, seperti dicontohkan pada cuplikan filmnya.

Tidak hanya menjaga mayat, Sri Rahayu (Mikha Tambayong), Erna (Givina Lukita), dan Dini (Agla Artalidia) diminta pula untuk melaksanakan ritual Basuh Sedo, alias memandikan jenazah agar arwahnya tenang.

Namun, yang belum mereka ketahui adalah jenazah tersebut bukanlah seseorang yang telah meninggal, namun sesosok Della (Gisella Firmansyah), yang pingsan setelah kerasukan arwah jahil lainnya. 

Sewu Dino adalah semacam santet yang menimpa Della, sehingga terpaksa pingsan selama seribu hari. Ritual Basuh Sedo pun hanya untuk menenangkan arwah yang merasuki Della, sementara ritual pamungkasnya akan dilaksanakan pada hari ke seribu.

Namun, empat hari menjelang hari ke seribu, ketiganya diteror oleh banyak hal mengerikan. Trio tersebut menemukan bahwa Della mulai bisa bergerak, dan bahkan hilang dari lokasi keranda mayat. Ketiganya pun perlu mereka ulang ritual mereka, menemukan kembali Della, serta mengamankan posisi hidup. Karena, dengan lepasnya Della, berarti pekerjaan mereka gagal dan hidup mereka terancam.

Oh ya, jika dicek cuplikannya, maka jumlah info yang terlihat tentu tidak sebanyak artikel ini. Namun, cuplikannya lebih berisi banyak adegan awal, hingga diakhiri ngerinya dikejar Della, yang tampaknya kerasukan parah dan berperilaku layaknya zombie alias mayat hidup. Akting Della pun cukup meyakinkan, layaknya warga yang kesurupan parah (alias teriak gak jelas menyeramkan).

Lokasinya pun yang termasuk terpencil, yaitu berada di sebuah gubuk kecil tengah hutan, tentu memberi atmosfer tersendiri bagi visualnya. Seperti biasa, film horor Indonesia memang lihai dalam memainkan lokasi adegan serta pencahayaannya.

Bagi yang suka dengan berbagai istilah mistis Indonesia, khususnya mengenai cerita dari Jawa, maka film Sewo Dino dan sekuelnya Janur Ireng, seakan menjadi kamus kosakata khusus. Banyak istilah Jawa yang tidak penulis begitu mengerti, digambarkan ala horor di film ini, walau tentu ada perbedaan yang sesuai dengan jalan dan plot cerita.

Dan tentu, perlu dikomentari pula dari sudut pandang pribadi sebagai penganut agama yang diakui di Indonesia. Ritual memandikan jenazah, selalu dilaksanakan oleh warga penganut agama, sebelum akhirnya jenazah dikafani, diberi pakaian rapih, atau dikremasi. 

Tujuannya, tentu berbeda pada setiap agamanya, namun intinya adalah jenazah harus bersih, sebelum tubuhnya dilansirkan menuju dunia berikutnya. Pamali atau tidak, ritual ini adalah penghormatan terakhir kepada jenazah, sebelum akhirnya berpulang.

Tentu sangat berbeda dengan kisah di Sewu Dino, dimana ritual Basuh Sedo memang beraliran mistis, dengan tujuannya menenangkan arwah (lain) yang bersemayam dalam sebuah tubuh manusianya.

Sinopsis Film Janur Ireng

Della yang menjadi tokoh kesurupan di film pertamanya, muncul kembali sebagai cameo di film Janur Ireng. Untuk film keduanya, SimpleMan kini telah merilis versi buku novelnya, dengan arahan dunia Sewu Dino Universe (layaknya Marvel Cinematic Universe). 

Kisah Janur Ireng merupakan prekuel, yang berlatar enam tahun sebelum kisah di film Sewu Dino. Kali ini, dunianya dikembangkan mengenai kisah tujuh keluarga, yang diantaranya adalah Kuntjoro di film Janur Ireng, dan Atmodjo di film Sewu Dino.

Sementara di film ini, kisahnya masih berkutat pada tiga tokoh utama. Diantaranya adalah Arjo Kuntjoro (Tora Sudiro), yaitu pakde dari Sabdo (Marthino Lio), yang beristri Intan (Nyimas Ratu Rafa). 

Sepasang suami istri muda tersebut sebenarnya hidup bahagia, walau sederhana. Hingga suatu bencana kebakaran hebat, membakar hangus seluruh rumahnya. Keduanya pun beralih meminta bantuan pada Arjo, pakdenya yang terkenal makmur. Saking hebatnya, Arjo dikenal sebagai pewaris sebuah perkebunan sawit luas nan membahana.

Sayangnya, semenjak Sabdo dan Intan tinggal bersama di rumah kediaman besar milik keluarga besar Kuntjoro, keduanya banyak mengalami berbagai kejadian aneh. Mulai dari sehelai daun panjang yang ditempatkan pada ranjang, hingga sempat menyaksikan sebuah ritual aneh. 

Saking anehnya, banyak kejadian semakin membrutalkan. Beberapa penghuni mulai kerasukan, hingga puncaknya saat acara prasmanan, dimana seluruh tamu tiba-tiba kerasukan dan suka daging mendaging (namun tidak seperti selera daging ala film zombie).

Bagaimanakah sebenarnya alur cerita horor ini? Tentu dapat disaksikan melalui ritual kebudayaan langsung ala sinema di Indonesia.

3 Desember 2025

Film Anime Jurig Paling Ditunggu Berjudul Jujutsu Kaisen: Execution

 

Sukuna yang akhirnya bisa ikut melanglang-buana (TMDB).

Daaaaan, saatnya kembali ke film anime paling ditunggu di tahun 2025 ini, yaitu kisah jurig terkemuka nan membahana ala dunia internasional per-Mistis-an, berjudul Jujutsu Kaisen: Execution (Shibuya Incident X The Culling Game Begins), yang tayang juga di sinema-sinema Indonesia.

Namun, bagi yang belum menonton musim pertama dan kedua serial anime Jujutsu Kaisen, cukup diharamkan untuk menonton langsung film ini. Ya, memang sub-judul Execution adalah kelanjutan cerita dari kedua musim Jujutsu Kaisen. Maka, yang membaca artikel ini akan terpapar banyak spoiler (spill) cerita dari seluruh aksi perjalanan Yuji Itadori dan Sukuna.

Okeh, karena penafian (disclaimer) sudah ditulis, maka coba lanjut saja yang yang sudah paham, dan menonton maksud seluruh serial animasi dari Mappa ini ya.

Yuji Itadori (Junya Enoki) adalah seorang pemuda yang terkenal kuat, fisik serta ketahanan mentalnya, serta suka membantu sesamanya. Kisahnya cukup miris, sebagai anak yatim-piatu yang diasuh oleh kakeknya. Awal musim pertamanya pun kembali miris, akibat kakeknya yang meninggal terbaring di rumah sakit. Hanya satu pesan yang diterima langsung oleh Yuji, yaitu siap untuk selalu membantu siapa pun (yang merupakan luka penyesalan terakhir milik kakeknya).

Yuji pun terikat dunia jurig dan harus bersekolah di Jujutsu Kaisen Cabang Tokyo dengan arahan dari Gojo Satoru (Yuichi Nakamura), akibat dirinya yang membantu temannya, Megumi Fushiguro (Yuuma Uchida). 

Tentu, itupun karena Yuji yang melahap sepotong jari Sukuna Ryoumen (Junichi Suwabe). Biasanya, manusia biasa yang melahap Sukuna langsung terasuki sepenuhnya. Namun, Yuji cukup kuat untuk dapat mengendalikan Sukuna, sehingga dianggap sebagai penyihir kelas spesial di Jujutsu Kaisen. Bersama Megumi dan Nobara Kugisaki (Asami Seto), ketiganya berjibaku untuk belajar dan menjalani misi membasmi jurig 'kutukan' berbahaya di seluruh Tokyo.

Naaah, meloncat kesana-kemari di dua musim Jujutsu Kaisen, akhirnya berujung pula di film Execution. Kisahnya pun mengacu pada Yuji Itadori, serta beberapa penyihir lainnya, yang dianggap membelot dari Jujutsu Kaisen dan perlu dibasmi. 

Para Dewan Ketua Jujutsu Kaisen pun perlu mengirim sang tokoh utama yang lebih kuat alias OP dan bisa sebanding Gojo atau Sukuna sekaligus, yaitu Yuta Okkotsu (Megumi Ogata). Walau sebenarnya Yuta tengah belajar dunia perjurigan ala internasional atas arahan Gojo, namun Dewan Ketua Jujutsu Kaisen memiliki kuasa untuk memanggilnya kembali.

Arahannya pun khusus untuk membasmi Yuji, yang dianggap telah membelot dan siap untuk menyatu bersama Sukuna (yang kini jarinya telah mencapai 19 alias hampir sempurna). Dewan Ketua tentu tidak ingin mengambil resiko Sukuna bangkit kembali, sementara Gojo Satoru kini telah disegel oleh kawan lamanya sendiri, Suguru Getou (Sakurai Takahiro). 

Getou memang yang merencanakan seluruh insiden di Shibuya, yang ternyata muncul sebagai plot twist lainnya. Getou sebenarnya terluka parah di akhir film Zero Revival, setelah kalah bertarung melawan Yuta. Namun, 'disembuhkan' kembali oleh suatu penyihir lainnya yang memilih bentuk jurig berotak, bernama Kenjaku. 

Jurig yang berbentuk otak dan suka menginfeksi serta memilih inangnya yang kuat sebagai parasit, sebenarnya adalah penyihir kuat nan jahat yang telah melanglang-buana selama ratusan tahun lamanya. Baru kali ini, Kenjaku membuka rencana dirinya (yang mirip dengan niatan Getou). Yaitu, membuka kembalinya jaman keemasan penyihir jurig di Jepang (berbeda dengan kondisi seluruh dunia), yang diberi nama Heian (dan entah apa ada hubungannya dengan periode nyata Heian di Jepang, tahun 1000an lalu).

Oh ya, karena itu banyak plot dibuka pada artikel ini. Hype Jujutsu Kaisen ikali ni memang sedang tinggi, apalagi mengacu pada lanjutan musim ketiga serial anime-nya, setelah film Execution dirilis, yang (mungkin) menjadi musim terakhir kisah kesetanan para penyihir jurig di Jepang.

Oh ya lagi, satu tips bagi yang suka cerita jurig atau jenis genre fiksi lainnya, banyak simbol, sejarah, budaya, cerita rakyat, seni tradisional, primbon, serta momen nyata yang menjadi referensi di sebuah karya seni populer. Maka, bagi yang paham atau tidak kelewatan, menjadi bumbu tersendiri untuk menikmati karya seni di jaman modern ini. Okeh???

Dikejar Dukun Thailand di Film Ha Gom: The Darkness Of The Soul

 

Nenek tua renta yang kadang terlihat mirip jurig (TMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah jungjurigen ala Asia Tenggara, tentunya dari ranah jurig Thailand terkenal ngeri dan sakit hatinya, berjudul Ha Gom: The Darkness of The Soul, yang memang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia. 

Sayangnya, film ini mengisahkan kembali kisah jurig yang tidak begitu bersalah atas tindakannya, melainkan kisah mengerikan dari manusia yang suka asal tuduh dan main hakim (tanpa moderasi sidang) sendiri. 

Terlihat pada cuplikannya (yang masih tanpa banyak plot dan adegan jelas ala film horor), membuka kisah yang tidak banyak berisi adegan horor alias ngeri alias seram. Namun, lebih mengisahkan plot utama Ha Gom, yang jika ditelaah, lebih mengemukakan jalur kisah yang mengalir.

Ya, mengalir, karena dari awal cuplikan hingga akhirnya, lebih mengisahkan drama antar manusianya, dengan sedikit bumbu penampakan jurig di akhir trailer-nya. Mungkin, studio produksinya ingin mengingatkan, bahwa seluruh kengerian ini aslinya berasal dari kekejaman manusia itu sendiri, daripada kengerian dari dunia lain-lain.

Jadi, sinopsis di artikel ini ikut mengalir saja ya. Karena itu, di sebuah desa dari Thailand yang tengah berkabung atas kematian banyak warganya. Beberapa curiga dengan keterikatan jurig pada seorang nenek tua renta yang tinggal di desanya. 

Dendam pun semakin merajarela diantara banyak warga desa, yang terus menerus mencari sang nenek bersama suaminya, yang sama-sama sudah renta. Namun, keduanya terus melarikan diri, hingga akhirnya beberapa warga (yang cukup muda dan beringas) perlu menyewa seorang dukun.

Dukun yang sama beringasnya, ternyata memiliki kemampuan untuk melacak, mengejar, serta menjerat sepasang suami-istri tua renta tersebut. Setelah tertangkap, warga pun siap membakar sang nenek yang 'belum disidangkan' dan 'hanya dituduh sebagai jurig.'

Namun, kisahnya tidak berakhir begitu saja. Hantu lainnya yang lebih berbahaya, berjenis nama spesies Ha Gom pun muncul dari kisah rakyat tradisional Thailand. Konon katanya, Ha Gom hanya muncul akibat keserakahan manusia dalam berandil semasa hidupnya (dengan bonus teror).

Bagaimana akhirnya? Coba sajikan saja petuahnya di sinema-sinema Indonesia yang gelap-gemerlap.

Adaptasi Gim Horor di Sekuel Film Five Nights at Freddy's 2

 

Si Bebek yang akhirnya debut juga di FNAF (IMDB).

Okeh, dari ranah aksi, sekarang kembali ke film horor ala Hollywood yang lebih mengisahkan adaptasi dari sebuah game terkenal di masa lalu yang indah terkemuka , berjudul Five Nights at Freddy's, yang kini muncul sekuelnya dengan tambahan 2, dan sedang tayang di banyak sinema Indonesia. 

Video Gim Five Nights at Freddy's memang sebenarnya cocok ditujukan bagi sedikit kalangan, alias T (Teenager), alias Remaja (R13+) jika dibahasa Indonesia-kan. Banyak isinya lebih mengemukakan banyak jumpscare (alias kaget yang muncul akibat adegan mengejutkan di depan layar).

Namun, gim yang rilis pada tahun 2014 ini dan dibuat oleh seorang developer solo karir, bernama Scott Cawthon, justru meramaikan kembali subgenre naratif dan teka-teki bertipe Point and Click. Gim berjenis ini lebih mengedepankan cerita langsung, dimana karakternya hanya bergerak jika diklik layarnya, serta tanpa aksi yang begitu kentara.

Ranah sub-genre ini sebenarnya telah ramai sejak kemunculan gim di PC (alias komputer pribadi), namun hilang pamornya semenjak PC dan Konsol memiliki kontrol yang lebih baik. Tetapi, ranah ini tetap diramaikan dengan game buatan dari engine Flash, saat jaman mulai ramainya internet lambat di awal tahun 2000an lalu. Sementara di dunia belahan lain, Point and Click digantikan oleh sejenis Visual Novel, yang ramai di Jepang, sejak perkembangan awal gim hingga sekarang.

Di AS sendiri, ramainya Sub-Genre Point and Click sempat diramaikan kembali oleh serial gim The Walking Dead, yang diproduksi oleh TellTale Games, dengan bonus mekanik yang lebih interaktif. Namun, studio ini tidak bertahan lama, karena biaya produksi yang tinggi akibat grafik, animasi dan pengisi suaranya. Untungnya, sub-genre ini mulai ramai kembali, dengan banyak mengesampingkan perkembangan grafik dan pengisi suara, yang cukup mahal bagi para pengembang video gim.

Five Nights at Freddy's alias FNAF layaknya melanjutkan kembali kengerian game santai ala terdahulu, yang memang sempat ramai di awal 2000an dengan viralnya gim berjudul Slenderman, yang lalu dilanjutkan animonya di dunia industri video gim. Gim FNAF (Five Nights at Freddy's) pun telah mencapai empat sekuel dari game pertamanya, yang dirilis mulai tahun 2014, 2015, dan 2016 dengan sub-judul Sister's Location.

Okeh, kembali ke filmnya yang dahulu kala dirilis pada tahun 2023 lalu, berjudul yang sama pula, yaitu FNAF (saja ya). Film pertamanya lebih mengadaptasi latar belakang gimnya, yaitu kisah seorang satpam penjaga malam hari, di sebuah wahana animatronik (pada siang harinya). Namun, di malam hari, seluruh animatronik (sejenis robot) malah meneror dirinya. 

Berbeda dengan kengerian di gim-nya, filmnya lebih jelas pergerakan karakernya, karena tidak terlalu terkunci di satu ruangan serta beberapa ruangan lainnya saja. Tokoh utamanya harus berjibaku di seluruh gedung, sementara animatronik berbentuk beruang, bebek, kelinci dan banyak lucu-lucuan imut ngeri lainnya berkelakar dengan semaunya. 

Produsernya pun berasal dari sineas yang hobi robot lainnya, yaitu waralaba film M3GAN dengan kerjasama studio produksi film paling sibuk di ranah horor Hollywood, yaitu Blumhouse. Sayangnya, para sineas ini kembali di sekuelnya pada tahun 2025 ini dengan judul tambahan dua saja. Tentu bersama tokoh utamanya yang masih belum jera pula, yaitu Mike (Josh Hutcherson) dan Abby (Piper Rubio) sang gadis kecil.

Dan kali ini, animatronik yang terkenal suka menculik anak layaknya badut (jelek) di film IT (2017;2019), mulai mengambil langkah luar biasa untuk melanglang-buana, yaitu membuat inovasi alias terobosan dengan keluar gedung asalnya, demi mendapatkan hati Abby seorang. 

Okeh, saatnya kembali menonton animatronik ngeri di sinema penuh teknologi aktif (ala hiburan badut) di Indonesia. Oh ya, sebelumnya di tahun inipun, ada sejenis film adapatasi yang agak mirip, yaitu Until Dawn di bulan April lalu (walau mekanik gim-nya jauh lebih interaktif dari FNAF).

27 November 2025

Ngerinya Dikejar Masa Lalu ala film Legenda Kelam Malin Kundang

 

Amak dan Alif yang terpisah oleh cahaya di area kelam (TMDB).

Dan akhirnya, kembali ke kegalauan ala Indonesia banget, dengan dirilisnya film berjudul mirip dengan cerita dongeng Nusantara, berjudul Legenda Kelam Malin Kundang

Film yang sedang tayang di sinema-sinema ini memang mengadaptasi dari sebuah dongeng rakyat terkenal di Indonesia, yang mengisahkan sebuah cerita 'anak durhaka.' Namun, jika ditelaah dari segi adaptasinya berlatar jaman modern, dengan pembawaan dunia yang telah berbeda, tentu perlu diperkenalkan kembali.

Cerita rakyat ini aslinya berasal dari ranah Minang, alias Sumatera Barat sana, mengisahkan tentang seorang anak durhaka, bernama Malin Kundang. Sang anak terpaksa merantau, namun justru setelah sukses, melupakan ibunya sendiri, dan tidak pernah pulang mudik untuk silaturahmi.

Ada satu kekhasan dari Minang itu sendiri, dimana saudaranya memang harus diingatkan, agar ingat kepada keluarga di rumah. Entah apa bahasa Minang-nya, tapi yang pasti, jika ada keluarga yang tengah merantau, akan dipantau langsung oleh keluarga lain yang telah merantau sebelumnya. 

Namun yang memantau telah hidup jemawa dan menetap permanen di wilayah barunya. Mungkin, memang mengingatkan cerita rakyat ini, atau sudah bawaan dari budaya Minang-nya itu sendiri. Alias, istilah kekeluargaan Indonesia, 'jangan bagai kacang lupa akan kulitnya.' 

Bahkan, budaya Jawa yang suka merantau saja tidak sespesifik itu. Biasanya, warga Jawa jika merantau memang memilih untuk menetap permanen. Alias 'dimana bumi dipijak, disana langit diunjung.'

Naaaaah, tetapi bagaimana dengan pembawaan jaman modern sekarang? Itulah yang menjadi 'heran tersendiri' dengan film Malin Kundang ini (P)

Mengingat bahwa banyak situs lowongan kerja, lokasi kantor, serta personalianya, yang justru 'mengedepankan' rantau mania (!) Entah skema dari mana, tetapi mungkin mengacu pada pemerataan Sumber Daya Manusia yang menyeluruh di Nusantara.

Padahal dari segi bahasa, budaya, koneksi kerja, spesifikasi pekerjaan, lokasi sekolah dan kampus, lokasi tempat tinggal, SDM Lokal, dan bahkan keuangan (!) sama sekali tidak masuk dinalar (!) 

Penulis malah teringat, jaman lowongan pekerjaan saat ini, layaknya kembali ke jaman eksplorasi Eropa, alias berujung kolonialisme beberapa abad yang lalu (!) Mungkin, itulah maksud bahwa Indonesia masih dalam istilah 'Mental Terjajah.'

Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke film Malin Kundang saja ya, yang memang terpaksa merantau akibat perlu mencari uang. Walau ya, berbeda sih di film ini, Malin (?) justru harus merantau akibat keadaan di rumah yang sulit, dari segi keharmonisan dan keuangan pula (!)

Sinopsis Film Legenda Kelam Malin Kundang

Alif (Rio Dewanto) adalah seorang anak remaja, yang terpaksa melarikan jauh dari rumahnya di tanah Minang. Ayah dan Ibunya sering cekcok, bahkan berakhir KDRT, yang menyebabkan tangan ibunya berdarah akibat sabetan pisau.

Alif yang sudah tidak tahan, akhirnya melarikan sendiri ke kota besar alias Jakarta. Tidak berapa lama, Alif yang hidup bagaikan Anjal (anak jalanan) pun mendapatkan belas kasihan dari Nadine (Faradina Mufti) dan ayahnya. 

Selain diberi makan, Alif diminta untuk membantu ayah Nadine di galerinya. Alif yang ternyata berbakat, akhirnya berhasil diajari oleh ayah Nadine. Alif pun sukses sebagai pelukis mikro terkenal di Jakarta.

Alif masih terpukau dengan kebaikan mereka, lalu membina hubungan spesial dengan Nadine saat beranjak dewasa, yang berujung keduanya menikah dan memiliki anak. 

Tiba-tiba, ibunya Alif yang sudah tidak lama bertemu, Amak (Vonny Aggraini) memutuskan datang berkunjung. Dengan cepat setelah tiba, ibunya pun berkelakar, bahwa dirinya takut Alif terkena kutukan Malin Kundang, sang anak durhaka dari cerita rakyat Minang. 

Namun, secepat itu pula Amak segera meninggalkan rumah kediaman Alif dan keluarganya. Alif panik, dan merasa jengah dengan keadaan rumah yang tiba-tiba horor. Bahkan, Alif perlu kembali ke rumah lamanya, demi menemukan arti dan maksud dari semua ini.

Apakah memang keadaan aneh itu ada di dalam diri Alif dan keluarganya? Atau hanya halusinasi semata akibat terkejut dengan rasa dikejar masa lalu?

Jawabannya tentu bisa diresapi di Paririmbon ala sinema Indonesia.

19 November 2025

Rasanya Hari Kamis Tidak Semengerikan di Film Danyang Wingit Jumat Kliwon

 

Rasanya wayang tidak semengerikan ini (TMDB).

Okeh, setelah brutalnya film Indonesia di ranah lainnya, saatnya kembali ke budaya tradisional Indonesia, khususnya yang dimodifikasi dalam film Danyang Wingit Jumat Kliwon, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia.

Kurang berfaedah rasanya membahas Jumat Kliwon, tanpa membahas referensinya itu sendiri. Dalam nama hari Jawa, Kliwon adalah salah satu nama hari yang begitu sakral bagi sistem tradisinya. Dari namanya sendiri, Kliwon dianggap sebagai waktu terbukanya dimensi dunia manusia dan ghaib. Berarti, saat mistis paling kentara terasa di hari tersebut. 

Kadang, terdapat satu kepercayaan lain yang nyeleneh mengenai Kliwon, yang kebetulan tercampur pada satu hari Jumat. Yaitu, suatu malam keramat, yang harus dilaksanakan dengan ritual mistis. 

Saking nyelenehnya, para pengabdi jurig, melaksanakan ritual edan saat malam Jumat Kliwon. Bahkan, ada yang sampai membongkar kuburan orang baru meninggal, demi mendapatkan sepotong bagian tubuh, yang nantinya dipakai sebagai jimat.

Saking horornya kejadian semacam tersebut, kadang di kampung yang masih kentara mistisnya, dilaksanakan ritual khusus. Jika ada seseorang yang meninggal menjelang Jumat Kliwon, maka makamnya harus dijaga hingga setelah hari tersebut berlalu.

Warga desa takut, bahwa ada seseorang atau sekelompok orang, yang masih percaya dan memanfaatkan momen 'mistis' tersebut. Padahal, warga hanya ingin menghargai orang yang meninggal, dan tidak ingin jenazahnya kehilangan apapun, alias bagian dari Pamali yang benar.

Padahal, di Indonesia sendiri yang mayoritas menganut Islam, para penyembah jurig tersebut sudah keterlaluan. Jumat adalah hari besar bagi umat muslim, maka malam Jumat biasanya diisi dengan mengaji.

Dan kembali ke budaya Jawa, tidak ada ritual semacam oknum tersebut. Kebanyakan, tradisi mengacu simbolis, dengan nilai norma baik yang dijunjung tinggi.

Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke sinopsis film Danyang Wingit Jumat Kliwon. Memang, layaknya film luar negeri yang mengisahkan horor, banyak ritual tradisionalnya dimodifikasi, agar sesuai dengan kebutuhan cerita dan plot. Padahal jika dicek (melalui internet), ritual aslinya tidak semenyeramkan itu, dan bahkan mencontohkan nilai baik.

Oh ya, bagi yang merasa heran dengan nyanyian tradisional Jawa, maka jangan langsung mengacu pada hal horor. Bagi yang suka menonton Wayang bersama sinden-nya (di YouTube), justru terdengar merdu. Mungkin, pendengarnya saja yang kurang paham (atau persepsi) mengenai bahasa dan budaya Jawa.

Oh ya lagi, bagi yang kurang suka dengan adegan kekerasan nan sadis, maka film horor ini cukup menyajikan berbagai adegan darah-mendarah dan daging-mendaging, yang bisa jadi kurang suka menontonnya.

Sinopsis Film Danyang WIngit Jumat Kliwon

Citra (Celine Evangelista) adalah seorang penyanyi yang tengah mencari kerja, demi membantu pengobatan adiknya, Dewi (Aisyah Kanza). Kebetulan, padepokan yang kenalannya, Mbok Ning (Nai Djenar Maesa Ayu) bekerja, membutuhkan seorang sinden untuk pagelaran wayangnya. 

Baru beberapa hari pindah ke lokasi padepokan, Citra langsung diberi petuah dari Dalang Ki Mangun Suroto (Whani Darmawan). Dalang yang ambisius tersebut, menegaskan bahwa seluruh ritual Wayang Ruwat harus dilaksanakan dengan rapih, kalau tidak bisa kualat.

Berbagai ritual pun dilaksanakan oleh Citra, dengan bantuan langsung dari Mbok Ning. Namun, setelah beberapa lama melaksanakan ritual yang awalnya biasa saja, justru Citra semakin sering bermimpi aneh, bahkan hingga kesurupan.

Bara (Fajar Nugra) adalah salah seorang kru pendukung Wayang Ruwat, yang sudah mengenal berbagai ritual di padepokan Ki Mangun Suroto. Bara semakin heran memperhatikan perubahan ritual di padepokan, yang makin berbeda saat Citra datang, dan membuat Bara semakin curiga.

Bara yang sebenarnya tidak ingin ikut campur, tidak tahan juga. Bara akhirnya mencoba membantu Citra, untuk dapat 'selamat' dari seluruh ritual di padepokan. 

Apakah Bara dan Citra bisa selamat dari ritual mengerikan di Padepokan Wayang Ruat? Atau malah ritual berhasil dan Ki Mangun Suroto semakin sakti? Atau mahluk dari dunia lain yang terpanggil malah murka dan membasmi semua pihak yang terkait?

Jawabannya, tentu dapat dilaksanakan ritualnya di padepokan mistis sinema-sinema Indonesia.