10 Februari 2026

Kompilasi Film Horor yang Semua Tokoh Utamanya adalah Wanita: The Strangers: Chapter 3, Whistle, Panor 2, Waru

Maya yang harus ikut-ikutan (IMDB).

Untuk menyambung dengan hangat, hari kasih sayang di tanggal 14 Februari mendatang, sebaiknya kita rayakan dengan empat film horor saja (haha). Sayang seribu sayang memang, tapi mau gimana lagi. Bukannya penulis mau berbagi minat pecicilan, tetapi jadwal rilis keempat filmnya adalah minggu ini, di banyak sinema Indonesia. Apalagi seluruh tokoh utamanya, ternyata semuanya wanita.

Untuk menyambut perilisan film seperti ini, nanti dirilis tiga artikel Monsterisasi, yang semua tokoh utamanya wanita, dan diantaranya bergenre horor atau drama sehari-hari. Ya, tidak akan membahas romansa di minggu ini, namun kita cek saja dari genre lainnya.

Oh ya, ternyata rata-rata film horor ini memiliki rating berat pula, tiga diantaranya berating D17. Satu lainnya berating D21, karena memiliki banyak adegan daging-mendaging dengan latar tokoh utama seorang psikopat yang kesurupan.

The Strangers: Chapter 3

Okeh, ternyata film yang baru dirilis seri keduanya bulan Oktober tahun lalu, diakhiri dengan kisah romansa antara tokoh antagonis dan pemeran utamanya. Karakter Maya (Medelaine Petcsh) di The Strangers: Chapter 3, ternyata harus bergabung dengan grup psikopat, yang sebelumnya terus mengejar dirinya. 

Terlihat sekilas dalam cuplikannya, Maya dipasangkan topeng oleh tokoh psikopat bertopeng lainnya. Bahkan, keduanya hingga curhat di satu adegan, dengan berbincang kisah kematian seorang anggota keluarga atau temannya.

Entah maksud dari dialog tersebut, atau memang ritual khas psikopat bertopeng tersebut. Jadi, jumlah anggota grup psikopat akan terus bertambah atau terisi kembali, dengan menculik salah seorang penyintas sebelumnya. Mungkin sejenis Pansos, kali ya?

Atau, memang sejenis Stockholm Syndrome, yang perlu dibahas di artikel ini. Ya, bagi yang tahu arti dari gangguan mental sejenis ini, pasti langsung ngeuh melihat cuplikan filmnya. Karena antara penculik dan korban, malah saling berbagi empati satu sama lainnya. Bahkan, Maya terlihat dalam satu aksi, dimana dia harus ikut menyiksa korban lainnya, alias ikut 'inisiasi' grup psikopat ini.

Entah bagaimana kelanjutan film ini, apakah Maya perlu bertahan hidup saja, atau ikut berperan sebagai psikopat. Uniknya film horor saat ini, adalah banyak akhir cerita yang tidak terduga. Bukan hanya plot twist, tetapi beberapa kemungkinan (selalu) dapat terjadi setiap akhir film horor, bahkan hingga akhir terburuk.

Chrys dengan peluit Aztec keramatnya (IMDB).

Whistle

Berikutnya adalah film ala standar horor remaja, dengan tokoh utama yang cukup familiar, bernama aktris Dafne Keen sebagai Chrys Willet. Aktris berdarah Spanyol dan Inggris ini awalnya naik daun, semenjak memerankan Laura alias X23 di film Wolverine paling sedih, berjudul Logan dari tahun 2017 lalu. Keen sempat kembali dalam film Deadpool & Wolverine pada tahun 2024 lalu, dengan memerankan kembali X23 yang telah dewasa.

Kembali ke film Whistle, justru memiliki sineas perfilman yang berlatar mumpuni. Dalam cuplikannya tersemat dengan kentara dan bangga, nama sutradara Corin Hardy. Produksi film The Nun (2018) yang dipimpin oleh Hardy, adalah sejenis film sampingan (spin-off) dari waralaba The Conjuring. Studio produksi film Whistle pun cukup unik, yaitu No Trace Camping, yang sempat memproduksi film unik, berjudul Late Night with The Devil (2023).

Cukup mengherankan juga, karena awal cuplikan diisi dengan nama Independent Film Company (IFC), yang tetap setia merilis film bersama Shudder sebagai layanan siarannya. Keduanya memang terkenal dalam merilis banyak film horor unik dengan bujet terbatas. Contoh terakhirnya adalah film Good Boy, yang dirilis bulan Oktober tahun 2025 lalu. Mungkin karena sineasnya memiliki latar berbeda, sehingga film ini cukup banyak diisi para bintang.

Nah di film Whistle ini, Chrys Willet memiliki sebuah peluit keramat dari jaman suku Aztec terdahulu. Ketika ditiup oleh seseorang, maka sejenis jurig akan mengejar semua orang yang mendengar siulannya, dan membasmi mereka semua. Jurig yang muncul pun cukup kontras, karena berupa dan berwujud korbannya di masa depan, namun lebih sangar.

Panor yang kembali menjelma dalam dirinya (TMDB).
Panor 2

Nah, untuk film yang satu-satunya berating D21, Panor 2 cocok bagi para penikmat film sadis, dengan adegan intimidasi, darah-mendarah, daging-mendaging, alias body-horror-nya. Cukup terlihat sadis dari cuplikannya, yang memang berasal dari negara terhoror Asia Tenggara, bernama Thailand.

Film Panor sebenarnya bagian dari dunia Art of the Devil (Long Khong), yang dirilis pertama kalinya sejak tahun 2004. Waralaba film Art of the Devil dilanjutkan hingga menjadi trilogi, dengan perilisan sekuelnya di tahun 2005 dan 2008. Baru di bulan April tahun 2025 lalu, dirilis film Panor pertama dengan animo yang sama.

Berbeda lajur waktu dengan trilogi pertamanya, film Panor adalah prekuel dari Art of the Devil, berfokus latar karakter utamanya yang bernama sama. Panor (Cherprang Areekul) adalah nama seorang gadis terkutuk, yang masih bersekolah dan memiliki aura berbeda. Namun di film tahun 2026 ini, Panor telah lulus sekolah dan sedang mendalami ilmu sebagai pendidikan guru.

Fokus Panor sebagai karakter utamanya, ternyata kontroversial. Karena Panor dalam kesehariannya, adalah gadis biasa yang sedang tumbuh dewasa. Namun akibat memiliki kutukan warisan orangtuanya, maka saat ditindas, karakter kedua Panor akan muncul. Layaknya kepribadian ganda dan kesurupan alias kerasukan sekaligus ala Pamacan, Panor berubah sifat, sikap, dan aksi. Panor melawan balik dengan jahat, sehingga sangat kontras perbedaannya.

Melanjutkan film pertamanya, Panor tengah ditarget oleh keluarga dari korban sebelumnya. Tokoh 'antagonis' tersebut, ternyata tahu semacam ilmu hitam, demi melawan Panor yang lebih sakti mandraguna dari dirinya.

Berbeda dengan film Art of the Devil, justru film Panor lebih kentara dengan adegan sadisnya. Karena itu, ratingnya pun naik dari D17, menjadi D21. Bagi yang tidak suka kengerian sejenis ini, maka disarankan untuk menghindarinya saja.

Pohon Waru yang berwujud lebih ngeri (TMDB).

Waru

Dan kurang lengkap rasanya, jika membahas film horor tanpa mengikut-sertakan film dalam negeri. Kali ini tokoh utamanya masih wanita, yang berjudul film Waru. Masih mirip dengan animo horor lokal yang kental dengan budaya Jawa-nya, serta berbeda dengan mayoritas film luar negeri, Waru menceritakan kisah tumbal di lokasi yang menyeramkan.

Padahal Waru adalah sejenis nama tanaman, yang dikenal sebagai tanaman kapas pesisir pantai, khususnya di Jawa. Nama Waru itu sendiri kental sebagai sebutan di berbagai lokasi Jawa, yaitu di daerah Sunda, Jawa, dan Bali.

Namun di film ini, pohon Waru justru dihuni oleh sejenis jurig jahat, yang memiliki ritual khusus bagi pengikutnya. Dalam cuplikannya sendiri, terdapat satu referensi khusus dengan aksara Jawa, yang selalu kental dengan horornya. Jadi, semakin jelas referensi darimana film ini, beserta ritual pesugihannya. Ya, film ini berkisah tentang ritual pesugihan tumbal, seperti dilansir dari percakapan karakternya.

Surat dengan aksara Jawa yang ditampilkan, mengacu pada Lidya (Dewi Amanda) yang sering kesurupan hingga harus dipasung. Setelah diselidiki oleh anaknya yang bernama Nadine (Bella Graceva), ternyata gangguan mental ibunya adalah akibat perjanjian mistis terdahulu. Demi kesuksesan keluarga, pesugihan meminta tumbal satu kepala setiap tahunnya, namun tidak pernah dilaksanakan.

Karena itu, satu cara untuk membatalkan perjanjian ini, yaitu dengan membakar pohon Waru di sekitar rumah neneknya, yang bernama Waru (Yati Surachman) pula. Entah apa akhir ceritanya, kemungkinan yang terjadi adalah Nadine dan beberapa kawannya, tidak akan selamat dan malah memenuhi janji tumbal.