![]() |
| Akari dan Takaki yang Gaje (TMDB). |
Saatnya menikmati dirilisnya karya Sensei Makoto Shinkai berjudul 5 Centimeters Per Second, yang diadaptasi ala aktor-aktris nyata alias Live Action. Ratingnya pun masih sama, yaitu R13 alias remaja. Film yang dirilis awal bulan Februari 2026 di sinema Indonesia, cukup berbeda dengan versi anime.
Makoto Shinkai tidak ikut berandil dalam produksi Live Action-nya. Bagi yang ingin mengecek beberapa film anime hasil karya Makoto Shinkai, bisa membaca artikel referensinya di Blog ini. Sensei Shinkai memang sudah senku sebagai sineas di perfilman Jepang, khususnya drama dengan banyak karya hebat, yang semuanya dimulai dari film anime 5 Centimeters Per Second ini.
Drama Live Action di JepangNah, bagi yang agak risih dengan istilah Live Action, menurut penulis sih tidak perlu ragu untuk menontonnya. Justru karena tema anime ini adalah Drama Romansa pemuda-pemudi Jepang, maka akting yang ditampilkan lebih natural, dengan karakter yang realistis. Biasanya drama semacam ini di ranah perfilman Jepang, justru lebih kental dengan budayanya sendiri, dan berbeda dengan hebohnya anime.
Penulis sempat menonton beberapa anime yang kurang layak diadaptasi sebagai Live Action, contohnya adalah Attack on Titan (2015), yang berakhir Cringefest. Padahal AoT tidak seperti kebanyakan anime, yaitu atmosfernya yang serius, brutal, dan dingin, karena berlatar cerita militer. Namun, di AoT Live Action, malah jadi cringefest yang kurang nyambung sama sumber cerita aslinya.
Contoh karya lama bergenre drama dari Jepang, adalah film One Liter of Tears di tahun 2005, dan My Boss My Hero di tahun 2006. Keduanya memang menyajikan cerita yang bisa dikategorikan sebagai kisah drama sehari-hari, namun tetap menyanyat hati karena cukup dalam momennya.
Versi Anime dan Live Action
Nah sesuai khasnya karya Makoto Shinkai, maka banyak latar tempatnya yang mengambil referensi lokasi di dunia nyata, dengan penggambaran yang tepat dan mendetail. Visual animenya pun sangat ciamik, dengan warna dan pencahayaan yang hangat, layaknya sebuah lukisan hidup.
Dari segi cerita, mungkin dijabarkan lebih panjang dan mendetail lagi. Jujur, penulis kurang ngeuh saat menonton anime 5 Centimeters Per Second ini, apalagi kurang terbiasa dengan drama romansa. Namun ceritanya cukup dingin, dengan adegan yang kurang begitu nyambung. Alias anime ini layaknya sebuah timeline saja, tanpa adegan dialog atau drama yang kentara. Justru karya Makoto Shinkai setelahnya, lebih banyak menggambarkan adegan yang lebih heboh.
Apalagi dengan durasinya yang hanya sekitar satu jam, maka adegan pun kurang dramatis. Nah karena itu di artikel sebelumnya yang membahas anime ini, justru penulis hanya menganjurkan untuk mendengarkan lagu di akhir film, berjudul One More Time, One More Chance. Maksudnya ada beberapa kekosongan adegan di anime ini, yang terisi saat lagu ini dimainkan di akhir film.
Segitu saja membahas versi animenya. Lalu, bagaimana dengan versi cerita Live Action-nya? Justru tidak begitu terlihat dalam cuplikannya, namun bisa dicek saja pada durasinya. Ya, film di tahun 2026 ini justru berdurasi dua kali lipat, alias dua jam. Menurut penulis, daripada seluruh kekosongan cerita justru berada di akhir film dengan lagunya, film ini akan diisi dengan banyak adegan yang lebih kentara di seluruh durasi penayangannya.
Realistisnya Cerita 5 Centimeters Per Second
Nah penulis tetap akan membahas, bahwa kisah di film ini sangat realistis. Saat masa muda yang penuh gejolak, hingga melangkah menuju dunia dewasa dan segala kesibukannya, hubungan komunikasi dan batin akan menjadi suatu halangan tertentu, atau terhalang oleh sesuatu.
Seperti kisah di 5 Centimeters Per Second, dimana karakternya telah kasmaran sejak berumur kecil. Namun, keduanya terpisah oleh jarak dan waktu. Ceritanya lalu berlanjut tentang kisah Long Distance Relationship (LDR), lalu mulai Lost Contact (LC), dan akhirnya tidak kenal sama sekali. Bahkan keduanya mungkin tidak akan kenal lagi dengan wajahnya, walau bertemu langsung.
Keduanya memang digambarkan dengan alurnya masing-masing. Kedua karakter utama, yaitu Akari (Noa Shiroyama, Mitsuki Takahata) dan Takaki (Haruto Ueda, Yuzu Aoki, Hokuto Matsumura), melalui jalan hidup yang berbeda satu sama lainnya, semenjak terpisah. Keduanya sempat berhubungan dengan surat menyurat, walau akhirnya hilang kontak saat jaman ponsel tiba.
Terdapat pula karakter ketiga lainnya, yaitu bernama Kanae Sumida (Nana Mori), yang sempat mengisi kekosongan Takaki saat masih bersekolah SMA, dan telah hilang kontak dengan Akari sejak lama.
Bahkan, cerita ini berlanjut hingga Takaki yang telah dewasa, kuliah dan mulai bekerja di kota yang sama dengan Akari. Walau begitu, momen galau keduanya tetap disajikan berbeda. Kota yang telah dianggap (oleh Takaki) sebagai dunianya Akari, membuat dirinya tertekan akan masa lalu. Coba dicek saja, bagaimana perubahan Takaki di film ini, saat dirinya menginjak umur dewasa, dan kembali bernostalgia tanpa Akari.
Nah segitu saja, dan jangan heran bahwa artikel ini mengisahkan semuanya. Kenapa? Karena berbeda dengan film lain yang lebih Dramatis dan Epik sekaligus, film Romansa dan Drama ini justru tidak begitu 'Liar' ceritanya, dan mementingkan adegan yang lebih 'Relate' dengan penontonnya. Ya sekali lagi, adegannya memang cukup wajar namun nyambung, seperti khas karya drama dari Jepang sana. Jadi bagi yang menontonnya, harus lebih menjiwai setiap adegan yang muncul di layar.
Okeh, saya pun bingung. Sayounara!



