18 Februari 2026

Mengenang dan Menyelenggarakan Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional (Kemendikdasmen).

Berikutnya adalah momen menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, yang dirayakan tanggal 21 Februari setiap tahunnya. Hari Bahasa Ibu Internasional dirayakan sejak tahun 1999 lalu, yang diusung oleh UNESCO dari PBB. Tujuannya adalah untuk melindungi dan melestarikan banyak ragam bahasa ibu, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa ibu dalam kehidupan manusia.

Seperti sudah diutarakan sebelumnya pada artikel Hari Kebangkitan Bahasa Sunda di blog ini, penulis yang berlatar Tatar Sunda, cukup dekat kesehariannya dengan bahasa Ibu. Bahkan, penulis hanya bertutur kata bahasa Indonesia saat menulis blog ini, sementara seharian hanya berbincang Sunda.

Merayakan Bahasa Ibu

Dilansir dari UPI, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasi seorang umat manusia sejak lahir. Perannya sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak hingga dewasa, yaitu sebagai pembentukan identitas dan budaya bagi individu, proses belajar anak sejak usia dini, dan pelestarian nilai-nilai lokal.

Sebagai proses belajar anak di usia dini, anak lebih mudah memahami materi belajar dalam bahasa yang dikuasainya. Proses ini sesuai dengan ucapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, yang menyatakan melalui situs Kemendikdasmen, "Kajian akademik menunjukkan bahwa anak yang memulai pembelajaran dengan bahasa ibu, memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep akademik dengan kemampuan literasi yang lebih optimal."

Sementara dari segi pelestarian nilai lokal, dimulai saat anak mendengarkan cerita rakyat, tradisi, dan kearifan lokal dari budaya dan bahasa persukuannya. Seperti dilansir dari STPS Sahid Surakarta, bahasa ibu bukan hanya sarana komunikasi, melainkan mencerminkan budaya dan cara berpikir masyarakat. 

Setiap bahasa membawa warisan pengetahuan, tradisi, dan nilai yang sangat berharga. Dengan terus melestarikan penggunaan bahasa ibu, warga sebagai pelakon utamanya, tidak hanya menjaga kelangsungan bahasa itu sendiri. Tetapi, menghidupkan kembali warisan budaya sebagai satu identitas bagi komunitas berbahasa daerah.

Foto Naskah Carita Waruga Guru (Wikimedia).

Ngamumule Basa Sunda

Menurut sejarahnya, bangsa Austronesia bermigrasi dari Taiwan, lalu Filipina, dan akhirnya tiba di Pulau Jawa pada tahun 1000 hingga 1500 tahun Sebelum Masehi, seperti dilansir dari FISIP UI.

Mengenai namanya itu sendiri, asal nama Sunda masih abstrak. Secara etimologis, merujuk pada kata Cuddha dari Sansekerta, yang berarti cahaya, putih, bersih, murni, atau bersinar. Adapula yang mengartikan bahwa Sunda adalah perpaduan morfologi antara Sun (satu) dan Da (dua). 

Dari basa Sunda sendiri, Saunda berarti lumbung atau makmur, atau Sonda yang berarti bagus, bahagia, dan unggul. Kata Sunda merujuk pula pada ibukota Sundapura, sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara, yang berjaya saat abad empat hingga tujuh Masehi lalu, seperti dilansir dari Portal Brebes.

Pelestarian resmi basa Sunda, sudah dicanangkan sejak tahun 2013 lalu di Jawa Barat. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) No. 69 tahun 2013, Bahasa dan Sastra Sunda dicanangkan sebagai muatan lokal wajib bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah, bagi seluruh sekolah di Jawa Barat. 

Pendidikan bahasa Sunda sangat penting dilaksanakan untuk di sekolah, karena bertujuan untuk membedakan tingkatan bahasa Sunda. Tergantung kepada siapa yang diajak berbicara, maka bahasa Sunda harus menggunakan tutur kata Lemes (halus), Loma (akrab), atau kasar.

Menurut Ahmad Ghibson Al-Busthomi sebagai Pakar Hikmah Kasundaan, yang dilansir dari situs UIN Sunan Gunung Djatingamumule (melestarikan) basa Sunda berarti harus dilaksanakan oleh semua warga Sunda. Jangan sampai ada kesan budaya Sunda hanya milik budayawan dan sastrawan saja. Pesantren dianggap pula tidak menjaga kelestarian Sunda, dengan mengajarkan bahasa dan menulis aksara Jawi atau Pegon.

Namun menurut Ghibson, ada empat cara untuk tetap ngamumule Sunda sebagai warga biasa. Pertama, yaitu menghormati, memuliakan, serta mengagungkan kesenian seperti pentas, berbicara basa, memakai baju adat, dan menjaga sikap etika Sunda. Kedua yaitu terus menyerap dan menerima makna baru ke dalam basa Sunda. Ketiga adalah membangun kreasi baru di bidang perkakas dan teknologi. Keempat adalah meningkatkan kebudayaan karuhun (leluhur) Sunda, dengan mengembangkan bahasa sehari-hari, sastra, hingga seni.

Ghibson menambahkan bahwa tahap pengembangan budaya Sunda harus dengan dua cara. Satu yaitu dengan meningkatkan lokalitas wilayah dan sejarahnya. Kedua, dengan terus mewariskan budaya Sunda secara berkelanjutan.

Janten, sakanteunan ngahaturkeun filosofi hirup ti Kang Prabu Siliwangi, nyaeta Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh ka sadayana.

Sanes teu sono, tapi bade permios. Wassalam.

Sedikit Carita Buhun Sunda

Oh ya, ada satu lagi penggambaran mitologi Sunda, yang seperti biasa, kurang dapat dicek keabsahannya. Warga pulau Jawa saat awal penjelajahannya, memang berpusat di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sementara wilayah Jawa Barat belum terjamah sama sekali.

Namun, ekspedisi untuk membuka lahan dengan membabat hutan di Jawa Barat saat jaman tersebut, ternyata cukup menghasilkan. Walau begitu, warga perlu melalui naik-turunnya pegunungan, dalamnya lembah, curamnya jurang, serta banyak hewan berbahaya seperti harimau, buaya dan ular berbisa.

Karena itu, sejak keberhasilan warga pulau Jawa untuk mendiami Jawa Barat, dan bahkan hingga membangun kerajaan sendiri selama berabad-abad lamanya, memberi simbol khusus pada warga Sunda. Maung alias Harimau yang kuat dan sanggup menguasai hutan belantara, adalah simbol tersebut.

Tapi ya, jangan sampai langsung pamacan dan berkoar "Aing Maung!"

Aing Maung! (YouTube).