Tampilkan postingan dengan label Rating D17. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rating D17. Tampilkan semua postingan

22 April 2026

Aksi Gelut Live Action Ala Jepang di Film Wind Breaker

 

Haruka yang suka gelut (TMDB).

Okeh, saatnya menyambut film Live Action yang berbeda dari Jepang sana, berjudul Wind Breaker, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia dengan rating D17. Film ini agak unik, jika dibandingkan dengan banyak film Live Action Jepang. Yaitu khas gelut anak SMA berandalan, yang tentu tidak seaneh animo anime lain.

Manga Wind Breaker dan Crows

Nah, sebelum membahas cerita filmnya, justru perlu dibahas animo gelut anak SMA dari Jepang sana. Wind Breaker memang diadaptasi dari manga dan anime yang berjudul sama, hasil karya Satoru Nii. Dan Ya, animo ini sempat ramai sejak film Crows Zero, yang rilis tahun 2007 lalu. Crows Zero sempat menjadi bahan rekomendasi legendaris di Indonesia, khususnya dari kalangan teman terdahulu. Apalagi, film ini khas dengan sinematografi ala Jepang.

Sayangnya, penulis belum menonton sama sekali film Crows Zero, yang rilis manganya pada tahun 1994 dari Hiroshi Takahashi. Mengapa? Karena penulis sempat menamatkan manga Crows, yang baru rilis di Indonesia pada awal 2000an. Ditambah lagi, jaman tersebut adaptasi Live Action dari manga atau anime sering mengecewakan, walau tentunya ada pengecualian khusus untuk Crows yang berlatar gelut SMA.

Nah jadi, mengapa penulis tidak mengikuti hype film Crows Zero? Jaman tersebut, memang animo-nya berubah, khususnya dari penulis sendiri. Pas sedang ramai rekomendasi Crows Zero, penulis telah lulus SMA, dan sedang fokus untuk kuliah. Ditambah lagi, teman yang dulu sering merekomendasikan manga, khususnya Crows, bahkan tidak ikut merekomendasikan filmnya.

Tidak hanya faktor luar, tetapi penulis memiliki animo berbeda untuk waralaba Crows, manga dan filmnya sekaligus. Kesinambungan yang agak berbeda, yaitu saat penulis memahami Arc terakhir manga Crows. Jadi, terasa lebih intrinsik, daripada pengaruh luar.

Entah kenapa, sepertiga manga yang tersisa hingga serialnya tamat, Crows justru berubah menjadi cerita yang antiklimaks. Banyak isi cerita, lebih mengisahkan slice of life, yang berfokus pada kegalauan anak SMA menjelang lulus. Ada yang berinisiatif langsung gabung Yakuza, ada yang fokus kerja ala Rindaman, atau bahkan lucu-lucuan bersama cewek pujaan. 

Bahkan ritual sang tokoh utama Harumichi Boya, lebih aneh lagi di akhir manga Crows. Harumichi yang biasanya telat untuk mengikuti gelut (di Arc sebelumnya), tambah telat lagi di akhir serial manganya. Karena lebih sering curhat bersama temannya yang sedang dekat sama cewek SMA, jadinya Harumichi ikut mengejar romansa masa SMA. Lucunya lagi, semua Build-Up cerita di akhir serial, ternyata diakhiri dengan sedikit duel saja, dan tidak seheboh awal manga.

Nah ternyata, manga Crows terisi banyak kegalauan anak SMA, yang fokus pada cara komunikasi ala laki remaja. Karena itu, karena terasa cukup nyambung, dan penulis sangat pesimis dengan filmnya, akhirnya tidak berinisiatif untuk menonton film Crows Zero.

Sedikit Sinopsis Wind Breaker

Lalu, apa hubungannya dengan Wind Breaker? Nah justru disinilah asyiknya kesinambungan tersebut. Dari sedikit sinopsis plot Wind Breaker di Inet, ternyata animo akhir Suzuran mirip dengan kisah Wind Breaker. Tokoh utama Haruka Sakura, ternyata baru masuk SMA dengan gang-nya yang fokus menjaga wilayah. 

Animo seperti ini, mirip dengan akhir kisah Crows, dimana para bujangan gelut ini bergabung dalam satu aliansi, untuk melindungi Suzuran dari serangan luar. Ya, berbeda dengan kisah di seluruh awal manga Crows, yang berfokus pada gelut antar karakternya.

Ya, segitu saja setelah panjang lebar. Pokoknya sinopsis lebih singkat lagi, karena cuplikan filmnya memang berisi gelut semua. Haruka Sakura (Koshi Mizukami) ternyata heran, saat dirinya gelut tepat satu hari sebelum hari pertama sekolah. Haruka dibantu oleh geng dari sekolah barunya, yang menjadi pertama kalinya. 

Haruka pun langsung dianggap teman, dan layak untuk bergabung dengan geng bernama Bofurin ini. Haruka yang selama ini gelut demi Flexing dan mengejar Rank pun, tertegun dengan niat geng Bofurin untuk menjaga wilayahnya. Bahkan Haruka akhirnya terenyuh, bahwa masa SMA ini, akhirnya dia punya teman juga.

Jadi, silahkan saksikan saja bagaimana film gelut SMA ala Jepang ini, yang kadang lebih nyambung alias relate dengan khas komunikasi bujang baragajul, di sinema Indonesia.

21 April 2026

Rasanya Bertunangan Ala Duet Robert Pattison dan Zendaya di Film The Drama

Duo aktor-aktris yang awalnya fantastis (TMDB).

Berikutnya adalah film drama romansa yang agak pecicilan, karena judulnya saja cuman The Drama, yang tayang minggu keempat di sinema Indonesia dengan rating D17. Walau judulnya sederhana, tetapi berisi duet aktor-aktris muda yang semakin naik pamornya, yaitu Robert Pattison dan Zendaya. Uniknya, keduanya memang terkenal sejak memerankan karakter fantasi dan pahlawan super.

Zendaya dan Robert Pattison

Zendaya yang tentunya dikenal sejak film Spiderman: Homecoming (2017) lalu, sudah cukup move-on dari film ala pahlawan supernya. Sudah berkecimpung di dunia perfilman sejak kecil, kini Zendaya berhasil memenangkan penghargaan film, contohnya adalah film Euphoria (2019). Kemampuan aktingnya di waralaba film penuh penghargaan, Dune (2021) dan Dune: Part Two (2024) pun cukup dihargai, dengan nominasi sebagai Aktris Pendukung Terbaik. 

Sementara Robert Pattison, adalah aktor yang betulan menggila semenjak pamornya naik. Pattison dikenal dan dikenang sebagai aktor ganteng ala vampir di waralaba Twilight (2008, 2009, 2010, 2011, 2012). Banyak yang mengagumi Pattison, apalagi dari kaum muda-mudi. Seakan, Pattison adalah pasangan ideal yang akan mengisi ranah film Romansa hingga akhir masa.

Namun setelahnya, Robert Pattison malah serius dalam berkarir akting, apalagi di berbagai proyek film yang kurang mainstream, contohnya adalah film High Life (2018). Film ini mengisahkan drama dan akting yang kentara dari Pattison, karena berlatar di satu lokasi dengan satu karakter saja bernama Monte. Itupun berada dalam kapsul tertutup di tengah antariksa dan ditemani seorang saja, yaitu oleh anaknya yang masih bayi 

Kemampuan aktingnya pun dicoba dalam film The Lighthouse (2019), yang mengisahkan kegilaan para penjaga mercusuar, sebelum jaman otomatisasi lampunya. Film hitam putih ini memang mengadu Pattison dengan aktor drama kawakan, yaitu Willem Dafoe yang sempat bermain pula di film pahlawan super.

Berikutnya adalah film berbelit-belit dan aneh ala Chistopher Nolan, yaitu Tenet dari tahun 2020 lalu. Masih seperti khas penulisan dan sutaradara Nolan, film yang ceritanya susah dimengerti dan disambungkan ini ternyata mampu dijalankan oleh Pattison dan aktor utamanya, John David Washington.

Sang vampir pun kembali menjadi manusia setengah vampir nan kelelawar, dalam film pahlawan super berjudul singkat, The Batman (2022). Film yang berhasil menggelap-gulita-kan Gotham kembali, cukup menarik di segi detektif kriminalnya,  sekaligus dengan pembawaan karakter Wayne ala akting Pattison.

Nah, bagaimana film The Drama berisi kombinasi aktor-aktris muda yang ramai sejak memerankan karakter fantastis, namun lanjut dan kembali ke ranah drama ini? 

Sinopsis Film The Drama

Emma Harwood (Zendaya) dan Charlie Thompson (Robert Pattison) adalah sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Saking terjerembap kasmarannya, keduanya lalu bertunangan dan siap untuk lanjut menuju jenjang pernikahan. 

Namun, sebuah drama terbaru menimpa mereka. Yaitu saat kedua temannya, Mike (Mamoudou Athie) dan Rachel (Alana Haim) bertanya mengenai kesiapan mereka. Emma pun ragu, sementara Charlie malah cengengesan. 

Drama pun berlanjut menuju ranah yang kurang jelas diantara keduanya. Heboh, namun sangat mempertanyakan faedah dari hubungan diantara sepasang romansa ini. Padahal, minggu tersebut adalah jadwal sesi pernikahan mereka, yang tentu mengundang seluruh keluarga, kerabat, dan teman terdekat. 

Sanggupkah mereka bertahan hingga upacara pernikahan berlangsung? Atau malah menemukan cara baru untuk memperpanas semuanya? Jawabannya, tentu ada di ranah kasmaran nan romansa ala sinema Indonesia.

15 April 2026

Menikmati Kursi Penonton di Film The Cabin in the Woods

 

Kelima stereotype yang linglung (TMDB).

Sekarang saatnya menelaah film yang sebenarnya termasuk parodi, alias ironi dari genre-nya sendiri, berjudul The Cabin in the Woods. Film yang rilis tahun 2012 ini, berkisah sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak di sebuah kabin tua, di tengah hutan (sesuai judulnya). Ya, memang dari judul dan plot utamanya saja, sudah menyatakan ironi atas plot dan karakter dari genre horor ala film Hollywood.

Siapakah gerangan trio berkerah putih ini? (TMDB).

Sedikit Latar Kru Film The Cabin in the Woods

Bagi yang sudah menonton atau mengecek trailernya, tentu tahu beberapa aktor yang mengisinya. Chris Hemsworth sang Thor dari Marvel, tentu menjadi salfok yang khusus. Terdapat pula Franz Kranz, yang sebelumnya terkenal di film 300 (2006). Duo nama aktor yang terkenal, tapi mau juga berperan di genre yang memang pecicilan ini. 

Oh ya, ada satu nama aktris yang menjadi cameo pula di akhir film, tetapi tidak akan dibahas karena membuka isi ceritanya.

Bagi yang tahu Drew Goddard, tentu sempat mengenal film berjudul Cloverfield (2008) yang cukup fantastis. Berikut pula dengan sutradara Joss Whedon, yang dikenal sejak film Alien Resurrection (1997), lalu berlanjut di dunia Marvel dengan The Avengers (2012), Avengers: Age of Ultron (2015), dan sempat di DC dengan Justice League (2017).

Bahkan studionya pun memiliki nama tersendiri, yaitu dari Lionsgate Movies. Studio yang satu ini memang sering menyajikan film unik, padahal sudah cukup lama berkecimpung di dunia perfilman Hollywood (sejak 1997 lalu). Contoh terakhirnya, adalah film Turbulence yang dibahas tepat minggu ini dalam blog Sedia Saja.

Referensi Film dalam The Cabin in the Woods

Justru artikel ini tidak hanya merekomendasikan film The Cabin in the Woods, yang memang sangat berbeda dan memuaskan. Artikel ini akan menelaah tentang ironi dibalik produksi film horor. 

Sebenarnya banyak referensi horor yang dimasukkan ke dalam film ini, dari banyak waralaba lain. Seakan, film ini memang dibuat untuk homage saja terhadap banyak film lain dengan genre horor. 

Referensi tersebut akan dibahas sedikit, dan lebih baik dicek saat menontonnya saja. Bagi penggemar horor, tentu paham referensi dalam film The Cabin in the Woods. Contoh paling wajar adalah berbagai jenis monster dan situasi, dimana sering diadaptasi pada naskah film horor.

Contoh lebih spesifik akan membuat tercengang penonton, yaitu banyaknya mahluk bergentayangan dalam film ini. Bisa dicek satu-satu ya, dan yang sudah atau belum menonton, akan heran mengapa studio bisa mengisi film ini dengan banyak sekali karakter tersebut.

Terdapat referensi dari Friday 13th, Hellraiser, Werewolf, Sejenis Jurig, The Cube, Dreamcatcher, Eight Legged Freaks, Anaconda, Pennywise IT, The Shining, Leatherface, Zombie Pecicilan, KKK, SCP, Bats, Evil Dead, Gremlin, Alien, Psikopat Bertopeng Sok Brutal, Wrong Turn, Merman, Unicorn? dan bahkan Lovecraft! 

Masih banyak referensi film lainnya, yang penulis kurang pahami karena tidak selengkap itu menonton film horor. Ya, memang mengherankan bagaimana film berdurasi hanya 90 menit ini, berhasil memasukkan banyak dan variasi referensi film horor. Mungkin sang penulis naskah bernama Goddard ini, terlalu banyak melinting rokok saat menulisnya.

Atau mungkin, film horor sejenis ini menjadi latihan khusus bagi para penonton, penggemar, atau penulis yang berminat, dalam mengecek dan mengombinasikan referensi yang ada. Ranah sejenis ini memang bisa melatih kemampuan analisis, dalam melacak variasi dan sekaligus berkreasi.

Tidak se-ironis ini, kali ya...? (TMDB).

Ironi Film The Cabin in the Woods

Nah, apakah memang film ini hanya berisi referensi dari film lain saja? Tentu tidak. Terdapat satu hasil (observasi) orisinal dalam film ini, yang berisi ritual ala persembahan. Yaitu, dengan menumbalkan beberapa jenis karakter (ala film), dalam satu sesi pengorbanan tertentu.

Horor versi Amerika memang sering berisi stereotype karakter tertentu, yang dalam film ini berlandaskan The Athlete, The Whore, The Scholar, The Fool, dan The Virgin. Kelima karakter biasanya mengisi film horor pemuda-pemudi dan lainnya, dan terus diulang-ulang di banyak film, hingga seterusnya.

Ironi seperti ini menjadi khas utama di film The Cabin in the Woods. Seakan, seluruh naskah film yang dibuat oleh studio, telah di-setting sebegitu mungkin, agar sesuai dengan kemampuan yang pas bagi sutradara, aktor-aktris, kru, tim efek spesial, dan editornya. 

Bahkan, film ini menggambarkan secara harfiah, bagaimana ritual produksi film, bisa menjadi esensi yang mematikan dibalik layar. Tidak akan dibahas lebih lanjut mengenai tim produksi dibalik film ini, karena akan membuka (banyak) kisahnya. 

Perbedaan utama di genre film horor sejak The Cabin in the Woods dirilis, adalah berkembangnya horor Hollywood hingga sekarang. Banyak variasi horor yang semakin kreatif, dengan hanya menghindari stereotype diatas saja. Bahkan banyak filmnya yang mengambil referensi dari budaya yang cocok, tanpa perlu (ikut) menyalahgunakan referensi aslinya.

Karena itu, penulis juga heran sendiri, mengapa film horor menjadi minat terbaru. Sebelumnya, penulis lebih suka menonton film aksi, pahlawan super, atau bahkan kisah petualangan. Sementara pada jaman tersebut, film horor adalah pilihan yang aman, karena ceritanya dan adegannya suka sama dan begitu saja. 

Bahkan, Plot Twist yang berubah di film horor jaman sekarang, menjadi pilihan cerita yang kurang tertebak. Terlebih lagi, film horor sekarang seringkali bebas dalam menentukan akhirnya, yang bisa berarti Good atau Bad Ending. Kadang akhir film dikombinasikan pula, sehingga berakhir Miris-Manis alias Bittersweet Ending (ala film drama yang antiklimaks).

Ya, film The Cabin in the Woods memang mengacu pada ironi referensi film saat awal 2010an lalu, dan banyak waralaba sebelumnya. Sementara di tahun 2020an ini, film horor telah berkembang jauh, yang terkombinasi genre lainnya.

Oh ya, kisah di Cabin in the Woods ada yang berbeda pula, yaitu para karakter (utamanya) yang mau dan sanggup melawan balik agresornya. Tokohnya tidak terjebak dalam stereotype film horor, yang langsung lemah dan menyerah begitu saja (alias panik berdiam diri).

Wah2, ini film masih sejenis cermin satu arahkah? (TMDB).

Duduk Manis ala Penonton Film

Nah, singkat saja sebagai penonton, penggemar, dan pemerhati film horor (atau media secara luas), yaitu dengan duduk manis, menikmati, lalu menelaah saja tayangan yang ada. Apalagi setelah mengacu pada film The Conspiracy, yang dibahas di artikel sebelumnya.

Jadi, layaknya karakter Dana Polk sang The Virgin dari satu adegan di film The Cabin in the Woods, yang berselirih pedih "Let's Get This Party Started," sambil menekan tombol merah untuk membuka banyak hal yang berbahaya.

WAAAAARGHHHHH!!!

13 April 2026

Terjebak dalam Wahana Balon Udara Setinggi Angkasa di Film Turbulence

 

Emmy yang kesulitan setelah hampir jatuh (TMDB).

Saatnya membahas film unik nan cukup langka di sinema Indonesia, berjudul Turbulence yang tayang di minggu kedua bulan April ini, dengan rating film berumur Dewasa (D17). Film ini sebenarnya telah rilis akhir tahun lalu di AS sana, dan baru mulai tayang di Indonesia sejak bulan April.

Film yang diproduksi oleh Lionsgate ini memang berbeda, yaitu kisah terjebak dalam wahana balon udara (panas), dengan ketinggian cukup tinggi. Tampaknya Lionsgate mencoba mengembalikan animo film lama, dengan mengisahkan para pendaki gunung yang terjebak di ketinggian. Contohnya adalah film Cliffhanger bersama Sylverster Stallone dari tahun 1993, lalu ada Vertical Limit dari tahun 2000.

Satu film yang menarik adalah 127 Hours dari tahun 2010 lalu. Film yang diperankan oleh James Franco dan disutradarai oleh Danny Boyle (waralaba film zombie 28) ini, adalah adaptasi dari kisah nyata seorang pendaki bernama Aron Ralston. Pendaki yang sial ini terjebak saat mendaki gunung terpencil di Utah, AS. Dirinya perlu bertahan selama 127 jam lamanya, dibawah terik matahari dan kurang suplai makanan serta air. Untungnya Ralston sempat terselamatkan, walau dengan kekurangan tertentu.

Film Fall dari Lionsgate

Sebelum membahas film Turbulence, lebih cocok lagi dengan membahas film Fall terlebih dahulu, yang tayang tahun 2022 lalu dengan rating Remaja (R13). Film yang sama-sama diproduksi oleh studio Lionsgate ini, memiliki latar dan animo yang mirip, yaitu saat sedikit orang terjebak di lokasi terpencil nan tinggi. 

Dari cuplikannya, film Fall menyajikan kisah dua wanita pendaki, bernama Becky Connor (Grace Caroline Currey) dan Shiloh Hunter (Virginia Gardner). Keduanya adalah penantang maut, dengan menaiki sebuah menara telepon setinggi 700an meter, yang sudah tua dan karatan. 

Walau keduanya berhasil mendaki hingga puncak, bahkan hingga berfoto (wefie) bareng, namun naas terjadi. Saat akan turun kembali ke darat, tangga yang sudah rapuh malah terpotong, dan menyebabkan Becky hampir terjatuh. Untungnya Shiloh yang masih berada di puncak, terikat talinya dengan Becky dan sempat membantu naik kembali.

Berbeda dengan area gunung, keduanya memang tidak bisa memasang paku serta tali yang menjadi standar pendakian. Usaha bertahan hidup selama berjam-jam dibawah terik matahari, angin, serta cuaca yang berubah-rubah di tengah gurun pun, menjadi tantangan hidup-mati bagi Becky dan Shilloh. 

Sinopsis Film Turbulence

Zach (Jeremy Irvine) dan Emmy (Hera Hilmar) adalah sepasang suami istri yang sedang berbulan madu kedua. Rekreasi ini dilaksanakan demi mendekatkan pasangan kembali, setelah sempat lama renggang. Keduanya memang memiliki pekerjaan yang berbeda, sehingga sempat tidak sering bertemu.

Mereka berinisiatif untuk menaiki wahana Balon Udara Panas, yang awalnya berjalan baik-baik saja hingga ketinggian lima ribu meter. Namun seorang wanita bernama Julia (Olga Kuryler) tiba-tiba Tantrum dan berlaku ala Karen dari AS sana. Sambil menodongkan pisau, Julia bertanya pada Zach, apakah dirinya benar-benar telah melupakan dia.

Sementara itu, terjadi pergolakan berbahaya diatas ketinggian tersebut. Karena berjibaku dengan kurang senonoh di lahan sempit, mesin pemanas udara diatas balon tertarik talinya. Akibatnya, balon naik menuju ketinggian yang tidak masuk standar anjuran keamanan.

Lebih berbahaya lagi, tali yang ditujukan untuk mengatur panasnya udara menuju balon, tertarik hingga tidak bisa digapai tangan. Emmy yang badannya cukup ringan pun membantu dengan menaiki sisi balon, namun gagal dan malah tergelincir, walau terselamatkan oleh tali pengekang.

Sanggupkah Harry (Kelsey Grammer) sang pemandu wahana mendamaikan situasi penuh drama ini? Hingga akhirnya sampai ke darat dan semua berhasil selamat. Atau malah berujung mematikan bagi semuanya, diatas ketinggian berbahaya dengan penuh dendam kesumat?

Jawabannya, tentu ada di ranah tantangan keselamatan diri dan keluarga ala sinema Indonesia.

06 April 2026

Duo Aksi Kesurupan Jurig di Film Aku Harus Mati dan Hantu Dalam Sel

 

Suasana Lapas yang kedatangan arwah pendatang baru (TMDB).

Kalau di artikel yang satu ini, membahas duo film dari Indonesia yang memiliki cerita hampir mirip, yaitu rasanya kesurupan jurig, lalu membasmi seluruh orang di sekitarnya. 

Pertama adalah film Aku Harus Mati yang rilis minggu awal April, dan Hantu Dalam Sel di minggu ketiga April. Keduanya (masih pula) memiliki rating D17, karena isinya cukup brutal, namun memiliki genre yang berbeda. Film Aku Harus Mati lebih membawakan suasana horor, sementara Hantu Dalam Sel lebih mirip film di artikel sebelumnya, yaitu aksi campy yang kocak nan brutal tidak berwibawa.

Seringai saat kajajaden (TMDB).

Film Aku Harus Mati

Selayaknya film horor Indonesia, film Aku Harus Mati memang membawakan atmosfer, suasana, latar, serta adegan yang mengerikan ala jurig. Tokoh utamanya yang bernama Mala (Hana Saraswati) adalah seorang gadis biasa, yang baru saja kembali dari Jakarta ke rumah panti asuhannya terdahulu di Jawa. Namun, setelah lama tidak bersua, ternyata keadaan wilayahnya sudah berubah.

Mala mendapati rumah panti asuhannya terdahulu sudah cukup angker, dengan banyak kejadian aneh yang menimpanya. Salah seorang kuncen daerah, bahkan memberi saran agar Mala membuka mata batinnya, agar dapat mendeteksi aksi supernatural di sekitar areanya. Tentu, ditujukan agar Mala dapat mawas diri dan bertahan dari gangguan supernatural tersebut. 

Tidak lama berselang, beberapa temannya tiba-tiba mulai kerasukan. Tidak hanya bertingkah aneh, mereka membawa senjata dan membasmi banyak warga di sekitar rumahnya. Hantu yang merasuki, mungkin ada hubungannya dengan kejadian naas saat seorang ibu membasmi anaknya sendiri.

Sanggupkah Mala naik level dan menjadi pembasmi jurig lainnya? Atau malah ikut memanfaatkan keadaan agar bisa kembali hidup hedon dan foya-foya di Jakarta sang kota Metropolitan sana?

Nah, dari sinopsis segitu saja, sudah jelas bagaimana film ini mengacu pada ranah horor. Uniknya di bulan April ini, adalah kehadiran film Hantu Dalam Sel, yang ternyata latar ceritanya mirip. Kesurupan dan mulai membasmi banyak warga di sekitarnya? Ya, memang berasal dari ranah film sejenis horor. 

Namun berbeda dengan film ini, justru film Hantu Dalam Sel kentara dengan aksi campy dan kesan komedi kasarnya. Seakan, menyajikan bahwa latar horor bisa saja diadaptasi pada genre lain, yaitu dengan sedikit bumbu bodor yang brutal. 

Film Hantu Dalam Sel

Justru di Film Hantu Dalam Sel, adalah aksi campy yang berbeda, selayaknya artikel They Will Kill You dan Ready or Not. Bodornya, film ini ternyata disutradarai oleh sineas terkenal Joko Anwar, dan sempat disukai kritikus film saat dimainkan di beberapa festival film Internasional. Di minggu ketiga bulan April ini, akhirnya versi penonton dapat dirilis di sinema Indonesia. 

Tidak hanya disutradarai oleh Joko Anwar, ternyata banyak pemerannya adalah para bintang Indonesia. Diantaranya adalah Abimana Aryastya, Bront Palarae, Dimas Danang, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming Sugandhi, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Kiki Narendra, Haydar Salishz, Ical Tanjung dan masih banyak lagi. Latarnya yang berada di sebuah lokasi Lapas beserta banyak napinya, memang membutuhkan banyak aktor berwajah sangar.

Nah yang lucu, salah satu napinya berlatar seorang wartawan. Pemangku media yang (ikut) mengaku kesurupan ini, dituduh dengan dakwaan mengerikan. Yaitu, membasmi dan memutilasi tubuh bosnya sendiri. 

Mungkin ini adalah sejenis maksud dari Joko Anwar sebagai penulis naskahnya, yang menunjukkan bahwa media berita saat ini sudah terlalu dalam menjabarkan beritanya. Bukannya bersikap, bertindak, dan menulis kritis, malah mengacu pada sensasionalisme di ranah yang serius. Tentunya, berbeda ala ranah film yang bersifat fiktif dan hiburan, sehingga ujungnya dapat diterima dengan ringan.

Oh ya, yang lucu lainnya adalah judulnya sendiri, yaitu Ghost In The Cell dalam bahasa Inggrisnya. Mungkin judul dalam bahasa inggris ini, adalah semacam anekdot dari film anime terkenal, yaitu Ghost In The Shell. Film anime ini memang satu dari banyak anime, yang berlatar Cyberpunk dengan dunia kacau balaunya, dan (katanya) tetap mempertanyakan ranah jiwa manusia.

Bagaimana dengan sinopsisnya? Nah justru cukup singkat, padat, jelas, dan tidak membuka spoiler sama sekali (alias dari cuplikan saja). Filmnya memang berkutat di sebuah Lapas, yang penuh dengan penjahat kelas kakap. Para kriminal ini memiliki hobi tersendiri, yaitu saling adu gelut tangan kosong, demi meramaikan asa aing maung dan kajajaden ala mahluk pecicilan.

Hingga suatu saat yang hina, Lapas tiba-tiba mulai dihantui oleh sejenis mahluk supernatural dari dunia lain-lain. Para kriminal sangar ini sempat menyaksikan, bahwa seorang napi yang kesurupan, tiba-tiba lebih buas dari biasanya. Saking brutalnya, napi yang kajajaden sanggup membuyarkan tubuh korbannya, hanya dengan tangan kosong saja.

Setelah mereka meneliti, membandingkan fakta dan data, serta mulai memahami Lapas dengan kedatangan arwah lainnya, mereka pun mulai masuk dalam bab kesimpulan. Maksud yang disetujui oleh khalayak ramai Lapas, adalah napi yang kesurupan akibat tingkah dan aura yang terlalu negatif, dari dalam dirinya. Jadi demi menyelesaikan analisis mereka di Lapas, mereka harus mulai tobat, dan berhenti melaksanakan hal yang negatif (sekalian dapat remisi pula). 

Namun, setelah dilaksanakan selama beberapa lama, ternyata gangguan dari mahluk sangar nan bengis ini tidak berhenti pula. Satu per satu napi di Lapas tetap kerasukan dan langsung AING MAUNG! Sudah banyak dan terlalu, korban berjatuhan layaknya sebenih darah di akhir hayat yang hina. 

Para anggota Lapas pun mulai pasrah walau tetap berbenah, bahwa mereka harus tetap hidup selama menjalani masa hukuman mereka. Demi, mencapai kehidupan baik nan layak di khalayak ramai luar Lapas bersama masyarakat luas yang tetap saja mainstream (alias non-rebel).

Apakah mereka sanggup menghindari arwah penasaran nan random dan acak ini? Atau malah ikut terjebak dunia lain yang sebenarnya adalah atmosfer setiap Lapas? Dan bahkan memanfaatkan situasi kacau-balau ini demi kabur dan bebas dari dalam Lapas menuju dunia luar yang (terlihat) damai?

Jawabannya, tentu ada dalam dunia horor-sangar-brutal-bodor ala sineas perfilman Indonesia.

Duo Kompetisi Battle Royale di Film They Will Kill You dan Ready Or Not 2


Grace dan Faith yang baru saja kawin lari (TMDB).

Berikutnya adalah duo kombo film dengan rilis yang terpaut satu minggu saja, tetapi bertema sama dengan kekhasannya. Yaitu, sejenis film aksi campy yang kacau-balau cerita dan adegannya, tetapi menyajikan hiburan tersendiri yang sangat kasar dan penuh kekerasan, dan sangat sarkatis ala komedi gelap (dark humour).

Film pertama berjudul They Will Kill You di minggu pertama April, dan satu lagi adalah Ready Or Not seri kedua di minggu ketiga April. Tidak hanya aksi campy, kedua film yang berating D17 ini memiliki tema yang mirip, alias Battle Royale dimana para kontestannya berburu satu sama lainnya, dengan fokus target pada tokoh utamanya.

Animo Film Aksi Campy

Nah sebelum membahas kedua film kacau tersebut, perlu ditelaah dari segi animo ini. Film Campy memiliki cerita dan adegan layaknya film B-Rate, namun tetap menyajikan hiburan tersendiri. Jadi daripada memahami segi cerita dengan latar drama para karakternya, film sejenis ini penuh dengan Guilty Pleasure-nya, layaknya seorang pemain gim dan karakter utamanya. Apalagi jika digabungkan dengan genre aksi dan komedi, sekaligus berbiaya produksi mahal. 

Bahkan ada seorang ahli film yang layaknya Master B-Rate Movies, yang terkenal dari Hollywood sana bernama Quentin Tarantino. Walau sudah beberapa kali dibahas di blog ini, tetapi kekhasan Tarantino tidak berakhir disitu saja. Tarantino biasanya membuat film drama kejahatan dengan khas karakter, akting, adegan, serta latar yang minimalis. Namun karena diisi para bintang yang kuat latar dramanya, serta cerita yang cukup sulit ditebak, menjadi kekhasan sendiri layaknya menonton teater di seni panggung langsung.

Namun Quentin Tarantino memiliki prestasi tersendiri yang unik nan eksotik. Saat dirinya meraih proyek film berbiaya tinggi, justru Tarantino malah produksi film Kill Bill: Volume 1 (2003) dan Kill Bill: Volume 2 (2004). Walau tidak bisa disebut komedi, namun banyak adegan over-the-top (berlebihan) dan aksi dibuat-buat, menjadikan film ini layaknya B-Rate yang sangat menghibur. Saking berbeda dengan film sejenis lainnya, kedua film Kill Bill sempat meraih nominasi dan memenangkan Oscar di AS sana.

Animo campy tersebut terus dilanjutkan di Hollywood sana, dengan beberapa sineas film aksi mulai menirunya. Contoh paling campy-nya, adalah waralaba Crank (2006) dan Crank: High Voltage (2009), yang diperankan langsung oleh Jason Statham. Dibalik cerita ini, karakter utamanya harus memicu adrenalin atau tersengat listrik, agar tidak mati begitu saja akibat bom atau alat yang dipasang dalam tubuhnya. Aksi yang 'maksa' pun menjadi khas film ini. 

Contoh berikutnya adalah film Free Fire (2016) yang diperankan pula oleh seorang aktris pemenang Oscar, yaitu Brie Larson. Mirip dengan animo film campy yang terlihat minimalis namun heboh, seluruh adegan cerita Free Fire hanya terjadi dalam satu gudang saja. Namun karena adegan, serta akting para karakternya yang kurang serius, alias sedikit komedi, menjadikan film ini cukup menghibur.

Contoh terdekat adalah The Fall Guy (2024), yang berisi aktor terkenal lainnya, yaitu Ryan Gosling. Seperti pernah dijelaskan sebelumnya, Gosling memang khas dengan karakter unik di setiap filmnya, jadi mudah dikenang. Nah sama seperti animo film campy lainnya, Gosling yang berperan sebagai karakter stuntman ini, perlu mencari dan menyelamatkan aktor film aslinya. Dengan pembawaan yang ringan dan adegan yang kasar, tentu berisi banyak adegan aksi yang ramai nan brutal, namun tetap santai dan bahkan bodor untuk ditonton.

Oh ya, perlu tahu juga mengapa artikel ini diberi judul Battle Royale. Mengacu pada film tahun 2000 lalu dengan judul yang sama dari sineas perfilman Jepang, film sejenis ini memang berisi banyak karakter yang saling membasmi satu sama lainnya. Quentin Tarantino pun sempat menjabarkan dalam wawancara, bahwa Battle Royale adalah satu dari banyak favorit filmnya. Bahkan istilah ini sempat diadaptasi menjadi satu genre gim video khusus, yang dimainkan oleh 100 pemain dan berakhir satu pemenang 'chicken dinner.'

Reeves yang dihirup wajahnya oleh penganut sesat (TMDB).

Film They Will Kill You

Untuk film dengan tokoh utama Asia Reeves yang diperankan oleh Zazie Beets ini, tentu cukup dikenal wajahnya. Beets memang sempat naik pamornya saat memerankan karakter Domino di film aksi kasar Marvel, berjudul Deadpool 2 di tahun 2018 lalu. 

Nah di film ini, Reeves adalah seorang pencari kerja yang akan mengisi posisi pembantu di sebuah gedung besar ala New York. Namun tidak disangka, dirinya malah terjebak kejaran para sekte sesat, yang ternyata cukup kekal abadi sehingga bisa sembrono saat menjalankan aksinya.

Reeves pun ternyata memiliki latar lainnya, yaitu bukan seorang gadis biasa, melainkan seorang tokoh aksi terkenal dengan segala keberuntungannya (layaknya Domino). Awalnya hanya pura-pura polos saja, namun ketika mulai diburu, Reeves ternyata sanggup membasmi satu persatu anggota sekte tersebut. Namun akibat para pemburunya yang sangat kuat, brutal, dan kekal abadi, menyebabkan Reeves terpaksa mencari jalan keluar dari gedung tersebut.

Siapa gerangan sebenarnya Reeves ini? Dan apa maksud dari sekte sesat nan abadi ini? Yah tinggal tonton saja lah...

Film Ready Or Not Seri Satu dan Dua

Kalau di film yang sudah sukses dan mencapai seri keduanya di tahun 2026 ini, cukup dicek saja sejak film pertamanya. Di film pertamanya yang rilis tahun 2019 lalu, tokoh utama Grace (Samara Weaving) sedang mengalami euforia nan berbahagia. Dirinya baru saja menikah dengan Alex Le Domas (Mark O'Brien), dan mulai tinggal di kediaman keluarganya yang seperti istana. 

Namun tidak lama saat seluruh keluarga mertuanya sedang mengadakan ritual petak umpet bersama anggota keluarga baru, Grace ternyata menguak sesuatu yang sangat berbahaya. Dirinya ternyata menjadi bahan korban dan buruan sekaligus, demi ritual sesat keluarga Le Domas. 

Walau Grace sebenarnya tidak begitu ahli dalam berperan aksi, namun keluarga Le Domas ternyata tidak begitu lihai pula. Saking nyentriknya, mereka bahkan meremehkan kematian anggota keluarga sendiri akibat kecelakaan, dan dengan sembrono terus memburu Grace yang kelimpungan.

Grace yang seadanya saja selamat dari fllm pertamanya, terpaksa melanjutkan kisah gila-gilaan ala keluarga elit dunia di film keduanya, tepatnya bulan April tahun 2026 ini. Bersama saudarinya bernama Faith (Kathryn Newton) yang sama-sama bernama belakang McCaulley, keduanya harus melarikan diri dari kejaran para anggota keluarga lain Le Domas. Bahkan taruhannya semakin ditinggikan, yaitu memiliki seluruh kekayaan Le Domas. 

Berarti yang selamat di akhir perburuan elit ini, dapat berubah tambah psikopat dan mulai menguasai dunia (layaknya dalam dokumen Epstein). Entah ini sinema atau memang niat para elit dunia, untuk kita semua, kan ya?

Oh ya, di film keduanya ini terdapat duo aktor-aktris kenamaan lama. Bagi yang ingat seri televisi Buffy The Vampire Slayer, Sarah Michelle Gellar sebagai akris utamanya berperan di seri kedua Ready Or Not. Elijah Wood yang terkenal sejak membintangi trilogi film The Lord of The Rings pun, ikut pula berperan. Keduanya pada tahun 90an dan awal 2000an, berperan dalam film besar di umur yang cukup muda. Kini, malah mengisi film mengenai kacaunya para elit dunia, hehe...

Duo Karya Unik Blumhouse di Film Don't Follow Me dan Lee Cronin's The Mummy

Katie yang baru menghirup napas (TMDB).

Saatnya membahas studio horor dari Hollywood yang sudah sangat terkenal, bernama Blumhouse. Studio yang selalu kreatif dalam memproduksi filmnya, memang terkenal dalam menyajikan latar unik untuk setiap horornya. 

Kali ini yang dibahas adalah dua film yang dirilis pada bulan April, yaitu berjudul Don't Follow Me di minggu kedua April, serta Lee Cronin's The Mummy di minggu ketiga April. Keduanya masih khas film dari Blumhouse dengan rating D17, dan tetap menyajikan latar cerita yang berbeda.

Carla yang siap merekam mahluk apapun (TMDB).

Don't Follow Me alias No Me Sigas

Film Don't Follow Me ini aselinya dirilis pada Oktober tahun 2025 kemarin, dan merupakan film pertama Blumhouse yang diproduksi di luar AS. Judul aselinya adalah No Me Sigas dari ranah perfilman Meksiko sana, yang lengkap dengan aksen serta bahasa Spanyolnya. Di sinema Indonesia, film ini memang baru dirilis untuk para penggemarnya.

Untuk animo-nya sendiri, cukup unik karena berlatar internet saat ini. Tokoh utamanya yang bernama Carla (Karla Rodriguez Coronado), adalah seorang pemudi yang sedang semangat ngonten (yang penting ngonten). Dia memiliki inspirasi sendiri, yaitu membuat video dengan banyak sudut pandang rumah barunya, dan kadang mengadakan siaran langsung di internet. Hampir setiap sudut rumahnya dipasangi oleh perekam video, agar dirinya bisa viral nan cuan.

Tidak hanya dirinya, beberapa temannya ikut membantu selama proses pembuatan video. Kedua temannya, Andres (Yankel Stevan) dan Sam France (Julia Maque) memang sering ikutserta dalam inspirasi Carla. Ya, memang tim yang cocok untuk ngonten, karena tidak bekerja hanya sendiri.

Semangat ngonten nan viral ini sebenarnya berbuah manis, dengan banyak tayangan dan pelanggan yang mengikuti konten hasil karya Carla. Baru saja menikmati euforia ketenarannya, tidak berselang lama, Carla langsung diberi rasa horor tersendiri. Saat tengah siaran langsung sendiri di ruangan tengahnya, salah seorang penonton menunjukkan keanehan disudut rumahnya. Saat Carla zooming (mendekatkan fokus) video lewat ponselnya, ternyata muncul bayangan dari sesosok wajah mengerikan di sudut tersebut.

Sejak itulah, Carla sering diteror oleh mahluk lain di rumahnya. Memang sebelum pindah, rumah tersebut sudah cukup lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Tidak hanya Carla, kedua temannya pun cukup sering diteror oleh mahluk lain. Selain berupa gangguan supernatural, semakin lama teror yang terjadi, malah semakin berbahaya dan mengancam jiwa ketiganya. Carla pun perlu mencari jejak sejarah rumah tersebut, demi menguak dan menyelamatkan nyawa semuanya.

Apakah memang rumah tersebut sudah dihantui akibat terlalu lama kosong? Atau memang sang pemilik rumah sebelumnya mengadakan ritual mistis sebelum ditinggalkan? Dan bahkan salah seorang temannya malah mengadakan ritual horornya sendiri?

Jawabannya, tentu ada di sewa-menyewa rumah horor ala sinema Indonesia.

Ranah Film Mumi Hidup

Nah untuk yang satu ini, adalah ranah film yang sangat khas dari Blumhouse, yaitu dengan menggabungkan beberapa latar film horor lama, dengan referensi yang kentara dari budayanya. Ya, di film Lee Cronin's The Mummy ini, memang menggabungkan animo horor mayat berbalut perban, dengan khas film kesurupan ala waralaba exorcist. Memang kombinasi yang cukup berbeda, dan ternyata cocok untuk film ini.

Khusus untuk film berlatar horor mumi hidup, cukup jarang diadaptasi ke sebuah film oleh Hollywood. Film mumi bagus yaitu The Mummy (1999) dan The Mummy Returns (2001), yang diisi oleh kombo aktor-aktris kawakan Brendan Fraser dan Rachel Weisz. 

Mungkin karena referensi yang epik dari mumi Firaun dibawah Piramid sana, jadi banyak sineas perfilman horor yang kurang berminat untuk mengadaptasinya. Sementara aktor kawakan lain yang mencoba meramaikan reka ulangnya, yaitu Tom Cruise saat berperan dalam film berjudul sama, yaitu The Mummy pada tahun 2017 lalu.

Justru sebaliknya dengan film ala mumi, film dengan ranah kesurupan ala eksorsis cukup sering diadaptasi ulang, tanpa perlu memikirkan langsung hak ciptanya. Semenjak diproduksi tahun 1973 lalu dengan judul The Exorcist, ranah film ini sering diadaptasi kembali dengan ragam berbeda. 

Bahkan tidak perlu mengacu langsung kepada nama eksorsis, beberapa film bertema mirip cukup sering diproduksi oleh Hollywood. Contohnya adalah Constantine (2005) bersama Keanu Reeves, The Rite (2011) bersama Anthony Hopkins, The Possession (2012) bersama Jeffrey Dean Morgan, dan Deliver Us From Evil (2014) bersama Eric Bana. Nama-nama aktor bintang yang sangat terkenal, apalagi berasal dari ranah drama sebagai kemampuan aktingnya.

Lee Cronin's The Mummy

Dari cuplikannya sendiri, justru mengisahkan khas yang berbeda pula. Charlie (Jack Reynor) dan Larissa (Laia Costa), adalah sepasang suami istri yang telah kehilangan anaknya sejak delapan tahun lalu. Suatu hari, anaknya yang bernama Katie (Natalie Grace) berhasil ditemukan, dengan baju compang-camping dan tubuh yang kotor. Namun keperibadian Katie telah berubah 180 derajat, menjadi agak diam namun selalu bertutur kata kasar.

Justru film ini mengacu pada sekte sesat tertentu, yang ditunjukkan informasinya saat dialog berlangsung. Katie adalah satu dari 57 korban anak yang hilang sejak delapan tahun lalu. Katie pun ditemukan secara misterius, yaitu terbaring dengan balutan perban lusuh, dalam sarkofagus tua berumur 3000 tahun lebih. 

Dari situ, penulis dapat menebak maksud dari ditemukannya Katie dalam keadaan tersebut. Daripada betulan hanya menculik anak, sekte sesat mencoba semacam 'ritual eksperimen' pada anak-anak. Banyak anak diculik agar menjadi 'wadah' bagi sesosok mahluk supernatural yang kuat. Namun karena kekuatan supernatural yang tidak bisa 'diterima' begitu saja, ke-56 anak lain yang diculik, akhirnya tidak bisa selamat. 

Sementara Katie yang memiliki bakat paranormal sendiri, sanggup untuk menjadi wadah bagi sosok tersebut. Katie sendiri yang tubuhnya berhasil kembali ke pangkuan orangtuanya, justru sudah tidak memiliki keperibadian dan bahkan jiwanya sendiri. Arwah yang berada dalam tubuh Katie setelah ditemukan, adalah mahluk lain yang kuat nan berbahaya.

Apakah Katie memang sudah tidak ada sama sekali? Mahluk yang mendiami tubuh Katie pun memang bertujuan jahat saja? Atau ada skema lain dari sekte sesat yang menculik ke-57 anak tersebut?

Jawabannya, tentu ada di ritual pencarian anak ala sinema Indonesia.

Referensi Mumi dan Sarkofagus Ribuan Tahun

Satu referensi lagi, yaitu mumi dan sarkofagus yang berusia lebih dari 3000 tahun. Walau referensi peradaban 3000 tahun lalu mengacu pada kebudayaan besar seperti Mesir Kuno, Yunani Kuno, dan Cina Kuno, namun praktek mumi sebenarnya cukup mendunia. Contohnya di Indonesia saja terdapat empat lokasi tradisi memumikan mayat, yaitu di Suku Toraja Sulawesi Selatan, Kampung Wolondopo di NTT, serta Suku Dani dan Suku Moni di Papua.

Sementara referensi sarkofagus berusia ribuan tahun, tidak hanya berasal dari Mesir Kuno saja. Contohnya dari Romawi Kuno, Persia Kuno, dan China Kuno. Tampaknya setiap wilayah peradaban besar dunia jaman sebelum Masehi tersebut, memiliki praktek dan khas sarkofagus-nya tersendiri. 

Bahkan di Indonesia, khususnya Bali pada tahun 2009 lalu, ditemukan sekitar 200 sarkofagus berusia 2000an tahun. Indonesia jaman tersebut belum memiliki kebudayaan besar manapun, yang ternyata memiliki ritual khas pemakaman awetnya sendiri.

04 Maret 2026

Bahayanya Pria Tanpa Beban Ala Film Dead Man's Wire

 

Kiritsis yang nothing to lose (IMDB).

Daaan, terakhir adalah film berbahaya lainnya dari Hollywood sana, berjudul Dead Man's Wire yang tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran. Bagi yang suka drama kejahatan, tentu terkagum saat menonton cuplikannya yang berating umur D17. 

Apalagi, film ini mengadaptasi kisah nyata dari tahun 1977 lalu di AS. Ya, nama karakter yang diadaptasi adalah Tony Kiritsis, yang sempat melaksanakan aksi penyanderaan, namun malah dianggap sebagai seorang warga tertindas oleh khalayak media AS sana. 

Bagi penulis, kisah film ini mirip dengan istilah Nothing to Lose, alias Tanpa Beban. Saking terancamnya, suatu karakter sering disematkan dengan istilah ini. Karakter tersebut memiliki wacana dan rencana tertentu untuk beroperasi habis-habisan, dalam menyelamatkan dirinya dari situasi genting.

Kisah Tony Kiritsis

Kisah Tony Kiritsis adalah sesuatu yang campur aduk, antara stresnya seorang warga dan masalah pemberontakan kepada sistem. Masalahnya memang berakar pada sistem kapitalis ala AS sana. 

Tony Kiritsis adalah seorang warga biasa, yang terjebak hutang akibat hipotek miliknya. Saking terancamnya (menurut Kiritsis), dirinya digadang akan bangkrut parah, akibat perusahaan hipotek yang sengaja memainkan dokumen properti miliknya. Kiritsis curiga, bahwa lokasi properti miliknya telah ditarget oleh broker kurang bertanggung jawab, untuk direbut sebagai properti milik perusahaan.

Karena merasa tidak ada jalan lain (selain hukum tentunya), Kiritsis memilih jalur kekerasan. Dengan menyandera broker perusahaan hipotek, dirinya menelpon kepolisian setempat. Tebusan yang dimintanya cukup banyak, yaitu keamanan propertinya, imbalan lima Juta Dolar AS, dan bebas tanpa tuntutan hukum. 

Kepolisian yang seharusnya terbiasa menanggapi ancaman semacam ini, malah kelimpungan saat menanggapi. Sebenarnya Kiritsis adalah seorang warga yang baik, sementara media mulai membela Kritis dan latar belakang masalahnya.

Bagi yang ingin tahu kelanjutan kisahnya, bisa dicek di banyak artikel dan konten mengenai kisah nyata penyanderaan oleh Tony Kiritsis. Namun para penggemar film drama kejahatan ala Hollywood semacam ini, tentu lebih mengenal isi adegan dan akting para aktor-aktrisnya.

Bill Skarsgard yang Sudah Naik Daun

Bagi yang belum cukup paham, maka perlu dikenalkan kembali dengan nama Bill Skarsgard. Aktor kelahiran Swedia ini, sempat naik daun dengan perannya sebagai badut horor di duo film adaptasi novel Stephen King, berjudul It (2017) dan It: Chapter Two (2019). Wajahnya yang terkenal seram, memang menjadi khas akting serba bisa ala Skarsgard. 

Tidak hanya sebagai badut berwacana horor ala Hollywood, banyak karakter unik yang diperankan oleh Skarsgard. Contohnya adalah film seorang musisi rocker yang kekal abadi dalam film reka ulang, The Crow (2024). Penulis agak heran juga, karena biasanya film reka ulang, apalagi se-legendaris The Crow, kurang disukai oleh banyak penggemarnya. Namun di film tahun 2024 ini, justru banyak yang suka, karena keahlian akting milik Skarsgard.

Berikutnya ada film Nosferatu (2024), dimana Skarsgard berhasil menciptakan sosok dan suara vampir terkenal ini dengan ciamik. Sangat tidak terlihat sosok aseli Skarsgard dibalik karakter horor ini. Saking disukai para kritikus film, Nosferatu ini diberi nilai cukup besar dari mereka semua.

Satu film lainnya adalah John Wick 4 (2023), yang membuktikan kemampuan akting Skarsgard dalam film drama aksi kejahatan. Tentu dengan kehadiran dirinya dalam waralaba film bersama Keanu Reeves ini, telah membuktikan kelebihan Skarsgard dalam memerankan film yang keluar dari pamor awalnya.

Sinopsis Film Dead Man's Wire

Okeh sedikit saja kisah sinopsisnya, karena memang mirip dengan kisah Kiritsis, yang sudah dibahas sebelumnya.

Tony Kiritsis (Bill Skarsgard) adalah pria paruh baya yang sedang mengalami krisis. Dirinya terancam bangkrut dan diusir dari propertinya sendiri, akibat hutang piutang dan masalah dengan bankir hipotek. 

Kiritsis akhirnya mengambil jalur lain, yang lebih mengacu pada kejahatan. Kiritsis lalu berinisatif untuk menyandera mitra bankirnya, memakai senapan berburu miliknya. Dengan jujur, Kiritsis meminta tebusan kepada kepolisian setempat, wacana membebaskan dirinya dari tuntutan hukum, serta permintaan maaf langsung dari perusahaan hipotek.

Kepolisian setempat dan perusahaan hipotek tentu tidak mengalah begitu saja, dan terus bernegosiasi dengan Kiritsis. Namun, kisah ini akhirnya ramai diberitakan oleh media setempat. Setelah berbagai investigasi mengenai latar belakang masalah Kiritsis, media malah membela sosoknya, dan memberi tekanan berlebih kepada aparat hukum setempat.

Bagaimanakah kisah Tony Kiritsis hingga akhir hayat? Jawabannya, tentu dapat disaksikan langsung dengan berbagai tuntutan hukum ala sinema Indonesia.

Frankenstein Mendapat Istri Ala Film The Bride

Wanita yang terpaksa hidup lagi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film yang bermasalah kombinasinya dari Hollywood sana, dan mulai tayang menjelang libur Lebaran di sinema Indonesia. Judulnya adalah The Bride, film sejenis horor-drama-aksi, yang memiliki rating umur D17, alias cukup dewasa. Bagi yang paham cuplikannya, tentu tahu bahwa film ini mengambil referensi novel horor lama terkenal, yaitu Frankenstein.

Karakter Frankenstein 

Frankenstein adalah novel Inggris lama, bersub-judul The Modern Prometheus yang rilis tahun 1818 lalu dari novelis bernama Marry Shelley. Kisahnya cukup horor, walau mengemukakan drama penciptaan kreasi kehidupan. Secara harfiah melalui teknik (fiktif) Alkimia, Dr. Victor Frankenstein berhasil menghidupkan seorang mayat, yang diberi nama sebagai 'Mahluk' saja. 

Cerita novel ini sudah sering diadaptasi, dengan langsung memberi nama 'Mahluk' tersebut sebagai Frankenstein. Kadang kisahnya diisi horor yang lebih membuka kengerian sains dan adegan daging-mendagingnya. Ceritanya kadang berisi romansa antara Frankenstein dan karakter wanitanya, ala dongeng lama Beauty and the Beast.

Berbagai jenis adaptasi Frankenstein sering diproduksi oleh sineas perfilman, selama puluhan tahun lamanya. Contohnya adalah serial Frankenstein (2025) dari Netflix, yang diperankan oleh Oscar Isaac (Moon Knight) dan ditulis naskahnya oleh sineas horor handal, Guillermo del Toro. Lalu, ada Victor Frankenstein (2015), yang diperankan oleh Daniel Radcliffe (Harry Potter). 

Untuk rekomendasi khusus dari penulis, yaitu film berjudul Van Helsing, dari tahun 2004 lalu. Film ini diperankan oleh Hugh Jackman, yang dirilis tepat saat dirinya masih aktif berperan sebagai Wolverine dalam trilogi awal X-Men. Genre film ini adalah petualangan-aksi-horor, karena berlatar seorang pemburu monster.

Bonnie dan Clyde

Uniknya film The Bride adalah latar filmnya yang berada di Chicago, AS, tahun 1930an lalu dan bukannya di Eropa sana, khususnya Jenewa, Swiss. tersirat dalam cuplikan, bahwa Frankenstein telah hidup lebih dari seratus tahun, dan menjelajah ke seluruh dunia. Tidak hanya bertahan hidup, Frankenstein sebagai seorang monster telah mengenal ilmuwan Alkimia lainnya, yang dapat membantu saat tubuhnya perlu 'diservis.'

Nah, lalu apa hubungannya dengan Bonnie dan Clyde? Cuplikannya justru terlihat cocok. Ya, banyak adegan menampilkan kisah Frankenstein dan istri barunya, yang mengadakan perjalanan panjang di Midwest AS. Keduanya dengan sumringah melaksanakan perampokan di banyak kota, layaknya tokoh asli bernama Bonnie dan Clyde di tahun 1930an. Sepasang suami-istri ini memang dikenal sangat lihai dan cekatan, dalam menghindari polisi selama modus operandinya.

Sementara Frankenstein dan istrinya, karena memiliki tubuh yang tidak bisa mati dan lebih kuat dari manusia biasa, sangatlah menikmati kehidupan barunya ini. Keduanya memang sudah tidak memiliki tujuan hidup, dan baru kali ini bisa mulai bertingkah sebebas mungkin.

Sinopsis Film The Bride

Oh ya, bagi yang tahu Christian Bale, tentu ingin menonton aktor serba bisa ini di layar lebar. Sejak dikenal dalam film American Psycho (2000), Bale dianggap sanggup dalam memerankan karakter dengan akting yang berat. Contoh paling standarnya, adalah trilogi film Batman (2005, 2008, 2012). Trilogi ini mengisahkan hebatnya Bale sebagai seorang aktor aksi dan pahlawan super sekaligus.

Okeh, saatnya membahas sinopsis film The Bride.

Frankenstein (Christian Bale) adalah seorang mayat hidup, yang telah hidup selama lebih dari seratus tahun. Semenjak dihidupkan kembali tahun 1818 lalu di Jenewa, Swiss, Frankenstein melanglangbuana demi menemukan jalan hidupnya. Hingga akhirnya dia tiba di AS, dan memilih tinggal di Chicago demi berkenalan dengan ilmuwan Alkimia lainnya, bernama Euphronious (Annette Bening). 

Kesempatan pun tiba saat seorang wanita muda meninggal dunia. Dengan semangat, Frankenstein dan Euphronious menggali kubur wanita tersebut, demi menghidupkannya kembali. Selain itu, keduanya penasaran untuk memberi sejenis kekasih bagi Frankenstein, yang selama ini hidup sendiri. The Bride (Jessie Buckley) pun terlahir, dan langsung merasa dekat dengan Frankenstein.

Karena keduanya cukup aneh nan psikopat, maka tidak hanya berbulan madu sambil kasmaran, namun memiliki agenda lainnya. Keduanya mulai bertualang di sekitar AS, sambil merampok banyak kota. Saking euforia dalam menikmati hidup dengan tubuh barunya, keduanya memang sengaja dan menggila.

Bagaimanakah akhir cerita dari kedua mahluk yang sudah tak merasa eksis di dunia ini? Jawabannya tentu ada di sinema monster ala Indonesia.

Nyelenehnya Pria dari Masa Depan Ala Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

 

Sam Rockwell yang semakin kocak (IMDB).

Okeh, saatnya menyambut tiga film bermasalah dari Hollywood sana, yang berlatar aneh bin ajaib, dan tayang menjelang libur Lebaran. Pertama adalah film berjudul panjang nan kurang jelas, yaitu Good Luck, Have Fun, Don't Die yang berating umur D17. Memang, film ini cuman bisa ditelaah dengan satu kombinasi istilah, yaitu nyinyir, ironis, parodi ala jaman viral kesetanan.

Pemuda dari Masa Depan dan Kecerdasan Buatan

Memang film ini cukup nyeleneh untuk dianalisa langsung. Tetapi, penulis dapat mengacu pada satu ramai sosial di pertengahan tahun 2010an lalu, saat Media Sosial tengah viral dengan berbagai keunikannya. Memang dalam cuplikannya, film ini menggambarkan seorang pemuda (tua) yang datang dari masa depan demi mencegah masalah akibat kecerdasan buatan (AI).

Ya, pertengahan tahun 2010an lalu memang sempat viral mengenai istilah pemuda atau pemudi dari masa depan. Mereka mengaku sebagai time-traveller, alias satu penjelajah waktu yang datang dari masa depan. Memang beberapa kali, tebakan mereka mengenai suatu kejadian tertentu  di masa mendatang, berhasil terbukti. 

Ternyata banyak diantara mereka yang memang valid, alias memiliki kemampuan meramal. Hingga akhirnya ada studi melalui konten khusus, yang membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah anak indigo, yang kreatif dalam menjabarkan visinya, lalu terkadang benar dan tepat. 

Di saat itu pula, istilah indigo mulai ramai kembali, seperti jaman 90an hingga awal 2000an. Indigo memang suatu ketertarikan tertentu di ranah sosial, karena banyak anak kecil hingga remaja, memiliki tingkat kejeniusannya sendiri yang unik. 

Sementara dari segi kecerdasan buatan, sudah menjadi bahan topik di banyak film Hollywood. Contohnya adalah sejak waralaba film Terminator diproduksi (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Terminator berfokus pada pencegahan akhir dunia akibat AI bernama Skynet, yang memberontak dan menciptakan dunia yang hangus. Berbagai film terkenal tentang AI pun sering diadaptasi oleh Hollywood, sehingga menjadi satu bahan adaptasi tertentu.

Nah, mengacu pada tahun 2020an sekarang, Asisten AI sedang ramai dibahas. Berbagai perusahaan teknokrat terkenal, seperti Apple, Google, Meta, Microsoft dan banyak perusahaan AI, mulai menelurkan hasil karya Asisten AI-nya. 

Banyak program tersebut telah bermasalah sejak perilisannya, sehingga menjadi kontroversi di banyak negara. Banyak yang menganggap (walau menggunakan meme), bahwa AI adalah akhir dari interaksi alami di dunia digital, serta bentuk kemunduran kognitif bagi manusia.

Bagaimana dengan kisah film ini yang mencoba nyinyir bagi kedua topik tersebut? Bisa dicek melalui sinopsisnya, yang berisi aktor terkenal Sam Rockwell. Aktor ini memang sering berperan di banyak film produksi mahal Hollywood, namun lebih mengemukakan karakter perlente, namun tetap kocak.

Sinopsis Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

Sam Rockwell adalah pemuda tua dari masa depan, yang berhasil menggunakan mesin waktu untuk dapat kembali ke masa sekarang. Tepat setelah tiba, dirinya langsung ceramah dan membuang banyak ponsel di lokasi restoran, demi agenda merekrut banyak pengikut anti kecerdasan buatan. 

Walau banyak yang heran, ternyata kecurigaan Rockwell terbukti langsung, dengan tibanya tim Buru Sergap dari kepolisian setempat. Walau banyak sandera didalam restoran, tetapi tim Kepolisian dengan brutal dan membabi-buta langsung memburu Rockwell. Tanpa mengindahkan keamanan sandera, Rockwell dan penyintas yang percaya, akhirnya sanggup menghalau kejaran polisi.

Namun, banyak kejadian berbahaya terus mengejar mereka, akibat kecerdasan buatan yang ternyata berupa monster aseli. Hingga akhirnya, Rockwell dan banyak sekali pengikutnya, harus bertahan hidup demi menghalau setiap tantangan menggila ini.

Sanggupkah Rockwell dan banyak warga percaya untuk menghindari akhir dunia akibat AI? Atau malah hanya sekedar prank semata dari Rockwell yang jelas sudah terlihat agak gila?

Jawabannya, tentu ada di kisah PanSos ala sinema Indonesia.

03 Maret 2026

Karakter Horor Legendaris Ala Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa

 

Luya Mana sebagai Suzzanna (TMDB).

Terakhir, adalah film yang mengangkat kembali karakter seram legendaris dari tahun 80an lalu, berjudul Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Tentu sama dengan yang lainnya, film berating umur D17 ini tayang di sinema saat menjelang libur Lebaran, di akhir Maret nanti.

Suzzanna Sang Karakter Legendaris

Bagi yang sempat menjadi penggemar horor di tahun 80an hingga 90an, tentu akan mengenal nama Suzzanna. Bahkan, nama Suzzanna masih bergaung di tahun 2000an, saking terkenalnya. 

Ya, Suzzanna adalah nama seorang aktris horor selama dua dekade tersebut, yang khas dengan wajah cantiknya serta pembawaan karakter yang seram. Khas dari setiap film Suzanna, adalah drama yang kental di setiap filmnya. Bahkan tanpa adanya drama dari Suzanna dan banyak karakter disekitarnya, maka plot horor tidak dapat dimulai sama sekali pada film tersebut.

Banyak film terkenal diperankan oleh Suzzanna, menurut sumber terpercaya ala situs Tokopedia. Mulai dari tahun 1972 lalu berjudul Beranak dalam Kubur, lalu Sundel Bolong (1981), Ratu Ilmu Hitam (1981), Perkawinan Nyi Blorong (1983), Telaga Angker (1984), Malam Jumat Kliwon (1986), Malam Satu Suro (1988), Ratu Buaya Putih (1988), dan Santet (1988). Seluruh film tersebut diperankan oleh Suzzanna, sebagai antagonis, protagonis, atau karakter horornya, sesuai dengan kebutuhan cerita. 

Terakhir kali Suzzanna berperan dalam layar lebar, adalah saat tahun 2008 lalu dalam film Hantu Ambulance. Di tahun yang sama, Suzzanna meninggal saat berumur 66 tahun, akibat penyakit diabetes melitus.

Penulis sendiri sempat beberapa kali menonton film dari mendiang Suzzanna. Seingatnya saja, yaitu film sundel bolong yang khas dengan tusuk satenya. Atau, saat Suzzanna perlu menyantet setiap pria yang berani mendekatinya, karena dendam kesumat masa lalu (yang lupa judulnya).

Reka Ulang Film Suzzanna

Nah di tahun 2026 ini, adalah film ketiga dari reka ulang film Suzzanna, yang khas diberi judul sesuai namanya. Aktris yang memerankannya pun sesuai dengan tingkat kengeriannya, yaitu Luya Mana.

Sebelumnya di tahun 2018 lalu, Luya Mana memerankan Suzzanna dalam film Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur. Film ini khas cerita Suzzanna, yaitu berkisah tentang Sundel Bolong. Suzzanna yang telah lama tidak memiliki momongan, akhirnya berhasil hamil. Sayangnya dia meninggal saat hamil, dan mulai meneror area sekitar rumahnya.

Selain Luya Mana, terdapat banyak aktor-aktris terkenal di film tahun 2018 ini. Diantaranya, Herjunot Ali, Teuku Rifnu Wikana, Verdi Solaiman, Alex Abbad, Kiki Narendra, Asri Welas, Oppie Kumis, Ence Bagus, dan masih banyak lagi.

Berikutnya di tahun 2023, Luya Mana berperan di film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon. Di film yang lebih besar lagi biaya produksinya, mengisahkan tokoh Suzzanna yang bangkit kembali sebagai arwah jahat. Dirinya ingin kembali ke bayi yang baru saja ditinggalkan olehnya, setelah meninggal.

Sekali lagi, selain Luya Mana, terdapat pula beberapa nama aktor-aktris terkenal yang kembali membintangi film Suzzanna. Diantaranya adalah Ence Bagus, Oppie Kumis, Adi Bing Slamet, dan Pakusadewo.

Bagi yang belum sempat menikmati kengerian Luya Mana sebagai Suzanna dalam kedua film tersebut, dapat mengecek Netflix, atau layanan siaran lainnya.

Sinopsis Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa

Seperti biasanya selain Luya Mana, berbagai aktor-aktris terkenal seperti Reza Rahardian, Yati Surachman, Djenar Maesa Ayu, Iwa K, Restu Triandy, dan Adi Bing Slamet, kembali meramaikan film Suzzanna. Tidak hanya adegan horor, banyak aksi ledakan meramaikan film ini, layaknya genre aksi nan membludak.

Kali ini Suzzanna dikejar cinta oleh saudagar lokal nan brutal, bernama Bisman (Clift Sangra). Karena tidak ingin memperlama proses pelaminan, maka Bisman dengan cekatan menyantet langsung ayahnya, sehingga hanya tersisa Suzzanna seorang. Namun karena mulai terpapar dunia mistis, Suzzanna mulai merambah dunia santet-menyantet, demi membalaskan dendamnya.

Sayangnya, ternyata Bisman sudah cukup sakti dalam melaksanakan dunia kerja mistis-nya. Dengan telak Suzzanna terkalahkan, dan perlu hilang ditelan bumi, walau akhirnya ditemukan oleh Pramuja (Reza Rahardian).

Luya Mana pun kembali galau, antara memilih cinta terbarunya atau mengejar kisah kasih bersama dukun santet lainnya, demi mendapatkan sepotong alias seonggok daging milik Bisman sang Durjana setempat.

Jawaban apakah yang akan diterima Luya Mana diakhir cerita? Tinggal dicek saja ala sinema perjurigan Indonesia.

Sekuel Terakhir dalam Horornya Film Danur: The Last Chapter

 

Riri yang sudah gemulai saat menari (TMDB).

Berikutnya adalah film horor yang meramaikan kembali bagusnya sineas perfilman Indonesia di akhir tahun 2010an, berjudul Danur: The Last Chapter. Film ini memiliki rating umur R13, dan tayang di sinema Indonesia saat menjelang libur Lebaran mendatang. 

Adaptasi Novel Karya Risa Saraswati dan Indigo

Film ini adalah hasil adaptasi dari novel karya seorang artis terkenal, bernama Risa Saraswati. Selama ini, Risa berkecimpung sebagai penulis novel dan kreator konten, yang khas dengan kemampuan paranormal dan supernaturalnya.

Walau tentu ditulis dengan imajinasi tambahan, namun Risa menyebutkan bahwa dirinya adalah anak indigo saat masa kecilnya, sehingga menambah bumbu anehnya horor sejenis ini. Judul novelnya adalah Gerbang Dialog Danur, Maddah, dan Sunyaruri. Ketiga novel mengisahkan imajinasi Risa saat masih kecil sebagai anak indigo, yang berplot utama persahabatan bersama teman imajiner.

Bagi yang belum tahu, anak indigo selalu dideskripsikan dengan karakter yang memiliki kemampuan khusus atau berbeda dengan lainnya. Tidak bisa langsung disebut jenius, namun anak indigo memiliki khasnya masing-masing. Jika ditelaah, maka kemampuan anak indigo paling kentara adalah intuisi tajam, kecerdasan cukup tinggi, kreatifitas melebihi lainnya, serta berwatak empati dan independen. 

Namun menurut dunia kedokteran, anak indigo sebenarnya tidak masuk diagnosa manapun, dan hanya sejenis istilah saja. Tetap saja, perbedaan tersebut dapat menyebabkan anak indigo sering dianggap aneh oleh lingkungannya.

Trilogi Film Danur

Trilogi pertama film Danur, diantaranya adalah Danur (2017) yang diadaptasi langsung dari novel Dialog Danur, lalu Danur 2: Maddah (2018) yang diadaptasi dari novel Maddah, dan terakhir adalah Danur 3: Sunyaruri (2019) yang diadaptasi dari novel Sunyaruri. Bagi yang belum sempat menonton filmnya, bisa dicek melalui layanan siaran Netflix.

Film pertama Danur, mengisahkan Risa Saraswati (Asha Kenyari Bermudez, Prilly Latuconsina) yang telah dewasa, dan tengah menjaga sepupunya yang masih kecil, bernama Riri (Sandrinna Michelle). Khasnya film ini, adalah kehadiran sosok imajiner lain bernama Asih (Shareefa Danish), yang cukup mengerikan. 

Oh ya, dalam cuplikannya terdengar lantunan lagu Kakawihan Sunda, berjudul Boneka Abdi, yang diadaptasi dari lagu rakyat Jerman berjudul 'Hanschen Klein.' Ketiga film Danur memang sangat khas dengan referensi Buhun dari suku Sunda.

Di film keduanya, justru berfokus pada nama Danurnya itu sendiri, walau bersub- judul Maddah. Risa kini lebih sering menemani Riri, dengan tinggal bersama tantenya Tina (Sophia Latjuba), dan pamannya Ahmad (Bucek Depp). Risa harus tinggal bersama di rumah Riri, karena ayah dan ibunya yang sedang dinas ke Malaysia demi kepentingan bisnis. 

Wangi bunga Danur yang khas dari berbagai wilayah Jawa, adalah suatu jenis perantara 'jurig.' Sering terjadi kisah supernatural, yang berisi wewangian bunga. Terciumnya wangi ini tanpa adanya bunga aseli di sekitarnya, berarti tersirat kedatangan supernatural. Istilah Pamali dari khas Sunda pun sempat disebutkan dalam cuplikannya, yang berarti tidak boleh Sompral, alias sembarangan dalam membahas hal mistis.

Di film ketiganya yang bersub-judul Sunyaruri, justru berfokus pada perpisahan antara Risa dan teman imajiner masa kecilnya. Apalagi saat ini Risa telah menikah dengan Dimas Tri Adityo (Rizky Nazar), dan tinggal bersama. Namun, kekisruhan mistis mulai muncul di kediaman mereka, dengan banyak kejadian aneh yang mencelakai Dimas. Risa bahkan mencari paranormal, demi menutup kemampuan supernaturalnya dan mengamankan masa pernikahannya.

Sinopsis Film Danur: The Last Chapter

Nah, untuk film keempat Danur, justru tidak berlandaskan novel manapun. Namun tetap melanjutkan akhir cerita dari film sebelumnya. Risa yang telah lama tidak sanggup melihat teman imajiner-nya, kini dihantui rasa bersalah. Rasanya, kawan supernatural Risa sedang memberitahu sesuatu, yang dapat berujung bahaya bagi semuanya.

Sementara itu, Riri kini telah dewasa dan bekerja sebagai seorang penari balet. Walau memiliki potensi besar, namun kini Riri sedang galau, akibat segera menikah dengan Dimas Raditya Soesatyo (Dito Darmawan). Riri harus memilih, untuk langsung menikah atau melanjutkan karirnya. Namun, justru masalah itulah yang mengundang petaka lain. Kehadiran sosok mahluk dari dunia lain, mulai merusak hubungan antara Riri dan Dimas. 

Risa yang sudah merasakannya pun, semakin sering bermimpi buruk. Bahkan sempat terdengar sebuah pesan dari suara kawan imajiner lamanya. Yaitu, agar Risa segera kembali kepada mereka, dan Riri bisa terselamatkan.

Bagaimana akhir kisah Risa, Riri, dan kawan imajinernya di seri terakhir Danur ini? Jawabannya tentu ada di ranah dunia anak indigo ala sinema Indonesia.