Tampilkan postingan dengan label Rating D17. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rating D17. Tampilkan semua postingan

04 Maret 2026

Bahayanya Pria Tanpa Beban Ala Film Dead Man's Wire

 

Kiritsis yang nothing to lose (IMDB).

Daaan, terakhir adalah film berbahaya lainnya dari Hollywood sana, berjudul Dead Man's Wire yang tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran. Bagi yang suka drama kejahatan, tentu terkagum saat menonton cuplikannya yang berating umur D17. 

Apalagi, film ini mengadaptasi kisah nyata dari tahun 1977 lalu di AS. Ya, nama karakter yang diadaptasi adalah Tony Kiritsis, yang sempat melaksanakan aksi penyanderaan, namun malah dianggap sebagai seorang warga tertindas oleh khalayak media AS sana. 

Bagi penulis, kisah film ini mirip dengan istilah Nothing to Lose, alias Tanpa Beban. Saking terancamnya, suatu karakter sering disematkan dengan istilah ini. Karakter tersebut memiliki wacana dan rencana tertentu untuk beroperasi habis-habisan, dalam menyelamatkan dirinya dari situasi genting.

Kisah Tony Kiritsis

Kisah Tony Kiritsis adalah sesuatu yang campur aduk, antara stresnya seorang warga dan masalah pemberontakan kepada sistem. Masalahnya memang berakar pada sistem kapitalis ala AS sana. 

Tony Kiritsis adalah seorang warga biasa, yang terjebak hutang akibat hipotek miliknya. Saking terancamnya (menurut Kiritsis), dirinya digadang akan bangkrut parah, akibat perusahaan hipotek yang sengaja memainkan dokumen properti miliknya. Kiritsis curiga, bahwa lokasi properti miliknya telah ditarget oleh broker kurang bertanggung jawab, untuk direbut sebagai properti milik perusahaan.

Karena merasa tidak ada jalan lain (selain hukum tentunya), Kiritsis memilih jalur kekerasan. Dengan menyandera broker perusahaan hipotek, dirinya menelpon kepolisian setempat. Tebusan yang dimintanya cukup banyak, yaitu keamanan propertinya, imbalan lima Juta Dolar AS, dan bebas tanpa tuntutan hukum. 

Kepolisian yang seharusnya terbiasa menanggapi ancaman semacam ini, malah kelimpungan saat menanggapi. Sebenarnya Kiritsis adalah seorang warga yang baik, sementara media mulai membela Kritis dan latar belakang masalahnya.

Bagi yang ingin tahu kelanjutan kisahnya, bisa dicek di banyak artikel dan konten mengenai kisah nyata penyanderaan oleh Tony Kiritsis. Namun para penggemar film drama kejahatan ala Hollywood semacam ini, tentu lebih mengenal isi adegan dan akting para aktor-aktrisnya.

Bill Skarsgard yang Sudah Naik Daun

Bagi yang belum cukup paham, maka perlu dikenalkan kembali dengan nama Bill Skarsgard. Aktor kelahiran Swedia ini, sempat naik daun dengan perannya sebagai badut horor di duo film adaptasi novel Stephen King, berjudul It (2017) dan It: Chapter Two (2019). Wajahnya yang terkenal seram, memang menjadi khas akting serba bisa ala Skarsgard. 

Tidak hanya sebagai badut berwacana horor ala Hollywood, banyak karakter unik yang diperankan oleh Skarsgard. Contohnya adalah film seorang musisi rocker yang kekal abadi dalam film reka ulang, The Crow (2024). Penulis agak heran juga, karena biasanya film reka ulang, apalagi se-legendaris The Crow, kurang disukai oleh banyak penggemarnya. Namun di film tahun 2024 ini, justru banyak yang suka, karena keahlian akting milik Skarsgard.

Berikutnya ada film Nosferatu (2024), dimana Skarsgard berhasil menciptakan sosok dan suara vampir terkenal ini dengan ciamik. Sangat tidak terlihat sosok aseli Skarsgard dibalik karakter horor ini. Saking disukai para kritikus film, Nosferatu ini diberi nilai cukup besar dari mereka semua.

Satu film lainnya adalah John Wick 4 (2023), yang membuktikan kemampuan akting Skarsgard dalam film drama aksi kejahatan. Tentu dengan kehadiran dirinya dalam waralaba film bersama Keanu Reeves ini, telah membuktikan kelebihan Skarsgard dalam memerankan film yang keluar dari pamor awalnya.

Sinopsis Film Dead Man's Wire

Okeh sedikit saja kisah sinopsisnya, karena memang mirip dengan kisah Kiritsis, yang sudah dibahas sebelumnya.

Tony Kiritsis (Bill Skarsgard) adalah pria paruh baya yang sedang mengalami krisis. Dirinya terancam bangkrut dan diusir dari propertinya sendiri, akibat hutang piutang dan masalah dengan bankir hipotek. 

Kiritsis akhirnya mengambil jalur lain, yang lebih mengacu pada kejahatan. Kiritsis lalu berinisatif untuk menyandera mitra bankirnya, memakai senapan berburu miliknya. Dengan jujur, Kiritsis meminta tebusan kepada kepolisian setempat, wacana membebaskan dirinya dari tuntutan hukum, serta permintaan maaf langsung dari perusahaan hipotek.

Kepolisian setempat dan perusahaan hipotek tentu tidak mengalah begitu saja, dan terus bernegosiasi dengan Kiritsis. Namun, kisah ini akhirnya ramai diberitakan oleh media setempat. Setelah berbagai investigasi mengenai latar belakang masalah Kiritsis, media malah membela sosoknya, dan memberi tekanan berlebih kepada aparat hukum setempat.

Bagaimanakah kisah Tony Kiritsis hingga akhir hayat? Jawabannya, tentu dapat disaksikan langsung dengan berbagai tuntutan hukum ala sinema Indonesia.

Frankenstein Mendapat Istri Ala Film The Bride

Wanita yang terpaksa hidup lagi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film yang bermasalah kombinasinya dari Hollywood sana, dan mulai tayang menjelang libur Lebaran di sinema Indonesia. Judulnya adalah The Bride, film sejenis horor-drama-aksi, yang memiliki rating umur D17, alias cukup dewasa. Bagi yang paham cuplikannya, tentu tahu bahwa film ini mengambil referensi novel horor lama terkenal, yaitu Frankenstein.

Karakter Frankenstein 

Frankenstein adalah novel Inggris lama, bersub-judul The Modern Prometheus yang rilis tahun 1818 lalu dari novelis bernama Marry Shelley. Kisahnya cukup horor, walau mengemukakan drama penciptaan kreasi kehidupan. Secara harfiah melalui teknik (fiktif) Alkimia, Dr. Victor Frankenstein berhasil menghidupkan seorang mayat, yang diberi nama sebagai 'Mahluk' saja. 

Cerita novel ini sudah sering diadaptasi, dengan langsung memberi nama 'Mahluk' tersebut sebagai Frankenstein. Kadang kisahnya diisi horor yang lebih membuka kengerian sains dan adegan daging-mendagingnya. Ceritanya kadang berisi romansa antara Frankenstein dan karakter wanitanya, ala dongeng lama Beauty and the Beast.

Berbagai jenis adaptasi Frankenstein sering diproduksi oleh sineas perfilman, selama puluhan tahun lamanya. Contohnya adalah serial Frankenstein (2025) dari Netflix, yang diperankan oleh Oscar Isaac (Moon Knight) dan ditulis naskahnya oleh sineas horor handal, Guillermo del Toro. Lalu, ada Victor Frankenstein (2015), yang diperankan oleh Daniel Radcliffe (Harry Potter). 

Untuk rekomendasi khusus dari penulis, yaitu film berjudul Van Helsing, dari tahun 2004 lalu. Film ini diperankan oleh Hugh Jackman, yang dirilis tepat saat dirinya masih aktif berperan sebagai Wolverine dalam trilogi awal X-Men. Genre film ini adalah petualangan-aksi-horor, karena berlatar seorang pemburu monster.

Bonnie dan Clyde

Uniknya film The Bride adalah latar filmnya yang berada di Chicago, AS, tahun 1930an lalu dan bukannya di Eropa sana, khususnya Jenewa, Swiss. tersirat dalam cuplikan, bahwa Frankenstein telah hidup lebih dari seratus tahun, dan menjelajah ke seluruh dunia. Tidak hanya bertahan hidup, Frankenstein sebagai seorang monster telah mengenal ilmuwan Alkimia lainnya, yang dapat membantu saat tubuhnya perlu 'diservis.'

Nah, lalu apa hubungannya dengan Bonnie dan Clyde? Cuplikannya justru terlihat cocok. Ya, banyak adegan menampilkan kisah Frankenstein dan istri barunya, yang mengadakan perjalanan panjang di Midwest AS. Keduanya dengan sumringah melaksanakan perampokan di banyak kota, layaknya tokoh asli bernama Bonnie dan Clyde di tahun 1930an. Sepasang suami-istri ini memang dikenal sangat lihai dan cekatan, dalam menghindari polisi selama modus operandinya.

Sementara Frankenstein dan istrinya, karena memiliki tubuh yang tidak bisa mati dan lebih kuat dari manusia biasa, sangatlah menikmati kehidupan barunya ini. Keduanya memang sudah tidak memiliki tujuan hidup, dan baru kali ini bisa mulai bertingkah sebebas mungkin.

Sinopsis Film The Bride

Oh ya, bagi yang tahu Christian Bale, tentu ingin menonton aktor serba bisa ini di layar lebar. Sejak dikenal dalam film American Psycho (2000), Bale dianggap sanggup dalam memerankan karakter dengan akting yang berat. Contoh paling standarnya, adalah trilogi film Batman (2005, 2008, 2012). Trilogi ini mengisahkan hebatnya Bale sebagai seorang aktor aksi dan pahlawan super sekaligus.

Okeh, saatnya membahas sinopsis film The Bride.

Frankenstein (Christian Bale) adalah seorang mayat hidup, yang telah hidup selama lebih dari seratus tahun. Semenjak dihidupkan kembali tahun 1818 lalu di Jenewa, Swiss, Frankenstein melanglangbuana demi menemukan jalan hidupnya. Hingga akhirnya dia tiba di AS, dan memilih tinggal di Chicago demi berkenalan dengan ilmuwan Alkimia lainnya, bernama Euphronious (Annette Bening). 

Kesempatan pun tiba saat seorang wanita muda meninggal dunia. Dengan semangat, Frankenstein dan Euphronious menggali kubur wanita tersebut, demi menghidupkannya kembali. Selain itu, keduanya penasaran untuk memberi sejenis kekasih bagi Frankenstein, yang selama ini hidup sendiri. The Bride (Jessie Buckley) pun terlahir, dan langsung merasa dekat dengan Frankenstein.

Karena keduanya cukup aneh nan psikopat, maka tidak hanya berbulan madu sambil kasmaran, namun memiliki agenda lainnya. Keduanya mulai bertualang di sekitar AS, sambil merampok banyak kota. Saking euforia dalam menikmati hidup dengan tubuh barunya, keduanya memang sengaja dan menggila.

Bagaimanakah akhir cerita dari kedua mahluk yang sudah tak merasa eksis di dunia ini? Jawabannya tentu ada di sinema monster ala Indonesia.

Nyelenehnya Pria dari Masa Depan Ala Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

 

Sam Rockwell yang semakin kocak (IMDB).

Okeh, saatnya menyambut tiga film bermasalah dari Hollywood sana, yang berlatar aneh bin ajaib, dan tayang menjelang libur Lebaran. Pertama adalah film berjudul panjang nan kurang jelas, yaitu Good Luck, Have Fun, Don't Die yang berating umur D17. Memang, film ini cuman bisa ditelaah dengan satu kombinasi istilah, yaitu nyinyir, ironis, parodi ala jaman viral kesetanan.

Pemuda dari Masa Depan dan Kecerdasan Buatan

Memang film ini cukup nyeleneh untuk dianalisa langsung. Tetapi, penulis dapat mengacu pada satu ramai sosial di pertengahan tahun 2010an lalu, saat Media Sosial tengah viral dengan berbagai keunikannya. Memang dalam cuplikannya, film ini menggambarkan seorang pemuda (tua) yang datang dari masa depan demi mencegah masalah akibat kecerdasan buatan (AI).

Ya, pertengahan tahun 2010an lalu memang sempat viral mengenai istilah pemuda atau pemudi dari masa depan. Mereka mengaku sebagai time-traveller, alias satu penjelajah waktu yang datang dari masa depan. Memang beberapa kali, tebakan mereka mengenai suatu kejadian tertentu  di masa mendatang, berhasil terbukti. 

Ternyata banyak diantara mereka yang memang valid, alias memiliki kemampuan meramal. Hingga akhirnya ada studi melalui konten khusus, yang membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah anak indigo, yang kreatif dalam menjabarkan visinya, lalu terkadang benar dan tepat. 

Di saat itu pula, istilah indigo mulai ramai kembali, seperti jaman 90an hingga awal 2000an. Indigo memang suatu ketertarikan tertentu di ranah sosial, karena banyak anak kecil hingga remaja, memiliki tingkat kejeniusannya sendiri yang unik. 

Sementara dari segi kecerdasan buatan, sudah menjadi bahan topik di banyak film Hollywood. Contohnya adalah sejak waralaba film Terminator diproduksi (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Terminator berfokus pada pencegahan akhir dunia akibat AI bernama Skynet, yang memberontak dan menciptakan dunia yang hangus. Berbagai film terkenal tentang AI pun sering diadaptasi oleh Hollywood, sehingga menjadi satu bahan adaptasi tertentu.

Nah, mengacu pada tahun 2020an sekarang, Asisten AI sedang ramai dibahas. Berbagai perusahaan teknokrat terkenal, seperti Apple, Google, Meta, Microsoft dan banyak perusahaan AI, mulai menelurkan hasil karya Asisten AI-nya. 

Banyak program tersebut telah bermasalah sejak perilisannya, sehingga menjadi kontroversi di banyak negara. Banyak yang menganggap (walau menggunakan meme), bahwa AI adalah akhir dari interaksi alami di dunia digital, serta bentuk kemunduran kognitif bagi manusia.

Bagaimana dengan kisah film ini yang mencoba nyinyir bagi kedua topik tersebut? Bisa dicek melalui sinopsisnya, yang berisi aktor terkenal Sam Rockwell. Aktor ini memang sering berperan di banyak film produksi mahal Hollywood, namun lebih mengemukakan karakter perlente, namun tetap kocak.

Sinopsis Film Good Luck, Have Fun, Don't Die

Sam Rockwell adalah pemuda tua dari masa depan, yang berhasil menggunakan mesin waktu untuk dapat kembali ke masa sekarang. Tepat setelah tiba, dirinya langsung ceramah dan membuang banyak ponsel di lokasi restoran, demi agenda merekrut banyak pengikut anti kecerdasan buatan. 

Walau banyak yang heran, ternyata kecurigaan Rockwell terbukti langsung, dengan tibanya tim Buru Sergap dari kepolisian setempat. Walau banyak sandera didalam restoran, tetapi tim Kepolisian dengan brutal dan membabi-buta langsung memburu Rockwell. Tanpa mengindahkan keamanan sandera, Rockwell dan penyintas yang percaya, akhirnya sanggup menghalau kejaran polisi.

Namun, banyak kejadian berbahaya terus mengejar mereka, akibat kecerdasan buatan yang ternyata berupa monster aseli. Hingga akhirnya, Rockwell dan banyak sekali pengikutnya, harus bertahan hidup demi menghalau setiap tantangan menggila ini.

Sanggupkah Rockwell dan banyak warga percaya untuk menghindari akhir dunia akibat AI? Atau malah hanya sekedar prank semata dari Rockwell yang jelas sudah terlihat agak gila?

Jawabannya, tentu ada di kisah PanSos ala sinema Indonesia.

03 Maret 2026

Karakter Horor Legendaris Ala Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa

 

Luya Mana sebagai Suzzanna (TMDB).

Terakhir, adalah film yang mengangkat kembali karakter seram legendaris dari tahun 80an lalu, berjudul Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Tentu sama dengan yang lainnya, film berating umur D17 ini tayang di sinema saat menjelang libur Lebaran, di akhir Maret nanti.

Suzzanna Sang Karakter Legendaris

Bagi yang sempat menjadi penggemar horor di tahun 80an hingga 90an, tentu akan mengenal nama Suzzanna. Bahkan, nama Suzzanna masih bergaung di tahun 2000an, saking terkenalnya. 

Ya, Suzzanna adalah nama seorang aktris horor selama dua dekade tersebut, yang khas dengan wajah cantiknya serta pembawaan karakter yang seram. Khas dari setiap film Suzanna, adalah drama yang kental di setiap filmnya. Bahkan tanpa adanya drama dari Suzanna dan banyak karakter disekitarnya, maka plot horor tidak dapat dimulai sama sekali pada film tersebut.

Banyak film terkenal diperankan oleh Suzzanna, menurut sumber terpercaya ala situs Tokopedia. Mulai dari tahun 1972 lalu berjudul Beranak dalam Kubur, lalu Sundel Bolong (1981), Ratu Ilmu Hitam (1981), Perkawinan Nyi Blorong (1983), Telaga Angker (1984), Malam Jumat Kliwon (1986), Malam Satu Suro (1988), Ratu Buaya Putih (1988), dan Santet (1988). Seluruh film tersebut diperankan oleh Suzzanna, sebagai antagonis, protagonis, atau karakter horornya, sesuai dengan kebutuhan cerita. 

Terakhir kali Suzzanna berperan dalam layar lebar, adalah saat tahun 2008 lalu dalam film Hantu Ambulance. Di tahun yang sama, Suzzanna meninggal saat berumur 66 tahun, akibat penyakit diabetes melitus.

Penulis sendiri sempat beberapa kali menonton film dari mendiang Suzzanna. Seingatnya saja, yaitu film sundel bolong yang khas dengan tusuk satenya. Atau, saat Suzzanna perlu menyantet setiap pria yang berani mendekatinya, karena dendam kesumat masa lalu (yang lupa judulnya).

Reka Ulang Film Suzzanna

Nah di tahun 2026 ini, adalah film ketiga dari reka ulang film Suzzanna, yang khas diberi judul sesuai namanya. Aktris yang memerankannya pun sesuai dengan tingkat kengeriannya, yaitu Luya Mana.

Sebelumnya di tahun 2018 lalu, Luya Mana memerankan Suzzanna dalam film Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur. Film ini khas cerita Suzzanna, yaitu berkisah tentang Sundel Bolong. Suzzanna yang telah lama tidak memiliki momongan, akhirnya berhasil hamil. Sayangnya dia meninggal saat hamil, dan mulai meneror area sekitar rumahnya.

Selain Luya Mana, terdapat banyak aktor-aktris terkenal di film tahun 2018 ini. Diantaranya, Herjunot Ali, Teuku Rifnu Wikana, Verdi Solaiman, Alex Abbad, Kiki Narendra, Asri Welas, Oppie Kumis, Ence Bagus, dan masih banyak lagi.

Berikutnya di tahun 2023, Luya Mana berperan di film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon. Di film yang lebih besar lagi biaya produksinya, mengisahkan tokoh Suzzanna yang bangkit kembali sebagai arwah jahat. Dirinya ingin kembali ke bayi yang baru saja ditinggalkan olehnya, setelah meninggal.

Sekali lagi, selain Luya Mana, terdapat pula beberapa nama aktor-aktris terkenal yang kembali membintangi film Suzzanna. Diantaranya adalah Ence Bagus, Oppie Kumis, Adi Bing Slamet, dan Pakusadewo.

Bagi yang belum sempat menikmati kengerian Luya Mana sebagai Suzanna dalam kedua film tersebut, dapat mengecek Netflix, atau layanan siaran lainnya.

Sinopsis Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa

Seperti biasanya selain Luya Mana, berbagai aktor-aktris terkenal seperti Reza Rahardian, Yati Surachman, Djenar Maesa Ayu, Iwa K, Restu Triandy, dan Adi Bing Slamet, kembali meramaikan film Suzzanna. Tidak hanya adegan horor, banyak aksi ledakan meramaikan film ini, layaknya genre aksi nan membludak.

Kali ini Suzzanna dikejar cinta oleh saudagar lokal nan brutal, bernama Bisman (Clift Sangra). Karena tidak ingin memperlama proses pelaminan, maka Bisman dengan cekatan menyantet langsung ayahnya, sehingga hanya tersisa Suzzanna seorang. Namun karena mulai terpapar dunia mistis, Suzzanna mulai merambah dunia santet-menyantet, demi membalaskan dendamnya.

Sayangnya, ternyata Bisman sudah cukup sakti dalam melaksanakan dunia kerja mistis-nya. Dengan telak Suzzanna terkalahkan, dan perlu hilang ditelan bumi, walau akhirnya ditemukan oleh Pramuja (Reza Rahardian).

Luya Mana pun kembali galau, antara memilih cinta terbarunya atau mengejar kisah kasih bersama dukun santet lainnya, demi mendapatkan sepotong alias seonggok daging milik Bisman sang Durjana setempat.

Jawaban apakah yang akan diterima Luya Mana diakhir cerita? Tinggal dicek saja ala sinema perjurigan Indonesia.

Sekuel Terakhir dalam Horornya Film Danur: The Last Chapter

 

Riri yang sudah gemulai saat menari (TMDB).

Berikutnya adalah film horor yang meramaikan kembali bagusnya sineas perfilman Indonesia di akhir tahun 2010an, berjudul Danur: The Last Chapter. Film ini memiliki rating umur R13, dan tayang di sinema Indonesia saat menjelang libur Lebaran mendatang. 

Adaptasi Novel Karya Risa Saraswati dan Indigo

Film ini adalah hasil adaptasi dari novel karya seorang artis terkenal, bernama Risa Saraswati. Selama ini, Risa berkecimpung sebagai penulis novel dan kreator konten, yang khas dengan kemampuan paranormal dan supernaturalnya.

Walau tentu ditulis dengan imajinasi tambahan, namun Risa menyebutkan bahwa dirinya adalah anak indigo saat masa kecilnya, sehingga menambah bumbu anehnya horor sejenis ini. Judul novelnya adalah Gerbang Dialog Danur, Maddah, dan Sunyaruri. Ketiga novel mengisahkan imajinasi Risa saat masih kecil sebagai anak indigo, yang berplot utama persahabatan bersama teman imajiner.

Bagi yang belum tahu, anak indigo selalu dideskripsikan dengan karakter yang memiliki kemampuan khusus atau berbeda dengan lainnya. Tidak bisa langsung disebut jenius, namun anak indigo memiliki khasnya masing-masing. Jika ditelaah, maka kemampuan anak indigo paling kentara adalah intuisi tajam, kecerdasan cukup tinggi, kreatifitas melebihi lainnya, serta berwatak empati dan independen. 

Namun menurut dunia kedokteran, anak indigo sebenarnya tidak masuk diagnosa manapun, dan hanya sejenis istilah saja. Tetap saja, perbedaan tersebut dapat menyebabkan anak indigo sering dianggap aneh oleh lingkungannya.

Trilogi Film Danur

Trilogi pertama film Danur, diantaranya adalah Danur (2017) yang diadaptasi langsung dari novel Dialog Danur, lalu Danur 2: Maddah (2018) yang diadaptasi dari novel Maddah, dan terakhir adalah Danur 3: Sunyaruri (2019) yang diadaptasi dari novel Sunyaruri. Bagi yang belum sempat menonton filmnya, bisa dicek melalui layanan siaran Netflix.

Film pertama Danur, mengisahkan Risa Saraswati (Asha Kenyari Bermudez, Prilly Latuconsina) yang telah dewasa, dan tengah menjaga sepupunya yang masih kecil, bernama Riri (Sandrinna Michelle). Khasnya film ini, adalah kehadiran sosok imajiner lain bernama Asih (Shareefa Danish), yang cukup mengerikan. 

Oh ya, dalam cuplikannya terdengar lantunan lagu Kakawihan Sunda, berjudul Boneka Abdi, yang diadaptasi dari lagu rakyat Jerman berjudul 'Hanschen Klein.' Ketiga film Danur memang sangat khas dengan referensi Buhun dari suku Sunda.

Di film keduanya, justru berfokus pada nama Danurnya itu sendiri, walau bersub- judul Maddah. Risa kini lebih sering menemani Riri, dengan tinggal bersama tantenya Tina (Sophia Latjuba), dan pamannya Ahmad (Bucek Depp). Risa harus tinggal bersama di rumah Riri, karena ayah dan ibunya yang sedang dinas ke Malaysia demi kepentingan bisnis. 

Wangi bunga Danur yang khas dari berbagai wilayah Jawa, adalah suatu jenis perantara 'jurig.' Sering terjadi kisah supernatural, yang berisi wewangian bunga. Terciumnya wangi ini tanpa adanya bunga aseli di sekitarnya, berarti tersirat kedatangan supernatural. Istilah Pamali dari khas Sunda pun sempat disebutkan dalam cuplikannya, yang berarti tidak boleh Sompral, alias sembarangan dalam membahas hal mistis.

Di film ketiganya yang bersub-judul Sunyaruri, justru berfokus pada perpisahan antara Risa dan teman imajiner masa kecilnya. Apalagi saat ini Risa telah menikah dengan Dimas Tri Adityo (Rizky Nazar), dan tinggal bersama. Namun, kekisruhan mistis mulai muncul di kediaman mereka, dengan banyak kejadian aneh yang mencelakai Dimas. Risa bahkan mencari paranormal, demi menutup kemampuan supernaturalnya dan mengamankan masa pernikahannya.

Sinopsis Film Danur: The Last Chapter

Nah, untuk film keempat Danur, justru tidak berlandaskan novel manapun. Namun tetap melanjutkan akhir cerita dari film sebelumnya. Risa yang telah lama tidak sanggup melihat teman imajiner-nya, kini dihantui rasa bersalah. Rasanya, kawan supernatural Risa sedang memberitahu sesuatu, yang dapat berujung bahaya bagi semuanya.

Sementara itu, Riri kini telah dewasa dan bekerja sebagai seorang penari balet. Walau memiliki potensi besar, namun kini Riri sedang galau, akibat segera menikah dengan Dimas Raditya Soesatyo (Dito Darmawan). Riri harus memilih, untuk langsung menikah atau melanjutkan karirnya. Namun, justru masalah itulah yang mengundang petaka lain. Kehadiran sosok mahluk dari dunia lain, mulai merusak hubungan antara Riri dan Dimas. 

Risa yang sudah merasakannya pun, semakin sering bermimpi buruk. Bahkan sempat terdengar sebuah pesan dari suara kawan imajiner lamanya. Yaitu, agar Risa segera kembali kepada mereka, dan Riri bisa terselamatkan.

Bagaimana akhir kisah Risa, Riri, dan kawan imajinernya di seri terakhir Danur ini? Jawabannya tentu ada di ranah dunia anak indigo ala sinema Indonesia.

Bergelut Edannya Dunia Lain Ala Film Setan Alas!

 

Sekelompok sineas amatir yang masih segar-bugar (TMDB).

Okeh, menjelang libur Lebaran (walau masih lama juga sih), saatnya membahas berbagai film yang bisa dinikmati saat berlibur. Walau ya, entah bagaimana warga ingin menghabiskan waktu dengan menonton film semacam ini. Awal minggu ini, saya akan membahas beberapa film horor dari Indonesia, yang dirilis menjelang Cuti Bersama nanti. Seperti biasa, pilihan dimiliki para penonton ya, dan saya hanya rekomendasi saja.

Film pertama yang menarik dibahas adalah Setan Alas! Dari judul serta cuplikannya saja, sudah menyiratkan bahwa film ini cukup nyeleneh, bahkan dari segi visual dan ceritanya. Rating umurnya memang cukup tinggi, yaitu D17 dengan berbagai adegan mendarah-darah dan mendaging-daging.

Efek Visual dan Cerita Nyeleneh yang Ciamik

Dari cuplikan film Setan Alas! sudah terlihat jelas anehnya film ini. Awalnya memang biasa saja, yaitu saat para karakternya yang berlatar sineas perfilman amatir, mencoba untuk membuat film horor di sebuah reruntuhan vila terpencil. Namun, begitu generator listrik mati, mereka malah langsung hype dengan berkaca pada set film horor aseli.

Cuplikannya menunjukkan banyak efek visual, baik dari segi Body-Horor, Practical, maupun CGI yang mumpuni. Kombinasi ketiga efek spesial ini, cukup jarang diadaptasi di film Indonesia. Apalagi di genre horor, yang lebih khas mementingkan atmosfer, redupnya pencahayaan, serta cerita yang menarik dari segi misteri dibaliknya.   

Walau begitu, terlihat pula bagaimana sineas perfilman membuat adegan film ini ala Over-The-Top, alias berlebihan. Tampaknya, karena genre horor di Indonesia sudah terlalu banyak, sineas dibalik Setan Alas! ingin membuat film horor yang lebih aneh lagi. 

Suasana campy nan cringefest sengaja dibuat-buat norak bagi setiap adegan dan akting karakternya, yang merubah film ini menjadi unik dengan Guilty-Pleasure-nya tersendiri. Seakan, film ini adalah homage (tribute) bagi film horor tahun 80an, 90an, dan 2000an, yang tidak perlu dirasa serius sama sekali (hehe).

Bahkan, ada satu adegan di akhir cuplikan, dimana seorang karakter tengah menembakkan sebuah senjata Gatling-Gun (alias Minigun), diatas atap vila. Entah apa dan bagaimana maksudnya, tetapi terlihat digunakan untuk membasmi para mayat hidup yang datang ramai dari hutan belantara sekitarnya.

Oh ya, salah seorang aktor aneh bernama Winner Wijaya, yang aselinya bergender laki-laki, dan layaknya ritual berubah peran ala dunia panggung, berperan pula ala wanita dalam film ini. Sekali lagi, entah apa maksudnya (ini bukan Longser ala Sunda kan, ya?).

Okeh, saatnya mengecek sinopsinya, yang (sekali lagi), sangat absurd untuk dibahas. Namun, banyak situs kritikus film luar, sangat menyukai anehnya film ini, dengan memberi banyak pendapat nyelenehnya.

Sinopsis Film Setan Alas!

Sekelompok mahasiswa perfilman, tiba di sebuah vila terbengkalai nan terpencil di ujung dunia sana. Mereka langsung kagum dengan keadaan vila yang mengerikan, dan mulai banyak merekam lokasinya.

Memang sesuai skenario, Mang Dadang (Ernanta Kusuma) sebagai seorang pengantar, penjaga, sekaligus kuncen vila nan seram, memberi tahu bahwa genset listrik tiba-tiba mati. Iwan (Adhin Abdul Hakim) malah dengan senang berkelakar, bahwa dirinya menikmati gilanya suasana yang tambah horor saja. 

Sesuai dengan keinginan, Budi Murah (Haydar Salishz) justru ditemukan bersimbah darah tidak bernyawa di kamar. Anggota kelompok yang panik walau tetap hype, akhirnya menyalahkan Mang Dadang, lalu menguburkan Budi di taman villa. 

Amir (Winner Wijaya) dan Ani (Putri Anggie) mencoba mencari petunjuk di hutan sekitar vila yang sangat mengundang khalayak jurig. Keduanya tidak menemukan desa yang seharusnya berada di sekitar vila. 

Tambah kalut nan gundah gulana, Iwan dan Amir pun membawa mobil untuk mengecek jalur datangnya mereka ke ranah horor ini. Setelah tidak menemukan menara listrik, keduanya terjebak diujung ngarai alias jurang tanpa akhir.

Lebih konyol lagi, Budi ternyata telah 'hidup kembali' di vila, dan karena cukup ganteng, telah bercengkrama mesra dengan Wati (Anastasia Herzigova) dan Ani. Amir dan Iwan malah tambah fokus, dengan curiga bahwa si ganteng akan mencuri hidup cemceman mereka.

Sisanya ritual ala sejenis film horor, banyak adegan aneh yang mulai meruak di sekitar vila. Mulai dari Budi yang mulai bertingkah aneh, Mang Dadang yang mulai menculik para gadis, mayat hidup yang mulai bosan lalu menyerang vila, dan minigun yang muncul tanpa kendali diatas atap.

Bagaimana kisah ini bisa berlanjut? Jawabannya, tentu ada di ritual kesetanan ala cringefest-nya sinema Indonesia.

24 Februari 2026

Terjebak Ngerinya Kotak Logam Berjudul Film Lift

 

Rasanya terjebak dalam lift ala Shareefa Danish (TMDB).

Nah, kali ini film horor unik berasal dari Indonesia, berjudul simple Lift yang tayang akhir Februari, di banyak sinema Indonesia. Mengecek judul dan cuplikannya saja, sudah menyiratkan keunikan film horor ini, yang berbeda dengan jurig supernatural dan paranormal ala Indonesia. Rating umurnya pun cukup tinggi, yaitu D17 alias penonton yang sudah dewasa. Dan seperti biasa ala ritual film horor, cuplikannya sama sekali tidak membuka plot utama.

Claustrophobia dan Lift

Sebelum membahas horornya film ini, tentu perlu mengecek satu gangguan mental bernama Claustrophobia. Gangguan kejiwaan ini, dimiliki banyak orang akibat gejala takut pada ruang tertutup. Pasien mengalami gangguan kecemasan serta rasa takut berlebihan, saat berada di ruang tertutup atau sempit. Bahkan jika gangguannya akut, maka pasien bisa mengalami serangan panik, sulit fokus, dan merasa sesak napas.

Khusus di ranah film horor, phobia sejenis ini sering diadaptasi. Contohnya adalah film Panic Room (2002), The Descent (2005), dan Buried (2010) bersama aktor yang kini telah kawakan, yaitu Ryan Reynolds dan Deadpool-nya.

Salah satu pemicu gangguan phobia adalah Lift, yang memang berukuran pas untuk diisi oleh beberapa orang saja. Untuk filmnya sendiri, dapat dicek melalui beberapa film horor lainnya. 

Contoh paling terkenal adalah Dark Water (2002), yang disutradarai oleh Hideo Nakata. Bagi yang kenal namanya, tentu tahu bahwa sutradara ini terkenal saat memproduksi film Ringu (1998, 1999). Entah apa hubungannya Hideo Nakata dengan Aquaphobia, yang sangat kentara terasa pada Ringu dan Dark Water. Mungkin sutradara Nakata hanya ingin mengombinasikan Claustrophobia dan Aquaphobia sekaligus. Plot twist di akhir film ini pun cukup menarik, dan sangat memicu kedua phobia tersebut.

Nah film berikutnya sangat mirip dengan Lift ini, berjudul Devil dari tahun 2010 lalu. Bahkan, bisa disebut sebagai inspirasi langsung film Lift dari Indonesia ini. Namun, perbedaan kentaranya adalah kesan supernatural yang lebih kentara dalam film Devil. Bahkan, banyak adegannya yang terjebak di satu lift dengan lima penyintas, seakan menjadi film misteri. Karena banyaknya kejadian aneh saat terjebak, menyiratkan sesosok setan yang sedang menguak kejahatan para penyintas dalam lift tersebut. Plot twist-nya pun khas film misteri, alias tidak begitu dapat tertebak.

Masih banyak film horor lain yang mengadaptasi latar situasi terjebak atau berada di sekitar Lift, namun bisa dicek sesuai minat saja. Keenam film yang disebutkan diatas, adalah rekomendasi khusus untuk referensi gangguan Claustrophobia atau terjebak dalam Lift.

Sinopsis Film Lift

Linda (Ismi Melinda) adalah seorang pegawai Relasi Publik alias Humas (Hubungan Masyarakat) di perusahaan bernama PT Jamsa Land. Perusahaan ini sempat diteror enam tahun lalu, akibat kekisruhan internal pegawainya. Sebuah lift utama yang digunakan oleh banyak orang, menyebabkan tragedi yang merebut banyak nyawa.

Suatu hari saat baru mau pulang, Linda menaiki lift tersebut untuk turun menuju lantai dasar. Namun, tiba-tiba lift macet dan dirinya terjebak didalamnya. Tidak hanya panik saat terjebak, namun sebuah suara dari intercom lift, malah tidak membantu Linda sama sekali. 

Sebuah suara ngeri dari orang yang mengaku bernama Doris (Shareefa Danish), menguak suatu cerita yang mengerikan. Doris pun semakin meneror Linda, yang sebenarnya tidak begitu mengetahui tentang kisah tragedi dalam lift perusahaan, karena sudah berselang enam tahun lamanya.

Sanggupkah Linda selamat atas teror dalam kotak logam ini? Atau malah terkuak andil Linda saat tragedi enam tahun lalu?

Jawabannya, tentu ada di ritual persembahan ala sinema Indonesia.

Mengejar Mimpi Ala Timothee Chalameet di Film Marty Supreme

 

Marty yang terlalu niat dalam mengejar mimpinya (IMDB).

Kisah drama perjalanan hidup dari Hollywood pun kembali meramaikan sinema perfilman di bulan Februari ini, yang berjudul Marty Supreme. Film berating D17 dari A24 ini berdurasi 2,5 jam. Jadi, harus menyempatkan waktu cukup lama untuk dapat menontonnya.

Marty Supreme mengisahkan suatu kisah mimpi yang (menurut penulis) berlandaskan peribahasa bule, dengan istilah Go Big or Go Broke. Ya, maksud peribahasa ini adalah seseorang harus bermimpi besar, atau gagal sebelum mencapainya. Film ini sebenarnya diadaptasi dari kisah nyata seorang juara tenis dari AS, yang memenangkan kejuaraan tahun 1949 lalu di Jepang, bernama Marty Reissman.

Timothee Chalameet, Sang Wonderboy dari Hollywood

Aktor muda yang baru berumur 30 tahun ini, memang sedang digadang sebagai aktor terbaik dari Hollywood sana. Banyak proyek besar perfilman, diisi oleh aktor kelahiran Manhattan ini. Film paling epik yang pernah diperankan Timothee adalah Dune: Part One (2021), dan Dune: Part Two (2024), yang diadaptasi oleh novel berjudul Dune (1965) hasil karya Frank Herbert.

Selain itu, Timothee memang memiliki keahlian akting yang cukup luas. Satu film yang menaikkan namanya, adalah Wonka (2023). Peran Willy Wonka memang membutuhkan seorang aktor yang nyentrik nan eksenstrik, dan Timothee ternyata sanggup mengadaptasinya. Seakan, Hollywood mendukung aktor ini sebagai sosok baru pengganti Johnny Depp, yang sempat memerankan karakter sama di tahun 2005 lalu, dalam film Charlie and Chocolate Factory.

Karena keahlian akting serta film yang nilai produksinya mahal, Timothee sering dinominasikan penghargaan film, walau belum memenangkan satupun Oscar. Khusus untuk film Marty Supreme, Timothee Chalameet dinominasikan dalam Oscar sebagai Aktor Terbaik, sementara filmnya sendiri diberi nominasi sebagai Film Terbaik, di tahun 2026 ini.

Studio Film A24 yang Unik

Perlu ditelaah pula dari segi studio yang memproduksi film Marty Supreme ini. Ya, A24 memang satu studio (yang kini terkenal) aneh, dengan sering memproduksi film bersudut pandang unik. Walau awalnya lebih mengemukakan horor, namun kini studio film A24 lebih mengacu ke kritik sosial, atau film yang lebih abstrak dan nyeleneh horornya.

Satu film aneh dari A24 yang pernah penulis tonton, adalah berjudul Tusk (2014). Film dengan genre komedi-horor ini diperankan oleh Justin Long, yang berkisah satu perubahan manusia yang diculik. Ya, bukan diculik biasa, melainkan dirubah tubuhnya menjadi seekor anjing laut.

Di tahun yang sama, A24 merilis film Ex Machina, yang diperankan oleh aktris Alicia Vikander. Aktris berdarah Swedia ini memerankan seorang robot yang sanggup sadar diri alias sentien, namun tetap bernada horor-psikologis ala film A24.

Tahun 2015, A24 kembali membuat gebrakan di genre horor, dengan film The Vvitch. Film berlatar awal koloni di Amerika dan diperankan oleh Anya Taylor Joy ini, mengisahkan dengan abstrak sebuah kisah kajajaden (alias kesurupan) di lokasi terpencil sebuah koloni. Fokus utamanya adalah sebuah keluarga kecil di ladang yang jauh dari pusat koloni. Saking ngerinya, film ini direkomendasikan oleh penulis, sebagai film paling horor dari A24.

Free Fire yang dirilis tahun 2016 pun menunjukkan, bahwa A24 sanggup memproduksi film drama-aksi yang hanya berlatar satu lokasi saja. Jadi, filmnya mirip dengan khas sutradara kawakan Quentin Tarantino. Apalagi, Brie Larson sebagai aktris pemenang Oscar pun, mengisi film ini.

Film sejenis horor klasik pun diproduksi oleh A24, dengan judul The Monster di tahun 2016. Film ini mengisahkan ibu dan anak, yang terpisahkan akibat serangan monster besar ala seekor Yeti atau Bigfoot.

Di tahun yang sama, drama psikologis berjudul A Ghost Story pun dirilis. Film ini kembali dengan gaya khas A24, yaitu drama psikologis bernuansa horor. Namun, kisahnya cukup mendalam, karena lebih mirip kisah jurig alias arwah penasaran. Arwah ini belum sempat kembali ke dunianya sana, dan perlu menonton langsung seluruh kegiatan keluarga yang ditinggalkan olehnya.

Sebenarnya masih banyak film dari A24 yang bisa direkomendasikan. Tetapi, cukup disitu saja, karena penulis sendiri belum menonton semuanya.

Sinopsis Film Marty Supreme

Tahun 1952 lalu di AS, Marty Mauser (Timothee Chalameet) adalah seorang atlet tenis meja yang cukup hebat. Namun, dirinya tidak memiliki latar belakang seorang kaya raya, atau memiliki koneksi. Jadi selama ini, Marty berkompetisi di banyak turnamen tenis meja, tanpa dukungan sponsor sama sekali. 

Namun, Marty memiliki karakter yang pantang menyerah dan terlalu berorientasi target. Sehingga, Marty sering memposisikan dirinya dalam situasi berbahaya, demi mencapai tujuannya sendiri. Maksud Marty sebenarnya cukup baik, yaitu demi mendukung dirinya, serta ibunya yang kini bekerja di toko sepatu milik pamannya.

Beberapa turnamen di banyak negara diikuti oleh Marty dengan dana seadanya, walau tetap memenangkan sedikit hadiahnya. Kini, Marty berniat untuk mengejar mimpi terbesarnya, yaitu memenangkan Kejuaraan Dunia Tenis Meja di Jepang.

Sanggupkah Marty meraih mimpinya? Atau malah terjebak lingkaran hutang sana-sini akibat banyak mencari masalah?

Jawabannya, tentu ada drama olahraga ala sinema Indonesia.

18 Februari 2026

Kombo Sangar Ala Yakuza dan Kabuki Jepang di Film Kokuho

 

Pemeran Kabuki wanita yang aselinya pria (TMDB).

Menanggapi jaman ramai streamer dan roleplayer GTA di YouTube dan sajabana, saatnya beralih ke masa lalu dengan menyambut film kombinasi keduanya, berjudul Kokuho. Film yang tayang di sinema Indonesia bulan Februari ini, memiliki rating yang cukup untuk sebuah film drama kejahatan, yaitu D17. 

Bagi yang paham vibe-nya, maka mengerti bahwa Yazuka Jepang memiliki latar belakang sadis, namun sering berjumpalitan alias saling berselingan dengan dunia hiburan. Entah bagaimana keadaannya sekarang di tahun 2020an. Tetapi daripada membahas lingkar kejahatan yang sudah lama menurun pamornya, dan mengacu pada dunia yang brutal, maka coba dicek dari segi seni budayanya.

Kokuho bertema dunia seni, khususnya Kabuki sebagai seni teater tradisional Jepang. Tokoh utamanya memiliki latar sebagai anggota Kabuki, sekaligus seorang anak bos Yakuza. Animo yang berbeda tentunya, sehingga para kritikus memberi banyak penghargaan bagi film ini. Mulai dari Japan Academy Awards sebagai lokasi aslinya, hingga Oscar's Academy Awards dari Hollywood sana. Jadi, film ini mudah direkomendasikan bagi para penggemar film drama, khususnya yang berbau kejahatan.

Kabuki Jepang, Ketoprak Jawa, dan Longser Sunda

Nah seperti sudah diutarakan sebelumnya, daripada membahas sangarnya para Yakuza, lebih baik mengambil sudut pandang dari ranah seninya saja. Dari cuplikannya, Kukoho menunjukkan banyak adegan yang lebih berlatar seni teater dan segala keglamorannya. Hanya sedikit adegan berisi kerasnya para Yakuza.

Kabuki adalah sejenis teater tradisional Jepang, yang mulai dikembangkan dan ramai sejak tahun 1603 lalu. Khas dari teater ini adalah para karakternya berdandan warna putih, dengan garis merah di seluruh wajahnya. Kombinasi pola yang berbeda pada setiap karakternya, dan biasa disebut sebagai Kumadori. 

Dari etimologi-nya (yang setiap nama dan istilah bahasa Jepang lebih mengacu, daripada morfologinya), Kabuki berarti gabungan kata dari kemampuan, menyanyi, dan berdansa. Berbeda pula dengan padanan katanya, yang berarti kabuku atau aneh, nyeleneh, atau beda dengan yang biasa. Karena itu, pertunjukan Kabuki selalu luar binasa, layaknya anime Jepang yang selalu heboh.

Jika disandingkan sederhana, dandan Kabuki yang berwarna putih, sangat mirip dengan Wayang Orang. Namun dari segi hebohnya pertunjukan, Kabuki bisa disandingkan dengan hebohnya teater tradisional Jawa, yaitu Ketoprak. Teater ini ramai dimainkan dari Jawa Tengah hingga Timur, dengan khas gaya bahasa Jawa yang lugas dan keras, tidak seperti kesehariannya. Teater yang mulai keluar dari ranah Keraton sejak 1922 lalu, meramaikan kekayaan teater tradisional Jawa.

Berbeda pula perkembangan di daerah Sunda, alias daerah Jawa Barat. Khas kekonyolan Sunda tersirat dengan kuat di Longser Sunda, sejak tahun 1920 lalu. Sebelum dikenal hingga saat ini, teater tradisional ini sempat bernama awal doger, lalu lengger, dan akhirnya baru longser. Khas paling berbeda pada longser, adalah sesi bobodoran Sunda, yang kental dengan komentar sosialnya. Saat ini, longser sering diadakan sebagai seni saat hajatan (kawinan) berlangsung, daripada sebagai seni pertunjukan panggung atau jalanan.

Penulis memiliki minat khusus pada seni longser, khususnya saat acara nikahan berlangsung. Jika pengunjung acara tiba sebelum prasamanan dimulai, maka akan disajikan dengan pertunjukan longser. Humor, tari, serta tema sosial yang ditampilkan, menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis. Apalagi bobodoran-nya yang cukup dimengerti oleh penulis. 

Nah, sedikit mengacu pada Kabuki di film Kokuho, seni tradisional sejenis ini sering merubah karakter wanita, namun diperankan oleh seorang pria. Bahkan dari seni teater longser, ada istilah yang cukup kasar, yaitu Bebencongan. Sesuai namanya, bencong berarti pria yang bertingkah terlalu kewanitaan. 

Tetapi dari segi seni, apalagi humor, perubahan peran ini biasa dilansirkan sebagai bagian dari ekspresi, atau memang keterbatasan jumlah aktor-aktrisnya. Jika dicek hingga seni teater dari Eropa sana, maka peralihan jenis kelamin demi mengisi suatu peran, cukup biasa dan sering dilaksanakan pula.

Lucunya lagi, khusus untuk longser sunda, bebencongan ini khas dengan dandan ala warna putihnya. Karena kulit cokelat para pria yang berasal dari Tatar Sunda, maka lebih cocok berdandan tebal, apalagi niatnya memang humor. Jadi, walau dari sini terdengar agak lucu, namun nyambung dengan animo film Kokuho.

Jadi, sekeras apa Kabuki dan Yakuza jika digabungkan dengan peran wanita? Coba dicek saja sinopsisnya.

Bebencongan ala Longser Sunda (YouTube).

Sinopsis Film Kokuho

Kikuo Tachibana (Ryo Yoshizawa) adalah seorang anak Yakuza terkenal, di tahun 1964 lalu. Sejak berumur 15 tahun, Kikuo telah ditinggalkan ayahnya akibat kekisruhan di lingkar kejahatan mereka. 

Namun sejak berumur muda, Kikuo sama sekali tidak berminat dengan hidup keras dan sangar ala Yakuza Jepang, yang terkenal sadis dalam menjalankan bisnisnya. Kikuo justru lebih tertarik pada seni teater tradisional Jepang, bernama Kabuki. Tidak seperti biasanya, peran heboh ala Kabuki tidak diperankan oleh Kikuo. Melainkan dirinya lebih memilih peran wanita, yang wajar dilaksanakan sebagai pertukaran gender di teater Kabuki.

Selama menjalani karir sebagai aktor Kabuki, Kikuo dekat dengan Shunsuke Ogaki (Ryusei Yokohama), yang merupakan anak Sensei di Padepokan Seni Kabuki-nya. Keduanya yang satu generasi, menyebabkan pertemanan mereka semakin erat. 

Lebih dari beberapa dekade dijalani oleh Kikuo di dunia Kabuki, tanpa begitu berandil dalam dunia Yakuza warisan ayahnya. Namun, sifat dan sikap sangar Kikuo mulai muncul dalam dirinya. Apalagi, Kikuo kini justru bersaing dengan sahabatnya sendiri, demi meraih penghargaan sebagai aktor terbaik Kabuki seantero Jepang.

Bagaimanakah akhirnya yang penuh luka-liku budaya dibalik modern-nya Jepang? 

Jawabannya, tentu dapat dinikmati saat teater tradisional ala sinema Indonesia.

17 Februari 2026

Duo Film Kerajaan China yang Sama Epiknya: Blades of The Guardians, Three Kingdoms: Starlit Heroes

 

Topeng siapa ini? (TMDB).

Nah, ada kombinasi khusus di minggu ini, yaitu duo film dari China, yang khas ala epiknya jaman kerajaan terdahulu, berjudul Blades of The Guardians (D17) dan Three Kingdoms: Starlit Heroes (R13). Mungkin, perilisan kedua film ini untuk menyambut Tahun Baru China alias Imlek, di bulan Februari ini.

Walau keduanya memiliki referensi yang sama yaitu animasi, tetapi keduanya disajikan berbeda kali ini. Blades of The Guardians adalah film dengan aktor-aktris nyata, alias sejenis Live Action. Sementara Three Kingdoms: Starlit Heroes disajikan ala animasi, yang jelas tengah naik pamornya dari negara China sana.

Siapa pula ini anak kecil? (TMDB).

Film Blades of The Guardians

Film ini ternyata adaptasi langsung dari judul yang sama, namun berformat animasi dan dirilis serial berjumlah 15 episode, tahun 2023 lalu. Cuplikan serial animasinya tidak menjelaskan apapun, jadi langsung bahas adaptasi filmnya. Yang ternyata sama saja, cuplikannya tidak memberi tahu sama sekali plotnya (hehe). Dan sekali lagi, ternyata adegan kungfu bersenjata ala wuxian, sangat ciamik dengan koregrafi yang mantap. 

Entah apa maksud dari dua jenis adaptasi film Blades of The Guardians ini. Tampaknya memang hanya memancing saja dari segi adegan gelut mantap, biar tidak perlu berbelit-belit dengan plotnya. Ataukah ada plot besar dibaliknya? Biar penonton baru memahaminya setelah menonton hingga akhir? Entahlah... Karena sinopsis film masih berkutat pada cerita mengawal seorang kriminal berbahaya, yang langsung diadaptasi dari manhwa-nya.

Tetapi ada satu yang harus diingat, yaitu kembalinya sosok aktor kungfu terkenal dari China sana, bernama Jet Li yang berperan sebagai Chang Guiren. Aktor yang sebenarnya satu jaman dengan Jackie Chan ini, tidak begitu sering berkutat dalam perfilman China saat ini. Padahal Jackie Chan masih sering berperan, contohnya adalah tiga film yang dirilis pada tahun 2025 lalu.

Namun, kemunculan aktor yang telah berumur 62 tahun ini, tentu memberi angin segar bagi para penggemarnya. Jet Li adalah satu aktor yang sama-sama berasal dari akademi beladiri China. Berbeda dengan Jackie Chan yang berasal dari Opera Tradisional, Jet Li adalah seorang atlet Wushu saat masih muda, yang lalu berkarir sebagai seorang aktor.

Cao Cao yang mulai Epik (TMDB).

Film Three Kingdoms: Starlit Heroes

Sekarang saatnya format film yang sedang naik pamor di China sana, yaitu tersaji ala animasi 3D. Berbeda dengan film sebelumnya, Three Kingdoms: Starlit Heroes ini berlatar langsung sejarah China. Ya, tepatnya saat akhir Dinasti Han Timur, yang memulai Kisah Tiga Dinasti Kerajaan China. Bagi yang suka dengan sejarah China, pasti mengenal masa ini. Ketiga Dinasti Kerajaan seringkali bertikai dalam sebuah peperangan besar, yang semakin meramaikan epiknya sejarah China. 

Penulis cukup heran mengenai cuplikannya, karena rating filmnya ternyata R13, alias remaja bisa ikut nonton. Mungkin bagian dari kurikulum sekolah China, yang sidaj mengenalkan langsung cerita sejarahnya.  Atau karena formatnya animasi 3D, yang lebih mudah dicerna mata dan diterima oleh banyak kalangan, khususnya China dengan banyak syarat sensornya.

Di film ini, berfokus pada Jenderal Cao Cao (Tan Jianci), yang menguasai Kerajaan Utara China. Cao Cao berhasil menduduki kursi Kaisar, setelah meruntuhkan Dinasti Han yang sebelumnya berkuasa. Cao Cao berhasil meraih singgasana kerajaan, karena sebelumnya berjasa saat peperangan besar di Guandu. Nah, seluruh adegan film ini, berlatar kisah dan peran Cao Cao selama masa peperangan Guandu, hingga akhirnya berhasil menduduki tahta kerajaan. 

Jenderal Cao Cao dalam sejarah aslinya, memiliki andil dalam melindungi tahta kerajaan dari berbagai pihak keluarga dinasti yang bertikai. Selain itu, Cao Cao seringkali menang saat melancarkan kampanye merebut wilayah, dari utara hingga pusat China. Hingga akhir hayatnya, Cao Cao dikenal sebagai tokoh pionir yang memulai momen bersejarah Tiga Dinasti Kerajaan di China.  

Entah seberapa banyak referensi sejarah yang diadaptasi dalam film epik ini. Tetapi dari nama Cao Cao saja, sudah cukup memberi animo yang jelas. Istilahnya, sosok Cao Cao adalah seorang prolog, dari besar dan masifnya peperangan di jaman Tiga Dinasti Kerajaan China. Animo ini sudah terasa kolosal di jaman aslinya, hingga sekarang.

Duo Film Aksi Kejahatan yang Berbeda Asalnya: Jangan Seperti Bapak, Crime 101

 

Angel yang heran bapaknya kenapa (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film aksi yang rilis dua minggu ini, berjudul Jangan Seperti Bapak dari sineas perfilman Indonesia, dengan film Hollywood yag banyak bintangnya, Crime 101. Keduanya tayang di sinema Indonesia, dengan rating cukup dewasa, alias D17+. Sesuai judul artikel, memang kedua film berkutat pada edannya dunia kejahatan, dengan balutan drama dan misteri dibaliknya.

Film Jangan Seperti Bapak

Film yang judulnya agak aneh untuk film aksi, memang hasil karya Indonesia. Tema yang dibuat pun, berasal dari kisah para geng yang cukup perlente alias tingkat dewa. Ya, tidak seperti geng pecicilan alias preman jalanan. 

Bahkan dalam cuplikannya, sangat terlihat ketegangan drama antar tokohnya. Penulis cukup heran, karena untuk film yang berlandaskan aksi gelut, tetapi tidak menyisipkan banyak adegannya. Justru lebih banyak dialog serta arah kamera yang menunjukkan, hingar-bingarnya kota Metropolitan seperti Jakarta.

Sedikit kilas balik dan kangennya penggemar film Indonesia, memang banyak yang menginginkan bahwa sineas perfilman lebih memfokuskan pada kisah aksi gelut, daripada cerita horor. Walau cerita horor sekarang sudah mumpuni dari segi cerita, Indonesia masih memiliki banyak referensi silat dari berbagai daerah, dengan variasi jurus dan kuda-kudanya yang berbeda. Khusus ranah aksi silat, penulis justru kangen dengan karya aksi silat jaman pendekar terdahulu, layaknya film Panji Tengkorak di tahun 2025 kemarin.

Untuk sinopsisnya bisa sedikit dibahas, karena kesinambungan ceritanya tidak begitu terkuak dalam cuplikannya. Angel (Zee Asadel) adalah seorang gadis muda biasa, yang tidak begitu mengenal gelap-gemerlap hidup ala bapaknya, Pablo (Verdi Solaiman). Naas, Pablo meninggal saat Angel masih muda, tepat saat dirinya baru berumur 20 tahun.

Keluarga Angel ternyata sangat terhubung dunia gangster, dengan kombinasi banyak pemimpin Red Dragon, adalah kenalannya sendiri. Vincent (Zack Lee), Sisca (Aulia Sarah), Chandra (Irwan Chandra), dan Hans (Hendric Shinigami), adalah teman keluarga yang sudah dekat batinnya, seakan kerabat sendiri. 

Angel yang masih penuh amarah dendam, mencoba menghubungi mereka. Walau berbeda cara antara satu sama lainnya, namun Angel tetap bersikukuh untuk menguak misteri dibalik kematian ayahnya.

Chris Hemsworth yang kembali beraksi (IMDB).

Film Crime 101

Nah, kalau film yang satu ini sangat menggiurkan dari segi kombinasi aktor-aktris yang mengisinya. Apalagi jika membahas adaptasi naskahnya, yang berasal dari novel terkenal karya Don Winslow, dengan judul yang sama. 

Dari cuplikannya atau poster filmnya saja, sudah terlihat sederet bintang besar di perfilman Hollywood. Diantaranya adalah Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Halle Berry, dan Barry Keoghan. 

Chris Hemsworth tentu menjadi 'wajah' yang tepat sebagai aktor utama di film ini, karena cocok sebagai pemain film aksi. Sementara Mark Rufallo, Barry Keoghan, dan Halle Berry adalah aktor-aktris yang lebih dikenal dengan bakat aktingnya, dan sering dinominasikan oleh Oscar atau penghargaan sinema lainnya. 

Khusus Halle Berry yang sempat memenangkan Oscar, justru saat ini jarang muncul ke permukaan. Padahal, sederet film terkenal banyak dibintangi olehnya, contohnya sebagai gadis Bond di film Die Another Day (2002), dan film horor-psikologi yang aneh, berjudul Gothika (2003). Bahkan film sains-fiktif terakhirnya berjudul Moonfall (2022), dinilai hanya mengandalkan efek spesial saja, tanpa akting atau kisah yang masuk dinalar.

Okeh, saatnya sedikit membahas kisah Crime 101, dan pastinya bagi penggemar Grand Theft Auto atau kisah kejahatan lainnya, akan sangat menyukainya. 

Berbeda dengan kisah aksi Hollywood lainnya, Crime 101 berkutat pada karakter Davis (Chris Hemsworth) yang perlente. Davis bekerja sebagai broker kejahatan, yang mendatangi klien untuk 'menghilangkan' aset perusahaan. Ya, kejahatan yang dilaksanakan Davis, bukanlah pencurian atau perampokan semata, tetapi bernada gratifikasi, dengan mengandalkan 'asuransi' dibaliknya (Insurance Fraud).

Sementara Detektif Lou (Mark Rufallo) dari kepolisian setempat, berhasil untuk menemukan satu rangkaian tepat dibalik modus operandi Davis. Walau belum mengenal siapa tersangkanya, namun Lou telah menyimpulkan pola tertentu, yaitu seluruh aksi kejahatan terjadi di sekitar Jalan Tol 101. 

Sementara klien Davis yang bernama Sharon (Halle Berry),  memiliki kedekatan khusus dengan dirinya. Namun, kedekatan itu bukan masalah bagi Davis, yang berencana untuk melarikan diri dari wilayah modus operandinya. Fixer-nya dari pihak Davi sendiri, justru mengerahkan Ormon (Barry Keoghan) untuk mendekati dirinya, agar segala tindak-tanduknya dapat terlacak dan diungkap.

Sekilas Info Drama Kejahatan

Drama kejahatan seperti dua film ini memang berbeda, yang tidak ramai aksi di setiap adegannya. Namun kesinambungan cerita, drama para karakternya, serta misteri di baliknya, menjadi animo tersendiri. Bagi yang suka menonton drama kejahatan, pasti cukup ngeuh dengan atmosfer kedua film. Apalagi, menterengnya latar para karakter, serta adegan aksi yang bisa dibilang lebih efektif daripada film gelut lainnya, menjadi khas tersendiri dalam sub-genre ini.

11 Februari 2026

Memahami Jiwa Seorang Wanita Ala Film Spring

 

Layaknya wanita yang terus berubah-rubah ala rubah (TMDB).

Okeh, saya berbohong lagi sebenarnya. Di dua artikel Monsterisasi minggu ini, saya akan membahas juga tentang romansa, walau genre utamanya tetaplah horor atau drama kehidupan sehari-hari di judul terakhir.

Film Horor-Romansa yang dibahas, berjudul Spring dari tahun 2014 lalu. Ya, layaknya membahas Nadia Hilker saat masih sangat ca'em, kisah ini memang berlandaskan dirinya. Bukan sebagai seorang aktris cantik, tetapi metafora dan simbol terbesar dari jiwa seorang wanita. Bagi yang sudah menontonnya dan kurang paham, dapat mengeceknya di artikel ini.

Oh ya, walau film ini aslinya karya Hollywood, namun lokasi latar syuting serta aktor-aktrisnya kebanyakan dari Eropa. Mungkin, agar otentik sesuai ceritanya, yang jelas mengisahkan di Italia sana.

Kisah Horor-Romansa

Kisah horor di film ini sebenarnya tidak begitu kentara, namun lebih terasa seperti misteri. Banyak kejadian aneh meliputi tokoh utama prianya, bernama Evan (Lou Tayler Pucci) dari AS, yang tengah berlibur di Italia. 

Di kota Polignalo a Mare yang eksotis, Evan bertemu dengan gadis cantik bernama Louise (Nadia Hilker). Gadis cantik misterius ini lalu setuju membina hubungan sementara, layaknya dua insan yang sedang berlibur. Namun semenjak keduanya saling kenal, sering terjadi kejadian aneh di sekitar mereka. 

Karakter Louise

Karakter wanita Louise ini, setelah diselidiki dan secara kebetulan diungkap oleh Evan, merupakan sesosok monster aneh. Walau awalnya ngeri, tetapi Evan dengan cepat tanggap (beberapa menit saja), langsung memaklumi anehnya diri Louise. 

Padahal Louise adalah semacam mahluk anomali, yang memiliki siklus beberapa hari setiap bulannya, untuk berubah bentuk menjadi mahluk lain. Ya, bukannya seorang vampir atau manusia serigala, atau bahkan wanita yang lagi menstruasi bulanan, Louise adalah seorang yang berubah wujud (menjadi monster) setiap bulannya. Satu cara untuk menunda siklus tersebut, adalah suntikan hormon.

Hingga akhirnya di akhir film, ditemukanlah jawabannya. Satu cara agar Louise berhenti siklus perubahannya, adalah dengan menerima dirinya sebagai manusia. Namun, dirinya beresiko tidak kekal abadi lagi. Louise ternyata sering membina hubungan dengan manusia lainnya, namun justru berakhir dirinya takut menjadi manusia biasa.

Dan diakhir film pun, saat keduanya tengah duduk pada sebuah batu, tepat saat matahari mulai terbit, sebuah gunung vulkanik besar di seberang laut, meletus dengan dahsyatnya.

Ya, kebetulan yang sangat tepat momennya.

Tema Ibu yang Kentara

Perlu digaris-bawahi, bahwa tema ibu memang sangat kentara dalam film ini. Evan melarikan diri ke Eropa, akibat sedih setelah memakamkan ibunya. Dirinya lalu bertemu Louise, yang sebenarnya tidak bisa hamil akibat terus berubah wujudnya.

Suatu lingkaran takdir, yang memisahkan Evan dengan ibunya sendiri, berlanjut saat bertemu Louise di Italia. Walau aneh bin ajaib, Evan malah terpukau dengan anehnya Louise, dan dengan siap membantu. 

Dari situ, Louise dapat digambarkan sebagai seorang yang sangat kita kenal. Ya, bukannya ibu kita sendiri, melainkan Ibu Pertiwi alias Motherland bagi warga Slavic, alias planet biru bernama Bumi ini.

Adaptasi, Evolusi, dan Perubahan Geografis Bumi

Ya, Planet Bumi yang menjadi rumah bagi manusia, hewan, tanaman, dan banyak kondisi geografis, adalah lokasi yang layak disebut sebagai ibu. Seperti beberapa istilah tadi, banyak budaya serta warga dunia yang menghargai Bumi layaknya Ibu sendiri.

Itupun sesuai dengan karakter Louise dalam film Spring ini. Louise memiliki siklus uniknya sendiri, yaitu berubah setiap bulannya menjadi mahluk lain. Entah itu gurita, rubah, atau bahkan tanaman. Perubahan Louise ini adalah simbol dari adaptasi dan evolusi banyak mahluk di muka Bumi. Apalagi, Louise mengaku bahwa dirinya telah hidup lama di Bumi, hingga jutaan tahun lamanya.

Siklus perubahan dapat dihentikan dengan menyuntikkan hormon dari hewan lain, atau dengan menerima diri sendiri sebagai manusia. Maksud paling kentara, adalah manusia sebagai mahluk sentien, adalah suatu puncak dari siklus evolusi. Secara hati dan pikiran, Louise seharusnya menerima diri sebagai seorang wanita, yang senantiasa mengasuh anak dan melanjutkan generasi berikutnya. Daripada, Louise menganggap dirinya sebagai dewi yang kekal abadi.

Apalagi di akhir film, terdapat kebetulan yang berbeda. Seperti sudah dijelaskan, keduanya tengah berada di atas batu, dengan pemandangan matahari terbit dan meletusnya gunung vulkanik. 

Adegan ini mengingatkan, bahwa Louise layaknya seorang avatar dari Bumi. Keadaan geografis bumi terus berubah selama milyaran tahun, semenjak masih bersatu sebagai Benua Pangea, hingga terpisah menjadi banyak benua di jaman modern. Tentu perubahan geografis Bumi, diakibatkan oleh pergerakan Tektonik dan banyak lempengan yang dibawanya. Penggambaran yang tepat sekali, sesuai dengan momen meletusnya sebuah gunung vulkanik.

Ya, menurut penulis sendiri, film ini memang Drama-Horor-Romansa paling romantis yang pernah saya tonton. Memang menggambarkan, bahwa kekayaan alam yang telah kita nikmati selama ini, adalah hasil dari perlindungan Planet Bumi tercinta, layaknya seorang Ibu.

Okeh, Ciao.

Louise dan Evan yang masih kasmaran (TMDB).

Oh ya, ada teori kurang nyambung tersendiri mengenai sosok Evan di film ini. Menurut penulis, Evan bukan seorang pelarian sejati. Walau dirinya bekerja sebagai bartender di bar kecil AS saat awal film, namun terlihat sudah terbiasa untuk berjalan-jalan jauh. Bahkan melanglang-buana sendiri hingga Eropa sana, khususnya menuju Italia.

Tampaknya sebelum kembali ke rumah kediaman ibunya, Evan adalah seorang bartender di kapal pesiar. Karena itu, walau tidak begitu mengenal Italia sebagai lahan rekreasi, namun dirinya memilih satu kota yang berada di pesisir pantai, dan bukannya pusat pariwisata (layaknya Roma atau lokasi landmark lainnya).

Apalagi dengan pembawaan karakternya yang mudah nyambung dengan siapa pun di film ini, termasuk Louise yang eksentrik. Penulis akhirnya yakin, bahwa Evan memang seorang pengelana sejati, yang siap bertahan dimanapun lokasi dirinya berada.

Memaknai Adaptasi Horornya Junji Ito Ala Film Tomie Unlimited

 

Tomie yang memabukkan (Asian Wiki).

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, artikel Monsterisasi minggu ini akan diisi dengan film horor. Karakter utamanya yang wanita, akan dijabarkan dengan lebih mendetail secara simbolis, karena lebih mengacu pada stigma sosial yang ada. Ya, artikel ini tidak akan membahas wanita 'layaknya racun dunia.' Tetapi, mengacu pada kesan sosial masyarakat, kepada peran wanitanya itu sendiri.

Hehe, terdengar agak berat, padahal tidak juga. Walau saya bukan seorang simping berat, tetapi tahu harkat wanita di kalangan masyarakat. Karena itu, seperti biasanya, horor adalah bagian dari pelarian suatu budaya. Jadi, artikel semacam ini akan membahas segi karakter wanita yang terlalu dilebih-lebihkan, tentunya oleh masyarakatnya itu sendiri.

Oh ya, contoh lucu dari pamali tradisional terdahulu, layaknya anak kecil yang dilarang main keluar saat malam hari. Nantinya takut diculik Kuntilanak, sejenis jurig berambut panjang dan berbaju gaun putih. Namun jika ditelaah dari budaya, maka malam hari tentu tidak aman bagi anak kecil, apalagi jaman saat hanya ada obor sebagai penerangan malam hari.

Okeh, bagaimana dengan kesan Kuntilanak tersebut di jaman modern, saat malam hari masih terang benderang? Karena itu, artikel ini akan membahas satu karakter paling terang dari karya Mangaka Jepang, Sensei Junji Ito. Namanya adalah Tomie, yang sering muncul sebagai anomali di banyak manga pendeknya. Khusus untuk artikel ini, akan membahas cerita dari adaptasi filmnya, berjudul Tomie Unlimited dari tahun 2011 lalu.

Jujur saja, saat pertama kali menonton film ini, penulis kurang ngeuh dengan maksud ceritanya. Namun, setelah jaman internet yang kentara, penulis pun mulai membaca manga karya Sensei Junji Ito. Akhinya cukup mengerti, dari mana segi kengerian kisah Tomie ini.

Tomie di Manga

Karakter Tomie di manga memiliki khasnya sendiri, yaitu wanita muda yang cantik nan memabukkan. Sayangnya karena karya ini milik Junji Ito, maka ceritanya akan berakhir buruk bagi Tomie atau karakter lainnya. Ya, akhir cerita pendek berisi Tomie didalamnya, akan berakhir buruk bagi semuanya. Cek saja di banyak manga atau serial anime-nya, Tomie adalah karakter yang sering muncul.

Khas karakter Tomie, adalah pasti memabukkan bagi banyak karakter lainnya, khususnya pria. Selain itu, karakter wanita disekitarnya akan cemburu buta, karena kecantikan dan kepopuleran Tomie di kalangan pria. Kepopuleran Tomie, secara harfiah merubah dunia di sekitarnya. Seakan menjadi panggung bagi dirinya sendiri, sementara Tomie adalah Idol utamanya.

Sayangnya, layaknya karya horor Junji ito, pasti diakhiri dengan sadis dan berbahaya. Saking cemburunya para karakter wanita, mereka sanggup bertindak sadis dengan membunuh langsung Tomie. Tidak hanya itu, karakter prianya pun bertindak lebih pula, dengan tidak hanya mendekati Tomie, tetapi (dengan harfiah) mencincang tubuhnya, demi mendapatkan sedikit 'dagingnya yang enak.'

Nah dari situ, Tomie justru sanggup kembali hidup (sekali lagi harfiah), dan hidup seperti biasa. Banyak yang heran, tetapi malah membiarkannya. Banyak karakter yang sebelumnya berbuat jahat kepada Tomie, malah merasa aman gara-gara korbannya masih hidup. Seakan, dosa mereka sudah bersih sepenuhnya. 

Ya satu kekhasan dari cerita Tomie, adalah wanita ini memang sejenis monster, yang sanggup beregenerasi dari titik daging terkecil, layaknya karakter Deadpool dan Wolverine. Namun, Tomie bukanlah karakter jahat. Agak manipulatif memang, karena Tomie sering memanfaatkan kecantikan dirinya, demi mendapat para pria atau ketenaran. Namun Tomie sendiri tidak pernah bertindak jahat, tidak seperti karakter monster lainnya di manga karya Sensei Junji Ito.

Bagaimana dengan karakter dari adaptasi filmnya yang berjudul Tomie Unlimited? Justru digambarkan dengan mirip selama durasi filmnya, namun dengan akhir yang cukup mencengangkan. Ya, bagi yang tidak mau kena spoiler akhir cerita, harus menghindari kelanjutan artikel dibawah ini.

Akhir Cerita Tomie Unlimited

Seperti biasa, setelah banyak drama dengan kisah saling hasut, mendarah-darah, dan mendaging-daging selama durasi film, justru akhir Tomie Unlimited sangatlah berbeda dengan karya dari manga-nya. Di akhir cerita, karakter Tomie sanggup melipat-gandakan dirinya, dengan banyak penjelmaan dirinya, sebagai pasangan pria atau bahkan teman wanita. 

Di akhir film, Tsukiko Izumikawa (Moe Arai) sebagai tokoh utama, menganggap dirinya berhasil membasmi Tomie yang selalu hidup kembali. Ya, berbeda dengan karya manga, Tsukiko memang waspada akan bahayanya Tomie. Layaknya monster, Tsukiko berhasil membakar atau menghancurkan seluruh bagian tubuh Tomie, agar tidak menganggu sekolah dan wilayah sekitar rumahnya lagi.

Namun hancurnya tubuh Tomie justru memicu kemampuan lainnya dari Tomie, yaitu melipat-gandakan dirinya. Selayaknya judul Tomie Tanpa Batas, karakter Tomie malah ditemukan di seluruh lokasi sekolah dan rumahnya. Seakan, hanya Tsukiko saja yang berhasil mempertahankan dirinya. Sementara seluruh wanita di sekitar area rumahnya, telah berubah semuanya jadi Tomie.

Nah, kisah Tomie yang cantik nan memabukkan ini, cocok untuk mengacu pada sub-artikel berikutnya, yaitu mengacu pada stigma sosial dengan istilah Beauty Standard, khususnya di Jepang sana.

Beauty Standard vs Gyaru dan Yankee di Jepang

Beauty Standard atau Standar Kecantikan, memang menjadi khas sosial selama ini. Wanita diharapkan untuk bersikap anggun, lemah-lembut, bertutur kata baik nan manis, sekaligus cantik dengan segala standarnya.

Namun sejak awal tahun akhir 90an lalu di Jepang, terdapat satu pergerakan besar dari wanita. Banyak pemudi yang masih bersekolah atau kuliah, kurang menyukai stigma sosial untuk wanita Jepang. Mereka didorong untuk mengikuti Standar Kecantikan tersebut, namun melawan dengan gaya khasnya.

Pergerakan ini disebut Gyaru atau Yankee di Jepang sana. Para pemudi ini berkulit cokelat (khusus gyaru), atau berambut pirang alias blonde (ala yankee). Tidak hanya kulit atau rambut, banyak aksesoris serta pakaian nyeleneh, yang dikenakan oleh mereka sehari-hari. Tingkah mereka pun sama sekali tidak dapat disebut anggun, melainkan tomboy dan pemberani sekaligus tangguh.

Nah, animo ini semakin meramaikan ranah Jepang sana, yang memang banyak mengalami pergolakan pemuda-pemudinya. Hingga kini, pergerakan gyaru atau yankee, masih menjadi tren khusus bagi para peminatnya.

Bagaimana hubungannya dengan kisah Tomie Unlimited? Nah, itulah maksudnya. Dunia mainstream selalu meminta standar yang sama, termasuk kecantikan bagi para wanitanya. Standar ini memang diterima oleh khalayak luas, sehingga menjadi kesan khusus yang dapat diperkirakan. Layaknya Tomie yang berlipat-ganda, standar ini terus 'menjamuri dan menginfeksi' banyak wanita di Jepang.

Berbeda lagi dengan dunia yang lebih mengacu pada seni, dimana ekspresi pada karya adalah yang terpenting. Karena itu, gyaru dan yankee tidak hanya menjadi pilihan modis saja, tetapi sebuah pergerakan tertentu dari ranah non-standar. 

Beberapa karya manga dan anime saat ini, sering mengingatkan kembali bedanya gyaru dan yankee di ranah karya mereka. Contoh terbarunya adalah Momo Ayase (Shion Wakayama) bersama kedua teman wanitanya, Miko (Kaori Maeda) dan Muko (Miyu Tomita). Ketiganya adalah contoh gyaru dan yankee di karya manga dan anime viral, sejak tahun 2024an hingga sekarang.

Jadi, selayaknya quote dari Patrick Star yang non-standar dan bisa beregenerasi layaknya Tomie, 'Aku Jelek dan Aku Bangga!'

Haaah??? (Pinterest).