Tampilkan postingan dengan label Rating D17. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rating D17. Tampilkan semua postingan

13 Januari 2026

Siluman Raksasa Nusantara Ala Film Penunggu Rumah Buto Ijo

 

Buto Ijo lagi ngintip (TMDB).

Okeh, sekarang film horor berikutnya, yang ternyata mencoba mengangkat cerita dongeng Timun Mas, tetapi lebih berlatar horor, dengan judul Penunggu Rumah: Buto Ijo. Tentu, dengan rating cukup dewasa, alias D17, yang akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ketiga Januari ini.

Animo yang dibawakan pun cukup menarik, karena banyak menggunakan efek CGI untuk karakter Buto Ijonya. Tidak begitu ciamik ala film Hollywood, namun cukup menggambarkan karakter ngeri ini.

Yang masih ingat kisah Timun Mas, pasti paham arahan plot film Buto Ijo ini. Apalagi, sebenarnya Buto Ijo digambarkan berbeda dalam kisah wayangnya. Maka, penulis mencoba untuk menggambarkan kembali, bagaimana aslinya karakter Buto Ijo, alias Buta Hejo dari Wayang Golek daerah Sunda.

Karakter Buta Hejo Alias Buto Ijo

Buta Hejo adalah satu karakter favorit penulis dari kisah dan pagelaran Wayang Golek. Tentu, favorit utamanya adalah Trio Cepot, Udawala, dan Gareng serta sang ayah, bernama Semar. 

Karena itu, favicon serta foto profil penulis pun, diberi wajah Sisingaan yang lengkap dengan iket Sundanya, atau sejenis Barongsai. Avatar ini tidak cukup mirip dengan Leak dari Bali, tetapi lebih mirip dengan karakter Buta Hejo dari Wayang Golek. 

Memang di Sunda, Buta Hejo tidak berwarna hijau menyeluruh, namun khas utamanya adalah giginya yang besar. Jika disandingkan dengan karya Dalang Legendaris Asep Sunandar Sunarya, Buta Hejo terlihat seperti karakter wayang ala Cepot, tetapi dengan kulit lebih pucat, hijau atau merah. Lucunya, jika kalah  bertarung atau dipukul, dari dalam mulutnya keluar satu rangkaian ular yang banyak sekali (Borolo Oray) (^^).

Memang di Wayang Golek, karakter Buta Hejo tidak begitu horor alias mengerikan. Ala Cepot dan saudaranya, Buta Hejo disandingkan dalam satu cerita, dimana banyak kekonyolan terjadi. 

Bahkan menurut GoodNovel, secara simbolis Buto Ijo memang mewakili kekuatan alamiah dan kekacauan spontan (Borolo Oray!). Buto Ijo memang harus dihadapi langsung dengan cara fisik atau humor.

Dari segitu saja, memang cocok sebagai karakter yang hampir mencapai tingkatan lucu-lucuan (Gag). Tetapi simbolisnya, jika dihadapi langsung dengan cara kerja fisik atau humor, layaknya sebuah masalah yang harus dibereskan sekalian, atau disepelekan dengan cara bodor.

Buta Hejo Borolo Orok (Facebook). 

Sinopsis Film Penunggu Rumah: Buto Ijo

Srini (Celine Evangelista) adalah seorang janda yang baru saja pindah rumah baru bersama anak semata wayangnya, Tisya (Meryem Hasanah). Namun, belum lama tinggal di rumah tersebut, banyak kejadian mistis aneh menimpa mereka. 

Karena butuh bantuan mistis, maka Srini menghubungi Ali (Gandhi Fernando) serta saudarinya, Lana (Valerie Thomas). Keduanya adalah kreator konten, yang khas dan berfokus pada kisah horor.

Namun, belum lama keduanya beroperasi, kengerian mistis di rumah malah makin berbahaya. Penampakan serta paniknya Tisya, semakin meruak di seluruh area rumah.

Apakah memang Buto Ijo semengerikan itu? Atau memang kasihan dengan janda anak satu tanpa suami? Sementara itu, Buto Ijo pun kesel sama viralisasi ala para kreator konten?

Jawabannya, tentu ada di pagelaran wayang ala sinema Indonesia.

Terjebak di Alam Lain Akibat Angkernya Jalanan Film Alas Roban

 

Busnya saja sudah angker (TMDB).

Berikutnya dalam minggu ketiga Januari yang penuh aura horor ini, kembali juga satu kisah yang merupakan legenda urban Nusantara, berjudul Alas Roban, yang akan tayang di sinema Indonesia. Ratingnya pun cukup tinggi, alias umurnya harus 17 tahun keatas (D17).

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya, legenda urban jalan raya angker memang mengisahkan satu kisah yang sering ada di dunia nyata. Kali ini, Alas Roban yang berada di jalur Pantura, tepatnya di kabupaten Batang, Jawa Tengah. 

Terlihat pada cuplikannya, tampaknya mengambil latar jaman dimana Pantura masih ramai dilalui, alias sebelum jalur tol Trans-Jawa, antara jalur Cisumdawu, Cipali, Palikanci, dan seterusnya dibuka untuk umum.

Memang pada jaman tersebut, bukan hanya tingginya jumlah kecelakaan di jalur Pantura, namun panjangnya jalan yang membuat banyak kisah legenda urban. Banyak pengemudi yang melalui jalur Pantura, akhirnya terpaksa mencoba jalur lain, walau lebih memutar arahnya.

Sedikit Kisah Angker dari Jalan Raya

Daripada membahas area Alas Roban yang akan disajikan dalam filmnya, maka penulis coba mengangkat jalan raya angker lainnya. 

Ya, yang coba diangkat adalah jalan angker bernama Tanjakan Emen, yang berada di antara Subang dan Lembang, Jawa Barat. Jalan tanjakan ini memang sempat melegenda, akibat seringnya kecelakaan kendaraan bermotor dan terjalnya jalur tersebut. Jalan yang menanjak dan berbelok dengan tikungan sulit, menyebabkan kecelakaan mudah terjadi di Tanjakan Emen. 

Kecelakaannya itu sendiri terjadi pada tahun 1956 lalu, saat sebuah oplet dengan kernet bernama Emen, jatuh ke jurang. Akibat lokasi tanki bahan bakar yang dekat dengan dasbor dan kelengkapan listriknya, oplet seketika terbakar, dan melahap jiwa ke-27 penumpangnya. 

Ngerinya kecelakaan tersebut, menyebabkan tanjakan curam tersebut dinamai sesuai dengan korbannya, yaitu Tanjakan Emen. Padahal, nama asli korbannya berbeda, alias hanya sebutan saja. 

Karena mitos angkernya Tanjakan Emen merebak, maka banyak ritual bagi para pengendara saat melaluinya. Diantaranya adalah membunyikan klakson, melempar koin ke jalan, hingga menyalakan rokok baru, lalu membuangnya langsung. Ritual tersebut dipercaya, dapat mengamankan kendaraan mereka dari celaka.

Namun, setelah beberapa kali direnovasi dan dikonstruksi ulang, Tanjakan Emen kini telah mencapai tingkatan aman. Sejalan dengan menurunnya jumlah celaka dan ritual aneh di sekitarnya, jalan ini pun dirubah namanya menjadi Tanjakan Aman oleh pemerintah lokal, sejak tahun 2018 lalu.

Agak berbeda memang, namun penulis percaya, bahwa keangkeran mistis bisa ditanggulangi dengan merubah medianya. Yaitu, dengan memperbaiki infrastruktur jalur tersebut, lalu merubah namanya, agar kesan dan atmosfer angker pun berlalu. Warga pun akan kembali melaluinya dengan perasaan lebih aman. Jadi, tidak perlu dikaitkan langsung dengan mistis.

Sinopsis Film Alas Roban 

Sita (Michelle Ziudith) adalah seorang ibu tunggal, dengan anaknya yang tunanetra, bernama Gendis (Fara Shakila). Suatu hari, karena dirinya mendapatkan pekerjaan baru di Semarang, harus berangkat ke Semarang saat hari mulai sore. 

Walau supir busnya sempat menolak, namun karena kasihan, maka mengantar kedua insan tersebut. Padahal, supirnya tahu bahwa jalur Alas Roban adalah lokasi angker, apalagi dilalui saat hari mulai gelap. Alas Roban sudah dianggap jalur ramai kecelakaan, yang semakin angker dengan banyak ditemukannya sisa tubuh di lokasi tersebut.

Sita berhasil tiba di Semarang, dan mulai bekerja di rumah sakit. Namun, semenjak saat itu, Gendis mulai bertingkah aneh. Gendis dapat menggambar dengan baik, padahal matanya sulit melihat. Gendis pun sering kerasukan tiap malam harinya, yang menambah panik Sita serta keluarga dekatnya.

Apakah yang terjadi di rumah Sita dan Gendis? Apakah ada hubungannya dengan lokasi angker Alas Roban? Atau ada yang bermaksud lain pada gadis cilik ini?

Jawabannya, tentu ada di legenda angker sinema Indonesia.

Berlanjut Sekuelnya di Film 28 Years Later: The Bone Temple

Dr. Kelson yang masih berharap dapat mengobati wabah (IMDB).

Film zombie berikutnya selama dua minggu berturut-turut rilis di sinema Indonesia, berjudul 28 Years Later: The Bone Temple, yang memang langsung melanjutkan cerita film sebelumnya. Uniknya, rilis antara film 28 Years later pertama dan sekarang, hanya berjarak tujuh bulan saja. Oh ya, sama seperti rating umur sebelumnya, harus ditonton oleh dewasa berumur 17 tahun plus.

Entah apa yang menjadi wacana studio waralaba 28 Years Later. Rilis sekuel seperti ini, seperti mengingatkan film kedua dan ketiga The Matrix, yang sama-sama dirilis pada tahun 2003 lalu. Menurut produser film The Matrix, perilisan film sengaja dibuat cepat, karena animo dari fansnya. Mereka tidak ingin, film ini dirilis lama, sehingga langsung dapat ditamatkan dalam waktu satu tahun saja.  

Sementara para sineas film dibalik 28 Years Later, sempat menyatakan bahwa mereka melaksanakan syuting film pertama dan keduanya langsung, demi mempercepat produksi. 

Berbeda dengan film pertamanya, karakter utama Jamie yang diperankan oleh Aaron Taylor Johnson, tidak kembali dalam film The Bone Temple. Fokus cerita justru beralih ke karakter anaknya, bernama Spike (Alfie Williams), bersama dua karakter dewasa lainnya, yaitu Dr. Kelson (Ralph Fiennes) dan Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connel).

Bagi yang belum menonton film pertamanya, tentu tidak akan paham cerita di film keduanya. Beberapa bagian artikel ini pun, akan sedikit membahas cerita di film pertamanya, sehingga menjadi spoiler bagi yang belum menonton.

Sedikit Referensi The Bone Temple

Film kedua 28 Years Later yang bersub-judul Bone Temple, alias bisa diartikan sebagai Kuil Tulang Belulang. Memang, dalam film pertamanya, terdapat sebuah lokasi dimana Dr. Kelson tinggal, diisi dengan banyak totem berbahan tulang. 

Selama 28 tahun terakhir, Dr. Kelson mengumpulkan banyak pasien terinfeksi dan korban Rage Virus, yang lalu dikuliti dagingnya setelah dibakar. Dr. Kelson lalu menempatkan sisa tulang, pada tiang yang dijadikan totem. Sementara bagian tengkoraknya, terpasang di pusatnya, dengan fondasi yang berbeda.

Jika dicek di dunia nyata, terdapat satu lokasi paling terkenal mengenai makam semacam ini, yaitu Katakomba Paris, di Perancis. Pemakaman masal ini berukuran masif, yaitu sepanjang 300 kilometer dan berada dibawah tanah. Walau begitu, yang bisa dikunjungi turis hanya 1,5 kilometer saja. Tengkorak dan tulang belulang menyelimuti seluruh lapisan terowongan, yang tentu terlihat sangat mengerikan. 

Bagi yang penasaran, dapat mengecek film dokumenter found footage, yang bersyuting di lokasi ini, berjudul As Above, So Below, yang rilis tahun 2014 lalu.

Kembali ke Inggris Raya sebagai lokasi latar film waralaba 28, maka perlu melacak pula latar sejarahnya. Selama akhir abad pertengahan, pemakaman Charnel, yaitu pemakaman dimana tengkorak dan tulang dari jenazah, ditempatkan secara masif di satu lokasi khusus. Praktek ini lumrah dilaksanakan selama Kristen Katolik berjaya di Inggris Raya.

Ritual Charnel dilaksanakan demi memudahkan pemakaman di jaman tersebut, sekaligus ritual keagamaan Katolik di Inggris Raya. Namun, pada abad 16 praktek ini ditutup, karena perubahan struktur kepengurusan agama Kristen di Inggris.  

Dan kembali lagi ke film 28 Years Later, yang sebenarnya lebih mengemukakan tentang wabah penyakit, tampaknya harus mengacu kepada Wabah Hitam. Selama abad 14 di Eropa, sekitar 50 juta warga meninggal akibat wabah yang dibawa hama tikus tersebut. Jumlah kematian masif tersebut, mencapai setengah dari jumlah warga di Eropa saat abad 14 lalu.

Bahkan, jika dicek pada film pertamanya yang berjudul 28 Days Later (2002), maka jumlahnya hampir mirip. Dilansir dari Worldometers, maka jumlah warga Inggris Raya pada tahun 2000an lalu, mencapai 59 juta. Berarti, mirip dengan jumlah kematian saat Wabah Hitam di Eropa.

Di film pertamanya pun, seluruh kepulauan Inggris Raya sudah tidak dapat diakses lagi, dan menjadi lokasi karantina. Hanya pasukan militer yang diperbolehkan masuk, itupun dengan misi tertentu.

Sinopsis Film 28 Years Later: The Bone Temple

Berbeda dengan film pertamanya, cuplikan di film ini justru lebih jelas, apalagi dengan dua rilis cuplikannya. Jika disatukan, maka animo film kedua 28 Years Later dapat disimpulkan dengan tiga sudut pandang karakternya. 

Yaitu, dari Spike (Alfie Williams) sebagai tokoh utama sebelumnya, lalu dari Dr. Kelson (Ralph Fiennes) yang masih berharap menemukan obat untuk wabah, serta Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connel), yang masih penasaran dengan kondisi wabah serta penyintas lainnya.

Ketiganya pun berjibaku dengan drama yang cukup berbeda. Karena Dr. Kelson masih ingin mengobati korban terinfeksi, maka dirinya mendekati sang Alpha bernama Samson. Dr. Kelson tampaknya berhasil menciptakan sebuah obat anti Rage Virus, yang masih perlu dites.

Sementara Spike, yang berhasil bertemu dengan kawanan Sir Jimmy Crystal, mencoba berbaur dengan mereka. Namun, Spike masih belum sadar, bahwa gang ini cukup brutal. Karena, misi mereka adalah membasmi semua penyintas lain yang belum terinfeksi wabah.

Sementara Sir Jimmy Crystal sedang mencoba mengetahui apa gerangan dengan Dr. Kelson, setelah sempat bertemu di Kuil Tulang Belulang. Dirinya sempat heran, namun cukup kagum dengan dedikasi Dr. Kelson, selama wabah merebak di seluruh Inggris Raya.

Dari segitu saja, cukup berbeda dengan film pertamanya yang lebih linear. Tiga sudut pandang berbeda dalam film ini, ternyata cukup menarik dibanding film zombie biasa. 

Kisah akhirnya, tentu dapat dicek di kuil tulang belulang, daging mendaging, dan darah membuyar ala sinema Indonesia.

Zombie Kembali Lagi di Film We Bury The Dead

 

Daisy Ridley yang kembali berperan tokoh utama (IMDB).

Tiba-tiba, ranah perfilman Hollywood sana sedang ramai mengadaptasi kembali film Zombie, yang kali ini berjudul We Bury The Dead, dan sedang tayang di sinema Indonesia. 

Bahkan, khusus untuk waralaba 28, film sekuelnya ternyata rilis juga di minggu ini.Tidak hanya itu di satu minggu ini saja, dirilis empat film horor, yang diantaranya ternyata mirip film zombie. Tentu, film zombie memiliki rating umur 17 tahun keatas, alias dewasa, akibat adegan daging mendaging dan darah mendarahnya.

Bagi yang sudah menonton cuplikan film We Bury The Dead, Daisy Ridley tentu menjadi fokus utamanya. Aktris dari Inggris ini sempat berperan di trilogi terakhir Star Wars, dan cukup viral dibahas di dunia maya dengan kontroversi ceritanya.

Dan, daripada membahas kisruhnya Perang Bintang, ternyata, Daisy Ridley cukup berbakat sebagai pengisi suara. Sejak awal karirnya, Daisy berkontribusi sebagai pengisi suara atau narator, khususnya di video gim atau film animasi. 

Karya khusus suaranya, adalah gim Disney Infinity 3.0 (2015), buku Audio Star Wars Force Awakens (2016), gim Star Wars Battlefront II (2017), film Peter Rabbit (2018), buku audio Star Wars The Last Jedi (2018), film Flopsy Turvy (2018), serial Star Wars Voice of Destiny (2018), gim Dawn of Art (2020), film pendek Baba Yaga dan Asteroid Hunters (2020), gim Twelve Minutes (2021), film The Inventor (2023), film Butterfly Journey (2025), dan terakhir di gim Trailblazer (2025).

Okeh, saatnya kembali ke film We Bury The Dead, yang kalau membahas zombie, tentu harus melansir tulisan saya berisi teori dan ramuan aneh, yang sengaja saya lampirkan pada artikel film Abadi Nan Jaya

Nah, daripada membahas kembali seluruh teori film zombie, kali ini lebih baik membahas animo yang dibawa ke film We Bury The Dead. Apalagi, di minggu ini ada film zombie lainnya, yang dapat dibahas referensi pula.

Ya, animo film ini berbeda dengan kebanyakan zombie, yaitu tidak mengisahkan mayat hidup layaknya target tembak saja. Atmosfer yang terlihat pada cuplikan, lebih horor layaknya dikejar monster, dengan zombie yang terlihat lebih pintar dari biasanya. Jumlahnya pun sedikit, dibanding ramainya kawanan zombie (horde). 

Ya, memang jelas bahwa zombie sudah musnah, dan film ini berlatar momen epilog dari kiamat ala zombie, akibat militer yang berhasil membasminya. Ya (lagi), di film ini militer akhirnya menang, daripada film lain yang entah pasukan keamanannya hilang begitu saja (?). Dua film zombie terakhir saat militer menang, yaitu di film 28 Years Later (2025) dan Army of The Dead (2021). 

Untuk sinopsisnya cukup pendek, karena cuplikannya memang tidak memberi banyak info plot utama. Sementara sutradara yang memimpin produksi film ini, bernama Zak Hilditch yang disukai oleh para kritikus film. Rata-rata film hasil karyanya, diberi nilai enam keatas di IMDB. 

Oh ya, bagi yang mengenal situs ini, tentu tahu bahwa banyak film memiliki nilai sekitar empat hingga lima saja. Jadi, film yang memiliki nilai enam keatas, dari genre apapun, berarti cocok ditonton dengan didukung oleh akting, cerita, dan nilai produksi yang mumpuni.

Sinopsis Film We Bury The Dead

Ava yang diperankan oleh Daisy Ridley, adalah seorang penyintas setelah wabah zombie merebak. Namun, dirinya masih penasaran, akibat tubuh suaminya yang masih hilang. Sama seperti judul filmnya, kisah film ini adalah tentang usaha Ava dalam menemukan tubuh suaminya, lalu menguburnya dengan layak.

Ava pun bergabung dengan Body Retrieval Unit dari militer, demi menemukan jasad suaminya, baik dalam keadaan zombie atau sudah terkapar. Ava terpaksa masuk zona karantina, yang membuatnya lebih terperangah. Karena mayat hidup yang masih tersisa, ternyata lebih pintar, cekatan, dan sanggup berburu manusia.

Dengan bantuan penyintas lainnya bernama Clay (Brenton Thwaites), Ava harus menjelajah seluruh puing urban, sebelum akhirnya lokasi karantina ini dibom rata oleh pasukan militer.

Dapatkah Ava menemukan kembali suaminya? Atau malah bertemu dengan kawanan zombie intelijen nan sentien yang memimpin semuanya? 

Jawabannya, tentu ada di keragaman mayat hidup ala sinema Indonesia. 

7 Januari 2026

Makna Dibalik Horornya Film Malam 3 Yasinan

 

Keluarga Djoyodiredjo yang tengah berkabung (TMDB).

Sekarang, berlanjut menuju film keluarga berikutnya, walau lebih beratmosfer horor, ala film berjudul Malam 3 Yasinan, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur D17 alias Dewasa.

Sebelumnya, saya perlu mengisahkan pula, satu posisi yang mengomentari film berjudul terlalu keagamaan ini. Sebenarnya telah beberapa kali saya sebagai penulis, menghindari film horor sejenis ini. Tetapi, jika ditelaah dari dasar ritualnya, dan dibandingkan dengan cuplikannya, maka khusus film ini cukup jelas dan bisa diangkat dalam artikel.

Memang, tradisi tahlilan, atau biasa disebut juga yasinan karena mengacu pada surah yang dibaca, bukanlah suatu bentuk tradisi asli Muslim. Tradisi semacam ini dilaksanakan sejak jaman terdahulu, demi berdoa kepada leluhur. Seperti dilansir dari Etnis, tradisi ini lalu bercampur akulturasi budayanya di Nusantara, khususnya Jawa, saat hadirnya Islam di Indonesia. 

Bahkan, ada satu organisasi Muslim bernama PERSIS, yang menolak sepenuhnya tradisi ini, karena bukanlah anjuran dari Islam. Tradisi ini dianggap akulturasi saja, dan bukanlah pedoman Syariah dari agamanya.

Dan kembali ke film Malam 3 Yasinan, maka penulis cukup mengerti, bahwa sineas perfilmannya mencoba mengangkat bahan horor yang cukup sesuai. Bahkan dalam beberapa poster filmnya, terlihat budaya Jawa yang kental, lengkap dengan Kupluk (Blangkon) dan nama keluarga khas dari Jawa.

Jika dibandingkan dengan film Nasional sejenis yang ikut mengadaptasi horornya budaya keagamaan Nusantara, justru Malam 3 Yasinan ini cukup sesuai dengan kondisi di ranah sosial masyarakat. 

Justru lebih parah di film lainnya, saat judul saja tidak sesuai dengan definisi dan deskripsi istilahnya sendiri. Malah bisa dibilang, tidak hanya menyepelekan, namun membodohi penontonnya, dengan salah arti dan makna. Bahkan, di beberapa adegan cuplikannya saja, tidak nyambung dengan judulnya sendiri (!)

Menurut penulis, justru film tersebut salah mengartikan, bahkan menyalahgunakan, wacana yang berasal dari Ensiklopedia. Contohnya adalah satu kalimat dari artikel di blog ini, berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Dari artikel yang diterjemahkan sesuai sumber aslinya ini, terdapat kalimat 'perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap sebagai merusak tatanan budaya.'

Dari situ saja, penulis sudah menganggap, bahwa perubahan yang diterapkan pada film, hanyalah arahan dari satu kalimat di Ensiklopedia saja. Sementara, mereka berkreasi dengan bebas tanpa arah yang jelas. Naudzubillah.

Sinopsis Film Malam 3 Yasinan

Samira (Shalom Razade), baru saja pulang ke kediaman keluarga besarnya, yang bernama Djoyodirejo. Kembalinya Samira, akibat saudari kembarnya, Sara, baru saja meninggal dunia dan segera dimakamkan. 

Selama ini, Samira memang tinggal jauh dari keluarga besar, akibat tekanan gengsi berlebihan sebagai keluarga ningrat, serta kompetisi antar keluarga Djoyodirejo. Padahal sebelumnya, keluarga ini sempat damai, (yang seperti dalam cuplikannya) dan sempat membuat video dokumenter dan foto bersama.

Namun, ternyata semenjak Samira tidak berada di rumah, keadaan banyak anggota Djoyodirejo memburuk seketika. Berbagai ketegangan berbeda, semakin meruak, dan berbeda dengan momen kehilangan seorang anggota keluarga.

Bahkan, kengerian ini muncul paling terasa, sesaat setelah ritual pemakaman Sara, yang dilanjutkan dengan tahlilan di rumah duka. Banyak kejadian mistis aneh, menerpa seluruh anggota keluarga Djoyodirejo, yang termasuk Samira itu sendiri.

Sanggupkah Samira menguak apa yang terjadi gerangan pada keluarganya? Atau malah terjerumus kembali dalam gelapnya kompetisi keluarga? Atau malah sosok Sara muncul kembali demi melindungi Samira seorang?

Jawabannya, tentu ada di ritual tradisi ala Sinema Indonesia.

Nah, dari segitu saja sudah cukup meyakinkan, bahwa film ini tidak menyalah-artikan syariah, serta mengedepankan ritual tradisi serta drama manusianya. Manusia tentu selalu dapat disalahkan, sementara budaya yang mengikat, justru memang disalah-gunakan oleh beberapa pihak.  

Okeh, Wassalam (lagi).

24 Desember 2025

Menguak Alur Cerita Prekuel Sewu Dino di Film Janur Ireng

 

Entah apa yang terjadi pada keluarga Kuncoro (TMDB).

Okeh, saatnya film bercerita baru dari Dunia Sewu Dino untuk dibahas dan dirilis di minggu keempat Desember tahun ini, tentu berjudul Janur Ireng, yang tayang akhir minggu di banyak sinema Indonesia.

Sebelum mengacu pada kisahnya di film kedua ini, Janur Ireng memang prekuel dari film pertamanya, Sewu Dino. Sehingga, alur jalan cerita justru terbalik. Karena memang sudah dirilis tahun 2023 lalu, maka film Sewu Dino bisa dicek di layanan siaran Amazon Prime Video

Oh ya untuk film Sewu Dino, memiliki rating usia R13 (alias remaja). Sementara film Janur Ireng, memiliki rating usia D17, yang berarti dewasa. Entah apa perbedaan pada detail ceritanya, sampai rating usia pun berbeda. Atau, gara-gara visual yang menjurus pada daging-mendaging dan darah mendarah, yang lebih eksplisit dari sebelumnya.

Bahasa karakternya pun tercampur aduk ala logat Jawa, dengan bahasanya, serta tambahan bahasa Indonesia. Jadi, bagi yang kurang ngeuh, pasti bakal merasa heran dengan banyak dialog film bernafaskan Jawa. Bahkan, banyak dialog yang perlu diberi terjemahan, agar penonton (non-Jawa) bisa mengerti.

Untuk film pertamanya pun, langsung berkisah pada banyak adegan horor di dalam dan sekitar sebuah gubuk, di tengah hutan. Sementara di Janur Ireng, lebih banyak karakter dengan pembawaan dramanya, yang mengacu pada kondisi keluarga Kuntjoro.

Oh ya sekali lagi, Epy Kusnandar, sang tokoh utama dalam serial televisi Preman Pensiun lalu, hingga cukup sering berkontribusi di film Nasional dan Internasional, baru saja meninggal dunia, pada tanggal 3 Desember lalu, saat berusia 61 tahun. Bagi yang merasa kehilangan, maka film Janur Ireng adalah karya terakhir yang sempat memunculkan Epy Kusnandar, aktor Sunda dari Garut Kota ini.

Sinopsis Film Sewu Dino

Dan seperti biasanya, kali ini perlu dibahas pula sinopsis dari Sewu Dino, yang berarti seribu hari dalam bahasa Jawa. Film ini diadaptasi dari Thread horor, hasil karya penulisnya bernama SimpleMan. Animo cerita dari sebuah Thread, memang sekarang sedang sering-seringnya diadaptasi menjadi sebuah film.

Dalam film ini, justru mengisahkan sebuah misi seribu malam, dimana karakter utamanya harus menjaga sebuah keranda mayat. Cukup mengerikan, seperti dicontohkan pada cuplikan filmnya.

Tidak hanya menjaga mayat, Sri Rahayu (Mikha Tambayong), Erna (Givina Lukita), dan Dini (Agla Artalidia) diminta pula untuk melaksanakan ritual Basuh Sedo, alias memandikan jenazah agar arwahnya tenang.

Namun, yang belum mereka ketahui adalah jenazah tersebut bukanlah seseorang yang telah meninggal, namun sesosok Della (Gisella Firmansyah), yang pingsan setelah kerasukan arwah jahil lainnya. 

Sewu Dino adalah semacam santet yang menimpa Della, sehingga terpaksa pingsan selama seribu hari. Ritual Basuh Sedo pun hanya untuk menenangkan arwah yang merasuki Della, sementara ritual pamungkasnya akan dilaksanakan pada hari ke seribu.

Namun, empat hari menjelang hari ke seribu, ketiganya diteror oleh banyak hal mengerikan. Trio tersebut menemukan bahwa Della mulai bisa bergerak, dan bahkan hilang dari lokasi keranda mayat. Ketiganya pun perlu mereka ulang ritual mereka, menemukan kembali Della, serta mengamankan posisi hidup. Karena, dengan lepasnya Della, berarti pekerjaan mereka gagal dan hidup mereka terancam.

Oh ya, jika dicek cuplikannya, maka jumlah info yang terlihat tentu tidak sebanyak artikel ini. Namun, cuplikannya lebih berisi banyak adegan awal, hingga diakhiri ngerinya dikejar Della, yang tampaknya kerasukan parah dan berperilaku layaknya zombie alias mayat hidup. Akting Della pun cukup meyakinkan, layaknya warga yang kesurupan parah (alias teriak gak jelas menyeramkan).

Lokasinya pun yang termasuk terpencil, yaitu berada di sebuah gubuk kecil tengah hutan, tentu memberi atmosfer tersendiri bagi visualnya. Seperti biasa, film horor Indonesia memang lihai dalam memainkan lokasi adegan serta pencahayaannya.

Bagi yang suka dengan berbagai istilah mistis Indonesia, khususnya mengenai cerita dari Jawa, maka film Sewo Dino dan sekuelnya Janur Ireng, seakan menjadi kamus kosakata khusus. Banyak istilah Jawa yang tidak penulis begitu mengerti, digambarkan ala horor di film ini, walau tentu ada perbedaan yang sesuai dengan jalan dan plot cerita.

Dan tentu, perlu dikomentari pula dari sudut pandang pribadi sebagai penganut agama yang diakui di Indonesia. Ritual memandikan jenazah, selalu dilaksanakan oleh warga penganut agama, sebelum akhirnya jenazah dikafani, diberi pakaian rapih, atau dikremasi. 

Tujuannya, tentu berbeda pada setiap agamanya, namun intinya adalah jenazah harus bersih, sebelum tubuhnya dilansirkan menuju dunia berikutnya. Pamali atau tidak, ritual ini adalah penghormatan terakhir kepada jenazah, sebelum akhirnya berpulang.

Tentu sangat berbeda dengan kisah di Sewu Dino, dimana ritual Basuh Sedo memang beraliran mistis, dengan tujuannya menenangkan arwah (lain) yang bersemayam dalam sebuah tubuh manusianya.

Sinopsis Film Janur Ireng

Della yang menjadi tokoh kesurupan di film pertamanya, muncul kembali sebagai cameo di film Janur Ireng. Untuk film keduanya, SimpleMan kini telah merilis versi buku novelnya, dengan arahan dunia Sewu Dino Universe (layaknya Marvel Cinematic Universe). 

Kisah Janur Ireng merupakan prekuel, yang berlatar enam tahun sebelum kisah di film Sewu Dino. Kali ini, dunianya dikembangkan mengenai kisah tujuh keluarga, yang diantaranya adalah Kuntjoro di film Janur Ireng, dan Atmodjo di film Sewu Dino.

Sementara di film ini, kisahnya masih berkutat pada tiga tokoh utama. Diantaranya adalah Arjo Kuntjoro (Tora Sudiro), yaitu pakde dari Sabdo (Marthino Lio), yang beristri Intan (Nyimas Ratu Rafa). 

Sepasang suami istri muda tersebut sebenarnya hidup bahagia, walau sederhana. Hingga suatu bencana kebakaran hebat, membakar hangus seluruh rumahnya. Keduanya pun beralih meminta bantuan pada Arjo, pakdenya yang terkenal makmur. Saking hebatnya, Arjo dikenal sebagai pewaris sebuah perkebunan sawit luas nan membahana.

Sayangnya, semenjak Sabdo dan Intan tinggal bersama di rumah kediaman besar milik keluarga besar Kuntjoro, keduanya banyak mengalami berbagai kejadian aneh. Mulai dari sehelai daun panjang yang ditempatkan pada ranjang, hingga sempat menyaksikan sebuah ritual aneh. 

Saking anehnya, banyak kejadian semakin membrutalkan. Beberapa penghuni mulai kerasukan, hingga puncaknya saat acara prasmanan, dimana seluruh tamu tiba-tiba kerasukan dan suka daging mendaging (namun tidak seperti selera daging ala film zombie).

Bagaimanakah sebenarnya alur cerita horor ini? Tentu dapat disaksikan melalui ritual kebudayaan langsung ala sinema di Indonesia.

18 Desember 2025

Terbang ke Wilayah Terujung Nusantara di Film Timur

Iko Uwais yang mencoba menyelamatkan saudaranya (TMDB).

Okeh, sudah saatnya di penghujung minggu ketiga bulan Desember ini, para penggemar film Nusantara berjibaku dengan film aksi nan serius berikutnya, berjudul Timur. Film aksi mengenai kisah di penghujung timur negara tercinta ini, tentunya tayang di sinema-sinema Indonesia.

Dari judulnya, sudah menyiratkan bahwa film ini berlatar lokasi di sekitar Papua, dengan keenam provinsinya. Bagi yang sudah mengecek cuplikannya, tentu tahu bahwa Iko Uwais berperan sebagai tokoh utama, dan bahkan sebagai sutradara. 

Ya, film Timur ini adalah debut pertama Iko Uwais sebagai pengarah film. Tidak hanya itu, ternyata film ini diproduksi oleh Uwais Pictures, sebagai studio miliknya sendiri, yang resmi meramaikan ranah perfilman Indonesia sejak didirikan pada bulan Januari 2025.

Tentu, Iko Uwais yang telah melanglangbuana sebagai aktor aksi yang khas dengan gaya silatnya, menjadi animo khusus bagi penggemar film aksi. Bagi penggemar yang suka kuda-kuda silat tradisional khas Nusantara, maka aksi Iko Uwais sebagai pencetus kembali viralnya aksi silat di Indonesia sejak film The Raid (2011;2014) lalu, sangatlah ditunggu. 

Tentu karena adegan aksi yang sadis seperti banyak film silat lainnya, film ini diberi rating umur D17+ (alias umur dewasa).

Film Timur dan Kisah Papua

Kembali ke beberapa adegan cuplikannya, tentu mengenal isu apa yang diadaptasi di film Timur ini. Cukup miris, karena film ini mengisahkan tentang operasi militer dalam menghalau KKB dan KST bernama OPM. Padahal, masalah ini masih terjadi di Papua sana, dan bahkan masih panas-panasnya.

Bagi para troll, justru film ini bisa dianggap sebagai bagian propaganda dari sineas perfilman, dan pemerintah Indonesia itu sendiri. 

Bahkan jika dipanaskan lebih dalam lagi, film Timur justru berlatar operasi nyata di Mapenduma pada tahun 1996 lalu. Di tahun tersebut, OPM berhasil menyandera 26 anggota misi penelitian dari World Wildlife Fund. Terlebih lagi, saat itu Presiden kita saat ini, yaitu Prabowo Subianto, memimpin operasi Kopassus tersebut, saat dirinya masih menjabat sebagai Brigadir Jenderal TNI.

Padahal, kinerja TNI dan pemerintah dalam meluruskan masalah ini, sudah cukup dikenal. Cukup diingat, kisah di Timor Leste, lalu merambah ke Provinsi Aceh dengan GAM-nya, dan kini masih panas pula di Papua. Politik saja? belum tentu. Karena, usaha mempertahankan Nusantara yang lengkap, memang sudah menjadi acuan sejak berdirinya negara ini.

Bahkan jika diteliti dari sejarahnya, maka Indonesia yang baru saja merdeka tahun 1945 lalu, sempat mengalami pergolakan di banyak daerah. Padahal dari segi administrasi, Indonesia telah diakui sebagai anggota PBB sejak tahun 1950 lalu. 

Jadi, dengan banyak penolakan dari daerahnya sendiri, Presiden Pertama RI Soekarno sempat berpidato, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Padahal tidak hanya berkecimpung di dalam negeri, TNI cukup sering berkontribusi sebagai pasukan perdamaian dunia, hingga sekarang. Jadi, kiprah TNI sebenarnya dapat diandalkan di seluruh dunia.

Kembali dari segi administratif, Indonesia saat baru berdiri, tentu memiliki banyak tantangan di daerah maupun pusat. Beberapa agresi dari pihak luar mencemarkan integritas nasional, walau berhasil dihalau. 

Maka, terbentuknya Indonesia saat itu adalah bentuk perkembangan Nusantara, yang menyatukan status administrasi serta mengembangkan peradaban nasional menuju arah modern. Presiden setelah Soekarno, yaitu Soeharto yang banyak mengalami kontroversi, justru diberi gelar sebagai Bapak Pembangunan Indonesia.

Nah, karena lebih mengacu ke administrasi, maka coba dicek saja perkembangan yang lebih mudah dicerna oleh kita sebagai warga Indonesia.

Pemekaran Wilayah Administrasi Indonesia

Nah, daripada mengingat konflik militer yang semakin membuat resah, dan lebih baik dinikmati dari segi ranah film saja, maka coba kita telaah dari segi yang lebih damai, yaitu mengenai pemekaran wilayah di Indonesia.

Sejak awal jaman Reformasi terdahulu, hingga tercipta desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, dan kini berlanjut dengan banyaknya pemekaran wilayah administrasi di Indonesia, tampaknya menjadi acuan khusus bagi warga.

Contohnya Papua yang dulunya bernama Irian Jaya, sejak tahun 2003 dan 2004 lalu terbagi dua menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Namun, saat tahun 2022 lalu, Provinsi ini kembali terbagi menjadi tambahan Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya. 

Tampaknya pemerintah Indonesia memang sedang giat untuk melaksanakan kelanjutan desentralisasi pemerintah pusat dan otonomi daerah, yang diterapkan dengan pemekaran wilayah administrasi. Menurut kabar yang ada, tujuannya adalah mendekatkan diri dari layanan pemerintah dengan warganya, alias agar birokrasi tidak terlalu mengacu ke pusat, dan setiap administrasi dapat mengurus wilayahnya sendiri.

Jika dilihat dari Pulau Jawa itu sendiri, khususnya di Jawa Barat, banyak sekali terjadi pemekaran tersebut dengan detil wilayah sekecil-kecilnya. Contohnya adalah saat Pangandaran terpisah dari Ciamis, dan menjadi Kabupaten, sejak tahun 2012 lalu. 

Di Kota Bandung, wilayahnya terpisah dengan Kota Cimahi pada tahun 2001, lalu terpisah pula antar Kabupaten Bandung, dengan Kabupaten Bandung Barat sejak tahun 2007 lalu.

Jadi, saat banyak warga dan warganet protes bahwa birokrasi Indonesia berbelit-belit, serta perkembangan daerah yang tidak merata, terdapat usaha khusus dari pemerintah, selaku pemegang kuasa administrasinya. Apalagi, jumlah pegawai negeri sipil beserta keahlian dan kedekatan batinnya, dapat lebih terikat dengan daerahnya sendiri.

Nah, sudah saatnya kembali ke film Timur, yang tampaknya mengisahkan bahwa kedekatan batin beberapa karakter, dengan warga pribumi di Pulau Papua. Jadi ya, daripada mengurus jiwa nasionalisme kita yang kadang terbengkalai, maka coba dicek saja kedekatan kita dengan wilayah hunian sendiri, ya...

Sinopsis Film Timur

Timur (Iko Uwais), Apollo (Aufa Assegaf), dan Sila (Jimmy Kobogau) adalah ketiga saudara sepersusuan ibu, yang sangat dekat saat masih kecil. Ketiganya sering bermain tembak-tembakan dengan senapan kayu, demi mengisi kesehariannya. Saking dekatnya, Isman (Andri Mashadi) memberi wasiat pada mereka, bahwa ketiganya adalah keluarga, yang harus saling jaga satu sama lainnya.

Namun, Seiring waktu, Timur, Sila, dan Apollo yang tumbuh dewasa, berpisah untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Timur dan Sila memilih bergabung dengan TNI demi mengabdi kepada Republik Indonesia. Namun, Apollo malah terjebak di lingkaran grup separatis. Hingga suatu hari, terjadi masalah besar dengan para anggota separatis tersebut. OPM menyandera anggota WWF, yang sebenarnya bermasalah dengan pemerintah Indonesia. 

Sayangnya, Timur dan Sila yang sempat mengenal medan lokasi penyanderaan, yaitu di Mapenduma, dikirimkan oleh Kopassus Angkatan Darat dalam operasi penyelamatan ini. Ketiganya pun berjibaku, untuk dapat menyelesaikan misi mereka, dengan tujuan yang saling berlawanan arah, akibat deskripsi tanah air yang sangat berbeda diantaranya.

Bagaimana akhirnya? Coba dicek saja melalui adegan nasionalisme yang kini sering berjibaku di sinema Indonesia, ya?

3 Desember 2025

Perundungan Nyata di Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel

 

Mendoakan David Latumahina (TMDB).

Okeh, hari ini kembalinya film dari Nusantara tercinta, Indonesia, dengan judul Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, yang tengah tayang di sinema Indonesia. Bagi yang sempat mengenal nama Ozora, tentu teringat kasus tahun 2023 lalu, yang film ini mengadaptasi langsung kisahnya.

Sayang seribu sayang, kasus David Ozora bisa disebut kisah perundungan paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia. Tidak hanya itu, kasus sang pelaku, Mario Dandy ini terkait dengan kasus korupsi milik ayahnya (Rafael Alun) sendiri, yang (entah kenapa) terjadi pada momen yang hampir sama. 

Penulis perlu berpendapat, bahwa kasus ini adalah satu contoh sebuah keluarga disfungsional. Walau sang ayah berkarir hebat di Kementerian (dan bisa korupsi banyak), namun anaknya sendiri malah bertingkah brutal. Itupun, tepat saat ayahnya tengah mengalami masalah hukum. Entah bagaimana komunikasi di rumah berjalan, tetapi yang pasti keduanya jelas-jelas bersalah, namun bersikap lebih buruk lagi. 

Kasus hubungan ayah-anak inipun, dengan begitu tingginya jalur karir, gengsi jabatan, harta, serta keuntungan hidup lainnya, sama sekali tidak memastikan keharmonisan keluarga. Untuk kasus hubungan keluarga ini tidak begitu dijelajahi oleh para pemerhati sosial, karena keduanya memang sedang terjerat proses hukum (saat itu).

Dan kembali ke korban, bernama David Ozora, adalah seorang pemuda berumur 17 tahun saat kasus terjadi (alias masih anak remaja). Ozora sempat disekap, dan bukan hanya dirundung saja, melainkan dianiaya. Penganiayaan mental serta fisik menyebabkan Ozora koma selama satu bulan lamanya, dan setelahnya didiagnosa mengalami regresi mental.

Sebenarnya penulis tidak ingin membawa masalah agama, namun perlu diceritakan juga. Muncul pada cuplikan filmnya, bahwa Jonathan Latahumina dan David Ozora adalah mualaf, yang baru saja memeluk Islam setelah pindah dari Kristen Katolik. 

Penulis hanya bisa berselirih, Wallahu a'lam, bahwa ini sebuah cobaan berat bagi keduanya. Ozora dan Jonathan Latahumina kini menjalani karir sebagai anggota pesantren, demi berkarya dan mendalami ilmu agama Islam lebih dalam lagi.

Untuk kronologis kasusnya, tidak perlu diceritakan karena berhubungan langsung dengan seluruh isi filmnya. Bagi yang ingin mengingat kasus ini, bisa membaca ulang banyak artikel mengenai kasus ini. Tentu, perbedaan adegan dan kronologis yang disajikan di film, bisa menjadi bahan pertimbangan pula.

Aksi di Perbatasan Soviet ala Sekuel Film Sisu: Road to Revenge

 

Aatomi Korpi yang heran mengapa truk tidak sekuat dirinya (IMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah film aksi tanpa berpikir panjang dan membabi-buta, ala film berjudul Sisu: Road to Revenge, yang tentu sedang tayang di sinema terkayang Indonesia ini. 

Film ini adalah sekuel dari film sebelumnya berjudul Sisu di tahun 2023 lalu, yang dibuat oleh studio ternama, Stage 6 Film, dan didistribusikan oleh Lionsgate dari Hollywood. Karena itu, film pertamanya mendapatkan sanjungan sebagai aksi fantastis ala aksi brutal yang tanpa henti dan selalu high fever, layaknya ngimpi.

Namun, berbeda di sekuelnya kali ini, justru bekerja sama dengan Sony Pictures Entertainment sebagai distributornya, namun tetap mengisahkan karakter yang serupa tapi dari studio yang sama dan memang memiliki hak ciptanya.

Dalam film pertamanya, terlihat pada cuplikannya, tokoh utamanya bernama Aatomi Korpi (Jormi Tommila), yang baru saja menemukan sebuah setumpuk emas di lokasi berburu tambangnya. 

Namun, saat mengadakan perjalanan pulang, Aatomi malah dicegat oleh satu skuad pasukan Nazi, yang tengah membawa banyak tawanan perang. Tidak rela akan dieksekusi begitu saja, Aatomi melawan dan berhasil membasmi seluruh skuad, dan menyelamatkan tawanan yang ada. 

Aatomi Korpi sebenarnya bukan seorang warga biasa, namun mantan komandan dan veteran perang saat Perang Dunia 2 terdahulu. Setelah pensiun, dirinya menemukan bahwa kota kediaman serta seluruh keluarganya telah habis dibasmi akibat Nazi dan kegilaan perang disekitarnya. 

Aatomi yang ingin hidup menyendiri dan damai pun terpaksa beraksi kembali, akibat gangguan pasukan Nazi yang masih merajarela di sekitar kediamannya di Finlandia. 

Bahkan, Aatomi mempersenjatai seluruh tawanan Nazi (yang kebetulan sekawanan harem wanita) dengan senapan serbu otomatis, demi melindungi mereka sendiri. Satu wanita bahkan berkelakar, bahwa masa ini 'bukanlah siapa yang terkuat, tetapi tentang siapa yang tidak mengalah begitu saja,' alias SISU dari bahasa Finlandia.

Daaan, begitulah sinopsis film Sisu pertama, yang tentu masih bisa dicek di berbagai layanan siaran internet. Bagaimana dengan film keduanya yang membawa distributor berbeda? 

Nah, kalau di film keduanya ini, masih bersama anjing kesayangannya berwarna putih (yang sehat wal'afiat sejak film pertama), Aatomi tengah mengadakan jalan-jalan daratan (roadtrip) mengendarai truk barunya (yang entah dirampas darimana dan siapa) di perbatasan Uni Soviet.

Kali ini, targetnya adalah seorang petinggi KGB dari Uni Soviet, bernama Yeagor Dragunov (Stephen Lang). Setelah kekisruhan di film pertama, Aatomi tampaknya berhasil melacak operasi militer mana yang membasmi seluruh keluarga dan kediamannya. Dan, Yeagor Dragunov adalah seorang komandan yang sempat memimpinnya. Dan kali ini lagi, tujuannya bukan 'membersihkan sisa perang dan Nazi,' tetapi membalas dendam sepenuh amarah hati milik semuanya. 

Yeagor Dragunov tentu bukanlah orang biasa di KGB, dan tidak rela begitu saja ingin mengalah dari seorang pensiunan penuh murka dari Finlandia ini. Dengan peringatan dan bantuan dari sekawanannya di KGB, Yeagor menyiapkan banyak operasi serta perangkap untuk dapat 'menanggulangi' dendam kesumat masa lalu milik Aatomi. 

Sayangnya, kali ini seluruh perspektif (alias sudut pandang) film diarahkan melalui posisi karakter Yeagor Dragunov. Seluruh aksi tembak menembak, bantai membantai, dan buyar meledak kini terlihat dari pandangan mata sang Yeagor. Kemunculan Aatomi Korpi pun layaknya seorang monster buas beringas, yang muncul tanpa peringatan dengan berbagai keahlian liarnya di jalanan perang.

Padahal, Yeagor Dragunov adalah seorang yang diminta KGB untuk membasmi seluruh kegilaan Aatomi Korpi. Namun, dirinya yang sudah jelas lebih banyak durasi adegannya, harus berjibaku dengan posisi karakternya yang jelas-jelas sudah lumrah dianggap antagonis.

Okeh, silahkan nikmati saja hingar-bingar ala aksi dari Eropa sana yang belum move-on dari Perang Dunia terdahulu di film Sisu: Road to Revenge. 

27 November 2025

Ngerinya Dikejar Masa Lalu ala film Legenda Kelam Malin Kundang

 

Amak dan Alif yang terpisah oleh cahaya di area kelam (TMDB).

Dan akhirnya, kembali ke kegalauan ala Indonesia banget, dengan dirilisnya film berjudul mirip dengan cerita dongeng Nusantara, berjudul Legenda Kelam Malin Kundang

Film yang sedang tayang di sinema-sinema ini memang mengadaptasi dari sebuah dongeng rakyat terkenal di Indonesia, yang mengisahkan sebuah cerita 'anak durhaka.' Namun, jika ditelaah dari segi adaptasinya berlatar jaman modern, dengan pembawaan dunia yang telah berbeda, tentu perlu diperkenalkan kembali.

Cerita rakyat ini aslinya berasal dari ranah Minang, alias Sumatera Barat sana, mengisahkan tentang seorang anak durhaka, bernama Malin Kundang. Sang anak terpaksa merantau, namun justru setelah sukses, melupakan ibunya sendiri, dan tidak pernah pulang mudik untuk silaturahmi.

Ada satu kekhasan dari Minang itu sendiri, dimana saudaranya memang harus diingatkan, agar ingat kepada keluarga di rumah. Entah apa bahasa Minang-nya, tapi yang pasti, jika ada keluarga yang tengah merantau, akan dipantau langsung oleh keluarga lain yang telah merantau sebelumnya. 

Namun yang memantau telah hidup jemawa dan menetap permanen di wilayah barunya. Mungkin, memang mengingatkan cerita rakyat ini, atau sudah bawaan dari budaya Minang-nya itu sendiri. Alias, istilah kekeluargaan Indonesia, 'jangan bagai kacang lupa akan kulitnya.' 

Bahkan, budaya Jawa yang suka merantau saja tidak sespesifik itu. Biasanya, warga Jawa jika merantau memang memilih untuk menetap permanen. Alias 'dimana bumi dipijak, disana langit diunjung.'

Naaaaah, tetapi bagaimana dengan pembawaan jaman modern sekarang? Itulah yang menjadi 'heran tersendiri' dengan film Malin Kundang ini (P)

Mengingat bahwa banyak situs lowongan kerja, lokasi kantor, serta personalianya, yang justru 'mengedepankan' rantau mania (!) Entah skema dari mana, tetapi mungkin mengacu pada pemerataan Sumber Daya Manusia yang menyeluruh di Nusantara.

Padahal dari segi bahasa, budaya, koneksi kerja, spesifikasi pekerjaan, lokasi sekolah dan kampus, lokasi tempat tinggal, SDM Lokal, dan bahkan keuangan (!) sama sekali tidak masuk dinalar (!) 

Penulis malah teringat, jaman lowongan pekerjaan saat ini, layaknya kembali ke jaman eksplorasi Eropa, alias berujung kolonialisme beberapa abad yang lalu (!) Mungkin, itulah maksud bahwa Indonesia masih dalam istilah 'Mental Terjajah.'

Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke film Malin Kundang saja ya, yang memang terpaksa merantau akibat perlu mencari uang. Walau ya, berbeda sih di film ini, Malin (?) justru harus merantau akibat keadaan di rumah yang sulit, dari segi keharmonisan dan keuangan pula (!)

Sinopsis Film Legenda Kelam Malin Kundang

Alif (Rio Dewanto) adalah seorang anak remaja, yang terpaksa melarikan jauh dari rumahnya di tanah Minang. Ayah dan Ibunya sering cekcok, bahkan berakhir KDRT, yang menyebabkan tangan ibunya berdarah akibat sabetan pisau.

Alif yang sudah tidak tahan, akhirnya melarikan sendiri ke kota besar alias Jakarta. Tidak berapa lama, Alif yang hidup bagaikan Anjal (anak jalanan) pun mendapatkan belas kasihan dari Nadine (Faradina Mufti) dan ayahnya. 

Selain diberi makan, Alif diminta untuk membantu ayah Nadine di galerinya. Alif yang ternyata berbakat, akhirnya berhasil diajari oleh ayah Nadine. Alif pun sukses sebagai pelukis mikro terkenal di Jakarta.

Alif masih terpukau dengan kebaikan mereka, lalu membina hubungan spesial dengan Nadine saat beranjak dewasa, yang berujung keduanya menikah dan memiliki anak. 

Tiba-tiba, ibunya Alif yang sudah tidak lama bertemu, Amak (Vonny Aggraini) memutuskan datang berkunjung. Dengan cepat setelah tiba, ibunya pun berkelakar, bahwa dirinya takut Alif terkena kutukan Malin Kundang, sang anak durhaka dari cerita rakyat Minang. 

Namun, secepat itu pula Amak segera meninggalkan rumah kediaman Alif dan keluarganya. Alif panik, dan merasa jengah dengan keadaan rumah yang tiba-tiba horor. Bahkan, Alif perlu kembali ke rumah lamanya, demi menemukan arti dan maksud dari semua ini.

Apakah memang keadaan aneh itu ada di dalam diri Alif dan keluarganya? Atau hanya halusinasi semata akibat terkejut dengan rasa dikejar masa lalu?

Jawabannya tentu bisa diresapi di Paririmbon ala sinema Indonesia.

19 November 2025

Rasanya Hari Kamis Tidak Semengerikan di Film Danyang Wingit Jumat Kliwon

 

Rasanya wayang tidak semengerikan ini (TMDB).

Okeh, setelah brutalnya film Indonesia di ranah lainnya, saatnya kembali ke budaya tradisional Indonesia, khususnya yang dimodifikasi dalam film Danyang Wingit Jumat Kliwon, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia.

Kurang berfaedah rasanya membahas Jumat Kliwon, tanpa membahas referensinya itu sendiri. Dalam nama hari Jawa, Kliwon adalah salah satu nama hari yang begitu sakral bagi sistem tradisinya. Dari namanya sendiri, Kliwon dianggap sebagai waktu terbukanya dimensi dunia manusia dan ghaib. Berarti, saat mistis paling kentara terasa di hari tersebut. 

Kadang, terdapat satu kepercayaan lain yang nyeleneh mengenai Kliwon, yang kebetulan tercampur pada satu hari Jumat. Yaitu, suatu malam keramat, yang harus dilaksanakan dengan ritual mistis. 

Saking nyelenehnya, para pengabdi jurig, melaksanakan ritual edan saat malam Jumat Kliwon. Bahkan, ada yang sampai membongkar kuburan orang baru meninggal, demi mendapatkan sepotong bagian tubuh, yang nantinya dipakai sebagai jimat.

Saking horornya kejadian semacam tersebut, kadang di kampung yang masih kentara mistisnya, dilaksanakan ritual khusus. Jika ada seseorang yang meninggal menjelang Jumat Kliwon, maka makamnya harus dijaga hingga setelah hari tersebut berlalu.

Warga desa takut, bahwa ada seseorang atau sekelompok orang, yang masih percaya dan memanfaatkan momen 'mistis' tersebut. Padahal, warga hanya ingin menghargai orang yang meninggal, dan tidak ingin jenazahnya kehilangan apapun, alias bagian dari Pamali yang benar.

Padahal, di Indonesia sendiri yang mayoritas menganut Islam, para penyembah jurig tersebut sudah keterlaluan. Jumat adalah hari besar bagi umat muslim, maka malam Jumat biasanya diisi dengan mengaji.

Dan kembali ke budaya Jawa, tidak ada ritual semacam oknum tersebut. Kebanyakan, tradisi mengacu simbolis, dengan nilai norma baik yang dijunjung tinggi.

Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke sinopsis film Danyang Wingit Jumat Kliwon. Memang, layaknya film luar negeri yang mengisahkan horor, banyak ritual tradisionalnya dimodifikasi, agar sesuai dengan kebutuhan cerita dan plot. Padahal jika dicek (melalui internet), ritual aslinya tidak semenyeramkan itu, dan bahkan mencontohkan nilai baik.

Oh ya, bagi yang merasa heran dengan nyanyian tradisional Jawa, maka jangan langsung mengacu pada hal horor. Bagi yang suka menonton Wayang bersama sinden-nya (di YouTube), justru terdengar merdu. Mungkin, pendengarnya saja yang kurang paham (atau persepsi) mengenai bahasa dan budaya Jawa.

Oh ya lagi, bagi yang kurang suka dengan adegan kekerasan nan sadis, maka film horor ini cukup menyajikan berbagai adegan darah-mendarah dan daging-mendaging, yang bisa jadi kurang suka menontonnya.

Sinopsis Film Danyang WIngit Jumat Kliwon

Citra (Celine Evangelista) adalah seorang penyanyi yang tengah mencari kerja, demi membantu pengobatan adiknya, Dewi (Aisyah Kanza). Kebetulan, padepokan yang kenalannya, Mbok Ning (Nai Djenar Maesa Ayu) bekerja, membutuhkan seorang sinden untuk pagelaran wayangnya. 

Baru beberapa hari pindah ke lokasi padepokan, Citra langsung diberi petuah dari Dalang Ki Mangun Suroto (Whani Darmawan). Dalang yang ambisius tersebut, menegaskan bahwa seluruh ritual Wayang Ruwat harus dilaksanakan dengan rapih, kalau tidak bisa kualat.

Berbagai ritual pun dilaksanakan oleh Citra, dengan bantuan langsung dari Mbok Ning. Namun, setelah beberapa lama melaksanakan ritual yang awalnya biasa saja, justru Citra semakin sering bermimpi aneh, bahkan hingga kesurupan.

Bara (Fajar Nugra) adalah salah seorang kru pendukung Wayang Ruwat, yang sudah mengenal berbagai ritual di padepokan Ki Mangun Suroto. Bara semakin heran memperhatikan perubahan ritual di padepokan, yang makin berbeda saat Citra datang, dan membuat Bara semakin curiga.

Bara yang sebenarnya tidak ingin ikut campur, tidak tahan juga. Bara akhirnya mencoba membantu Citra, untuk dapat 'selamat' dari seluruh ritual di padepokan. 

Apakah Bara dan Citra bisa selamat dari ritual mengerikan di Padepokan Wayang Ruat? Atau malah ritual berhasil dan Ki Mangun Suroto semakin sakti? Atau mahluk dari dunia lain yang terpanggil malah murka dan membasmi semua pihak yang terkait?

Jawabannya, tentu dapat dilaksanakan ritualnya di padepokan mistis sinema-sinema Indonesia.

Beraksi ala Pengacara Indonesia di Film Keadilan

 

Raka yang sudah siap habis demi keadilan (TMDB).

Okeh, saatnya film Indonesia yang mengadaptasi sebuah kisah berat nan sulit, yaitu tentang hukum di negara tercinta, dengan film berjudul Keadilan, yang sedang tayang di banyak sinema.

Mungkin penulis kurang ngeuh (ngerti) tentang urusan hukum, tetapi jelas memang, tetap memantau masalah berita sekarang, yang 'mengedepankan' korupsi, salah tangkap, kriminalitas tingkat tinggi, sensasi politikus, tanpa penyitaan aset, denda yang rendah, hingga dakwaan yang dibuat-buat di segi ranah hukum Indonesia.

Setiap kali membaca berita kontroversial Indonesia, seakan menguji 'nyali' dan nalar warga sekalian. Bagi warga biasa yang kurang mengerti urusan hukum, nalar seakan ditantang ala melawan 'jurig.' Hasilnya? Malah semakin kurang ngeuh dengan keadaan hukum di Indonesia.

Nah, kembali ke film Keadilan yang diperankan oleh dua aktor ternama, yaitu Rio Dewanto dan Reza Rahardian, hukum diadaptasi dengan lebih brutal lagi. 

Dari cuplikannya saja terlihat, seorang tersangka yang menyiksa ibu hamil, namun tetap dibebaskan. Bahkan saking marahnya, Raka (Rio Dewanto) yang bekerja sebagai petugas keamanan di pengadilan, perlu 'turun dan menyandera' proses pengadilan tersebut (!)

Jadi teringat se-ekstrem apa situasi tersebut, layaknya demonstrasi besar pada bulan September kemarin. Demi berunjuk rasa kepada instansi DPR-DPRD-DPD, banyak pemuda (yang banyak diantaranya masih SMA), bahkan bertindak hingga membakar gedung perwakilan rakyat di banyak daerah.

Bukan tindakan terpuji memang, dan salah arahan kebebasan berpendapat, karena jelas berakhir rusuh dan anarkis (!) Namun, tindakan seperti itu, jika dilaksanakan tanpa momen unjuk rasa, maka pelakunya akan berakhir dibui (!) 

Dengan dakwaan kerusuhan hingga merusak fasilitas publik (!) Bahkan, bisa berujung dakwaan terorisme (!) Karena tetap diluar batas aturan kebebasan berpendapat dan unjuk rasa (!)

Nah, kembali ke film Keadilan, dalam cuplikannya terlihat, bahwa anggota Detasemen Khusus (Densus) Kepolisian Indonesia telah bersiap, untuk buru sergap Raka. Namun, karena resiko banyak sandera dalam gedung pengadilan, maka ditunda demi alasan keamanan korban.

Bahkan dalam film ini pun, terlihat bahwa aparat masih memantau dengan seksama, tanpa tergesa-gesa, karena masih berurusan dengan warga biasa (sebelum didakwa dan divonis).

Jadi teringat, dengan kisah kejadian hari Minggu kemarin (dari segi pengalaman penulis sendiri). Beberapa minggu lalu di Bandung, terdapat kejadian naas di Jembatan Layang Pasupati. Kejadiannya cukup miris, dan berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.

Namun, beberapa minggu kemudian, tepat pada hari Minggu saat berolahraga di Car Free Day (CFD) Dago, justru terbalik dengan momen sebelumnya. Ratusan warga dari sekitar Bandung berkumpul, untuk jalan-jalan, joging, senam, lalu sarapan, dan bahkan mendengarkan lagu di sekitar CFD.

Bukan menyepelekan, namun maksud dari momen ramai tersebut, seakan 'menimpa' kejadian naas sebelumnya. Daripada harus terus protes dengan arahan tidak jelas, maka lebih baik diisi dengan kegiatan positif bersama orang terdekat. Bahkan salah satu lokasi pengamen di bawah Pasupati, dengan lantang (dan beberapa kali) menyanyikan lagu 'Arti Kehidupan' dari sang legenda, Doel Sumbang.

Jadi, kembali ke film Keadilan yang tokoh utamanya bertindak dramatis, bahkan sampai anarkis dan teroris, maka sebagai warga biasa harus berkaca saja. Apakah perlu bertindak sejauh itu? Atau 'melawan' dengan cara positif, yaitu berolahrasa, berolahraga, sambil menahan mirisnya kehidupan?

Sinopsis Film Keadilan

Raka (Rio Dewanto) adalah seorang petugas keamanan pengadilan Indonesia. Bersama istrinya yang tengah hamil, Nina (Niken Anjani), mereka baru saja merayakan kelulusan Nina sebagai pengacara muda.

Namun naas, Nina yang sudah hamil tua, malah dibunuh dengan sadis oleh seorang pemuda psikopat, bernama Dika Akbar (Elang El Gibran). Walau sudah jelas bersalah, Dika masih dibela habis-habisan oleh pengacaranya yang terkenal korup, Timo (Reza Rahardian). 

Bahkan, dakwaan berbalik langsung kepada Raka, saat seorang saksi menyatakan bahwa senjata bukti pembunuhan, dipegang oleh Raka yang baru tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Saking marah dan 'nothing to lose,' Raka pun bertindak anarkis, bahkan teroris, untuk membalas dendam. Saat pengadilan berjalan, Raka masuk ruangan sambil menembakkan pistol, lalu menyandera seisi gedung. Raka bahkan mengancam, bahwa banyak bom telah ditanam di seluruh lokasi gedung.

Raka meminta kepada Hakim dan Jaksa, untuk mengulangi seluruh proses pengadilan. Walau bertindak ekstrem, Raka masih memberi kesempatan pada proses hukum, untuk menentukan siapa yang sebenarnya layak divonis bersalah.

Cukup ngeri film ini, jadi yang cukup penasaran dan heran dengan kejadian semacam ini, bisa bersaksi mata langsung di sinema-sinema Indonesia.

Dan Ingat! Stay Positive!

12 November 2025

Berlari Sebrutal Mungkin Dalam Kompetisi Film The Running Man

 

Ben Richards yang sumringah (mungkin) cuan (IMDB).

Mungkin daripada berjalan saja demi protes, sudah saatnya kita berlari saja untuk mencari uang alias duit. Cerita seperti ini diangkat oleh film The Running Man, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia.

Tentu, sebelum membahas filmnya, ternyata film ini adalah hasil adaptasi novel sang novelis terkenal (khususnya horor atau kengerian lainnya), yaitu Stephen King, dengan judul yang sama dan dirilis tahun 1982 lalu.

Bulan September lalu, karya Stephen King yang berjudul The Long Walk diadaptasi ke layar lebar (dan mungkin memicu ramainya unjuk rasa selama September kemarin). Kali ini di The Running Man, justru mengisahkan tentang tokoh utamanya yang harus berlari terus dalam suatu kompetisi.

Tokoh utama dalam novel The Running Man memang seorang yang depresi karena berbagai hal, namun masih semangat untuk mencari jalan keluar, khususnya untuk mengejar cuan. Dunia dalam novel inipun sudah mencapai tahap dystopia, yaitu kacaunya dunia canggih serba brutal tanpa aturan norma.

Novel ini pun sebenarnya sempat diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1987 lalu, dengan judul yang sama, namun tokoh utamanya diperankan oleh Arnold Schwarzenegger. 

Berbeda dengan film reka ulangnya di tahun 2025 ini, dalam film 1987, tokoh utamanya justru berlatar seorang narapidana dan mantan polisi, yang dapat bebas dari hukuman dengan mengikuti sebuah kompetisi brutal, bernama The Running Man.

Ya, di dunia novel ini, banyak narapidana dapat mengikuti kompetisi The Running Man, yang ditayangkan di televisi secara nasional, agar dapat terbebas dari hukumannya. 

Namun, resikonya adalah mati, karena setelah kompetisi dimulai, sekelompok pemburu akan mengejar dan menangkap kontestan, dengan cara apapun juga, bahkan saat masih hidup atau telah mati. Memang penggambaran yang cocok di dunia dystopia.

Naaah, di film 2025 ini, latar tokoh utama dan dunianya pun berbeda, namun dicek saja di sinopsisnya saja ya...

Sinopsis The Running Man

Ben Richards (Glen Powell) adalah seorang pengangguran yang keras kepala, walau telah didaftar hitamkan (blacklist) oleh banyak perusahaan. Perangainya yang meledak-ledak dan keras, membuat dirinya sulit mencari pekerjaan. Padahal, umurnya masih cukup muda, yaitu 35 tahun. Sayangnya, dia adalah seorang ayah tanpa istri (alias pisah ranjang), dan memiliki anak yang sakit-sakitan.

Ben yang sudah mentok membantu anaknya, akhirnya terpaksa memanggil seorang konsulat dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), bernama Sheila (Jayme Lawson). Ben akhirnya menitipkan anaknya pada Sheila, lalu mengikuti sebuah acara brutal berjudul The Running Man.

Saat baru mendaftar, sang produser acara Dan Killian (Josh Brolin), langsung kagum dengan latar dan karakter yang dimiliki oleh Ben. Keduanya bahkan taruhan, bahwa siapa yang menang, dapat mengacak-acak acara The Running Man.

Hanya berbekal pengetahuan wilayah dan nekat, Ben lalu melarikan diri dengan banyak kontestan lainnya selama 30 hari kedepan. Berbagai aksi dia jalani, bahkan sampai menantang para pemburunya, yang terlihat kesulitan mengejar Ben, padahal sudah setengah mati menjalani hidup.

Sanggupkah Ben selamat dalam acara ini demi mengejar cuan yang sudah menjadi haknya? Atau malah bergabung dengan tim pemberontak yang tiba-tiba membantu Ben?

Jawabannya, tentu ada di sinema Indonesia saat ini.

5 November 2025

Koki Korea Selatan yang Terpaksa Beraksi Gelut di Film Boss

 

Pan-ho, Soon-tae, dan Kang-pyo saat masih damai (TMDB).

Akhirnya Korea Selatan menelurkan puuula film aksinya di November ini, dengan judul Boss. Kali ini, filmnya pun berisi drama komedi aksi ala gangster dunia Korea Selatan sana, yang memang suka merarela sejak film Old Boy (2003) lalu.

Film Boss memang mengombinasikan tiga genre berbeda, karena terlihat dari cuplikannya, yaitu berbagai gelut aksi jarak pendek, dengan bumbu drama tujuan para karakternya, namun masih memiliki pembawaan komedi yang kasar.

Trio kombo tersebut pun dapat terlihat dari ketiga tokoh utamanya, yaitu Soon-tae (Joo Wo-jin), Kang-pyo (Jung Kyung-ho), dan Pan-ho (Park Ji-wan). Ketiganya tengah bersaing sebagai kandidat gelar bos di gangster wilayahnya, namun dengan tujuan yang sangat berbeda.

Soon-tae sebenarnya tidak menyukai dunia gangster, namun lebih menyukai dunia masak memasak. Kesehariannya sebagai koki di restoran kecil miliknya, terbawa pula ke dunia gangster. Soon-tae bahkan terpaksa mengikuti gelut gangster, sambil dirinya mengirimkan pesanan pelanggan.

Kang-pyo justru seorang kandidat paling kuat, karena dirinya adalah cucu dari bos sebelumnya. Namun, sosoknya yang paling muda, wajahnya yang tampan, serta gaya gelutnya yang lentur, justru menyebabkan Kang-pyo ingin berkarir sebagai penari dansa tango. 

Terakhir adalah yang paling niat dan brutal, yaitu Pan-ho. Dirinya bahkan menegaskan, bahwa seluruh gangster di dunia hanya bertujuan satu, yaitu mencapai level Boss dan memimpin seluruh gangster di areanya. Padahal, seluruh 'konsultan tua' gangster menolaknya, karena pembawaannya yang jelek.

Ketiganya pun tetap perlu bersaing, karena seluruh gangster di areanya, menunggu terpilihnya bos baru mereka. Entah siapa yang terpilih, yang pasti dalam waktu satu bulan, salah satunya harus menduduki singgasana bos gangster.

Padahal, ketiganya sempat bekerja sama dengan baik saat masih muda. Saking lihainya, bos sebelumnya memang tidak dapat memilih, dan merekomendasikan ketiganya dalam kompetisi selama satu bulan penuh. 

31 Oktober 2025

Silat Tradisional Bugis ala Pendekar Makassar di Film Badik

 

Mike Lucock dan Donny Alamsyah yang tengah berduel (YouTube).

Akhirnya, kisah gelut silat tradisional pun difilmkan di tahun 2025 ini, dengan judul Badik, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia bulan Oktober ini.

Sebelumnya, film Indonesia mengenai kisah gelut silat didaptasi di Panji Tengkorak, sejak Agustus lalu. Walau menggunakan media animasi dua dimensi, namun tetap berlatar silat Indonesia bersama kelihaian para pendekarnya. Di bulan Mei lalu, film berjudul Pengepungan di Bukit Duri pun dirilis sebagai aksi gelut, yang berkutat pada atmosfer tawuran ala Indonesia. 

Nah, kalau dari segi gelut silat Indonesia, tentu masih teringat mengenai film Raid (2011, 2014), yang membuka jalan agar film aksi gelut silat Indonesia kembali mendunia. Saking mendunianya, Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhiyan meramaikanya sebagai lawan John Wick alias Keanu Reeves, di film John Wick 4, tahun 2023 lalu. 

Sekilas mengenai silat Indonesia, memang memiliki kekhasan tersendiri. Yaitu banyak gerakan silat yang fatal, dan khusus tidak hanya untuk mengenai serangan, menangkis balik, dan mengunci sendi tubuh lawan saja, namun langsung mematikan. Karena itu, banyak gerakan silat dilarang di MMA UFC.

Satu kekhasan lainnya, adalah digunakannya berbagai senjata tajam pendek khas Indonesia, seperti keris, golok, kujang, atau sejenis belati lainnya, agar setiap gelut diakhiri cepat (!)

Sama seperti kisah para pendekar yang tidak jelas arah tujuannya, contohnya para Ronin dari Jepang atau Wuxia dari China. Mereka mengelana untuk mendalami ilmu gelut, atau sekedar berduel dengan lawan yang disukainya. Animo kisah silat tersebut mungkin masih belum dijabarkan di dunia fiksi saat ini, namun suatu saat mungkin kembali lagi.

Nah, bagaimana dengan film Badik yang mengisahkan silat ala suku Bugis dari Sulawesi Selatan ini? Nama khas daerahnya adalah Mencak Sangge, yang masih beraliran silat, yaitu dengan gerakan ampuh nan mematikan. 

Khasnya dari film ini adalah Badik, yaitu belati dari suku Bugis. Badik memiliki lengkungan ala senjata Khukri dari Nepal, namun berukuran lebih kecil, lebih lurus, dan lebih mirip golok mini dengan ukuran mata pisaunya lebih lebar.

Oh ya, terlihat pada cuplikannya pula, satu gerakan yang dibolehkan oleh silat adalah serangan telapak tangan menuju leher, agar lawan langsung sulit bernapas.

Donny Alamsyah, Mike Lucock, Prisia Nasution pun berperan dalam film ini dengan mendukung tokoh utamanya, yaitu Badik yang diperankan oleh Wahyudi Beksi.

Kisahnya pun mengangkat masalah sosial yang kadang terjadi di Indonesia, adalah kisah rundungan yang terjadi saat orientasi mahasiswa baru (ospek), yang berujung kematian korban.

Sinopsis Film Badik

Badik (Wahyudi Beksi) kaget akan kabar kematian adiknya, Unru (Fandy AA). Padahal, Unru baru saja berhasil masuk kuliah, dan sedang mengikuti Masa Orientasi Mahasiswa Baru di kampusnya.

Badik pun mendengar kabar, bahwa adiknya dirundung di kampus tersebut. Berita tersebut sempat viral, dengan mahasiswa yang berprotes mengenai 'Bullywood,' yang istilahnya diramaikan oleh Nur (Prisia Nasution) sebagai anggota pers mahasiswa.

Badik lalu mencoba mencari lebih banyak mengenai kabar kematian adiknya, dengan menyamar sebagai petugas kebersihan di lokasi kampus. Dengan belati Badik wasiat miliknya, dia bergerilya dan mencari para 'tersangka' rundungan.

Ternyata, kisah rundungan di kampus tidak hanya terjadi pada Unru, namun terkait dengan beberapa kematian mahasiswa lainnya, yang semakin mengacu pada target Badik.

Badik yang merasa bahwa ini bukan kasus biasa, lalu mencoba menantang pada perundung, yang berakhir gelut parah. Walau tidak berhenti disitu saja, ternyata memang para perundung adalah ahli silat, yang cukup cekatan dan sanggup melawan Badik. Para perundung pun semakin panik, karena aksi mereka selama ini bisa dilaporkan pada polisi.

Sanggupkah Badik melawan mereka semua dan mengungkap bukti perundungan Unru? Atau malah berujung petaka bagi semuanya?

Jawabannya bisa dicek saja di sinema Indonesia.