Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

14 Januari 2026

Berbincang Sunda Sebagai Budaya Bahasa Lokal di Jawa Barat

 

Aksara Sunda di Jalan Merdeka Bandung (Kagum Insight).

Punten, saatnya membahas Hari Kebangkitan Bahasa Sunda, yang dirayakan setiap 17 Januari, sejak tahun 2024 lalu. Tanggal penting ini digagas oleh Dedi Mulyadi, yang kini menjabat sebagai gubernur Provinsi Jawa Barat. 

Sedikit Sejarah Hari Kebangkitan Bahasa Sunda

Awal dicanangkannya Hari Kebangkitan Bahasa Sunda memang sempat kisruh, akibat politisi yang (seperti biasanya) sedang gimmick dari pusat sana. Sementara Dedi Mulyadi yang tidak menjabat posisi administrasi manapun, dan tengah aktif di salah satu partai besar, cukup berang menanggapinya. 

Dedi Mulyadi lalu meminta kepada pemerintah pusat, untuk mengesahkan tanggal 17 Januari sebagai Hari Kebangkitan Bahasa Sunda. Karena rekam jejak dan kontribusi Dedi Mulyadi sebagai pejabat di daerah Sunda alias Jawa Barat, maka wacana tanggal penting ini disahkan oleh pemerintah. 

Seperti dilansir dari Media Indonesia, maka untuk merayakan tanggal penting ini, dapat dijabarkan dengan satu kalimat berbahasa Sunda berikut. 

'Rahayu selawasna Hari Kebangkitan Bahasa Sunda! Tetep budaya, tetep basa, supados tiasa nyandakkeun ka samudaya.' 

Paribasa Sunda Lelea dari Indramayu (Wikimedia)

Keseharian Berbahasa Sunda 

Menurut penelitian ringkas tahun 2021 yang dilaksanakan oleh Dr. H. Wawan ‘Hawe’ Setiawan, M.Sn, selaku ketua Ketua Lembaga Budaya Sunda dari Universitas Pasundan, penggunaan bahasa sunda sehari-hari sangatlah kental diantara anak muda.

Wawan menyatakan, bahwa lembaga pendidikan (sekolah dan universitas) telah baik mengajarkan bahasa Sunda yang terstandarisasi (sebagai muatan lokal atau jurusan kuliah). Ternyata, saat kajian dilaksanakan di lingkungan non-formal, maka komunikasi bahasa Sunda yang 'kekinian' dapat dan harus diapresiasi, karena lebih fleksibel.

Menurut Wawan, bahasa Sunda digunakan oleh milenial, sebagai label untuk berbagai karya produk, contohnya pada desain kaus, makanan, hingga produk tembakau. Generasi milenial saat ini tidak meninggalkan bahasa Sunda, melainkan dipandang sebagai elemen lokal dan 'pembeda' yang dominan. 

Maksud Wawan, justru bagi milenial yang mengambil langkah inovatif tersebut, adalah cara mereka untuk mengoreksi hal yang sudah dominan dengan ragam mereka sendiri. Maka, kearifan lokal masih bernaung dalam jiwa para generasi milenial.

Bahkan, menurut Wawan, ragam bahasa Sunda seperti ini dari generasi muda, tidak perlu dibuat strukturnya. Nantinya, tidak akan ekspresif lagi. Ranah antara ekspresif dan strukturisasi, harus dijaga perbedaannya, karena mengacu pada sistem yang sebetulnya masih perlu dikoreksi. 

Sementara dari penulis sendiri, jujur saja lebih sering berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Bahkan, saking dominannya, justru hanya bertutur-kata bahasa Indonesia, saat menulis di Blog ini saja (P). 

Karena itu, kadang berbagai kata Sunda yang 'terasa enak,' sering dilampirkan dalam banyak artikel di blog ini, biar terasa lebih komunikatif. Atau, penulis merasa kurang cocok dengan kata yang berbahasa Indonesia, sehingga memilih kata dari Sunda saja (P).

Paguyuban Pasundan

Sebenarnya, urusan kebangkitan bahasa daerah, khususnya suku Sunda di Jawa Barat, sempat terjadi dalam sejarah. Fakta ini dilansir dari Edi S Ekadjati, dalam bukunya yang berjudul Kebangkitan Kembali Orang Sunda, yang dilampirkan dalam situs Bandung Bergerak

Edi S Ekadjati menyatakan bahwa awal abad 20 di Indonesia, alias Hindia-Belanda saat jaman tersebut, sedang tumbuh kesadaran dalam masyarakat pribumi, khususnya dari kaum terpelajar. Jaman tersebut, sangat dibutuhkan organisasi yang menghimpun kekuatan dan kebersamaan sesama warga.

Sehingga, terbentuklah banyak organisasi kaum pribumi yang bercorak etnis, agama, dan dagang. Contoh yang berdasarkan etnis, diantaranya adalah Budi Utomo, Rukun Minahasa, Paguyuban Pasundan, Kaum Betawi, serta Ambonsh Studiefonds. 

Sementara untuk segi ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam, dan dari segi agama diantaranya adalah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Perserikatan Kaum Kristen, dan sebagainya.

Paguyuban Pasundan didirikan dan dipimpin oleh DK Ardiwinata pada tahun 1913 lalu, demi membedakan suku Sunda, dengan organisasi pemuda di banyak wilayah lainnya.

Sedikit kisruh pandangan terjadi, akibat banyaknya warga terpelajar Sunda yang sebelumnya bergabung dengan Budi Utomo (1908), memilih bergabung dengan Paguyuban Pasundan saat tahun 1913. Masuknya warga terpelajar dari Sunda ini, dianggap sebagai perpisahan dari Budi Utomo.

Padahal, Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan memiliki konsep yang sama, yaitu konsep etnis, bahasa, kebudayaan, dan wilayah yang berbeda. Sementara itu pembeda utamanya, adalah dominannya penggunaan bahasa dan budaya Jawa di Budi Utomo, yang menyebabkan warga Sunda perlu berhenti mengikutinya.

Dari segi kebudayaan, ideologi Sunda sudah terbentuk sejak awal abad 8 hingga akhir abad 16. Budaya Sunda ini berwujud aksara, bahasa, etika, adat istiadat alias hukum, lembaga masyarakat, serta kepercayaan.

Namun akibat datangnya kebudayaan Islam dari pesisir utara, lalu berlanjut dengan tibanya kebudayaan Jawa dari kerajaan Mataram, mengakibatkan banyak warisan budaya Kerajaan Sunda tergerus oleh dominasi asing.

Bahkan, Belanda sempat mengalihkan minat pemuda terpelajar Sunda pada awal abad 20, dengan menganjurkan bahasa, bacaan, dan budaya Jawa. Memang, saat tersebut banyak warga Sunda, yang menganggap bahwa status terpelajar dan beradab, adalah dengan sanggup memahami budaya Jawa.

Puncaknya, berdirinya Paguyuban Pasundan adalah tonggak sejarah kebangkitan kembali, eksistensi dan peranan Sunda, di tengah lingkungan masyarakatnya sendiri, dan secara luas di Hindia-Belanda (dengan multi-etnis dan budayanya).

R Otto Iskandar di Nata yang merupakan seorang warga Sunda, mulai memimpin Paguyuban Pasundan sejak tahun 1929 hingga 1942. Memang, sebelumnya Otto sempat menjadi anggota dan pengurus cabang Budi Utomo di Banjarnegara, Bandung, dan Pekalongan. 

Selama memimpin Paguyuban Pasundan, Otto sempat menjalin banyak kerjasama dengan Budi Utomo, demi menghadapi musuh bersama, yaitu penguasa kolonial Hindia-Belanda.

3 Desember 2025

Aksi di Perbatasan Soviet ala Sekuel Film Sisu: Road to Revenge

 

Aatomi Korpi yang heran mengapa truk tidak sekuat dirinya (IMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah film aksi tanpa berpikir panjang dan membabi-buta, ala film berjudul Sisu: Road to Revenge, yang tentu sedang tayang di sinema terkayang Indonesia ini. 

Film ini adalah sekuel dari film sebelumnya berjudul Sisu di tahun 2023 lalu, yang dibuat oleh studio ternama, Stage 6 Film, dan didistribusikan oleh Lionsgate dari Hollywood. Karena itu, film pertamanya mendapatkan sanjungan sebagai aksi fantastis ala aksi brutal yang tanpa henti dan selalu high fever, layaknya ngimpi.

Namun, berbeda di sekuelnya kali ini, justru bekerja sama dengan Sony Pictures Entertainment sebagai distributornya, namun tetap mengisahkan karakter yang serupa tapi dari studio yang sama dan memang memiliki hak ciptanya.

Dalam film pertamanya, terlihat pada cuplikannya, tokoh utamanya bernama Aatomi Korpi (Jormi Tommila), yang baru saja menemukan sebuah setumpuk emas di lokasi berburu tambangnya. 

Namun, saat mengadakan perjalanan pulang, Aatomi malah dicegat oleh satu skuad pasukan Nazi, yang tengah membawa banyak tawanan perang. Tidak rela akan dieksekusi begitu saja, Aatomi melawan dan berhasil membasmi seluruh skuad, dan menyelamatkan tawanan yang ada. 

Aatomi Korpi sebenarnya bukan seorang warga biasa, namun mantan komandan dan veteran perang saat Perang Dunia 2 terdahulu. Setelah pensiun, dirinya menemukan bahwa kota kediaman serta seluruh keluarganya telah habis dibasmi akibat Nazi dan kegilaan perang disekitarnya. 

Aatomi yang ingin hidup menyendiri dan damai pun terpaksa beraksi kembali, akibat gangguan pasukan Nazi yang masih merajarela di sekitar kediamannya di Finlandia. 

Bahkan, Aatomi mempersenjatai seluruh tawanan Nazi (yang kebetulan sekawanan harem wanita) dengan senapan serbu otomatis, demi melindungi mereka sendiri. Satu wanita bahkan berkelakar, bahwa masa ini 'bukanlah siapa yang terkuat, tetapi tentang siapa yang tidak mengalah begitu saja,' alias SISU dari bahasa Finlandia.

Daaan, begitulah sinopsis film Sisu pertama, yang tentu masih bisa dicek di berbagai layanan siaran internet. Bagaimana dengan film keduanya yang membawa distributor berbeda? 

Nah, kalau di film keduanya ini, masih bersama anjing kesayangannya berwarna putih (yang sehat wal'afiat sejak film pertama), Aatomi tengah mengadakan jalan-jalan daratan (roadtrip) mengendarai truk barunya (yang entah dirampas darimana dan siapa) di perbatasan Uni Soviet.

Kali ini, targetnya adalah seorang petinggi KGB dari Uni Soviet, bernama Yeagor Dragunov (Stephen Lang). Setelah kekisruhan di film pertama, Aatomi tampaknya berhasil melacak operasi militer mana yang membasmi seluruh keluarga dan kediamannya. Dan, Yeagor Dragunov adalah seorang komandan yang sempat memimpinnya. Dan kali ini lagi, tujuannya bukan 'membersihkan sisa perang dan Nazi,' tetapi membalas dendam sepenuh amarah hati milik semuanya. 

Yeagor Dragunov tentu bukanlah orang biasa di KGB, dan tidak rela begitu saja ingin mengalah dari seorang pensiunan penuh murka dari Finlandia ini. Dengan peringatan dan bantuan dari sekawanannya di KGB, Yeagor menyiapkan banyak operasi serta perangkap untuk dapat 'menanggulangi' dendam kesumat masa lalu milik Aatomi. 

Sayangnya, kali ini seluruh perspektif (alias sudut pandang) film diarahkan melalui posisi karakter Yeagor Dragunov. Seluruh aksi tembak menembak, bantai membantai, dan buyar meledak kini terlihat dari pandangan mata sang Yeagor. Kemunculan Aatomi Korpi pun layaknya seorang monster buas beringas, yang muncul tanpa peringatan dengan berbagai keahlian liarnya di jalanan perang.

Padahal, Yeagor Dragunov adalah seorang yang diminta KGB untuk membasmi seluruh kegilaan Aatomi Korpi. Namun, dirinya yang sudah jelas lebih banyak durasi adegannya, harus berjibaku dengan posisi karakternya yang jelas-jelas sudah lumrah dianggap antagonis.

Okeh, silahkan nikmati saja hingar-bingar ala aksi dari Eropa sana yang belum move-on dari Perang Dunia terdahulu di film Sisu: Road to Revenge. 

26 November 2025

Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21

Ilustrasi tradisi budaya Indonesia (Freepik).

Saat bidang keilmuan dongeng dikembangkan, inovasi terpenting adalah analisa materi yang komparatif. Dilansir dari Britannica, standar identifikasi dongeng diciptakan, yang merujuk pada balada (oleh F.J. Child), dan untuk plot serta komponen motif pada dongeng dan mitos (oleh Antti Aarne dan Stith Thomspon). 

Komponen motif layaknya Pamali di budaya Pulau Jawa, yang secara tradisional mengemukakan apa yang bisa dilaksanakan atau tidak. Kadang, Pamali mengacu pada banyak hal berbau mistis atau takhayul (yang sering muncul dalam berbagai dongeng), karena sesuai dengan pewarisan ceritanya yang empiris, dan belum didukung oleh kajian yang tepat.

Dengan standar tersebut, ahli dongeng dari Finlandia yang dipimpin oleh Kaarle Krohn, mengembangkan metode penelitian sejarah-geografis. Teknik ini mengenali banyak varian dongeng, balada, teka-teki, atau sejenis prosa yang diklasifikasikan dari tempat dan waktu koleksi, agar kajian pola distribusi dapat dilaksanakan dan membentuk pola orisinalnya. 

Standar tersebut layaknya kajian dongeng di Indonesia, yang sejak merdeka dapat  mengkategorikan asal dongeng sesuai dengan wilayahnya secara administratif, tanpa perlu bantuan ahli dongeng dari Eropa (khususnya Belanda). Biasanya, mengacu pada suku di wilayah tertentu, yang akhirnya terdaftar sebagai provinsi atau kota di Indonesia.

Metode penelitian sejarah-geografis memang mengacu pada statistik, dan tidak berdasar spekulatif, jika dibandingkan dengan ahli dongeng antropologi, yang mendominasi setengah awal abad 20 lalu.

Setelah Perang Dunia II berakhir, tren baru akhirnya muncul, khususnya di AS. Minat pada dongeng tidak hanya terbatas pada komunitas rural alias pelosok, namun dikenali di banyak kota, dengan komunitas tertentu berkarakteristik seni, budaya, dan nilai yang mengacu pada identitas mereka.

Namun, ahli Marxisme terus mengacu pada dongeng sebagai bagian dari kelas pekerja. Sementara di komunitas lainnya, batasan kelas telah hilang konsepnya, dan bahkan pada berbagai tingkatan pendidikan. 

Setiap kelompok yang mengekspresikan kepaduan dirinya dengan menjaga tradisi yang sama, diklasifikasikan sebagai bagian dari 'warga,' walau berbeda faktor pekerjaan, bahasa, tempat tinggal, umur, agama, dan etnis aslinya. 

Dari segi ini, layaknya banyak fakultas bahasa yang dipadukan dengan seni pada satu struktur yang sama pada universitas di Indonesia. Komunitas tersebut berkembang sebagai pemerhati, praktisi, dan ahli kebudayaan, khususnya saat pagelaran seni dan bahasa yang mengisahkan dongeng.

Perubahan ini mengacu pada perbedaan antara masa lalu ke sekarang, dengan pencarian dan investigasi mengenai asal, maksud, dan fungsi dongeng untuk jaman sekarang. Sehingga, perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap merusak tatanan budaya.

Dengan sudut pandang kontekstual dan pertunjukan, analisis di akhir abad 20, contohnya pada cerita, lagu, drama, atau budaya, telah merubah fungsi dongeng dari sebuah rekaman budaya, menjadi bagian dari budaya itu sendiri.

Setiap fenomena yang terjadi. dianggap sebagai bagian dari momen yang muncul disebabkan interaksi antara individu dan kelompok sosial, yang memenuhi berbagai fungsi serta memuaskan kebutuhan para artis serta penontonnya.

Dengan pandangan sosiologis dan fungsional ini, sebuah acara dapat dimengerti hanya dalam konteks keseluruhan saja, diantaranya dari biografi dan kepribadian artis, perannya di komunitas, repertoar dan keseniannya, peran penontonnya, momen saat pertunjukan berlangsung, serta kontribusi acara bagi maksud dari dongengnya itu sendiri.

Dengan begitu, setiap komunitas budaya, baik itu berasal dari warga atau sanggar seni khusus, dapat menginterpretasikan khas budaya serta dongeng tradisional dalam sebuah pertunjukan. Komunitas budaya adalah representasi dari banyak nilai budaya, yang normanya layak dipertahankan sebagai identitas komunitas. 

Namun, praktisi seni dapat mengkaji, merekayasa, serta mempraktekan perubahan sosial, sesuai dengan kebutuhan pertunjukan atau keadaan sosial yang sedang berlangsung. Contohnya baru-baru ini, kisah Malin Kundang yang berasal dari tanah Minang, diadaptasi menjadi sebuah film dengan perubahan kondisi latar serta sosialnya. Film berjudul Legenda Kelam Malin Kundang pada bulan November lalu, disebut pula dengan istilah reinterpretasi dongeng.

Lalu muncul kajian dongeng saat pertengahan abad 20, yaitu sebuah konsep legenda urban (urban legend). Yaitu, sebuah cerita mengenai momen tidak biasa, yang banyak warga percaya atau tidak. Legenda urban menjadi media yang semakin lumrah, layaknya berkisah legenda urban melalui media, khususnya di media massa. 

Karenanya, banyak cerita legenda urban berisi hantu yang tiba-tiba muncul di latar sebuah adegan film atau foto, dan berbagai pesan kesetanan yang tersembunyi (contohnya pada banyak lagu yang jika dimainkan terbalik, maka terdengar horor). Kisah seperti ini banyak meruak pada akhir abad 20 lalu, sehingga menambah ramainya jenis dongeng di jaman modern.

Seperti contoh Malin Kundang di tahun 2025 lalu, cerita dongeng seperti Si Pitung (yang memang belum ditemukan keabsahannya), atau Si Kabayan, Sangkuriang, dan banyak kisah dongeng lainnya diadaptasi dengan format sinetron atau film. 

Khususnya pada kisah legenda urban, maka cerita seperti Si Manis Jembatan Ancol, Jembatan Emen, Suster Ngesot, Rumah Kentang, serta banyak cerita horor legenda urban lainnya, sesuai dengan kategori dongeng. Yaitu, masih terikat dengan sejarah dan geografisnya. Sementara reinterpretasinya, muncul saat film atau sinetron diproduksi lalu dirilis, dengan target penonton yang lebih banyak dan luas, layaknya media massa.

Peran Dongeng di Abad 21

Banyak yang khawatir bahwa perubahan abad, dengan tibanya internet, dapat menghancurkan peran dongeng. Namun, justru World Wide Web menjadi teater utama untuk produksi dan transmisi banyak dongeng rakyat.

Perubahan ini tiba dengan perbedaan lainnya, yaitu dari teoritis (seperti Trevor J. Blank pada buku Folklore and the Internet) dan praktisnya (seperti cepatnya adaptasi budaya rakyat untuk menyebar dan berubah di dunia daring).

Komunikasi di Internet yang konstan, dan bisa dua arah, menyebabkan perubahan yang kentara dalam mengisahkan dongeng. Pada awal abad 21, akses Internet lebih mudah daripada akhir abad 20 (yang biasanya berlatar forum dan situs). Sehingga, kisah dongeng atau legenda urban di awal abad 21, semakin meruak dengan ramainya para peseluncur daring.

Internet adalah bank data bagi para pendongeng, untuk mengoleksi banyak cerita dongeng, dan menerapkan metode baru dalam menganalisanya. Pendongeng mengoleksi data melalui wawancara dengan kelompok atau individu, atau dengan meramban dan membaca situs. 

Data digital lalu dikompilasi pada basis data, yang digunakan oleh ahli untuk memformulasikan pertanyaan penelitan, atau melaksanakan pembacaan jarak jauh, sebagai teknik yang digunakan untuk menganalisa pola dari banyak isi teks. Banyaknya data mengenai dongeng, dapat menambah banyak analisa statistik, seperti analisis jejaring sosial, yang dapat diterapkan di lapangan.

Layaknya seorang perpustakaan, Internet adalah lokasi dimana banyak buku, kajian, dan jurnal ditempatkan untuk dibaca oleh banyak warga. Tanpa administrasi tambahan selain biaya dan alat, maka internet adalah ahan bagi siswa, akademisi, dan praktisi kebudayaan. Selain menjadi bahan bacaan, banyak penelitian dapat dilaksanakan melalui internet, dengan mengacu pada sumber yang terpercaya.

Sementara perkembangan Internet serta kebudayaan saat ini, layanan daring adalah lokasi khusus untuk mencari data tersebut. Dengan istilah konten, banyak warganet membaca internet sebagai tahap untuk meraih dongeng, dalam berbagai format pertunjukkan. Berbagai layanan daring untuk membaca konten, seperti berlangganan atau sekali bayar, adalah cara untuk dapat meraihnya. 

Praktisi serta ahli kebudayaan pun mengandalkan internet sebagai bank data miliknya, baik itu sebagai fungsi dari institusi, atau pelayanan kepada warganya. Hubungan bisnis tersebut berjalan dengan alami seiiring perkembangan internet, sebagai bagian dari komunikasi serta warisan budaya, yang khusus diantaranya adalah dongeng serta banyak kisah lainnya.

11 November 2025

Angklung dari Indonesia Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

 

Angklung di Saung Mang Udjo (Wikimedia).

Angklung berasal dari bahasa sunda yang berarti angkleung-angkleungan. Maksudnya adalah gerakan para pemainnya, yang menghasilkan bunyi 'klung,' untuk memainkan instrumen musik Angklung.

Dilansir dari Angklung Center, kata Angklung berarti mengacu pada nada yang dipecah. Jadi, satu Angklung hanya memiliki satu pecahan nada, dan perlu dimainkan lebih dari satu Angklung.

Bentuk Angklung

Bentuk Angklung sendiri adalah dua atau lebih batang bambu, yang disesuaikan dengan tinggi dan rendahnya nada. Setiap nada adalah hasil dari getaran bilah bambu didalam setiap ruasnya, dari yang berukuran kecil untuk nada tinggi, hingga berukuran besar untuk nada rendah.

Desainnya dimiripkan dengan alat musik calung (yang sama berasal dari tatar Sunda). Bahan dasar Angklung adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu ater (awi temen), yang dikeringkan akan berwarna kuning keputihan.

Sejarah Angklung

Belum ada sejarah pasti kapan Angklung mulai digunakan, namun diperkirakan sudah ada sejak jaman Neolitikum, yang berkembang hingga awal penanggalan modern. Jadi, Angklung adalah bagian dari budaya Nusantara sebelum zaman Hindu (menurut Dr. Groneman). 

Catatan sejarah paling kentara adalah masa kerajaan Sunda pada abad 12 hingga 16 lalu. Selama perkembangannya, Angklung menyebar ke seluruh Jawa, Kalimantan, dan bahkan hingga Thailand (menurut Jaap Kunst dalam buku Music in Java).

Bahkan, terdapat satu catatan misi kebudayaan dari Indonesia menuju Thailand pada tahun 1908 lalu. Misi tersebut ditandai dengan seremonial penyerahan Angklung, yang sempat menyebar sebagai seni budaya di Thailand.

Angklung dimainkan pula sebagai penyemangat saat pertempuran kerajaan. Bahkan, gema Angklung merambah hingga jaman penjajahan Belanda, yang dilarang dimainkan secara umum. Justru, larangan tersebut menyebabkan Angklung semakin populer, walau hanya dimainkan oleh anak-anak.

Angklung di Thailand

Menurut Kementerian Sekreatriat Negara Republik Indonesia, Angklung sempat menjadi alat seni untuk diplomasi dengan negara Thailand. Raja Rama V dari Thailand, sempat tertarik pada Angklung saat berkunjung ke Indonesia, lalu membawanya sebagai oleh-oleh dan ditempatkan di Istana Bangkok. Raja Rama V cukup dekat hubungannya dengan Nusantara saat itu, sehingga berkunjung tiga kali, yaitu pada tahun 1870, 1896, dan 1910. 

Tidak hanya Raja, pada tahun 1908 Pangeran Thailand Bhanu-Rangsri-Sawangwong yang merupakan adik Raja Rama V, datang ke Nusantara bersama musisi bernama Jawang Sorn Silapa-Bunleng. Keduanya datang untuk belajar Angklung, yang akhirnya membawa sepuluh buah Angklung untuk dimainkan di Istana Burapa, Bangkok.

Saking terkenal dan menyebarnya, Angklung telah menjadi bahan ajar sekolah di Thailand, melalui para guru musiknya. Phol Kit-Khan adalah satu tokoh terkenal dalam mengajarkan Angklung di Thailand. Saking termotivasi, kebun durian miliknya diganti dengan kebun bambu (sebagai bahan produksi Angklung). Hingga akhirnya dikenal pula sebagai Angkalung, yaitu sejenis Angklung khas dari Thailand.

Foto arak-arakan Angklung (UNESCO).

Tradisi Angklung

Budaya tradisional Sunda pun mengacu pada prinsip pembuatan Angklung. Karena mayoritas warga di tatar Sunda adalah petani dengan komoditas utama padi (pare). Mitos pun muncul dengan nama Nyai Sri Pohaci, sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (Hirup-Hurip).

Masyarakat tradisional Badui yang dianggap sebagai keturunan asli Sunda, masih mempraktikan Angklung sebagai bagian dari ritual menabur padi. 

Angklung Gubrag di Jasinga Bogor bahkan telah berumur lebih dari 400 tahun, yang sama dimainkan saat ritual menabur padi. Angklung disinyalir untuk dapat memikat Dewi Sri Pohaci turun ke bumi, dan memberkati suburnya tanaman padi.

Permainan Angklung lalu dikenalkan saat Pesta Panen atau Seren Taun di tatar Sunda. Angklung dimainkan saat upacara padi, bersama banyak jenis kesenian lainnya dalam satu arak-arakan di alam. 

Berbagai alat yang dibawa saat arak-arakan adalah kesenian Rengkong (Angklung yang dipikul), Dongdang (alat pikul padi), Jampana (wadah makanan), dan banyak lainnya.

Foto Daeng Soetigna yang mengenalkan diatonik pada Angklung (Angklung Centre).

Inovasi Modern Angklung

Pada tahun 1938, Daeng Soetigna mengembangkan Angklung Diatonis dari sebelumnya Pentatonis, yang mengubah bentuk dan nada Angklung, sehingga dapat memainkan banyak variasi jenis musik, bahkan hingga lagu dari Barat.

Daeng Soetigna sangat berjasa dalam mengembangkan Angklung di Indonesia saat jaman modern, sehingga karyanya dikenal sebagai warisan budaya alat musik di dunia Internasional.

Foto Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung (Angklung Centre).

Lalu pada tahun 1966 lalu, Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung, mengembangkan teknik bermain dengan dasar Pelag (sistem urutan nada tiga surupan), Salendro (sistem urutan lima nada), dan Madenda (Laras dengan pemecahan laras Salendro). Udjo Ngalagena lalu mengajarkan banyak komunitas, dengan berbagai bentuk, cara, dan tradisi memainkan Angklung.

Hingga kini, salah satu komunitas yang aktif dalam memainkan Angklung adalah Sanggar Keluarga Besar Bumi Siliwangi (Kabumi) dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat. 

Angklung dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Dilansir dari UNESCO, Angklung diakui sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2010 lalu. Angklung adalah instrumen musik yang terdiri dari empat hingga dua tabung bambu, yang terpasang pada rangka bambu, dan diikat dengan rotan.

Tabung dipahat dan dipotong dengan hati-hati oleh perajin ahlinya, agar dapat membunyikan nada saat rangka bambu digoyang atau ditepuk. Setiap Angklung hanya membunyikan satu nada atau senar, jadi banyak pemain harus berkolaborasi untuk dapat membunyikan melodi.

Angklung tradisional menggunakan skala Pentatonik, namun pada tahun 1938, musisi Daeng Soetigna mengenalkan Angklung dengan skala Diatonik, yang disebut sebagai Angklung Padaeng.

Angklung sangat erat kaitannya dengan budaya tradisional, seni, dan identitas budaya Indonesia, yang dimainkan saat perayaan menabur dan memanen padi, atau sunat. 

Bambu hitam khusus untuk Angklung dipanen saat dua minggu dalam satu tahunnya, saat jangkrik tengah ramai, dengan dipotong setidaknya tiga segmen diatas tanah, agar akarnya tetap tersebar.

Edukasi Angklung disebarkan dengan mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan semakin semarak saat diselenggarakan di institusi pendidikan.

Karena berdasarkan budaya kolaboratif pada musik Angklung, memainkanya mendukung kerjasama dan saling hormat antar pemainnya, dengan disipilin, tanggung jawab, konsentrasi, pengembangan imajinasi dan ingatan, serta rasa artistik dan musik.

Kiprah Angklung Tahun 2025

Menyambut Hari Angklung Tradisional Internasional ke 15, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KABUMI UPI mengadakan acara bermain Angklung dengan 4750 peserta. 

Dilansir dari Berita UPI, para pemain Angklung hadir dari banyak lokasi kota Bandung, mulai dari anak sekolah, anak berkebutuhan khusus, atau lansia, yang tiba di Stadion Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Acara ini dilaksanakan tepat satu bulan lalu, yaitu pada tanggal 23 November 2025. Acara dilaksanakan demi persatuan lintas generasi, demi melestarikan Angklung sebagai warisan dan identitas budaya Indonesia, khususnya di daerah Sunda.

Beberapa kenalan dari penulis, diantaranya sepupu yang masih berumur sekolah, mengikuti acara ini. Walau masih berumur sekolah dasar atau sekolah menengah pertama, tetapi mereka cukup semangat untuk melanjutkan kiprah semangat bersama memainkan warisan budaya Sunda ini.

Semoga, kedepannya Angklung masih menjadi seni warisan budaya yang terus terkemuka di tatar Sunda.

6 November 2025

Wayang dari Indonesia Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

 

Pagelaran Wayang Golek oleh Dalangnya (Wikimedia).

Menyambut Hari Wayang Nasional pada tanggal 7 November, rasanya cocok dirayakan dengan mengingat bahwa wayang adalah warisan budaya tak benda yang kental di Indonesia.

Sebelum mengacu pada artikel yang disematkan oleh UNESCO dari PBB (UN), tampaknya perlu mengecek wayang dari sejarahnya. Bagi yang masih ingat pelajaran SD terdahulu, tentu tahu bahwa Wayang adalah media literasi terdahulu, yang biasa diselenggarakan bersama gamelan.

Seperti dilansir dari NU Online, Wayang itu sendiri berasal dari India, yang kental dengan ajaran Hindu. Namun, pada abad 15, salah seorang Wali Songo bernama Sunan Kalijaga, menggunakan wayang sebagai media penyebaran Islam. Setelah masuk ke Nusantara, kisah wiracarita Mahabharata dan Ramayana, lalu dirubah menjadi lakon yang lekat dengan banyaknya ajaran Islam.

Seperti dilansir dari Britannica, wayang sebenarnya bisa ditemukan hingga seluruh Asia Tenggara dan China. Namun khusus di Jawa, konotasi mistis dan religius sangatlah kental.

Wayang bahkan sempat diadaptasi oleh seniman boneka Richard Teschner, yang pada awal abad 20 lalu, mengombinasikan seni dan kesederhanaan wayang, dengan keahlian teknik Jerman, dan sempat diselenggarakan di teater Figuren Spiegel, Vienna, Austria.

Kembali ke Nusantara, terdapat beberapa jenis variasi wayang, yaitu Wayang Kulit khas Jawa Tengah yang berbentuk pipih dan menggunakan bayangan sebagai media visualnya. Satu lagi, Wayang Golek yang berbentuk boneka kayu dengan tongkat dipegang langsung oleh dalangnya dari Jawa Barat.

Terdapat pula Wayang Wong atau Orang, yang lakonnya diperankan langsung oleh seorang aktor. Sementara Wayang Krucil atau Klithik, adalah wayang sejenis pipih, namun berukuran lebih kecil dari Wayang Kulit.

Dan meloncat pada jaman sekarang, banyak kanal YouTube yang memainkan berbagai cerita wayang, melalui konten video atau bahkan siaran langsung. Contohnya adalah Wayang Kulit, yang dimainkan oleh Dalang Seno Nugroho. 

Berbagai kanal rekaman lama Wayang Golek dari Dalang legendaris Asep Sunandar Sunarya pun, masih meramaikan YouTube. Video tersebut khas dengan kelucuan lakon Cepot, Udawala, dan Gareng, bersama sang ayah, Semar.

Kiprah Wayang Golek Sunda tahun 2025

Acara Wayang Golek sempat digelar kembali pada tahun 2025 ini, tepatnya pada saat Dies Natalis ke 71 UPI, pada hari Kamis, tanggal 7 November lalu, di Stadion Sepak Bola UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), dengan mengundang Ki Dalang Dadan Sunandar Sukarya, dari Putra Giri Harja 3.

Dilansir dari Berita UPI, acara sempat tertunda akibat hujan, jadwal yang sebelumnya dimulai pukul 19.15 WIB, akhirnya diundur menjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Acara dilaksanakan hingga pukul 02.00 dini hari.

Pagelaran diawali dengan tarian pembuka bernama Dangiang Isola, dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD). Tarian ini menggambarkan perjuangan, romantika, kebahagian, dan kesedihan yang meliputi sejarah Gedung Isila, sebagai simbol kejayaan dan kewibawaan UPI.

Wayang Golek serta Tarian Tradisional sebagai bagian dari seni dan kebijaksanaa lokal, perlu dilestarikan sebagai rasa syukur perkembangan adat, budaya, dan peradaban Indonesia, khususnya di tanah Sunda. Pelestarian budaya, kebersamaan, dan dedikasi untuk pendidikan akan terus menggema, di bawah langit Bandung yang membahana.

Artikel UNESCO Mengenai Wayang dari Indonesia

Wayang diterima sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2008 oleh UNESCO, setelah sebelumnya diklaim oleh Indonesia pada tahun 2003 lalu.

Wayang terkenal dengan ragam boneka dan musiknya yang kompleks, dan merupakan format kuno dalam mendongeng yang berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Selama sepuluh abad lamanya, Wayang ramai dimainkan di banyak kerajaan Jawa hingga Bali, dan bahkan hingga area pelosok. 

Wayang pun merambah hingga kepulauan lainnya, seperti Lombok, Madura, Sumatera, hingga Kalimantan. Ragamnya pun disesuaikan dengan seni dan musik lokal, sehingga semakin berkembang dan berbeda.

Wayang dibuat secara tradisional dan bervariasi dalam bentuk, ukuran, dan ragamnya. Dua prinsip dasar tetap menjadi utama bagi Wayang, yaitu boneka kayu tiga dimensi seperti Wayang Golek, atau berbahan kulit pipih Wayang Kulit dan Klithik, dengan media bayangan akibat sorotan cahaya dibelakangnya. 

Kedua jenis Wayang diberi karakter dengan kostum, bentuk wajah, dan bagian tubuh yang dapat digerakkan. Dalang menggerakkan Wayang melalui bagian tangannya dan tongkat yang menempel pada bagian bawahnya.

Sementara Dalang memainkan Wayangnya, sinden dan musisi (gamelan) memainkan instrumen berbahan perunggu, hingga menciptakan melodi sebagai latar pagelaran.

9 Oktober 2025

Melarikan Diri ala Tawanan Perang dari China di Film Dongji Rescue

Warga desa di China yang kaget baru sekali lihat pasukan Jepang (TMDB).

Film dari China tampaknya semakin ajib saja, yang kini mulai merambah kisah dari latar sejarah atau modern. Sebelumnya, film berjudul Operation Hadal dirilis bulan lalu di Indonesia, yang mengisahkan pertempuran pasukan modern China di lautan, mirip dengan film Dongji Rescue di bulan Oktober ini.

Film Dongji Rescue yang tengah tayang di sinema Indonesia, tampaknya mengingatkan bahwa China sebenarnya memiliki andil saat Perang Dunia 2 dahulu, daripada kelebihan pasukan modern China seperti di film Operation Hadal.

Memang kedua film tersebut cukup berbeda dengan banyak film ciamiknya, yang biasanya berlatar mitologi China dengan aksi gelut ala fantasi melawan monster raksasa pemakan manusia.

Kembali ke film dari China ini, tentu karena wilayahnya yang tepat bersebelahan dengan Jepang sebagai agresor di PD 2, China bersama Korea sempat mengalami banyak konflik di bagian utara Asia Timur tersebut.

Bahkan unit 731, yaitu fasilitas penelitian senjata biologis dan kimiawi milik Jepang, ditempatkan di wilayah timur laut China. Fasilitas ini melaksanakan berbagai eksperimen ke banyak desa di sekitarnya, sehingga berujung meninggalnya ratusan ribu warga China.

China sebenarnya jaman tersebut mengalami kedekatan dengan Inggris Raya dalam menghalau pergerakan Jepang. Sayang, kolaborasi keduanya kurang sanggup melawan pasukan Jepang yang sedang beringas.

Nah, kisah kerjasama Inggris Raya dan China saat PD 2 diangkat dalam film Dongji Rescue ini. Tokoh utamanya bukanlah seorang tentara, namun warga desa biasa, yang terpaksa melawan balik Jepang, akibat desanya terancam.

Kisah nyata yang diangkat oleh film Dongji Rescue berasal dari dokumentasi sejarah Tenggelamnya Kapal Laut Lisbon Maru, yang menyebabkan 800 pasukan Inggris Raya tenggelam dan meninggal.

Sinopsis Film Dongji Rescue 

A Bi (Zhu Yilong) dan A Dang (Leo Wu) panik saat mendengar desanya akan diserang pasukan Jepang. Desa mereka memang berada di pesisir pantai, yang sempat melihat kapal Jepang berada di lepas pantai namun tidak berlabuh.

Setelah sekian lama, ternyata kapal Jepang tidak berlabuh juga, tetapi malah mengirimkan pasukannya ke pesisir pantai. Warga desa pun diancam, namun tidak diserang, melainkan dipekerjakan sebagai budak perang bagi pasukan Jepang.

Ternyata, pasukan Jepang sebenarnya berniat menghabisi desa tersebut, tetapi setelah 1800 pasukan Inggris tawanannya dibasmi terlebih dahulu. Desa tersebut harus dihabisi, karena membasmi tawanan adalah sebuah tindakan kejahatan perang, dan pasukan Jepang tidak ingin ada saksi atas kejahatannya.

A Bi dan A Dang sempat bertengkar karena panik, walau akhirnya dilerai oleh A Hua (Ni Ni). Mereka akhirnya berinisiatif untuk melaksanakan operasi penyelamatan pasukan tawanan Inggris Raya.

Banyak warga desa setuju, dan daripada melarikan diri, mereka bersiap untuk menyelamatkan seluruh pasukan Inggris Raya di Kapal Lisbon Maru tersebut. Warga desa berharap, jika operasi penyelamatan ini berhasil, maka wilayah desa mereka tidak akan menjadi target pasukan Jepang.

30 September 2025

Batik Adalah Sejarah Warisan Budaya Nasional Indonesia

Ilustrasi desain pola Batik dari Indonesia (Freepik).

Seluruh wilayah negara Indonesia terkenal dengan variasi kain Batik. Dilansir dari National Geographic, Batik berasal dari Jawa Tengah, dimana warna krem dan cokelat mendominasi pada lembaran kainnya. Produksi tekstil Batik tradisional menerapkan teknik pewarnaan lilin, saat senimannya mendesain titik pola dengan tangan dan stempel berbahan tembaga atau kayu.

Batik merambah hingga wilayah kesultanan sepanjang pesisir pantai Indonesia, dimana perdagangan internasional menginspirasi warna yang lebih cerah. Contoh corak Batik yang berwarna cerah berasal dari Madura yang khas dengan motif mega mendung dan Kulon Progo dengan motif khas geblek renteng.

Maka, Batik adalah kain simbol negara Indonesia yang terus berkembang, baik itu secara nasional, maupun lokal. "Batik diproduksi dan dikenakan di seluruh wilayah negara Indonesia. Batik adalah simbol identitas kami," ujar Benny Gratha, seorang kurator Museum Tekstil Jakarta.

Kain Batik dapat digunakan sebagai pakaian keseharian (formal, informal, dan adat tradisional), termasuk diantaranya celana, masker, topi, sabuk, sarung bantal dan guling, sprei, kain jarik (gendongan bayi), kain penutup keranda jenazah, hingga sampul gawai elektronik. 

Hari Batik Nasional dirayakan tanggal 2 Oktober di Indonesia, yang sejak tahun 2009, tepat saat diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang dilindungi oleh UNESCO.

Proses Pembuatan Kain Batik

Dilansir oleh Britannica, batik adalah metode mewarnai kain dengan area yang diberi pola oleh lilin, sehingga kain dapat menyerap warna tersebut. 

Metode batik biasanya didesain pada kain katun dengan warna tradisional seperti biru, cokelat, dan merah. Tercampurnya efek beberapa warna efek didapatkan setelah beberapa kali proses pewarnaan ulang. Pola dari lilin yang menempel pada kain awalnya direbus terlebih dahulu, lalu diproses kembali sebelum memberi tambahan warna cerah.

Teknik dasar batik belum diketahui tepat awal sejarahnya, walau telah dilaksanakan secara luas di banyak wilayah Asia Tenggara, dengan berbagai variasi berbeda. Dilansir dari Bhinneka, berbagai teknik produksi Batik diantaranya adalah Batik Tulis (Canting), Batik Cap, Batik Kombinasi, Batik Ikat Celup, Batik Lukis Colet, dan tentu Batik Modern. Contohnya lainnya ada di pulau Selebes, Sulawesi, dimana lilin terpasang pada batang bambu. 

Di pulau Jawa saat pertengahan abad 18 lalu, inovasi stempel tembaga dengan pegangan dan moncong titik yang berlapis lilin, dapat memperindah pola pada kainnya. Inovasi dari Jawa lainnya adalah saat menggunakan batang kayu sebagai stempel polanya, yang dikenalkan sejak abad 19 lalu. Belanda sempat mengimpor kain dan tekniknya ke Eropa. 

Mesin garmen jaman sekarang dapat memproses lilin dengan pola tradisional Jawa, dan dapat mereproduksi efek layaknya pemrosesan tangan. Mesin masih memiliki konsep yang sama, yaitu menempelkan pola dari lilin pada kainnya. 

Batik Dakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO

Dilansir dari UNESCO, Batik memiliki teknik, simbolisme, dan budaya yang meliputi pelukisan tangan kain katun dan sutra, sehingga menyerap ke seluruh pola kehidupan sehari-hari di Indonesia. 

Mulai dari awal hingga akhir, Batik digunakan sebagai kain jarik untuk menggendong bayi, dengan banyak pola simbol yang didesain untuk memberi peruntungan, sementara warga yang meninggal ditutupi oleh kain jenazah (atau penutup keranda).

Pakaian didesain untuk dikenakan sehari-hari, saat keperluan bisnis dan akademik, sementara variasi khusus dikenakan saat perayaan pernikahan, kehamilan, pagelaran Wayang, dan banyak format seni lainnya. Kain Batik bahkan berperan utama saat ritual khusus, contohnya saat pelemparan batik ke dalam kawah gunung volkano.

Pola Batik diwarnai oleh perajinnya pada kain, dengan desain titik dan garis menggunakan lilin panas, yang didapatkan dari sayuran dan bua. Lalu, perajin memisahkan warna dengan membasuhi kain dengan satu jenis warna, memisahkan lilin dengan air rebus bersuhu panas, dan diwarnai berulang kali.

Variasi pola merefleksikan banyak pengaruh, diantaranya berasal dari kaligrafi Arab, buket Eropa, phoenix China, bunga sakura Jepang, serta merak dari India atau Persia. 

Batik biasanya diwariskan secara turun temurun dalam banyak generasi keluarga, sehingga kerajinan Batik sangat terikat dengan identitas budaya warga Indonesia. Bermaksud simbolis dari setiap warna dan desainnya, Batik adalah ekspresi kreativitas dan spiritualitas warga Indonesia.

Sedikit Komentar dari Penyuka Batik

Selaku penulis, saya memiliki minat khusus pada Batik. Sejak pertama kali melihat Batik digunakan secara santai jaman SMP terdahulu, Batik telah menarik minat saya. Walau tentu tidak seminat itu untuk memiliki kain Batik asli yang cukup sulit didapatkan.

Kini, penulis memiliki koleksi berbagai jenis kebutuhan pakaian berpola Batik, diantaranya kemeja, celana, masker, serta sarung bantal dan guling. Satu pakaian paling cocok, tentu adalah sejenis Iket Sunda, yang biasanya memang  berpola Batik.

Khusus untuk momen saat mengenakannya, penulis lebih suka dan sering memakai Batik saat mengunjungi acara pernikahan, selamatan, dan perayaan lainnya, baik itu yang berlengan pendek maupun panjang. 

Bahkan, penulis kurang suka memakai pakaian kemeja biasa, karena terlalu gerah dan mudah kotor, dengan bagian bawah yang harus dimasukkan dalam celana agar dianggap rapih. Sementara Batik, cukup dipakai dan langsung dianggap formal.

4 September 2025

Vampir Perancis Pemangsa Wanita di Film Dracula: A Love Tale

 

Ahli supernatural yang berhasil menangkap vampir (IMDB).

Vampir memang sudah menjadi kisah horor yang mendunia. Banyak referensi vampir, dari berbagai negara, yang bermula bahkan sejak jaman kerajaan kuno.

Kisahnya pun menginspirasi film yang kini tengah tayang di Indonesia, berjudul Dracula: A Love Tale. Film yang dibuat oleh sineas Perancis ini, mengisahkan kembali sang raja vampir, yaitu Drakula itu sendiri.

Drakula adalah tokoh vampir yang cukup terkenal, khususnya dari Transylvania (sekarang Romania), dan beberapa novel karya Bram Stoker tahun 1897 lalu. 

Referensi awalnya adalah kisah kerajaan Walachia saat abad 15 lalu, yang dipimpin oleh Vlad Tepes Draculae, dengan kecenderungan sadis menusukkan pasak setinggi tubuh pada musuh kerajaannya. Rumor bahwa Vlad Draculae suka meminum darah korbannya, memicu pula kisah 'vampir' di jaman tersebut.

Kisah Vlad pun semakin fantastis, karena jaman tersebut berkembang menuju era Renaisans. Jaman tersebut, kisah aristokrat yang semena-mena, hedon, korup, menyepelekan rakyat, dan 'awet muda' menjadi tema tersendiri bagi seniman jaman Renaisans. 

Maka, kisah vampir pun beralih menjadi sebutan khusus bagi aristokrat jahat. Istilah tersebut awalnya pun dari sebuah frase, yaitu 'pengisap darah' alias lintah, yang berkembang menjadi mitos vampir supernatural. 

Sejak jaman Renaisans hingga Viktoria, kisah vampir tercampur aduk, antara kisah supernatural, atau sebutan bagi aristokrat jahat manapun, seperti anggota monarki, bangsawan, pengusaha kaya, ksatria kerajaan, hingga aparat pemerintah.

Nah, karena referensi awalnya sudah jelas, coba kita cek film Dracula: A Love Tale, dari negara Perancis, yang memang sempat mendalami sejarah 'vampirisme' tersebut.

Sinopsis Film Dracula: A Love Tale

Vlad (Caleb Landry Jones) adalah seorang pangeran kerajaan, yang mengalami mabuk cinta saat abad ke 15 di Eropa. Namun, istrinya terpaksa meninggal muda, akibat terjebak sebuah konflik kerajaan. 

Vlad yang dendam, memilih kafir pada Tuhannya, dan menyebabkan dia dikutuk dengan hidup abadi. Vlad pun hanya dapat meminum darah manusia untuk menghilangkan laparnya. Gigitannya pada manusia hidup, menyebabkan korbannya ikut terinfeksi pula, sebagai vampir lainnya.

Latar kisah pun loncat ke abad 19 di London, saat para ahli supernatural berhasil menangkap wanita muda, yang dianggap seorang vampir bernama Maria (Matilda De Angelis).

Para ahli tersebut menganggap, jika seorang vampir tiba-tiba muncul di daerah kota, maka vampir lainnya sedang berada di wilayah tersebut.Tidak disangka, ternyata yang tiba adalah Vlad itu sendiri, sang vampir pertama nan legendaris. 

Kisah pun beralih pada usaha Vlad, yang kebetulan bertemu seorang gadis muda, berwajah sangat mirip dengan istrinya dahulu. Gadis tersebut bernama Elisabeta (Zoe Blue), yang merasa canggung namun terpikat oleh Vlad.

Akankah Vlad dan Elisabeta kembali bersatu dalam cinta abadi mereka? Atau anggota pemburu vampir yang berhasil menghilangkan kutukan vampir dengan membasmi langsung Vlad?

Jawabannya, dapat disaksikan lewat film Dracula: A Love Tale yang kini tengah kasmaran di banyak sinema Indonesia.

29 Agustus 2025

Drama Musikal Indonesia Jaman Kolonialisme di Film Siapa Dia

Nicholas Saputra dan Gisella Anastasia yang sedang kasmaran (TMDB).

Naaaaah, sekali lagi...! Di bulan Agustus, masanya merayakan kemerdekaan, kurang sreg rasanya kalau tidak membahas film dari INDONESIA! Tentu, dengan kesan dan pesan yang lebih mengacu pada jaman koloniasme pula, dan mendukung rasa nasionalisme ala sinema.

Mengacu momen kemerdekaan, maka perlu diingat kembali, bahwa tanpa bom atom dari AS yang menimpa dua kota di Jepang, Indonesia tampaknya bukan lagi 'Indonesia' lagi (jika isekai ke multiverse lain).

Kebetulan tersebut memudahkan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Insinyur Soekarno, tepat saat negara kita sudah sulit melawan pasukan kolonial Belanda, yang masih disusul lagi oleh Jepang.

Kembali ke film Siapa Dia yang tengah tayang, rasa berbeda tetap disajikan oleh sineas perfilman Indonesia di bulan Agustus ini. Justru film ini dirilis sebagai drama musikal, bersama Windi Mulia, Nicholas Saputra, dan sutradara legendaris Garin Nugroho.

Tidak hanya bintang kawakan, aktor dan aktris terkenal seperti Gisella Anastasia, Ariel Tatum, dan Morgan Oey pun turut berperan dalam film ini. Tentu sejumlah nama yang sangat familiar, apalagi yang sempat menonton film sejak tahun 90an lalu hingga sekarang.

Drama musikal yang tersaji di Siapa Dia pun diisi dengan latar yang masih cocok, yaitu jaman kolonalisme. Jaman tersebut memang Indonesia sudah memiliki teater modern tersendiri, menyusul teater tradisional lainnya seperti wayang, ketoprak, atau longser.

Dari cuplikan film Siapa Dia, dapat terlihat gambar bendera jepang lama, yaitu bendera matahari (nisshoki) dengan garis memancar dari bola di tengahnya. Seragam khas pasukan Jepang dan Belanda pun sempat terlihat dikenakan oleh beberapa karakternya, dengan berseringai pula.

Nah, terlihat dari cuplikannya, lebih tepatnya terdengar, banyak adegan terisi oleh beberapa lagu klasik Indonesia. Lagu seperti keroncong atau klasik vintage, dengan lirik dan nada yang sedikit diaransemen ulang, khusus untuk film ini.

Contohnya adalah lagu Bing Slamet terdahulu, berjudul Nurlela. Lagu lainnya lebih ke 70an, seperti Chrisye dengan cross-genre Rock n Roll dan Pop. Generasi 'old' pasti merasa nostagia dengan berbagai pilihan lagu di film ini.

Belum jelas apakah film ini akan mengisahkan adegan drama saja, atau berisi gelut dengan kolonialisme jaman tersebut. Memang dalam cuplikannya sempat terlihat, tetapi latar belakang karakternya bukanlah seorang birokrat, atau pun gerilyawan.

Sinopsis Film Siapa Dia

Layar (Nicholas Saputra) adalah seorang sutradara terkenal di Indonesia. Statusnya yang sudah kawakan nan legendaris, membuat dirinya bosan dalam pekerjaannya. Dia merasa kurang terinspirasi oleh karyanya, dan berujung mentok dalam menciptakannya.

Temannya pun menyarankan untuk menulis sendiri karyanya, mulai dari rancangan hingga naskah finalnya sendiri. Selama ini Layar memang hanya berkecimpung  sebagai sutradara di filmnya.

Denok (Windi Mulia) pun mengerti perasaan Layar, yang tampak jengah. Dia tahu bahwa Layar merasa terkucilkan walau terkenal, karena ketenarannya hanya mengundang sanjungan dari banyak orang yang disekitar dirinya.

Di tengah kegalauannya, Layar pun menginap di rumah lama milik buyutnya. Disana, dia menemukan sebuah buku harian dalam koper lama, lengkap dengan beberapa surat cinta milik buyutnya.

Kisah klasik yang terbawa oleh dua media tersebut merubah kesan Layar, yang tiba-tiba terinspirasi. Keluarganya memang memiliki sejarah seniman teater, sehingga mengingatkan kembali Layar, untuk menggali ulang latar belakang dirinya sendiri, sejak jaman kolonialisme.

Tampaknya naskah film Siapa Dia mereferensikan dengan jelas, bahwa masa sekarang sudah begitu maju, jika dibandingkan dengan jaman terdahulu. Namun, jika mencapai momen yang sulit, ada baiknya kita perlu rehat sejenak, dengan mengenang sejarah yang berarti khusus bagi perkembangan kita selama ini.

28 Agustus 2025

Dua Film Animasi Legendaris dari Ghibli Tayang Ulang di Indonesia

 

San yang tengah menunggangi serigala raksasa (TMDB).

Di bulan Agustus ini, film masih ramai dengan rasa kemerdekaan. Bahkan sinema Indonesia, merilis beberapa film dari Jepang, yang berformat anime. Film yang dipilih pun cukup legendaris, karena berasal dari studio animasi ternama Jepang, yaitu Studio Ghibli

Sejak didirikan tahun 1985 lalu, Studio Ghibli telah menelurkan beberapa animasi legendaris yang dikenang sampai sekarang. Saking hebatnya, berbagai jenis penghargaan diraih Ghibli, setiap kali merilis filmnya.

Khusus untuk yang dirilis bulan Agustus di Indonesia, temanya cukup mirip, yaitu berjudul Hotaru no haka (Grave of Fireflies;1988). Satu lagi adalah Mononoke-hime (Princess Mononoke;1997), yang masih sesuai dengan khas karya Ghibli, yaitu cerita fantasi mengenai hubungan alam dan manusianya.

Film Hotaru no haka (Grave of Fireflies)

Film pertama, Hotaru no haka, adalah salah satu kisah sukses nan berbeda dari Studio Ghibli, yang berlatar kehidupan Jepang saat akhir Perang Dunia 2, tahun 1945 lalu. Plotnya pun cukup dalam, yaitu mengisahkan sepasang yatim-piatu, adik-kakak, yang harus bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orangtua, atau bahkan orang dewasa lainnya.

Dalam cuplikannya, terlihat Seita (Tsutomo Tatsumi) sang kakak laki-laki, dengan adik perempuannya yang bernama Setsuko (Ayano Shiraishi), tengah berjalan dengan hanya berdua saja. Rumah mereka telah terbakar habis, dan tanpa kehadiran orangtua, mereka harus bertahan hidup. Adik-kakak tersebut akhirnya menemukan serangkaian bunker, yang menjadi hunian sementara mereka. 

Sementara di kota, banyak lokasi telah menjadi puing reruntuhan akibat serangan. Seita yang sempat menyaksikannya, terpaksa bertahan di bunker, karena kota bukanlah pilihan yang baik di masa tersebut.

Jadi, bagaimanapun kisahnya, bahkan Jepang sebagai penindas saat momen sejarahnya, korban sipil terus berjatuhan tanpa henti, dan menghentikan hampir seluruh perkembangan yang ada dan tercapai sebelumnya.

Terbalik dengan istilah latin 'Si vis pacem parabellum,' yang berarti 'saat masa damai, maka bersiaplah untuk perang,' justru tidak ada satupun hal yang didapat dari konflik bersenjata jenis apapun.

Hanya satu yang dimenangkan dari peperangan, yaitu kedamaian, yang tentu tidak butuh perang untuk mempertahankannya. Kedamaian dicapai dengan membangun, sementara konflik hanya mampu menghancurkannya.

Film Mononoke-hime (Princess Mononoke)

Berikutnya adalah film yang lebih mengacu pada fantasi, dengan berlandaskan mitologi dari Jepang dan Ainu sekaligus dalam satu latar, berjudul Mononoke-hime (Princess Mononoke). Film Mononoko-hime adalah kisah yang mengutamakan visual bagus, dan distrudarai serta ditulis oleh sineas legendaris dari Ghibli, yaitu Hayao Miyazaki.

Kisahnya memang mengacu pada fantasi mitologi di kepulauan Jepang, dimana banyak hewan fantastis, siluman, hingga bahkan Dewa (Kami) yang berkeliaran bebas bersama manusia. Walau begitu, perkembangan manusia pun sudah cukup maju, karena terlihat manusia sudah dapat menggunakan senapan, yang tentu lengkap dengan peluru dan bubuk mesiunya.

Dilihat dari cuplikannya, Ashitaka (Yoji Matsuda) adalah seorang ksatria dan pangeran muda. Saat tengah berburu babi hutan kolosal, bersama rusa raksasa tunggangannya, dia terkena kutukan aneh. Dukun lokal memberinya saran, bahwa Ashitaka harus pergi ke barat, demi menghilangkan kutukannya.

Saat tiba di barat, Ashitaka sempat bertemu dengan San (Yuriko Ishida), yang tengah beristirahat bersama keluarga serigala putihnya, di pesisir sungai. San yang tidak ingin bertemu manusia lain, melarikan diri bersama kawannanya.

Ternyata, setelah sampai di kota dan bertemu dengan warga setempat, Ashitaka menyadari bahwa sedang terjadi konflik antara Kota Besi dan kawanan San. Kedua pihak berseteru akibat perebutan wilayah, yang dipertahankan dengan sengit oleh keduanya. Kota Besi ingin memperluas wilayahnya, sementara San tidak ingin hutan kediamannya diganggu. 

Kota Besi pun berpendapat, bahwa jika konflik ingin selesai, maka San bersama kawanan serigalanya harus dibasmi. Demi menargetkan tujuan utamanya sekaligus, pasukan Kota Besi harus menghabisi pula dewa leluhur setempat, agar hutannya dapat digunakan bebas.

Ashitaka pun terjebak diantara kedua belah pihak, padahal dia harus mencari cara agar dapat terbebas dari kutukannya. Ashitaka akhirnya perlu mendalami konflik tersebut, sementara badannya semakin sakit.

Dilihat dari segi visualnya, memang mengacu pada dua budaya berbeda di Jepang. Ashitaka dan manusia dari Kota Besi, telah menggunakan baju yukata dan senjata, yang sesuai dengan tradisi ala Jomon dan Yamato. Sementara dari sisi San, terlihat bajunya seperti suku Ainu, yang jelas terlihat kesukuannya.

Walau sebenarnya di dunia nyata tidak sempat terjadi konflik antara Jomon dan Yamato yang berasal dari dataran utama Asia, dengan suku Ainu yang berada di wilayah utara (sekitar) Hokkaido, namun film ini menjadi simbol khusus akulturasi keduanya di Jepang.

Sekali lagi, memang fiktif, tetapi sebuah kisah dapat membuat simbol sebagai referensi atas apa yang telah terjadi di dunia nyata, dengan maksud yang lebih dramatis (!)

Nah, bagi yang penasaran dengan kedua film tersebut, kini tengah tayang di banyak petualangan epik ala sinema Indonesia.

24 Juli 2025

Film Perang Indonesia, Believe: The Ultimate Battle

 

Terjun payung yang menggetarkan nyali (IMDB).

Sineas perfilman Indonesia tampaknya ingin meramaikan kemerdekaan tahun ke 80, dengan cara yang berbeda. Akhir Juli ini, dirilis film Believe: The Ultimate Battle, yang justru mengisahkan sedikit latar dari perang Indonesia di Timor-Timur (sekarang Timor Leste). 

Sebelumnya pada akhir April, film mengenai kemerdekaan Indonesia memang sempat dirilis, dengan judul film Perang Kota. Film ini bahkan diadaptasi dari novel klasik terkenal Jalan Tak ada Ujung, hasil karya Mochtar Lubis, yang dirilis tahun 1952 lalu.

Sedikit Kisah Perang Timor

Kisah perang di Timor Timur, yang biasa disebut Operasi Seroja, memang bahasan yang cukup sensitif. Tahun 1975 lalu, Timor belum menjadi bagian dari Indonesia. Operasi Seroja dilaksanakan oleh Presiden Soeharto, demi memberantas komunis yang dipimpin Fretilin, dan merekrut Timor sebagai wilayah Indonesia.

Saat kepemimpinan Presiden BJ Habibie tahun 1999 lalu, pemerintahan baru berlandaskan reformasi, justru ditekan oleh warga Timor. Voting bagi warga Timor pun dilaksanakan, agar mencapai keputusan mengenai keluarnya Timor atau tidak dari Indonesia. Hasilnya, Timor pun keluar dari bagian NKRI, dan berubah namanya menjadi Timor Leste.

Dari segi politik, Operasi Seroja memang cukup sensitif. Kisah operasi militer di Timor adalah sebuah konflik, yang bisa disebut sebagai invasi, hingga bahkan genosida. Walau berujung cukup damai, dengan keluarnya Timor melalui jalur birokrasi.

Bagaimana film Believe: The Ultimate Battle ini menceritakannya, tergantung dari pembawaan kisah tim produksinya, sekaligus penerimaan dari penontonnya.

Sinopsis Film Believe: The Ultimate Battle

Agus (Ajil Ditto) adalah seorang anak yang dididik keras oleh ayahnya, Sersan Kepala (Serka) Dedi (Wafda Saifan). Didikan keras dari Dedi, menyebabkan Agus tumbuh sebagai pemuda nakal. Walau begitu, Agus sebenarnya menghormati ayahnya. Apalagi, selama ini Dedi hidup cedera akibat Operasi Seroja di Timor. 

Dedi pun akhirnya meninggal, yang mengobarkan semangat Agus untuk bergabung dengan TNI. Diantara tugasnya sebagai anggota militer, Dedi pun perlu menjaga keutuhan keluarga bersama istrinya, Evi (Adinda Thomas). 

Agus pun mulai menyadari, bahwa istilah Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) dari Presiden Sukarno sangatlah penting. Agus tidak ingin mengulangi kesalahan ayahnya di masa lampau, dan berjuang agar jalannya terbuka bagi diri sendiri, dan negara yang diembannya.

Dilihat dari cuplikannya, tampaknya film ini cukup heboh dengan efek ledakan, tembakan, dan aksi gelutnya, ala sinema Indonesia.

10 Mei 2025

Lima Warisan Budaya Tak Berwujud Menurut UNESCO

Ilustrasi jamu dari Indonesia (TMDB).

Organisasi Edukasi, Sains, dan Budaya PBB (UNESCO) dikenal sebagai pelindung bagi arsitektur, alam, dan bentuk seni dari seluruh dunia. Ternyata, UNESCO melindungi pula banyak warisan budaya yang terkait untuk merawat kesehatan, yang menjadi bagian dari Warisan Budaya Tak Berwujud.

Dilansir dari National Geographic, daftar UNESCO ini bertujuan agar  melindungi ritual, festival, bahasa, serta musik yang ada di seluruh dunia. Jamu dari Indonesia termasuk salah satu diantaranya.  

Jamu di Indonesia

Jamu sangat dikenal di Indonesia sebagai minuman herbal yang menyehatkan. Ternyata, jamu ini terukir di kuil Borobodur, yang telah berumur 1200 tahun. 

Ukiran kuno ini menggambarkan jamu yang merupakan hasil racikan antara jahe, jeruk limau, kunyit, dan asam jawa. Biasanya racikan herbal ini diberikan kepada orang sakit agar cepat sembuh.

Beda pula suhu jamu yang diberikan kepada orang yang sakit. Jamu yang panas diberikan kepada orang yang sakit flu atau masuk angin, sementara yang dingin diberikan kepada yang sedang demam. 

Jamu pun berbeda resep setiap wilayahnya, yang disesuaikan dosisnya dengan variasi usia dan tingkat kesehatan peminumnya. Banyak penjual jamu meramu bahannya dengan alami, dan biasanya dinikmati langsung oleh orang terdekat.

Jamu pun berbeda resep setiap wilayahnya, yang disesuaikan dosisnya dengan variasi usia dan tingkat kesehatan peminumnya. Banyak penjual jamu meramu bahannya dengan alami, dan biasanya dinikmati langsung oleh orang terdekat.

Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 lalu, data menunjukkan 31,4 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi secara tradisional, sementara 12,9 persen meramu jamunya sendiri. Produknya sebanyak 48 persen adalah berupa ramuan, dan 31,8 persen buatan sendiri.

Karena masih berbahan herbal tradisional, maka jamu akan bermanfaat sebagai intervensi dari manusianya, dalam memberi bantuan optimal pada fungsi tubuh, sehingga terbentuklah pertahanan tubuh yang sanggup beradaptasi terhadap penyebab peradangan.

Seperti dilansir dari Direktorat Jenderal Kesehatan Republik Indonesia, jamu adalah sejenis obat tradisional sederhana, yang diwariskan turun temurun, dengan pembuktian khasiatnya secara empiris. 

Dalam pemasarannya, maka klaim jamu tentang khasiatnya tidak boleh berlebihan. Contohnya adalah jamu yang dapat 'membantu' atau 'secara tradisional digunakan,' daripada 'menyembuhkan' secara langsung.

Untuk standarisasi produk, maka jamu tidak diwajibkan untuk dapat memenuhinya. Tetapi, tetap harus memenuhi persyaratan mutu yang dicanangkan oleh Farmakope.

Terdapat beberapa rempah dan hasil jamu yang terproses, diantaranya adalah kunyit, temulawak, beras kencur, cabai jawa, paitan, lengkuas, mengkudu, dan galian singset.

Kunyit atau Kunir, terbukti berkhasiat untuk mengurangi nyeri, anti peradangan, tekanan darah tinggi, dan bahkan menurunkan berat badan. Kunyit biasa diramu dengan buah asam agar menjadi jamu Kunir Asam. Kadang, bahan lain seperti sinom, temulawak, kedawung, air jeruk lemon, gula merah, gula putih, dan garam ditambahkan sebagai bahan tambahan.

Temulawak (atau jahe jawa) yang merupakan rempah asli Indonesia, dengan khasiat diantaranya meredakan mual, pusing, gejala pilek, dan menambah napsu makan anak. Temulawak biasa dicampur dengan rimpang temulawak, kencur, asam kawak tanpa biji, gula aren, daun pandan segar, serta jinten.

Beras Kencur, atau biasa disebut sebagai jahe aromatik atau jahe pasir, tercampur dengan beras untuk dapat membantu menurunkan kolesterol, peradangan, dan sistem kekebalan tubuh. Bahan utama beras kencur, tentu adalah beras dan kecur, yang biasa diramu dengan campuran kedawung, jahe, kapulaga, asam kawk, termukunci, kayu keningar, kunyit, kapur, dan pala. Untuk memberi rasa manis, maka gula coklat pasir dan gula putih dapat ditambahkan.

Cabai Jawa atau disebut pula sebagai Cabai Puyang/Lempuyang, biasa digunakan pula sebagai bumbu masakan khas Indonesia. Karena Cabai Jawa mengandung zat besi tinggi, maka dapat membantu produksi sel darah merah dan mencegah anemia. 

Untuk khasiatnya, Cabai Jawa membantu mengatasi kelelahan dan otot kaku, masuk angin, menambah energi, mengurangi kembung, membantu beri-beri, reumatik, tekanan darah rendah, kolera, influenza, sakit kepala, lemah syahwat, bronkitis, dan sesak napas. 

Ramuan jamu ini diantaranya adalah tambahan temuireng, temulawak, jahe, kudu, adas, polosari, kunyit, merica, kedawung, keningar, asam jawa, dan temukunci. Agar tidak terlalu pahit, maka gula merah, gula putih, dan garam dapat ditambahkan.

Paitan atau Pahitan, adalah sebutan untuk ramuan jamu yang berasa pahit, seperti campuran dari sambiloto, brotowali, meniran, lempuyang, widorolaut, doroputih, babakan pule, adas, dan empon-empon. Walau rasanya kurang mengenakkan, tetapi telah terbukti berkhasiat dalam masalah perncernaan.

Paitan dapat dikonsumsi untuk meringankan masalah kesehatan, seperti cuci darah, penghilang gatal, biduran, menambah napsu makan, diabetes, bau badan, menurunkan kolesterol, kembungnya perut, jerawat, pegal, dan pusing. 

Kudu Laos adalah kombinasi dari dua bahan utamanya, yaitu laos atau lengkuas, dengan buah mengkudu. Efeknya adalah menghangatkan tubuh, membantu meredakan kram menstruasi, mengurangi hipertensi, serta menambah napsu makan.

Hasil potongan teriris tipis lengkuas dan mengkudu dapat diseduh langsung, dan ditambahkan dengan bahan lain seperti asam jawa, bawang putih, cabai puyang, garan, dan merica, sesuai kebutuhan nutrisi, fisik, dan selera peminumnya.

Galian Singset adalah nama ramuan yang disesuaikan dengan fungsinya, yaitu 'Singset' alia langsung dan ramping. Maka, ramuan ini terkenl bagi kalanganw wanita. Namun, berbagai khasiat yang baik diantaranya adalah aroma tubuh yang harum serta kulit lebih sehat. 

Untuk meramunya, resep yang digunakan dengan dihaluskan dan direbus, diantaranya adalah temulawak, jahe, kunyit, serai, dan kayu manis, yang tercampur pula dengan asam jawa, ketumbah, dan merica.

Perlu diingat pula, terdapat anjuran langsung mengenai konsumsi jamu dari Direktorat Jenderal Kesehatan Republik Indonesia. Walau banyak khasiatnya, tetap hindari konsumsi dengan frekuensi berlebihan dan jangka panjang. Hal itu akibat dampak negatif ginjal serta saluran pencernaan.

Selain itu, karena kondisi tubuh berbeda-beda, maka reaksi alergi dapat terjadi bagi peminumnya. Apalagi, bagi yang sedang mengalami pengobatan modern. Jenis jamu yang dapat dikonsumsi saat mengalami gangguan kesehatan, harus dikonsultasikan kepada dokter.

Ilustrasi botol jamu yang biasa dibakul (Instagram).

Pengalaman Pribadi Meminum Ramuan Jamu

Penulis sendiri memiliki banyak pengalaman mengonsumsi jamu sedari kecil. Saat Ibu Bakul Jamu dengan gendongan ramuannya lewat depan rumah, biasanya keluarga memesan jamu. Kala itu saat saya masih kecil, diminta pula meminumnya. Karena masih cukup sehat, maka saya dianjurkan untuk meminum jamu manis saja (apalagi kurang tahan dengan rasa yang pahit).

Nah, meloncat ke beberapa tahun kemudian, yaitu saat saya sudah mulai kuliah di kampus terdahulu. Karena kuliah pagi cukup jarang dilaksanakan, maka saya agak santai di pagi hari, tepat saat Ibu Bakul Jamu lewat depan rumah lagi. 

Karena itu, saya mulai sering meminum jamu setiap pagi, beberapa tahun lamanya. Apalagi, karena jarak kampus yang jauh, ditambah lokasi gerbang hingga fakultas yang memang cukup menggetarkan kaki, akhirnya saya berinisiatif untuk lebih sering meninum jamu, yang tentu kini sudah lewat pahitnya. 

Jika diingat-ingat, jarak saya menuju angkutan umum dari rumah, hingga turun dari gerbang kampus menuju fakultas, lalu naik ke lantai empat melewati tangga, karena lift selalu penuh, menyebabkan kaki terus tergerakkan. 

Mungkin, setiap hari saya melangkah sekitar tiga hingga lima kilometer setiap harinya, dari berangkat hingga pula. Kalau jaman tersebut sudah ada Odometer di ponsel, mungkin lebih tepat lagi jarak dan durasinya.

Dan jika diingat-ingat (sekali lagi), kebiasaan berjalan kaki jauh setiap hari sudah saya laksanakan sejak jaman SMP terdahulu. Tentu, akibat jarak angkutan umum serta lokasi sekolah yang kurang terlewati. SMP, SMA, dan Kuliah, berarti mencapai jangka waktu sepuluh tahun. Jadi, rasanya memang kaki sudah terlatih untuk berjalan marathon. 

Nah, jika diingat lagi, dulu saya sering diajak berjalan kaki melewati daerah asri di kota, bersama beberapa anggota dari keluarga besar. Mungkin, momen tersebut menumbuhkan kecintaan saya terhadap berjalan kaki dan menikmati asrinya alam bumi nan indah di Bandung.

Lalu, loncat momennya ke saat ini, saat saya tengah rajin menulis kembali. Karena saya merasa menulis akan menambah pusing, maka berinisiatif untuk berjalan kaki tiap pagi, sambil meminum jamu dari Ibu Bakul Jamu. Memang, setiap pagi pasti ada saja yang lewat, walau sekarang lokasinya berada di sekitar pasar.

Tidak hanya berjalan kaki dan meminum jamu setiap pagi saja, tetapi mulai berolahraga pagi di Car Free Day. Targetnya, mencapai 8.000 langkah, atau sekitar lima kilometer jauhnya. Semua itu, karena niat saya dan bantuan jamu, yang sanggup menambah energi setiap paginya. Apalagi, penulis adalah seorang yang jarang sarapan, dan hanya meminum kopi saja setiap paginya.

Seluruh kebiasaan tersebut sudah terlaksana oleh saya, sejak awal tahun (mungkin tepatnya bulan Maret lalu), hingga sekarang. Okeh, saatnya melanjutkan bahasan berikutnya, ya...

Yoga di India

Yoga yang dimulai sejak 5000 tahun lalu, di bagian utara India, mendukung praktisinya agar dapat mencapai pencerahan, kesembuhan fisik, kebersihan emosional dan tujuan pribadi lainnya.

Yoga memang berbentuk dasar fisik, spiritual, dan filosofi. Praktisinya berlatih dengan urutan pose tubuh yang berbeda, dimulai dari pose sederhana sampai yang lebih rumit. 

Secara bersamaan saat pose tersebut dilakukan, praktisi yoga akan bermeditasi, membaca mantra, atau melatih kendali pernapasan, agar mencapai kedamaian pikiran dan mental.

Olahraga sekaligus olahrasa ini dapat dipraktekan oleh seluruh golongan umur, dari muda hingga tua, tanpa memandang gender, kelas sosial, atau agama. 

Pijat di Thailand

Pijat Nuad Thai adalah terapi fisik dari Thailand yang telah berumur sekitar 2500 tahun lamanya. Pijat ini banyak dipraktekkan oleh warga Thailand sebagai kombinasi dari seni dan sains.

Pemijat Nuad Thai menggunakan tangan, kaki, lutut, dan sikut untuk meremas, melipat, dan melonggarkan tubuh pasien. Tujuannya adalah untuk membuka jalan bagi 72 ribu sen atau jalur energi dari dalam tubuh. 

Menurut kepercayaan Buddhisme Thailand, pijatan ini dapat mengembalikan elemen internal tubuh manusia, yang terdiri dari elemen air, angin, api, dan tanah.

Menurut kepercayaan Buddhisme Thailand, pijatan ini dapat mengembalikan elemen internal tubuh manusia, yang terdiri dari elemen air, angin, api, dan tanah.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kita di Nusantara memiliki jenisnya tersendiri, yaitu umumnya bernama Pijat Jawa dan Pijat Bali. Pijat tradisional ini, memang berasal dari dua wilayah tersebut, dan terus mengalir ke seluruh Nusantara. 

Karena itu, perkembangan pijat tradisional pun terus merambah hingga jaman modern ini. Kemenkes pun telah membuat standarisasi untuk prakteknya. Bahkan, terdapat buku hasil Kemenkes, sebagai panduan dalam melaksanakannya. 

Momen saat ini, pijat tradisional Indonesia belum berhasil diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO. 

Akupuntur dari China

Praktek menusukkan jarum ke (titik saraf) dari kulit tubuh manusia, yang bernama akupuntur ini telah dimulai sejak lima ribu tahun lalu di China. 

Praktisi akupuntur biasanya menusukkan lima, hingga dua puluh jarum di kulit tubuh pasien, yang mewakili titik syaraf tubuh manusia. Praktek kesehatan ini dapat membantu pasien dari penyakit migrain, mual, nyeri otot, masalah pernapasan, hingga keram menstruasi.

Menurut kepercayaan China, metode ini dapat menyeimbangkan energi gelap Yin dan energi cahaya Yang di dalam tubuh manusia, dan ditujukan agar kesehatan mental dan fisik terjaga serta tetap seimbang. 

Yin dan Yang adalah bagian dari energi kehidupan, yang biasa disebut Qi,dan  mengalir sebanyak 12 jalur di tubuh manusia. Setiap jalur Qi menghubungkan organ dan fungsi tubuh utama.

Sauna dari Finlandia

Finlandia telah memiliki budaya sauna sejak sepuluh ribu tahun lalu, dan semakin ramai hingga sekarang. 3,3 juta lebih kamar mandi sauna berada di Finlandia, padahal jumlah warganya hanya 5,5 juta saja.

Rata-rata warga Finlandia bermandi sauna satu kali dalam seminggunya. Tidak hanya dapat membuang racun tubuh (lewat keringat) dan stres, mandi sauna adalah ajang sosial di Finlandia.

Banyaknya lokasi mandi sauna yang berada di sisi danau, hutan atau pegunungan, mandi secara sosial ini dianggap sebagai lahan komunikasi antar warga, sekaligus untuk menikmati indahnya alam. 

Banyaknya lokasi mandi sauna yang berada di sisi danau, hutan atau pegunungan, mandi secara sosial ini dianggap sebagai lahan komunikasi antar warga, sekaligus untuk menikmati indahnya alam. 

Sementara dari Indonesia itu sendiri, terdapat beberapa contoh mengenai sauna tradisional. Namanya pun berbeda-beda, contohnya adalah Leuhang dari Sunda, Batangeh dari Minang, dan Betangas dari Kalimantan.

Khas sauna Leuhang dari Sunda, adalah menggunakan rebusan rempah, yang uapnya dialirkan dalam sebuah kotak tertutup khusus, sementara bagian tubuh (dari batas leher kebawah) menyerap nutrisinya melalui kulit. 

Seperti saat diutarakan pada acara Pajajaran Anyar (Pekan Kebudayaan Daerah Jawa Barat 2025) dari Humas Jabar, Leuhang sebagai bentuk sauna tradisional Sunda, masih diusahakan di tahun 2025 ini, sebagai bagian dari daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.