Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

04 Maret 2026

Bahayanya Pria Tanpa Beban Ala Film Dead Man's Wire

 

Kiritsis yang nothing to lose (IMDB).

Daaan, terakhir adalah film berbahaya lainnya dari Hollywood sana, berjudul Dead Man's Wire yang tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran. Bagi yang suka drama kejahatan, tentu terkagum saat menonton cuplikannya yang berating umur D17. 

Apalagi, film ini mengadaptasi kisah nyata dari tahun 1977 lalu di AS. Ya, nama karakter yang diadaptasi adalah Tony Kiritsis, yang sempat melaksanakan aksi penyanderaan, namun malah dianggap sebagai seorang warga tertindas oleh khalayak media AS sana. 

Bagi penulis, kisah film ini mirip dengan istilah Nothing to Lose, alias Tanpa Beban. Saking terancamnya, suatu karakter sering disematkan dengan istilah ini. Karakter tersebut memiliki wacana dan rencana tertentu untuk beroperasi habis-habisan, dalam menyelamatkan dirinya dari situasi genting.

Kisah Tony Kiritsis

Kisah Tony Kiritsis adalah sesuatu yang campur aduk, antara stresnya seorang warga dan masalah pemberontakan kepada sistem. Masalahnya memang berakar pada sistem kapitalis ala AS sana. 

Tony Kiritsis adalah seorang warga biasa, yang terjebak hutang akibat hipotek miliknya. Saking terancamnya (menurut Kiritsis), dirinya digadang akan bangkrut parah, akibat perusahaan hipotek yang sengaja memainkan dokumen properti miliknya. Kiritsis curiga, bahwa lokasi properti miliknya telah ditarget oleh broker kurang bertanggung jawab, untuk direbut sebagai properti milik perusahaan.

Karena merasa tidak ada jalan lain (selain hukum tentunya), Kiritsis memilih jalur kekerasan. Dengan menyandera broker perusahaan hipotek, dirinya menelpon kepolisian setempat. Tebusan yang dimintanya cukup banyak, yaitu keamanan propertinya, imbalan lima Juta Dolar AS, dan bebas tanpa tuntutan hukum. 

Kepolisian yang seharusnya terbiasa menanggapi ancaman semacam ini, malah kelimpungan saat menanggapi. Sebenarnya Kiritsis adalah seorang warga yang baik, sementara media mulai membela Kritis dan latar belakang masalahnya.

Bagi yang ingin tahu kelanjutan kisahnya, bisa dicek di banyak artikel dan konten mengenai kisah nyata penyanderaan oleh Tony Kiritsis. Namun para penggemar film drama kejahatan ala Hollywood semacam ini, tentu lebih mengenal isi adegan dan akting para aktor-aktrisnya.

Bill Skarsgard yang Sudah Naik Daun

Bagi yang belum cukup paham, maka perlu dikenalkan kembali dengan nama Bill Skarsgard. Aktor kelahiran Swedia ini, sempat naik daun dengan perannya sebagai badut horor di duo film adaptasi novel Stephen King, berjudul It (2017) dan It: Chapter Two (2019). Wajahnya yang terkenal seram, memang menjadi khas akting serba bisa ala Skarsgard. 

Tidak hanya sebagai badut berwacana horor ala Hollywood, banyak karakter unik yang diperankan oleh Skarsgard. Contohnya adalah film seorang musisi rocker yang kekal abadi dalam film reka ulang, The Crow (2024). Penulis agak heran juga, karena biasanya film reka ulang, apalagi se-legendaris The Crow, kurang disukai oleh banyak penggemarnya. Namun di film tahun 2024 ini, justru banyak yang suka, karena keahlian akting milik Skarsgard.

Berikutnya ada film Nosferatu (2024), dimana Skarsgard berhasil menciptakan sosok dan suara vampir terkenal ini dengan ciamik. Sangat tidak terlihat sosok aseli Skarsgard dibalik karakter horor ini. Saking disukai para kritikus film, Nosferatu ini diberi nilai cukup besar dari mereka semua.

Satu film lainnya adalah John Wick 4 (2023), yang membuktikan kemampuan akting Skarsgard dalam film drama aksi kejahatan. Tentu dengan kehadiran dirinya dalam waralaba film bersama Keanu Reeves ini, telah membuktikan kelebihan Skarsgard dalam memerankan film yang keluar dari pamor awalnya.

Sinopsis Film Dead Man's Wire

Okeh sedikit saja kisah sinopsisnya, karena memang mirip dengan kisah Kiritsis, yang sudah dibahas sebelumnya.

Tony Kiritsis (Bill Skarsgard) adalah pria paruh baya yang sedang mengalami krisis. Dirinya terancam bangkrut dan diusir dari propertinya sendiri, akibat hutang piutang dan masalah dengan bankir hipotek. 

Kiritsis akhirnya mengambil jalur lain, yang lebih mengacu pada kejahatan. Kiritsis lalu berinisatif untuk menyandera mitra bankirnya, memakai senapan berburu miliknya. Dengan jujur, Kiritsis meminta tebusan kepada kepolisian setempat, wacana membebaskan dirinya dari tuntutan hukum, serta permintaan maaf langsung dari perusahaan hipotek.

Kepolisian setempat dan perusahaan hipotek tentu tidak mengalah begitu saja, dan terus bernegosiasi dengan Kiritsis. Namun, kisah ini akhirnya ramai diberitakan oleh media setempat. Setelah berbagai investigasi mengenai latar belakang masalah Kiritsis, media malah membela sosoknya, dan memberi tekanan berlebih kepada aparat hukum setempat.

Bagaimanakah kisah Tony Kiritsis hingga akhir hayat? Jawabannya, tentu dapat disaksikan langsung dengan berbagai tuntutan hukum ala sinema Indonesia.

18 Februari 2026

Mengenang dan Menyelenggarakan Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional (Kemendikdasmen).

Berikutnya adalah momen menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, yang dirayakan tanggal 21 Februari setiap tahunnya. Hari Bahasa Ibu Internasional dirayakan sejak tahun 1999 lalu, yang diusung oleh UNESCO dari PBB. Tujuannya adalah untuk melindungi dan melestarikan banyak ragam bahasa ibu, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa ibu dalam kehidupan manusia.

Seperti sudah diutarakan sebelumnya pada artikel Hari Kebangkitan Bahasa Sunda di blog ini, penulis yang berlatar Tatar Sunda, cukup dekat kesehariannya dengan bahasa Ibu. Bahkan, penulis hanya bertutur kata bahasa Indonesia saat menulis blog ini, sementara seharian hanya berbincang Sunda.

Merayakan Bahasa Ibu

Dilansir dari UPI, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasi seorang umat manusia sejak lahir. Perannya sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak hingga dewasa, yaitu sebagai pembentukan identitas dan budaya bagi individu, proses belajar anak sejak usia dini, dan pelestarian nilai-nilai lokal.

Sebagai proses belajar anak di usia dini, anak lebih mudah memahami materi belajar dalam bahasa yang dikuasainya. Proses ini sesuai dengan ucapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, yang menyatakan melalui situs Kemendikdasmen, "Kajian akademik menunjukkan bahwa anak yang memulai pembelajaran dengan bahasa ibu, memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep akademik dengan kemampuan literasi yang lebih optimal."

Sementara dari segi pelestarian nilai lokal, dimulai saat anak mendengarkan cerita rakyat, tradisi, dan kearifan lokal dari budaya dan bahasa persukuannya. Seperti dilansir dari STPS Sahid Surakarta, bahasa ibu bukan hanya sarana komunikasi, melainkan mencerminkan budaya dan cara berpikir masyarakat. 

Setiap bahasa membawa warisan pengetahuan, tradisi, dan nilai yang sangat berharga. Dengan terus melestarikan penggunaan bahasa ibu, warga sebagai pelakon utamanya, tidak hanya menjaga kelangsungan bahasa itu sendiri. Tetapi, menghidupkan kembali warisan budaya sebagai satu identitas bagi komunitas berbahasa daerah.

Foto Naskah Carita Waruga Guru (Wikimedia).

Ngamumule Basa Sunda

Menurut sejarahnya, bangsa Austronesia bermigrasi dari Taiwan, lalu Filipina, dan akhirnya tiba di Pulau Jawa pada tahun 1000 hingga 1500 tahun Sebelum Masehi, seperti dilansir dari FISIP UI.

Mengenai namanya itu sendiri, asal nama Sunda masih abstrak. Secara etimologis, merujuk pada kata Cuddha dari Sansekerta, yang berarti cahaya, putih, bersih, murni, atau bersinar. Adapula yang mengartikan bahwa Sunda adalah perpaduan morfologi antara Sun (satu) dan Da (dua). 

Dari basa Sunda sendiri, Saunda berarti lumbung atau makmur, atau Sonda yang berarti bagus, bahagia, dan unggul. Kata Sunda merujuk pula pada ibukota Sundapura, sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara, yang berjaya saat abad empat hingga tujuh Masehi lalu, seperti dilansir dari Portal Brebes.

Pelestarian resmi basa Sunda, sudah dicanangkan sejak tahun 2013 lalu di Jawa Barat. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) No. 69 tahun 2013, Bahasa dan Sastra Sunda dicanangkan sebagai muatan lokal wajib bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah, bagi seluruh sekolah di Jawa Barat. 

Pendidikan bahasa Sunda sangat penting dilaksanakan untuk di sekolah, karena bertujuan untuk membedakan tingkatan bahasa Sunda. Tergantung kepada siapa yang diajak berbicara, maka bahasa Sunda harus menggunakan tutur kata Lemes (halus), Loma (akrab), atau kasar.

Menurut Ahmad Ghibson Al-Busthomi sebagai Pakar Hikmah Kasundaan, yang dilansir dari situs UIN Sunan Gunung Djatingamumule (melestarikan) basa Sunda berarti harus dilaksanakan oleh semua warga Sunda. Jangan sampai ada kesan budaya Sunda hanya milik budayawan dan sastrawan saja. Pesantren dianggap pula tidak menjaga kelestarian Sunda, dengan mengajarkan bahasa dan menulis aksara Jawi atau Pegon.

Namun menurut Ghibson, ada empat cara untuk tetap ngamumule Sunda sebagai warga biasa. Pertama, yaitu menghormati, memuliakan, serta mengagungkan kesenian seperti pentas, berbicara basa, memakai baju adat, dan menjaga sikap etika Sunda. Kedua yaitu terus menyerap dan menerima makna baru ke dalam basa Sunda. Ketiga adalah membangun kreasi baru di bidang perkakas dan teknologi. Keempat adalah meningkatkan kebudayaan karuhun (leluhur) Sunda, dengan mengembangkan bahasa sehari-hari, sastra, hingga seni.

Ghibson menambahkan bahwa tahap pengembangan budaya Sunda harus dengan dua cara. Satu yaitu dengan meningkatkan lokalitas wilayah dan sejarahnya. Kedua, dengan terus mewariskan budaya Sunda secara berkelanjutan.

Janten, sakanteunan ngahaturkeun filosofi hirup ti Kang Prabu Siliwangi, nyaeta Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh ka sadayana.

Sanes teu sono, tapi bade permios. Wassalam.

Sedikit Carita Buhun Sunda

Oh ya, ada satu lagi penggambaran mitologi Sunda, yang seperti biasa, kurang dapat dicek keabsahannya. Warga pulau Jawa saat awal penjelajahannya, memang berpusat di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sementara wilayah Jawa Barat belum terjamah sama sekali.

Namun, ekspedisi untuk membuka lahan dengan membabat hutan di Jawa Barat saat jaman tersebut, ternyata cukup menghasilkan. Walau begitu, warga perlu melalui naik-turunnya pegunungan, dalamnya lembah, curamnya jurang, serta banyak hewan berbahaya seperti harimau, buaya dan ular berbisa.

Karena itu, sejak keberhasilan warga pulau Jawa untuk mendiami Jawa Barat, dan bahkan hingga membangun kerajaan sendiri selama berabad-abad lamanya, memberi simbol khusus pada warga Sunda. Maung alias Harimau yang kuat dan sanggup menguasai hutan belantara, adalah simbol tersebut.

Tapi ya, jangan sampai langsung pamacan dan berkoar "Aing Maung!"

Aing Maung! (YouTube).

Kombo Sangar Ala Yakuza dan Kabuki Jepang di Film Kokuho

 

Pemeran Kabuki wanita yang aselinya pria (TMDB).

Menanggapi jaman ramai streamer dan roleplayer GTA di YouTube dan sajabana, saatnya beralih ke masa lalu dengan menyambut film kombinasi keduanya, berjudul Kokuho. Film yang tayang di sinema Indonesia bulan Februari ini, memiliki rating yang cukup untuk sebuah film drama kejahatan, yaitu D17. 

Bagi yang paham vibe-nya, maka mengerti bahwa Yazuka Jepang memiliki latar belakang sadis, namun sering berjumpalitan alias saling berselingan dengan dunia hiburan. Entah bagaimana keadaannya sekarang di tahun 2020an. Tetapi daripada membahas lingkar kejahatan yang sudah lama menurun pamornya, dan mengacu pada dunia yang brutal, maka coba dicek dari segi seni budayanya.

Kokuho bertema dunia seni, khususnya Kabuki sebagai seni teater tradisional Jepang. Tokoh utamanya memiliki latar sebagai anggota Kabuki, sekaligus seorang anak bos Yakuza. Animo yang berbeda tentunya, sehingga para kritikus memberi banyak penghargaan bagi film ini. Mulai dari Japan Academy Awards sebagai lokasi aslinya, hingga Oscar's Academy Awards dari Hollywood sana. Jadi, film ini mudah direkomendasikan bagi para penggemar film drama, khususnya yang berbau kejahatan.

Kabuki Jepang, Ketoprak Jawa, dan Longser Sunda

Nah seperti sudah diutarakan sebelumnya, daripada membahas sangarnya para Yakuza, lebih baik mengambil sudut pandang dari ranah seninya saja. Dari cuplikannya, Kukoho menunjukkan banyak adegan yang lebih berlatar seni teater dan segala keglamorannya. Hanya sedikit adegan berisi kerasnya para Yakuza.

Kabuki adalah sejenis teater tradisional Jepang, yang mulai dikembangkan dan ramai sejak tahun 1603 lalu. Khas dari teater ini adalah para karakternya berdandan warna putih, dengan garis merah di seluruh wajahnya. Kombinasi pola yang berbeda pada setiap karakternya, dan biasa disebut sebagai Kumadori. 

Dari etimologi-nya (yang setiap nama dan istilah bahasa Jepang lebih mengacu, daripada morfologinya), Kabuki berarti gabungan kata dari kemampuan, menyanyi, dan berdansa. Berbeda pula dengan padanan katanya, yang berarti kabuku atau aneh, nyeleneh, atau beda dengan yang biasa. Karena itu, pertunjukan Kabuki selalu luar binasa, layaknya anime Jepang yang selalu heboh.

Jika disandingkan sederhana, dandan Kabuki yang berwarna putih, sangat mirip dengan Wayang Orang. Namun dari segi hebohnya pertunjukan, Kabuki bisa disandingkan dengan hebohnya teater tradisional Jawa, yaitu Ketoprak. Teater ini ramai dimainkan dari Jawa Tengah hingga Timur, dengan khas gaya bahasa Jawa yang lugas dan keras, tidak seperti kesehariannya. Teater yang mulai keluar dari ranah Keraton sejak 1922 lalu, meramaikan kekayaan teater tradisional Jawa.

Berbeda pula perkembangan di daerah Sunda, alias daerah Jawa Barat. Khas kekonyolan Sunda tersirat dengan kuat di Longser Sunda, sejak tahun 1920 lalu. Sebelum dikenal hingga saat ini, teater tradisional ini sempat bernama awal doger, lalu lengger, dan akhirnya baru longser. Khas paling berbeda pada longser, adalah sesi bobodoran Sunda, yang kental dengan komentar sosialnya. Saat ini, longser sering diadakan sebagai seni saat hajatan (kawinan) berlangsung, daripada sebagai seni pertunjukan panggung atau jalanan.

Penulis memiliki minat khusus pada seni longser, khususnya saat acara nikahan berlangsung. Jika pengunjung acara tiba sebelum prasamanan dimulai, maka akan disajikan dengan pertunjukan longser. Humor, tari, serta tema sosial yang ditampilkan, menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis. Apalagi bobodoran-nya yang cukup dimengerti oleh penulis. 

Nah, sedikit mengacu pada Kabuki di film Kokuho, seni tradisional sejenis ini sering merubah karakter wanita, namun diperankan oleh seorang pria. Bahkan dari seni teater longser, ada istilah yang cukup kasar, yaitu Bebencongan. Sesuai namanya, bencong berarti pria yang bertingkah terlalu kewanitaan. 

Tetapi dari segi seni, apalagi humor, perubahan peran ini biasa dilansirkan sebagai bagian dari ekspresi, atau memang keterbatasan jumlah aktor-aktrisnya. Jika dicek hingga seni teater dari Eropa sana, maka peralihan jenis kelamin demi mengisi suatu peran, cukup biasa dan sering dilaksanakan pula.

Lucunya lagi, khusus untuk longser sunda, bebencongan ini khas dengan dandan ala warna putihnya. Karena kulit cokelat para pria yang berasal dari Tatar Sunda, maka lebih cocok berdandan tebal, apalagi niatnya memang humor. Jadi, walau dari sini terdengar agak lucu, namun nyambung dengan animo film Kokuho.

Jadi, sekeras apa Kabuki dan Yakuza jika digabungkan dengan peran wanita? Coba dicek saja sinopsisnya.

Bebencongan ala Longser Sunda (YouTube).

Sinopsis Film Kokuho

Kikuo Tachibana (Ryo Yoshizawa) adalah seorang anak Yakuza terkenal, di tahun 1964 lalu. Sejak berumur 15 tahun, Kikuo telah ditinggalkan ayahnya akibat kekisruhan di lingkar kejahatan mereka. 

Namun sejak berumur muda, Kikuo sama sekali tidak berminat dengan hidup keras dan sangar ala Yakuza Jepang, yang terkenal sadis dalam menjalankan bisnisnya. Kikuo justru lebih tertarik pada seni teater tradisional Jepang, bernama Kabuki. Tidak seperti biasanya, peran heboh ala Kabuki tidak diperankan oleh Kikuo. Melainkan dirinya lebih memilih peran wanita, yang wajar dilaksanakan sebagai pertukaran gender di teater Kabuki.

Selama menjalani karir sebagai aktor Kabuki, Kikuo dekat dengan Shunsuke Ogaki (Ryusei Yokohama), yang merupakan anak Sensei di Padepokan Seni Kabuki-nya. Keduanya yang satu generasi, menyebabkan pertemanan mereka semakin erat. 

Lebih dari beberapa dekade dijalani oleh Kikuo di dunia Kabuki, tanpa begitu berandil dalam dunia Yakuza warisan ayahnya. Namun, sifat dan sikap sangar Kikuo mulai muncul dalam dirinya. Apalagi, Kikuo kini justru bersaing dengan sahabatnya sendiri, demi meraih penghargaan sebagai aktor terbaik Kabuki seantero Jepang.

Bagaimanakah akhirnya yang penuh luka-liku budaya dibalik modern-nya Jepang? 

Jawabannya, tentu dapat dinikmati saat teater tradisional ala sinema Indonesia.

17 Februari 2026

Duo Film Kerajaan China yang Sama Epiknya: Blades of The Guardians, Three Kingdoms: Starlit Heroes

 

Topeng siapa ini? (TMDB).

Nah, ada kombinasi khusus di minggu ini, yaitu duo film dari China, yang khas ala epiknya jaman kerajaan terdahulu, berjudul Blades of The Guardians (D17) dan Three Kingdoms: Starlit Heroes (R13). Mungkin, perilisan kedua film ini untuk menyambut Tahun Baru China alias Imlek, di bulan Februari ini.

Walau keduanya memiliki referensi yang sama yaitu animasi, tetapi keduanya disajikan berbeda kali ini. Blades of The Guardians adalah film dengan aktor-aktris nyata, alias sejenis Live Action. Sementara Three Kingdoms: Starlit Heroes disajikan ala animasi, yang jelas tengah naik pamornya dari negara China sana.

Siapa pula ini anak kecil? (TMDB).

Film Blades of The Guardians

Film ini ternyata adaptasi langsung dari judul yang sama, namun berformat animasi dan dirilis serial berjumlah 15 episode, tahun 2023 lalu. Cuplikan serial animasinya tidak menjelaskan apapun, jadi langsung bahas adaptasi filmnya. Yang ternyata sama saja, cuplikannya tidak memberi tahu sama sekali plotnya (hehe). Dan sekali lagi, ternyata adegan kungfu bersenjata ala wuxian, sangat ciamik dengan koregrafi yang mantap. 

Entah apa maksud dari dua jenis adaptasi film Blades of The Guardians ini. Tampaknya memang hanya memancing saja dari segi adegan gelut mantap, biar tidak perlu berbelit-belit dengan plotnya. Ataukah ada plot besar dibaliknya? Biar penonton baru memahaminya setelah menonton hingga akhir? Entahlah... Karena sinopsis film masih berkutat pada cerita mengawal seorang kriminal berbahaya, yang langsung diadaptasi dari manhwa-nya.

Tetapi ada satu yang harus diingat, yaitu kembalinya sosok aktor kungfu terkenal dari China sana, bernama Jet Li yang berperan sebagai Chang Guiren. Aktor yang sebenarnya satu jaman dengan Jackie Chan ini, tidak begitu sering berkutat dalam perfilman China saat ini. Padahal Jackie Chan masih sering berperan, contohnya adalah tiga film yang dirilis pada tahun 2025 lalu.

Namun, kemunculan aktor yang telah berumur 62 tahun ini, tentu memberi angin segar bagi para penggemarnya. Jet Li adalah satu aktor yang sama-sama berasal dari akademi beladiri China. Berbeda dengan Jackie Chan yang berasal dari Opera Tradisional, Jet Li adalah seorang atlet Wushu saat masih muda, yang lalu berkarir sebagai seorang aktor.

Cao Cao yang mulai Epik (TMDB).

Film Three Kingdoms: Starlit Heroes

Sekarang saatnya format film yang sedang naik pamor di China sana, yaitu tersaji ala animasi 3D. Berbeda dengan film sebelumnya, Three Kingdoms: Starlit Heroes ini berlatar langsung sejarah China. Ya, tepatnya saat akhir Dinasti Han Timur, yang memulai Kisah Tiga Dinasti Kerajaan China. Bagi yang suka dengan sejarah China, pasti mengenal masa ini. Ketiga Dinasti Kerajaan seringkali bertikai dalam sebuah peperangan besar, yang semakin meramaikan epiknya sejarah China. 

Penulis cukup heran mengenai cuplikannya, karena rating filmnya ternyata R13, alias remaja bisa ikut nonton. Mungkin bagian dari kurikulum sekolah China, yang sidaj mengenalkan langsung cerita sejarahnya.  Atau karena formatnya animasi 3D, yang lebih mudah dicerna mata dan diterima oleh banyak kalangan, khususnya China dengan banyak syarat sensornya.

Di film ini, berfokus pada Jenderal Cao Cao (Tan Jianci), yang menguasai Kerajaan Utara China. Cao Cao berhasil menduduki kursi Kaisar, setelah meruntuhkan Dinasti Han yang sebelumnya berkuasa. Cao Cao berhasil meraih singgasana kerajaan, karena sebelumnya berjasa saat peperangan besar di Guandu. Nah, seluruh adegan film ini, berlatar kisah dan peran Cao Cao selama masa peperangan Guandu, hingga akhirnya berhasil menduduki tahta kerajaan. 

Jenderal Cao Cao dalam sejarah aslinya, memiliki andil dalam melindungi tahta kerajaan dari berbagai pihak keluarga dinasti yang bertikai. Selain itu, Cao Cao seringkali menang saat melancarkan kampanye merebut wilayah, dari utara hingga pusat China. Hingga akhir hayatnya, Cao Cao dikenal sebagai tokoh pionir yang memulai momen bersejarah Tiga Dinasti Kerajaan di China.  

Entah seberapa banyak referensi sejarah yang diadaptasi dalam film epik ini. Tetapi dari nama Cao Cao saja, sudah cukup memberi animo yang jelas. Istilahnya, sosok Cao Cao adalah seorang prolog, dari besar dan masifnya peperangan di jaman Tiga Dinasti Kerajaan China. Animo ini sudah terasa kolosal di jaman aslinya, hingga sekarang.

29 Januari 2026

Tanpa Batasnya Simbol Saat Gelut Saitama vs Boros di One Punch Man

 

Saitama vs Boros (Fiction Horizon).

Hehe, saatnya membahas satu anime yang sangat kentara dengan referensinya, OPM alias One Punch Man. Bagi para penggemar anime, tentu tahu bahwa OPM adalah parodi dari segala jenis anime, khususnya Battle Shonen atau Super Hero. 

Namun menurut penulis, ada satu adegan yang sangat kentara simbolismenya, daripada referensi Budaya Populernya. Ya sesuai judul, sangat kentara saat akhir musim pertama alias tahun 2016 lalu, saat Saitama duel melawan Boros diatas pesawat invasi. Bagi yang kurang ingat dengan gelutnya, bisa dicek saja di YouTube. Banyak kanal yang mengunggah klip khusus Saitama vs Boros.

Oh ya, sebelum membahas gelut yang lebih kentara ke penggambaran Boros, maka perlu diingat bahwa Saitama adalah referensi simpel. Saitama mengacu pada Biksu Shao Lin dari China, yang jelas berpakaian kuning dengan kepala botaknya. Bahkan selama bertahun-tahun, hidup Saitama hanya diisi latihan berat seharian, dengan hanya memakan pisang saja, layaknya biksu yang berlatih dengan pola makan vegetarian.

Simbol Ouroboros (Wikimedia).

Nama Boros

Boros mengambil referensi dari Ouroboros, yaitu sejenis simbol dari Mesir dan Yunani Kuno. Gambarnya cukup aneh, yaitu sejenis naga atau ular, yang memakan ekornya sendiri. Secara simbolis, interpretasi gambar ini adalah siklus tanpa akhir untuk kehidupan, kematian, dan kebangkitan kembali. Tetapi simbol ini berbeda jauh dengan Infiniti, yaitu bentuk pita berkesinambungan lebih jelas.

Padahal jika dicek secara sainsya, ular yang melahap ekornya sendiri, berarti ular tersebut sedang di penghujung hidupnya. Ular berarti gagal memangsa hewan lain, sehingga satu-satunya pilihan adalah melahap ekor sendiri. Atau, akibat ular yang stres dan salah mengartikan ekornya sendiri. Sesuai dengan anehnya sikap ular, dalam satu istilah frase bule, menggigit ekor sendiri berarti maksudnya adalah menyakiti diri sendiri.

Dari situ, cocok sebagai referensi langsung tentang kegilaan Boros, yang tiada habisnya. Boros adalah karakter jahat yang bertualang antar galaksi bersama anak buah dan pesawat miliknya, demi mencari gelut yang sepadan. Namun saat tiba di bumi, hasilnya adalah Saitama sanggup mengalahkannya. Bahkan, Boros merasa gelut tersebut tidak sepadan sama sekali, karena Saitama tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Dua Mata Boros

Kalau yang kurang ngeuh, pasti menganggap bahwa mata Boros hanyalah satu, alias di wajah saja. Padahal jika dicek adegannya, mata Boros ada dua, yaitu satu lagi berada di perutnya, yang menutupi kristal regenerasinya. Ya, dua mata ini adalah simbol dari dua dewa Mesir Kuno, yaitu Dewa Ra dan Dewa Horus. 

Oh ya, simbol satu mata ini tidak mengacu ke satu tokoh terkenal itu loh, yang memang matanya hanya satu, dan suka bikin kisruh sedunia, dari jaman terdahulu hingga sekarang.

Di mitologi Mesir Kuno, Dewa Ra adalah Dewa Matahari, dengan mata (kanan)-nya sebagai simbol. Dewa Ra bisa diartikan pula sebagai kekuatan besar dunia, yang dapat menghalau musuh manapun. Matahari bukan hanya simbol, karena dalam kesehariannya, warga Mesir Kuno menggunakan penanggalan matahari, alias 365 hari setahunnya. Khusus di Boros, berarti ini adalah mata di bagian wajahnya, alias penunjuk arah dan identitas.

Sementara mata kedua yang berada di perut, mengambil referensi simbol Mata Horus. Dewa yang satu ini, menyimbolkan kesejahteraan, kesembuhan, dan perlindungan. Maka, mata yang satu ini cocok ditempatkan di perut, walau tidak begitu jelas penggambarannya di tubuh Boros. Tetapi, Boros berkemampuan regenerasi yang sangat kuat dan cepat, sesuai dengan simbol Dewa Horus, dan siklus Infiniti (tanpa batas) ala Ouroboros.

Ada dua adegan yang perlu dicek mengenai kemampuan regenerasi Boros saat melawan Saitama. Yaitu saat Saitama memukul keras Boros, tepat di bagian perut. Lalu saat Saitama memukul cepat dan banyak, untuk menghancurkan seluruh tubuh Boros. Sayangnya, masih tersisa kristal regenerasinya, sehingga Boros berhasil menyembuhkan tubuhnya.

Bumi, Bulan, dan Matahari

Kali ini, bukan hanya mengacu pada simbol kedua karakter, tetapi adegan langsung saat gelutnya. Saat Boros akhirnya berhasil menendang keluar Saitama dari Bumi, dan berakhir di permukaan Bulan. Dari situ, Saitama tetap berhasil loncat kembali ke Bumi, dan langsung berhadapan dengan Boros.

Simpel saja seperti sudah diutarakan sebelumnya, Saitama adalah visualisasi Biksu Shao Lin dari China. Berarti, dengan dirinya yang berakhir di Bulan, layaknya mengingatkan China yang (secara tradisional) masih menggunakan penanggalan Bulan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Boros dari Mesir Kuno, sudah pasti berlandaskan siklus Matahari sebagai penanggalannya. 

Tidak ada definisi berarti dalam keduanya, karena memang menggambarkan dua jenis penanggalan berbeda. Di negara seperti China dengan kalender Bulannya, Hijriyah ala negara Muslim, serta penanggalan Jawa yang kental, Bulan memang menjadi landasan utama di kalender.

Sementara di seluruh dunia, Masehi alias penanggalan matahari, masih menjadi standar kerjasama internasional. Jika dicek sejarahnya, Mesir Kuno memang mempengaruhi banyak kerajaan dalam penanggalan mataharinya, sementara Yunani hingga Romawi Kuno masih menggunakan tanggal ala Bulan. Baru mendekati tahun Masehi, Romawi akhirnya mengadaptasi penanggalan Matahari.

Pendapat Penulis tentang Siklus Ouroboros

Penulis sendiri memiliki pendapat khusus dengan Ouroboros, yang sangat destruktif pada diri sendiri (dan orang lain), padahal bagian utama dari siklusnya. Ya, bukannya penulis memiliki masalah menyakiti diri sendiri (atau orang lain), tetapi terdapat suatu bentuk destruktif yang perlu dihindari.

Tidak hanya mengacu pada Biksu yang damai, atau Ouroboros yang destruktif, tetapi penulis memang perlu menjabarkan simbol ini di banyak media. Dari segi ini, walau saya menulis dan menjabarkan simbol yang ada di banyak media terkenal, namun cukup sulit untuk menghindari pola destruktif-nya. Ya, setiap media memang memiliki pola ancur-ancurannya sendiri.

Apalagi jika mengacu pada Seni Populer atau bahkan Jurnalistik, yang kehilangan dasar konsep serta Primbonnya (seakan Politik Praktis). Bahkan, beberapa media seperti itu, layaknya ngalor-ngidul di artikel Monsterisasi, yang (bisa jadi) tidak cocok referensinya, dan bahkan kurang sesuai dengan kebutuhan kesehariannya.

Nah karena itu, (mungkin) One Punch Man menjadi artikel terakhir Monsterisasi berisi anime. Nantinya artikel sejenis ini tidak akan ditulis setiap minggunya, dengan referensi yang lebih berat di genre dan media lain, khususnya horor.

Okeh, Amitabha.

23 Januari 2026

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece

 

Luffy sang Topi Jerami yang ternyata Jurig Persib (KapanLagi).

Sebenarnya sudah lama pengen nulis Monsterisasi tentang One Piece, apalagi dengan banyak referensi mengenai buah setannya, tetapi apalah daya dengan keadaan berita pada September 2025 kemarin. Seorang Infuencer pecicilan dan banyak pasukan bajak lautnya, malah ngebadut dan bakar-bakar gedung DPR. Jadi ya malas membahasnya, seakan nge-feed suatu kontroversi. Sang Influencer pun masih memanasi Inet dengan clickbait lainnya di akhir tahun kemarin.

Tetapi di awal tahun 2026 ini, tepatnya tengah musim Liga 1 sepakbola Indonesia, akhirnya ada genderang betulan yang bergaung dari Bandung sini. Ya, saat Persib menjadi juara pertengahan musim dengan mengalahkan Persija, lalu berkibarlah lima bendera koreo raksasa di stadion, berisi gambar Luffy yang tengah membawa piala Liga 1. Animo semacam ini, sekali lagi layaknya warga Bandung, menantang dan menimpa kesan buruk sebelumnya. 

Nya nuhunkeun Persib anu atos Juara Tengah Musim Liga 1 Indonesia. Nuhunkeun oge ka Bobotoh sareng Jurig Persib, anu ngobarkeun bandera Luffy. Saur kuring mah kanu kitu teh, tiasa ngajunjung kompetisi anu bersih sareng kiblat anu bener, nya eta sami berkarya tina jalur bener. Sakali deui, Nuhun!

Some Chase Noise, We Chase Horizons!

Luffy di GBLA (Instagram).

Saya akhirnya bisa nulis juga artikel tentang One Piece, khususnya karakter utama bernama Luffy. Sama seperti sebelumnya, satu karakter saja yang dibahas latar serta visualisasinya, karena menghindari (banyak) spoiler dan lebih terfokus. Apalagi Luffy dan buah setannya, cocok sebagai karakter yang kesetanan.

Luffy Sang Topi Jerami

Dari sini, saya menggambarkan satu benda paling kentara saja, yaitu topi jerami milik Luffy, yang tergambar pada bendera bajak lautnya, sekaligus julukan kru tokoh utama kita ini. Apalagi topi jerami adalah simbol janji antara dua karakter, yang akan dikembalikan oleh Luffy kepada Shanks, saat dirinya mencapai status bajak laut yang hebat.

Mengacu dengan simpel, topi jerami adalah sejenis topi berbahan jerami (lah?), yang dipakai sebagai topi surya. Berbagai bentuknya telah ada sejak jaman dahulu, seperti topi ala fedora atau topi petani yang kerucut. Hingga kini, topi jerami masih digunakan karena ringan dan tidak panas, dengan fungsi utama menghalau cerah matahari mengenai mata. Karena itu, topi jerami dipakai oleh banyak orang saat beraktifitas siang hari di luar ruangan, khususnya di Jepang.

Sesuai dengan tema bajak laut di One Piece, topi jerami (entah kenapa hanya Luffy dan Shanks yang punya), adalah simbol khusus mengenai keadaan para bajak laut, alias para pelaut. Ya, topi ini identik pula dengan para pemancing, yang beraktifitas di tengah laut bersama terik mataharinya. 

Topi pemancing ini cocok dengan keadaan di manga dan anime One Piece, yaitu simbol 'mencari makan' di laut. Bahkan di beberapa episode, yang menunjukkan Kru Topi Jerami memancing ikan untuk dimasak. Jika tidak habis dagingnya, sisa ikan (raksasa) akan dijual saat berlabuh ke pulau. Bahkan ada satu episode saat Kru Topi Jerami perlu menjual ikan hasil pancingan demi menambah dana, yang dipakai untuk memperbaiki Going Merry di Water 7 (selain harta karun Skypea).

Konsep topi jerami ini berarti cukup dalam pula, karena Luffy lebih mementingkan topi daripada hidupnya. Bahkan ada satu film (non-canon), yang fokus berkisah Kru Topi Jerami saat membobol satu markas Marinir, demi meraih kembali topi miliknya. Judulnya One Piece 3D, dari tahun 2011.

Cukup sederhana layaknya trope atau gag anime yang lucu. Tetapi coba ingat seluruh Arc di One Piece, yang aslinya Battle Shonen. Setiap Arc mengisahkan Kru Topi Jerami yang menyelamatkan warga satu pulau, dari tindasan para bajak laut jahat. Luffy sangat tidak suka dengan penindasan yang semena-mena. Karena, mereka adalah warga biasa yang hanya bertahan hidup saja.

Buah Setan

Nah, dimulailah paradox Luffy sebagai pahlawan. Luffy (selalu) tidak ingin dianggap sebagai pahlawan, namun bajak laut yang senang bertualang. Ya, Luffy memiliki tingkat IQ yang nyebelin, namun menurut penulis, itu hanya pelarian saja. Luffy sebenarnya cukup pintar, namun menolak status tersebut, dengan hanya ingin bertualang sambil gelut saja. 

Tetapi, Luffy sebagai seorang kapten bajak laut dan buah setannya, memang cocok. Buah setan ini digambarkan oleh mangaka Eiichiro Oda, layaknya buah eksotis yang tiba dari daerah tropis sedunia, hingga benua Amerika yang baru ditemukan. Referensi yang kentara, bahwa cerita One Piece mengacu pada masa keemasan bajak laut di Karibia sana (abad 17-18). 

Referensi buah eksotis sebagai bagian dari setan, bukan karena kemampuan aneh yang diberikannya saja, tetapi mengacu pada potensi untuk memanggil setan besar sebelumnya. Belum dijelaskan langsung oleh Eiichiro Oda, tetapi sudah ditampilkan pada film One Piece: Red, dimana fokusnya adalah karakter Uta dan buah setan Musiknya. 

Uta yang bekerja sebagai penyanyi, ternyata sempat memanggil setan dalam buah musiknya. Padahal Uta masih kecil saat pertama kali memanggilnya, dan berakhir satu pulau yang dibantai habis. Shanks yang berada disana, harus menghalau setan tersebut bersama kru-nya. Walau film ini yang canon hanya Uta dan Shanks-nya saja, tetapi cukup menggambarkan potensi setan dari buah ajaib ini. Uta yang belum pernah melatihnya saja, sanggup memanggil setan sekuat itu.

Bahkan ada satu pepatah canon dari One Piece, bahwa buah setan adalah hasil ajaib dari minat manusianya. Sensei Oda pun beberapa kali menggambarkan Luffy yang mencapai Gear 5th alias telah Awakened, dengan wajah hitam dan bola mata merah, seakan setan yang baru saja muncul dengan kesetanan. Jadi apapun yang terjadi di dunia, buah setan selalu menjadi mitos nyata, tentang perubahan besar di One Piece.

Buah Setan Gomu-Gomu dan Revolusi Industri

Namun, bagaimana dengan sikap pahlawan ala Luffy dan Kru Topi Jerami? Nah ini lebih cocok lagi. Daripada digambarkan ala simbol Buah Nika sebagai Dewa Kemerdekaan di One Piece, lebih cocok dicek saja referensinya.

Buah Gomu-Gomu alias karet, adalah komoditas yang seharusnya jarang. Sejarah ditemukannya pohon karet, adalah sebagai pohon endemi asli Amerika Selatan, khususnya Brazil. Sejak jaman koloni di Amerika, pohon karet lalu disebarkan ke seluruh dunia, dengan beberapa lokasi seperti Indonesia, yang cocok ditanam pohon karet.

Abad 17an adalah akhir dari jaman Renaisans, saat banyak negara Eropa memulai kolonialisme, dengan wacana menambah sumber daya alam mereka. Untuk apa? Demi menjalankan dunia progresif dan kemajuan ilmu sains, yang saat itu kurang dibarengi perkembangan teknologinya. 

Namun bukan itu fokus artikel ini, dan kembali ke fungsi karet itu sendiri. Komoditas karet adalah zat baru bagi negara sedunia, yang membuka potensi besar lainnya. Bahkan tanpa karet, saat ini kita tidak memiliki komoditas seperti karet atau plastik sintetis, dan hanya memakai bahan kayu, kulit, serta logam saja, layaknya sub-genre SteamPunk. Jadi, pohon karet adalah satu komoditas penting yang dioprek saat jaman Viktoria, dan berhasil membawa dunia menuju jaman Revolusi Industri.

Sekali lagi, para penggemar One Piece pasti tahu, bahwa dunianya mengacu pada jaman bajak laut dan kolonialisme. Jadi sebenarnya Sang Buah Setan Gomu-Gomu, adalah komoditas yang berhasil meng-carry dunia, menuju jaman keemasan berikutnya. Ya, memang tidak se-nihil simbol pecicilan ala Buah Nika. Biasa-lah Sensei Oda, tahu aja cara ngejebak pihak yang kurang paham.

Perubahan Iklim

Nah kalau yang satu ini sih, sudah cukup jelas ya, tetapi penulis saja yang ingin menambahkannya. Perubahan Iklim memang satu wacana yang sangat kentara di One Piece, bahkan kini hampir disejajarkan dengan tingkatan anti-rasisme-nya.

Semenjak dibukanya kisah Kerajaan Lulusia yang hancur seketika oleh Imu, dan menyebabkan permukaan laut meninggi 1 meter, kisah One Piece di Arc Pulau Egghead mulai mengacu ke penyebab anehnya geografi dunia. Vegapunk yang menyiarkannya, bahkan mencatat tinggi permukaan laut bumi sempat naik 100 meter. Segitu saja sudah menunjukkan, bahwa dunia One Piece semakin terbanjiri oleh lautan. Bahkan, nantinya yang tersisa hanyalah Red Line sebagai benua tertinggi, sementara seluruh pulau akan terendam. 

Seluruh kisah geografis ini, tentu mengacu pada perubahan iklim, yang tahun 2025 kemarin ternyata memporakporandakan seluruh dunia. Contoh paling dekat, adalah banyaknya badai topan yang tiba di Asia Tenggara, khususnya di Filipina dan Vietnam. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika kedua negara tersebut, badai topan yang tiba biasanya berjumlah sekitar 20 saja dalam waktu setahun. Namun di tahun 2025 kemarin, jumlah badai topan yang tiba di hampir mencapai 30! Tidak heran banyak bencana alam akibat cuaca di tahun 2025 kemarin.

Kembali lagi ke One Piece, dengan banjirnya seluruh dunia, maka siapa yang paling diuntungkan? Ya jelas Imu, serta kawan-kawannya di Tenryuubito, sebagai Top Global 1 Persen yang tersisa. Sementara itu, seluruh dunia layaknya menjadi korban genosida. Para punggawanya yang memiliki Buah Setan sakti pun, akan sulit berkelana akibat langsung tenggelam oleh air laut.

Oh ya, ada satu teori fans One Piece dari Reddit, bahwa Imu adalah simbol dari Umibozu, sejenis Yokai laut di folklore Jepang. Daripada membahas teorinya yang cukup panjang, coba dicek saja efeknya. Kalau memang laut akhirnya meninggi dan menenggelamkan dunia, maka Imu sebagai Umibozu akan semakin kuat, karena sumber kekuatannya adalah laut itu sendiri!

Okeh, Adios.

21 Januari 2026

Kembali ke Masa Kerajaan China Ala Film Back To The Past

 

Hong yang berasa Isekai (TMDB).

Okeh, saatnya film yang beda dari ranah China sana, berjudul Back To The Past, yang tayang di sinema Indonesia. Film ini cocok sebagai film aksi pertama yang rilis di tahun 2026, bagi banyak penonton remaja (R13) tentunya.

Film ini menyatukan antara unsur futuristik dan masa kerajaan China terdahulu, tepatnya jaman Dinasti Qin. Memang, kisahnya diawali dengan sebuah perjalanan waktu, ditambah beberapa anggota tentara modern yang cukup isekai.

Tampaknya, China mulai beralih ke film aksi gelut yang mumpuni dan lebih realistis, daripada kisah epik mitologi bersama Naga dan fantastisnya perang kolosal. Mungkin, sudah saatnya China mengadaptasi kembali segi perfilman HongKong terdahulu, yang lebih mengisahkan adu kungfu.

Mengacu pada animo ini, sebenarnya di tahun 2025 lalu ada dua film China yang dirilis dengan aksi mirip. Keduanya yaitu film Operation Hadal di bulan September, dan Dongji Rescue di bulan Oktober. Kedua film bertema aksi yang lebih modern, yaitu buru sergap di sebuah kilang minyak, dan sesi penyelamatan sandera di kapal laut jaman Perang Dunia.

Dan kali ini, kisahnya lebih menarik lagi. Karena, di film Back To The Past adalah kombinasi antara aksi persenjataan modern, dengan kisah kungfu ala China sana. 

Cukup menarik memang, karena biasanya para tentara modern dilatih beladiri tangan kosong, yang dibantu dengan senapan. Sementara jaman kerajaan lebih fokus pada senjata tombak, perisai, baju zirah, busur-panah, serta pasukan serbu berkudanya.

Terlihat pada cuplikannya, beberapa karakter yang memiliki pistol, senapan serbu, serta rompi kevlarnya. Mereka bahkan sempat memasang ranjau darat, demi menghalau kejaran pasukan berkuda. 

Okeh, saatnya mengecek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Back To The Past

Hong Siu-lung (Louis Koo) adalah mantan pasukan modern China, yang terjebak di jaman kerajaan Dinasty Qin, selama 20 tahun lamanya. Dirinya sempat melalui perjalanan waktu ke masa lampau, demi sebuah misi yang merubah sejarah.

Selama 20 tahun berada di lokasi pengasingan, dirinya sudah cukup terbiasa hidup ala jaman kerajaan. Lokasi tersebut sengaja dibangun demi memantau keadaan Hong, dengan wacana dari Kaisar Qin (Raymond Lam Fung). 

Sebenarnya, keanehan kisah 'isekai' Hong telah dipantau lama, sehingga Kaisar Qin penasaran dengan keberadaannya. Selama beberapa tahun awal tibanya Hong di Dinasti Qin, Kaisar sempat belajar banyak hal tentang perkembangan jaman di China dari Hong.

Hingga tepat tahun ke-20 sejak Hong tinggal, ternyata tiba kabar lainnya yang cukup mencengangkan seantero kerajaan. Kaisar Qin disergap oleh sekelompok pasukan, yang memiliki persenjataan (modern) sama dengan Hong. Hong dan Kaisar Qin pun perlu merencanakan bersama, agar dapat menghalau pasukan tersebut, yang tampaknya memiliki misi sama dengan Hong, 20 tahun lalu.

Sanggupkah Hong menghalau serangan pasukan modern? Atau malah tergiur untuk kembali ke masanya? Dan bahkan mencoba membereskan misi aslinya, sebelum tinggal nyaman di Dinasti Qin?

Jawabannya, tentu ada di sinema aksi kungfu ala Indonesia.

14 Januari 2026

Berbincang Sunda Sebagai Budaya Bahasa Lokal di Jawa Barat

 

Aksara Sunda di Jalan Merdeka Bandung (Kagum Insight).

Punten, saatnya membahas Hari Kebangkitan Bahasa Sunda, yang dirayakan setiap 17 Januari, sejak tahun 2022 lalu. Tanggal penting ini digagas oleh Dedi Mulyadi, yang kini menjabat sebagai gubernur Provinsi Jawa Barat. 

Sedikit Sejarah Hari Kebangkitan Bahasa Sunda

Awal dicanangkannya Hari Kebangkitan Bahasa Sunda memang sempat kisruh, akibat politisi yang (seperti biasanya) sedang gimmick dari pusat sana. Sementara Dedi Mulyadi yang tidak menjabat posisi administrasi manapun, dan tengah aktif di salah satu partai besar, cukup berang menanggapinya. 

Dedi Mulyadi lalu meminta kepada pemerintah pusat, untuk mengesahkan tanggal 17 Januari sebagai Hari Kebangkitan Bahasa Sunda. Karena rekam jejak dan kontribusi Dedi Mulyadi sebagai pejabat di daerah Sunda alias Jawa Barat, maka wacana tanggal penting ini disahkan oleh pemerintah. 

Seperti dilansir dari Media Indonesia, maka untuk merayakan tanggal penting ini, dapat dijabarkan dengan satu kalimat berbahasa Sunda berikut. 

'Rahayu selawasna Hari Kebangkitan Bahasa Sunda! Tetep budaya, tetep basa, supados tiasa nyandakkeun ka samudaya.' 

Paribasa Sunda Lelea dari Indramayu (Wikimedia)

Keseharian Berbahasa Sunda 

Menurut penelitian ringkas tahun 2021 yang dilaksanakan oleh Dr. H. Wawan ‘Hawe’ Setiawan, M.Sn, selaku ketua Ketua Lembaga Budaya Sunda dari Universitas Pasundan, penggunaan bahasa sunda sehari-hari sangatlah kental diantara anak muda.

Wawan menyatakan, bahwa lembaga pendidikan (sekolah dan universitas) telah baik mengajarkan bahasa Sunda yang terstandarisasi (sebagai muatan lokal atau jurusan kuliah). Ternyata, saat kajian dilaksanakan di lingkungan non-formal, maka komunikasi bahasa Sunda yang 'kekinian' dapat dan harus diapresiasi, karena lebih fleksibel.

Menurut Wawan, bahasa Sunda digunakan oleh milenial, sebagai label untuk berbagai karya produk, contohnya pada desain kaus, makanan, hingga produk tembakau. Generasi milenial saat ini tidak meninggalkan bahasa Sunda, melainkan dipandang sebagai elemen lokal dan 'pembeda' yang dominan. 

Maksud Wawan, justru bagi milenial yang mengambil langkah inovatif tersebut, adalah cara mereka untuk mengoreksi hal yang sudah dominan dengan ragam mereka sendiri. Maka, kearifan lokal masih bernaung dalam jiwa para generasi milenial.

Bahkan, menurut Wawan, ragam bahasa Sunda seperti ini dari generasi muda, tidak perlu dibuat strukturnya. Nantinya, tidak akan ekspresif lagi. Ranah antara ekspresif dan strukturisasi, harus dijaga perbedaannya, karena mengacu pada sistem yang sebetulnya masih perlu dikoreksi. 

Sementara dari penulis sendiri, jujur saja lebih sering berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Bahkan, saking dominannya, justru hanya bertutur-kata bahasa Indonesia, saat menulis di Blog ini saja (P). 

Karena itu, kadang berbagai kata Sunda yang 'terasa enak,' sering dilampirkan dalam banyak artikel di blog ini, biar terasa lebih komunikatif. Atau, penulis merasa kurang cocok dengan kata yang berbahasa Indonesia, sehingga memilih kata dari Sunda saja (P).

Ya, kadang kerasa pabeulit letah sih (alias tongue twister), tapi mumpung ngeunaheun.

Paguyuban Pasundan

Sebenarnya, urusan kebangkitan bahasa daerah, khususnya suku Sunda di Jawa Barat, sempat terjadi dalam sejarah. Fakta ini dilansir dari Edi S Ekadjati, dalam bukunya yang berjudul Kebangkitan Kembali Orang Sunda, yang dilampirkan dalam situs Bandung Bergerak

Edi S Ekadjati menyatakan bahwa awal abad 20 di Indonesia, alias Hindia-Belanda saat jaman tersebut, sedang tumbuh kesadaran dalam masyarakat pribumi, khususnya dari kaum terpelajar. Jaman tersebut, sangat dibutuhkan organisasi yang menghimpun kekuatan dan kebersamaan sesama warga.

Sehingga, terbentuklah banyak organisasi kaum pribumi yang bercorak etnis, agama, dan dagang. Contoh yang berdasarkan etnis, diantaranya adalah Budi Utomo, Rukun Minahasa, Paguyuban Pasundan, Kaum Betawi, serta Ambonsh Studiefonds. 

Sementara untuk segi ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam, dan dari segi agama diantaranya adalah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Perserikatan Kaum Kristen, dan sebagainya.

Paguyuban Pasundan didirikan dan dipimpin oleh DK Ardiwinata pada tahun 1913 lalu, demi membedakan suku Sunda, dengan organisasi pemuda di banyak wilayah lainnya.

Sedikit kisruh pandangan terjadi, akibat banyaknya warga terpelajar Sunda yang sebelumnya bergabung dengan Budi Utomo (1908), memilih bergabung dengan Paguyuban Pasundan saat tahun 1913. Masuknya warga terpelajar dari Sunda ini, dianggap sebagai perpisahan dari Budi Utomo.

Padahal, Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan memiliki konsep yang sama, yaitu konsep etnis, bahasa, kebudayaan, dan wilayah yang berbeda. Sementara itu pembeda utamanya, adalah dominannya penggunaan bahasa dan budaya Jawa di Budi Utomo, yang menyebabkan warga Sunda perlu berhenti mengikutinya.

Dari segi kebudayaan, ideologi Sunda sudah terbentuk sejak awal abad 8 hingga akhir abad 16. Budaya Sunda ini berwujud aksara, bahasa, etika, adat istiadat alias hukum, lembaga masyarakat, serta kepercayaan.

Namun akibat datangnya kebudayaan Islam dari pesisir utara, lalu berlanjut dengan tibanya kebudayaan Jawa dari kerajaan Mataram, mengakibatkan banyak warisan budaya Kerajaan Sunda tergerus oleh dominasi asing.

Bahkan, Belanda sempat mengalihkan minat pemuda terpelajar Sunda pada awal abad 20, dengan menganjurkan bahasa, bacaan, dan budaya Jawa. Memang, saat tersebut banyak warga Sunda, yang menganggap bahwa status terpelajar dan beradab, adalah dengan sanggup memahami budaya Jawa.

Puncaknya, berdirinya Paguyuban Pasundan adalah tonggak sejarah kebangkitan kembali, eksistensi dan peranan Sunda, di tengah lingkungan masyarakatnya sendiri, dan secara luas di Hindia-Belanda (dengan multi-etnis dan budayanya).

R Otto Iskandar di Nata yang merupakan seorang warga Sunda, mulai memimpin Paguyuban Pasundan sejak tahun 1929 hingga 1942. Memang, sebelumnya Otto sempat menjadi anggota dan pengurus cabang Budi Utomo di Banjarnegara, Bandung, dan Pekalongan. 

Selama memimpin Paguyuban Pasundan, Otto sempat menjalin banyak kerjasama dengan Budi Utomo, demi menghadapi musuh bersama, yaitu penguasa kolonial Hindia-Belanda.

03 Desember 2025

Aksi di Perbatasan Soviet ala Sekuel Film Sisu: Road to Revenge

 

Aatomi Korpi yang heran mengapa truk tidak sekuat dirinya (IMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah film aksi tanpa berpikir panjang dan membabi-buta, ala film berjudul Sisu: Road to Revenge, yang tentu sedang tayang di sinema terkayang Indonesia ini. 

Film ini adalah sekuel dari film sebelumnya berjudul Sisu di tahun 2023 lalu, yang dibuat oleh studio ternama, Stage 6 Film, dan didistribusikan oleh Lionsgate dari Hollywood. Karena itu, film pertamanya mendapatkan sanjungan sebagai aksi fantastis ala aksi brutal yang tanpa henti dan selalu high fever, layaknya ngimpi.

Namun, berbeda di sekuelnya kali ini, justru bekerja sama dengan Sony Pictures Entertainment sebagai distributornya, namun tetap mengisahkan karakter yang serupa tapi dari studio yang sama dan memang memiliki hak ciptanya.

Dalam film pertamanya, terlihat pada cuplikannya, tokoh utamanya bernama Aatomi Korpi (Jormi Tommila), yang baru saja menemukan sebuah setumpuk emas di lokasi berburu tambangnya. 

Namun, saat mengadakan perjalanan pulang, Aatomi malah dicegat oleh satu skuad pasukan Nazi, yang tengah membawa banyak tawanan perang. Tidak rela akan dieksekusi begitu saja, Aatomi melawan dan berhasil membasmi seluruh skuad, dan menyelamatkan tawanan yang ada. 

Aatomi Korpi sebenarnya bukan seorang warga biasa, namun mantan komandan dan veteran perang saat Perang Dunia 2 terdahulu. Setelah pensiun, dirinya menemukan bahwa kota kediaman serta seluruh keluarganya telah habis dibasmi akibat Nazi dan kegilaan perang disekitarnya. 

Aatomi yang ingin hidup menyendiri dan damai pun terpaksa beraksi kembali, akibat gangguan pasukan Nazi yang masih merajarela di sekitar kediamannya di Finlandia. 

Bahkan, Aatomi mempersenjatai seluruh tawanan Nazi (yang kebetulan sekawanan harem wanita) dengan senapan serbu otomatis, demi melindungi mereka sendiri. Satu wanita bahkan berkelakar, bahwa masa ini 'bukanlah siapa yang terkuat, tetapi tentang siapa yang tidak mengalah begitu saja,' alias SISU dari bahasa Finlandia.

Daaan, begitulah sinopsis film Sisu pertama, yang tentu masih bisa dicek di berbagai layanan siaran internet. Bagaimana dengan film keduanya yang membawa distributor berbeda? 

Nah, kalau di film keduanya ini, masih bersama anjing kesayangannya berwarna putih (yang sehat wal'afiat sejak film pertama), Aatomi tengah mengadakan jalan-jalan daratan (roadtrip) mengendarai truk barunya (yang entah dirampas darimana dan siapa) di perbatasan Uni Soviet.

Kali ini, targetnya adalah seorang petinggi KGB dari Uni Soviet, bernama Yeagor Dragunov (Stephen Lang). Setelah kekisruhan di film pertama, Aatomi tampaknya berhasil melacak operasi militer mana yang membasmi seluruh keluarga dan kediamannya. Dan, Yeagor Dragunov adalah seorang komandan yang sempat memimpinnya. Dan kali ini lagi, tujuannya bukan 'membersihkan sisa perang dan Nazi,' tetapi membalas dendam sepenuh amarah hati milik semuanya. 

Yeagor Dragunov tentu bukanlah orang biasa di KGB, dan tidak rela begitu saja ingin mengalah dari seorang pensiunan penuh murka dari Finlandia ini. Dengan peringatan dan bantuan dari sekawanannya di KGB, Yeagor menyiapkan banyak operasi serta perangkap untuk dapat 'menanggulangi' dendam kesumat masa lalu milik Aatomi. 

Sayangnya, kali ini seluruh perspektif (alias sudut pandang) film diarahkan melalui posisi karakter Yeagor Dragunov. Seluruh aksi tembak menembak, bantai membantai, dan buyar meledak kini terlihat dari pandangan mata sang Yeagor. Kemunculan Aatomi Korpi pun layaknya seorang monster buas beringas, yang muncul tanpa peringatan dengan berbagai keahlian liarnya di jalanan perang.

Padahal, Yeagor Dragunov adalah seorang yang diminta KGB untuk membasmi seluruh kegilaan Aatomi Korpi. Namun, dirinya yang sudah jelas lebih banyak durasi adegannya, harus berjibaku dengan posisi karakternya yang jelas-jelas sudah lumrah dianggap antagonis.

Okeh, silahkan nikmati saja hingar-bingar ala aksi dari Eropa sana yang belum move-on dari Perang Dunia terdahulu di film Sisu: Road to Revenge. 

26 November 2025

Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21

Ilustrasi tradisi budaya Indonesia (Freepik).

Saat bidang keilmuan dongeng dikembangkan, inovasi terpenting adalah analisa materi yang komparatif. Dilansir dari Britannica, standar identifikasi dongeng diciptakan, yang merujuk pada balada (oleh F.J. Child), dan untuk plot serta komponen motif pada dongeng dan mitos (oleh Antti Aarne dan Stith Thomspon). 

Komponen motif layaknya Pamali di budaya Pulau Jawa, yang secara tradisional mengemukakan apa yang bisa dilaksanakan atau tidak. Kadang, Pamali mengacu pada banyak hal berbau mistis atau takhayul (yang sering muncul dalam berbagai dongeng), karena sesuai dengan pewarisan ceritanya yang empiris, dan belum didukung oleh kajian yang tepat.

Dengan standar tersebut, ahli dongeng dari Finlandia yang dipimpin oleh Kaarle Krohn, mengembangkan metode penelitian sejarah-geografis. Teknik ini mengenali banyak varian dongeng, balada, teka-teki, atau sejenis prosa yang diklasifikasikan dari tempat dan waktu koleksi, agar kajian pola distribusi dapat dilaksanakan dan membentuk pola orisinalnya. 

Standar tersebut layaknya kajian dongeng di Indonesia, yang sejak merdeka dapat  mengkategorikan asal dongeng sesuai dengan wilayahnya secara administratif, tanpa perlu bantuan ahli dongeng dari Eropa (khususnya Belanda). Biasanya, mengacu pada suku di wilayah tertentu, yang akhirnya terdaftar sebagai provinsi atau kota di Indonesia.

Metode penelitian sejarah-geografis memang mengacu pada statistik, dan tidak berdasar spekulatif, jika dibandingkan dengan ahli dongeng antropologi, yang mendominasi setengah awal abad 20 lalu.

Setelah Perang Dunia II berakhir, tren baru akhirnya muncul, khususnya di AS. Minat pada dongeng tidak hanya terbatas pada komunitas rural alias pelosok, namun dikenali di banyak kota, dengan komunitas tertentu berkarakteristik seni, budaya, dan nilai yang mengacu pada identitas mereka.

Namun, ahli Marxisme terus mengacu pada dongeng sebagai bagian dari kelas pekerja. Sementara di komunitas lainnya, batasan kelas telah hilang konsepnya, dan bahkan pada berbagai tingkatan pendidikan. 

Setiap kelompok yang mengekspresikan kepaduan dirinya dengan menjaga tradisi yang sama, diklasifikasikan sebagai bagian dari 'warga,' walau berbeda faktor pekerjaan, bahasa, tempat tinggal, umur, agama, dan etnis aslinya. 

Dari segi ini, layaknya banyak fakultas bahasa yang dipadukan dengan seni pada satu struktur yang sama pada universitas di Indonesia. Komunitas tersebut berkembang sebagai pemerhati, praktisi, dan ahli kebudayaan, khususnya saat pagelaran seni dan bahasa yang mengisahkan dongeng.

Perubahan ini mengacu pada perbedaan antara masa lalu ke sekarang, dengan pencarian dan investigasi mengenai asal, maksud, dan fungsi dongeng untuk jaman sekarang. Sehingga, perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap merusak tatanan budaya.

Dengan sudut pandang kontekstual dan pertunjukan, analisis di akhir abad 20, contohnya pada cerita, lagu, drama, atau budaya, telah merubah fungsi dongeng dari sebuah rekaman budaya, menjadi bagian dari budaya itu sendiri.

Setiap fenomena yang terjadi. dianggap sebagai bagian dari momen yang muncul disebabkan interaksi antara individu dan kelompok sosial, yang memenuhi berbagai fungsi serta memuaskan kebutuhan para artis serta penontonnya.

Dengan pandangan sosiologis dan fungsional ini, sebuah acara dapat dimengerti hanya dalam konteks keseluruhan saja, diantaranya dari biografi dan kepribadian artis, perannya di komunitas, repertoar dan keseniannya, peran penontonnya, momen saat pertunjukan berlangsung, serta kontribusi acara bagi maksud dari dongengnya itu sendiri.

Dengan begitu, setiap komunitas budaya, baik itu berasal dari warga atau sanggar seni khusus, dapat menginterpretasikan khas budaya serta dongeng tradisional dalam sebuah pertunjukan. Komunitas budaya adalah representasi dari banyak nilai budaya, yang normanya layak dipertahankan sebagai identitas komunitas. 

Namun, praktisi seni dapat mengkaji, merekayasa, serta mempraktekan perubahan sosial, sesuai dengan kebutuhan pertunjukan atau keadaan sosial yang sedang berlangsung. Contohnya baru-baru ini, kisah Malin Kundang yang berasal dari tanah Minang, diadaptasi menjadi sebuah film dengan perubahan kondisi latar serta sosialnya. Film berjudul Legenda Kelam Malin Kundang pada bulan November lalu, disebut pula dengan istilah reinterpretasi dongeng.

Lalu muncul kajian dongeng saat pertengahan abad 20, yaitu sebuah konsep legenda urban (urban legend). Yaitu, sebuah cerita mengenai momen tidak biasa, yang banyak warga percaya atau tidak. Legenda urban menjadi media yang semakin lumrah, layaknya berkisah legenda urban melalui media, khususnya di media massa. 

Karenanya, banyak cerita legenda urban berisi hantu yang tiba-tiba muncul di latar sebuah adegan film atau foto, dan berbagai pesan kesetanan yang tersembunyi (contohnya pada banyak lagu yang jika dimainkan terbalik, maka terdengar horor). Kisah seperti ini banyak meruak pada akhir abad 20 lalu, sehingga menambah ramainya jenis dongeng di jaman modern.

Seperti contoh Malin Kundang di tahun 2025 lalu, cerita dongeng seperti Si Pitung (yang memang belum ditemukan keabsahannya), atau Si Kabayan, Sangkuriang, dan banyak kisah dongeng lainnya diadaptasi dengan format sinetron atau film. 

Khususnya pada kisah legenda urban, maka cerita seperti Si Manis Jembatan Ancol, Jembatan Emen, Suster Ngesot, Rumah Kentang, serta banyak cerita horor legenda urban lainnya, sesuai dengan kategori dongeng. Yaitu, masih terikat dengan sejarah dan geografisnya. Sementara reinterpretasinya, muncul saat film atau sinetron diproduksi lalu dirilis, dengan target penonton yang lebih banyak dan luas, layaknya media massa.

Peran Dongeng di Abad 21

Banyak yang khawatir bahwa perubahan abad, dengan tibanya internet, dapat menghancurkan peran dongeng. Namun, justru World Wide Web menjadi teater utama untuk produksi dan transmisi banyak dongeng rakyat.

Perubahan ini tiba dengan perbedaan lainnya, yaitu dari teoritis (seperti Trevor J. Blank pada buku Folklore and the Internet) dan praktisnya (seperti cepatnya adaptasi budaya rakyat untuk menyebar dan berubah di dunia daring).

Komunikasi di Internet yang konstan, dan bisa dua arah, menyebabkan perubahan yang kentara dalam mengisahkan dongeng. Pada awal abad 21, akses Internet lebih mudah daripada akhir abad 20 (yang biasanya berlatar forum dan situs). Sehingga, kisah dongeng atau legenda urban di awal abad 21, semakin meruak dengan ramainya para peseluncur daring.

Internet adalah bank data bagi para pendongeng, untuk mengoleksi banyak cerita dongeng, dan menerapkan metode baru dalam menganalisanya. Pendongeng mengoleksi data melalui wawancara dengan kelompok atau individu, atau dengan meramban dan membaca situs. 

Data digital lalu dikompilasi pada basis data, yang digunakan oleh ahli untuk memformulasikan pertanyaan penelitan, atau melaksanakan pembacaan jarak jauh, sebagai teknik yang digunakan untuk menganalisa pola dari banyak isi teks. Banyaknya data mengenai dongeng, dapat menambah banyak analisa statistik, seperti analisis jejaring sosial, yang dapat diterapkan di lapangan.

Layaknya seorang perpustakaan, Internet adalah lokasi dimana banyak buku, kajian, dan jurnal ditempatkan untuk dibaca oleh banyak warga. Tanpa administrasi tambahan selain biaya dan alat, maka internet adalah ahan bagi siswa, akademisi, dan praktisi kebudayaan. Selain menjadi bahan bacaan, banyak penelitian dapat dilaksanakan melalui internet, dengan mengacu pada sumber yang terpercaya.

Sementara perkembangan Internet serta kebudayaan saat ini, layanan daring adalah lokasi khusus untuk mencari data tersebut. Dengan istilah konten, banyak warganet membaca internet sebagai tahap untuk meraih dongeng, dalam berbagai format pertunjukkan. Berbagai layanan daring untuk membaca konten, seperti berlangganan atau sekali bayar, adalah cara untuk dapat meraihnya. 

Praktisi serta ahli kebudayaan pun mengandalkan internet sebagai bank data miliknya, baik itu sebagai fungsi dari institusi, atau pelayanan kepada warganya. Hubungan bisnis tersebut berjalan dengan alami seiiring perkembangan internet, sebagai bagian dari komunikasi serta warisan budaya, yang khusus diantaranya adalah dongeng serta banyak kisah lainnya.

11 November 2025

Angklung dari Indonesia Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

 

Angklung di Saung Mang Udjo (Wikimedia).

Angklung berasal dari bahasa sunda yang berarti angkleung-angkleungan. Maksudnya adalah gerakan para pemainnya, yang menghasilkan bunyi 'klung,' untuk memainkan instrumen musik Angklung.

Dilansir dari Angklung Center, kata Angklung berarti mengacu pada nada yang dipecah. Jadi, satu Angklung hanya memiliki satu pecahan nada, dan perlu dimainkan lebih dari satu Angklung.

Bentuk Angklung

Bentuk Angklung sendiri adalah dua atau lebih batang bambu, yang disesuaikan dengan tinggi dan rendahnya nada. Setiap nada adalah hasil dari getaran bilah bambu didalam setiap ruasnya, dari yang berukuran kecil untuk nada tinggi, hingga berukuran besar untuk nada rendah.

Desainnya dimiripkan dengan alat musik calung (yang sama berasal dari tatar Sunda). Bahan dasar Angklung adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu ater (awi temen), yang dikeringkan akan berwarna kuning keputihan.

Sejarah Angklung

Belum ada sejarah pasti kapan Angklung mulai digunakan, namun diperkirakan sudah ada sejak jaman Neolitikum, yang berkembang hingga awal penanggalan modern. Jadi, Angklung adalah bagian dari budaya Nusantara sebelum zaman Hindu (menurut Dr. Groneman). 

Catatan sejarah paling kentara adalah masa kerajaan Sunda pada abad 12 hingga 16 lalu. Selama perkembangannya, Angklung menyebar ke seluruh Jawa, Kalimantan, dan bahkan hingga Thailand (menurut Jaap Kunst dalam buku Music in Java).

Bahkan, terdapat satu catatan misi kebudayaan dari Indonesia menuju Thailand pada tahun 1908 lalu. Misi tersebut ditandai dengan seremonial penyerahan Angklung, yang sempat menyebar sebagai seni budaya di Thailand.

Angklung dimainkan pula sebagai penyemangat saat pertempuran kerajaan. Bahkan, gema Angklung merambah hingga jaman penjajahan Belanda, yang dilarang dimainkan secara umum. Justru, larangan tersebut menyebabkan Angklung semakin populer, walau hanya dimainkan oleh anak-anak.

Angklung di Thailand

Menurut Kementerian Sekreatriat Negara Republik Indonesia, Angklung sempat menjadi alat seni untuk diplomasi dengan negara Thailand. Raja Rama V dari Thailand, sempat tertarik pada Angklung saat berkunjung ke Indonesia, lalu membawanya sebagai oleh-oleh dan ditempatkan di Istana Bangkok. Raja Rama V cukup dekat hubungannya dengan Nusantara saat itu, sehingga berkunjung tiga kali, yaitu pada tahun 1870, 1896, dan 1910. 

Tidak hanya Raja, pada tahun 1908 Pangeran Thailand Bhanu-Rangsri-Sawangwong yang merupakan adik Raja Rama V, datang ke Nusantara bersama musisi bernama Jawang Sorn Silapa-Bunleng. Keduanya datang untuk belajar Angklung, yang akhirnya membawa sepuluh buah Angklung untuk dimainkan di Istana Burapa, Bangkok.

Saking terkenal dan menyebarnya, Angklung telah menjadi bahan ajar sekolah di Thailand, melalui para guru musiknya. Phol Kit-Khan adalah satu tokoh terkenal dalam mengajarkan Angklung di Thailand. Saking termotivasi, kebun durian miliknya diganti dengan kebun bambu (sebagai bahan produksi Angklung). Hingga akhirnya dikenal pula sebagai Angkalung, yaitu sejenis Angklung khas dari Thailand.

Foto arak-arakan Angklung (UNESCO).

Tradisi Angklung

Budaya tradisional Sunda pun mengacu pada prinsip pembuatan Angklung. Karena mayoritas warga di tatar Sunda adalah petani dengan komoditas utama padi (pare). Mitos pun muncul dengan nama Nyai Sri Pohaci, sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (Hirup-Hurip).

Masyarakat tradisional Badui yang dianggap sebagai keturunan asli Sunda, masih mempraktikan Angklung sebagai bagian dari ritual menabur padi. 

Angklung Gubrag di Jasinga Bogor bahkan telah berumur lebih dari 400 tahun, yang sama dimainkan saat ritual menabur padi. Angklung disinyalir untuk dapat memikat Dewi Sri Pohaci turun ke bumi, dan memberkati suburnya tanaman padi.

Permainan Angklung lalu dikenalkan saat Pesta Panen atau Seren Taun di tatar Sunda. Angklung dimainkan saat upacara padi, bersama banyak jenis kesenian lainnya dalam satu arak-arakan di alam. 

Berbagai alat yang dibawa saat arak-arakan adalah kesenian Rengkong (Angklung yang dipikul), Dongdang (alat pikul padi), Jampana (wadah makanan), dan banyak lainnya.

Foto Daeng Soetigna yang mengenalkan diatonik pada Angklung (Angklung Centre).

Inovasi Modern Angklung

Pada tahun 1938, Daeng Soetigna mengembangkan Angklung Diatonis dari sebelumnya Pentatonis, yang mengubah bentuk dan nada Angklung, sehingga dapat memainkan banyak variasi jenis musik, bahkan hingga lagu dari Barat.

Daeng Soetigna sangat berjasa dalam mengembangkan Angklung di Indonesia saat jaman modern, sehingga karyanya dikenal sebagai warisan budaya alat musik di dunia Internasional.

Foto Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung (Angklung Centre).

Lalu pada tahun 1966 lalu, Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung, mengembangkan teknik bermain dengan dasar Pelag (sistem urutan nada tiga surupan), Salendro (sistem urutan lima nada), dan Madenda (Laras dengan pemecahan laras Salendro). Udjo Ngalagena lalu mengajarkan banyak komunitas, dengan berbagai bentuk, cara, dan tradisi memainkan Angklung.

Hingga kini, salah satu komunitas yang aktif dalam memainkan Angklung adalah Sanggar Keluarga Besar Bumi Siliwangi (Kabumi) dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat. 

Angklung dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Dilansir dari UNESCO, Angklung diakui sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2010 lalu. Angklung adalah instrumen musik yang terdiri dari empat hingga dua tabung bambu, yang terpasang pada rangka bambu, dan diikat dengan rotan.

Tabung dipahat dan dipotong dengan hati-hati oleh perajin ahlinya, agar dapat membunyikan nada saat rangka bambu digoyang atau ditepuk. Setiap Angklung hanya membunyikan satu nada atau senar, jadi banyak pemain harus berkolaborasi untuk dapat membunyikan melodi.

Angklung tradisional menggunakan skala Pentatonik, namun pada tahun 1938, musisi Daeng Soetigna mengenalkan Angklung dengan skala Diatonik, yang disebut sebagai Angklung Padaeng.

Angklung sangat erat kaitannya dengan budaya tradisional, seni, dan identitas budaya Indonesia, yang dimainkan saat perayaan menabur dan memanen padi, atau sunat. 

Bambu hitam khusus untuk Angklung dipanen saat dua minggu dalam satu tahunnya, saat jangkrik tengah ramai, dengan dipotong setidaknya tiga segmen diatas tanah, agar akarnya tetap tersebar.

Edukasi Angklung disebarkan dengan mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan semakin semarak saat diselenggarakan di institusi pendidikan.

Karena berdasarkan budaya kolaboratif pada musik Angklung, memainkanya mendukung kerjasama dan saling hormat antar pemainnya, dengan disipilin, tanggung jawab, konsentrasi, pengembangan imajinasi dan ingatan, serta rasa artistik dan musik.

Kiprah Angklung Tahun 2025

Menyambut Hari Angklung Tradisional Internasional ke 15, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KABUMI UPI mengadakan acara bermain Angklung dengan 4750 peserta. 

Dilansir dari Berita UPI, para pemain Angklung hadir dari banyak lokasi kota Bandung, mulai dari anak sekolah, anak berkebutuhan khusus, atau lansia, yang tiba di Stadion Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Acara ini dilaksanakan tepat satu bulan lalu, yaitu pada tanggal 23 November 2025. Acara dilaksanakan demi persatuan lintas generasi, demi melestarikan Angklung sebagai warisan dan identitas budaya Indonesia, khususnya di daerah Sunda.

Beberapa kenalan dari penulis, diantaranya sepupu yang masih berumur sekolah, mengikuti acara ini. Walau masih berumur sekolah dasar atau sekolah menengah pertama, tetapi mereka cukup semangat untuk melanjutkan kiprah semangat bersama memainkan warisan budaya Sunda ini.

Semoga, kedepannya Angklung masih menjadi seni warisan budaya yang terus terkemuka di tatar Sunda.