Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

22 April 2026

Publikasi Buku di Jaman Modern

 

Ilustrasi buku cetak (Freepik).

Buku masih menjadi sumber utama ilmu di jaman ponsel pintar ini. Khususnya di dunia sastra, literasi dan linguistik, banyak cara dilaksanakan demi menjaga keabsahan buku dan penerbitannya.

Ramainya media sosial kadang tidak berdasar pada referensi ilmu yang sah ala buku. Karena itu, coba kita cek di artikel ini, mengenai standar operasi penerbitan buku di jaman modern. 

Dilansir dari Britannica, setiap penerbit buku memiliki departemen manufaktur, pemasaran, dan akunting, tetapi bisnis utamanya tetap pada fungsi editorial. Selama bertahun-tahun lamanya, standar kinerja berubah dan bervariasi dari satu penerbit, atau bahkan setiap negaranya. Namun, esensinya tidak berubah sama sekali.

Editor, yang kadang disebut pula sponsor atau redaktur, memilih buku untuk diterbitkan, dikerjakan bersama penulisnya, membaca kritis naskah tersebut, lalu merevisi isinya bersama penulis. Editor akan berkoordinasi dengan departemen manufaktur dan pemasaran, demi menyelesaikan penerbitan sebuah buku. Jadi, kehadiran editor adalah faktor utama bagi penerbit untuk menarik minat para penulis. Editor yang handal berkontribusi besar bagi terbitnya banyak buku berkualitas. 

Selain editor, terdapat pula departemen editorial yang bertanggung jawab saat naskah belum dicetak. Fakta, angka, dan referensi akan dicek ulang, serta ketidaksesuaian format penulisan akan diperbaharui oleh departemen editorial. 

Penerbitan Buku Pendidikan

Kinerja editorial semakin penting sejak tahun 1940an lalu (yaitu saat bisnis percetakan telah berkembang drastis dan standar pendidikan telah dicanangkan), dengan fokus pada konsep, perencanaan, dan penerbitan buku pendidikan yang dibutuhkan sekolah untuk semua tingkatan kelas dan mata kuliah di kampus.

Editor yang berlatar buku sekolah akan mengunjungi para guru, dosen dan cendekiawan agar mempromosikan teks yang dibutuhkan. Editor tentu harus menyesuaikan isi buku dengan silabus dan kurikulum di sekolah atau universitas (atau bahkan negara) tersebut.

Jarang sekali editor memiliki naskah buku pendidikan yang langsung disetujui. Dengan kunjungan reguler kepada para ahli materi pelajaran, yang mengacu pada kurikulum negara, editor harus banyak merevisi buku sebelum akhirnya diterbitkan.

Dasar Hak Cipta

Penerbitan buku tergantung pada hak cipta, yaitu wewenang utama untuk menyalin dan memproduksi hasil karya penulis, melalui kesepakatan penulis bersama penerbitnya. Kesepakatan ini memberi hak bagi penulis untuk memiliki wewenang, demi mengamankan hasil karyanya dan kompensasi yang sepadan. 

Saat hak cipta telah kadaluarsa, semua orang bebas menerbitkan kembali hasil karya tersebut, tanpa royalti kepada penulis aslinya. Banyak jenis hak cipta tergantung pula pada kesepakatan dan banyak pasal di dalamnya. 

Terjemahan menjadi satu jenis hak cipta yang membutuhkan kerjasama antar negara, agar buku dapat diterjemahkan dengan baik, sesuai dengan tipe linguistik setiap bahasa, dan terpublikasi sesuai aturan penerbit dari negara asalnya.

Kesepakatan Antara Penerbit dan Penulis

Kontrak publikasi hasil karya antara penulis dan penerbitnya berdasar pada jenis pembayaran royalti, yang dicanangkan selama diskusi hak cipta berdasarkan hukum, serta wewenang eksklusif untuk memproduksi dan merilis ulang buku di seluruh dunia. 

Setelah banyak pasal mengenai hak cipta disetujui, maka pasal mengenai royalti akan didiskusikan kembali antara kedua belah pihak. Biasanya, pasal royalti berisi jumlah cetakan yang terdistribusi. Royalti tambahan akan diberikan kepada penulis jika buku berhasil mencapai batas minimum jumlah cetakan (alias laris). 

Pasal lainnya yaitu bagaimana penerbitan buku antar media dan antar negara diberlakukan. Koreksi dan revisi cetakan buku (jilid buku) adalah satu pasal yang ditulis dalam kontrak penerbitan tersebut.

Pasal alternatifnya adalah bagaimana penerbit mencanangkan kontrak, mengenai buku hasil karya berikutnya dari penulis. Jika pasal tidak disepakati, maka penulis bebas menerbitkan karyanya di penerbitan manapun.

Agen Literasi

Agen literasi berperan penting di jaman modern ini. Banyak penulis buku atau novelis terkenal memiliki agen, yang berfungsi untuk menghubungi penerbit. Jika cocok, agen akan bernegosiasi dengan penerbit, dan mendapat komisi dari penulis jika berhasil.

Kadang, agen literasi berbentuk biro, yang menanggulangi seluruh urusan hak cipta dan komunikasi dengan penerbit. Karena agen mengerti tentang pasar sirkulasi penerbitan buku, maka sebuah buku dapat dicek potensinya. Saran mengenai buku yang dapat ditulis, potensi karir dari penulis, dan jumlah penghasilan dari buku, adalah pekerjaan utama para agen literasi.

Namun, karena fungsinya mirip agen pemasaran (yang diminta oleh penulis), maka agen lebih fokus pada cara agar buku dapat dicetak, dan tidak melaksanakan banyak urusan teknis linguistik maupun literasi.

Penjualan dan Promosi Buku

Teknik penerbit dalam mempromosikan buku semakin maju di jaman modern. Biasanya mereka memiliki ijazah pendidikan tinggi, diberi pengarahan dari kantor penerbit, dan menghubungi banyak biro lainnya. Setiap agen pemasaran buku akan menghubungi banyak toko buku, perpustakaan, atau perwakilan dari sekolah dan kampus. Kantor penerbit meminta mereka agar memenuhi kuota distribusi buku. 

Kantor penerbit memiliki katalog buku yang diterbitkan, buku yang akan terbit, dan katalog buku tahunan. Terakhir, agen akan meminta pers, komunitas literasi dan linguistik, untuk mengkaji buku tersebut.

Komunikasi, katalog, serta kajian buku adalah tiga tahap utama dalam distribusi buku, yang sulit dicapai tanpa profesionalisme kantor penerbit. Kapasitas seorang penulis dalam memproduksi sebuah buku yang pantas, dapat membantu penerbit untuk mencapai tujuan distribusi. Standar buku dan minat publik tetap menjadi penyebab utama keberhasilan buku tersebut.

14 April 2026

Belajar Teknik Berpedang via Sensei Beryl Gardenant di Anime From Old Country Bumpkin to Master Swordsman

 

Sensei Beryl Gardenant yang sumringah saat minum (TMDB).

Okeh, saatnya artikel Monsterisasi yang berbeda dengan lainnya, yaitu mengacu pada anime From Old Country Bumpkin to Master Swordman (Ossan Kensei), yang tayang tahun lalu. Sebenarnya penulis baru menonton anime ini bulan Maret lalu, dan ternyata sangat menarik. Walau berasal dari Light Novel ala Jepang sana, tetapi adaptasi animenya sangat kentara dengan referensi HEMA (Historical European Martial Arts). Ya, entah kenapa bisa, teknik berpedang di novel diadaptasi dengan akurat pada anime.

Artikel ini mengacu pula pada artikel sebelumnya, yang membahas Pein Akatsuki dari Naruto. Walau penulis menjabarkan keburukan Benchmark ala Militer, khususnya di artikel tersebut, namun penulis sama sekali tidak menolak untuk belajar bela diri. Bahkan, bisa disebut bela diri adalah semacam olahraga, dan tidak perlu gelut terus (alias AING MAUNG). 

Penulis sendiri memiliki pengalaman saat belajar beladiri di jaman dahulu, tepatnya saat masih bersekolah dasar. Selama satu tahun lamanya, tepatnya bareng kelas pemantapan Ujian Nasional, penulis bersama satu kelas disiapkan pula dengan kelas beladiri Silat. Walau hanya satu tahun saja, tetapi cukup dapat mengingat berbagai kuda-kuda dan langkah dasar Silat.

Nah, di artikel kali ini, justru penulis ingin membahas observasi khusus, yaitu teknik berpedang dari HEMA. Bagi yang suka menonton konten latihan duel ala HEMA, pasti mengenal kanal bernama Skallagrim dari Kanada atau Weaponism dari Korea Selatan. Kedua kanal menyajikan berbagai teori, serta adegan duel dengan teknik berpedang HEMA, atau bahkan Katana dari Jepang dan Dao dari China serta Korsel. Ya, memang sejenis olahraga disana, menyaingi Karate dan Taekwondo dari segi ranah tangan kosongnya.

Penulis sendiri selama bertahun-tahun menonton konten tersebut, sehingga cukup mengenal banyak gerakan berpedang. Karena itu, saat menonton Sensei Beryl Gardenant di anime (yang judulnya jelek ini, harusnya Ossan Kensei saja), penulis dapat menebak seluruh gerakan yang dilancarkan selama gelutnya berlangsung. Ya, terima kasih pada berbagai kanal yang berisi duel berpedang tersebut.

Dan karena itu pula, artikel ini tidak banyak berisi adegan dari animenya. Justru banyak referensi teknik berpedang asli HEMA, sesuai dengan latar ceritanya di Eropa ala Fantasi. Untuk animenya sendiri, merupakan gabungan antara Slice of Life (selingan kehidupan) dan duel berpedang di ranah yang Low-Fantasy. Genre sejenis ini tidak begitu besar dalam menggambarkan dunia magisnya, bahkan masih terasa mistis ala The Lord of The Rings. 

Tapi, jangan diremehkan penggambaran anime ini dengan gelut berpedangnya. Gelut menggunakan senjata di anime ini cukup realistis, sesuai dengan teknik HEMA. Bahkan cukup brutal, dengan beberapa karakternya yang hobi Coup De Grace musuh atau lawannya. Tapi ya... karena masih bergenre fantasi, maka ada beberapa gerakan yang sebenarnya salah. Nanti akan dibahas pula beberapa gerakan salah tersebut dalam artikel ini.

Okeh, saatnya mulai membahas bagaimana Sensei (atau Kensei) Beryl Gardenant menyajikan berbagai adegan gelut yang kentara, tentu sesuai ala novelis Shigeru Sagazaki. Novelis yang satu ini mungkin aselinya beraliran Kendo, tetapi cukup banyak memperhatikan dan mengikuti sesi duel berpedang lainnya. 

Stance Mid Guard ala Sensei (Ossan Kensei)
Kuda-Kuda

Kuda-kuda ini semacam teknik Stance dan Guard dari HEMA, yaitu posisi awal saat belum menyerang lawannya. Biasanya terdapat tiga Guard utama bagi para ahli berpedang (alias Kenshi), yaitu High Guard, Mid Guard, dan Low Guard. 

High Guard adalah posisi senjata ada diatas atau sekitar kepala, dengan tangan yang menjulur sama keatas sesuai pegangan (Handle) pedangnya. Posisi seperti ini berarti dimaksudkan untuk menyerang dengan Tebasan (Slashing), dengan arah dari atas kebawah. 

Mid Guard adalah posisi senjata yang tepat berada di pusat gravitasi tubuh, dengan tujuan menyerang menggunakan Tusukan (Thrusting). Posisi ini adalah yang paling aman, karena menjaga jarak antara tubuh dengan lawan, yang dibatasi oleh pedang.

Low Guard adalah posisi senjata dibawah, biasanya ditempatkan agar menangkis musuh, daripada menyerang langsung. Posisinya yang agak berbeda (tidak terlihat berbahaya), justru membuat pemegangnya bisa berimprovisasi, tergantung dari arah serangan lawan.

Bahkan ada satu lagi, yaitu Rear Guard yang terlihat seperti sedang nge-troll musuhnya. Senjata ditempatkan dibelakang, dan tidak menghalangi jarak antara posisi pemegangnya dan lawan.

Gerak Dasar

Nah, gerak dasar ini adalah yang terutama dalam menggerakkan pedang, tangan, dan tubuh bersamaan dengan setiap langkahnya. Alias, seorang ahli berpedang harus menggerakkan pedangnya (di tangan) dengan gerakan dari pinggul, demi menambah kekuatan dan akurasi serang. Itupun disesuaikan dengan langkah kaki, antara kiri atau kanan sesuai dengan posisi serangan. Jadi, setiap satu gerakan, maka satu kaki akan melangkah maju atau mundur.

Langkah dasar ini sebenarnya mirip dengan Silat, atau dasar teknik beladiri dari manapun, baik itu menggunakan senjata atau tangan kosong. Full Body Movement adalah intinya.

Serangan santai ala Sensei (Ossan Kensei).
Menyerang 

Untuk menyerang, terdapat pula istilah yang jelas untuk setiap jenis senjatanya, khususnya pedang. Di anime ini, Kensei Beryl Gardenant menggunakan Longsword, yang menjadi standar bagi setiap ahli HEMA. Kelebihan Longsword adalah serangan Tebasan (Slashing), Menusuk (Thrusting), dan panjang yang cukup (Mata Tajam/Bilah sepanjang satu meter).

Slashing yang artinya menebas, berarti mengarahkan bagian Bilah (Blade) pedang untuk serangan yang mengalir, dari satu arah ke arah yang lain. Serangan ini memang ditujukan melebar saat menyerang, demi menyebarkan luka pada musuhnya.

Sementara Thrusting adalah serangan menusuk, yang ditujukan pada area vital pada bagian tubuh lawan. Serangan ini memiliki jarak lebih jauh, dan langsung lurus menuju titik yang dituju. Jika terkena dan tembus, maka organ vital lawan bisa langsung terluka, dan duel lebih mudah dimenangkan.

Bertahan dan Melawan Balik

Teknik bertahan pun ada beberapa, tetapi yang terpenting adalah Deflect alias Parry. Teknik ini tidak hanya mengeblok dan menangkis serangan lawan, tetapi mengarahkannya Bilah tajamnya ke arah yang diinginkan. Jika berhasil, maka tubuh akan aman dari serangan, dan musuh terhenti serangannya. Jika serangan terhenti tapi tetap berbahaya, pihak yang bertahan dapat memilih menghindar (Dodge) saja, dan mengamankan posisi baru dengan Guard dan Stance-nya.

Teknik lanjutan dari bertahan, adalah setelah mengeblok dan menangkis, maka akan dilanjutkan dengan serangan dari pihak yang bertahan (alias Counter Parry). Pihak yang berhasil menangkis, bisa memanfaatkan momen setelah Bilah lawan teralihkan, sementara lawan sudah kesulitan atau tidak bisa bertahan. Maka, serangan ini bisa lebih berhasil mengenai lawan, dengan keadaan lebih aman daripada kuda-kuda sebelumnya.

Bahkan di akhir musim anime ini, terdapat pula satu teknik bertahan yang sangat sulit, yaitu menangkis panah. Teknik ini tidak berlandaskan fiktif, tetapi memang ada dalam Katalog Teknik dari HEMA. Coba dicek saja videonya di YouTube, saat seorang ahli berpedang tanpa Perisai (Shield), menangkis serangan anak panah yang ditembakkan padanya. Teknik yang sangat sulit, tetapi jadi bahan Flexing di anime ini.

Banting tulang ala Sensei (YouTube).
Teknik Lanjutan

Teknik lanjutan ini ada beberapa arti, yaitu berbagai teknik yang tidak sesuai standar. Banyak yang menganggap standar diatas memiliki kemuliaan karena masih berlandaskan teknik. Namun, dengan taruhan antara hidup-mati, maka teknik lanjutan bisa dilaksanakan pula. 

Feint alias Gerakan Tipu adalah sejenis teknik lanjutan, saat ahli berpedang mengarahkan gerak senjatanya, tetapi tidak ditujukan sesuai standar tekniknya. Teknik ini ditujukan untuk menipu lawan, agar salah arah dan posisi saat bertahan dan menangkis serangan. Gerakannya memang sulit dilaksanakan, tetapi memang cocok sebagai teknik lanjutan.

Contohnya saja adalah saat seorang menggunakan High Guard dengan pedang yang ada diatas. Lalu dia mulai menyerang dengan gerakan Menebas (Slashing), tetapi sesaat sebelum serangan berakhir, dia menarik tangannya ke arah belakang. Dengan posisi pedang yang berada di Mid Guard, musuh yang terkecoh dengan tangkisan keatas, teknik serangan pun beralih menjadi Menusuk (Thrusting). Organ vital lawan di pusat tubuh pun menjadi taruhannya.

Bahkan ada gerakan lain yang sangat pecicilan, yaitu mencengkeram tangan atau Bilah lawannya, demi menghentikan gerakannya. Ya, gerakan yang terlihat licik ini, memang ditujukan untuk mengalahkan musuh tanpa teknik berarti. Penyerang bisa mencengkeram tangan musuh, yang langsung terhenti begitu saja. 

Bahkan jika sudah terlatih, bisa mencengkeram Bilah musuhnya, seperti sempat dicontohkan pada video di beberapa kanal YouTube. Nama tekniknya adalah Sword Handling, yaitu saat ahli pedang mencengkeram pedang pada bagian (Bilah) tajamnya. Jika sudah terlatih, maka tidak sulit untuk melaksanakannya, bahkan untuk menahan serangan lawan. Tentu, dengan bantuan sejenis sarung tangan berbahan kulit, atau bahkan logam (Armor).

Dari anime ini pun ditunjukkan beberapa teknik yang terlihat licik, seperti menarik mantel lawan, mengunci dan mencongkel bagian guard (bagian antara Handle pedang dan Bilah), hingga menendang lawannya. Ya, teknik berpedang memang bisa dilaksanakan dengan Full Body Contact, alias menggunakan seluruh bagian tubuh demi bertahan dan menyerang.

Armor yang sangat melindungi (Fandom Wiki).

Senjata dan Baju Zirah

Di anime yang seharusnya berjudul Beryl Gardenant Saga ini, ditunjukkan pula berbagai senjata khas Eropa, diantaranya adalah Longsword, Short Sword, Rapier, Claymore, Zweihander, Shield (Perisai), Bow and Arrow (Busur Panah), dan bahkan Belati (Dagger).

Senjata tergantung dari tipe ahli berpedang, ukuran dan beratnya. Panjang serta pendeknya senjata memang menentukan teknik apa yang bisa digunakan. Tipe Longsword yang menjadi standar, maka seluruh gerakan bisa dilaksanakan. Tetapi Short Sword yang lebih pendek, maka penggunanya harus bergerak lebih maju untuk mencapai dan menghalangi jangkauan Longsword.

Senjata pun perlu sering diperbaiki, karena berpengaruh pada kemampuan dan daya serang ahli berpedang. Pedang yang banyak tergores, teriris pada Bilahnya, hingga tumpul dan bahkan patah, tentu tidak dapat digunakan dengan baik. Dari anime ini, ditunjukkan pula adegan pedang saat rusak hingga terbelah, serta cara memperbaikinya.

Baju Zirah pun ditunjukkan, dengan berbagai tingkatan tentunya. Terdapat armor ringan seperti baju biasa (sejenis Gambeson), armor menggunakan kulit (Leather Armor) yang cukup ringan dan mampu menahan serangan, hingga armor kelas berat seperti zirah dari logam, layaknya Plate Armor. Dan jangan lupa, Perisai digunakan pula sebagai bagian dari pertahanan, yang perlu menguasai teknik tertentu agar efektif.

Chivalry alias Sikap Ksatria

Nah, kali ini adalah topik yang lebih berbudaya, yaitu dengan peran seorang Guru (Kensei), Ahli Pedang (Kenshi) dan Ksatria (Samurai  atau Knight). Memiliki kemampuan khusus berpedang, berarti mengisi peran khusus pula di institusi dan masyarakat. 

Dalam anime ini, Beryl Gardenant memang seorang ahli berpedang yang bekerja sebagai guru, demi menurunkan ilmunya. Sementara Allucia yang merekrut Gardenant, adalah seorang komandan di Pasukan Kerajaan Revelis. Muridnya yang lain, Lysandra mengisi peran sebagai Petualang (Adventurer) di Serikat (Guild), yang lebih berperan dalam berburu monster berbahaya.

Ketiga peran diatas ternyata cukup seimbang dengan penggambaran Monarkinya, yaitu dengan peran para Ksatria dalam menjaga serta membantu urusan Royalti. Mereka sering diminta untuk menjadi penjaga bangsawan, atau sekedar berburu monster berbahaya di sekitar kerajaan. Para anggota Monarkinya pun tidak berbuat aneh-aneh, selain yang memiliki peran sebagai tokoh antagonis.

Bahkan di satu adegan, mereka memiliki budaya khusus. Yaitu, saling bertukar hadiah satu sama lain. Bukan hanya sekedar simbol kedekatan (Politik), tetapi saling berkontribusi satu sama lainnya. 

Contohnya adalah memilihkan pedang yang dibuat dari hasil buruan Serikat, yang tentunya diselesaikan oleh Beryl Gardenant dan Lysandra. Allucia pun sempat memilihkan pakaian formal ala bangsawan bagi Gardenant, demi mengisi peran saat kunjungan kerajaan berlangsung.

Magis Ala Low Fantasy

Di anime ini, ada beberapa pula karakter yang bisa menggunakan magis, walau tidak seheboh anime lain. Contohnya adalah sihir yang dilaksanakan oleh Ficelle (satu angkatan dengan Curuni), yang bisa mengikat dan mengekang lawannya sekaligus. Kehadiran monster pun menjadi satu kisah yang menarik, contohnya adalah Gryphon yang diburu oleh Lysandra dan Gardenant. 

Tetapi kehadiran Magis sebenarnya cukup besar di dunia anime ini, yaitu saat cerita beralih pada jurus yang dapat menghidupkan mayat (alias sejenis zombie). Bahkan saat Beryl berduel dengan Lucy (yang menjabat sebagai Ketua Magic Corps), dirinya sama sekali tidak sanggup melawannya. Berbagai jurus magis mematikan sanggup membasmi Beryl, yang dihentikan oleh Lucy karena hanya sekedar mengetes dan duel jalanan saja.

Itu Harfiah arti Breast Plate-nya (Fandom Wiki).

Kekurangan Teknik di Ossan Kensei 

Nah, sekarang perlu membahas kekurangan anime ini, khususnya pada bagian duel yang berlandaskan HEMA. Terdapat beberapa gerakan yang sebenarnya dilarang oleh HEMA, namun tetap dimunculkan dalam anime ini. Memang anime yang masih berlatar fantasi, sehingga tidak heran juga, walau referensi bagusnya masih sangat realistis.

Pertama adalah gerakan memutar yang dilaksanakan oleh banyak karakter. Gerakan ini ditujukan untuk mempercepat serangan atau menghindar, namun memunculkan posisi belakang tubuh. Posisi punggung adalah daerah vital yang berbahaya jika diserang, karena itu banyak Stance dan Guard ditujukan saat berhadapan langsung dengan lawan.

Kedua adalah lanjutan dari gerakan memutar. Biasanya di dunia HEMA, saat seorang ahli terpaksa memunculkan punggungnya pada musuh, berarti dirinya telah melaksanakan gerakan yang salah. Serangan yang terlalu melebar (alias Overswing) adalah akibatnya, yang menyebabkan ahli berpedang menyerang dengan sembrono, dan tidak bisa kembali ke posisi bertahan.

Ketiga adalah gerakan saat kedua pihak yang berduel, malah saling mengunci senjata. Walau agak minim ditunjukkan (dan terlalu sering di anime lain), tetapi gerakan ini cukup berbahaya. Banyak teknik yang dilaksanakan, apalagi mengacu pada Full Body Contact, agar kedua pihak tidak terkunci pada satu posisi saja. Menendang atau menggenggam tangan dan senjata lawan, adalah contohnya. Duel harus dilaksanakan mengalir, karena posisi kedua Duelist yang terlalu dekat, sangatlah berbahaya.

Terakhir adalah satu yang sangat pecicilan, yaitu banyaknya Waifu di anime ini. Maksudnya bukan penggambaran karakter wanita, tetapi pakaian yang mereka gunakan. Jika mengecek Armor yang dikenakan oleh karakter pria, maka terlihat cukup modis dan realistis. Sementara wanitanya, malah memakai Armor yang terlalu terbuka (dan seksi). 

Bahkan, Rose yang menggunakan armor lengkap pun, memiliki kekurangan sendiri. Selain tidak menggunakan Helm (karena ini Anime), bagian Breastplate-nya harfiah menunjukkan bentuk Buah Dada. Seharusnya, Breastplate memang Armor yang dipasang di bagian dada, dengan bentuk cembung dan melingkar. Bentuk tersebut bukan modis saja, melainkan baik untuk membalikkan posisi Bilah senjata saat terkena serangan.

Belah Saja Dadaku! (Fandom Wiki).

Penutup

Okeh, segitu saja setelah panjang lebar. Memang anime yang mengherankan bagi penulis, karena cukup realistis dalam penggambaran duel ala HEMA-nya. Tokoh utama Beryl yang sudah tua ini pun cukup menarik, karena tidak aneh dan pecicilan ala banyak tokoh utama di anime (yang kebanyakan remaja).

Jadi, silahkan saja nonton anime ini, yang rasanya berbeda dan menarik ceritanya, karena bertokoh utama Kensei Beryl Gardenant, sang guru berpedang yang telah berumur 45 tahun.

Okeh, Ciao.

06 April 2026

Duo Karya Unik Blumhouse di Film Don't Follow Me dan Lee Cronin's The Mummy

Katie yang baru menghirup napas (TMDB).

Saatnya membahas studio horor dari Hollywood yang sudah sangat terkenal, bernama Blumhouse. Studio yang selalu kreatif dalam memproduksi filmnya, memang terkenal dalam menyajikan latar unik untuk setiap horornya. 

Kali ini yang dibahas adalah dua film yang dirilis pada bulan April, yaitu berjudul Don't Follow Me di minggu kedua April, serta Lee Cronin's The Mummy di minggu ketiga April. Keduanya masih khas film dari Blumhouse dengan rating D17, dan tetap menyajikan latar cerita yang berbeda.

Carla yang siap merekam mahluk apapun (TMDB).

Don't Follow Me alias No Me Sigas

Film Don't Follow Me ini aselinya dirilis pada Oktober tahun 2025 kemarin, dan merupakan film pertama Blumhouse yang diproduksi di luar AS. Judul aselinya adalah No Me Sigas dari ranah perfilman Meksiko sana, yang lengkap dengan aksen serta bahasa Spanyolnya. Di sinema Indonesia, film ini memang baru dirilis untuk para penggemarnya.

Untuk animo-nya sendiri, cukup unik karena berlatar internet saat ini. Tokoh utamanya yang bernama Carla (Karla Rodriguez Coronado), adalah seorang pemudi yang sedang semangat ngonten (yang penting ngonten). Dia memiliki inspirasi sendiri, yaitu membuat video dengan banyak sudut pandang rumah barunya, dan kadang mengadakan siaran langsung di internet. Hampir setiap sudut rumahnya dipasangi oleh perekam video, agar dirinya bisa viral nan cuan.

Tidak hanya dirinya, beberapa temannya ikut membantu selama proses pembuatan video. Kedua temannya, Andres (Yankel Stevan) dan Sam France (Julia Maque) memang sering ikutserta dalam inspirasi Carla. Ya, memang tim yang cocok untuk ngonten, karena tidak bekerja hanya sendiri.

Semangat ngonten nan viral ini sebenarnya berbuah manis, dengan banyak tayangan dan pelanggan yang mengikuti konten hasil karya Carla. Baru saja menikmati euforia ketenarannya, tidak berselang lama, Carla langsung diberi rasa horor tersendiri. Saat tengah siaran langsung sendiri di ruangan tengahnya, salah seorang penonton menunjukkan keanehan disudut rumahnya. Saat Carla zooming (mendekatkan fokus) video lewat ponselnya, ternyata muncul bayangan dari sesosok wajah mengerikan di sudut tersebut.

Sejak itulah, Carla sering diteror oleh mahluk lain di rumahnya. Memang sebelum pindah, rumah tersebut sudah cukup lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Tidak hanya Carla, kedua temannya pun cukup sering diteror oleh mahluk lain. Selain berupa gangguan supernatural, semakin lama teror yang terjadi, malah semakin berbahaya dan mengancam jiwa ketiganya. Carla pun perlu mencari jejak sejarah rumah tersebut, demi menguak dan menyelamatkan nyawa semuanya.

Apakah memang rumah tersebut sudah dihantui akibat terlalu lama kosong? Atau memang sang pemilik rumah sebelumnya mengadakan ritual mistis sebelum ditinggalkan? Dan bahkan salah seorang temannya malah mengadakan ritual horornya sendiri?

Jawabannya, tentu ada di sewa-menyewa rumah horor ala sinema Indonesia.

Ranah Film Mumi Hidup

Nah untuk yang satu ini, adalah ranah film yang sangat khas dari Blumhouse, yaitu dengan menggabungkan beberapa latar film horor lama, dengan referensi yang kentara dari budayanya. Ya, di film Lee Cronin's The Mummy ini, memang menggabungkan animo horor mayat berbalut perban, dengan khas film kesurupan ala waralaba exorcist. Memang kombinasi yang cukup berbeda, dan ternyata cocok untuk film ini.

Khusus untuk film berlatar horor mumi hidup, cukup jarang diadaptasi ke sebuah film oleh Hollywood. Film mumi bagus yaitu The Mummy (1999) dan The Mummy Returns (2001), yang diisi oleh kombo aktor-aktris kawakan Brendan Fraser dan Rachel Weisz. 

Mungkin karena referensi yang epik dari mumi Firaun dibawah Piramid sana, jadi banyak sineas perfilman horor yang kurang berminat untuk mengadaptasinya. Sementara aktor kawakan lain yang mencoba meramaikan reka ulangnya, yaitu Tom Cruise saat berperan dalam film berjudul sama, yaitu The Mummy pada tahun 2017 lalu.

Justru sebaliknya dengan film ala mumi, film dengan ranah kesurupan ala eksorsis cukup sering diadaptasi ulang, tanpa perlu memikirkan langsung hak ciptanya. Semenjak diproduksi tahun 1973 lalu dengan judul The Exorcist, ranah film ini sering diadaptasi kembali dengan ragam berbeda. 

Bahkan tidak perlu mengacu langsung kepada nama eksorsis, beberapa film bertema mirip cukup sering diproduksi oleh Hollywood. Contohnya adalah Constantine (2005) bersama Keanu Reeves, The Rite (2011) bersama Anthony Hopkins, The Possession (2012) bersama Jeffrey Dean Morgan, dan Deliver Us From Evil (2014) bersama Eric Bana. Nama-nama aktor bintang yang sangat terkenal, apalagi berasal dari ranah drama sebagai kemampuan aktingnya.

Lee Cronin's The Mummy

Dari cuplikannya sendiri, justru mengisahkan khas yang berbeda pula. Charlie (Jack Reynor) dan Larissa (Laia Costa), adalah sepasang suami istri yang telah kehilangan anaknya sejak delapan tahun lalu. Suatu hari, anaknya yang bernama Katie (Natalie Grace) berhasil ditemukan, dengan baju compang-camping dan tubuh yang kotor. Namun keperibadian Katie telah berubah 180 derajat, menjadi agak diam namun selalu bertutur kata kasar.

Justru film ini mengacu pada sekte sesat tertentu, yang ditunjukkan informasinya saat dialog berlangsung. Katie adalah satu dari 57 korban anak yang hilang sejak delapan tahun lalu. Katie pun ditemukan secara misterius, yaitu terbaring dengan balutan perban lusuh, dalam sarkofagus tua berumur 3000 tahun lebih. 

Dari situ, penulis dapat menebak maksud dari ditemukannya Katie dalam keadaan tersebut. Daripada betulan hanya menculik anak, sekte sesat mencoba semacam 'ritual eksperimen' pada anak-anak. Banyak anak diculik agar menjadi 'wadah' bagi sesosok mahluk supernatural yang kuat. Namun karena kekuatan supernatural yang tidak bisa 'diterima' begitu saja, ke-56 anak lain yang diculik, akhirnya tidak bisa selamat. 

Sementara Katie yang memiliki bakat paranormal sendiri, sanggup untuk menjadi wadah bagi sosok tersebut. Katie sendiri yang tubuhnya berhasil kembali ke pangkuan orangtuanya, justru sudah tidak memiliki keperibadian dan bahkan jiwanya sendiri. Arwah yang berada dalam tubuh Katie setelah ditemukan, adalah mahluk lain yang kuat nan berbahaya.

Apakah Katie memang sudah tidak ada sama sekali? Mahluk yang mendiami tubuh Katie pun memang bertujuan jahat saja? Atau ada skema lain dari sekte sesat yang menculik ke-57 anak tersebut?

Jawabannya, tentu ada di ritual pencarian anak ala sinema Indonesia.

Referensi Mumi dan Sarkofagus Ribuan Tahun

Satu referensi lagi, yaitu mumi dan sarkofagus yang berusia lebih dari 3000 tahun. Walau referensi peradaban 3000 tahun lalu mengacu pada kebudayaan besar seperti Mesir Kuno, Yunani Kuno, dan Cina Kuno, namun praktek mumi sebenarnya cukup mendunia. Contohnya di Indonesia saja terdapat empat lokasi tradisi memumikan mayat, yaitu di Suku Toraja Sulawesi Selatan, Kampung Wolondopo di NTT, serta Suku Dani dan Suku Moni di Papua.

Sementara referensi sarkofagus berusia ribuan tahun, tidak hanya berasal dari Mesir Kuno saja. Contohnya dari Romawi Kuno, Persia Kuno, dan China Kuno. Tampaknya setiap wilayah peradaban besar dunia jaman sebelum Masehi tersebut, memiliki praktek dan khas sarkofagus-nya tersendiri. 

Bahkan di Indonesia, khususnya Bali pada tahun 2009 lalu, ditemukan sekitar 200 sarkofagus berusia 2000an tahun. Indonesia jaman tersebut belum memiliki kebudayaan besar manapun, yang ternyata memiliki ritual khas pemakaman awetnya sendiri.

Raja Korea Selatan yang Diasingkan Ala Film The King's Warden

 

Raja Danjong yang masih mewah saat diasingkan (TMDB).

Akhirnya, ada film drama kerajaan pula dari Korea Selatan, berjudul The King's Warden, yang tayang minggu ini di sinema Indonesia. Film dengan rating R13 (remaja) ini memang kombinasi unik antara sub-genre drama dan kerajaan sekaligus. Latar semacam ini cukup jarang diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, karena targetnya mengacu pada ranah internasional ala film Hollywood.

Film drama kerajaan dari Korsel yang pernah penulis tonton pun, cukup sedikit. Terakhir kalinya, penulis baru saja menonton film dan serial The Kingdom (2019-2020, 2021), yang berisi drama kerajaan dan malah bertema zombie pula. Ya, film yang berisi aktris Bae Doona ini memang bergenre horor zombie, cukup jauh dengan judul filmnya. Walau begitu, drama kerajaan ala abad pertengahan hingga renaisans ini, ternyata cocok dengan segala intrik di sistem monarki-nya.

Mengacu pada drama monarki, dan kembali ke film The King's Warden, ternyata cuplikannya memberi kesan berbeda. Biasanya di film kerajaan dari berbagai negara manapun, berisi kisah epik peperangan atau politik monarkinya. Namun dari cuplikan film ini, justru menunjukkan sisi drama monarki, yang langsung terkait dengan rakyat kecil di Korea. 

Kisahnya memang berkutat pada seorang raja, yang terasingkan setelah terjadi kudeta di istana kerajaan. Kisah seperti ini sudah cukup sering diadaptasi di banyak film, yang memang mengambil referensi dari sejarah aslinya. 

Khusus untuk membahas monarki, kisah sejarah ini dapat terjadi akibat kesalahan raja atas kepemimpinannya, kudeta dari pemerintahannya sendiri, aturan garis keturunan raja, peperangan yang menyebabkan raja dan penerusnya meninggal, atau bahkan pemberontakan dari rakyatnya sendiri. Tentu kadang tercampur dengan banyak dinasti bangsawan saat masa tersebut, yang memang tidak suka dengan raja saat ini, atau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Yah, jangan dibahas-lah dengan keadaan politik saat ini (khususnya di Korsel). Kadang memang mirip, tapi ya sistem dan peradaban jaman sekarang sudah terlampau jauh. Jadi kisah ini, memang selayaknya jadi referensi sejarah saja, dan bukanlah referensi untuk diulang kembali, layaknya petuah dari Soekarno terdahulu.

Oh ya, dari judulnya saja, arti The King's Warden bisa diartikan simbolis. Dalam cuplikannya, terlihat raja masih bersemangat untuk mengembalikan tahtanya. Raja muda ini memang ingin memajukan Korea, dan secara harfiah dengan bantuan langsung rakyatnya di desa pengasingan. Selayaknya simbol tersebut, The King's Warden yang berarti Penjaga Raja, adalah usaha rakyat untuk menjaga rajanya sendiri, walau urusan kerajaan yang terlalu berbelit-belit untuk diurusi oleh rakyatnya langsung.

Sinopsis Film The King's Warden

Eom Heung-do (Yoo Hai-jin) adalah seorang rakyat Korea biasa, yang diinterogasi oleh pejabat kerajaan saat berkunjung ke wilayah kota dekat istana. Dia pun terpaksa menceritakan wilayah desanya, yang memiliki lokasi rumah terpencil mewah milik kerajaan, dan cocok sebagai area pengasingan.

Namun saat pejabat yang diasingkan tiba, dia pun terheran-heran. Bahkan salah satu temannya perlu marah sambil mengingatkan, bahwa yang diasingkan adalah Raja Danjong (Park Ji-hoon) yang dimakzulkan dari tahtanya. Saking merasa bersalah, Heung-do lalu mulai sering berkunjung ke area pengasingan, demi menemani sang mantan raja tersebut.

Ternyata kedekatan keduanya melebihi hubungan antara raja dan rakyatnya. Raja Danjong sangat menyukai kesederhanaan Heung-do bersama seluruh warga desanya. Walau masih tidak rela dimakzulkan, dirinya menikmati keseharian baru di desa kecil tersebut.

Hingga suatu hari drama dari istana kerajaan semakin membesar, dan meruak hampir ke wilayah desa pengasingannya. Raja Danjong yang tidak ingin desa kecil ini ikut tergerus urusan kerajaan, perlu mencoba segala cara demi mengamankan semuanya. Bahkan dengan bantuan langsung dari Heung-do, yang masih heran dengan kedekatannya bersama raja.

Sanggupkah Raja Danjong dan Heung-do mengamankan desa kecil milik semuanya? Atau malah terjadi pengkhianatan dari banyak sudut pandang dan kepentingan?

Jawabannya, ada di drama pangeran Korea Selata ala sinema Indonesia.

30 Maret 2026

Memahami Teater sebagai Ekspresi Sosial Hingga Kajian Perfilman

 

Ilustrasi seni panggung Teater dan Film (Freepik).

Mengacu pada Hari Teater Boneka (21 Maret), lalu Hari Teater Sedunia (27 Maret), hingga hari Film Nasional di tanggal 30 Maret, maka artikel ini akan membahas setiap tanggal pentingnya. Artikel dilansir dari Britannica sebagai sumber utama ensiklopedia, dengan sedikit tambahan dari penulis.

Khusus untuk Hari Teater Boneka, penulis perlu mengacu pada artikel Wayang dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Karena perkembangan Wayang sebagai teater boneka sejak abad 15 lalu, setelah sebelumnya diadaptasi dengan cerita dari India, maka perkembangannya tentu akan berbeda dengan referensi internasional.

Sementara untuk teater, penulis tidak menulis mengenai versi tradisional dari Nusantara. Tentu, karena penulis mengarahkan artikel menuju konsep blog yang lebih sesuai, yaitu perkembangannya menuju ke arah perfilman. 

Film memang menjadi bahasan utama dalam blog ini, dan sama seperti konsep dasar teater, menyajikan karakter dengan berbagai akting ala aktor-aktrisnya, yang sesuai dengan penggambaran cerita apapun, khususnya keadaan sosial saat ini (selain fantasi). Maka, banyak teater atau film diartikan dengan istilah 'produk dari masanya,' alias langsung mengacu ke jaman dirilisnya karya seni tersebut.

Teater sebagai Ekspresi Sosial

Di banyak konteks, variasi aspek kemanusiaan dianggap penting dan difokuskan sebagai representasi teater di negara Barat. Banyak drama jaman Renaisans, fokus pada khas tiap karakternya. Sementara di abad 17, masih terbatas filosofi dan latarnya, yang karakternya yang tidak disajikan ala mahluk dengan status unik. Melainkan, seseorang yang beradaptasi dan bermotivasi pada lingkungan masyarakatnya. Di akhir abad 17, seni teater memfokuskan pada tema yang mengerucut, dan sesuai dengan target masyarakatnya.

Pada awal abad 19, teater Eropa telah menjadi bagian dari hiburan warga kelas menengah, sama seperti tujuan sebelumnya pada kelas aristokrat. Walau begitu, seorang aktor tidak hanya berbekat, namun dapat berbicara baik dan berpakaian bagus. Banyak seni panggung yang sukses di Eropa, berisi karakter yang berposisi sosial baik, dengan mengacu pada kode sikap.

Namun pada pertengahan abad yang sama, drama literasi oleh Henrik Ibsen muncul untuk menantang kode normatif tersebut. Setelah Revolusi Rusia pada tahun 1917 lalu, teater di Soviet telah keluar dari jalur normatifnya. Sementara di Eropa, kode bersikap masih dilanjutkan hingga tahun 1930an, dengan target teater bergengsi. Namun di Kota New York, AS, masa Depresi Besar pada tahun 1930an menyebabkan perubahan besar pada kode normatifnya. 

Di Eropa setelah Perang Dunia II, teater mulai beralih dengan merefleksikan minat yang lebih luas di masyarakat. Namun di masa tersebut, banyak warga kehilangan minat mengunjungi teater, dan memilih untuk menonton film di sinema atau melalui televisi, sebagai sumber utama hiburannya. Teater lalu mulai diarahkan tidak hanya pada satu golongan masyarakat saja, tetapi kepada siapa pun yang cukup berminat pada sikap seni dan kreatif.

Pada akhir abad 20 dengan banyaknya inovasi teknologi digital, diantaranya adalah pengunaan video rekaman berkualitas tinggi dan suara di teater, telah membuka debat mengenai kehidupan teater itu sendiri. Atau, bagaimana dasar teater telah berubah secara fundamental akibat implementasi teknologi tersebut.

Kajian Studi Perfilman

Selama dua dekade perfilman, banyak diskusi dalam media yang dikembangkan, pada berbagai tingkatan apresiasi dan analisis. Diantaranya, adalah kajian koran, analisis profesional, buku teknik produksi, majalaj fans, dan kolom gosip.

Pada jaman Perang Dunia I, terdapat monograf keilmuan dengan mata kuliah perfilman di universitas. Pada tahun 1930an, arsip diciptakan dengan model yang terhubung di museum seni, demi mengoleksi film dan berbagai teknik produksi sebagai bagian dari apresiasi publik. 

Kajian film di universitas dan kampus semakin meluas pada awal tahun 1970an, yang dianggap sebagai bagian dari kesuksesan artistik. Film akhirnya layak untuk dikaji sebagai pengaruh budaya, politik, dan sikap sosial. Kajian ini ditujukan kepada publik yang membutuhkan kritik serta analisis khusus perfilman.

Pengajaran dan keilmuan yang dibantu dengan banyaknya arsip perfilman lama, televisi, media DVD, serta video, seluruhnya menjelajahi masalah isu sosial, mulai dari ras, kelas sosial, dan gender (SARA) yang direpresentasikan melalui film. 

Genre film, sutradara, aktor-aktris, praktek industri, serta sinema nasional telah menjadi subyek kajian mata kuliah dan penelitian. Universitas merilis puluhan buku setiap tahunnya, yang berisi sejarah, teori, dan estetika film. Kegiatan ini sekaligus mendukung dan mendistribusikan jurnal akademik perfilman.

Dengan banyaknya jenis media baru, yang kadang menyaingi perfilman itu sendiri dari segi kepopulerannya, justru menambah berbagai komentar (dan kritik) pada banyak aspek dari film tersebut.

Media dan Internet sebagai Bagian dari Apresiasi Film

Sejak awal abad 21, internet telah menyediakan ribuan situs untuk informasi dan pendapat mengenai film, aktor-aktris, sutradara, dan sejarah. Media penyiaran secara regular mengabarkan berita mengenai aktor dan produksi film terbaru. Beberapa majalah fokus untuk membahas media hiburan, yang diantaranya berisi publik figur perfilman, film terbaru, dan perkembangan industrinya.

Minat untuk perfilman besar seperti Hollywood telah memicu reportase mengenai film yang akan dirilis setiap minggunya, dimana filmnya dibandingkan langsung layaknya sebuah kompetisi olahraga. Beberapa bahasan ini bahkan bisa disebut sebagai usaha promosi dari media itu sendiri, yang bekerja bersama studio film dengan koran, stasiun televisi, dan situs internet.

Bagi penulis sendiri, yang banyak mengambil referensi serta informasi dari internet, selain observasi sendiri, wacana ini tentunya cocok. Blog Sedia Saja bisa diartikan sebagai promosi film, namun dengan latar penulis sebagai pengkaji cerita, tentu diisi pula pendapat yang langsung mengacu pada isu sosialnya di masyarakat.

Jadi dari artikel ini sudah jelas, bagaimana perkembangan teater dan isu sosial sejak abad 17 lalu, lalu dilanjutkan dengan perkembangan film di awal abad 20 serta apresiasi medianya, menjadi konsep khusus yang mendasar bagi Blog Sedia Saja sebagai situs internet saat abad 21 ini.

Mengajari Anak Mengenai Kearifan Budaya Lokal Melalui Dongeng Nusantara

 

Ilustrasi buku folklor (Freepik).

Menyambut Hari Dongeng Sedunia (20 Maret), lalu dilanjutkan dengan Hari Puisi Sedunia (21 Maret), yang diakhiri dengan Hari Buku Anak Sedunia pada tanggal 4 April mendatang, tampaknya cocok untuk membahas mengenai Buku Dongeng, khususnya sebagai bagian dari tumbuh kembang anak di Nusantara.

Dalam artikel ini, penulis mengkaji studi dari banyak ahli pendidikan nasional, mengenai hubungan antara dongeng dengan tumbuh kembang anak. Dongeng Nusantara memang menjadi satu bahan ajar bagi anak PAUD, TK, hingga Sekolah Dasar. Tentu tujuannya untuk mengajarkan budaya lokal Indonesia, dengan segala kearifan lokalnya.

Untuk referensi mengenai fungsi dongeng di abad 20 hingga 21 sekarang, dapat dicek saja melalui terjemahan dan referensi ensiklopedianya, dalam artikel berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Artikel ini ditulis saat bulan November tahun lalu, demi menyambut hari Dongeng Nusantara pada tanggal 28 November setiap tahunnya.

Karena itu, dalam artikel menyambut Hari Dongeng Sedunia, dikombinasikan dengan dua tanggal penting lainnya. Bagaimana pun juga, korelasi serta kolaborasi studi adalah kombinasi yang menciptakan perkembangan budaya, teknologi, dan peradaban manusia hingga kini.

Khusus untuk blog ini, justru penulis dapat menjabarkan pula, bahwa setiap film dan cerita pada umumnya, memiliki nilai moralnya tersendiri. Walau blog ini lebih mengacu pada simbol dan referensi pada setiap artikelnya, namun tentu berlatar pada nilai dan moral yang dipercaya oleh jutaan warga di Nusantara.

Hari Dongeng Sedunia

Hari Dongeng dirayakan di seluruh dunia sejak tahun 1997 lalu, saat ditetapkan oleh banyak negara, contohnya adalah AS dan Australia. Sebelumnya, 20 Maret ditetapkan sebagai hari Mendongeng Nasional di Swedia, sejak tahun 1991. 

Dilansir dari Universitas Muhammadiyah Malang, Hari Dongeng Sedunia dirayakan sebagai wahana imajinasi anak. Pendongeng menutur cerita dengan gestur tubuh, sehingga anak dapat berimajinasi dalam alur cerita dongeng. Dengan berimajinasi bebas, maka kreatifitas anak akan bertambah. Tidak hanya imajinasi, namun rasa empati dan simpati akan muncul dalam diri mereka. Karena, dongeng Nusantara mengandung banyak nilai moral dan pendidikan.

Guru bahkan perlu diberi pendidikan khusus dalam mendongeng. Dengan semacam softskill ala mendongeng, guru akan lebih mudah dalam menanamkan nilai moral serta menumbuhkan sisi kreatifitas bagi anak.

Hari Puisi Sedunia

Menurut Perpustakaan Universitas  Brawijaya, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan pentingnya Puisi saat Konferensi Umum ke-30, pada tahun 1999 lalu. Konferensi yang dilaksanakan di Paris, Perancis ini mencanangkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Puisi Sedunia, yang mendukung keragaman bahasa melalui ekspresi puitis, dan kesempatan untuk mengajarkan bahasa yang terancam punah.

Menurut UNESCO, puisi bermemiliki peran strategis dalam seni dan budaya, dan termasuk diantaranya adalah sejarah. Puisi adalah katalis kuat untuk berdialog dan menjaga perdamaian. Kolaborasi puisi dengan karya seni seperti musik, tari, drama, atau lukisan tidak hanya dapat terus dinikmati dan tidak hilang oleh waktu, namun sebagai bagian dari upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dari segi ini, penulis berpendapat bahwa bentuk ekspresif puitis telah terkombinasi dengan menyeluruh pada banyak media, khususnya pada lagu (musik) dan film yang tersaji saat ini. Penulis sendiri sering memasukkan banyak istilah frasa, dalam banyak kajian film di artikel blog ini. Istilah frasa tersebut kadang memiliki rima ala puisi, dengan maksud tidak langsung dan suatu pedoman norma tertentu.

Hari Buku Anak Sedunia

Menurut Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara, perayaan Hari Buku Anak Sedunia setiap tanggal 2 April mengacu pada hari lahir penulis dongeng bernama Hans Christian Andersen. Perayaan ini untuk menumbuhkan budaya membaca, meningkatkan kesadaran literasi, serta menghomati karya sastra yang berkontribusi besar dalam dunia pendidikan, khususnya pada anak.

Wacana ini sesuai dengan manfaat dongeng untuk anak, yang dilansir dari Generasi Maju. Keterampilan kognitif anak dalam memproses ingatan, bahasa, pemikiran, dan penalaran dapat terlatih dengan cara mendengarkan dan memahami dongeng.

Aspek perkembangan yang didukung oleh pembacaan dongeng diantaranya adalah merangsang kecerdasan anak dengan aktivasi otak yang berkelanjutan, dan mendukung perkembangan psikologi dengan mempengaruhi perasaan mendalam anak saat menghadapi situasi problematis.

Membaca dongeng dapat dilaksanakan sebagai media belajar bahasa dengan banyak kosakata,  padanan kalimat, serta konteksnya. Selain itu, dongeng dapat membangun minat literasi sejak dini, yang menjadi satu kunci pembelajaran di masa depan.

Membaca dongeng dapat mengasah keterampilan berpikir anak, agar mereka berpikir kritis sejak dini. Mendengarkan dongeng dapat mendorong anak dalam memecahkan masalah, memahami keberagaman serta kerja sama. Anak dapat merespon dengan menunjukkan tanggapannya sendiri atas cerita dongeng yang orangtua sampaikan.

Karena membaca dongeng dilaksanakan dua arah, maka aktifitas komunikasi ini dapat mempererat hubungan orangtua dan anak, yang membangun ikatan kuat antar keduanya. Dengan interaksi positif, maka anak akan merasa aman, dicintai, diperhatikan, dan disayangi. Aktifitas ini membantu anak berkembang secara sosial maupun emosional dalam memahami dunia.

Keunikan Mengenal Dunia Melalui Dongeng

Terdapat pula keunikan lain melalui pembacaan dongeng antara anak dan orangtua, yaitu mengenalkan berbagai jenis suara dan bentuk ilustrasi di sekitar lingkungannya, seperti dilansir dari Kemendikdasmen

Suara ketukan pintu, degup jantung, dan bel sepeda disajikan secara imajinatif, untuk mengasah indra dan rasa ingin tahu anak. Setiap suara memiliki simbol dan tanda sebagai alat komunikasi dengan orang lain atau mahluk hidup di sekitar lingkungannya. Terlebih lagi, anak usia dini membutuhkan pengenalan suara melalui dongeng.

Menunjukkan ilustrasi yang sesuai dengan benda, alam, atau manusia yang diceritakan, dapat mengisi pola imajinasi anak. Isi cerita beserta ilustrasinya yang sederhana, singkat, dan jelas informasinya dalam dongeng, dapat lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Tentunya, nilai moral yang berisi kejujuran, doa, dan kemandirian sangat diperlukan oleh anak. Khususnya, cerita yang berasal dari buku, cerita pengalaman, kisah nabi, dan cerita rakyat yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan tumbuh kembang anak usia dini.

04 Maret 2026

Bahayanya Pria Tanpa Beban Ala Film Dead Man's Wire

 

Kiritsis yang nothing to lose (IMDB).

Daaan, terakhir adalah film berbahaya lainnya dari Hollywood sana, berjudul Dead Man's Wire yang tayang di sinema Indonesia menjelang libur Lebaran. Bagi yang suka drama kejahatan, tentu terkagum saat menonton cuplikannya yang berating umur D17. 

Apalagi, film ini mengadaptasi kisah nyata dari tahun 1977 lalu di AS. Ya, nama karakter yang diadaptasi adalah Tony Kiritsis, yang sempat melaksanakan aksi penyanderaan, namun malah dianggap sebagai seorang warga tertindas oleh khalayak media AS sana. 

Bagi penulis, kisah film ini mirip dengan istilah Nothing to Lose, alias Tanpa Beban. Saking terancamnya, suatu karakter sering disematkan dengan istilah ini. Karakter tersebut memiliki wacana dan rencana tertentu untuk beroperasi habis-habisan, dalam menyelamatkan dirinya dari situasi genting.

Kisah Tony Kiritsis

Kisah Tony Kiritsis adalah sesuatu yang campur aduk, antara stresnya seorang warga dan masalah pemberontakan kepada sistem. Masalahnya memang berakar pada sistem kapitalis ala AS sana. 

Tony Kiritsis adalah seorang warga biasa, yang terjebak hutang akibat hipotek miliknya. Saking terancamnya (menurut Kiritsis), dirinya digadang akan bangkrut parah, akibat perusahaan hipotek yang sengaja memainkan dokumen properti miliknya. Kiritsis curiga, bahwa lokasi properti miliknya telah ditarget oleh broker kurang bertanggung jawab, untuk direbut sebagai properti milik perusahaan.

Karena merasa tidak ada jalan lain (selain hukum tentunya), Kiritsis memilih jalur kekerasan. Dengan menyandera broker perusahaan hipotek, dirinya menelpon kepolisian setempat. Tebusan yang dimintanya cukup banyak, yaitu keamanan propertinya, imbalan lima Juta Dolar AS, dan bebas tanpa tuntutan hukum. 

Kepolisian yang seharusnya terbiasa menanggapi ancaman semacam ini, malah kelimpungan saat menanggapi. Sebenarnya Kiritsis adalah seorang warga yang baik, sementara media mulai membela Kritis dan latar belakang masalahnya.

Bagi yang ingin tahu kelanjutan kisahnya, bisa dicek di banyak artikel dan konten mengenai kisah nyata penyanderaan oleh Tony Kiritsis. Namun para penggemar film drama kejahatan ala Hollywood semacam ini, tentu lebih mengenal isi adegan dan akting para aktor-aktrisnya.

Bill Skarsgard yang Sudah Naik Daun

Bagi yang belum cukup paham, maka perlu dikenalkan kembali dengan nama Bill Skarsgard. Aktor kelahiran Swedia ini, sempat naik daun dengan perannya sebagai badut horor di duo film adaptasi novel Stephen King, berjudul It (2017) dan It: Chapter Two (2019). Wajahnya yang terkenal seram, memang menjadi khas akting serba bisa ala Skarsgard. 

Tidak hanya sebagai badut berwacana horor ala Hollywood, banyak karakter unik yang diperankan oleh Skarsgard. Contohnya adalah film seorang musisi rocker yang kekal abadi dalam film reka ulang, The Crow (2024). Penulis agak heran juga, karena biasanya film reka ulang, apalagi se-legendaris The Crow, kurang disukai oleh banyak penggemarnya. Namun di film tahun 2024 ini, justru banyak yang suka, karena keahlian akting milik Skarsgard.

Berikutnya ada film Nosferatu (2024), dimana Skarsgard berhasil menciptakan sosok dan suara vampir terkenal ini dengan ciamik. Sangat tidak terlihat sosok aseli Skarsgard dibalik karakter horor ini. Saking disukai para kritikus film, Nosferatu ini diberi nilai cukup besar dari mereka semua.

Satu film lainnya adalah John Wick 4 (2023), yang membuktikan kemampuan akting Skarsgard dalam film drama aksi kejahatan. Tentu dengan kehadiran dirinya dalam waralaba film bersama Keanu Reeves ini, telah membuktikan kelebihan Skarsgard dalam memerankan film yang keluar dari pamor awalnya.

Sinopsis Film Dead Man's Wire

Okeh sedikit saja kisah sinopsisnya, karena memang mirip dengan kisah Kiritsis, yang sudah dibahas sebelumnya.

Tony Kiritsis (Bill Skarsgard) adalah pria paruh baya yang sedang mengalami krisis. Dirinya terancam bangkrut dan diusir dari propertinya sendiri, akibat hutang piutang dan masalah dengan bankir hipotek. 

Kiritsis akhirnya mengambil jalur lain, yang lebih mengacu pada kejahatan. Kiritsis lalu berinisatif untuk menyandera mitra bankirnya, memakai senapan berburu miliknya. Dengan jujur, Kiritsis meminta tebusan kepada kepolisian setempat, wacana membebaskan dirinya dari tuntutan hukum, serta permintaan maaf langsung dari perusahaan hipotek.

Kepolisian setempat dan perusahaan hipotek tentu tidak mengalah begitu saja, dan terus bernegosiasi dengan Kiritsis. Namun, kisah ini akhirnya ramai diberitakan oleh media setempat. Setelah berbagai investigasi mengenai latar belakang masalah Kiritsis, media malah membela sosoknya, dan memberi tekanan berlebih kepada aparat hukum setempat.

Bagaimanakah kisah Tony Kiritsis hingga akhir hayat? Jawabannya, tentu dapat disaksikan langsung dengan berbagai tuntutan hukum ala sinema Indonesia.

18 Februari 2026

Mengenang dan Menyelenggarakan Hari Bahasa Ibu Internasional

Hari Bahasa Ibu Internasional (Kemendikdasmen).

Berikutnya adalah momen menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, yang dirayakan tanggal 21 Februari setiap tahunnya. Hari Bahasa Ibu Internasional dirayakan sejak tahun 1999 lalu, yang diusung oleh UNESCO dari PBB. Tujuannya adalah untuk melindungi dan melestarikan banyak ragam bahasa ibu, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa ibu dalam kehidupan manusia.

Seperti sudah diutarakan sebelumnya pada artikel Hari Kebangkitan Bahasa Sunda di blog ini, penulis yang berlatar Tatar Sunda, cukup dekat kesehariannya dengan bahasa Ibu. Bahkan, penulis hanya bertutur kata bahasa Indonesia saat menulis blog ini, sementara seharian hanya berbincang Sunda.

Merayakan Bahasa Ibu

Dilansir dari UPI, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasi seorang umat manusia sejak lahir. Perannya sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak hingga dewasa, yaitu sebagai pembentukan identitas dan budaya bagi individu, proses belajar anak sejak usia dini, dan pelestarian nilai-nilai lokal.

Sebagai proses belajar anak di usia dini, anak lebih mudah memahami materi belajar dalam bahasa yang dikuasainya. Proses ini sesuai dengan ucapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, yang menyatakan melalui situs Kemendikdasmen, "Kajian akademik menunjukkan bahwa anak yang memulai pembelajaran dengan bahasa ibu, memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep akademik dengan kemampuan literasi yang lebih optimal."

Sementara dari segi pelestarian nilai lokal, dimulai saat anak mendengarkan cerita rakyat, tradisi, dan kearifan lokal dari budaya dan bahasa persukuannya. Seperti dilansir dari STPS Sahid Surakarta, bahasa ibu bukan hanya sarana komunikasi, melainkan mencerminkan budaya dan cara berpikir masyarakat. 

Setiap bahasa membawa warisan pengetahuan, tradisi, dan nilai yang sangat berharga. Dengan terus melestarikan penggunaan bahasa ibu, warga sebagai pelakon utamanya, tidak hanya menjaga kelangsungan bahasa itu sendiri. Tetapi, menghidupkan kembali warisan budaya sebagai satu identitas bagi komunitas berbahasa daerah.

Foto Naskah Carita Waruga Guru (Wikimedia).

Ngamumule Basa Sunda

Menurut sejarahnya, bangsa Austronesia bermigrasi dari Taiwan, lalu Filipina, dan akhirnya tiba di Pulau Jawa pada tahun 1000 hingga 1500 tahun Sebelum Masehi, seperti dilansir dari FISIP UI.

Mengenai namanya itu sendiri, asal nama Sunda masih abstrak. Secara etimologis, merujuk pada kata Cuddha dari Sansekerta, yang berarti cahaya, putih, bersih, murni, atau bersinar. Adapula yang mengartikan bahwa Sunda adalah perpaduan morfologi antara Sun (satu) dan Da (dua). 

Dari basa Sunda sendiri, Saunda berarti lumbung atau makmur, atau Sonda yang berarti bagus, bahagia, dan unggul. Kata Sunda merujuk pula pada ibukota Sundapura, sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara, yang berjaya saat abad empat hingga tujuh Masehi lalu, seperti dilansir dari Portal Brebes.

Pelestarian resmi basa Sunda, sudah dicanangkan sejak tahun 2013 lalu di Jawa Barat. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) No. 69 tahun 2013, Bahasa dan Sastra Sunda dicanangkan sebagai muatan lokal wajib bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah, bagi seluruh sekolah di Jawa Barat. 

Pendidikan bahasa Sunda sangat penting dilaksanakan untuk di sekolah, karena bertujuan untuk membedakan tingkatan bahasa Sunda. Tergantung kepada siapa yang diajak berbicara, maka bahasa Sunda harus menggunakan tutur kata Lemes (halus), Loma (akrab), atau kasar.

Menurut Ahmad Ghibson Al-Busthomi sebagai Pakar Hikmah Kasundaan, yang dilansir dari situs UIN Sunan Gunung Djatingamumule (melestarikan) basa Sunda berarti harus dilaksanakan oleh semua warga Sunda. Jangan sampai ada kesan budaya Sunda hanya milik budayawan dan sastrawan saja. Pesantren dianggap pula tidak menjaga kelestarian Sunda, dengan mengajarkan bahasa dan menulis aksara Jawi atau Pegon.

Namun menurut Ghibson, ada empat cara untuk tetap ngamumule Sunda sebagai warga biasa. Pertama, yaitu menghormati, memuliakan, serta mengagungkan kesenian seperti pentas, berbicara basa, memakai baju adat, dan menjaga sikap etika Sunda. Kedua yaitu terus menyerap dan menerima makna baru ke dalam basa Sunda. Ketiga adalah membangun kreasi baru di bidang perkakas dan teknologi. Keempat adalah meningkatkan kebudayaan karuhun (leluhur) Sunda, dengan mengembangkan bahasa sehari-hari, sastra, hingga seni.

Ghibson menambahkan bahwa tahap pengembangan budaya Sunda harus dengan dua cara. Satu yaitu dengan meningkatkan lokalitas wilayah dan sejarahnya. Kedua, dengan terus mewariskan budaya Sunda secara berkelanjutan.

Janten, sakanteunan ngahaturkeun filosofi hirup ti Kang Prabu Siliwangi, nyaeta Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh ka sadayana.

Sanes teu sono, tapi bade permios. Wassalam.

Sedikit Carita Buhun Sunda

Oh ya, ada satu lagi penggambaran mitologi Sunda, yang seperti biasa, kurang dapat dicek keabsahannya. Warga pulau Jawa saat awal penjelajahannya, memang berpusat di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sementara wilayah Jawa Barat belum terjamah sama sekali.

Namun, ekspedisi untuk membuka lahan dengan membabat hutan di Jawa Barat saat jaman tersebut, ternyata cukup menghasilkan. Walau begitu, warga perlu melalui naik-turunnya pegunungan, dalamnya lembah, curamnya jurang, serta banyak hewan berbahaya seperti harimau, buaya dan ular berbisa.

Karena itu, sejak keberhasilan warga pulau Jawa untuk mendiami Jawa Barat, dan bahkan hingga membangun kerajaan sendiri selama berabad-abad lamanya, memberi simbol khusus pada warga Sunda. Maung alias Harimau yang kuat dan sanggup menguasai hutan belantara, adalah simbol tersebut.

Tapi ya, jangan sampai langsung pamacan dan berkoar "Aing Maung!"

Aing Maung! (YouTube).

Kombo Sangar Ala Yakuza dan Kabuki Jepang di Film Kokuho

 

Pemeran Kabuki wanita yang aselinya pria (TMDB).

Menanggapi jaman ramai streamer dan roleplayer GTA di YouTube dan sajabana, saatnya beralih ke masa lalu dengan menyambut film kombinasi keduanya, berjudul Kokuho. Film yang tayang di sinema Indonesia bulan Februari ini, memiliki rating yang cukup untuk sebuah film drama kejahatan, yaitu D17. 

Bagi yang paham vibe-nya, maka mengerti bahwa Yazuka Jepang memiliki latar belakang sadis, namun sering berjumpalitan alias saling berselingan dengan dunia hiburan. Entah bagaimana keadaannya sekarang di tahun 2020an. Tetapi daripada membahas lingkar kejahatan yang sudah lama menurun pamornya, dan mengacu pada dunia yang brutal, maka coba dicek dari segi seni budayanya.

Kokuho bertema dunia seni, khususnya Kabuki sebagai seni teater tradisional Jepang. Tokoh utamanya memiliki latar sebagai anggota Kabuki, sekaligus seorang anak bos Yakuza. Animo yang berbeda tentunya, sehingga para kritikus memberi banyak penghargaan bagi film ini. Mulai dari Japan Academy Awards sebagai lokasi aslinya, hingga Oscar's Academy Awards dari Hollywood sana. Jadi, film ini mudah direkomendasikan bagi para penggemar film drama, khususnya yang berbau kejahatan.

Kabuki Jepang, Ketoprak Jawa, dan Longser Sunda

Nah seperti sudah diutarakan sebelumnya, daripada membahas sangarnya para Yakuza, lebih baik mengambil sudut pandang dari ranah seninya saja. Dari cuplikannya, Kukoho menunjukkan banyak adegan yang lebih berlatar seni teater dan segala keglamorannya. Hanya sedikit adegan berisi kerasnya para Yakuza.

Kabuki adalah sejenis teater tradisional Jepang, yang mulai dikembangkan dan ramai sejak tahun 1603 lalu. Khas dari teater ini adalah para karakternya berdandan warna putih, dengan garis merah di seluruh wajahnya. Kombinasi pola yang berbeda pada setiap karakternya, dan biasa disebut sebagai Kumadori. 

Dari etimologi-nya (yang setiap nama dan istilah bahasa Jepang lebih mengacu, daripada morfologinya), Kabuki berarti gabungan kata dari kemampuan, menyanyi, dan berdansa. Berbeda pula dengan padanan katanya, yang berarti kabuku atau aneh, nyeleneh, atau beda dengan yang biasa. Karena itu, pertunjukan Kabuki selalu luar binasa, layaknya anime Jepang yang selalu heboh.

Jika disandingkan sederhana, dandan Kabuki yang berwarna putih, sangat mirip dengan Wayang Orang. Namun dari segi hebohnya pertunjukan, Kabuki bisa disandingkan dengan hebohnya teater tradisional Jawa, yaitu Ketoprak. Teater ini ramai dimainkan dari Jawa Tengah hingga Timur, dengan khas gaya bahasa Jawa yang lugas dan keras, tidak seperti kesehariannya. Teater yang mulai keluar dari ranah Keraton sejak 1922 lalu, meramaikan kekayaan teater tradisional Jawa.

Berbeda pula perkembangan di daerah Sunda, alias daerah Jawa Barat. Khas kekonyolan Sunda tersirat dengan kuat di Longser Sunda, sejak tahun 1920 lalu. Sebelum dikenal hingga saat ini, teater tradisional ini sempat bernama awal doger, lalu lengger, dan akhirnya baru longser. Khas paling berbeda pada longser, adalah sesi bobodoran Sunda, yang kental dengan komentar sosialnya. Saat ini, longser sering diadakan sebagai seni saat hajatan (kawinan) berlangsung, daripada sebagai seni pertunjukan panggung atau jalanan.

Penulis memiliki minat khusus pada seni longser, khususnya saat acara nikahan berlangsung. Jika pengunjung acara tiba sebelum prasamanan dimulai, maka akan disajikan dengan pertunjukan longser. Humor, tari, serta tema sosial yang ditampilkan, menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis. Apalagi bobodoran-nya yang cukup dimengerti oleh penulis. 

Nah, sedikit mengacu pada Kabuki di film Kokuho, seni tradisional sejenis ini sering merubah karakter wanita, namun diperankan oleh seorang pria. Bahkan dari seni teater longser, ada istilah yang cukup kasar, yaitu Bebencongan. Sesuai namanya, bencong berarti pria yang bertingkah terlalu kewanitaan. 

Tetapi dari segi seni, apalagi humor, perubahan peran ini biasa dilansirkan sebagai bagian dari ekspresi, atau memang keterbatasan jumlah aktor-aktrisnya. Jika dicek hingga seni teater dari Eropa sana, maka peralihan jenis kelamin demi mengisi suatu peran, cukup biasa dan sering dilaksanakan pula.

Lucunya lagi, khusus untuk longser sunda, bebencongan ini khas dengan dandan ala warna putihnya. Karena kulit cokelat para pria yang berasal dari Tatar Sunda, maka lebih cocok berdandan tebal, apalagi niatnya memang humor. Jadi, walau dari sini terdengar agak lucu, namun nyambung dengan animo film Kokuho.

Jadi, sekeras apa Kabuki dan Yakuza jika digabungkan dengan peran wanita? Coba dicek saja sinopsisnya.

Bebencongan ala Longser Sunda (YouTube).

Sinopsis Film Kokuho

Kikuo Tachibana (Ryo Yoshizawa) adalah seorang anak Yakuza terkenal, di tahun 1964 lalu. Sejak berumur 15 tahun, Kikuo telah ditinggalkan ayahnya akibat kekisruhan di lingkar kejahatan mereka. 

Namun sejak berumur muda, Kikuo sama sekali tidak berminat dengan hidup keras dan sangar ala Yakuza Jepang, yang terkenal sadis dalam menjalankan bisnisnya. Kikuo justru lebih tertarik pada seni teater tradisional Jepang, bernama Kabuki. Tidak seperti biasanya, peran heboh ala Kabuki tidak diperankan oleh Kikuo. Melainkan dirinya lebih memilih peran wanita, yang wajar dilaksanakan sebagai pertukaran gender di teater Kabuki.

Selama menjalani karir sebagai aktor Kabuki, Kikuo dekat dengan Shunsuke Ogaki (Ryusei Yokohama), yang merupakan anak Sensei di Padepokan Seni Kabuki-nya. Keduanya yang satu generasi, menyebabkan pertemanan mereka semakin erat. 

Lebih dari beberapa dekade dijalani oleh Kikuo di dunia Kabuki, tanpa begitu berandil dalam dunia Yakuza warisan ayahnya. Namun, sifat dan sikap sangar Kikuo mulai muncul dalam dirinya. Apalagi, Kikuo kini justru bersaing dengan sahabatnya sendiri, demi meraih penghargaan sebagai aktor terbaik Kabuki seantero Jepang.

Bagaimanakah akhirnya yang penuh luka-liku budaya dibalik modern-nya Jepang? 

Jawabannya, tentu dapat dinikmati saat teater tradisional ala sinema Indonesia.