Tampilkan postingan dengan label Musikal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musikal. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2026

Pentingnya Tumbuh Kembang bagi Anak Ala Film Na Willa

 

Farida, Willa, Dul, dan Bud yang suka es krim (TMDB).

Ada tiga kombinasi film Indonesia yang tayang menjelang libur Lebaran. Karena temanya sangat mirip, dan jika dihubungkan ala 'timeline', maka terlihat seperti jalinan takdir multiversal (hah?). Cukup menarik, karena setiap judulnya memberi kisah sehari-hari (slice of life) yang sangat mengena, dan bahkan cukup dikenal setiap kalangan masyarakat Indonesia.

Sebenarnya terdapat pula judul keempat, namun karena bertema sains-fiksi dengan hebohnya efek spesial, maka tidak cocok sebagai kombo tiga film drama keseharian ini. 

Pertama adalah film yang cukup kentara permasalahannya di dunia nyata, berjudul Na Willa yang tayang di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur (SU). Lucunya film ini, adalah mengisahkan tentang hebohnya anak, saat pertama kali mengikuti jenjang pendidikan sekolah. 

Bagi yang mengingatnya, pertama kali masuk sekolah pasti terasa aneh. Dari pengalaman penulis, masih ingat saat pertama kali masuk TK atau Sekolah Dasar kelas satu. Banyak anak menangis, sementara orangtuanya sedang menunggu di luar kelas dengan cemas. Suatu pemandangan mencengangkan, karena baru kali itu penulis melihat banyak anak kecil menangis bersama.

Oh ya, dalam cuplikannya banyak adegan yang menggambarkan tentang cara bermain anak, mulai dari bermain kelereng, layang-layangan, ayunan, hingga membaca buku. Penulis pun perlu berkomentar mengenai hal ini. Yaitu saat banyak konten dan game ponsel yang sangat menarik, namun di lingkungan RT sendiri, justru sedang 'hype' dengan balapan manuk (burung). 

Ya, sejenis japati (merpati) yang diterbangkan sepasang, lalu dibalapkan hingga satu keliling lapangan, adalah animo yang sedang ramai di sekitar rumah penulis. Pemainnya memang beberapa anak SD, yang tampaknya tidak begitu tertarik dengan maenan ponsel jaman sekarang. 

Yang menontonnya pun bukan hanya mereka, yaitu banyak pemuda-pemudi (tua) yang penasaran dengan aktifitas di sore hari ini. Sebelumnya, anak-anak tersebut lebih heboh dengan adu layangannya. Tampaknya, sudah bertahun-tahun mereka melaksanakan maenan 'offline' tersebut.

Psikologi Anak Tidak Mau Sekolah

Sebelum membahas kisah di film Na Willa ini, coba dicek dari psikologi anak. Seperti sudah diutarakan sebelumnya, penulis sempat heran dengan keadaan TK atau SD terdahulu, dimana banyak anak menangis bersama saat pertama kali masuk sekolah. Tentu bukan hal sepele, karena dapat menganggu suasana hati anak, serta tumbuh kembangnya.

Ya, film ini menggambarkan Willa (Luisa Adreena) sebagai tokoh utamanya, yang merasa kaget saat baru mau masuk sekolah. Lebih tepatnya lagi, saat banyak temannya yang tidak bisa bermain, akibat baru masuk sekolah.

Perasaan seperti ini, sempat dijabarkan dalam banyak kajian. Karenanya, dapat berakibat mogoknya anak untuk masuk sekolah. Walau terlihat rewel saja dan perlu dimarahi, para ahli yakin bahwa fase ini perlu ditanggulangi dengan baik.

Seperti dilansir dari Educenter, masalah anak tidak mau sekolah adalah akibat rasa takut dan gelisah, lalu kegiatan sekolah yang membosankan, serta terpisah dengan zona nyaman, alias jauh dari rumah, orangtua dan saudara dekat.

Cara terbaik untuk menanggulanginya menurut Fakultasi Psikologi dari UMK, adalah melatih anak secara bertahap. Yaitu tidak memarahi anak langsung, lalu dukung mentalnya dengan memberi semangat. Bangun rasa percaya diri anak dengan memuji saat berani bersekolah, dan menyelesaikan PR-nya. 

Karena itu, minat dan rasa nyaman anak dapat berkembang. Kemandirian bisa dilatih, karena anak adalah pribadi yang merasa dan berpikir, sehingga orangtua harus berkomunikasi dengan saling memahami.

Nah, bagaimana dengan kisah Na Willa ini? Coba dicek saja sinopsisnya, yang ternyata diproduksi oleh sineas perfilman terkenal.

Sinopsis Film Na Willa

Film Na Willa ini diproduksi oleh Visinema, yaitu Studio yang merilis Jumbo, Keluarga Cemara, dan Nussa. Tentu yang pernah menontonnya, tahu sehebat apa studio ini dalam membawakan cerita sehari-hari, yang menjadi kenangan indah dan heboh ala sinema. Bahkan terdapat banyak adegan, dengan efek spesial 3D yang ciamik, layaknya film animasi Jumbo di tahun kemarin.

Film ini diadaptasi dari buku novel berjudul sama, hasil karya Reda Gaudiamo yang dirilis dengan tiga judul, yaitu Na Willa: Serial Catatan Kemarin (2012), Na Willa dan Rumah dalam Gang (2018), serta Na Willa dan Hari-hari Ramai (2022).

Willa (Luisa Adreena) adalah seorang anak kecil yang belum masuk sekolah. Kesehariannya diisi dengan bermain bersama tiga temannya, yaitu Farida (Freya Mikhalya), Bud (Ibrahim Arsenio) dan Dul (Azami Syauqi). Mulai dari bermain kelereng, layangan, ayunan, hingga banyak mainan anak, selalu mengisi keseharian empat sekawan ini.

Hingga akhirnya Dul perlu masuk sekolah SD, yang diisi dengan banyak dasar Calistung dan PR-nya. Dul pun jarang ikut bermain, sehingga membuat Willa heran. Farida yang akan sekolah pun, sempat ditanya oleh Willa untuk masuk sekolah atau tidak. Menyusul Dul yang nantinya akan masuk sekolah juga.

Willa yang merasa kesepian, mulai gelisah. Bahkan sulit menerima keseharian dirinya yang kini kosong tanpa teman. Willa jadi rewel dan sering menangis, dan bahkan memicu kemarahan ibunya, Mak (Irma Novita Rihi). Mbok (Mbok Tun) memberi nasihat, bahwa Willa hanya merasa kesepian saja.

Nah, bagaimana dengan keseharian Willa yang semakin sepi saja? Sanggupkah Willa menerima kenyataan bahwa sekolah adalah tujuan berikutnya? Apakah perlu terus berdamai dengan perubahan yang tiba?

Jawabannya, tentu ada di sinema anak Indonesia.

05 Maret 2026

Anehnya Imajinasi Ala SpongeBob SquarePants

 

Imajinasi ala SpongeBob (Reddit).

Monsterisasi kali ini, lebih mengacu pada blog ini, yaitu rasanya berimajinasi ala SpongeBob SquarePants. Bagi penggemarnya, perlu mengingat episode 'Idiot Box' alias 'Kotak Idiot.' Walau begitu, terdapat pula satu episode lain yang akan dibahas, yaitu berjudul 'Band Geeks' alias 'Band Kutu Buku.' 

Nantinya dibahas bahwa keduanya cukup nyambung, ala konsep Blog dan sedikit penggambaran dunia konten saat ini. Oh ya, artikel ini memang ditulis karena sempat dijanjikan saat merekomendasi film SpongeBob terbaru, Januari lalu. Yah, daripada acak dan mengacu ke sains, lebih baik dari segi yang mudah dikenal oleh penonton saja.

Imajinasi Liar Ala SpongeBob

Bagi yang perlu mengingatnya, akan diutarakan sedikit cerita dalam episode 'Kotak Idiot' ini. Squidward Tentacles (Roger Bumpass) sedang kesal akibat SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) dan Patrick Star (Bill Fagerbakke) tengah ramai bermain di sekitar rumahnya. Namun, yang terdengar cukup aneh, bahkan epik, sesuai dengan apa yang sedang dimainkan keduanya didalam sebuah kotak kardus biasa.

Saking herannya, Squidward beberapa kali menciduk apa yang dimainkan oleh kedua tetangganya itu, namun hasilnya nihil. Lalu, SpongeBob menjelaskan bagaimana cara kerjanya. Yaitu sederhana saja, yaitu dengan 'imajinasi' saja. 

Seperti biasa dalam episode SpongeBob SquarePants, akhir cerita selalu bodor, apalagi jika terdapat karakter Squidward didalamnya. Namun, bukan kekonyolan itu yang dimaksud penulis. 

Sementara Squidward yang berhasil masuk kedalam kotak, lalu mulai ikut bermain imajinasi, gagal saat ikut memainkannya. Namun Squidward tetap heran, karena kisah 'bajak laut' didalam kotak, malah semakin terdengar epik, hingga malam hari.

Maksudnya adalah penjelasan proses imajinasi diutarakan oleh para pemain dan yang menontonnya. Layaknya permainan anak, yaitu kucing-kucingan, anak bisa berimajinasi ala kucing saling mengejar, atau anjing vs kucing, atau dinosaurus vs para penyintas. Walau mekanik permainannya tetap sama, tetapi imajinasi dapat menambah hebohnya mainan tersebut.

Perlu diingat pula, bagaimana proses imajinasi bisa dilaksanakan sebagai bahan pembelajaran. Penulis yang memang berlatar linguistik dan sastra, sempat belajar mengenai proses imajinasi menggunakan format Essay. 

Guru menulis kalimat awal di papan tulis saat di kelas, lalu meminta siswa untuk melanjutkan kalimatnya sendiri. Lalu siswa berikutnya, akan menulis kelanjutan cerita, sesuai dengan minat mereka. Hingga akhirnya terbentuk sebuah paragraf, maka proses imajinasi setiap siswa dapat menambah keanehan, kehebohan, atau perbedaan sudut pandang setiap siswa. Layaknya, permainan seperti ini dalam proses pembelajaran, adalah proses untuk menumbuhkan imajinasi para siswa, daripada hanya berkutat pada EYD dan Tata Bahasa.

Justru disitulah anehnya episode ini. Squidward adalah seorang musisi yang cukup dikenal. Walau sering disepelekan akibat permainan klarinetnya yang sumbang, namun tetap dikenal sebagai seniman serba bisa. Nah, bagaimana jika Squidward mulai menggunakan instrumen yang sesuai dengan keahliannya?

Kemenangan yang Indah ala Squidward

Dalam sub-artikel ini, akan mengacu pada episode lainnya berjudul 'Band Geeks.' Justru dalam episode kali ini, Squidward memang pantas menang. Berbeda dengan banyak kesialan ala dirinya, Squidward memang perlu menang dalam episode ini.

Bagi yang agak lupa, tentu perlu mengingat episode saat Squidward ditantang oleh Squilliam Fancyson (Dee Bradley Baker), untuk mengisi band saat Super Bowl berlangsung di permukaan (alias darat). Squidward yang emosional, tentu langsung menyetujui tantangan tersebut.

Squidward lalu melatih banyak warga Bikini Bottom, agar segera siap dalam konser tersebut. Namun seperti biasa, malah kekacauan yang terjadi. Squidward pun menyerah, dan membiarkan mukanya semakin malu saja. SpongeBob akhirnya berinisiatif, agar menyatukan seluruh anggota band, dan membantu Squidward hingga berhasil.

Nah, contohnya memang agak berbeda. Layaknya permainan essay sebelumnya, perbedaan imajinasi dan kemampuan para siswa, tentu akan merubah arah cerita essay tersebut. Layaknya permainan imajinasi, tetap menyatu sama lainnya, alias menjadi karakter tersendiri. Apalagi dibawakan ringan, dengan maksud belajar sesuatu dibaliknya. Yaitu, kerjasama dan ekspresi pribadi, melalui media imajinasi dan format essay di papan tulis.

Mirip dengan keadaan Squidward dan warga Bikini Bottom, satu grup ini perlu saling memahami, untuk mencapai tujuan konser. Setiap anggota memainkan instrumen berbeda, sementara Squidward berperan sebagai pelatih serta dirijen di depannya. Satu kesatuan dengan perbedaan inilah, yang berhasil menciptakan satu alunan lagu, yang tentu enak didengar atau aneh sekaligus.

Di akhir episode memang terdengar alunan lagu 'Sweet Victory' hasil karya David Gen Eisley dan Bob Kulick. Terdengar indah, yaitu sebuah momen Squidward yang bisa sumringah, dan menang besar. Ya, Squidward adalah seniman berbakat dalam segi instrumen musik, yang dibantu oleh warga Bikini Bottom.

Squidward yang sumringah (Reddit).

Sedikit Kisah Bonus dari Sandy Squirrel

Ada sedikit referensi menarik di akhir artikel ini, yaitu mengenai Sandy Squirrel. Karena penulis agak iseng, dan kurang bisa diangkat dalam satu artikel, maka dijabarkan disini saja.

Sandy Squirrel (Carolyn Lawrence) adalah seorang tupai dari darat sana, yang entah kenapa tinggal dibawah laut. Sandy berteman dekat dengan SpongeBob dan Patrick, walau keduanya kurang dapat menanggapinya. Sandy memang bekerja sebagai seorang ilmuwan, yang tentu aneh di Bikini Bottom.

Sandy yang tidak memiliki insang layaknya ikan, sehingga perlu mengenakan baju selam untuk bernapas dalam air. Tidak hanya itu, Sandy tinggal dalam kubah berisi udara, lengkap dengan oksigen sesuai kebutuhannya.

Nah, Sandy memang cukup isekai, namun ternyata penggambarannya cukup sesuai. Bagi yang belum tahu, NASA sebagai organisasi antariksa dunia, sering melaksanakan eksperimen dibawah laut. Eksperimen ini dilaksanakan sebagai simulasi antariksa. Baju selam Sandy pun terlihat seperti seorang kosmonot (atau astronot), daripada standar saat ini. Pekerjaan dirinya sebagai ilmuwan, semakin menguatkan penggambaran dirinya sebagai simbol dari NASA.

Sandy seperti ini, tentu sesuai dengan cara mendiang Stephen Hillenburg, seorang ahli biologi lautan, yang menggambarkan setiap karakter di Bikini Bottom, dengan referensi sainsnya. Ya, seorang ilmuwan dengan banyak bakat ilmunya, dapat menciptakan banyak cerita humor nan bodor, walau tetap mendidik tanpa perlu langsung menggurui.

Okeh, Ciao.

Sandy Squirrel yang berbeda (Reddit).

12 Februari 2026

Lebih Memaknai Karakter Son Dalam Film Linda Linda Linda

 

Anggota Paranmaum yang ingin konser (TMDB).

Berikutnya, saatnya mengakhiri kisah mengerikan di minggu ini, dengan film yang baru saja diperbarui hingga 4k, berjudul Linda Linda Linda. Ya, memang judul filmnya kurang cocok dengan istilah Monsterisasi, tetapi cukup menarik jika dicek latarnya. Terdapat analisis khusus, mengenai perbedaan industri Jepang dan Korea, khususnya semenjak jaman modern. Analisisnya pun cukup brutal, jadi ada sedikit sosok monster dibaliknya.

Oh ya, penulis mau konfirmasi pula, bahwa sebenarnya baru menonton film Linda Linda Linda, setelah merekomendasikan dalam artikel lainnya di Blog Sedia Saja. Bahkan jika diingat-ingat, memang genre musikal Pop-Rock adalah minat saya sejak lama. Sekaligus, mengingat momen terdahulu pas jaman SMA. Selain itu, kayaknya teman sekelas cewek jaman SMA, pernah minta untuk menonton Linda Linda Linda. Mungkin hanya sekedar obrolan, jadi kurang bisa mengingatnya.

Walau film ini cukup dingin dan santai pembawaannya, cukup nyambung dengan minat saya. Layaknya drama dari Jepang sana, memang tidak seheboh anime-nya. Bahkan saking dinginnya setiap momen (walau lucu), penulis merasa adegan di film ini sangat mirip dengan cara ngobrol sehari-hari, apalagi jaman SMA terdahulu. Karena itu ketika film diakhiri dengan dua tayangan lagu, semakin kagum saja setelah selesai menontonnya. 

Bae Doona sebagai Son dan Personil Paranmaum

Bae Doona adalah aktris ternama dari Korea Selatan, yang berperan sebagai Son di film Linda Linda Linda, yang semakin melambungkan namanya. Hingga kini, Bae Doona telah berperan di banyak film Korea Selatan terkenal, contohnya adalah The Host (2006), Silent Sea (2021), dan serial terkenal Kingdom (2019-2020). 

Bahkan Bae Doona sempat pamor namanya di Hollywood sana, dengan film Jupiter Ascending (2015), dan Rebel Moon (2023) dari sutradara ternama Zack Snyder. Pokoknya jika membahas Bae Doona, maka akan mengenal sosok aktris ternama, sekaligus aktris internasional.

Sementara anggota lain dari grup band Paranmaum, memiliki banyak peran pula di Jepang sana. Aki Maeda sebagai Kyoko Yamada alias sang drummer, sempat berperan dalam film kontroversial Battle Royale (2000, 2003). Yuu Kashii sebagai Kei Tachibana alias sang gitaris, berperan di film Death Note (2006) dan My Boss My Hero (2006) yang penuh nostalgia. 

Terakhir adalah Shiori Sekina sebagai Nozomi Shirakawa, yang sebenarnya tidak berperan sebagai aktris. Melainkan dirinya telah bekerja sebagai bassist sebuah band, sesuai dengan perannya di film Linda Linda Linda.

Pertukaran Pelajar Jepang dan Korea Selatan

Nah, Son dari Korea Selatan, sebenarnya tidak cukup nyambung dengan karakter lainnya, yang asli dari Jepang. Namun karena konflik internal band, Son sebagai murid pertukaran pelajar, lalu direkrut sebagai vokalis. Son yang kurang mengenal banyak kosakata Jepang, ternyata sanggup bernyanyi pula. Bahkan girlband ini merubah namanya menjadi Paranmaum, yang artinya adalah Blue Hearts dalam bahasa Korea. 

Mengapa film Linda Linda Linda banyak yang suka, hingga bahkan sutradaranya yang bernama Nobuhiro Yamashita meraih penghargaan sutradara terbaik di tahun 2006? Jawabannya ternyata cukup dalam, yaitu film ini memberi dampak budaya langsung bagi Jepang dan Korea Selatan.

Ya, bagi yang suka Jepang dan Korea Selatan, tentu tahu mengenai ketegangan industri diantaranya keduanya. Banyak produk dari Jepang, tidak diterima di Korea Selatan akibat sejarah kedua negara. Sehingga, banyak perkembangan berbeda antar keduanya.

Paling kentara, adalah produk ponsel Samsung dari Korea Selatan, dengan Sony dari Jepang. Keduanya sempat meramaikan Indonesia, namun sangat kentara kompetisi keduanya. Industri mobil pun cukup bersaing, yaitu banyak merk otomotif dari Jepang, sementara Korea Selatan mengandalkan Hyundai-nya. 

Fans Jepang dan Studio Animasi

Nah, hubungannya dengan film ini pun cukup kentara, yaitu segi dunia hiburannya. Perkembangan industri hiburan cukup terpisah, contohnya saat Jepang dengan sinematografi tradisionalnya, sementara Korea Selatan yang heboh ala film Hollywood.

Salah satu perbedaan paling terasa, ada di dunia gaming-nya. Ya, saat Jepang sangat bersemangat untuk menyebarkan konsol gimnya, contohnya Nintendo hingga Playstation, namun produk tersebut tidak beredar di Korea Selatan. Sehingga, negara di semenanjung Korea ini memilih produk lainnya, yaitu lebih berlandaskan gim PC. 

Bagi yang melanglangbuana di dunia gaming, tentu tahu sehebat apa Korea Selatan di kompetisi digital. Hingga kini, Korea Selatan sering menjuarai banyak kompetisi internasional gim, sejak jaman Counter Strike pertama. Tidak hanya itu, adalah pesatnya MMORPG sebagai industri khas Korea Selatan. Hingga kini, ranah gim MOBA berjudul League of Legends (dari Eropa), masih menjadi animo terbesar di Korea Selatan.

Tentu perkembangan ini berbeda dengan distribusi gim konsol ala Jepang, dengan banyak gim offline-nya. Namun, ternyata keduanya sempat disatukan, sejak gim MMO berjudul Ragnarok Online, yang dirilis pada tahun 2002 lalu. Gambarnya yang lebih imut daripada gim kebanyakan, serta grind-nya yang keterlaluan, ternyata menarik bagi banyak pemain Jepang.

Perkembangan pun berlanjut hingga tahun 2020an sekarang. Bagi penggemar film animasi atau anime, tentu tahu sebesar apa pengaruh serial Webtoon berjudul Solo Leveling di Jepang. Bahkan jika para penggemar (ala Wibu dan Otaku) mengecek kredit akhir anime dari studio Mappa dan Madhouse, ternyata banyak anggota dari Korea Selatan. Hal itu membuktikan, bahwa perkembangan berbeda industri kedua negara, malah menyatukan keduanya saat ini.

Jadi, akulturasi budaya populer antara Jepang dan Korea Selatan di masa kini, sangatlah damai dan terasa. Tentu, tidak sekontras jaman sebelumnya. Dan karena itu, banyak fans dari Korea Selatan dan Jepang, sangat menghargai film Linda Linda Linda, sebagai pionir dalam menyatukan kedua negara industri ini.

Paranmaum (Blue Hearts) dan Khas Punk-Rock

Okeh, memang kisah yang berdampak bagi budaya Jepang dan Korea Selatan. Namun, bagaimana dengan cerita filmnya sendiri? Ya, film ini memiliki momen berbeda di akhir film. Tidak begitu aneh dan bahkan bukan spoiler, karena memang akhirnya adalah lagu saja (hehe).

Namun, perlu ditelaah dari lagu yang dibawakannya, yaitu dua lagu dari band Punk-Rock Jepang tahun 80an, bernama Blue Hearts. Band ini memang betulan genre Punk-Rock lama, yang sangat kentara dengan kerasnya vokal, layaknya lagu Trash yang banyak Noise-nya. Bagi yang sudah mendengar lagu Linda Linda versi asli dari Blue Hearts, pasti sanggup memahaminya. Perlu dipahami pula, bahwa genre Punk-Rock dalam musik, memang berada di tingkatan anti-mainstream (saat itu), namun tetap disukai penggemarnya.

Nah, khas Punk-Rock yang acak adut ternyata cocok bagi personil Paranmaum. Padahal, anggota girlband ini cantik semua dan menjalani kisah Romansa SMA. Son, Kyoko, dan Kei bahkan memiliki kisah cintanya sendiri. Terkecuali sang bassist Nozomi, yang terkenal pemalu.

Bahkan ada satu adegan lucu untuk romansa SMA ini. Son yang ketiduran saat menjaga gerai pertukaran budaya Korea Selatan dan Jepangnya, diminta melalui surat untuk datang ke lokasi gudang. Lokasi ini terkenal, sebagai tempat untuk menyatakan cinta pada cewek, saat Festival Budaya atau Pentas Seni berlangsung di sekolah Jepang.  

Bahkan dalam adegan ini, sang cowok berbicara bahasa Korea, demi menyatakan isi hati pada Son. Namun Son dengan tingkahnya yang nyentrik, hanya dapat menjawab (dalam bahasa Korea), bahwa dirinya ingin berlatih nyanyi sebagai vokalis Paranmaum saja, bersama teman-temannya. Dirinya pun kembali keluar lokasi gudang, yang disambut langsung anggota Paranmaum lainnya.

Nah, kisah di akhir film ini ternyata cocok dengan gaya Punk-Rock, namun khas ala pembawaan cewek. Paranmaum yang ketiduran akibat begadang untuk berlatih, akhirnya telat untuk sampai ke sekolah, dan perlu melewati hujan deras, demi sampai di gymnasium sebagai lokasi panggung. Bahkan Son sempat jatuh, akibat genangan air sambil lari terburu-buru. 

Keempatnya pun dengan baju basah nan lusuh, rambut yang belum mengering, perlu langsung mengisi panggung dengan dua lagunya. Adegan akhir ini layaknya Punk-Rock yang memang setelannya berantakan, namun sanggup manggung dengan hebat dan energetik. 

Oh ya, karakter suara dan logat Son yang khas dari Korea Selatan, ternyata cocok untuk kedua lagu dari Blue Hearts. Memang jika dibandingkan dengan logat khas Jepang yang lebih nyaring dan cempreng, logat khas Korea lebih berat dan dalam.

Lagu Linda Linda dan Uwaranai Uta dari Paranmaum

Kedua lagu yang di-cover oleh Paranmaum dari Blue Hearts, ternyata sangat cocok sebagai akhir dari kisah ini. 

Lagu Linda Linda yang dibawakan sangar oleh band aslinya, ternyata cocok dengan penggambaran film ini. Seakan, seluruh jawaban romansa SMA mereka, dapat dijawab dengan lagu ini. Beberapa karakter cowok yang dekat atau menyatakan isi hati kepada anggota personil Paranmaum, hanya bisa ikut moshing atau mengangguk bersenandung bersama lagu ini.

Lagu terakhir berjudul Uwaranai Uta, alias Endless Song, alias Lagu Tanpa Akhir, ternyata dapat menjawab semuanya, dan bahkan cukup wholesome. Dicek saja lirik lagunya, yang menjawab semua kegalauan jaman sekolah terdahulu. Seakan perjuangan selama ini, dapat terjawab dengan cara mendoakan semuanya, bahkan bagi mereka yang karakternya cukup sulit diterima. 

Akulturasi Budaya memang Indah, tetapi saya cuman ingin bersama teman-teman saja.

Stay on the Brightside, Brothers...

"Hehe, maaf ya...," ujar Son (YouTube).

22 Januari 2026

Linda Linda Linda di Remastered Ampe 4K

 

Girlband yang tetap sumringah (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film musikal yang berbeda dari ranah Jepang sana, berjudul Linda Linda Linda, yang tayang di sinema Indonesia dengan diperbarui sampai 4k. Sebelumnya, film ini baru saja dirilis di Indonesia, akhir tahun 2025 lalu dengan perbaruan 4k, saat ditayangkan sebagai bagian dari festival film di Yogya (JAFF), dengan rating umur R13. 

Film musikal ini memang nostalgia khusus, karena aslinya dirilis pada tahun 2005 lalu, saat banyak band berisi seluruhnya cewek, bermain musik instrumen rock. Animo ini terus berkembang hingga awal 2010an.

Awal 2000an adalah momen baru bagi kebangkitan musik, dengan banyak band indie yang bergerilya di seantero dunia. Bahkan di Jepang sana, band indie layaknya lahan bagi musisi yang tidak begitu mainstream.

Padahal, jaman tersebut belum ada internet yang cepat, sehingga kabar gigs dan sebagainya, hanya dikabarkan melalui ponsel atau di Myspace dan Friendster. Ya, kedua media sosial awal tersebut, biasanya dipakai untuk menyebarkan acara dari para band indie.

Namun, animonya terus berkembang maju, hingga akhirnya YouTube meramaikan dunia internet dengan unggahan video-nya yang mudah dan sederhana, sejak tahun 2006. Setelah YouTube dirilis, banyak band indie berbondong-bondong meramaikannya, dengan tautan menuju laman medsos mereka.

Nah, dari segi dunia musiknya sendiri, khusus di SMP hingga SMA Indonesia, semacam Pentas Seni sering diadakan setiap tahunnya. Pensi ini dilaksanakan dengan mengundang band besar atau indie terkenal, selain para anggota band dari sekolahnya sendiri.

Saking ramainya, setiap ada Pentas Seni di sekolah (khususnya di Bandung), sangat penuh dengan anak sekolah dari SMP-SMA lain. Karena mereka ingin menikmati band indie terkenal, yang cukup sulit ditemukan di luar sekolah (alias konsernya malam hari). Saking penuhnya, keadaan diluar sekolah kadang macet akibat penuhnya lokasi Pensi.

Masih teringat, saat Maia Estianty dan Mulan Jameela sebagai duo Ratu, tiba di sekolah terdahulu untuk meramaikan Pensi. Moshing Pit jaman tersebut memang beda, karena jarang ada kisruh antar genre yang berbeda.

Kembali ke film Linda Linda Linda, layaknya mengingatkan penulis saat lulus SMA terdahulu. Saat itu, guru yang memang lihai memainkan alat musik, mengisi Prom Sekolah di hotel, dengan berbagai kibasan musik Rock n Roll-nya. Moshing pun menjadi kewajiban saat momen berlangsung. Nostal-gila yang betulan indah (:D)

Dan kembali (lagi) ke film ini (hehe), memang mengisahkan sebuah Pentas Seni di akhir masa sekolah. Karya film ini sangat disukai oleh kritikus Jepang. Bahkan, sutradara Nobuhiro Yamashita sebagai pemimpin produksinya, meraih sutradara terbaik di Jepang sana, pada tahun 2006.  

Animo band dengan girlband-nya, memang semakin ramai di Jepang sana. Khusus untuk ranah tontonan, mengisi banyak animo anime di Jepang. Kisah girlband ini langsung dilanjutkan pada saat anime K-On! rilis manga-nya mulai tahun 2007, yang ditambah produksi animenya pada tahun 2009.

Contohnya berikutnya adalah Angel Beats!, yaitu novel ringan (lalu diadaptasi sebagai anime tahun 2010) yang mengisahkan tentang sesi 'reinkarnasi' di sekolah. Kisahnya yang kocak mengenai festival (matsuri) akhir di sekolah 'alam baka', berakhir cukup miris-manis (bittersweet), dan menyebabkan banyak fans terpukau. 

Animo musik ini masih dilanjutkan di banyak anime hingga sekarang. Contohnya adalah Bocchi The Rock! yang hingga kini masih viral di dunia anime seantero inet.

Okeh, saatnya kembali ke sinopsisnya saja, karena memang cukup sederhana untuk dijelaskan (hehe). Kayaknya gak perlu dibuat sub-artikelnya juga, jadi ya ditulis simpel saja lah...

Kei (Yuu Kashii) sebagai gitaris, Kyoko (Aki Maeda) sebagai drummer, dan Nozomi (Shiori Sekine) sebagai bassist, tergabung sebagai girlband di sekolahnya. Namun, menjelang festival di sekolahnya, mereka belum memiliki vokalis sama sekali. 

Hingga akhirnya mereka mengingat seorang gadis bersuara bagus, bernama Son (Bae Doona). Namun, Son adalah seorang murid pertukaran dari Korea Selatan, yang belum fasih berbahasa Jepang.

Padahal, festival akan diadakan dalam waktu tiga hari lagi. Band mereka harus segera latihan demi memainkan lagu 80an, berjudul Linda Linda dari band punk Blue Hearts.

Oh ya, bagi yang tidak sempat menontonnya di sinema, dapat menyaksikannya di siaran internet Netflix, walau masih belum berformat 4k.

12 Januari 2026

Idola Sekolah di Film Anime Love Live! Nijigasaki High School Idol Club The Movie

 

Ayumu Uehara yang heran ada disini (TMDB).

Sekarang, saatnya beralih ke anime yang sudah cukup mumpuni vibe-nya, tetapi kurang dimengerti oleh penulis, berjudul Love Live! Nijigasaki High School Idol Club The Movie, yang akan tayang khusus di satu rangkaian sinema Indonesia. Memang, penulis kurang mengerti kisah idola Jepang nan Wibu ini, tetapi cukup mengenal animonya. Ditambah lagi, rating anime ini ternyata Semua Umur (SU).

Jika dicek sejarahnya, maka harus kembali ke awal tahun 2000an lalu, saat akademi idola Jepang ramai dengan grup bernama AKB48. Jumlahnya memang banyak, yang mencapai 48 personil dan berisi banyak idola cewek, yang berbakat dalam menyanyi dan berdansa. 

Khusus untuk grup AKB ini sendiri, melanglangbuana grup lainnya hingga hampir seluruh Jepang. Contohnya, adalah SKE48 (Nagoya), HKT48 (Fukuoka), dan NGT48 (Niigata). Bahkan, grup ini merambah hingga Indonesia, bernama JKT48. Di negara lainnya, terdapat pula TPE48 dari Taiwan, SNH48 dari China, MNL48 dari Pinay, dan BNK48 dari Thailand. 

Namun, animo seperti ini memunculkan istilah baru bagi dunia hiburan Jepang, yaitu idola cewek yang berbakat di dunia hiburan. Saking besar animonya, tercipta banyak manga atau anime, berkisah mengenai drama sepintas kehidupan, namun dengan karakter berlatar belakang sebagai idola. 

Tentu, perlu diingat pula mengenai Vocaloid yang beravatar anime, dengan Hatsune Miku yang Go International. Penerusnya kini, penyanyi ber-avatar anime yang selalu tampil langsung dibalik siluet hitam, bernama Ado, sedang ramai diobrolkan oleh banyak penggemar, khususnya dari luar Jepang.

Yang paling nyeleneh, tentu Uma Musume, yang menggabungkan cewek idola Jepang, dengan balapan kuda dalam gim-nya. Anime nya pun merambah, yang hingga saat ini telah mencapai tiga musim, dengan satu film dan dua spin-off-nya. Animo idola di Jepang, layaknya sebuah stadion sepakbola, yang setiap lokasinya diramaikan dengan kompetisi tertentu. 

Satu judul yang paling meramaikan animo ini di Jepangnya sendiri, adalah Love Live!, yang mulai rilis sejak 2010 lalu. Waralaba Love Live hingga kini telah merilis enam serial (2014, 2017, 2022, 2023, 2024), dengan variasi jumlah musim setiap serialnya. Tiga Film pun ditelurkan oleh waralaba ini, yang mengacu pada setiap serial yang berbeda.

Yang paling konsisten dalam merilis produknya, adalah sejenis video gim. Sejak tahun 2013 lalu, setiap tahunnya dirilis gim Love Live, dengan berbagai kombinasi format, genre, dan konsolnya. Waralaba Love Live! memang sukses besar, dengan pendapatan sejak tahun tahun 2014 hingga 2020, mencapai 166 Milyar Yen Jepang, atau 1,5 Milyar Dolar AS.

Okeh, segitu saja dulu. Untuk sinopsisnya di film Love Live! ini, tentu mengambil latar di Nijigasaki, yaitu sekolah yang dirilis tahun 2017 lalu. Selalu mirip dengan animo Love Live!, kisahnya tentu mengenai kompetisi idola Jepang, berlatar sekolah di sana.

29 Agustus 2025

Drama Musikal Indonesia Jaman Kolonialisme di Film Siapa Dia

Nicholas Saputra dan Gisella Anastasia yang sedang kasmaran (TMDB).

Naaaaah, sekali lagi...! Di bulan Agustus, masanya merayakan kemerdekaan, kurang sreg rasanya kalau tidak membahas film dari INDONESIA! Tentu, dengan kesan dan pesan yang lebih mengacu pada jaman koloniasme pula, dan mendukung rasa nasionalisme ala sinema.

Mengacu momen kemerdekaan, maka perlu diingat kembali, bahwa tanpa bom atom dari AS yang menimpa dua kota di Jepang, Indonesia tampaknya bukan lagi 'Indonesia' lagi (jika isekai ke multiverse lain).

Kebetulan tersebut memudahkan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Insinyur Soekarno, tepat saat negara kita sudah sulit melawan pasukan kolonial Belanda, yang masih disusul lagi oleh Jepang.

Kembali ke film Siapa Dia yang tengah tayang, rasa berbeda tetap disajikan oleh sineas perfilman Indonesia di bulan Agustus ini. Justru film ini dirilis sebagai drama musikal, bersama Windi Mulia, Nicholas Saputra, dan sutradara legendaris Garin Nugroho.

Tidak hanya bintang kawakan, aktor dan aktris terkenal seperti Gisella Anastasia, Ariel Tatum, dan Morgan Oey pun turut berperan dalam film ini. Tentu sejumlah nama yang sangat familiar, apalagi yang sempat menonton film sejak tahun 90an lalu hingga sekarang.

Drama musikal yang tersaji di Siapa Dia pun diisi dengan latar yang masih cocok, yaitu jaman kolonalisme. Jaman tersebut memang Indonesia sudah memiliki teater modern tersendiri, menyusul teater tradisional lainnya seperti wayang, ketoprak, atau longser.

Dari cuplikan film Siapa Dia, dapat terlihat gambar bendera jepang lama, yaitu bendera matahari (nisshoki) dengan garis memancar dari bola di tengahnya. Seragam khas pasukan Jepang dan Belanda pun sempat terlihat dikenakan oleh beberapa karakternya, dengan berseringai pula.

Nah, terlihat dari cuplikannya, lebih tepatnya terdengar, banyak adegan terisi oleh beberapa lagu klasik Indonesia. Lagu seperti keroncong atau klasik vintage, dengan lirik dan nada yang sedikit diaransemen ulang, khusus untuk film ini.

Contohnya adalah lagu Bing Slamet terdahulu, berjudul Nurlela. Lagu lainnya lebih ke 70an, seperti Chrisye dengan cross-genre Rock n Roll dan Pop. Generasi 'old' pasti merasa nostagia dengan berbagai pilihan lagu di film ini.

Belum jelas apakah film ini akan mengisahkan adegan drama saja, atau berisi gelut dengan kolonialisme jaman tersebut. Memang dalam cuplikannya sempat terlihat, tetapi latar belakang karakternya bukanlah seorang birokrat, atau pun gerilyawan.

Sinopsis Film Siapa Dia

Layar (Nicholas Saputra) adalah seorang sutradara terkenal di Indonesia. Statusnya yang sudah kawakan nan legendaris, membuat dirinya bosan dalam pekerjaannya. Dia merasa kurang terinspirasi oleh karyanya, dan berujung mentok dalam menciptakannya.

Temannya pun menyarankan untuk menulis sendiri karyanya, mulai dari rancangan hingga naskah finalnya sendiri. Selama ini Layar memang hanya berkecimpung  sebagai sutradara di filmnya.

Denok (Windi Mulia) pun mengerti perasaan Layar, yang tampak jengah. Dia tahu bahwa Layar merasa terkucilkan walau terkenal, karena ketenarannya hanya mengundang sanjungan dari banyak orang yang disekitar dirinya.

Di tengah kegalauannya, Layar pun menginap di rumah lama milik buyutnya. Disana, dia menemukan sebuah buku harian dalam koper lama, lengkap dengan beberapa surat cinta milik buyutnya.

Kisah klasik yang terbawa oleh dua media tersebut merubah kesan Layar, yang tiba-tiba terinspirasi. Keluarganya memang memiliki sejarah seniman teater, sehingga mengingatkan kembali Layar, untuk menggali ulang latar belakang dirinya sendiri, sejak jaman kolonialisme.

Tampaknya naskah film Siapa Dia mereferensikan dengan jelas, bahwa masa sekarang sudah begitu maju, jika dibandingkan dengan jaman terdahulu. Namun, jika mencapai momen yang sulit, ada baiknya kita perlu rehat sejenak, dengan mengenang sejarah yang berarti khusus bagi perkembangan kita selama ini.

03 Mei 2025

Film Reka Ulang Mendadak Dangdut yang Legendaris

Mantep kayaknya joget dangdut dekat laut (IMDB).

Ingatkah anda tentang film Mendadak Dangdut yang dirilis tahun 2006 lalu? Film tersebut melejitkan nama Titi Kamal, yang ternyata sanggup menyanyikan cengkok lagu ala dangdut. Nah, pada tanggal 30 April tahun 2025 ini, dirilis kembali film Mendadak Dangdut. Uniknya, walau judulnya sama, film ini bukanlah sekuel atau prekuel, melainkan reka ulang.

Reka ulang film Mendadak Dangdut tahun 2025 ini menyajikan tokoh, latar, serta cerita yang berbeda. Dilansir dari IMDB, sutradaranya pun sineas perfilman yang terkenal, yaitu Monty Tiwa. Film ini diisi pula oleh aktris kawakan Anya Geraldine sebagai tokoh utama, bersama Aisha Nurra Datau dan Keanu AGL dalam film drama komedi ini.

Sinopsis Film Mendadak Dangdut

Naya Wardhani (Anya Geraldine) adalah seorang penyanyi pop yang tengah naik daun layaknya ulat. Namun, naiknya karir hanya membuat jengah dirinya. Emosi tersebut disebabkan oleh Thomas (Sadha Triyudha), produser musiknya yang hanya peduli pada kepentingan bisnis dan karir Naya di dunia musik. 

Berbanding terbalik dengan Thomas, Zul (Calvin Jeremy) yang berperan sebagai manajer Naya, tengah mencoba agar Naya dapat pindah label musiknya dan lepas dari kekangan Thomas.

Naya pun sebenarnya sedang mengalami kelelahan mental, akibat ayahnya yang bernama Anwar (Joshua Pandel) malah kawin lagi. Ayahnya meninggalkan Naya serta saudarinya, Lola (Aisha Nurra Datau), dan mengakibatkan situasi keluarganya semakin sulit.

Keadaan makin parah dengan konflik antara Zul dan Thomas yang semakin memanas. Akibat suatu pertikaian, Thomas membunuh Zul dan menjebak Naya sebagai pelakunya. 

Naya, Lola, dan Anwar pun terpaksa melarikan diri dari lokasi rumahnya, dan pindah ke Desa Singalaya. Di sana, keduanya harus merawat ayahnya yang sempat mereka bawa dan memang sudah pikun. Padahal, saksi kunci pembunuhan tersebut adalah Anwar, yang memang reka ingatannya sering putus-putus dan sudah tidak nyambung jika diajak mengobrol.

Sayangnya, beberapa warga desa mengenali Naya dan memaksanya kembali bernyanyi. Wawan (Keanu AGL) dan Wendhoy (Fajar Nugra) mengancam akan melaporkannya ke polisi, jika Naya tidak bernyanyi dangdut di Singalaya.

Dengan cengkok dangdut dan penampilan berbeda, Naya terpaksa tampil di depan publik desa, sambil menghindari polisi yang mungkin mengenali wajahnya. 

Mungkinkah Naya berhasil lepas dari jeratan kasus dan menghindari polisi? Atau malah keasyikan bernyanyi dangdut dan melupakan semuanya? Atau malah mendatangi polisi dan mengakui semuanya?

Jawabannya, tentu ada di goyangan mantap ala sinema Indonesia.

13 April 2025

Indonesia Menelurkan Film Animasi Jumbo yang Penuh Bintang

Jumbo yang terlalu berat untuk panjat pinang (IMDB).

Industri perfilman Indonesia akhirnya menelurkan kembali film animasi pada tahun 2025, yaitu film anak-anak berjudul JumboDilansir dari IMDB, film yang dirilis akhir Maret lalu, tepatnya tanggal 31 berisi banyak bintang Indonesia, diantaranya adalah Bunga Citra Lestari dan Ariel 'Noah' sebagai pengisi suara. 

Film animasi Jumbo diproduksi oleh Visinema Pictures sejak tahun 2020 lalu, dengan kontribusi dari 200 kreator, yang diarahkan oleh sutradara Ryan Adriandhy. Selama dua minggu penayangan awalnya, sekitar 2 juta 300 ribu penonton telah menikmatinya di berbagai bioskop Indonesia. 

Bagi yang kangen dengan lagu pop Indonesia, Bunga Citra Lestari, Quinn Salman dan Maliq & D'Essentials mengisi film ini sebagai pengisi lajur lagu resmi. Lagu yang dibawakan mereka berjudul Selalu Ada di Nadimu dan Kumpul Bocah.

Para penikmat film yang tengah mencari inspirasi, menonton film nasional ini layak untuk mengisi akhir minggu bersama keluarga tercinta. 

Sinopsis Film Animasi Jumbo

Don (Prince Poetiray) adalah nama tokoh utama di film animasi ini, yaitu seorang anak yatim piatu yang punya mimpi untuk tampil berpentas. Don ingin tampil diatas panggung, dengan menceritakan buku dongeng karangan almarhum ayah (Ariel 'Noah') dan ibunya (Bunga Citra Lestari). 

Padahal, Don adalah anak kecil gembul yang dikenal kurang berbakat dan sering dirundung. Selama ini, dia diasuh oleh neneknya yang bernama Oma (Ratna Riantiarno), dan sering merasa sedih karena tidak pernah sekali pun menang dalam lomba.

Hingga akhirnya, kesempatan tersebut tiba dengan diadakannya pentas seni di lingkungan rumahnya. Bersama kedua sahabatnya, Nurman (Yusuf Ozkan) dan Mae (Graciella Abigail), mereka berlatih untuk memeriahkan pentas tersebut. Walau banyak yang mengejek, ketiga sekawan ini tetap semangat. 

Namun, masalah tiba ketika buku dongeng miliknya dirampas oleh temannya yang suka merundung, Atta (Muhammad Adhiyat). Pada saat yang hampir sama, tiba-tiba arwah anak kecil muncul di hadapan mereka. 

Arwah tersebut bernama Meri (Quinn Salman), yang meminta bantuan kepada mereka untuk menemukan orang tua-nya yang hilang diculik. Petualangan empat sekawan ini pun dimulai, untuk mewujudkan mimpi sekaligus mencari keberadaan orang tua Meri.  

Tentu, dengan menontonnya di ajang bakat ala sinema Indonesia.