Tampilkan postingan dengan label Anime. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anime. Tampilkan semua postingan

22 April 2026

Aksi Gelut Live Action Ala Jepang di Film Wind Breaker

 

Haruka yang suka gelut (TMDB).

Okeh, saatnya menyambut film Live Action yang berbeda dari Jepang sana, berjudul Wind Breaker, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia dengan rating D17. Film ini agak unik, jika dibandingkan dengan banyak film Live Action Jepang. Yaitu khas gelut anak SMA berandalan, yang tentu tidak seaneh animo anime lain.

Manga Wind Breaker dan Crows

Nah, sebelum membahas cerita filmnya, justru perlu dibahas animo gelut anak SMA dari Jepang sana. Wind Breaker memang diadaptasi dari manga dan anime yang berjudul sama, hasil karya Satoru Nii. Dan Ya, animo ini sempat ramai sejak film Crows Zero, yang rilis tahun 2007 lalu. Crows Zero sempat menjadi bahan rekomendasi legendaris di Indonesia, khususnya dari kalangan teman terdahulu. Apalagi, film ini khas dengan sinematografi ala Jepang.

Sayangnya, penulis belum menonton sama sekali film Crows Zero, yang rilis manganya pada tahun 1994 dari Hiroshi Takahashi. Mengapa? Karena penulis sempat menamatkan manga Crows, yang baru rilis di Indonesia pada awal 2000an. Ditambah lagi, jaman tersebut adaptasi Live Action dari manga atau anime sering mengecewakan, walau tentunya ada pengecualian khusus untuk Crows yang berlatar gelut SMA.

Nah jadi, mengapa penulis tidak mengikuti hype film Crows Zero? Jaman tersebut, memang animo-nya berubah, khususnya dari penulis sendiri. Pas sedang ramai rekomendasi Crows Zero, penulis telah lulus SMA, dan sedang fokus untuk kuliah. Ditambah lagi, teman yang dulu sering merekomendasikan manga, khususnya Crows, bahkan tidak ikut merekomendasikan filmnya.

Tidak hanya faktor luar, tetapi penulis memiliki animo berbeda untuk waralaba Crows, manga dan filmnya sekaligus. Kesinambungan yang agak berbeda, yaitu saat penulis memahami Arc terakhir manga Crows. Jadi, terasa lebih intrinsik, daripada pengaruh luar.

Entah kenapa, sepertiga manga yang tersisa hingga serialnya tamat, Crows justru berubah menjadi cerita yang antiklimaks. Banyak isi cerita, lebih mengisahkan slice of life, yang berfokus pada kegalauan anak SMA menjelang lulus. Ada yang berinisiatif langsung gabung Yakuza, ada yang fokus kerja ala Rindaman, atau bahkan lucu-lucuan bersama cewek pujaan. 

Bahkan ritual sang tokoh utama Harumichi Boya, lebih aneh lagi di akhir manga Crows. Harumichi yang biasanya telat untuk mengikuti gelut (di Arc sebelumnya), tambah telat lagi di akhir serial manganya. Karena lebih sering curhat bersama temannya yang sedang dekat sama cewek SMA, jadinya Harumichi ikut mengejar romansa masa SMA. Lucunya lagi, semua Build-Up cerita di akhir serial, ternyata diakhiri dengan sedikit duel saja, dan tidak seheboh awal manga.

Nah ternyata, manga Crows terisi banyak kegalauan anak SMA, yang fokus pada cara komunikasi ala laki remaja. Karena itu, karena terasa cukup nyambung, dan penulis sangat pesimis dengan filmnya, akhirnya tidak berinisiatif untuk menonton film Crows Zero.

Sedikit Sinopsis Wind Breaker

Lalu, apa hubungannya dengan Wind Breaker? Nah justru disinilah asyiknya kesinambungan tersebut. Dari sedikit sinopsis plot Wind Breaker di Inet, ternyata animo akhir Suzuran mirip dengan kisah Wind Breaker. Tokoh utama Haruka Sakura, ternyata baru masuk SMA dengan gang-nya yang fokus menjaga wilayah. 

Animo seperti ini, mirip dengan akhir kisah Crows, dimana para bujangan gelut ini bergabung dalam satu aliansi, untuk melindungi Suzuran dari serangan luar. Ya, berbeda dengan kisah di seluruh awal manga Crows, yang berfokus pada gelut antar karakternya.

Ya, segitu saja setelah panjang lebar. Pokoknya sinopsis lebih singkat lagi, karena cuplikan filmnya memang berisi gelut semua. Haruka Sakura (Koshi Mizukami) ternyata heran, saat dirinya gelut tepat satu hari sebelum hari pertama sekolah. Haruka dibantu oleh geng dari sekolah barunya, yang menjadi pertama kalinya. 

Haruka pun langsung dianggap teman, dan layak untuk bergabung dengan geng bernama Bofurin ini. Haruka yang selama ini gelut demi Flexing dan mengejar Rank pun, tertegun dengan niat geng Bofurin untuk menjaga wilayahnya. Bahkan Haruka akhirnya terenyuh, bahwa masa SMA ini, akhirnya dia punya teman juga.

Jadi, silahkan saksikan saja bagaimana film gelut SMA ala Jepang ini, yang kadang lebih nyambung alias relate dengan khas komunikasi bujang baragajul, di sinema Indonesia.

14 April 2026

Belajar Teknik Berpedang via Sensei Beryl Gardenant di Anime From Old Country Bumpkin to Master Swordsman

 

Sensei Beryl Gardenant yang sumringah saat minum (TMDB).

Okeh, saatnya artikel Monsterisasi yang berbeda dengan lainnya, yaitu mengacu pada anime From Old Country Bumpkin to Master Swordman (Ossan Kensei), yang tayang tahun lalu. Sebenarnya penulis baru menonton anime ini bulan Maret lalu, dan ternyata sangat menarik. Walau berasal dari Light Novel ala Jepang sana, tetapi adaptasi animenya sangat kentara dengan referensi HEMA (Historical European Martial Arts). Ya, entah kenapa bisa, teknik berpedang di novel diadaptasi dengan akurat pada anime.

Artikel ini mengacu pula pada artikel sebelumnya, yang membahas Pein Akatsuki dari Naruto. Walau penulis menjabarkan keburukan Benchmark ala Militer, khususnya di artikel tersebut, namun penulis sama sekali tidak menolak untuk belajar bela diri. Bahkan, bisa disebut bela diri adalah semacam olahraga, dan tidak perlu gelut terus (alias AING MAUNG). 

Penulis sendiri memiliki pengalaman saat belajar beladiri di jaman dahulu, tepatnya saat masih bersekolah dasar. Selama satu tahun lamanya, tepatnya bareng kelas pemantapan Ujian Nasional, penulis bersama satu kelas disiapkan pula dengan kelas beladiri Silat. Walau hanya satu tahun saja, tetapi cukup dapat mengingat berbagai kuda-kuda dan langkah dasar Silat.

Nah, di artikel kali ini, justru penulis ingin membahas observasi khusus, yaitu teknik berpedang dari HEMA. Bagi yang suka menonton konten latihan duel ala HEMA, pasti mengenal kanal bernama Skallagrim dari Kanada atau Weaponism dari Korea Selatan. Kedua kanal menyajikan berbagai teori, serta adegan duel dengan teknik berpedang HEMA, atau bahkan Katana dari Jepang dan Dao dari China serta Korsel. Ya, memang sejenis olahraga disana, menyaingi Karate dan Taekwondo dari segi ranah tangan kosongnya.

Penulis sendiri selama bertahun-tahun menonton konten tersebut, sehingga cukup mengenal banyak gerakan berpedang. Karena itu, saat menonton Sensei Beryl Gardenant di anime (yang judulnya jelek ini, harusnya Ossan Kensei saja), penulis dapat menebak seluruh gerakan yang dilancarkan selama gelutnya berlangsung. Ya, terima kasih pada berbagai kanal yang berisi duel berpedang tersebut.

Dan karena itu pula, artikel ini tidak banyak berisi adegan dari animenya. Justru banyak referensi teknik berpedang asli HEMA, sesuai dengan latar ceritanya di Eropa ala Fantasi. Untuk animenya sendiri, merupakan gabungan antara Slice of Life (selingan kehidupan) dan duel berpedang di ranah yang Low-Fantasy. Genre sejenis ini tidak begitu besar dalam menggambarkan dunia magisnya, bahkan masih terasa mistis ala The Lord of The Rings. 

Tapi, jangan diremehkan penggambaran anime ini dengan gelut berpedangnya. Gelut menggunakan senjata di anime ini cukup realistis, sesuai dengan teknik HEMA. Bahkan cukup brutal, dengan beberapa karakternya yang hobi Coup De Grace musuh atau lawannya. Tapi ya... karena masih bergenre fantasi, maka ada beberapa gerakan yang sebenarnya salah. Nanti akan dibahas pula beberapa gerakan salah tersebut dalam artikel ini.

Okeh, saatnya mulai membahas bagaimana Sensei (atau Kensei) Beryl Gardenant menyajikan berbagai adegan gelut yang kentara, tentu sesuai ala novelis Shigeru Sagazaki. Novelis yang satu ini mungkin aselinya beraliran Kendo, tetapi cukup banyak memperhatikan dan mengikuti sesi duel berpedang lainnya. 

Stance Mid Guard ala Sensei (Ossan Kensei)
Kuda-Kuda

Kuda-kuda ini semacam teknik Stance dan Guard dari HEMA, yaitu posisi awal saat belum menyerang lawannya. Biasanya terdapat tiga Guard utama bagi para ahli berpedang (alias Kenshi), yaitu High Guard, Mid Guard, dan Low Guard. 

High Guard adalah posisi senjata ada diatas atau sekitar kepala, dengan tangan yang menjulur sama keatas sesuai pegangan (Handle) pedangnya. Posisi seperti ini berarti dimaksudkan untuk menyerang dengan Tebasan (Slashing), dengan arah dari atas kebawah. 

Mid Guard adalah posisi senjata yang tepat berada di pusat gravitasi tubuh, dengan tujuan menyerang menggunakan Tusukan (Thrusting). Posisi ini adalah yang paling aman, karena menjaga jarak antara tubuh dengan lawan, yang dibatasi oleh pedang.

Low Guard adalah posisi senjata dibawah, biasanya ditempatkan agar menangkis musuh, daripada menyerang langsung. Posisinya yang agak berbeda (tidak terlihat berbahaya), justru membuat pemegangnya bisa berimprovisasi, tergantung dari arah serangan lawan.

Bahkan ada satu lagi, yaitu Rear Guard yang terlihat seperti sedang nge-troll musuhnya. Senjata ditempatkan dibelakang, dan tidak menghalangi jarak antara posisi pemegangnya dan lawan.

Gerak Dasar

Nah, gerak dasar ini adalah yang terutama dalam menggerakkan pedang, tangan, dan tubuh bersamaan dengan setiap langkahnya. Alias, seorang ahli berpedang harus menggerakkan pedangnya (di tangan) dengan gerakan dari pinggul, demi menambah kekuatan dan akurasi serang. Itupun disesuaikan dengan langkah kaki, antara kiri atau kanan sesuai dengan posisi serangan. Jadi, setiap satu gerakan, maka satu kaki akan melangkah maju atau mundur.

Langkah dasar ini sebenarnya mirip dengan Silat, atau dasar teknik beladiri dari manapun, baik itu menggunakan senjata atau tangan kosong. Full Body Movement adalah intinya.

Serangan santai ala Sensei (Ossan Kensei).
Menyerang 

Untuk menyerang, terdapat pula istilah yang jelas untuk setiap jenis senjatanya, khususnya pedang. Di anime ini, Kensei Beryl Gardenant menggunakan Longsword, yang menjadi standar bagi setiap ahli HEMA. Kelebihan Longsword adalah serangan Tebasan (Slashing), Menusuk (Thrusting), dan panjang yang cukup (Mata Tajam/Bilah sepanjang satu meter).

Slashing yang artinya menebas, berarti mengarahkan bagian Bilah (Blade) pedang untuk serangan yang mengalir, dari satu arah ke arah yang lain. Serangan ini memang ditujukan melebar saat menyerang, demi menyebarkan luka pada musuhnya.

Sementara Thrusting adalah serangan menusuk, yang ditujukan pada area vital pada bagian tubuh lawan. Serangan ini memiliki jarak lebih jauh, dan langsung lurus menuju titik yang dituju. Jika terkena dan tembus, maka organ vital lawan bisa langsung terluka, dan duel lebih mudah dimenangkan.

Bertahan dan Melawan Balik

Teknik bertahan pun ada beberapa, tetapi yang terpenting adalah Deflect alias Parry. Teknik ini tidak hanya mengeblok dan menangkis serangan lawan, tetapi mengarahkannya Bilah tajamnya ke arah yang diinginkan. Jika berhasil, maka tubuh akan aman dari serangan, dan musuh terhenti serangannya. Jika serangan terhenti tapi tetap berbahaya, pihak yang bertahan dapat memilih menghindar (Dodge) saja, dan mengamankan posisi baru dengan Guard dan Stance-nya.

Teknik lanjutan dari bertahan, adalah setelah mengeblok dan menangkis, maka akan dilanjutkan dengan serangan dari pihak yang bertahan (alias Counter Parry). Pihak yang berhasil menangkis, bisa memanfaatkan momen setelah Bilah lawan teralihkan, sementara lawan sudah kesulitan atau tidak bisa bertahan. Maka, serangan ini bisa lebih berhasil mengenai lawan, dengan keadaan lebih aman daripada kuda-kuda sebelumnya.

Bahkan di akhir musim anime ini, terdapat pula satu teknik bertahan yang sangat sulit, yaitu menangkis panah. Teknik ini tidak berlandaskan fiktif, tetapi memang ada dalam Katalog Teknik dari HEMA. Coba dicek saja videonya di YouTube, saat seorang ahli berpedang tanpa Perisai (Shield), menangkis serangan anak panah yang ditembakkan padanya. Teknik yang sangat sulit, tetapi jadi bahan Flexing di anime ini.

Banting tulang ala Sensei (YouTube).
Teknik Lanjutan

Teknik lanjutan ini ada beberapa arti, yaitu berbagai teknik yang tidak sesuai standar. Banyak yang menganggap standar diatas memiliki kemuliaan karena masih berlandaskan teknik. Namun, dengan taruhan antara hidup-mati, maka teknik lanjutan bisa dilaksanakan pula. 

Feint alias Gerakan Tipu adalah sejenis teknik lanjutan, saat ahli berpedang mengarahkan gerak senjatanya, tetapi tidak ditujukan sesuai standar tekniknya. Teknik ini ditujukan untuk menipu lawan, agar salah arah dan posisi saat bertahan dan menangkis serangan. Gerakannya memang sulit dilaksanakan, tetapi memang cocok sebagai teknik lanjutan.

Contohnya saja adalah saat seorang menggunakan High Guard dengan pedang yang ada diatas. Lalu dia mulai menyerang dengan gerakan Menebas (Slashing), tetapi sesaat sebelum serangan berakhir, dia menarik tangannya ke arah belakang. Dengan posisi pedang yang berada di Mid Guard, musuh yang terkecoh dengan tangkisan keatas, teknik serangan pun beralih menjadi Menusuk (Thrusting). Organ vital lawan di pusat tubuh pun menjadi taruhannya.

Bahkan ada gerakan lain yang sangat pecicilan, yaitu mencengkeram tangan atau Bilah lawannya, demi menghentikan gerakannya. Ya, gerakan yang terlihat licik ini, memang ditujukan untuk mengalahkan musuh tanpa teknik berarti. Penyerang bisa mencengkeram tangan musuh, yang langsung terhenti begitu saja. 

Bahkan jika sudah terlatih, bisa mencengkeram Bilah musuhnya, seperti sempat dicontohkan pada video di beberapa kanal YouTube. Nama tekniknya adalah Sword Handling, yaitu saat ahli pedang mencengkeram pedang pada bagian (Bilah) tajamnya. Jika sudah terlatih, maka tidak sulit untuk melaksanakannya, bahkan untuk menahan serangan lawan. Tentu, dengan bantuan sejenis sarung tangan berbahan kulit, atau bahkan logam (Armor).

Dari anime ini pun ditunjukkan beberapa teknik yang terlihat licik, seperti menarik mantel lawan, mengunci dan mencongkel bagian guard (bagian antara Handle pedang dan Bilah), hingga menendang lawannya. Ya, teknik berpedang memang bisa dilaksanakan dengan Full Body Contact, alias menggunakan seluruh bagian tubuh demi bertahan dan menyerang.

Armor yang sangat melindungi (Fandom Wiki).

Senjata dan Baju Zirah

Di anime yang seharusnya berjudul Beryl Gardenant Saga ini, ditunjukkan pula berbagai senjata khas Eropa, diantaranya adalah Longsword, Short Sword, Rapier, Claymore, Zweihander, Shield (Perisai), Bow and Arrow (Busur Panah), dan bahkan Belati (Dagger).

Senjata tergantung dari tipe ahli berpedang, ukuran dan beratnya. Panjang serta pendeknya senjata memang menentukan teknik apa yang bisa digunakan. Tipe Longsword yang menjadi standar, maka seluruh gerakan bisa dilaksanakan. Tetapi Short Sword yang lebih pendek, maka penggunanya harus bergerak lebih maju untuk mencapai dan menghalangi jangkauan Longsword.

Senjata pun perlu sering diperbaiki, karena berpengaruh pada kemampuan dan daya serang ahli berpedang. Pedang yang banyak tergores, teriris pada Bilahnya, hingga tumpul dan bahkan patah, tentu tidak dapat digunakan dengan baik. Dari anime ini, ditunjukkan pula adegan pedang saat rusak hingga terbelah, serta cara memperbaikinya.

Baju Zirah pun ditunjukkan, dengan berbagai tingkatan tentunya. Terdapat armor ringan seperti baju biasa (sejenis Gambeson), armor menggunakan kulit (Leather Armor) yang cukup ringan dan mampu menahan serangan, hingga armor kelas berat seperti zirah dari logam, layaknya Plate Armor. Dan jangan lupa, Perisai digunakan pula sebagai bagian dari pertahanan, yang perlu menguasai teknik tertentu agar efektif.

Chivalry alias Sikap Ksatria

Nah, kali ini adalah topik yang lebih berbudaya, yaitu dengan peran seorang Guru (Kensei), Ahli Pedang (Kenshi) dan Ksatria (Samurai  atau Knight). Memiliki kemampuan khusus berpedang, berarti mengisi peran khusus pula di institusi dan masyarakat. 

Dalam anime ini, Beryl Gardenant memang seorang ahli berpedang yang bekerja sebagai guru, demi menurunkan ilmunya. Sementara Allucia yang merekrut Gardenant, adalah seorang komandan di Pasukan Kerajaan Revelis. Muridnya yang lain, Lysandra mengisi peran sebagai Petualang (Adventurer) di Serikat (Guild), yang lebih berperan dalam berburu monster berbahaya.

Ketiga peran diatas ternyata cukup seimbang dengan penggambaran Monarkinya, yaitu dengan peran para Ksatria dalam menjaga serta membantu urusan Royalti. Mereka sering diminta untuk menjadi penjaga bangsawan, atau sekedar berburu monster berbahaya di sekitar kerajaan. Para anggota Monarkinya pun tidak berbuat aneh-aneh, selain yang memiliki peran sebagai tokoh antagonis.

Bahkan di satu adegan, mereka memiliki budaya khusus. Yaitu, saling bertukar hadiah satu sama lain. Bukan hanya sekedar simbol kedekatan (Politik), tetapi saling berkontribusi satu sama lainnya. 

Contohnya adalah memilihkan pedang yang dibuat dari hasil buruan Serikat, yang tentunya diselesaikan oleh Beryl Gardenant dan Lysandra. Allucia pun sempat memilihkan pakaian formal ala bangsawan bagi Gardenant, demi mengisi peran saat kunjungan kerajaan berlangsung.

Magis Ala Low Fantasy

Di anime ini, ada beberapa pula karakter yang bisa menggunakan magis, walau tidak seheboh anime lain. Contohnya adalah sihir yang dilaksanakan oleh Ficelle (satu angkatan dengan Curuni), yang bisa mengikat dan mengekang lawannya sekaligus. Kehadiran monster pun menjadi satu kisah yang menarik, contohnya adalah Gryphon yang diburu oleh Lysandra dan Gardenant. 

Tetapi kehadiran Magis sebenarnya cukup besar di dunia anime ini, yaitu saat cerita beralih pada jurus yang dapat menghidupkan mayat (alias sejenis zombie). Bahkan saat Beryl berduel dengan Lucy (yang menjabat sebagai Ketua Magic Corps), dirinya sama sekali tidak sanggup melawannya. Berbagai jurus magis mematikan sanggup membasmi Beryl, yang dihentikan oleh Lucy karena hanya sekedar mengetes dan duel jalanan saja.

Itu Harfiah arti Breast Plate-nya (Fandom Wiki).

Kekurangan Teknik di Ossan Kensei 

Nah, sekarang perlu membahas kekurangan anime ini, khususnya pada bagian duel yang berlandaskan HEMA. Terdapat beberapa gerakan yang sebenarnya dilarang oleh HEMA, namun tetap dimunculkan dalam anime ini. Memang anime yang masih berlatar fantasi, sehingga tidak heran juga, walau referensi bagusnya masih sangat realistis.

Pertama adalah gerakan memutar yang dilaksanakan oleh banyak karakter. Gerakan ini ditujukan untuk mempercepat serangan atau menghindar, namun memunculkan posisi belakang tubuh. Posisi punggung adalah daerah vital yang berbahaya jika diserang, karena itu banyak Stance dan Guard ditujukan saat berhadapan langsung dengan lawan.

Kedua adalah lanjutan dari gerakan memutar. Biasanya di dunia HEMA, saat seorang ahli terpaksa memunculkan punggungnya pada musuh, berarti dirinya telah melaksanakan gerakan yang salah. Serangan yang terlalu melebar (alias Overswing) adalah akibatnya, yang menyebabkan ahli berpedang menyerang dengan sembrono, dan tidak bisa kembali ke posisi bertahan.

Ketiga adalah gerakan saat kedua pihak yang berduel, malah saling mengunci senjata. Walau agak minim ditunjukkan (dan terlalu sering di anime lain), tetapi gerakan ini cukup berbahaya. Banyak teknik yang dilaksanakan, apalagi mengacu pada Full Body Contact, agar kedua pihak tidak terkunci pada satu posisi saja. Menendang atau menggenggam tangan dan senjata lawan, adalah contohnya. Duel harus dilaksanakan mengalir, karena posisi kedua Duelist yang terlalu dekat, sangatlah berbahaya.

Terakhir adalah satu yang sangat pecicilan, yaitu banyaknya Waifu di anime ini. Maksudnya bukan penggambaran karakter wanita, tetapi pakaian yang mereka gunakan. Jika mengecek Armor yang dikenakan oleh karakter pria, maka terlihat cukup modis dan realistis. Sementara wanitanya, malah memakai Armor yang terlalu terbuka (dan seksi). 

Bahkan, Rose yang menggunakan armor lengkap pun, memiliki kekurangan sendiri. Selain tidak menggunakan Helm (karena ini Anime), bagian Breastplate-nya harfiah menunjukkan bentuk Buah Dada. Seharusnya, Breastplate memang Armor yang dipasang di bagian dada, dengan bentuk cembung dan melingkar. Bentuk tersebut bukan modis saja, melainkan baik untuk membalikkan posisi Bilah senjata saat terkena serangan.

Belah Saja Dadaku! (Fandom Wiki).

Penutup

Okeh, segitu saja setelah panjang lebar. Memang anime yang mengherankan bagi penulis, karena cukup realistis dalam penggambaran duel ala HEMA-nya. Tokoh utama Beryl yang sudah tua ini pun cukup menarik, karena tidak aneh dan pecicilan ala banyak tokoh utama di anime (yang kebanyakan remaja).

Jadi, silahkan saja nonton anime ini, yang rasanya berbeda dan menarik ceritanya, karena bertokoh utama Kensei Beryl Gardenant, sang guru berpedang yang telah berumur 45 tahun.

Okeh, Ciao.

Memahami Kisah Pein Akatsuki yang Mengetes Jinchuuriki dari Naruto

 

Pein atau entah siapa ini (Narutopedia).

Okeh, saatnya membahas kisah anime yang sebenarnya saya kurang suka, berjudul Naruto dengan sudut pandang dari Pein sang Akatsuki-nya. Sebelumnya saya ingin mengaku, bahwa dulu berhenti baca manga Naruto tepat saat Arc Akatsuki berakhir, karena kecewa dengan ceritanya. Jadi, penulis tidak membaca atau menonton recap saja dari YouTube untuk cerita di 4th Shinobi War. Dan akhirnya, kisah Akatsuki menjadi bahasan yang tepat di artikel Monsterisasi ini.

Daripada membahas ceritanya yang jelas penulis tidak baca seluruhnya, mungkin lebih baik merekomendasikan satu lagu yang sangat penulis suka. Ya, judulnya adalah Wind dari penyanyi Akeboshi. Lagu ini bisa disebut kebalikan cerita Naruto semenjak Shippuden, dan bahkan dari segi pemahaman penulis sendiri (khusus di Blog ini).

Lagu ini bahkan sempat diterjemahkan dengan lebih mendalam (karena berbahasa Inggris) dalam blog lain penulis. Namun, konsep blog sudah berbeda dari yang sekarang. Jadi, fokus saja pada pemahaman visual dan narasi yang dimiliki (dan sempat pro) dari seluruh observasi dan pengalaman penulis.

Jabat tangan saja cukup, kan? (Narutopedia).

Militer di Naruto

Bagi penggemar Naruto, tentu paham bahwa ninja di manga ini adalah sejenis organisasi militer, yang melindungi satu negara. Setiap negara memiliki struktur ninja-nya sendiri, lengkap dengan desa dimana pelatihan diawali sejak shinobi atau kunoichi masih berumur muda. Misi yang dijalankan kadang tidak berujung gelut, tetapi fungsi utamanya tetaplah sejenis militer.

Nah justru di artikel ini, penulis ingin membahas dari sudut pandang Pein, sang pendiri Akatsuki yang menjadi musuh utama Naruto. Menurut penulis, kisah Pein dan Akatsuki-nya adalah sejenis Benchmark, yang difokuskan pada kekuatan militer. Tujuan Pein alias Nagato saat merubah Akatsuki ke jalur sesat, adalah untuk mengajarkan dunia mengenai kepedihan (semata), sekaligus membasmi kekuatan militer di seluruh dunia.

Sangat pecicilan kan niat Pein dengan Rinnegan-nya? Ya, tapi coba ditelaah dari sudut pandang militernya. Mengacu pada berita heboh saat ini, coba dipikirkan saja tentang sebuah negara dengan kekuatan militernya. Saat masalah di perbatasan tiba, tentu kekuatan militer menjadi jawabannya. Namun, bagaimana dengan saat damai nan sejahtera? Justru itu maksud artikel ini.

Di saat damai, organisasi militer milik negara manapun tetap mengejar kekuatan pasukan tempurnya. Entah itu dari personil, persenjataan, kendaraan, hingga kelengkapan taktiknya. Itu pun dengan banyak dana dan waktu didistribusikan khusus untuk organisasi ini, dari dana negara tentunya. Seakan, misi menumpuk kekuatan militer adalah benchmark tersendiri, mirip saat ngoprek benchmark PC dengan segala perangkatnya.

Para Bijuu dan Hagoromo (Narutopedia).

Bijuu dan Jinchuuriki

Nah dari situ, itulah yang dimaksud oleh Pain dan cerita Naruto dari Masashi Kishimoto. Walau dari segi cerita agak kurang, namun benchmark semacam ini menjadi patokan setiap negara di Naruto. Kekuatan ninja dengan chakra dan hasil jurus adalah kuncinya, yang entah kemana perginya setiap samurai yang ada. 

Lalu, apa yang menjadi kunci kemampuan setiap negara? Kalau di naruto, berarti mahluk chakra murni bernama Bijuu, alias monster berekor. Banyak negara, termasuk diantaranya adalah desa Konohagukure (Daun) di negara Hi No Kuni (Api), memiliki Jinchuuriki-nya sebagai ninja yang dirasuki oleh Bijuu. Tujuannya agar chakra murni ini bisa dikendalikan dan difungsikan sebagai kekuatan militer.

Lalu Pein punya inisiatif tersendiri, yaitu menculik semua Bijuu dan Jinchuuriki, agar dapat dibuat sebagai Juubi, alias monster chakra berekor sepuluh. Apa tujuannya? yaitu membasmi seluruh ninja di setiap negara, agar menciptakan dunia yang damai dan ideal bagi Pein. 

Sudut pandang yang terlalu idealis dari Pein, dan memang berujung anarkis. Pein yang memiliki banyak jurus terlarang nan sakti, ternyata kacau jalan pikirannya. Seakan, mengingatkan beberapa pihak (di dunia nyata) yang terlalu militan dalam menjalankan narasi dan aksinya, sehingga berujung anarkis saja (dan melanggar etika, moral, normal, serta hukum). Ya, termasuk segala jenis media, entah itu fiktif atau warta berita.

Kaguya yang ingin kekal cantik abadi (Narutopedia).

Akhir Kisah yang Hina

Lucunya, rencana Pein ini sesuai dengan Orochimaru dan Madara Uchiha. Bagi Orochimaru, memiliki jawaban atas sumber asal kemampuan chakra, adalah pertanyaan terbesar hidupnya. Sementara Madara, ingin memiliki kemampuan melebihi itu semua. Orochimaru-lah (dengan sosok Kabuto) yang menggunakan Edo-Tensei untuk menciptakan Perang Ninja Keempat, sekaligus memanggil Madara dari persemayaman dirinya.

Lucunya lagi, setelah Madara berhasil menjadi Jinchuuriki bagi Juubi-nya, tiba pula Kaguya sang Dewi Bulan. Dewi yang satu ini ternyata asal muasal dari seluruh chakra di Bumi, yang menjawab pertanyaan terbesar dari Orochimaru alias Kabuto. Madara pun ikut menjadi korban berikutnya, yaitu menjadi wadah saja bagi Juubi dengan tujuan utama Kaguya, yaitu menyerap seluruh energi Bumi. 

Nah, bagaimana dengan Pein yang sebelumnya merencanakan ini (dan sempat hidup sesaat akibat Edo Tensei)? Justru disitulah letak paling miris nan ironis ala Naruto dari Masashi Kishimoto. Pein, Orochimaru, dan Madara hanyalah pion dari rencana aseli Kaguya. 

Padahal, Dewi cantik nan caem ini (secantik bulan) seharusnya menjadi sosok ibu mereka, karena Kaguya adalah sumber aseli dari seluruh kekuatan chakra di Bumi. Jadi, entah apa maksud Masashi Kishimoto, yang merubah kesan Kaguya menjadi tokoh jahat di Naruto. Mungkin, mangaka ini kagok dengan kesan militer di Naruto, sehingga sekalian saja dibuat ironis.

Ya, seakan seluruh kejadian dari awal cerita para Shinobi dan Kunoichi di banyak negara, hanyalah pion saja dari Dewi Kaguya demi melancarkan aksinya. Sebuah bidak kecil di militer, yang layaknya sebuah permainan papan catur, memang hanya satu alat saja. Namun, bagaimana para pemain (dan penghuni aseli) menjalankan taktiknya, sehingga permainan pun dapat dimenangkan dengan pergerakan para bidaknya. 

Sedikit Penutup

Ya sekali lagi, memang sebuah kisah pecicilan dari dunia militer sana, khususnya dari anime yang rame gelut dan drama personalnya. Sedalam dan semengerikan apapun juga wacananya, memang tidak bisa dilancarkan begitu saja dengan aksi sejahat atau se-idealis itu. 

Layaknya manga dan anime Naruto, yang membuat seluruh Otaku kembali menjadi Wibu, dan menganggap dunia nyata dan fiksi bisa dihadapi dengan cara idealis atau militan saja. Ya, layaknya sehelai daun (Konoha) di negara Hi No Kuni (Api).

Okeh, Ciao.

13 April 2026

Crayon Shin-Chan yang Berkelana Menuju India

 

Iseikainya Shin-Chan di India (TMDB).

Saatnya menonton kembali film anime nyeleneh nan kocak dari Jepang sana, berjudul Crayon Shin-Chan The Movie: Super Hot! The Spicy Kasukabe Dancers, yang dirilis di sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Film Shin-Chan ke-33 ini sebenarnya telah dirilis bulan Agustus tahun 2025 lalu, dan baru menyusul rilis di Indonesia tahun ini saat bulan April.

Bagi yang penasaran dengan sejarah anime dan manga Crayon Shin-Chan di Indonesia, dapat membaca artikel di blog ini pada bulan Juli tahun lalu. Seperti banyak anime selingan hidup lainnya, apalagi dengan target penonton anak-anak dan keluarga, Crayon Shin-Chan menjadi animo yang tiada habisnya. 

Film yang urutan ke-33 ini berkisahkan petualangan Shin-Chan di India sana, dengan segala kekhasannya. Ya, setelah film sebelumnya yang berkisahkan dinosaurus demi bersaing dengan Jurassic Park: Rebirth, kini Shin-Chan mencoba bersaing dengan joget flashmob layaknya India. Bahkan dari cuplikannya, para karakter India yang mengisi film ini akan bertambah kuat, jiga joget terlebih dahulu sebelum mulai gelut.

Kali ini filmnya memang berlatar di India, dengan fokus pada karakter Bo (Chie Sato), yang tiba-tiba ingin membersihkan ingusnya. Padahal selama 34 tahun dan 1200 episode terakhir, ingus Bo telah menjadi khas karakter anggota Kasukabe ini. Bo telah terasuki suatu arwah jahat, yang berasa dirinya adalah Tuan Muda dari India, sehingga ingin mencoba menguasai dunia.

Anggota Kasukabe yang berisi Shin-Chan (Yumiko Kobayashi), Nene (Tamao Hayashi), Masao (Teiyu Ichiryusai), dan Toru (Mari Mashiba) perlu  menarik ingus sakral milik Bo, agar arwah tersebut bisa keluar dan Bo pun terselamatkan. 

Tentu dengan bantuan dari keluarga Shin-Chan, yaitu ayahnya Hiroshi Nohara (Toshiyuki Morikawa), ibunya Misae Nohara (Miki Narahashi), adiknya yang kecil Himawari (Satomi Korogi), dan anjingnya Shiro (yang diisi suaranya masih oleh Mari Mashiba).  

Bersama ahli dansa India lainnya, Dill (Show Hayami) dan Kabir (Koichi Yamadera), semuanya perlu berdansa bersama demi menyelamatkan Bo. Ya, hanya dengan dansa flashmob ala India yang berkolaborasi dengan Kasukabe, Bo dapat terselamatkan.

Entah bagaimana Bo dapat terselamatkan, dan ada apa dibalik latar cerita sang jurig jana ini, yang tampaknya hanya bisa diungkap di banyak sinema Indonesia saja.

11 Februari 2026

Memaknai Adaptasi Horornya Junji Ito Ala Film Tomie Unlimited

 

Tomie yang memabukkan (Asian Wiki).

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, artikel Monsterisasi minggu ini akan diisi dengan film horor. Karakter utamanya yang wanita, akan dijabarkan dengan lebih mendetail secara simbolis, karena lebih mengacu pada stigma sosial yang ada. Ya, artikel ini tidak akan membahas wanita 'layaknya racun dunia.' Tetapi, mengacu pada kesan sosial masyarakat, kepada peran wanitanya itu sendiri.

Hehe, terdengar agak berat, padahal tidak juga. Walau saya bukan seorang simping berat, tetapi tahu harkat wanita di kalangan masyarakat. Karena itu, seperti biasanya, horor adalah bagian dari pelarian suatu budaya. Jadi, artikel semacam ini akan membahas segi karakter wanita yang terlalu dilebih-lebihkan, tentunya oleh masyarakatnya itu sendiri.

Oh ya, contoh lucu dari pamali tradisional terdahulu, layaknya anak kecil yang dilarang main keluar saat malam hari. Nantinya takut diculik Kuntilanak, sejenis jurig berambut panjang dan berbaju gaun putih. Namun jika ditelaah dari budaya, maka malam hari tentu tidak aman bagi anak kecil, apalagi jaman saat hanya ada obor sebagai penerangan malam hari.

Okeh, bagaimana dengan kesan Kuntilanak tersebut di jaman modern, saat malam hari masih terang benderang? Karena itu, artikel ini akan membahas satu karakter paling terang dari karya Mangaka Jepang, Sensei Junji Ito. Namanya adalah Tomie, yang sering muncul sebagai anomali di banyak manga pendeknya. Khusus untuk artikel ini, akan membahas cerita dari adaptasi filmnya, berjudul Tomie Unlimited dari tahun 2011 lalu.

Jujur saja, saat pertama kali menonton film ini, penulis kurang ngeuh dengan maksud ceritanya. Namun, setelah jaman internet yang kentara, penulis pun mulai membaca manga karya Sensei Junji Ito. Akhinya cukup mengerti, dari mana segi kengerian kisah Tomie ini.

Tomie di Manga

Karakter Tomie di manga memiliki khasnya sendiri, yaitu wanita muda yang cantik nan memabukkan. Sayangnya karena karya ini milik Junji Ito, maka ceritanya akan berakhir buruk bagi Tomie atau karakter lainnya. Ya, akhir cerita pendek berisi Tomie didalamnya, akan berakhir buruk bagi semuanya. Cek saja di banyak manga atau serial anime-nya, Tomie adalah karakter yang sering muncul.

Khas karakter Tomie, adalah pasti memabukkan bagi banyak karakter lainnya, khususnya pria. Selain itu, karakter wanita disekitarnya akan cemburu buta, karena kecantikan dan kepopuleran Tomie di kalangan pria. Kepopuleran Tomie, secara harfiah merubah dunia di sekitarnya. Seakan menjadi panggung bagi dirinya sendiri, sementara Tomie adalah Idol utamanya.

Sayangnya, layaknya karya horor Junji ito, pasti diakhiri dengan sadis dan berbahaya. Saking cemburunya para karakter wanita, mereka sanggup bertindak sadis dengan membunuh langsung Tomie. Tidak hanya itu, karakter prianya pun bertindak lebih pula, dengan tidak hanya mendekati Tomie, tetapi (dengan harfiah) mencincang tubuhnya, demi mendapatkan sedikit 'dagingnya yang enak.'

Nah dari situ, Tomie justru sanggup kembali hidup (sekali lagi harfiah), dan hidup seperti biasa. Banyak yang heran, tetapi malah membiarkannya. Banyak karakter yang sebelumnya berbuat jahat kepada Tomie, malah merasa aman gara-gara korbannya masih hidup. Seakan, dosa mereka sudah bersih sepenuhnya. 

Ya satu kekhasan dari cerita Tomie, adalah wanita ini memang sejenis monster, yang sanggup beregenerasi dari titik daging terkecil, layaknya karakter Deadpool dan Wolverine. Namun, Tomie bukanlah karakter jahat. Agak manipulatif memang, karena Tomie sering memanfaatkan kecantikan dirinya, demi mendapat para pria atau ketenaran. Namun Tomie sendiri tidak pernah bertindak jahat, tidak seperti karakter monster lainnya di manga karya Sensei Junji Ito.

Bagaimana dengan karakter dari adaptasi filmnya yang berjudul Tomie Unlimited? Justru digambarkan dengan mirip selama durasi filmnya, namun dengan akhir yang cukup mencengangkan. Ya, bagi yang tidak mau kena spoiler akhir cerita, harus menghindari kelanjutan artikel dibawah ini.

Akhir Cerita Tomie Unlimited

Seperti biasa, setelah banyak drama dengan kisah saling hasut, mendarah-darah, dan mendaging-daging selama durasi film, justru akhir Tomie Unlimited sangatlah berbeda dengan karya dari manga-nya. Di akhir cerita, karakter Tomie sanggup melipat-gandakan dirinya, dengan banyak penjelmaan dirinya, sebagai pasangan pria atau bahkan teman wanita. 

Di akhir film, Tsukiko Izumikawa (Moe Arai) sebagai tokoh utama, menganggap dirinya berhasil membasmi Tomie yang selalu hidup kembali. Ya, berbeda dengan karya manga, Tsukiko memang waspada akan bahayanya Tomie. Layaknya monster, Tsukiko berhasil membakar atau menghancurkan seluruh bagian tubuh Tomie, agar tidak menganggu sekolah dan wilayah sekitar rumahnya lagi.

Namun hancurnya tubuh Tomie justru memicu kemampuan lainnya dari Tomie, yaitu melipat-gandakan dirinya. Selayaknya judul Tomie Tanpa Batas, karakter Tomie malah ditemukan di seluruh lokasi sekolah dan rumahnya. Seakan, hanya Tsukiko saja yang berhasil mempertahankan dirinya. Sementara seluruh wanita di sekitar area rumahnya, telah berubah semuanya jadi Tomie.

Nah, kisah Tomie yang cantik nan memabukkan ini, cocok untuk mengacu pada sub-artikel berikutnya, yaitu mengacu pada stigma sosial dengan istilah Beauty Standard, khususnya di Jepang sana.

Beauty Standard vs Gyaru dan Yankee di Jepang

Beauty Standard atau Standar Kecantikan, memang menjadi khas sosial selama ini. Wanita diharapkan untuk bersikap anggun, lemah-lembut, bertutur kata baik nan manis, sekaligus cantik dengan segala standarnya.

Namun sejak awal tahun akhir 90an lalu di Jepang, terdapat satu pergerakan besar dari wanita. Banyak pemudi yang masih bersekolah atau kuliah, kurang menyukai stigma sosial untuk wanita Jepang. Mereka didorong untuk mengikuti Standar Kecantikan tersebut, namun melawan dengan gaya khasnya.

Pergerakan ini disebut Gyaru atau Yankee di Jepang sana. Para pemudi ini berkulit cokelat (khusus gyaru), atau berambut pirang alias blonde (ala yankee). Tidak hanya kulit atau rambut, banyak aksesoris serta pakaian nyeleneh, yang dikenakan oleh mereka sehari-hari. Tingkah mereka pun sama sekali tidak dapat disebut anggun, melainkan tomboy dan pemberani sekaligus tangguh.

Nah, animo ini semakin meramaikan ranah Jepang sana, yang memang banyak mengalami pergolakan pemuda-pemudinya. Hingga kini, pergerakan gyaru atau yankee, masih menjadi tren khusus bagi para peminatnya.

Bagaimana hubungannya dengan kisah Tomie Unlimited? Nah, itulah maksudnya. Dunia mainstream selalu meminta standar yang sama, termasuk kecantikan bagi para wanitanya. Standar ini memang diterima oleh khalayak luas, sehingga menjadi kesan khusus yang dapat diperkirakan. Layaknya Tomie yang berlipat-ganda, standar ini terus 'menjamuri dan menginfeksi' banyak wanita di Jepang.

Berbeda lagi dengan dunia yang lebih mengacu pada seni, dimana ekspresi pada karya adalah yang terpenting. Karena itu, gyaru dan yankee tidak hanya menjadi pilihan modis saja, tetapi sebuah pergerakan tertentu dari ranah non-standar. 

Beberapa karya manga dan anime saat ini, sering mengingatkan kembali bedanya gyaru dan yankee di ranah karya mereka. Contoh terbarunya adalah Momo Ayase (Shion Wakayama) bersama kedua teman wanitanya, Miko (Kaori Maeda) dan Muko (Miyu Tomita). Ketiganya adalah contoh gyaru dan yankee di karya manga dan anime viral, sejak tahun 2024an hingga sekarang.

Jadi, selayaknya quote dari Patrick Star yang non-standar dan bisa beregenerasi layaknya Tomie, 'Aku Jelek dan Aku Bangga!'

Haaah??? (Pinterest).

03 Februari 2026

5 CM Per Second versi Live Action Muncul di Sinema Indonesia

 

Akari dan Takaki yang Gaje (TMDB).

Saatnya menikmati dirilisnya karya Sensei Makoto Shinkai berjudul 5 Centimeters Per Second, yang diadaptasi ala aktor-aktris nyata alias Live Action. Ratingnya pun masih sama, yaitu R13 alias remaja. Film yang dirilis awal bulan Februari 2026 di sinema Indonesia, cukup berbeda dengan versi anime. 

Makoto Shinkai tidak ikut berandil dalam produksi Live Action-nya. Bagi yang ingin mengecek beberapa film anime hasil karya Makoto Shinkai, bisa membaca artikel referensinya di Blog ini. Sensei Shinkai memang sudah senku sebagai sineas di perfilman Jepang, khususnya drama dengan banyak karya hebat, yang semuanya dimulai dari film anime 5 Centimeters Per Second ini.

Drama Live Action di Jepang

Nah, bagi yang agak risih dengan istilah Live Action, menurut penulis sih tidak perlu ragu untuk menontonnya. Justru karena tema anime ini adalah Drama Romansa pemuda-pemudi Jepang, maka akting yang ditampilkan lebih natural, dengan karakter yang realistis. Biasanya drama semacam ini di ranah perfilman Jepang, justru lebih kental dengan budayanya sendiri, dan berbeda dengan hebohnya anime.

Penulis sempat menonton beberapa anime yang kurang layak diadaptasi sebagai Live Action, contohnya adalah Attack on Titan (2015), yang berakhir Cringefest. Padahal AoT tidak seperti kebanyakan anime, yaitu atmosfernya yang serius, brutal, dan dingin, karena berlatar cerita militer. Namun, di AoT Live Action, malah jadi cringefest yang kurang nyambung sama sumber cerita aslinya.

Contoh karya lama bergenre drama dari Jepang, adalah film One Liter of Tears di tahun 2005, dan My Boss My Hero di tahun 2006. Keduanya memang menyajikan cerita yang bisa dikategorikan sebagai kisah drama sehari-hari, namun tetap menyanyat hati karena cukup dalam momennya. 

Versi Anime dan Live Action

Nah sesuai khasnya karya Makoto Shinkai, maka banyak latar tempatnya yang mengambil referensi lokasi di dunia nyata, dengan penggambaran yang tepat dan mendetail. Visual animenya pun sangat ciamik, dengan warna dan pencahayaan yang hangat, layaknya sebuah lukisan hidup.

Dari segi cerita, mungkin dijabarkan lebih panjang dan mendetail lagi. Jujur, penulis kurang ngeuh saat menonton anime 5 Centimeters Per Second ini, apalagi kurang terbiasa dengan drama romansa. Namun ceritanya cukup dingin, dengan adegan yang kurang begitu nyambung. Alias anime ini layaknya sebuah timeline saja, tanpa adegan dialog atau drama yang kentara. Justru karya Makoto Shinkai setelahnya, lebih banyak menggambarkan adegan yang lebih heboh.

Apalagi dengan durasinya yang hanya sekitar satu jam, maka adegan pun kurang dramatis. Nah karena itu di artikel sebelumnya yang membahas anime ini, justru penulis hanya menganjurkan untuk mendengarkan lagu di akhir film, berjudul One More Time, One More Chance. Maksudnya ada beberapa kekosongan adegan di anime ini, yang terisi saat lagu ini dimainkan di akhir film.

Segitu saja membahas versi animenya. Lalu, bagaimana dengan versi cerita Live Action-nya? Justru tidak begitu terlihat dalam cuplikannya, namun bisa dicek saja pada durasinya. Ya, film di tahun 2026 ini justru berdurasi dua kali lipat, alias dua jam. Menurut penulis, daripada seluruh kekosongan cerita justru berada di akhir film dengan lagunya, film ini akan diisi dengan banyak adegan yang lebih kentara di seluruh durasi penayangannya.

Realistisnya Cerita 5 Centimeters Per Second

Nah penulis tetap akan membahas, bahwa kisah di film ini sangat realistis. Saat masa muda yang penuh gejolak, hingga melangkah menuju dunia dewasa dan segala kesibukannya, hubungan komunikasi dan batin akan menjadi suatu halangan tertentu, atau terhalang oleh sesuatu.

Seperti kisah di 5 Centimeters Per Second, dimana karakternya telah kasmaran sejak berumur kecil. Namun, keduanya terpisah oleh jarak dan waktu. Ceritanya lalu berlanjut tentang kisah Long Distance Relationship (LDR), lalu mulai Lost Contact (LC), dan akhirnya tidak kenal sama sekali. Bahkan keduanya mungkin tidak akan kenal lagi dengan wajahnya, walau bertemu langsung. 

Keduanya memang digambarkan dengan alurnya masing-masing. Kedua karakter utama, yaitu Akari (Noa Shiroyama, Mitsuki Takahata) dan Takaki (Haruto Ueda, Yuzu Aoki, Hokuto Matsumura), melalui jalan hidup yang berbeda satu sama lainnya, semenjak terpisah. Keduanya sempat berhubungan dengan surat menyurat, walau akhirnya hilang kontak saat jaman ponsel tiba. 

Terdapat pula karakter ketiga lainnya, yaitu bernama Kanae Sumida (Nana Mori), yang sempat mengisi kekosongan Takaki saat masih bersekolah SMA, dan telah hilang kontak dengan Akari sejak lama. 

Bahkan, cerita ini berlanjut hingga Takaki yang telah dewasa, kuliah dan mulai bekerja di kota yang sama dengan Akari. Walau begitu, momen galau keduanya tetap disajikan berbeda. Kota yang telah dianggap (oleh Takaki) sebagai dunianya Akari, membuat dirinya tertekan akan masa lalu. Coba dicek saja, bagaimana perubahan Takaki di film ini, saat dirinya menginjak umur dewasa, dan kembali bernostalgia tanpa Akari.

Nah segitu saja, dan jangan heran bahwa artikel ini mengisahkan semuanya. Kenapa? Karena berbeda dengan film lain yang lebih Dramatis dan Epik sekaligus, film Romansa dan Drama ini justru tidak begitu 'Liar' ceritanya, dan mementingkan adegan yang lebih 'Relate' dengan penontonnya. Ya sekali lagi, adegannya memang cukup wajar namun nyambung, seperti khas karya drama dari Jepang sana. Jadi bagi yang menontonnya, harus lebih menjiwai setiap adegan yang muncul di layar.

Okeh, saya pun bingung. Sayounara!

29 Januari 2026

Tanpa Batasnya Simbol Saat Gelut Saitama vs Boros di One Punch Man

 

Saitama vs Boros (Fiction Horizon).

Hehe, saatnya membahas satu anime yang sangat kentara dengan referensinya, OPM alias One Punch Man. Bagi para penggemar anime, tentu tahu bahwa OPM adalah parodi dari segala jenis anime, khususnya Battle Shonen atau Super Hero. 

Namun menurut penulis, ada satu adegan yang sangat kentara simbolismenya, daripada referensi Budaya Populernya. Ya sesuai judul, sangat kentara saat akhir musim pertama alias tahun 2016 lalu, saat Saitama duel melawan Boros diatas pesawat invasi. Bagi yang kurang ingat dengan gelutnya, bisa dicek saja di YouTube. Banyak kanal yang mengunggah klip khusus Saitama vs Boros.

Oh ya, sebelum membahas gelut yang lebih kentara ke penggambaran Boros, maka perlu diingat bahwa Saitama adalah referensi simpel. Saitama mengacu pada Biksu Shao Lin dari China, yang jelas berpakaian kuning dengan kepala botaknya. Bahkan selama bertahun-tahun, hidup Saitama hanya diisi latihan berat seharian, dengan hanya memakan pisang saja, layaknya biksu yang berlatih dengan pola makan vegetarian.

Simbol Ouroboros (Wikimedia).

Nama Boros

Boros mengambil referensi dari Ouroboros, yaitu sejenis simbol dari Mesir dan Yunani Kuno. Gambarnya cukup aneh, yaitu sejenis naga atau ular, yang memakan ekornya sendiri. Secara simbolis, interpretasi gambar ini adalah siklus tanpa akhir untuk kehidupan, kematian, dan kebangkitan kembali. Tetapi simbol ini berbeda jauh dengan Infiniti, yaitu bentuk pita berkesinambungan lebih jelas.

Padahal jika dicek secara sainsya, ular yang melahap ekornya sendiri, berarti ular tersebut sedang di penghujung hidupnya. Ular berarti gagal memangsa hewan lain, sehingga satu-satunya pilihan adalah melahap ekor sendiri. Atau, akibat ular yang stres dan salah mengartikan ekornya sendiri. Sesuai dengan anehnya sikap ular, dalam satu istilah frase bule, menggigit ekor sendiri berarti maksudnya adalah menyakiti diri sendiri.

Dari situ, cocok sebagai referensi langsung tentang kegilaan Boros, yang tiada habisnya. Boros adalah karakter jahat yang bertualang antar galaksi bersama anak buah dan pesawat miliknya, demi mencari gelut yang sepadan. Namun saat tiba di bumi, hasilnya adalah Saitama sanggup mengalahkannya. Bahkan, Boros merasa gelut tersebut tidak sepadan sama sekali, karena Saitama tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Dua Mata Boros

Kalau yang kurang ngeuh, pasti menganggap bahwa mata Boros hanyalah satu, alias di wajah saja. Padahal jika dicek adegannya, mata Boros ada dua, yaitu satu lagi berada di perutnya, yang menutupi kristal regenerasinya. Ya, dua mata ini adalah simbol dari dua dewa Mesir Kuno, yaitu Dewa Ra dan Dewa Horus. 

Oh ya, simbol satu mata ini tidak mengacu ke satu tokoh terkenal itu loh, yang memang matanya hanya satu, dan suka bikin kisruh sedunia, dari jaman terdahulu hingga sekarang.

Di mitologi Mesir Kuno, Dewa Ra adalah Dewa Matahari, dengan mata (kanan)-nya sebagai simbol. Dewa Ra bisa diartikan pula sebagai kekuatan besar dunia, yang dapat menghalau musuh manapun. Matahari bukan hanya simbol, karena dalam kesehariannya, warga Mesir Kuno menggunakan penanggalan matahari, alias 365 hari setahunnya. Khusus di Boros, berarti ini adalah mata di bagian wajahnya, alias penunjuk arah dan identitas.

Sementara mata kedua yang berada di perut, mengambil referensi simbol Mata Horus. Dewa yang satu ini, menyimbolkan kesejahteraan, kesembuhan, dan perlindungan. Maka, mata yang satu ini cocok ditempatkan di perut, walau tidak begitu jelas penggambarannya di tubuh Boros. Tetapi, Boros berkemampuan regenerasi yang sangat kuat dan cepat, sesuai dengan simbol Dewa Horus, dan siklus Infiniti (tanpa batas) ala Ouroboros.

Ada dua adegan yang perlu dicek mengenai kemampuan regenerasi Boros saat melawan Saitama. Yaitu saat Saitama memukul keras Boros, tepat di bagian perut. Lalu saat Saitama memukul cepat dan banyak, untuk menghancurkan seluruh tubuh Boros. Sayangnya, masih tersisa kristal regenerasinya, sehingga Boros berhasil menyembuhkan tubuhnya.

Bumi, Bulan, dan Matahari

Kali ini, bukan hanya mengacu pada simbol kedua karakter, tetapi adegan langsung saat gelutnya. Saat Boros akhirnya berhasil menendang keluar Saitama dari Bumi, dan berakhir di permukaan Bulan. Dari situ, Saitama tetap berhasil loncat kembali ke Bumi, dan langsung berhadapan dengan Boros.

Simpel saja seperti sudah diutarakan sebelumnya, Saitama adalah visualisasi Biksu Shao Lin dari China. Berarti, dengan dirinya yang berakhir di Bulan, layaknya mengingatkan China yang (secara tradisional) masih menggunakan penanggalan Bulan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Boros dari Mesir Kuno, sudah pasti berlandaskan siklus Matahari sebagai penanggalannya. 

Tidak ada definisi berarti dalam keduanya, karena memang menggambarkan dua jenis penanggalan berbeda. Di negara seperti China dengan kalender Bulannya, Hijriyah ala negara Muslim, serta penanggalan Jawa yang kental, Bulan memang menjadi landasan utama di kalender.

Sementara di seluruh dunia, Masehi alias penanggalan matahari, masih menjadi standar kerjasama internasional. Jika dicek sejarahnya, Mesir Kuno memang mempengaruhi banyak kerajaan dalam penanggalan mataharinya, sementara Yunani hingga Romawi Kuno masih menggunakan tanggal ala Bulan. Baru mendekati tahun Masehi, Romawi akhirnya mengadaptasi penanggalan Matahari.

Pendapat Penulis tentang Siklus Ouroboros

Penulis sendiri memiliki pendapat khusus dengan Ouroboros, yang sangat destruktif pada diri sendiri (dan orang lain), padahal bagian utama dari siklusnya. Ya, bukannya penulis memiliki masalah menyakiti diri sendiri (atau orang lain), tetapi terdapat suatu bentuk destruktif yang perlu dihindari.

Tidak hanya mengacu pada Biksu yang damai, atau Ouroboros yang destruktif, tetapi penulis memang perlu menjabarkan simbol ini di banyak media. Dari segi ini, walau saya menulis dan menjabarkan simbol yang ada di banyak media terkenal, namun cukup sulit untuk menghindari pola destruktif-nya. Ya, setiap media memang memiliki pola ancur-ancurannya sendiri.

Apalagi jika mengacu pada Seni Populer atau bahkan Jurnalistik, yang kehilangan dasar konsep serta Primbonnya (seakan Politik Praktis). Bahkan, beberapa media seperti itu, layaknya ngalor-ngidul di artikel Monsterisasi, yang (bisa jadi) tidak cocok referensinya, dan bahkan kurang sesuai dengan kebutuhan kesehariannya.

Nah karena itu, (mungkin) One Punch Man menjadi artikel terakhir Monsterisasi berisi anime. Nantinya artikel sejenis ini tidak akan ditulis setiap minggunya, dengan referensi yang lebih berat di genre dan media lain, khususnya horor.

Okeh, Amitabha.

23 Januari 2026

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece

 

Luffy sang Topi Jerami yang ternyata Jurig Persib (KapanLagi).

Sebenarnya sudah lama pengen nulis Monsterisasi tentang One Piece, apalagi dengan banyak referensi mengenai buah setannya, tetapi apalah daya dengan keadaan berita pada September 2025 kemarin. Seorang Infuencer pecicilan dan banyak pasukan bajak lautnya, malah ngebadut dan bakar-bakar gedung DPR. Jadi ya malas membahasnya, seakan nge-feed suatu kontroversi. Sang Influencer pun masih memanasi Inet dengan clickbait lainnya di akhir tahun kemarin.

Tetapi di awal tahun 2026 ini, tepatnya tengah musim Liga 1 sepakbola Indonesia, akhirnya ada genderang betulan yang bergaung dari Bandung sini. Ya, saat Persib menjadi juara pertengahan musim dengan mengalahkan Persija, lalu berkibarlah lima bendera koreo raksasa di stadion, berisi gambar Luffy yang tengah membawa piala Liga 1. Animo semacam ini, sekali lagi layaknya warga Bandung, menantang dan menimpa kesan buruk sebelumnya. 

Nya nuhunkeun Persib anu atos Juara Tengah Musim Liga 1 Indonesia. Nuhunkeun oge ka Bobotoh sareng Jurig Persib, anu ngobarkeun bandera Luffy. Saur kuring mah kanu kitu teh, tiasa ngajunjung kompetisi anu bersih sareng kiblat anu bener, nya eta sami berkarya tina jalur bener. Sakali deui, Nuhun!

Some Chase Noise, We Chase Horizons!

Luffy di GBLA (Instagram).

Saya akhirnya bisa nulis juga artikel tentang One Piece, khususnya karakter utama bernama Luffy. Sama seperti sebelumnya, satu karakter saja yang dibahas latar serta visualisasinya, karena menghindari (banyak) spoiler dan lebih terfokus. Apalagi Luffy dan buah setannya, cocok sebagai karakter yang kesetanan.

Luffy Sang Topi Jerami

Dari sini, saya menggambarkan satu benda paling kentara saja, yaitu topi jerami milik Luffy, yang tergambar pada bendera bajak lautnya, sekaligus julukan kru tokoh utama kita ini. Apalagi topi jerami adalah simbol janji antara dua karakter, yang akan dikembalikan oleh Luffy kepada Shanks, saat dirinya mencapai status bajak laut yang hebat.

Mengacu dengan simpel, topi jerami adalah sejenis topi berbahan jerami (lah?), yang dipakai sebagai topi surya. Berbagai bentuknya telah ada sejak jaman dahulu, seperti topi ala fedora atau topi petani yang kerucut. Hingga kini, topi jerami masih digunakan karena ringan dan tidak panas, dengan fungsi utama menghalau cerah matahari mengenai mata. Karena itu, topi jerami dipakai oleh banyak orang saat beraktifitas siang hari di luar ruangan, khususnya di Jepang.

Sesuai dengan tema bajak laut di One Piece, topi jerami (entah kenapa hanya Luffy dan Shanks yang punya), adalah simbol khusus mengenai keadaan para bajak laut, alias para pelaut. Ya, topi ini identik pula dengan para pemancing, yang beraktifitas di tengah laut bersama terik mataharinya. 

Topi pemancing ini cocok dengan keadaan di manga dan anime One Piece, yaitu simbol 'mencari makan' di laut. Bahkan di beberapa episode, yang menunjukkan Kru Topi Jerami memancing ikan untuk dimasak. Jika tidak habis dagingnya, sisa ikan (raksasa) akan dijual saat berlabuh ke pulau. Bahkan ada satu episode saat Kru Topi Jerami perlu menjual ikan hasil pancingan demi menambah dana, yang dipakai untuk memperbaiki Going Merry di Water 7 (selain harta karun Skypea).

Konsep topi jerami ini berarti cukup dalam pula, karena Luffy lebih mementingkan topi daripada hidupnya. Bahkan ada satu film (non-canon), yang fokus berkisah Kru Topi Jerami saat membobol satu markas Marinir, demi meraih kembali topi miliknya. Judulnya One Piece 3D, dari tahun 2011.

Cukup sederhana layaknya trope atau gag anime yang lucu. Tetapi coba ingat seluruh Arc di One Piece, yang aslinya Battle Shonen. Setiap Arc mengisahkan Kru Topi Jerami yang menyelamatkan warga satu pulau, dari tindasan para bajak laut jahat. Luffy sangat tidak suka dengan penindasan yang semena-mena. Karena, mereka adalah warga biasa yang hanya bertahan hidup saja.

Buah Setan

Nah, dimulailah paradox Luffy sebagai pahlawan. Luffy (selalu) tidak ingin dianggap sebagai pahlawan, namun bajak laut yang senang bertualang. Ya, Luffy memiliki tingkat IQ yang nyebelin, namun menurut penulis, itu hanya pelarian saja. Luffy sebenarnya cukup pintar, namun menolak status tersebut, dengan hanya ingin bertualang sambil gelut saja. 

Tetapi, Luffy sebagai seorang kapten bajak laut dan buah setannya, memang cocok. Buah setan ini digambarkan oleh mangaka Eiichiro Oda, layaknya buah eksotis yang tiba dari daerah tropis sedunia, hingga benua Amerika yang baru ditemukan. Referensi yang kentara, bahwa cerita One Piece mengacu pada masa keemasan bajak laut di Karibia sana (abad 17-18). 

Referensi buah eksotis sebagai bagian dari setan, bukan karena kemampuan aneh yang diberikannya saja, tetapi mengacu pada potensi untuk memanggil setan besar sebelumnya. Belum dijelaskan langsung oleh Eiichiro Oda, tetapi sudah ditampilkan pada film One Piece: Red, dimana fokusnya adalah karakter Uta dan buah setan Musiknya. 

Uta yang bekerja sebagai penyanyi, ternyata sempat memanggil setan dalam buah musiknya. Padahal Uta masih kecil saat pertama kali memanggilnya, dan berakhir satu pulau yang dibantai habis. Shanks yang berada disana, harus menghalau setan tersebut bersama kru-nya. Walau film ini yang canon hanya Uta dan Shanks-nya saja, tetapi cukup menggambarkan potensi setan dari buah ajaib ini. Uta yang belum pernah melatihnya saja, sanggup memanggil setan sekuat itu.

Bahkan ada satu pepatah canon dari One Piece, bahwa buah setan adalah hasil ajaib dari minat manusianya. Sensei Oda pun beberapa kali menggambarkan Luffy yang mencapai Gear 5th alias telah Awakened, dengan wajah hitam dan bola mata merah, seakan setan yang baru saja muncul dengan kesetanan. Jadi apapun yang terjadi di dunia, buah setan selalu menjadi mitos nyata, tentang perubahan besar di One Piece.

Buah Setan Gomu-Gomu dan Revolusi Industri

Namun, bagaimana dengan sikap pahlawan ala Luffy dan Kru Topi Jerami? Nah ini lebih cocok lagi. Daripada digambarkan ala simbol Buah Nika sebagai Dewa Kemerdekaan di One Piece, lebih cocok dicek saja referensinya.

Buah Gomu-Gomu alias karet, adalah komoditas yang seharusnya jarang. Sejarah ditemukannya pohon karet, adalah sebagai pohon endemi asli Amerika Selatan, khususnya Brazil. Sejak jaman koloni di Amerika, pohon karet lalu disebarkan ke seluruh dunia, dengan beberapa lokasi seperti Indonesia, yang cocok ditanam pohon karet.

Abad 17an adalah akhir dari jaman Renaisans, saat banyak negara Eropa memulai kolonialisme, dengan wacana menambah sumber daya alam mereka. Untuk apa? Demi menjalankan dunia progresif dan kemajuan ilmu sains, yang saat itu kurang dibarengi perkembangan teknologinya. 

Namun bukan itu fokus artikel ini, dan kembali ke fungsi karet itu sendiri. Komoditas karet adalah zat baru bagi negara sedunia, yang membuka potensi besar lainnya. Bahkan tanpa karet, saat ini kita tidak memiliki komoditas seperti karet atau plastik sintetis, dan hanya memakai bahan kayu, kulit, serta logam saja, layaknya sub-genre SteamPunk. Jadi, pohon karet adalah satu komoditas penting yang dioprek saat jaman Viktoria, dan berhasil membawa dunia menuju jaman Revolusi Industri.

Sekali lagi, para penggemar One Piece pasti tahu, bahwa dunianya mengacu pada jaman bajak laut dan kolonialisme. Jadi sebenarnya Sang Buah Setan Gomu-Gomu, adalah komoditas yang berhasil meng-carry dunia, menuju jaman keemasan berikutnya. Ya, memang tidak se-nihil simbol pecicilan ala Buah Nika. Biasa-lah Sensei Oda, tahu aja cara ngejebak pihak yang kurang paham.

Perubahan Iklim

Nah kalau yang satu ini sih, sudah cukup jelas ya, tetapi penulis saja yang ingin menambahkannya. Perubahan Iklim memang satu wacana yang sangat kentara di One Piece, bahkan kini hampir disejajarkan dengan tingkatan anti-rasisme-nya.

Semenjak dibukanya kisah Kerajaan Lulusia yang hancur seketika oleh Imu, dan menyebabkan permukaan laut meninggi 1 meter, kisah One Piece di Arc Pulau Egghead mulai mengacu ke penyebab anehnya geografi dunia. Vegapunk yang menyiarkannya, bahkan mencatat tinggi permukaan laut bumi sempat naik 100 meter. Segitu saja sudah menunjukkan, bahwa dunia One Piece semakin terbanjiri oleh lautan. Bahkan, nantinya yang tersisa hanyalah Red Line sebagai benua tertinggi, sementara seluruh pulau akan terendam. 

Seluruh kisah geografis ini, tentu mengacu pada perubahan iklim, yang tahun 2025 kemarin ternyata memporakporandakan seluruh dunia. Contoh paling dekat, adalah banyaknya badai topan yang tiba di Asia Tenggara, khususnya di Filipina dan Vietnam. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika kedua negara tersebut, badai topan yang tiba biasanya berjumlah sekitar 20 saja dalam waktu setahun. Namun di tahun 2025 kemarin, jumlah badai topan yang tiba di hampir mencapai 30! Tidak heran banyak bencana alam akibat cuaca di tahun 2025 kemarin.

Kembali lagi ke One Piece, dengan banjirnya seluruh dunia, maka siapa yang paling diuntungkan? Ya jelas Imu, serta kawan-kawannya di Tenryuubito, sebagai Top Global 1 Persen yang tersisa. Sementara itu, seluruh dunia layaknya menjadi korban genosida. Para punggawanya yang memiliki Buah Setan sakti pun, akan sulit berkelana akibat langsung tenggelam oleh air laut.

Oh ya, ada satu teori fans One Piece dari Reddit, bahwa Imu adalah simbol dari Umibozu, sejenis Yokai laut di folklore Jepang. Daripada membahas teorinya yang cukup panjang, coba dicek saja efeknya. Kalau memang laut akhirnya meninggi dan menenggelamkan dunia, maka Imu sebagai Umibozu akan semakin kuat, karena sumber kekuatannya adalah laut itu sendiri!

Okeh, Adios.

14 Januari 2026

Rasanya OP Ala Karakter Kirito di Anime Sword Art Online

 

Yujio di Project Alicization (SAO-Wiki).

Okeh, rasanya cukup aneh mulai nulis artikel Monsterisasi lagi, tetapi memang cocok di awal tahun 2026 ini. Apalagi setelah penjelasan di laman Monsterisasi mengenai Tanjiro dan kawan-kawan, serta artikel pertamanya mengenai film dari Makoto Shinkai, jadi ya tinggal dilanjutkan saja.

Terlebih lagi, istilah Monsterisasi-nya sendiri cukup aneh, jika dibandingkan dengan apa yang dibahas. Jadi, di artikel ini, penulis akan membahas satu karakter OP, yang memulai animo anime isekai di Jepang sana, bernama Kirito Kazugaya.

Ya, karakter utama dari serial novel dan anime Sword Art Online (SAO) ini, justru paling cocok dibahas di artikel ini, Monsterisasi. Kenapa? Karena seperti dibahas sebelumnya mengenai perubahan 'makna' seorang karakter dan dikejar masa lalu, maka Kirito adalah satu 'Monster' terbesar dari sudut pandang tersebut.

Memang Monter terbesarkah? Tentu Saja! Karena Kirito punya Buanyak HAREM sedunia, bahkan mengalahkan seluruh anime lain! Hehe, becanda... 

Trope Kirito yang punya banyak harem, sebenarnya digambarkan di anime saja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kirito sebenarnya adalah pemain MMO solo karir, yang seringkali membantu player (cewe) lain pas namatin quest.

Trope Kirito sebagai karakter OP yang punya banyak harem pun, membuat anime SAO tidak disukai oleh banyak wibu dan otaku. Padahal, menurut novel aselinya, Kirito memang tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun (selain Asuna).

Okeh, itu pengenalan saja mengenai urusan kelamin Kirito. Tetapi bagaimana dengan jiwanya sebagai seorang Monster? Nah, dari segi Action RPG atau MMO sekalian, Kirito memang termasuk OP, layaknya karakter Endgame - Post Game Grind di banyak RPG.

Walau karakter Kirito di novel dan animenya cukup berbeda, tetapi plot utama serta jalan ceritanya tetap mirip. Yaitu, saat Kirito harus meng-carry seluruh tim, hingga seluruh server, untuk selamat walafiat di dunia MMO. Trope cerita Kirito terus berlanjut dari server Aincrad, bahkan hingga seri anime terakhir, yang berjudul Alicization: War of Underworld.

Nah, daripada membahas bagaimana kisah Kirito meng-carry semuanya (padahal mah pake cheat juga anjir), lebih baik dicek saja pas Kirito cocok sebagai MC kita selama ini. Tepatnya, saat masih berada di dunia Project Alicization. Itupun, tidak hanya berfokus pada Kirito, tetapi teman virtualnya sendiri, yaitu Eugeo (Yujio).

Kirito dan Asuna yang sudah resmi berumur dewasa (Mipon).

Project Alicization bersama Alice, Yujio dan Kirito

Perlu diingat, bahwa Kirito di Project Alicization sudah berumur 20 tahun, alias baru lulus SMA dan memulai kuliah. Penggemarnya pasti tahu, bahwa Kirito dan banyak penyintas Aincrad lain, ke-skip sekolahnya selama dua tahun lebih. 

Jadi, Kirito di serial anime ini memang sudah dewasa, dan bekerja (magang) sebagai beta tester (lagi) di Project Alicization. Sayangnya (seperti biasanya), proyek yang sudah diamankan ini, harus dioperasikan sebagai penelitian bagi pasien yang mengalami koma.

Ya, Kirito yang diserang oleh racun syaraf saat berduaan dengan Asuna di dunia nyata, akhirnya koma dan perlu dirawat di dunia Project Alicization. Kirito yang sebenarnya berumur lima tahun di dunia ini, perlu mengulang kembali sepuluh tahun hidupnya, akibat perbedaan waktu dengan dunia nyata.

Namun, dari segi ini bisa dianalisa, bahwa Kirito bersama karakter AI bernama Yujio dan Alice, sebenarnya mengulang kembali masa kecil yang hilang. Di dunia nyata, Kirito adalah seorang yatim-piatu, yang tinggal bersama sepupunya yaitu Suguha, dan kakeknya saja. Momen masa kecil bersama Alice dan Yujio, seakan proses untuk menyembuhkan kembali rasa terpendam Kirito.

Tidak hanya itu, saat berumur 15 tahun alias SMP, Kirito pun terjebak di Sword Art Online dan dunia Aincrad-nya. Disitu, Kirito selalu merasa bersalah, karena tidak sanggup membantu banyak pemain SAO.

Dan latar Kirito tersebut sangat nyambung dengan karakter baru di Alicization, yaitu temannya sendiri bernama Yujio. Karakter berambut pirang dan tinggi sama dengan Kirito ini, memiliki keperibadian baik, halus, penurut, dan setia. 

Namun sedikit spoiler, Yujio akhirnya meninggal dalam seri ini. Kisah Yujio yang meninggal, mengingatkan pula perubahan terbesar dalam diri Kirito. Yaitu, untuk terus berinisiatif gelut, dengan berbagai tingkat edgy-nya. Yujio pun meninggal akibat misi keduanya.

Padahal, sebelum terjebak di dunia Aincrad, Kirito adalah anak SMP biasa yang cukup halus pembawaannya. Kematian Yujio seakan mengingatkan, bahwa Kirito yang selama ini terlalu Power-Creep, adalah perubahan besar akibat Aincrad. Padahal di episode awal SAO saja, Kirito pura-pura edgy, untuk menghindari kejaran dari pemain lain.

Visual karakter Yujio pun cukup terbalik dengan Kirito, khususnya sebagai avatar. Kirito bermata dan berambut hitam, dengan pakaian serba hitam pula. Sementara Yujio bermata biru dan berambut pirang, dengan pakaian berwarna biru cerah. Padahal, desain baju keduanya masih cukup mirip.

Nah, kembali ke momen Yujio meninggal, bencana lain menimpa pula Kirito yang kalah bertarung. Dirinya terjebak dalam dirinya sendiri, mirip dengan koma di dunia nyata. Alias, Kirito memang koma dua dunia sekaligus. 

Saat masih koma, dengan serial Alicization yang dilanjutkan di War of Underworld, Kirito memang tidak muncul sama sekali. Jika adegan Kirito muncul, berarti saat dirinya terjebak dalam kenangannya sendiri, mulai jaman SMP hingga Aincrad, lalu banyak momen menyedihkan lainnya. 

Momen ini, layaknya men-defrag Operational System dalam Personal Computer dengan begitu banyak data yang memenuhi memori Hard Disk Drive atau Solid State Drive. Dengan begitu, PC akan bekerja lebih cepat dan kinerja lebih baik lagi. 

Bahkan di akhir momen tersebut, Yujio, Asuna, Shino, dan Suguha muncul, untuk membangunkan kembali Kirito dari dalam kenangannya. Momennya cukup dalam, karena Kirito harus menerima dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan, yang sempat menyelamatkan (nyawa) keempat temannya tersebut. Walau Yujio telah meninggal, dirinya adalah sosok jiwa Kirito yang Aseli.

Daaan, begitulah alasannya mengapa Kirito (alias Yujio) adalah seorang karakter Monster, yang selalu diminta untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia MMO, hingga berujung celaka di dunia nyata.

Avatar-nya saja di dunia Project Alicization, masih berupa Kirito umur 15 tahunan. Seakan, mengingatkan kembali awal edgy-nya karakter Kirito yang OP ini.

Akhir dari Alicization, yang entah kapan dilanjutkan serial anime-nya, menjadi sekedar closure alias penutup, bagi kisah Kirito yang sudah terlalu OP, hingga berujung status sebagai Monster!

Oh ya, daripada galau menanggapi Kirito, mending dengarkan saja lagu pembuka anime Alicization kedua, dari penyanyi ReoNa berjudul Anima. Bagi yang mengecek judul serta liriknya, pasti paham seluruh maksud artikel ini.

Okeh, Ciao!