![]() |
| Keluarga Batak yang masih lengkap (TMDB). |
Daaan, sudahlah kisah perfilman Indonesia dengan film berjudul Wasiat Warisan, yang tayang di sinema Indonesia saat ini. Yang sudah menonton cuplikannya, tentu tahu bahwa logat serta budaya mana yang diadaptasi. Ya, memang berasal dari suku Batak di Sumatera Utara sana.
Oh ya, karena minggu ini terjadi banyak bencana di Sumatera, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan banyaknya ratusan korban akibat banjir bandang, longsor, dan derasnya hujan, maka sudah seharusnya kita mendoakan dan kalau mampu, membantu.
Okeh, kembali ke film Wasiat Warisan, tentu sangat khas dalam cuplikannya, keindahan alam Danau Toba. Danau vulkanik terluas sedunia ini mencapai sekitar 1.030 kilometer, dengan panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer, dengan kedalaman 500 meter. Selain itu, danau ini menghubungkan tujuh kabupaten di sekitarnya.
Dari segi ranah perfilman Indonesia, Danau Toba cukup jarang diadaptasi sebagai latar film. Padahal, kisah warga Batak yang difilmkan, cukup ramai sejak film Naga Bonar meramaikan Indonesia di tahun 1987 lalu. Naga Bonar pun diisi oleh Deddy Mizwar, yang kala itu masih cukup muda.
Kembali ke Wasiat Warisan, dan mengacu pada artikel lain di blog ini mengenai Hukum Adat dan keharmonisan keluarga, tampaknya film ini cocok sebagai bagian dari penalaran.
Berbeda lagi dengan Batak, yaitu sebuah suku yang berada di Sumatera Utara. Namun, sebenarnya di Sumut, mayoritas warga adalah dari suku Melayu. Batak justru berhasil melestarikan budayanya sendiri, dengan arahan Dalihan Na Tolu. Tata budaya ini mengatur hubungan sosial antar warga sesama Batak.
Kembali lagi (dan lagi) ke film ini, mengadaptasi kisah miris mengenai tata budaya tersebut (dan mungkin mengacu pada Hukum Adat yang sah dan diakui negara). Dari cuplikan terlihat bahwa Mak Tua (sebutan ibu tertua di Batak) baru saja meninggal, dan mewariskan banyak aset bagi anak-anaknya.
Oh ya, bagi yang heran mengapa cuplikan film Wasiat Warisan banyak yang teriak-teriak, tampaknya tidak perlu heran. Warga Batak memang terkenal berisik, alias lugas, tegas, dan blak-blakan. Tidak perlu bertengkar, mereka perlu berbicara seperti itu, karena pembawaan dari budayanya sendiri. Agak berbeda dengan kebanyakan suku lain di Nusantara, khususnya dari Jawa (P)
Naaaah, namun, karena film ini mengisyaratkan kisah hukum adat di keluarga Batak, maka isinya pun tentang masalah keluarga yang agak heboh. Ya, yaitu sebuah film mengenai hutang keluarga yang cukup besar, dan harus ditanggulangi seluruh anggota keluarga.
Okeh, saatnya kembali ke sinopsis filmnya saja ya... (yang akhirnya bisa ditulis juga di minggu ini)
Sinopsis Film
Togar (Derby Romero) baru saja kembali dari perantauannya di Jakarta, demi mengabdi kembali ke bisnis keluarga, yaitu Hotel Pariban. Sepeninggal kedua-orangtuanya, kini bersama Ramona (Astrid Tiar) dan Tarida (Sarah Sechan), ketiganya harus berjibaku membangun bisnis hotel warisannya.
Namun, ternyata orangtuanya sempat bermasalah semasa hidup, yang baru terkuak setelah Linda (Dharty Manullang) datang berkunjung. Mereka ternyata meninggalkan hutang besar, yaitu mencapai satu milyar, lengkap dengan dokumen hukumnya. Ketiganya pun sulit bermusyawarah dengan Linda, yang bersikeras untuk menyita seluruh aset milik keluarga demi mengembalikan hutangnya. Hotel Pariban pun ditutup akibat masalah Tanah Sengketa.
Tambah sulit lagi dengan hotel yang disita oleh kepolisian setempat, akibat masalah hutang piutang telah dilaporkan dan tengah diproses hukum. Ketiga kakak beradik pun berselirih, bahwa mereka harus mencari banyak aset keluarga, demi dapat mengembalikan hutang serta memulai kembali bisnis hotel Pariban.
Sanggupkah mereka menghadapi seluruh cobaan tersebut? Atau sebenarnya terdapat surat wasiat dalam warisan orangtua mereka?
Jawabannya, dapat dipelajari langsung melalui Hukum Adat ala sinema Indonesia.








0 comments:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.