Artikel Analisis untuk Film Nasional serta Internasional sebagai Akulturasi Budaya


Horornya Bekerja di Nusantara Ala Film Tumbal Proyek, Gudang Merica, Badut Gendong, dan Monster Pabrik Rambut

Proyek ala modernisasi jurig Nusantara (TMDB).

Okeh, karena penulis bingung lagi dengan banyaknya rilis film horor ala Nusantara, maka ditulis ala kompilasi saja. Kali ini adalah kombinasi empat film yang rilis sejak tanggal belasan Mei, hingga awal Juni mendatang. Judulnya adalah Tumbal Proyek, Gudang Merica, Badut Gendong, dan Monster Pabrik. 

Walau memang sengaja di kompilasi, namun keempat film sebenarnya memiliki tema yang mirip. Yaitu, kengerian mistis ala supernatural di tempat kerja. Ya, keempat film memiliki latar yang berada di tempat kerja, tentunya yang berisi banyak kisah layaknya Primbon. 

Indonesia sebagai negara yang taat agama, memang tetap terasa horor. Jadi, segala jenis aspek kehidupan (kadang termasuk urusan sosial), ikut terasa aura kekuatan mistisnya. Berbagai istilah pun muncul akibat 'Saklek'-nya Indonesia saat bekerja, yang bagi beberapa pihak hanyalah pengalihan, alias ritual mistis saja.

Artikel ini melanjutkan pendapat dari penulis sebelumnya, bahwa sineas perfilman Indonesia kini mulai dan sanggup menyusul Thailand. Tentunya dengan wacana, untuk mengejar status sebagai Raja Jurig sesungguhnya dari Asia Tenggara.

Memang keempat film terlihat unik dengan tambahan sub-genre masing-masing, aktor-aktris yang mengisi, biaya latar dan aset perfilman, serta efek spesial yang digunakan. Tentunya sangat berbeda dengan horor Indonesia lainnya, yang mengutamakan atmosfer ngeri.

Film Tumbal Proyek

Kali ini, Jeropoint yang sudah terbiasa meramaikan horor Indonesia, kembali berani untuk mengadaptasi istilah yang menjadi kegalauan banyak warga, yaitu Tumbal Proyek. Ya, istilah yang mengerikan, walau sempat dikurangi kengeriannya oleh warganet, dengan sebutan Budak Korporat.

Istilah menyebalkan ini, memang berasal dari kisah sehari-hari, yang berlandaskan banyaknya kecelakaan di tempat kerja. Saking seringnya terjadi, istilah ini lalu meruak muncul, seakan setiap pekerjaan proyek besar di wilayah tertentu, perlu diikuti dengan banyak jenis 'tumbal'-nya. 

Contohnya adalah proyek dari KAI bernama Whoosh, yaitu kereta api cepat dari Bandung-Jakarta. Saat uji layak transportasi yang dilaksanakan setelah konstruksi rel dan jalan layang rampung, berubah menjadi uji nyali dengan kecelakaan dan kematian beberapa teknisi dari China. Ya, animo yang terus diulang-ulang di Indonesia, dan membuat pekerja Indonesia pasrah saat bekerja.

Jeropoint mengisahkan Yuda (Kiesha Alvaro), yang terobsesi dengan kematian ayahnya, Sutomo (Eduwart Manalu), di lokasi proyek jembatan laut. Adiknya yang bernama Laras (Callista Arum), sempat marah kepadanya, karena tahu bahwa lokasi proyek adalah angker. Seharusnya Yuda lebih milih untuk menjadi kepala keluarga dan membantu ibunya, Martha (Karina Suwandi).

Terlalu obsesif hingga lulus kuliah dan mulai bekerja di lokasi proyek mendiang ayahnya, Yuda mulai mencari banyak informasi mengenai kecelakaan. Namun, seringkali kecelakaan horor terjadi di sekitar lokasi kerja, yang justru membuat Yuda yakin, bahwa ayahnya meninggal akibat ditumbalkan oleh proyek.

Bagi yang ingin menonton film Tumbal Proyek, perlu tahu bahwa Jeropoint sering mengisi adegannya dengan darah-mendarah dan daging-mendaging. Dengan rating umur D17 alias 17 tahun keatas, tentu menjadi syarat khusus untuk menonton sadisnya film ini.

Mayat yang harusnya divisum sejak awal (TMDB).

Film Gudang Merica

Berikutnya adalah film dari Imam Darto, sutradara yang semakin serba-bisa dan serba sibuk saat ini. Dengan arahan film khasnya, film Gudang Merica yang aslinya berlandaskan horor dapat disajikan dengan santai ala film komedi. Namun karena berbiaya produksi cukup tinggi, atmosfer horor yang ditampilkan masih ngeri dan berbahaya.

Justru film berlatar di sebuah rumah sakit, yang notabene mengerikan karena dari sananya banyak warga meninggal. Lokasi medis yang banyak dihindari warga ini, memang terasa berbeda auranya. Entah berapa ribu jumlah kematian setiap rumah sakitnya, akibat meninggal karena umur, penyakit, kecelakaan, atau banyak jenis akhir hidup lainnya.

Walau begitu, entah kenapa pula judul film ini Gudang Merica, yang berating D17 dan mulai tayang tanggal 20an bulan Mei. Mungkin, karena bersub-genre komedi. 

Kisahnya diawali oleh empat sekawan calon dokter, bernama Rindu (Arla Ailani), Razi (Ardhito Pramono), Adit (Fatih Unru), dan Tanti (Zulfa Maharani) yang mulai bekerja sebagai dokter magang di sebuah rumah sakit pedesaan. Mereka pun mulai berkenalan dengan satpam yang kocak dan sangat suka dengan Rindu, bernama Sidik (Benedictus Siregar).

Keempatnya mendapat masalah besar, yaitu saat diminta untuk menjaga satu mayat di lokasi kamarnya. Dokter resmi baru akan tiba empat hari mendatang untuk melaksanakan visum, sementara mereka harus menunggunya. Namun baru saja dipindahkan, sang mayat lalu hilang seketika. 

Keempat sekawan bersama Sidik, bahkan perlu mencari gerangan dengan cara yang lain-lain. Rindu ternyata memiliki minat dan kemampuan supernatural, dan mulai melaksanakan ritual mistis, lengkap dengan bunga kemenyannya. Perlu disembur satu-satu ala dukun, keempat sekawan bersama Sidik ini mulai mencari dimana lokasi mayat, tentunya dengan bantuan kemampuan mistis baru mereka.

Darso yang sudah nothing to lose for (TMDB).

Film Badut Gendong

Lebih mengerikan lagi, film Badut Gendong yang tayang di sinema sejak tanggal 20an Mei (lagi) dengan rating D17, akan menyajikan kisah horor yang lengkap dengan aksi gelut ala pendekar silatnya. Sesuai dengan judulnya, tokoh utama sekaligus antagonis film ini memang berlatar seniman Badut Gendong, yang ternyata berkemampuan gelut Silat nan Sakti.

Kisah ini pun bagian dari multiverse Qodrat, yang entah apa maksudnya dengan judul seperti itu. Yang pasti dari cuplikannya, Badut Gendong sudah memberi aksi gelut berbeda. Bahkan terlihat dengan jelas nan kentara, bahwa sang pemangku Badut Gendong sedang kesurupan dengan mata tertutup, namun sanggup beraksi silat dan membasmi banyak lawannya sekaligus.

Kisahnya diawali oleh sepasang suami-istri yang bekerja sebagai seniman Badut Gendong, bernama pas Darso (Marthino Lio) dan Darsi (Dayinta Melira). Keduanya sedang sumringah, karena Darsi baru saja hamil tiga bulan, anak pertamanya. 

Namun saat tengah pulang malam, keduanya dicegat oleh preman setempat. Darso yang diserang dari belakang, tidak sanggup menyelamatkan Darsi yang jatuh di rel. Walau tidak tersambar kereta api, namun Darsi langsung meninggal seketika akibat kepalanya yang terbentur jalur rel. 

Sejak saat itulah, Darso menjadi agak gila. Dirinya masih menyimpan jenazah Darsi di rumahnya, yang selalu ditatap dengan pandangan sedih. Hingga suatu hari, Darso berinisiatif untuk menguliti wajah istrinya sendiri, lalu ditempelkan pada wajah Badut Gendong yang selama ini dipikulnya.

Mulai saat itulah, banyak kejadian naas terjadi di kampung halaman mereka. Banyak warga yang tengah kerja di proyek besar (lagi), ditemukan meninggal tercabik-cabik tanpa belas kasihan. Aparat dan perusahaan proyek setempat pun panik, karena banyak warganya yang ditemukan tewas mengenaskan.

Hingga akhirnya sosok mengerikan pun muncul, yaitu sosok Darso yang sudah tiada di dunia ini. Terlihat menutup mata dengan Badut Gendong-nya, Darso ternyata kesurupan parah, dan mulai membalas dendam pada siapa pun didekatnya. 

Monster jembut yang suka meneror di toilet wanita? (TMDB).

Film Monster Pabrik Rambut

Terakhir adalah film yang mengungkapkan kenapa banyak warga masih bekerja di lokasi horor, berjudul Monster Pabrik Rambut yang berating D17 dan tayang awal Juni mendatang. Berbeda dengan film sebelumnya, warga memilih untuk tetap bekerja walau sulit dan sekaligus mengerikan, karena tidak memiliki pilihan lain.

Aura horor dalam film Monster Pabrik Rambut pun cukup berbeda, karena dalam cuplikannya tidak menyajikan banyak kengerian khusus horor, melainkan dinginnya atmosfer dalam satu lokasi. Adegan sadis pun tidak selalu terlihat, walau masih tersaji dengan brutal. Narasi dalam cuplikannya pun terasa nostal-gila, dengan khas narator yang menyuarakan plot film.

Kisah dimulai saat ketiga saudara, yaitu Putri (Rachel Amanda), Ida (Lutesha), dan Bona (Iqbaal Ramadhan), yang baru saja yatim piatu akibat ibunya meninggal di lokasi pabrik. Demi membayar hutang serta mengisi kebutuhan hidup, Putri lalu berinisiatif untuk mulai bekerja di Pabrik Rambut, lokasi dimana terakhir kali ibunya masih hidup.

Namun Ida cukup menentang wacana milik Putri, yang menjabarkan bahwa lokasi pabrik terlalu angker. Kengerian tersebut muncul, akibat gosip di sekitar area pabrik, yang menyebutkan bahwa seluruh pegawai pabrik sangat mengidolakan Maryati (Didik Nini Towok), selaku pemilik Pabrik Rambut. Seakan, lokasi dan lingkungan pabrik adalah sekte khusus untuk menyukai Maryati semata.

Sementara Bona sebagai adik bungsu, hidup dan pikirannya masih tergantung dan terlantung-lantung. Bona adalah sejenis anomali, yang setiap kali tubuhnya sakit atau terluka, dapat beregenerasi layaknya bintang laut (Patrick Star?). 

Entah apa hubungannya dengan Monster Pabrik Rambut, yang kadang meneror pegawai dan warga yang melintas, dengan lilitan rambut yang mengerikan dari sekujur tubuhnya (jembut?). Memang film yang absurd, dengan berbagai latar kisah yang menggugah liarnya imajinasi.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Total Tayangan Halaman

Daydreamer

Daydreamer

Label

Arsip Blog

Rekomendasi

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece