![]() |
| Tim Laotaoule Automobile Factor yang masih menikmati tantangan (TMDB). |
Setelah mendengar banyak kabar dari industri di China sana, tentu salah satunya adalah industri otomotif yang memenuhi dunia. China yang digadang dengan istilah Pabrik Dunia, memiliki industri otomotif terbesar sedunia. China memiliki industri otomatif yang terus maju dan bersaing, baik itu dari produksi baterai mobil, hingga mobil listrik, yang menjadi inovasi pasar saat ini.
Animo Film Balapan Mobil
Animo inipun berlanjut ke dunia sinema, dengan judul Pegasus yang pada tahun 2026 ini, merilis film ketiganya. Berjudul sederhana Pegasus 3 tanpa sub-judul, film ini melanjutkan animo dari film pertamanya di tahun 2019 (Pegasus) dan keduanya di tahun 2024 (Pegasus 2). Film Pegasus 3 tayang di sinema Indonesia, dengan rating R13 alias Remaja.
Bagi penggemar film balapan mobil, tentu tahun 2026 adalah besarnya animo yang layak diramaikan. Setelah di tahun 2025 kemarin, tepatnya bulan Juni, dirilis film F1 The Movie dengan aktor kawakan Brad Pitt. Film yang berhasil mengombinasikan efek praktis dan CGI, memulai kembali animo film balap yang heboh nan cepat.
Sementara di tahun 2026 ini, tepatnya selama beberapa bulan terakhir, dirilis dua film balap lain yang sama cepatnya. Bagi pelanggan Netflix, tentu tahu serial F1 berjudul Drive to Survive. Serialnya sudah dimulai sejak tahun 2019 ini, dan telah mencapai musim ke delapan. Seri terakhirnya pun masih segar, yaitu dimulai tiga bulan lalu.
Lalu adapula film berjudul 2DIE4 yang dirilis bulan April lalu, berlatar balapan mobil Nascar. Balapan ini masih berada di lintasan balap, dengan mobil khas Nascar yang kadang mirip dengan Tamiya. Nascar menyajikan balap yang lebih brutal daripada lainnya, akibat lintasan balap yang lebar, tikungan melingkar nan miring, serta ukuran mobil yang besar. Animo yang cocok untuk diadaptasi pada sebuah film heboh.
Nah, bagaimana dengan film berjudul Pegasus dari China ini. Ketiga seri film ini masih memiliki karakter utama yang sama, yaitu Zhang Chi yang diperankan oleh aktor Teng Shen.
Berbeda dengan film yang dijabarkan diatas, film Pegasus tidak berlatar balap di lintasan, melainkan sejenis Rally (atau Reli). Balapan ini adalah sejenis balap di luar lintasan, dengan turnamen yang mirip maraton alias 'endurance racing.'
Atletnya tidak hanya berjibaku untuk mengendalikan mobil, tetapi harus memiliki kemampuan bertahan di daratan sulit bersama navigatornya. Lintasan balap di jalanan biasa serta sulitnya medan lintasan, menjadi animo yang berbeda bagi penggemarnya.
Kadang balapan Reli diselenggarakan pula ala Off-Road, alias tidak berlandaskan jalan raya beraspal. Tanah biasa, rerumputan, hingga lumpur (sesuai cuaca) adalah tantangan berbeda dari Reli.
Bahkan terdapat pula satu Reli yang mencapai jarak delapan ribu kilometer, yaitu Reli Dakar yang bisa mencakup satu benua demi satu turnamen saja. Lintasan balapnya pun bisa melalui pegunungan, rawa, hingga gurun. Kemampuan maraton, bertahan hidup, kecermatan navigator, serta teknis pemeliharaan mesin pun diuji maksimal untuk menyelesaikan balapan ekstrem ini.
Membahas film pertama Pegasus, maka Zhang Chi adalah seorang pembalap veteran yang baru kembali dari hiatus. Akibat hukuman indisipliner, dirinya terpaksa berhenti balap selama lima tahun lamanya.
Zhang Chi pun mengisi lima tahun terakhir dengan mengasuh anaknya, yang pada film ini sudah mencapai umur enam tahun. Lalu, film pertama Pegasus dari tahun 2019 ini fokus pada usaha kembali (epic comeback) ala pembalap veteran, yang masih haus akan trofi.
Pada film keduanya, Zhang Chi yang berhasil memenangkan trofi bersama tim balap Laotoule Automobile Factor, kini bekerja sebagai instruktur mengemudi di kotanya. Namun pabrikan mobil ini ternyata sedang dalam keadaan sulit, sehingga butuh kembali kemampuan Zhang Chi dalam memenangkan trofi, sekaligus menarik minat para investor.
Sementara pada film ketiganya, Zhang Chi diminta untuk menunjukkan seluruh kemampuannya hingga maksimal. Tokoh utama dari tiga film Pegasus ini, diminta langsung untuk mewakili tim Reli dari China, demi bersaing dalam balapan internasional antar benua.
Tidak se-ekstrem Reli Dakar, namun lintasan balap yang menantang maut adalah tantangan harian Reli internasional. Tidak hanya jalan berdebu ala pedesaan, lalu berbatu antar pegunungan, gurun pun dijabani oleh para atlet balapan veteran.
Sanggupkah semuanya mencapai garis akhir? Jawabannya tentu ada di cepatnya balap Off-Road ala sinema Indonesia.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.