![]() |
| Horornya kedua pasangan insan muda ini (TMDB). |
Okeh, saatnya membahas horor dari Nusantara yang tiada habisnya. Kali ini, jurig dari Belitung pun diundang ke sinema Indonesia, berjudul The Bell: Panggilan untuk Mati. Rating umurnya pun cukup fantastis, yaitu D17 alias 17 tahun keatas.
Rating umur yang memang cocok, bukan sekedar basa-basi saja. Dari adegan yang muncul dalam cuplikannya, sudah terlihat lima warga yang ditebas lehernya. Ya, kali ini yang muncul adalah hantu dengan hobi memenggal leher korban, demi ritual khusus miliknya.
Adegan yang sangat sadis dan langsung muncul dalam cuplikannya, memang berbeda dengan film lainnya. Seakan film ini memang mengedepankan efek visual praktikal dan CGI sekaligus yang mumpuni. Masih terlihat agak kasar, tetapi yang muncul sudah cukup meyakinkan.
Tidak hanya adegan terpenggal, beberapa efek visual yang keren dan jarang muncul di sinema horor Indonesia pun, ternyata cukup bagus. Contohnya adalah saat ada anak yang diculik sambil melayang oleh hantu, atau hantu yang bergerak cepat melebihi kameramen, lalu adapula efek kepulan asap yang mencekik (banyak) korbannya.
Memang berbeda dengan horor lainnya, yang biasanya adegan darah-mendarah atau daging-mendaging menjadi puncak adegan atau cerita. Disini, justru menjadi efek spesial yang mengalir begitu saja, layaknya dialog biasa dalam suatu film. Sementara sisa ceritanya digambarkan dengan gamblang, bahwa hantu bernama Panebok ini memang membutuhkan (banyak) potongan kepala korbannya.
Sementara Hantu Panebok yang diceritakan layaknya Kuntilanak, Pocong, atau sejenis hantu Urban lainnya, diberi latar sebagai peneror anak kecil saja. Sebelum terjadi kejadiaan naas dengan terpenggalnya para korban, hantu ini adalah cara untuk menakut-nakuti anak kecil biar tidak nakal, apalagi pulang malam.
Mungkin saatnya kita memahami, bahwa film horor Indonesia kini semakin maju dan berkembang, layaknya tetangga kita dari Thailand sana. Walau sudah dimulai sejak tahun 2000an lalu, namun segala jenis film horor ala Thailand memang sudah sangat bervariatif, bahkan hingga berbiaya produksi tinggi. Kini Indonesia yang sempat merajai horor, ikut menyusul dengan banyak variasi cerita dan efek pada spesial setiap adegannya.
Untuk artikel yang lebih mengemukakan tentang variasi film horor Indonesia, akan dirilis minggu depan dengan berbagai judul yang sebenarnya mirip pada satu tema, tetapi memiliki studio, kombinasi aktor-aktris, sub-genre, atmosfir, serta efek visual yang berbeda-beda. Tentu ceritanya pun berbeda, dengan mengambil latar tempat dan karakter yang variatif.
Sinopsis Film The Bell: Panggilan untuk Mati
Danto (Bhisma Mulia) tiba di desanya, dengan banyak kejadian naas yang terjadi. Banyak warga dan anak-anak, ditemukan tidak bernyawa dan tanpa kepala. Kisah ini mengingatkan dirinya tentang dongeng horor saat masih kanak-kanak dahulu, yaitu Hantu Panebok yang hobi memenggal kepala.
Satu demi satu warga berjatuhan dengan pola yang sama, yaitu tanpa kepala. Namun terdapat perbedaan kentara bagi Danto yang bekerja sama dengan Airin (Safira Ratu Sofya), kawan lamanya. Yaitu banyak korban tidak hanya anak-anak, melainkan warga yang telah dewasa ikut menjadi korban.
Perbedaan itulah yang membuat penasaran Danto dan Airin, yang lalu menelusuri jejak sejarah Hantu Panebok. Hingga akhirnya seorang ibu tua dari desa seberang, menyebutkan bahwa Hantu Panebok biasanya ditanggulangi oleh seorang dukun sakti. Warisan ilmu dari dukun tersebut justru terputus, karena biasa diturunkan secara turun-temurun. Sementara keadaan modern sekarang, tiada lagi penerus ilmu supernatural tersebut.
Sanggupkan Danto dan Airin melindungi diri serta keluarga di sekitar mereka? Atau malah berujung petaka bagi semua, hingga bel tersebut penuh aura kematian? Atau mereka rela ikut mati demi mengundang semua jurig yang bersemayam dalam bel keramat milik Hantu Panebok?
Jawabannya, tentu ada sinema horor dari seberang ala sinema Indonesia.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.