![]() |
| Zahra dan Ali yang saling bertukar sepatu (TMDB). |
Untuk film yang satu ini, adalah reka ulang dari film berjudul sama, yaitu kisah Children of Heaven dari negara Iran sana. Children of Heaven adalah film yang menggugah hati akibat keterbatasan dan semangat perjuangan dua anak, dan akan tayang minggu depan di sinema Indonesia dengan rating SU alias Semua Umur.
Film ini memiliki latar tahun 90an, saat biaya hidup jauh lebih kecil dibanding sekarang. Terlihat pada cuplikannya, hutang ayahnya sebesar 10 ribu rupiah (dan bunga tiga ribu) terdengar sangat berat bagi keluarga miskin ini.
Versi filmnya dari Iran memang dirilis pada tahun 1997, yang meraih banyak hadiah penghargaan dari internasional. Penulis sempat menonton bersama film ini saat masih bersekolah dasar, yang diminta oleh pengajian dekat rumah.
Entah kenapa, padahal negara Indonesia berlatar muslim Sunni, sementara film Children of Heaven berasal dari Iran sebagai negara Islam yang berlatar Syiah. Tetapi, pesan cinta dan perdamaian adalah universal, sehingga tidak perlu ikut berkonflik, layaknya berita selama beberapa bulan terakhir dari Iran sana.
Untuk kisahnya, penulis masih dapat mengingatnya. Bahkan dari cuplikannya, seakan mengingatkan kembali plot utama serta adegan dari karakter bernama Ali (Amir Farrokh Hashemian) dan Zahra (Bahare Seddiqi). Sinematografi-nya yang kalem, justru menyiratkan situasi yang (aslinya) terasa santai. Namun dibaliknya, terdapat banyak masalah mikro yang menghinggapi warga Iran.
Plotnya pun cukup sederhana, yaitu kisah Ali dan Zahra yang perlu terus bertukar sepatu. Zahra baru saja kehilangan satu pasang sepatunya, akibat jatuh di aliran selokan. Itupun akibat Ali yang bermain-main dengan sepatu tersebut.
Keduanya lalu berinisiatif, untuk bertukar sepatu tiap kali masuk sekolah. Zahra yang masuk sekolah pagi, akan bertukar sepatu saat pulang dengan Ali, yang masuk sekolah siang. Keduanya tidak ingin membebani orangtua, sehingga memilih untuk tidak berbicara masalah kehilangan sepatu.
Hingga akhirnya datang kesempatan bagi keduanya untuk memiliki sepatu baru. Yaitu, saat turnamen berlari maraton dilaksanakan untuk seluruh anak di daerah dekat rumahnya. Ali memiliki target untuk meraih juara ketiga, karena hadiahnya adalah sepasang sepatu baru.
Nah, untuk versi Indonesia-nya, disutradari oleh Hanung Bramantyo, yang sudah berpengalaman dalam memproduksi film drama menyanyat hati. Semenjak berhasil pada film Catatan Akhir Sekolah (2005), lalu berlanjut drama komedi Get Married (2007), dan dilanjutkan dengan adaptasi novel Ayat-Ayat Cinta (2008), sutradara ini memang terkenal lihai memproduksi film drama Indonesia.
Catatan Akhir Sekolah adalah satu favorit penulis dari dunia drama perfilman Indonesia, sejak awal rilis hingga sekarang.
Karakter Ali diperankan oleh Jared Ali, sementara Zahra diperankan oleh Humaira Jahra. Nama Jared Ali tentu dikenal, karena akhir bulan kemarin baru saja berperan dalam film berjudul Kupeluk Kamu Selamanya.
Sementara orangtua mereka diperankan oleh aktor kawakan Andri Mashadi sebagai Karim, dan Faradina Mufti sebagai Fatimah. Nama yang cukup kentara dalam drama Indonesia, dan tentu menambah animo film ini.
Entah setepat apa versi reka ulang dari Indonesia ini mengikuti jalan cerita aslinya. Namun, seakan mengingatkan kembali film yang sempat ramai di tahun 90an lalu. Bahwa, kisah perjuangan anak serta pesan cinta damai adalah hal yang sangat mendasar, dan kadang terlupakan. Apalagi, dari sudut pandang anak yang masih polos dan belajar setiap harinya.
Maka, ritual peralihan generasi mendatang hingga banyak berikutnya, dapat terus dilanjutkan tanpa henti. Jalan yang memang tiada akhirnya.
Wassalam.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.